Anda di halaman 1dari 1354

SSeerrii 44 PPeennttaallooggii W

Waanngg D
Duu LLuu
G
GooH
Hoou
uww CCh
hoon
ngg LLiio
onng
g

HHaarriim
maauu M Meennddeekkaam mN Naaggaa S
Seem mbbuunnyyii aattaauu
C
Crroouucchhiinngg T
Tiiggeerr H
Hiiddddeenn DDrraaggoonn
L
Laannjjuuttaann KKiiee K Kiiaam
mT Tjjooee K
Koonngg
Karya : Wang Du Lu
DJVU : TAH di dimhad
Editor : Raharga
Final edit & Ebook oleh : Dewi KZ
Tiraikasih Website
http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/
http://cerita-silat.co.cc/ http://ebook-dewikz.com
Tiga tahun telah lewat sejak Lie Bouw Pek hadiahkan
pedang mustika pada Tiat siauw-pweelek dan nona Yo Lee
Hong ditunangkan dengan Bun Hiong, putera sulung dari
Tek Siauw Hong, dan ia sendiri bersama Jie Siu Lian telah
pergi ke Kiuhoa San akan tinggal di gunung itu untuk
meyakinkan ilmu silat terlebih jauh terutama ilmu menotok
jalannya darah atau Tianhiat hoat. Dengan lewatnya sang
waktu itu, sekarang nona Yo telah menjadi isterinya Bun
Hiong, ia telah lepas ikatan kakinya dan dandan sebagai
orang Boan, atau seterusnya menjadi Tek Siauwnaynay. Ia
telah jadi satu nona mantu yang elok, manis dan gembira.
Oleh karena ia telah kehilangan ayah dan ibu, engkong dan
engko, juga telah mesti berpisah dari encie-nya, ada
waktunya ia meneteskan air mata, sebaliknya di waktu
bergembira, ada kalanya ia berjingkrakan, hingga ia tak
mirip dengan prilakunya satu nona mantu. Buat ini, Tek
Toanaynay antap nona mantu itu bawa kemerdekaannya.
Sebagai nyonya yang baik budi ia malah senang lihat si
nona mantu bersenda gurau. Memang ia pandang Lee
Hong sebagai puteri sendiri.
Itu waktu, Sinchio Yo Kian Tong, piauwsu tersohor dari
Yankeng, sudah pindah ke Pakkhia di mana ia tetap
mengepalai piauwtiam yang memakai merek "Coan Hin".
Ia telah ajak beberapa muridnya sebagai pembantu-
pembantunya. Maksud khusus pembukaan piauwtiam itu
ialah untuk tinggal berdekatan dengan Tek Siauw Hong,
keselamatan siapa ia hendak lindungkan, Siauw Hong
benar sekarang tinggal nganggur dan tenteram, tetapi ia toh
tetap kuatirkan ancaman bahaya dari pihaknya Thio Giok
Kin atau Biauw Cin San sekalian, maka di sebelah adanya
Yo Kian Tong, ia tidak pernah alpakan "tangan pasir besi”
Tiatsee ciang-nya. Anaknya pun ia perintah tetap yakinkan
ilmu golok, yang Siu Lian ajarkan pada mereka, sedang Yo
Kian Tong setiap 3 hari tentu datang menilik dan mendidik
pelajaran tombak mereka. Tempat pelajarannya adalah di
rumah bekas Jie Siu Lian. Di situ Yo Kian Tong jarang
tandingannya. Seperti sudah diketahui, Ginchio Ciangkun
Khu Kong Ciauw, itu orang bangsawan (graaf), ada
muridnya. Ia ada utamakan Leehoa chio, yang dengan lain
nama disebut "Yokee chio", atau pelajaran tombak kaum
keluarga Yo.
Di jaman Song ada satu panglima ternama Lie Coan
yang dapat julukan “Lie Tiatchio". Ia ini punya isteri, Yo-
sie, justru pandai Leehoa chio, pelajaran tombak yang halus
dan cocok untuk wanita. Demikian, terus menerus
pelajaran itu turun pada keluarga Yo. Maka kebetulan
sekali, Yo Kian Ciang dan Tek Siauwnaynay ada orang she
Yo begitupun gurunya orang she Yo juga. Malah guru ini ia
angkat jadi ayah pungut.
Belajar belum berapa lama nona Yo sudah maju pesat,
sampai melombai Bun Hiong, suaminya, yang cita-citanya
ada di kalangan ilmu surat, sedang tubuhnya pun
memangnya lemah. Kalau Bun Hiong terus yakin ilmu silat,
itulah sebab ia mengerti pentingnya itu untuk membela diri.
Di bulan ke-10, hawa udara di Pakkhia sudah mulai
dingin, tetapi Yo Kian Tong yang sudah biasa dengan hawa
demikian masih suka pakai pakaian tipis. Demikian itu hari,
waktu ia berkumpul dengan murid-muridnya.
"Cagaknya ini tombak ada untuk menjaga diri, guna
singkirkan serangan senjata pihak lawan," demikian ini
guru silat menerangkan pada Bun Hiong dan isteri. "Coba
kau lihat!"
Lantas guru ini mempertunjukkan silat tombaknya,
hingga ia bikin kagum murid-muridnya itu, tetapi justru itu
ada seorang lain yang tepuk-tepuk tangan seraya memuji
tinggi: "Bagus, bagus! Sungguh Sinchio Yo Kian Tong ada
melebihi Ong Gan Ciang di jaman dahulu!"
Kian Tong lantas berhentikan permainannya dan
tertawa.
“Kembali kau datang?" ia menegur.
Bun Hiong dan isterinya segera samperi orang itu.
"Lauw Jiecek, apa kau sudah dahar?" mereka tanya.
"Baru saja!" sahut orang itu sambil bersenyum.
"Siauwya, siauwnaynay, hayo berlatih terus, jangan kau
menunda karena kedatanganku!"
Orang ini bertubuh kecil dan kate tetapi dadanya lebar,
gerakannya gesit. Ia pun ada pakai pakaian tipis, dengan
dilapis baju luar yang tak dikancing, hingga pinggangnya
kelihatan nyata dililit dengan angkin hijau muda, dan
kuncirnya dikepang kendor. Iapunya muka ada bersih dan
pada muka itu selalu tertampak senyuman gembira.
Usianya baru tigapuluh lebih.
Baru satu atau dua tahun berselang orang ini telah
mendapat nama di kota raja. Ia ada Lauw Tay Po gelar Itto
Lianhoa atau Setangkai Bunga Teratai. Ia ada orang Yan-
keng dan adik misan dari Yo Kian Tong. Ia pernah ikut
engko misannya belajar tombak, pernah jadi piauwsu buat
tiga hari setengah ... Ia gemar minum dan berjudi, suka
bergaul dengan golongan rendah, maka ia pernah curi
uangnya Yo Kian Tong, hingga kesudahannya ia kena
diusir. Belasan tahun ia telah menghilang, dan kemudian ia
muncul di kota raja kira-kira dua tahun yang baru
berselang. Ia nampaknya tahu "aturan", maka paling dahulu
ia kunjungi Tek Siauw Hong dan kemudian Khu Kong
Ciauw. Ia kata di waktu bicara, ia kasih tahu bahwa ia
"sengaja datang ke Pakkhia untuk kunjungi Lie Bouw Pek
buat piebu", Karena Bouw Pek tidak ada, tidak ada orang
yang ladeni ia, hingga belakangan ia tuntut penghidupan
luntang-lantung dan suka berkelahi, sampai Yo Kian Tong
lihat padanya, ia terus dipanggil ke piauwtiam buat dikasih
kerjaan, karena ternyata ilmu silatnya ada baik. Cuma ia
tidak ketarik dengan kerjaan piauwsu, masih saja ia suka
pesiar.
Pada suatu hari dengan sengaja Lauw Tay Po tempur
belasan buaya darat, yang ia kasih hajaran. Ketika itu ia
kena bentur jolinya Tiat siauw-pweelek, sebab permainan
silatnya bagus, pangeran Boan itu panggil ia dan diajak ke
istana di mana ditanyakan keterangannya, ketika ia
terangkan bahwa ia ada saudara misan dari Yo Kian Tong,
ia terus diambil dan diangkat jadi guru silat atau kauwsu. Ia
pun menerangkan bahwa ia hendak tempur Lie Bouw Pek.
Mendengar itu, Tiat siauw-pweelek melainkan bersenyum.
Berhubung sudah memangku pangkat, Tiat siauw-
pweelek tidak lagi gemar meyakinkan ilmu silat sebagai
dulu-dulu, dari itu Lauw Tay Po dengan sendirinya jadi
sangat nganggur, hingga dapat dikatakan ia makan gaji
buta. Dengan dandanannya yang rapi dan mewah ia biasa
keluar masuk rumah-rumah makan atau warung-warung
arak. Ia tetap masih suka usilan atau belai pihak yang
lemah. Maka itu, belum dua tahun rata-rata penduduk
Pakkhia tahu itu nama “Itto Lianhoa". Karena mengerti
silat, lantaran ada guru dari istana pweelek, orang jadi
malui ia.
Saban ketemu tanggal-tanggal ganjil 3,6 dan 9, Lauw
Tay Po tentu suka datang pada engko (kakak) misannya,
akan saksikan saudara itu mengajar silat, demikian juga itu
hari. Ia datang dengan diam-diam, maka ia bisa saksikan
selagi engko-nya bersilat tombak secara istimewa.
“Lihat boleh lihat, tetapi mesti dari pinggiran dan tak
boleh banyak mulut!" YoKian Tong pegat adik misan itu.
Lauw Tay Po bersenyum.
Bun Hiong dan isterinya tak mampu tutup mulut
mereka, mereka mesti tertawa atau bersenyum, karena ini
susiok ada lucu sekali, setiap ia datang, ia tentu bikin orang
j adi gembira.
Yo Kian Tong lanjutkan pelajaran tombaknya supaya
murid-muridnya saksikan dan perhatikan.
Lauw Tay Po sudah dilarang banyak mulut, tetapi terus
saja nyerocos: "Bagus, bagus! Benar-benar liehay!"
Kian Tong tidak gubris si jail itu.
"Coba kau jalankan,” ia kata pada murid-muridnya.
Bun Hiong dan isterinya masih saja tertawa, sampai
mereka seperti tak kuat angkat tombaknya.
"Pergi kau, batok kepala monyet!" Yo Kian Tong gebrik
adiknya, kepala siapa ia hendak ketok dengan ujung
tombak. "Lihat, mereka sampai tidak mampu berlatih! ... "
Tetapi Yo Kian Tong mengancam dengan ujung tombak,
hingga ia mesti mundur dan mundur, hanya sesampai di
pintu, sebelum ia melangkah mendadakan dari luar ada
beberapa orang perempuan hendak masuk, maka Yo Kian
Tong lekas-lekas tarik pulang tombaknya sedang Lauw Tay
Po lekas menyingkir ke kaki tembok samping.
Bun Hiong dan isterinya, yang tertawa terpingkal-
pingkal, mendadakan berhenti tertawa dan lantas berdiri
dengan tegar.
Nyata orang yang masuk itu yang pertama ada Tek
Toanaynay diikut oleh satu nona yang ada diiring oleh dua
budak perempuan berpakaian bersih dan rapi.
Yo Kian Tong sudah lantas unjuk hormat pada itu
nyonya, yang telah balas hormatnya, tapi setelah itu, sambil
tunjuk si nona, nyonya Siauw Hong kata pada itu piauwsu:
"Ini ada Sam kohnio dari Giok tayjin, ia ingin lihat anak-
anak belajar silat ... "
Ketika Lauw Tay Po dengar si nona ada puterinya Giok
tayjin, dalam hatinya ia berkata: "Hm, ini hari aku ketemu
orang besar ... Giok tayjin adalah Kiubun Teetok Cengtong
yang baru, seorang yang berpangkat tinggi ... " Kemudian,
ketika ia pandang si nona, ia pikir pula, seharusnya aku
menyingkir diri sini ... " Ia dapat kenyataan nona itu ada
laksana bidadari saja.
Umurnya baru enam atau tujuhbelas tahun, nona Giok
mempunyai tubuh yang tinggi dan kecil langsing, dan
memakai mantel yang indah, entah terbikin dari bahan apa.
Pakaian dalamnya ada kiepauw sulam warna merah.
Sepatunya ada ditabur hingga bergemerlapan. Rambutnya
rupanya ada dikepang tetapi itu waktu tak tertampak nyata,
cuma kelihatan rambut sampingnya ada perhiasan
burungan hong yang lagi patuk mutiara. Mukanya ada
potongan biji kwaci, hidungnya tinggi dan bangir, kedua
matanya, besar dan jeli, sepasang alisnya lentik.
Menurut Lauw Tay Po, nona Giok itu ada lebih cantik
dari bunga bouwtan, atau kalau hendak dipadu dengan
burung hong, burung hongnya ia belum pernah lihat. Maka
ia hanya memikir bidadari. Tapi meski demikian, ia tidak
berani mengawasi langsung pada nona itu.
Yo Kian Tong manggut pada si nona, kemudian ia lekas
ambil baju luarnya untuk dipakai.
Ketika Bun Hiong dan isterinya unjuk hormat pada nona
Giok, mereka berdua berlutut sampai tak berani angkat
muka.
Lantas - setelah itu - terdengar suaranya Tek Toanaynay,
kepada anak-mantunya:
"Sam kohnio dengar kau belajar silat di sini, ia jadi
ketarik hati dan ingin melihat, dari itu aku ajak ia datang
kemari. Coba kaujalankan beberapa jurus." Kemudian
sembari ketawa ia kata pada si nona: "Mari kita masuk ke
dalam sana, kita boleh menyaksikan dari antara jendela.
Hawa di sini ada terlalu dingin ...”
Tetapi puterinya Giok tayjin geleng kepala.
'Tidak apa, tidak usah masuk ke dalam," ia kata sambil
bersenyum. "Biar aku berdiri di sini saja asal jauhan
menyaksikannya."
Ia lantas saja mundur. Dari satu budaknya, ia ambil kim
chiulouw, ialah perapian kecil, untuk membikin hangat
tangannya. Ia melirik juga pada Lauw Tay Po yang
mengkeret kedinginan.
"Apa jadinya dengan aku?" pikir ini jago muda dari
Pakkhia. "Bagaimana aku berhak mengawasi nona agung
itu? ... "
Tapi itu waktu, dengan Bun Hiong berdiri di pinggir, Yo
Lee Hong sudah siap dengan tombaknya, nampaknya
gagah, Rambutnya ada disisir menjadi kuncir yang panjang.
Ia pakai baju dan celana model Han yang ringkas. Kakinya
sudah merdeka tapi toh masih cukup kecil. Kemudian,
setelah mengunjuk hormat, ia mulai bersilat. Ia benar
mempunyai gerakan yang gesit.
Lauw Tay Po pun memperhatikan gerakannya Lee
Hong.
"Nona ini benar gesit, sayang tenaganya kurang ... " ia
pikir, ketika Yo Lee Hong kemudian selesai mainkan
sejurus, napasnya tidak memburu. "Dasar orang perempuan
..."
Nona Giok nampaknya ngeri, ia sampai mundur ke
belakang budak pelayannya.
"Aduh, mataku kabur ... " ia kata. "Apakah kau tidak
capai? ia tanya Lee Hong.
Nyonya Bun Hiong telah lepas tombaknya dan
menghampiri sambil bersenyum.
"Tidak," ia menyahut sembari goyang kepala.
"Berapa lama kau sudah belajar?"
"Baru setengah tahun.”
"Benar hebat! Buat aku, tombaknya saja aku tak kuat
angkat ... “
“Dan aku, meraba tombaknya saja aku takut," turut
bicara nyonya Tek sambil tertawa. "Nyonya mantuku ini,
sejak di rumah orang tuanya, memang sudah meyakinkan
ilmu silat. Kau tentu belum pernah lihat nona Jie Siu Lian,
yang dahulu tinggal di rumah ini. Nona Jie itu barulah
liehay serta orangnya pun cantik! Li pegang sepasang golok,
ia pandai loncat tinggi dan lari di atas rumah, ia pandai
menunggang kuda! Banyak penjahat bukan tandingannya!
Walau caranya bicara dan bergerak ada merdeka, akan
tetapi tidak sebagai kebanyakan nona-nona lainnya."
Nona tetamu itu bersenyum.
"Aku pikir kemudian hari ingin juga belajar silat ... " ia
kata.
"Ah untuk apa kau belajar silat?" kata nyonya Siauw
Hong, "Lain halnya pihak kita, kita terpaksa ... Kau tentu
ketahui, kita terpaksa belajar silat untuk menjaga diri! ... "
Tek Toanaynay tutup ucapannya dengan terus ajak si
nona masuk, akan pasang omong sambil minum teh.
Baru setelah itu, dengan berindap-indap, Lauw Tay Po
bertindak ke pintu, untuk angkat kaki, tetapi baru ia keluar,
atau ia dengar:
"Tay Po!” Kapan ia menoleh ia lihat Yo Kian Tong
mendatangi dengan roman gusar.
"Aku tidak suruh kau kemari, mengapa kau datang!"
menegur kanda misan itu. "Kau lihat, apa jadinya sekarang?
Buat aku, tidak apa, sebab aku telah berusia hampir
limapuluh dan aku pun menjadi cinkee angkat dari Tek
Toanaynay ... Tapi kau, yang baru berusia kira-kira
tigapuluh! Justru hari ini datang siocia dari Teetok
Cengtong, satu nona yang mulia! ... "
"Maaf, koko, tetapi bukannya aku yang sengaja hendak
lihat nona itu," kata adik ini. "Mengapa kita justru
bersomplokan? Mengapa di sini tidak ada pintu belakang,
hingga aku tak mampu lari menyingkir?"
"Selanjutnya baiklah kau jangan sering-sering datang
kemari!" Yo Kian Tong kata. “jangan kau anggap Tek
Siauw Hong sedang ngang-gur tetapi pergaulannya dengan
orang-orang atas masih berjalan seperti biasa, maka kalau
lagi sekali kejadian seperti ini, sungguh jelek, Siauw Hong
bisa tidak kata apa-apa, tetapi siapa tahu hatinya?"
Mendengar teguran itu, Tay Po nampaknya tak puas.
"Aku memang tahu pergaulannya Tek ngoya ada luas!"
ia kata dengan sengit. "Tapi harus diketahui juga, Itto
Lianhoa Lauw Tay Po bukan orang yang kekurangan
nama!"
"Kau? Kau ada punya nama apa?" Yo Kian Tong
mengejek. "Buaya-buaya darat di jalan besar kenal
namamu, tetapi di antara orang-orang besar, siapa yang
kenal padamu?"
Lauw Tay Po tepuk-tepuk dada.
"Aku ada guru silat dari istana pweelek!" ia kata dengan
jumawa.
Yo Kian Tong pun jadi tidak puas.
"Aku nasehati kau dengan maksud baik," ia kata, dengan
ngambul. "Terserah padamu, kau suka dengar nasehatku
atau tidak! jangan kau merasa puas karena guru silat pun
tetap orang sebawahan! Di istana pweelek, dengan Tek Lok
saja kau tak dapat dibandingkan, bagaimana kau masih
mau anggap dirimu tinggi? Jikalau di waktu ketemu dengan
nona-nona mulia kau tidak singkirkan diri, aku kuatir satu
waktu akan terbit gara-gara ... "
Selama itu, mereka bicara sambil jalan, waktu mereka
telah keluar dari Samtiauw liotong, Yo Kian Tong lantas
saja berjalan terus pulang ke piauwtiam-nya.
Tinggal Lauw Tay Po, yang mendongkol sendirinya
berjalan terus.
"Celaka benar!" ia menggerutu. "Lain orang mewah,
kenapa aku kecewa? Lihatlah nona tadi, ia cuma elok, kalau
aku mesti tempur ia biarpun seratus orang, aku tidak takut!
Toh, terhadap ia, Yo Kian Tong bilang aku mesti
menyingkir! Sepatunya saja ada lebih berharga daripada
nasibku. Mengapa dunia ada begini pincang? Nona itu
nanti juga akan menikah, tapi tentu tidak dengan aku, dan
asal ia kawin, aku nanti bunuh suaminya, supaya ia
menjadi janda seumur hidupnya ... "
Tay Po jadi uring-uringan, sang engko yang bikin ia
mendongkol, tetapi kemendongkolan itu ia tumplekkan atas
nona Giok.
Kemudian guru silat ini ingat tentang dirinya, yang
dalam umur tigapuluh dua tahun masih belum menikah, ia
masih hidup nganggur saja.
"Ah, aku kalah dengan Lie Bouw Pek ..." ia mengeluh.
"Bouw Pek ada beruntung, karena ia punya nona Jie yang
pandai mainkan siangtoo! Aku, sekalipun satu nenek-nenek,
yang mukanya kuning, yang kerjanya hanya potong
sayuran, aku tak punya! ... "
Dengan pikiran kusut, Tay Po jalan terus. Kelika ia
sampai di Paksin Kio, tiba-tiba kupingnya tangkap suara
gembreng yang riuh, kapan ia angkat kepalanya, ia tampak
di sebelah depan berkumpul serombongan orang, yang
matanya semua mengawasi ke dalam kalangan dari mana
suara gembreng datang.
"Tentu pertunjukan tukang kuntauw atau tukang monyet
... ?” ia menduga duga dalam hatinya. Tadinya ia mau jalan
terus tapi waktu ia dengar suara pujian orang banyak itu,
hatinya jadi tertarik.
Dari dalam kalangan, ia lihai sepasang peluru besi
sebesar buah apel bergerak-gerak naik turun. Itulah liuseng-
twie, yang pun bisa digunakan sebagai senjata. Tidak
sembarang tukang silat dapat mainkan senjata itu. Saking
ketarik, Tay Po lantas menghampiri dan nyelak di antara
orang banyak.
Orang yang mainkan peluru itu berusia empatpuluh
lebih, tubuhnya kekar. Pelurunya diikat dengan tambang
"urat menjangan". Peluru itu bergerak ke kiri kanan, ke
depan dan belakang cepat sekali, sampai tambangnya tak
kelihatan lagi, peluru merupakan titiran saja ...
"Bagus!" memuji Lauw Tay Po.
Kemudian ia menoleh pada tukang gembreng dan
menjadi tercengang karena ia lihat satu nona, yang
tubuhnya kecil langsing sebagai batang yangliu, umurnya
baru lima atau enam belas tahun. Kulit mukanya hitam tapi
manis, rambutnya dikonde, tetapi penuh debu. Ia pakai baju
merah dan celana hijau yang ringkas, tetapi pun kotor, sang
kakinya mungil, sayang sepatunya sudah pada besot.
Dengan menabuh gembreng, si nona tambahkan
kegembiraannya si tukang silat, yang rupanya ada ayahnya.
Tak lama kemudian si tukang silat berhenti dengan
pertunjukannya dan si nona siap dengan kewajibannya,
untuk meminta bantuan.
"Sekalian looya, sekalian suhu dari berbagai-bagai
golongan," kata si tukang silat pada para penonton, sambil
ia rangkap kedua tangannya. "Dengan terpaksa kita ayah
dan anak memohon saweran ... “
“Ya, terpaksa," si nona ulangi perkataan ayahnya. "Kita
adalah korban-korban banjir," kata pula tukang silat itu.
"Kasihan ibunya anakku ini, ia telah mati kelelap maka aku
terpaksa ajak anakku ini pergi mengembara, mencari uang
dengan menjual pertunjukan, hingga kita mirip dengan
pengemis-pengemis ... " Kembali si nona ulangi perkataan
terakhir dari ayahnya itu.
Tay Po merasa kasihan, ia rogoh sakunya dan
menyawer. "Terima kasih, looya,” kata si nona.
Kemudian Lauw Tay Po berlalu, di sepanjang jalan, ia
masih pikiri itu nona.
"Kasihan, ia mesti turut ayahnya merantau ... Romannya
tidak tercela ... "
Selagi kauwsu ini ngelamun, dari selatan ia dengar suara
roda-roda kereta keledai. Ia berpaling dengan lekas. Dua
buah kereta, yang memakai tenda, sedang mendatangi,
keretanya besar, keledainya besar juga. Di kereta yang
belakangan duduk dua bujang perempuan.
"Itulah dua budak di rumahnya Tek ngoya tadi," pikir
kauwsu ini, yang ingatannya tajam, "maka yang duduk di
depan tentu puteri Gioktayjin ... "
Tapi ia tidak dapat lihat si nona itu, karena tenda kereta
telah diturunkan.
Selewatnya kereta itu, Tay Po menuju langsung ke
Anteng-mui pulang ke istananya Tiat pweelek. Ia masih
saja mendongkol, maka untuk hiburkan diri, ia tenggak
arak, ia berlatih silat dengan golok, setelah pusing dan lelah,
ia lonjorkan diri di atas pembaringannya. Adalah setelah ia
mendusin kemudian, ia ambil keputusan untuk selanjutnya
tidak mau pergi lagi ke rumahnya Tek Siauw Hong dan tak
hendak ketemui pula engko misannya.
Belasan hari telah lewat.
Pada Cap-it-gwee Jie-pee, selagi hawa udara dingin, di
Pweelek-hu diadakan pesta untuk merayakan hari ulang
yang keempatpuluh dari Tiat siauw-pweelek. Di luar
pekarangan berkumpul banyak kuda dan kereta, di dalam
banyak tetamu yang hadir, dari pangkat tinggi sampai yang
rendahan. Wayang toa-pan-hie main di dalam, meskipun
suara tambur dan gembreng berisik, namun di luar tak
terdengar ... Di luar, di satu ruangan, kumpul hamba
sekalian tetamu, yang turut berpesta pora, sedang tukang-
tukang kereta repot dengan perjudiannya ...
Melainkan Lauw Tay Po yang itu waktu merasai
kedudukannya yang sulit. Ia bukannya budak, ia bukannya
tetamu. Ke dalam ia tidak berani, menonton wayang tak
mungkin. Ia pun tak menerima uang persenan. Ia juga, tak
dapat berlatih silat, karena pekarangan dipakai. Dan ketika
ia pergi ke ruangan bujang-bujang, di sana tidak ada orang
yang gubris ia ...
Ketika Tay Po ngeloyor keluar, ia jemu melihat
tingkahnya tukang-tukang kereta dengan suaranya yang
berisik, sedang di antaranya ada yang mengutuk dan
murang-muring, karena uangnya habis dipakai berjudi ...
"Celaka duabelas!" kauwsu ini mengutuk seorang diri.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara orang membentak-
bentak, mengusir orang-orang yang berlalu lintas, sedang
tukang-tukang kereta yang sedang berjudi repot kantongi
uang mereka dan sembunyikan dadu, untuk turut
menyingkir ke tempat sedikit jauh. Dari dalam, berapa
bujang lari keluar, untuk menyambut tetamu.
Dengan heran, Lauw Tay Po mengawasi ke jurusan
barat, dari mana suara tadi datang. Ia lihat lima
penunggang kuda dengan semua kudanya tinggi besar.
"Pembesar pangkat apa itu?" kata Lauw Tay Po. "Lauw
suhu, lekas masuk, lekas masuk!" kata dua bujang pada
kauwsu ini.
Meski ia heran, Tay Po masuk ke kamar pengawal-
pengawal.
"Giok tayjin datang!" demikian ia dengar beberapa orang
kata.
Baru sekarang Tay Po tahu, tetamu itu ialah teetok yang
baru.
"Baru satu cengtong!" ia kata. 'Mustahil kedudukannya
melebihi kemuliaannya satu pweelek atau satu lweekok
tayhaksu? ... "
"Eh, kau tak tahu!" kata seorang. "Cengtong tinggal
cengtong tetapi kalau satu menteri besar perlu ditangkap,
cengtong adalah yang nanti bekuk dan periksa perkaranya!
Memang pangkat cengtong tidak seberapa mulia, hanya
kekuasaannya yang besar luar biasa!..
Beberapa hamba sudah lantas mengintip di jendela.
"Kauorang aneh," kata Lauw Tay Po pada mereka itu.
"Teetok toh tetap ada satu tua bangka, apa sih yang mesti
ditonton? Ia toh bukannya bapak kau orang ... "
Tapi perkataan ini tidak ada yang gubris, orang
merubung ke jendela.
Lie Tiang Siu, salah satu bujang, orangnya kate dan suka
bersenda gurau, dengan Lauw Tay Po melihat sikapnya si
guru silat, lantas tepuk pundaknya.
“Eh, Itto Lianhoa, apa kau tak mau lihat si cantik jelita?"
ia tanya.
“Si cantik jelita dari mana?" kata Tay Po. "Jangan kau
goda aku eh!"
"Goda kau, sahabatku? Tidak!" Lie Tiang Siu baliki.
"Apa kau belum tahu tentang Pakkhia punya Tee-it biejin,
atau nona elok satu-satunya? Ia malah boleh disebut nona
paling cantik di kolong langit! Ia toh ada sam-siocia dari
Giok tayjin! ... "
Tay Po terperanjat, tapi toh ia jebikan bibir.
“Ia?" ia kata. "Buat ia, lihat pun aku tak sudi! ... "
Meski begitu, ia samperi jendela dan coba pentang kedua
tangannya membuka jalan, hingga ia dapat turut melihat ke
jendela. Ia gunai jari tangannya menotok kertas jendela,
hingga ia dapai mengintip keluar.
Jalan besar sekarang sepi, tidak ada orang kecuali empat
hamba polisi yang bersenjata lengkap, sikapnya garang.
Terang mereka ini ada orangnya teetok. Teetok sendiri
tidak kelihatan, rupanya ia sudah masuk ke dalam, untuk
beri selamat panjang umur pada pweelek-ya. Tapi empat
hamba itu masih menunggu, menunggu kereta atau jolinya
nyonya teetok dan puteri.
"Celaka betul!" Lauw Tay Po menggerutu. "Kenapa ia
masih belum juga muncul? Aku ingin lihat ia sekali lagi!"
Segera juga orang saling berdesakan, tetapi Tay Po tidak
kasih dirinya ketolak.
Akhir-akhirnya toh datang juga kereta yang membawa
nyonya teetok serta nona besar. Dua budak perempuan
memimpin turun satu nyonya umur limapuluh lebih,
dandanannya mewah, di depannya berdiri satu budak lain
tukang bawa tempolong ludah. Di belakang ia ini adalah si
bidadari, Giok sam-siocia yang budak-budak kagumi,
sampai mereka ini menahan napas melihat bidadari turun
dari kayangan ...
Lauw Tay Po tidak dapat lihat mukanya, karena di
depan ia menghalang kepala orang, maka itu ia hanya lihat
pakaiannya yang indah. Di antara suara tetabuhan, nyonya
dan nona itu bertindak masuk ke dalam. Karena di luar
keadaan sunyi, sekali ini suara tetabuhan kedengaran juga
...
"Sungguh cantik!" satu orang memuji.
"Kalah gambar lukisan!" memuji yang lain.
"Ia mirip dengan dewi!" kata yang lain.
"Jadinya nona itu puterinya Giok tayjin?" kata Tay Po.
"Bukan hanya puterinya, malah puteri satu-satunya! Ia
mempunyai dua engko, yang satu di Anhui, yang satu pula
di Sucoan, dua-duanya menjadi tiehu. Nona ini baru tiga
bulan datang di Pakkhia ini, tadinya ia turut ayahnya yang
pangku pangkat di Sinkiang. Semua nona di sini harus
tunduk terhadap keelokannya! Ia tidak melainkan cantik, ia
pun pandai ilmu surat, katanya pintar sekali ... "
"Kalau begitu, hanya satu conggoan bisa nikah
padanya!" kata Lauw Tay Po dengan mendeluh.
"Conggoan? Biar conggoan naik jadi tayhaksu, ia belum
tentu bisa nikah nona itu!"
Pembicaraan berhenti, karena empat hamba teetok telah
masuk ke situ, untuk minum teh. Tidak ada orang yang
berani bicara tentang teetok itu dan keluarganya.
Di dalam pertunjukan wayang berlangsung terus, saban-
saban ganti lelakon, mengiringi kehendak tiap-tiap tetamu
yang gemar wayang.
Kecuali wayang, ada sesuatu lainnya yang menarik
perhatian orang banyak itu, ialah Giok sam-siocia. Semua
orang tahu ia berumur delapanbelas, shio Liong, maka ia
diberi nama Giok Kiauw Liong, yang berarti "naga yang
ayu dan manis.” Di matanya orang-orang tua, nona itu
kelihatan toapan dan alim, di matanya orang-orang usia
pertengahan cantik dan lemah lembut, dan di matanya
nona-nona sepantarannya, ia mendatangkan rasa kagum,
hingga hadirnya ia di pesta itu kementerengan bagi tuan
rumah.
Pada jam empat lohor, menurut kehendak ibunya, nona
Kiauw Liong undurkan diri terlebih dahulu dari medan
pesta. Ketika ia pamitan, semua mata ditujukan kepadanya,
semua orang seperti merasai kehilangan apa-apa.
Sampai magrib baru pertunjukan berakhir dan semua
tamu dengan beruntun bergantian pamitan pulang.
Di dalam istana, lentera dan lampu telah mulai dipasang,
semua hamba repot berbenah dan semua nyonya atau
Hokchin hujin pada kembali ke kamar mereka, untuk salin
pakaian dan beristirahat.
Di ruangan barat masih ada beberapa tetamu lelaki yang
pangkatnya tinggi, belum pulang, di antara siapa ada Giok
tayjin, teetok dari kota raja.
Tiat pweelek telah damaikan apa-apa dengan beberapa
rekannya, kemudian mereka pasang omong tentang hal-hal
di kota raja, sampai pada bangsa piauwsu yang gemar
berkelahi.
"Mereka semua makhluk-makhluk menjemukan!" kata
Giok cengtong sambil urut-urut kumisnya. "Mereka
kebanyakan berasal penjahat, dan meski sekarang mereka
jadi piauwsu dan berkelakuan baik, toh setiap waktu
mereka mungkin pulang asal. Aku akan awasi mereka, asal
mereka tersesat, aku akan tangkap dan berikan hajaran
keras pada mereka!"
"Tetapi tidak boleh dikatakan bahwa semua busuk,"
berkata tuan rumah sambil bersenyum. "Di antara mereka
ada orang-orang gagah sejati, yang kepandaiannya benar-
benar tinggi, hingga jikalau Pemerintah Agung dapat pakai
mereka, mereka akan menjadi orang-orang yang berarti ... "
Tiba-tiba pangeran Boan ini ingat Lie Bouw Pek, hingga
ia diam.
"Aku ada punya serupa barang yang tuan-tuan tentu
belum pernah lihat," kata ia kemudian. Lantas ia menoleh
pada Tek Lok, yang senantiasa berada di sampingnya.
"Coba kau ambil itu pedang ... "
Tiat pweelek mempunyai banyak pedang, tetapi Tek Lok
segera mengerti apa yang dimaksudkan itu tentu pedang
hadiah dari Lie Bouw Pek, maka ia manggut dan terus
pergi. Ia lewati tiga pekarangan dalam dan menuju ke
ruangan barat, terus ke kamar di mana Tiat pweelek dahulu
biasa sambut kedatangannya Lie Bouw Pek. Kamar ini
tertutup rapi, di situ Tiat pweelek simpan barang-barangnya
yang beraneka warna, dari barang-barang kuno sampai
kitab-kitab. Kunci kamar itu disimpan oleh Tek Lok, maka
dengan ajak satu kacung yang membawa api, ia dapat
lantas masuk ke dalam kamar itu, untuk mengambil
pedang, yang digantung di tembok.
Ketika hendak balik, mendadak satu orang samperi
orang kepercayaannya Tiat pweelek ini.
"Apa itu? Pedang? Mari aku lihat!" demikian kata orang
itu, yang terus saja sambar pedang itu dari tangannya si
kacung.
Tek Lok segera kenalkan orang itu, ialah Lauw Tay Po.
"Pweelek-ya menunggu, mari!" ia kata.
Tay Po sudah lantas hunus pedang itu, baru ia menarik
separuh, ia sudah terperanjat, karena sinarnya yang
berkilauan. Ia menduga, pedang itu tentunya pedang
mustika. Tek Lok tidak beri ia kesempatan untuk berpikir
lebih lama, ia sudah lantas rampas pulang pedang itu dan
bawa pergi.
Tiat pweelek sambuti pedang dari orangnya, ia periksa
dahulu, kemudian ia perlihatkan itu bergantian pada
sekalian tamunya.
Kebanyakan tamu ada dari pihak sipil, mereka tidak
mengerti tentang senjata mustika, dari itu mereka cuma
kagum dan memuji: "Bagus!" Tapi ketika datang gilirannya
Giok tayjin ia ini melihat dengan teliti sampai ia sentil-sentil
hingga pedang itu memperdengarkan suara nyaring dan
mengaung, hingga ia terperanjat. Ia dekati lampu, untuk
memeriksa lebih jauh.
"Ini pedang dapat dipakai menabas kutung tembaga atau
besi!” kata ia akhirnya. Habis kata begitu, ia menoleh dan
awasi tuan rumah.
Sambil bersenyum, Tiat pweelek berbangkit.
Di sampingnya ada satu para-para kayu merah di atas
mana berdiri sebuah hiolouw perunggu, tidak besar dan
tidak kecil, tetapi mengkilap, hiolouw itu ia perintah ambil,
dan pindahkan ke atas meja, di depan mereka.
"Aku akan coba pedang ini," ia berkata.
Semua tamu lantas berbangkit.
Dari tangannya Giok tayjin, Tiat pweelek sambut pedang
mustika itu, setelah cekal roncenya dari sutera putih,
dengan tiba-tiba ia bacok hiolouw itu, yang lantas saja
terbelah dua sambil menerbitkan suara nyaring
"Sungguh pedang yang tajam!" memuji sekalian tetamu,
di antara siapa ada yang melongo kesima.
Sambil bersenyum, Tiat pweelek serahkan pula
pedangnya pada Giok tayjin untuk diperiksa, pedang itu
gompal atau tidak.
"Benar-benar pedang mustika!" kata teetok itu dengan
kekagumannya. "Apakah namanya pedang ini Tamlouw
atau Kiekoat?"
“Tentang namanya, aku sendiri tidak tahu," Tiat pweelek
mengaku. “Aku hanya dapat menduga bahwa pedang ini
mestinya telah berusia tiga ratus tahun atau lebih. Aku
dapatkan pedang ini secara kebetulan saja sejak tiga tahun
yang lalu, lantaran repot, aku jadi tidak dapat buat main ...
"
"Coba di sini ada orang yang pandai menggunai pedang
ini, tentu akan menarik hati dilihatnya!" kata satu tetamu.
Mendengar ini, Tiat pweelek ingat lagi pada Bouw Pek
orang muda yang gagah dan pintar itu, yang jarang ada
timpalannya, maka sayang sebab membunuh OeyKie Pok,
pemuda itu kabur sebagai pemburon, hingga mereka tak
dapat bertemu pula, malah tidak tahu, ke mana pemuda itu
sekarang berada ...
Dengan tidak merasa, pangeran ini unjuk roman lesu,
maka sekalian tetamunya lantas pamitan satu persatu,
untuk tidak ganggu padanya lebih jauh. Melainkan Giok
tayjin seorang yang masih saja pegangi pedang itu yang ia
kagumi ... Ia sampai tidak merasa yang api lilin telah
sambar beberapa lembar jenggotnya yang berubanan ...
Tiat pweelek duduk sedikit jauh, hirup tehnya. Pangeran
ini malah menguap ...
Masih saja Giok tayjin pegangi pedang itu, sampai
akhirnya, dengan merasa berat, ia letaki itu di atas meja.
"Pie-cit punya dua jilid kitab tentang pedang," kata ia
kemudian, "di sana ditulis lengkap tentang ukuran dan
tanda-tandanya. Besok pie-cit kirim kitab itu kemari untuk
pweelek-ya periksa, barangkali pedang ini akan ketahuan
namanya, begitupun tahun pembikinannya. Jikalau pie-cit
tidak salah, ini pedang ialah Cheebeng kiam, pusaka dari
Sun Koan dari Tong Gouw di jaman Sam Kok ... "
"Baik, Giok tayjin," sahut tuan rumah. “Besok tolong
kau bawa kitab itu nanti kita periksa bersama-sama."
Sampai di situ barulah tamu ini pamitan pulang.
Tiat pweelek lantas masuk ke kamarnya, untuk
beristirahat.
Selagi lain-lain hamba berbenah Tek Lok bawa pedang
kembali ke kamar tulis untuk disimpan pula. Tempo ia
sampai di depan pintu, di situ berdiri menantikan Itto
Lianhoa.
"Lok-ya, sekarang aku tentu boleh lihat pedang itu,
bukan?" ia kata sambil tertawa. "Sudah sekian lama aku
menantikan di sini ... "
Sembari kata begitu, ia ulur tangannya untuk sambut
pedang itu.
Tek Lok sudah lantas mundur.
"Suhu, kenapa kau tak tahu aturan?" kata orang
kepercayaan dari Tiat pweelek itu. "Barangnya pweelek-ya
cara bagaimana kita boleh sembarang pegang?"
"Buat dilihat sebentar saja, apa halangannya," kata guru
silat ini, yang nampaknya tidak puas. "Toh itu hanya
sepotong besi! Lok-ya, kau terlalu tidak ingat persahabatan
…”
“Di sini tidak ada hal persahabatan, Lauw suhu," Tek
Lok peringatkan. "Ini barang kepunyaan pweelek-ya, ia
perintah simpan, maka kewajiban itu aku mesti lekas
lakukan, aku tidak boleh lalai ... "
Ia terus buka pintu dan gantung pedang itu.
Lauw Tay Po mendongkol.
"Dasar budak!" ia menggerutu seraya terus pergi. Ia balik
ke kamarnya, sebuah rumah dengan dua ruangan di
samping istal. Di situ ia tinggal bersama-sama Lie Tiang
Siu, siapa itu waktu sudah tidur, karena tadi ia banyak kerja
dan telah minum sampai sinting, hingga kendati ia pulas
nyenyak, ia memberikan bau arak.
"Dasar celaka!" Lauw Tay Po mengutuk, tapi toh ia
rebahkan diri, tubuhnya ia selimuti. Ia rebah belum lama
lantas ia merosot turun pula sambil tepuk-tepuk dada, ia
ngoceh sendirian: "Pedang itu disimpan sebagai mustika,
sampai aku tak boleh lihat! Tidak, aku ada Itto Lianhoa,
dan mesti dapat lihat itu, biar kepalaku copot!"
Ia lantas bertindak keluar, ia tutup pintu dan berdiri di
depan jendela. Ia lihat langit penuh bintang. Ia celingukan,
laksana seorang pencuri. Dengan angin utara meniup keras,
hawa dingin sekali.
Tukang ronda bunyikan kentongan dua kali, lantas
mereka diam sebagai mereka telah mati kedinginan ...
Istana begitu luas, tadi siang begitu ramai, sekarang
menjadi sunyi senyap ...
Lama juga Lauw Tay Po berdiri di depan jendela, lantas
ia masuk ke dalam. Ia buka baju kulit kambing, lemparkan
itu sampai menutupi kepalanya Lie Tiang Siu, tetapi ia ini
tidur tenis. Ia gulung tangan bajunya, buka sepatunya
kemudian ia keluar dari kamar.
Dengan tindakan perlahan, Lauw Tay Po menuju ke
barat. Di sebelah depan, ia dengar suara berisik, dari
hamba-hamba istana yang sedang berjudi. Ia pergi ke
bagian yang sepi.
"Orang belum tidur, di sana tentu masih ada orang yang
mondar-mandir," ia pikir, "kalau aku pergi ke kamar tulis,
orang akan pergoki aku hingga aku bakal dicurigai, jikalau
aku dituduh sebagai pencuri pedang, tentu aku akan digusur
ke depan teetok, ayahnya si bidadari ... Tidak, Itto Lianhoa
masih sayang batok kepalanya ... "
Maka ia kembali ke kamarnya, lalu pakai pula baju
luarnya. Di sini ia menunggu lewat jam tiga, pada kira-kira
jam empat, baru ia keluar pula. Ini kali ia tidak lihat sinar
api, ia dapati keadaan sunyi, tidak ada lagi suara berisik
dari mereka yang adu peruntungan.
Selagi menuju ke kamar tulis, Lauw Tay Po telah pikir,
kalau pedang hanya pedang biasa, ia mau lihat dan
kembalikan lagi, tapi kalau itu benar pedang mustika, ia
hendak bawa kabur, supaya ia dapat cari Lie Bouw Pek dan
coba tempur jago kenamaan itu.
Lekas juga guru silat ini telah sampai di kamar tulis barat
itu, di depan pintu ia raba kuncinya dengan kedua
tangannya, tapi ia kaget tidak terkira, hampir ia menjerit,
sebab kunci itu lenyap! Maka, menduga bahwa kamar telah
dibuka dan orang telah dahului ia, ia lekas-lekas mundur
dan loncat ke atas genteng. Ia tadinya hendak menjerit
memberi tanda ada pencuri, tetapi ia batalkan kapan ia
ingat, bahwa kecewa ia sebagai kauwsu bikin ribut tidak
keruan.
"Baik aku tunggu di sini, kapan si penjahat keluar, aku
nanti hajar padanya," dengan demikian ia ambil putusan,
sedang tangannya lantas meraba genteng, untuk
menyiapkan dua lembar, setelah pasang kuda-kudanya, ia
memanggil ke dalam kamar tulis: "Sahabat baik di dalam
kamar, silahkan kau keluar! Jangan kau malu-malu, Lauw
Thayya-mu tidak akan ganggu kau, paling juga aku akan
bikin kau belajar kenal sama Itto ... "
Ucapan itu belum lagi diucapkan ketika Lauw Tay Po
rasakan kempolannya ada yang dupak, hingga tidak tempo
lagi, ia jatuh ngusruk dari atas genteng, kedua lembar
gentengnya jatuh dan pecah, hancuran genteng mengenai
mukanya, sampai ia merasa sakit, tetapi tubuhnya sendiri
tidak terbanting keras, karena ia keburu geraki kedua tangan
dan kakinya, hingga ia tidak sampai jatuh tengkurap. Lekas
juga ia kembali mencelat ke atas genteng sambil berseru:
"Binatang ... "
Tapi di atas genteng sunyi, tidak ada satu manusia atau
bayangan.
Ia naik ke wuwungan dan lari ke empal penjuru, tetap ia
tidak menemui siapa juga, ia tidak melihat apa-apa hingga
ia jadi sangat heran, menyesal, mendongkol dan kecele ... ia
pun tetap tidak berani bersuara, tapi ia berlaku sebat, ia
lekas loncat turun, lari ke kamarnya pakai sepatunya dan
dandan, kemudian sambil bawa goloknya, ia lari keluar
pula. Baru sekarang ia berani berteriak-teriak: "Ada maling!
Ada maling!"
Teriakan itu segera menerbitkan kegaduhan. Paling
dahulu datang sambutan dari orang-orang ronda, yang
repot dengan kentongannya yang berisik, kemudian
menyusul rombongan cinteng dan bujang. Tay Po sendiri
kembali sudah berada di atas genteng, kapan ia lihat banyak
orang datang, ia terus berkata: "Barusan aku keluar untuk
buang air kecil, aku lihat orang di atas genteng, aku lantas
lari ambil golokku, tapi sementara itu, orang itu sudah
kabur. Coba bikin peperiksaan, ada barang yang hilang atau
tidak ... "
Suara orang jadi sangat berisik, mereka itu bawa senjata
dan tengloleng. Malah kemudian, suara berisik disambut
dengan kentongan atau gembrengnya orang-orang ronda
umum yang sedang jalankan kewajiban di jalan-jalan besar,
karena mereka ini telah dengar kentongan di dalam istana.
Tidak lama pula datang pembesar polisi serta belasan
anggautanya.
Kapan siewie dari istana pweelek muncul, ia segera
cegah orang bikin ribut, kuatir Tiat pweelek menjadi kaget,
sedang kemudian datang Tek Lok, yang pun melarang
orang bikin kacau, kemudian ia tambahkan: "Pweelek-ya
telah mendusin, ia tanya telah terjadi apa. Lekas bikin
peperiksaan ... "
Sampai di situ, suara menjadi sirap, lantas dalam satu
rombongan besar, orang mulai membikin peperiksaan.
Kedua siewie bersama Tek Lok, kepalai rombongan bujang-
bujang, dan pembesar polisi serta orang-orangnya. Lauw
Tay Po pun turut dalam rombongan itu.
Segala pelosok pekarangan, semua samar telah diperiksa,
di semua tempat itu tidak kedapatan orang jahat atau
barang lenyap, hanya di kamar tulis, kuncinya telah rusak,
dan dari situ telah hilang pedang mustika, ialah Cheebeng
kiam.
Tek Lok kerutkan alis, semua orang jadi tercengang.
Ketika orang kepercayaan dari pweelek memandang
Lauw Tay Po, ia heran. Ia dapatkan mukanya kauwsu itu
borboran darah dan bengkak ... Ia jadi tertegun.
"Bagaimana sekarang?" kata ia kemudian. "Itu ada
pedang mustika, yang pweelek-ya paling sayang! Baru tadi
pweelek-ya pertontonkan itu pada orang banyak, sedang
Teetok Cengtong Giok tayjin berniat membawa kitab
tentang pedang, guna cari tahu namanya pedang itu ...
Siapa sanggup ganti pedang itu?"
Ia tetap awasi si guru silat, hingga hatinya Lauw-Tay Po
jadi berdebaran, karena ia insyaf, ia memang harus
dicurigai. Tapi ia tabah, ia bawa aksi.
"Lok-ya, percuma kau sibuk saja!" ia kata. "Sekarang
pergi kau pada pweelek-ya, beritahukan kehilangan itu dan
katakan juga, aku minta tempo sepuluh hari untuk cari
pedang itu dan bekuk pencurinya. Jikalau aku gagal, aku
suka serahkan batok kepalaku! ... "
Suara itu mengandung kegusaran, hingga semua mata
memandang kauwsu ini. Kedua siewie memandang dengan
mendongkol. Coba yang bicara satu bujang, mereka tentu
sudah menegur. Akhirnya mereka minta pembesar polisi
pergi di luar, mereka sendiri masuk ke dalam untuk
melaporkan pada Tiat pweelek. Kamar tulis dijaga oleh dua
bujang dengan satu lentera.
Selama itu, tidak ada orang yang ajak Lauw Tay Po
bicara, sebaliknya, semua mata memandang ia dengan
kecurigaan, maka akhirnya ia ngeloyor seorang diri. Ketika
ia sampai di depan, ia dapati orang-orang polisi berkumpul
sambil minum teh.
Ia coba dekati jendela, untuk pasang kuping, tetapi ia
tidak dengar nyata pembicaraan mereka itu.
"Tidak salah lagi, tentu mereka ini sangka aku! ... " kata
ia dalam hatinya dengan sengit. "Aku mesti adu jiwa dan
bikin terang perkara ini. Tidak boleh orang curigai dan
sangka aku!"
Sekian lama Tay Po berdiri, dengan hati mendongkol.
Malam itu gelap, angin masih meniup keras. Itu waktu
sudah jam empat. Tay Po lihat Tek Lok keluar pula dengan
satu kacung yang membawa lentera.
"Bagaimana?" ia tanya sambil menghampiri hambanya
Tiat pweelek itu. "Apa kau telah sampaikan pernyataanku?
Jikalau aku diijinkan bekerja, besok aku akan mulai!
Perkara ini tak usah dilaporkan ke kantor teetok ... "
Tek Lok goyang-goyang tangannya, ia nampaknya uring-
uringan.
"Kau tidak usah kata apa-apa, pergilah tidur!" demikian
sahutnya. Ia jalan terus dan masuk ke dalam.
Tay Po tertawa menghina, ia tetap berdiri, memasang
kupingnya di jendela. Ia lantas dengar suaranya Tek Lok:
"Tuan-tuan silahkan pulang. Pweelek-ya kata, hilangnya
sebatang pedang tidak berarti, itu hanya perkara kecil, dan
ia tidak ingin tarik panjang ... "
Mendengar itu, Tay Po menjadi heran berbareng kagum.
"Sungguh murah hatinya pweelek-ya ... " ia pikir.
"Hilangnya sebatang pedang mustika ia tidak sesali, ia tak
bergusar atau berduka, jarang ada orang sebagai ia ... Maka
dahulu, entah bagaimana baik ia telah perlakukan pada Lie
Bouw Pek ... Sejak aku datang kemari, nampaknya ia
kurang perhatikan aku, maka sekaranglah ketikanya buat
aku unjuk kepandaianku, dengan aku cari sampai dapat
pedang itu! Aku pun tidak boleh kasih hati pada si pencuri,
ia tidak saja telah bikin malu aku, ia pun telah dupak aku,
sampai aku roboh dengan muka babak belur! Dengan
dapati pulang pedang itu, pweelek-ya tentu akan beri persen
padaku, sedang sangkaan orang banyak bakal lenyap
sendirinya ... "
Sehabis berpikir demikian Tay Po lantas pergi ke
kamarnya. Lie Tiang Siu masih tidur menggeros, kendati di
luar sangat berisik.
Untuk dapat mengaso, Tay Po lantas rebahkan diri dan
meringkuk dengan tubuh tertutup selimut, goloknya ia
letaki di sampingnya. Ia tidak tidur lama, karena pada kira-
kira jam enam, ia sudah mendusin dan bangun, lalu
berdandan. Ia sampai tak cuci muka lagi. Dengan bekal
uang dan bawa goloknya, ia ngeloyor keluar. Ia telah ambil
putusan untuk menjadi polisi rahasia. Demikian ia sampai
di jalan besar di Anteng-mui. Ia tak pedulikan rasa sakit
pada mukanya.
Tidak lama Lauw Tay Po telah sampai di "See Tay Ih",
warung teh paling terkenal di Pakshia atau Kota Barat. Di
situ, kecuali teh dan kue, orang pun dapat pesan barang
santapan. Ruangan yang besar cukup untuk empat sampai
lima ratus tetamu. Setiap pagi di situ biasa berkumpul
banyak orang pengangguran atau buaya darat.
Begitu masuk ke dalam ruangan, Tay Po merasa gerah,
maka ia buka baju luarnya, dan lampirkan itu di lengannya.
Ia melihat ke sekitarnya. Di lankan ia lihat banyak
kurungan burung dengan burungnya, kepunyaan tetamu-
tetamu yang gemar piara burung. Suaranya burung-burung
itu cukup berisik.
"Lauw-ya, mari duduk, mari! Pagi sekali Lauw-ya sudah
datang," demikian beberapa orang menanya ketika mereka
lihat kauwsu ini. Mereka mengundang sambil berbangkit.
Tay Po manggut pada mereka itu, ia bersenyum.
“Ya, masih pagi, ya?" ia kata. "Baru hampir jam tujuh
..."
“Mari, Lauw-ya, mari duduk di sini!" kata seorang, yang
menghampiri dan tarik padanya.
Tay Po menoleh, hingga ia lihat seorang dengan kepala
botak, dan baju hijau, dengan hidung ditutupi pieyan. Ia ini
ialah Toh Tauw Eng, si Garuda Botak, satu buaya darat
yang hidup dari rumah judi, yang paling doyan berkelahi
dan berbuat sewenang-wenang, hingga orang takut
padanya, tetapi Tay Po pernah hajar ia, hingga ia takluk
pada ini kauwsu, yang ia jadikan sahabat.
"Eh, Loo Toh, ada apa?" ia tanya.
"Mari ada satu warta untuk kau!" sahut si buaya darat.
"Kabar apa?" Tay Po tertawa. "Tentu tentang si nona
memiara anak ... "
Toh Tauw Eng tarik terus ke mejanya sahabat itu. Ia
tuang pieyan ke dalam satu cawan kecil, usap itu ke
mukanya, ia tuangi teh untuk sahabatnya.
"Aku dengar semalam di Istanamu telah terjadi apa-
apa?" kemudian ia tanya dengan suara perlahan, matanya
melirik ke sekitarnya. “Mau atau tidak, Lauw Tay Po unjuk
roman heran.
"Kupingmu benar panjang!" ia kata.
"St, perlahan!" Toh Tauw Eng memberi tanda, matanya
dilirikkan.
Tay Po menoleh, maka ia lihat dua orang polisi, dengan
baju pendek tapi mewah, sedang bicara dengan seorang
lain.
"Mereka itu ada Thio Pat dan Bang Kiu," Toh Tauw Eng
beritahukan, "keduanya pantauw dari Teetok Geemui.
Tidak biasanya mereka berada di sini, maka mereka tentu
datang untuk kejadian di Pweelek-hu ... "
Kemendongkolan Tay Po timbul pula dengan mendadak.
"Gila!" ia justru berseru, "Pweelek-ya sendiri tidak tarik
panjang perkara itu, apa perlunya mereka campur tangan?"
"Hus!" Toh Tauw Eng memperingatkan, seraya tarik
tangan orang. "Jangan cari perkara, sahabatku! Pweelek-ya
boleh berdiam tetapi mereka dari Geemui, mana mereka
dapat diam saja? Masih untung baru kejadian pencurian
pedang, coba ada orang bawa pedang dan menyerbu,
apakah itu bukannya onar? Dalam kejadian ini, pembesar
negeri harus ambil tindakan keras ... "
Lauw Tay Po ketok-ketok meja.
"Peduli apa!" ia berseru. "Kalau ada orang curigai aku,
hm, aku akan kutungi batang lehernya!"
"Tapi benar, Lauw-ya, benar ada orang curigai kau ... "
Toh Tauw Eng berbisik.
Tay Po berbangkit, tangannya menjambak kawannya itu,
yang ia awasi dengan bengis.
"Katakan, siapa yang curigai aku! Aku akan segera pergi
padanya!" ia berseru.
Toh Tauw Eng tarik sahabat itu, disuruh duduk pula. Ia
bersenyum.
"Sabar, sobat!" ia membujuki. "Dengan sebenarnya
dugaan mesti menjurus ke situ. Pikir saja, kau menjadi guru
silat di sana dan di sana terjadi pencurian itu! Untuk nama
baikmu, kejadian itu merugikan. Maka menurut aku, kau
justru mesti pergi ke Lammui untuk membikin penyelidikan
di rumah-rumah penginapan, di berbagai-bagai piauwtiam,
buat mencari tahu ada atau tidak kangouw enghiong yang
baru datang ... "
Tapi Tay Po tertawa.
"Jangan kata enghiong, anjing dan biruang pun tak ada!"
ia kata secara menghina. "Aku Itto Lianhoa, aku tidak mau
bertindak sembarangan ... Tapi ... " dan ia lalu berbisik,
"apakah kau tahu bahwa selama ini Pakkhia kedatangan
satu ayah dan gadisnya dan si ayah pandai mainkan
liuseng-twie? ... "
"Dan yang perempuan main injak tambang?” Toh Tauw
Eng tambahkan.
"Aku belum pernah lihat itu nona main tambang. Apa
sekarang mereka masih belum berlalu dari sini?"
"Belum ... " sahabat itu tertawa. "Kemarin mereka buka
pertunjukan di Kouwlauw Barat dan aku telah menonton
sekian lama. Dalam beberapa hari ini, bukan sedikit mereka
telah keduk uang ... Romannya nona itu boleh juga, malah
kakinya sangat mungil, hanya karena biasa merantau, kulit
mukanya agak hitam, coba ia pakai sedikit pupur, harganya
akan naik beberapa chie lagi ... Lauwko pikir bagaimana?
Apakah kau hendak serep-serepi tentang mereka itu?"
Tay Po berdiam, ia agaknya berpikir.
"Baik lauwko jangan capaikan hati tentang mereka itu,"
Toh Tauw Eng lanjuti. "Penunjukan mereka hanya
pertunjukan biasa saja, nona itu benar pandai jalan di atas
tambang, tapi buat suruh ia naik ke atas genteng, jangan
kira ia mampu! Pakkhia memang sering kedatangan orang-
orang pengembaraan sebagai mereka, untuk cari sedikit
uang. Pada tahun yang lalu datang satu pemudi berumur
kira-kira duapuluh tahun serta isterinya umur tujuh atau
delapanbelas tahun, yang mainkan duabelas batang golok,
sesudah ngamen di sini tiga bulan, mereka berlalu dengan
diam-diam ... Kalau lauwko curigai itu ayah dan gadisnya,
kau akan cari pusing sendiri ... "
Tay Po goyang kepala, ia bersenyum, tetapi ia bungkam.
Ia hirup tehnya.
"Lauw Toh," kata ia kemudian, "lambatnya sepuluh hari,
atau secepatnya tiga hari, aku nanti buktikan! Lauw Tay Po
mau bekerja tak dengan bantuan pembesar negeri! Lihat
saja nanti!"
Sembari kata begitu, ia buka kancing bajunya dan
perlihatkan dadanya. Di situ, sebesar cangkir, terlihat
cacahan bunga teratai. Di bawah ini terlukis selembar daun
teratai, hanya daunnya bukan cacahan, warnanya hitam,
seperti bekas kebakar besi panas.
"Mengapa aku dipanggil Itto Lianhoa?" kata ia
kemudian, seraya tunjukkan cacahan bunga teratai itu.
"Kau mengerti sekarang, bukan? Ini kejadian lima tahun
yang lalu. Itu waktu aku bekerja di suatu tempat, aku telah
berhasil bekuk berandal besar Ciauw Hek Ku dan obrak-
abrik sarang berandal di Tamcu San. Seorang diri aku
pernah masuki sarang berandal di mana orang telah cap
dadaku dengan besi panas. Ketika itu, aku berjengit pun
tidak! Sesudah lukanya sembuh, lantas ketinggalan tanda
ini seperti daun teratai, maka supaya jadi bagus, aku
teruskan cacah dengan bunga teratainya!"
Selagi sahabat itu melongok, Tay Po kancing pula
bajunya, kemudian ia berbangkit.
"Aku mau pergi," ia berkata. "Aku beritahu padamu,
jangan kau buka rahasia tentang niatanku ini, nanti
penjahat kaget dan buron." Ia bersenyum. "Awas jikalau
kau bocor mulut, aku potong hidungmu hingga kau tak
dapat lagi cium pieyan ... "
"Jangan kuatir, jangan takut," teman itu kata berulang-
ulang. "Pasti mulutku rapat, aku tak akan beber rahasia.
Tapi, di mana aku harus cari kau, lauwko, andaikata aku
hendak bawa kabar padamu? Aku suka bekerja untuk kau ."
Lauw Tay Po tertawa.
"Ya, aku seperti si pemburu rase," ia kata, "aku tak boleh
tak mempunyai anjing ... "
Sesudah kata begitu, ia melirik ke jurusan opas tadi, ia
bersenyum ewah, tanda menghina, kemudian ia berbangkit
dan ngeloyor keluar. Selagi ia lewat, beberapa orang
menegur ia secara hormat. Ia pulang terus ke Pweelek-hu
untuk bersantap. Sehabis tukar pakaian, ia keluar pula pergi
ke Kouwlauw.
Itu waktu baru tengah hari lewat sedikit.
Waktu Tay Po samperi satu tukang gelar untuk minta
keterangan, tukang gelar itu jawab padanya: "Orang yang
buka pertunjukan bandring itu akan datang kira-kira lagi
satu jam. Selama dua hari ini mereka terus buka
penunjukan di depan gedung Giok tayjin di barat sana ..."
Mendengar disebutnya Giok tayjin Tay Po jadi berpikir.
"Apakah aku keliru menduga?" pikir ia. "Jikalau mereka
betul si penjahat, mustahil mereka berani buka pertunjukan
di gedung teetok?"
Ia jalan terus, ke Kauwlauw Barat, ketika ia hampir
sampai di Tekseng-mui, ia kembali. Ia lihat banyak gedung
di sebelah barat tapi ia tidak tahu yang mana gedungnya
Giok tayjin.
"Kalau aku dapat melihat pula si bidadari, barulah aku
beruntung!" ia ngelamun.
Sesudah sekian lama menunggu, Tay Po lihat dari
jurusan barat, si tukang main liuseng-twie dan gadisnya
sedang mendatangi. Ayah itu pakai pakaian tua dan
tambalan, kecuali liuseng-twie ia bawa juga sepasang
tombak hoachio, yang bikinannya istimewa, dengan gagang
besi dan dua batang tombak dengan empat cagak. Ini ialah
tombak yang dipanggil siangchio atau tombak sepasang.
Senjata macam ini Tay Po belum pernah lihat orang
gunakan atau yakinkan, hanya ia pernah nonton dalam
wayang.
Si nona dandan serba merah, hanya angkin-nya
berwarna putih. Rambut dikonde dua, hitam mengkilap,
dan ditancapi bunga mawar sutera. Ia pun pakai pupur dan
yancie, bibirnya merah, dan kupingnya dihiasi sepasang
anting-anting. Ia bertindak dengan elok, dengan kedua
tangan menyekal gembreng dan tambang.
Tay Po jalan melewati ayah dan anak itu, kemudian ia
balik lagi, dan mengikuti mereka, yang menuju ke timur.
Mereka berhenti di depan sebuah rumah besar, yang pintu
pekarangannya berada di tempat tinggi dan di depannya
tumbuh pohon-pohon hoay yang besar serta belasan pelatok
di mana untuk menambat kuda.
Pintu pekarangan baru dicat, dan ditulis huruf-huruf
pujian, sedang tembok di sebelah dalam diukir indah, begitu
pun tiang dan pilarnya.
"Ini tentu gedungnya Giok tayjin ... " pikir Tay Po. "Jadi
si bidadari tinggal di sini ... Gedung ini merupakan istana ...
Pantas itu hari engko misanku tegur aku waktu aku
kesomplok si bidadari di rumahnya Tek ngoya ... "
Beberapa bujang telah muncul, mereka semua
mengawasi si nona tukang dangsu.
"Sudah ditang! Sudah datang!” kata beberapa antaranya.
"Ya, baru datang!" sahut si tukang dangsu tua. "Burung
hong menclok di tempat istimewa tapi kita tidak berani
bandingkan diri kita dengan burung hong, kila hanya si
puyuh tua dengan si puyuh anak ... Ini hari kita akan
pertunjukkan lagi liuseng-twie menginjak tambang yang
istimewa ..."
"Hayo tabuh gembreng!" ia kata pada anaknya.
Cepat sekali, orang merubung, berikut bujang-bujang
dari gedung itu juga Lauw Tay Po. Orang-orang yang
berlalu lintas, semua pada mandek ...
Si nona letaki tambangnya dan gulung tangan bajunya,
lantas ia palu gembrengnya.
Ayahnya kiongchiu pada orang banyak. "Kita ayah dan
anak merantau ke kota raja ini ... " ia kata.
"Kota raja yang indah permai!" si nona tambahkan. "Di
mana ada berkumpul malaikat-malaikat uang ... " kata pula
si ayah.
“Malaikat-malaikat yang beruntung!" si nona
menyambung pula.
Demikian ayah dan anak angkat bicara, dengan si anak
saban-saban bunyikan gembrengnya, selaras dengan
kebiasaan tukang silat yang hendak buka pertunjukan.
Nona itu pun berani, ia tidak takut bujang-bujang pada
lirik atau implang padanya, ia tidak likat atau jengah.
Si tua sudah lantas bersilat dengan bandringnya, tapi
penonton tujukan matanya pada si nona hitam manis, yang
kakinya mungil.
"Aku telah mainkan bandring, sekarang gilirannya
anakku jalan di tambang," kata si tua kemudian. Ia terus
ambil sepasang tombaknya, dan tancap itu jauh di kiri dan
kanan, merupakan tiang, tambang itu lantas dipasang.
"Sekarang kita boleh mulai," ia kata pula dan terus
sambuti gembreng dari si nona.
Nona itu lantas maju ke depan, geraki kaki dan
tangannya, dan putar tubuhnya ke kiri dan kanan.
Gerakannya sangat gesit.
Sambil memukul gembreng, ayahnya terus ngoceh,
kemudian ia berkata: " ... Thio Ko Loo naik keledai jalan di
atas tambang ... " Mendadak tubuhnya nona itu melejit naik
ke atas tambangnya di mana ia terus berdiri bergerak-gerak,
laksana mencloknya kupu-kupu yang tak dapat berdiri
diam, kemudian dengan tolak pinggang, ia terus maju dan
mundur.
Sekalian penonton bersorak, Tay Po menjadi kagum.
Biasanya tukang dangsu lain jalan di atas tambang dengan
pegang galah atau barang lain, sebagai imbangan, tetapi
nona ini tidak.
"Han Siang Cu meniup suling sungguh merdu ... " kata si
ayah pula.
Dan anaknya keluarkan suling dari pinggangnya lalu
meniupnya, dengan kakinya tetap bergerak maju mundur.
"Na Cay Hoo mempersembahkan bunga!" mengulangi si
ayah.
Lantas si nona putar tubuhnya, dengan tangan ke atas,
kepala ke bawah, hingga ia jadi ngelenggak. Sambil berbuat
demikian, ia jalan beberapa tindak.
"Bagus, bagus!" berseru orang banyak.
"Bagus!" Tay Po turut memuji.
Di antara suara gembreng yang riuh, si ayah ngoceh
terus: "Holouw-nya Tiat Koay Lie unjuk pengaruhnya!
Tamburnya Co Kok Kiu berbunyi nyaring! Kipasnya Han
Siang Coe menyampok menderu-deru. Ya, Lu Tong Pin
memetik setangkai teratai! ... "
"Salah, salah!" balas si nona dari atas tambang. "Lu Tong
Pin bersenjata pedang! Yang petik bunga teratai adalah Hoo
Sian Kouw!."
"Ya, ya, Lu Tong Pin mainkan pedang!" ayahnya
membenarkan, gembrengnya ia palu semakin seru. "Ya, Lu
Tong Pin mainkan pedang!"
Tapi segera juga ia berkata lagi: "Dan sekarang Hoo Sian
Kouw unjuk kegagahannya!”
Anaknya selalu turuti perkataannya ayah itu. Ia pentang
kedua tangannya, taruh itu di depan dadanya, kemudian
berbareng dengan gerakan kakinya, kedua tangan itu
digerak-gerakkan pula dan bersilat di atas tambang itu.
Tiba-tiba si ayah palu gembrengnya dengan keras, lalu ia
tekap itu, hingga suaranya berhenti dengan segera,
berbareng dengan mana, nona itu pun berhentikan semua
gerakannya, dengan satu enjotan tubuhnya melayang turun
"kedua kaki teratainya" sampai di tanah dengan tidak
menerbitkan suara.
"Bagus, bagus!" berteriak orang banyak, dengan
berulang-ulang. Ayah dan anak itu manggut pada orang
banyak untuk terus memohon saweran.
Lauw Tay Po turut menyawer, ia lemparkan serenceng
uang, hingga uang itu menerbitkan suara berisik waktu
jatuh di tengah kalangan, hingga tidak saja si nona dan
ayahnya pun lain-lain penonton menoleh padanya dan
mengawasi.
Kedua tukang dangsu menghaturkan terima kasihnya
pada semua penonton, kemudian mereka mulai
mengumpulkan uang sawerannya, setelah mana, sang ayah
mainkan pula bandringannya.
Bujang-bujang dari teetok sudah lantas undurkan diri
tetapi lain-lain penonton masih banyak.
Tidak antara lama sekalian penonton itu kalut dan lari
serabutan, hingga Lauw Tay Po pun turut minggir ke pojok
tembok sebelah selatan.
Nyata ada datang dua hamba polisi, yang dengan pecut
usir orang banyak.
Kedua tukang dangsu pun repot dan buru-buru angkat
kaki, tetapi mereka dikejar oleh hamba wet itu.
Menampak demikian, Lauw Tay Po tidak puas. Ia keluar
dari tempatnya dan mencegat dua hamba wet itu.
"Mereka membuka pertunjukan untuk mencari uang,
kenapa jiewie usir mereka?" ia tanya.
Dua hamba wet itu menoleh dan mengawasi ia.
"Kau siapa?" tanya yang satu, dengan suara sengit.
"Aku orang she Lauw, kauwsu dari Pweelek-hu!" sahut
Tay Po. "Aku adalah satu di antara sekalian penonton ... "
Mendengar demikian, dua hamba wet itu lantas
bersenyum.
"Lauw-ya tentu tidak ketahui sebabnya," salah satu lalu
menerangkan. "Kita berdua dari Teetok Geemui. Dan itu
gedungnya Giok tayjin. Tayjin punya aturan keras, ia suka
dengan kesunyian, hingga segala pedagang keliling ia larang
berteriak-teriak di depan gedungnya. Tapi ini dua tukang
dangsu tiap hari buka pertunjukan di sini, mereka selalu
membikin berisik. Kemarin ini malah siocia pun turut
keluar dan menyaksikan, maka mereka ini jadi ketagihan
lantas setiap hari datang kemari. Tentu saja ini tidak boleh,
apa pula sekarang tayjin sedang tidak senang hati! ... "
"Nah, sudahlah," kata Latiw Tay Po, "mereka sudah
angkat kaki, baik mereka jangan dikejar lebih jauh."
"Baiklah," sahut itu dua orang, yang terus manggut dan
berlalu.
Ayah dan gadis tadi masih berlari-lari ke jurusan timur,
beberapa kali mereka menoleh ke belakang.
Lauw Tay Po susul tukang dangsu itu, sampai di
Kouwlauw, di belakang mana terletak satu pekarangan
kosong dan lebar, maka di sini itu ayah dan anak berhenti
untuk mulai buka pertunjukan lagi.
Penonton sudah lantas datang, dengan cepat mereka
merupakan satu gerombolan.
Lauw Tay Po menyaksikan pula sekian lama, lantas ia
pergi ke warung nasi yang berdekatan untuk tangsel
perutnya.
"Aku berani bertaruh, itu ayah dan anak mesti orang-
orang jahat ... " kemudian ia berpikir. Ia telah tenggak arak
dan habiskan dua mangkok mie. "Mereka pandai silat,
tubuh mereka enteng dan gesit! Apa mungkin mereka hidup
tetap sebagai sekarang! Inilah aku sangsikan! Mungkin
mereka pencuri! Jangan-jangan si tukang dangsu yang telah
dupak aku rubuh dari atas genteng dan sekarang pedang
mustika itu berada di tangan mereka. Rupanya mereka
sengaja buka pertunjukan di depan gedung Giok tayjin
untuk menyerep-nyerepi kabar ... "
Habis dahar, Tay Po kemudian nyelip pula di antara
orang banyak. Sekali ini ia lihat, berdiri di atas tambang,
anak perempuan tadi sedang mainkan bandring, malah
dengan terlebih menarik daripada permainan ayahnya.
Semua penonton menjadi kagum, hingga mereka
mengawasi dengan tercengang, kemudian mereka bersorak
dan memberi uang.
Tay Po mendengar pula, hanya setelah itu, ia pergi ke
pinggir. Ia menunggu sampai magrib, sampai ayah dan
anak berhenti dengan pertunjukannya dan semua penonton
bubaran. Mereka ini lantas berbenah dan kemudian
ngeloyor pergi.
Dengan diam-diam, Lauw Tay Po kuntit dua orang itu,
yang menuju ke barat, rupanya mereka lelah, mereka jalan
dengan perlahan-lahan. Sinar matahari sore telah soroti
baju merah nona itu dan bunga merah di kondenya ...
Sejarak duapuluh tindak lebih, Tay Po terus bayangi dua
orang itu.
Ayah dan anak itu jalan di jalan besar dari Kouwlauw
Barat, ketika mereka lewat di depan gedung Giok tayjin, si
ayah menoleh dan mengawasi ke gedung. Diam-diam Lauw
Tay Po bersenyum mengejek.
Masih saja tukang dangsu itu jalan terus, melewati
jembatan Tekseng Kio, terus ke arah barat ...
Di depan mereka tertampak pemandangan dari musim
dingin, karena telaga yang besar dan lebar, airnya telah
menjadi beku. Di tepi telaga tumbuh puluhan pohon
yangliu tua, yang tak berdaun lagi, malah cabang-cabang
kecil pun tidak, hanya cabang-cabang besar saja dan batang
atau bongkotnya yang ketinggalan.
Di tengah-tengah telaga, di bagian barat, ada sebuah
bukit yang merupakan pulau, di atas itu tumbuh banyak
pepohonan. Di situ kelihatan tembok merah dari sebuah
rumah berhala.
Di empat penjuru telaga ini berdiri banyak rumah-rumah
besar dan indah, dengan liang dan lauwteng-nya yang
terukir atau terlukis indah, sebab itu kebanyakan vila-vila
kepunyaan orang hartawan.
Hanya sedikit tertampak rumah-rumah atau gubuk
orang-orang miskin.
Di waktu magrib itu, dengan angin meniup keras, hawa
telah menjadi dingin luar biasa.
Di atas cabang-cabang gundul, burung-burung gowak
berisik dengan suaranya yang tak enak didengar ...
Di musim panas, Lauw Tay Po pernah datang ke tempat
ini, maka ia tahu, ini adalah tempat yang terkenal dari
Pakkhia, yang oleh golongan sastrawan dinamai Cenggiap
Ouw, Telaga Kebersihan, sementara di antara orang banyak
terkenal dengan nama Ceksui Tha, Tempat Berkumpulnya
Air ...
Tukang dangsu tadi jalan terus di sepanjang tepi timur
menuju ke utara, dan gadisnya mengikuti di belakangnya,
maka itu Tay Po berada di belakangnya si nona hitam
manis itu.
Ayahnya jalan terus, dengan tak menoleh sedikitpun,
tetapi gadisnya, mendadakan putar tubuhnya yang langsing
ke belakang, hingga ia dapat lihat kauwsu itu, hanya ia tak
kata apa-apa, ia melainkan mengawasi dengan matanya
yang tajam, lalu ia bersenyum. Ia pindahkan gembreng dan
tambang ke sebelah tangan, dan dengan tangannya yang
lain ia ambil sapu tangan di pinggangnya dan susut
jidatnya, kemudian ia bersenyum pula, ia putar lagi
tubuhnya dan terus bertindak menyusul ayahnya ...
"Itu tandanya main mata dengan aku ... " pikir Tay Po.
"Oh, nona, jangan kau bersikap begini terhadap Lauw
tayya-mu, karena tayya ada satu loohan besi yang tidak
dapat digoda oleh siluman rase ... "
Tay Po menguntit terus, sampai di sebelah utara ia lihat
sebuah rumah tua dan sudah rusak, atapnya dari rumput
ketutupan lempung, bata temboknya sudah kelihatan
susunannya, dan di pintu depannya banyak tumbuh pohon
duri ...
Si tukang dangsu masuk ke dalam rumah itu. Sebelum
anaknya susul ayahnya masuk, ia menoleh pula, ia
bersenyum, sapu tangannya diulap-ulapkan.
Mau atau tidak, Tay Po tertawa kepada nona itu.
"Adikku, di sini aku tunggui kau! ..." ia kata dalam
hatinya. "Adikku, lekas kau serahkan itu pedang mustika
padaku ... "
Sampai mereka sudah masuk ke dalam, Tay Po masih
jalan mundar-mandir di dekat rumah itu dan ketika cuaca
mulai gelap, pengaruh air kata-kata pun telah lenyap, maka
ia segera merasai hawa dingin.
"Baik aku main-main di es sebentaran ... " kata ia dalam
hatinya. "Kemudian aku pergi minum pula di Tekseng Kio
... “
Apa mau, baru saja ia loncat di atas air beku itu, ia
terpeleset, hingga ia tengkurap di atas es itu!
Berbareng dengan itu, di tepi telaga ia dengar suara
orang perempuan tertawa cekikikan!
Lekas-lekas Tay Po merayap bangun, ia berundak ke
darat, ketika ia mengawasi, ia kenali orang yang tertawa itu
ialah nona tukang dangsu tadi, si hitam manis! Tidak tempo
lagi, ia hampirkan itu nona, untuk terus dicekal tangannya.
"Adikku, kau tertawai aku?" ia kata. "Berapa banyak aku
telah menyawer pada kau, kau tahu? Dan kalau tidak ada
aku, tadi kau tentu rasai cambuknya hamba-hamba dari
teetok tayjin! ... "
Si nona tertawa.
"Awas, jangan tarik aku!" ia kata. "Awas, mangkokku
nanti pecah! ... "
Tay Po lihat, si nona benar sedang pegangi mangkok.
"Kau hendak beli apa?" ia tanya.
"Aku mau beli kecap," sahut si nona itu. "Aku hendak
masak nasi. Sebentar sehabisnya bersantap, ayah baru pergi
ke warung teh dengari tukang cerita, maka sebentar, toaya,
kau boleh datang padaku ... "
"Apakah benar?" Tay Po tegasi, sambil tertawa.
"Kenapa tidak benar?" si nona baliki, "Tadi, begitu lekas
aku lihat kau, aku lantas menduga bahwa kau memangku
pangkat, bahwa kau punya banyak uang, malah kau pun
berhati murah ... "
Tay Po lantas lepaskan cekalannya, ia tepuk pundaknya
nona itu ...
"Kau lagi umpak-umpak aku!" ia berkata. "Sekarang
lekas kau beli kecap dan pergi masak, supaya ayahmu lekas
dahar dan pergi dengari cerita! Sebentar sebelum jam
delapan, tentu aku bakal datang! Tanda kita ialah tepukan
tangan ... "
"Baik," ia kasih kepastian. "Nah, pergilah kau pulang
dahulu dan makan rumput! ... "
Lantas ia lari ke selatan, beberapa kali ia menoleh dan
tertawa, tingkahnya lucu dan menarik.
Tay Po berdiri melongo, semangatnya seperti terbang
pergi, hingga ia seperti tak merasakan angin yang dingin. Ia
masih berdiri diam ketika dari jurusan selatan nona tukang
dangsu tadi kembali sehabis belanja.
"Adik, tunggu dulu!" ia lalu berkata, sambil memberi
tanda. "Aku hendak tanya kau, kau sebenarnya orang she
apa ... "
Ia ulur tangannya cekal tangan si nona ...
Nona itu mengegos ke samping dan ia terus lari,
gerakannya cepat dan gesit, ketika Tay Po kejar padanya, ia
lari terus, sambil tertawa cekikikan. Ia pandai lari keras,
sebentar saja ia sudah sampai di pintu rumah.
Tay Po tidak dapat menyandak, ia mengintip ke dalam,
ia lihat cahaya api, lantas ia berjalan pergi. Ketika ia sampai
di Tekseng Kio, ia periksa uangnya lalu masuk ke dalam
warung nasi. Ia minta arak, untuk tenangkan diri dan
lewatkan tempo ...
Sekarang guru silat ini tak dapat melupakan muka hitam
manis itu, yang senantiasa terbayang di depan matanya. Ia
lihat sepasang mata yang jeli, muka yang berseri-seri. Itu
konde dua, baju dan celana merah, sepatu merah juga,
bersama sapu tangan putih yang melambai-lambai ... Ia
seperti lihat tubuhnya yang langsing dan gesit ...
Kemudian ia ingat pedang mustika, yang ia lagi cari.
"Pasti aku bakal berhasil! ... " akhirnya ia berpikir.
"Bukan saja aku akan dapatkan kembali pedang itu, malah
juga setangkai bunga teratai ... "
Lalu ia keringkan cawan air kata-kata yang ada di
depannya.
Dengan jalan itu, Tay Po tunggu waktu. Ia tidak pulang
lagi. Kira-kira jam delapan, ia bayar uang makan dan
bertindak keluar. Ia lawan serangannya angin utara. Karena
ia telah minum banyak juga, ia rasakan kepalanya sedikit
pusing dan tubuhnya seperti terbawa angin. Ia merasa
dirinya sebagai pengantin hendak masuk ke dalam kamar.
Maka, karena masih sadar, ia coba kendalikan diri.
"Aku tak boleh lupa bahwa sekarang aku sedang selidiki
perkara!" demikian ia kata dalam hatinya. "Sekarang aku
bukannya pergi pelesir! Jikalau aku lupa akan diriku,
pedang tak akan didapat kembali, sebaliknya,
kehormatannya Itto Lianhoa akan turun! ... "
Demikian ia menuju ke Ceksui Tha, sampai ia lihat
rumah rusak itu dan mana cahaya api menyorot keluar, tapi
sekelebatan saja, cahaya itu lenyap.
"Bagaimana, eh?" ia berpikir. "Si nona pergi ke belakang
atau ia hendak mengintai jangkrik? ... "
Lantas ia lari hingga dengan cepat ia sampai di rumah
itu. Ia bertindak ke dalam pekarangan, ia samperi jendela
kamar yang dipakai oleh si tukang dangsu dan gadisnya. Ia
lihat sinar api guram tetapi ia lidak dengar suara orang.
Dengan berani, ia tepuk tangan dua kali, kemudian sambil
mundur, ia menepuk pula, juga dua kali.
Di tempat sunyi sebagai itu, suara tepukan tangan
terdengar nyata sekali. Tapi Tay Po menunggu sekian lama
dengan sia-sia, pintu tidak terbuka. Maka akhirnya, ia
menepuk pula, sampai tiga kali, suaranya lebih keras. Ini
kali juga ridak ada jawaban.
"Ha, tentu bocah itu main gila, ia pedayakan aku! ... " ia
lantas menduga. Ia tepuk pula tangannya sembari
menyanyi-nyanyi:
"Baik, pintu menjeblak terbuka!
Waktu dilihat, Thiosiucay yang datang!
Ya, Thiosiucay ... "
Tiba-tiba Tay Po berhenti, karena sepotong batu kecil
sambar batok kepalanya, ia kaget dan loncat minggir,
kepalanya sedikit sakit. Tapi dari belakang ia, dari sebuah
pohon, ia dengar suara cekikikan.
"Ha, kau permainkan aku!" berseru si kauwsu, yang
kenalkan suara orang. Ia memburu ke pohon.
Si nona berhenti tertawa, ia lantas sesalkan Tay Po!
"Kau bikin apa, eh? Mengapa mesti nyanyi-nyanyi?
Ayahku baru saja pergi dan di jalanan masih ada orang ...
Apa kata orang kalau mereka dengar?"
"Siapa suruh kau tidak sambuti tepukan tanganku?" Tay
Po pun menyesalkan.
Si nona tertawa.
"Tepuk tangan toh cukup dengan satu kali!" ia kata.
''Kenapa kau justru menepuk beruntun-runtun? Itu toh
menyebalkan! Maka kendati aku dengar, aku antap saja ... "
Tay Po raba batok kepalanya, ia tertawa.
"Timpukan kau keras, sampai kepalaku ini bertelur kecil
... Baiknya kau yang timpuk aku, coba lain orang, mana
Lauw toaya mau mengerti ... "
"Aha, Lauw toaya!" nona itu tertawa. "Ya, ya, aku
sampai lupa menanyakan she dan namamu! Lauw toaya, di
kantor mana kau bekerja?"
"Sudah, jangan tanya dahulu tentang aku!" Tay Po
memotong. "Lebih dahulu aku yang mesti tanya kau punya
she! Kau punya nama atau tidak?"
Nona itu tidak tertawa lagi, ia tunduk, agaknya ia
berpikir.
"Aku Coa Siang Moay ... " akhirnya ia menyahut,
dengan malu-malu
"Siang Moay! Satu nama yang bagus!" Tay Po memuji.
"Dan nama ayahmu?"
"Ayah tidak punya nama tetapi orang panggil ia Coa Kiu
... "
"Ayahmu pergi mendengari tukang cerita?"
"Kalau ayah belum pergi, mana aku dapat bertemu
dengan kau? ... "
"Bagus!" Tay Po manggut. "Di sini hawanya dingin, mari
kita masuk ke dalam ... "
"Mari ikut aku, jangan bicara keras-keras, nanti orang
dengar,” nona itu kata.
“Peduli apa orang luar!" kata Tay Po.
Siang Moay tidak kata apa-apa, ia hanya bertindak.
Nona itu buka pintu rumah dan ketika Tay Po mau
masuk, daun pintu ia rapati, hingga pemuda ini mesti
miringi tubuhnya. Apa mau, bajunya kesangkut pagar dan
berbunyi "Wek!"
"Ah, pintumu jahat!" kata anak muda ini, yang
mendongkol, tetapi ia tidak marah.
"Mari," kata Siang Moay sembari tertawakan ia.
Tay Po masuk terus.
Rumah itu memperlihatkan tanda kemiskinan. Kertas
tempelnya seperti kertas pungutan di tengah jalan. Mejanya
meja butut, di atasnya terletak mangkok dan sumpit kasar.
Dari empat penjuru tembok angin menembus masuk. Anglo
hanya dari lempung putih dengan masih ada sisa bara, yang
hampir padam. Pelita, yang apinya kelak-kelik, ditaruh di
jendela. Pembaringan tanah berada di pojok utara, di atas
tikarnya terletak sepasang tombak bandring, tambang dan
gembreng, dan juga buntalan serta satu peti kecil tetapi
dikunci, sehingga Lauw Tay Po jadi perhatikan peti itu,
karena ia ingat pedang mustikanya Tiat pweelek.
"Sungguh dingin ... " kata guru silat ini. "Uang saweran
yang kau dapat kenapa tidak dipakai beli arang dan untuk
betulkan tembok?"
"Berapakah kau kira pendapatan itu?" kata Siang Moay.
"Hanya dalam dua hari ini, hasilnya boleh juga, tadinya
lima ratus chie pun sukar didapat! Aku tidak sangka
penduduk Pakkhia begitu muris, mau nonton dengan tak
membayar. Kamar ini kamar sewaan, bagaimana kita dapat
memperbaikinya? Kita justru mau menunggu, apabila
keadaan tetap jelek, kita mau pergi ke lain tempat. Bukan
sebagai kau, toaya, kau mempunyai kamar yang hangat,
maka juga, baru kau masuk kemari, kau sudah berasa
dingin! Baiklah kau beri kita beberapa ratus kati arang,
untuk menghangati tubuh kita ... "
Nona itu bicara dengan lancar, sambil tersenyum. Sama
sekali ia tak merasa likat berhadapan dengan guru silat yang
baru dikenal itu.
Mau atau tidak, semangatnya Tay Po terbetot.
"Baiklah," ia kata, "besok aku belikan kau duaratus kati
arang, begitupun mie dan minyak untuk pasang pelita ... "
"Bagus, toaya!" berseru Coa Siang Moay. "Kita sebagai
juga ketemu malaikat uang! Selanjutnya kita boleh tak usah
berkeliaran lagi! ... "
Ia tambahkan arang dan duduk di atas pembaringannya,
tangannya menyambar sepatu dan jarum yang ada
benangnya.
"Lauw toaya, sebenarnya apa namamu?" ia tanya. "Di
mana toaya bekerja?"
"Jangan kau panggil aku toaya," Tay Po menyahut. "Aku
ini anak yang kedua ... ,"
"Jadinya Lauw jieya ... '' kata nona itu.
"Jieya pun masih belum cocok," Tay Po kata pula. "Aku
ini, di atas tidak bekerja di kantor negara, di bawah tidak
menjadi si tukang luntang-lantung, aku tidak punya rumah,
tidak punya kerjaan, aku suka jalan-jalan, toh uang aku
punya, setiap waktu aku bisa dapatkan itu! Aku juga tidak
punya sanak atau kenalan hartawan, tetapi di mana saja,
orang suka bantu aku!"
Coa Siang Moay angkat kepalanya. “Sebenarnya kau
kerja apa?" ia tanya pula.
“Aku? Tentang aku, kau tentu tidak akan mengerti,"
sahut Tay Po. "Yang menghargai aku, sebut aku hoohan,
tapi yang tak menghormati aku, ia namai aku buaya darat,
si malas, si tukang luntang-lantung!"
Lauw Tay Po mengawasi Siang Moay, yang nampaknya
tak mengerti, hingga ia lihat kembang di dua kondenya
yang menarik hati. Lantas ia mendekati dan duduk di
pembaringan, tetapi tidak di sebelahnya.
"Jangan kau tak menghargai aku," ia lalu terangkan lebih
jauh. "Meski aku Lauw Jie, di Pakkhia ini aku toh punya
nama. Di Sunthian hu, di Touwcat ih, di Teetok Geemui,
dari atas sampai di bawah, semua orang kenal aku, malah
dari Touwcat Giesu sampai Teetok Cengtong, semua
pembesar bun dan bu, tak ada yang tak bahasakan aku
saudara! ... "
Coa Siang Moay tertawa.
"Jangan kau ngebul lebih jauh di depanku!" ia kata.
"Memang kau bukan orang yang tak ada ujung pangkalnya!
Lihat saja tadi ketika kita diusir oleh orangnya teetok dan
kau bicara dengan mereka, sebentar saja, mereka lantas
pergi. Malah aku lihat mereka tertawa terhadap kau! Tapi
sekarang aku hendak bicara dengan sungguh-sungguh. Aku
hendak minta sedikit bantuanmu. Apakah kau benar kenal
Giok tayjin, atau kuasanya tayjin."
Tay Po heran mendengar pertanyaan itu.
"Giok tayjin itu sahabatku," ia menyahut. "Kalau tayjin
sedang duduk dalam joli, ia tak perhatikan aku, tetapi bila
di hari tahun baru aku beri selamat padanya, ia lekas-lekas
memimpin bangun padaku seraya bahasakan aku lauwtee.
Sekarang ini tayjin berkuasa atas sembilan kota, tetapi bila
tak ada aku, yang bantu padanya, ia tak akan mampu
bekerja! Tiap penjahat dari propinsi mana pun jika datang
kemari dan aku suruh tangkap, ia tentu bekuk, dan bila aku
kata lepas, pasti ia merdekakan! Dengan adanya aku,
buaya-buaya darat tak berani sembarang main gila di muka
umum, sebab mereka semua sebawahanku, dan bila ada
aku, sia-sia saja, tak ada faedahnya, andaikata di sana ada
limaratus opas polisi atau tujuh ribu sersi! Kau hendak
minta bantuanku dalam hal apa? Hayo katakan!"
Siang Moay mendengar ucapan itu dengan tak mengerti
betul. Ia agaknya sangsi kawan ini bicara sesungguhnya
atau main-main.
"Apa yang aku minta bukannya urusan sukar," kata ia
kemudian. "Aku mengharap penghasilan terlebih besar.
Kita berdua asal Kamsiok, kita hidup bertani, dan hidup
lumayan, apa mau pada tahun yang baru silam, kita
ditimpa bahaya air bah, sampai rumah kita kerendam
sebatas wuwungan, hingga ibuku mati kelelap. Kita berdua
keburu naik di pohon. Hanya kapan air surut, ladang telah
ludas, kita tak punya makanan, tak punya uang, tak punya
rumah, hingga terpaksa, ayah ajak aku mengembara. Ayah
pandai silat, ia telah ajarkan aku jalan di atas lambang."
"Apa pelajaran itu dapat disempurnakan dalam satu
tahun?"
"Tentu saja! Pelajaran ini hanya meminta keentengan
dan kegesitan tubuh, bukan seperti belajar surat, harus
belasan tahun."
Lauw Tay Po manggut-manggut.
"Sesudah aku pandai jalan di atas tambang, ayah mulai
ajak aku mengembara. Begitulah kita merantau ke Shoasay,
Siamsay, Hoolam dan Titlee, baru pada setengah bulan
yang lalu kita sampai di kota ini. Kita hidup dari hasil
pertunjukan, yang tidak menghasilkan banyak, kecuali
selama dua hari ini, ketika kita buka penunjukan di depan
gedung Giok tayjin. Kemarin sam-siocia pun turut nonton,
dan ia persen kita lima tail. Ia tanya usiaku dan aku jawab
enambelas. Ia tanya mengapa kakiku kecil, aku jawab sebab
kakiku diikat sedari aku masih kecil. Aku lihat sam-siocia
suka padaku, sebagaimana aku pun tertarik padanya. Ia
sangat elok! Aku ingin jual diriku kepada sam-siocia,
supaya aku dapat menjadi budaknya ... "
Tay Po terperanjat mendengar keinginan itu, tapi ia lekas
tenangkan diri, ia malah tertawa.
"Dengan kerjaan jalan di tambang, kau merdeka!" ia
kata. Ke mana saja kau dapat pergi! Dengan menjadi budak
orang, kau akan bersengsara, kau akan lebih bercelaka
daripada kuda dan kerbau! Jangan kau tertarik dengan
pakaian budak-budak itu, mereka kalah merdeka
denganmu!"
Coa Siang Moay goyang kepala berulang-ulang, ia
nampaknya berduka.
"Tapi aku suka pakaian mentereng!" ia kata. "Aku suka
tinggal di gedung dengan lauwteng yang tinggi! Untuk
hidup melarat sebagai ini, seumur hidupku, aku sungguh
tak tahan. Pun dengan mengikuti ayah, ayah jadi tidak
merdeka, aku merupakan bandulan! Coba tidak ada aku, ia
dapat masuk tentara, barangkali sekarang ia sudah pangku
pangkat ... Dari itu aku ingin dapati orang perantaraan,
untuk aku jual diri ke gedung Giok tayjin. Dan aku lebih
suka umpama aku menjadi budaknya sam-siocia sendiri.
Dalam hal ini, aku ingin ayahku tak mengetahuinya, aku
akan memberitahukannya jika cita-cita itu terwujud, ia
tentu setuju. Dengan begitu, ayah jadi merdeka ... "
Tay Po berpikir. Tapi kemudian ia tertawa.
"Ini gampang," ia katakan. "Buat jadi budak di gedung
Giok tayjin, asal aku buka mulut, tentu beres! Kau sabar,
tunggu besok atau lusa, aku nanti bicara dengan Giok
tayjin. Hanya aku tidak mau kau dipandang atau
diperlakukan sebagai lain-lain budak ... "
"Itulah terlebih baik lagi!" Siang Moay bersenyum.
"Dengan itu jalan aku akan keluar dari kalanganku ini.
Coba pikirkan, apa aku harus tetap ikut ayahku seumur
hidup menjadi tukang dangsu?"
"Sebenarnya, jikalau kau berniat mencari tempat untuk
berdiri sendiri, tidak perlu menjadi budak orang. Kau lihat
aku! Sekarang aku baru berusia tigapuluh dua tahun, aku
belum beristeri, maka kau bicara dengan ayahmu, supaya
ayahmu nikahkan kau dengan aku. Dengan menjadi
isteriku, aku tanggung kau akan hidup lebih mewah dan
lebih senang daripada menjadi budak di gedung keluarga
Giok ... "
Tiba-tiba Siang Moay menyampok dengan sepatunya.
"Kau bukan orang baik-baik! Inikah harapanmu? Kau
pergilah!"
Tay Po tertawa.
"Aku bicara dengan sebenarnya," ia jawab. "Apa kau
ingin menjadi budak seumur hidup dan tidak ingin
menikah?"
"Aku belum pikir untuk menikah, aku masih terlalu
muda ... " sahut si nona yang lirik orang di sampingnya. Ia
nampaknya sedikit likat. "Ayah tentu gusar kalau sekarang
ia diminta nikahkan aku ... Sebaliknya ia akan menjadi
girang sekali apabila ia mendapat tahu aku menjadi budak
di dalam gedungnya Giok tayjin! Baiklah kau sabar, tunggu
sampai aku sudah bekerja beberapa lama pada Giok tayjin,
baru kau datang menyambut aku ... "
"Ini sedikit sukar, aku kenal Giok tayjin, maka kalau aku
mesti ambil budak dari dalam gedungnya, budak itu tentu
harus menjadi gundikku, sebab kalau aku ambil budak
untuk isteri, aku malu ... "
"Buat aku, gundik atau bukan, tidak menjadi soal! Sudah
cukup pembicaraan kita, sekarang silahkan kau pergi, lekas
sedikit. Kalau ayah keburu pulang dan ia pergoki kita, ia
akan marahi aku. Kau lekas pergi dan atur permintaanku
itu, besok malam kau boleh datang pula. Ingat, kau perlu
tepuk tangan satu kali saja, jangan sekali-kali kau
menyanyi-nyanyi pula seperti tadi!"
Tay Po tidak mau berlalu, tetapi si nona turun dari
pembaringan dan dorong ia. Maka terpaksa ia menurut.
Ketika ia bertindak, ia incar pula peti kayu tadi. Begitu ia
melangkah pintu, daun pintu digabruki dan di kunci.
"Jangan lupa!" nona itu kata dengan perlahan
"Wujudkanlah permintaanku. Bila aku dapat bekerja di
gedung Giok tayjin, walaupun hanya setengah tahun, kalau
nanti aku keluar dan sana, lantas aku jadi orangmu.”
Begitu berada di luar, Tay Po merasai serangannya hawa
dingin.
"Baiklah," ia jawab. "Besok aku datang pula, dengan
membawakan beberapa rupa barang perhiasan. Kau pergi
ke gedung Giok tayjin selaku budak, maka harus punya
pakaian, kalau tidak, lain-lain budak akan tidak pandang
mata padamu!"
Ia tidak dapat jawaban lagi, maka ia lantas pergi.
"Heran, Siang Moay tetap mau menjadi budak di
gedungnya Giok tayjin!" demikian ia berpikir. "Apa ia niat
mencuri barang-barang berharga atau ia berniat tak baik
terhadap Giok tayjin sendiri? Ia bukannya orang
sembarangan! Coba ia tak lihat pengaruhku terhadap dua
hambanya Giok tayjin, tidak nanti ia sudi layani aku secara
begini. Terang ia mengandung maksud! Baik aku bersiaga
... "
Itu waktu kira-kira jam dua, di jalan besar masih ada
toko yang belum tutup pintu.
Ketika Tay Po sampai di depan Pweelek-hu, ia lihat
pintu pekarangan sudah ditutup dan keadaannya gelap.
Tiba-tiba di sebelah kiri ia, ia lihat bayangan berkelebat.
Dengan satu loncatan jauh, ia melesat ke bayangan itu,
yang ia segera cekuk.
"Tuan, ampun." demikian suaranya satu bocah
pengemis. Ia ini pegang perapian kecil, perapian itu jatuh
dan hancur.
"Kurang ajar!" Tay Po membentak. "Apa perlunya kau
mendekam di sini? Kau bermaksud jahat?"
"Bukan, tuan," sahut bocah itu dengan ketakutan. "Satu
toaya di rumah makan perintah aku sampaikan surat
kepada pweelek-ya ... "
"Surat?" tanya Tay Po, dengan heran. "Surat apa? Mari
berikan padaku!"
Dari dalam sakunya bocah itu keluarkan dan serahkan
suratnya. Tapi di situ tidak ada api dan api perapian tadi
hampir padam, maka Tay Po tidak dapat baca surat itu.
"Siapa suruh kau antarkan surat ini?" ia tanya pula.
"Satu toaya muda yang minum arak di rumah makan,"
bocah itu menyahut. "Tadi aku sedang berdiri minta-minta
di luar rumah makan, toaya itu datang padaku dan perintah
aku membawa surat ini kemari. Ia memberi aku sepotong
uang. Tetapi sesampainya aku di sini, pintu sudah dikunci
... "
"Kau beruntung, bocah!" kata Lauw Tay Po. "Cuma
diperintah antarkan surat kemari, kau dipersen sepotong
perak. Sekarang toaya itu sudah pergi atau belum?"
"Begitu ia berikan uang padaku, ia lantas pergi ke
selatan."
"Ia pakai pakaian apa?"
"Ia pakai pakaian hitam."
"Kopiahnya?"
"Kopiah kulit hitam."
"Berapa tinggi tubuhnya? Ia bicara dengan lidah apa?"
"Tubuhnya tidak tinggi. Laku bicaranya seperti orang
sini.”
“Ia kurus atau gemuk?" Tay Po tanya pula, setelah
berpikir sesaat. "Ia bermuka putih atau hitam?"
"Badannya sedang, mukanya tidak putih dan tidak hitam
... " sahut pula bocah itu.
Sesudah mendapat keterangan itu Tay Po mengusir dan
mendupak hingga pengemis itu terguling, tapi ia merayap
bangun dan kabur.
Tay Po masukkan suratnya ke dalam sakunya, ia lalu
mengetok pintu. Ia mesti menunggu lama, baru pintu
samping dibuka oleh dua bujang dari Pweelek-hu, di
belakangnya ada empat hamba polisi, satu di antaranya
memegang lentera.
"Kau bikin apa?" tanya satu hamba polisi seraya cabut
goloknya. "Mau apa tengah malam kau ketok pintu?"
Tapi satu bujang lantas maju.
"Ia ini kauwsu di sini." Kemudian ia tanya Tay Po:
"Lauw-ya, kenapa begini hari kau baru pulang? Apa kau
tidak tahu keadaan di sini genting? Giok tayjin sekarang
masih ada di sini!"
"Aku tidak tahu," sahut Tay Po sambil bersenyum. "Aku
datang dari rumah sahabatku, sampai aku melupakan
waktu.”
Sikapnya empat hamba polisi itu lantas berubah.
"Selama keadaan genting, baiklah kau jangan terlalu
sering keluar," kata satu di antaranya.
"Aku mengerti,"sahut Lauw Tay Po. "Lain kali aku tak
akan keluar malam ... "
Ia bertindak ke dalam. Ia lihat kuda jauh terlebih banyak
daripada biasanya, maka ia menduga Giok tayjin tentu
datang dengan ajak banyak pengawal.
Inilah apa yang dikatakan: "Penjahat sudah lari, pintu
baru ditutup. Apakah perlunya itu?"
"Tidak begitu dengan aku," pikir Tay Po. "Sekali aku
keluar, aku lantas dapat endusan. Pertama-tama aku
ketemu Coa Siang Moay, dan kedua aku dapatkan surat ini.
Tentu semua ini ada hubungannya dengan perkara yang
aku sedang selidiki …”
Ia lantas masuk ke kamarnya. Lie Tiang Siu kebetulan
tak ada.
Tay Po lekas kunci pintu lalu dikeluarkan surat yang ia
lipat dari bocah pengemis tadi. Ia lihat surat itu untuk
pweelek-ya sendiri, Ketika ia buka surat itu, ia lihat tulisan
yang bagus dan rapi, di atas sepotong kertas sobekan yang
indah. Bunyinya surat itu ialah :
"Surat ini dihaturkan kepada Tiat-kong! Pedang adalah
aku ambil, untuk dipinjam buat sementara waktu.
Kira-kira buat lima tahun aku akan kembalikan itu. Aku
bersyukur dengan kabar bahwa paduka tak berniat menarik
panjang perihal pedang itu. Sebenarnya aku ...”
"Inilah tidak beres.” Kata Lauw Tay Po, dengan masgul.
Surat itu gelap bagi ia, ia simpan surat itu dalam sakunya.
Ia buka pula pintu kamarnya Ia jalan mundar-mandir
didalam kamar pikirannya ruwet.
"Ini bukan suratnya Coa Siang Moay atau ayahnya," ia
berpikir. "Tidak nanti mereka mampu menulis sebagus ini.
Si pencuri pedang mesti seorang lain. Tetapi siapa? Siang
Moay dan ayahnya tidak punya sangkutan, aku mesti
mencari ke lain jurusan."
Akhirnya ia naik ke atas pembaringan, Ia terus berpikir.
Berbayang di hadapannya si hitam manis ...
Tidak lama kemudian. Lie Tiang Siu masuk.
"Eh, Lauw-ya, kau tidur siang-siang?" kata teman ini.
"Mengapa kau tidak adu peruntungan? Malam ini sangat
ramai, di sini telah datang duapuluh lebih orangnya teetok
tayjin. Mereka main paykiu dan lakkauw ... "
Tay Po berpura-pura tidur nyenyak.
Tiang Siu tidak mengganggu lebih jauh dari peti kayu ia
ambil uang lantas ia keluar pula. Tak lama kemudian Tay
Po dapat tidur pulas.
Esok paginya Tay Po pergi pula ke Su Tay Ih untuk
pasang omong dengan Toh Tauw Eng. Di sini ia duduk
sampai ia dahar tengah hari. Karena ia tak peroleh endusan,
ia terus ke jalan Bwee-sie-kay di luar Cianmui, ke Coanhin
Piauwtiam tempat engko misannya.
"Aku justru hendak cari kau!" Yo Kian Tong terima
saudara ini.
Engko misan ini ajak adiknya kekantornya. Ia suruh
semua orangnya pergi.
"Apakah yang kau telah lakukan?" Ia tanya dengan tiba-
tiba. Tay Po melengak.
"Oh, toako, aku berbuat apakah?” ia balik tanya.
"Kau mesti mengerti perbuatanmu!" kata pula sang
engko.
"Di depanku, kau tidak boleh berpura-pura. Di
gedungmu telah terjadi pencurian pedang!" engko itu
lanjutkan. "Di semua sembilan lapis kota, tak ada orang
yang tak ketahui pencurian itu! Sekarang teetok tayjin telah
lepas.orang ke segala penjuru untuk mencari si pencuri!
Kau tahu atau tidak riwayatnya pedang itu? Itu adalah
pedang yang pweelek-ya dapat sebagai hadiah dari Lie
Bouw Pek! Sekarang Lie Bouw Pek berada di Kiuhoa San,
jikalau ia dengar tentang ini pencurian, pasti sekali ia bakal
turun gunung akan bantu pweelek-ya mencari pedang itu.
Apakah kau bisa pandang enteng bugee-nya Lie Bouw
Pek?"
Mau atau tidak Lauw Tay Po jadi mendongkol.
"Sungguh gila. Aku toh bukannya si pencuri pedang?
Peduli apa Lie Bouw Pek dan teetok tayjin? Apa perlunya
toako tanya aku?”
"Apa perlunya?" engko misan itu balas, "Sampaipun aku,
aku mau percaya pedang itu adalah kau yang curi!"
Mukanya Lauw Tay Po menjadi merah padam,
tangannya ia kepal keras. Coba orang di depannya bukan
Yo Kian Tong, niscaya ia sudah pukul!”
"Terang ini perbuatannya Tek Lok!" ia kata dengan
sengit. “Jikalau bukannya Tek Lok, siapa juga tak nanti
menyangka aku! Baiklah, aku nanti cari Tek Lok! Aku tidak
mau banyak omong, aku nanti masukkan golok putih dan
keluarkan golok merah!"
"Apa kau sudah tidak sayang jiwamu?" tanya Yo Kian
Tong sambil menyindir. "Kalau begitu pergilah terbitkan
onar. Kau bukannya saudara kandung, kau hanya saudara
misan, kau tak akan rembet-rembet aku!"
Lauw Tay Po banting-banting kaki, ia mendelu bukan
main.
"Toako, cara bagaimana kau dapat menyangka aku?" ia
berseru. "Dulu aku berani curi uangmu, itulah benar tetapi
untuk curi pedang pweelek-ya, bagaimana aku berani?
Kemarin begitu aku ketahui lenyapnya pedang, aku mencari
seharian lamanya! Aku pun ingin cuci bersih namaku!
Mula-mula aku telah dapat endusan, apa mau belakangan
endusan itu nyata sesat juntrungannya! ... "
Yo Kian Tong awasi gerak-gerik orang, ia menjadi sangsi
apakah Lauw Tay Po yang curi pedang itu, maka ia lantas
duduk, dengan alis mengkerut, pikirannya kerja keras.
"Benar-benar kau mesti berdaya cuci bersih dirimu,"
kemudian ini engko misan berkata: "Tek Lok seorang yang
jujur, kendati ia menyangka kau, tentang sangkaan itu ia tak
beritahukan pada lain orang, cuma kemarin ia pergi pada
Tek ngoya dan minta Tek ngoya nasehatkan kau untuk kau
pulangkan pedang itu. Ia anggap asal pedang sudah
kembali, urusan sudah beres ... "
"Biar jiwaku diambil, pedang itu aku tak mampu
kembalikan!" Tay Po kata dengan sengit. "Pedang itu aku
melainkan baru lihat sekelebatan, lainnya tidak!"
"Jikalau begitu," berkata Yo Kian Tong, "terang ada
penjahat besar yang bersarang di kota raja ini! Pweelek-ya
sendiri percaya si pencuri ada satu hiapkek, oleh karenanya,
ia tak mau menarik panjang. Tetapi Giok tayjin ada sangat
murka berhubung dengan kejadian ini, sampaikan ia kasih
tempo tiga hari untuk orang-orangnya dapat bekuk si
pencuri atau dapat ambil pulang pedang itu! Menurut aku,
meski sampai tigapuluh hari, belum tentu pedang itu bisa
didapat kembali! Sekarang kau sedang nganggur, baik kau
berdaya akan bantu cari si penjahat, aku sendiri akan
membantunya dengan minta bantuan pula lain piauwsu ... "
Lauw Tay Po tepuk-tepuk dadanya.
"Aku telah bersumpah bahwa jikalau aku tidak mampu
dapati pulang pedang itu akan bukan lagi si orang she
Lauw!" ia kata dengan sengit dan nyaring. "Baik, toako!
Karena kau suka membantu aku, baik kita bekerja dengan
berpisahan. Tolong kau sampaikan pada Tek ngoya dan
Tek Lok bahwa Itto Lianhoa bukannya si pencuri pedang.
Dalam tempo sepuluh hari, aku akan coba bekuk si pencuri
untuk hadapkan ia di muka pengadilan!"
"Jangan sebut-sebut tentang waktu," Yo Kian Tong
peringatkan adik itu. "Yang utama adalah kita mencarinya
dengan sungguh-sungguh!"
Lauw Tay Po berbangkit dengan napas memburu.
"Baiklah," ia kata. "Sekarang aku mau pergi untuk
melakukan penyelidikan, andaikata ini hari aku tak
berhasil, aku tidak mau pulang untuk bersantap!"
Ia lantas berlalu dari Coanhin Piau tiam. Setengah
harian ia mundar-mandir di jalan besar di Cianmui,
kemudian ia masuk ke dalam kota. Ia pun mutar di Kota
Barat. Dengan tak merasa, ia sampai di Kouwlauw, di
sebelah barat, depan gedung Giok tayjin yang kembali ada
berkerumun banyak orang.
"Tidak bisa jadi Siang Moay dan ayahnya ada si penjahat
pedang," kata ini kauwsu. "Terang sekali mereka tak akan
mampu menulis seperti itu surat sobekan ... "
Tetapi agaknya ada suatu pengaruh yang membetot ia, ia
toh bertindak ke itu rombongan, Maka segera ia lihat Coa
Kiu sedang putar bandring dan si nona asyik memalu
gembrengnya.
Matanya si nona ada liehay ia segera dapat lihai itu guru
silat, hingga mata mereka jadi kebentrok. Tay Po
bersenyum, tetapi si nona diam saja, cuma tangannya
gencar menabuh gembrengnya.
Coa Kiu masih terputar-putar ketika ada dua hamba dari
Giok tayjin masuk ke dalam kalangan.
"Tahan, tahan dahulu!" mereka berkata.
Coa Kiu tahan liuseng-twie-nya, ia menjura pada dua
hamba itu.
"Anakku masih mesti jalan di atas tambang," ia berkata,
"sehabis itu aku pun hendak berbenah. Sekarang
pendapatan kita masih belum cukup untuk kita membeli
nasi dan membayar sewa kamar ... "
"Tapi kita bukannya hendak larang kau membuka
pertunjukan," kata dua hamba itu. "Siocia kita justru
hendak lihat pertunjukannya gadismu jalan di atas
tambang!"
"Oh, begitu," kata Coa Kiu sambil tertawa. "Sungguh
siocia baik sekali! Aku nanti pesan anakku supaya ia
mempertunjukkan dengan sungguh-sungguh!"
"Kasih penunjukannya di dalam atau di luar?" Siang
Moay tanya.
"Di dalam ada banyak batu, itulah berbahaya bagimu,"
sahut si hamba. "Kau main di sini saja."
Hamba itu lantas usir orang banyak bagaikan mengusir
anjing agaknya.
"Minggir! Minggir! Nonton dari jauh saja!" demikian
suara mereka yang keren.
Lauw Tay Po ada jadi korban pertama dari usiran itu,
sampai ia kena didorong, hingga tentu saja ia menjadi tidak
senang.
"Binatang, buka matamu!" ia membentak. "Lihat, jangan
main dorong saja!"
"Apa?" tanya itu dua hamba. "Kau berani melawan?
Lekas pergi!"
Tay Po gulung tangan bajunya.
"Terhadap ayahmu, kenapa kau bicara kurang ajar?" ia
kata. "Binatang, buka matamu! Kau lihat, siapa aku ini?"
"Aku tak peduli siapa! Kau juga mesti lekas mundur!"
Lauw Tay Po tidak mau hilang muka, karena ia lihat
Coa Kiu dan Siang Moay sedang mengawasi padanya. Ia
lantas tepuk-tepuk dada.
Ketika itu semua penonton lain sudah pada mundur,
maka Tay Po tinggal sendirian. Karena ini, ia jadi ambil
putusan tidak akan mundur.
Dari gedung, yang berada di tingkatan tangga, ada dua
hamba mendatangi.
"Lihat, koanjin datang!" kata dua hamba itu. "Aku mau
lihat, kau masih membandel atau tidak? Kau nanti
dihadapkan di muka kantor!"
Tay Po sibuk juga, karena kalau sampai dua koanjin itu
main gila terhadap ia, ia akan dapat malu besar.
Itu waktu, dua koanjin tersebut telah berteriak: "Tukang
dangsu, lekas siap, siocia segera akan keluar!"
Tay Po jadi semakin sibuk. Bukankah di depan Siang
Moay ia telah ngebul bahwa ia kenal puterinya teetok? Tapi
ia tidak kekurangan akal. Selagi si koanjin menghampiri, ia
samperi mereka.
"Apa jiewie sudah dahar?" ia kata. Ia bicara sambil
tertawa dengan angkat kedua tangannya. "Pertunjukan
tukang dangsu ini benar-benar bagus! Jadi siocia ingin
menyaksikan? Siocia memang gemar segala apa yang
berhubungan dengan ilmu silat. Beberapa hari yang lalu aku
lihat siocia pun saksikan anak mantunya Tek ngoya yang
sedang belajar silat tombak ... "
Kedua koanjin itu bersikap garang, tetapi, kapan mereka
lihat kelakuannya Lauw Tay Po, mereka lantas berubah jadi
sabar.
"Ya," sahut satu di antaranya. "Silahkan kau berdiri di
sebelah timur sana! Siocia akan lekas, keluar ... "
"Baik," jawab Lauw Tay Po. Kemudian dengan sikap
tenang, ia bertindak mundur ke timur, dengan begitu ia jadi
tak hilang muka. Di situ ia berdiri seraya memandang Coa
Siang Moay dan bersenyum.
Tapi si nona tukang dangsu bawa sikap seperti tak kenal
ia.
Dua hambanya teetok serta kedua koanjin tadi berdiri
sama-sama, mereka mengawasi Tay Po dan bicara satu
sama lain, agaknya mereka tidak sanggup membade, Tay
Po itu ada orang macam apa.
Tatkala itu Coa Kiu sudah tancap kedua tombak
cagaknya, menyusul tambangnya dipasang rapi.
Di muka gedung sudah lantas tertampak beberapa bujang
perempuan.
Siang Moay singkap rambutnya, ia rapikan pakaiannya.
Ia pun benarkan angkin putihnya.
Di depan gedung sekarang telah muncul puterinya Giok
tayjin, sam-siocia Giok Kiauw Liong.
Tay Po berdiri di tempat yang letaknya bagus, dari situ ia
bisa memandang dengan leluasa kepada si cantik manis itu.
Nona Giok tidak berkerebong mantel, bajunya hijau,
tangannya dimasukkan ke dalam sarung bulu binatang,
ketika Siang Moay dari bawah tangga manggut padanya, ia
bersenyum dan berkata dengan suaranya yang nyaring
tetapi halus: "Kau boleh mulai!"
Tidak ayal lagi, Siang Moay enjot kedua kakinya loncat
naik ke atas tambang.
Beda daripada biasanya, Coa Kiu tidak pukul gembreng,
ia hanya nyingkir ke pinggiran. Maka itu, anaknya mesti
main sendirian. Tapi kegembiraan dari si nona tak
berkurang karena tak adanya gembreng, ia jalan dengan
cepat, maju dan mundur, bulak dan balik atau loncat,
tangannya turut bergerak-gerak. Ia telah unjuk kegesitannya
tubuh dan kesehatan.
Tay Po bukannya menonton SiangMoay, hanya
mendelong mengawasi si nona Giok. Ia pandang bahwa
nona itu ada terlalu elok, terlalu mentereng. Teristimewa
tampang mukanya yang berseri-seri, laksana kembang
bouwtan yang hendak mekar ... Itulah ada tertawa yang
Siang Moay tak sanggup lawan ...
Sesudah puas memandang Giok Kiauw liong, Tay Po
lalu awasi Coa Siang Moay, nona dengan siapa tadi malam
ia bercakapan. Juga, nona ini ada pirnya roman yang cukup
menggiurkan ...
Dalam sesaat itu lupalah Tay Po dengan kewajibannya
buat cari pedang atau pencurinya, ia menjadi kesemsem.
Maka bukan main kagetnya apabila ia dengar jeritan yang
tiba-tiba, karena dengan tiba-tiba kakinya Siang Moay
terpeleset, tubuhnya jatuh ke tanah terus rebah pingsan tak
bergerak lagi.
Coa Kiu lari memburu, demikian juga orang-orangnya
teetok.
Dengan hati bimbang, Tay Po juga lari menghampiri.
Si nona tukang dangsu rebah celentang di tanah, kedua
matanya tertutup, mukanya pucat sebagai kertas. Syukur ia
tidak terluka, karena ia jatuh celentang, rupanya kepalanya
terbanting dan ia jadi tak sadar akan dirinya.
Coa Kiu lantas banting-banting kaki dan menangis.
"Aku celaka ... " ia mengeluh. "Aku justru andalkan
anakku ini ... "
"Jangan putus asa!" tiba-tiba Tay Po berseru. "Lihat,
matanya bisa bergerak! ... "
Benar juga, Siang Moay bisa buka matanya, tetapi ia
terus menangis, air matanya keluar.
Coa Kiu lantas menjura pada orang-orangnya teetok:
"Tuan-tuan, berlakulah murah hati," ia kata. "Rumah
kita jauh, anakku terluka parah, ia tidak bisa rebah saja di
jalan besar ini, maka tolonglah berikan ia tempat, di dalam
istal pun boleh, agar ia bisa beristirahat ... bila nanti
keadaannya sudah mendingan, aku hendak ajak ia pulang
... "
"Itu benar," kata satu hamba, "nanti aku minta ijin dari
sam-siocia. Kau jangan kuatir, aku pun akan mintakan air
jahe ... "
Habis berkata begitu, ia lantas lari ke dalam, karena itu
waktu sam-siocia sudah masuk. Ia pergi sekian lama, lantas
ia kembali dengan tangan membawa satu bungkusan kertas.
"Siocia bilang kasihan yang anakmu telah jatuh dan
terluka parah," ia bilang pada Coa Kiu, "meski begitu, ia tak
ijinkan kau dapat tempat di sini karena ini gedung tak bisa
terima masuknya sembarang orang. Siocia telah berikan ini
uang dua puluh tail perak dan perintah kita siapkan kereta
untuk antar kamu berdua pulang ke pondokanmu, ini uang
ada untuk kau berobat."
Lauw Tay Po tidak puas apabila ia dengar jawaban itu.
"Bagaimana aneh sikapnya nonamu!" ia kata. "Ia senang
lihat orang buka pertunjukan, sebaliknya ia kejam terhadap
orang yang bercelaka! Toh si nona main dangsu atas
permintaannya untuk bikin senang hatinya! ... "
"Di istal pun boleh," Coa Kiu lalu memohon pula.
"Sebab pondokan kita di luar Cianmui, terlalu jauh! Biar
pun anakku diantar dengan kereta, ia bisa binasa di tengah
jalan ... "
Tay Po heran mendengar kata-katanya si tukang dangsu
itu.
"Inilah aneh," ia berpikir. "Terang-terangan ia tinggal di
Ceksui Tha, tidak jauh dari sini, kenapa sekarang ia
mengaku tinggal di luar Cianmui? Pasti sekali Coa Kiu
ingin gadisnya dirawat di dalam ini gedung. Apakah
maksudnya?"
"Tidak, tidak bisa!" berkata orangnya teetok seraya
goyang-goyang kepala. "Siocia tidak mengijinkan, sekarang
tak ada daya lagi! ... "
Wajahnya Coa Kiu menjadi guram.
"Baiklah!" ia kata, "jikalau benar siocia tidak berkasihan
terhadap orang yang bercelaka, aku pun tidak bisa bilang
apa-apa lagi. Tapi aku tak mau yang anakku naik kereta, itu
berbahaya, maka tuan-tuan tidak usah antar aku, aku nanti
ajak ia pulang dengan digendong ... "
Ia terima uang pemberian itu, yang bersama bandring
dan gembrengnya, ia libat di pinggangnya, kemudian dan
tanah, ia angkat tubuh anaknya dan digendong, kemudian
dengan air muka masih guram, tanda dari kemurkaan yang
tertahan, ia ngeloyor pergi. Ia menuju ke barat. Lengan
kirinya ada menjepit sepasang tombak cagaknya.
Selagi ayahnya jalan dengan cepat sekali, Coa Siang
Moay rebah di punggung ayahnya itu, kepalanya seperti
teklok, maka siapa pandang ia, tentu akan merasa kasihan,
karena terang ia telah menjadi korban pertunjukannya,
pertunjukan untuk cari sesuap nasi.
"Tadi ia ada begitu sebat dan gesit ... " kata satu
penonton. "Sekarang ia dapat celaka! Jangan-jangan ia tak
akan mampu injak tambang pula ... " kata yang lain.
"Kelihatannya sam-siocia kejam," kata orang ketiga. "Si
tukang dangsu ada satu nona, ada apa halangannya
andaikata ia dibawa ke kamar bujang perempuan untuk
beristirahat atau berobat? ... "
Tay Po dengar suara orang banyak itu, tetapi ia kurang
perhatian. Perhatiannya berupa kecurigaan. Ia curigai
sikapnya Coa Kiu! Ia tak lihat tanda darah di tanah di mana
si nona jatuh. Bagaimana si nona bisa pingsan?
Ketika ia menoleh kepada Coa Kiu, nyata tukang dangsu
itu sudah jalan jauh, maka ia buka tindakannya lebih lebar
untuk menyusul.
Coa Kiu menuju langsung ke barat, ke Ceksui Tha.
Tatkala itu, sudah magrib, keadaan ada sunyi sekali, tak
ada orang yang berlalu-lintas.
Coa Kiu celingukan, kemudian ia turunkan gadisnya.
Tay Po heran lihat sikapnya tukang dangsu itu, lekas-
lekas ia sembunyikan diri di belakang satu pohon yang
besar, dari mana ia terus pasang mata.
Lekas juga kelihatan Coa Siang Moay bangun dan
berduduk, bersama-sama ayahnya, ia melihat ke sekitarnya,
apabila mereka dapat kenyataan di situ tidak ada orang, si
nona berbangku, akan terus bertindak mengikuti ayahnya,
yang jalan dengan cepat, hingga ia pun perlu gancangi
tindakannya!
Siang Moay telah bantu ayahnya membawa tombak.
"Bagus, sungguh bagus!" Lauw Tay Po tertawa seorang
diri, apabila ia telah saksikan peranan istimewa dari ayah
dan anak itu, yang telah terus pulang ke pondoknya yang
butut. "Biar aku tunggui ia di sini, sebentar ia tentu keluar
pula akan beli kecap atau lainnya ... "
Ia lalu jalan mundar-mandir, otaknya bekerja akan
menduga-duga maksud tujuan orang itu. Beberapa kah ia
mendekati pekarangan mengintip ke dalam, di mana sudah
ada cahaya api, akan tetapi ayah dan anak itu tak
tertampak, suara mereka juga tak terdengar.
Dengan tak merasa, sang waktu telah berjalan terus, dan
Tay Po dapatkan sang malam sebagai gantinya sang sore. Ia
tetap tak nampak Siang Moay keluar, ia tidak lihat Coa Kiu
keluar pintu, maka akhirnya, ia menepuk tangan, dua kali.
Dari dalam tidak ada jawaban tepukan tangan, pun tidak
ada timpukan batu sebagai kemarinnya ...
"Tidak beres ... " pikir Tay Po, yang perutnya sudah
mulai ngerikik.
"Aku mesti pulang dahulu buat bersantap, sebentar
bagaimana lagi," akhirnya ia pikir, setelah mana ia putar
tubuhnya ngeloyor pergi. Ia pergi ke Tekseng Kio dan
masuk ke kedai nasi yang kemarin, untuk minum dan
tangsal perutnya.
Di sebelahnya rumah makan ada tempat tukang cerita,
maka sehabisnya dahai, Tay Po pergi ke sebelah di mana ia
dengar orang sedang berceritera lelakonnya Phc Kong. Di
situ sudah berkumpul duapuluh orang lebih, tetapi di
antaranya tak tertampak Coa Kiu. Maka itu, sebentar saja,
Tay Po sudah bertindak pergi, menuju ke tepi telaga.
Dari kejauhan terdengar kentongan dua kali. Langit ada
sangat gelap. Angin dingin juga meniup keras sekali.
Kapan ia sudah sampai di luar pekarangan, Tay Po
lantas pasang kuping, kemudian, dalam kesunyian, ia
mengintip ke dalam. Cahaya api tidak ada. Lantas ia
menepuk tangan dua kali. Atas ini, ia tak dapat jawaban.
Segera ia mundur beberapa tindak ...
"Biak, pintu menjeblak terbuka! ... "
Dengan tiba-tiba, Tay Po menyanyi, tetapi baru satu
rintasan, ia sudah berhenti dengan secara tiba-tiba.
"Aku tidak boleh tarik perhatian orang," ia berpikir.
"Aku mesti tunggu lagi sekian lama, lantas aku mesti masuk
ke dalam pekarangan, akan intai mereka ... "
Ia mundur lebih jauh dan jalan bulak-balik, berjongkok
dan berdiri diam. Dengan ini jalan ia tungkuli diri, ia kasih
sang waktu lewat.
Kecuali suara angin, malam itu ada sunyi senyap.
Dalam kegelapan, tiba-tiba Tay Po dengar suara pintu
dibuka, kemudian berkelebat satu bayangan. Ia loncat ke
belakang pohon, akan sembunyikan diri dan pasang mata.
Maka ia, segera kenali Coa Kiu, ayah si nona, yang
bertindak ke timur.
"Heran!" pikir ini guru silat. "Sekarang sudah jam tiga
lewat, ke mana ini tukang dangsu hendak pergi?"
Ia tunggu sampai Coa Kiu sudah lewatkan ia belasan
tindak, ia lantas bertindak juga untuk menguntit. Ia ingin
tahu tukang dangsu itu hendak pergi ke mana selagi cuaca
gelap dan hawa dingin.
Coa Kiu jalan dengan cepat, meninggalkan daerah
telaga, sampai di jalan besar dari Tekseng-mui, dari mana ia
menuju ke utara, akan kemudian belok ke timur. Ia ambil
jalan barat dari Kouwlauw.
"Hm, aku tahu ke mana ia mau pergi ... " pikir Tay Po.
Ia cepatkan tindakannya, akan datang lebih dekat pada
tukang dangsu itu.
Sebentar kemudian, Coa Kiu sudah sampai di depan
gedungnya Giok tayjin, naik ke latar yang tinggi.
"Bagus, dugaanku tidak meleset!" tertawa Tay Po di
dalam hati. Ia lalu turut naik dengan hati-hati, agar orang
tidak lihat padanya.
Pintu pekarangan, atau pintu besar dari Giok tayjin ada
terkunci rapat. Di situ pun tidak ada barang seekor anjing.
Cuma cabang-cabang pohon yang menerbitkan suara
berisik.
Coa Kiu ada memakai baju luar, tapi sekarang baju itu ia
lolosi, terus dilipat atau digulung, buat digantung di
sebatang cabang pohon, kemudian ia menoleh ke belakang,
ke kiri dan kanan.
Tay Po mendekam di tanah, dari itu Coa Kiu tak dapat
lihat padanya.
Sesudah menampak kesunyian, Coa Kiu enjot tubuhnya
akan loncat naik ke atas genteng di mana sebentar
kemudian ia melenyapkan diri.
"Ia mau apa, ha? Apa bisa jadi ia hendak mencuri
barang?"
Tay Po menduga-duga dengan tidak ada hasilnya. Ia pun
bersangsi akan turut naik, akan menguntit terlebih jauh,
karena ia anggap, taruh kata ia bantu Giok tayjin, tentulah
tak ada faedahnya untuk ia sendiri, ia pasti tidak bisa
sembarangan cuci diri dan sangkaan. Di lain pihak, Coa
Kiu bisa bersakit hati terhadap ia dan nona Siang Moay
tentulah akan jadi terluka hatinya ...
"Buat menonton saja, aku juga mesti berlaku hati-hati,"
Tay Po pikir lebih jauh. "Jikalau ia kena ditangkap dan aku
tertawan sekalian, sungguh celaka bagiku ... "
Ia terus mendekam. Tapi dengan sekonyong-konyong, ia
dapat pikiran.
"Biarlah ia mencuri, aku baik mendahului padanya!"
demikian pikirannya. Ia segera berbangkit dan lari ke pohon
di mana tadi Coa Kiu sembunyikan bajunya dan baju itu ia
terus ambil, buat dibawa lari ke pojok tembok di mana ia
lalu berdiam. Akan memasang mata.
"Coa Kiu bisa hadapi bahaya jikalau kepandaiannya
tidak cukup tinggi, terutama dalam ini beberapa hari, Giok
tayjin tentu telah atur penjagaan istimewa," demikian ia
berpikir pula. "Jikaliu Coa Kiu kena ditangkap, Siang Moay
akan jadi sebatang kara ...”
Sembari berpikir, Tay Po terus pasang mata ke gedung
Giok tayjin.
Sampai sekian lama, di dalam gedung tidak terdengar
suara apa-apa dan Coa Kiu pun tak tertampak keluar. Tapi
dengan sabar, Tay Po terus menunggu.
Akhir-akhirnya, Tay Po lihat satu bayangan berkelebat,
dari atas genteng loncat turun kebawah terus lari ke jurusan
pohon. Ia kenalkan bayangan itu ada Coa Kiu, dan di
tangannya ada tercekal entah barang apa. Coa Kiu berdiri
tercengang waktu ia sampai di bawah pohon, matanya
celingukan ke segala jurusan. Terang sekali ia bingung atau
heran karena lenyapnya bungkusannya.
Dari tempatnya sembunyi, Tay Po loncat naik ke atas
tembok sebelah selatan, di situ, rebah di atas tembok, ia
memandang ke bawah.
"Tua bangka, kau jangan bingung!" kata ia dalam
hatinya, sembari bersenyum. "Bajumu ada padaku, aku
sedang pakai ... "
Coa Kiu jalan berputaran, kemudian sembari bersenyum,
ia ucapkan beberapa kata-kata rahasia dalam kalangan
Sungai Telaga. Tay Po dengar itu dan ia mengerti, toh ia
diam saja, ia terus bersenyum-senyum.
Ucapan Coa Kiu itu berarti: "Sahabat baik, harap kau
tidak main-main! Silahkan kau perlihatkan diri untuk kita
bicara! Ini kali aku tak peroleh hasil, jikalau kau tidak
percaya, kau boleh periksa saja, kalau kau dapatkan apa-
apa, itu ada kepunyaanmu. Hawa udara ada dingin, dengan
tak pakai itu jubah hebat bagiku. Tolong kau pulangkan
baju kapasku itu, besok aku akan undang kau bersantap!"
Ucapan itu tidak mendapat jawaban, dari bersenyum,
mukanya Coa Kiu menjadi guram, karena ia ada
mendongkol. Kemudian lagi, ia lantas mendamprat. Tapi ia
rupanya tak berani diam lama-lama di situ, ia lantas
bertindak ke jurusan barat, jalannya cepat.
Tay Po loncat turun dari genteng, ia menguntit. Coa Kiu
jalan dengan sering menoleh ke belakang, tetapi malam ada
gelap, ia tak mampu lihat Tay Po, siapa sengaja pisahkan
diri cukup jauh dan kadang-kadang pun minggir, akan
sembunyikan diri.
Sebentar kemudian, mereka telah sampai di Ceksui Tha,
Coa Kiu loncati tembok pekarangan, akan masuk ke dalam.
Tay Po menyusul setelah beberapa saat ia berdiam di
sebelah luar sambil pasang kuping. Di sebelah timur tidak
ada cahaya api. Ia telah buka bajunya Coa Kiu, yang ia
pakai, dan kempit itu. Dengan berindap-indap dengan tak
mengasih dengar suara, ia hampirkan jendela. Ia dengar
suara menggeros, ia tak dengar suara orang bicara. Maka ia
lalu jongkok, akan tunggu waktu, sampai orang sudah tidur
dengan nyenyak.
"Aku mesti curi hasil curiannya Coa Kiu itu untuk
ketahui apa adanya ... " demikian ia pikir.
Tapi ia tidak usah jongkok lama ketika tiba-tiba pinggang
belakangnya ada yang tendang, hingga ia rasakan sakit.
Cepat ia lompat bangun seraya terus balik badannya dan di
hadapannya ada berdiri si hitam manis, yang pinggangnya
langsing ... Ia baru saja mau tertawa, atau si nona mendului
tarik ia, hingga ia batal menanya, malah terus ia ikut si
nona yang ajak ia loncati tembok pekarangan.
Si nona lari di depan, ke jurusan barat, Tay Po menyusul
sampai di tepi di sebelah barat dari telaga.
"Adikku, berhenti!" kata Tay Po sambil tertawa.
"Pertunjukanmu ini hari ada jauh terlebih menarik daripada
kemarin ini, kau bukan hanya bisa injak tambang tapi juga
pandai berpura-pura mati! Hanya sayang kau tak mampu
kelabui mataku! Kau nyata kecele, adikku! Untuk bisa
masuk ke dalam gedung Giok tayjin, kau sebenarnya mesti
minta bantuanku. Coba kau bicara terus terang kemarin ini,
hari ini kau tidak usah jatuhkan diri yang toh tetap tidak
bisa masuk ke gedung itu! ... "
"Jadinya kau pandai!" sahut si nona, yang ayun
tangannya menggebuk. "Mau apa kau datang lagi?"
"Aku hendak antarkan baju ayahmu!" sahut si guru silat
sambil tertawa.
"Tadi ayah pulang dengan mendongkol," SiangMoay
kata. "Ia telah duga kau! Kau bukannya sahabat dari
cengtong! Aku lihat kau ada orang satu golongan dengan
kita!"
"Dugaanmu itu keliru!" Tay Po bilang.
Separuh meminta separuh nasehat, "Selanjutnya kau
baik jangan ganggu lagi usaha kita," kata pula si nona.
"Bisakah kau melulusinya? Kau harus ketahui, dengan
ganggu kita, bagimu tak ada kebaikannya!"
"Kau jangan gertak aku!" Tay Po jawab. "Sebenarnya
kau tidak usah berkuatir! Coba aku ada kandung maksud
akan mengganggu, tadi ayahmu tentulah tak akan bisa
pulang lagi ... "
"Tetapi ayahku tidak takut!" kata si nona sambil
bersenyum tawar.
"Sekarang baik kita bicara terus terang," kata Tay Po.
"Aku telah ketahui tentang kau berdua, maka kau juga
baiklah ketahui tentang aku. Aku bukannya orang yang tak
punya asal-usul! Aku adalah guru silat dari Pweelek-hu dan
aku ada Itto Lianhoa Lauw Tay Po! Setelah kau ketahui
diriku siapa, sekarang silahkan kau kembalikan itu pedang
mustika padaku!"
Siang Moay terkejut.
"Apa kau bilang?" tanya ia. "Pedang apa yang aku
punyakan?"
"Jangan kau berpura-pura!" Lauw Tay Po mendesak
sambil tertawa.
Si nona banting-banting kaki.
"Berpura-pura? Apakah perlunya! Jangan kau
menyangka jelek pada kita!”
"Aku tak peduli kau ada penjahat atau bukan," Lauw
Tay Po bicara dengan jelas. "Asalkan kau keluarkan itu
pedang mustika, yang bisa dipakai menabas baja dan besi,
lantas sudah tidak ada urusan lagi!"
"Ngaco!" berseru si nona yang banting-banting kaki pula.
"Mana ada pedang yang bisa dipakai menabas baja dan
besi. Jangan kau pedayakan orang. Di hadapan sang
rembulan dan bintang, aku berani sumpah jikalau kita ayah
dan anak pernah curi pedangmu, kita akan binasa tak
keruan!"
Setelah kata begitu, Siang Moay hampirkan sebuah
pohon di mana ia menangis.
Tay Po berdiri tertegun. Tapi segera ia menghampiri.
"Jangan menangis," ia menghibur. "Angin ada dingin
sekali, dan kau pakai pakaian tipis, nanti kesehatanmu
terganggu ... "
"Aku pasti tidak menuduh kau ... " Tay Po kata, sambil
menghela napas. "Lenyapnya pedang itu bikin aku
penasaran. Sekarang sudah malam dan hawa ada begini
dingin, aku tidak mau bicara lama-lama, maka tunggulah
besok aku nanti datang pula untuk kita bicara dengan jelas.
Sekarang di antara kita sudah jadi terang, maka selanjutnya
urusan kau aku tak nanti gerecoki pula. Cuma satu hal aku
perlu peringatkan, terhadap Giok tayjin kau jangan terlalu
mendesak, itulah berbahaya. Nah, sudah, jangan kau
menangis. Sampai besok!"
Tay Po lantas serahkan baju orang.
Siang Moay tidak menangis lagi, ia malah tertawa.
"Kau jadinya ada Itto Lianhoa?" ia kata. "Sudah sejak
lama aku telah dengar nama itu, malah katanya bugee-mu
ada melebihi Lie Bouw Pek!"
Lauw Tay Po tertawa
"Jikalau aku ada Lie Bouw Pek, kau adalah Jie Siu
Lian!" ia bilang. "Di mana sekarang kita telah ketahui satu
pada lain dengan baik, selanjutnya anggap saja bahwa kita
ada orang-orang sendiri, maka persahabatan kita mesti jadi
terlebih erat, bila ada suatu urusan, kita mesti saling
membantu! Baiklah kita jangan bicara banyak-banyak,
angin ada sangat dingin! Pergilah pulang! Sampai besok!"
Tay Po lalu bertindak ke arah timur.
Siang Moay mengikuti di belakangnya anak muda itu.
"Bila besok kau datang, datanglah lebih malam sedikit,"
ia pesan.
Ketika mereka mendekati rumah pondokan, Siang Moay
dupak pula Tay Po, lantas ia tertawa dan loncat masuk ke
dalam pekarangan.
Tay Po diam saja, ia ngeloyor terus, dengan lesu.
"Sia-sia saja semua capai lelahku," kata ia dalam hatinya,
"aku menduga pasti bahwa si tukang dangsu adalah satu
pencuri ... Bagaimana sekarang? ... "
Dengan tindakan perlahan, ia menuju pulang ke
Pweelek-hu. Ketika itu ada kira-kira pukul lima. Tadinya ia
pikir akan masuk ke dalam dengan meloncat tembok, tetapi
ia ubah pikiran itu kapan ia ingat bahwa orang akan lebih
keras curigai ia. Jika kepergok, itulah berbahaya. Maka ia
terus mutar, jalan ke gang-gang yang sunyi dan gelap,
melulu untuk meluangkan tempo, maka kapan fajar
menyingsing ia telah sampai di Cianmui. Di sini, di sisi
pintu ada berkumpul sejumlah orang yang sedang tunggui
dibukanya pintu kota. Maka ia Lintas bercampuran dengan
mereka itu.
Kapan pintu kota telah dibuka, Tay Po terus menuju ke
kamar mandi membersihkan tubuh, setelah mana, ia pergi
tidur. Ia mendusin sesudah pukul dua lohor, ia terus minta
nasi dan sayurannya. Sehabisnya dahar, ia keluar menuju
ke Coanhin Piauwtiam.
Itu hari ada tanggal satu bulan duabelas, Yo Kian Tong
tidak ada di kantornya. Ia biasa pergi bersujud ke gereja-
gereja yang ia setujui. Demikian pun setiap tanggal
limabelas. Karena ini, Tay Po cuma bisa bercakap-cakap
dengan beberapa piauwsu, sesudah mana barulah ia pulang
ke Pweelek-hu. Ia ada sangat masgul, tetapi Lie Tiang Siu
saban-saban godai ia.
"Tentu tadi malam kau pergi ke rumah hina, karena
semalaman kau tidak pulang!" demikian itu kawan.
Atas godaan itu, Tay Po berdiam saja, ia gunakan
temponya akan memikirkan pedang, dan membayangkan
"keelokannya" Coa Siang Moay, akan pikirkan akalnya si
nona yang berpura-pura jatuh dari tambang, melulu supaya
bisa memasuki gedungnya Giok tayjin.
"Inilah mencurigai ... " pikir ia. "Kenapa ia begitu
memaksa hendak masuk ke gedungnya Giok tayjin?
Apakah maksudnya? Rupanya di sini tidak mengenai
melulu soal uang ... "
Ia pun heran atas sikapnya Giok sam-siocia yang tolak
Siang Moay secara getas.
"Apakah Giok sam-siocia telah ketahui yang Siang Moay
jatuh dengan berpura-pura?" ia menduga-duga terlebih jauh.
"Benar-benar heran! Apakah bisa jadi yang nona Giok juga
ada seorang luar biasa yang hatinya terang dan matanya
jeli? Oh, oh, ini sungguh menarik hati! Sekarang, tidak
peduli ada hubungannya atau tidak dengan pedang, aku
mesti mencari tahu, aku mesti ketahui duduknya hal yang
terang! ... ”
Setelah ambil keputusan ini, Tay Po rasakan otaknya
tidak lagi pepat sebagai tadi. Ia berbangkit sambil berloncat,
semangatnya sebagai terbangun. Ia tunggu sampai Lie
Tiang Siu telah keluar, ia keluarkan "pek polong” nya, atau
kantong wasiat. Sejak sepuluh tahun ia masuk dalam
kalangan kangouw, itu ada kantong yang paling penting
baginya. Di dalam situ ada terdapat anak-anak kunci
rahasia, hingga kunci yang bagaimana sukar pun, ia bisa
buka dengan mudah. Di situ pun ada hweecipcu, pesawat
dan bahan untuk nyalakan api, yang rak padam meski ada
angin besar. Yang lainnya lagi ada pisau kecil, gaetan,
arang untuk menulis surat dan pupur putih dan abu-abu
untuk mencompreng muka.
Dengan bawa kantongnya itu, Tay Po berlalu dari
Pweelek-hu menuju langsung ke Ceksui Tha. Itu waktu
baru kira-kira pukul empat lohor. Ketika ia sampai di
telaga, ia lihat ada beberapa bocah sedang memain di air
beku. Ia jalan terus dan masuk ke dalam pekarangan, terus
ke pondok. Di sini ia berdiri bengong, karena ia lihat pintu
rumah terkunci.
"Tentu itu ayah dan anak pergi buka pertunjukan lagi ...
" ia menduga-duga. "Kemarin si nona jatuh dan terluka
parah, ia sembuh dengan cepat dan sekarang ia jalan pula di
atas tambang! Tidaklah itu ada membangkitkan
kecurigaannya orang?"
Dengan berani Tay Po keluarkan anak kuncinya dan
buka rumahnya Coa Kiu.
Tiba-tiba dari sebelah tetangga satu nyonya tua dan
miskin mencegah: "Eh, eh, jangan buka pintunya orang!
Orangnya tak ada! ... "
"Tidak apa!" sahut Tay Po sambil menoleh. "Aku ada
iparnya nona Coa ... "
Cepat sekali pintu telah terbuka dan Tay Po terus masuk
ke dalam. Ia dapat lihat sepasang tombak, bandring dan
gembreng terletak di atas pembaringan tanah, dan peti kayu
terletak tetap pada tempatnya. Ia lompat pada peti itu yang
terus dibuka, akan akhirnya ia jadi kecele. Isinya peti itu
cuma dua tiga potong baju perempuan dan kun, beberapa
rupa perhiasan rambut serta dua atau tigapuluh tail perak.
Karena penasaran, Tay Po menggeledah terus, maka
akhirnya dari dalam salah satu kun ia dapatkan sepucuk
surat dengan cap yang berbunyi: "Hweeleng koan
Kongbun", yang berarti "surat resmi dari Hweeleng".
"Heran ... " kata Tay Po dalam hatinya. Tapi ia buka
surat itu dan baca bunyinya:
"Pembawa surat ini ada Coa Tek Kong, hamba polisi
dari Hweeleng. Ia ada dalam tugas mencari penjahat besar
Pekgan Holie Kheng Liok Nio, untuk ditangkap dan
dihukum. Maka di kota mana saja ia sampai, harap ia
diberikan bantuan sepenuhnya."
Di sebelah itu ada lukisan dari umur dan roman dari Coa
Tek Kong, lukisan mana cocok benar dengan Coa Kiu.
Mau atau tidak, Tay Po menjadi terperanjat dan
tercengang.
"Aha!" ia pikir kemudian.Aku jadi polisi rahasia
mencurigai polisi rahasia juga. Siapa sangka bahwa Coa
Kiu ada orang polisi dan Siang Moay, dengan main dangsu
sedang membantu ayahnya. Untuk menjalankan tugas,
ayah dan anak ini masuk dalam kalangan kangouw, dengan
segala daya mereka memaksa hendak masuk ke dalam
gedung Giok tayjin, ini menandakan bahwa si penjahat
yang dipanggil Kheng Liok Nio itu, yang gelarnya Pekgan
Holie, si Rase Mata Biru tentu berada di dalam gedung itu.
Rupanya, sebab belum dapat bukti cukup dan jeri terhadap
pengaruhnya Giok tayjin, mereka telah gunakan segala
daya akalnya ... "
Setelah berpikir begitu, Tay Po tutup pula itu peti, baru
saja ia hendak kunci pula, tiba-tiba pintu rumah yang ia
cuma rapatkan, ada yang buka, dan Coa Siang Moay
bertindak masuk!
Wajahnya si nona menjadi berubah kapan ia lihat
petinya telah dibuka, dengan mata tajam ia awasi anak
muda itu.
Tay Po tidak kaget atau takut, sebaliknya ia bersenyum
dan tertawa.
"Bagus, bagus!" ia berkata. "Kau ketahui namaku dan
aku ketahui tentang kau berdua! Kita ada orang dari satu
golongan, sudah seharusnya kita bergaul lebih rapat ... "
Dengan mata terbuka lebar, si nona memandang terus.
"Kau telah ketahui hal kita, baiklah," ia kata kemudian.
"Sekarang aku minta supaya tentang kita, kau jangan
omong pada lain orang, dan kau, aku harap jangan kau
ganggu usaha kita."
Itto Lianhoa tertawa.
"Sudah pasti aku tak akan mengganggunya," ia
menyahut. "Kau toh sedang menjalankan tugas! Bukankah
kau telah datang dari tempat yang jauh dan tugasmu ada
berat? Hanya, aku ada sedikit berkuatir. Itu adalah karena
tugasnya teetok tayjin justru untuk bekuk orang-orang jahat
dan kau berdua justru hendak masuki gedungnya teetok itu!
Apakah bisa jadi, penjahat yang kau sedang cari berada di
dalam gedungnya teetok? Maukah kau memberi keterangan
padaku, supaya aku mendapat ketahui duduknya perkara?"
"Sekarang lekas kau pergi!" kata Siang Moay. "Ayah
bakal lekas kembali! Ayah larang aku buka rahasia kita, ia
kuatir usahanya jadi terhalang. Ayah sudah ketahui yang
kita telah berkenalan. Mengenai kau, ayah kata padaku Itto
Lianhoa Lauw Tay Po ada adik misan dari Sinchio Yo
Kian Tong. Yo Kian Tong itu ada orang satu kaum dengan
Lie Bouw Pek, dan Lie Bouw Pek ada orang satu kaum
dengan Kheng Liok Nio."
Tay Po menjadi heran.
"Jadinya Lie Bouw Pek ada segolong dengan penjahat
yang kau hendak bekuk ini?" ia tegaskan.
Nona Coa manggut.
"Ya. Dua-dua mereka ada dari kaum Bu-tong-pay."
"Benar aneh!" kata Itto Lianhoa. "Coba jelaskan padaku
siapa itu Pekgan Holie Kheng Liok Nio. Ia ada bujang dari
keluarga Giok atau terhitung sanak? Kau kasih keterangan
padaku, nanti aku bantu kau dalam usahamu ini."
"Sekarang kau pergi dahulu!" Siang Moay mendesak,
agaknya ia ada berkuatir. "Besok malam kau datang kemari,
itu waktu aku nanti berikan keterangan yang jelas ... ,"
Sembari kata begitu, nona ini tolak tubuhnya Tay Po, ia
mengusir separo memohon.
Buat sesaat, Tay Po tahan tubuhnya, ia tertegun, tetapi
segera juga ia tertawa.
"Baiklah, sampai besok!" ia kata seraya bertindak keluar.
Si nona tidak ikut keluar, dari dalam ia kata: "Besok kau
datang jam dua, tunggu saja di luar, jangan kau tepuk
tangan dan jangan nyanyi juga! ... "
Lauw Tay Po bersenyum, ia berjalan terus, hatinya
bungah. Tapi, kapan ia sampai di tepi telaga sebelah timur,
ia tahan tindakannya, ia balik bertindak ke belakang sebuah
pohon yangliu, ia mengawasi ke rumahnya si nona itu.
Tidak berselang lama, kelihatan Coa Tek Kong alias Coa
Kiu sedang mendatangi, dengan tindakan cepat, seperti ada
urusan penting, dan sesampainya di depan pintu, ia terus
saja tolak daun pintu dan bertindak masuk.
Tay Po terus menantikan, matanya ia pasang. Ia tidak
usah menantikan lama atau pintu dibuka dan Coa Kiu serta
gadisnya bertindak keluar. Si nona ada bawa sepasang
tombak cagaknya, yang biasa dipakai sebagai tiang.
"Inilah heran ... " pikir Tay Po.
Sang sore sedang mendatangi, matahari telah bersinar
layung, maka mustahil itu tukang dangsu mau pergi buka
pertunjukan ... Tapi ia tidak boleh ngelamun, ketika itu
ayah dan anaknya berangkat, ia menguntit dari kejauhan.
Coa Kiu bertindak sampai di jalan besar, lalu ia menuju
ke utara, ke Teltseng-mui, tetapi di sini ia jalan terus,
anaknya terus mengintil di belakangnya.
"Sudah sore, mereka bawa tombak, ke mana mereka
mau pergi?" Tay Po menduga-duga pula. Ia terus terbenam
dalam keheranan. Toh ia terus ikut pergi ke luar kota.
Jalan besar itu waktu ada ramai sekali, karena banyak
orang kampung, orang pelancongan, yang pada menuju ke
luar kota. Adanya banyak orang itu ada baiknya bagi Lauw
Tay Po, yang bisa menguntit dengan leluasa. Berapa kali
Coa Kiu dan gadisnya menoleh ke belakang, tetapi mereka
tak dapat lihat itu guru silat.
Tidak lama mereka sudah berada di luar Kwansiang, dari
sini ayah dan anaknya itu tetap menuju ke utara, sesudah
melalui dua atau tiga lie, mereka lalu menghadapi suatu
tempat yang tanahnya tinggi lima atau enam tombak. Itu
adalah yang penduduk Pakkhia panggil "Touwshia" atau
Tembok Tanah. Itu adalah tembok kota tanda peninggalan
dari jaman Liauw dan Kim. Di situ biasanya tak
sembarangan orang mau naik ke tembok tinggi itu. Tetapi
Coa Kiu dan gadisnya bertindak di tangga, naik ke atas
tembok.
Sampai di situ, Tay Po tidak mampu sembunyikan diri
lagi. Ketika Coa Siang Moay menoleh dan dapat lihat itu
guru silat, ia memberi tahu ayahnya, atas mana Coa Kiu
menoleh dan kemudian turun di tangga, akan samperi guru
silat itu pada siapa ia memberi hormat dengan angkat kedua
tangannya.
“Tuan Lauw," ia berkata dengan tegurannya. "Kau telah
ikuti kita, apakah kau juga hendak menonton keramaian?"
Tay Po membalas hormat, ia tertawa.
"Memang aku hendak saksikan Coa pantauw perlihatkan
kepandaiannya yang tinggi untuk membekuk penjahat
besar," ia menyahut.
"Kau terlalu memuji, tuan," Coa Kiu bilang. "Namamu,
tuan Lauw memang aku telah ketahui, dan sekarang
dengan kau bekerja di Pweelek-hu selaku kauwsu, kau telah
menjadi seorang yang mulia. Kau telah ketahui siapa diriku,
aku tidak usah sembunyikan diri lebih lama pula di
hadapan kau. Di Hweeleng, Kamsiok, sudah duapuluh
tahun lebih aku pangku jabatanku, perkara besar yang aku
berhasil bikin terang, sudah banyak juga jumlahnya, tetapi
semua itu tak ada yang timpali ini satu perkara, yang aku
lagi urus, terutama karena si penjahat sekarang lagi
sembunyikan diri di rumahnya seorang besar dan
berpengaruh. Umpama kita bisa ketemui orang itu, kita pun
tidak bisa datang-datang bekuk padanya. Penjahat ini ada
punya bugee yang tinggi, ia pandai ilmu lari keras dan lari
di atas genteng, jikalau kita salah tindak dan ia bisa lolos
akibatnya bakal hebat. Tentu majikannya bakal marah besar
dan kita bisa berbalik dituduh sudah memfitnah padanya,
apabila itu terjadi, aku bisa dapat susah, jangan-jangan
jiwaku pun akan tak dapat ditolong. Maka itu, sesudah
putus asa, kita telah janjikan, si penjahat akan datang
kemari, untuk kita bertanding. Sebentar ia akan datang.
Perjanjian kita adalah: Kalau ia kalah, ia akan serahkan diri
untuk dibelenggu, tetapi kalau aku yang kalah, aku akan
berangkat pulang, buat serahkan tugas pada sep-ku dan
meletakkan jabatan, buat seterusnya tidak satrukan lagi
penjahat itu.”
Dengan perkataan "ia”, Coa Kiu maksudkan penjahat itu
ada penjahat perempuan.
Lauw Tay Po melihat ke sekitarnya. Di situ tidak ada
lain orang.
"Coa pantauw," ia kata, dengan separuh berbisik, "aku
lihat, pada mulanya, tindakan kau ada sedikit keliru.
Kenapa sesampainya kau di Pakkhia kau tidak lantas pergi
melaporkan diri pada pembesar kota? Kau toh punya surat
dinas?"
"Aku telah laporkan diri di Wanpeng," Coa Kiu memberi
tahu. "Aku anggap percuma saja aku bikin laporan. Sebab
penjahat sembunyikan diri di gedungnya Giok tayjin.
Apakah pembesar dari Wanpeng berani kirim orang akan
lakukan penangkapan di gedung teetok?"
"Sebenarnya penjahat itu ada orang macam apa?" Tay Po
tanya, "Cara bagaimana ia bisa sembunyikan diri di
gedungnya teetok?"
"Kheng Liok Nio sudah berusia limapuluh lebih," Coa
Tek Kong kasihkan keterangannya. "Pada tigapuluh tahun
yang lalu, ia ada penjahat besar dan terkenal di Siamsay
dan Kamsiok. Bugee-nya ada pelajaran dari Bu-tong-pay, ia
malah mengerti ilmu menotok jalannya darah. Bugee-nya
itu ada satu asal dengan bugee-nya Kang Lam Hoo!"
Tay Po kaget apabila ia telah dengar keterangan itu.
"Sebenarnya selama belasan tahun ini, Kheng Liok Nio
sudah sembunyikan diri, hingga orang tak tahu ia berada di
mana," Coa Kiu menerangkan lebih jauh. "Ia baru muncul
pula pada enam tahun yang lalu. Pada satu waktu di daerah
kita ada kelihatan seorang perempuan tua, yang pandai
mengobati luka dengan pakai jarum sebagai alat. Sejak
munculnya ini tabib perempuan, hampir beruntun di daerah
kita terjadi perkara-perkara jiwa, di antaranya ada dua
hartawan yang jadi korban. Sesudah sekian lama aku bikin
penyelidikan, aku dapat kenyataan, kejahatan itu ada
perbuatannya orang perempuan itu, ialah Pekgan Holie
Kheng Liok Nio. Lantas aku berdaya untuk bekuk
perempuan tua itu. Dalam hal ini, isteri dan anakku telah
membantu aku. Di luar sangkaanku, kita bukannya
tandingan dari itu penjahat. Isteriku binasa di ujung
goloknya, aku sendiri roboh karena kena ditotok, dengan
begitu, ia jadi bisa loloskan diri."
"Ia ada satu penjahat, cara bagaimana ia bisa masuk ke
gedungnya Giok tayjin?" Tay Po tanya. "Bagaimana
duduknya maka kau bisa cari tahu ia berada di dalam
gedungnya teetok?"
"Itu ada secara kebetulan saja," jawab Coa Kiu. "Sejak
kaburnya Kheng Liok Nio tidak ada kabar ceritanya lagi.
Karena lukaku, setengah tahun lamanya aku mesti berobat
terus. Dengan kebinasaannya isteriku, aku tidak punya
pembantu lagi, maka aku turunkan kepandaianku pada
anak perempuanku ini. Tidak pernah aku lupakan sakit hati
isteriku, maka pada tahun yang sudah, di musim keempat,
aku menghadap pada tiekoan, untuk minta perkenan akan
cari Kheng Liok Nio. Buat itu, aku minta surat keterangan.
Demikian, dengan anakku turut aku, aku bikin perjalanan.
Kita hidup sebagai tukang dangsu. Kita telah pergi ke
banyak kota, ikhtiar kita tak ada hasilnya. Kebetulan sekali,
di sini kita dapat tahu Kheng Liok Nio berada di dalam
gedungnya Giok tayjin. Ia ada jadi budak, tetapi budak
dengan pengaruh besar, karena ia telah dapatkan
kepercayaan besar dari nyonya dan nona Giok. Maka itu,
coba kau pikir, bagaimana kita bisa sembarangan turun
tangan?"
Tay Po jadi berpikir.
"Sekarang kau ambil tindakan ini, akan mengadu
kepandaian, apa kau merasa pasti bahwa kau akan dapat
kemenangan?" ia tanya.
"Sebenarnya, bukannya aku yang tantang ia, hanya ialah
yang tantang aku," Coa Kiu kasih keterangan. "Kemarin ini
anakku berpura-pura jatuh dari tambang, maksudnya
adalah supaya ia bisa masuk ke gedung keluarga Giok.
Siapa tahu, ia bisa bade maksud kita. Ialah yang minta nona
Giok jangan ijinkan anakku ini dibawa masuk."
"Tadi malam dengan diam-diam aku masuk ke dalam
gedungnya teetok. Tentang kedatanganku itu, si penjahat
telah dapat tahu. Ia rupanya kuatir juga yang kita selalu
desak padanya, ia rupanya kuatir nanti rahasianya
terbongkar di matanya keluarga Giok, maka tadi pagi ia
telah suruh satu bocah pengemis datang cari aku akan
sampaikan suratnya ... "
Tay Po heran berbareng kagum buat keberaniannya si
penjahat itu.
“Dalam suratnya itu," Coa Kiu lanjutkan keterangannya,
"Kheng Liok Nio janjikan aku akan hari ini jam dua datang
ke tempat ini untuk adu kepandaian. Sekian lamanya aku
menunggu, ia tidak juga muncul, maka kita terpaksa pergi
ke dalam kota. Ketika kita sampai di jalan besar di Tekseng-
mui, kita ketemu pula si pengemis cilik dan ia ini memberi
tahu kita bahwa ia telah ketemu satu nyonya tua, nyonya
mana minta disampaikan bahwa waktu piebu diubah
menjadi di waktu malam, di kota tanah ini ... "
"Apakah kau ada bawa suratnya Pekgan Holie itu?" Tay
Po tanya. "Apa kau suka perlihatkan surat itu padaku untuk
aku kenalkan tulisannya?"
"Percuma untuk kau lihat suratnya itu, ia menulis
dengan ujung hio dan tulisannya ada sangat tidak nyata.
Kheng Liok Nio ada satu penjahat ulung, ia selalu bekerja
dengan hati-hati, untuk tidak meninggalkan tanda-tanda
atau bekas-bekas. Demikianpun orang suruhannya, ia
sengaja ambil satu pengemis bocah di tengah jalan, hingga
si pengemis pun tak ketahui siapa dan di mana tempat
kediamannya."
Lauw Tay Po berdiam sedetik.
"Coa pantauw ia kata kemudian, untuk bicara terus
terang, kita berdua ada orang-orang segolongan. Aku
sekarang lagi cari orang yang curi pedang di dalam
Pweelek-hu. Menurut keteranganmu ini, mungkin kita
sedang urus perkara-perkara buah tangan dari satu orang.
Maka aku pikir untuk kita bekerja sama dan bantu
membantu. Aku harap Pekgan Holie nanti datang kemari
dan kita berdaya untuk membekuknya. Bila sebentar ia
datang, marilah kita keluarkan tenaga dengan terlebih
sungguh-sungguh!"
Itu waktu Coa Siang Moay telah sampai di atas dan
berdiri di sisi ayahnya.
Coa Tek Kong percaya Lauw Tay Po, tawaran siapa ia
terima bilik. Ia ada merasa girang yang ia telah bisa
dapatkan kawan atau pembantu. Dari tangan gadisnya, ia
ambil sebatang tombak.
"Saudara Lauw," ia berkata, "kau tidak bawa senjata,
maka kau pakailah tombak ini. Pekgan Holie ada liehay,
kejam dan licin, aku harap sebentar kau berlaku hati-hati,
terutama jagalah agar kau tidak terkena totokannya!"
Tay Po tertawa buat nasehat itu.
"Aku tidak takut ilmu menotok jalannya darah," ia
menyahut. "Di tubuhku tidak ada jalan darah yang bisa
ditotok! Dengan serahkan tombak padaku, senjata apakah
yang kau akan gunakan? Dalam hal ini, kau adalah yang
pegang peranan, aku melulu ada jadi pembantu. Apakah
bisa jadi kau akan layani penjahat itu dengan bertangan
kosong?"
Dari pinggangnya, Coa Tek Kong loloskan bandringnya.
"Aku punya senjata ini dengan apa aku bisa layani
musuh itu," ia kata. "Di sebelah itu, aku dan anakku
masing-masing pun ada bekal lima buah piauw."
Tay Po manggut.
"Piauw aku tak biasa menggunainya, begitupun ini
tombak," ia bilang. "Baiklah kau pinjamkan liu-seng-twie
padaku. Lauwko baik ketahui, juga dahulu aku pernah
menjual silat, maka aku jadi bisa mainkan bandring ... "
Coa Kiu setujui sahabat baru itu, ia serahkan
bandringnya dan ambil pulang tombaknya.
Siang Moay tertawa apabila ia dengar perkataannya guru
silat itu.
Demikian, bertiga mereka telah siap.
Dengan bersemangat tiga orang ini naik ke kota tanah
dan memandang ke arah selatan. Di jalanan sudah tak
tertampak orang, karena waktu itu sudah mulai magrib.
Lama juga mereka memandang, tiba-tiba Lauw Tay Po
lari turun dari Touwshia dan menuju ke jurusan selatan,
beberapa tindak jauhnya.
Dari jurusan itu ada mendatangi seorang dengan tubuh
bongkok, dengan tongkat di tangan, jalannya sangat
perlahan. Dari kejauhan, ia nampaknya sebagai seorang
perempuan.
Lekas-lekas Lauw Tay Po tengkurap di tanah,
bandringnya sudah siap. Sebentar kemudian, orang itu telah
datang semakin dekat.
Langit sudah gelap, mukanya orang itu tak kelihatan
nyata, tetapi menampak roman atau sikap orang tua itu,
Tay Po bersangsi.
"Aku mesti hati-hati!" demikian ia pikir. "Tidak boleh
dengan satu bandring aku bikin mampus seorang tua yang
tak bersalah dosa, itulah hebat ... "
Demikian, ketika orang tua yang bertongkat itu lewat di
sisinya, Tay Po tak menyerang.
Akan tetapi Coa Kiu dan gadisnya dengan cekal
tombaknya masing-masing telah memburu turun dan
memegat orang tua itu.
"Pekgan Holie, apakah sekarang kau masih berniat merat
lagi?" berteriak hamba polisi dari Hweeleng. "Lekas kau
serahkan diri!"
"Hari ini aku mesti balas sakit hatinya ibuku!" Siang
Moay juga berseru.
Di saat itu, Lauw Tay Po telah berbangkit, dari sebelah
belakang orang, ia bisa lihat si orang tua, tubuh siapa yang
bongkok telah berubah menjadi lempeng, hingga ia tampak
orang itu berbadan tinggi.
Adalah di itu saat juga, itu orang tua dengan tongkatnya
menghajar tanah, hingga menerbitkan suara nyaring, yang
menyatakan tongkat itu terbuat dari besi!
Tay Po tercengang.
"Coa Kiu, kau terlalu menghina aku!" segera terdengar
suara luar biasa dari si orang tua. "Kau harus ketahui,
dahulu aku sedang melakukan perbuatan-perbuatan gagah
dan mulia, untuk mana aku mesti habiskan jiwanya
beberapa orang, tetapi karena itu, kau telah desak aku,
sampaikan aku tak punya tempat di mana aku mesti
pernahkan diri. Sudah lima tahun lamanya aku tinggal pada
keluarga Giok, aku hidup tenteram dan damai, belum
pernah aku berselisih pada siapa juga, tetapi kenapa kau
dari Kamsiok yang jauh datang kemari mendesak padaku
pula? Kemarin ini hampir saja gadismu bisa masuk ke
dalam gedung teetok untuk bongkar rahasiaku, baiknya aku
dapat mencegahnya. Kau ada kejam sekali! Maka kini
terpaksa aku kehendaki jiwamu berdua, ayah dan anak! ... "
Sekonyong-konyong Coa Siang Moay menikam dengan
tombaknya.
Kapan Pekgan Holie menangkis, segera terdengar suara
nyaring dari beradunya dua senjata yang sama-sama terbuat
dari besi.
Tombaknya Coa Tek Kong menyusul, tetapi juga
serangan ini telah ditangkis oleh Kheng Liok Nio.
Setelah itu, ayah dan anak daranya, sudah lantas
merangsek secara hebat, tombak mereka turun dan naik
secara sebat.
Didesak secara demikian, Pekgan Holie putar tongkatnya
laksana senjata itu terbang berdansa-dansa, terputar-putar
menutupi dirinya, membikin kedua ujung tombak tak
mampu mampir pada badannya.
Berulang-ulang terdengar suara nyaring dari beradunya
ketiga senjata
Coa Kiu dan Siang Moay mendesak terus dengan sia-sia,
sebab musuh meskipun berada sendirian, benar-benar ada
tangkas sekali, tongkatnya sukar digempur terlempar atau
terlepas dari cekalan.
Demikian, sepuluh jurus telah dikasih lewat.
Pekgan Holie telah pusatkan perhatiannya kepada dua
musuh, ia tidak menyangka bahwa di belakangnya ada satu
musuh lain, tidak heran ketika Lauw Tay Po turun tangan,
sesudah guru silat ini anggap waktunya telah tiba, ia
merasakan sakit dan kaget dengan berbareng, oleh karena
sebuah bandring telah menimpa pinggangnya bagian
belakang! Dengan menahan sakit ia loncat ke samping.
Menggunai saat itu, gesit laksana kunyuk, Tay Po lompat
menyerang pula.
Akan tetapi setelah mengetahui ada musuh ketiga, cepat
luar biasa, ia loncat lebih jauh ke kanan, sebelum bandring
mengenai kepalanya, ujung tongkatnya sudah mendahului
belajar kenal pada iga kirinya Tay Po.
Bukan kepalang kagetnya Lauw Tay Po, terutama ia
rasai iganya jadi kesemutan atau bergemetar, maka tidak
tempo lagi, ia lempar dirinya jatuh tengkurap dan
bergulingan, hingga secara demikian, dirinya jadi terpisah
jauh dari musuh yang liehay itu.
Itu ada ilmu bergulingan "Ciutee Sippatkoan", suatu
ilmu untuk tolong diri dari serangannya ilmu menotok
darah.
Sementara itu, Siang Moay sudah lepaskan dua batang
piauw hampir beruntun, tetapi Kheng Liok Nio benar-benar
liehay, dua-dua senjata rahasia itu ia bisa kasih lewat
dengan berkelit. Ia sangat jeli dan gesit luar biasa.
Coa Kiu merangsek pula dengan tombak cagaknya,
diturut oleh puterinya yang bantu ia mendesak musuh besar
itu.
Akan tetapi Pekgan Holie selalu bisa menyingkir dari
ujung tombak, sedang tongkatnya senantiasa mencari
lowongan terhadap kedua musuh itu.
"Hati-hati terhadap tiamhiat hoat-ku!" demikian si Rase
Mata Biru berseru dengan berani.
Justru itu, menyusul itu peringatan atau ancaman,
bandring menyambar di atasan leher dari si orang tua ini,
hampir saja senjata itu mengenai batok kepalanya. Ia
menjadi sangat gusar, maka sambil putar tubuh, ia serang
Tay Po.
Kauwsu dari Pweelek-hu ada licin sekali, ketika musuh
serang ia, bukannya menangkis atau berkelit, hanya ia
buang dirinya akan bergulingan pula.
"Kurang ajar!" berseru si nyonya tua yang terus loncat
agaknya ia hendak kejar Lauw Tay Po, tetapi sebenarnya ia
terus lari. Karena ia rasai sangat sakit pada pinggangnya
dan atasan leher itu. Jika seorang lain yang kena dua
hajaran bandring dari si guru silat tentulah sudah rubuh
atau kegesitannya jadi kurang. Ia mencaci maki.
Dengan menerbitkan suara angin, dua batang piauw
menyambar pula dengan dahsyat. Kembali dua-dua
serangan itu bisa dikasih lewat. Cuma karena mesti
mengegos, Kheng Liok Nio bikin Coa Tek Kong dan
gadisnya bisa loncat dekat padanya, akan lagi-lagi kepung
ia, tombak mereka menikam berulang-ulang.
Lauw Tay Po yang cerdik dan licin telah kembali, ia
menyerang selalu dari belakang, setiap kali musuh hadapi
padanya, setiap kali juga ia mundur atau berguling diri, di
mana musuh sedang repot melayani itu ayah dan anak,
bandringnya tentu datang melayang pula. Serangannya itu
membikin repot pada tongkat musuh.
Bukan kepalang mendongkol dan gusarnya Kheng Liok
Nio, sebab ia mesti tahan sakit dan berbareng mesti hadapi
musuh-musuh yang berada di depan dan belakangnya,
sedangkan dua musuh di depan itu ia tidak boleh pandang
ringan. Ia telah pikir akan totok kedua musuh di depannya
itu, tetapi pikiran itu tak dapat diwujudkan. Oleh karena
Coa Kiu dan gadisnya telah bersiap diri, sebisa-bisa mereka
ingin lolos dari totokan yang berbahaya. Sebab satu kali
ujung tongkat musuh dapat berkenalan pada badan mereka,
ini berarti kekalahan mereka, ataupun kecelakaan ...
Semakin lama pertempuran berjalan, semakin Kheng
Liok Nio menjadi sibuk. Ia tidak mampu desak itu ayah dan
anak, karena di belakangnya ia ada Tay Po yang menanti
ketika, tentu hajar ia, sebaliknya kalau ia rangsek Tay Po,
guru silat ini main mundur. Terhadap guru silat ini,
tiamhiat hoat-nya seperti tidak mempan, sebab asal ujung
tongkatnya mampir, Tay Po tentu lekas buang diri dan
bergulingan, jalan darahnya lantas hidup pula ...
Demikian, mau atau tidak, ia jadi kena dikurung. Ia pun
sibuk karena rasa sakitnya bekas terbandring, Coa Kiu
merasa puas melihat jalannya pertempuran itu.
"Anakku! Lauw toako!" ia berseru. "Ini kali kita mesti
dapat bekuk penjahat ini!"
"Jangan banyak mulut!" membentak Kheng Liok Nio.
Sekali ini si Rase Mata Biru telah gunakan antero tenaga
dan kebisaannya akan rangsek musuh, maka setelah
berselang lima puluh jurus, ia peroleh satu lowongan,
hingga ia bisa lolos dan menyingkir ke atas tembok tanah.
Mendahului yang lain-lain, Coa Kiu mengejar, disusul
oleh Siang Moay dan Tay Po paling belakang.
Selagi empat orang ini main uber-uberan, dari jurusan
selatan ada terdengar berketopraknya kaki kuda yang
dikasih lari keras ke jurusan mereka, mendengar mana, dari
atas tembok kota Kheng Liok Nio lompat turun dan lari ke
jurusan kuda itu. Segera juga terdengar teriakannya:
"Muridku, muridku, lekas bantui aku!"
Lauw Tay Po terkejut.
"Oh, kiranya ia ada punya murid! ... " berseru ia.
"Peduli apa!" berseru Coa Kiu. "Mari kita bekuk mereka
semua!" Bertiga mereka loncat turun dari tembok akan
mengejar terus.
Si penunggang kuda telah datang semakin dekat, di
antara sinar bulan dan bintang yang guram, kelihalan
pakaiannya yang hijau atau biru.
Siang Moay tidak peduli siapa adanya penunggang kuda
itu yang ia anggap ada muridnya Pekgan Holie, ia segera
menyerang dengan piauw.
Penunggang kuda itu ada liehay, ia bukan berkelit tetapi
sebaliknya, ia ulur sebelah tangannya menyambuti piauw
itu, akan segera ditimpukkan kembali untuk balas
menyerang.
Tay Po kaget sampai menjerit, karena piauw justru lewat
di sisi kupingnya.
Penunggang kuda itu sekarang loncat turun sambil lebih
dahulu hunus pedangnya, ia maju memburu.
"Kasih aku liuseng-twie!" kata Coa Kiu pada Tay Po.
Mereka lantas ganti senjata.
"Binatang, kau siapa?" Tay Po menegur seraya maju
memapaki penunggang kuda itu. "Lekas beritahukan she
dan namamu!"
Orang yang ditegur itu tak menyahut, hanya maju terus.
Dalam mendongkolnya, Tay Po maju dengan
tikamannya, tetapi kapan si penunggang kuda menangkis,
nampaknya gerakan pedang ada tenang sekali, segera
terdengar suara senjata beradu, bukannya suara bentrokan
keras, hanya suara barang besi putus!
Bukan main kagetnya si guru silat, karena ia dapat
kenyataan tombaknya telah tertabas buntung, tidak tempo
lagi ia angkat kakinya, akan buka tindakan lebar.
"Ha, kiranya kau yang curi pedang mustika!" demikian ia
berseru.
Penunggang kuda itu tetap bungkam, tetapi ia loncat,
akan candak Tay Po.
Siang Moay lihat kawannya berada dalam bahaya, ia
maju menghalangi, tombaknya dikasih kerja.
Si penunggang kuda menangkis, seperti tadi, ia pun bikin
sapat tombak cagaknya Siang Moay.
Kaget berbareng penasaran, Siang Moay ganti
menggunakan piauw, tetapi musuh benar liehay, meskipun
piauw dilepas berhadapan, tidak urung ia bisa tangkap
dengan tangannya. Setelah itu, orang ini pun balas
membabat dengan pedangnya yang tajam itu.
Untuk tolong diri, Siang Moay berkelit sambil mendek,
tetapi di luar dugaannya, kakinya orang itu telah melayang,
hingga tahu-tahu ia telah terdupak terpelanting.
Adalah di saat itu, Coa Tek Kong merangsek dengan
bandringnya.
Sekali ini, penunggang kuda itu tidak tangkis serangan,
hanya ia berkelit ke samping, dari mana ia menusuk dengan
pedangnya.
Dengan satu loncatan, Coa Kiu berkelit, kemudian ia lari
beberapa tindak, setelah mana, ia berbalik seraya tangannya
bergerak berulang-ulang, karena dengan beruntun-runtun, ia
lepaskan 4 batang piauw.
Musuh yang tangguh itu telah geraki pedangnya bulak-
balik, dengan itu cara ia bikin semua piauw kena tertangkis
dan jatuh ke tanah, hingga kegagahannya itu bikin si hamba
polisi dari Kamsiok menjadi heran dan kaget.
"Kau siapa?" tanya itu tukang dangsu tetiron.
Pertanyaan ini tidak dijawab oleh si penunggang kuda
itu, jawaban satu-satunya adalah terayunnya tangannya,
akan menimpuk piauw yang tadi ia sambuti dari Siang
Moay, atas mana Coa Tek Kong menjerit keras dan
tubuhnya roboh terguling ke tanah!
Tay Po berada di tempat yang tinggi, ia pungut batu
berulang-ulang menimpuk pada musuh itu, siapa bisa
loloskan diri dengan tiap kali berkelit.
Melihat demikian. Siang Moay jumput tombaknya yang
kutung, dengan itu ia maju pula menerjang lagi pada
musuhnya. Ia ada berkuatir untuk ayahnya, maka ia jadi
sengit.
Si penunggang kuda tidak hendak tabas tombak musuh,
atau ia tidak mampu berbuat demikian, karena si nona Coa
sekarang berlaku gesit dan waspada, tetapi ketika satu kali
ia menyabet, dari kiri ke kanan, ia bikin nona itu berkelit
dengan kepala mendek, berbareng dengan mana, kembali
kakinya bekerja dengan berhasil, sebab dengan satu
tendangan, Siang Moay kembali kena dibikin terguling.
Ketika itu, dengan putar tongkatnya si nyonya tua maju
pula. Dari tadi ia nonton dari pinggiran, sambil mengaso,
dengan napasnya tak lagi memburu.
"Mereka semua mesti dibasmi habis!" ia berteriak dengan
sengit.
Tapi si penunggang kuda mencegah, malah ia tarik orang
tua itu dipondong dikasih naik atas kudanya, setelah mana
ia kasih kudanya kabur pergi, sedang pedangnya siang-siang
telah dikasih masuk pula ke dalam serangkanya. Mereka
kembali ke jurusan selatan.
Tay Po penasaran, ia coba mengejar, tetapi tak berhasil.
"Binatang, lekas kembalikan pedang ke Pweelek-hu!" ia
berteriak. "Awas jikalau kau tidak lakukan itu, Itto Lianhoa
nanti maui jiwamu! ... “
Ancaman itu tidak digubris, penunggang kuda itu kabur
terus.
Dengan napas sengal-sengal, terpaksa Tay Po tidak
mengubar terus, kemudian dengan masgul dan berkuatir ia
bertindak balik.
"Rupanya Coa Kiu terluka parah ... " pikir ia. "Entah
bagaimana dengan Siang Moay."
Selagi mendekati Touwshia, guru silat ini segera dengar
suaranya si nona yang ia kenalkan betul. Tapi ini kali ia
dengar jeritan dari tangisan ...
"Ayali, ayah ... " demikian suaranya si nona.
Bahna kaget, Tay Po lantas saja lari, kapan ia sudah
datang dekat, ia lihat si nona mendekam di atas tubuh
ayahnya, nona itu menangis menggerung-gerung.
"Bagaimana?" menanya ia sesudah sampai di dekat
mereka. Ia terus jongkok, ia sambar tangannya Tek Kong
buat dipegang, buat kagetnya, ia merasai tangan yang sudah
beku dingin. Ia pun raba nadi, yang telah tak berkedut lagi
...
"Celaka!" kemudian berseru guru silat ini. Ia kaget
berbareng duka dan panas hatinya. "Bagus betul, orangnya
keluarga Giok telah binasakan hamba polisi yang datang
dari luar daerah! Ini perkara mesti ditarik panjang ... "
"Tarik panjang!" kata Siang Moay, yang tahan
tangisannya, "Apakah artinya itu? Sekalipun pembesar
negeri minta keterangan kita, apa kita bisa bilang? Apakah
kau kira tiekoan dari Wanpeng nanti berani bertindak
terhadap Giok teetok? Jangan-jangan bukannya perkara kita
yang diurus, Giok tayjin nanti justru tuduh kita sudah
memfitnah kepadanya ... "
Lauw Tay Po tercengang.
"Kau benar," ia akui kemudian sambil manggut.
"Tidaklah kecewa yang kau ada jadi gadisnya seorang polisi
ulung. Tapi sekarang ayahmu telah menutup mata, kau
menangis pun tak ada faedahnya. Buat kita adalah
menunggu tempo, akan berikhtiar mencari balas. Apakah
kau ada bawa surat dinas?"
Sesudah berdiam sekian lama, Siang Moay menyahut:
"Ada."
"Bagus," kata Tay Po. "Sekarang kita bawa mayat
ayahmu ke Kwansiang untuk dilaporkan dan diperiksa,
kemudian kita nanti urus lebih jauh. Jikalau ditanya
sesuatu, kau tidak usah bicara banyak. Apabila orang tanya
kau siapa adanya aku, kau akuilah aku sebagai engku-mu
(paman)."
"Tidak tepat kau sebagai engku," kata si nona. "Aku
nanti bilang saja bahwa kau adalah sahabat kita ... "
"Begitupun baik," sahut Tay Po. "Sekarang kumpulkan
potongan tombakmu, itu semua bisa dijadikan barang
bukti."
Siang Moay menurut, ia berbangkit akan punguti empat
batang tombaknya. Ia ada sangat berduka, ia terus
menangis sesenggukan, kendati dengan perlahan.
Tay Po pondong tubuhnya Coa Kiu buat digendol di
punggungnya.
"Marilah," ia kata dengari terus jalan mendahului.
Mereka tinggalkan Touwshia dan menuju ke arah
selatan, sembari jalan Siang Moay terus menangis, maka
Tay Po mesti saban-saban hiburkan padanya.
Langit ada gelap, angin meniup keras, hawa pun sangat
dingin. Di empat penjuru tak ada tertampak sinar api.
Jalanan pun ada sunyi, karena di situ mereka hanya
berduaan saja, bertiga dengan mayatnya si orang polisi
ulung.
Di saat mereka sampai di dalam Kwansiang dari
Tekseng-mui, kentongan berbunyi dua kali. Di sini toko-
toko kebanyakan sudah tutup pintu.
Kapan sebentar kemudian mereka sampai di muka
kantor pembesar negeri, Tay Po letaki tubuhnya Coa Kiu, ia
menghampiri pintu kantor seraya memanggil-manggil
penjaga kantor itu akan beritahukan telah terjadinya
perkara jiwa.
Di kantor itu cuma ada satu pembesar sebawahan serta
dua serdadu yang giliran menjaga malam. Mereka ini
terperanjat tetapi mereka toh keluar.
"Mari itu surat dinas," kata Tay Po pada Siang Moay,
dan terus berkata pada si pembesar: "Ini nona adalah Coa
Siang Moay, puterinya pantauw Coa Tek Kong dari
Hweeleng, Kamsiok. Coa pantauw datang kemari dengan
tugas mencari dan menangkap penjahat besar yang bernama
Pekgan Holie Kheng Liok Nio. Aku sendiri ada Itto
Lianhoa Lauw Tay Po, sahabat dari mereka ini,
pekerjaanku adalah kauwsu di dalam Tiat siauw-pweelek-
hu. Sinchio Yo Kian Tong, toa-piauwsu dan pemilik dari
Coanhin Piauwtiam di luar Cianmui adalah engko
misanku, dan Tiatciang Tek ngoya di Kota Timur adalah
sahabat karibku. Sekarang bersama ini nona, aku datang
untuk melaporkan apa yang kejadian barusan. Menurut
Coa pantauw, Pekgan Holie ada sembunyikan diri di suatu
gedung besar, entah gedung siapa dan di mana letaknya.
Hanya tadi secara kebetulan Coa pantauw mendapat tahu
penjahat itu keluar dari Tekseng-mui yang ia lantas kuntit.
Ia telah ajak aku dan puterinya ini. Kita menyusul sampai
di Touwshia di mana kita berhasil menyandak Pekgan
Holie. Penjahat besar itu bikin perlawanan waktu kita
hendak menangkapnya. Ketika hampir kita berhasil
membekuk ia, mendadak ada datang satu penjahat lain
yang menunggang kuda membantui Pekgan Holie. Ia ada
muridnya si penjahat itu. Karena angkasa sudah gelap, kita
tak dapat mengenalinya, kita cuma bisa duga ia masih
berusia muda, hanya terang ia ada satu penjahat yang
sembunyi di gedung besar sebagai Pekgan Holie sendiri. Ia
ini ada bersenjata pedang ... Dan looya baiklah ketahui
bahwa pedang itu justru adalah pedang yang belum lama ini
lenyap dari Pweelek-hu, yang Giok teetok sendiri sedang
cari dengan keras. Tombak kita telah kena dibabat putus
oleh pedang mustika itu ... ,"
Sembari kata begitu, Tay Po ambil sisa tombak dari
tangannya Siang Moay, setelah mengasih unjuk sisa itu ia
letaki di jubin.
"Di luar dugaan, muridnya Pekgan Holie itu dengan
piauw telah serang kita selagi kita tidak waspada untuk
menjaga diri, maka Coa pantauw telah terluka dan roboh,
setelah mana, kedua penjahat itu lantas kabur. Ketika
kemudian kita lihat Coa pantauw, ternyata ia sudah tak
bernyawa, maka mayatnya aku lantas bawa kemari, harap
looya suka periksa. Kedua penjahat itu barangkali belum
masuk ke dalam kota, kita mohon looya suka lekas ambil
tindakan akan cari dan tangkap mereka itu. Kita pun
mohon, sesudahnya looya bikin peperiksaan, tolong looya
melaporkan terlebih jauh pada kantor teetok agar Giok
teetok juga turut mencari penjahat-penjahat itu, yang ada
bersembunyi di rumah orang besar, mungkin gedung itu
berada di dekat Konglauw."
Wajahnya si pembesar menjadi pucat. Perkara itu
menurut bunyinya laporan, ada hebat.
"Lekas ambil lentera," ia kata pada orangnya. "Mari kita
periksa mayat."
Coa Kiu terluka di dada, darah keluar banyak. Piauw
masih menancap.
Siang Moay kembali mendekam dan menangis di atas
mayat ayahnya.
Itu waktu ada datang belasan orang ronda, koanjin yang
menjadi kepala kenalkan Lauw Tay Po.
"Lauw jieya, kenapa kau ada di sini?" ia tanya.
"Ya," sahut Tay Po, yang kembali ulangi keterangannya.
Setelah peperiksaan sementara itu, mayatnya Coa Kiu
lantas dibawa ke dalam, Tay Po sendiri bersama Siang
Moay diminta cari pondokan yang berdekatan untuk
mereka lewatkan malam, karena katanya, peperiksaan akan
dilanjutkan besok.
Tay Po ajak Siang Moay pergi ke rumah penginapan di
depan kantor itu, di situ mereka ambil masing-masing satu
kamar.
Bahna dukanya, Seantero malam Siang Moay menangis
saja sedang Tay Po pun tak dapat tidur, sebab ia pun ada
berduka dan kusut pikirannya. Sekarang toh ia ketahui
tentang pedang mustika itu.
"Apa yang sukar sekarang," demikian kauwsu ini
berpikir, "Pekgan Holie ternyata liehay dan muridnya ada
terlebih liehay lagi. Siapa tahu jikalau mereka diam-diam
datang satroni kita? Maka kila mesti bersiap ... "
Demikian, malam itu ia jadi tak dapat tidur. Adalah
setelah fajar mendatangi, ia bisa pulas juga, melainkan
sekejaban, sebab segera ia mesti keluar lagi ke kantor, akan
saksikan jalannya peperiksaan mayat, akan kasih laporan
lebih jauh pada pembesar di Wanpeng dan ke kantor teetok.
Di lain pihak, kantor pembesar di Kwansiang jadi ramai,
karena waktu orang banyak dengar hal kejadian semalam,
mereka berduyun-duyun pergi menyaksikan mayat.
Baru sekarang orang dapat tahu bahwa si penjual silat
yang apes itu sebenarnya ada orang polisi rahasia dari
Kamsiok yang sedang menjalankan tugas dan jadi korban
dari tugasnya itu. Tentang si penjahat, orang banyak lantas
menduga-duga di gedung siapa sembunyinya mereka itu.
Malah beberapa orang yang kenal Lauw Tay Po telah cari
kauwsu ini buat minta keterangan lebih jauh.
Itu hari Tay Po ada sangat repot, terutama di waktu ia
bantu Siang Moay urus mayatnya Coa Kiu setelah
selesainya peperiksaan. Penguburan dilakukan itu hari juga,
tapi itu sebenarnya bukan penguburan, hanya peti jenazah
dititipkan di Kamsiok Gietee, tempat penitipan mayat
untuk orang asal Kamsiok.
Oleh karena Siang Moay berada sendirian, Tay Po
anggap tidak cocok buat si nona tetap mondok di rumah
pondokan yang butut, dari itu ia lantas cari tempat baru, di
jalan Bwee-sie-kay di luar Cianmui, ia sendiri lantas pergi
ke Coanhin Piauwtiam.
Malamnya kira-kira jam satu, Tay Po kata pada Yo Kian
Tong: "Sekarang sudah tidak siang lagi, hatiku tidak
tenteram. Siang Moay tinggal bersendiri di rumah
penginapan, aku anggap ia berada di tempat yang tidak
aman ... "
"Kau berpikir terlalu dalam," Yo Kian Tong menghibur.
"Toh rumah penginapan itu letaknya di depan piauwtiam
kita dan itu ada rumah penginapan yang besar! Siapa berani
satroni ia dan membunuhnya?”
Lauw Tay Po menggelengkan kepala.
"Siapa berani pastikan?" ia bilang. "Makin rumah
penginapan besar, tetamunya makin banyak dan terdiri dari
segala golongan. Aku merasa bahwa muridnya Pekgan
Holie tak mau begitu saja bikin habis perkara ini. Kota telah
menjadi gempar, mereka tentu merasa gelisah di tempatnya
mengumpat itu. Mustahil mereka tak kuatirkan yang
rahasia mereka nanti terbongkar? Oleh karena ini, aku
menduga kalau mereka tidak lantas angkat kaki, mereka
tentu akan cari Siang Moay, untuk dibikin habis jiwanya!
Malah jiwaku sendiri ada turut terancam bahaya! Piauwhia,
sebagai kandaku, kau sendiri pun mesti waspada!, ... "
“Aku tidak takuti segala Pekgan Holie!" kata Yo Kian
Tong yang nyalinya besar, "Tetapi yang di dalam kota raja
ada penjahat ulung sebagai ia itu, inilah menyebalkan! Aku
pikir akan besok ketemui Tek ngoya, supaya ia pergi
menghadap Tiat pweelek, Khu Kong Ciauw dan Giok
tayjin akan sampaikan pengharapan kita untuk membantu
pada pembesar negeri buat cari dan bekuk penjahat itu. Kau
bilang penjahat itu berdiam di satu gedung besar, bukti apa
kau punya?”
"Ada," jawab Tay Po, "hanya sekarang aku belum berani
jelaskan itu, sebab kedua penjahat itu katanya ada dari fihak
Bu-tong-pay dan segolong dengan Kang Lam Hoo dan Lie
Bouw Pek, malah katanya mereka pun ada kenal satu pada
lain ... "
"Aku tidak mengerti," kata Yo Kian Tong. "Turut apa
yang aku ketahui, Kang Lam Hoo tidak punya murid dan
Lie Bouw Pek tidak punya suheng atau sutee. Aku percaya
penjahat-penjahat itu telah bersenderkan namanya Kang
Lam Hoo dan Lie Bouw Pek untuk gertak atau pengaruhi
orang."
"Benar atau tidak itulah bukannya soal," Tay Po
terangkan, "tetapi tadi malam aku telah tempur mereka dan
aku dapat kenyataan bugee mereka benar berasal Bu-tong
Pay. Ilmu silat pedang dari Bu-tong-pay aku tidak takuti,
tetapi yang aku buat jeri adalah ... " ia menunjuk ke luar
jendela dan meneruskan: "Kita sekarang bicara dengan
leluasa di dalam kamar, di luar siapa tahu jikalau mereka
sedang mencuri dengar, dan jika aku sebut dengan jelas
tentang mereka, bisa-bisa dari luar akan menyambar pedang
yang akan meminta jiwaku! ... "
Wajahnya YoKian Tong berubah dengan segera, sambil
tangannya menyambar ke belakang, pada tombaknya, ia
berbangkit dan mengawasi ke luar jendela.
"Tay Po, bicaralah!" ia kata kemudian, dengan sengit,
sebagai juga di luar benar ada orang yang asyik intai
mereka. "Beritahukanlah di mana tempat mengumpatnya
kawanan penjahat itu, besok aku telah bisa berdaya ... "
Tetapi Lauw Tay Po tertawa.
"Piauwhia, baik kau jangan usilan," ia kata. "Seorang
yang membuka dua piauwtiam dengan berbareng, ia tak
mampu membagi dirinya dengan sempurna, beda dengan
aku yang sebatang kara dan luntang-lantung saja, tak ada
yang aku pikirkan. Sekarang ini aku merasa berlega hati,
sebab meski benar Coa Tek Kong telah mesti korbankan
diri, aku toh sudah ketahui di mana adanya itu pedang
mustika, yang mana menyatakan bahwa aku bukanlah si
pencuri. Benar si penjahat belum dapat ditangkap, tetapi
dalam penyelidikanku, aku sudah peroleh hasil. Maka kini
tinggal usahaku selanjutnya akan tempur penjahat-penjahat
itu. Aku belum puas sebelum mereka dapat dibekuk dan
dibelenggu untuk dipasrahkan kepada pembesar negeri!"
Di waktu bicara, kauwsu ini nampaknya keren sekali.
Sehabis itu Tay Po lantas minta kandanya pergi tidur, ia
sendiri pun beristirahat, setelah sampai jam tiga, dengan
bawa sebatang golok ia pergi keluar untuk meronda.
Di waktu demikian, malam ada sunyi dan senyap.
Semua pemilik toko atau rumah penginapan sudah tidur
dengan nyenyak. Tay Po pergi ke hotel di mana Siang
Moay menumpang, ia menghampirkan jendela kamarnya si
nona. Ia dengar si nona masih menangis mengalun
perlahan-lahan.
"Kasihan ... " pikir ia yang lantas saja lompat naik ke atas
genteng, akan mendekam di situ. Ia mandah kasih dirinya
ditimpa embun dan diserang angin, ia berdiam di tempat
gelap sampai kira-kira dua jam lamanya. Karena cuaca fajar
mulai perlihatkan diri, ia lalu loncat turun dari atas genteng,
kembali ke piauwtiam, masuk ke kamarnya dan tidur. Ia
tidur tak lama atau sang pagi telah datang, maka ia lalu
bangun dan bersihkan tubuh, akan kemudian lekas pergi ke
seberang.
Tatkala itu Siang Moay sudah bangun dari tidurnya, ia
sedang bukai sepasang gelungnya, buat diubah menjadi
sebuah kuncir yang panjang, yang ia libatkan benang putih.
Bajunya yang merah ia telah tukar dengan baju biru,
begitupun celananya. Sepatunya ia tandai kain putih.
Karena ia tak pakai pupur, kulit mukanya tertampak lebih
hitam, tetapi manisnya tak hilang ...
Kapan nona ini lihat Tay Po masuk ke dalam kamarnya,
ia lekas turun dari pembaringan.
"Tadi malam ada datang orang kemari, masuk ke dalam
... " si nona beri tahukan.
Tay Po bersenyum
"Aku tahu, itulah aku. Aku datang untuk melindungi kau
karena aku kuatirkan akan dirimu ... "
Si nona nampaknya berduka atau tak mengerti.
"Kau tinggalkan uang di sisi bantalku, apa artinya itu?"
ini nona tanya. Di waktu mengucap demikian, tampak
mukanya berubah menjadi merah.
Tapi Tay Po terperanjat sampai ia keluarkan jeritan
tertahan.
"Apa kau bilang? Uang?" ia tanya dengan cepat.
Dari peti kayunya, Siang Moay tarik keluar sebungkus
uang.
"Ini uangnya! Tadi malam sebelumnya tidur, aku telah
tutup pintu kamar dan kunci sendiri, akan tetapi barusan
ketika aku mendusin, aku dapatkan ini bungkusan uang di
sisi bantal kepalaku. Pintu kamarku juga telah terbuka ... "
Bahna heran, wajahnya si kauwsu menjadi pucat.
"Inilah heran," ia berpikir, "Tadi malam toh aku
mendekam di atas genteng dua jam lamanya dan pasang
mata, kenapa aku tidak tahu dan tak melihat ada orang
datang dan pergi? Apakah di dalam ini rumah penginapan
ada iblisnya?"
Tapi ia tak mau hilang muka, lantas ia tertawa,
"Kau tentu kaget, bukan?" ia bilang. "Aku main-main
saja, uangku tak ada tempat untuk disimpan, aku sengaja
bawa kemari buat kau tolong simpani ... Tetapi di sini juga
bukan ada tempat yang aman, aku pikir kau harus pindah ...
"
Nona Coa awasi itu kauwsu. Ia tak pakai yancie tetapi
pada pipinya tampak sedikit semu merah.
"Lain kali aku harap kau tidak berbuat pula sebagai ini,"
ia bilang, sikapnya malu-malu. jikalau kau pikir hendak
pengaruhi aku dengan uang, aku akan gusar! Aku sekarang
sudah yatim piatu, kau telah bantu banyak padaku, apalagi
yang aku bisa bilang? Aku tidak bisa berbuat lain daripada
ikut kau. Hanya sekarang aku baru saja kematian ayahku,
maka taruh kata aku mesti menikah dalam perkabungan, itu
baru bisa terjadi selang lagi satu bulan... Biarlah uang ini
dititipkan padaku, kemudian kau boleh pakai untuk undang
tetamu-tetamumu!"
Lauw Tay Po girang tak kepalang, ia berseri-seri. Tapi
kapan ia ingat itu uang, hatinya berdebaran.
"Orang yang tengah malam buta rata menghantarkan
uang itu niscaya uangnya bukan untuk kita berpesta pora ...
" ia berpikir. "Boleh jadi sekali ini ada perbuatannya murid
dari Pekgan Holie ... Tadi malam ia cegah gurunya
bertindak lebih jauh, ia agaknya masih bisa menimbang
atau mempunyai perasaan kasihan ... Mungkin sekali
binasanya Coa Tek Kong bukanlah maksudnya. Tadi
malam kita tidak bongkar rahasianya, rupanya ia bersyukur,
maka ia lantas datang menghantarkan uang untuk Siang
Moay rawat mayat ayahnya."
Oleh karena sudah terlanjur, Tay Po tidak bisa buka
rahasia terhadap nona Coa. Begitulah, sesudah ajak bicara
dan hiburkan si nona, ia pulang kembali ke piauwtiam dari
saudara misannya. Ia ketemui Yo Kian Tong, ia tidak sebut
hal ada orang mengantar uang pada Coa Siang Moay,
hanya ia beritahukan yang si nona suka menikah padanya.
"Kau telah kenal begitu baik anak dara orang, kau
memang pantas menikah dengannya," kata sang engko
piauw. "Apa yang aku harap adalah kau selanjutnya bisa
bekerja dengan jujur. Aku sendiri, tidak lama lagi tentu
akan berhasil membekuk dua penjahat itu, kemudian teetok
tentu akan kasih pekerjaan padaku, sedikitnya untuk kepala
beberapa opas ... "
Tay Po bersenyum.
"Aku harap!" ia kata.
Kapan beberapa piauwsu ketahui Tay Po bakal beristeri,
mereka lantas memberi selamat.
"Kau mesti undang kita minum arak kegirangan!" kata
mereka. "Kau mesti antar kita akan ketemui nona
pengantinmu!"
"Toh aku masih belum menikah!" kata Tay Po, yang
tidak menjadi likat. "Sekarang ini tentu enso-mu merasa
malu akan ketemui kau beramai, maka bersabarlah sampai
sudah tiba waktunya! Untuk minum arak, sekarang juga
aku bisa undang kau!"
"Bagus, bagus!" berseru beberapa kawan itu. "Nah, mari
kita pergi!"
Tay Po ambil uang, ia benar-benar ajak beberapa kawan
itu pergi tenggak susu macan di sebuah rumah makan.
Setelah berpisahan dari kawan-kawannya, di tengah jalan ia
memikirkan daya untuk dapat menangkap kedua penjahat
yang liehay itu.
"Bagaimana aku mesti bertindak sebentar malam? Apa
aku boleh lantas satroni gedung teetok? Bagaimana aku bisa
masuk ke dalam gedungnya pembesar itu?"
Demikian ia berpikir, dengan tidak ada hasil
keputusannya.
"Eh, ke mana kau hendak pergi?" tiba-tiba ia dengar
orang menegur selagi ia jalan sambil tunduki kepada.
Ia terperanjat dan segera memandang ke jurusan dari
mana teguran itu datang. Maka ia lantas dapat lihat seorang
umur kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya tinggi dan
besar, mukanya merah tercampur hitam, bajunya dilapis
makwa, dengan memakai kopiah batok. Dandanan itu
mirip dengan dandanan lhama dari Tibet ...
Tapi Lauw Tay Po kenalkan orang itu, maka ia lekas-
lekas menghampiri.
"Sun toako, sudah lama kita tak bertemu!" ia kata sambil
memberi hormat.
Orang itu ada piauwsu yang ternama di kota Pakkhia,
karena ia ada suheng dari Jie Siu Lian atau Ngojiauw-eng
Sun Ceng Lee, si Garuda Berkuku Lima. Ia memang kenal
itu kauwsu dari Pweelek-hu.
"Lauw Tay Po," berkata piauwsu itu, "aku dengar
kemarin malam kau telah berbuat suatu apa?"
"Kau ada sedikit keliru, Sun toako!" Tay Po jawab sambil
tertawa. "Aku hanya urus suatu perkara yang hingga
sekarang ini masih belum peroleh hasil apa juga ... "
"Kalau begitu, pergi lekas kau cari keterangan," kata
Ngojiauw-eng, suaranya berubah jadi sungguh-sungguh dan
keras. "Asal kau dapat tahu di mana adanya Pekgan Holie,
tak peduli ia sembunyi di gedung mana, lantas kau
beritahukan aku, aku nanti pergi bekuk padanya! Jika di
kota raja ini masih ada Ngojiauweng, ia tak dapat
mengijinkan kawanan penjahat itu malang melintang!"
Bukan main girangnya Lauw Tay Po akan dengar
ucapan itu. Ini adalah hal yang ia tak pernah sangka. Maka
itu, kembali ia tertawa.
"Itu benar!" ia bilang, "Toako memang ada garuda sakti,
yang istimewa pandai menyengkeram siluman rase!"
Ceng Lee pun tertawa.
"Tahukah kau bahwa sumoay-ku bakal lekas datang?"
kemudian Ngojiauw-eng tanya pula.
Tay Po terperanjat, tetapi segera ia jadi kegirangan.
"Apakah itu benar toako? Dan bagaimana dengan Lie
Bouw Pek, apakah ia juga akan turut datang bersama?"
"Mereka tak tinggal satu rumah, cara bagaimana Lie
Bouw Pek bisa datang sama-sama?" kata si Garuda Berkuku
Lima. "Kemarin dahulu dari Kielok ada datang seorang
sekampung dengan aku, dialah yang bilang bahwa sumoay
sudah kembali dari Kanglam dan tak lama lagi akan datang
kemari. Sudah tentu kita tidak usah tunggu sampai sumoay
datang, malah lebih baik lagi bila kita bisa mendahului ia
membekuk siluman rase itu ..."
"Benar juga! Mustahil orang-orang lelaki sebagai kita, tak
mampu membekuk rase? Mustahil untuk itu kita mesti
tunggui datangnya orang perempuan? Apakah dengan
begitu kita bisa sebut diri kita enghiong?"
Sun Ceng Lee gembira sekali akan dengar kata-katanya
kawan itu.
"Nah, pergilah kau cari keterangan!"
"Baik, toako!" sahut Lauw Tay Po.
Berdua mereka berpisahan. Dengan tindakan lebar Sun
Ceng Lee berlalu dengan lekas ke jurusan selatan.
Lauw Tay Po jalan beberapa tindak ke arah utara lantas
ia mengkol ke Bwee-sie-kay. Ia mampir di Coanhin
Piauwtiam akan pinjam dua batang golok, dari situ dengan
lekas ia menuju ke hotel buat tengok Coa Siang Moay.
Nona Coa sedang duduk sendirian, dengan kepala
tunduk dan air muka guram. Pada pipinya masih ada tanda-
tanda air mata. Di atas mejanya, nasi dan sayurannya
masih belum terganggu.
"Sampai sekarang kau masih berduka saja, itulah sudah
tak perlu," Itto Lianhoa lantas menghibur. "Apa gunanya
akan bersedih terus? Kita justru mesti makan nasi biar
banyak, agar semangat kita terbangun supaya kita bisa
bekuk si penjahat guna membalas sakit hati! Kau tahu, aku
telah dapat kabar girang!"
Coa Siang Moay menoleh dengan lesu.
''Baru saja aku ketemu satu sahabat di tengah jalan," Tay
Po memberi tahu lebih jauh. "Ia adalah Ngojiauw-eng Sun
Ceng Lee, suheng dari nona Jie Siu Lian. Ia beritahukan
aku bahwa sumoay-nya akan datang ke kota raja ini. Yang
menggirangkan adalah Sun Ceng Lee telah janjikan
bantuannya kepadaku. Sun Ceng Lee ada bangsa sembrono,
aku sebenarnya masih sangsi akan terima bantuannya itu,
tetapi bantuannya Jie Siu Lian benar-benar sangat berharga
bagi kita! Selama tiga tahun, nona itu sudah malang
melintang di seluruh Kanglam, kabarnya bugee-nya telah
tambah maju bukan sedikit, apabila ia datang, sepuluh
Pekgan Holie masih bukan tandingannya! Sekarang ini
yang paling penting bagi tindakan kita adalah kita mesti
bikin rase itu tetap berada di tempatnya, jangan kita keprak-
keprak rumput hingga ular kaget dan kabur, sambil berbuat
begitu, kita tunggui datangnya pembantu ... "
Nampaknya Siang Moay tak terlalu ketarik hati.
"Kenapa kau masih mengharapi bantuan orang?" ia
tanya.
"Aku bukannya terlalu mengharap bantuan orang. Sejak
kemarin bertempur di Touwshia, aku baru dapat tahu
Pekgan Holie itu benar-benar liehay ... Bertiga kita tidak
mampu lantas bekuk padanya, apapula sekarang, kita hanya
berdua. Apakah yang kita bisa berbuat? Di sebelah itu, kita
jangan lupakan muridnya! Aku lihat justru si murid ada
jauh terlebih gagah daripadanya, lebih-lebih pedangnya!
Meskipun kita liehay, kita toh mesti pikirkan senjatanya ini
... Satu hal aku hendak beritahukan, tetapi kau jangan kaget
dan takut. Mulai kemarin terus sampai hari ini, saban-saban
aku lihat ada orang yang sikapnya mencurigai, yang seperti
ada bayangi aku ... "
Mendengar itu, wajahnya Siang Moay menjadi pucat.
"Sudah aku bilang, jangan kau kaget," Tay Po
tambahkan. "Selama kita ada di sini, Pekgan Holie tak akan
merasa tetap hatinya. Sebab kita adalah orang satu-satunya,
yang ketahui rahasianya! Mungkin ia berdaya akan
singkirkan kita. Maka aku anggap, tempat ini tidak aman
untuk kau tinggal sendirian, kau harus cari lain pondokan.
Selama ini dua hari, sikap kita adalah menjaga saja dahulu,
jangan menyerang. Bukankah pepatah ada bilang, sebelum
pergi perang, kita mesti pelajari pembelaan dahulu? Kita
tunggu sampai lewat beberapa hari lagi, selama itu mungkin
pihak kantor pun sudah mulai peroleh rahasia mereka? Dan
mungkin itu waktu pembantu kita pun telah sampai! Waktu
itu barulah kita gerebek Pekgan Holie, supaya ia tak dapat
kesempatan kendatipun buat kabur saja! ... "
Tay Po bicara secara menarik, hingga Siang Moay
menyetujuinya, berdua mereka sudah lantas pindah secara
diam-diam.
Pondokan yang baru ini ada sebuah kamar dari satu
rumah penginapan di Siangtauwtiauw Hotong. Kamar itu
ada punya dua lapis pintu yang kuat, perabotannya ada
sebuah kursi serta dua buah bangku.
Tidak lama tuan rumah datang masuk ke dalam kamar.
"Tuan datang dari mana?" ia tanya, seraya memberi
hormat.
"Kita datang dari Hangciu," jawab Tay Po, yang
gunakan lidah Kanglam.
Kapan sebentar kemudian tuan rumah berlalu, Tay Po
kata pada si nona.
"Bagus kau tidak campur bicara. Kita akan berdiam di
sini untuk beberapa hari saja, jangankan manusia, setan pun
tak akan dapat tahu ... Selama ini, aku mau lihat,
bagaimana sepak terjangnya si rase ... "
Siang Moay tidak puas dengan sikapnya Tay Po itu.
"Kenapa kau ketakutan sampai begini rupa?" ia tanya.
"Kalau kau sendiri turut mengumpat di sini, keterangan apa
yang kau akan dapat? Jangan kau anggap aku tak punya
guna! Walau ayah telah menutup mata, aku sendiri tentu
akan bisa bekuk penjahat itu!"
Tay Po ulap-ulapkan tangannya.
"Mengertikah kau pepatah yang membilang: kalau kita
kenal musuh, seratus kali berperang kita akan seratus kali
menang?" ia kata. "Apabila kau dengan sendirian pergi
menangkap penjahat tak akan tertangkap bahkan kau
sendiri mungkin dapat bahaya! Dengan sebenar-benarnya
aku tak takut terhadap Pekgan Holie tetapi aku ngeri
terhadap muridnya dan pedangnya yang tajam luar biasa!
Lihat saja, ia bisa lari di depan kita dengan kita tak mampu
melihat padanya ... "
Siang Moay angkat kepalannya menghajar meja, di atas
mana justru ada terletak gembrengnya, hingga suaranya jadi
nyaring berisik, ia nampaknya gusar sekali.
"Aku lihat!" ia kata. "Aku lihat kau telah terlalu kena
dipengaruhi oleh bangsat itu! Baiklah, kalau begitu, kau
jangan campur urusanku ini!"
Kembali Tay Po ulap-ulapkan tangannya. Ia tak
mendongkol yang orang perlakukan ia demikian rupa.
"Kau dengarlah dahulu perkataanku," ia membujuk pula.
"Dalam beberapa hari ini, di waktu siang aku yang pergi
akan menyerepi kabar, kau sendiri boleh berdiam di dalam
kamar, jangan keluar-keluar ... Kau ada seorang perempuan
dan sendirian saja, pun pernah menjual silat, maka hampir
sesuatu orang ada kenal kau ... "
Nona Coa kerutkan alisnya, ia diam saja. Ia rupanya
anggap yang orang she Lauw itu ada benarnya.
Tay Po bisa bade hati orang, maka ia terus membujuk
dan menghibur. Antero hari ia turut mendekam di dalam
kamar, kecuali di waktu perlu bersantap atau ke belakang.
"Kau telah ajak aku sembunyikan diri di sini," kata Siang
Moay sesudah malam. "Dengan begini kau pun sia-sia
tempomu. Mustahil kau tidak akan pulang ke istana buat
berikan pelajaran pada murid-muridmu?"
Tay Po bersenyum.
"Kerjaan di istana tidak ada!" ia menyahut. "Aku bekerja
sebagai guru silat melainkan nama saja, sebenarnya
pweelek-ya berlaku baik padaku dengan berikan aku gaji
dan makan, sedangkan gaweku tak ada ... Sejak aku
bekerja, belum pernah sekali juga aku memberikan
pelajaran silat ... Kalau toh aku berlatih sendirian, tak ada
seorang lain yang perhatikan aku ... "
Siang Moay diam.
Sehabisnya dahar, api lantas dinyalakan, karena cuaca
mulai gelap.
Tidak lama kemudian, Lauw Tay Po jumput sepasang
goloknya, tapi, dengan pintu hanya dirapatkan, ia duduk
depan berdepan dengan si nona she Coa. Mereka lantas
bicara tentang lain-lain urusan, terutama hal peristiwa-
peristiwa di kalangan kangouw, hanya perlahan-lahan,
mereka sampai pada halnya diri mereka sendiri. Sekarang
mereka bicara dengan perlahan sekali. Beberapa kali si nona
susut air matanya, karena kedukaannya tetapi pun beberapa
kali ia bersenyum.
Selama bicara, perhatiannya Tay Po juga tertarik oleh
pintu, asal ia dengar suara orang minta kamar, ia lantas
berbangkit dan keluar akan berdiri di belakang api untuk
perhatian orang yang minta kamar itu. Sikapnya hati-hati
ini, mau atau tidak, ada menggoncangkan sedikit
keberaniannya Siang Moay.
Begitu sudah lewat jam dua, Tay Po kata pada
kawannya: "Kita mesti siap. Kau berdiam tetap di dalam,
aku nanti pasang mata di luar. Asal tidak ada terjadi apa-
apa yang mencurigai, sudah terang musuh tak perhatikan
kita lebih jauh, tetapi apabila sebaliknya, terpaksa kita mesti
pindah pula. Kau ngantuk atau tidak?"
Nona Coa geleng kepala.
"Tidak," ia menjawab. "Aku anggap ada terlebih baik
buat kau yang berdiam di dalam dan aku di luar. Aku lihat
bahwa buat ilmu kepandaian jalan malam, aku ada terlebih
tinggi dari padamu.
Tay Po pikirkan itu usul.
"Baiklah!" ia jawab kemudian. "Tapi kau ada bawa
piauw, kau mesti hati-hati di waktu menggunai itu!"
"Kau jangan kuatir," si nona menyahut.
Tay Po tertawa. Kemudian dengan pisau belati ia
congkel jendela, untuk dipentang, setelah itu, ia tutup pula.
Ia pun kunci pintu, yang ia palang dan ganjal dengan kursi
dan bangku.
“Apakah maksudnya Tay Po?" tanya Siang Moay, yang
tertawa, tangannya sambil menepuk pundak. "Kau kunci
pintu kuat-kuat tetapi jendela dibikin gampang terbuka?
Apakah kau sangka penjahat melainkan bisa masuk dari
pintu dan tidak dari jendela?"
"Jendela kamar-kamar di sini jarang dibuka," Tay Po
menyahut dengan perlahan. "Umpama kata ada penjahat
datang, paling dahulu ia tentu bongkar pintu yang akan
bersuara, meski bagaimana perlahan pun dibukanya. Maka
itu waktu, selagi ia bongkar pintu, aku membarengkan buka
jendela dan loncat keluar akan hajar padanya!"
Siang Moay bersenyum buat itu pikiran panjang.
"Tidak usah kau gunakan golokmu, dengan piauw aku
yang akan beri hajaran!" ia memberi tahu.
Nona Coa juga bicara dengan perlahan.
Tadinya dari dalam lain-lain kamar di rumah penginapan
itu masih terdengar orang bicara, pun ada yang nyanyi,
tetapi dengan lewatnya sang waktu, sekarang segala apa ada
sunyi. Apa yang terdengar tegas adalah suara angin di luar.
Jauh suaranya, ada terdengar tiga kali penandaan dari si
tukang ronda.
Tay Po dan Siang Moay siap dengan senjata mereka
masing-masing, Itto Lianhoa telah padamkan api, hingga
kamar menjadi gelap. Mereka berdiam bagaikan menahan
napas.
"Agaknya kau bercuriga tak keruan ... " akhir-akhirnya si
nona berbisik. "Mustahil akan ada penjahat datang kemari?"
"Bila penjahat tidak datang, itulah lebih bagus lagi," Tay
Po menyahut, dengan perlahan. "Tetapi, andaikata ia
datang ... "
Itto Lianhoa berhenti dengan tiba-tiba karena di atas
genteng terdengar suara genteng berbunyi. Sambil tolak
tubuhnya Siang Moay, ia menghampirkan jendela. Di situ
ia mendekam di atas pembaringan tanah.
Siang Moay pun menulad di sisinya kauwsu itu dengan
sebelah tangan menyekal golok, sebelah yang lain meraba
piauw.
Di atas, suara jadi terlebih nyata atau berisik.
Nona Coa hendak pentang jendela, tetapi Tay Po
mencegah dan berbisik katanya: "Jangan kesusu! Aku
sangsikan ada kerjaannya penjahat. Kalau benar, ia ada
penjahat tolol!..."
Hampir berbareng dengan itu, terdengar suara "Ngeong!
ngeong!"
"Kucing! Kucing yang menyebalkan! ... " Siang Moay
menggerutu.
Tay Po diam saja, tetapi ia terus pasang kuping, sampai
suara berisik sirap, sebab dua kucing, yang berkelahi atau
bercanda itu sudah lari entah ke mana.
Kembali suara angin adalah yang terdengar, yang
mendampar-dampar kertas jendela.
'"Kasihlah aku keluar," kata Siang Moay kemudian.
Baru saja nona ini hendak pentang jendela atau di kamar
tetangga ia dengar jeritan hebat, hingga ia, begitupun Lauw
Tay Po, menjadi kaget sekali.
Kemudian terdengar suara lain: "Jieko, jieko bangun!
Kau kenapa, eh?"
Jeritan itu tidak terdengar lagi, hanya apa yang
kedengaran: "Aku mimpi telah kecemplung dalam sumur!
... "
Kemudian lantas terdengar suara tertawa dari mereka
itu.
"Menyebalkan! ... " nona Coa menggerutu. Sebab ini, ia
gagal untuk keluar. Ia menyender di tembok dan menguap.
Tay Po terus mendekam sambil pegangi goloknya,
sampai ia dengar suara menggeros dalam di kamar
tetangga.
"Jangan tidur," kata Tay Po yang masih terus mendekam
dengan golok di tangan, ia tolak-tolak tubuhnya si nona.
"Aku mau keluar ... "
Ia buka jendela dengan perlahan-lahan sambil putar
goloknya ia loncat keluar akan terus loncat naik ke atas
genteng. Ia telak disampok angin yang keras yang ia tak
pedulikan. Dari atas genteng, ia memandang ke sekitarnya.
Di empat penjuru semua ada gelap. Bintang-bintang jarang,
pun rembulan ada guram. Di bawah, sedikit pun tak ada
cahaya terang, api di semua kamar telah padam. Ia mesti
berdiri sekian lama, sampai hatinya menjadi tawar.
"Aku terlalu bercuriga sendirian ... " pikir ia akhirnya.
"Ini hari kita pindah dengan diam-diam, siapakah yang
dapat ketahui?"
Selagi ia berpikir begitu, tiba-tiba ia lihat satu bayangan
loncat naik, maka ia lantas mundur setindak, goloknya
dipakai membabat.
"Aku!" demikian satu suara yang halus.
"Kau!" kata Itto Lianhoa. "Kau baik tetap berdiam di
dalam, aku akan menunggu di luar ... Sebentar kita nanti
tukar giliran. "
"Sudah cukup!" kata Siang Moay, yang ada sedikit
mendongkol. "Buat apa kau berdiam di sini menjadi
korbannya angin? Sudah tengah malam kau masih belum
mau tidur, kau repoti diri tak keruan. Dari mana datangnya
orang jahat? Lihat, sekalipun bayangannya, tak ada!"
“Kau jangan sibuki aku," ia kata, dengan bandel.
"Pergilah masuk ke dalam kamar, aku akan berdiam terus di
sini, sebentar saja ... "
Justru itu, di luar sangkaan nona Coa tolak tubuhnya
Tay Po, karena mana dengan bersuara, Tay Po lantas
roboh, sedang nona itu terus susul ia, akan terus ajak ia
masuk ke dalam kamarnya.
Itu waktu di kamar sebelah ada suara berdehem atau
batuk-batuk.
Si nona tertawa, hingga ia mesti cegah itu dengan tutupi
mulutnya, sedang Tay Po mengurut-urut kakinya berbareng
dengan mana ia berseru menyatakan kagetnya: "Ada
maling!"
Ia segera kasih nyala lampu.
Siang Moay tak bisa cegah lagi suara tertawanya.
Selagi nona ini tertawa, adalah Tay Po yang menjerit
bahna terperanjat. Sebab berbareng sama nyalanya lampu,
di atas meja ia lihat sehelai surat.
Dengan tangan rada gemetaran, Tay Po jumput surat itu.
Siang Moay pun dari belakang bahunya Itto Lianhoa
turut melihat dan baca surat itu.
Dengan huruf-huruf yang rapi, Tay Po membaca:
"Kemarin aku ada kirim sejumlah uang, tentunya itu
sudah dapat kau terimanya. Itu adalah uang untuk kau
berdua pakai dalam perjalananmu. Aku minta kau berdua
lekas tinggalkan kota raja, supaya dengan begitu kau bisa
terluput dari ancaman maut!"
Tay Po berdiri tertegun, tetapi Siang Moay segera bawa
goloknya dan lompat keluar jendela.
Tay Po tak tetap hatinya, malah ia sibuk. Begitu, dengan
bawa goloknya, ia pun terus lompat keluar, akan susul si
hitam manis itu. Ketika ia sampai di atas genteng ia tak
lihat Siang Moay, di seputarnya.
"Siang Moay,” ia memanggil. "Siang Moay, hayo
pulang!"
Panggilan itu tidak mendapat jawaban, maka Itto
Lianhoa jadi sibuk. Ia pun sibuk karena ia tak berani
tinggalkan kamarnya. Maka akhirnya, dengan terpaksa, ia
lompat turun, dengan hati-hati ia hampirkan jendela.
Dengan golok, ia congkel jendela, yang tertutup, apabila ia
sudah dapat kenyataan kamar itu kosong, ia baru lompat
masuk ke dalam. Di dalam kamarnya, setelah mencari-cari,
ia tidak dapatkan benda apa juga, yang mencurigai ia.
Tidak terlalu lama, ada suara di daun jendela. Cepat Tay
Po putar tubuhnya seraya ia siapkan goloknya. Tapi yang
masuk adalah Siang Moay.
"Ke mana kau pergi?" ia tanya dengan perlahan.
"Aku memburu sampai di jalan besar!" sahut nona itu,
dengan muka merah.
"Apakah yang kau lihat?" tanya pemuda itu, yang
terperanjat.
"Aku lihat dua pengemis mendekam di depan sebuah
toko," sahut si nona.
"Apakah kau tidak tanya mereka itu?"
"Dengan ancaman golok, aku tegur mereka. Mereka
bungkam."
Hatinya Tay Po menjadi lega.
"Cukup," ia kata. "Sekarang apa juga kita boleh tunda
sampai besok. Kita anggap saja bahwa penjahat itu ada
liehay, ... "
Coa Siang Moay tidak kata apa-apa, ia jumput kertas
tadi, akan dibaca pula, sesudah itu, ia angkat kepalanya,
akan awasi kawannya.
"Uang yang kemarin, yang kedapatan dibantalku, jadi
ada antarannya itu orang?" ia tanya.
Mukanya Tay Po menjadi merah, tetapi ia menjawab
dengan cepat.
"Benar!" demikian jawabannya. "Begitu aku dengar kau
bilang hal uang, aku sudah lantas menduga pada itu orang,
tetapi aku tak ingin bikin kau kaget, maka aku bilang saja
aku main-main dengan kau ... Coba pikir, jikalau tidak ada
hal yang itu, apa perlunya aku bikin penjagaan secara begini
hati-hati? Sekarang kau tentu telah mengerti, bukan?
Menurut aku, maksudnya itu orang ada baik. Ia telah
berikan kita uang, ia nasehati kita untuk kita berlalu dari
kota raja ini. Sudah terang ia ingin agar rahasianya tidak
pecah. Cuma ... "
"Biar bagaimana, aku tak mengerti!" kata si nona dengan
suara tetap. "Aku tak mau berhenti kecuali aku telah
balaskan sakit hatinya ayahku!"
"Perlahan sedikit!" Tay Po mengingati, seraya goyangi
tangan. Kemudian ia berbisik di kupingnya si nona: "Kau
jangan terburu napsu. Besok aku tentu akan peroleh daya ...
Tak peduli bagaimana mereka licik aku pasti berhasil akan
... "
Dengan tak lanjuti ucapannya, Tay Po jatuhkan diri di
atas kursi. Api pun ia padamkan.
Siang Moay turut berduduk diam.
Maka itu, sampai besoknya pagi, mereka tidak tidur
pula. Selanjutnya malam itu tidak terjadi suatu apa lagi.
Tapi Siang Moay telah sangat berduka dan ia mesti
begadang, ia merasa lelah, maka ia terus rebahkan diri
dengan kerobongi diri.
Tay Po coba empos semangatnya, setelah cuci muka dan
rapikan pakaian, ia bertindak keluar. Begitu ia sampai di
depan pintu, ia lihat satu bocah pengemis dengan rambut
yang panjang, yang tubuhnya ketutupan kain kasar,
tangannya memegang tempat nasi yang butut. Ketika Tay
Po keluar dari gang dan menjurus ke utara, bocah itu ikuti
ia.
Diam-diam, Tay Po tertawa dalam hatinya.
Tidak lama Tay Po sampai di Cianmui, dari sini dengan
ikuti tembok, ia menjurus ke barat. Ia belum jalan jauh
ketika ia menoleh ke belakang, akan dapatkan si pengemis
terus membuntuti ia, jauhnya tiga atau empatpuluh tindak.
Ia gendong tangan, ia jalan terus, matanya memandang
langit dengan matahari pagi. Kemudian ia mengkol ke
timur, dengan begitu ia jadi balik ke jurusan dari mana ia
datang.
Si pengemis lantas numprah di kaki tembok sambil
hadapi matahari.
Kapan Tay Po telah datang dekat bocah itu, dengan
bengis ia dupak bocah itu sehingga menjerit kesakitan,
tubuhnya rubuh terguling. Meski demikian, dengan maju
terus, Itto Lianhoa terus injak dadanya.
"Binatang cilik!" ia membentak. "Cara bagaimana kau
berani menjadi mata-mata penjahat akan intip aku? Kenapa
kau kuntit aku? Hayo bangun, ikut padaku, aku mesti gusur
kau ke hadapan pembesar negeri!"
"Looya, aku tidak kuntit kau ... " bocah itu menyangkal.
"Aku hendak menjemur diri di kaki tembok ini ... "
Tay Po gaplok orang dua kali.
"Hayo mengaku!" ia mengancam. "Jikalau kau bicara
benar, Lauw thayya barangkali bisa kasih ampun, jikalau
tidak, kau boleh lihat!"
Ia lantas perlihatkan pisau belatinya, yang ia tancap di
kaus kakinya.
"Lekas mengaku!" ia membentak pula, matanya
mendelik bengis. "Kau tahu, matanya Lauw thayya tidak
kelilipan! Bilang, penjahat mana sudah kasih perintah
padamu untuk intip aku? Lekas bilang, kau diupahkan apa
maka kau mau turut perintah itu? Lekas!”
Pengemis itu bergemetaran.
"Thayya, bukannya aku niat kuntit kau ... " ia menyahut.
"Adalah Tiang Ciong siauwjie yang perintah kita intip kau
... "
"Siapa itu Tiang Ciong siauwjie?" Tay Po desak.
"Ia adalah pemimpin kita. Ia yang perintah kita
berdelapan intip dan kuntit kau. Kita dimestikan ketahui di
mana kau tinggal dan apa yang kau kerjakan dalam
seantero hari, malamnya kita mesti berikan laporan
lengkap. Dalam satu hari kita diberikan upah duaratus chie.
Di antara kita, siapa tidak mau dengar perintahnya ketua
itu, atau kita berikan keterangan ngaco belo, lantas kita
dipukuli!"
Tay Po mau percaya itu keterangan, karena pengemis-
pengemis di kota raja memang punya kepala dan titahnya si
kepala tak ada pengemis yang berani bantah. Rupanya
Pekgan Holie telah gunakan kepala pengemis itu sebagai
pusat pengintai. Oleh karena ini, ia jadi sangat mendongkol.
"Sekarang Tiang Ciong siauwjie itu berdiam di mana?" ia
tanya. "Hayo antar aku pada ketuamu itu!"
"Ia tinggal di Kuikee Sietong, rumah abu kaum keluarga
Koci," jawab si pengemis cilik. "Aku tidak berani antar kau
ke sana, thayya ... Satu kali aku antar kau, lantas ia bakal
inginkan jiwaku ... "
Habis kata begitu, pengemis itu menangis, ia berlutut,
akan minta dikasih ampun dan dikasihani ...
Mau atau tidak, TayPo jadi tak tega hati.
"Di mana adanya rumah abu itu?" ia tanya.
"Di dalam Houwmui," itu pengemis memberi tahu. "Di
sana ada berdiam banyak tukang minta-minta. Tiang Ciong
siauwjie sendiri tidak turut mengemis, kalau ia toh mau
dahar, ia pilih orang punya yang enak-enak, untuk ia
makan. Ia mempunyai banyak uang, semua tak ada yang
berani tak dengar perkataannya. Sebentar lagi ia tentu pergi
ke Lamshia ... "
"Bagaimana romannya ketuamu itu?"
"Ia berbatok kepala kecil, begitupun batang lehernya,
hingga ia mirip dengan ular manjangan. Ini pun sebabnya
kenapa ia dapat nama Tiang Ciong itu. Tapi ia ada kuat,
siapa saja tidak sanggup kalahkan ia ... "
Tay Po masih saja mendongkol.
"Kau memberi tahu padanya, ia mesti sedikit hati-hati
berhadapan dengan Lauw thayya!" ia kata dengan sengit.
"Nanti datang waktunya yang aku akan cekuk ia, dan hajar
padanya sampai setengah mampus! Kau juga mesti
memberi tahu kawan-kawanmu lainnya, siapa saja yang
masih berani intip dan kuntit aku, itu artinya ia sudah tak
sayang jiwanya!"
Lagi-lagi ia dupak pula itu pengemis lalu ia bertindak
pergi, akan kembali ke hotelnya.
"Hayo siap, mari kita pindah!" ia kata pada Siang Moay.
Nona Coa baru saja bangun tidur, ia sedang duduk
menghadapi kaca muka akan rapikan rambutnya untuk
dijadikan kuncir.
"Aku tak mau pindah," ia kata ada mendongkol. "Aku
adalah orang yang mesti cari penjahat, dengan
meninggalnya ayahku, akulah yang mesti jadi wakilnya,
buat meneruskan tugasnya sebagai hamba polisi dari
Hweeleng! Buat tangkap penjahat masih belum berhasil,
kenapa justru kita yang mesti main sembunyi-sembunyian?
Apa nanti orang bilang apabila orang ketahui tentang sikap
kita ini? Bukankah orang bakal tertawakan kita? Jikalau kau
takut, kau boleh pergi, sebab yang akan dapat malu adalah
Itto Lianhoa sendiri, aku si orang she Coa tak akan
terbawa-bawa!"
"Hm, kau jangan kira aku si orang she Lauw penakut!"
kata Tay Po. "Jikalau aku takut, apa kau kira aku tidak bisa
angkat kaki dari Pakkhia ini? Tapi aku berpendirian lain,
seorang yang cerdik tak mau cari malu sendiri! Penjahat,
kepandaian jalan malamnya ada demikian tinggi,
sembarang waktu ia bisa ambil batok kepala kita, maka
jikalau kita binasa dengan tak berdaya, apa itu tidak
kecewa? Apakah kita bisa tak penasaran? Dayaku sekarang
adalah di satu pihak kita sembunyikan diri, supaya ia tidak
bisa cari kita, di lain pihak, kita cari dan kumpul bukti-bukti
untuk kita bisa bekuk padanya. Asal aku peroleh satu saja
bukti, aku akan lantas menghadap Giok cengtong supaya
cengtong bikin bersih rumah sendiri!"
Siang Moay bersenyum secara tawar.
"Cara bagaimana bukti bisa didapatkan dengan
gampang?" ia kata. "Kalau bukti tak didapatkan, sampai
seumur hidupmu, apa juga sampai seumur hidupmu, kau
tak mau turun tangan akan bekuk si penjahat? Aku lihat,
jikalau orang bekerja lambat secara kau ini, ada seratus
penjahat, seratus-seratusnya juga bakal keburu kabur!"
Mukanya Tay Po menjadi merah, ia banting-banting
kakinya.
"Jangan kau bilang begitu!" ia kata. “Dalam tempo tiga
hari, aku nanti bekuk penjahat itu! Andaikata aku gagal
dalam tempo tiga hari, selanjutnya aku tak mau ketemu lagi
sama kau! ... "
Sembari kepang rambutnya, Siang Moay buka lebar
matanya mengawasi itu sahabat.
"Ya, Itto Lianhoa memangnya pintar!" ia bilang. "Jikalau
kau tak mampu cekuk penjahat, kau bisa angkat kaki! Apa
yang ditakuti oleh kau akan kabur menyingkir? Di lain
tempat juga kau bisa hidup, untuk mengebul pula! Di mana-
mana, kau bisa cari sesuap nasimu! Hanya tinggal aku,
yang lacur ... Kau bisa tinggalkan aku dan habis perkara! ...
"
Tay Po tertawa akan dengar ucapan itu, tetapi akhirnya,
ia menghela napas.
"Kau tidak tahu," ia kata kemudian. "Aku pikir ini hari
juga aku bisa ringkus itu penjahat! Barusan saja aku telah
bekuk satu pengemis, aku telah korek keterangan dari
mulutnya tentang siapa yang sudah perintah mereka intip
dan kuntit kita! Aku pikir, setelah peroleh keterangan
lengkap, aku hendak bikin laporan, supaya penangkapan
bisa dilakukan. Pemimpin pengemis itu ada Tiang Ciong
siauwjie, aku duga ia kebanyakan ada muridnya Pekgan
Holie."
"Muridnya Pekgan Holie bertunggang kuda dan punya
banyak uang, mustahil ia ada satu pengemis?" Siang Moay
utarakan kesangsiannya.
"Siapa bisa bilang?" kata Tay Po, sambil geleng kepala.
"Kota Pakkhia ini adalah kota tempatnya naga melingkar
dan harimau mendekam. Lihatlah kau sendiri! Bukankah
Coa Siang Moay telah menyamar sebagai si nona tukang
dangsu, untuk selidiki perkara? Apakah lain orang tak bisa
menjadi pengemis, untuk bisa mencuri?"
"Maka hari ini aku mesti cekuk Tiang Ciong siauwjie!
Aku mesti berlaku hati-hati, sebab percuma aku bekuk si
pengemis jikalau tidak berbareng bisa menawan Pekgan
Holie sendiri ... Pekgan Holie liehay, ada baik jikalau dia
kaget dan kabur, tetapi celaka andaikata ia justru kehendaki
jiwa kita! Ia sudah tahu yang kita berdiam di sini, dari itu,
untuk ia turun tangan, apakah itu tak gampang sekali?"
Siang Moay tercengang, ia dapat dikasih mengerti.
"Habis, sebentar kita berdiam di mana?" ia tanya
akhirnya. "Apakah kau telah dapatkan tempat yang aman?"
"Pertama-tama aku hendak ajak kau pergi ke Pweelek-
hu," sahut Tay Po. "Di sana ada banyak orang, sedang
selama beberapa malam ini, penjagaan pun telah diperkuat.
Dengan kita berdiam di sana, meskipun penjahat mendapat
tahu, tak nanti ia berani satroni kita ... "
"Apakah orang bisa terima kita? Aku, aku maksudkan ...
"
"Mengapa tidak? Kita toh bukannya hendak ambil kamar
besar atau pertengahan ... Kita hanya berdiam di kamar
yang kecil di dekat istal, untuk satu atau dua hari saja ...
Asal perkara sudah dapat dibikin terang, kita nanti pindah
ke lain rumah!"
"Apa anggapan orang nanti tentang diriku?" si nona
tanya. "Sudah dua tiga hari kau tak pulang ke Pweelek-hu,
sekarang kau balik dengan ajak seorang perempuan, apakah
tidak akan ada orang yang mengatakan apa-apa? Ada
orang-orang yang usilan, kau tahu ... "
Tay Po tertawa.
"Usilan apa?" ia bilang. "Apakah orang larang aku
menikah?"
Mukanya Siang Moay menjadi merah, ia cubit pemuda
itu.
"Sampai sebegitu jauh kita telah tinggal bersama-sama,"
Tay Po bilang. "Benar kita belum menikah, tetapi di
matanya lain orang, perbedaan sukar dijelaskan ... Sekarang
selagi kuncirmu belum rampung, baiklah kau ubah itu
menjadi konde dan kau pakai pakaian-mu yang lebih
mentereng ... Kita akan menikah untuk bekerja sama-sama,
guna balaskan sakit hati ayahmu. Asal kita bisa bekuk
Pekgan Holie, untuk wujudkan pembalasan, aku percaya
ayahmu bakal meram di dunia baka ... Sampai waktu itu,
untuk kau, berkabung atau tidak, ada urusan kecil ... "
Mendengar itu, air mukanya Siang Moay menjadi
guram. Tapi usulnya Tay Po benar dan ia setujui itu, maka
dengan tidak kata apa-apa, ia menurut. Begitulah ia lantas
mulai berkonde.
Tay Po lantas pergi keluar, akan cari kereta, ketika tidak
lama berselang ia kembali, nona Coa sudah selesai
menyisir, dan rambutnya dikondekan menjadi dua.
"Coba kau keluar sebentar," kata si nona.
Tay Po menurut, karena ia tahu nona itu hendak tukar
pakaian. Ia menunggu sampai ia dipanggil masuk, maka
sesampainya di dalam, ia dapat kenyataan Siang Moay
sudah dandan rapi, bajunya sutera abu-abu dan tersulam
bunga dan pipinya dipulas dengan yancie, hingga nona ini
jadi menarik hati, mirip dengan nona pengantin, Tay Po tak
dapat tahan akan tidak bersenyum dan tertawa, hingga
nona itu tunduk, karena ia likat sendirinya.
Lantas juga Tay Po benahkan pauwhok, ke dalam mana
ia masukkan sepasang golok, gembreng dan tambang. Ia
teriaki jongos, akan bikin perhitungan persewaan,
kemudian dengan dibantui oleh si jongos, ia mengangkut
keluar.
Siang Moay ikuti pemuda itu, sampai di luar, ia
mendahului naik kereta keledai. Tay Po adalah yang
perintah tenda diturunkan.
"Ke utara," ia kata pada kusir, setelah mana, sesudah
roda-roda menggelinding, ia bertindak di belakang kereta
itu.
Baru saja kereta keluar dari gang, dua pengemis
kelihatan di ujung jalanan, tapi melihat Tay Po, mereka
segera lari kabur, ke timur.
Kereta jalan terus, sampai di Cianmui. Di sini kembali
tertampak satu pengemis cilik, yang menguntit. Maka
dengan berpura-pura betulkan sepatunya, Tay Po berhenti
dan jongkok, tapi tangannya bukan membetulkan
sepatunya, hanya ia jemput batu, kemudian ia jalan pula
perlahan-lahan. Ia tunggu sampai si pengemis sudah datang
lebih dekat, tiba-tiba ia putar tubuhnya dan ayun
tangannya. Ia timpuk kepalanya si pengemis sampai
menjerit dan kabur.
"Kurang ajar," menggerutu kauwsu ini, yang lanjutkan
perjalanannya. Ia ikuti kereta dengan pasang mata tajam ke
kiri dan kanan, sering-sering ia menoleh ke belakang.
Sebentar kemudian keretanya Siang Moay telah sampai
di jalan besar di Anteng-mui, di situ ada dua orang tukang
luntang-lantung, yang sedang berdiri menganggur, kapan
mereka lihat Tay Po, mereka lantas mengunjuk hormat,
mereka manggut sambil menjura.
"Saudara-saudara, tolong kau carikan Toh Tauw Eng,"
Tay Po kata pada mereka itu. "Lekas sedikit! Minta ia susul
aku di Pweelek-hu."
Dua orang terima perintah itu dan berlalu.
Tay Po terus iringi keretanya, sampai ke Pweelek-hu. Ia
berhenti di depan istana, dan bayar sewa kereta. Sesudah
Siang Moay turun, ia sembat buntalan, buat terus dibawa
masuk, sedang si nona ngintil di belakangnya. Ia menuju
langsung ke pekarangan istal.
Beberapa bujang yang lihat kauwsu ini pulang dengan
satu nona manis, datang menghampirkan untuk melihat.
Tay Po tidak ladeni mereka, ia jalan terus dengan tampang
muka berseri-seri. Ia ajak si nona masuk ke kamarnya di
mana itu waktu justru berada Lie Tiang Siu, yang sedang
baca buku sambil rebahan.
Melihat sahabatnya datang dengan satu nona manis,
Tiang Siu terperanjat hingga lekas-lekas ia merayap bangun
dan turun, pakai sepatunya.
Tay Po itu waktu pun undang bujang-bujang yang ikuti
ia.
"Nah, ini ialah enso-mu," ia kata pada mereka seraya
tunjuk Siang Moay, pada siapa sebaliknya ia perkenalkan
mereka itu. Kemudian pada Tiang Siu ia kata: "Aku tidak
bisa omong banyak padamu tetapi minta mulai hari ini kau
suka mengalah dan pindah ke lain tempat. Kamar ini aku
hendak jadikan kamar pengantin kami."
Tiang Siu melongo.
"Habis aku pindah ke mana?" ia tanya.
Mendengar pertanyaan itu, semua kawan pada tertawa.
Siang Moay tunduk saja dengan muka merah, toh ia
turut tertawa.
"Dengan mendadak kau ajak keluargamu pindah kemari,
sebenarnya ini tak mungkin," kata salah satu kawan. "Di
dalam istana ini tidak pernah ada itu aturan. Sekarang baik
kau cari Tek Lok, untuk berdamai dahulu sama ianya."
"Nanti saja," Tay Po jawab. "Beberapa hari ini aku
sangat repot dan lelah, aku sibuk urus pernikahan sampai
aku tak dapat kesempatan mencari rumah tinggal, hingga
terpaksa aku ajak isteriku ini datang kemari. Umpama Tek
Lok tak ijinkan kami tinggal di sini, ia mesti carikan rumah
untuk kami. Hawa udara begini dingin dan sekarang bakal
lekas sampai di akhir tahun, mustahil kami berdua mesti
berdiam di udara terbuka?"
"Kau benar juga," kata itu kawan.
Kemudian orang tanya hal pertempuran di Touwshia
dan tentang kebinasaannya Coa pantauw. Mereka itu sudah
ketahui tentang Tay Po repot dengan halnya Coa pantauw
dan mereka menduga, nyonya Tay Po ini adalah nona
tukang dangsu itu.
Selagi mereka bicara, Tek Lok datang.
"Lauw suhu, selama dua hari ini, kau pergi ke mana
saja?" kata Tek Lok. "Pweelek-ya panggil kau, ada urusan
yang hendak dibicarakan."
Tay Po menurut, ia ambil thungsha-nya, selelah pakai
itu, ia ikut Tek Lok pergi kepada Tiat siauw-pweelek. Ia
merasa girang karena panggilan ini, ia merasa dapat
kehormatan, sebab sejak tahun yang sudah ia bekerja
sebagai guru silat, belum pernah tuan rumah panggil ia
secara langsung. Maka dengan bersemangat ia ikuti Tek
Lok.
Mereka telah lewatkan empat ruangan dalam, yang
berupa pekarangan, kemudian mereka masuk ke dalam
sebuah kamar di gedung sebelah utara, di situ Tiat siauw-
pweelek sudah menantikan, dengan pakaian biasa, dengan
tangan menyekal cuihun. Pangeran ini baru pulang dari
istana raja. Ia duduk di atas kursi Hak-su-ie dengan sikap
tenang dan sabar.
Tay Po unjuk hormatnya pada orang bangsawan itu.
"Di mana sembunyinya si penjahat?" pweelek tanya.
"Apa kau sudah berhasil dengan penyelidikanmu?"
Sambil geleng kepala, Tay Po jawab bahwa ia belum
berhasil.
"Kalau begitu, mengapa kau dapat menyatakan penjahat
itu berdiam di suatu gedung besar?" pweelek tegaskan.
"Sebab Coa pantauw dan gadisnya telah lihat penjahat
itu duduk atas sebuah kereta besar, romannya sebagai
budak saja," Tay Po menyahut. “Di dalam kereta itu duduk
keluarga dari orang berpangkat. Coa pantauw hendak susul
kereta itu tetapi ia tak dapat menyandak ... "
"Di mana kau dapat lihatnya kereta itu?"
"Di Kouwlauw," sahut Tay Po dengan cepat.
Pweelek-ya nampaknya tertegun, tetapi ia segera tertawa.
"Apa mungkin penjahat itu sembunyi di sini?" ia tanya.
Tay Po goyang-goyang kepalanya dengan cepat.
"Semua pegawai di sini orang-orang terang," ia kata.
"Penjahat tidak nanti berani bercampur baur di sini!"
Kemudian ia nyatakan bahwa ia hendak mohon suatu
apa.
"Apakah itu?" tanya Siauw pweelek.
"Halnya gadis dari Coa pantauw, yang jadi hidup yatim
piatu," sahut Tay Po, dengan keterangannya, "karena ia
sebatang kara, ia telah ikut aku. Aku telah ambil putusan
mencari dan bekuk si penjahat. Dengan ini pertama aku
hendak dapatkan kembali pedang mustika dan kedua untuk
balaskan sakit hati mertuaku lelaki. Aku mohon ijin.”
Tiat siauw-pweelek tertawa mendengar pengutaraan ini.
"Baiklah, aku berikan kekuasaan untuk kau cari tahu
perkara itu!" ia kata. "Tapi kau melainkan boleh lakukan
penyelidikan, kau tidak perlu turun tangan sendiri
membekuk penjahat itu. Kalau kau sudah peroleh
keterangan, aku nanti sampaikan laporanmu pada Giok-
tayjin. Ingat, kau harus hati-hati, jangan kau melaporkan
secara sembrono! Jikalau kau menuduh dengan tanpa bukti,
pihak tertuduh tentu tak mau mengerti. Apabila itu sampai
terjadi, aku tidak mampu tolong padamu ... "
Tay Po girang dengan ijin itu.
"Aku tidak akan bekerja secara sembarangan," ia berikan
kepastiannya, "Nona Coa telah ikut aku, kita tak punya
tempat tinggal, maka aku ajak ia kemari, aku mohon
diperkenankan untuk memakai dua kamar, untuk beberapa
hari saja."
Tiat pweelek tertawa pula, ia tidak lantas menjawab.
Hanya ia menoleh pada Tek Lok.
"Apakah di rumahmu ada kamar kelebihan?" ia menanya
hamba itu.
"Ada, tetapi semuanya kecil," Tek Lok jawab.
Mendengar itu, Tiat pweelek baru kata pada Tay Po:
"Adalah aturan di dalam istanaku yang melarang orang
sebawahan menempati kamar beserta anak isterinya.
Aturan ini tak dapat dikecualikan sekalipun untuk kau.
Pergilah kau pindah ke rumah Tek Lok."
Tek Lok tidak menyatakan keberatan dan Tay Po terima
usul itu, lalu menghaturkan terima kasih. Ia memberi
hormat dan undurkan diri.
Di kamarnya ia dapatkan Siang Moay berada sendirian.
"Beruntung kita mendapat bantuan!" ia kata pada nona
itu, sikapnya agung-agungan.
Siang Moay angkat kepalanya mengawasi.
"Pweelek-ya telah berikan kekuasaan untuk aku selidiki
perkara kita," Tay Po beritahu. “Kewajiban kita adalah
mencari tahu sarangnya penjahat dan dapatkan buktinya
yang kuat, setelah itu pweelek-ya yang akan berdaya terus
guna bekuk si penjahat itu. Pweelek-ya perintah aku pindah
ke rumahnya Tek Lok. Sebagai koankee, Tek Lok tentu
punya rumah luas dan banyak kamarnya, dan ke sana pasti
penjahat tak akan berani datang untuk satroni kita."
Tek Lok muncul selagi dua orang itu bicara.
"Lok-ya, terima kasih untuk kebaikanmu!" kata Tay Po,
dengan girang.
"Pweelek-ya inginkan itu, tidak apa," Tek Lok jawab.
"Hanya aku harap, kalau nanti Lauw suhu berdiam
bersama-sama aku, tolong kau bersikap lebih hati-hati
sedikit ... "
"Tentang itu Lok-ya jangan kuatir," sahut Tay Po sambil
manggut. "Kau lihat sendiri isteriku ini, bukankah ia lemah
lembut? Kalau nanti kita tinggal bersama kau, aku tanggung
ia tak nanti nongol dari pintu pekarangan!"
Tek Lok manggut.
"Bagus, bagus," ia kata. "Aku sudah perintah orang
bersihkan kamar untukmu, kalau sebentar orangku datang,
ia akan bantu kau pindah. Dan ini," ia tambahkan, sambil
letaki dua potong uang goanpo di atas meja, "ini hadiah
dari pweelek-ya untuk kau. Tentang tanda mata dari aku,
aku nanti serahkan belakangan saja."
"Tidak perlu, Lok-ya, terima kasih," kata Tay Po.
"Pweelek-ya begini baik, aku mesti masuk pula ke dalam
untuk haturkan terima kasihku ... "
"Jangan," Tek Lok goyangi tangan, "Aku telah wakilkan
kau mengucap terima kasih. Aku mau beritahu padamu, di
rumah aku sedia segala macam perabot rumah tangga,
semua itu aku dapat pinjamkan padamu, jadi kau tidak
perlu beli lagi yang baru. Buat kau cukup asal kau bawa
pauwhok-mu ... "
Tay Po tertawa.
“Terima kasih. Pauwhok kita pun sederhana ... "
Lantas Tek Lok pamitan dan Tay Po antar padanya.
Seperginya Tek Lok, kacung tukang roskam kuda
memberi tahu Tay Po bahwa di luar menunggu Toh Tauw
Eng.
Tay Po segera bertindak ke luar.
Toh Tauw Eng menunggu di pintu pekarangan,
tangannya menenteng tiga kurungan burung.
"Lauw-ya, kionghie!" kata Toh Tauw Eng ketika orang
samperi ia.
"Kionghie apa?" sahut Tay Po. "Selama dua hari ini aku
satrukan penjahat, kepalaku sendiri hampir turut pindah!"
Lantas Tay Po tuturkan pengalamannya.
"Sekarang aku hendak minta bantuanmu," kemudian ia
lanjutkan.
"Biar bagaimana juga, hari ini kau mesti cekuk Tiang
Ciong siauwjie untuk dihadapkan padaku."
"Untuk cekuk Tiang Ciong siauwjie bukan pekerjaan
terlalu gampang," Toh Tauw Eng kata. "Kalau ia sudah
dapat dibekuk, ke mana aku mesti bawa ia?"
"Sebentar jam tiga lohor aku akan pergi ke Seetay
Hicwan," sahut Tay Po, "maka kau bawa saja ia ke sana."
Toh Tauw Eng manggut, lantas dengan bawa
burungnya, ia ngeloyor pergi.
Tay Po kembali ke kamarnya. Ia tidak usah menunggu
lama, atau orangnya Tek Lok datang dengan warta bahwa
kamar sudah tersedia.
"Apakah Lauw suhu mau pindah sekarang?" hamba itu
tanya. "Tempatnya ialah di utara, yang dipanggil Hoawan
Taywan."
"Baik, kita pindah sekarang!" Tay Po menjawab. Ia
lantas minta hamba itu bantu ia, ia sendiri bawa petinya
Siang Moay. Mereka tidak naik kereta.
Rumahnya Tek Lok rumah yang baru dibangun,
kamarnya belasan, terbagi antara bagian dalam dan luar,
Tek Lok dan isteri serta anaknya dan ibunya dan satu
budak, tinggal di sebelah dalam. Kamar-kamar di sebelah
luar ialah dua di selatan dan dua di utara, semua ini
diserahkan pada Tay Po.
Itto Lianhoa puas dengan rumah yang baru itu, yang
pintu dan jendelanya kuat, dengan gentengnya yang tak
akan pecah kalau diinjak. Ia taruh perabotannya di kamar
utara.
"Nah, pergi kau tolong sediakan nasi dan arak," kata Tay
Po pada si kacung.
Kemudian, setelah hamba itu pergi, ia kata pada Siang
Moay, "Sekarang kita dapat lewatkan hari-hari di sini!
Perkara yang kita urus, kita selidiki dengan perlahan-lahan.
Kau jangan berduka. Kalau sebentar Tiang Ciong siauwjie
sudah dicekuk, ia tentu dapat memberikan keterangan
berfaedah. Apa yang aku harap adalah agar penjahat tak
ketahui kita berdiam di sini, hanya meskipun demikian, di
waktu malam, kita tetap harus berhati-hati dan bersiaga."
Siang Moay manggut, ia puas dengan rumah baru ini,
maka ia segera bekerja membereskan kamarnya, hingga
dengan segera ia merupakan satu nyonya rumah yang asyik
bekerja.
Tidak lama kemudian kacung tadi datang dengan barang
makanan, maka "suami isteri" ini lantas duduk bersantap.
Selesai ini, si kacung diminta pergi dengan sisa makanan.
Tay Po dan Siang Moay pasang omong sekian lama, lalu
Tay Po rebahkan diri dan tidur. Ia mendusin sesudah lohor,
jam tiga, maka lekas-lekas ia pakai bajunya dan terus
berlalu. Ia bekal pisau belati. Ketika ia keluar dari
pekarangan rumah, ia melihat ke empat penjuru. Buat
kelegaan hatinya, ia tidak melihat pengemis atau orang
yang mencurigai, maka dengan hati besar, ia bertindak ke
Seetay Hiewan.
Di depan warung teh ini nongkrong satu pengemis
dengan pakaian butut, kepalanya kecil begitupun lehernya,
mukanya kotor, usianya kira-kira tujuh atau delapanbelas
tahun, mukanya itu berlepotan darah dan penuh pasir,
rupanya bekas dipukul. Di sampingnya pengemis ini berdiri
dua orang, yang kemudian ternyata orang-orangnya Toh
Tauw Eng, yang sedang menjaga padanya.
Kapan mereka lihat Lauw Tay Po, dua orang itu segera
menegur.
"Lauw-ya, inilah Tiang Ciong siauwjie, yang kita telah
bekuk!" kata mereka, seraya tunjuk pengemis itu.
Tay Po awasi pemimpin tukang minta-minta itu.
"Kau jadinya Tiang Ciong siauwjie?" ia tanya. "Kau
menjadi mata-matanya Pekgan Holie, kau tentu punya
banyak uang, tetapi mengapa pakaianmu butut?"
Tiang Ciong lantas saja berlutut, ia manggut-manggut.
"Aku tidak tahu bahwa perempuan tua itu ada satu
penjahat," ia kata dengan pengakuannya. "Ia berikan aku
uang dan perintah aku membawa surat ke Pweelek-hu, juga
menguntit itu dua tukang dangsu. Pada beberapa hari yang
lalu, perempuan tua itu datang pula, bersama seorang
berpakaian hijau, sekali ini ia titahkan aku kuntit looya,
untuk intip sepak terjangnya looya. Untuk itu, ia minta
laporan setiap hari."
Air mukanya Tay Po berubah dengan cepat. Ia telah
mendapat keterangan dengan lekas sekali. Tapi itu belum
cukup.
"Yang berpakaian hijau itu tua atau muda?" ia tegaskan.
"Bagaimana romannya? Apa kau dapat mengenalinya
umpama kau sekarang bertemu dia di tengah jalan?"
Tiang Ciong siauwjie geleng kepala.
"Aku tak ingat betul," ia menyahut. "Mereka itu datang
sendiri mencari aku dalam biara, datangnya di waktu tiap-
tiap tengah malam. Kalau mereka datang, yang berpakaian
hijau itu berdiri jauh-jauh, ia tidak turut bicara. Selain dari
itu, muka mereka juga dialingi tutupan, hingga tidak dapat
kelihatan tegas."
"Berapa ia beri upah padamu setiap kali ia perintah kau?"
"Dalam satu hari ia berikan dua renceng uang," Tiang
Ciong aku. "Uang itu aku mesti bagi di antara orang-
orangku.”
Sampai di situ, Toh Tauw Eng datang.
"Tidak leluasa untuk bicara di sini," kata si Garuda
Botak. "Meskipun ia mau bicara, ia tak akan keluarkan itu.
Mari, bawa ia ke luar kota! Di sana ia mesti lebih dahulu
diajar adat, baru nanti kita periksa padanya!"
Tiang Ciong ketakutan, ia menangis sambil manggut-
manggut.
"Apa yang barusan aku katakan, adalah yang
sebenarnya," ia kata.
Tay Po ulapkan tangan pada sahabatnya.
"Jangan takut, jangan kau takut,” ia kata, dengan sabar.
"Aku tahu yang kau bicara hal yang benar. Kau mau jadi
pekakasnya perempuan tua itu melulu untuk peroleh uang,
tetapi kau tidak tahu bahwa Lauw jieya-mu juga punya itu!"
Sehabis kata begitu Tay Po rogoh sakunya, dan
keluarkan sepotong perak, yang ia sesapkan di tangannya si
Ular Menjangan itu.
"Kau terima ini lebih dahulu," ia kata. "Aku ingin kau
ingat baik-baik romannya penjahat perempuan tua itu serta
si pakaian hijau, begitupun kau mesti perhatikan lagu
suaranya. Jikalau kau ketahui juga rumah mereka,
bagianmu ialah dua tail perak! Coba berdaya, dapatkan
potongan pakaian mereka, dengan jalan gunting atau
mencuri, atau kau curi barangnya, apa saja, untuk
diserahkan padaku, nanti kau dapat sepuluh tail perak! Lain
daripada itu, selanjutnya, setiap waktu aku dapat sering-
sering tunjang kau ... "
"Kau mesti ketahui siapa adanya Lauw jieya ini!" kata
Toh Tauw Eng.
"Lauw jieya-mu!" kata Toh Tauw Eng. "Lauw jieya ialah
guru silat dari Tiat siauw-pweelek, maka jikalau kau dapat
mengandal pada jieya, kau tidak usah mengemis lagi!"
Si Garuda Botak pun segera tukar siasatnya.
Tiang Ciong paykui, untuk haturkan terima kasihnya. Ia
telah berikan janjinya untuk bekerja pada jieya ini.
"Sekarang kau boleh pergi!" kata Tay Po. "Apa juga yang
kau dapatkan, kau mesti sampaikan pada Toh thayya ini,
nanti aku lantas mendapat tahu juga."
Habis kata begitu, Tay Po tinggalkan pengemis itu, ia
ajak Toh Tauw Eng dan dua kambratnya masuk ke dalam
warung teh.
"Lauw-ya," kata Toh Tauw Eng dengan perlahan sekali,
"siasatmu barusan bagus sekali! Tapi, mengapa kau tidak
mau pergi saja ke tempatnya dua orang itu, kita
sembunyikan diri, kalau mereka keluar, kita lantas bekuk
mereka? Kita dapat melakukan pekerjaan kita ini di waktu
malam ... "
"Kau punya berapa banyak Lawan untuk bantu aku?"
Tay Po tanya.
"Sepuluh diinginkan, sepuluh sedia," sahut Toh Tauw
Eng, "dua-puluh dikehendaki, duapuluh akan siap!"
"Lebih baik jumlah itu seratus jiwa!" kata Tay Po.
"Seratus orang pun aku sanggup kumpulkan!" Toh Tauw
Eng jawab. "Tapi jumlah seratus terlalu banyak! Taruh kata
mereka pada rebah tengkurup di tanah, mereka pun akan
tertampak menggelempeng hitam! Masa penjahat mau
datang dekat jikalau mereka lihat suatu apa yang
mencurigai?"
Lauw Tay Po bersenyum.
"Bukannya aku bersenda gurau, jumlah dua dan tigaratus
juga tak ada faedahnya!" ia terangkan. "Meskipun di sini
ada kunsu Gouw Yong dari Liangsan, kita masih belum
dapat berbuat apa-apa ... Kau tahu, bugee dari dua penjahat
itu liehay sekali, kepandaian mereka jalan malam sangat
sempurna! Sudah dua tiga kali aku ngalami sendiri
kekosenan mereka itu, lantaran itu aku jadi tidak berani
hadapkan pula mereka secara terang-terangan! Sekarang ini,
apa yang aku inginkan, adalah barang bukti. Atau kalau
tidak, aku mesti bersabar pula beberapa hari lagi menunggu
sahabatku datang ke Pakkhia ini, untuk minta bantuannya."
Dengan "ia", Lauw Tay Po maksudkan "orang
perempuan".
"Siapa itu sahabatmu?" Toh Tauw Eng tanya
"Bagaimana dengan bugee-nya?"
Tay Po bersenyum
"Ia seorang perempuan ... "
Si Garuda Botak menjadi heran, hingga ia mengawasi
sahabatnya.
"Orang perempuan? Cara bagaimana kau dapat
berkenalan dengan ia itu?"
Tay Po tidak menjawab, hanya ia berbangkit. Ia rogoh
sakunya dan bayar uang teh dan kue-kue.
"Nona itu seorang luar biasa," ia menyahut kemudian.
"Aku sendiri belum pernah lihat padanya, aku baru saja
dengar namanya. Tentang bugee-nya, belum tentu ia
terlebih liehay daripadaku, toh ia tetap bakal jadi
pembantuku yang berharga. Jikalau ia bantu aku, dan
bersama ia isteriku juga keluarkan antero kepandaiannya,
hingga kita jadi bertiga, dua perempuan dan satu lelaki, aku
merasa pasti yang si penjahat tak bakal mampu loloskan
diri! Sekarang ini biarlah kau bertiga tetap menduga-duga
saja ... "
Lantas, dengan unjuk hormatnya, Lauw Tay Po
tinggalkan tiga kawan itu. Dalam perjalanan pulang, ia beli
beras dan terigu, juga bahan bakar, untuk dibawa pulang.
Pada Siang Moay ia pun tuturkan keterangan yang ia dapat
dari Tiang Ciong.
Coa Siang Moay terima baik tindakannya kawan hidup
yang baru itu, kemudian ia masak nasi dan lain-lain, untuk
bersantap malam.
Sore itu Lie Tiang Siu dan kawan-kawannya datang
dengan membawa barang antaran, sebagai tanda mata dan
penghaturan selamat, dan itu Tay Po mesti haturkan terima
kasihnya seraya jamu mereka ini.
Sampai malam, barulah Tiang Siu semua pulang.
Pada jam dua, Tay Po dan Siang Moay sudah lantas
dandan siapkan diri, golok mereka tak dilupakan. Mereka
berdiam di dalam kamar mereka sampai jam tiga, mereka
tidak dengar atau lihat apa-apa. Sudah dua tiga malam
mereka begadang saja, inilah hebat buat mereka begadang
pula, maka dengan duduk berhadapan, sering-sering mereka
menguap. Akhir-akhirnya, Tay Po bersenyum sendirinya.
"Hari ini kita dapat menaklukkan mata-mata musuh," ia
berkata, "dan kita telah pindah kemari, maka aku percaya,
penjahat tentulah tak ketahui yang kita tinggal di sini.
Mengapa kita mesti berkuatir tak keruan? Baik kita kunci
pintu dan tidur!"
Siang Moay setujui ucapan itu, maka ia tak membantah.
Ketika Tay Po kunci pintu, nona Coa rebahkan dirinya
secara malas-malasan. Pintu telah ditapal dan diganjal
dengan kursi.
Baru saja Tay Po selesai dengan bentengannya itu, tiba-
tiba terdengar sedikit suara berkeresek, yang disusul dengan
molosnya sepotong kertas dari sela-sela pintu itu!
Saking kaget, Lauw Tay Po lantas berjongkok untuk
menyingkir ke pembaringan tanah di mana ia colek
pahanya Siang Moay, hingga si nona menjadi kaget dan
loncat bangun.
Tay Po menunjuk ke pintu, di situ kelihatan kertas yang
diselusupkan ke dalam telah jatuh.
Siang Moay menjadi gusar, hingga ia hunus goloknya.
"Siapa di luar?" ia menegur dengan bengis.
"Sabar!" Tay Po cegah isterinya itu.
Dalam murkanya, Siang Moay paksa turun dari
pembaringan, ia niat membuka pintu dan menerjang keluar.
Sebelum ia bisa wujudkan itu, mendadak terdengar suara
barang menyambar, yang noblos dari jendela. Meskipun ia
lekas berkelit, dengan mendek, tidak urung sebatang panah
tangan telah menyambar dan nancap di kondenya.
Panah tangan itu panjangnya hanya tiga dim dan halus,
mirip dengan tusuk konde.
Saking kaget dan kuatir, nona ini terpaksa bungkam,
dengan mendekam ia diam saja, melainkan matanya
mengawasi ke jendela.
Tay Po pun terus berdiam.
Selanjutnya tidak terdengar suara apa-apa lagi, tidak
tertampak gerakan apa juga, tapi Tay Po dan Siang Moay
masih terus menunggu, sampai kira-kira satu jam, hingga,
waktu mereka berbangkit, mereka merasakan kesemutan.
Siang Moay cabut panah tangan dari kondenya, ia
kagum buat senjata kecil dan tajam itu.
Tay Po sebaliknya pungut kertas yang dipoloskan dan
membacanya:
"Dalam tempo tiga hari, jikalau kau berdua tak
menymgkir dari kota raja ini, bencana besar akan menimpa
dirimu!"
Beda daripada tadi, Tay Po tidak jeri atas ancaman itu,
benar mukanya menjadi pucat, tetapi itu disebabkan
mendongkol dan gusar.
"Bagus, bagus!" ia kata. "Secara beginilah ia desak kita!
Maka tak dapat tidak, kita mesti adu jiwa!"
Siang Moay pun turut mendongkol.
Tay Po geser meja untuk bantu kursi mengganjal pintu.
"Mari kita tidur!" ia kata dengan masih penasaran, dan ia
padamkan api.
Siang Moay terus tidak banyak omong, ia menurut saja.
Selanjutnya, sampai pagi, tidak terjadi apa juga.
Paginya, Tay Po dandan dan pergi ke Pweelek-hu pinjam
seekor kuda, dengan itu ia kabur ke Lamshia, Kota Selatan,
ke Coanhin Piauwtiam. Di sini ia ketemui Yo Kian Tong
dan beritahukan yang ia sudah pindah, bahwa tempatnya
yang baru ini tidak aman, sebab baru satu hari pindah,
malamnya sudah ada yang satroni.
"Maka itu, aku minta supaya padaku dikirim orang
untuk bantu aku," ia minta pada saudara misan itu.
Yo Kian Tong suka memberikan bantuannya.
Di waktu mau berangkat, Tay Po pun pinjam dua batang
tombak, kemudian ia pergi ke Tayhin Piauwtiam mencari
Sun Ceng Lee, apa mau, Ngojiauw-eng kebetulan tidak ada
di kantornya, maka ia hanya tinggalkan pesanan saja,
kalanya ia sudah pindah ke Hoawan Taywan di Anteng-
mui dan minta sebentar malam Ceng Lee kunjungi ia di
rumahnya, untuk satu urusan penting. Ia juga pesan agar
Sun Ceng Lee jangan lupa bawa senjatanya.
Dari piauwtiam, Tay Po masuk pula ke dalam kota dan
pulang ke rumahnya. Pada Siang Moay ia tuturkan
siasatnya untuk sebentar malam.
"Kalau begitu, pergi lekas kembalikan kuda itu, supaya
kita dapat bersiap dan berangkat," kata Siang Moay dengan
gembira.
"Jangan kesusu!" kata Tay Po sambil bersenyum.
"Sekarang kau masuk dahulu, sebentar malam bakal datang
sahabat-sahabat kita!"
"Nah, pergilah lekas, agar kau cepat kembali!" kata nona
Coa, yang tetap bergembira.
Tay Po berlalu sambil tertawa, ia gembira luar biasa. Ia
pergi ke Pweelek-hu kembalikan kudanya. Dari Pweelek-hu
ia pergi ke Seetay Hiewan menemui Toh Tauw Eng. Di
sini, dengan suara nyaring, dengan cara merdeka, ia bicara
hal ia hendak bekuk penjahat, ia unjuk sikap gusar, ia pun
gebrak-gebrak meja dan bikin bangku-bangku terbalik. Ia
tidak lagi bersikap hati-hati sebagai kemarin yang
mengunjuk nyalinya yang kecil. Sekarang ia jadi berani luar
biasa.
Tidak lama kemudian, ia keluar dari Seetay Hiewan dan
pulang. Siang Moay sudah selesai masak, maka berdua
mereka bersantap.
"Nah, mari kita pergi!" kata Tay Po, sesudah ia dahar
cukup dan bersihkan mulutnya.
Siang Moay berbenah sebentar, tetapi karena ia memang
sudah dandan, ia tidak pakai banyak tempo untuk itu.
Begitulah berdua mereka keluar, si nona bawa tambang
dan gembrengnya, dan Tay Po bawa sepasang tombak yang
ia dapat pinjam, begitupun goloknya. Pakaian mereka ada
ringkas dan rapi.
Mereka berhimpasan dengan Tek Lok di pintu
pekarangan.
"Eh, ke mana kau berdua hendak pergi?" tanya koankee
dari Tiat pweelek, dengan heran.
"Kami hendak buka pertunjukan!" sahut Lauw Tay Po
sambil tertawa. "Kami ingin dapatkan beberapa chie untuk
penghidupan kami! ... "
"Awas, jangan kau nanti merabu!"
"Merabu?" Tay Po baliki. "Tugas yang diberikan pweelek
adalah menyerepi kabar!"
"Tapi kemarin pweelek sedang gembira dan ia
mengatakan seenaknya saja ... "
"Ucapannya pweelek-ya ada ucapan emas dan kumala!"
Tay Po membantah. "Meski ia mengatakan secara
sembarangan, kata-katanya itu tetap merupakan titah,
seperti firman saja! Lok-ya, dengan kepergian kami ini,
siapa tahu kami akan bisa dapatkan kabar yang berharga,
atau mungkin kami akan hadapi bahaya. Harap kau tolong
perhatikan kami, umpama kata dalam satu hari kami tidak
pulang, tolong kau kirim orang untuk mencarinya!"
Lalu, sambil tertawa ia ajak Siang Moay ngeloyor pergi.
Di sepanjang jalan mereka bercakap-cakap satu pada lain
dengan asyik, sampai mereka tiba di See Toa-kay di
Kouwlauw, di depan rumahnya Giok-tayjin.
Ketika itu, di belakang mereka sudah mengintil sejumlah
orang.
"Aneh," kata seorang. "Apa ia ini bukannya gadisnya
dari si tukang dangsu yang sebenarnya ada hamba polisi?
Pantauw itu telah binasa dibunuh penjahat, kenapa
sekarang ia ikut orang lain membuka pertunjukan pula?"
"Apakah kau tidak kenal orang lelaki itu?" kata yang
lain. "Ia ada Itto Lianhoa Lauw Tay Po! Mereka sekarang
berkumpul jadi satu untuk buka pertunjukan, maksud
mereka yang sebenarnya kita tak mengetahuinya!"
Tay Po tak pedulikan apa yang orang banyak bilang, ia
dapat dengar itu tetapi berpura-pura budek. Ia hanya lantas
siapkan tombaknya untuk ditancap di tanah dan diikat
tambangnya. Ketika itu mendekati tengah hari tetapi
mereka dapat tarik perhatiannya penonton. Kemudian,
selagi si nona betulkan sepatunya, ia memalu gembrengnya,
hingga menerbitkan suara berisik.
"Dua hari pertunjukan sudah terhalang, itu sama saja
dengan dua tahun!" ia kata dengan nyaring. Setiap bicara ia
tunda gembrengnya: "Tuan-tuan tentu telah ketahui apa
yang terjadi pada malam baru-baru ini di Touwshia, maka
itu, selama beberapa hari ini, aku repot dengan penguburan
jenazahnya mertuaku dan dengan pernikahan kami, hingga
kami tak dapat kesempatan akan buka pertunjukan! Baru
hari ini aku ajak isteriku untuk berikan pertunjukannya,
guna melegakan hati tuan-tuan yang pepat! Tapi aku tidak
boleh ngobrol saja!"
Dan ia palu pula gembrengnya: "Breng! breng! breng!"
Dengan satu lompatan, Siang Moay naik ke atas
tambang, di mana ia berdiri dengan tubuh sebagai
terumbang-ambing, hingga mirip dengan walet yang sedang
terbang melayang-layang ...
"Hayo, mulailah, mulai jalan, jalan sampai ke kota raja!"
Tay Po berkata-kata, seperti terhadap Siang Moay, tetapi
sebenarnya ia ada kandung maksud, karena ia lalu
melanjutkan: "Hayo jalan sampai di kota raja untuk
tangkap Pekgan Holie! Ada berapakah Pekgan Holie? ... "
Ia memandang pada Siang Moay siapa sudah lantas
pertunjukkan kepandaiannya jalan mondar-mandir, dengan
kadang-kadang berputar dan berlompat. Atas
pertanyaannya Tay Po, nona ini menyahut: "Ada dua!"
Tay Po manggut-manggut.
"Ya, ada dua!" ia kata, seraya ia pun jalan mondar-
mandir, gembrengnya ia bunyikan. "Dua rase itu adalah
satu siluman rase besar, yang satunya lagi siluman rase
kecil! Jikalau kita dapat bekuk rase yang besar, ia masih bisa
dimaafkan," ia tambahkan, dengan suara sengit, "tetapi
yang kecil, ia ini tak akan dapat ampun! Kulitnya mesti
dibeset buat aku bikinkan sabuk! Tulangnya aku nanti bakar
habis beserta dagingnya! Tuan-tuan maukah tuan-tuan
ketahui she dan namaku?" Dan ia tepuk-tepuk dadanya.
"Aku ada Itto Lianhoa Lauw enghiong!" Kemudian ia
tunjuk Siang Moay di atas tambang: "Ia itu ada isteriku,
nona dari keluarga Coa!"
Kembali Tay Po bunyikan gembrengnya semakin seru.
"Rase kecil, rase besar, hayo keluar,'" begitu ia berseru-
seru pula. "Hayo kau keluar. Jangan sampai kemalaman,
nanti aku ... "
Terang si Setangkai Bunga Teratai bukan sedang
menabuh gembreng saja, tetapipun sedang mengumpat caci
atau menantang ke jurusan gedungnya Giok layjin, teetok
dari Pakkhia lama-lama orang bia menduga maksud ini,
maka siapa yang nyalinya kecil sudah lantas angkat kaki
hingga penonton jadi berkurang dengan cepat.
Kemudian datanglah hamba-hamba teetok dengan
cambuk mengusir orang banyak berkerumun itu.
Siang Moay loncat turun dari atas tambang akan sambar
goloknya.
“Jangan sembrono," Tay Po mencegah. '"Kau lihat aku
nanti layani mereka.''
Dua koanjin serta enam bujangnya Giok-tayjin, dengan
garang menghampiri dua tukang dangsu istimewa itu, satu
di antaranya sambil ayun cambuknya tegur Itto Lianhoa:
"Siapa kasih perintah buka pertunjukan di sini?"
Lauw Tay Po tidak menjadi keder.
"Kau hendak ketahui siapa yang perintah kita?" ia jawab
dengan menantang. "Itu adalah Tiat pweelek Tiat jieya,
orang bangsawan kelas satu dari ini kerajaan!"
Orang-orangnya Giok-tayjin itu terperanjat.
"Bukti apa kau ada punya?” satu koanjin tanya.
"Buktinya adalah bahwa aku ada kauwsu dari Pweelek-
hu! Main dangsu adalah untuk pelabi belaka!" sahut Tay Po
sambil tertawa.
“Baiklah aku omong terus terang. Kita datang ke mari
untuk melakukan tugas penyelidikan. Di istana kita ada
kehilangan sebatang pedang lantaran itu pweelek-ya
perintah kita cari pedang itu serta pencurinya. Sesudah
sekian lama diselidiki, ternyata si pencuri ada sembunyikan
diri di dalam suatu gedung. Inilah sebabnya, kenapa, tak
peduli gedung bagaimana besar, aku mesti pergikan untuk
lanjutkan penyelidikan kita!"
Beberapa bujang itu deliki mata mereka.
"Kenapa kau justru datang ke gedung kita saja?" mereka
menegur.
“Lain-lain gedung belum sempat aku pergikan!" sahut
Tay Po, yang masih bisa tertawa terus. "Kita datang kemari
karena gedung ini dekat dengan gedung kita. Demikian
lebih dahulu kita buka pertunjukan di sini ... "
Wajahnya itu beberapa hambanya Giok tayjin menjadi
merah dan pucat, mereka bicara satu pada lain.
"Terang mereka datang kemari untuk mengganggu," kata
yang satu. "Karena sudah nyata mereka hendak bikin malu
pada tayjin, bekuk saja padanya!"
Meski begitu, mereka toh tidak berani ambil tindakan.
Akhirnya kedua koanjin ngeloyor ke timur.
"Jangan kau pergi dahulu!" kata satu dari beberapa
bujang itu. "Kita hendak memberi warta pada tayjin untuk
memohon putusannya ..."
"Siapa tayjinmu itu?" Tay Po berpura-pura.
"Tayjin kita ialah teetok Giok cengtong! Binatang, hati-
hatilah dengan batok kepalamu!" kata satu bujang.
"Oh, ianya?" kata Tay Po sambil bersenyum ewah. "Bila
ia yang datang, itulah kebetulan kita memang hendak
kasihkan pertunjukan untuk minta persenan!" Lantas ia
berpaling pada Siang Moay: "'Kawan, jangan diam saja!
Hayo kau berikan pertunjukan lagi, untuk menyenangkan
hatinya beberapa tuan-tuan ini, mereka ini hendak
datangkan kita Malaikat Uang!"
Siang Moay tertawa, tetapi ia segera lompat pula ke atas
tambang memulai lagi pertunjukannya sedang Tay Po pun
mulai dengan gembrengnya, yang menerbitkan suara
berisik.
"Sungguh berjodoh yang kita bisa bertemu Giok
cengtong!" ia kata dengan ocehannya. "Cengtong dan aku
adalah rang-orang asal satu kampung! ... "
Satu budak gusar karena ia anggap tukang dansu kurang
ajar, ia menghampiri untuk cegah ocehan terlebih jauh,
tetapi Tay Po dengan berani telah sambut orang dengan
dupakan, sampai hamba itu rubuh terguling!
Siang Moay lompat-lompatan di atas tambang, sembari
tertawa cekikikan.
"Mereka tak tahu bahwa kau adalah saudaranya
cengtong!" ia kata.
"Dan cengtong punya siocia adalah ibu angkatmu!" ia
tambahkan.
Orang-orangnya Giok-tayjin jadi gusar sekali, hingga
mereka mengepal-ngepal tinjunya.
"Binatang, kau benar-benar ngaco belo!" mereka berseru.
Tapi Tay Po bikin satu gerakan menyapu dengan sebelah
kakinya.
"Tuan-tuan, jangan maju! Kalau kau kena bentur kakiku,
kau akan merasai kesakitan!" ia mengancam. Dan ia
perdengarkan pula suara berisik dari gembrengnya. Segera
ia menyanyi:
"Di dalam gedung Giok cengtong ada dipelihara
beberapa ekor anjing ... “
Coa Siang Moay dari atas tambang menimpali kawannya
itu dengan tangan menunjuk-nunjuk ke gedung:
"Juga ada dipiara dua ekor rase yang pandai lompat naik
ke atas tembok!"
Segera juga tertampak dari jurusan timur ada mendatangi
belasan koanjin atau hamba polisi yang sikapnya garang,
sedang tangan mereka pada memegang golok dan thiecio,
tambang dan belengguan leher.
Melihat datangnya rombongan itu, Tay Po menoleh
pada nona Coa.
"Kawan-kawan sudah datang, lekas siap! Giok-tayjin
rupanya mau undang kita pergi ke kantornya! ..., ''
Siang Moay menurut, ia loncat turun.
Lekas sekali, belasan koanjin itu sudah sampai di
depannya dua tukang dangsu itu, malah salah satu
antaranya segera kalungi Tay Po dengan rantai.
“Ini benar," kata Tay Po, seraya serahkan gembrengnya
pada satu koanjin. "Dengan mengalungi aku apakah kau
mau bikin aku jadi seperti kunyuk?"
Satu koanjin gusar, ia menggaplok.
Tay Po terima itu dengan tak berkelit atau menangkis,
bahkan ia bersenyum.
"Gaplokan kau bersuara nyaring!" ia kata. "Tapi baiklah
kau buka matamu! Lihat biar nyata, siapa ini Lauw Tay Po!
Bila sebentar madap di kantor, Giok si tua bangka pasti
akan merdekakan aku! Atau jika ia tidak melepaskannya,
kita bikin perkara menjadi besar! Buat aku, batok kepalaku
tak ada artinya, tetapi ia, kopiah kebesarannya tak akan
dapat dipertahankan pula!" Ia menoleh pada Siang Moay:
"Kawanku, jangan takut, besarkan nyalimu! Dalam perkara
ini pasti kita akan peroleh kemenangan!"
Siang Moay pun telah turut terbelenggu.
"Jangan kau rejang aku!" kata nona itu. "Awas, jika kau
berlaku kasar, aku nanti damprat kau semua! Jangan
dorong-dorong aku, aku mampu jalan sendiri! Oh, kelinci,
binatang cilik!"
Tay Po lantas jalan di depan dengan gembira atau agung-
agungan, juga Siang Moay tak kurang beraninya, hanya ia
jalan dengan kepala tunduk.
Di sepanjang jalan, ada banyak orang yang menyaksikan
dari kejauhan.
Giok-tayjin sedang duduk di kantornya ketika Tay Po
dan Siang Moay sampai, dan kapan ia dengar "orang-orang
yang bikin kacau di depan rumahnya" sudah tertangkap, ia
terus perintah hadapkan mereka.
Tay Po unjuk hormatnya pada teetok, ia bersikap
sewajarnya dan bebas.
"Apakah tayjin ada baik?" ia tanya sembari tertawa.
Giok-tayjin gebrak meja.
"Kurang ajar!" ia membentak. "Kau berani kurang ajar di
kantor sini?"
Dari kedua pinggiran, opas-opas pun turut membentak:
"Jangan kurang ajar!" Kemudian mereka paksa dua tukang
dangsu itu tekuk lutut
Giok-tayjin murka sehingga kumis dan jenggotnya yang
ubanan bergerak-gerak.
"Siapa kau?" ia tanya dengan sengit. "Apa she dan
namamu?"
"Aku ada orang she Lauw nama Tay Po, di luaran orang
juluki aku Itto Lianhoa, si Setangkai Bunga Teratai," sahut
Tay Po, tetap dengan tenang sekali. "Di Pweelek-hu aku
bekerja sebagai kauwsu dengan dapat perlakuan sangat
baik, sedang sekarang aku tengah menjalankan tugas.
Pweelek-hu telah kecurian sebatang pedang mustika, yang
bisa dipakai menabas besi dan baja, karena itu, pweelek-ya
titahkan aku cari pedang itu dan pencurinya. Aku tidak
mau bekerja dengan terang-terangan, demikian aku ajak
nona ini menjual pertunjukan untuk menyerepi si pencuri
pedang. Nona ini adalah gadisnya pantauw Coa Tek Kong
dari Hweeleng. Ia datang kemari sebulan yang berselang
dengan tugas menyelidiki orang jahat. Sebagai bukti bahwa
mereka benar ada orang polisi sah, mereka ada melaporkan
diri ke kantor di Wanpeng dan Sunthian hu. Sayang Coa
pantauw telah menemui ajalnya kemarin dahulu di
Touwshia, Tekseng-mui, ketika ia bertempur dengan si
penjahat. Pembesar negeri sudah periksa mayatnya. Si
penjahat adalah Pekgan Holie Kheng Liok Nio, ia sekarang
sembunyikan diri di satu gedung besar di mana ia
menyamar sebagai budak perempuan. Ia ada dibantu oleh
satu muridnya. Ia sudah curi pedang dan bunuh satu hamba
polisi. Ia pun telah gunakan pengemis nama Tiang Ciong
siauwjie sebagai mata-mata, hingga beruntun siang dan
malam ia bisa datang ke pondokan kami mengirim surat-
surat ancaman ... Dan ini adalah surat ancamannya itu!
Silahkan tayjin periksa ... "
Tay Po keluarkan surat ancaman itu dari sakunya.
Hamba yang berdiri paling dekat sambuti surat itu, buat
diperlihatkan pada pembesarnya.
Duduk tegak di kursinya Giok-tayjin baca surat ancaman
itu yang bunyinya dengan sendirinya telah menyebabkan
berubah air mukanya, hingga ia tanya Siang Moay sampai
beberapa kali.
"Tahan mereka ini," akhirnya ia memberi perintah.
Selagi titah itu dijalankan, Giok-tayjin perintah sepuluh
orang polisi pergi ke depan akan menjaga keras pintu besar
buat cegah siapa juga keluar atau masuk, kemudian ia
perintah siapkan kereta, dengan ajak empat pengawal ia
berkendaraan menuju ke Pweelek-hu.
Sementara itu lekas sekali telah tersiar warta bahwa Itto
Lianhoa Lauw Tay Po bersama si nona tukang dangsu
sudah mengacau di depan gedung Giok-tayjin hingga
mereka dibekuk dan ditahan. Tapi, pada jam tiga lohor,
orang segera dapat kenyataan Lauw Tay Po dan si nona itu
sudah dimerdekakan. Orang lihat si Setangkai Bunga
Teratai bersama si nona jalan-jalan dengan sikapnya yang
gembira dan jumawa, mereka mondar-mandir perlihatkan
diri di Hoawan Taywan ...
Kapan kemudian Lauw Tay Po sampai di depan
rumahnya, di depan pintu sudah menantikan seorang lelaki
dengan tubuh tinggi besar, dengan pakaian ringkas dan
golok di tangan!
“He, kenapa baru sekarang kau pulang?" orang itu
menegur dengan suara yang nyaring. "Aku lelah tunggui
kau sampai hilang sabar!"
Tay Po tertawa.
"Oh, benar-benar kau beradat keras, Sun toako!" ia kata.
"Aku minta kau datang malam, kenapa kau justru datang
masih begini siang?”
"Aku tak dapat menunggu lagi! Sehabis dahar aku lalu
datang kemari!"
"Bagus!" berseru Tay Po. "Memang, dengan meminta
bantuanmu, aku tak pernah gagal!"
Lantas Tay Po perkenalkan Siang Moay, setelah mana,
ia undang sahabat itu masuk ke dalam rumahnya. Pada
sahabat ini ia tidak berani tuturkan peranan apa tadi mereka
sudah mainkan di depan Giok teetok, sebab ia tahu piauwsu
ini adatnya ada keras sekali. Dulu pun di waktu ikut Siu
Lian ke Hoolam, di sepanjang jalan si sembrono ini telah
bikin nona Jie jadi sangat pusing.
"Masaklah air dan seduh teh," Tay Po minta isterinya
setelah mereka berada di dalam, sedang Sun Ceng Lee
dipersilahkan duduk.
Selagi mereka berunding dengan cara bagaimana akan
bekuk penjahat, di luar terdengar suara pintu diketok.
Sun Ceng Lee sambar goloknya dan lari ke luar, Tay Po
segera susul padanya.
Yang minta pintu ternyata adalah Tek Lok yang baru
pulang. Ia terperanjat ketika dapat lihat seorang tinggi besar
dan bersenjata golok keluar memburu, hingga mukanya
menjadi pucat. Tetapi Sun Ceng Lee kenalkan koankee itu.
"Toako sabar," kata Tay Po, yang ajak sahabat itu masuk
pula. "Penjahat tidak nanti berani datang di waktu begini!
Itu ada tuan rumahku."
III
Selagi Ceng Lee manggut, kedengaran suaranya Tek
Lok: "Pweelek perintah kau lekas datang menghadap!"
"Aku tahu," sahut Tay Po. Kemudian ia kata pada Ceng
Lee: "Sun toako, harap kau suka duduk sebentar. Pweelek-
ya panggil aku, aku perlu segera menghadap padanya. Aku
akan lekas kembali. Saudara misanku Yo Kian Tong juga
akan datang kemari. Aku percaya, sebentar malam penjahat
mungkin akan datang, maka waktu itulah aku sangat
mengandal padamu. Sekarang silahkan kau beristirahat!"
"Ya, tetapi kau mesti lekas kembali!" Ceng Lee pesan.
Tay Po berikan janjinya dan lantas pergi bersama Tek
Lok.
“Kau lakukan keonaran macam apa hari ini?" tanya Tek
Lok. Selagi mereka berada di tengah jalan. "Kalau tidak ada
pweelek-ya yang menanggungnya, Giok-tayjin tentu akan
berikan hukuman padamu.”
"Jikalau tidak ada pweelek-ya sebagai penunjang, aku
pun tidak nanti berani berbuat demikian!" jawab Tay Po
sambil tertawa.
"Sekarang Giok-tayjin masih ada di istana," Tek Lok
memberi tahu. "Ia ada sangat mendongkol dan gusar. Ia
mau kau unjuk macamnya penjahat yang ada di rumahnya
itu!"
Tay Po tertawa.
"Aku toh tidak sebut si penjahat ada sembunyi di dalam
gedungnya!" ia kata. "Tadinya aku sudah pikir akan tilik
setiap gedung, begitulah karena gedungnya yang terdekat,
maka lebih dahulu aku pergi ke gedungnya Giok-tayjin."
"Pengakuanmu ini siapa pun tak akan percaya bahwa
perbuatanmu tadi bukannya tanpa maksud. Memang, sejak
beberapa hari di luaran kau uwarkan cerita yang si penjahat
berada di gedungnya Giok-tayjin, dan tadi pun di depan
gedungnya kau telah memaki kalang kabutan. Apa ini
belum cukup terang bahwa kau menyangka si penjahat ada
di gedungnya teetok?"
“Aku tidak memaki," Tay Po tetap menyangkal.
Pembicaraan mereka berakhir waktu mereka sudah
sampai dan Tek Lok masuk lebih dahulu akan memberi
kabar, kemudian ia keluar pula akan ajak kauwsu itu
masuk.
Tampang mukanya Tiat pweelek tidak sabar
sebagaimana biasanya.
"Kenapa tadi kau pergi bikin kacau di depan gedung
Giok-tayjin?" orang bangsawan ini lantas saja menanya.
Tay Po unjuk hormat yang dalam ketika ia menyahut:
"Aku tidak membikin kacau, aku tidak berani. Karena
kemarin aku terima tugas dari pweelek-ya, maka ini hari
aku mulai dengan penyelidikanku. Aku bekerja untuk cari
pulang pweelek-ya punya pedang mustika ... "
Giok-tayjin ada di sampingnya tuan rumah, ia tak tahan
sabar lagi, hingga ia campur bicara.
“Lauw Tay Po," demikian tegurannya, "tentu kau telah
menduga bahwa si penjahat ada sembunyikan diri di dalam
gedungku?"
"Itulah aku tidak berani bilang," menyangkal Tay Po,
yang pandai bicara. "Hanya ketika Coa pantauw hendak
menutup mata, ia telah beritahukan anak perempuannya
bahwa si penjahat sembunyi di dekat-dekat Kouwlauw, di
dalam suatu gedung ... "
Giok-tayjin berbangkit.
"Sekarang aku mau bawa kau ke gedungku!" ia kata
dengan nyaring. "Di sana kau boleh kenalkan orang-
orangku! Bila kau bisa tunjuk orang yang tersangka, orang
itu aku akan segera hadapkan pada pembesar negeri,
kemudian aku sendiri akan menghadap sri baginda untuk
menerima putusan hukuman! ... "
"Aku tidak berani pergi mengenali, tayjin," Tay Po
menolak. “Ketika pertempuran terjadi di Tekseng-mui,
langit sudah gelap, hingga aku tak dapat melihat tegas
romannya penjahat itu. Apa yang aku tahu adalah penjahat
itu seorang perempuan tua, yang pinggangnya sudah mulai
melengkung, tangannya menyekal tongkat panjang seperti
toya, yang terbikin dari baja. Itulah senjatanya. Ia bongkok
dengan berpura-pura dalam penyamarannya, sebenarnya ia
ada jangkung melebihi aku."
Nampaknya Giok teetok ada sedikit terperanjat.
"Iapun punya satu murid yang umurnya kira-kira
duapuluh tahun," Tay Po memberi tahu lebih jauh. "Itu
murid ada bertubuh kecil dan langsing, pakaiannya serba
hijau. Ia ini adalah si pencuri pedang yang tulen, si
pembunuh yang sejati. Setiap malam ia satroni aku akan
ganggu kita. Ia telah tinggalkan uang di atas pembaringan
kita dan tinggalkan surat ancaman mendesak kita untuk
menyingkir dari kota ini. Karena kita ketahui rahasianya, ia
merasa tidak tenteram adanya kita di sini! Demikian ia cari
jalan untuk usir kita!"
Tay Po keluarkan surat ancaman tadi malam dan surat
ancaman ini ia persembahkan pada Tiat pweelek.
Pangeran Boan itu tertawa waktu ia sudah baca surat
ancaman itu.
"Penjahat itu pandai menulis huruf indah!" ia kata
dengan pujiannya.
Sebaliknya daripada pweelek itu, Giok-tayjin merasa tak
enak sendirinya.
"Sama sekali orang-orangku lebih daripada seratus jiwa,"
ia kata kemudian, "bisa menjadi umpama kata ada orang
jahat yang nyelundup di antaranya. Sekarang ini aku telah
perintah lakukan penjagaan akan larang siapa juga masuk
dan keluar dengan tiada perlunya. Sekarang aku mau
pulang untuk bikin peperiksaan, andaikata benar ada
kedapatan orang jahat, aku akan bekuk padanya dan aku
sendiri pun ingin minta hukuman!"
Ia lalu berpamitan dari Tiat pweelek.
"Selanjutnya kau tidak boleh berlaku lancang," Tiat
pweelek, kemudian nasehati Lauw Tay Po. "Jikalau kau
pergi pula ke suatu gedung dan bikin onar di sana, aku tak
nanti mau melindunginya pula!"
Tay Po berikan janjinya, dan minta perkenan akan
undurkan diri. Ia ada sangat girang. Justru sang magrib
sudah mendatangi, ia pulang dengan lekas.
Sementara itu di rumahnya sudah datang lima
sahabatnya, ialah di sebelahnya Sun Ceng Lee, yang lain-
lainnya adalah Tenggan Sie Pat, Cengtauw Pheng Kiu,
Hoagujie Lie Seng, dan Thieloto Nio Cit. Semua mereka ini
adalah orang-orangnya YoKian Tong yang datang dengan
senjata lengkap, untuk bantu membekuk penjahat.
Di lain pihak, Toh Tauw Eng pun datang dengan warta
bahwa Tiang Ciongsiauwjie sudah dicekuk orangnya teetok
dan digiring ke kantor teetok itu.
"Bagus!" kata Tay Po dengan girang. "Kelihatannya
tindakan kita ini hari tidak akan gagal! Kita sekarang tinggal
lihat saja kepandaiannya itu kedua penjahat, mereka bisa
lolos atau tidak dari tangan kita!"
Sebentar kemudian, cuaca telah mulai menjadi gelap.
Di Kouwlauw, di gedungnya Giok teetok, malam itu ada
dibikin penjagaan kuat. Teetok pun sudah sampai di
gedungnya dengan dikawal oleh dua pengawalnya, Kui Lay
dan Lok Lay. Ia ada seorang yang sudah berusia
enampuluh tahun lebih, pernah pangku beberapa jabatan
tinggi, jasanya pun sudah banyak. Dua anaknya laki-laki
telah menjadi tiehu di luar wilayah Titlee. Maka itu, ia ada
seorang dengan kedudukan tinggi. Tetapi kini ia toh kena
dipermainkan oleh satu Lauw Tay Po, yang ia pandang
sebagai seorang tukang luntang-lantung, tidak heran kalau
ia telah jadi sangat mendongkol dan penasaran.
Penjaga-penjaga di muka pintu unjuk hormatnya waktu
Giok teetok melawat masuk.
Biasanya, jikalau teetok pulang dari bepergian, ia masuk
langsung ke dalam untuk salin pakaian, tetapi ini kali tidak,
hanya ia menuju terus ke kamar tetamu. Kamar ini ada
sepi, tidak ada seorang pun tertampak di situ. Di sini ada
terdapat banyak perabotan mahal dan antik yang terawat
baik, tetapi itu waktu, kamar ada gelap gulita. Maka Kui
Lay lekas-lekas nyalakan dua batang lilin, yang ditancap
atas sepasang ciaktay perunggu, yang pun ada barang tua.
"Api!" kata Giok teetok ketika ia telah bertindak ke sudut
timur.
Kui Lay dan Lok Lay datang mendekati dengan masing-
masing sebuah ciaktay di tangan, mereka berdiri di kiri dan
kanan majikan itu.
Giok-tayjin dongak memandang tembok. Di atas itu ada
digantung sepasang lian yang huruf-hurufnya indah, Lian
itu pemberian dari keponakannya bernama Lou Kun Pwee,
satu tamhoa.
Setelah memperhatikan huruf-huruf itu sekian lama,
Giok-tayjin keluarkan dari sakunya surat ancaman yang
tadi ia dapatkan dari Lauw Tay Po, yang berbunyi:
"Dalam tempo tiga hari, jika kau berdua tak menyingkir
dari kota raja ini, bencana besar akan menimpa dirimu!"
Ia pandang lian dan meneliti surat itu berulang-ulang
dengan bergantian, sedang pada wajahnya, dengan
perlahan-lahan memperlihatkan perubahan, dari heran
menjadi kaget.
"Terang ini ada buah tangannya satu orang!" akhirnya
teetok ini berpikir. Dengan tangan bergemetaran ia usap-
usap kumis jenggotnya yang putih. "Inilah aneh," demikian
ia berpikir lebih jauh. "Lou Kun Pwee ada anak muda yang
aku paling sayang, ia sering datang kemari. Aku sudah pikir
akan ambil ia sebagai baba mantuku."
"Ia ada lulusan cinsu nomor tiga yang paling belakang, ia
ada jadi pengarang di dalam Hanlim-ih, sedang ayahnya
pernah menjabat Kongpou Sielong. Apa bisa menjadi yang
ia jadi penjahat? Inilah aneh, inilah aneh! Tak mungkin! ... "
Ia lantas simpan pula surat ancaman itu, ia keluar dari
ruangan tetamu itu dengan bertindak perlahan-lahan
sampai di dalam.
Budak-budak sudah lantas mengasih kabar ke
pedalaman. "Tayjin pulang!" katanya.
Itu waktu, penerangan telah dinyalakan di sana-sini.
Di kamar utara, kamarnya Giok thaythay, pintu sudah
lantas dipentang dan muilie disingkap. Dua budak
perempuan muncul akan melakukan penyambutan.
"Tayjin baru pulang!" mereka menyambut.
Biasanya Giok-tayjin belum pernah mengawasi atau
perhatikan budak-budak atau bujangnya, tetapi hari ini ia
ada sangat beda daripada biasanya, dengan teliti ia
mengawasi dua budak itu.
"Ah, tayjin pulang!" thaythay menyambut.
Suami itu manggut, ia bertindak ke pembaringan di atas
mana ia duduk.
Satu budak segera datang membawakan teh, dan satu
yang lain dengan cuihun.
"Apakah, tayjin sudah dahar?" thaythay tanya.
"Sudah di Pweelek-hu," sahut suami itu sambil manggut.
Nyonya teetok pandang suaminya, sikap siapa ada beda
daripada biasanya, ucapannya pun ringkas sekali, hingga ia
tak berani banyak omong. Giok teetok hisap huncwee-nya,
beberapa kali ia kepulkan asapnya yang tebal, kemudian ia
melirik pada budak-budaknya, atas mana semua hamba itu
segera undurkan diri. Hingga di dalam kamar itu tinggal ia
dan isterinya saja.
"Ada terjadi hal aneh," ia kata kemudian pada isterinya,
pada siapa ia tuturkan kejadian itu. Ia pun perlihatkan surat
ancaman itu.
Giok thaythay ada heran luar biasa.
"Apakah bisa menjadi Kun Pwee ada hubungannya
dengan perkara ini?" ia tanya.
"Pasti tidak!" sahut sang suami. "Ia ada satu hanlim dan
berbadan gemuk sekali, cara bagaimana ia bisa menjadi satu
huicat, penjahat yang bisa lari cepat dan loncat tinggi?" ia
lalu minum tehnya. "Hanya Lauw Tay Po katakan," ia
meneruskan dengan perlahan, "katanya Pekgan Holie
Kheng Liok Nio, itu penjahat, telah sembunyikan diri di
dalam gedung kita sebagai bujang perempuan, usianya
sudah lima-puluh lebih dan tubuhnya melengkung ... pun ia
punyai murid yang umurnya kira-kira duapuluh tahun,
bertubuh kecil langsing, yang mungkin ada salah satu budak
kita ... Apakah tidak menguatirkan andaikata benar di
antara semua hamba itu ada terdapat si penjahat? Karena
ini, tadi aku telah perintahkan jaga gedung kita buat larang
orang sembarangan keluar dan masuk. Aku pikir sekarang
aku hendak kumpulkan semua hamba kita, lelaki dan
perempuan, untuk diperhatikan kalau-kalau di antaranya
ada yang sikapnya mencurigakan, kita kasih ontslag dan
berikan ia dua bulan gaji serta suruh ia pergi dengan segera!
... "
"Tidak!" thaythay kata, sambil ulapkan tangan. "Tidak,
itu tak dapat dilakukan!"
Giok teetok pandang isterinya, sebagai orang yang
hendak minta penjelasan.
"Lauw Tay Po ada satu buaya darat!" kata nyonya agung
itu. "Siapa tahu jikalau ia pakai pengaruhnya pweelek-ya
untuk memeras kita?"
"Itulah tak bisa jadi," kata Giok teetok sambil geleng
kepala. "Kemarin ini di Touwshia, di luar Tekseng-mui,
sudah ada satu hamba polisi dari luar Pakkhia, yang telah
binasa di tangannya si penjahat. Hamba itu datang kemari
bersama gadisnya dengan menyamar sebagai tukang-tukang
dangsu untuk bikin penyelidikan. Kabarnya mereka sering
buka pertunjukan di depan kita dan anak kita si Liong pun
suka nonton pertunjukannya itu."
Nyonya teetok berdiam, ia berpikir.
"Bujang dan budak kita benar banyak, tetapi mereka
dapat dihitung," ia kata kemudian. "Di antara budak-budak
perempuan, empat masih kecil. Dari budak-budak tua, yang
aku percayakan, See-ma dan Cia-ma sudah ikuti aku
banyak tahun, mereka telah rawat aku sejak kita tinggal di
Sinkiang. Dua yang lain ada Keng-ma dan Thio-ma.
Mereka benar ada orang-orang baru, tetapi mereka terang
asal-usulnya dan usianya pun belum terlalu tua. Di sana ada
Ouw-ma Kho sunio, yang rawati anak kita si Liong, tetapi
kau kenal ia dengan baik, ia telah ikuti kita sudah lima atau
enam tahun, sampai sebegitu jauh ia belum pernah lakukan
kesalahan apa juga. Kalau dibilang yang bongkok, itulah
cuma Phang-ma, yang rambutnya sudah ubanan, tetapi ia
ada punya penyakit bengek. Toh ia ada babu susu dari
putera sulung kita, yang bekerja pada kita sejak setahun
menikahnya kita. Apakah ia bisa tak dipercaya?"
Sekarang ada gilirannya Giok teetok yang berdiam. Tiba-
tiba ia ingat Kho sunio, dan teringat kejadian pada lima
tahun yang berselang, ketika mereka masih sama-sama
berada di Sinkiang (Turkestan Tionghoa). Untuk belasan
tahun ia telah jadi orang peperangan yang kenamaan.
Ketika itu adalah si Liong, atau Kiauw Liong, puterinya,
yang ikuti ia. Dalam umur enam tahun, Kiauw Liong sudah
bisa baca buku dan menulis. Gurunya si nona ada satu guru
tua, satu siucay banrut dari Inlam bernama Kho In Gan.
Guru ini ada seorang luar biasa, kecuali ilmu surat, ia pun
pandai menggambar dan indah tulisannya, pun
pengetahuannya dalam urusan ilmu perang ada luas. Dalam
beberapa pertempuran yang berhasil, Giok-tayjin ada
mengandal buah pikirannya guru sekolah ini. Maka itu,
selain jadi guru sekolah di dalam rumah, Kho In Gan
berbareng pun jadi penasehat di dalam kantor atau kemah.
Guru ini hidup bersendiri, belum pernah ia ceriterakan
tentang keluarganya. Kesukaannya adalah pesiar, setiap tiga
tahun ia tentu pergi melancong atau merantau, dan setiap
kalinya pergi, sedikitnya untuk setengah tahun. Pada lima
tahun yang berselang, Kho In Gan kembali dari pesiar
dengan ajak seorang perempuan yang ia perkenalkan
sebagai isterinya. Mereka tinggal sama-sama di dalam
kantor. Dua tahun kemudian sejak pernikahannya itu, Kho
In Gan mendapat sakit yang meminta jiwanya, hingga Kho
sunio, isterinya, hidup sebatang kara. Karena ini, kemudian
ia diterima di dalam gedung Giok-tayjin, sebagian sebagai
bujang tukang menjahit dan sebagian sebagai tetamu.
Semua orang di dalam gedung, majikan dan bujang, telah
panggil Kho sunio pada nyonya guru ini dan ia terima
panggilan itu.
Kini, mengingat nyonya guru itu, Giok teetok hanya
menaruh curiga. Tapi, yang dicurigai adalah suaminya
almarhum. Sebab ia sendiri walau sudah bemmur
limapuluh lebih kurang, tubuhnya tidak bongkok dan tak
suka banyak bicara. Ia ada pendiam dan tahu aturan. Sudah
berjalan empat atau lima tahun, gawenya nyonya guru ini
adalah terus menjahit, belum sekalipun melakukan
kesalahan.
Giok-tayjin urut-urut kumis dan jenggotnya, ia mesti
berpikir keras.
"Tidak, di gedungku tidak ada Pekgan Holie ... " ia
berpikir. "Tidak ada budak perempuan lain yang dapat
dicurigai. Budak atau bujang selebihnya adalah lelaki
semua."
"Dalam hal ini baiklah tayjin berlaku tenang," kemudian
nyonya teetok peringatkan suaminya. "Di luar dan di
dalam, kita memang harus menjaga baik-baik, tetapi
walaupun demikian, kita jangan kentarakan itu. Kita
berjaga-jaga agar si penjahat tak bercuriga dan melakukan
lain-lain kejahatan. Umpama benar di gedung kita tak ada
orang jahat, tetapi kalau kita bikin banyak berisik, orang
luar niscaya akan tertawakan kita ... "
Suami itu manggut. Kata-kata isterinya benar adanya. Ia
sedot pula huncui sampai dua kali.
"Besok baik kita panggil Kun Pwee datang kemari, kita
perlihatkan surat ancaman ini padanya," kemudian ia
berkata pula.
Giok thaythay tertawa.
"Menurut pendapatku, tak ada perlunya beritahukan
Kun Pwee tentang peristiwa ini," ia nyatakan. "Kalau ia
mendapat tahu, ia pasti akan jadi gusar. Kau tentu
mengetahuinya, sejak jaman purbakala sehingga kini, di
mana ada hanlim yang menjadi pencuri?"
Giok teetok bersenyum.
"Memang banyak tulisan-tulisannya yang bagus tersiar di
luar, tetapi ada aneh yang penjahat bisa tiru tulisannya
demikian surup ... “
Mengenai ini, Giok thaythay pun heran. Cuma, karena
lihat suaminya tidak lagi berduka seperti tadi, pikirannya
pun turut terbuka. Begitulah ia bisa tertawa.
"Beruntung si Liong tidak sampai dirangkapi jodohnya
dengan ia!" kata ia.
Mendengar isterinya itu, Giok-tayjin lantas ingat satu hal
lain. Ia menghela napas, agaknya ia masgul.
"Sebenarnya, Kun Pwee adalah satu pemuda yang
pintar," ia kata. "Baru berumur duapuluh empat tahun, ia
sudah menjadi tamhoa dan masuk dalam Hanlim-ih! Jarang
ada orang sepintar ia. Sejak ibunya menampik siocia dari
Tan Tiongtong, ia sebenarnya sudah menjadi timpalan dari
anak kita si Liong, maka asal fihak Lou timbulkan soal
perjodohan mereka berdua, kita boleh lantas terima
lamarannya itu. Kedua keluarga memang bersahabat rapat,
maka apabila perjodohan diikat, perhubungan jadi terlebih
erat pula. Sekarang si Liong telah berusia delapan belas
tahun, perlu jodohnya kita persoalkan."
Giok thaythay agaknya masgul mendengar ucapannya
suami itu.
"Rupa-rupanya si Liong telah dapat tahu yang kita
hendak recoki jodohnya," ia nyatakan. ''Agaknya ia tak
begitu setuju dengan perjodohannya ini. Harus diakui
memang Kun Pwee ada muda dan pintar, akan tetapi
romannya ada tolol-tololan ... "
Giok teetok tidak senang mendengar kata-kata itu,
mukanya tiba-tiba jadi merah.
"Urusan jodohnya satu anak perempuan bagaimana bisa
diserahkan pada si anak perempuan sendiri?" ia kata dengan
sengit. "Aku justru ingin tetapkan perjodohannya,
kemudian kita lantas larang ia sering-sering melangkah
keluar dari pintu! Apa artinya akan satu gadis berdiri di
muka pintu menonton segala pertunjukan dangsu?"
Giok thaythay tidak berani banyak omong akan tentangi
suaminya itu.
Giok teetok isap pula cuihun beberapa kali, lantas ia
bangun dan ngeloyor ke kamarnya di mana ia salin
pakaian.
Cepat sekali sang waktu sudah hampir jam dua.
Menurut aturan di gedung teetok ini, setelah jam dua,
semua penerangan mesti dipadamkan dan semua orang,
kecuali yang giliran menjaga malam, mesti mulai
beristirahat. Demikian pun Giok thaythay, ia mengeram di
dalam kamarnya dengan cuihun tak ketinggalan, ia duduk
dengan masgul, otaknya bekerja.
"Siocia datang!" tiba-tiba suaranya Sie-ma, si budak tua,
yang mendampingi nyonya besar itu.
Adalah aturan orang Boan, satu puteri atau putera atau
nyonya mantu, setiap pagi atau malam mereka mesti
ketemui orang tua atau mertua mereka buat mengasih
selamat pagi atau sore dan menanyakan kesehatannya.
Aturan ini tidak menjadi kecuali bagi Giok Kiauw Liong.
Sehabisnya memberi hormat, sembari tertawa Kiauw
Liong tanya ibunya:
"Bu-cin, ini hari di rumah kita ada urusan apa? Tadi Kho
sunio mau pergi pasang hio di kuil, ia tak dikasih keluar
oleh penjaga pintu."
Terhadap ibunya itu nona ini sangat manja bagaikan
anak kecil. Ia tertawa, kepalanya dibuat main, hingga
perhiasan dan mutiara di rambutnya turut memain di antara
sinar api. Rambutnya hitam mengkilap. Tubuhnya yang
kecil langsing tertutup oleh kiepauw sutera warna hijau
yang tersulam indah. Kancingnya atas pun ada diganduli
mutiara dan kumala. Sepasang anting-antingnya bergoyang
memain di antara sinar penerangan. Ia memang ada satu
nona yang cantik molek dan menarik hati.
Melihat puterinya itu, Giok thaythay lantas perintahkan
semua budaknya undurkan diri, kemudian ia tuturkan
semua pembicaraan dengan suaminya tadi pada puterinya
ini.
Giok Kiauw Liong tidak jadi kaget mendengar
keterangan itu, melainkan sepasang matanya bersorot
tajam. Baru belakangan ia nampaknya sedikit masgul.
"Di rumah kita toh tak ada orang yang dapat dicurigai!"
ia kemudian kata.
Sang ibu manggut.
"Aku memang tak percaya di rumah kita ada
bersembunyi orang jahat. Tapi ayahmu ada dapatkan
sehelai kertas, tulisannya seorang jahat. Menurut ayahmu,
itu ada tulisannya Lou Kun Pwee!"
"Lou Kun Pwee memang bukan orang baik, tetapi ayah
justru perintah ia suka sering datang kemari!"
Nyonya Giok menghela napas.
"Bagaimana kau bisa mengucap demikian, anak?" ia
kata. "Keluarga Lou adalah sanak kita. Lou Kun Pwee
sendiri ada satu tamhoa muda dan haksu dan Hanlim-ih ...
"
Nampaknya si nona jadi gusar.
"Kenapa toh ia jadi penjahat dan membunuh orang
juga?" ia tanya.
Kembali nyonya itu menghela napas.
“Bagaimana ia bisa menjadi penjahat?" ia balik
menanya. "Dalam halnya derajat, keluarga Lou ada terlebih
atas daripada pihak kita. Aku duga penjahat sudah tiru
tulisannya ... "
Kiauw Liong bersenyum dingin.
"Apakah benar satu penjahat perlu meniru tulisan
orang?" ia tanya pula.
Alis Giok thaythay jadi melengkung bahna kesalnya.
"Nampaknya ayahmu sudah pasti dengan niatannya," ia
kata dengan perlahan tetapi sungguh-sungguh. "Ia
menunggukan peminangannya pihak Lou, ia hendak terima
itu dengan baik. Aku lihat, meskipun Kun Pwee tolol,
tapinya ia ada pintar."
Mendengar ini, mukanya Kiauw Liong menjadi pucat
dan lesu dan air matanya segera keluar membasahi bulu
matanya yang lentik itu. Giok thaythay ketahui hati
puterinya, ia menghela napas. Ia pun berduka.
"Tetapi soal ini masih belum diputuskan," ia coba
membujuk. "Dalam dua hari ini, ayahmu ada sangat
pusing, ia tentu tak punyai kesempatan untuk mengurus
soal perjodohanmu. Bersabarlah dan tetapkan hatimu,
jangan kau berduka, nanti aku perlahan-lahan berdaya akan
cegah niatan ayahmu itu. Nah, pergilah kau tidur ... "
Dengan sangat berduka Kiauw Liong lalu undurkan diri.
"Silahkan siocia tidur," kata budaknya yang menunggui
di luar kamar thaythay.
Kiauw Liong manggut, ia jalan terus. Budak Siu Hiang
ikuti ia.
Di muka kamarnya sendiri, si nona disambut oleh lain-
lain budaknya, yang membawa tengloleng. Kamarnya ada
di sebelah barat.
Itu waktu suara kentongan di luar tepat jam dua. Langit
ada gelap, bintang satu pun tidak ada, agaknya hendak
turun salju sebagaimana angin utara ada meniup-niup keras
membikin api lentera tertiup padam.
Pembaringannya sudah diatur rapi oleh lain budaknya
bernama Kim Sie, dan perapian telah berkobar-kobar. Ia
duduk di dekat perapian.
Siu Hiang hangati tangannya di perapian, setelah itu ia
tolongi nonanya copoti anting-anting, begitupun perhiasan
kepalanya. Kim Sie di lain pihak bawakan teh dalam cawan
perak, ia letaki itu di meja kayu merah.
Kiauw Liong terus duduk dengan diam dan tunduk,
matanya masih basah.
Seekor kucing kecil, yang bulunya panjang dan putih
bagaikan salju loncat naik ke atas pangkuannya si nona
dengan menggusak-gusakkan kepalanya dan perdengarkan
suaranya: meong, meong.
Dengan tangannya yang halus dan lentik, di mana pun
ada cincin-cincin permata, nona Giok usap-usap binatang
peliharaannya yang ia sayang itu, karena datangnya
binatang ini ia mulai menjadi sabar, hingga sebentar
kemudian, tertampaklah senyumannya walau senyuman itu
masih tercampur sisa kedukaan.
Siu Hiang dan Kim Sie turut bersenyum. Mereka ini ada
budak yang pasangan betul, keduanya baru berumur empat
atau limabelas tahun, pakaiannya serupa.
"Siocia, kau nampaknya berduka saja, kenapa?" akhirnya
Siu Hiang tanya.
"Lagi beberapa hari tahun baru akan tiba," kata Kim Sie,
yang tak tunggu jawabannya si nona terhadap kawannya.
"Apakah tahun ini siocia akan ajak kami pergi pula
menyaksikan keramaian seperti tahun yang telah silam?"
"Nanti saja, sesudah tiba waktunya kita bicara lagi,"
sahut Kiauw Liong. "Belum tentu aku bisa hidup sampai
lewat tahun baru ... "
Dua budak itu heran dan terkejut sampai mulut mereka
bungkam, air mata mereka lantas turun.
Melihat demikian, Kiauw Liong sebaliknya tertawa geli.
"Kau berduka untuk apa?" ia tanya. "Lihat, aku tidak
nangis! Nah, pergilah tidur ... "
Dua budak itu tertegun, mereka seka air matanya. Selagi
mereka hendak melangkah pintu kamar, dari luar terdengar
pertanyaan: "Apakah siocia sudah tidur?"
"Belum," sahut Siu Hiang dari dalam kamar. "Silahkan
Kho sunio masuk."
Di ambang pintu kelihatan nyonya yang dipanggil Kho
sunio, atau nyonya guru, yang umurnya lebih kurang
limapuluh tahun, berbadan jangkung dan mukanya
panjang, kulitnya sudah mulai keriputan, sedang rambutnya
sudah ubanan. Ia pakai baju dan celana abu-abu, ujung
bajunya dilapis dengan cita putih. Pada tangannya ada satu
bungkusan dari sutera warna merah dan putih, yang
atasnya tersulam bunga. Ia bertindak masuk sambil tertawa,
bungkusannya itu ia sodorkan pada nona rumah.
"Ini ada kutang yang siocia suruh aku jahit," ia kata.
"Aku lihat kutang ini ada terlalu panjang, baik dipotong lagi
sedikit ... "
Kiauw Liong memeriksa sambil lalu.
"Tidak usah dipotong lagi," katanya. "Kho sunio, kau
juga pergilah tidur. Kutang ini tak akan lantas dipakai,
boleh dikerjakan besok saja."
Kho sunio manggut, ia sambuti bungkusan itu dan terus
undurkan diri.
Sembari bersenyum, Kiauw Liong lantas usap-usap
kucingnya. Ia pun suruh dua budaknya, Siu Hiang dan Kim
Sie, undurkan diri. Setelah tutup pintu, mereka lalu masuk
ke kamar mereka.
Kiauw Liong punya tiga kamar. Di ujung utara ada
sebuah pintu ke mana tadi dua budaknya masuk, di situ
adalah kamarnya budak-budak itu. Kamar sebelah luar ia
pakai untuk menempatkan kim, biji tiokie, kitab-kitab dan
gambar-gambar. Menghadapi jendela ada meja untuk
menulis surat dan melukis gambar. Di musim dingin dari
jendela itu orang bisa lihat pemandangan salju yang indah,
di musim pertama tertampak bunga haytong dan lain-lain
bunga yang permai. Jendela ada memakai kaca yang dilapis
dengan tirai sutera. Kamarnya sendiri ada dibikinkan pintu
berdaun dua yang kuat. Di sini ia tidur sendirian, jauh dari
budak-budaknya. Ia gemar akan kesunyian, ia benci
mendengar suara orang tidur menggeros. Kamarnya itu
dihias dengan gambar-gambar lukisan atau tulisan huruf-
huruf yang indah, yang semua ditandai cap seniwatinya,
ialah "Ie In Hian Cujin". Semua budak ketahui semua
gambar dan tulisan itu ada buah tangan dari si nona sendiri.
Juga di kamar ini, di sebelah kiri jendela, ada meja lengkap
dengan perabot tulis. Di situ ada kedapatan juga dua jilid
kitab "Su Kie" dan "Tong Sie", yang si nona paling gemar
baca selagi iseng. Di sebelah kanan ada meja hias di alas
mana ada dua ciaktay perak. Meja teh pun terletak dekat
jendela dengan dua kursi di kiri kanan, tetapi di atas itu
tidak ada teekoan atau cangkir, hanya sebuah tokpan
kumala dengan setangkai bunga mekar. Jendela kaca, di
sebelah dalamnya dilapis dengan tirai sutera, di luarnya
dilindungi dengan daun jendela kayu. Di luar, di bawah
jendela, ada jalanan dan pekarangan.
Kiauw Liong duduk seorang diri di dekat meja tulis,
tangannya mengusap-usap kucingnya yang bagus dan
mungil, yang rebah di pangkuannya, kemudian ia
berbangkit.
"Soat Houw," ia memanggil dengan perlahan. Demikian
namanya si binatang peliharaan itu, yang berarti "harimau
salju".
Kucing itu buka matanya dan berbunyi, kapan ia diletaki
di lantai, ia terus loncat naik ke atas kursi yang teralas
bantal empuk dan indah, di situ ia rebahkan diri dan tidur
pula ...
Dengan lesu Kiauw Liong hampirkan meja hias. Dalam
kaca ia lihat romannya yang kucel dan tak bergembira.
Dari laci Kiauw Liong tarik keluar satu ciaktay kecil
terbuat dari perak, ia tancap sebatang lilin kecil dan sulut
itu, setelah mana, ia tiup padam dua lilin yang besar, hingga
kamarnya jadi suram. Dengan bawa lilin itu ia bertindak
perlahan ke kamar sebelah luar akan periksa pintu dan
jendela. Kemudian baru ia kembali ke dalam kamarnya dan
kunci pintu. Lilinnya ia letaki di atas meja kecil. Tatkala ia
singkap kelambu, bau harum menyerbu hidungnya. Setelah
salin pakaian tidur, ia naik ke atas pembaringan dan
rebahkan diri dengan berselimut. Ia jemput sejilid buku
yang kecil sekali tetapi tebal, dikulit buku ada tertulis satu
huruf "A" yang berarti "Gagu"'. Dari caranya ia perlakukan
buku itu, mestinya buku itu ada berharga sekali. Dengan
penerangan api lilin yang sekecil itu ia dapat membacanya.
Dengan tak merasa, kentongan sudah berbunyi tiga kali,
suaranya terdengar dari depan terus ke belakang, ke taman
bunga.
Malam itu, orang ronda di gedungnya Giok teetok
diperkuat, tetapi sang malam lewat dengan tidak ada
keonaran apa juga.
Jauh dari gedung ini, juga Itto Lianhoa dan isterinya,
bersama kawan-kawannya, bisa lewatkan sang malam
dengan tenteram, hanya mereka tidak tidur antero malam
itu. Adalah setelah fajar dan cahaya langit mulai terang,
Ceng Lee lemparkan goloknya sampai berbunyi nyaring.
'"Binatang, kau telah pedayakan aku!” kata ia dengan
tiba-tiba seraya tonjok Tay Po. "Lihat, mana ada penjahat
yang datang?"
Lauw Tay Po tertawa.
"Toako, jangan kau gusar," ia kata. "Ini tentu disebabkan
Giok teetok telah bikin penjagaan terlalu keras, atau nama
toako sudah bikin jeri penjahat itu, hingga mereka tak
berani datang! Toako, dan cuwie, terimalah terima
kasihku!"
Lantas Tay Po kiongchiu terhadap semua sahabatnya itu.
"Tidak apa," Sie Pai dan kawan-kawannya berkata.
"Sebentar malam kita nanti datang pula. Dengan datang
kemari, kita jadi tak berjudi di piauwtiam ... Apabila kau
tidak mencela kita, kita suka berdiam di sini sampai
setengah bulan. Kita percaya, adalah si penjahat sendiri
yang nanti angkat kaki dari Pakkhia ini!"
"Ini pun cuma daya penjagaan sementara saja," Tay Po
bilang sambil tertawa. "Buat kita sembunyi saja di dalam
rumah, dengan cuwie yang tetap lindungi kita, itulah
bukannya maksudku. Tiat pweelek telah pesan kita agar
kita jangan terbitkan onar pula, menyesal pesanan itu tak
dapat diturut terus. Isteriku tentu tak akan mau mengerti
sakit hatinya dibikin habis begitu saja. Apakah mertuaku
mesti binasa secara kecewa? Tidak! Kita tunggu sampai
lima hari lagi, akan lihat sikapnya Giok cengtong,
andaikata ia tetap tidak berdaya, sedang di gedungnya ada
mengumpat si siluman rase tua dan muda, aku mesti
jalankan siasat! Hanialah sekarang ini siasat itu aku belum
dapat pikir ... Dengan kecerdikanku dan bantuan cuwie,
nanti datang saatnya aku bikin kedua siluman rase itu
perlihatkan diri dan rampas pulang pedang yang terhilang
itu untuk diserahkan kembali pada pweelek-ya!"
Semua piauwsu itu turut tertawa.
"Baik, baik, kita nanti terus bantu kau sampai di
akhirnya!" mereka berikan janjinya.
"Ya, aku hendak lihat nanti!" kata Sun Ceng Lee, yang
masih uring-uringan. "Jikalau kau hanya permainkan aku,
aku nanti cekuk batang lehermu ... "
"Baik, toako, baik!" Tay Po jawab piauwsu tersohor itu.
"Apabila aku gagal di akhir tahun, aku nanti serahkan batok
kepalaku padamu!"
Semua orang tertawa, tidak terkecuali Siang Moay.
Kemudian Ceng Lee ajak empat piauwsu pulang, dan
Tay Po berdua antar mereka sampai di depan. Kemudian
suami isteri ini masuk dan tidur.
Pada jam tiga, ketika mendusin Tay Po dan Siang Moay
lihat turunnya salju. Nyonya itu terus saja ke dapur buat
masak nasi. Sehabisnya dahar, Tay Po pergi ke Seetay Wan
akan cari Toh Tauw Eng, dan Siang Moay minta pulangnya
dibelikan bahan pakaian.
Sampai sore barulah Tay Po kembali, selagi mereka
bersantap, datang Ceng Lee yang kemudian menyusul
datangnya Sie Pai berempat. Sie Pat ada bawa dadu,
dengan berjudi mereka lewatkan sang malam dengan peng-
an. Beruntun dua malam tiada terjadi suatu apa. Meski
demikian mereka tambah kawan dengan datangnya Toh
Tauw Eng dan Lie Tiang Siu yang kedatangannya untuk
berjudi belaka. Rumahnya Tay Po lantas menjadi serupa
tempat judi!
Tek Lok tidak puas dengan kejadian ini karena merasa
terganggu, ia datang pada Tay Po, ia beritahukan
keberatannya.
"Maafkan aku, Lok-ya," Tay Po kata, sambil menjura.
"Ini ada apa yang dibilang muka terang. Mereka datang
dengan maksud baik, untuk membantu bikin penjagaan,
cara bagaimana mereka bisa ditolak? Mereka berjudi karena
iseng saja."
"Apa yang mesti dijaga?" kata Tek Lok. "Kalau tidak kau
pindah kemari, rumahku ada tenang dan aman! ... "
"Itulah tak dapat dipastikan, Lok-ya ... " kata Tay Po,
yang terus tertawa. "Dahulu memang tak ada pencuri, siapa
tahu kemudian? Andaikata kau tak percaya, baiklah, aku
nanti pindah ... Cuma, seandainya kemudian benar ada
gangguan penjahat, ingatlah meski kau undang kita dan
sediakan meja perjamuan, aku tak akan
mempedulikannya!"
Tek Lok kalah bicara, ia bungkam.
Sebenarnya, Lauw Tay Po sendiri ada ibuk, karena ia
tetap belum berhasil dapat cari dan bekuk si pencuri pedang
mustika. Ia juga tidak merasa enak tinggal bersama Tek Lok
yang ia bikin pusing dengan perjudiannya Sie Pat beramai.
Juga Siang Moay tak setuju perjudian itu yang mengganggu
ketenteramannya, sedangkan ia sangat berduka mengingat
ayahnya yang binasa secara kecewa. Tapi, dalam hal
hidupnya ia puas sekali, karena ia dapatkan Tay Po yang
sangat menyinta ia. Iapun tidak setuju suaminya turut
berjudi, tetapi ia tidak bisa melarang, karena suami itu perlu
temani kawan-kawannya. Malamnya bisa tidur sebab letak
kamarnya jauh daripada kamar tempat berjudi. Tetapi di
waktu siang ia jadi iseng, sebab siangnya Tay Po terus tidur.
Maka jika sedang pepat pikiran, dengan dandanan serba
merah ia suka berdiri nyender di depan pintunya, yang baru
dicat hitam mengawasi beberapa bocah memain di salju
atau berkelahi, atau lewatnya pedagang-pedagang keliling
yang jual segala rupa barang keperluan tahun baru. Ia pun
sudah mulai kenal nyonya-nyonya atau nona-nona
tetangganya, yang seperti ia suka ngeloneng di depan pintu.
Ketika itu ada tanggal limabelas bulan duabelas,
mendekati tahun baru. Tepat sehabisnya Tay Po dan isteri
dahar, rombongannya Sun Ceng Lee telah datang seperti
biasa. Siang Moay dan suaminya sambut semua sahabat itu,
kemudian seorang diri ia duduk terpekur atas
pembaringannya.
"Jangan kau berduka," kata Tay Po, ketika ia masuk ke
kamar dan menghampirkan isterinya itu. Ia bicara dengan
suara perlahan. "Lagi beberapa hari, Sun Ceng Lee dan
kawan-kawannya tak akan datang pula kemari, nanti kita
belanja untuk keperluan tahun baru. Sehabisnya
Goansiauw, kita mulai bekerja pula, akan mencari daya
upaya. Aku percaya, itu waktu nona Jie Siu Lian tentu
sudah dalang kemari. Isengkah kau? Pergilah pada Lok
thaythay, akan pasang omong ...”
"Mereka itu sudah biasa pegang aturan dari kalangan
atas. Kita menikah dengan tak pakai orang perantaraan,
mereka mana pandang mata pada kita? Lebih baik aku pergi
pada Lie Jie-so."
"Pergilah," kata sang suami. "Sekarang masih siang,
pintu aku akan kunci."
Siang Moay berbangkit, ia geser lampu dan berkaca
untuk rapikan rambutnya, setelah mana ia lalu keluar dari
rumahnya. Selagi melewat kamar selatan, ia dengar suara
nyaring dan kaku dari Sun Ceng Lee yang mengancam
kawannya akan jangan main curang ...
Lie Jie-so tinggal berdua dengan suaminya, karena
mereka tak punya anak. Lie Jie kerja di Pweelek-hu juga, ia
pulang setiap jam dua. Bukan baru ini kali Siang Moay
datang pada tetangga itu, maka itu Lie Jie-so tahu yang
Siang Moay sedang urus perkara pedangnya pweelek-ya,
bahwa pada itu ada tersangkut si pencuri yang disebut
Pekgan Holie. Dalam percakapan Lie Jie-so menuturkan,
menurut engko-nya yang bekerja sebagai bujang dapur
dalam gedungnya Lou sielong di Sayshia, bahwa Lou
siauwya, satu cinsu, bakal menikah pada Giok sam-siocia.
"Hanya sayang," kata Lie Jie-so terlebih jauh, "meskipun
Lou siauwya ada muda dan pintar, ia beroman sangat tolol,
tubuhnya jangkung dan gemuk sekali, hingga sikap
dedaknya mirip dengan patung malaikat di dalam bio,
sedikit pun ia tak punya sifat yang menarik hati. Giok sam-
siocia sebaliknya ada cantik luar biasa. Katanya si nona tak
setuju, akan tetapi perjodohan sudah ditetapkan, habis
tahun baru ini mereka akan menikah ... "
Siang Moay ketarik kapan ia dengar disebutnya nama
Giok sam-siocia.
“Dialah yang larang aku masuk ke dalam gedungnya. Ia
akan menikah dengan suami tolol! Hm, biarlah ia terluka
hatinya, seumur hidupnya! ... " pikir ia.
Itu waktu ada datang satu tetangga lain, maka bertiga
mereka lantas keluarkan kartu, akan lewatkan tempo sambil
main bohong dan mengobrol. Dengan begitu, dengan tak
diketahui, Lie Jie telah pulang. Dan itu waktu ternyata
sudah jam tiga.
"Jie-so, sampai besok!" kala Siang Moay, yang
berbangkit dan pamitan.
Lie Jie-so mengantar sampai di depan pintu.
"Baik-baik di jalan," ia memesan.
"Silahkan masuk, Jie-so!" kata Siang Moay sambil
tertawa, sedang tindakannya ia lantas pergancangkan.
Langit ada guram, karena sang Puteri Malam ketutupan
awan. Hoawan Taywan ada satu tempat luas dengan sedikit
ramah. Lie Jie dan Tek Lok ada bertetangga tapi
terpisahnya rumah mereka ada puluhan tindak. Di saat
Siang Moay mendekati pintu rumahnya, tiba-tiba ia lihat
satu bayangan orang berkelebat melesat ke bagian belakang
rumahnya. Bayangan itu tinggi dan besar. Tidak membuan
tempo lagi ia lari ke depan pintu, dari mana ia enjot
tubuhnya naik ke atas tembok dan terus loncat turun ke
sebelah dalam.
"Ada penjahat!" berteriak satu orang bertubuh besar,
yang loncat keluar sambil terus membacok.
"Sun toako, inilah aku!" berteriak nona Coa, yang
kenalkan Ngojiauw-eng.
Selagi Sun Ceng Lee tahan goloknya, Lauw Tay Po
memburu keluar.
"Eh, kenapa kau tidak ketok pintu?" tanya sang suami.
"Kenapa kau masuk dengan meloncat tembok?"
"Aku lihat satu bayangan melesat ke belakang ... " sahut
Siang Moay.
"Apa? Bayangan? Bagus!" berseru Sun Ceng Lee dengan
nyerocos. Dan ia terus loncat naik ke atas genteng di mana
ia pasang mata keempat penjuru.
"Toako, mari turun," Tay Po memanggil. "Barangkali
bayangan itu bukannya penjahat ... "
Suara berisik di luar membikin Sie Pat beramai lempar
dadu dan sambar senjata akan turut keluar. Itu waktu Ceng
Lee telah loncat turun keluar pekarangan di mana sia-sia ia
mencari bayangan orang, hingga ia menggerutu.
"Pekgan Holie! Bangsat perempuan! Hayo kau keluar
ketemui Ngojiauw-eng!" ia lalu mendamprat dan
menantang.
Suara galak itu baru saja habis diucapkan ketika satu
senjata datang menyambar, atas mana piauwsu itu berkelit
seraya putar goloknya menangkis.
Kedua senjata beradu dengan keras. Menyusul itu, si
penjahat dari samping terus menyerang ke arah kakinya
Sun Ceng Lee.
Sambil meloncat Sun Ceng Lee balas membacok, lagi-
lagi kedua senjata bentrok pula.
Tatkala itu Tay Po dan kawan-kawannya muncul di
pintu pekarangan. Melihat orang banyak, bayangan itu
menyingkir.
Sun Ceng Lee lantas memburu. Sekarang ia bisa lihat
nyata, penjahat itu ada seorang perempuan dengan tubuh
jangkung dan besar, lehernya dililit sabuk lebar, yang
sampai menutupi muka.
Lari belum jauh, penjahat itu berhenti dan putar tubuh.
Ngojiauw-eng dapat menyandak, keduanya jadi
bertempur pula.
Tay Po dan kawan-kawannya datang menyusul dan
mengurung, mereka menyerang sambil berteriak: "Tangkap!
Tangkap!"
Pekgan Holie, demikian orang yang dikepung itu, bikin
perlawanan dengan gagah. Ia loncat ke kiri dan kanan, akan
menyingkir dari sesuatu serangan yang berbahaya, di lain
pihak goloknya sendiri pun balas membacok dan menikam,
atau ia putar senjatanya itu menyapu semua serangan.
"Aku tidak bermusuh sama siapa juga!" ia berseru. "Aku
hanya inginkan jiwanya Itto Lianhoa!"
Lauw Tay Po jawab itu dengan serangannya yang hebat,
"Saudara-saudara, bekerjalah keras sedikit!" ia berseru.
"Rase ini tak boleh dikasih lolos!"
Lima batang golok dan sepasang tombak telah kepung si
"rase" itu, siapa ternyata ada sangat licin dan kosen, karena
selalu ia bisa luputkan diri dari ancaman bahaya.
Sebaliknya, sesudah bertempur sekian lama, ia telah
berhasil merubuhkan tiga lawan, hingga selanjutnya ia
tinggal hadapi Sun Ceng Lee, Lauw Tay Po dan Coa Siang
Moay.
Kapan mereka sudah bertarung lagi lima atau enam
jurus, tiba-tiba Pekgan Holie balik badannya dan loncat
akan terus kabur.
Sun Ceng Lee penasaran, ia mengejar.
Lauw Tay Po pungut batu, dengan itu ia menimpuk,
tetapi musuhnya ada sangat gesit dan mendahului lari ke
tembok di mana ia melenyapkan diri.
Sun Ceng Lee memaki kalang kabutan.
Tay Po dan Siang Moay menyusul tetapi karena musuh
sudah tidak ada, mereka ajak Ngojiauw-eng kembali.
Orang-orang yang terluka sudah kumpul di pekarangan
dalam. Nio Cit terluka bahu kiri, darah mengalir dari
tempat lukanya, ia rebah dengan mata terpejam dan
merintih. Lie Seng dan Pheng Kiu tidak terluka, cuma
rubuh waktu berkelit bahna kagetnya. Sie Pat dan Toh
Tauw Eng tidak sampai turun tangan.
Sun Ceng Lee naik ke atas genteng, akan memeriksa
pula.
Tay Po pergi ambil obat luka buat obati Nio Cit, setelah
mana ia menoleh pada Toh Tauw Eng dan kata: "Pergi kau
laporkan kejadian ini pada pembesar negeri dan minta
koanjin datang kemari! Apakah mereka mau tunggu sampai
ada yang mampus baru mau bekerja? Itu waktu tentu sudah
kasep ..."
Tetapi si Garuda Botak geleng-geleng kepalanya.
"Aku tidak bisa pergi!" ia menolak. "Aku mesti
pertahankan batok kepalaku sampai tahun baru untuk
dibawa-bawa di waktu pergi memberi selamat! ... "
Siang Moay jadi sebal dan mendongkol.
"Nanti aku yang pergi!" ia berkata.
"Daripada kau terlebih baik aku yang pergi," kata Tay
Po, yang cegah isterinya.
Itu ketika Ceng Lee telah kembali.
"Ada apa?" tanya si sembrono ini.
"Perkara ini mesti dilaporkan pada pembesar negeri,"
Tay Po terangkan.
"Umpama Nio Cit binasa, perkara berubah menjadi
perkara jiwa. Mereka ini takut pergi ke jalan besar, terpaksa
aku mesti pergi sendiri untuk melaporkan..."
"Bila demikian, kasihlah aku yang pergi," Ceng Lee kata.
"Kau mesti jaga rumah!"
Benar-benar Ceng Lee bertindak keluar. Ia tidak buka
pintu hanya ia keluar dengan meloncat tembok pekarangan.
Tay Po merasa tidak aman, ia turut pergi keluar, akan
segera dengar caciannya Sun Ceng Lee: "Bangsat
perempuan! ... "
"Celaka!" berseru Tay Po, yang lantas loncat naik ke
tembok. Tapi baru saja kakinya menginjak tembok, dari
sebelah luar seorang telah mendahului loncat naik, hingga
ia jatuh terbalik sambil menjerit.
Itu adalah si penjahat yang terus loncat turun ke dalam
akan susul Itto Lianhoa, terhadap siapa ia ayun goloknya.
"Adalah jiwamu yang aku kehendaki!" penjahat itu
berseru.
Dengan bergulingan Tay Po kelit bacokan, kemudian ia
balas menyabat kaki musuh, atas mana penjahat itu
apungkan tubuh, tetapi di waktu kakinya menginjak tanah
pula, dengan goloknya ia menyerang lagi, hingga Itto
Lianhoa kembali mesti bergulingan pula. Meski demikian,
penjahat itu merangsek.
Sekonyong-konyong sebuah piauw melayang mengenai
punggungnya si penjahat, yang berseru dan mengutuk. Di
saat itu muncul Siang Moay dengan tombaknya, yang
menjuju musuh.
Pekgan Holie tangkis tombak itu.
Dengan tetap bergulingan, Tay Po berbalik maju
bersama sabatan goloknya pada kaki musuh.
Dengan menahan sakit, penjahat itu loncat
menghindarkan diri, kemudian sambil putar goloknya ia
terus lari.
"Tangkap! Tangkap penjahat!" begitu terdengar teriakan
berulang-ulang dari sebelah dalam.
Toh Tauw Eng sambar gembrengnya Siang Moay dan ia
palu sekeras-kerasnya menambahkan suara berisik.
Sun Ceng Lee yang telah terluka, masih bisa merayap
naik di tembok akan coba hampirkan musuh, guna
menyerang terlebih jauh.
Pekgan Holie loncat naik ke atas genteng.
"Uber padanya!" berteriak Ceng Lee, yang kini tidak
mampu lagi loncat naik ke atas genteng.
Lauw Tay Po tidak berani loncat ke tembok.
Siang Moay uber musuh dengan sebatang piauw-nya,
kali ini penjahat itu bisa sampok piauw itu hingga jatuh ke
tanah, kemudian ia naik ke genteng belakang dari mana ia
perdengarkan tertawa mengejek serta ancamannya: "Lauw
Tay Po, hari ini aku kasih ampun padamu! Lain kali,
apabila kau berani menghina pula padaku, aku nanti ... "
"Bangsat perempuan, turunlah kau!" Tay Po memotong
dengan tantangannya. "Tidak pakai kau mengancam! Aku
nanti adu jiwaku! ... "
Tay Po tidak bisa berkata terus, ia mesti loncat berkelit,
karena selembar genteng telah menyambar kepadanya.
Sun Ceng Lee ada begitu mendongkol dan gusar, hingga
ia berteriak-teriak dengan caciannya.
Lie Seng, Pheng Kiu dan Sie Pat muncul dengan senjata
di tangan, tetapi mereka tidak maju lebih jauh.
Siang Moay rampas goloknya Lie Seng, dengan bawa
itu, ia loncat naik ke atas genteng.
Melihat demikian, Tay Po segera menyusul. Tetapi si
penjahat sudah menghilang.
Di bawah tembok Sun Ceng Lee masih memaki kalang
kabutan. Dengan terpaksa, mendongkol dan masgul, Tay
Po dan isterinya loncat turun.
Di dalam rumah, Toh Tauw Eng masih saja memalu
gembrengnya.
"Sudah, sudah, jangan memukul gembreng!" Tay Po
mencegah. Tapi suara gembreng masih teras berbunyi. Tay
Po masuk ke dalam di mana ia lihat si Garuda Botak
mengumpat di kolong meja sambil memukul gembreng.
"Sudah!" berseru Tay Po seraya mendupak.
"Apa penjahat sudah kabur?" tanya Toh Tauw Eng
seraya merayap keluar dari kolong meja.
Tay Po tidak menjawab, karena ia lantas menoleh dan
lihat Siang Moay dan Lie Seng pepayang Sun Ceng Lee. Ia
ini masih saja mencaci kalang kabutan, pinggangnya basah
dengan darah, karena ia terluka belakangnya, lukanya tidak
besar tapi darah mengucur banyak. Ia direbahkan di
pembaringan.
Semua orang tertampak sangat berduka.
"Piauw-ku mesti mengenai si penjahat, jikalau tidak,
tidak nanti ia kabur," kata Siang Moay.
"Sebatang piauw tak bisa membikin ia mampus," kata
Tay Po, "lewat beberapa hari ia tentu akan datang pula
mencari kita. Kita harus berdaya lebih jauh."
"Besok aku nanti majukan pengaduan pada pemerintah
agung," kata Ceng Lee dengan sengit, "aku hendak dakwa
Giok teetok ada sembunyikan penjahat di gedungnya! ... "
Tay Po geleng kepala, ia menghela napas.
"Bukti tidak ada, romannya penjahat pun tidak
dikenalinya, bagaimana kita bisa ajukan pengaduan?
Jikalau kita ajukan dakwaan secara sembrono, kita sendiri
bisa dapat susah ... " ia samperi Ceng Lee di pembaringan
tanah. "Sun toako, bagaimana kau rasakan lukamu?" ia
tanya.
"Tidak berarti!" sahut Ceng Lee, tetapi ia toh kertak gigi
dan keringat di jidatnya mengetes sebesar kacang kedele.
"Tolong ambilkan obat luka! Sebentar malam kita mesti
menjaga pula datangnya penjahat!"
Ketika itu, Nio Cit merintih semakin hebat.
Siang Moay dan Tay Po repot mengobati dua orang yang
luka itu.
Tidak lama datang Tek Lok, yang menanyakan
bagaimana hasilnya pengepungan penjahat. Tapi ketika Tay
Po berikan keterangannya, ia ketakutan berbareng tidak
senang.
"Pengaduan mesti dimajukan!" ia kata.
"Tadi pun kita memikir demikian!" kala Tay Po. "Tetapi
sekarang kita batalkan itu! Apakah gunanya pengaduan?
Penjahat toh sembunyi di gedungnya Giok teetok! Aku tak
percaya yang Giok-tayjin tidak ketahui hal ini! ... Siapa tahu
bahwa Pekgan Holie adalah Isterinya ... "
"Ah, kau jangan ngaco!” Tek Lok menegur. "Giok hujin
ada gadisnya satu haksu!"
"Gadisnya satu haksu? Apakah itu menjadi tanggungan?"
Tek Lok bengong sampai sekian lama, kemudian ia lari
ke dalam rumahnya di mana orang-orang perempuan ada
dalam ketakutan. Mereka semua tak bisa tidur lagi.
Kapan kemudian sang pagi datang, Tay Po pergi mencari
kereta keledai dua buah, untuk angkut Nio Cit dan Ceng
Lee pulang ke masing-masing piauwtiam-nya, Lie Seng
bertiga yang diminta mengantarkannya.
Toh Tauw Eng turut berlalu.
Tay Po ada sangat mendongkol dan masgul, tapi toh ia
bisa tidur karena lelah dan ngantuk. Satu hari itu ia tidak
pergi ke mana-mana.
Sorenya, Yo Kian Tong datang, Sie Pa, Pheng Kiu dan
Lie Seng, begitupun Toh Tauw Eng, tidak muncul lagi.
Kedatangan jago tua ini membikin hatinya Tay Po
menjadi besar pula, karena ia tahu Sinchio ada terlebih
gagah daripada Sun Ceng Lee. Tetapi malam itu lewat
dengan tenteram.
"Tentu lukanya bekas piauw tidak enteng," pikir Tay Po.
Setelah Yo Kian Tong pulang, Tay Po cari Toh Tauw
Eng buat perintah si Garuda Botak pergi menyelidiki siapa
yang terluka atau sakit di gedungnya Giok teetok.
Sampai sore barulah Toh Tauw Eng pulang dengan tak
peroleh hasil. Ia kata penjagaan di gedung Giok teetok ada
keras sekali, tidak ada orang yang boleh keluar atau masuk.
"Biarlah piauw itu bikin ia mampus!" Tay Po mengutuk,
bahna mendongkol
Sejak itu, sampai lewat tujuh hari penjahat tidak lagi
datang mengganggu.
Sesudah menjaga sia-sia beberapa hari, Yo Kian Tong
jadi malas buat datang terus-terusan.
Hari tahun baru mendatangi semakin dekat dan semua
orang sudah repot betul belanja dan siap akan sambut hari
yang penuh kegembiraan itu.
Melainkan Tay Po, yang tak pernah bergirang, setiap
malam ia masih repot menjaga diri. Ketika Siang Moay
suruh ia belanja, ia geleng kepala dan menyahut: "Buat apa?
Kenapa mesti repot tak keruan? Kita toh akan turut
merayakan tahun bani meski tidak seperti lain-lain orang ...

Pada tanggal duapuluh tiga, Tay Po pun tidak
sembahyangi malaikat dapur.
Malamnya, Siang Moay ada berduka sekali mendengar
bunyinya petasan. Maka itu, setelah nyalakan api dan
rapikan pembaringannya, ia lalu naik dan meringkuk sambil
tutupi diri dengan selimut!
Tay Po kunci pintu, dengan terus cekal goloknya ia
duduk di kepala pembaringan.
"Kau mirip anak kecil," ia kata pada isterinya sambil
menghela napas. Ia mesti saban-saban membujuki isteri itu.
"Pikir saja, aku mana mempunyai kegembiraan akan
rayakan tahun baru ini? Tadinya aku ada jumawa dan
agulkan kepandaianku, maksudku datang ke Pakkhia
adalah untuk temui Lie Bouw Pek yang namanya sangat
tersohor, tetapi sekarang, aku dipermainkan oleh satu
Pekgan Holie serta seekor rase cilik ... Sekarang, melihat
orang aku jadi malu sendirinya. Bagaimana aku bisa turut
bersuka ria?"
"Bila demikian, marilah kita serbu gedungnya teetok!"
mengajak Siang Moay.
Tay Po menghela napas.
"Tindakan itu tak ada faedahnya," ia berkata. "Kita
belum mengenali Pekgan Holie dan muridnya, walau
berhadapan dengan mereka, kita tak dapat menuduhnya!
Sebaliknya kita bisa didakwa membikin kacau rumahnya
orang dengan membawa-bawa golok. Di sebelah itu justru
Giok-tayjin sendiri sedang membenci kita! ... "
Siang Moay bersenyum tawar.
"Habis bagaimana sekarang?" ia kata. “Keluar tidak,
bertahun baru pun tidak! Sampai pun toapekong dapur tak
disembahyangi! Apakah dengan keadaan kita seperti ini
bisa dianggap telah berumah tangga?"
Air matanya isteri itu lantas meleleh dan mengalir.
Tay Po sekai air mata isterinya.
"Jangan kau bersusah hati," ia membujuki pula, "jangan
kau tak tahan sabar ... Bila kita sudah bekuk Pekgan Holie
dan rampas pulang pedang curiannya, nah, itu waktu kita
nanti berselamat tahun baru setiap hari! Setiap hari kita
nanti makan enak! ... "
Siang Moay jebikan bibirnya.
"Jangan kau ngelindur!" ia berkata. "Cara bagaimana kau
mampu bekuk Pekgan Holie? Bagaimana kau masih
mengharap akan rampas pulang pedang mustika itu?
Jangan kau mimpi!"
"Ah, lacur betul!" Tay Po menghela napas. "Kalau isteri
sendiri sampai tak pandang mata padaku, apakah aku
masih dapat disebut Itto Lianhoa, satu enghiong? Baiklah,
kalau kau mengatakan demikian. Tunggu nanti, apabila
penjahat datang pula, kau tidak usah turun tangan, kau lihat
dengan sendirian aku layani padanya! ... "
Ketika itu tiba-tiba gelang pintu di luar berbunyi nyaring,
hingga keduanya kaget, terutama Tay Po.
"Dengar!" kata Siang Moay, yang berbangkit seraya tolak
suaminya.
Sambil bersenyum ewah, Tay Po berbangkit, goloknya
tercekal keras. Ia hampirkan pintu yang ia segera buka, dan
bertindak keluar dengan gagah.
"Siapa?" ia tanya.
Siang Moay pun berbangkit, ia segera pakai sepatunya,
setelah singsatkan pakaiannya, ia ambil goloknya dan
piauw. Ketika ia hendak memburu keluar, ia dengar
suaranya Yo Kian Tong, begitupun suara suaminya yang
sedang mempersilahkan orang masuk ke dalam rumahnya.
Karena ini, ia lepaskan pula goloknya, ia lalu nyalakan
lampu.
Ia lihat seoang perempuan bertindak masuk, rambutnya
yang bagus dibikinkan kuncir, menyatakan tetamu ini ada
satu nona yang belum menikah, umurnya kira-kira
duapuluh empat tahun, tubuhnya tidak tinggi dan tidak
kate, potongannya langsing, matanya bersinar. Nona ini
berkeredong mantel, yang bahannya tak terlalu indah.
Di belakangnya si nona mengiring Yo Kian Tong dan
Lauw Tay Po. Sesampainya di dalam Tay Po segera kata
pada isterinya: "Mari, mari berkenalan! Inilah Jie toacie-
mu!"
Siang Moay tidak tahu siapa adanya encie she Jie ini,
tetapi ia lekas-lekas maju akan unjuk hormat, dan si Jie
toacie itu membalasnya sambil bersenyum.
"Silahkan duduk," Tay Po mempersilahkan, dengan
sikapnya yang sangat menghormat. Kemudian ia repot
tambahkan api di perapian dan minta isterinya
menyuguhkan teh.
Dengan tetap masih heran, Siang Moay pergi tuang teh.
Ia lihat nona itu ambil kursi dengan takseejie lagi. Tatkala
ia menyuguhkan teh, dengan manis nona itu kata: "Jangan
berabe, terima kasih!" suaranya halus.
Kemudian, sambil berdiri di sisi meja, diam-diam nona
Coa mencuri perhatikan nona tetamunya ini, muka siapa
tidak putih, kupingnya tak pakai anting-anting dan
sepatunya ada sepatu hitam.
Yo Kian Tong duduk berhadap-hadapan si nona, yang
toapan itu.
"Bagus!" ia kata sambil tertawa. "Sekarang aku
mengharap benar Pekgan Holie dan muridnya nanti datang,
agar mereka ketemu batunya!"
"Itulah tak usah disebut lagi!" Tay Po turut berkata. "Jika
Pekgan Holie datang, pasti ia tak akan mampu kabur lagi!
Siapakah yang tak ketahui nona Jie dari Kielok, yang
dengan piauw telah binasakan Biauw Cin San dan telah
pecundangi Thio Giok Kin juga? Sedang selama tiga tahun
ini, nona juga telah pahamkan Tiamhiat hoat!"
Baru sekarang Coa Siang Moay terperanjat. Ia tak
pernah sangka bahwa tetamunya ini adalah nona Jie Siu
Lian yang namanya sangat tersohor. Tapi ia segera tertawa.
"Jie toacie," ia berkata, "pada dua tahun yang berselang,
selagi berada di Kamsiok, aku pernah dengar namamu, itu
waktu aku berkeinginan sangat akan bertemu dengan kau.
Toat jie, apakah kau baru saja datang?"
"Baru tadi lohor aku sampai di sini," sahut Siu Lian,
demikian nona tetamu itu sambil bersenyum manis.
"Kedatanganku kemari terutama untuk menyambangi Tek
ngoko dan ngoso. Kedua putera mereka adalah murid-
muridku, sedang nona mantunya, Yo Lee Hong, memang
aku telah kenal lama. Aku hanya berniat tinggal dua hari di
sini, lantas aku hendak pulang ke kampungku guna
lewatkan hari tahun baru di sana, tetapi dari Tek ngoko aku
dengar halnya Pekgan Holie, bahwa kau telah diperhinakan
olehnya. Kejadian itu membikin aku tidak senang. Cara
bagaimana di kota raja bisa diantap penjahat malang
melintang? Begitulah aku perintah orang undang Yo toako
datang padaku, setelah mana aku minta Yo toako antar aku
kemari. Kau jangan kuatir, bila sebentar penjahat itu
datang, aku akan bikin mereka tak bisa lolos dengan masih
bernyawa ... "
Kalau tadinya ia bicara dengan halus dan sabar, ucapan
terakhir ini ia keluarkan dengan keras, dan romannya pun
turut menjadi keren.
Bukan main girangnya Tay Po, yang toh tetap berlaku
hormat. Ia menuturkan peranannya si penjahat, Pekgan
Holie, yang ada sangat maui jiwanya itu.
Selama mendengar keterangan itu, Siu Lian tidak
mengunjukkan keheranannya.
"Umpama sebentar malam ia tidak datang mengganggu,
besok kau mesti berdaya akan pancing padanya agar ia
datang kemari, aku ada punya daya akan menghadapinya.
Seperti aku sudah katakan, aku tidak mau berdiam lama di
Pakkhia ini, aku tidak mau orang luar ketahui aku datang
kemari, maka kau mesti jaga akan tidak omong apa-apa di
luaran perihal aku."
Tay Po manggut berulang-ulang.
"Aku akan jaga itu, nona," ia kata. "Umpama aku
siarkan perihal kedatanganmu ini, bahwa kau hendak
membantu aku, usaha kita pun bisa gagal. Dengan
mendengar hal kedatanganmu, Pekgan Holie dan muridnya
bisa kabur jauh, hingga pedang mustika itu sukar untuk
didapat pulang!"
Sampai di situ, Yo Kian Tong ajak Lauw Tay Po pergi
ke kamar selatan, hingga di kamar itu tinggal Siu Lian
bersama nyonya rumah. Siang Moay pun sudah lantas
rapikan pembaringannya untuk dipakai bersama tetamunya.
Siu Lian berbangkit, untuk loloskan mantelnya. Ia pakai
baju dan celana hijau, yang sepan dan pendek, hingga
kelihatan tubuhnya yang langsing. Hawa sebenarnya dingin
tetapi nona ini tampaknya tak menghiraukan itu. Di
pinggangnya, yang terlibat angkin sutera hijau, ada
tergantung sepasang goloknya yang diikatkan pita sutera
hijau juga, yang panjang.
“Apakah ini ada senjata pemakaian toacie?" ia tanya
seraya menghampirikan dan pegang-pegang gagang golok
itu. Ia bicara sambil tertawa.
Siu Lian manggut dengan perlahan.
Siang Moay angkat golok itu, waktu ia coba hunus, baru
saja separuh, ia telah lihat cahayanya yang berkilauan, ia
seperti rasakan hawa dingin menghembus padanya.
"Entah berapa banyak penjahat sudah binasa di ujung
golok ini ... " ia berpikir. Tapi ia lantas memuji: "Sungguh
sepasang golok yang bagus!" ia telah unjuk kekagumannya
yang ia tidak mampu umpatkan. Kemudian ia tanya: "Ada
seorang yang bernama Lie Bouw Pek, ia itu toacie punya
apa?"
"Ia adalah inheng-ku," sahut Siu Lian, dengan
sewajarnya.
"Baiknya aku tak menanya sembarangan ... " pikir Siang
Moay, yang hatinya jeri, sebab ia hampir-hampir keliru.
Siu Lian tarik tangannya Siang Moay sembari
mengawasi, ia tertawa.
"Aku dengar kau ada punya bugee tinggi," ia kata. "Kau
pandai mainkan piauw dan pandai jalan di atas tambang ...
"
Mukanya nona Coa menjadi merah.
"Harap toacie jangan sebut-sebut tentang bugee, aku
malu ... Toacie fahamkan bugee dari Butong Pay asli dan
apa yang aku yakinkan adalah bugee dari kalangan
kangouw biasa ... "
"Ah, jangan kau sangat merendahkan diri," kata Siu
Lian, seraya tepuk-tepuk bahunya Siang Moay. Ia
bersenyum.
Siang Moay pun bersenyum.
"Ketika dahulu aku dengar nama besarmu, toacie," ia
kata, "aku menyangka kau ada seorang berbadan tinggi dan
besar, bermuka hitam, bengis sebagai Ngojiauw-eng Sun
toako, tetapi sekarang, melihat kau, aku telah menduga
keliru."
Sambil mengawasi nyonya rumah, Siu Lian hanya
bersenyum.
"Dalam keluarga Giok juga ada satu nona, yang cantik
sekali," Siang Moay berkata pula. "Aku sudah berdaya buat
dapat masuk ke dalam gedungnya si nona meski dengan
menjadi budaknya, supaya aku bisa selidiki si penjahat
sembunyi di sana sebagai apa, sayang aku tak berhasil ...
Nona itu ada bersahabat kekal dengan toa-naynay dan
siauw-naynay dari keluarga Tek, mereka saling datang
berkunjung, maka satu waktu, di rumahnya keluarga Tek,
toacie pasti akan bisa lihat padanya. Ia ada begitu elok,
hingga aku suka sekali padanya."
"Nona-nona dari keluarga berharta memang biasanya
sangat cantik," ia bilang. "Satu siocia mesti selamanya
punya budak-budak yang melayani, jikalau satu siocia kalah
cantik daripada budaknya, bukankah ia akan jadi buah
tertawaan orang? Kau pun cantik. Sebaliknya aku tak dapat
dibandingkan dengan kau. Sejak umur enambelas tahun,
aku sudah terumbang-ambing di kalangan Sungai Telaga,
selama ini sudah berjalan enam atau tujuh tahun. Ke mana
saja aku pergi, aku biasa bersendirian. Dari sini pun aku
dapat pengalaman bahwa merantau sendirian ada sangat
sulit, sampai mondok di rumah penginapan pun ada sukar.
Aku menyesal yang aku terlahir dan menjelma sebagai
seorang perempuan ... "
Dari suaranya, nona ini ada menyesal dan berduka,
tetapi pada wajahnya tidak sedikit pun mengunjukkan
penyesalan.
Demikian berdua mereka bercakap-cakap sebagai
sahabat-sahabat lama saja, hingga mereka tak merasa sang
waktu telah lewat dan lewat terus.
Di ruangan sebelah selatan, sinar api pun masih
tertampak, suatu tanda Tay Po dan Yo Kian Tong pun
asyik bicara satu pada lain.
Begitulah satu malam dilewatkan dengan tak terjadi apa-
apa. Yo Kian Tong lantas pulang ke piauwtiam-nya, dan
Siu Lian, dengan naik kereta yang Tay Po carikan, pulang
ke Tong Su Paylauw, ke rumahnya Tek Siauw Hong di
Samtiauw Hotong.
Siang Moay merasa lega hatinya, ia terus tidur. Tapi Tay
Po pergi ke Seetay Wan akan cari Toh Tauw Eng. Kalau
selama beberapa hari ia ada lesu sebagai bunga teratai yang
layu, sekali ini ia unjuk kegembiraan istimewa.
"Eh, Lauw Toh, ada kabar apa?" demikian ia menegur
lebih dahulu begitu ia lihat sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa," sahut si Garuda Botak seraya geleng
kepala. "Kemarin, sehabisnya sembahyang aku telah pergi
ke Kouwlauw barat di mana aku berputar-putaran, tetapi
aku lihat gedungnya Giok-tayjin tetap ditutup rapat-rapat,
hingga aku tidak dengar sekalipun suara cecowetannya rase-
rase. Menurut dugaanku jangan-jangan kau keliru ... Rase
punya sarangnya sendiri, pasti sarang itu bukannya di
dalam gedung Giok-tayjin ... "
Tay Po mainkan bibirnya, ia tertawa.
"Kau boleh percaya aku, Itto Lianhoa Lauw Tay Po pasti
akan berhasil," ia kata dengan perlahan. "Dalam tempo satu
dua hari ini, aku tanggung si rase bakal tertawan dan
pedang yang terhilang didapat pulang!"
Toh Tauw Eng mengawasi, agaknya ia kurang percaya.
"Aku bukannya mengebul, eh!" Tay Po bilang, dengan
kepastian. "Aku sekarang telah tambah bahu dan lengan!
Ada orang yang akan bantu aku!"
"Siapa bantu kau? Apakah ia ada seorang yang
kenamaan?" si Garuda Botak tanya.
"Tentu saja!" sahut Tay Po dengan bangga. "Ia adalah
encie dari isteriku!"
Kembali kawan itu tertawa. Agaknya ia masih bersangsi.
"Encie-nya isterimu cuma bisa bantui isterimu menjahit
sepatu!..." ia kata dengan ejekan main-main.
"Kau percaya atau tidak, itu ada urusanmu!" kata Tay
Po. "Sekarang mari kau ikut aku ke rumahku, ada urusan
buat mana aku hendak minta bantuanmu."
"Urusan apakah itu ?"
"Kau baik jangan tanya-tanya!"
Tay Po sambar dan tarik tangannya sahabat itu buat
diajak ke rumahnya. Di sini mereka masuk di kamar utara.
Siang Moay masih tidur.
Setelah kunci pintu, Tay Po pergi ke selatan.
"Tunggu sebentar," ia kata pada sahabatnya itu. Ia
masuk ke dalam dan batuk-batuk.
"Apakah Tek toako sudah bangun?" ia tanya.
Tek Lok ketika itu sedang gosok gigi, ia dengar suaranya
Tay Po.
"Silahkan masuk!" ia mengundang seraya buka pintu.
Tay Po lihat tuan rumah itu ada sabar sekali.
"Tidak usah," ia kata. "Aku mau minta pinjam kertas dan
perabot tulis. Aku tidak punya uang hingga aku mesti tulis
surat untuk pinjam uang ... "
Tek Lok berikan kertas, pit, bak dan bakhie.
Tay Po menyambuti, buat terus berlalu.
“Tunggu dulu!" Tek Lok memanggil. Dan ketika orang
menoleh, ia teruskan: "Kau tahu tidak yang Jie Siu Lian
sudah datang?"
"Aku tidak tahu," Itto Lianhoa berpura-pura, seraya
gelengkan kepala.
"Aku dengar hal ini kemarin, dari orang dari keluarga
Tek," Tek Lok berkata pula. "Nona Jie gemar campur
urusan lain orang," ia berkata pula, "ia suka belai hal-hal
yang tak semestinya, maka itu cobalah kau pergi pada Tek
Siauw Hong, akan cari nona itu, untuk minta bantuannya."
"Lok toako, kau sangat tak lihat mata padaku!" kata Tay
Po, yang masih terus berpura-pura. "Aku telah terbitkan
gara-gara dengan itu pencuri, sudah aku tidak berdaya buat
bekuk padanya, bagaimana aku bisa pergi pada seorang
perempuan untuk mohon bantuannya? Sungguh lacur ... "
Lantas ia jalan terus, pulang ke kamarnya, ia taruh
bakhie, pit dan bak serta kertas itu di atas meja. Kemudian
ia betot Toh Tauw Eng seraya berkata: "Tolong kau
bikinkan aku sebuah gambar. Aku ingin kau lukiskan
seorang perempuan tua dengan sepasang kaki kecil, dengan
di belakangnya ada ekornya rase ... "
"Mana aku bisa melukis gambar?" kata Toh Tauw Eng,
yang tak mengerti maksud orang. "Buat lukiskan
cecongornya satu manusia hina, barangkali aku bisa ... Buat
menggambar seorang perempuan, inilah sukar ... "
"Jikalau kau tidak mau," Tay Po mengancam, tangannya
ia angkat di kepalanya itu sahabat, "awas, aku nanti hajar
padamu! Hayo, lukiskanlah! Bikin gambar sembarangan
saja, seperti potongannya isteriku, lantas kau tambahkan
buntut!"
Toh Tauw Eng tak berdaya, dengan separuh geli di hati
dan separuh mendongkol, ia coba juga bikin gambarnya
seorang perempuan, untuk ini, ia mesti pakai banyak
tempo. Ia lukiskan satu nyonya tua dengan kepala gede,
sepasang kaki pendek. Mata dan hidung ia totol saja,
begitupun mulutnya. Adalah Tay Po sendiri yang mesti
tambahkan buntutnya, buntut mirip sesapu. Di sebelah itu
lantas dilukiskan romannya satu anak rase, tapi lukisan
yang jelek dan tak keruan itu bikin binatang itu menjadi
rase bukan dan kucing pun bukan. Lantas, di pinggiran,
dengan pegangi tangannya Toh Tauw Eng, Tay Po menulis
delapan huruf yang berarti:
"Kematiannya Pekgan Holie ada didepan mata."
"Bagus!" akhirnya kata Itto Lianhoa. “Aku telah bikin
kau banyak capai!”
Toh Tauw Eng ketawa sendirinya kapan ia awasi
lukisannya itu.
"Lauwko, kau sebenarnya hendak berbuat apa?" ia tanya.
"Jangan kau banyak tanya!" jawab Tay Po, yang tetap
masih mau pegang rahasia. "Tunggu tiga hari, aku akan
tangkap rase supaya dagingnya bisa dibikinkan bahpauw
untuk kau dahar! Kulitnya rase pun aku nanti kasihkan
padamu untuk dibikinkan kopiah isterimu! Itu waktu, aku
nanti bikin kau juga pentang matamu buat lihat bagaimana
macamnya pedang mustika yang bisa bikin putus besi dan
baja!"
Habis berkata begitu, dengan tak sungkan-sungkan lagi,
ia tolak Toh Tauw Eng keluar.
Dan Toh Tauw Eng ngeloyor pergi dengan tak mengerti
...
Lantas Tay Po naik ke pembaringannya buat tidur.
Sorenya sesudah bangun dari tidurnya, ia lihat nona Jie Siu
Lian datang yang ia sambut dengan manis.
"Mari kasihkan aku sebatang piauw," Tay Po minta pada
isterinya.
Siang Moay luluskan permintaan suaminya.
Piauw itu Tay Po bungkus dengan rapi dengan gambar
lukisan si perempuan tua yang berbuntut rase, setelah ia
beritahukan maksudnya pada Siu Lian, ia bawa
bungkusannya itu keluar. Ia berputar-putar di jalan besar,
sampai ia berada di depan gedung Giok teetok. Itu waktu
belum jam dua tetapi gedungnya Giok teetok sudah ditutup
semua dengan rapat dan kuat, di luar tak kelihatan seorang
penjaga pun. Langit ada gelap waktu itu, dan angin ada
besar.
Setelah memperhatikan pula sekian lama, Tay Po buka
sepatunya akan simpan itu dalam sakunya, dari mana
sebaliknya ia keluarkan piauw yang dibungkus dengan
gambarnya yang luar biasa. Dengan enjot tubuhnya, ia coba
naik ke atas tembok, terus ke atas rumah. Ia mencari tempat
yang leluasa, sesudah mana, piauw itu ia timpukkan ke
pekarangan pedalaman.
Sesudah ini, buru-buru ia lari balik dan loncat turun ke
bawah, dengan tak sempat pakai lagi sepatunya ia terus
kabur. Ia masih dengar suara gembreng di sebelah belakang
ia tetapi ia kabur langsung ke rumahnya. Ia rasakan hatinya
goncang, karena ia duga musuh akan satroni ia. Tapi,
kesudahannya, sampai sang fajar datang, rumahnya tidak
ada yang satroni atau ganggu.
Siu Lian telah menantikan pula dengan sia-sia, itu pagi ia
pulang kembali ke rumahnya Tek Siauw Hong.
Oleh karena dayanya yang pertama tidak mengasihkan
hasil, itu pagi Tay Po ngeloyor ke barat, ke selatan, ke
utara, ke rumah-rumah teh, di mana ia mampir, ia lantas
buka suara bahwa dalam tempo tiga hari ia akan bekuk
Pekgan Holie. Di lain pihak hatinya tertarik oleh seorang
yang dengan berbisik bilang, "Tadi malam di rumahnya
Giok-tayjin ada terbit entah kejadian apa ... "
Atas ini ia buru-buru menyingkir. Tapi ia tidak terus
pulang, itu hari ia terus berada di luaran, hanya sesadah jam
dua malam, baru ia kembali. Sesampainya di rumah, nona
Jie sudah menunggui ia sambil bercakapan dengan
isterinya.
"Oh, kau baru pulang?" Siang Moay tegur suaminya.
"Tadi ada datang dua koanjin mencari kau ... "
"Aku tahu," sahut sang suami. "Itu ada hamba-hamba
dari Teetok Geemui. Kalau besok mereka datang pula,
beritahukan mereka bahwa pada Chiagwee Cee-it aku nanti
pergi memberi selamat tahun baru pada mereka!"
Kemudian ia menoleh pada nona Jie seraya terus berkata:
"Toacie, ini malam penjahat pasti datang, harap kau suka
siap!"
"Aku ingin ia datang sekarang," sahut Siu Lian sambil
manggut. "Aku ingin lekas bereskan urusanmu ini supaya
aku bisa lekas pulang ke rumahku!"
“Aku harap demikian, toacie," kata Tay Po, yang terus
minta isterinya tukar teh si nona dengan yang baru,
kemudian dengan bawa goloknya dan kantong Pekpolong,
ia pergi ke kamar selatan. Sebelum ia masuk ke dalam
kamarnya, lebih dahulu ia nyalakan api menyuluhi ke
segala penjuru, sesudah itu dengan pasang goloknya di
depan, ia bertindak masuk. Lagi sekedi ia suluhi seluruh
kamar, baru ia tutup pintu. Ia berebahan diri di
pembaringan dengan api penerangan ia kasih padam.
Dari jendela kelihatan langit ada gelap sekali, angin
menderu-deru, hawanya dingin sekali.
Dekat dengan tembok kota ada sukar untuk orang
mendengar kentongan, maka dengan demikian, sukar pula
untuk mengetahui jam.
Di kamar utara, api masih menyala dengan terang. Siang
Moay dan Siu Lian kelihatan cocok satu pada lain, karena
mereka terus bercakap-cakap asyik sekali sampai lupa
ngantuk dan lelah.
"Sayang kau sudah menikah," kata Siu Lian, "jika belum,
kau bisa menjadi sahabat dan kawanku, hingga aku bisa
ajak kau pesiar ke berbagai-bagai tempat yang indah dan
tersohor, umpama Kiuhoa San, Ganthong San, Ngobie ... "
Tiba-tiba Siu Lian putuskan ucapannya, karena dengan
mulutnya ia segera tiup lampu.
Siang Moay terkejut, tetapi di dalam kegelapan ia masih
samar-samar dapat lihat nona Jie berbangkit dengan
perlahan dan terus hunus goloknya, maka ia pun tidak
berayal akan siap dengan goloknya, begitupun piauw-nya.
Siu Lian memberi tanda pada kawannya sambil
menggeleng kepala.
Di luar jendela terdengar melulu suara angin, tak ada
suara lain, tetapi nona Jie bertindak ke pintu yang ia buka
dengan perlahan sekali, setelah mana, ia membarengkan
loncat ke luar, akan dari situ terus lompat naik ke atas
genteng bagian utara.
Berbareng dengan itu dari sebelah belakangnya segera
muncul satu orang dengan bacokannya yang hebat.
Siu Lian lihat serangan itu, dengan tangan kirinya ia
menangkis dengan keras, dua senjata beradu dan
menerbitkan suara nyaring, tetapi berbareng goloknya yang
kanan menyabet dengan cepat sekali.
Atas ini, si penyerang yang rupanya kaget karena
tangkisan hebat, tidak melalaikan perlawanan, dengan putar
tubuhnya ia loncat ke tembok terus keluar. Ketika kedua
kakinya baru injak tanah, tahu-tahu si nona Jie sudah
menyusul, dan sinar golok, yang berkeredepan, sudah
menyambar pula padanya. Dalam keadaan demikian ia
terpaksa balik tubuh seraya angkat senjatanya untuk
menangkis.
Gerakan senjata dari Siu Lian ada cepat luar biasa, selagi
golok kirinya ditangkis, golok kanannya sudah menyambar
pada bahu kiri dari si penyerang gelap itu, si penjahat. Dan
serangan ini disusul sama jeritannya penjahat itu, yang lagi
sekali buka langkah panjang.
Siu Lian tidak mau mengasih hati, ia mengejar.
Penjahat itu bisa lari pesat, rupanya lukanya bikin ia jadi
gunakan antero tenaganya untuk menyingkir dari bahaya.
Tetapi di belakang ia, pengejarnya tak mau ketinggalan, ia
terus dibuntuti. Menuruti tembok, ia lari ke arah barat,
kapan ia sudah lewati empat atau lima lie, ia balik menuju
ke selatan.
Siu Lian terus mengejar, semakin lama ia datang
semakin dekat pada penjahat itu, di saat ia mendekati
sampai tinggal enam atau tujuh tindak, tiba-tiba ia lihat
musuh balik tubuhnya dan tangannya diayun, atas mana
golok kanan terbang melayang menyambar ke jurusannya,
hingga ia mesti berkelit ke pinggir.
Menggunai ketika yang baik ini, lagi sekali penjahat itu
balik badannya dan kabur pula, Tetapi Siu Lian yang tak
ingin dipermainkan, justru menguber semakin sengit.
Segera juga mereka berlari-larian sampai di jalan besar di
Kouwlauw barat.
Di sini si penjahat lari ke jurusan sebuah rumah besar,
yang keletakannya tinggi, ia loncat naik ke atas tembok,
terus ke genteng. Tapi ia berlaku sedikit ayal, entah
disebabkan lelah atau karena luka di bahunya yang
merintangkan kegesitannya, maka selagi ia loncat naik,
goloknya nona kita menyambar ia, berbareng dengan mana
ia keluarkan jeritan seram dan tertahan, segera tubuhnya
rubuh terguling, jatuh ke bawah rumah dalam sebuah
taman bunga.
Siu Lian lompat turun akan menyusul. Penjahat itu
rebah bergulingan di tanah, sambil merintih: "Aduh, aduh!"
Dalam keadaan sebagai itu, nona Jie tidak mau
mengasih ampun, ia lompat maju akan bikin habis lelakon
penghidupannya.
Itu adalah saat sangat berbahaya bagi si penjahat, tetapi
justru itu telah datang bintang penolong. Satu bayangan
yang berbadan jangkung dan langsing sekonyong-konyong
muncul dari samping, dengan pedangnya yang berkilauan
telah menyambar ke jurusan nona kita.
Melihat datangnya serangan yang tiba-tiba itu, Siu Lian
batalkan maksudnya semula, ia segera tangkis serangan
bokongan itu.
Kapan kedua senjata beradu, terdengar suara janggal dari
beradunya kedua senjata. Sebab golok kanan dari nona Jie
telah terbabat kutung, ujungnya jatuh ke tanah!
Dalam terperanjatnya, Siu Lian masih bisa berseru: "Oh,
kaulah si pencuri pedang mustika!"
Meski demikian, nona Jie tidak menjadi takut. Ia lempar
gagang goloknya, golok tangan kiri ia geser ke tangan
kanan. Ia berlaku sebat luar biasa, karena setelah itu, ia
sudah mulai menyerang dengan beruntun dan seru.
Pihak penyerang pun telah bikin perlawanan. Ia ada
gesit. Ia coba membabat golok yang terlihat nyata dan
berkelit buat bacokan yang berbahaya. Ia berani mendesak,
karena ia mengandel dengan pedangnya yang tajam itu.
Sekejab saja, sepuluh jurus sudah lewat.
Siu Lian tidak berhasil akan memapas tangannya musuh,
ia sebaliknya mesti jaga betul goloknya agar senjata itu
tidak lagi kena dibikin sapat oleh senjata musuh yang tajam
luar biasa itu. Lawan itu nyata ada liehay.
Pertempuran ini, yang menerbitkan suara berisik,
menyebabkan sebentar kemudian terdengar suara gembreng
ramai dari sebelah depan dari tukang ronda atau pengawal-
pengawal gedung yang telah mengetahui adanya
pertempuran itu, mereka lantas datang memburu.
Selagi nona Jie pikir apa baik ia tinggal pergi lawan itu
atau melayani terus, tiba-tiba pedangnya lawan itu dari atas
turun ke bawah, begitu hebat, hingga ia mesti maju
merapatkan, ia angkat tangan kirinya untuk menyanggapi
lengannya musuh. Berbareng dengan itu tangan kiri lawan
itu juga coba pertahankan tangannya nona Jie agar tak bisa
gunakan goloknya.
Di saat tangannya menyekal lengan musuh, Siu Lian
terperanjat bahna herannya. Ia dapat menyekal lengan yang
empuk dan kena raba juga gelang pada tangan itu, rupanya
gelang kumala.
Lawan itu ada pakai baju hijau, separuh mukanya
ditutup dengan sutera hitam, sehingga tak dapat dikenalkan.
Dengan gunai kaki kiri, Siu Lian coba dupak perutnya
musuh atas mana, lawan ini menangkis dengan kakinya
juga. Dan itu adalah kaki sewajarnya, bukan kaki yang
diikat!
Suara riuh dari banyak orang telah bertambah-tambah,
demikian juga suara gembreng dan suara itu semua ada
membikin sibuk si orang bertopeng, sebagaimana ternyata
ia berontak-rontak akan melepaskan diri dari cekalannya
Siu Lian.
Nona Jie tidak sanggup cekal lebih lama tangan yang
empuk tetapi bertenaga besar itu, terpaksa ia lepaskan
cekalannya, selagi lompat mundur, ia membarengkan
membacok.
Pihak lawan itu menangkis tetapi kedua senjata tidak
sampai beradu, karena Siu Lian selanjutnya berlaku hati-
hati dan sebat, akan bikin goloknya tidak lagi bentrok
dengan pedang. Ia menyerang dan menyerang pula, dengan
desakannya, setelah mana, si orang bertopeng lompat
mundur dan lari.
Siu Lian tidak mau melepasnya dengan gampang-
gampang, ia mengejar. Lawan itu lari ke belakang, sampai
dekat sebuah jendela ke dalam mana ia loncat masuk
dengan gesit sekali.
Tatkala itu cahaya lentera telah mendatangi dekat sekali,
maka Siu Lian tidak menguber masuk ke dalam jendela,
hanya ia lompat naik ke atas genteng, dari atas genteng
yang paling tinggi ia memandang ke bawah, ia lihat kira-
kira duapuluh orang sedang mendatangi, semua memegang
lentera, gembreng dan senjata, hingga taman itu umpama
kata jadi sesak ...
Dengan tak hiraukan rombongan ronda itu, Siu Lian
jalan terus di atas genteng, sesampainya di ujung gedung, ia
lompat ke genteng tetangga, di sini ia jalan terus, sampai
akhirnya ia loncat turun di tempat sepi. Ia masuk dalam
sebuah gang kecil dan gelap. Setelah mengkol di dua gang
kecil, ia lalu menghadapi tembok kota yang tinggi dan
teguh. Di sini ia jalan ke arah timur. Ia masgul akan lihat
goloknya yang sebelah jadi buntung. Sebab sepasang golok
itu ada buatan ayahnya, sebagai barang tetinggalan.
Siu Lian tahu, pedang tajam yang si lawan pakai adalah
pedang mustika yang Bouw Pek biasa pakai, yang tiga
tahun yang lalu Bouw Pek dapatkan dari tangannya Liu
Kian Cay, wangwee dari Liukee chung, pedang mana di
saat terakhir telah dipersembahkan pada Tiat siauw-
pweelek.
"Lawanku itu ada mencurigai," pikir nona Jie selagi ia
berjalan terus. "Bagaimana pandai ia mainkan pedangnya,
gerakannya dan permainannya mirip dengan saudara Bouw
Pek. Dan lengannya ... kenapa ia memakai gelang kumala?"
Ia tidak sempat memikir lebih lama, karena ia telah
sampai di rumahnya Lauw Tay Po. Ia tidak minta
dibukakan pintu, ia masuk dengan meloncat tembok
pekarangan, dengan cepat ia menuju ke rumah.
Tay Po dan isterinya memburu keluar, tangan mereka
menyekal golok.
"Aku!" kata nona Jie sembari tertawa.
"Oh, Jie toacie!" berseru suami isteri itu. "Apakah kau
berhasil?"
Siu Lian bertindak masuk, goloknya ia geletakkan di atas
meja.
"Sebelah golokku kena terpapas kutung oleh si penjahat,
besok aku mesti bikin sebatang yang baru," ia kata. "Aku
kuatir timbangannya tidak bisa cocok ... "
Tay Po dan Siang Moay tercengang.
Siu Lian tuang teh yang lalu ia minum.
"Jangan kau berkuatir," ia menghibur, kapan ia saksikan
sikapnya mereka. "Besok kau akan segera peroleh kabar
penting! Tapi urusan ini ada sangat besar, besok harap kau
jangan keluar dan jangan siarkan cerita tak keruan.
Sebelumnya tahun baru aku nanti bikin si pencuri antarkan
kembali pedang mustika itu, aku akan kasih mengerti agar
ia tak main gila pula. Perkara ini mesti dibikin habis secara
damai. Terutama sebab aku mesti lekas pulang ke Kielok,
karena aku tidak bisa berdiam di sini untuk selamanya.
Lagian kita kenal baik Tek Siauw Hong, jikalau kita terlalu
desak pada Giok cengtong, mungkin Giok teetok akan
mendendam sakit hati pada keluarga Tek."
Tay Po manggut, tetapi dengan mata memain dan
pikiran sedikit kusut. Sebab ia tidak tahu jelas, apa yang si
nona Jie pikir, dan ia tidak ke tahui juga bagaimana
jalannya pertempuran tadi.
Melihat nona itu unjuk roman lesu, Tay Po lantas saja
ngeloyor ke kamar selatan.
"Coba kunci pintu,” kata Siu Lian pada Siang Moay.
"Mari kita tidur, dengan nyenyak. Aku tanggung penjahat
tidak bakal berani datang pula kemari ... "
Siang Moay rapikan pembaringannya, ia tidak lantas
naik, maka Siu Lian dului ia, akan rebah dengan tidak salin
pakaian lagi, sesudah itu, baru ia turut naik. Ia tidak berani
lantas lepaskan sepatunya.
Keduanya rebah miring, dengan muka berhadapan.
Selimut ada satu dan dipakai berdua.
"Toacie barusan kau kejar penjahat sampai di mana?"
tanya Siang Moay dengan perlahan.
"Kau tidak usah tanya banyak-banyak, besok kau akan
ketahui sendiri," jawab nona Jie. "Sekarang aku berani
tanggung yang penjahat tidak akan datang pula untuk
mengganggu. Asal aku telah dapat pulang pedang mustika
itu, aku hendak berangkat pergi. Hanya, sebelumnya aku
berangkat, aku ingin bertemu kendati satu kali saja dengan
siocia Giok Kiauw Liong. Tadi siang di rumahnya Tek
Ngoko aku dengar nona mantunya keluarga itu bilang
bahwa Giok Kiauw Liong ada sangat cantik dan pandai
ilmu surat dan melukis gambar, bahwa ia katanya sering
datang ke rumahnya Tek Ngoko. Ketika pada tiga tahun
yang lalu Tek Siauw Hong dibuang ke Sinkiang, di sana
kebetulan Giok-tayjin ada menjadi pembesar tertinggi dan
Tek Ngoko ada dapat banyak tunjangannya. Adalah di sana
yang Tek Ngoko ketahui halnya si nona Giok. Menurut
kabar, semasa di Sinkiang, nona Giok tidak ada seanteng di
sini. Ia pandai menunggang kuda, ia pandai mainkan
panah, ia suka pergi memburu di hutan atau pegunungan.
Aku duga nona Giok ada satu nona luar biasa, maka itu
besok aku ingin lihat padanya."
"Yang benar," kata Siang Moay, "nona Giok itu cuma
romannya elok dan pakaiannya mewah, lainnya tidak. Aku
kuatir, kuda pun ia takut tunggang. Ia barangkali cuma bisa
tarik panah mainan anak-anak. Kalau besok toacie ketemu
padanya, barulah toacie mendapat tahu terang. Ia bertubuh
lemah, nyalinya pun kecil. Baru-baru ini ayahku almarhum
buka pertunjukan di depan gedungnya, ayah mainkan
bandringan dan ia mau lihat, tetapi kesudahannya ia kuatir
kena ketimpa. Toacie belum lihat jalannya yang ayu, coba
tidak ada beberapa budak yang mengiringnya, barangkali
bisa ditiup rubuh oleh sang angin ... Toacie bilang ia
mengerti surat dan bisa melukis gambar, itulah mungkin
benar, tetapi aku percaya, ia tak semua-semua pandai ... apa
pula buat mainkan piauw dan jalan di atas tambang!"
Siu Lian tertawa.
"Ya, benar juga," ia menyahut. "Air laut pun tak dapat
ditakar! Siapa tahu jikalau di belakang hari aku juga bisa
berpakaian mewah seperti ia! Melainkan roman dan
tubuhku tak dapat disamakan seperti nona Giok!"
"Berapakah tingginya ia itu?" Siu Lian tanya.
"Dipadu dengan kau ia ada terlebih tinggi,"
menerangkan Siang Moay, seraya mempetakan dengan
tangannya, "hanya pinggangnya ada terlebih langsing, tidak
sekekar pinggangmu."
Siu Lian memejamkan kedua matanya dan berdiam,
agaknya ia sedang memikir atau membayang-bayangkan ...
Siang Moay lalu berbangkit dan berduduk, dengan
perlahan-lahan ia buka sepatunya.
Selama itu, Siu Lian telah mulai pulas.
Sebagai orang yang teliti, Siang Moay tidak berani lantas
tidur, ia malah turun dari pembaringan akan pergi ke
jendela, akan dari jendela kaca mengawasi ke kamar
selatan. Di seberang sana kamar ada gelap.
Selagi menduga-duga, suaminya berani tidur atau tidak,
Siang Moay dengar suara tepukan tangan satu kali di kamar
selatan itu.
“Cis," ia berludah. Ia tahu yang suaminya godai ia.
Seterusnya Siang Moay tak tidur lagi, tetapi malam itu,
selanjutnya, lewat dengan tenang tak terjadi apa pun juga.
"Coba kau pergi ke dekat-dekat gedung teetok akan
dengar-dengar ada terjadi apa di sana," kata Siu Lian
besoknya pagi pada Lauw Tay Po.
Tay Po menurut, malah ia berlalu dengan segera. Benar
pada saatnya orang bersantap tengah hari, telah kembali
dengan keheranan. Ia segera berikan laporannya: "Aku
tidak berani datang dekat pada pintu pekarangan Giok
teetok, dari itu aku suruh Toh Tauw Eng wakilkan aku
pergi mencari tahu. Menurut si Garuda Botak hari ini
gedungnya Giok-tayjin dijaga keras luar biasa dan tak
sembarang orang diijinkan datang dekat pintu gerbang. Toh
Tauw Eng lihat sendiri yang dari pintu samping, tempat
keluar masuknya kereta, ada digotong keluar sebuah peti
mati, melainkan tak ada tetabuhan kematiannya. Menurut
katanya, tadi malam di situ telah menutup mata secara tiba-
tiba satu guru perempuan ... "
Mendengar itu, Siu Lian perlihatkan senyumannya.
"Secara demikian, Pekgan Holie tak nanti bisa satrukan
kau pula!" ia kata.
"Dengan kebinasaannya Pekgan Holie, toacie sudah
singkirkan satu manusia jahat," berkata Tay Po, "tetapi di
sebelah itu masih ada satu ancaman bahaya lagi, ialah
muridnya Pekgan Holie. Murid itu aku duga ada salah satu
budaknya keluarga Giok, kepandaiannya ada seratus kali
lebih liehay daripada gurunya. Gurunya telah binasa,
mustahil ia tak akan mencari balas untuk gurunya itu?"
Tetapi nona Jie geleng kepala.
"Taruh kata ia berniat mencari balas, tak nanti ia sampai
terbitkan kekacauan," ia bilang. "Tadi pun aku telah tempur
padanya. Ia memang berkepandaian tinggi, tetapi aku
masih sanggup tandingi padanya. Melainkan aku percaya,
ia tak seburuk gurunya itu!" Kemudian tambahkan, dengan
pertanyaannya: "Kau ketahui atau tidak kalau-kalau Pekgan
Holie ada dipanggil nyonya guru?"
"Tentang mereka, aku belum dapatkan penjelasan,"
sahut Lauw Tay Po. "Menurut keterangan, penjahat yang
mampus ini adalah bujang yang biasa rawat atau layani
Giok siocia, katanya jujur dan baik, dan ia sering pergi ke
bio untuk pasang hio. Toh Tauw Eng bilang ia hanya lihat
peti digotong keluar tetapi tak ada yang berkabung. Rupa-
rupanya Pekgan Holie ada sebatang kara ... "
Siang Moay tertawa melihat sikap suaminya berceritera.
"Sekarang tolong kau carikan aku kereta," kata Siu Lian
akhirnya. "Aku hendak pergi ke rumahnya Siauw Hong,
sebentar malam aku kembali."
Tay Po menurut, ia lantas keluar. Ia balik tidak lama
kemudian bersama sebuah kereta sewaan.
"Sampai sebentar sore," Siu Lian kata setelah ia naik ke
atas kereta itu, yang bawa ia ke rumahnya Tek Siauw Hong.
Seperti diketahui, pada tiga tahun yang telah lampau,
nona Jie tinggal di sebuah rumah dari Siauw Hong, maka
itu bekas rumahnya itu kecuali masih lengkap
perabotannya, di situ pun masih ada sejumlah pakaiannya
nona itu, yang tadinya tidak dibawa semua. Tapi sekarang
Siu Lian tidak bertempat tinggal di bekas rumah itu, karena
ia kata ia akan tinggal di Pakkhia lamanya tiga atau empat
hari saja. Di sebelah itu, ia ada bergaul rapat dengan nona
mantunya Siauw Hong, selama kedatangannya ini ia terus
berada bersama-sama nona Yo itu, melulu sebab adanya
perkara diri Lauw Tay Po, maka kejadian, di waktu malam
Siu Lian senantiasa nginap pada Siang Moay baru siang
harinya ia pulang ke rumahnya Siauw Hong. Tapi ini ada
baiknya juga bagi Tek naynay, yang selalu repot dengan
persiapan tahun baru: membersihkan rumah, bersiap-siap
pakaian, kue dan lain-lain. Apapula itu hari sudah tanggal
dua puluh enam, lagi empat hari orang akan rayakan tahun
baru.
Selama ini, nona Yo juga sudah alpa akan latihan silat,
sebaliknya yancie dan pupur ia telah pakai lebihan,
pakaiannya pun ada mewah, sedang di kepalanya, kecuali
perhiasan, bunga pun tak ketinggalan. Cuma dua kakinya,
yang ikatannya telah dilepas, tidak bisa melar dan pulang
asal sebagaimana mestinya.
"Nona Jie datang!" demikian itu hari ia berseru kapan ia
lihat nona Jie datang. Ia memburu buat unjuk hormat.
Tek naynay juga memburu pada tetamunya yang
istimewa itu.
"Oh, adikku!" berkata nyonya rumah yang kegirangan,
"Aku tak habis pikir, kenapa ke mana saja kau pergi, di situ
tentu-tentu ada urusan? Sudah tiga tahun kita berpisahan,
sekarang kau telah datang, apa mau kau ketemu Lauw Tay
Po dengan perkaranya yang tak keruan juntrungannya!
Celaka itu si Tay Po! Kau sampaikan seperti tak dikasih
turun dari kuda untuk beristirahat, kau segera saja ditarik
diseret untuk bantui ia tangkap penjahat! Dan sekarang
justru di akhir tahun, selagi orang repot sibuk! Sudah,
adikku, sebentar malam kau jangan pergi pula! Biarkan
penjahat injak rumahnya hingga ambruk, kau jangan
pedulikan lagi! Mari kita sama-sama dengan gembira
lewatkan tahun baru di sini!"
Siu Lian tertawa melihat kelakuannya nyonya rumah itu.
"Urusan akan segera beres," ia beritahukan. Ia pergi ke
pembaringan dan duduk di situ. "Paling juga sebentar
malam, untuk penghabisan kali, aku pergi ke rumahnya
Lauw Tay Po. Isterinya ada satu nyonya muda yang manis
budi ... "
"Memang, aku pun dengar orang bilang nyonya Lauw
tak ada celaannya," Tek naynay kata. "Ia sebenarnya ada
gadisnya seorang berpangkat dan bukan sewajarnya ia mau
menjadi nona tukang dangsu. Yang beruntung adalah Lauw
Tay Po, ia dapatkan isteri secara demikian gampang ... "
"Penglihatanku Lauw Tay Po juga bukannya seorang
buruk," Siu Lian kata.
"Buruk memang tidak, hanya ia ada menyebalkan," kata
Tek naynay, "ia nampaknya tak kenal prilaku sopan santun!
Ketika keponakanmu dan isterinya yakini silat, ia berani
datang dan menonton, dengan berani memuji-muji bagus
juga! Satu kali ia pun berhimpasan dengan Giok sam-siocia,
ia ada begitu berani hingga ia tidak mau menyingkir, hal
mana membikin aku jadi malu hati. Beda dengan Lie Bouw
Pek yang sopan dan halus prilakunya, sedang ia ada
bersahabat sangat rapat dengan Tek Ngoko-mu! Tay Po tak
punya hubungan persahabatan dengan kita, melulu sebab ia
ada saudara misan dari Yo Kian Tong, ia jadi suka datang
kemari. Sebenarnya, Yo Kian Tong sendiri tak terlalu suka
padanya."
"Begitulah biasanya kebanyakan orang kaum kangouw,"
kata Siu Lian sambil tertawa. Ia mengerti yang nyonya Tek
ini tak setujui Tay Po yang bengal dan berani itu.
"Syukur aku tak jadi orang kangouw ... " kata nyonya
Tek. "Aku pun girang melihat kau, adikku, meski terus-
terusan beberapa tahun telah merantau, kau tetap ada satu
gadis suci murni, tidak ketularan cara-cara di luaran! ... "
Lee Hong yang berdiri di belakang mertua
perempuannya tidak berani campur bicara.
"Aku ingin lihat Giok Kiauw Liong, atau bertemu
dengannya," kemudian Siu Lian nyatakan.
"Buat ketemui ia, ada gampang sekali," Tek naynay kata.
"Kalau aku perintahkan Siu Jie mengundang, ia akan
datang dengan segera."
"Apakah benar?" Siu Lian tanya.
Nyonya Siauw Hong tertawa.
"Buat mengundang lain orang, belum tentu," ia
menyahut, "tetapi kalau nona Giok, aku tentu bisa undang
ia datang. Pada dua hari yang berselang, aku lihat ia di
rumahnya Khu toa-naynay. Kita telah kenal baik satu pada
lain. Hanya selama beberapa hari ini, aku tahu ia sedang tak
bergembira, karena ada dua sebab yang mengganggu
ketenteraman pikirannya. Pertama-tama gangguannya
Lauw Tay Po yang menyangka di dalam gedungnya ada
dikeram orang jahat, entah rase apa. Dalam hal ini
ayahnya, ialah Giok-tayjin, ada sangat tidak puas,
sampaikan pembesar itu kata hendak satrukan Tay Po,
hanya ia belum sampai berbuat demikian, kesatu karena
Tay Po bukan tandingannya dalam hal derajat, dan kedua
ia masih memandang pada Tiat siauw-pweelek, karena Tay
Po jadi kauwsu di Pweelek-hu. Sebaliknya bila tidak
diladeni, ia terus mendongkol. Ini sebabnya, Giok-tayjin
jadi berduka, hingga puterinya turut tak senang juga. Sebab
kedua ada mengenal diri nona Giok sendiri, yaitu perihal
jodohnya. Ia hendak dinikahkan pada satu hanlim jelek,
sedang ia ada elok dan pintar! Maka juga di rumahnya Khu
toa-naynay, aku lihat ia menangis, rupanya ia sangat
berduka karena urusan jodoh atau nasib peruntungannya ...
"
"Aku tak pedulikan itu urusan semua," kata Siu Lian
sambil bersenyum. "Sekarang tolong ngoso undang ia, agar
ia datang dengan lekas!"
Tek toa-naynay berpikir karena ini desakan.
"Ada sukar mengundang ia tak dengan alasan," ia
nyatakan. "Nah, begini saja: Aku akan adakan satu meja
perjamuan, aku nanti undang ia dan Khu toa-naynay,
kapan mereka datang, kau yang nanti temani mereka. Kita
nanti bersantap malam sama-sama!"
"Sekarang tengah hari kita belum dahar, bagaimana kita
bisa tunggu sampai waktunya bersantap malam?" tanya Siu
Lian, sambil berpikir.
"Bukan, bukannya begitu. Itu hanya ada alasan, tetapi
kita minta mereka datang lebih siang. Aku pikir akan
memberi tahu bahwa kau ada di sini agar mereka datang
dengan lekas. Khu toa-naynay sendiri memang ingin sekali
bertemu dengan kau. Giok sam-siocia belum kenal kau,
tetapi namamu ia pernah dengar, malah satu kali pernah
tanya aku kapan akan datangnya pula kau kemari."
"Lebih baik tidak sebut dulu namaku," Siu Lian
mencegah. "Nanti, sesudah ia datang, baru ngoso ajar kita
kenal satu pada lain."
Tek naynay tertawa.
"Tentu kau kuatir ia ketahui yang kau telah bantu Lauw
Tay Po!" ia berkata. "Baiklah, aku tidak sebut namamu.
Sekarang juga aku kirim orang untuk undang ia!" Ia lantas
minta tolong nona mantunya pergi keluar buat perintah
budak pergi beritahukan Siu Jie buat ia undang nona dan
nyonya itu.
Nyonya Tek dan mantu lantas undurkan diri buat salin
pakaian, untuk menyambut tetamu, Siu Lian pun tukar
pakaian serba hijau, sepatunya sulaman. Rambutnya ia
bikinkan kuncir baru dan dipakaikan sedikit minyak, ia
pakai pupur tipis-tipis dan yancie juga.
Kapan sebentar kemudian Tek naynay kembali dan lihat
dandanannya Siu Lian, ia tertawa.
"Dengan berdandan begini, nampaknya kau ada terlebih
manis daripada Giok Kiauw Liong!" kata nyonya rumah
sambil tertawa.
Itu waktu budak muncul mengundang bersantap, di
ruangan dalam.
Selagi mereka bersantap, Siu Jie muncul di jendela luar
akan sampaikan laporannya: "Khu toa-naynay hendak
pulang ke rumah orang tuanya, ia tidak bisa datang. Buat
undangan itu ia menghaturkan terima kasih. Giok sam-
siocia pasti akan datang sebentar jam empat!"
"Begitu waktu baru mau datang, siapa bisa tunggui ia?"
kata Siu Lian. "Jika demikian, lebih baik kita undang ia
bersantap tengah hari!"
Tek naynay bersenyum, ia hiburkan tetamunya ini.
Mereka bersantap sambil bercakap-cakap. Secara begini
sang tempo dilewatkan hampir tak terasa.
Benar di waktu lohor, Siu Jie datang dengan warta "Giok
sam-siocia datang!"
Tidak ayal lagi Tek naynay berbangkit dan pergi keluar
untuk menyambut.
Lee Hong samperi kaca akan bereskan pakaiannya,
kemudian ia susul mertuanya akan turut sambut puterinya
teetok.
Siu Lian juga berbangkit. Ia tidak usah menunggu lama
lantas ia dengar suara bicara tercampur tertawa di sebelah
luar, maka lekas-lekas ia pergi ke jendela, akan melongok
keluar.
Bab IV
Nyonya rumah dan mantu telah pimpin masuk satu nona
umur tujuh atau delapanbelas tahun, tubuh siapa ada
jangkung dan langsing tetapi tidak "lemah" sebagaimana
yang ia tadinya sangka. Nona itu ada pakai mantel tetapi
dari situ ada tertampak sedikit rambutnya yang dikepang, di
mana pun ada nancap burung-burungan hong dari benang
wol merah dadu yang indah. Pupur dan yancie-nya terang
ada dari bahan yang mahal, sebagaimana dapat dilihat dari
warnanya yang campurannya tepat sekali, halus dan hidup.
Nona itu benar-benar ada elok sekali dan toapan, suaranya
tedas dan halus tetapi tidak nyaring. Sebagaimana nyonya
rumah minta ia jalan lebih dahulu tetapi ia menampik.
"Kau datang ke rumah kita, cara bagaimana kita bisa
jalan di muka?" kata Tek naynay yang memaksa.
"Silahkan siauw-naynay yang jalan lebih dahulu!" kata
sam-siocia yang tetap menampik.
Tapi Lee Hong mundur.
Giok Kiauw Liong ada diiring oleh tiga budak, yang
ketiga malah dandan lebih mentereng daripada Yo Lee
Hong. Mereka ini tertawa melihat orang saling
merendahkan diri.
“Tek thaythay, harap kau tidak terlalu seejie!" kata
mereka itu.
Sampai di situ, Siu Lian bertindak ke pertengahan dalam,
tetapi ia tidak masuk terus, ia berdiri di belakang tirai,
hingga ia masih bisa dengar Tek naynay undang Giok
Kiauw Liong masuk dan duduk di thia itu di mana mereka
terus bicara sambil menghadapi teh wangi.
"Aku sebenarnya niat tengok ngoso, tetapi karena kuatir
ngoso lagi repot, aku batalkan niatanku itu. Lagipun
kedatanganku saja tentu siauw-naynay jadi repot ... "
"Ah, tidak," sahut Lee Hong, yang merendah.
"Sebenarnya aku tidak undang sam-siocia saja, juga Khu
toa-naynay," Tek naynay kemudian memberi tahu, "sayang
ia mau pulang ke rumah orang tuanya hingga ia menampik
dengan terpaksa. Sekarang ini ada hari-hari dari akhir
tahun, aku percaya sam-siocia sedang repot, seharusnya aku
menunggu sampai habis tahun baru, tetapi kebetulan aku
telah kedatangan satu tetamu, aku tidak bisa menanti lagi.
Tetamu itu, yang sudah datang sejak dua hari adalah
seorang yang kenamaan yang siocia pernah menanyakan
dan ingin bertemu dengan ianya. Ia sekarang ada di sini, ia
juga ingin ketemui siocia."
"Siapa ia itu?" tanya Giok Kiauw Liong, yang unjuk
roman tak ingat. Ia menanya sambil tertawa.
"Ah, tetamu sudah datang, ia belum juga muncul!" kata
Tek naynay, yang seperti tidak ladeni tetamunya.
"Mantuku, pergilah kau undang tetamu kita itu!" Kemudian
ia teruskan pada tetamunya, dengan perlahan: "Ia ada nona
Jie Siu Lian. Ia datang belum lama tapi lagi dua hari ia
hendak pergi pula. Ini hari kita telah berdaya menahan ia di
sini, karena aku ingin ia bersilat dengan sepasang pedang
untuk siocia saksikan!"
Sementara itu Lee Hong, sambil tertawa telah bertindak
ke dalam.
"Giok Kiauw Liong sudah datang, mertuaku minta kau
ketemui ia," ia kata, seperti berbisik, karena nona itu masih
berdiri di tempatnya sembunyi.
Siu Lian bersenyum, ia bertindak keluar.
Ketika itu Giok Kiauw Liong telah berbangkit dan
menoleh, kapan ia lihat romannya Siu Lian, dengan tak
merasa wajahnya sedikit berubah seperti orang kaget, hanya
ini untuk sejenak saja, atau ia telah kembali tenang seperti
biasa.
Tek naynay segera datang sama tengah.
"Inilah Giok sam-siocia," ia perkenalkan sambil tertawa.
"Inilah Jie siocia, guru dalam keluarga kita. Kebetulan
sekali bagi kau berdua, yang satu ada gemar ilmu silat, yang
lain gemar menyaksikan pertunjukannya!"
Siu Lian bersenyum dan manggut pada itu nona agung,
tetapi matanya dengan tajam ada ditujukan pada mukanya
orang.
Kiauw Liong juga manggut sambil perlihatkan tertawa
yang tak sewajarnya, tetapi ia pun mengawasi.
Setelah itu, Kiauw Liong tiba-tiba tertawa.
"Aku merasa bahwa aku seperti kenal encie Jie ini!" ia
berkata.
"Aku juga seperti kenal kau!" Siu Lian pun berkata,
sembari bersenyum. "Rupanya seperti tadi malam kita
bertemu satu pada lain! ... "
"Terang kau telah saling bertemu dalam impian!" Tek
naynay berkata sambil tertawa. "Hayo, silahkan duduk,
silahkan duduk!"
Lee Hong sudah lantas datang dengan cangkir-cangkir
teh.
"Sudah lama aku telah dengar tentang kau dari Tek
ngoso," kemudian Giok Kiauw Liong berkata pula.
"Menurut ngoso kau ada punya kepandaian tinggi, encie."
"Jikalau dibandingkan denganmu, kepandaianku ada
kalah jauh," sahut Siu Lian. "Aku melainkan bisa loncat
naik ke atas wuwungan tetapi tidak mampu lompat nyeplos
di jendela ... "
Wajahnya Kiauw Liong kembali berubah, tetapi ia
nampaknya tak mengerti.
"Apakah encie datang untuk lewatkan tahun baru
bersama Tek ngoso di sini?" Kiauw Liong tanya,
senyumannya tak ketinggalan.
Tetapi Siu Lian geleng kepala.
"Tidak," ia menyahut, "aku datang ke Pakkhia ini untuk
belanja sedikit barang umpama sutera hijau untuk pelangi
kepala dan sapu tangan, begitu juga dua lembar kulit rase ...
"
"Kebetulan sekali, kabarnya tahun ini kulit rase harganya
murah!" sahut si nona puteri teetok.
"Meskipun demikian mesti dibedakan rase besar dengan
rase kecil. Rase besar tak berharga dan rase kecil sukar
didapatinya ... "
Kiauw Liong tertawa, sambil tunduk ia hirup air tehnya.
Hatinya Tek naynay tidak tenteram, karena ucapan-
ucapannya Jie Siu Lian.
"Dasar nona kangouw," ia berpikir, "terhadap orang
baru, ia tak tahu bagaimana harus bicara ... "
Maka kembali ia maju di tengah, akan dengan
ucapannya ke sampingkan pembicaraan kedua orang itu.
Budaknya Kiauw Liong yang memegang mantel awasi
Siu Lian, setelah mana, ia mundur ke pinggiran.
Lee Hong pandang nona Jie, ia pun agaknya tak tenang
hatinya.
"Hari ini nona Jie kenapakah?" ia pun berpikir. "Justru
selama ini orang sedang ramai membicarakan perkara
Pekgan Holie, kenapa ia datang-datang omong tentang rase.
Apakah ia bukannya sedang menyindir?”
Giok Kiauw Liong pandang Siu Lian sebentar, ia lalu
menoleh pada Tek naynay.
"Urusan yang mengenai rumah-tangga kita masih belum
selesai," ia kata. "Di luaran cerita burung tersiar tambah
hari tambah meluas, hingga ayahku masgul dan berniat
meletakkan jabatan. Ibuku juga berduka setiap hari ... Ini
sebabnya kenapa tadi begitu datang orang suruhan ngoso
yang mengundang aku, aku datang dengan segera. Aku
sendiri tak gembira ... "
Dengan mendadak, air mukanya si nona ini menjadi lesu
atau masgul.
Tek naynay mendapat jalan karena nona Giok mulai
dengan urusan di rumahnya itu.
"Bukankah semua bujang di sana ada orang-orang
lama?" ia tanya sambil kerutkan alis.
Kiauw Liong duduk dengan dua tangan di atas lututnya,
kepalanya tunduk.
Ia pakai kiepauw hijau terang. Dengan kepala ditunduki,
mutiara yang tergantung di pacoknya burung-burungan
hong di kepalanya jadi bergoyang-goyang.
"Meskipun mereka semua ada orang-orang lama," ia
menyahut, dengan suara berduka, "toh ada sukar untuk
diketahui di antaranya ada orang jahat atau tidak ... Ayah
anggap bahwa ceritera di luaran tak boleh dipercaya, di
sebelah itu ia perlu melakukan pembersihan di dalam
rumahnya untuk singkirkan segala kecurigaan. Sekarang ini
ayah pikir akan berhentikan semua orang lama, akan tukar
dengan yang baru, setelah itu, ia hendak meletakkan
jabatan. Tetapi beberapa sanak dan kenalan tak setujui
putusan itu, mereka membujuki agar ayah jangan bertindak
getas sedemikian. Mereka beranggapan kenapa buat
tuduhan yang tak berdasar ayah mesti undurkan diri, hingga
ayah jadi seperti mensia-siakan budi pemerintah. Di sebelah
itu juga ada beberapa bujang dari siapa ibuku tak bisa
berpisah. Oleh karena ini, sampai sekarang masih belum
didapat pemecahan tindakan apa yang kita akan ambil, aku
duga sebelum tahun baru penyelesaian tak bisa diharapkan
dapat kejadian. Aku sendiri berdiam di lain kamar, aku
biasanya tak terlalu pedulikan urusan rumah tangga, tetapi
kapan aku lihat semua orang ada berduka, aku turut
menjadi tak gembira. Dalam satu malam, aku sadar
beberapa kali. Coba pikir, ngoso, siapa bisa merasa berlega
hati?"
Tek naynay manggut-manggut, ia pun tampaknya jadi
tak bergembira.
"Ya, itu adalah urusan yang tak dapat diduga-duga!" ia
nyatakan. "Sepotong batu kecil bisa bikin orang kesandung
dan keserimpet! Kelihatan adalah ayahmu yang terlalu baik
budi, sam-siocia. Mana ia boleh tak ambil tindakan?
Sebenarnya, kalau terang ada orang dalam yang buruk,
orang itu mesti diusir dengan segera! Dan kalau ada orang
luar yang main gila dengan siarkan ceritera dusta, ia mesti
lantas dibekuk!" ia lalu menoleh pada Siu Lian: "Adik Jie,
kau pun harus jangan percaya Lauw Tay Po di satu pihak!
Kau lihat sendiri, bagaimana itu kawanan orang luntang-
lantung membikin rumahnya orang jadi tak aman dan
kusut! Kau ada satu liehiap, kau biasa membela perkara
yang tak adil, maka baiklah kau bunuh saja Lauw Tay Po!"
Sebelum Siu Lian menyahut, Kiauw Liong sembari
tertawa mendahului berkata.
"TayPo tak dapat disesalkan!" demikian katanya. "Jika ia
tak dapat tunjangan dari seorang yang berpengaruh, tak
nanti ia berani berlaku demikian. Lain dari itu, bujang dan
budak kita memang ada terlalu banyak, hingga sukar akan
memastikan di antaranya tak ada yang calang. Peribahasa
pun bilang, 'tanpa angin, rumput tak bergoyang-goyang'.
Kenapa Tay Po tidak uwarkan ceritera burung mengenai
keluarga lain, hanya justru keluarga kita? Maka ... "
"Itulah sebab ayahmu ada terlalu jujur," Tek naynay
menyambung. "Rupanya ayahmu telah lakukan sesuatu
yang membikin itu kawanan luntang-lantung jadi tidak
senang hati dan mendendam. Lauw Tay Po itu ada
semacam kepala buaya darat dan ia justru andalkan
pengaruhnya Tiat siauw-pweelek ... "
Kiauw Liong menghela napas, dengan perlahan, ia
menoleh pada nona kita.
"Coba aku ada seperti encie Jie," ia berkata. "Aku boleh
tak usah mengerti silat, asal aku bisa keluar dengan
merdeka, sudah cukup ... "
"Kau ada satu ciankim siocia," kata Tek naynay,
"jangankan pergi keluar, melangkah setindak dari kamar
saja, kau mesti ada budak dan bujang tua yang pepayang!
Beda dengan aku punya adik Jie ini. Ia ada dari keluarga
piauwsu, sejak masih kecil ia sudah ikut-ikutan orang
tuanya merantau di dunia kangouw."
"Oleh karenanya aku jadi kagumi encie Jie!" Kiauw
Liong bilang. "Encie, beruntung sekarang kita bisa bertemu,
maka selanjutnya aku minta kau pandang aku sebagai adik
saja, jangan sebagai orang luar ... "
Mendengar demikian, Lee Hong pandang Kiauw Liong
terus pada gurunya.
Buat sesaat Siu Lian tertegun. Ia bersangsi karena ucapan
dan sikap orang. Apa benar Kiauw Liong ada gadis tulen,
gadis pingitan yang selalu keram diri di dalam kamar,
hingga tak ketahui urusan apa juga di luaran? Nona ini ada
lemah lembut, suaranya halus dan mendatangkan rasa
kasihan.
"Apakah aku tak bicara terlalu keras?" demikian ia pikir
lebih jauh.
Toh, dengan memandang yang tubuh dan dedak badan,
nona ini mirip benar dengan lawannya yang bersenjata
pedang mustika tadi malam, sedang kakinya ada kaki besar,
kaki sewajarnya. Sekarang nona ini memakai sepatu sulam
yang indah, jikalau itu ditukar dengan sepatu lelaki, apakah
bedanya?
Siu Lian lantas perhatikan lengannya orang. Ia melihat
sepasang gelang emas yang indah, dengan cincin-cincin
yang mahal di jari-jari tangan. Pun di lengannya ada gelang
kumala polos. Hanya tangan itu ada putih dan halus, tak
mirip dengan tangan yang biasa mainkan pedang ...
Ketika itu Kiauw Liong awasi Siu Lian di hadapannya.
"Aku bukannya orang yang biasa omong sungkan-
sungkan," kata Siu Lian sambil tertawa. "Mendengar kau,
siocia, urusan di rumahmu itu bukanlah urusan biasa saja.
Aku telah hidup empat, atau lima tahun didalam kalangan
kangouw, kejadian apa juga aku pernah hadapi, apapula
perkara kejahatan seperti pencurian. Di dalam hal
demikian, untuk menyingkir dari tangannya polisi atau
pembesar negeri, si penjahat suka sembunyikan diri, dengan
tukar she atau nama. Atau menyamar dari lelaki menjadi
perempuan dan bekerja sebagai bujang. Bila terjadi
demikian, bujang atau perempuan tetiron itu suka ganggu
anak dara orang, dengan tempel atau pengaruhi anak dara
itu, tidak peduli lelaki atau perempuan, ia biasa menekan
atau memeras dengan melihai cacat atau kelemahan orang.
Dalam hal demikian, kendati terang ia bersalah, pihak
majikannya tidak bisa cekal padanya untuk diserahkan pada
yang berkuasa."
"Tentang kejadian semacam itu aku pernah dengar,"
Kiauw Liong kata, sambil manggut. "Akan tetapi di dalam
gedungku itu tak akan terjadi. Di rumahku cuma ada ayah
dan ibu serta aku bertiga. Kanda dan enso-ku berada di
tempat jabatannya."
"Keluarga siocia berjumlah kecil, sebaliknya hamba-
hamba ada banyak, itulah bisa terjadi yang penilikan ada
kurang," Siu Lian kata. “Penglihatanku melainkan siocia
saja yang harus pikirkan daya, ialah untuk cari tahu jelas
asal-usulnya sekalian bujang lelaki atau perempuan untuk
mencegah dan melenyapkan syak wasangka di luaran itu.
Aku kuatir, apabila sampai terjadi lain peristiwa pula,
umpama kata ayah siocia meletakkan jabatan, itu sudah
kasep, sudah tak ada faedahnya lagi. Diri sendiri ada
menjadi Kiubun Teetok, tetapi di dalam rumahnya ada
mengeram penjahat, itu adalah dosa yang tak kecil! Apabila
itu terjadi, siocia, kau sendiri tak akan luput dari noda
puthauw!"
Giok Kiauw Liong tercengang akan dengar pengutaraan
itu.
Tek naynay menghela napas, ia setuju akan pengutaraan
nona Jie itu.
"Andaikata kau yang menjadi Giok sam-siocia, kau tentu
bisa bekerja dengan gampang," kata nyonya rumah itu,
"dengan ancaman golok kau bisa paksa sesuatu bujang
memberikan keterangannya! Tidak demikian dengan sam-
siocia ... Buat siocia, jumlah bujangnya saja ia tak tahu ada
berapa! Laginya, di mana ada satu siocia memeriksa
bujang-bujang apalagi bujang-bujang lelaki?"
Kiauw Liong menghela napas.
"Coba kedua engko-ku ada di rumah, semua tentu bisa
diurus," ia kata dengan penyesalannya.
“Tidak usah sampai semua looya turun tangan," Tek
naynay bilang, "asal saja ada thaythay atau naynay yang
pandai bekerja, urusan itu bisa diselesaikan. Satu siocia
mirip dengan satu tetamu, maka itu ia mana bisa bekerja?"
Lee Hong isikan semua cangkir.
Giok Kiauw Liong, yang nampaknya duka, lantas
berbangkit.
Tek naynay bangun dari kursinya diturut oleh Siu Lian.
Satu bujang menambah bahan api di dalam perapian.
Nona Giok bertindak ke meja panjang dari kayu hitam,
di atas itu ada dua tokpan dengan bunga suisian yang
indah, putih laksana kumala, dan pusunya kuning bagaikan
emas, daunnya hijau segar, sedang harumnya menawan
hati.
"Bunga ini indah sekali,” kata nona itu seraya menunjuk.
"Di kamarku pun ada ditaruhkan dua tokpan dengan bunga
demikian, tetapi sehingga kini masih belum mau mekar."
"Boleh jadi disebabkan kamarnya terlalu dingin," Tek
naynay jawab. "Perapian di ruangan ini tidak dipadamkan
selama seantero malam."
Kiauw Liong manggut, ia awasi itu bunga, dengan
pikirannya rupanya bekerja.
Tek naynay dan nyonya mantunya pandang tetamunya
yang sangat mereka kagumkan, karena nona itu ada elok
sebagai bunga suisian, pakaiannya menambah
kementerengannya. Dalam sikap demikian si nona ada
mirip dengan nona di dalam gambar.
Siu Lian juga mengawasi, tetapi dengan hati memikir
untuk mencoba-coba ...
"Aku mesti dapat kepastian!" demikian ia pikir, setelah
mana ia lantas unjuk sikap lain.
"Bunga sebagai ini aku belum pernah lihat!" ia kata
sembari tertawa. "Ngoso adalah satu penanam bunga yang
pandai!"
Ia bertindak ke jurusan Kiauw Liong, sampai sejarak dua
tindak, di waktu mana ia lalu tempelkan tubuhnya.
"Adik Giok, bajumu ini ada dari bahan apa?" ia tanya
sambil tertawa. "Coba aku lihat!"
Sembari kata begitu, Siu Lian ulur tangannya, dengan
sikap hendak meraba baju, tetapi dengan tiba-tiba
tangannya menjurus ke dada orang, untuk ditotok.
Belum ujung jari mengenai baju atau Kiauw Liong cepat
luar biasa sudah bekap tangannya itu, benar wajahnya
berubah sedikit, toh ia bisa tertawa.
"Eh, encie Jie, kenapa tanganmu begini dingin?" ia
tanya.
Sebelumnya menyahuti, Siu Lian sudah tarik pulang
tangannya dan balik menyekal lengannya orang,
gerakannya mirip dengan gencatannya dua batang golok.
Kalau gencatan ini mengenai tangan orang biasa yang
tak mengerti silat, orang itu mestinya sudah menjerit
kesakitan, tetapi tidak demikian dengan nona Giok,
wajahnya dan sikapnya biasa saja, malah tenang.
"Encie, jangan main-main," ia kata sembari bersenyum.
"Tanganmu dingin, aku takut! ... "
Dengan bersenyum bikinan, Siu Lian tarik pulang
tangannya.
Kiauw Liong segera minggir sedikit jauh dari Siu Lian.
"Aku tahu sudah," kata Siu Lian seorang diri sambil
matanya mengawasi bunga suisian.
Tek naynay heran dan tertegun.
"Kau tahu apa, adikku?" ia tanya.
"Orang tak dapat dustakan aku," sahut Siu Lian. “Orang
mesti siang-siang omong terus terang ... "
"Perkara apakah itu yang kau dapat tahu?" Tek naynay
tegaskan dengan masih gelap akan maksud kata-kata itu.
"Aku tahu yang kau telah gunai hawa api akan bikin
hangat bunga suisian ini," akhirnya Siu Lian jawab.
"Dengan hawa itu kau bikin bunga ini jadi seindah ini ... "
Tek naynay lantas tarik tangannya orang, ia tertawa.
"Cukup, adikku, cukup, janganlah kau bikin dirimu
seperti baru datang dari pedusunan!" ia kata. "Mustahil
bunga suisian mesti dihangati."
Siu Lian tertawa.
Itu waktu Giok Kiauw Liong sudah kembali ke kursinya,
ia minum tehnya. Tangan bajunya yang panjang ia kasih
turun, hingga kedua tangannya jadi ketutupan.
Lee Hong pandang nona Giok dan gurunya, melihat
mereka, ia jadi heran sendirinya. Toh ia tidak kata apa-apa.
Tek naynay kelihatannya tak gembira sebagai semula,
tetapi dengan tetap manis ia layani Kiauw Liong, sampai
datang waktunya ia perintah siapkan barang hidangan
untuk bersantap sore.
Maka bujang-bujang lantas repot mengatur meja,
menyediakan barang makanan.
"Mari duduk," kemudian Tek naynay undang kedua
tetamunya. Kiauw Liong diminta duduk di kursi pertama,
Siu Lian kedua, ia yang ketiga.
Lee Hong diminta duduk sama-sama tetapi ia menolak.
"Mari duduk, siauw-naynay," kata Kiauw Liong. "Tidak
apa, kita ada di antara orang sendiri, jangan pakai banyak
adat peradatan! Silahkan duduk!"
"Kau duduklah," Tek naynay mengasih ijin.
Lee Hong mengucap terima kasih, ia lalu duduk di kursi
paling bawah.
Duduk di sampingnya Giok Kiauw Liong, Siu Lian
mesti mencium bau harum dari pakaiannya puteri teetok
itu. Ia taruh kedua tangannya di atas meja, tetapi dengan
kakinya diam-diam ia bentur betisnya Kiauw Liong.
Kiauw Liong diam saja atas itu perlakuan, hanya
secawan arak ia bawa ke depannya si nona.
"Encie, minumlah," ia mempersilahkan.
Dengan memakai tenaga, Siu Lian sekalian tarik
tangannya atas mana nona Giok kerutkan alis akan tetapi
tidak kata apa-apa.
Sembari tertawa, nona Jie lantas minum tehnya. Ia lantas
mulai mau bicara, dengan gembira, dan Kiauw Liong
layani ia dengan girang, dengan sikapnya sebagai sahabat
lama.
Kapan sebentar lilin-lilin mulai dipasang, cahayanya api
menyinari Kiauw Liong, bikin tampangnya si nona jadi
semakin mentereng bagaikan dewi saja ...
Orang tidak duduk terlalu lama di medan pesta. Setelah
semua sudah bersihkan mulut, mereka kembali bercakap-
cakap pula.
Di saat kentongan berbunyi sebagai tanda jam satu,
Kiauw Liong berbangkit untuk pamitan dari nyonya rumah,
Tek naynay hendak mencegah, tapi nona itu berkata:
"Maaf, aku perlu pulang, di rumah kebetulan ada urusan,
ada kurang baik bila aku pulang terlambat."
Tek naynay tidak mau memaksa.
"Encie," kemudian Kiauw Liong kata pada Siu Lian,
"lagi dua hari aku akan sambut kau di rumahku untuk kita
sama-sama rayakan tahun baru!"
"Terima kasih," sahut Siu Lian sambil bersenyum.
Beberapa bujang lantas membuka jalan sambil membawa
lentera. Kiauw Liong bertindak dengan diiringi oleh budak-
budaknya, mantelnya yang besar ia telah pakai
menyelubungi dirinya.
Siu Lian mengantarkan sampai di pintu angin lalu
undurkan diri akan terus kembali ke kamarnya. Di sini ia
lantas tertawa seorang diri.
Tidak antara lama, Tek naynay pun kembali sehabis
mengantar tetamunya, ia kasih lihat roman menyesalkan
tetapi sembari bersenyum.
"Adikku, kau kenapa ini hari?" ia tanya. "Kenapa
terhadap nona Giok Kiauw Liong kau tak berlaku seejie
sedikit juga? Syukur ia tak punya sikap dari satu nona
agung yang jumawa."
Siu Lian tidak gusar bahwa ia disesalkan, ia malah
tertawa.
"Aku ada seorang hutan," ia menyahut, "dan itu aku tak
bisa bicara secara halus dengan nona dari kalangan atas.
Syukur ia pun mau bicara denganku, coba ia ada orang lain,
siapa kesudian ladeni padanya?"
"Adikku, aku minta pertolonganmu," kemudian kata Tek
naynay dengan sungguh-sungguh. "Harap kau memandang
aku, janganlah kau bantu lebih jauh pada Lauw Tay Po
akan menghinakan lain orang ... Apabila ada terjadi suatu
apa, ngoko-mu dan aku sungguh akan jadi malu sekali ... "
"Ngoso boleh tetapkan hati," Siu Lian menghibur.
"Jikalau aku bekerja, aku tentu akan menjaga dan akan
memandang ke sana dan kemari, supaya semua pihak tak
mendapat malu, terutama aku tak akan terbitkan gara-gara
bagi ngoko dan kau sendiri. Sebentar aku hendak pergi pula
kepada Lauw Tay Po, besok urusan akan jadi beres, supaya
aku bisa lantas berangkat pergi!"
Tek naynay terperanjat.
"Kenapa kau tidak sebagaimana dulu?" ia tanya. "Kau
seperti telah berubah adat, adikku?"
Siu Lian tidak jawab itu enso, hanya ia memandang Lee
Hong dan tertawa. Tapi nona Yo jadi tercengang karena tak
bisa bade maksudnya Siu Lian.
Siu Lian minum teh, sampai dua cangkir, setelah itu, ia
lalu salin pakaian dengan baju dan celana hijau, dengan
sepatu hijau juga, kemudian ia lari keluar akan kasih titah
siapkan kudanya. Kemudian ia kembali ke dalam akan
pakai mantelnya.
"Orang-orang kaum kangouw paling sukar ubah adat!"
kata Tek naynay dengan menghela napas. "Jikalau aku ada
seorang lelaki, pasti aku tak mau nikah orang perempuan
semacam kau! ... "
Siu Lian tertawakan nyonya rumah itu.
"Apabila kau menikah pada orang seperti Giok Kiauw
Liong, kau pun akan gagal!" ia bilang sambil tertawa terus.
Lantas saja ia bertindak ke luar. Ketika ia sampai di kamar
tulis, di mana cahaya api ada terang menggenclang, ia
dengar suaranya Siauw Hong sedang membaca syair seperti
bernyanyi. Ia terus pergi ke belakang, ke istal, di mana
sudah siap kudanya yang berwarna dauk. Ia tuntun kuda itu
sampai keluar pekarangan, di sini ia loncat naik atas
kudanya yang ia lantas kasih lari congklang.
Di atas langit, sejumlah bintang pancarkan cahayanya
yang berkelak-kelik. Dari sebelah depan, angin dingin ada
menyambar keras. Di jalan besar ada kedapatan beberapa
kereta sedang berlalu lintas. Di tepi jalan ada orang-orang
ronda atau tukang pukul kentongan yang berdiri mirip
dengan setan atau roh-roh ...
Siu Lian kasih kudanya lari di jalan-jalan besar,
berketoprakannya kaki kuda terdengar nyata. Jalanan
memang ada jalanan yang teralas batu. Tidak terlalu lama
ia sudah sampai di Hoawan Taywan, rumah di mana Lauw
Tay Po ada menumpang tinggal pada Tek Lok. Di dekat
pintu, ia samperkan tembok, ia berdiri di atas kudanya itu
akan melongok ke dalam.
Di ruangan utara ada terlihat cahaya api.
"Adik Coa, buka pintu!" ia lalu memanggil.
Tak ada suara penyahutan akan tetapi Siang Moay
keluar bersama suaminya, hingga mereka lihat separuh
tubuhnya si nona di antara tembok pekarangan.
"Lekas buka pintu!" kata Siu Lian sambil tertawa.
Siang Moay lari ke pintu dan membukainya, Ia lihat Siu
Lian datang dengan tunggang kuda.
"Jie toacie, apakah kuda ini kau punya?" ia tanya dengan
kegirangan.
Siu Lian manggut seraya terus loncat turun dari
kudanya.
"Aku tidak gembira berjalan, maka aku tunggang kuda!"
ia menyahut. "Apakah kau bisa tunggang kuda?"
"Bisa, tetapi tidak pandai!" Siang Moay jawab. "Aku pun
tidak bisa kasih pertunjukan dangsu di atas kuda ... "
Tetapi ia hampirkan kudanya Siu Lian dengan niatan
akan coba menaikinya. Tay Po yang bisa duga hati orang,
segera mencegah.
"Undanglah toacie masuk!" kata ini suami.
Dengan terpaksa Siang Moay mesti batalkan niatannya.
Ia ajak tetamunya masuk.
Tay Po sambuti kudanya si nona, setelah tutup pintu,
lantas ia tuntun kuda itu terus ke dalam.
"Tadi di rumahnya Tek ngoya aku telah bertemu satu
sahabat kangouw," kata Siu Lian sembari tertawa pada
Siang Moay. "Berbareng aku pun telah dapatkan sedikit
keterangan tentang urusan kita. Sebentar aku hendak pergi,
aku harap yang aku bisa dapatkan pulang pedang mustika
itu. Pekgan Holie telah binasa, urusan bisa dibilang sudah
selesai, kita tak usah menarik panjang lagi."
Siang Moay kelihatan penasaran.
"Tetapi yang dengan piauw binasakan ayahku adalah si
rase kecil!" ia kata dengan sengit. "Sebelum aku bisa bekuk
ia itu, bagaimana aku bisa merasa puas?"
"Pertempuran itu malam dilakukan dalam gelap petang,
mana dapat dipastikan siapa yang telah gunakan piauw?”
kata Siu Lian. "Gara-garanya adalah Pekgan Holie,
sekarang ia sudah binasa, urusan boleh dianggap sudah
beres. Kenapa kau tak bisa memberi ampun?"
Itu waktu Tay Po bertindak masuk, dengan suara
perlahan-lahan ia terus berkata: "Kho sunio yang tadi
malam binasa di gedungnya Giok teetok benar-benar ada
Pekgan Holie. Giok cengtong sendiri sudah ketahui hal itu,
ia tadi tidak datang ke kantor untuk bekerja, katanya ia
dapat sakit, penyakit lamanya kumat, hingga ia mesti
berdiam di rumah untuk beristirahat. Di luaran ada tersiar
kabar yang Giok cengtong hendak meletakkan jabatan."
Kemudian bertiga mereka bicarakan lain-lain hal, sampai
kira-kira jam dua, Siu Lian berbangkit dan rapikan
pakaiannya. Goloknya yang tinggal sebelah, ia selipkan di
belakangnya, lalu ia pakai mantelnya.
"Coba bukakan aku pintu," ia kata pada Siang Moay.
"Sebentar lewat jam tiga aku akan kembali," pesan Siu Lian
selagi ia keluar di pintu pekarangan, kemudian ia langsung
menuju ke arah utara, dari situ menuruti tembok ia ambil
jurusan barat. Langit ada gelap, di tengah jalan ia tak lihat
siapa juga. Ia perhatikan jalanan yang kemarin ia ambil
waktu mengejar Pekgan Holie, karena ini, ia mesti ambil
tempo lebih lama dari sebagaimana mestinya. Benar pada
jam tiga, ia sampai di depan gedung Giok teetok. Pintu
pekarangan tidak ada yang jaga.
Siu Lian buka mantelnya, lalu ia loncat naik ke atas
tembok terus ke atas genteng. Dengan jalan di genteng, ia
menuju ke taman di mana kemarin ini ia tempur Pekgan
Holie dan muridnya.
Di gunung-gunungan batu ada digantung dua lentera, di
situ pun ada beberapa orang jalan mondar-mandir. Ia tidak
gubris orang-orang itu, ia ambil jalan lain melalui beberapa
undakan gedung, hingga ia dapat cari jendela dari mana
kemarin lawannya noblos masuk. Di sini ia merayap ke
payon di betulan jendela akan melongok ke bawah.
Dari dalam kamar ada keluar cahaya api, Siu Lian heran
melihat itu.
"Kenapa sampai begini waktu Giok Kiauw Liong masih
belum tidur?" ia berpikir. Ia lantas taruh mantelnya di atas
genteng, ia jambret payon, tubuhnya dikasih turun dengan
hati-hati. Ia berdiri di muka jendela sekali, ia mengintip ke
dalam. Tirai cita ada menghalangi ia memandang ke
sebelah dalam, dari itu dari sakunya ia keluarkan gunting
kecil buat dipakai membikin lubang di tirai itu. Sekarang ia
bisa melihat ke dalam dengan nyata.
Kamar itu ada terang tetapi tidak ada orangnya. Di atas
meja ada sehelai kertas, dengan matanya yang jeli, Siu Lian
bisa lihat huruf-huruf yang tertulis di atas kertas itu, sebab
huruf-huruf itu besar. Ia membaca:
"Encie Siu Lian!
Aku menduga pasti kau akan datang malam ini, tetapi aku
harap kau jangan terlalu desak aku. Aku telah insyaf akan
kekeliruanku, maka selanjutnya aku akan jaga diriku baik-
baik."
Nona Jie lantas menghela napas.
"Seorang yang pintar!" ia kata kemudian, sambil
bersenyum.
Justru itu tertampak bergeraknya kain kelambu, yang
berwarna merah, dan dengan tersingkapnya itu segera
tertampak separuh badannya Giok Kiauw Liong. Ia ada
memakai pakaian tidur warna hijau, kuncirnya telah
dipecah dua dan meroyot turun di depan dadanya.
"Sungguh elok!" Siu Lian kata, dengan perlahan. “Siocia,
silahkan turun dari pembaringan!"
Kelambu disingkap habis dengan perlahan-lahan, sambil
bersenyum Kiauw Liong turun dari pembaringannya. Ia
bawa sikap sebagai juga tak ada terjadi perkara apa pun.
Ketika ia sampai di depan lampu, di situ ia perlihatkan
lengannya, sedang air mukanya kelihatan lesu sebagai
orang yang masgul atau menyesal.
"Itulah masih bagus!" kata Siu Lian sambil bersenyum.
"Jikalau aku tak lihat kau sangat cantik dan manis, aku
tentu telah cekal kau dengan terlebih keras lagi! Sekarang
lekas serahkan itu pedang padaku, aku mau lekas pergi
lagi!"
Kiauw Liong tidak menjawab, ia hanya jemput kertas
tadi dan pit, akan menulis pula di atas itu. Ia menulis:
"Besok malam aku akan antarkan pedang pulang ke
tempat asalnya. Aku akan pegang kepercayaanku.”
"Baiklah," kata Siu Lian sambil tertawa. "Kau boleh buat
main pedang itu lagi satu hari!"
Baru sekarang Kiauw Liong menoleh ke jendela dan
tertawa.
"Nah, aku pergi!" kata Siu Lian, yang terus mundur
sedikit akan loncat naik ke atas genteng.
Hampir berbareng dengan loncatnya ia, api di dalam
kamar pun padam. Ia ambil mantelnya dan loncat turun ke
tanah. Di sini ia pakai mantelnya dan terus bertindak pergi
sambil bersenyum-senyum. Rupanya ia puas dengan
pekerjaannya itu, atau ia anggap Kiauw Liong bersikap
lucu.
Ia jalan kira-kira seratus tindak ketika tiba-tiba ia rasakan
punggungnya ada yang tonjok, sampaikan merasa sakit
sekali. Ia putar tubuh dengan segera, hingga ia bisa lihat
satu bayangan mencelat naik ke atas genteng.
Dengan lemparkan mantelnya, nona Jie lompat
mengejar, tetapi berbareng dengan itu ia dengar suara
tertawa cekikikan, terang suaranya orang perempuan.
Tatkala Siu Lian sampai di atas genteng, bayangan itu
sebaliknya loncat turun, maka terpaksa ia mengejar terus
dengan loncat turun lagi.
"Oh, nona penjahat, kau sebenarnya inginkan apa?" ia
menegur.
Tapi, dengan sekelebatan saja, bayangan itu lenyap di
tempat gelap.
Bukan main kagumnya nona Jie.
"Apa maksudnya dengan permainannya ini?" ia
menduga-duga dalam hatinya.
Di saat itu ia tak mampu bade pikiran atau maksudnya
bayangan itu, ialah Giok Kiauw Liong.
Oleh karena ini, Siu Lian jadi khawatirkan
keselamatannya Lauw Tay Po dan Coa Siang Moay, dari
itu ia lantas lari menuju pulang. Sesampainya di kaki
tembok kota, ia menuju ke timur. Ia lari belum jauh, di
depannya ia dengar suara larinya kaki kuda mendatangi ke
jurusannya.
"Di depan apakah bukannya Jie toacie? Aku datang
memapak!" demikian terdengar suaranya si penunggang
kuda.
Siu Lian kenalkan Siang Moay.
"Aku tidak bisa menghaturkan terima kasih untuk
kebaikanmu ini!" ia kata. "Kau bukannya hendak
menjemput aku, kau justru hendak coba kudaku!"
Siang Moay telah datang dekat, ia tertawa.
"Bagaimana, toacie?" tanya ia. "Apakah kau telah dapat
kepastian siapa adanya Pekgan Holie itu?"
Siu Lian enjot tubuhnya loncat naik ke atas kuda, hingga
mereka jadi menunggang berdua.
"Sekarang jangan ngobrol dulu, mari kita lekas pulang!"
ia kata. "Barangkali di rumahmu ada terjadi peristiwa! ... "
Lantas, dengan tak pedulikan jawaban, Siu Lian kasih
kudanya kabur. Dalam cuaca gelap mereka lari sepanjang
tembok menuju ke timur, dengan begitu dalam tempo
pendek mereka lelah sampai di rumah. Selagi kuda
diberhentikan di pinggir tembok, Siang Moay mendahului
loncat naik ke tembok dan terus loncat turun ke dalam
untuk membukai pintu.
Tay Po muncul dengan cepat, ia tuntun masuk kudanya
Siu Lian.
Siu Lian paling dahulu bertindak masuk, karena Tay Po
mesti tambat kuda dan Coa Siang Moay mengunci pintu,
tetapi lekas juga ia telah disusul oleh suami isteri.
"Apakah tidak terjadi suatu apa di sini seperginya aku?"
Siu Lian tanya setelah mereka berada di dalam.
"Tidak," sahut Tay Po.
"Mungkin sebentar lagi akan ada orang yang datang
kemari," kata nona Jie.
"Siapa dia itu?" Siang Moay tanya.
Siu Lian tertawa.
"Ia adalah si pencuri pedang," ia memberi tahu. "Tapi ia
bukan penjahat sewajarnya dan juga bukan muridnya
Pekgan Holie, ia tak tinggal di dalam gedung teetok. Dari
itu, aku tidak berani terlalu desak padanya. Ia pun telah
mohon maaf padaku. Ia telah berjanji besok malam ia akan
antarkan pedang ke gedung pweelek."
Lauw Tay Po tercengang.
"Apakah pasti ia akan antarkan pedang itu?" ia
menegaskan.
"Ia telah mampu curi pedang itu, niscaya ia pun sanggup
mengembalikannya," Siu Lian berikan kepastian. "Jikalau
aku mati, tadi aku bisa rampas pedang itu dari tangannya,
akan tetapi aku tak lakukan ini. Aku tahu ia ada sangat
ketarik dengan itu senjata, maka biarlah ini satu malam lagi
ia buat main itu. Dengan ini jalan, ia pun jadi mendapat
muka terang. Tegasnya, sekarang aku ingin lekas-lekas
pulang, aku tidak mau berlaku keterlaluan, kalau aku
gunakan kekerasan, apabila nanti aku sudah pergi,
akibatnya tak baik bagi kau berdua."
"Sebenarnya, siapa dia?" tanya Siang Moay dengan
duka. "Apa she dan namanya? Apakah pekerjaannya?"
"Kau tidak usah menanya dengan melit," berkata Siu
Lian seraya goyangkan tangan. "Ia ada seorang aneh
berbareng pun menarik hati. Bugee-nya juga tak ada di
sebelah bawah aku. Tadi aku tidak bicara banyak padanya
oleh karena di sana kita tidak merdeka. Sebentar ia
barangkali akan datang kemari atau pergi ke rumahnya Tek
ngoya akan cari aku. Urusan ini, sekarang kau tidak usah
terlalu campur tahu, aku telah wakilkan kau akan mengurus
beres. Besok atau lusa aku akan balik ke Kielok, mungkin
lain tahun, di bulan kedua atau ketiga aku akan datang
pula, itu waktu aku akan tinggal di Pakkhia ini jauh terlebih
lama, supaya aku bisa bergaul rapat dengan ia. Aku harap
itu waktu aku bisa ajar ia kenal dengan kau berdua."
Siang Moay cekal lengannya Siu Lian.
"Encie, kenapa kau bikin kita mesti berteka-teki?" ia kata.
"Encie, beritahukanlah she dan namanya orang itu ... "
"Benar-benar aku belum bisa terangkan she dan namanya
itu orang," Siu Lian bilang. "Buat di kota raja ini, ia ada
seorang yang ternama. Aku tidak ingin sebutkan she dan
namanya itu pada siapa juga. Tenangkan hatimu, besok
malam pedang tentu akan sudah berada di gedung pweelek!
Umpama kata itu orang tetap belum mau
mengembalikannya, aku pun terpaksa akan ambil tindakan
terhadapnya!"
Siang Moay duduk dengan hatinya berpikir dan Tay Po
ada sangat masgul. Berdua suami isteri ini ingin ketahui hal
si pencuri pedang tetapi sikapnya nona Jie membikin
mereka bingung.
Siu Lian masih berduduk sekian lama, ketika akhirnya ia
berbangkit,
"Aku hendak pergi sekarang," ia kata. "Boleh jadi itu
orang telah pergi ke rumahnya Tek ngoko akan cari aku.
Tentu ia menyangka aku ada di rumahnya Tek ngoko itu ...
" Ia bersenyum. "Aku minta kau berdua jangan kuntit aku,
inilah berbahaya, sebab kalau kau dapat dilihat oleh ia itu,
bisa jadi ia akan ganggu kau!"
Siang Moay berbangkit.
"Sudah begini malam, encie, bagaimana kau bisa
pulang?" ia kata. "Di jalan-jalan besar tentu ada orang polisi
atau ronda, bila mereka cegat dan tahan kau, sungguh tak
enak ... "
"Di rumah keluarga Tek, orang pun tentu sudah pada
tidur," Tay Po turut mencegah. "Jie toacie, baiklah kau
tunggu sampai terang tanah, baru kau pulang ... "
"Tidak apa," Siu Lian kata. "Aku bisa ambil jalan di
gang-gang yang gelap dan sepi. Sesampainya di rumah Tek
ngoko, aku juga bisa buka pintu sendiri, aku tidak usah
bikin kaget penghuni rumah."
Siang Moay masih berniat mencegah tetapi Tay Po
kedipkan mata hingga ia batalkan niatannya itu.
Siu Lian pakai mantelnya, ia bertindak keluar. Ia tuntun
kudanya.
"Silahkan kunci pintu," ia kata pada Siang Moay, yang
antar ia keluar. Ia loncat naik atas kudanya dan kasih kuda
itu berjalan.
Siang Moay mengawasi, sampai tindakannya kaki kuda
tidak terdengar pula, baru ia masuk dan kunci pintu
pekarangan. Ketika ia sampai di dalam, ia lihat Tay Po
telah lemparkan theekoan teh ke lantai sampai hancur dan
gembreng dilempar ke batu hingga suaranya ramai, malah
dengan sangat sengitnya suami ini juga hendak sambar
lampu buat dibanting hancur!
Isteri ini menjerit, ia lompat menubruk suaminya itu.
"Eh, kau kenapakah?" ia berseru. "Apa kau sudah angot?
Kenapa kau main lempar dan banting barang? Apakah
artinya itu?"
Tay Po banting-banting kaki, napasnya memburu dan
tersengal-sengal.
"Sungguh menjemukan, sungguh menjemukan!" ia
berseru. "Beginilah sukarnya akan minta pertolongan orang!
Kesudahannya ia lepaskan penjahat secara begitu saja.
Kenapa pedang tidak diambil untuk diserahkan pada kita?
Kenapa si penjahat mesti diantap pertunjukkan
kepandaiannya dengan serahkan sendiri pedang itu di
tempatnya. Belasan hari kita telah buang tenaga, yang
ternyata sia-sia belaka! Apa ini tidak menyebalkan?"
"Hus, perlahan sedikit!" mencegah Siang Moay. "Ia
barangkali belum pergi jauh."
"Peduli apa?" Tay Po berseni seraya tepuk-tepuki
dadanya. "'Biar ia dapat dengar, aku tidak takut! Aku Itto
Lianhoa bukannya orang yang tak punya she dan nama!
Biar orang gagali tetapi, dengan golokku, aku tak takut!"
"Benar kau angot!" kata Siang Moay seraya banting-
banting kaki. "Kenapa kau sesalkan orang? Kau harus
ketahui, dengan tanpa bantuan, mana kita sanggup lawan
Pekgan Holie? ... "
"Tetapi aku tidak marah, aku tidak marahi siapa juga!"
sahut Tay Po, dengan masih sengit. "Aku hanya menyesal
kenapa pedang itu tidak diambil untuk diserahkan kepada
kita? Bukankah bagus kalau pedang itu aku yang antarkan
pulang ke Pweelek-hu? Di Pweelek-hu aku telah sesumbar
dan sumpah bahwa aku bukannya manusia bila aku tak
mampu rampas pulang pedang itu! Sekarang? Malah
bayangannya pedang pun aku tak pernah lihat! Mana aku
ada punya muka akan ketemui orang?"
"Masih ada jalan," Siang Moay membujuk, kejengkelan
siapa ia bisa mengerti. "Jikalau besok si penjahat antar
pulang pedang, ia tentu tidak perkenalkan diri, ia niscaya
tak berani memberi tahu namanya, maka itu, apa kau tidak
bisa gunai itu ketika akan terangkan bahwa kaulah yang
antarkan pulang pedang itu?"
Tay Po menyengir.
"Pikiranmu ini sungguh sempurna!" ia kata, seperti
mengejek. "Apa dengan begitu aku pun tidak sepera si
penjahat saja? Ah ... "
"Kalau begitu," kata pula Siang Moay, yang belum mau
mengalah, "apa tidak baik kalau besok kau pergi ke
Pweelek-hu akan memberi tahu bahwa kau telah bikin
penyelidikan, bahwa kau telah mendapat tahu yang
sebentar malam penjahat akan antarkan pulang pedang
mustika itu? Kau boleh minta dibikin persiapan untuk
menjebak dan bekuk si pencuri pedang itu!"
Tay Po pandang isterinya.
"Perlahan sedikit," ia kata. "Akal ini boleh juga ... Tapi
aku sangsikan, apa bisa menjadi yang si penjahat ada
demikian tolol? Aku kuatir, bukan saja si penjahat tak mau
masuk ke dalam jaring, malah pedang pun turut tak jadi
dipulangkan ... Tapi, aku ada satu jalan."
Karena pikiran isterinya itu, Tay Po tiba-tiba dapatkan
pikiran baru.
Siang Moay jadi ketarik.
"Apakah itu?" ia tanya.
Bahna puas, Tay Po bisa bersenyum.
"Begini," ia menyahut. "Besok malam kita datang dengan
diam-diam ke Pweelek-hu akan menunggu sambil
sembunyikan diri. Jika bisa, kita boleh serang ia dengan
beruntun dengan piauw, supaya ia rubuh dan pedangnya
kita bisa rampas. Andaikata ketika untuk berbuat demikian
tidak ada, kita diam saja dan tunggu si penjahat sudah taruh
pedang di tempatnya dan berlalu kita membarengkan keluar
akan pergi ambil pedang itu buat kita bawa pulang. Buat
beberapa hari, pedang itu kita boleh buat main, kemudian
baru kita pulangkan pada pweelek-ya, dengan kata kitalah
yang peroleh itu. Perbuatan kita ini, penjahat tak akan
ketahui begitupun si nona Jie. Dengan ini jalan kita akan
bikin terang muka kita!"
Siang Moay tertawa.
"Ya, akal ini benar bagus!" ia memuji.
"Tidak ada lain jalan!" kata suami itu.
Siang Moay lantas punguti gembreng dan pecahan-
pecahan theekoan untuk disingkirkan, kemudian mereka
masuk tidur. Mereka menduga pasti bahwa itu malam tidak
akan terjadi apa juga, meskipun demikian, keduanya tak
bisa pulas bahna bercuriga dan berkuatir. Golok dan piauw
tak terpisah jauh dari badan mereka.
Besoknya pagi, Tay Po bangun sampai siang, ketika ia
pergi ke belakang ia lihat isterinya sudah beli sayuran dan
sedang masak nasi. Ia bersenyum seorang diri karena ia
merasa puas punyakan isteri yang tidak saja pandai
menggunakan senjata dan jalan di atas tambang, pun bisa
bekerja di dapur!
Sembari menemani isterinya bekerja, Tay Po ngelamun.
Ia pikirkan kerjaannya sudah hampir satu bulan, capai gawe
tanpa hasil, bahkan beberapa kawannya telah mendapat
luka. Apa yang menjadi hiburan baginya adalah sekarang
namanya telah tambah naik.
"Aku belum dapatkan pedang, Pekgan Holie tidak binasa
di tanganku sendiri, tetapi di sebelah itu aku telah peroleh
Siang Moay yang manis ... Maka aku harap sebentar malam
kita nanti berhasil, supaya nanti di muka orang banyak aku
bisa muncul dengan angkat kepala ... "
Lantas, dengan gembira ia dandan.
"Pekerjaan kita tinggal sebentar malam!" ia kata pada
isterinya. "Kau baik sedia lebih banyak makanan untuk kita
puaskan diri! Peruntungan manusia memang aneh! Lihat
saja kita. Pada waktu begini dari tahun yang sudah, tidak
pernah aku pikir bahwa kita akan dapatkan pengalaman
sebagai ini ialah aku tidak pernah mimpi bahwa aku bisa
dapatkan kau! Pada itu waktu, barangkali kau masih ada di
pantai Honghoo atau di pesisir sungai lainnya dan kau tidak
pernah pikir bahwa kau akan jadi isteriku ... "
"Memang," kata Siang Moay seraya potong-potong
mienya. "Sungguh sial, dasar peruntunganku! ... "
Tay Po tertawa.
"Apakah kau tidak merasa mukamu terang dengan
menikah pada Itto Lianhoa?" ia tanya. "Jangan kau cela
aku! Sekarang hayo kau siapkan makanan, aku mau lekas
keluar buat melihat-lihat ... Malam ini pedang mesti
dipulangkan atau diantarkan pada kita untuk kita yang
pasrahkan pada pweelek-ya. Aku juga ingin lihat
macamnya si rase kecil!"
Siang Moay bekerja terus, dengan masukkan mie ke
dalam kwali, tetapi perkataan suaminya bikin air matanya
meleleh dengan tiba-tiba.
"Dengan perkara habis secara demikian, aku tidak puas!"
berkata ini nyonya muda. "Ayah dan ibuku telah binasa
semua ... mereka binasa secara kecewa ... "
Dengan tangan bajunya ia seka air matanya.
"Kita bersabar sampai habis tahun baru," Tay Po
membujuk. "Asal si rase kecil tidak kabur dari sini, aku
akan berdaya sebisa-bisanya untuk bekuk padanya,
selanjutnya kita jangan minta bantuannya Jie Siu Lian lagi.
Di belakang hari, kita mesti bekerja sendiri, dengan
perlahan-lahan kau lihat saja aku nanti bikin entia (papa
mertua) dan ennio (mama menua) nanti meramkan
matanya di dunia baka."
Siang Moay telah masak dengan cepat, lantas ia layani
suaminya bersantap.
Tay Po pakai baju hijau, kaus kakinya putih, sepatunya
hijau juga. Betisnya ada terlilit rapi. Di sebelah luar
badannya, ia pakai baju lebar. Ia telah cuci muka dengan
bersih dan tauwcang-nya tersisir licin mengkilap. Dengan
dandanan cara demikian, ia bertindak keluar dari
rumahnya, menuju ke gedung pweelek.
Lie Tiang Siu dan beberapa pengawal menyambut sambil
tertawa.
"Oh, Lauw suhu!" kata mereka. "Ingatlah, jangan
repotkan si rase saja, nanti kau lupai enso! Bukankah kita
sedang menghadapi tahun baru?"
"Aku tak nanti lupakan itu!" sahut Tay Po, juga sambil
tertawa. "Di harian cee-it aku nanti undang kau ke rumahku
buat kita makan minum! Enso-mu akan bikin kue yang kecil
mungil melebihi ujung lancip sepatunya … "
Ketika itu kelihatan Tek Lok muncul dengan tangannya
membawa angpauw entah untuk dihadiahkan kepada siapa.
"Lok-ya!" kata Tay Po seraya memegat, "aku hendak
sampaikan suatu kabar padamu. Kerjaanku akan lekas
berhasil, besok atau lusa pedangnya pweelek aku tentu akan
sudah bisa haturkan pada pweelek-ya ... "
Mendengar itu, Tek Lok tertawa tertahan.
"Jangan kau tertawa!" kata si guru silat, yang menyangka
bahwa orang sedang tertawai ia atau mengejek. "Itto
Lianhoa bukannya tukang mengebul, aku pasti ... "
"Apakah aku mesti tunggukan kau untuk kau serahkan
pedang itu padaku?" Tek Lok tegaskan. "Tadi malam
pedang sudah diantarkan pulang!"
Tay Po tercengang, kedua matanya terbuka lebar.
"Kau cari susahmu sendiri! ... " kata pula Tek Lok,
sekarang dengan perlahan. "Sudah hampir satu bulan, kau
repotkan diri dengan sia-sia belaka! Sebenarnya urusan
pedang itu tidak ada sangkutannya dengan Pekgan Holie ...
"
Tay Po semakinan bingung.
"Jangan kau ngaco," ia kata.
“Ngaco? Tidak sama sekali! Pedang itu orang antarkan
pulang sebagaimana waktu ia ambilnya: Pintu tertutup
rapat, jendela tidak bergeming, tanda apa pun tidak
tertampak. Bukan seperti kau waktu naik di genteng,
genteng pada berbunyi keras ... Pweelek-ya pun bilang, si
pencuri pedang benar ada satu hiapkek, yang pinjam senjata
itu untuk dibuat main, karena sekarang terbukti, pedang itu
telah dipulangkan dalam keadaan baik-baik."
Tay Po berdiri tertegun, sekujur badannya ia rasakan
dingin semua,
"Cukup!" kata pula Tek Lok sambil bersenyum. "Berdua
dengan isterimu, baiklah kau lewatkan harian tahun baru
dengan tenteram. Perkara cari rumah dan pindah aku yang
nanti urus, begitupun uang untuk membeli perabotan
rumah tangga ... "
Mukanya Tay Po jadi merah.
"Sudah, kau jangan goda aku," ia kata pada kuasa
Pweelek-hu. "Lok-ya, harap kau suka tolong aku dalam satu
hal. Berat aku telah bekerja untuk pedang itu, coba tidak
ada desakanku, barangkali si hiapkek itu tak sudi
kembalikan pedang itu! Sekarang tolong kau ambil itu
pedang buat aku periksa ... "
"Apakah kau sangsi si hiapkek nanti kembalikan pedang
yang palsu?" Tek Lok tanya sambil mengawasi guru silat
itu. "Ketika pagi-pagi pedang itu kedapatan, pweelek-ya
masih belum pergi ke istana, maka itu, ia sudah lantas
periksa sendiri, malah pun telah dicoba. Nyata itu ada
pedang yang tulen."
"Aku bukan maksudkan yang palsu," Tay Po kata. "Aku
hanya hendak luaskan pemandanganku. Sudah kira-kira
satu bulan aku bekerja keras, sekarang pedang telah
kembali, mustahil aku tak boleh melihatnya?"
Tek Lok dapat dikasih mengerti.
"Baiklah," ia bilang kemudian. "Tapi sekarang pweelek-
ya belum kembali dari istana, kau tunggu saja sampai
pweelek-ya kembali, aku nanti tolong kau bicarakan supaya
kau diperkenankan melihat senjata itu. Aku percaya
pweelek-ya tak akan menolaknya.”
"Baik," Tay Po kata.
Tek Lok lantas lanjutkan perjalanannya membawa
angpauw, sedang Tay Po, dengan lesu dan sambil tunduk
bertindak keluar. Ia mulanya niat pulang, tapi segera ia
batalkan itu. Untuk menemui isterinya pun ia jengah.
Karena ini, ia jadi berpikir keras.
"Si penjahat telah kembalikan pedang itu, itu ada bukti
nyata bahwa ia takut," demikian Itto Lianhoa berpikir.
"Maka sekarang baik aku desak terus padanya, aku mesti
pergi cari Jie Siu Lian, bukan untuk urusan pedang, hanya
urusan si rase kecil, yang harus dibekuk! Secara begini
barulah mukaku bisa kembali menjadi terang!"
Lantas Tay Po menuju ke Tongsu Paylauw.
Ketika itu sudah tengah hari.
Ia lihat pintu rumahnya Tek Siauw Hong dikunci, ia
menghampirkan dan mengetoknya.
Dari dalam muncul Hok Cu.
"Tentu kau kenal aku?" kata guru silat ini.
Kusir itu manggut, ia tertawa.
"Ya, aku kenal. Kau adalah Lauw-ya," ia menyahut.
"Apakah tuan cari looya kita?"
“Bukan, aku khusus cari nona Jie."
"Nona Jie sudah berangkat. Apa Lauw-ya tak dapat
tahu?"
Tay Po terperanjat.
"Kapan ia berangkat?" ia tanya dengan cepat.
"Baru saja, barangkali pada jam sembilan tadi," sahut
Hok Cu. "Belum lama dari berangkatnya nona Jie, sam-
siocia dari keluarga Giok ada kirim orang mengantar
barang, tetapi karena nona Jie sudah pergi, orang suruhan
itu lalu kembali pula."
Tay Po berdiri dengan bengong saja.
"Ada urusan apa maka ia berangkat demikian cepat?" ia
kata, seperti pada dirinya sendiri. "Ia toh tidak punya orang
lelaki di rumahnya? ... "
Hok Cu tertawa melihat kelakuannya guru silat itu.
"Apakah Tek ngoya ada di rumah?" kemudian Tay Po
tanya. "Aku ingin bertemu."
"Silahkan Lauw-ya duduk menantikan sebentar, aku
hendak pergi melihat dahulu," sahut Hok Cu.
Tay Po masuk ke dalam pekarangan, yang pintunya
dikunci pula. Ia diajak ke pintu kedua di mana ia
menantikan, sedang Hok Cu masuk terus ke dalam. Ia
merasa sangat tidak puas. Baiknya si kusir pergi belum lama
telah kembali lagi.
“Looya mengundang," kata kusir ini.
Tay Po tidak puas dengan orang punya cara menyambut
itu. “Tek Ngo toh bukannya seorang besar," pikir ia.
"Kenapa ia bawa lagak begini agung-agungan?"
Meski demikian ia toh ikut Hok Cu, yang pimpin ia ke
dalam, ke kamar tulis. D i sini Tek Siauw Hong menyambut
tetamunya sambil unjuk hormat dan silahkan tetamunya
duduk, ia sendiri yang menyuguhkan teh.
Kamar itu ada hangat, di atas meja ada terdapat banyak
rupa kitab. Mukanya Siauw Hong ada sedikit gemuk, dan
sejak piara kumis ia nampaknya seperti lebih berbahagia. Di
tangannya, ia mencekal huncwee airnya.
"Bukankah pedang pweelek-ya sudah diantarkan
pulang?" tiba-tiba tuan rumah kata, dengan perlahan.
Tay Po terkejut, tetapi ia lekas-lekas unjuk senyuman.
Cara bagaimana kau ketahui itu, ngoko?" ia tanya.
“Aku dengar itu dan nona Jie," sahut Siauw Hong. "Ia
berangkat tadi pagi-pagi, ia ada pesan aku kirim orang buat
beritahukan hal itu padamu, tetapi aku berlaku ayal-ayalan,
sebelum aku kirim orang, kau telah mendahului datang
kemari! Nona Jie bilang, pedang itu telah diantarkan tadi
malam."
Tay Po menjadi masgul berbareng mendongkol.
"Jie Siu Lian, kau terlalu!" kata ia dalam hatinya. "Nyata
sekali kau tidak pandang mata padaku! Kau tahu pedang
akan diantarkan tadi malam, tetapi kau dustakan aku
dengan kata bahwa itu barangkah akan dilakukan sebentar
malam ... "
Siauw Hong tidak tahu apa yang orang pikir, ia bicara
pula.
"Ada satu rahasia yang aku hendak beritahukan kau," ia
kata, dengan perlahan sekali. "Tentang ini aku harap kau
tidak omongkan pada lain orang ... "
"Urusan apakah itu?" tanya Tay Po dengan mata dibuka
lebar.
"Siu Lian datang ke Pakkhia karena ada maksudnya,"
Siauw Hong bilang.
"Apakah maksud itu?" Tay Po tanya pula. Agaknya ia
mendesak.
"Tentang itu ia tidak beritahukan padaku, aku hanya
menduga-duga," kata pula orang she Tek itu. "Aku percaya
ia datang kemari melulu guna lihat keadaan di sini yang
berhubungan dengan dirinya, Lie Bouw Pek. Oleh karena
perkara membunuh Oey Kie Pok, Lie Bouw Pek tidak
berani sembarangan datang kemari. Sekarang ini Lie Bouw
Pek mungkin sudah berada di Kielok. Rupanya, selama
beberapa hari berada di sini, nona Jie telah lihat bahwa
mengenai perkaranya Oei Kie Pok, sikap pembesar negeri
sudah tenang, dari itu, dengan tidak dapat ditahan, Siu Lian
sudah lantas berangkat pula dari sini untuk menyampaikan
kabar pada Lie Bouw Pek. Aku percaya, tidak lama lagi,
mereka akan datang bersama kemari. Maka, lauwtee,
baiklah kau sabar dan tunggu saja. Bukankah dulu kau
nyatakan ingin temui saudara Bouw Pek itu? Nanti, bila ia
sudah datang, aku akan ajar kau berkenalan satu pada lain."
Mendengar begitu, Tay Po tertawa.
"Tentu Bouw Pek dan Siu Lian telah menjadi pasangan!"
ia kata.
Tapi Siauw Hong geleng kepala.
"Tidak! Mereka berdua ada punya adat aneh. Boleh jadi
Siu Lian sukai Bouw Pek, tetapi Bouw Pek mempunyai sifat
kukuh, ia rupanya tidak setuju perangkapan jodoh mereka.
Aku setujui mereka menjadi pasangan, aku malah telah
berdaya untuk itu. Aku sudah pikir buat menolong Bouw
Pek, supaya perkaranya bisa dibikin habis, supaya ia dan
Siu Lian bisa sama-sama tinggal di sini, agar tidak lebih
lama pula mereka merantau."
"Ngoko, kau ada satu sahabat yang baik sekali," Tay Po
memuji. "Tidak heran kalau ada orang bilang bahwa kau
ada Beng Siang Kun dari ini jaman!"
Dipuji begitu tinggi, Siauw Hong menghela napas.
"Jikalau aku punya kekayaan sebagai Beng Siang Kun,
tidak nanti aku ijinkan sahabatku merantau yang tak keruan
juntrungannya," ia kata dengan masgul. "Sebagai kau
sendiri, lauwtee, sia-sia kau punya kepandaian, kau telah
menjadi satu guru silat yang nganggur saja!"
Mukanya Tay Po menjadi merah, ucapan itu ia rasakan
sebagai penghinaan walau ia tahu tuan rumah tak
bermaksud demikian. Sekian lama ia berdiam saja.
"Ngoko," kata ia kemudian, "aku ingin ketahui lagi satu
hal. Kemarin Siu Lian bilang padaku bahwa ia sudah
ketemui orang yang telah curi pedang, bahkan ia tahu hal
ikhwalnya itu orang, tetapi padaku ia tidak mau
beritahukan siapa adanya orang itu. Boleh jadi sikapnya ini
disebabkan ia kuatir aku tidak bisa pegang rahasia karena
persahabatan kita masih terlalu baru, tetapi terhadap kau
sendiri, itulah lain. Apa ngoko suka kasih aku tahu siapa itu
si pencuri, agar aku tidak usah menduga-duga terlebih
lama? Aku bukannya hamba negeri, aku tidak pegang surat
perintah apa juga, maka andaikata aku ketahui siapa dia,
tidak nanti aku berani tangkap padanya. Malah apabila ia
tidak cela aku, aku ingin berkenalan dan bersahabat
padanya ... "
"Aku juga tidak ketahui siapa adanya ia," sahut Siauw
Hong sambil geleng kepala. "Jikalau aku tahu, tiada
halangannya aku beritahukan itu padamu, seperti hal akan
datangnya Bouw Pek aku toh telah beritahukan padamu.
Menurut dugaanku, pencuri pedang itu niscaya bukannya
orang sembarangan, bugee-nya pasti tiada di sebelah
bawahnya saudara Bouw Pek dan Siu Lian. Laginya ia itu
bukan betul-betul pencuri, sebagaimana ia ambil itu pedang
hanya untuk main-main saja!"
Tay Po bersenyum ewah.
"Ya, ia main-main saja, sampai nama baiknya Lauw Tay
Po hampir ternoda habis-habisan!" ia kata. "Nah, ngoko,
sampai ketemu pula!”
Ia berbangkit dan memberi hormat, lantas ia bertindak ke
luar.
Siauw Hong tidak tahan kenalan ini, ia mengantar
sampai di luar
Sekeluarnya dari Samtiauw Hotong, Tay Po menuju
terus ke luar Cianmui. Ia pergi ke Tayhin Piauwtiam, buat
cari Sun Ceng Lee.
Lukanya Ceng Lee masih belum sembuh betul, akan
tetapi ia sudah bisa dahar dan minum arak seperti biasa.
Tentang Pekgan Holie telah binasa dan pedang telah
dikembalikan pada Pweelek-hu, semua itu ia sudah ketahui,
sebab ketika hendak meninggalkan Pakkhia, Siu Lian telah
mampir pada saudara seperguruan ini untuk pamitan.
Tapi, mengetahui kesudahannya pencurian pedang itu
Ceng Lee sangat tidak puas.
"Siauw Lauw, kau tunggu saja!" demikian ia kata dengan
sengit pada Tay Po. "Tunggu sampai lukaku sudah sembuh,
kita nanti bekerja pula! Sumoay-ku bisa kasih ampun pada
si rase kecil, aku sendiri tidak!"
Tay Po tidak bisa berbuat lain kecuali hiburkan
Ngojiauw-eng yang ia suruh sabar saja. Kemudian ia pergi
ke Coanhin Piauwtiam akan tengok Yo Kian Tong dan Nio
Cit. Lukanya orang she Nio ini sekalipun hebat, tidak
membahayakan jiwanya.
Kian Tong dan Nio Cit belum tahu sepak terjangnya Siu
Lian, hal itu Tay Po tidak mau beritahukan mereka ini.
Pada kira-kira jam empat, barulah Tay Po pergi ke kota.
Pikirannya pepat, ia tidak dapat menghilangkannya. Ketika
ia sampai di Pakshia, (Kota Utara) selagi nikung di
Kouwlauw, ia lihat di belakangnya ada satu bocah
pengemis. Ia jadi mendongkol sekali dan niat balik lagi
akan hajar bocah itu, tetapi si bocah telah mendahului pergi
ke sebuah toko buat mengemis, hingga ia ubah pikirannya.
"Apa artinya akan hajar satu pengemis? Bugee-ku tidak
tinggi, orang telah permainkan aku, maka sesudah aku tidak
punya guna kenapa aku mesti umbar kemendongkolan
terhadap satu bocah?"
Karena ia bisa memikir demikian, Tay Po jadi jalan terus
sambil kadang-kadang menghela napas.
"Lauw tayya!" tiba-tiba ada suara menegur di sebelah
depan.
Tay Po sedang tunduk, maka ia segera angkat kepalanya.
Orang yang menegur itu ada satu buaya darat Pakshia, di
pundaknya ada tergendol serenceng uang, rupanya ia
sedang hendak pergi ke sarang judi untuk adu
peruntungannya. Begitu datang dekat, ia tarik Tay Po ke
pinggir jalan.
"Bagaimana, tayya?" ia tanya. "Dalam beberapa hari ini,
kau tentu repot sekali! Pekgan Holie telah binasa,
bagaimana dengan si rase kecil?"
“Semua sudah beres!" saliut Tay Po seraya angkat
dadanya, sesaat itu, lenyap kedukaannya. "Pedang pun aku
telah antarkan pulang ke Pweelek-hu! Si rase kecil aku kasih
ketika akan rayakan tahun baru, selewatnya itu aku nanti
cekuk padanya untuk diserahkan pada pengadilan!"
Ia lantas bertindak pergi dengan tindakan lebar dan air
muka gembira.
"Percuma aku bersombong diri secara begini," kata ia
dalam hatinya selagi jalan terus. "Buat apa berjumawa,
kalau kemudian seluruh Pakkhia toh akan ketahui
duduknya perkara sebenarnya? Di belakang hari orang tentu
akan katakan aku Itto Lianhoa sebagai satu bantong! Kalau
itu terjadi, apa aku masih punya muka akan jadi guru silat?
Apa aku masih punya muka akan lihat orang?"
Oleh karena memikir begini, ia bertindak masuk ke
Pweelek-hu dengan tidak keruan rasa, lenyap antero
kegembiraannya. Tapi karena ia datang dengan
mengandung maksud, ia langsung cari Tek Lok.
"Apa kabar?" begitu ia tanya. "Apa kau sudah bicara
pada pweelek-ya yang aku ingin pinjam lihat itu pedang?"
"Tadi aku telah bicarakan," sahut Tek Lok. "Pweelek-ya
bilang kau boleh melihatnya. Malah pweelek-ya bilang, ia
ingin ketemui kau, ada apa-apa yang hendak dibicarakan."
Tay Po melengak akan dengar ucapan yang terakhir itu.
"Baiklah," ia kata, dengan besarkan nyali. "Tolong toako
sampaikan kepada pweelek-ya, andaikata pweelek-ya
sedang senggang, sekarang juga aku ingin madap padanya."
"Tunggulah sebentar," kata Tek Lok yang terus masuk.
Tay Po menunggu sambil rapikan pakaiannya.
Tidak lama, Tek Lok telah balik lagi.
"Mari," kata itu kuasa istana.
Tay Po manggut, ia lantas ikut sahahat itu.
Pweelek, dengan pakaian biasa, sedang duduk
menghadapi teh wangi. Ia manggut dan bersenyum ketika
Tay Po unjuk hormat padanya.
"Pedang telah diantarkan pulang, kau tahu atau tidak?"
tanya pangeran Boan itu. Itu adalah ucapannya yang
pertama-tama.
Mukanya Lauw Tay Po menjadi merah, tetapi ia lekas-
lekas manggut.
"Hamba telah ketahui itu," ia menyahut.
"Dalam hal ini, bukan sedikit kau telah keluarkan
tenaga," kata Tiat siauw-pweelek. "Cuma tindakanmu ada
terlalu mendesak, sehingga membangkitkan
ketidaksenangannya Giok cengtong. Dengan alasan
kesehatannya terganggu, ia hendak meletakkan jabatan,
tetapi aku telah mencegahnya, aku bilang bahwa kau adalah
orangku, maka bila ia sampai berhenti, aku merasa tidak
enak hati. Giok cengtong itu ada sahabatku dari banyak
tahun, dan ia pun ada satu pembesar yang pandai, sedang
selama di Sinkiang, ia telah dirikan bukan sedikit jasa.
Umpama kejadian ia meletakkan jabatan, karena aku tidak
mampu tilik sepak terjangnya satu guru silatku, aku merasa
malu dan tidak enak hati. Tentu orang nanti katakan aku
lemah dan antapkan orangku menghina pada pembesar
berpangkat tinggi ... "
Tay Po hendak membantah, tapi Tiat pweelek telah dului
ia.
"Aku kasih persen kau limapuluh tail perak," demikian
kata ini pangeran. "Setelah ini, aku minta kau suka
tinggalkan istanaku ini. Aku tahu bugee-mu ada tinggi, aku
menyesal yang di sini aku telah sia-siakan kau. Seharusnya
kau bekerja di dalam perusahaan piauw, atau masuk dalam
tentara, dengan begitu di kemudian hari kau akan peroleh
kemajuan."
Tiat siauw-pweelek bicara dengan halus dan manis,
nampaknya ia ada merasa menyayangi kepandaian orang.
"Tidak usah pweelek-ya terangkan lagi, aku sudah
mengerti!" kata Tay Po kemudian, seraya angkat dada.
"Sudah satu tahun lebih aku diijinkan tinggal di dalam ini
istana. Aku ketahui kebaikan pweelek-ya. Kau hendak
berhentikan aku, buat itu pweelek-ya tidak perintah lain
orang yang menyampaikan omongan padaku, hanya
pweelek-ya sendiri, malah aku juga telah dipanggil masuk
kemari. Budi ini aku tidak bisa balas kendatipun kepalaku
terpisah dari leherku!"
Tek Lok lantas kedipi mata pada ini guru silat,
maksudnya mencegah orang bicara secara demikian terus
terang, tetapi Tay Po berpura-pura tidak melihat atau tidak
ketahui, ia bicara terus dalam caranya itu.
"Oleh karena sudah satu tahun lebih aku bekerja
nganggur di sini," demikian ia melanjutkan, "aku merasa
malu sekali, dari itu justru ada ini perkara pedang, aku pikir
hendak membikin jasa, ialah dengan cari pedang itu. Siapa
nyana bahwa bugee-ku tidak sempurna, sepak terjangku
pun kasar hingga aku gagal. Lantaran ini, meski pweelek-ya
tidak berhentikan aku, aku sendiri pun tidak punya muka
lagi akan bekerja terus. Tentang cengtong Giok-tayjin, aku
hendak terangkan: Ia tidak bermusuhan dengan aku, ia ada
seorang berpangkat besar, besar kekuasaannya dalam
urusan tentara, aku sendiri ada rakyat jelata, oleh
karenanya, walaupun aku ada bernyali sangat besar, tidak
nanti aku berani perhinakan padanya ... Tapi perkara telah
jadi begini rupa, tidak ada harganya untuk aku bicarakan
lebih jauh, aku tidak ingin bikin pweelek-ya jadi jengkel,
dari itu, aku pamitan saja. Hanya aku mau minta
pertolongan pweelek-ya, andaikata kemudian pweelek-ya
ketemu Giok-tayjin, tolong memberi tahu padanya agar ia
jangan berpemandangan cupat sebagai aku. Tentang
persenan pweelek-ya, limapuluh tail perak, aku mohon
pweelek-ya tarik pulang hadiah itu. Sebabnya ini adalah aku
tidak kekurangan uang, aku bisa bekerja sebagai piauwsu
dan isteriku bisa main dangsu, ke mana saja ia pergi, ia
mampu cari uang. Hadiah itu aku tidak berhak
menerimanya. Nah, pweelek-ya, silahkan beristirahat, aku
hendak pergi sekarang. Biarlah di kemudian hari kita nanti
bisa bertemu pula, untuk aku balas budi pweelek-ya."
Lauw Tay Po menjura sampai dalam dan Lintas
bertindak pergi.
Tampak mukanya pucat.
Tek Lok memburu guru silat ini.
"Apakah kau sudah angot?" demikian ia menegur. "Siapa
yang berani bicara demikian di depan pweelek-ya? Apakah
kau tidak lihat, bagaimana kemudian pweelek-ya
nampaknya gusar? Dalam hal ini, adalah Giok cengtong
yang bikin urusan jadi buruk begini rupa! Coba tadi kau
minta pada pweelek-ya, kau niscaya tidak akan dikasih
berhenti, atau sedikitnya kau dipujikan pada lain orang."
Tay Po menoleh, ia bersenyum tawar pada itu kuasa
Pweelek-hu.
"Lok toako, kau masih belum tahu adatnya orang-orang
sebangsa aku," ia bilang. "Buat kita, pinggang dan batang
leher kita boleh putus, tetapi buat memohon pada orang,
buat mengemis nasi, itulah tidak akan terjadi!"
"Bagaimana dengan pedang itu, apakah kau jadi hendak
melihatnya?" menanya Tek Lok.
Tay Po tertawa tak sewajarnya.
"Apakah yang masih hendak dilihatnya? Ini hari juga
kita mau pindah! Tentang kebaikanmu, toako, tak nanti aku
lupakan!"
Tek Lok tarik tangan orang.
"Kau jangan pindah!" ia mencegah. "Kau boleh tetap
tinggal bersama aku, dua atau tiga tahun pun tidak ada
artinya!" Ia tambahkan, sambil berbisik: "Sebentar malam
aku nanti pergi pada Tek ngoya akan minta pertolongannya
untuk kau. Ia tentu bisa berdaya ... "
"Jangan!" mencegah Tay Po. "Aku baru saja datang dari
sana! Kita telah rubuh, mangkok nasi kita sudah terbalik,
maka itu, apa aku masih mesti seret-seret sahabat-
sahabatku? ... "
Tek Lok goyang-goyang tangannya.
"Bukannya begitu," ia bilang. "Kau harus cari lain
pekerjaan! Lebih baik minta Tek ngoya tolong carikan
kerjaan, umpama pada Khu Kong Ciauw. Dengan kau
tetap bekerja pada orang-orang ternama, Giok cengtong
pasti tidak akan mampu berbuat suatu apa atas dirimu.
Kalau tidak, sudah terang kau tidak akan bisa taruh kaki di
kota raja ini!"
Mendengar demikian, air mukanya Tay Po menjadi
guram. Ia bersenyum sindir.
"Apa? Apakah Giok cengtong hendak bereskan aku?" ia
kata secara menantang. "Baik, orang berpangkat duduk joli
yang digotong berdelapan orang, tetapi aku si kecil
punyakan hanya satu jiwaku! Sampai sebegitu jauh mulutku
ada tertutup rapat untuk merahasiakan banyak urusannya,
tetapi, jikalau ia desak aku sampai demikian, apa boleh
buat! Ha-ha-ha-ha! Lok toako, kau jangan kuatir, aku urung
pindah, aku nanti berlaku sabar, hanya di belakang hari,
kau nanti lihat Giok cengtong akan hilang muka di tengah
jalan besar! Nah, sampai ketemu! Sampai ketemu pula."
Sambil angkat kedua tangannya mengunjuk hormat, Tay
Po lantas bertindak pergi. Ia telah menahan sabar,
sesampainya di jalan besar, ia terus saja pulang. Siang
Moay sedang menjahit di atas pembaringan.
Melihat suaminya, nona Coa segera berbangkit dan
turun.
"Ah, aku sampai lupa!" kata isteri ini. "Ketungkulan
menjahit, aku sampai lupa masak nasi! ... "
"Apa, masak nasi?" tanya Tay Po, sambil paksakan
tertawa. "Mangkok nasi kita justru telah terbalik!"
Siang Moay kaget dan tertegun. Tapi lekas juga ia
tertawa.
"Ya, tadi malam kau bikin hancur theekoan!" ia kata.
"Kau pun hendak bikin terbalik mangkok nasi kita! ... Kau
keliru ... "
"Tapi aku bicara hal yang benar!" Tay Po lekas
terangkan. "Giok cengtong sudah pukul terbalik mangkok
nasiku!” Katanya, “di belakang hari ia pun hendaki jiwaku
... "
Siang Moay benar-benar heran, hingga mengawasi saja.
Tay Po tidak mau bikin isterinya bingung terus, maka ia
lalu tuturkan apa yang barusan terjadi.
Setelah ketahui itu, Coa Siang Moay menangis.
"Kenapa kau berlaku begitu sabar?" tanya ini isteri
kemudian. "Ketika pweelek-ya berhentikan kau, apa kau
tidak bisa tuturkan padanya bahwa Pekgan Holie justru
binasa di gedungnya keluarga Giok itu?"
"Begitu gampang?" Tay Po kata, dengan bersenyum
ewah. "Orang mengakui bahwa bujangnya meninggal dunia
karena sakit mendadak, dengan itu bukti telah dihindarkan
segala kecurigaan. Apa kau kira karena ucapan kita ini yang
berwajib akan bikin peperiksaan hingga kuburan dibongkar
dan peti mati dibuka pula? Apa bisa menjadi, melulu karena
kita pweelek-ya jadi berbentrok dengan Giok-tayjin?"
Siang Moay tepas air matanya.
"Bukankah kau pernah bilang bahwa pweelek-ya biasa
berlaku baik terhadap orang-orang yang pandai bugee?"
tanya ia.
"Orang yang pandai bugee juga ada banyak macam
tingkatannya," Tay Po bilang. "Umpamanya Lie Bouw Pek!
Aku mana bisa dibandingkan dengan orang she Lie itu?
Tetapi aku tidak benci pweelek-ya. Aku jadi guru silat
hanya nama saja, sebenarnya aku hidup nganggur ... Yang
aku benci adalah Giok cengtong! Aku telah lindungkan ia
tetapi sekarang ia bikin tertutup jalan hidupku! ... "
Siang Moay loncat berjingkrak.
"Siapa suruh kau lindungkan mukanya?" berseru isteri
ini. "Apakah kita tidak bisa uwarkan yang Pekgan Holie
telah binasa di dalam rumahnya dan bahwa sekarang si rase
kecil masih bersembunyi di dalam rumahnya itu?"
"Mulai ini hari, kita akan uwarkan itu!" sahut ini suami.
"Tapi lebih dahulu kita mesti pindah dari sini, kita tidak
boleh bikin orang kena kerembet-rembet karena urusan
kita!"
"Aku pikir untuk pindah ke Coanhin Piauwtiam. Di
sebelah itu, kita harus sediakan lain senjata rahasia, karena
mengandal piauw saja belum sempurna! Kita harus sedia
busur dan gandewa! Kupingnya si rase kecil ada ‘panjang’,
asal ceritaan kita tersiar, ia pasti bisa menduga siapa yang
uwarkan itu! Tentang Giok cengtong, kita jangan buat
kuatir, tidak nanti ia mampu bekuk kita, hanya asal malam
kita harus berjaga-jaga dari si rase kecil itu ... "
Siang Moay kasih dengar tertawa menghina,
"Kenapa kau begitu jeri terhadapnya?" ini isteri tanya.
“Baik, kau jangan campur, kau diam saja di rumah, nanti
besok aku yang bekerja!"
Tay Po tertawa.
"Jikalau untuk kerjakan ini aku mesti mengandal
isteriku, habislah pamorku!" ia kata. "Kau jangan kesusu,
untuk makan dan pakai kita masih belum perlu berkuatir.
Besok kita pindah, setelah itu kita beli daging untuk
merayakan tahun baru, kemudian kita pikir dengan
perlahan-lahan, daya apa kita harus ambil! Sekarang ini aku
Lauw Tay Po sudah rubuh, tetapi jikalau aku tidak bisa
angkat diri pula, percuma aku telah hidup sepuluh tahun
dalam kalangan Sungai Telaga!"
Ia jumput botol arak dari kolong meja yang isinya ia
tuang ke dalam cawan. Ia tenggak itu dengan sisa makanan
sebagai temannya. Ia masih saja mendongkol, maka sambil
minum, kadang-kadang tertawa dan bersenyum jemu. Ia
mirip dengan seorang yang otaknya tidak benar.
Siang Moay dari samping mengawasi saja tingkah
lakunya suami itu, ia sangat berduka hingga air matanya
mengucur keluar. Kemudian, dengan paksakan diri ia turut
dahar sama-sama.
Sejak itu, terus sampai malam Tay Po tidak terima
kunjungan siapa juga.
Tay Po telah tenggak arak sampai sinting, terus ia
rebahkan diri yang tak lama kemudian sudah menggeros
tidur.
Siang Moay benahkan piring mangkok yang ia terus cuci,
kemudian dengan besarkan api ia numprah pula dengan
penjahitannya. Ia lagi bikin pakaian baru untuk tabun baru.
Tadi siang, bersama tetangganya, nyonya Thio, ia potong
citanya buat besok nanti dipadu dengan pakaiannya
tetangga itu, tetapi, sekarang ia jadi tidak napsu kerja,
hingga tangannya malas-malasan. Pada dadanya, ia merasa
seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ia merasa tidak puas
apabila kemendongkolannya tak dapat dihimpaskan.
Tay Po telah tidur sekian lama, ketika tiba-tiba ia buka
matanya dan terus kata dengan nyaring: "Benar-benar
percuma akan mengharap pertolongan orang! Jie Siu Lian
dan si rase kecil telah bersekongkol! Entah si rase tua, ia
benar sudah binasa atau belum ... Tadi di rumahnya Siauw
Hong aku dengar, ketika tadi pagi Jie Siu Lian berangkat,
tidak lama ada datang orang suruhannya Giok sam-siocia
yang membawa barang hantaran, dari mana jadi ternyata
Siu Lian benar ada tukang 'tempel' orang besar! Ia datang ke
sini belum ada sepuluh hari lantas sudah jadi sahabat rapat
dari nona she Giok itu! Cara bagaimana ia bisa cekuk
penjahat di rumahnya Giok cengtong? Terang kitalah yang
kena terpedaya! ... "
Siang Moay pun mendongkol dan penasaran, sampai ia
tunda jahitannya.
"Sudahlah, kau tidur saja!" ia kata pada suaminya. Ia
bicara dengar sepasang alisnya mengkerut.
"Benar-benar celaka!" kata pula Tay Po sambil berbalik,
matanya sudah ditutup rapat pula, dan cepat sekali ia
menggeros pula. Nyata ia sudah ngigo.
Kamar itu sangat berbau arak.
Siang Moay masih belum mau tidur, meskipun ia sudah
tidak punya kemauan akan lanjutkan jahitannya.
Minyaknya lampu sudah mulai surut. Akhir-akhirnya ia
letakkan penjahitannya, ia turun akan rapikan pakaiannya.
Ia jumput tiga batang piauw dan sembat goloknya.
Kemudian ia ambil kunci dan padamkan api, sesudah
mana, dengan hati-hati ia bertindak ke luar.
Malam itu, lagi dua hari akan tahun baru, langit ada
gelap, karena sekalipun bintang, tidak tertampak. Angin
utara menyambar keras, tetapi hawanya masih
meninggalkan hawa musim semi. Siang Moay pakai baju
dan celana hijau yang tipis, bajunya dilapis dua, paling luar
adalah semacam baju kaus di mana ada tergantung kantong
piauw-nya. Rambutnya yang dikonde, ada ditutup dengan
pelangi hijau juga, sebagaimana warna itu ada warna
sepatunya. Ia jalan sambil berlari-lari mengikuti tembok
kota.
Tatkala itu sudah jam tiga.
Gesit laksana kucing, sebentar kemudian Siang Moay
sudah sampai di gedungnya Giok-tayjin di mana ia maju
terus ke muka pintu pekarangan, yang besar dan terkunci.
Di situ ia merandek akan pasang kuping, sambil ambil
ketika akan salin sepatunya dengan yang lemas, yang ia
sengaja bekal. Juga sepatu ini berwarna hijau. Setelah dapat
kenyataan di sekitarnya sunyi, ia enjot tubuhnya akan
loncat naik ke tembok. Ia berlaku gesit seperti biasanya ia
main dangsu di atas tambang. Ia terus naik ke atas genteng
dan berlari-lari menuju ke belakang.
Ia lihat cahaya api di beberapa kamar atau ruangan,
tetapi di ruangan belakang ada gelap petang, hingga ada
sukar untuk cari tahu yang mana ada kamar tidur. Maka
terpaksa, untuk sesaat ia berhenti dulu. Ia pasang kuping
dan mata.
Kemudian, dengan merayap di tiang, nona Coa merosot
turun ke tanah. Ia hampirkan sebuah kamar di sebelah
utara, di situ ia jongkok di bawah jendela.
Di situ tidak ada suara orang.
Dengan berhati-hati, sambil membungkuk, nyonya Lauw
hampirkan pintu. Ketika ia raba daun pintu, tangannya
membentur kunci, dari situ ia ketahui bahwa kamar itu
tiada pengisinya. Ia lalu balik dan masuk ke sebelah pintu
yang kecil, yang bikin ia sampai di suatu pekarangan yang
terlebih besar daripada yang barusan ia lewati. Di sini ia
hampirkan kamar yang berada di sebelah selatan. Ia pergi
ke jendela. Baru saja ia sampai, tiba-tiba ia dengar suara
kucing berbunyi.
Di saat nyonya ini hendak raba daun jendela, dari dalam ia
lihat ada orang nyalakan lampu, maka lekas-lekas ia
jongkok. Tetapi setelah itu tidak ada suara lagi atau gerakan
apa pun.
Buat beberapa detik Siang Moay masih menunggu,
kemudian baru ia berbangkit. Ia bikin lubang kecil di kertas
jendela untuk mengintip ke dalam, tetapi ia tidak dapat
melihat nyata, sebab jendela itu teralingkan dengan sehelai
kain penutup, hanya tertampak cahaya terang saja.
Melihat tidak ada lain jalan, nyonya mi berlaku berani.
Ia keluarkan pisau kecil dengan apa ia hendak gurat kain
penutup jendela itu. Tetapi, sebelum ia sempat bekerja, dari
jurusan belakangnya sekonyong-konyong ia dengar suara
berisik serta teriakan: "Periksa genteng! Boleh jadi ia lari ke
belakang!” Suara tindakan kaki berlari-lari pun terdengar
nyata.
Siang Moay terperanjat. Ia tahu bahwa orang sedang
memburu ke jurusannya. Lekas-lekas ia loncat naik ke atas
genteng. Dari sini ia lihat cahaya api terang di sebelah
depan. Hanya aneh, waktu ia melihat ke bawah, ia
dapatkan penerangan di kamar selatan tadi telah padam.
"Celaka!" pikir nyonya Tay Po, yang terus saja
berbangkit dari mendekamnya dan lari.
Sekarang terdengar nyata antara suara riuh itu teriakan.
"Tangkap! Tangkap!" Cahaya api pun terang sekali,
hingga berkeredepannya segala golok, tombak dan pedang
kelihatan tedas. Malah di atas genteng juga ada kelihatan
orang mendatangi!
"Aku terkurung," pikir Siang Moay, yang lihat tak ada
jalan keluar. Ia berkuatir, terpaksa ia mendekam pula,
tangannya siap dengan piauw-nya.
Sekarang belasan orang sudah sampai di pekarangan di
mana barusan Siang Moay berada, suara mereka tidak lagi
berisik sebagai tadi di depan. Nyata kedengaran seseorang
memperingatkan: "Jangan berisik, jangan bikin kaget pada
thaythay dan siocia! ... "
Satu orang, yang membawa lentera, gantung lenteranya
itu atas sebatang bambu panjang yang merupakan galah,
yang terus diangkat naik dan diberdirikan.
Melihat demikian, Siang Moay berkuatir bukan main,
karena ia tahu orang akan dapat melihatnya. Maka terpaksa
ia ayun tangannya, menghajar lentera itu dengan piauw-
nya. Sekali saja, api lentera itu lantas padam. Tapi ini
menyebabkan orang kaget.
"Ia ada di atas genteng! Awas piauw!" begitu mereka itu
berteriak-teriak. Tapi kemudian ada yang serukan:
"Penjahat yang sedang sembunyi di atas genteng keluar dan
turunlah, kita nanti bebaskan padamu! Jangan kau gunakan
piauw!"
Siang Moay tidak bisa sembunyi lebih lama, dengan
kedua tangan menyekal piauw, ia berbangkit. Ia hadapi
orang banyak itu sambil berseru: "Kawanan manusia keji,
siapa di antara kau yang berani naik? Lihat, aku bukannya
pencuri! Aku datang kemari untuk temui Giok cengtong-
mu!"
Baru saja ia bicara sampai di situ, tiba-tiba ia rasakan
sakit pada paha kanannya, hingga ia tak mampu
pertahankan diri akan berdiri terus, ia lantas rubuh dan
jatuh menggelinding ke bawah di mana segera ada beberapa
orang lelaki yang lantas tubruk dan membekuk ia.
"Penjahat perempuan!" berteriak beberapa orang itu.
"Lepaskan aku!" Siang Moay pun berteriak. Ia kertek gigi
saking sengitnya. Ia gerakkan kakinya menendang, atas
mana seorang lantas berteriak kesakitan dan mundur.
Siang Moay lalu diikat dan dibelebat dengan tambang.
"Bunuhlah aku!" ia menjerit, bahna mendongkol dan
menyesal. "Giok cengtong, tua bangka hina dina, di
rumahmu kau telah sembunyikan orang jahat! Kau telah
bunuh ayahku dan juga bikin suamiku bercelaka! Kenapa
kau suruh Tiat pweelek pecat suamiku? Tua bangka hina,
kau keluar! Hayo kau keluar, ketemui aku!"
Siang Moay berontak-rontak dengan sia-sia, maka itu, ia
jadi seperti orang kalap.
Orang-orangnya Giok cengtong menjadi heran karena
kemudian mereka segera kenalkan siapa adanya orang
perempuan yang dikatakan penjahat itu.
"Eh, eh, ini toh si tukang dangsu?" kata mereka itu.
"Kalau kau sudah mengenalinya, lekas merdekakan aku!
Aku ada gadisnya Coapantauw! Lauw Tay Po adalah
suamiku! Di dalam gedung ini ada sembunyi Pekgan Holie!
Jie Siu Lian sudah bongkar rahasiamu! Aku mau
perkarakan si orang she Giok, itu tua bangka."
Sementara itu, semua orang yang membawa api telah
berkumpul, maka keadaan di ruangan itu jadi sangat terang.
Segera juga dari kamar barat ada muncul Giok sam-
siocia bersama dua budaknya perempuan.
"Lepaskan ia dari ikatan," kata satu budaknya si nona,
yang dapat perintah dari nonanya. "Dan kau, jangan kau
mencaci terlebih jauh," ia tambahkan pada si orang
tawanan.
Melihat nonanya datang, semua orang lantas pada
jauhkan diri. Mereka adalah bujang-bujang keluarga Giok
serta hamba-hamba polisi dan pengawal kantor.
Siang Moay tidak lantas dimerdekakan, ia rebah miring,
karena api ada terang luar biasa, ia bisa lihat romannya si
nona, yang telah datang lebih dekat. Nona itu ada pakai
kiepauw kembang dan sepatunya ada berdasar tebal.
"Nona, suruhlah mereka lepaskan aku," kata Siang
Moay, dengan tidak merasa malu. "Aku bukannya
penjahat! Aku datang kemari untuk cari ayahmu, guna
bicara!"
Giok Kiau Liong dengar ucapan itu, dengan tidak kata
apa-apa ia putar tubuhnya, dan berlalu. Ia hanya perintah
budaknya buka pintu sebelah utara, ialah jalanan untuk ke
kamar ibunya.
Di lain pihak, Giok cengtong sudah mendusin, ia telah
dandan dengan lekas dan datang dengan dilindungi oleh
empat pahlawannya, yang menghunus golok. Nampaknya
ia ada sangat gusar.
"Bawa si penjahat ke depan!" ia kasih perintah. "Aku
hendak periksa padanya!"
Teetok ini ada kelihatan murka, kumis dan jenggotnya
bergerak-gerak.
“Kau hendak periksa aku?" berteriak Siang Moay dengan
berani. "Aku justru mau mendakwa padamu! Kau telah
pelihara penjahat di dalam gedungmu! Penjahat itu telah
binasa karena luka-lukanya, dengan gampang saja kau
bilang ia mati tiba-tiba! Mari kita berperkara! D i tangan
suamiku telah berada semua keterangan lengkap! Oh, tua
bangka celaka!"
Siang Moay benar-benar berani, ia umbar hawa
amarahnya.
"Hajar padanya!" berseru Giok-tayjin, yang ada gusar
bukan main.
"Hajarlah aku!" Siang Moay menantang. "Hajarlah aku
sampai mampus! Aku tidak takut! Jikalau aku mampus,
masih ada suamiku, Lau Tay Po! Kalau suamiku binasa,
masih ada Yo Kian Tong! Ya, masih ada Jie Siu Lian, Lie
Bou Pek! ... "
Perintahnya teetok itu hendak dijalankan, ada satu opas
yang telah datang dengan cambuk, tetapi sebelum hukuman
diberikan, Giok hujin muncul bersama dua budaknya
perempuan.
"Jangan, jangan," mencegah ini nyonya besar. "Jikalau ia
hendak dirangket, bawalah ia ke kantor, jangan di sini, di
rumah tinggal!”
“Dan kau, looya, silahkan kau masuk ke dalam, untuk
beristirahat lebih dahulu! Semua tak boleh berisik!"
Semua hamba kembali undurkan diri, hingga Siang
Moay mesti tetap rebah. Ia ada tetap gusar dan
mendongkol.
Giok-tayjin juga ada sangat tidak senang, tetapi ia
terpaksa mesti ikut isterinya masuk ke dalam. Dengan
begitu, semua hamba pun terpaksa mesti berdiam,
menunggui.
Giok-tayjin berada di dalam sekian lama, entah apa yang
ia damaikan dengan isterinya, ketika ia keluar pula, ia
nampaknya ada lesu, sebagaimana ia pun telah menghela
napas.
"Semua ke depan!" ia kasih perintahnya, secara apa
boleh buat. Kemudian ia bertindak pergi. Beberapa hamba
telah memimpin dan mengiringi, sedang sejumlah yang lain
tetap menunggui Siang Moay. Hanya mereka ini lekas-lekas
jauhkan diri apabila mereka lihat Giok sam-siocia muncul
pula dari ruangan utara dengan diantar oleh dua bujang
perempuan dan budak.
“Bukakan ringkusannya!" menitah nona itu.
Beberapa bujang itu bersangsi.
"Jangan takut!" kata si nona. "Buka saja, ia tidak akan
serang padamu."
Setelah perintah yang kedua kali ini, bujang-bujang itu
lantas samperi Coa Siang Moay, ikatan pada tubuh siapa
segera dilepaskan. Tapi sekarang, meskipun ia sudah
merdeka, nyonya Tay Po tidak mau berbangkit, ia hanya
rebah terus!
Giok Kiau Liong tidak gusar, ia malah mendekati,
dengan ulur tangannya ia menyekal, untuk mengasih
bangun.
"Kau ada seorang baik-baik," kata nona ini. "Ketika
baru-baru ini kau buka pertunjukan dangsu di depan
gedungku, dua kali aku telah turut menonton. Aku sangat
suka padamu. Kau telah datang kemari, mari kita bicara.
Hayo bangun dan ikut aku ke kamarku, di sana kita nanti
bicara dengan sabar."
Dua budak lantas maju, akan bantui si nona mengasih
bangun. Tangannya nona itu ada putih dan halus.
Menampak demikian, Siang Moay jadi tidak enak
sendirinya, maka lekas-lekas ia berbangkit, akan lebih
dahulu duduk di tanah, tetapi ketika ia mau berdiri, ia
rasakan pahanya sakit, hingga ia lantas tunduk akan lihat
bagian kaki yang sakit itu. Akhirnya, ia terperanjat dan
berbareng mengerti.
Nyata ia rubuh karena sebatang anak panah kecil
mungil, panjangnya tiga dim, sudah nancap di pahanya.
Waktu anak panah itu ia cabut, ia mesti gigit gigi dan
akhirnya menjerit bahna sakit.
"Apakah siocia pernah lihat anak panah ini?" kemudian
ia kata pada Giok sam-siocia seraya perlihatkan panah itu.
"Pada suatu tengah malam, muridnya Pekgan Holie telah
datang ke rumah kita untuk membikin huru-hara, itu waktu
ia telah gunakan anak panah semacam ini! Apa sekarang
siocia hendak bilang? Aku percaya, di antara orang-orang
yang kepung dan tangkap aku ini mesti terdapat muridnya
Pekgan Holie itu! Anak panah ini sebagai buktinya!"
Melihat itu, Giok sam-siocia melainkan kerutkan alis, ia
tidak bilang apa-apa.
"Coba tolong ia bawa ke dalam," ia kata pada dua
budaknya.
Dengan dipepayang, Siang Moay dibawa masuk ke
kamar selatan di mana api telah dinyalakan, sedang bujang
lain juga sudah bawa perapian untuk membikin hangat
hawa di dalam kamar itu.
Perabotan di dalam kamar semua terbuat dari kayu yang
hitam dan mengkilap, lainnya ada barang-barang dari
kumala dan barang kuno, sedang pigura ada memakai lis
yang ditabur dengan mutiara dan batu indah.
"Silahkan duduk," Giok sam-siocia mengundang seraya
tunjukkan sebuah kursi, yang ukirannya halus dan bagus.
Siang Moay duduk sambil tunduk dan tangannya buat
main ujung bajunya.
"Ambil air teh," Kiau Liong perintah budaknya.
Perintah ini dilakukan dengan cepat. Satu budak
menyuguhkan pada nona majikannya, dan satu lagi pada
nona Coa. Budak ini ada cantik dan berpakaian indah dan
tangannya menyekal nenampan emas.
Mukanya Siang Moay ada merah, tanda yang ia ada
likat.
"Terima kasih," ia kata, seraya ia diam-diam terus curi
lihat nona rumah. Sebisa-bisa ia berlaku tenang, hingga
kemudian ia bisa tersenyum.
Giok Kiau Liong duduk di depan tetamunya yang tak
diundang itu, pakaiannya indah, kondenya tidak pakai
kembang atau barang perhiasan lainnya, toh gelungnya ada
licin dan rapi, tidak seperti orang yang habis tidur. Tapi
nampaknya seperti orang masgul.
"Kau she apa?" kemudian si nona tanya.
"Aku Coa Siang Moay," sahut nyonya Lau Tay Po.
"Ayahku bernama Coa Tek Kong, kepala polisi Hweeleng,
Kamsiok. Oleh karena ayahku telah binasa di tangannya
orangmu, aku lantas ikut Lau Tay Po. Ia ada guru silat di
gedung Tiat siau-pweelek. Orang di sini ada sangat benci
pada suamiku itu yang dibusukkan di depannya pweelek-ya,
hingga kesudahannya ia telah dipecat. Karena ini, sekarang
aku datang kemari, untuk mendapati penjelasan dan
keadilan!"
"Dalam urusan ini kau seharusnya datang di waktu
siang!" kata Giok Kiau Liong. "Sekarang kau datang tengah
malam buta rata dengan bawa-bawa senjata, apakah dengan
begitu kau tidak mirip dengan penjahat? Syukur kau ada
seorang perempuan, jikalau tidak, tak nanti kau akan dapat
kebebasan sebagai ini!"
"Siocia, omonganmu tidak tepat," Siang Moay bilang.
"Jikalau aku datang siang, sebelum aku sampai di muka
kantor, tentu orang-orangmu akan sudah mengusirnya!
Dengan begitu, cara bagaimana aku bisa temui tayjin atau
kau? ... Aku pandai jalan di atas tambang, maka itu, aku
pun bisa naik ke atas genteng. Siocia, aku datang kemari
dengan tidak pikir pula akan bisa hidup lebih lama! Maka
suruhlah si rase kecil keluar buat bunuh padaku! Atau kau
serahkan aku pada pembesar negeri, supaya aku dijatuhkan
hukuman mati! Tetapi sebelum mati, aku akan kasihkan
bukti-bukti ... Dengan bukti itu aku bisa mengadu dan
mendakwa sampai di hadapan raja!"
Wajahnya Kiau Liong berubah.
"Sabar ... " ia bilang, seraya goyang-goyang tangannya.
"Bicaralah dengan perlahan ... " Ia menghela napas.
"Selama ini, di luaran telah muncul banyak sekali ceritera
burung."
"Tapi ini bukannya ceritera burung, ini ada kejadian
yang benar!" Siang Moay pastikan. "Itu adalah ceritera yang
kita berdua sengaja siarkan! Jikalau Giok-tayjin tidak
berdaya dan tidak mau bekuk si rase kecil buat dihukum,
kita akan uwarkan lebih banyak ceritera pula! Suamiku
sekarang sudah kehilangan pekerjaannya, daripada kita
mesti mati kelaparan, lebih baik Giok-tayjin yang
menghukum mati pada kita!"
"Bisa jadi kau telah keliru dengar pembicaraan orang,"
Kiau Liong masih coba menerangkan. "Tidak akan terjadi
pihak kita gunakan pengaruh akan menghina lain orang!
Aku sendiri setiap hari berada di dalam kamar, jangankan
urusan di luaran, walaupun di dalam gedung banyak yang
aku tidak ketahui jelas. Apa yang aku dengar adalah bahwa
perbuatan suamimu itu ada sangat hebat, di depan gedung
ini ia sudah memaki-maki dan menimpuk dengan piau juga.
Piau itu telah dibungkus dengan kertas yang ada lukisan
dan tulisan cacian ... Siapa juga tak nanti suka terima
hinaan semacam itu! Ayahku telah berusia tinggi, ia tidak
bisa tahan sabar, dari itu ia berniat meletakkan jabatan,
tetapi Tiat siau-pweelek mencegahnya. Tak mungkin
ayahku lelah menganjurkan pweelek-ya untuk memecat
pada suamimu."
"Kalau mau, ayahku bisa seret suamimu ke muka
pengadilan untuk diberikan hukuman! Tetapi ayahku tidak
berbuat demikian, karena sebagai orang berpangkat ia tidak
mau berurusan dengan orang biasa. Di sebelah itu ayah ada
seorang pandai menilik diri sendiri. Kau tahu, pegawai kita
ada berjumlah kira-kira empatpuluh orang, dari itu ada
sukar untuk tilik mereka akan ketahui di antaranya ada
yang jahat atau tidak. Pun ada sukar untuk cari tahu yang
cerita di luaran itu ada mempunyai dasar atau tidak. Maka
itu, dalam beberapa hari ini sudah ada bujang yang dikasih
berhenti dan yang lain-lainnya asyik ditilik terus. Ayah
sudah berkeputusan, asal ada pegawai yang mencurigai, ia
akan ditangkap dan diserahkan pada pembesar negeri."
Kapan Siang Moay dengar keterangan ini, ia lantas ubah
sikap.
"Siocia," ia kata, "apa kau bisa ijinkan akan aku berdiam
di sini untuk beberapa hari? Biarlah aku bekerja sebagai
budak di sini, asalkan aku dapat ketika untuk bikin
penyelidikan. Aku percaya bahwa aku akan berhasil cari si
orang jahat itu ... "
Tetapi Giok Kiau Liong goyang kepala.
"Itulah tak mungkin," ia bilang. "Mana bisa orang
sembarangan berdiam di dalam gedungku ini? Tahukah kau
mengapa kita bersikap begini rupa padamu? Itulah
disebabkan kebaikan hati dari ibuku terhadap kau yang ia
merasa kasihan, ia larang kita menghukum dan aku
diperintah berikan keterangan ini padamu, agar kau
mendapat tahu. Sekarang kau boleh pulang! Pesan
suamimu supaya selanjutnya ia jangan bikin berisik pula di
depan kantor kita, jangan ngaco belo terlebih jauh!
Umpama masih penasaran, ia boleh mendakwa kepada
pembesar negeri! Kita di sini bisa menghukum sendiri
apabila kita mendapati orang-orang kita yang jahat!"
Kiau Liong baru bicara sampai di situ atau satu budak
datang padanya.
"Thaythay minta siocia masuk untuk beristirahat," kata
budak ini. "Sekarang sudah jauh malam. Siocia tentu sudah
lelah. Thaythay perintah kita buat antar tetamu ini pulang
ke rumahnya."
Giok Kiau Liong manggut, ia menoleh pada Siang
Moay.
"Di mana kau tinggal?" ia tanya.
Sambil minum tehnya, Siang Moay berikan alamatnya.
"Sediakan kereta untuk antar nyonya ini pulang," Kiau
Liong menitah. Ia menoleh pula pada Siang Moay, sambil
tersenyum ia kata: "Lan kali, apabila kau senggang, kau
boleh datang pula kemari, untuk kita pasang omong. Ibuku
ada seorang yang murah hatinya, ia kasihan kau, coba
tidak, tidak nanti ia bisa bujuki ayahku akan mengasih
ampun pada kau. Kalau nanti kau datang pula, dandanlah
rapi sedikit, pada pengawal pintu, kau boleh terangkan
maksud kedatanganmu, tidak nanti mereka merintanginya."
Mukanya Siang Moay menjadi merah, tetapi ia senang
dengan ucapan si nona itu.
"Siocia, aku mengaku salah," ia kata. "Aku harap kau
sampaikan pada thaythay bahwa aku bersalah dan minta
thaythay tolong mohonkan maaf dari tayjin. Lain hari,
kalau lukaku sudah sembuh, aku nanti datang berkunjung
pula kemari."
"Tidak apa," Kiau Liong bilang, "sudah cukup asal kau
tahu dan mengerti bahwa kita tidak sembunyikan orang
jahat. Aku nanti mintakan ayah supaya ia omong pada Tiat
siau-pweelek agar suamimu dipekerjakan pula ... "
"Terima kasih, siocia," kata Siang Moay.
Giok Kiau Liong berbangkit, dua budaknya lantas antar
ia masuk.
Siang Moay masih berdiam di kamar itu bersama
beberapa bujang sampai kereta sudah disiapkan, dengan
masih dipepayang oleh dua bujang ia diantar ke kereta ke
atas mana ia naik, diikut oleh satu bujang yang
menghantarinya.
Itu waktu sudah jam empat, di jalan besar tidak ada lain
kereta, tidak ada seorang juga.
"Syukur siocia mendusin," kata si budak, "ia yang
mintakan penolongannya thaythay bicarakan pada tayjin
untuk kebebasanmu. Kau bernyali sangat besar. Kenapa
malam-malam kau berani datang ke gedung kita? Kenapa
kau berani caci tayjin?"
"Sudah, jangan sebut-sebut pula kejadian itu," Siang
Moay minta.
Tak lama kemudian kereta telah sampai di depan
rumahnya, ketika si kusir mengetok pintu, dari sebelah
dalam ada lompat naik ke atas tembok seorang yang
menyekal golok tajam.
"Kau cari siapa?" menegur orang yang pegang golok itu.
Si kusir menjadi kaget, sampai ia tidak bisa lantas
menyahut. Siang Moay kenali suara suaminya.
"Aku yang pulang ... "
Tay Po pun kenali suara isterinya, ia segera loncat turun
menghampirkan.
“Ke mana kau pergi?" ia tanya. "Ketika aku bangun dari
tidurku, aku heran tidak melihat kau! Kereta ini siapa yang
punya?"
"Ini ada keretanya keluarga Giok," Siang Moay memberi
tahu. "Aku terluka, mari tolongkan aku turun dari kereta."
Tiba-tiba Tay Po menjadi gusar.
"Kau telah dilukai, sekarang kau diantar pulang?" ia
berseru, goloknya ia angkat. "Sekarang aku tak punya
pekerjaan, bagaimana aku bisa rawat lukamu? Hayo pergi,
aku nanti antar kau kembali! Ia mesti mengobati kau
sampai sembuh, baru aku jemput kau pulang."
"Sudah!" kata Siang Moay. "Jangan kau hendak coba
memeras orang! Pembicaraan ada banyak, nanti aku kasih
keterangan ... "
Si bujang juga turut bicara.
"Kita diperintah antar nyonya, lekaslah kau buka pintu
supaya nyonya bisa lekas masuk," ia kata. "Kita perlu lekas
pulang untuk membawa kabar ... "
Meskipun masih tetap menggerutu. Tay Po toh lempar
goloknya ke dalam, ia loncat masuk untuk membuka pintu,
kemudian ia naik ke kereta, buat pondong isterinya turun.
"Terima kasih," kata Siang Moay pada si budak dan
kusir, yang terus pergi.
Tay Po jadi demikian gusar kapan di dalam ia lihat darah
di kakinya isterinya itu.
"Tidak apa, lukaku tidak berbahaya," kata Siang Moay.
"Lihat ini, ini ada panah yang melukai aku. Tolong
ambilkan obat."
Tay Po menurut dengan tetap masih mengomel.
"Ceriteralah, aku ingin dengar apa yang sudah terjadi!"
akhirnya ia kata.
Siang Moay duduk di atas pembaringan, celananya ia
gulung, hingga kelihatan lukanya, kemudian ia rebahkan
diri celentang.
"Tolong pakaikan obat," ia kata. Selagi suaminya
mengobati lukanya, ia ceriterakan ke mana ia pergi dan apa
yang ia alami.
Selama mendengarkan, Tay Po sangat menggerodok,
hingga beberapa kali ia mengutuk.
"Aku sembrono," Siang Moay kata. "Aku pergi ke
rumahnya Giok-tayjin dengan gusar, tapi sesampainya di
sana aku dengar keterangannya Giok siocia. Seumurnya,
Giok-tayjin belum pernah mengalami penghinaan. Nona
Giok pun baik hatinya ... "
Masih saja Tay Po tersenyum ewah.
"Kau ngalami lebih banyak daripadaku," ia kata.
"Kecuali dihajar dengan anak panah, kau pun dipedayakan!
Giok Kiau Liong benar-benar liehay! Ia tahu bahwa
percuma ia hajar kau, bahwa kalau aku mengadu pada raja,
ia akan bisa celaka, dari itu sengaja ia baiki kau dan
antarkan kau pulang. Ini ada tipu "Ciong Cit Kim", tujuh
kali tangkap, tujuh kali lepas, untuk bikin kau jinak, supaya
kita jangan ganggu ia lebih jauh. Ini menyatakan
kejeliannya, dari sini aku percaya ia tentu ketahui siapa
adanya si rase kecil!"
Siang Moay mendelong apabila ia dengar suaminya itu.
“Ya, aku juga merasa heran," ia kata kemudian. "Aku
sedang berada di atas genteng ketika tiba-tiba panah
menyambar aku di luar tahuku, hingga aku kesakitan dan
jatuh. Aku tidak lihat siapa yang lepaskan itu dan tidak tahu
juga dari mana menyambarnya ... "
Tay Po ambil anak panah itu dan dibawa ke lampu.
“Panah ini tidak membutuhkan busur," ia kata. "Panah
ini cukup ditaruh di dalam baju dan bisa digunakan dengan
satu gerakan jari-jari tangan saja! Ini ada apa yang
dinamakan panah tangan. Bukankah barusan kau bilang
Giok Kiau Liong ada punya dua budak perempuan yang
elok dan pakaiannya mentereng, yang selalu dampingi
nonanya? Aku percaya, satu di antara kedua budak itu
mesti ada si rase kecil! ... "
"Ya, aku ingat sekarang," kata Siang Moay. "Salah satu
budak telah jebikan aku ... "
"Itu ada soal kecil," kata Tay Po. "Yang penting adalah
hasilnya tindakanmu ini. Terang pihak sana ingin perkara
bisa dibikin habis, maka terhadap kau ia berlaku sabar luar
biasa. Ia tentu percaya, setelah ini, tidak akan terbit onar
pula ... Baiklah kita lewatkan tahun baru, selama itu, kau
boleh rawat lukamu. Kelak, sehabisnya Capgomeh, apabila
penjagaannya sudah kurangan kerasnya, kita akan berdaya
pula, terutama untuk mendapati bukti. Lihat, Lau Tay Po
nanti lakukan suatu apa yang akan menggoncangkan langit
dan bumi, supaya Giok cengtong menjura terhadap aku,
supaya Giok Kiau Liong datang sendiri kemari akan minta
ia diambil olehku sebagai gundikku! ... "
Siang Moay sambar panah dari tangan suaminya,
dengan itu ia hendak menikam, tapi suami itu berkelit
seraya menangkis, sambil tertawa.
"Sampai habis tahun baru!" ia kata. "Kau harus bantu
aku, supaya kita bisa lampiaskan kemendongkolan kita!"
"Ya, repotkan saja kemendongkolan tetapi tidak mencari
uang!" kata Siang Moay. "Apakah kita cukup dengan
minum angin barat utara saja?"
"Jangan kuatir," Tay Po bilang. "Sebelumnya jadi guru
silat, aku bisa hidup, sekarang, sesudah berhenti, aku pun
bisa kerjakan segala apa!"
Ia ngeloyor keluar buat ambil goloknya, yang ia bawa
masuk, kemudian ia kunci pintu akan terus naik ke
pembaringan dan tidur.
Siang Moay juga coba tidur, tetapi ia rasakan sakit pada
kakinya, ia merintih-rintih, dengan demikian ia tidak bisa
tidur benar.
Di waktu fajar Tay Po sudah pergi ke Lamshia, pintu
Kota Selatan, akan cari engko misannya buat minta obat
luka. Pulangnya ia membawa gincoa (uang-uangan dari
kertas), lilin dan hio, begitu juga sayuran, daging ayam,
ikan dan bebek. Di pintu ia tempel lian merah. Di dalam
rumah, ia tempel gambar anak-anakan bocah gemuk. Ia pun
tidak jadi pindah, karena di akhir tahun ada sukar untuk
cari rumah dan rumah-rumah penginapan juga tidak terima
tetamu.
Tek Lok ada berlaku baik pada ini bekas rekan. Ia bawa
pulang uang limapuluh tail perak, persenan dari Tiat siau-
pweelek, yang si guru silat tampik. Dengan bujukannya, ia
bikin Tay Po suka terima itu, hingga buat sementara itu
guru silat ini boleh tak usah "makan angin barat utara! ... "
Siang Moay lukanya belum sembuh tapi ia tak hiraukan
itu, ia bisa pergi ke dapur akan masak, akan kemudian
dandan dengan mentereng. Ia memangnya pandai berhias.
"Sekarang kita jangan pikirkan apa juga, selainnya tahun
baru!" kata Tay Po dengan gembira. "Sang hari masih
panjang, musuh kita tidak bisa lari, aku pun tidak bakalan
mati ... Kita tentu akan berhasil! ... "
Demikian tibalah tahun baru. Cee-it, cee-jie, cee-sha.
Pakkhia seperti salin rupa, karena di mana-mana, tua dan
muda, lelaki dan perempuan, semua berpakaian baru,
semua unjuk roman gembira. Mereka yang mengunjungi
sanak saudara ada yang naik kereta, ada yang duduk joli.
Di mana-mana ada terdengar suaranya petasan.
Cuma ada sebuah rumah di mana orang tak bergembira.
Itu ada rumahnya Giok cengtong. Teetok ini baru beberapa
bulan saja pulang ke kota raja. Tadinya ia biasa tinggal di
luar perbatasan, dan paling belakang ia berdiam lama di
Sinkiang. Selama menjalankan tugas, di gedungnya cuma
ada sanak dan bujang-bujangnya, tetapi walau demikian,
masa itu di rumahnya masih terlebih ramai. Tahun ini ada
banyak kunjungan, bujang-bujang pada dapat banyak
persenan, namun teetok sendiri, isterinya, dan gadisnya
semua tidak bergembira.
Giok teetok pusing dengan banyaknya urusan dan rumah
tangga. Karena ia tidak bisa bersuka ria, thaythay pun turut
jadi tak bisa senangkan hati, sedang selama belakangan ini
ia sering terganggu oleh sakit uluhatinya, yang suka kumat.
Dan si nona mengaku bahwa kesehatannya terganggu,
sering ia tidak keluar-keluar dari kamarnya.
Giok Kiau Liong mesti turut berduka karena urusan
rumah tangga itu dan karena kesehatannya tak sempurna.
Dan sebab yang ketiga adalah cara menghias rambutnya,
yang sudah berubah. Taucang-nya tidak lagi menjadi
kuncir, ia telah mesti rombak itu menjadi sebuah gelung
(konde). Ini berarti ia bukan lagi satu gadis yang masih
merdeka pergi ke mana ia suka, tibalah masanya ia menanti
orang meminang.
Menurut adat orang Boan, kalau satu anak perempuan
sudah masuk umur tiga atau empatbelas tahun, ia mesti
piara rambut lengkap, dan satu kali ia berumur tujuh atau
delapanbelas tahun, kuncirnya mesti diubah menjadi
gelung. Ini ada tanda bahwa orang telah boleh datang
meminang. Gelung itu tiada bedanya dengan gelung dari
satu nyonya, kecuali ujungnya ada sedikit lain.
Selama berada di dalam rumah, gelung itu dibikin tinggi,
tapi bila mengunjungi sanak atau pesta, gelung itu dibikin
melintang dengan bantuannya sutera hitam. Ini apa yang
dinamakan gelung Liangpoantau. Bagi gadis Boan, itu ada
tanda bahwa bunga sudah mekar, sudahlah saatnya orang
datang memetik.
Menuruti titah orang tuanya, Giok Kiau Liong tak bisa
tidak tunduk terhadap adat kebiasaan itu. Ini hal membikin
ia sangat masgul dan berduka. Lewatlah masa gadisnya,
karena tidak lama pula datanglah saatnya akan orang
melamar. Malah bakal suaminya kebanyakan adalah Lou
hanlim, itu pemuda tolol dan jelek. Ingat ini ia bersedih dan
masgul. Tapi ia tidak berani bantah kehendak ayah dan
ibunya. Ia sangat menyesal akan kekusutan rumah
tangganya dan kesengsaraan hati ayahnya, sebab semua itu
timbul karena gara-garanya sendiri. Maka sekarang ia
hendak unjuk kebaktiannya untuk tebus dosanya ... Putusan
dan pengorbanannya melainkan ia sendiri yang ketahui.
Pada harian cee-it, hanlim Lou Kun Pwee telah datang
untuk memberi selamat tahun baru, dan sekarang, tanggal
tigabelas, ia datang berkunjung pula.
Ketika Giok Kiau Liong ketahui kedatangannya hanlim
itu, ia sangat mendeluh, ia sekap diri di dalam kamarnya,
dengan sepit kuningan ia buat main arang di perapian. Dua
budaknya, Siu Hiang dan Gim Sie, yang satu sedang gosok
bakhie kuningan, yang lainnya lagi guntingi kembang bwee
di dalam tokpan dan bunga suisian di dalam paso ...
Mereka semua bekerja sambil tunduk, tidak ada yang
bicara.
Di samping si nona agung ada nongkrong kucingnya
yang putih dan mungil.
Tapi kesunyian itu terpecahkan oleh datangnya Cian-ma
dengan suaranya: "Siocia, loo-thaythay dari keluarga Lou
telah datang, thayhay minta siocia keluar untuk
menemuinya."
Kiau Liong terperanjat.
"Baru Lou Kun Pwee datang, kenapa sekarang ibunya
datang juga?" pikir ia. "Apa ini hari bakal terjadi apa-apa?"
Meski demikian, ia manggut pada Cian-ma, maka bujang
tua itu segera undurkan diri pula. Di lain pihak, Gim Sie
sudah lantas hampirkan nonanya akan rapikan bunga wol
di kepalanya nona itu.
"Tak perlu!" tegur Kiau Liong pada budaknya itu, ia
egoskan kepalanya akan bikin si budak tidak bisa rapikan
bunganya itu.
Gim Sie segera tarik pulang kedua tangannya, mukanya
menjadi merah.
Nona Giok berbangkit dengan segera.
"Untuk ketemui ia itu, buat apa aku dandan dengan
rapi?" kata ia seorang diri.
Siu Hiang hampirkan Gim Sie, yang tubuhnya ia tolak,
hingga ia jadi berada dekat nonanya, lalu dengan suara
perlahan tetapi berlagak tak puas, ia kata: "Ya, siocia tidak
usah kau berhias lagi, secara begini saja kau ketemui Lou
thaythay itu! Kau pun tidak usah gunakan adat peradatan
terhadap ia, bahkan kau boleh sengaja berlaku sedikit
kurang hormat, supaya ia ... "
Kiau Liong pelototkan budaknya itu. Iapunya muka ada
merah.
"Siapa suruh kau banyak bacot?" ia menegur. Tapi segera
ia bertindak keluar.
Dengan tak mempedulikan teguran nonanya itu, Siu
Hiang ikut keluar
Tatkala itu sudah lewat tengah hari, hawa udara tidak
lagi terlalu panas. Pohon labwee dan Gengcun hoa, sedang
mekar indah dengan warnanya kuning emas.
Buat pergi ke rumah sebelah utara, Kiau Liong mesti
jalan ke arah umur, di waktu mulai datang dekat, ia sudah
lantas dengar suara orang bicara.
Siu Hiang mendahului nonanya akan membuka pintu.
Dari sebelah dalam, lantas ada budak yang menyingkap
sero.
"Siocia datang!" demikian kata budak itu.
Kiau Liong terperanjat ketika ia bertindak masuk ke
dalam ruangan. Sebab di situ ia mendapati ayahnya,
dengan pakaian biasa sedang menyedot cuihun, sementara
di depan ayah itu ada bercokol Lou Kun Pwee, si hanlim,
tubuh siapa ada besar, tinggi dan gemuk, pakaian
kebesarannya gerombongan, hidungnya melesak, matanya
kecil, hingga nampaknya tak keruan ... Di sisinya ada
terletak kopiah kebesarannya dari tingkatan keempat.
Baru melihat sepintas lalu saja, Kiau Liong sudah merasa
jemu, maka sambil tundukkan kepala, ia kasih hormat pada
ayahnya.
"Kasih hormat pada Lou toako-mu!" kata Giok teetok
pada puterinya.
Dengan sangat terpaksa Kiau Liong berbalik kepada
hanlim itu siapa sudah lantas berbangkit, maka dengan
hampir berbareng, mereka saling memberi hormat.
"Aku harap kau ada baik, adikku!" kata hanlim itu
sambil tertawa.
Kiau Liong tidak menjawab, hanya ia terus ikut budak
yang undang ia masuk ke pedalaman di mana Giok
thaythay sedang menemani Lou thaythay bicara.
Nyonya Lou ada seorang dengan tubuh tinggi dan
gemuk, umurnya sudah limapuluh lebih, pakaiannya
mentereng. Suaminya, Lousielong, ada dari tingkatan
kedua. Sielong ini telah letakkan jabatan karena
kesehatannya terganggu, maka itu, pemerintah kasih ia
kehormatan nama saja sebagai menteri kelas satu, dengan
begitu Lou thaythay jadi dandan sebagai itpin hujin.
Turut perintah ibunya, Kiau Liong menjalankan
kehormatan sambil berlutut pada itu nyonya tamu siapa
lekas-lekas perintah budaknya memimpin bangun.
Setelah itu, Giok thaythay kata pada puterinya: "Toako-
mu Kun Pwee telah diangkat jadi tiehu dari Sunthian,
kenapa kau tidak kasih selamat pada pebo-mu ini?"
Kiau Liong kembali menurut, ia memberi hormat pula
pada itu nyonya.
Lou thaythay pegang tangannya.
"Di harian tahun baru kenapa kau tidak datang ke
rumahku?" ia tanya. "Aku kangen padamu!"
Nyonya ini bicara dengan manis, mukanya ramah
dengan senyuman.
Kiau Liong tidak menyahut, hanya ibunya yang
menalangi ia bicara.
"Tahun ini aku tidak ajak ia pergi ke rumah siapa pun
juga untuk memberi selamat tahun baru, karena ia kata ia
merasa kesehatannya terganggu."
"Apakali ia sakit?" tanya Lou thaythay, yang nampaknya
terkejut. "Apakah tidak dipanggilkan tabib?"
"Sakitnya nona tidak berat," Siu Hiang dengan berani
mewakilkan nonanya. "Kadang-kadang saja ia engap dan
batuk-batuk ... "
Tapi ini sudah cukup untuk bikin kaget nyonya tetamu.
"Itulah tidak boleh diantap saja," ia kata. "Kenapa aku
tidak pernah dengar akan hal ini?"
"Ia pun mendapati itu baru selama habis tahun baru,"
berkata Giok thaythay yang lebih dahulu telah pandang
puterinya. "Keadaannya tidak berbahaya dan sedangnya di
akhir tahun, maka aku tidak panggilkan tabib. Ia hanya
dikasih makan obat yang kita ada sedia di rumah."
"Bisa jadi ia sakit disebabkan kaget," kata Lou thaythay
kemudian. "Apa yang telah terjadi, siapa pun yang
mendengarnya tentu akan kurang senang! Suamiku
sekalipun sedang sakit sampai tidak bisa gerakkan badan,
waktu ia dengar lantas mau pergi pada Hengpou Phoa
tayjin dan Toucat-ih Kong tayjin. Kun Pwee juga turut
gusar, karena ia kuatir sam-moaymoay-nya turut menjadi
kaget. Kita dengar bahwa buaya darat she Lau itu katanya
telah dilindungi oleh Tiat pweelek ... "
"Itulah bukan semuanya," menerangkan Giok thaythay.
"Lau Tay Po itu tidak lebih tidak kurang ada guru silat di
istananya Tiat pweelek, sebelumnya tahun baru ia sudah
dipecat, maka itu kini ia tidak berani mengadakan
gangguan pula."
Lou thaythay manggut-manggut.
Nyonya-nyonya ini sedang asyiknya bercakap-cakap,
pun di sebelah luar Giok teetok dan Lou hanlim sedang
membicarakan urusan yang sama.
"Selama belakangan ini, kesehatanku sangat terganggu,"
kata Giok teetok. "Sudah sekian lama aku pikir buat
letakkan jabatan saja. Aku anggap bahwa nama baikku
telah ternoda. Tapi Tiat pweelek telah cegah aku tarik diri.
Aku tidak mengerti, dengan cegahannya itu pweelek-ya ada
beranggapan bagaimana ... "
"Aku anggap tidak usah loope dukai urusan itu," Kun
Pwee menghibur. "Adalah biasanya Tiat pweelek bersiap
aneh. Di istananya ia memang suka pelihara segala buaya
darat. Lihat saja beberapa tahun yang lalu, ketika di kota
raja ini ada kedatangan Lie Bou Pek. Bukankah Lie Bou
Pek itu telah terbitkan kekacauan yang melebihi
perbuatannya Lau Tay Po ini? Ia juga ada Tiat pweelek
yang melindunginya. Kita juga kenal Tek Ngo diri Kota
Tunur. Ia benar bekerja di dalam istana, tetapi pangkatnya
rendah, malah ia pernah dihukum buang ke Sinkiang, tetapi
ia ada bersahabat dengan Tiat pweelek, lantas ia jadi
berpengaruh Begitulah Tek Ngo ini paling suka bergaul
dengan orang-orang yang kelakuannya tidak baik, penjahat-
penjahat dan dunia Sungai Telaga. Lau Tay Po itu tentulah
bekerja pada Tiat pweelek dengan perantaraannya Tek
Ngo."
"Inilah aku tahu!" kata Giok cengtong. "Memang, kesatu
Tek Siau Hong, kedua Khu Kong Ciau, mereka semua suka
bawa diri sebagai Beng Siang Kun saja, sebagai Peng Goan
Kun! Hanya tentang Tek Ngo itu, aku tahu juga ia tidak
dapat dicela. Ketika ia dibilang di Sinkiang, aku telah
banyak tolong padanya. Kita berdua keluarga ada
bersahabat satu pada lain sebagai sanak saja. Aku pun
ketahui selama ini kelakuannya Tek Ngo ada baik. Aku
percaya, perbuatannya Lau Tay Po itu tiada hubungannya
dengan Tek Ngo ... "
Lou Kun Pwee manggut-manggut.
"Sabar saja, pehu, aku nanti berdaya akan hajar adat
pada Lau Tay Po itu," ia berjanji. "Pehu kuatir orang
ceritakan kau, sebagai teetok pehu tidak bisa bekuk ia,
tetapi jika aku dan Sunthianhu yang ringkus ia, orang
niscaya tidak akan kata apa juga."
"Tidak usah, hiantit, tidak usah kau berbuat demikian,"
berkata teetok itu. "Ia ada seorang rendah, perlu apa kita
layani padanya?"
Apa yang dibicarakan di luar, Kiau Liong dapat dengar
dengan nyata karena perhatiannya tertarik dengan
pembicaraan itu, hingga ia agaknya tidak pedulikan sikap
manis budi dari Lou Lhaythay terhadapnya, sampaikan ia
tidak lihat nyonya itu sudah loloskan ikat pinggang kumala.
Pada kumala atau giokpwee itu ada terukir sepasang
naga asyik main rebutan mutiara. Itu adalah ukiran yang
disebut "Jie Liong Hie Cu". Dua naga itu masing-masing
ada putih dan hijau. Di tengah-tengah kedua naga itu ada
sepotong emas yang merupakan sebutir mutiara.
"Giokpwee ini adalah untukmu, anak," kata nyonya
tamu itu. "Ini ada ikat pinggang warisan dari keluarga kita.
Katanya, siapa pakai giokpwee ini, ia tak bisa mendapat
kaget. Ketika dulu toako-mu pergi bikin ujian, aku telah
suruh ia pakai ikat pinggang ini. Sekarang aku lihat kau
banyak sakit, maka pakailah kumala ini, sesudah beberapa
hari dipakainya, tentu penyakitmu akan sembuh!"
Kiau Liong terperanjat. Itu bukannya pengasihan biasa
saja, ikat pinggangku adalah tanda mata perjodohan. Ia
menduga bahwa ayah dan ibunya telah terima baik lamaran
orang. Ini hal bikin ia mendongkol, hingga ia pikir akan
sambar saja giokpwee itu buat dibanting hancur di atas
lantai.
"Terimalah giokpwee itu, anak," kata Giok thaythay
pada anaknya. "Bilang terima kasih pada pebo-mu!"
Bukan main berdukanya ini nona. Ia sebenarnya tidak
sakit, itu adalah akalnya melulu. Yang benar-benar
kesehatannya terganggu adalah ayah dan ibunya yang
dibikin jengkel oleh aksinya Lau Tay Po. Tapi sekarang
justru ia yang dikatakan sakit! Di sebelah itu, ia berkasihan
terhadap ibunya, dan ia tidak ingin bikin Lou thaythay
hilang muka. Maka dengan sangat terpaksa ia terima ikat
pinggang itu. Untuk haturkan terima kasihnya ia menjura
pada itu nyonya tamu
Begitulah, Lou thaythay sendiri yang pakaikan ikat
pinggang itu pada nona ini, siapa diam sambil tundukkan
kepala bahna berduka dan mendongkolnya.
Tatkala itu, Lou Kun Pwee di sebelah luar sudah diajak
oleh Giok teetok pergi duduk di kamar tulis, katanya untuk
melihat gambar dan huruf-huruf tulisan.
Sekian lama Giok Kiau Liong berdiri saja, maka
akhirnya ibunya ijinkan ia duduk, tetapi ia tidak mau
duduk, hingga Lou thaythay lantas kata padanya: "Kau lagi
terganggu kesehatanmu, pergilah masuk ke kamarmu.
Tidak usah kau temani kita ... "
"Benar, anak, pergilah!" kata Giok thaythay.
Ini ada apa yang Kiau Liong inginkan, tidak tempo lagi
ia minta perkenan dan lantas berlalu.
Siu Hiang ikuti nonanya itu.
Selama di dalam, Kiau Liong bertindak dengan perlahan,
tetapi satu kali ia berada di luar, tindakannya dibuka lebar-
lebar, cepat benar jalannya, hingga sebentar saja ia sudah
berada di dalam kamarnya. Di sini paling dahulu ia buka
giokpwee yang dilemparkan ke atas kursi, hingga angkin
kumala itu memperdengarkan suara berisik.
Si kucing bulu putih, yang bulunya panjang dan mungil,
lantas lompat menubruk angkin kumala itu.
Siu Hiang kaget, ia kuatir angkin itu kena dibikin pecah,
maka ia lekas-lekas menghalaukan, ia angkat angkin itu,
yang kumalanya kuat, tidak pecah, kecuali tanduknya
kedua naga ukiran telah patah. Ia segera simpan angkin itu
ke dalam laci meja.
"Siocia, baik kau rebahkan diri," ia lantas bujuki
nonanya.
Kiau Liong tidak menyahuti, ia melainkan tersenyum
sindir. Dengan tindakan berat ia jalan bulak-balik, bunga
wol di rambutnya telah bergerak-gerak. Ketika ia angkat
kepalanya, matanya kebentrok dengan gambar lukisan yang
tergantung di sisi pembaringan. Gambar itu memuat
tulisannya sendiri yang pakai nama samaran "Ie In Hian
Cujin". Nama samaran ini ia bikin jadi cap. Tapi yang
mengguncangkan hatinya ada itu huruf "In" yang berarti
mega atau awan. Maka juga ia lantas berhentikan
tindakannya, ia mengawasi dengan menjublek.
Kucing mungil itu loncat naik ke atas meja kecil, melihat
mana, Gim Sie lantas memburu seraya berkata: "Eh, eh,
Soat Hou, jangan naik ke atas meja! Jangan kau langgar
tokpan! Hayo, Soat Hou, dengarlah kata! … "
Huruf "Hou" dari Soat Hou pun membikin air mukanya
si nona menjadi berubah. Huruf itu berarti "harimau".
Dalam keadaan si nona sebagai itu, tiba-tiba datang pula
Cian-ma.
"Lou thaythay hendak pulang, thaythay minta siocia
hantar padanya," kata ini bujang tua.
"Aku tidak mau!" sahut nona itu, dengan geleng kepala.
Cian-ma tertegun akan dengar jawaban itu, yang pun
diucapkannya dengan ketus.
Selagi bujang tua ini bengong, Gim Sie kedipkan mata
mengasih tanda untuk ia lekas undurkan diri, maka ia lantas
lekas-lekas menyingkir.
Seberlalunya bujang tua itu, Kiau Liong menghela napas.
Ia merasa sangat bersusah hati. Ia insyaf bahwa ibunya
akan mendapat malu apabila ia tidak keluar. Bukankah
nyonya tamu itu telah begitu baik budi menghadiahkan ia
angkin kumala? Maka ia lekas bertindak keluar, tetapi
ketika ia sampai di muka pintu luar, ia lihat Lou thaythay
sudah berangkat, dari itu, ia lalu balik kembali ke
kamarnya.
Gim Sie kenal kewajibannya dengan baik. Ia samperi
nonanya akan loloskan pita dan bunga dari kondenya nona
itu, maka dengan begitu nona ini bisa lantas naik ke
pembaringan akan beristirahat. Meski demikian, toh si nona
tidak dapat menghilangkan hatinya yang kesal.
"Siocia jangan berduka," kata Siu Hiang malamnya,
waktu ia masuk ke kamar nonanya dan lantas bicara seperti
berbisik. "Aku telah mendapati keterangan bahwa Lou
thaythay datang hanya dengan maksud untuk memberi
selamat tahun baru belaka. Juga Cian-ma dalam
percakapannya dengan budaknya Lou thaythay peroleh
keterangan, bahwa Lou siauya, berhubung dengan dapat
kenaikan pangkat ada banyak keluarga yang datang
melamar siauya itu, sebab ini, aku berpendapat ada
kemungkinan pihak Lou tak akan meminang kemari."
"Siapa kesudian usil urusan mereka?" kata Kiau Liong
dengan sengit. "Lain kali, siapa saja dari keluarga itu yang
datang, aku tak mau temui!"
Meski ia berkata begitu rupa, toh Kiau Liong merasa
hatinya sedikit lega. Ia memang harap Lou hanlim menikah
pada lain gadis, agar ia tidak mendapat gangguan lagi ...
Suara petasan di luar ada sangat riuh, suara itu datang
dari tempat dekat dan jauh, bunyinya saling susul atau
berbareng. Itu ada tanda bahwa tahun yang lama telah
berlalu ...
Kiau Liong berduka kapan ia ingat lewatnya sang waktu.
Lagi satu hari atau orang telah sampai di harian tanggal
lima belas, harian perayaan Sianggoan yang indah.
Biasanya di Sinkiang, selama hari raya ini di semua
gedung pemerintah ada dibikin pesta, atau sedikitnya orang
menghias gedung dengan macam-macam tanglung
(tengloleng) yang mentereng. Di waktu begitu Giok Kiau
Liong merasakan paling gembira. Maka juga ketika pindah
ke Pakkhia ia telah pikir bahwa di malaman Goansiau, ia
hendak tinjau seluruh kota raja, guna lihat bagaimana
penduduk kota rayakan pesta itu. Buat beberapa malam ia
niat putar kayun tetapi tak disangka sedang hari raya telah
sampai, justru ia mesti alami gangguan yang memusingkan
kepala, hingga ludaslah semua kegembiraannya.
Giok thaythay ketahui kesukaannya puterinya itu.
Mengetahui kelesuan puterinya ia berkuatir puteri ini nanti
mendapat sakit. Dari itu, sekalipun ia sendiri merasa tidak
sehat, ia paksakan diri akan ajak si nona pergi pesiar. Baru
saja habis bersantap tengah hari, ia sudah perintah budak-
budak bersiap. Ia pun sudah pikir tempat mana yang ia
akan pergikan, ialah Koulau depan, yang terpisahnya tidak
jauh dari gedungnya di mana perayaan biasanya paling
ramai, dan yang lainnya ialah di Tongsee dan Seesian.
Pada jam delapan malam, langit ada biru terang sekali.
Si Puteri Malam, dari timur, dengan perlahan-lahan
menggeser ke barat. Tapi orang umumnya tidak pedulikan
rembulan, semua mata ditujukan pada tengloleng atau
pajangan. Di kedua tepi jalan ada toko-toko atau warung
yang semuanya mementang pintu dan jendela, semua
memasang tanglung dengan apinya, yang terang benderang.
Tanglung pun ada yang terbuat dari kaca dan cita halus,
ada yang dilukiskan gambar ceritera Sam Kok, Sui Hou
Toan, Liau Cay, Hong Sin dan lain-lain, malah ada yang
diruntunkan hingga merupakan satu ceritera bergambar
yang lengkap. Penonton berjubelan saking banyaknya,
belum kereta kuda dengan kudanya yang bersuara berisik.
Di waktu demikian, sekalipun nona-nona dan nyonya-
nyonya pembesar negeri yang jarang keluar rumah, juga
turut pesiar dengan pakaian mereka yang beraneka macam
yang indah. Yang luar biasa gembira adalah anak-anak.
Pemuda-pemuda yang beruang, yang turut pesiar, telah
gembirakan diri dengan kembang api macam-macam yang
mereka sulut atau pasang di sepanjang jalan, hingga apinya
menyambar ke sana-sini. Mereka pun pasang petasan
dengan suaranya yang sangat berisik menulikan kuping. Di
antara toko-toko juga ada yang pertontonkan pot bunga di
mana ada kedapatan rupa-rupa bunga yang seperti bisa salin
rupa ...
Yang paling puas adalah bangsa hidung belang atau
buaya darat yang nyelak di antara nyonya-nyonya muda
dan nona-nona. Tetapi yang paling celaka adalah mereka,
yang bukan hendak pesiar semata-mata hanya pun
mengganggu, dengan rusakkan pakaian baru orang yang
indah atau "tolong simpankan" uang orang ... Maka di
antara suara tertawa riuh pun ada terdengar cacian dan
kutukan dari mereka yang dapat gangguan ... Juga dari
mereka yang kehilangan anak ...
Tatkala itu, keluarga Giok ada berkumpul di atas lauteng
dari suatu toko besar. Tempat ini sudah dipesan dari siang-
siang. Pemilik toko cita itu girang menerima pesanan ini,
sebab dengan begitu ia jadi dapat tambah kenalan, yang di
belakang hari bisa menjadi langganan, apalagi langganan
keluarga teetok. Ia malah telah bersiap dan atur pelayanan
yang menyenangkan. Ia sediakan perapian dan
menyuguhkan teh wangi. Semua kursi teratur rapi di muka
larikan, hingga orang dengan leluasa dapat memandang ke
jalan besar.
Giok thaythay datang bersama puterinya, keduanya
berhiaskan gelung Liangpantau, malah si nona ada pakai
banyak bunga dan perhiasan kumala rupa-rupa. Pakaiannya
yang indah terbikin dari bahan yang mahal.
Siu Hiang mendampingi nonanya. Ia telah sisirkan
rambutnya menjadi sebuah kepangan yang besar,
pakaiannya juga indah.
Empat budak perempuan lain ada jadi tukang melayani.
Di muka tangga ada dua budak lelaki serta beberapa
hambanya teetok, sebagai pahlawan. Hingga sekalipun
pegawai-pegawai toko, tidak bisa naik ke atas lauteng itu.
Sampai kira-kira jam dua, berhubung lilin sudah mau
habis, kementerengannya tanglung telah mulai jadi
kurangan, demikianpun penonton berkurang sendirinya.
Pun suara mercon telah terdengar dengan jarang-jarang.
"Dasar kota raja!" kata Giok thaythay dengan gembira.
"Belasan tahun kita tinggal di Sinkiang, baru sekarang kita
dapat saksikan keramaian pesta Capgomeh seperti ini.
Banyaknya orang dan tanglung membikin mataku seperti
kabur! Toh aku sendiri ada kelahiran Pakkhia ... "
Giok Kianw Liong pun nampaknya gembira, ia tertawa
mendengar kata-kata ibunya itu.
"Menurut aku, Sinkiang pun punya keindahan sendiri,"
ia kata sambil tersenyum. "Aku jadi terkenang dengan
Sinkiang ...”
"Dan kau ... " tanya Giok diaythay pada Siu Hiang, "kau
lihat mana lebih indah, Pakkhia atau Sinkiang?"
"Dua-dua indah!" sahut Siu Hiang yang cerdik sambil
tertawa.
"Kau benar pandai bicara!" kata nyonya besar itu sambil
tertawa juga. "Sekarang sudah jauh malam, beritahukan
kusir untuk siapkan kereta, kita hendak pulang."
Perintah ini dijalankan, dari budak perempuan ke budak
lelaki sampai ke kusir, maka sebentar kemudian, tiga buah
kereta kurung yang besar sudah siap di muka toko, diapit
kiri kanan oleh hamba-hamba kantor teetok yang bekal
golok di pinggang masing-masing.
Nyonya teetok dan puterinya turun dari lauteng dengan
dipimpin oleh budak-budak perempuan. Dari jauh banyak
mata ditujukan pada mereka, terutama nona Giok ada tarik
perhatian, karena meski sinar bulan dan api telah mulai
guram, kecantikan dan dandanannya yang mentereng tidak
menjadi kurangan. Di mata orang banyak itu, ia mirip
dengan satu puteri khayangan ...
Kiau Liong jalan sambil tunduk, perhiasan di gelungnya
bersinar bergemerlapan. Selagi menghampirkan kereta, ia
jadi terkejut, karena tiba-tiba ia dengar ada suatu benda
menyambar ia.
Budak-budak pada kaget, sampai mereka keluarkan
jeritan.
Ternyata ada suatu benda yang nancap di gelung
Liangpantau dari si nona, ketika Siu Hiang sambil berjingke
ulur tangannya akan cabut benda itu, kembali ia terperanjat.
"Ah, sebatang panah!" demikian ia berseru.
Kiau Liong terkejut kapan ia telah lihat panah itu yang
kecil sekali dan panjangnya melainkan tiga dim.
Semua pahlawan sudah lantas hunus golok mereka dan
dengan bengis usir mundur pada sekalian penonton, tidak
peduli lelaki atau perempuan, sehingga mereka ini, dalam
ketakutan pada menjerit. Mereki saling tubruk dan banyak
yang menangis. Orang sukar mundur, karena mereka ada
lapis berlapis.
"Ada apa?" tanya Giok thaythay yang sudah naik atas
keretanya.
'"Ada orang jahat yang telah panah siocia," sahut satu
budak.
Giok thay-thay kaget dan berseru.
"Apakah siocia terluka?" ia segera tanya.
"Tidak! Panahnya kecil sekali dan mengenai
Liangpantau, bunga rusak tetapi siocia tidak kurang suatu
apa!"
Nyonya itu gusar, tetapi ia berbareng sibuk melihat orang
banyak lari serabutan sambil menjerit-jerit dan menangis,
karena mereka sedang dikepung-kepung dan dihajar dengan
cambuk oleh hamba-hamba negeri yang sedang gusar.
"Jangan pukul orang!" nyonya Giok melarang "Cari saja
si penjahat!"
Karena adanya perintah itu orang banyak tidak dikejar-
kejar atau dianiaya lagi, tetapi mereka lari terus, hingga
sebentar saja jalan besar di situ menjadi sepi.
Nona Giok terus naik ke keretanya, maka sekejab
kemudian tiga kereta besar sudah lantas berangkat dengan
dihantar oleh hamba-hamba teetok.
Nyonya Giok berlega hati karena mendapati anaknya tak
terluka. Ia hanya kaget melihat panah yang mungil itu.
"Bukankah panah ini sama dengan itu panah yang
dahulu melukai isterinya Lau Tay Po?" ia tanya. Ia masih
ingat benar macamnya kedua panah itu.
Semua budak pun ingat itu, tetapi mereka bungkam.
Juga Giok siocia tidak bilang, apa-apa.
"Sesarang pergilah ke kamarmu dan mengaso," akhirnya
Giok thay-thay kata pada puterinya itu. "Terang si penjahat
sengaja berbuat begini untuk terbitkan onar. Jangan-jangan
ini pun ada perbuatannya Lau Tay Po. Kau jangan takut,
dengan kau pakai giokpwee dari Lou thaythay, kau tidak
bakal dapat bencana! Pergilah tidur ... "
"Baiklah, ibu," kata si nona, yang terus mengasih selamat
malam, kemudian bersama budaknya ia pergi ke kamarnya.
Rembulan ada bersih dan putih, jernih laksana air.
Harumnya bunga tersebar di sekitar situ.
Ketika Kiau Liong sampai di kamarnya, ia disambut oleh
Gim Sie yang sudah siapkan pembaringannya, lampu dan
lilin telah dipasang, maka ia terus duduk di kursi, antap
kedua budaknya loloskan perhiasan rambutnya, akan
kemudian bantui ia salin pakaian. Selama itu ia diam saja,
sepasang alisnya yang lentik dan bagus ada mengkerut,
suatu tanda ia sedang berduka atau berpikir keras.
"Pergi kau semua tidur," ia kata pada dua budaknya,
sesudah mereka selesai melayani ia.
Gim Sie lantas undurkan diri dengan diturut oleh
kawannya. Di situ Siu Hiang beritahukan kawannya apa
yang telah terjadi tadi di muka toko cita.
Berada sendirian di dalam kamarnya, Kiau Liong segera
jatuhkan kepalanya di atas meja dan menangis, tetapi
dengan tak berani kasih dengar suara, karena itu, tubuhnya
jadi bergerak-gerak.
Soat Hou, si Harimau Salju, yang nongkrong di lantai,
mengawasi saja majikannya. Ia seperti bengong dalam
keheranan, karena dulu-dulu ia belum pernah lihat nonanya
bersedih demikian rupa.
Kiau Liong menangis dengan tidak ada lain orang yang
ketahui, sebagaimana pun tidak ada orang yang tahu
sebabnya ia bersedih itu. Ia menangis terus sampai jauh
malam, hingga ia ketiduran dan pulas sendirinya. Ketika
besoknya pagi ia tersadar, ia terus tidak bisa turun dari
pembaringan. Pada wajahnya tertampak sinar kedukaan,
tidak ada tanda dari gangguan penyakit.
Tabib sudah lantas diundang untuk memeriksa, tetapi
tabib beritahukan bahwa si nona tidak sakit, hingga orang
anggap ia dapat sakit karena kaget saja. Karena ini lantas
datang usul dari beberapa sahabat buat mengundang
saykong atau hweeshio, buat bikin sembahyangan mengusir
roh jahat yang datang mengganggu. Tapi usul ini ditolak
oleh Giok teetok yang tidak percaya tahayul.
Kemudian ada usul supaya si nona lekas dicarikan
tunangan agar lekas dikasih menikah. Dan usul ini
mendapat persetujuan dari Giok teetok. Demikianlah
dengan diam-diam sering ia berunding dengan isterinya
tentang perjodohannya gadis itu.
Sementara itu Lou thaythay dan puteranya lebih sering
berkunjung ke gedung keluarga Giok, hingga beberapa hari
kemudian, semua budak atau bujang lantas dapat tahu
bahwa sam-siocia mereka sudah dirangkap jodohnya pada
Lou hanlim, tiehu yang baru dari Sun-thianhu, bahwa lain
bulan akan dilangsungkan upacara pertunangan, dan di
musim ketiga pernikahan bakal dirayakan. Cuma Gim Sie
dan Siu Hiang serta siocia mereka ini, yang belum tahu
tentang tindakannya Giok teetok dan Giok thaythay itu,
dan semua bujang lainnya tidak berani mengasih tahu atau
bicara sembarangan.
Sampai pada akhirnya bulan pertama, penjagaan malam
di gedung teetok telah menjadi kurangan kuatnya
sebagaimana yang sudah-sudah. Ini ada disebabkan, sampai
sebegitu jauh, belum pernah lagi terjadi keonaran. Malam
itu, selewatnya tengah malam, gedung teetok terbenam
dalam kesunyian. Semua penjaga telah berkumpul di kamar
jaga mereka. Semua penerangan juga telah dibikin padam.
Kiau Liong berada sendirian di dalam kamarnya, sebab
sudah sejak dua hari ia telah mulai sembuh dari "sakitnya",
hingga ia ijinkan Gim Sie dan Siu Hiang kembali tidur di
kamar mereka sendiri.
Dua batang lilin yang besar, apinya sudah padam, tetapi
dekat pada nona Giok masih ada sebuah lampu kecil yang
merupakan penerangan satu-satunya untuk kamar itu.
Lampu itu bisa ditaruh di dalam pembaringan. Sekarang si
nona bukan sedang baca buku yang ia rahasiakan, ia hanya
rebah celentang dengan pikiran kusut karena kedukaannya.
Hanya sekonyong-konyong ia berbangkit dan duduk karena
ia dapat dengar ada suara apa-apa.
"Meong ... meong ... “ demikian terdengar suara di atas
genteng. Atas suara ini, kucing putih di sampingnya si nona
sudah lantas mendusin dan bangun, untuk terus pasang
kupingnya ...
Dengan cekal lampunya, Kiau Liong turun dari
pembaringan dan bertindak perlahan-lahan keluar. Segera ia
lihat sinar lampu yang lemah berkelebat di belakang
jendela, setelah mana, dengan tidak usah menunggu lama
kupingnya lalu tangkap suara sambaran angin, sebagai
rontok terbangnya daun pohon.
Dan menyusul itu, dari luar jendela terdengar: "Kiau
Liong! Kiau Liong! Buka jendela, lekas, aku di sini!" Itu ada
suaranya seorang lelaki yang masuk ke kupingnya si nona.
Dan itu ada suara yang ia kenal baik, hingga ia segera tiup
padam lampunya. Ia mendekati jendela, di mana ia
perdengarkan suara yang perlahan tapi keras sifatnya:
"Secara begini kau datang kemari, kau bikin aku tak ada
muka untuk ketemui kau ... "
Ucapan ini disusul oleh mengalirnya turun air mata,
sedang dari luar jendela ada terdengar suara tertawa
perlahan.
"Adik Kiau Liong, buka jendela, kasih aku lihat
wajahmu!" demikian suara yang menyusul.
Kiau Liong menghela napas, tetapi ia buka jendela,
berbareng dengan terbukanya itu, gesit bagaikan kucing ada
melesat masuk seorang pemuda, dan sesampainya di dalam,
orang itu terus cekal keras kedua tangannya si nona.
"Mundurlah sedikit ... " begitulah ada ucapan satu-
satunya dari si nona, yang keluar dari mulutnya. Tetapi,
sedetik kemudian, ia tambahkan: “Apa yang aku bilang
ketika kita hendak berpisahan di Sinkiang? Apakah kau
lupa itu? Kenapa kau lepaskan panahmu pada malaman
Capgomeh? Apa benar kau hendak paksa aku mati? ... "
Suara itu ada suara dari kesedihannya hati, saking
lemahnya. Tetapi orang yang baru datang itu tertawa.
"Aku datang ke Pakkhia ini melulu untuk kau!" ia kata.
"Coba nyalakan api, aku ingin lihat wajah mukamu ... "
Tapi si nona geleng-geleng kepalanya berulang-ulang.
"Lekas kau pergi, lekas," ia berkata. "Sekarang ini aku
bukan lagi Kiau Liong yang berada di Sinkiang dahulu! Jika
kau masih ingat kata-kataku, lekaslah pergi! Kau mesti lekas
lakukan apa yang aku bilang, nanti berselang satu tahun
baru kau datang pula kemari. Tentu saja kau tidak mestinya
datang secara begini, bila kelak kau datang secara begini
pula lebih baik jangan bertemu lagi!"
"Walau bagaimana, kau mesti ijinkan aku lihat pula
tampangmu!" mendesak itu orang lelaki. "Sesudah kita
berpisahan, di dalam impian, di waktu sadar, kau sajalah
yang berbayang di depan mataku! Di gurun pasir, di atas
gunung yang tinggi, di dalam rimba yang lebat, di dalam
sungai, di dalam cawan arak, ya, di mana saja, mesti ada
petaan dirimu! Kemarin ini di antara cahaya tanglung, aku
belum lihat nyata, maka di sini aku ingin lihat kau sejelas-
jelasnya! Kiau Liong, setelah memandangnya, aku akan
pergi, aku nanti bekerja menuruti ucapanmu, supaya di
kemudian hari kita bisa menjadi suami isteri!"
Setelah itu, dengan tidak menunggu perkenan, orang itu
segera nyalakan apinya. Cuma dengan sekali tiup, bahan
api itu segera menyala menerangi seluruh kamarnya, hingga
di situ tertampaklah pakaian yang indah, rambut yang kusut
dari si nona, muka yang penuh air mata, paras yang
menunjukkan kemenyesalan dan penasaran ...
Di lain pihak, sinar api pun telah menerangi orang lelaki
yang tidak dikenal itu. Ia ada seorang muda yang cakap
dengan tubuh besar dan kekar, dengan dandanan yang
sangat singsat dan rapi, ialah pakaian serba hijau, kopiah
hitam, di pinggangnya ada terselip golok panjang tak
sampai dua kaki, gagangnya memakai gelang-gelangan.
Kapan empat mata beradu, pemuda itu tertawa.
Kiau Liong tidak gusar, tetapi tangannya menolak.
"Lekaslah kau pergi," ia kata. "Kau mesti bekerja
menuruti kata-kataku! Jangan kau datang pula secara
begini! Siau Hou, kau mesti dengar ucapanku ... "
Pemuda yang dipanggil Siau Hou itu menghela napas,
"Kau jangan berduka," ia bilang, "aku akan pergi, aku
akan turut pesananmu. Baiklah, sampai kita ketemu lagi!"
Ia terus padamkan api, ia bertindak ke jendela yang
daunnya ia tolak, di situ ia loncat dan menghilang.
Kiau Liong berdiam sesaat, lantas ia menghela napas
akan bikin lega hatinya. Kemudian ia lekas kunci jendela
dan kembali ke kamarnya. Setelah letakkan lampunya ia
lalu rebahkan diri. Kembali air matanya mengalir keluar
membasahi bantal sulamnya.
Malam ada sangat sunyi, melainkan kentongan terdengar
berbunyi empat kali.
Soat Hou meringkuk pulas di samping nonanya, siapa
menangis sesenggukan dengan perlahan, karena di depan
matanya telah berbayang pula segala kejadian di Sinkiang
yang jauh, selama ia tinggal di sana belasan tahun ...
Giok Kiau Liong ikut ayahnya pindah dari Sinkiang ke
Pakkhia baru empat atau lima bulan. Sedari kecil sehingga
berumur belasan, ia lewatkan penghidupannya di itu
wilayah luar dari Tiongkok Asli. Tentang bugee-nya yang
liehay, sampai pada saat ini, ayah dan ibunya pun tidak
mendapat tahu. Gurunya, Kho Long Ciu alias In Gan, si
Belibis Awan, ada hubungannya dengan Ah Hiap, si Jago
Gagu, juga dengan Yo Pa, Yo Lee Eng dan Yo Lee Hong.
Maka untuk ketahui semua ini, baiklah kita mundur
sedikit dari cerita ini. Kita harus mulai dari saat tigapuluh
enam tahun yang telah lampau. Karena sekarang Kiau
Liong berusia sembilan belas tahun, kejadian itu jadinya di
masa tujuh belas tahun sebelumnya Kiau Liong menjelma.
Dan itu adalah saatnya munculnya jago-jago yang kesohor,
seperti Kie Kong Kiat, Lie Hong Kiat, Ceng Hian Siansu
dan lain-lain, yang semua berkedudukan di Kanglam dan
Kangpak, di kedua tepi Honghoo. Tapi di saat itu, jago
yang istimewa, ialah Kang Lam Hoo, ada sedang
"bersembunyi" di atas gunung Kiuhoa San di Anhui
Selatan, hidup sebagai tukang tanam pohon teh, dengan tak
campur urusan di kalangan Sungai Telaga. Sementara itu,
Kang Lam Hoo punyakan satu suheng, yang punya mulut
tapi tidak bisa bicara, punya kuping tidak dapat mendengar,
tak ada orang yang ketahui she dan namanya, hingga orang
panggil ia Ah Hiap. Sedang menurut keterangannya Kang
Lam Hoo, bugee dari suheng ini ada jauh terlebih tinggi
daripada kebisaannya sendiri. Tapi pada suatu hari, suheng
ini lenyap tak keruan paran, ia mati atau masih hidup Kang
Lam Hoo tidak dapat ketahui. Hanya, lenyapnya Ah Hiap
pada tigapuluh tahun yang lalu itu, sekarang ada
hubungannya dengan puterinya Giok teetok ialah Kiau
Liong ...
Distrik Suikang letaknya di dekat sungai Kimsee Kang,
Inlam. Di luar kota itu ada sebuah kampung kecil yang
penduduknya cuma duapuluh pintu lebih. Di kampung ini
ada tumbuh banyak pohon goutong, hoay dan yangliu,
maka setiap permulaan musim kedua, pasti sekali itu
kampung seperti tertabur dengan daun-daun hijau.
Itu hari, magrib, ada turun hujan gerimis. Awan yang
mendung ada seperti melekaskan datangnya cuaca gelap. Di
jalanan sudah tidak ada orang yang berlalu lintas. Tapi tiba-
tiba dari kejauhan terdengar tindakan kaki kuda di atas air
dari jalanan kampung yang becek.
Itu adalah seekor kuda hitam, dengan penunggangnya
seorang yang berpakaian hitam juga, yang kepalanya
ditutup rapat dengan tudung bambu yang besar. Ia tidak
bertubuh jangkung pun tidak kate. Ia telah berusia kurang
lebih limapuluh tahun dengan kumis dan jenggotnya yang
panjang tak terawat, warnanya sudah abu-abu. Di belakang
kudanya ada tergendol satu bungkusan yang tidak besar dan
sebatang pedang, bungkusan ini tidak basah, sebab terbikin
dari kain minyak, melainkan pakaiannya si penunggang
kuda yang semuanya kuyup lepek.
Terus saja penunggang kuda ini masuk ke perbatasan
kampung, ia memandang ke kiri dan kanan secara sambil
lalu.
Di waktu begitu, penduduk kampung umumnya sudah
bersantap malam dan naik ke atas pembaringan, tetapi
masih ada sebuah rumah dari mana ada sinar api molos
keluar. Maka si penunggang kuda lantas jalankan kudanya
menuju ke rumah atap itu. Ia loncat turun dari kudanya,
dengan kaki pakai sepatu rumput, ia tuntun kudanya akan
masuk ke dalam pekarangan. Ia tolak daun pintu dengan
tidak mengetok atau memanggil-manggil lagi. Ia terus saja
bertindak masuk. Di situ ada dua pintu.
Selama orang asing ini bertindak masuk, dari dalam
rumah tidak ada orang yang keluar akan melihat atau
menanya. Dari itu, setelah lepaskan cekalannya pada les
kuda, tetamu ini segera samperi pintu yang ia rerus dorong,
dengan ia sendiri terus masuk ke dalamnya ...
Rumah itu kosong dengan perabotan, kecuali kwali dan
mangkok dan beberapa rupa yang lain. Tapi di atas
beberapa para-para ada kedapatan sejumlah kitab. Sedang
penghuninya, yang dandan sebagai anak sekolah, ada
sedang duduk membaca buku.
Tuan rumah jadi kaget dan loncat bangun apabila
nampak ada tetamu yang tak diundang itu.
"Eh, kau dari mana?" ia menegur. "Kenapa dengan tidak
mengetok pintu lagi kau lancang masuk ke rumahku?"
Orang itu gerak-gerakkan kedua tangannya, dan matanya
juga, antaranya ia tunjuk mulutnya. Terang ia
memberitahukan bahwa ia tidak bisa bicara.
Tuan rumah nampaknya heran.
"Kenapa di waktu hujan dan malam begini ada ini
tetamu gagu? ... " demikian ia berpikir. Karena tidak ada
lain jalan, ia ambil pit dan kertas. Dengan surat ia mau
tanya orang punya she dan nama, dari mana datangnya,
dan ada keperluan apa.
Baru saja tuan rumah angkat pit atau si tetamu sudah
keluarkan satu buntalan kecil yang sudah lepek yang ia
letakkan di atas meja buat terus dibuka, hingga di dalam
buntalan itu kelihatan beberapa potong emas hancur dan
selembar surat. Dan surat itu terus ditunjukkan pada tuan
rumah.
Anak sekolah itu membaca:
“Kheng Liok Nio,
dusun Tonghoa-cun,
distrik Suikang".
Tidak mengerti akan maksudnya surat itu, tuan rumah
mengawasi tetamunya.
Dengan mempeta-petakan tangannya si gagu mau tanya
di mana tinggalnya Kheng Liok Nio itu.
Terpaksa anak sekolah itu menggunakan surat
menanyakan si gagu datang dari mana dan apa perlunya
cari Kheng Liok Nio.
Apa mau, si gagu ini juga tidak mengerti surat, hingga
percuma saja si anak sekolah corat-coret kertasnya. Dengan
terpaksa ia ajak si gagu keluar. Ia dapat lihat kudanya si
gagu, buntalan dan pedang, kemudian dengan satu tanda ia
suruh si gagu tuntun kudanya buat ikut ia pergi keluar
pekarangan, di sini ia tunjukkan ke mana tetamu ini mesti
pergi, akan cari alamat yang tertulis itu. Itu adalah rumah
tetangga seling dua rumah.
Setelah dapat keterangan, si gagu itu tertawa, sambil
angkat kedua tangannya ia memberi hormat menghaturkan
terima kasih, kemudian dengan tuntun kudanya ia
bertindak ke jurusan rumah yang ditunjuk itu.
Si anak muda masih saja heran kendati ia sudah kembali
ke dalam rumahnya, hingga ia tidak ketarik akan
melanjutkan baca bukunya. Sebenarnya hujan telah turun
lebih besar, tetapi dengan tidak pedulikan itu ia keluar pula,
pergi ke rumahnya Kheng Liok Nio, ke pintu pekarangan,
di situ ia berdiri akan pasang kuping.
Di dalam pekarangan ada terdengar berbengernya kuda,
dan di dalam rumah terdengar suara ah-ah-uh-uh dari si
gagu serta haha-hihinya seorang perempuan.
Mendengar demikian, anak sekolah itu jadi sangat tidak
mengerti dan berbareng mendongkol juga, lekas-lekas ia
pulang ke rumahnya.
Anak sekolah ini adalah Kho Long Ciu alias In Gan. Ia
ada siucay yang berulang-ulang turut ujian tetapi tidak bisa
lulus, hingga ia tetap jadi calon saja. Ia sudah berumur
duapuluh Tujuh tahun, ayah dan ibunya telah meninggal
dunia, karena ia tidak bisa jadi kiejin, ia batalkan
pertunangannya yang telah diikat ketika ia masih kecil.
Engko-nya, Bou Cun, ada jadi tiekoan di Hoolam, maka itu
sekarang ia tinggal sebatang kara di rumahnya yang kecil
ini, yang terdiri dari dua pintu. Dan karena ia tidak punya
sawah atau kebun, ia juga tidak usah pergi meluku atau
memacul buat jadi pak tani. Hanya setiap hari di dalam
rumahnya ia melatih menulis huruf, membikin karangan
atau syair, melukis gambar, main kim, atau membaca kitab.
Kitab yang ia baca bermacam-macam, dari bahasa kuno
sampai hikayat, dari ilmu alam sampai ilmu bumi,
begitupun ilmu obat-obatan dan ilmu petang-petangan, pun
ilmu perang dan ilmu silat pedang. Ia ada begitu kesohor di
desanya itu, hingga orang sebutkan ia sebagai siucay yang
bunbu coancay!
Demikian, meskipun Kho Long Ciu belum berusia
tinggi, kalau orang-orang di desanya ada urusan apa-apa,
mereka datang padanya untuk memohon pikiran.
Sementara itu, di sebelahnya siucay ini, di desa itu pun
ada lain orang yang sama terkenalnya, kendati juga dalam
lain sifat. Ia ini sangat ditakuti. Ia ini adalah Kheng Liok
Nio gelar Pekgan Holie, si Rase Mata Biru.
Ayah dari Kheng Liok Nio ini ada satu penjahat besar.
Pada tiga tahun yang lalu, ayah itu kena ditangkap
pembesar negeri dan dihukum mati, maka itu, ia jadi hidup
sendirian saja, hingga ia suka pergi mengembara, sering
beberapa bulan tak pulang-pulang. Ia ada satu gadis,
umurnya itu waktu baru duapuluh empat atau duapuluh
lima tahun. Ia punya satu sahabat baik, ialah juru tulis di
kantor tiekoan yang sering datang kepadanya, seperti juga
mereka ada suami dan isteri.
Juru tulis tiekoan itu bernama Hwie Pek Sin, umurnya
kira-kira tigapuluh tahun. Ia ada teman sekolah dan sahabat
baik dari Kho Long Ciu, sering mereka berdua duduk
berkumpul sambil minum arak atau berunding. Hanya
sudah sejak beberapa hari, Hwie Pek Sin tidak pernah
datang. Dan apa mau, Kheng Liok Nio itu sekarang
kedatangan si gagu yang tidak dikenal itu dan mereka
berdua lantas saja bersenda gurau, maka bisa dimengerti
yang siucay itu jadi tidak senang.
Di hari kedua, hujan masih belum mau berhenti. Itu hari
pun Hwie Pek Sin tidak datang dari kota dan Kho Long Ciu
juga tidak mau pergi menyusul ke kantor tiekoan. Di lain
pihak, ia tidak punya hak untuk tegur Pekgan Holie.
Kapan lewat lagi satu hari, barulah langit terang.
Si gagu masih tetap tinggal di rumahnya Kheng Liok
Nio, dan ketika si nona muncul itu pagi, rambutnya yang
dikepang panjang sudah salin rupa menjadi gelung, dan
waktu ia ketemu dengan beberapa tetangga, dengan toapan
ia kata pada mereka:
"Suamiku telah datang, benar ia gagu tetapi ia ada punya
banyak uang. Kita berkenalan sejak tahun yang lalu, salah
satu sahabat kita yang menjadi orang perantaraan. Ia punya
kebun teh yang semua ia telah jual, ia telah datang susul
aku di sini untuk tinggal sama-sama. Kita sekarang punya
beberapa ribu tail, maka kita ingin beli sawah dan kebun,
kita mau beli tanah untuk dirikan rumah."
Mendengar keterangan itu, semua orang cuma manggut-
manggut, tetapi di dalam hati, mereka mencaci
perbuatannya si nona yang tak tahu malu itu. Di sebelahnya
Kheng Liok Nio yang berani dan garang itu, si gagu tak
dapat dicela. Ia tidak bisa bicara, tapi setiap hari ia dandan
dengan rapi seperti biasa lain-lain hartawan. Kalau ia
bertemu tetangga, lelaki atau perempuan, ia bisa unjuk
hormat sambil tersenyum, dan kalau ia ketemu anak-anak,
ia suka ajak main anak-anak itu yang kepalanya ia usap-
usap. Dan kalau ia ketemu orang miskin, ia tidak berat
merogoh saku, akan mengamal. Ia suka pergi ke kota buat
belanja, umpama obat-obatan, benang wol, cita dan kue,
yang mana ia suka bagikan pada tetangga-tetangganya.
Maka kesudahannya tidak ada orang cela ia, malah semua
orang bilang ia adalah si gagu yang baik hati.
Sejak itu, kelakuannya Kheng Liok Nio juga turut
berubah, ia nampaknya telah menjadi satu nyonya muda
yang baik martabatnya, hingga pandangan orang atas
dirinya juga jadi ikut berubah sendirinya.
Adalah berselang sepuluh hari kemudian, Hwie Pek Sin
dari kota telah datang ke rumahnya Kho Long Ciu, apabila
ia sudah dengar perihal kelakuannya Kheng Liok Nio, ia
menjadi tidak senang dan gusar, hingga dengan keras ia
kata: "Itu rase perempuan tidak punya liangsim! jikalau
bukan aku yang lindungi ia di kantor, mana ia bisa tinggal
senang dan merdeka di sini? Ia punya beberapa perkara
besar yang semua tergenggam di dalam tanganku, asal aku
hendak mengganggu, ia tentu bakal diseret ke muka
pengadilan di mana ia akan dijatuhkan hukuman mati! Dari
mana ia mendapati si gagu itu dengan siapa ia berani hidup
sebagai suami isteri? Bagaimana seorang gagu bisa
punyakan banyak uang? Pasti si gagu juga ada satu penjahat
besar! Saudara Long Ciu, pergilah kau turun tangan, hajar
padanya! Bila orang terluka atau binasa, semua aku yang
tanggung!"
Kho Long Ciu memang sedang gusar, anjurannya Hwie
Pek Sin bikin ia tambah panas dan berani, maka selagi
percaya yang bugee-nya boleh diandalkan, ia bawa
pedangnya pergi satroni Kheng Liok Nio. Begitu ia sampai,
ia lantas gedor pintu, tetapi sebelum pintu dibuka, ia
mendahului mengintai ke dalam.
Di dalam pekarangan kelihatan si gagu sedang ajarkan
Kheng Liok Nio silat, ia lagi berikan pengunjukan dengan
ia sendiri jalankan ilmunya, gerakannya gesit bagaikan
monyet atau burung, kepalannya sebat seumpama kilat
menyambar-nyambar.
Melihat itu, Kho Long Ciu tercengang, kemudian lekas-
lekas ia umpatkan pedangnya di belakangnya sebuah batu
besar. Ia pun tidak berani lantas ikut Hwie Pek Sin masuk
ke dalam.
Tidak antara lama, pintu pekarangan dipentang. Dengan
hati panas, Hwie Pek Sin bertindak masuk.
Di antara pagar kate, dari luar Kho Long Ciu mengawasi
ke dalam.
Kelihatan Kheng Liok Nio seperti yang belum melupai
sahabat lama, menyambut Hwie Pek Sin dengan manis.
"Jangan kau cemburuan, kata nyonya muda itu. "Aku
ikuti ia ini karena ia ada punya banyak uang dan sekalian
untuk belajar silat. Perhubungan kita mesti dibikin seperti
biasa, asalkan harus dijaga supaya ia ini tak mendapat
tahu."
Si gagu mengawasi dengan bengong, ia tak tahu apa
yang orang sedang bicarakan.
"Si gagu ini orang macam apa?" tanya Hwie Pek Sin
dengan mata melotot. "Apa she dan namanya? Kau suka
menikah padanya, apa itu disebabkan ia pandai bugee dan
ia paksa rampas kau?"
Kheng Liok Nio, yang tubuhnya jangkung dan mukanya
panjang, tersenyum dengan tenang. Dengan sebelah
tangannya ia buat main kembang yang nancap di
gelungnya.
“Bukan,” ia menyahut, "aku bukannya dipaksa olehnya.
She dan namanya aku pun tak tahu tetapi aku ketahui ia
ada seorang yang tersohor di kalangan Sungai Telaga, tak
ada orang yang tak kenal padanya. Percuma aku terangkan
padamu, kau niscaya tidak bisa mengerti. Dengan ianya aku
sebenarnya tidak punya perhubungan yang berani. Aku
kenal ia pada tahun yang baru lalu waktu aku pergi ke
Kanglam akan cari suheng-ku. Kita bertemu di tengah
jalan. Tidak kusangka bahwa ia telah ketarik padaku. Ia
tanya di mana aku tinggal. Dan pun aku tak sangka, dari
tempat begitu jauh ia bisa susul dan cari aku!"
Pek Sin tetap mendongkol, hingga ia banting-banting
kaki.
"Ia datang dan kau lantas nikah padanya!" ia kata
dengan nyaring.
Sampai begitu jauh, mukanya Kheng Liok Nio pun
menjadi merah.
"Jangan kau bikin aku gusar!" ia lalu kata dengan sengit.
"Aku bukannya dinikah olehmu, hanya dibeli! Jangankan
baru aku nikah si gagu, walau aku nikah seorang buta
sekalipun kau tidak berhak akan merintangi!"
Hwie Pek Sin begitu gusar sampai tubuhnya
bergemetaran.
"Baik, baik, inilah ucapan yang aku nanti ingatkan!"
berseru ia secara mengancam. "Di kemudian hari jangan
kau menyesal!"
Si gagu mengawasi saja. Ia rupanya bisa duga apa yang
diributi, karena tiba-tiba ia angkat kakinya dan Hwie Pek
Sin lantas saja rubuh terguling dan celentang.
Dengan kesakitan dan kemurkaan, juru tulis ini merayap
bangun. "Bangsat gagu!" ia mendamprat, "kau berani pukul
aku? Awas, kau kenali aku, juru tulis dari kantor tiekoan!"
Si gagu tetap tidak ketahui apa yang orang katakan,
hanya terus ia merangsek dan mengulur tangannya,
sebelum Hwie Pek Sin bisa berbuat apa-apa, tubuhnya
sudah terangkat naik, karena pahanya disambar dan sekejab
kemudian tubuhnya sudah melayang melewati pagar terus
jatuh terbanting di tanah, suara jatuhnya dibarengi sama
jeritannya yang hebat. Nyata lututnya telah patah hingga ia
tidak mampu merayap bangun ... !
Sesudah itu, si gagu gabrukkan pintu pagar dan kunci itu.
Kho Long Ciu lari pada sahabatnya, tubuh siapa ia
lantas pondong dibawa pulang ke rumahnya.
Hwie Pek Sin kesakitan, sambil teraduh-aduh ia pun
mencaci dan mengutuk tidak berhentinya, ia tidak gubris
sahabatnya yang membujuki agar ia suka bersabar.
"Lekas hantar aku pulang, aku mesti bawa orang polisi!"
berseru juru tulis pemogoran ini. Ia ingin bekuk si gagu dan
kekasihnya itu.
"Sabar, sahabatku," kata Kho Long Ciu sambil
mencegah dengan tangannya. "Jangan kau sembarangan
bertindak. Apa kau tidak dengar apa katanya si perempuan
tadi? Si gagu ada orang luar biasa, aku pun ketahui dengan
melihat caranya ia bersilat. Kalau kau panggil polisi, bukan
saja kau akan nampak kegagalan kembali, malah apabila si
gagu benci padamu, ia bisa bunuh kau!"
Mendengar begitu, Hwie Pek Sin bergidik. Maka
akhirnya, ia menahan sabar. Kemudian ia berangkat
pulang, akan paling dahulu rawat diri.
Dasar ia ada juru tulis yang pintar dan berpengaruh, di
hari kedua Hwie Pek Sin telah dikunjungi Kheng Liok Nio
yang datang di luar tahunya si gagu. Si gagu hanya tahu
isterinya pergi ke kota untuk belanja. Di sini mereka tidak
bertengkar lagi, sebaliknya, mereka bercakap-cakap dengan
asyik. Dan sejak itu, Hwie Pek Sin tidak lagi tertampak
pergi ke Tonghoa cun, hingga si gagu bisa bersenang-senang
dengan isterinya tanpa gangguan siapa juga.
Dalam hidupnya yang tenteram dan senang si gagu terus
ajarkan Kheng Liok Nio silat. Karena ini, sampaikan ia
lupakan sutee-nya Kang Siau Ho di Kiuhoa San. Setiap kali
ia mengajar silat, tentu dari luar pagar, ada orang yang
mengintai dan mencuri lihat, ialah si siucay bunbu coancay.
Ia ketahui ini tetapi ia tidak mempedulikannya, ia tetap
berikan pimpinan pada isterinya. Rupanya ia anggap,
peduli apa orang curi lihat kepandaiannya, orang toh tidak
akan mampu curi semuanya.
Kheng Liok Nio juga tahu Kho Long Ciu selalu intip
mereka akan curi pelajaran, ia merasa tidak puas, tetapi
karena si gagu diam dan tidak mencegah. Ia lalu pikir:
"Ia ada siucay tersohor di ini desa, ia pun ada sahabatnya
Hwie Pek Sin, biarlah ia belajar terus. Ia sebenarnya ada
satu kutu buku, benar ia mengerti ilmu silat pedang, tetapi
dengan belajar secara mencuri, mana ia bisa peroleh
kepandaian sejati? Belajar secara demikian ada sukar ...
Demikian, hari lewat hari, satu tahun lebih telah lewat.
Selama itu, karena tidak punya penghasilan dan biaya
hidupnya besar, uang simpanan si gagu dari berharta ia jadi
bersengsara. Lebih celaka lagi, Kheng Liok Nio perlakukan
ia semakin tawar, sementara tubuhnya yang tadinya kekar,
lalu menjadi lemah, disebabkan terlalu umbar hawa napsu
dan layani saja isterinya yang muda dan gagah.
Selama itu, Hwie Pek Sin juga mulai sering tertampak
pula di Tonghoa cun, ia suka bikin pertemuan rahasia
dengan Kheng Liok Nio.
Pada suatu hari di bulan ketiga, sorenya telah turun
hujan gerimis. Dengan tiba-tiba dari rumahnya Kheng Liok
Nio telah terdengar suara menangis.
Kho Long Ciu sedang yakinkan ilmu silat curian di
rumahnya ketika ia dapat dengar suara itu, hingga ia jadi
kaget dan heran. Segera ia berhenti berlatih, ia pergi keluar
rumahnya akan perdatakan suara itu. Ternyata suara itu
adalah tangisannya Pekgan Holie, cuma sampai tiga kali,
lantas tangisan itu sirap. Ia lantai memburu ke rumah
tetangganya itu, ia mendapati dalam pintu dikunci, ia mau
coba kepandaiannya yang dimendapati asal mencuri.
Dengan hanya satu kali enjot tubuhnya ia bisa melesat
loncati pagar sampai di sebelah dalam.
Begitu lekas siucay bunbu coancay ini sampai di dalam
rumah, ia mendapati si gagu tidur celentang dengan sudah
tak bernyawa, tubuhnya dikerebongi, melainkan tertampak
mukanya yang unjuk roman menyeramkan, satu tanda
bahwa ia mati bukan melulu disebabkan sakitnya.
"Ini tentulah ada sebab Pekgan Holie merasa
kepandaiannya sudah sempurna dan hartanya si gagu sudah
ludas, hingga ia anggap si gagu sebagai duri di matanya ... "
demikian Kho Long Ciu pikir.
Kheng Liok Nio menangis sebentaran, rupanya buat
mengelabui matanya tetangga-tetangga, lantas ia geledah
buntalannya si gagu, ia jadi kecele karena Isinya bukan
emas atau perak, hanya dua jilid buku tua yang ia tidak
tahu buku apa karena ia tidak tahu mata surat.
Ketika Kho Long Ciu masuk secara tiba-tiba, Kheng
Liok Nio sedang pandang buku tua itu, melihat orang
datang, ia terperanjat, tapi si siucay yang telah lantas dapat
lihat namanya buku itu, hatinya girang tak kepalang, tetapi
sebagai orang yang pintar, ia tidak utarakan kegirangannya
itu.
"Jangan takut!" ia kata, sambil tersenyum sindir.
"Memang-sudah sejak lama aku menduga, kau dan Hwie
Pek Sin mesti mainkan ini macam muslihat. Sebenarnya
tidak usah kau ambil tindakan ini, dia toh bakal mati juga ...
Legakan hatimu, aku tidak akan buka rahasia! Hanya itu
dua jilid buku kau kasih aku pinjam lihat."
"Pergilah ambil,” kata Pekgan Holie. "Sekarang barulah
aku menyesal ... "
"Ya, menyesal sesudah kasep!" kata Kho Long Ciu
sambil terus tersenyum sindir. "Selanjutnya kau mesti jaga
baik-baik pembalasan sakit hati dari sahabat-sahabatnya si
gagu ini!"
Dengan bawa dua buku itu Kho Long Ciu terus ngeloyor
pergi.
Di lain harinya, Kheng Liok Nio rawat mayatnya si gagu
dan Hwie Pek Sin datang membantui. Semua diurus dengan
cepat dan sederhana.
Dan Kho Long Ciu, sejak itu jarang sekali keluar dari
rumahnya.
Selama itu, sampai satu bulan lebih, di kampung
Tonghoa cun itu tidak ada terjadi perkara apa juga,
kampung ada tenteram seperti sediakala.
Hanya Kho Long Ciu telah lantas jual rumahnya dan
kumpulan buku, ia berangkat dari Suikang, ke mana ia
pindah, penduduk desanya tak ada yang ketahui.
Dua jilid buku dari si gagu yang setiap jilidnya terdiri
dari empat atau limaratus halaman, sebenarnya ada
memakai kulit muka dengan tulisan: "Kiu Hoa Koan Kiam
Coan Sie, Kang Lam Hoo Hui Cie", atau artinya: "Buku
pelajaran silat dari Kiuhoa San dengan hiasan gambar oleh
Kang Lam Hoo". Di dalamnya ada tercatat rupa-rupa ilmu
silat, tangan kosong dan bersenjata, dengan tulisan dan
lukisan gambar, benar tulisannya jelek dan gambarnya
kasar, toh semua ada terang. Itu ada buah pelajaran dari
Kiuhoa San Loojin. Yang penting di dalam buku itu adalah
lukisan Tiamhiat hoat, ilmu menotok jalan darah atau nadi.
Kang Lam Hoo sengaja bikin itu buku untuk suheng-nya,
Ah Hiap si Jago Gagu itu. Siapa punyakan kitab itu, ia bisa
pelajarkan itu dengan baik, asalkan ada punya keyakinan
dan kekerasan hati.
Kho Long Ciu ada seorang pandai, ia tahu apa artinya
dua buku itu, maka ia sudah lantas menyingkir ke Hoolam
di mana ia cari engko-nya, Kho Bou Cun, siapa sementara
itu sudah naik pangkat menjadi Thongpoan di Lulam dan
dengan tiehu Ho Siong ada bersahabat kekal, maka engko
ini pujikan ia pada Ho tiehu, hingga kesudahannya ia
diterima bekerja sebagai juru tulis. Ia terima pekerjaan ini
hanya untuk sembunyikan diri, supaya Kheng Liok Nio tak
dapat cari ia. D i sini siang ia bekerja, malamnya ia terus
berlatih diri menuruti pengunjukan-pengunjukan di dalam
buku. Siang, di luarnya jam kerja ia gemar sekali menulis
dan melukis, minum arak dan bersyair, hingga semua orang
sangka ia ada satu kutu buku tulen, tidak tahunya, setiap
malam, selagi orang lain tidur menggeros, ia lagi yakinkan
ilmu. Begitulah, di Lulam ini ia jadi mendapati satu tempat
sembunyi yang aman.
Di kota Lulam itu pun ada tinggal seorang terpelajar she
Yo nama Siau Cay yang hidupnya senang dan nganggur,
hingga dalam usia hampir empat puluh tahun ia merdeka,
ia bisa pesiar setiap waktu ia suka. Ia bersahabat pada Ho
tiehu, begitupun dengan Kho Bou Cun, tidak heran kalau ia
pun lantas jadi sahabatnya Kho Long Ciu, malah berdua
mereka ini jadi bergaul sangat rapat. Arak dan syair adalah
perantaraan di antara mereka berdua. Meski begitu, Yo
Siau Cay tak mengetahui yang Kho siucay diam-diam ada
paham-kan ilmu silat yang tinggi.
Diceritakan pada Gogwee Toanngo, semua kantor
sedang bercuti, maka Kho Long Ciu ikut kandanya pergi ke
gedungnya Ho tiehu untuk memberi selamat, tetapi setelah
itu, ia ngeloyor seorang diri. Itu siang matahari sangat
panas terik, di tengah jalan ia setiap kali-setiap kali
menguap karena tadi malam ia sukar pulas dan otaknya
telah bekerja berat luar biasa. Ia telah dibikin pusing oleh
Ah Hiap punya pelajaran pedang "Kauhun Toatpekkiam"
atau ilmu pedang "Menggaet roh dan merampas arwah."
Sampai itu siang ia masih tidak dapat tangkap
kesempurnaannya ilmu itu. Begitulah, sembari jalan ia terus
berpikir, sampaikan ia tak lihat orang di kanan kiri dan di
depannya juga.
Tiba-tiba ia dengar: "Saudara Long Ciu!"
Atas ini, ia merandek dan berpaling ke sekitarnya, tetapi
ia tidak lihat orang yang ia kenal, yang memanggil ia.
"Kanda Long Ciu mari, naik ke lauteng!" demikian suara
itu memanggil pula.
Ia dongak ke jurusan lauteng dari satu rumah makan
kecil di mana ia lihat Yo Siau Cay yang berdiri menyender
di atas lauteng sedang menggapei ia.
"Oh, aku justru hendak kunjungi kau, sahabatku!" kata
ia, kemudian dengan cepat ia bertindak ke rumah makan itu
terus naik ke lauteng. Ia mesti melalui gang di mana ada
banyak rumah orang, barulah sampai di rumah makan yang
sempit itu. Di atas lauteng cuma ada tiga empat meja dan
tetamu lainnya belum ada, kecuali Yo Siau Cay.
"Saudara Siau Cay!" kata Klio Liong Ciu sambil
tersenyum dan memberi hormat, "ini hari ada hari
peringatan Toanngo, bukannya kau minum arak di
rumahmu, kenapa kau datang kemari sendirian saja?
Nampaknya Siau Cay ada tidak leluasa akan berikan
penyahutan, tetapi ia tersenyum.
"Silahkan duduk, silahkan duduk!" ia mengundang. "Kau
di sini sebatang kara, kau niscaya kesepian, maka marilah
duduk di sini! Mari kita sama-sama minum!"
Kho Long Ciu bisa mengerti kesukaran dari sahabatnya
ini, yang punya isteri sangat bercemburuan, sebab meski
mereka sudah berusia hampir empatpuluh dan tidak peroleh
anak, lelaki atau perempuan, nyonya itu tetap tak mau
ijinkan suaminya menikah pula atau ambil gundik untuk
memperoleh turunan. Sekarang Siau Cay keluar sendirian,
tentu di rumahnya ia sudah bercidrah dengan isterinya yang
galak itu.
"Tambah satu poci arak!” Siau Cay teriaki pemilik
rumah makan.
Dari antara alingan kere ada terdengar suara penyahutan
dari pihak pemilik, lantas kere tersingkap dan satu tangan
yang putih dan halus, dengan jeriji-jeriji yang kukunya dicat
merah, menonjol keluar bersama satu poci arak. Di antara
jari tangan itu pun ada yang memakai cincin emas dengan
batu kuning indah.
Tuan pemilik bertubuh kate dan dampak, umurnya kira-
kira limapuluh tahun. Ia sambutkan poci arak itu untuk
dibawa pada kedua tetamunya.
"Apakah pemilik ini tinggal bersama anggauta-anggauta
keluarganya?" diam-diam Kho Long Ciu berbisik di kuping
kawannya, seperginya tuan rumah itu.
"Ya, suami isteri berdua serta satu anak gadisnya," sahut
Sau Cay sambil tertawa.
Hampir berbareng dengan itu, dari bawah lauteng ada
bertindak naik satu nona dengan pakaiannya baru, ia masuk
terus ke dalam kere dari mana lekas juga ia keluar pula
bersama satu nona yang tubuhnya lebih tinggi, yang
parasnya elok, umurnya baru lima atau enambelas tahun,
rambutnya hitam dan mengkilap, di ujung rambutnya di
dekat kuning ada ditancap kembang wol yang merupakan
seekor harimau, sedang warna pakaiannya ada hijau.
Ketika ia memandang Yo Siau Cay, ia tertawa urung, lantas
ia jalan terus, turun ke bawah, mengikuti kawannya itu.
"Ha!" tertawa Kho Long Ciu. "Pantas begini hari
kandaku sudah berada di sini, kiranya di sini bukan melulu
ada arak hanya juga si cantik manis!"
"Kau toh lihat itu harimau di rambutnya si nona,
bukan?" kata Yo Siau Cay sambil tertawa, dengan tak
gubris godaan orang. "Mari kita ambil itu sebagai kalimat,
untuk bersyair. Siapa tidak bisa atau tak mau, ia akan
didenda arak!"
Lantas ia keluarkan pit, bak, bakhie dan kertas yang ia
senantiasa bekal, akan atur itu di atas meja. Ia tenggak
kering araknya. Setelah itu, dengan cepat sekali ia telah tulis
syair, yang mana terus ia sodorkan pada sahabatnya.
Kho Long Ciu menyambuti dan membaca:
"Di harian Toanngo, setiap rumah menggantung
deringo.
Tapi aku, di ujung rambut menampak kecantikan.
Diantara angin dan rembulan, lenyap suara nyanyian.
Hendak Temani si nona sebagai kawan ingat macan ... "
"Bagus!" memuji sahabat ini, yang terus saja menulis
timpalannya.
Maka keduanya lantas minum dan makan, dengan
sangat gembira, sebab mereka ada sama pintar dan sama
kesukaan. Mereka pun bisa berunding tentang ilmu sastra.
Sampai sore, baru mereka berpisahan.
Sejak itu, Kho Long Ciu dan sahabatnya sering bersantap
dan minum di rumah makan ini, hingga kemudian ia dapat
tahu bahwa namanya si nona puterinya tuan rumah, Lo
Loo Sit, adalah Lo Cian Nio dan masih gadis, bahwa nona
ini terpaksa bantu ayahnya urus rumah makan, karena si
ayah tak sanggup piara pegawai atau jongos. Kemudian, ia
pun jadi kenal si nona dan ayahnya. Nona itu ada menarik
hati, tetapi Long Ciu tidak memikir akan mempunyainya,
kesatu ia tahu Siau Cay sudah jatuh hati, kedua ia sendiri
sedang pusatkan perhatiannya pada pelajarannya, paras
elok belum dapat merubuhkan hatinya.
Pada suatu hari, sebagaimana biasanya, atas
undangannya Siau Cay, Kho Liong Ciu datang ke rumah
makan she Lo itu. Baru saja ia sampai di bawah lauteng, ia
sudah dengar suara berisik di rumah makan itu, seperti
orang berkelahi, maka ia segera lari memburu. Di atas, ia
lihat dua orang sedang terjang dan pukuli Loo Sit sembari
mencaci.
Nyonya Lo, sambil menangis dan mencegah berkata
berulang-ulang: "Jangan, jangan pukuli suamiku, jiewie! ..."
Di lain pihak Cian Nio, dengan ketakutan, dengan tubuh
lemah, berada dalam rangkulannya Yo Siau Cay siapa
sambil banting-banting kaki berteriak-teriak: "Tidak ada
wet, tidak ada wet negeri! ... "
Orang she Yo itu telah lantas lihat sahabatnya datang, ia
berseru: "Kanda Long Ciu, lekas lari ke kantor! Lekas
panggil polisi! ..."
Tapi Long Ciu tidak lari turun, sebaliknya ia hampiri dua
orang itu, tangan siapa ia pegang dan tarik, "Sudah, sudah!"
ia kata berulang-ulang.
Dua orang itu menjadi tidak senang, mereka serang ini
orang yang baru datang, yang disangka hendak merintangi
mereka.
Long Ciu pun jadi gusar, dengan jeriji tangannya ia totok
dua orang itu. Ia telah gunakan tiamhiat hoat yang baru
saja ia pelajarkan dari kitab warisannya Ah Hiap.
Sekejab saja dua orang itu lantas rubuh, rebah dengan
tak bergerak laksana mayat ...
Dari bawah lauteng ada beberapa orang lari naik, karena
mereka pun dengar suara berisik, tetapi kapan mereka lihat
rubuhnya dua orang itu, dengan ketakutan mereka lari
turun pula.
Loo Sit borboran darah pada kepalanya, ia rebah di
dekat tembok. Melihat rubuhnya dua orang itu, ia menjerit
bahna ketakutan. "Celaka! Sebentar tentu akan datang
orang-orang dari piautiam mereka untuk mencari balas!
Tentulah rumah makanku ini akan habis diobrak-abrik! ... "
"Kau jangan khawatir dan takut!" berkata Yo Siau Cay.
"Perkara apa juga, ada aku yang tanggung jawab!"
Kemudian ia kata pada Long Ciu: "Kanda Long Ciu, tolong
kau lindungi ini suami isteri, aku mau bawa si nona
menyingkir dahulu ke rumah tetangganya, supaya ia jangan
kaget ... "
"Baiklah," manggut Long Ciu.
Siau Cay lantas ajak Cian Nio turun dari lauteng, tetapi
baru saja hartawan Yo itu turun beberapa tindak, dari luar
rumah makan ada datang beberapa orang, yang jalan di
muka berumur kira-kira empatpuluh yang tampaknya keren
sekali, tangannya menyekal golok. Ia tidak lihat Yo Siau
Cay, sebaliknya si orang she Yo lihat padanya. "Yo loosu!
Sudah sejak beberapa hari kita tidak bertemu!"
Orang yang dipanggil Yo loosu itu angkat kepalanya,
kapan ia lihat Siau Cay, roman kemurkaannya lantas sirap
dan tampangnya jadi tenang kembali.
"Oh, Siau Cay toaya, kau di sini!" ia kata.
"Ya, loosu," kata Siau Cay. "Ada urusan apa loosu
datang kemari?"
"Aku dengar dua sahabatku ada yang perhinakan ... "
sahut orang she Yo itu.
Siau Cay lantas goyang-goyang tangannya. "Tidak apa-
apa, loosu," ia kata. "Ini ada kejadian di antara orang
sendiri. Aku tidak tahu bahwa kedua tuan itu ada sahabat-
sahabat dari loosu. Tadi aku datang kemari untuk minum
arak, lantas ada datang dua orang itu. Lo ciangkui ada
kenal baik padaku, tidak heran bila ia layankan aku
melebihi lain-lain tamu, dan ini menyebabkan tidak
senangnya kedua sahabat loosu itu, dengan kesudahannya
mereka damprat Lo ciangkui dan hajar padanya. Kebetulan
sekali itu waktu ada datang sahabatku, Kho sianseng dari
tiehu geemui yang melihat dua orang kepung satu orang
jadi gusar, lantas ... " Ia menoleh ke muka tangga, di situ ia
lihat Long Ciu sedang berdiri dengan sikap gagah, maka ia
lantas bertindak naik. "Mari aku ajar kenal.” ia kata.
Orang yang dipanggil Yo loosu itu naik ke atas lauteng.
"Inilah dianya Kho sianseng," kata Yo Siau Cay seraya
tunjuk Long Ciu, "ini Kho sianseng ada sahabat baikku.
Dan ini ada loosu-ku, Hoolam piausu yang tersohor, Yo
Kong Kiu dari Luma ..."
Kho Long Ciu angkat kedua tangannya memberi
hormat, dan Yo Kong Kiu membalasnya. Kemudian piausu
ini serahkan goloknya pada pengikutnya yang pun ia larang
naik ke lauteng.
"Karena kita di antara orang sendiri, ini ada urusan
gampang," ia kata.
"Kau jangan takut," ia kata pada Cian Nio. "Ini loosu
ada sahabatku kekal sejak duapuluh tahun yang lalu...."
Cian Nio diam saja, tetapi ia sudah tidak takut lagi.
Yo Kong Kiu lantas pandang Lo Loo Sit yang mandi
darah, kemudian ia awasi dua orangnya, yang masih pada
rebah, tubuhnya seperti mati tetapi matanya berjelilatan dan
mulutnya bisa memaki kalang kabutan.
“Ciangkui, tolong balaskan sakit hati kita!" mereka kata
pada ketuanya. "Kau hajarlah sampai mampus pada itu
orang yang pakai thungsha!"
Tapi Yo Kong Kiu mengawasi dengan gusar.
"Balaskan sakit hatimu?" ia balik menegur. "Kenapa kau
berdua pergi di luar tahuku dan datang kemari untuk
menghina orang? Justru kebetulan kau ketemu ini suhu,
hingga ia bisa wakilkan aku akan mengajar adat pada kau!"
Lantas piausu ini menghadapi Long Ciu mengasih
hormat pula.
"Maafkan aku, sianseng," ia kata. "Aku tidak sangka
bahwa di sini aku telah ketemu satu ahli dari Butong Pay.
Karena kau pun ada sahabat dari Yo sianseng ini, maka kau
pun adalah sahabatku. Dengan Yo sianseng, perkenalan
kita sudah berjalan duapuluh tahun lebih. Karena kita ada
di antara orang sendiri, aku minta sukalah kau tolong
sadarkan dua orangku ini, nanti aku perintah mereka hatur
maaf padamu."
Ucapannya piausu ini membikin Kho Long Ciu jadi
bingung. Karena gusar ia telah totok itu dua orang. Tapi
sekarang, untuk menyadarkannya, ia belum dapat
mengapalkannya, maka ia mesti pulang buat lihat bukunya.
"Jangan kuatir," ia kata pada Yo Kong Kiu sambil
membalas hormat, "aku pun hanya main-main saja. Mereka
telah serang Lo Loo Sit keterlaluan, aku anggap biarlah
mereka rebah lamaan. Tunggu sampai aku balik, baru aku
bikin mereka bisa bergerak pula sebagaimana biasa ... "
Setelah kata begitu, Kho Long Ciu turun dari lauteng,
dengan cepat ia pulang ke rumahnya akan ambil dan
periksa bukunya yang ia simpan dalam sebuah peti dan
diumpatkan di kolong pembaringannya. Ia mesti memeriksa
dan mengapalkan sekian lama cara-cara untuk
menyadarkan orang yang ditotok pada saat seperti itu, ia
pun mempeta-petakan dengan tangannya. Setelah apal
betul, barulah ia simpan pula kitabnya dan lantas lari
kembali ke rumah makan.
Dua orang piautiam itu masih saja rebah. Yo Kong Kiu
bersama Yo Siau Cay sedang duduk minum arak untuk
menantikan ia. Sesampainya di situ, Long Ciu lantas
gunakan kepandaiannya akan tolok dua bekas lawannya
yang ia terus kasih bangun seraya sambil tertawa ia kata,
"Maaf, maafkan aku."
Dengan muka merah Yo Kong Kiu kasih tanda pada dua
orangnya, atas mana dengan kemalu-maluan mereka itu
terus ngeloyor turun dari lauteng.
Siau Cay tarik sahabatnya buat diundang duduk
bersama-sama, ia pun tuangkan secawan arak.
"Kanda Long Ciu, kau berlaku tak jujur terhadap
sahabatmu!" ia kata, sembari tertawa. “Buat banyak hari
kau telah pedayakan aku, baru sekarang aku ketahui yang
kau bukan hanya sasterawan tetapipun seorang gagah!"
Long Ciu cuma tertawa pada sahabatnya itu.
"Piautiam-ku adanya di Sinyang," turut berkata Yo Kong
Kiu dengan muka masih merah, "kalau aku sekarang berada
di sini, kebetulan saja aku sedang singgah, aku tidak tahu
bahwa sianseng ada ahli silat dari Butong Pay, hingga aku
sudah berlaku kurang hormat dan tidak mengunjungi
sianseng dari siang-siang. Tadi orang-orangku telah main
gila sudah menganiaya tuan rumah di sini, syukur ada
sianseng yang ajar adat pada mereka. Mengenai ini, aku
berterima kasih. Cuma, dalam halnya kau antap mereka
rebah lama-lama, aku lihat sianseng ada kurang
memandang kepadaku. Tapi, ini pun tidak menjadi soal,
sebab seperti katanya saudara Yo, kau ada sahabatnya
saudara Yo dan ia adalah sahabatku dari banyak tahun ... "
Kho Long Ciu angkat tangannya, akan kasih hormat
pada piausu itu.
"Maafkan aku,” ia kata. Ia mengerti akan kekeliruannya
telah gunakan tiamhoat yang untuk menyadarkannya ia
mesti lari pulang dahulu dan lari bulak-balik.
"Sudahlah, sudah!" kata Yo Siau Cay sambil tertawa dan
nyelak sama tengah. "Mari minum!"
Tapi Yo Kong Kiu geleng kepala.
"Aku tidak persalahkan siapa juga, aku hanya sesalkan
yang namaku kurang tersohor," ia kata. "Aku merasa
bahwa bugee-ku ada terlalu lemah. Tapi, dengan
memberanikan hati aku ingin sekali menerima pelajaran.
Maka, Kho sianseng, harap besok pagi kita bisa bertemu di
luar Lammui, di sana aku ingin peroleh pengunjukannya
satu ahli Butong Pay. Nah, sampai ketemu pula!"
Ia lalu berbangkit seraya rangkap kedua tangannya
berkiongchiu.
Yo Siau Cay lekas berbangkit, ia tarik sahabatnya itu.
"Jangan begitu, Yo loosu, jangan ..." ia coba mencegah.
Tapi Yo Kong Kiu kipatkan tangannya, ia terus turun,
tindakan kakinya terdengar berisik di undakan lauteng.
Mukanya Kho Long Ciu jadi pucat, tetapi ia diam saja.
"Tidak apa, tidak apa!" kata Yo Siau Cay. "Ia tantang
kau piebu, besok kau jangan pergi, aku yang nanti pergi
padanya guna mendamaikan kau berdua. Aku percaya
urusan bisa dibikin habis. Pada sepuluh tahun yang lalu,
dalam hidupnya yang melarat, aku yang telah tolong ia, aku
undang ia datang ke rumahku buat jadi cinteng. Satu tahun
lebih ia jatuh sakit dengan tak berdaya, aku juga yang
panggilkan tabib, sehingga sembuh. Belakangan lagi, ketika
ia hendak pergi untuk mencari lain pekerjaan, aku telah
bekalkan ia uang kontan tigapuluh tail perak. Dari itu
karena adanya persahabatan ini, aku percaya ia akan suka
pandang mata padaku.''
Tapi Kho Long Ciu tersenyum tawar.
"Aku tidak takut padanya!" ia kata. "Kalau besok jadi
adu kepandaian, belum tentu siapa yang akan rubuh!"
"Jangan, jangan!" Siau Cay kata pula. "Kita ada bangsa
sasterawan, kita jangan berpemandangan sebagai orang-
orang kaum Sungai Telaga. Laginya, aku tahu betul Yo
Kong Kiu bukannya seorang lemah. Ia telah kenal jago-jago
dari ini jaman, seperti Kang Lam Hoo dan Kie Kong Kiat."
Kho Long Ciu berkuatir juga, karena ia tahu
kepandaiannya belum sempurna, dari itu ia jadi jeri
sendirinya.
Ketika itu Loo Sit sudah suruh gadisnya isikan cawan
kosong dari itu kedua sahabat. Cian Nio melayani dengan
sudah salin pakaian yang bersih, cita kembang yang bagus.
Siau Cay sangat riang akan hadapi arak dan si elok
berbareng, hingga kumat pula kesukaannya bersyair,
sebaliknya Long Ciu, yang sedang kusut pikiran, tidak bisa
turut sahabatnya bergembira, ia pulang tak lama kemudian,
ia terus masuk ke kamarnya sendiri. Ia menyesal atas apa
yang sudah terjadi terutama sudah lancang perlihatkan
kepandaiannya. Ia sangsi akan pertandingan besok di mana
ia akan tandingi satu piausu kenamaan. Dari itu, ia harap
benar munculnya Siau Cay guna pisahkan mereka.
"Sekarang orang telah ketahui aku pandai tiamhiat hoat,
bagaimana selanjutnya?" pikir ia lebih jauh. "Pelajaranku
masih jauh dari sempurna, bagaimana andaikata Kang Lam
Hoo dan Kie Kong Kiat datang untuk minta main-main
padaku?"
Semalaman Long Ciu berpikir, ia terbenam dalam
kedukaan, maka akhirnya ia pikir mesti pindah akan cari
lain tempat sembunyi sambil terus berlatih sehingga sudah
yakin cukup kepandaiannya. Apabila ia sudah ambil
keputusan, lantas ia duduk menulis surat, satu buat Yo
Kong Kiu dan satu pula buat Yo Siau Cay. Pada piausu she
Yo itu ia janjikan piebu pada lima tahun kemudian, dan
pada Siau Cay ia ambil selamat berpisah. Pada sahabatnya
ini ia tulis surat dalam rupa syair, pertama ia unjuk
niatannya pesiar ke Shoatang Timur, dan kedua ia anjurkan
si sahabat lekas ambil isteri pula. Ia harap, si nona Lo akan
lekas jadi pasangannya.
Besoknya pagi, sesudah perintah opas sampaikan surat-
suratnya itu, Kho Long Ciu berangkat meninggalkan kantor
tiehu, sedang pada sep-nya itu ia pun tinggalkan surat lain.
Ia telah berangkat ke Kimleng. Ia cari pondokan di dalam
kota, dengan pakai nama In Gan Sanjin, ia tuntut
penghidupan sebagai tukang tulis huruf dan gambar. Lima
tahun telah berselang. Selama itu ia diam-diam teruskan
pelajarannya yang sekarang ia anggap sudah belajar cukup,
maka ia tinggalkan Kimleng dan kembali ke Lulam.
Pada saat ini, tiehu tetap masih Ho Siong, tetapi Bou
Cun sudah naik pangkat jadi tongtie. Di kantor tiehu telah
bekerja satu juru tulis baru, dan ia ini bukan lain daripada
sahabat sekampungnya, ialah Hwie Pek Sin.
Sejak matinya si gagu, Kheng Liok Nio dan Hwie Pek
Sin hidup sebagai suami isteri. Tapi, dengan mendapati
kepandaiannya si gagu, Kheng Liok Nio jadi lebih berani,
hingga kemudian ia malang melintang di Kimsee kang.
Kapan Hwie Pek Sin ketahui kekasihnya itu tetap jadi
penjahat, ia kuatir dirinya kerembet-rembet, maka
kemudian ia berangkat dari Suikang, ia pergi pada Kho Bou
Cun dengan pertolongan Bou Cun ia dapat bekerja di
kantor tiehu. Ia pandai bawa diri, belum dua tahun ia sudah
jadi orang kepercayaannya Ho tiehu.
"Kau harus hati-hati," kata Pek Sin pada sahabatnya,
yang ia terus ajak ke tempat sepi. "Pekgan Holie cari kau! Ia
bilang buku yang dahulu kau ambil baru belakangan ia
dapat tahu bahwa dua buku itu ada sangat berharga! Ia
sedang cari kau untuk minta pulang buku itu!"
Long Ciu terima peringatan itu dengan tersenyum sindir.
Kemudian Long Ciu pergi kunjungi Yo Siau Cay. Nyata
sahabat ini telah turut anjurannya dan telah ambil Lo Cian
Nio sebagai isteri muda dan dari siapa ia telah peroleh satu
anak lelaki dan satu anak perempuan, yang lelaki sudah
berumur tiga tahun, namanya Pa, sedang yang perempuan
bernama Lee Eng.
Bukan main girangnya Yo Siau Cay dapat bertemu pula
dengan sahabatnya itu, ia panggil keluar pada Cian Nio
guna ketemui tuan penolong itu.
Di matanya Kho Long Ciu, Lo Cian Nio jauh terlebih
elok daripada masanya gadis. Inilah sebab nyonya itu telah
berpakaian indah dan hidup mewah sejak lama.
Long Ciu juga ketarik melihat romannya Yo Pa, yang
cakap dan gagah.
Ketika Cian Nio undurkan diri, dengan separuh berbisik
Long Ciu kata pada sahabatnya: "Puteramu ini ada bagus
sifatnya, ia bukan lagi sebagai kau yang bertubuh lemah.
Kenapa kau namakan ia Pa dan bukannya Hou? Bukankah
huruf Hou ada berhikayat? Apakah kanda lupa kejadian
pada lima tahun yang lalu, di harian Toanngo ketika kau
lihat bakal isterimu dengan itu macan-macanan di ujung
rambutnya? Apa kau telah lupa surat yang aku tinggalkan
untukmu?"
Long Ciu bicara sambil tertawa dan Siau Cay sambut ia
sambil tertawa juga.
"Huruf Hou sudah digunakan," ia kasih tahu.
"Jadinya kau telah peroleh lain anak?" kata Long Ciu.
"Bagaimma itu telah terjadi?"
Yo Siau Cay percaya habis sahabatnya ini, ia suka
memberi keterangan. Ia telah berikan keterangannya sambil
berbisik juga, sebagai berikut:
Menurut anjurannya Kho Long Ciu, Yo Siau Cay sudah
lantas lamar Lo Cian Nio sebagai isteri muda. Lo Loo Sit
terima baik lamaran itu. Oleh karena Yo Siau Cay tetap
takut isterinya yang cemburuan dan galak, buat sementara
ia takut ajak isteri muda itu pulang ke rumahnya.
Kemudian dari Cian Nio ia peroleh satu anak lelaki yang
diberikan nama Hou, lengkapnya Yo Siau Hou.
Empe Lo ada satu pemilik rumah makan, meski
perusahaannya itu kecil, ia toh ada punya banyak kenalan,
maka ia jadi malu yang anaknya menikah dengan diam-
diam dan tahu-tahu telah dapat anak, malah ini anak tidak
diaku sepenuhnya oleh Yo Siau Cay, hingga kejadian Yo
Siau Hou dititipkan pada enso jauh dari Cian Nio. Dengan
rahasia Yo Siau Cay bantu mengongkosi anaknya itu.
Ketika Kho Long Ciu datang, itu anak sudah lima tahun,
karena dititipkan, ia tidak dipanggil Yo Siau Hou hanya Lo
Siau Hou. Adalah di lain tahunnya, baru Yo Siau Cay
sambut Cian Nio ke rumahnya di mana isteri muda ini
melahirkan pula anak yang kedua tetapi dianggap sebagai
anak pertama. Siau Cay berikan nama Pa pada anak yang
kedua ini.
Di akhir keterangannya, Yo Siau Cay pesan Kho Long
Ciu, katanya:
"Bilamana aku menutup mata, aku harap pertolonganmu
agar kedua anak itu bisa saling mengenali satu pada lain.
Mereka adalah saudara-saudara sekandung!"
Kho Long Ciu berikan janjinya, ia lalu kasih selamat
pada sahabatnya ini.
"Apakah kau tahu maksudku datang kemari?" kemudian
Long Ciu tanya sahabatnya. "Inilah tidak lain daripada
untuk temui Yo Kong Kiu, guna menetapi janjiku pada
lima tahun yang lampau!"
Yo Siau Cay tertawa apabila ia dengar keterangan ini.
"Yo Kong Kiu sudah tidak bisa piebu lagi denganmu!" ia
kata. "Pada tiga tahun yang lalu, dalam pertempuran Kong
Kiu terluka parah, kakinya yang kiri telah menjadi cacat.
Baru pada tahun yang lalu di sini ia telah lukai satu orang
hingga ia kena ditangkap oleh pembesar negeri. Syukur
dengan pertolonganku tiehu suka membebaskannya."
Yo Siau Cay tutup penuturannya dengan adakan
perjamuan, dengan tidak malu-malu ia suruh Cian Nio
keluar akan melayani mereka.
Selagi dua sahabat ini makan dan minum dengan
gembira, tiba-tiba muncul satu tetamu yang tidak diundang,
ialah Hwie Pek Sin, siapa pun telah menjadi sahabatnya Yo
Siau Cay, hingga hartawan Yo ini tidak suruh kedua
isterinya menyingkir dari sahabat ini.
"Bagus, Pek Sin, bagus kau datang," kata tuan rumah
dengan kegirangan. "Kau dan Long Ciu memang ada
sahabat karib!"
Pek Sin cuma tertawa, dan pada Cian Nio ia terus
menanya:
"Apa kau sudah mencicipi kue-kue yang tadi pagi aku
perintah orang antar padamu? Kue itu bukan dibeli di
luaran, itu adalah membuatan Ho tiehu sendiri."
"Ho tiehu bisa mempunyai kelebihan waktu untuk
membuat kue sendiri, sungguh luar biasa!" Yo Siau Cay
mendahulukan isterinya. "Ya benar-benar istimewa!"
Dan tuan rumah ini tertawa besar.
Long Ciu lirik Cian Nio dan pandang Pek Sin, lantas ia
turut tertawa. Tapi ia tidak kata apa-apa.
Mereka bersantap sampai puas, setelah itu Long Ciu ikut
Pek Sin pulang ke kantor. Karena mereka tidur dalam satu
kamar maka malamnya, mereka dapat ketika leluasa untuk
ngobrol. Dari sini Long Ciu tahu yang persahabatan tiehu
dengan Siau Cay ada sangat rapat, sampai Siau Cay sering
ajak Cian Nio berkunjung kepada tiehu. Sementara itu,
nyonya Yo yang cemburuan telah tetap dengan
cemburuannya hingga Cian Nio dan anak-anaknya sering
dapat gangguan. Dalam hal ini Siau Cay tidak bisa berbuat
banyak guna isteri muda dan anak-anaknya itu.
Setelah ketahui segala apa, pada suatu hari Kho Long
Ciu kunjungi Yo Siau Cay. Selagi berada berduaan, ia kata
dengan perlahan pada sahabatnya itu: "Kanda,
persahabatan kita ada sangat kekal, maka itu aku harap kau
sudi dengar pembicaraan dari hati ke hati. Pertama-tama
aku minta kau jangan lanjutkan pergaulanmu yang terlalu
rapat dengan tiehu tayjin. Kedua aku harap kau jangan
terlalu bergaul pada Hwie Pek Sin."
Yo Siau Cay terima nasehat itu sambil manggut-
manggut.
"Tapi persahabatanku dengan mereka itu melulu ada
pergaulan umum. Enso-mu Cian sudah punyakan beberapa
anak, ada siapa yang hendak rampas ia?"
"Tidak demikian seperti yang kau kirakan, sahabatku,"
Long Ciu kata. "Kau harus ketahui sendiri, hati manusia
susah diduga."
"Baiklah aku akan turut perkataanmu!" kata Siau Cay.
Mereka lalu bersantap, kemudian Long Ciu pamitan,
untuk selanjutnya pergi pula akan pesiar dan merantau ke
selatan ke utara. Di mana saja ia sampai, ia tetap tulis "In
Gan Sanjin" sebagai tanda dari lukisan gambarnya dan
tulisan huruf-hurufnya. Dengan ini usaha ia peroleh uang
untuk menutup belanja, perjalanannya itu. Ia nginap di
mana saja ia sampai, atau kadang-kadang mondok di kuil,
akan bantui si padri menyalin kitab, kerjaan mana ia tukar
dengan penginapan dan makannya. Setiap waktu yang
senggang ia gunakan melatih pelajarannya. Selama
merantau, ia pun pernah beberapa kali tolong orang, akan
belakan keadilan. Cuma terhadap Kang Lam Hoo, Kie
Kong Kiat, Lie Hong Kiat dan beberapa imam dari Butong
San, ia tidak berani minta piebu main-main, ia masih jeri
terhadap mereka.
Selama dalam pengembaraan, tidak sedetik pun Kho
Long Ciu lupakan Yo Siau Cay, ia berkawatir terhadap
sahabatnya itu, maka baru berselang tiga tahun ia sudah
lantas kembali ke Lulam. Ketika ia sampai di kota ini, benar
saja hatinya mencelos. Karena satu perubahan besar telah
terjadi!
Pada keluarga Yo ia tampak apa yang ia sekian lama
buat kuatir. Rumah yang besar dan indah telah jadi tidak
keruan, pintu depan telah jadi korban hujan dan matahari,
di situ ada ditempel kertas warna kuning, tanda dari
kematian. Maka itu Long Ciu lantas cari engko-nya, akan
minta keterangan.
Secara rahasia Bou Cun kata pada adiknya itu. "Selama
tujuh atau delapan tahun ini, satu perubahan besar sudah
terjadi! Yo Siau Cay dan isterinya muda yang ia cinta, telah
meninggal dunia! Tiga anaknya, satu laki-laki dan dua
perempuan, telah lenyap tak keruan!"
Kho Long Ciu jadi bertambah kaget.
Kho Bou Cun lanjutkan keterangannya: "Kebusukan hati
manusia benar-benar harus ditakuti! Paras elok betul-betul
ada bibit bencana! Ketika pada tujuh tahun yang lampau
ketika Siau Cay tergila-gila pada Cian Nio, berbareng Ho
tiehu juga ada taruh hati pada nona itu, yang satu kali ia
pernah lihat. Sejak itu Ho tiehu sudah memikir akan
memiliki si nona, sayang ia tidak berani segera wujudkan
itu, kesatu sebagai tiehu ia tidak berani bertindak secara
sembarangan, kedua ia belum punyakan orang kepercayaan
yang bisa jadi orang perantaraannya, kelambatannya ini
menyebabkan Yo Siau Cay bisa dului ia. Karena ini, tiehu
sampai seperti jatuh rindu. Apa mau belakangan tiehu
mendapati Hwie Pek Sin, siapa bisa cepat ambil hatinya,
maka tenaganya Pek Sin lantas, diminta Ia ini mau bekerja
sungguh-sungguh guna tiehu itu. Tian Nio sudah
melahirkan tiga anak tetapi kecantikannya tidak menjadi
hilang. Walau ada gadisnya satu rakyat jelata, tetapi
hatinya ada keras, ia menteri, akan kesucian dirinya. Pek
Sin memancing dengan bujukan dan kekerasan, semua itu
tidak memberikan hasil. Belakangan Yo Siau Cay ketahui
maksudnya orang busuk ini, ia lantas putuskan
persahabatan dengan Ho tiehu dan Hwie Pek Sin. Tapi ini
pun ada tanda dari naibnya yang celaka, sebab tiehu dan
kaki tangannya itu jadi benci padanya. Baru pada satu
tahun yang lalu dengan alasan merampas tanah, Yo Siau
Cay ditangkap dan dijebloskan dalam penjara. Ia ada
seorang hartawan dan sasterawan, ia pun punya banyak
kenalan, sampai di kantor butay, maka ada orang tolong
padanya, baru mendekam 1 bulan ia sudah dimerdekakan
pula. Hanya karena ia mendongkol dan bersakit hati, ia
terus jatuh sakit. Hwie Pek Sin masih tebalkan muka, ia
tetap datang menyambangi sahabatnya, tapi ini juetru ada
berarti kecelakaan. Entah ia salah makan obat, selanjutnya
Yo Siau Cay tidak bisa bangun pula dari pembaringannya!"
Kho Long Ciu ada begitu sengit, sampai ia banting-
banting kakinya.
Tapi Bou Cun masih melanjutkan penuturannya. "Pada
malam hari matinya Yo Siau Cay. Lo Cian Nio juga telah
mati karena racuni diri. Ia berkorban untuk suaminya.
Suami isteri itu telah tinggalkan anak mereka, Yo Pa, dan
dua anak perempuan, Lee Eng dan Lee Hong. Dan Lee
Hong ini baru berumur 8 bulan. Sejak itu, tiga anak itu pun
telah merasai hebatnya siksaan dari nyonya Yo. Kemudian,
pada musim keempat dari tahun yang baru lalu keluarga Yo
ini telah kedatangan rampok jumlahnya lima atau enam
penjahat, yang masuk dengan jalan lompati tembok.
Anehnya uang dan barang permata tak ada yang diganggu,
yang lenyap justru adalah itu tiga anak. Berbareng itu
malam, gedung tiehu juga kedatangan penjahat, yang
terbitkan kacau, tetapi karena penjagannya kuat, keonaran
tidak sampai terjadi."
Setelah dengar itu semua, dan gusar Kho Long Ciu
menjadi tenang. Sebagai orang sadar, ia lantas bisa
menduga. Ia percaya, semua itu ada perbuatannya Yo Kong
Kiu. Maka diam-diam ia puji perbuatannya piausu pincang
itu.
Akhirnya Kho Bou Cun kata: "Sejak itu, tidak pernah
lagi ada datang orang-orang jahat dan sehingga kini tentang
tiga bocah itu pun terus tidak terdengar pula kabar
ceritanya! Tentang ini aku harap kau tidak omong pada lain
orang, tidak peduli siapa. Dan kau sendiri pun baik lekas
berlalu dari sini. Sekarang Hwie Pek Sin ada pegang
kekuasaan besar di dalam kantor tiehu, ia ada jadi guru,
tetapi pengaruhnya ada melebihi pengaruh tiehu sendiri! ...”
"Tidak apa," Long Ciu kata. "Pek Sin dan aku adalah
teman sekolah dan sahabat karib. Benar ia tahu yang aku
dan Yo Siau Cay ada bersahabat tetapi terhadap aku, ia
tentu tidak akan ambil tindakan apa-apa. Sekarang aku
hendak pergi mengunjungi beberapa sahabatku, besok aku
akan angkat kaki dari sini!"
Sehabis bicaranya itu ia lantas berpisahan. Ketika Kho
Long Ciu sudah pergi jauh dan berada sendirian, air
matanya lantas turun dengan deras. Ia bersedih untuk Yo
Siau Cay, hartawan dan sasterawan yang nasibnya sangat
buruk.
Kemudian Long Ciu pergi ke rumah makannya empe
Lo, di sana ia mendapati Loo Sit dan isterinya masih tetap
dengan perusahaannya, yang mereka urus berdua saja. Ia
tanya mereka tentang Siau Cay dan Cian Nio, mereka ini
cuma bisa menangis. Mereka percaya bahwa baba mantu
mereka binasa secara gelap, bahwa anak mereka mestinya
orang paksa bunuh diri. Tentang tiga cucunya, mereka
percaya cucu itu kena diculik rampok.
Adalah belakangan dengan perlahan-lahan empe Lo dan
isterinya bisa tambahkan keterangan berikut:
"Sebelumnya si Cian ikut Siau Cay, tieho tayjin telah
beberapa kali mengirim orang kemari buat beli anakku itu
untuk dijadikan budak di dalam gedungnya yang kemudian
akan diambil sebagai gundiknya. Kita tolak itu usul, sebab
juga si Cian tidak sudi menjadi budak. Kita pun pikir,
adalah jauh terlebih baik ia jadi isteri muda Siau Cay dari
pada dijual dan kemudian jadi gundiknya pembesar negeri
...”
Kedua orang tua itu masih hendak menutur terus tetapi
kesedihannya merintanginya, mereka lantas menangis
sesenggukan.
"Bagaimana dengan Siau Hou?" tanya Long Ciu
kemudian.
"Ia ikut kita, ia sekarang ada di depan sedang memain di
rumah tetangga."
Kho Long Ciu lantas turun dari lauteng buat pergi cari
bocah itu yang kedapatan di warung peti selang beberapa
rumah di arah selatan. Di situ ada berkumpul sekawanan
bocah, ada yang sedang memain secara gila-gilaan, ada juga
yang berkelahi, hingga pakaian mereka kotor dan pecah.
"Yang mana satu anak she Lo?" tanya Long Ciu sambil
berdiri mengawasi sekalian anak-anak itu.
"Aku," sahut satu bocah umur tujuh atau delapan tahun.
"Ada apa?"
Long Ciu pandang bocah itu yang mirip dengan Siau
Cay, juga mirip dengan Yo Pa.
"Mari, aku hendak bicara denganmu," ia memanggil
dengan sabar.
Lo Siau Hou geleng kepala.
"Tidak, aku lagi memain," ia menolak.
Long Ciu rogoh sakunya dan keluarkan sepotong perak.
"Mari, aku nanti berikan ini uang,” ia membujuk.
Melihat uang, Lo Siau Hou lari menghampirkan.
Atas itu, anak-anak lainnya pun datang mengerumuni In
Gan Sanjin.
"Mundur! Aku cuma mau bicara pada ia ini!" Long Ciu
gebah mereka itu. Dan terus ia ajak Siau Hou pergi ke
rumah makan.
"Apa kau kenal Yo Siau Cay Yo toaya?" ia tanya
sesampainya mereka di lauteng.
“Aku kenal!" sahut Siau Hou. "Yo toaya dan isterinya
mati berbareng, sebagaimana peti mereka digotong
bersama-sama. Kita memang bersanak. Nyonya Yo itu
adalah bibiku ...”
Bukan main sakit hatinya Long Ciu akan dengar itu,
tetapi ia keraskan hati seberapa bisa. Sebaliknya, Loo Sit
dan isterinya, telah menangis dengan tutupi muka mereka.
Mereka ini tetap masih belum berani aku bocah ini adalah
cucu mereka, tetesan dari anak dan mantu mereka ...
Long Ciu berdiam sekian lama, dalam kedukaan rupanya
ia sedang berpikir. Kemudian ia minta kertas dan pit, lantas
ia menulis seruntun syair sebagai berikut:
“Thian tee beng beng, bang bin biong
Ngo kee beng moay, thay piau leng
Hu cou put cek, bu giang yoh
Hukoh tianggie, lay tong cong
Ngo kee kee sie, cut su tie
Wie ngoheng moay, put siang tie
Ngo beng wat Hou, ngo tee Pa Siang yu Eng Hong, sie lie
die
It kee leng san, bo yu sit
Wie yu tiang ko, sie heng pwee
Jie sip lian cie hou, jiak siang kian
Ciat po in beng, mo cay tie,''
Artinya:
Dunia guram suram, menurunkan bencana.
Hingga kita bersaudara mesti tercerai berai,
Ayah terbinasa, ibu racun dirinya,
Sampai kita hidup mengandal sanak beraya,
Kita berempat, dunia ketahui semua,
Hanya kita sendiri, tak saling mengenalnya.
Hou adalah aku, Pa adikku punya nama,
Tapi masih ada Eng dan Hong, perempuan dua.
Serumah tangga terpencar, siapa yang ketahui?
Maka aku bernyanyi, penasaran, bersedih ...
Dua puluh tahun kemudian, kalau kita bertemuan,
Kita akan balas budi dan dendam, tak ayal-ayalan!
Syair itu ia tutup rapi, yang lalu diserahkan pada Loo Sit
buat disimpan, kemudian Kho Long Ciu pandang Siau Hou
dan kata pada bocah ini: "Di dalam sampul ini ada
seruntunan syair, sepuluh tahun kemudian, kau harus buka
dan baca syairnya, itu waktu kau niscaya akan mengerti
semua. Kau boleh pergi ke mana saja akan nyanyikan itu,
nanti pasti kau akan dapat cari dan ketemui adik-adik lelaki
dan perempuanmu!"
"Aku mana punya adik lelaki dan perempuan?" katanya
Siau Hou. "Aku ada sebatang kara. Ayahku ada seorang
petukangan ...”
Kho Long Ciu tidak mau ladeni bocah itu bicara, hanya
ia rogoh saku akan keluarkan uang tigapuluh tail perak
yang ia serahkan pada Loo Sit, yang sedari tadi bengong
saja.
"Kau simpan ini uang untuk dipakai mengongkosi Siau
Hou bersekolah," ia pesan. "Aku harap kau suka tolong tilik
supaya ia jangan lagi memain sama itu kawanan anak-anak
tidak keruan."
Lo Loo Sit sambuti uang itu sambil mengucurkan air
mata, ia bungkus uang itu jadi satu dengan itu surat wasiat.
Tapi Siau Hou sambil goyang kepala kata: "Aku tidak
mau bersekolah. Aku mau merantau, ke selatan dan ke
utara! Aku hendak jadi si imam tua, untuk bisa pergi ke
mana suka akan meminta derma, untuk tinggal di atas
gunung! Aku ingin jadi enghiong dari dunia Rimba Hijau,
agar tidak ada orang yang main gila terhadap aku!"
"Jikalau di belakang hari kau hendak merantau, itulah
gampang," Kho Long Ciu bilang. "Sepuluh tahun
kemudian, sesudah besar, kau boleh cari aku ...”
"Di mana? Jauh atau tidak?" tanya si bocah. "Kalau
tempatnya dekat, aku tidak mau!"
"Jauh sekali!" jawab Long Ciu. "Itu ada tempat paling
jauh, ialah Sinkiang!"
Siau Hou lantas tertawa, ia manggut.
"Nah, terima ini buat kau," kata Kho Long Ciu akhirnya.
Ia serahkan sepotong perak pada bocah itu. Kemudian,
sesudah tinggalkan pesanan pula pada Loo Sit dan isteri, ia
turun dari lauteng dan berlalu.
Siau Hou telah mendahului lari pada kawan-kawannya
buat memain, dengan berjudi juga.
Mengawasi bocah itu, air matanya Kho Long Ciu
menetes turun.
Buat sementara, Kho Long Ciu berpikiran buat pergi cari
Hwie akan bunuh padanya, tetapi niatan ini ia batalkan.
Pek Sin tetap ada teman sekolahnya dan sahabatnya, dan
kawan ini melulu ada jadi gundalnya orang. Ia niat bunuh
Ho Siong, tetapi ini pun ia tak jadi lakukan. Akhirnya
dalam kemasgulan ia pulang ke kantor, ia tidak ke temui
lagi pada Hwie Pek Sin, ia ambil buntalannya dan terus
pergi.
Kembali Kho Long Ciu hidup dalam pengembaraan,
sekali ini untuk cari si piausu gagah Yo Kong Kiu, Yo Pa,
Yo Lee Eng dan Yo Lee Hong tiga saudara. Ia ingin kasih
tahu tiga saudara itu, bahwa mereka masih punyai saudara
nama Hou, buat kasih tahu hal syairnya itu, agar di
kemudian hari, empat saudara itu saling kenal mengenal.
Apa mau, meskipun ia sudah merantau jauh dan lama, ia
tidak berhasil mencari Yo Pa dan dua adiknya perempuan
itu, ia tidak tahu bahwa mereka tinggal di dekat kota raja,
dengan Yo Kong Kiu hidup sebagai penjual bunga dengan
kaki bercacat, ...
Sampai lamanya sepuluh tahun Kho Long Ciu masih
terumbang-ambing hidupnya, ia tidak mau bekerja tetap, ia
tetap menjual tulisan dan gambar lukisan, baru kemudian ia
ingat akan Sinkiang, di mana ada banyak kejadian penting.
Ketika ia pergi ke itu wilayah, di sana ia bekerja di bawah
perintahnya Giok tayjin, yang menjadi wakil pemerintah
yang paling agung. Ia pakai nama Kho In Gan.
Sinkiang ada salah satu propinsi paling besar dari
Tiongkok, luas daerahnya ada seperti Titlee, Shoatang,
Hoolam, Shoasay, Siamsay dan Kangsoaw digabung
menjadi satu, dan penduduknya ada campuran: Han,
Boans, Islam, Mongol, Solun, Kozak dan Turk, tetapi
kekuasaan pemerintahan ada di tangan pemerintah Boan
yang tempatkan wakil-wakil dengan pangkat ciangkun dan
sunbu, begitupun sejumlah tangsi besar setempat-tempat
dengan masing-masing kepalanya (taysin) sendiri, yang
kedudukannya mirip dengan congciu atau congpeng, tetapi
sebab pangkat ini langsung diberikan oleh raja, itu adalah
pangkat yang terhormat dan agung. Dan Giok tayjin adalah
pembesar dengan pangkat itu, lengtwie taysin, dengan
tempat kedudukan di Cieboatkoan, pusat propinsi: di utara
mengandal sungai Tarim dan Khongciakhay, dan di selatan
adalah padang rumput yang luasnya beberapa ratus lie,
tempat gembala dari bangsa Mongol, Kozak dan lain-lain.
Di sebelah timur ada jalan besar untuk ke Tatyangkwan
terus ke Kamsiok. Dan di barat adalah gurun pasir Gobi
dengan pasir hitamnya yang luas ribuan lie, di mana tak ada
sebatang rumput juga. Tapi di dekat-dekat Boatyang,
pemandangan alam ada indah, melebihi kepermaiannya
Kanglam: Ada airnya, ada bukitnya, ada kebun anggurnya
yang seperti tertabur di tempat luasnya beberapa ratus bau,
ada hutan hengtoh yang sembarang orang bisa petik
buahnya. Dan di lamping-lamping gunung ada rombongan-
rombongan dari kuda Kozak, yang kalau dipandang dari
atas gunung mirip seperti segerombolan semut yang sukar
untuk dihitung jumlahnya. Di sini, sekalipun orang paling
miskin mesti mempunyai satu atau dua ekor. Kuda adalah
hasil utama, dagingnya boleh dimakan, susunya boleh
diminum, kulitnya bisa dibuat barang perabotan rupa-rupa.
Maka setelah berada di Sinkiang, Kho Long Ciu lantas
memikir untuk tinggal lama. Kebetulan bagi ia, ia disuka
oleh Giok tayjin. Mula-mula ia dijadikan juru tulis di dalam
tangsi, kemudian ia dipindahkan ke gedungnya diangkat
jadi guru. Muridnya, ialah Giok Kiau Liong yang ketika itu
baru berusia tujuh atau delapan tahun, orangnya cantik dan
otaknya terang. Karena jadi guru sekolah, pergaulannya
dengan Giok tayjin jadi semakin rapat, sampai belakangan
Giok tayjin percayai ia untuk diajak damaikan urusan
tentara. Ia telah perlihatkan kepandaiannya, ia telah bantu
Giok tayjin dirikan banyak jasa. Tapi sementara itu, bugee-
nya masih ia simpan saja. Di sebelah kewajibannya, ia telah
perhatikan muridnya, siapa ternyata punya kaki
sewajarnya, pinggangnya langsing, gerak-gerakan gesit, dan
gemar menunggang kuda.
Asal ia lolos dari mata ayah dan ibunya. Giok Kiau
Liong suka lari keluar dari dalam gedung, kalau ia lihat
kuda, tak peduli siapa punya, ia terus tunggangi dan kasih
kabur ke luar kota, sampai ia mandi keringat. Mula-
mulanya ia sering terbanting jatuh, tapi segera juga ia
menjadi pandai, sampaipun kuda yang binal ia dapat
kendalikan. Hingga dalam ilmu menunggang kuda, semua
orang di kantor atau gedungnya, puji ia. Oleh karena ini,
akhirnya pada suatu hari, dia di dalam jam belajar, selagi
senggang dengan diam-diam Kho Long Ciu kata pada
muridnya itu:
"Kau ada berotak terang, juga gemar gerak badan, maka
itu, meskipun kau ada seorang perempuan, apabila di
kemudian hari di sebelahnya ilmu surat dan ilmu melukis
kau pun mengerti ilmu perang dan silat, pasti kau bakal
angkat kehormatannya keluargamu. Di jaman dahulu ada
perempuan pintar Pan Ciau, ada panglima perempuan Cin
Liang Giok, tetapi perempuan gagah, ialah liehiap, belum
ada. Kita kenal Ang Sian dan Liap In Nio tetapi mereka
tercatat dalam cerita gaib. Seorang perempuan, apabila ia
mendapati guru yang pandai, ia bisa jadi satu liehiap sejati
melulu karena ilmu silat sejati. Maka itu sekarang semua
kepandaianku yang aku yakinkan sepuluh tahun, aku niat
wariskan padamu, agar kau mengerti ilmu perang dan ilmu
silat pedang dengan berbareng, agar dalam dirimu telah
tercampur semua kepandaian dari Pan Ciau, Cin Liang
Giok dan Ang Sian. Aku ingin membuat kau menjadi satu
liehiap, apa kau setuju? Hanya aku hendak terangkan, ilmu
surat, ilmu perang, aku bisa ajarkan kau berterang, tetapi
ilmu silat itu akan aku berikan secara sembunyi, di luar
tahunya siapa juga, umpama kata ayah dan ibumu
mendapat tahu, sudah pasti aku akan tidak bisa tinggal
lebih lama pula di sini!"
Giok Kiau Liong masih kecil, ia tidak bisa berpikir
panjang, karena ia suka akan kepandaian, ia lantas saja
terima janji itu, maka sejak itu, kecuali surat ia pun
mendapati pelajaran ilmu silat. Ia yakin ini begitu lekas ia
senggang dan budaknya, yang biasa dampingi ia, bisa
disuruh keluar dari kamar tulis, dengan gunakan satu dan
lain alasan. Atau itu pelajaran diberikan di waktu malam,
selagi semua orang tidur dan Kiau Liong sendirian datang
pada gurunya di Seehoa thia, paseban sebelah barat.
Sebagai pedang, untuk permulaan dipakai sebatang bambu.
Belum sampai dua tahun, Giok Kiau Liong pun sudah
bisa loncat ke atas genteng, di mana ia bisa berlarian pergi
datang dengan leluasa.
Di tahun ketiga, Kho Long Ciu telah minta perkenan
akan pergi pesiar, ketika ia hendak berangkat, peti kecilnya
ia umpatkan di kolong pembaringan. Di dalam peti itu ada
tersimpan dua jilid bukunya yang berharga, ialah dua
bukunya Ah Hiap, si gagu yang liehay.
Nyata Kho Long Ciu membuat perjalanan ke Hoolam
untuk cari Lo Siau Hou yang ia hendak ajak ke Sinkiang.
Sekarang Siau Hou sudah berumur duapuluh tahun.
Pertama ia sampai, ia cari engko-nya, Bou Cun, tetapi
waktu ia kunjungi Lo Loo Sit dan isteri, nyata suami isteri
pemilik rumah makan itu telah pada menutup mata dan
tentang Lo Siau Hou, tidak ada yang ketahui, hanya ada
yang bilang bahwa kira-kira sepuluh tahun yang lalu bocah
itu sudah dibawa oleh satu pengemis. Ia jadi sangat
menyesal, karena selama sepuluh tahun ia sudah alpa tidak
tengok-tengok anak itu.
Pada itu waktu, Kho Bou Cun, tetap masih memangku
pangkat, tetapi ia sudah berusia tinggi, ia sudah punya anak
dan cucu yang tinggal menetap, hanya Ho tiehu sudah
dipindah ke lain tempat. Dan Hwie Pek Sin tetap ikuti tiehu
itu.
Dalam kemenyesalan, Kho Long Ciu lantas
mengembara, akan terus cari Lo Siau Hou, juga Yo Pa, Yo
Lee Eng dan Yo Lee Hong, tetapi dalam tempo setengah
tahun sia-sia ia tidak peroleh hasil. Akhirnya ia kembali ke
Sinkiang, dua jilid bukunya yang ia simpan masih tetap
berada di tempatnya. Malah buat kegirangannya, ia lihat
kepandaiannya Giow Kiau Liong maju di semua jurusan.
Sekarang ia didik muridnya dengan pakai aturan tetap:
Siang, belajar surat termasuk hikayat, syair, pantun, ilmu
perang, melukis gambar dan belajar menulis huruf; malam,
dari jam tiga sampai jam empat, meyakini silat di Seehoa
thia. Dalam hal ini, mereka bisa sekali pegang rahasia. Kiau
Liong pun telah gunakan akal dengan minta ibunya
pisahkan ia tidur dari babu susunya supaya ia tidur
sendirian di kamarnya. Giok thaythay melulusinya. Hanya,
sebagai gantinya babu, budak nama Hoan Cun diperintah
melayani anak ini, tetapi di waktu malam, Kiau Liong
suruh budaknya tidur di luar kamar. Dan setiap malam,
sejak jam sembilan, ia larang budak itu masuk pula ke
kamarnya.
"Tentang ini aku larang kau bicara pada thaythay!"
demikian Kiau Liong ancam budak itu.
Hoan Cun menurut. Kadang-kadang dari dalam
kamarnya Kiau Liong ia dengar suara kertas dirobek, bak
digosok, atau tindakan kaki, ia menduga yang nonanya
sedang belajar dan tidak ingin diganggu. Ia merasa heran
kalau ia dengar suara seperti jendela dibuka, sedang api
telah dibuat padam.
Kembali tiga tahun telah lewat, Kho Long Ciu minta ijin
pula untuk pesiar. Ketika itu Kiau Liong sudah berusia
empat belas tahun. Pada itu malam, di Seehoa thia, sehabis
mengajarkan semacam ilmu pedang, Kho Long Ciu ajak
muridnya ke kamarnya. Ia duduk dengan sinar api ia alingi
dengan buku, Kiau Liong berdiri di depannya. Ia kata pada
muridnya itu: "Aku ajarkan kau silat sejak umur sembilan
tahun, sampai sekarang kau telah belajar lima tahun,
kepandaianmu sudah sempurna, maka dengan peroleh
pelajaran pedang yang terakhir, kau boleh dianggap telah
menjadi satu liehiap. Ilmu pedang barusan adalah yang
dinamakan Koh-in Cuigoat Toan Kunlun. Sampai di sini,
selesailah ilmu pedang dari Butong Pay. Aku rasa, kecuali
aku, melainkan Kang Lam Hoo yang mengerti ilmu pedang
ini. Bila kau telah dapat pahamkan ilmu ini, janganlah kau
jadi kepala besar dan jumawa. Ilmu silat ada untuk menjaga
diri, bukan buat berkelahi dan merebut kemenangan,
sedang di kalangan kangou banyak orang yang licin, ada
yang tenaganya besar istimewa, ada yang pandai
menggunakan senjata rahasia juga. Kau ada satu siocia,
usiamu masih muda, pengalaman tidak punya, kau belum
pernah hadapi pertempuran besar, maka jangan kau anggap
diri terlalu tinggi, terutama jangan kau lakukan apa yang di
luar garis. Kau harus ketahui apabila kau nampak bahaya
disebabkan perbuatanmu yang salah, aku tidak akan
menolongnya. Aku hendak berangkat besok, maka ingatlah
pesananku ini. Di sini aku ada simpan peti kecilku dalam
mana ada kitab tentang turunan keluargaku yang aku ingin
lain orang tidak ketahui begitupun kau, jangan kau coba
curi baca. Jagalah buku itu baik-baik."
Kho Long Ciu bungkus rapi petinya itu, ia segel dan
berikan cap namanya, sembari lakukan itu ia curi lirik
muridnya dan ia mendapati murid itu cuma sahuti ia sambil
tunduk dan manggut, sedang air mukanya pun tak berubah.
"Dasar ia masih muda," pikir Kho Long Ciu. "Aku telah
yakinkan pelajaranku enam atau tujuh bagian, aku telah
turunkan kepandaianku padanya kira-kira empat atau lima
bagian, maka cukuplah sampai di sini dahulu, untuk
menjaga kalau-kalau di belakang hari ia main gila, aku bisa
berkuasa padanya."
Giok Kiau Liong terima itu peti dan dibawa ke
kamarnya.
Kho Long Ciu masih berkuatir, diam-diam ia kuntit
muridnya ini, ketika si nona masuk ke dalam kamarnya, ia
mengintip dari luar jendela. Ia lihat sendiri si nona simpan
peti itu ke dalam lemari, terus api dipadamkan dan nona itu
tidur. Maka itu, besoknya pagi, Kho Long Ciu tinggalkan
Ciehoat koan dengan hati lega.
Melalui padang pasir Long Ciu masuk ke Yangkwan,
dari sini ia menuju dan sampai di Kamsiok. Sekarang ia
bukannya pergi ke Holam, akan tengok kandanya dan cari
persaudaraan Yo, hanya ia niat pergi ke Pakkhia, sebab
baru saja ia dengar cerita orang yang kembali dari kota raja,
katanya di sana baru muncul satu pemuda kosen, Lie Bou
Pek namanya, yang ada jadi keponakan murid dari Kang
Lam Hoo atau muridnya Kie Kong Kiat atau puteranya Lie
Hong Kiat, bahwa di kota raja pemuda itu sudah rubuhkan
banyak orang gagah, sampai tak ada tandingannya, hingga
namanya jadi kesohor.
"Aku telah belajar sepuluh tahun, belum pernah aku coba
kepandaianku," demikian ia berpikir. "Mustahil aku bawa
mati kepandaianku dengan peluki saja dua kitab itu?
Adalah seharusnya aku cari tempat di mana aku bisa angkat
nama dengan pecundangi beberapa cabang atas, agar orang
ketahui namaku dan kenal aku sebagai Kho Long Ciu Kho
In Gan ...”
Begitulah, ia ambil putusannya. Ketika itu hari ia sampai
di Liangciu, Kamsiok, hari telah menjadi magrib. Dengan
tuntun kudanya, ia pergi ke Saykwan, Kota Barat, buat cari
rumah penginapan. Selagi jalan tiba-tiba ia dengar
panggilan "Kho Long Ciu!" berbareng dengan mana, tangan
bajunya ada yang betot, hingga ia terperanjat, ia segera
menoleh.
Satu nyonya, umur kurang lebih limapuluh tahun,
adalah orang yang betot Kho Long Ciu dan pun segera
menegur lebih dahulu: "Apakah kau masih mengenali aku?"
Pertanyaan itu ada dengan lagu Kimseekang dan
mendengar itu, Kho Long Ciu bertambah curiga.
"Pada duapuluh tahun yang lalu, sehabisnya Ah Hiap
menutup mata, kau telah bawa pergi dua kitab dari
rumahku!" demikian nyonya itu, yang dandan sebagai
pengemis. "Sekarang kedua buku itu kau mesti pulangkan
padaku!"
Dalam kagetnya, Kho Long Ciu bisa tetapkan hati.
"Jangan berisik!" ia kata. "Mari kita cari tempat untuk
bicara!"
Lantas ia naik pula kudanya dan keluar dari bilangan
kota, dan si nyonya terus ikuti ia sampai di luar kota di
mana ia mendahului tahan kudanya akan loncat turun. Di
sini, di antara cuaca magrib mereka lantas bicara.
Pengemis perempuan itu bukan lain daripada Pekgan
Holie Kheng Liok Nio, yang telah menikah dengan Ah
Hiap melulu untuk bisa cangkok kepandaian silatnya, sebab
kemudian, sesudah menjadi pandai ia lalu berkongkol
dengan Hwie Pek Sin dan berdua mereka atur tipu dan
turun tangan hingga Ah Hiap binasa. Sehabisnya itu, Kheng
Liok Nio tinggalkan Hwie Pek Sin dan berangkat dari
Inlam menuju ke daerah Tiangkang, dengan niatan malang
melintang di kalangan kangou, guna tindih jago-jago di
daerah Sungai Besar itu. Dalam hal tujuannya ini, ia tidak
peroleh hasil, sebaliknya, beberapa kali ia tampak
kegagalan. Ketika itu Lie Hong Kiat masih belum undurkan
diri dan Kang Lam Hoo sering-sering muncul di muka
umum, guna menghalangi sesuatu orang jahat mainkan
peranan yang merusak masyarakat. Gagal di Tiangkang, ia
pergi ke Hoopak, tetapi di sini Kie Kong Kiat tidak boleh
dibuat permainan, dari itu ia terpaksa angkat kaki pula ke
daerah antara Siamsay dan Kamsiok, akan akhirnya jadi
ratu gunung di sebuah bukit di mana ada mengeram kira-
kira duaratus berandal. Lacur baginya, baru berdiam
sepuluh tahun di gunung itu, tentara negeri telah labrak ia,
hingga laskarnya pun ludas, suaminya binasa dan ia sendiri
mesti merat. Selanjutnya, karena sudah biasa dengan
penghidupan penjahat, ia bekerja sendirian saja, ia bekerja
di tempat di mana saja ia sampai. Ia hendak balas sakit hati
suaminya, tapi ia musuhkan sembarang orang, dari itu, ia
telah binasakan beberapa jiwa, sehingga semua orang polisi
di Hweeleng, Tiangbu, Hongsiang dan Cinciu hendak
tangkap padanya, hingga ia mesti menyingkir sana dan
menyingkir sini. Ia merantau beberapa tahun lamanya,
sampai paling akhir ia berada di Liangciu di mana terpaksa
ia menyamar sebagai pengemis untuk mengelabui mata
polisi.
Di sini, di luar dugaannya ia ketemu Kho Long Ciu,
orang yang ia sedang cari. Maka itu, ia terus cekal siucay
ini.
"Oho, Kho siucay yang jempolan!" demikian nyonya
gula-gula itu, dengan suara ejekannya. "Bukankah dahulu
kau telah ambil dua jilid kitab dari tanganku? Tatkala itu
aku masih belum tahu apa kefaedahannya buku itu, hanya
belakangan, sesudah nyebur dalam dunia Sungai Telaga,
aku dengar dan mengerti dengan baik. Nyatalah Kang Lam
Hoo telah merantau, untuk cari suheng-nya demikian pun
kedua buku itu, sebab itu dua buku ada pusaka mereka!
Siapa saja, siapa dapati kedua buku itu, ia bakal bisa
pahamkan kepandaian silat sama tingginya seperti
kepandaiannya Kang Lam Hoo sendiri! Aku tidak sangka
bahwa kau telah pedayakan aku dan kau telah menghilang,
hingga sekarang ini sudah duapuluh tahun lamanya! Coba
aku mendapati dua buku ini, tidak nanti aku sampai terhina
orang!"
Kho Long Ciu pun tertawa.
"Beruntung dua buku itu aku bisa ambil dan bawa
menyingkir dari kau!" ia kata, "kalau tidak, entah berapa
banyak kejahatan kau telah lakukan!"
Pekgan Holie tak gubris jengekan itu.
"Aku tahu," ia kata, "aku tahu, selama duapuluh tahun,
kau tentunya telah dapat pahamkan itu kepandaian
istimewa. Cuma, karena kau tidak masuk dalam kalangan
kangou, apakah gunanya kepandaian itu bagimu? Maka
sekarang, lekas kau keluarkan buku itu dan serahkan
padaku! Kau harus mengerti, jikalau buku diserahkan
padaku, urusan habis sampai di sini, tetapi jikalau kau
membantah, aku akan segera cari Kang Lam Hoo, akan
kasih tahu padanya bahwa kaulah yang dahulu membuat
mampus pada Ah Hiap dan bukunya Ah Hiap berada pada
kau!"
Kho Long Ciu kasih dengar tertawa menghina apabila ia
dengar ancaman itu, "Apakah kau sangka aku takut jikalau
Kang Lam Hoo cari aku?" ia kata secara menantang. Baru
ia tutup mulutnya, atau tubuhnya telah bergerak
membarengi gerakan tangannya, yang menyerang itu bekas
gula-gula. Dan ia telah keluarkan pukulan dari kematian,
guna membuat tamat lelakonnya perempuan jahat ini, si
Rase Mata Biru. Ia anggap, dengan tindakannya ini, tidak
saja ia bisa singkirkan manusia jahat, ia pun boleh tak usah
kembalikan dua kitabnya yang berharga, bahwa
selanjutnya, sepak terjangnya tidak lagi bakal mendapati
rintangan dari perempuan ini. Tetapi maksudnya ini ia tak
bisa lantas capai.
Nyata Pekgan Holie ada liehay, kendatipun ia diserang
secara demikian mendadak, ia masih bisa lihat gerakan
orang, ia bisa membade maksud orang, maka ketika tangan
lawan sampai, ia berkelit seraya menangkis dengan seketika
juga membalas menyerang, hingga di situ, di tempat yang
luas dan sunyi, keduanya lantas adu kepandaian.
"Hm, beginilah kelakuanmu!" menyindir nyonya itu.
Kho Long Ciu tidak mau banyak omong, sudah
terlanjur, ia teruskan serangannya, malah ia mendesak.
Sesudah bertempur sekian lama, segera ternyata
perbedaan di antara dua orang ini. Dalam hal ilmu silat,
Kheng Liok Nio kalah, tetapi di dalam hal kegesitan dan
tenaga, ia menang. Dalam hal ilmu silat, Kho Long Ciu ada
terlebih paham, tetapi apa mau, gerakannya terlebih lambat,
tenaganya kurang.
Lama mereka adu kepandaian, akhir-akhirnya, Kho In
Gan yang mengalah.
"Sudah, sudahlah," ia kata, sambil berhentikan
pertempuran. "Sudah, kita jangan bertempur lebih lama,
buku aku akan kembalikan padamu!" Kemudian, sambil
menghela napas, ia tambahkan: "Sayang buku itu aku
dapati terlambat sepuluh tahun ... Ilmu silat mesti
diyakinkan sedari usia masih muda dan dengan dasarnya
sekalian ... Sekarang aku yakinkan itu dalam usia sudah
cukup tinggi, aku hanya seperti orang bisa membaca, tapi
buat menggunai secara sungguh-sungguh, aku sudah gagal
... Sekarang ini aku batal buat pergi ke Pakkhia, maka kau
baiklah ikut aku kembali ke Sinkiang akan ambil buku itu
...”
Pekgan Holie akur dengan usul itu, pertempuran jadi
berakhir dan mereka pun hidup sebagai suami isteri.
Mereka pulang ke Sinkiang dan Kho Long Ciu menghadap
Giok tayjin sambil perkenalkan "isterinya".
Giok tayjin dan Giok thaythay percaya itu keterangan,
malah mereka sambut suami isteri itu dengan girang.
Mereka anggap yang si guru sekolah telah pergi untuk
sambut isterinya ...
Pekgan Holie ada seorang yang pandai, berdiam di
dalam kantor pembesar negeri ia telah ubah sikapnya dan
dengan Kho Long Ciu ia unjuk watak yang baik sekali,
seperti juga Kho Long Ciu benar ada suaminya dengan
siapa ia sudah berpisah lama. Ia berlaku lemah lembut dan
hormat.
Untuk suami isteri guru ini, Giok tayjin berikan
rumahnya di samping barat dari Seehoa thia, di situ ada
beberapa kamar dan di bagian belakangnya ada dua buah
pohon kayu yang memberikan hawa teduh dan nyaman.
Di hari itu juga Giok Kiau Liong muncul, akan kasih
hormat pada gurunya yang baru pulang, begitupun pada
sunio-nya atau nyonya guru.
Sebagai seorang cerdik, Pekgan Holie sudah lantas
perhatikan nona itu, yang menjadi murid dari suaminya,
kemudian dengan hampir berbisik, ia kata pada Kho Long
Ciu: "Muridmu ini ada sangat cantik! Apakah boleh aku
bawa ia pergi?"
Kho Long Ciu cegah maksud isterinya dengan diam-
diam ia berikan tanda.
Kemudian ini guru minta kembali peti simpanannya,
yang mana Kiau Liong telah lantas kembalikan, apabila ia
sudah periksa, ia mendapati peti itu tidak terganggu, maka
diam-diam ia girang dan puji kejujuran dan ketertibannya
murid ini.
Malam itu, ya, jauh malam, Kho Long Ciu dan Pekgan
Holie masih belum tidur. Di dalam kamarnya, mereka
berada berduaan, mereka tidak hiraukan hawa udara yang
dingin luar biasa, angin pun meniup sangat keras. Mereka
duduk berhadapan dalam kamar, di bawah penerangan
sebatang lilin. Kho Long Ciu keluarkan dua jilid buku dan
taruh di atas meja, untuk kasih lihat itu pada kawan
perempuannya.
Peta-peta yang merupakan gambar terlukis nyata, disertai
huruf-huruf yang membantu berikan keterangan-keterangan
tetapi Pekgan Holie masih tak mengerti itu semua dengan
jelas, dari itu, Kho Long Ciu telah bantu ia dengan
memberikan penjelasan. Sekarang barulah ia mengerti,
karena ia pun sudah punyakan dasar. Sesudah itu Kho
Long Ciu simpan pula bukunya, kemudian ia ajak "isteri"-
nya pergi keluar, ke latar di Seehoa thia.
Tatkala itu sudah jam tiga, langit ada gelap karena
bintang-bintang sangat sedikit.
"Di sini kita bisa berlatih dengan leluasa," kata Klio
Long Ciu kemudian, suaranya perlahan.
Kheng Liok Nio manggut.
Di situ Kho Long Ciu berikan pengunjukan-pengunjukan
pada "isteri"nya siapa pun bergerak-gerak menuruti
pengunjukannya Long Ciu.
"Beginilah gerakan pertama," ia kata, "dan begini
gerakan kedua ...”
Meski demikian di dalam hatinya, "suami" ini berpikir
lain.
"Jikalau aku beritahukan semua padanya, di belakang
hari sukar untuk aku berkuasa atas dirinya. Aku mesti bisa
kira-kira ...”
Karena ini, ia berikan pelajaran dengan ayal-ayalan.
Di lain pihak, Kheng Liok Nio telah berlatih sangat rajin,
ia umpamakan di hadapannya benar ada musuh dan
bagaimana musuh itu harus dibuat rubuh ...
Sedangnya asyik mereka berlatih sekonyong-konyong
ada angin yang membawa asap yang tebal dan bergumpal
sampai Kho Long Ciu batuk-batuk.
"Tahan!" akhirnya ia kata pada gula-gulanya. "Lihat,
dari mana datangnya asap ini ...”
Kheng Liok Nio berhenti bersilat, ia menoleh ke jurusan
asap itu.
Mereka segera ketahui dari mana datangnya asap, malah
Kho Long Ciu ada begitu kaget, segera ia lari ke jurusan
rumahnya, dari belakang mana sekarang telah tertampak
api menghembus naik.
Api telah datang dari belakang gedung, api itu yang
menyebabkan asap, dan karena ditiup angin, tidak heran
kalau api itu lekas berkobar.
Dengan tak pedulikan asap, Kho Long Ciu nyerbu ke
dalam. Ia ambil panci untuk cuci muka yang airnya ia pakai
menyiram api. Apa mau air ada terlalu sedikit dan api ada
terlebih besar, siraman itu tidak memberikan hasil. Malah
karena diseblok, api itu lantas menjalar menghembus
terlebih tinggi.
"Kebakaran!" berteriak Kheng Liok Nio. "Kebakaran!"
Tukang ronda pun yang lihat asap, ia lantas palu
gembrengnya sekeras-kerasnya, hingga sekejap kemudian
orang-orang di dalam gedung menjadi kaget dan pada
memburu, antaranya ada yang membawa air dalam tahang.
Sekali ini, api dapat dibuat padam.
Kho Long Ciu telah ditarik keluar, karena ia ayal-ayalan
berdiam di dalam.
Gedung kecil itu tidak sampai terbakar musnah, yang
jadi korban api hanya daun jendela dan pintu berikut segala
rupa barang perabotan, tidak terkecuali kelambu dan kasur.
Sambil mengawasi kamarnya, Kho Long Ciu menghela
napas berulang-ulang, kakinya ia banting-banting.
Tangannya ada menyekal selembar papan kecil di atas
mana ada kertas tempelan. Rupanya karena ia sambar
papan itu, tangannya telah kena terbakar sedikit.
"Syukur tidak ada orang yang tertambus!" kata beberapa
hamba gedung sambil tertawa, "Beruntung! Ini tandanya
kita masih dipayungi malaikat! Barangkali karena sunio
datang, suya menjadi sangat kegirangan, sampaikan dengan
tak merasa mereka kena tendang lampu yang jadi jatuh dan
apinya menyambar kasur! ...”
Kho Long Ciu tahu orang godai ia tetapi ia bungkam,
karena ia ada sangat berduka dan menyesal.
Kapan Giok tayjin dikabarkan perihal bahaya api itu,
tidak tegur atau persalahkan itu guru silat suami dan isteri,
bahkan ia merasa kasihan terhadap itu guru yang ia sangka
uang simpanannya habis semua.
Untuk sementara, Kho Long Ciu dan Kheng Liok Nio
lantas dikasih lain kamar yang diperlengkapi dengan
perabotan baru pula.
Masih saja Kho Long Ciu berduka, sering ia duduk
bertopang dagu dan menghela napas panjang.
"Buku telah terbakar habis, apa gunanya akan tarik napas
panjang pendek?" kata Kheng Liok Nio. "Sudah duapuluh
tahun kau simpan itu dua jilid buku, mustahil kau masih
belum dapat apalkan di luar kepala? Sudahlah, hayo
sekarang kau ajarkan aku!"
Kho Long Ciu tarik napas untuk sekian kalinya.
"Buku begitu tebal dan sulit isinya, mana aku dapat
apalkan semua?" ia menyahut kemudian, dengan suara
dalam. "Buku itu penuh gambar, suratnya begitu sedikit,
bagaimana aku bisa ingat di luar kepala? Sekarang yang aku
bisa ajarkan melulu apa yang aku masih ingat ... " Ia
menghela napas lagi, baru menyambungi: "Ya, begini saja,
aku akan ajarkan kau apa yang aku ingat ... Isinya buku ada
sangat penting, apabila itu dapat dipelajarkan oleh orang-
orang dengan hati busuk, entah berapa banyak kejahatan ia
akan lakukan! Kalau aku ingat itu, aku memang lebih suka
kedua buku itu terbakar ludas! Hanya ... sayang aku telah
punyakan murid dan murid itu belum keburu memperoleh
kesempurnaannya pimpinanku ...”
"Siapa murid itu?" Kheng Liok Nio tanya. "Di mana
adanya ia?" Ia tadinya cuma tahu Kiau Liong ada murid
ilmu surat dan bukannya murid ilmu silat. Ia pun
menyangka murid lelaki.
"Ia ada Giok siocia," sahut Kho Long Ciu dengan
berbisik. "Aku harap kau tidak beritahukan hal ini pada lain
orang. Aku telah ajarkan ia tidak hanya ilmu surat tetapi
pun ilmu silat, malah ia telah belajar lima tahun lamanya.
Cuma aku tidak ingin ajarkan ia terlebih jauh ...”
"Kenapa kau tidak ingin ajar terus padanya?" tanya
Pekgan Holie.
"Mulanya aku inginkan ia menjadi satu hiaplie," suami
sampiran itu kasih tahu, "tetapi setelah berselang lama, aku
dapat kenyataan ia ada terlalu terpengaruh oleh
penghidupan mewah, hingga aku kuatir, di saatnya ia
menikah dan bersuami seorang berpangkat atau turunan
berpangkat yang jahat. Bagaimana kalau ia pun gunakan
kepandaiannya untuk maksud buruk? Tidakkah ia jadi
mencelakai sebaliknya daripada berbuat kebaikan?"
Pekgan Holie manggut-manggut, tetapi di dalam hatinya
ia dapat pikiran:
"Si nona ada gagah, ia harus menjadi muridku,"
demikian cita-citanya. "Aku mesti pergi pada nona ini, agar
ia bisa menjadi pembantuku. Aku mesti ajak ia guna bantu
aku membalas musuh-musuhku!"
Oleh karena memikir begini, Kheng Liok Nio lantas
bawa diri jauh terlebih hati-hati. Ia bawa kelakuan yang
harus dipuji, karena berlaku hormat dan kenal kewajiban.
Di lain pihak ia terus desak Kho Long Ciu supaya ajarkan
ia berbagai-bagai ilmu pukulan yang liehay.
Di samping mengajar "isterinya" selambat mungkin, ia
pun asah otaknya akan pengaruhi hati orang. Ia lalu karang
ceritera:
"Kau harus hati-hati, kau mesti bisa umpatkan diri,"
demikian dongengannya terhadap isteri yang licin itu.
"Kejahatanmu di luaran ada terlalu banyak, hingga segala
pihak sedang cari kau dengan seksama. Kantor Giok tayjin
pun ada terima beberapa surat yang mengenai segala
perbuatanmu dan tayjin diminta suka bantu cari dan bekuk
padamu. Sekarang ini sudah ada beberapa hamba polisi
yang kenamaan yang datang cari kau ke Sinkiang."
Ceritera ini dipercaya oleh Kheng Liok Nio, ia merasa
kuatir juga. "Maka baiklah kau ubah adat dan
kelakuanmu," sering-sering Kho Long Ciu kasih nasehat.
"Kau mesti menyesal dan tobat akan semua perbuatanmu,
selanjutnya kau mesti menjadi orang baik-baik. Bukankah
kau merasa penghidupan seperti sekarang ini ada jauh
terlebih baik daripada hidup merantau tak berketentuan di
dalam kalangan kangou?"
Nasehat itu agaknya memakan, nampaknya Kheng Liok
Nio senang tinggal di gedungnya Giok tayjin, temponya ia
lewatkan dengan mencuci pakaian dan menjahit. Ia berlaku
rajin. Kadang-kadang ia pun ikut Giok thaythay dan Giok
siocia pergi ke rumah-rumah suci untuk bersembahyang.
Maka kemudian orang telah puji bahwa Kho sunio adalah
satu nyonya yang baik dan sabar.
Demikian, dua tahun telah lewat. Selama ini dua tahun
Giok Kiau Liong tidak lagi belajar silat di bawah pimpinan
gurunya, hanya ia melatih diri sendiri, begitupun dalam hal
ilmu surat dan melukis. Kho Long Ciu tidak punya gawe,
hampir setiap hari ia temani Giok tayjin main catur,
kedudukannya mirip dengan satu tetamu. Adalah Kheng
Liok Nio, yang hidup sebagai separo budak, semua
penjahitannya si nona rumah ia yang kerjakan. Ia tidak mau
unjuk tembaganya, tetapi ia senantiasa mencoba cari tahu
tentang kepandaiannya si nona. Nona, bagaimana dengan
kepandaianmu?" begitu ia suka tanya.
“Semua aku telah lupa!" sahut nona itu. "Memang
sebenarnya aku tidak gemar belajar, adalah suhu yang
perintah aku yakin itu, ketika kemudian aku hilang
kegembiraanku akan belajar lebih jauh, suhu pun lantas
bosan mengajarkan aku! ... ,"
Dalam usia enambelas tahun, Giok Kiau Liong ada
cantik laksana bidadari.
Di dalam musim pertama di itu tahun, Giok tayjin telah
dapat panggilan untuk pulang ke kota raja, berbareng
dengan itu, iparnya atau bouku (paman) dari Kiau Liong,
ialah Sui ciangkun, telah diangkat jadi lengtwie taysin, yaitu
pembesar tentara dari tangsi Kozak di Ielee, maka jenderal
ini telah kirim wakil akan sambut Kiau Liong dan ibunya
pergi ke Ielee, untuk saudara lelaki dan saudara perempuan,
bouku dan keponakan, saling bertemu. Atas ini, Pekgan
Holie nyatakan suka ikut, buat sekalian jalan-jalan. Begitu
juga Kho Long Ciu, ia pun ingin turut, karena ia merasa tak
tenteram melihat orang pergi membuat perjalanan.
Demikian di harian keberangkatan, orang berangkat
dalam satu rombongan dari enambelas buah kereta dengan
limapuluh ekor kuda, dengan pengantar enam punggawa
serta empatpuluh serdadu pengiring. Di dalam kereta
barang-barang pun ada dibawa banyak rangsum kering serta
guci-guci arak yang besar yang muat air dingin. Air minum
ini ada perlu, karena perjalanan ke barat itu, buat duaratus
lie jauhnya, ada padang pasir belaka, dan dalam dua tiga
hari, orang tak akan ketemukan setetes air juga di tengah
perjalanan.
Dalam rombongan ini ada turut juga anggauta-anggauta
keluarga dari dua pembesar lain dari kantornya Giok tayjin.
Meninggalkan Chieboat koan, rombongan besar itu
lantas menuju ke barat.
Di dekat-dekat Chieboat koan ada bertinggal juga orang
Boan atau Kiejin asal tangsi Hieso lun-eng dengan mereka
punya sawah ladang yang luas lebar di mana mereka tanam
kecuali gandum juga anggur yang tumbuhnya melapay
melulahan di atas tanah, di atas tegalan atau pinggiran
bukit.
Perjalanan ini dilakukan di bulan ketiga, maka hawa
udara ada hangat, angin meniup halus. Ini ada suatu
perjalanan yang menyenangkan.
Di hari pertama, sorenya, mereka singgah di suatu dusun
besar yang berupa sebagai kota. Besoknya, di hari kedua,
sebelumnya berangkat, dua serdadu yang menjadi
pengunjuk jalan telah amat-amati udara, setelah sekian
lama, mereka geleng-geleng kepala.
"Hawa udara hari ini tidak bagus," kata mereka. "Jikalau
di Gobi ada angin, itulah hebat!"
Atas itu, satu punggawa lantas hampirkan Giok
thaythay, untuk beritahu hal hawa udara itu.
Giok thaythay sudah naik atas keretanya, ia tidak bisa
ambil putusan.
"Kau lihat sendiri saja," ia bilang. "Kalau bisa, mari kita
berangkat, jikalau tidak, baik tunda saja ...”
Giok Kiau Liong yang duduk di lain kereta dapat dengar
bicaraan itu, lantas nona ini kirim budak perempuannya,
akan mengasih tahu.
"Siocia bilang, hawa udara ada begini bagus, awan
sedikit pun tidak ada, kenapa tidak mau berangkat? Apa
gunanya akan singgah lebih lama di sini?"
Mendengar itu, punggawa yang bersangkutan segera
berikan perintahnya.
"Berangkat!" katanya. "Hayo berangkat!" Begitulah,
laksana seekor ular yang panjang, rombongan ini lantas
berlerot jalan. Jalanan tetap ada menuju ke barat.
Di antara serdadu-serdadu pengiring lantas juga
terdengar helaan napas serta ucapan dari kekuatiran.
"Sebenarnya, kalau di Gobi kita ketemu angin, masih
mending ... " demikian suara itu. "Hanya kalau kita ketemu
Poan Thian In, itu barulah celaka! ...”
Atas ini, tukang kereta dan serdadu-serdadu lantas
membicarakan tentang Poan Thian In. Maka Kho Long Ciu
dan Pekgan Holie yang juga naik kereta, turut mendapat
dengar.
"Poan Thian In adalah satu penjahat besar yang baru
untuk Sinkiang," kata sang suami pada isterinya. "Di bawah
perintahnya ada tigaratus lebih pengikut, yang semua ada
penunggang-penunggang kuda yang jempolan. Mereka
sering muncul di tengah-tengah gurun pasir, kita harus
berhati-hati ...”
"Aku tidak bekal senjata, bagaimana?" Kheng Liok Nio
tanya.
"Bawa senjata juga tak ada gunanya," jawab Khong
Long Ciu , alias Ko In Gan. "Mereka berjumlah tigaratus
lebih, jikalau mereka meluruk dengan berbareng meskipun
kita punya kepadaian sebagai Kang Lam Hoo, masih kita
tak mampu berbuat suatu apa!"
"Diam!" Pekgan Holie kata pada suaminya, dengan air
muka bengis. "Kita selanjutnya jangan sebut-sebut lagi
Kang Lam Hoo!"
Kho Long Ciu bisa mengerti larangan ini, itulah
disebabkan Kheng Liok Nio paling takuti Kang Lam Hoo,
karena Ah Hiap, suheng dari itu jago Kanglam, telah binasa
di tangannya ini perempuan yang ganas. Ia berdiam, akan
akhirnya menghela napas, sebab, ingat pada Kang Lam
Hoo, ia jadi ingat dua jilid kitabnya yang berharga, yang
musnah terbakar ...
Waktu itu Giok Kiau Liong duduk di kereta dengan tiga
budak perempuan sebagai kawan, yang duduk di sebelah
depan ada Siu Hiang, hingga ia ini ada leluasa buat
memandang luas ke sebelah depan, kiri dan kanan.
"Lihat di sana, siocia, lekasan!" kata budak ini tiba-tiba.
"Itulah Bongkou pau!"
Sambil berkata begitu, budak ini menunjuk ke tempat
yang jauh di mana ada tertampak ladang yang luas dan
hijau, di mana pun ada kelihatan banyak kambing dan
kerbau malahan pun ada rumah atau gubuk-gubuk yang
bundar.
Bujang perempuan Su-ma yang duduk di belakang
nonanya memandang ke jurusan yang ditunjuk itu, ia tarik
ujung baju nonanya dan kata: "Siocia, lihatlah
pemandangan di sana sungguh indah, sebagai gambar saja!"
"Apa yang jadi indah?" sahut si nona, kemudian dengan
sapu tangan putihnya, ia kebuti rambutnya yang ketutupan
debu, sedang kakinya, yang ia geser, telah membentur
serupa barang ialah "Toan-goat", pedang ayahnya, pedang
mana ada tajam, meskipun bukannya pedang mustika. Dan
pedang ini ia bawa di luar tahu ibunya.
Roda-roda kereta menggelinding terus, hingga kemudian,
rumput hijau mulai tertampak jarang, warna hijau di empat
penjuru mulai tertukar dengan warna gelap, sementara
suara roda kereta jadi terlebih nyaring. Itu adalah tanda
bahwa orang telah mulai injak daerah padang pasir, dengan
pasirnya yang hitam kasar. Tempat pun telah mulai menjadi
sepi. Kalau tadinya orang masih bisa lihat beberapa
rombongan orang Mongol yang bertunggang kuda,
sekarang mereka itu lenyap dari pemandangan mata.
Benar saja, di gurun pasir orang tak melihat sebatang
rumput ... Di sini hati orang bisa menjadi ciut atau putus
harapan ... Demikian, tidak ada satu tukang kereta atau
serdadu yang berani bicara dengan suara keras ... Malah
kuda pun seperti malas berjalan ...
Kho Long Ciu melongok ke luar jendela kereta, ia
mendapati matahari telah menyorotkan sinar kuning di
empat penjuru, tanda datangnya sore.
"Aku kuatir angin bakal datang!" kata ia. "Memang,
penunjuk jalan biasanya ketahui baik tentang perubahan
hawa udara ... Kita berjalan dengan begini banyak orang,
kenapa kita mesti turut suaranya siocia satu orang? ...”
Selagi guru ini ngoceh sendirian, kereta mulai tukar
jurusan, ke utara. Kedua penunjuk jalan tetap berjalan di
muka, di atas kuda mereka, dan semua kereta mengikuti
mereka. Suara roda kereta dan kaki kuda sangat berisik
sekali ...
Ketika rombongan melalui sepuluh lie lebih, mereka
telah mulai berjalan di tanah yang terlebih rendah, di empat
penjuru ada tumpukan-tumpukan pasir, yang berupa
sebagai tanjakan atau bukit kecil, hingga di situ orang tidak
lagi merasai tiupan angin seperti tadi-tadi. Kemudian,
enambelas buah kereta telah berkumpul menjadi satu
bundaran laksana sebuah kota atau bentengan kecil!
Adalah itu waktu semua punggawa, serdadu dan tukang
kereta, masing-masing berkata: "Kita tidak bisa jalan
terlebih jauh. Lihat, angin besar segera akan datang!"
Giok Kiau Liong sudah lantas muncul dari keretanya,
akan lihat langit dan alam sekitarnya.
Warnanya langit mirip dengan rupanya bumi di waktu
itu. Tukang-tukang kereta sedang loloskan kuda mereka.
Serdadu-serdadu sedang pelihara kuda mereka, ada yang
lagi masak air dan dahar rangsum kering. Tatkala itu baru
jam sebelas tengah hari lewat sedikit. Di antara serdadu-
serdadu pun ada yang sudah rebah-rebahan di atas pasir,
seperti siap untuk lewatkan sang malam ...
Kemudian nona Giok duduk di keretanya, budak Siu
Hiang sudah lantas bawakan ia semangkok air teh merah
serta sepiring kue yang tebuat dari telur ayam. Ia baru mulai
dahar kuenya dan minum tehnya, ketika angin mulai
meniup.
"Silahkan siocia duduk di dalam,” kata tukang kereta
yang terus turunkan tenda, akan dipasang dengan rapi,
sedang ia sendiri kemudian, pergi umpatkan diri di kolong
kereta itu!
Angin meniup semakin kencang hingga sebentar
kemudian kereta menerbitkan suara bagaikan ketimpa
hujan, karena angin telah membawa pasir yang jatuh
meluruk atau menimpa tak berhentinya. Suaranya angin
semakin menderu-deru. Di empat penjuru jagat jadi gelap,
seperti malam di waktu gelap bulan.
Semua orang pada meringkuk, tidak ada yang berani
berkutik, melainkan sang kuda yang perdengarkan suara
berbenger mereka, suaranya menambahkan berisiknya sang
taufan.
Berapa lama angin telah mengamuk, orang tidak tahu,
hanya lambat laun angin mulai sirap, semua serdadu dan
tukang kereta baru berani berbangkit, hati mereka lega.
Mereka mendapati seperti dunia baru melek membuka
mata.
Tetapi kekuatiran datang pula dengan lekas. Kalau tadi
mereka kuatirkan pengaruh alam, sekarang terhadap
penyamun, yang bikin mereka kaget dan menjerit. Semua
nampaknya sangat ketakutan.
"Berandal datang! Poan Thian In! ... " demikian jeritan
mereka.
Segera juga terdengar suara dari berlari-larinya kuda, lari
mendatangi, seumpama angin datang mengamuk untuk
kedua kalinya.
Dengan pedang di tangan, Kho Long Ciu loncat turun
dari keretanya. Ia masih merasai sedikit sambarannya pasir
yang terbawa sisa angin, maka sambil menoleh ke
keretanya, ia pesan Pekgan Holie: "Kau jangan turun dari
kereta!"
Berandal-berandal mendatangi semakin dekat disertai
seruan-seruan mereka: "Maju, maju! Hayo, maju!"
Sebentar kemudian, serombongan penunggang kuda
telah sampai. Tidak tempo lagi, Kho Long Ciu loncat maju,
pedangnya ia putar. Ia maju menyerang guna cegah
kejahatan dilakukan atas pihaknya. Apamau, kedua
kakinya telah kejeblos di pasir sampai ia susah bergerak,
sedang pasir telah menyambar matanya membikin ia
gelagapan. Selagi begitu, tahu-tahu kaki kuda telah
mendupak dadanya hingga ia kaget dan terguling. Untuk
tolong jiwanya, ia terus bergulingan ke kolong kereta!
Segeralah terdengar suara pertempuran, suara jeritan.
Long Ciu cuma bisa dengar itu dengan sendirinya tak
berdaya. Pasir telah seperti memendam kedua kakinya. Ia
pun susah melek. Ia jadi sangat berduka dan mengeluh.
"Dasar aku sudah tua ... Percuma kedua kitab jatuh ke
dalam tanganku ... Buat duapuluh tahun aku telah sia-
siakan tempoku, pelajaranku ... ”
Sementara itu suara pertempuran telah berhenti, suara
berketoprakannya kaki-kaki kuda mulai lenyap, melainkan
sang angin yang belum mau berhenti benar-benar. Di antara
deruannya sang angin sekarang pun ada terdengar rintihan
dari kesakitan ...
Kho Long Ciu yang sendirinya teruruk pasir, tidak
mampu gerakkan tubuhnya.
Sampai lagi berselang sekian lama, barulah angin sirap
benar-benar. Barulah itu waktu ada datang orang yang
menolongi si guru she Kho, tubuh siapa diangkat dari
urukan pasir, Pakaian dan kumisnya penuh dengan pasir. Ia
diangkat naik ke atas keretanya.
Pekgan Holie pun rebah di atas keretanya, rebah laksana
mayat ...
Tetapi itu belum semua. Segera terdengar teriakannya
punggawa-punggawa pengantar dan sejumlah serdadu
pengiring: "Siocia lenyap! Siocia kena dilarikan berandal!"
Saking kaget Kho Long Ciu bisa paksakan diri
berbangkit, akan loncat turun dari keretanya. Tetapi itu tak
dapat dilakukannya. Ia hanya bisa lihat orang sedang
menggali tumpukan pasir buat mengangkat mayat yang
hilang tangan atau kakinya. Ia pun lihat kuda-kuda yang
terluka dan dengar keluhannya orang yang terluka hampir
mati ...
Menurut pemeriksaan segera ternyata hasilnya kejahatan
yang diperbuat itu. Dari pihak rombongannya dua orang
telah binasa, empat orang telah terluka, sedang dari pihak
berandal tigabelas jiwa binasa dan sembilan orang terluka.
Kho Long Ciu heran akan mengetahui kesudahan itu.
Bagaimana kerugian bisa berada jauh lebih besar di pihak
berandal? Bagaimana barisan pengiring bisa pertahankan
diri dan sanggup memberikan semacam pukulan bagi pihak
berandal?
Tiba-tiba Kho Long Ciu dengar suaranya bujang
perempuan tua dari dalam keretanya nona Giok: "Aku juga
tidak tahu bagaimana caranya siocia terlenyap! Siocia
punya sebatang pedang di atas keretanya, pedang itu pun
hilang! ... Tadi aku pingsan, hingga aku tidak tahu yang
siocia dibawa lari berandal! ... " Kata bujang itu, agaknya ia
mau mewek ...
Lalu, setelah itu, terdengar tangisan dari Giok thaythay
dan budak-budak si nona. Nyonya Giok jadi sangat berduka
dan berkuatir ...
Beberapa punggawa dengan ajak sejumlah serdadu lantas
berpencaran guna cari Giok siocia.
Kho Long Ciu bengong saja, otaknya berpikir. Segera
juga ia mengerti atas duduknya perkara. Ialah sejak
terbakarnya secara aneh kamarnya sampai kedua bukunya
lenyap, dan sekarang lenyapnya si nona Giok. Kalau
tadinya ia merasa puas, segera ia menjadi lesu, hingga ia
menghela napas. Ia masuk pula ke dalam keretanya dan
jatuhkan diri dengan habis kegembiraannya.
"Jangan kau tunggu sampai di Ielee, lekas kau singkirkan
diri!" ia terus pesan Kheng Liok Nio, bicaranya sambil
berbisik. "Apabila kau tidak pergi, kau akan hadapi bencana
yang akan meminta jiwamu! Aku menyesal bahwa aku
telah lakukan satu kekeliruan, aku telah pelihara seekor
naga yang jahat! ... ”
Sama sekali kawanan berandal terdiri dari limapuluh
jiwa lebih, mereka benar ada pengikut-pengikut dari Poan
Thian In si "Awan di Tengah Langit". Mereka semua ada
garang, memang sudah biasanya mereka bekerja di antara
angin ribut untuk membikin rudin atau celaka sekalian
mangsanya. Mereka semua menunggang kuda dan
bergegaman golok panjang. Tetapi sekali ini, mereka telah
hadapi lawanan yang tangguh, yang di luar sangkaan
mereka. Selagi mereka merangsek dengan bengis, sambil
perdengarkan seruan-seruan mereka yang menakuti, tiba-
tiba mereka diterjang oleh seorang yang bersenjatakan
sebatang pedang, yang kepalanya dibungkus dengan pelangi
putih, bajunya berwarna putih perak dan celananya biru air.
Dengan satu tikaman, yang dilakukan sambil berlompat
dari keretanya, Giok Kiau Liong telah bikin rubuh satu
berandal yang menunggang seekor kuda besar, hingga
dengan merdeka ia bisa loncat naik atas kuda itu, hingga
selanjutnya, dari atas itu binatang rampasan, ia bisa lakukan
penyerangan terlebih jauh pada rombongan penyamun
gurun pasir itu. Ia berlaku sangat gesit dan gagah, sedang
Toan-goat kiam-nya tajam sekali. Musuh yang bagaimana
gagah pun hanya bisa layani ia tiga atau empat jurus, lantas
musuh itu mesti kabur atau celaka nasibnya, ada yang rebah
luka, ada yang hilang buntung tangannya.
Dalam tempo yang pendek, kawanan berandal jadi
ketakutan.
"Lekas, lekas kabur!" demikian beberapa penyamun
berteriak. "Lekas! Ini perempuan sangat liehay!"
Dan sekejab kemudian, semua mereka angkat kaki
meninggalkan kawan-kawannya yang telah rubuh sebagai
korban.
Selagi musuh mundur dengan lari terpencar, Giok Kiau
Liong ubar mereka, ia ubar sana dan ubar sini, setelah
musuh tak tertampak pula barulah ia tahan kudanya. Ia
memandang ke sekitarnya sambil tenangkan napasnya yang
ada sedikit memburu. Ia lihat pasir melulu, tidak ada benda
atau makhluk lainnya.
Buat sesaat nona Giok tertegun, lantas ia tersenyum. Ia
ingat ibunya, hatinya jadi lega. Ia percaya benar, di bawah
perlindungan dari Kho In Gan, ibunya tak akan menampak
bahaya. Ia tak pernah mimpi bahwa orang yang ia andalkan
itu justru telah jadi korbannya angin dan pasir, sampaikan
sendirinya tak berdaya ...
Sesudah simpan pedangnya, Kiau Liong jalankan
kudanya dengan perlahan-lahan. Ia telah terpisah jauh dari
ibu atau rombongannya, ia tidak tahu di jurusan mana
rombongannya itu. Dengan lepaskan les, kudanya itu jalan
terus maka ia dapat ketika akan buka ikatan kepalanya akan
buka juga rambut yang tergulung buat dikepang pula
menjadi sebuah kuncir yang panjang dan hitam yang ia
kasih turun meroyot di kiri dan kanan di depan dadanya.
Nona Giok ini telah dengar bahwa nona-nona Kozak
dan Mongol biasa memelihara rambut panjang yang
dikepang menjadi dua cacing, bahwa mereka biasa dengan
merdeka mundar-mandir di padang pasir atau pergi berburu
di tegalan tanah datar yang penuh rumput dan gombolan.
"Sekarang aku dandan sebagai ini, siapa akan kenali
aku?" demikian ia kata dalam hatinya. "Kenapa aku tak
mau gunai ketika ini untuk merantau ke mana aku suka,
akan sekalian coba kepandaianku yang aku telah yakinkan
dengan susah payah dalam tempo sepuluh tahun? ... ”
Begitulah ia maju dengan tak kenal jurusan. Ia lihat
hanya lautan pasir melulu, ia tidak ketemu orang, rumah
atau kota. Ia telah jalan jauh sampaikan merasa dahaga,
kudanya pun lelah. Baru sekarang ia bingung, karena ia
tahu, segera ia akan hadapi bencana apabila ia lambat-
lambatan di lautan pasir yang kering itu. Ia pun telah
merasa lapar.
"Aku bakal binasa secara kecewa di sini, akhirnya ia
pikir. Maka dengan ujung dari sarung pedangnya ia keprak
kudanya dikasih lari ke arah barat.
Dan kuda itu segera kabur di atas pasir, larinya keras,
sebab kuda itu sudah biasa dengan penghidupan di daerah
kering itu.
Kiau Liong tidak tahu ia sudah kaburkan kudanya
berapa jauh tatkala di sebelah depan ia tampak
berterbangannya serombongan "ayam gurun", ialah
sebangsa burung yang biasa hidup di padang pasir. Ia jadi
girang, hingga melupai lapar dan dahaga, kembali ia keprak
kudanya dikasih lari terus ke depan. Tapi lacur baginya,
kudanya sudah sangat letih, tidak bisa lari keras lagi,
jalannya ayal-ayalan.
Dengan lewatnya sang tempo, langit pun telah mulai
menjadi gelap.
Oleh karena kudanya jalan seperti merayap, Kiau Liong
jadi mendelu, tetapi sejenak kemudian, lenyap
kedukaannya, berbalik jadi kegirangan, sebab di depannya,
ia lihat sebuah gunung yang tinggi dan di atas gunung
samar-samar ia tampak pepohonan.
"Jikalau di atas gunung ada pohon, di sana mesti ada
sumber air dan rumah orang juga!" demikian ia pikir. "Aku
mesti lekas pergi ke sana!"
Dan kudanya kembali ia keprak.
Dan binatang ini seperti juga mendapat harapan, ia
gerakkan empat kakinya dan bisa lari keras pula.
Dengan perlahan-lahan jalanan telah menjadi rata, tidak
lagi penuh dengan pasir yang sukar dilintasi, pun ada
meniup-niup angin halus, yang membawa bau wangi dari
rumput.
Ini adalah tanda bahwa orang telah lewati gurun pasir
dan mulai masuk dalam bilangan tanah datar. Cuma sang
langit yang lelah menjadi gelap.
Jalan pula sedikit jauh, Kiau Liong tahan kudanya dan
loncat turun dari tunggangannya hingga kudanya itu bisa
lantas makan rumput. Ia jatuhkan diri ke tanah, akan
berduduk di atas rumput, tangannya terus mencabut dua
pohon rumput yang ia coba cium, akan endus baunya
rumput itu. Ketika ia dongak, ia lihat rembulan sisir dan
bintang.
Kuda itu, yang berbulu merah, beberapa kali angkat
kepalanya dan perdengarkan suaranya yang berkumandang
jauh di atas gunung, tetapi yang bikin Kiau Liong
terperanjat adalah ketika ia dapat dengar suara sambutan
dari kuda lain dari tempat kejauhan ...
"Celaka!" pikir ia. "Jangan-jangan gunung ini ada sarang
penjahat! ... ”
Ia lompat bangun, ia pasang kupingnya. Ia dengar suara
kuda yang kalut yang datangnya dari atas gunung. Ia lantas
berpikir keras untuk ambil putusan. "Biarlah," akhirnya ia
kata dalam hatinya, "biarlah aku pergi ke sarang penjahat
itu! Jikalau si kepala penjahat betul Poan Thian In adanya,
aku nanti coba-coba tempur padanya! Aku harap aku dapat
singkirkan ia itu! ... ”
Ia terus samper kudanya dan loncat naik atas binatang
itu yang ia kasih lari ke depan, menuju ke gunung.
Sekarang sinar bulan ada menerangi jagat, dari itu, Kiau
Liong bisa maju dengan matanya bisa melihat nyata segala
apa. Jalan tidak seberapa lama ia lantas sampai di kaki
gunung.
Dengan mencari jalanan Giok Kiau Liong kasih kudanya
maju terus akan panjat gunung itu. Di mana ada rintangan
pepohonan atau gombolan, ia gunakan pedangnya akan
membuka jalan. Ia sudah naik tinggi juga, ia tidak
mendapati orang jahat dan pun tak melihat rumah atau
gubuk, kecuali pepohonan dan kesunyian. Sinar bulan
membikin ia bisa lihat jurang atau tubir.
Ia masih maju terus, sampai dengan tiba-tiba ia dengar
suara nyanyian, hingga ia merandek. Sang angin adalah
yang membawa suara itu. Dalam keheranan, ia turun dari
kudanya akan pasang kuping dan mata ke jurusan dari
mana nyanyian itu datang. Kemudian, dengan sebelah
tangan cekal pedangnya dan sebelah tangan lainnya
menuntun kuda, ia bertindak maju. Semakin ia maju,
semakin nyata ia dengar nyanyian itu, hingga akhir
akhirnya ia pun dapat tangkap bunyinya sesuatu kata-kata.
Ia dengar:
"Dunia geram suram, menurunkan bencana,
Hingga kita bersaudara, mesti tercerai berai
Ayah terbinasa, ibu racuni dirinya,
Sampai kita hidup mengandal sanak beraya.
Kita berempat, dunia ketahui semua,
Hanya kita sendiri, tak saling mengenalnya.
How adalah aku, Pa adikku punya nama ... "

Itulah lagu yang sifatnya sedih sekali, tetapi suaranya


tedas dan nyata. Itu adalah suaranya seorang lelaki.
Kiau Liong terperanjat.
"Aneh," pikir ia. "Apakah benar di sini tinggal sembunyi
seorang cerdik pandai? Adakah ia satu penyair?"
Oleh karena penasaran dan pun ingin mendapat tahu,
nona Giok segera manjat terus. Ia sekarang maju sambil
menunggang kudanya.
Dan aneh adalah si binatang tunggangan, ia seperti
berada di tempat yang ia kenal, karena ia bisa naik sambil
berlari congklang. Jalanan yang tak meruncing membantu
banyak binatang ini.
Sebentar kemudian tibalah si nona di atas puncak,
melihat ke depan ia mendapati sebuah lembah yang
tanahnya datar dan rata, di mana pun Kelihatan cahaya api
berkelak-kelik di beberapa tempat, seperti berkelak-keliknya
bintang-bintang di langit. Saking jauhnya tempat itu,
sinarnya bulan tak dapat menolong banyak pada si nona.
Tapi di sebelah itu, nyanyian terdengar pula dengan tedas
sekali.
Kiau Liong dengar pula:
“ ... Duapuluh tahun kemudian, kalau kita bertemuan.
Kita akan balas budi dan dendam, tak ayal-ayalan!"
Tidak tempo lagi, nona ini lantas larikan kudanya turun
ke lembah.
Kuda itu nampaknya ngeri, ia mundur dan mundur pula
sebaliknya daripada maju dan berulang-ulang perdengarkan
suara berbengernya.
Nona Giok loncat turun, ia coba tolak belakangnya
binatang itu, yang ia pun keprak, tetapi binatang ini tetap
tidak mau maju, melainkan mulutnya perdengarkan
suaranya lebih gencar pula, sampai suara itu berkumandang
di dalam lembah dari mana segera terdengar suara
sambutan yang ramai dari binatang sebangsanya di dalam
lembah itu.
Akhir-akhirnya, di antara suara kuda itu pun terdengar
juga suara berisik dari orang disusul dengan menyalanya
sejumlah obor.
Di depannya Kiau Liong ada sebuah batu besar, batu ini
ia dupak dengan kakinya sampai tergerak dan
menggelinding jatuh ke bawah lembah. Menyusul jatulmya
batu itu, ia berseru dengan nyaring:
"Jangan kau naik kemari! Jawab dahulu pertanyaanku!
Apakah namanya ini tempat?"
Jawaban yang dimendapati oleh nona Giok adalah
menyambarnya beberapa batang anak panah, hingga ia
mesti gunakan pedangnya akan sampok itu semua, hingga
tak ada sebatang juga yang bisa mengenai dirinya. Ini bikin
ia jadi sengit, dengan lepaskan cekalannya pada les kuda,
dengan berani ia loncat turun berlari-lari ke bawah, kadang-
kadang dengan loncat sana dan loncat sini di antara batu-
batu besar. Ia tidak membutuhkan banyak tempo akan
sampai di bawah, di mana segerombolan orang segera
bergerak hendak menyerang padanya.
"Awas!" ia membentak dengan bengis sambil
mengancam dengan pedangnya. "Siapa maju akan binasa!"
Orang-orang itu merandek, beberapa di antaranya angkat
naik obor mereka buat melihat dengan terlebih nyata.
“Aha, ini dianya!" tiba-tiba beberapa suara berseru.
"Dialah yang tadi binasakan beberapa saudara kita!"
Mendengar itu, kawanan berandal itu maju pula
menyerang dengan senjata mereka, golok, tombak, toya dan
ruyung!
Kiau Liong tidak menjadi jeri oleh karenanya, ia
menangkis dan balas menyerang hingga suara senjata
beradu jadi berisik terdengarnya. Ia berhasil desak mundur
kawanan itu, setelah mana dengan tiba-tiba ia loncat
mundur.
Hampir berbareng dengan itu, di sebelah belakang dari
kawanan penyamun terdengar seruan yang hebat, atas
mana semua berandal lantas hentikan serangan mereka.
Giok Kiau Liong berdiam sambil memasang mata. Ia
lihat beberapa berandal maju menghampiri, di antaranya,
ada satu yang menegur: "Kau siapa? Apakah benar kau ada
itu orang yang tadi siang membantu rombongan kereta
tentara satrukan pihak kita? Dan sekarang kau datang ke
gunung kita, apa kau mau?"
“Benar, itulah aku adanya!" sahut nona Giok dengan
berani. ”Kau ada kawanan penyamun, di padang pasir
entah berapa banyak orang yang telah menjadi korban-
korban kejahatanmu! Aku datang untuk temui
pemimpinmu, ialah Poan Thian In!"
"Kau mesti terlebih dahulu perkenali dirimu!" kata satu
penyamun.
"Jangan banyak omong!" memotong Kiau Liong seraya
gerakkan pedangnya. "Aku cuma mau temui Poan Thian
In!"
"Baik!" berseru berandal itu. "Kau tunggu sebentar!"
Kiau Liong menunggu dengan waspada, karena sekalian
penyamun sudah lantas kurung padanya, senjata mereka
semua siap sedia. Toh dari sinar matanya, nyata bahwa
mereka ada heran dan kagum, mereka ngeri ...
Belum lama menantikan, Kiau Liong disamperi oleh satu
penyamun.
"Ceecu kita undang kau menghadap padanya!" ia
memberi tahu.
Kiau Liong manggut, sambil tenteng pedangnya ia lantas
ikut penyamun itu yang di belakangnya ada mengikuti
semua berandal. Obor ada di depan dan belakang untuk
menerangi jalanan.
Mereka pergi ke dalam sebuah rumah gubuk yang besar,
di thia situ ada menantikan si kepala penyamun, tetapi ia
rupanya sedang sakit, karena ia duduk menyender atas
kursinya yang beralas dengan selembar kulit biruang hitam.
Di kiri kanannya ada dua orang perempuan yang sedang
melayani ia. Dilihat dari romannya yang jelek, dua orang
perempuan itu rupanya ada orang-orang rampasan dari
kampung. Tay-ong itu tak memakai baju dan badannya
yang kiri dibalut dengan kain hijau. Mukanya sedang
miring ke samping, tak terlihat nyata karena separuh
ketutupan oleh tamburnya yang panjang, sedang brewoknya
pun kusut. Dilihat sepintas lalu ia beroman bengis.
Selagi Kiau Liong mendatangi, kepala penyamun itu
mengawasi, maka melihat potongan tubuh dan
tampangnya, terutama rambut yang bagus dan muka yang
cantik, ia terperanjat sendirinya. Lekas-lekas ia melengos,
agaknya sebagai orang yang kemalu-maluan.
"Lekas pakaikan bajuku," ia kata pada orang perempuan
di sebelahnya
Sementara itu nona Giok telah datang dekat.
"Kau datang padaku, ada urusan apa?" kepala berandal
itu tanya.
"Apakah kau ada Poan Thian In sendiri?" si nona tak
menyahut hanya balik menanya.
"Benar," kepala berandal itu manggut. "Apakah kau
kenal aku?"
"Aku tidak kenal, tetapi aku tahu kau adalah berandal
besar dari Sinkiang!" sahut si nona dengan berani.
"Perjalanan di atas gurun pasir ada sangat sukar, dan
dibikin terlebih sukar lagi dengan adanya gerombolanmu,
hingga kaum saudagar jadi tidak berdaya. Hari ini
kebetulan aku ketemu rombonganmu, aku memangnya niat
membasmi, demikianlah aku terus saja datang kemari!
Adalah maksudku akan menasehati agar kau ubah cara
hidupmu. Apabila kau tetap membantah, pasti aku tidak
akan mengasih ampun, aku akan basmi kau semuanya!"
Mendengar suara kosen itu, Poan Thian In tertawa
menghina.
"Sungguh liehay!" ia kata. "Sudah satu tahun lebih aku
datang ke Sinkiang ini, aku tak sangka bahwa di sini ada
seorang perempuan yang begini galak sebagai kau! Sayang
aku sedang sakit, tadi aku tidak turut keluar, jikalau tidak,
tentulah di antara angin dan pasir hebat tadi, aku telah
coba-coba padamu! Tapi kau telah datang kemari, kita
boleh bicara secara baik. Sekarang aku hendak ketahui dulu
she dan namamu dan asal orang mana?"
Kiau Liong melotot mengawasi kepala berandal itu.
"Apa perlunya kau ketahui she dan namaku?" ia tanya.
"Jikalau kau suka ubah penghidupanmu, lekas kau
bubarkan semua orangmu ini dan segera angkat kaki dari
sini! Jikalau tidak, awas, jagalah pedangku ini!"
Dan ia tunjukkan Toan-goat kiam yang tajam.
Poan Thian In kembali tertawa.
"Apakah kau kira urusan dapat dibereskan secara
demikian gampang?" ia tanya. "Sedikitnya kau harus
beritahukan dulu she, nama serta asal kampungmu.
Sesudah kau perkenali diri, barulah aku mau bicara lebih
jauh padamu!"
Kiau Liong kena terdesak.
"Aku ada orang she Liong!" ia jawab.
"Apakah kau bukannya orang asal Hoolam?"
Kiau Liong agaknya heran.
“Pergi ke sana pun belum pernah!" ia jawab. "Aku
terlahir di padang pasir, aku hidup di Sinkiang! Sejak masih
kecil aku yakinkan ilmu silat untuk maksud yang suci
murni, guna tolong pada sesamanya yang lemah."
Poan Thian In tertawa secara menghina.
"Secara begini, terang Thian telah antarkan aku satu
isteri yang elok!" ia kata. "Mari, mari kita coba-coba buat
beberapa jurus. Bila aku kalah, aku nanti turut
perkataanmu, dan tidak akan lakukan pula penghidupan
semacam ini! Tetapi bila sebaliknya, jangan harap kau bisa
berlalu pula dari sini, kau mesti jadi nyonya Poan Thian
In!"
Sehabis berkata begitu, tiba-tiba kepala berandal itu
mencelat bangun dari kursinya, dari kolong meja ia sambar
sebatang golok. Gerakannya ini membikin kaget dua orang
perempuan itu, yang lantas pada lari masuk ke kolong meja!
Giok Kiau Liong siap dengan pedangnya.
"Mari!" ia menantang dengan sengit. Ia mundur ke
tempat yang lapang.
Poan Thian In bertindak maju seraya menunjuk pada
orang-orangnya, atas mana semua pengikut itu lantas
undurkan diri keluar dari thia, setelah itu ia loncat pada si
nona, menyerang dengan goloknya.
Kiau Liong lompat minggir akan berkelit, tetapi dengan
pedangnya ia tangkis bacokan, dengan begitu, selanjutnya
berdua mereka lantas saling menyerang.
Kepala berandal ini berbadan kekar laksana harimau,
kumis brewoknya perlihatkan roman bengis, gerak-
gerakannya sebat dan hebat. Di lain pihak si nona, meski
kalah gagah, toh punya kelemasan tubuh dan kesehatan,
yang bisa dipakai melayani keganasan lawan.
Pertempuran baru jalan empat jurus, mendadak Poan
Thian In loncat ke pintu akan terus lari keluar.
Giok Kiau Liong segera memburu, ia agaknya tak mau
kasih kesempatan akan kepala penyamun itu kabur.
Di luar, kawanan penyamun telah merupakan pagar
hidup. Mereka mengurung dengan siap senjata. Belasan
obor ada menerangi sekitar mereka.
"Jangan maju!" kepala berandal itu pesan orang-
orangnya.
Kapan nona Giok sudah sampai di luar, di sini berdua
mereka lanjutkan pertarungan mereka. Sekarang kelihatan
nyata kegagahannya si kepala penyamun.
Melihat kegagahan musuh, nona Giok melawan dengan
tak kalah gesitnya, ia tidak mau gampang-gampang
menyerah kalah, demikian, mereka bertempur dengan hebat
sekali.
Saking kagum, semua berandal bersorak berseru, dengan
begini mereka jadi sekalian bantu mengempos semangat
pemimpinnya.
Kiau Liong berkelahi dengan sebat dan hati-hati, setelah
bertempur lebih daripada tigapuluh jurus, bukannya ia jadi
letih atau lemah, bahkan sebaliknya ia bertambah mantap
dan lebih banyak mendesak.
Juga kepandaian silat dari Poan Thian In tidaklah
rendah, pantas ia telah jadi satu pemimpin penyamun yang
dimalui, yang namanya tersohor. Setiap kali ujung pedang
menusuk atau menyambar, ia bisa tangkis itu dengan
goloknya, atau dengan berkelit ia loloskan diri dari
ancaman bahaya.
Demikian, kembali belasan jurus telah lewat.
Sekarang tertampak nyata yang Giok Kiau Liong ada
penasaran, gerak-gerakannya pedang segera berubah, naik
dan turun, ke kiri dan ke kanan, gesitnya luar biasa.
Saking kagum, semua berandal lantas berhenti berteriak-
teriak dan bertepuk tangan, sebaliknya mereka berdiri
tenegun mengawasi. Belum pernah mereka saksikan
pertempuran sedahsyat ini.
Beberapa jurus masih lewat tatkala kemudian dengan
sekonyong-konyong Poan Thian In lintangkan goloknya
akan menahan satu bacokan yang berbahaya, berbareng
dengan mana ia bergerak mundur seraya berseru: "Tahan!
Sudah cukup, aku kagumi ilmu pedangmu!"
Kiau Liong tahan penyerangannya, dengan mata tajam
ia pandang kepala berandal itu. Ia kendalikan napasnya
yang ada sedikit memburu, karena ia terlalu keluarkan
banyak tenaga.
Di pihak yang lain, Poan Thian In juga awasi si nona
dengan tajam. Orang-orang hendak maju, tetapi dengan
satu gerakan tangan ia bikin mereka itu urungkan niatan
mereka.
"Kau telah mengaku kalah, sekarang lekas kau bubarkan
sekalian pengikutmu ini!" kata si nona. "janganlah kau
tunggu sampai aku gunakan pedangku akan hajar mereka
satu per satu!"
"Nona Liong, jangan kau terlalu jumawa!" kata Poan
Thian In, yang belum lepaskan goloknya. Ia bicara dengan
unjuk senyuman mengejek. "Ini hari aku tidak sanggup
lawan kau bukan karena ilmu golokku kurang sempurna,
tidak, itu hanya disebabkan aku sedang sakit dan belum
sembuh. Tentang ilmu pedangmu, aku telah dapat ketahui
kau ada mendapati warisan sejati dari pihak Bu-tong Pay!
Meski begini, andaikata aku tidak sedang sakit dan lawan
padamu, masih belum dapat dipastikan siapa yang bakal
rubuh!"
Nona Giok kasih dengar tertawa menghina, tetapi ia
diam saja.
"Jangan tertawa saja, nona!" kata Poan Thian In, dengan
suara keras. "Jika aku bukan satu laki-laki sejati, pasti aku
telah titahkan orang-orangku akan kepung kau. Untuk
bekuk kau di sini bukannya pekerjaan sukar!"
"Baiklah!" Kiau Liong menantang. "Hayo, majulah kau
semua!"
"Itu adalah pekerjaan hina!" kata Poan Thian In. "Tidak
nanti Poan Thian In andalkan banyak orang akan menghina
pada seorang perempuan! Tadi aku telah berjanji, bila aku
kalah, aku akan bubarkan orang-orangku, maka ini janji
aku akan buktikan. Besok aku akan bongkar gubuk ini dan
aku pun akan angkat kaki. Dan mulai besok aku akan
bubarkan semua saudaraku dan larang mereka mengganggu
pula keamanan di Sinkiang ini. Tetapi, meskipun begini,
aku masih mau berjanji padamu. Lagi satu tahun lamanya,
atau cepatnya enam bulan, kita nanti bertempur lagi dengan
sepuas-puasnya untuk menetapkan kemenangan ada di
pihak siapa! Sekarang, tolong kau tinggalkan namamu!"
"Aku adalah Liong Kim Coan,” sahut Kiau Liong
dengan getas.
"Baik, Liong siocia!" kata si kepala penyamun, sambil
manggut. "Ini hari aku akan ingat betul namamu. Apakah
kau barangkali masih butuhkan suatu apa? Kuda atau uang?
Bilang saja, semua aku akan sediakan!”
Kiau Liong berpikir dahulu ketika kemudian ia
menyahut: "Aku perlu seekor kuda yang jempolan!"
Poan Thian In manggut.
"Inilah gampang," ia kata. "Kita di sini punya kuda-kuda
pilihan, kau boleh pilih saja! Lainnya apa lagi?"
Nona Giok berdiam, agaknya ia bersangsi.
"Kau bilang bahwa kau hendak ubah kelakuan mulai
besok, inilah aku masih sangsikan," ia bilang kemudian.
“Aku belum puas apabila aku tidak saksikan dengan mata
sendiri. Maka sekarang hayolah kau berikan kamar buat
aku dan sediakan juga makanan dan air minum. Besok,
sesudah melihat kau berlalu, baru aku pun mau berlalu dan
sini. Jikalau tidak ... "
Kepala penyamun itu tertawa.
"Aku tahu, kau tentunya lapar dan dahaga!" ia bilang.
"Ini pun ada sebabnya kenapa aku sudah lekas-lekas
mengaku kalah dan tak ingin bertempur lebih lama, ialah
untuk berikan ketika buat kau dapat beristirahat! ... "
Dengan sebenarnya, walaupun ia sedang sakit dan telah
bertempur begitu lama, Poan Thian ln tak kelihatan
bernapas memburu sebagai si nona.
Mukanya Giok Kiau Liong menjadi merah, ia segera
angkat tangannya yang masih menyekal pedangnya. Akan
tetapi, mendahului gerakannya si nona, dengan tandanya
Poan Thian In telah bikin semua orangnya mundur, hingga
dengan sekejab, obor lenyap separuhnya.
Dan ketika nona kita menoleh, ia mendapati si kepala
penyamun pun lenyap di antara orang-orangnya. Selagi ia
memandang ke sekitarnya, dua orang perempuan yang tadi
melayani Poan Thian In sekarang keluar dan menghampiri
ia, buat undang ia masuk ke dalam, ke sebuah kamar yang
terlebih kecil, yang daun jendelanya tidak ada, yang hanya
teralingkan sepotong kain.
Di dalam kamar ini ada sebuah pembaringan kayu, ada
satu meja yang kakinya miring, di atas meja itu ada satu
ciaktay dengan lilinnya yang menjadi penerangan satu-
satunya bagi kamar itu.
"Silahkan duduk, nona," kata perempuan yang satu,
sedang yang lainnya terus pergi keluar akan kembali
bersama satu theekoan batu dan satu cangkir yang kasar
buatannya.
Kiau Liong sangat berdahaga, lehernya ia rasakan
kering, tetapi ketika si pelayan menyuguhkan teh yang
warnanya hitam campur merah, ia sangsi akan minum itu,
hanya ia perintah si perempuan yang coba terlebih dahulu,
setelah itu barulah ia minum. Dan ia rasakan teh yang enak,
meskipun itu bukan teh wangi jempolan yang biasa ia
minum di gedungnya. Ia minum habis sampai tiga cawan.
Ia tidak usah menunggu terlalu lama, atau satu berandal
datang dengan barang hidangan yang terdiri dari daging
dan arak melulu, sebab di situ tidak ada nasi. Arak ia tak
mau minum, yang ia makan hanya daging, ia ambil
sepotong dan sepotong lagi. Dan ia dahar daging itu dengan
tangannya yang sebelah masih pegangi pedangnya! Daging
apa yang ia dahar itu, ia tak dapat menduganya, daging
kambing atau kerbau, ia dahar terus beberapa potong
karena ia merasa terlalu lapar.
"Kau ada orang-orang macam apa?" ia tanya kedua
pelayan perempuan sambil ia awasi mereka itu, seraya ia
cenderungkan sedikit tubuhnya. "Apakah kau ada dari
keluarga baik-baik yang Poan Thian In rampas atau culik?"
"Bukan!" menyahut dua nyonya itu sambil geleng kepala.
Kemudian yang satunya menambahkan: "Kita datang
dari Kamsiok! Lo toaya adalah yang panggil kita bekerja di
sini, karena kita bisa menyanyi!"
Kiau Liong merasa heran.
"Apakah tadi adalah kau yang menyanyi?" ia tanya.
"Aku dengar nyanyian 'Dunia Suram Guram ... "
"Tadi kita tidak menyanyi," mereka terangkan.
Kembali nona Giok nampaknya heran.
"Poan Thian In ada satu berandal besar," ia kata pula.
"Tempat ini dekat dengan gurun pasir, gunung ini tinggi
dan berbahaya, maka itu, kenapa kau suka datang kemari
akan bekerja di sini?"
"Lo toaya ada banyak uangnya," sahut salah satu
nyonya. "Ia bukannya berandal! Piaraannya ada lebih
daripada seribu ekor kuda! Ia ada seorang yang murah
hatinya dan bukannya seorang jahat!"
Untuk sekian kalinya, Kiau Liong terperanjat, hanya ia
coba tetapkan hati untuk tidak sembarangan kentarakan itu.
Ia ingat sekarang, meski juga romannya bengis tapi dalam
pembicaraannya Phoan Thian In berlaku sopan santun,
malah dengan manis budi, secara laki-laki, sementara ilmu
goloknya ada liehay.
"Apakah ia ada seorang gagah yang terpelajar tinggi yang
nasibnya malang, maka ia jadi terpendam di padang pasir
ini?" akhirnya ia menduga-duga. "Apakah ia menjadi
berandal karena sangat terpaksa?"
Selama itu, Kiau Liong merasa badannya letih. Ia berniat
rebahkan diri di atas pembaringan papan itu, tetapi ia masih
curiga, ia kuatir nanti ada orang jahat yang serbu padanya.
Maka ia paksakan diri akan bangunkan semangatnya.
Sementara itu, di sebelah luar, tidak lagi terdengar suara
berisik seperti semula tadi, apa yang kedengaran hanya
tindakan beberapa kaki atau suara berbengernya kuda.
"Sungguh aku sembrono," pikir nona ini kemudian.
"Cara bagaimana sendirian saja aku merantau kemari?
Benar aku pandai bugee tetapi mereka ada berjumlah besar,
apabila mereka berbareng kepung aku, bagaimana aku bisa
loloskan diri? Poan Thian In berlaku begini hormat dan
sopan, sikapnya ini ada mencurigai ... Apakah ia bukannya
sedang menggunai daya upaya untuk besok satrukan aku?"
Mengingat begini, nona ini lantas loncat bangun, ia
memikir untuk pergi keluar karena kesangsian dan
kecurigaannya itu. Tetapi ...
Segera juga terdengar suara menyanyi:
"Dunia geram suram, menurunkan bencana,
Hingga kita bersaudara, mesti tercerai berai
Ayah terbinasa, ibu racuni dirinya,
Sampai kita hidup mengandal sanak beraya ...”
Itu adalah suara yang ia kenal, suara itu dekat sekali,
kata-katanya terdengar jelas, suaranya berlagu dengan
terlebih bersemangat.
"Siapakah itu yang menyanyi?" ia menoleh seraya tanya
dua orang perempuan yang melayani padanya.
"Itu ada ceecu Poan Titian In ... " sahut salah satu
nyonya, dengan suara seperti berbisik. "Ceecu sering kali
nyanyikan lagu itu ... "
Kiau Liong heran, ia tak dapat membade.
"Di sini ia ada punya saudara, engko dan adik
perempuan?" tanya ia.
"Tidak!" sahut orang yang ditanya.
"Nah, kenapa ia berdiam sendirian?" ia tanya pula.
"Kenapa ia menjadi berandal? Kenapa ia piara rambutnya
dan kumis jenggot begitu panjang? Kenapa romannya ada
demikian bengis?"
Dua perempuan yang ditanya itu geleng-geleng kepala
mereka.
"Kita tidak tahu," mereka menyahut.
Di luar kembali terdengar suaranya kuda yang berisik
disusul dengan suara bicara dari sejumlah orang.
Tidak tempo lagi, sekarang Kiau Liong bertindak keluar.
Di antara sinarnya Puteri Malam, ia lihat orang sedang
repot menyiapkan barang-barang atau buntalan serta kuda.
Dan di antara suara berisik dari banyak orang itu samar-
samar ia dengar nyanyian:
”Hou adalah aku, Pa nama adikku … "
"He, rombongan berandal, apa lagi yang kau hendak
kerjakan sekarang?" Kiau Liong menegur dan menghampiri
lebih dekat kepada mereka.
Pertanyaan ini tidak ada yang sahuti, hanya mereka itu
pada tertawa, kemudian dengan menunggang kuda mereka
berlalu, meninggalkan lembah mereka. Maka sekarang
terdengarlah berisiknya tindakan kaki kuda, yang semakin
lama terdengar semakin jauh, hingga kemudian lembah
menjadi sunyi.
Suara nyanyian pun berhenti, entah ke mana parannya ...
Dengan menenteng terus pedangnya, Kiau Liong
bertindak mencari orang. Ia dapat kenyataan di tempat itu
sekarang orang telah berkurang banyak. Ia cekuk seorang
yang ia ketemukan.
"Ke mana perginya itu semua orang tadi?" ia tanya
dengan bengis sambil mengancam dengan pedangnya.
"Mereka semua berlalu meninggalkan ini gunung," sahut
orang yang ditanya itu, "Ceecu bilang bahwa kau ada satu
liehiapkek, seorang perempuan gagah yang budiman,
karena kau inginkan kita bubar. Kita sekarang tidak mau
tinggal lebih lama pula di sini. Ceecu telah berangkat lebih
dahulu dengan ajak mereka itu, maka besok, sehabisnya
kita bongkar gubuk di sini, kita juga mau berangkat akan
menyusul mereka!"
Kiau Liong terperanjat dengan berbareng menjadi gusar.
"Aku perintah mereka ubah cara hidupnya menjadi
orang baik-baik!" ia berseru. "Siapa perintah kau pindah ke
lain tempat untuk di sana melakukan kejahatan pula? Lekas
siapkan seekor kuda, aku hendak susul mereka itu, aku
hendak tanya Poan Thian In."
Di bawah paksaan, laskar berandal itu telah sediakan
kuda yang diminta, maka dengan menunggang kuda itu
Giok Kiau Liong terus kabur keluar dari lembah itu, ia telah
mesti lewatkan dahulu jalanan yang sukar, baru ia sampai
di tanah datar. Di sini ia simpan pedangnya ke dalam
sarungnya, lantas ia kaburkan lebih jauh kudanya akan
susul rombongannya Poan Thian In.
Tatkala itu bulan dan bintang-bintang ada guram, angin
meniup-niup pula dengan pasirnya yang berhamburan,
dengan lawan itu Kiau Liong kaburkan terus kudanya,
tetapi orang rupanya telah pergi jauh, ia tak dapat
menyandaknya. Maka akhirnya, ia tahan kudanya. Ia
merasa sebagai juga ia sedang mimpi.
"Benar-benar Poan Thian In ada seorang berandal yang
aneh ... " berpikir ia.
Sesudah berdiam sekian lama, Kiau Liong lantas ambil
putusan lain. Ia tak ingin kembali ke lembah, ia tak hendak
susul Poan Thian In lebih jauh, si Awan di Tengah Langit.
Ia kasih kudanya berjalan dengan tak bertujuan, sedang
sang malam ada suram.
Dalam keadaan sebagai itu, nona ini lantas ingat pada
perbuatannya di waktu ia berumur sebelas tahun, ketika
gurunya tinggalkan ia pergi dengan padanya dititipkan itu
peti dalam mana ada tersimpan dua kitab yang berharga:
"Butong Kun Kiam Coa Sie", kitab pelajaran ilmu silat dan
pedang dari Butong Pay. Di luar tahu gurunya ia sudah
buka peti itu dan baca isinya buku, akan terus yakinkan itu
sambil catat bagian-bagian yang terahasia. Ia pelajarkan
sendiri di luar tahu gurunya. Ia telah berlaku begitu teliti,
sampaipun sang guru tak ketahui yang petinya telah dibuka
dan isinya dicuri baca.
Sudah enam atau tujuh tahun Giok Kiau Liong melatih
diri sampai pada tadi siang untuk pertama kali ia coba
kepandaiannya dengan berkesudahan ia sanggup pukul
mundur dan rusak pada kawanan berandal Poan Thian In,
sedang tadi baru saja ia bikin keok pada Poan Thian In
sendiri, hingga ia jadi merasa sangat girang dan puas,
karena ia beranggapan bahwa dirinya sudah tak ada
tandingannya lagi.
Tentu saja Kho Long Ciu sendiri tak ketahui
kepandaiannya murid yang cerdik ini.
"Aku telah punyakan kepandaian yang tinggi, kenapa
aku tidak mau lakukan sesuatu yang menggemparkan?"
demikian si nona ngelamun terlebih jauh. "Kenapa aku
mesti siksa diri mengeram di dalam kamar saja?"
Ini pun ada pikiran yang menyebabkan ia sengaja
tinggalkan rombongannya.
Memikir demikian, yang bikin ia girang tak kepalang,
Kiau Liong menjadi lupa penat dan ngantuk, ia kasih lari
kudanya lebih jauh, sampai sesudah melewatkan banyak lie,
ia mendapati munculnya cuaca pagi. Sang fajar telah mulai
perlihatkan diri dari jurusan timur, hingga selanjutnya nona
ini mendapat tahu bahwa ia sedang menuju ke arah barat.
Tanah tambah luas dengan tanah datar yang berumput.
Di empat penjuru tidak kelihatan bukit atau gunung, hanya
samar-samar ada terdengar suaranya kuda. Maka dengan
perhatikan suara kuda itu, si nona kasih kudanya berjalan
terus, tidak terlalu lama ia telah tiba di suatu tempat di
mana ada kedapatan serombongan dari ribuan ekor atau
lebih yang sedang asyik geragoti rumput yang hijau ...
"Ini adalah suatu pusat pemeliharaan kuda," pikir si
nona. Ia pun dapat lihat tenda putih dari suatu kemah yang
berdiri sedikit jauh dari tempat di mana ia tahan kudanya.
Karena ia merasa dahaga, maka ia kedut lesnya akan kasih
kudanya lari ke jurusan kemah itu. Ia telah mesti gunakan
cambuknya akan membuka jalan di antara rombongan kuda
itu.
“Itulah tentu ada kemahnya seorang Mongol," pikir Kiau
Liong selagi ia mendekati tenda itu.
Di saat ia hampir sampai di muka kemah, dari dalam situ
muncul satu orang perempuan muda dengan baju pendek
yang berkembang, kakinya ditutup dengan sepatu dari kulit
kuda, dengan rambutnya dikepang menjadi dua cacing
seperti cacingnya sendiri. Ia lihat perempuan itu berumur
sedikit lebih tinggi daripada umurnya sendiri. Nona itu ada
berkulit putih meletak, hidungnya mancung.
"Dia tentu ada satu nona Kozak," pikir ia, yang tenis saja
angkat tangannya untuk mengasih tanda, atas mana nona
itu lantas menghampiri, yang segera menegur dalam bahasa
Kozak. Atas ini ia geleng kepala.
"Aku tidak mengerti," ia kasih tahu.
Rupanya nona itu ketahui yang ia berhadapan dengan
seorang Han, maka ia lantas menanya pula dalam bahasa
Tionghoa: "Dari mana kau datang?"
Itu adalah suara yang lancar dan bagus, hingga Kiau
Liong menjadi kagum. Ia loncat turun dari kudanya, ia
tertawa pada nona itu.
"Aku sangat haus," ia memberi tahu. "Apa kau punya air
untuk aku minum?"
"Ada," sahut nona itu sambil manggut. Tapi ia
mendekati, untuk pandang kuda tetamunya, yang
nampaknya sangat menarik perhatiannya, sampaikan ia
agak tak sudi omong lebih banyak lagi ...
Kiau Liong tarik palangnya tetapi ini pun tidak
membikin kaget pada nona Kozak itu, dengan kedua
tangannya ia buka mulut kudanya Kiau Liong bagaikan ia
hendak menghitung gigi kuda itu.
"Bukankah kau ada orang Kozak?" tanya Kiau Liong
seraya tepuk pundaknya nona Kozak.
Nona itu manggut.
"Dan kau bisa omong Tionghoa baik sekali?" kata pula
nona kita.
"Itulah sebab aku sering turut ayah pergi berdagang di
Ielee," sahut nona asing itu. "Bahasa apa pun aku mengerti
... "
Meskipun ia menyahut demikian, si nona tetap
perhatikan kudanya.
"Marilah!" kata Kiau Liong kemudian.
Baru sekarang si nona Kozak tinggalkan kuda dan ajak
tetamunya pergi masuk ke dalam kemahnya yang terbikin
dari bulu kuda, bentuknya bundar, nampaknya tidak tinggi,
tetapi satu kali orang masuk ke dalam, rasanya ada tinggi
dan lebar. Inilah disebabkan tanahnya digali dalam dan
dibikin rata, lalu dialaskan permadani. Orang dan segala
barang duduknya di atas permadani itu. Begitulah ada
"rumahnya" orang Kozak yang hidup dalam
penggembalaan berpindah-pindah.
Kapan Kiau Liong sampai di dalam, ia lihat di situ ada
berduduk seorang perempuan tua, siapa tidak bisa bicara
Tionghoa, sebagaimana ia cuma bisa mengawasi saja.
"Inilah ibuku," si nona Kozak memperkenali.
Kiau Liong unjuk hormat pada nyonya itu, kemudian ia
berduduk sambil bersila.
Nona Kozak itu sudah lantas menyuguhkan teh,
cangkirnya ada terbikin dari kayu, tehnya bukan teh biasa
hanya susu kuda yang ada bersari asam. Teh begini tidak
cocok bagi nona kita.
"Eh, kenapa kau tidak ikat kecil kakimu?" tanya si nona
Kozak, yang pegang-pegang sepatunya Kiau Liong yang
indah.
"Aku ada golongan kiejin," sahut Kiau Liong. "Orang
perempuan kiejin ada sama dengan bangsamu, ialah tidak
mengikat kaki. Dan apa namamu?"
Nona itu sebutkan namanya, yang dalam bahasa
Tionghoa berarti "Bie Hee" atau sinar layung yang indah.
"Dan kau, nona?" ia balik menanya.
Kiau Liong perkenali diri sebagai seorang she Liong,
bahwa sendirian saja ia mau pergi ke Ielee (Illi).
Agaknya Bie Hee ada sangat ketarik pada nona tetamu
ini.
"Mari," ia kata seraya mengajak keluar. Di sini ia
menunjuk pada rombongan kuda. "Dua laksa ekor kuda itu
ada kepunyaan keluargaku. Ayahku ada satu saudagar
besar dan kepala juga dari seratus keluarga. Sekarang ini
akan dibikin perlombaan kuda dan karena itu ayah telah
pergi untuk membikin persiapan. Kau telah datang dengan
menunggang kuda, bagaimana kalau kita berdua
mendahului akan coba berlomba? Nanti, lagi dua hari, aku
akan ajak kau menyaksikan pacuan kuda itu! Akurkah
kau?"
Kiau Liong geleng kepala.
"Sejak kemarin aku menunggang kuda satu hari terus,
sekarang aku sangat penat lelah," ia bilang. "Aku tidak bisa
berlomba denganmu ...”
Bie Hee tertawa, ia hampiri kudanya nona Giok ke atas
mana ia terus loncat naik, sesudah mana, kuda itu ia kasih
lari terputar-putar di muka kemah itu. Selagi ia dekati Kiau
Liong, ia tertawa, setelah itu, ia kasih kuda itu lari jauh,
semakin jauh, hingga kuda dan orang jadi tertampak kecil,
seperti satu titik saja ...
Kiau Liong tidak kuatir kudanya dibawa kabur,
sebaliknya hatinya jadi gembira. Ia awasi itu rombongan
kuda, akhirnya ia jadi tertarik. Ia pilih satu di antaranya
yang berbulu hitam yang ia segera naiki.
Itu adalah seekor kuda yang belum pernah dipakai dan
sangat binal, maka kuda itu terus berjingkrakan. Tapi Kiau
Liong ada satu penunggang kuda yang ulung, meskipun ia
tidak pakai les dan sela, ia toh bisa berkuasa atas kuda itu,
ia jepit perutnya dengan kedua kakinya, dan menjambak
keras bulu surinya. Dan ketika kuda itu ditepuk kepalanya,
ia segera lari kabur ke jurusan ke mana si nona Kozak tadi
pergi. Tapi ia lari belum jauh, si nona Kozak segera
tertampak sedang mendatangi.
Nona rumah terperanjat waktu ia lihat tetamunya naiki
kuda hitam itu.
"Jangan, jangan naiki kuda itu!" ia berteriak. "Itu ada
kuda nakal!"
Kiau Liong tidak gubris pemberian ingat itu, malah
dengan sebat ia sambar cambuk dari tangannya Bie Hee,
dengan itu ia hajar kudanya, hingga kuda itu terus kabur
dengan terlebih hebat.
Sebentar saja dua atau tigapuluh lie telah dikasih lewat,
ketika Kiau Liong menoleh, ia lihat rombongan kuda
sebagai sekumpulan binatang kecil. Sekarang ia tahan
kudanya buat diputar balik, tetapi apa mau, bulunya
binatang itu rontok, binatangnya sendiri loncat berjingkrak,
maka tidak tempo lagi Kiau Liong terlempar jatuh. Benar ia
jatuh atas rumput yang tebal, tetapi ia toh terbanting dengan
tak berdaya, dari itu tidak heran kalau ia rasakan matanya
gelap dan kepalanya pusing, hingga ia mesti rebah dengan
tak ingat apa-apa ...
Entah berselang berapa lama, baru Kiau Liong sadar
akan dirinya, ia merayap bangun, akan lompat berdiri.
Tetapi ia rasakan kepalanya berat, percuma ia berdaya, ia
terpaksa mesti rebah pula.
Di antara rumput yang gemuk, angin meniup-niup
dengan hawanya yang sejuk. Rasa sejuk ada baiknya bagi si
nona, yang perlahan-lahan jadi merasa segar. Ia melihat
langit, yang bersih, tetapi tak dapat dengar suaranya kuda.
Kuda hitamnya sendiri sudah kabur sejak ia kena dibikin
terlempar jatuh. Di situ pun tidak ada lain orang.
Berselang pula sekian lama, Kiau Liong coba bangun
akan duduk di atas rumput. Nyata kedua tangannya telah
terluka dan berdarah terkena tusukannya rumput yang
kaku. Dan ketika ia raba kepalanya, ia dapat raba barang
cair yang kental dan melekat pada rambutnya. Dan itu
adalah darah yang sudah beku! Maka ia mendapat tahu
bahwa ia telah terbanting dan kepalanya terkena tanah dan
luka sedikit.
"Celaka ... " pikir ia dengan masgul.
Dengan paksakan diri nona Giok lantas berbangkit. Ia
memandang ke sekitarnya, ia tampak hanya lautan rumput
yang seperti tidak ada ujung pangkalnya. Dan rumput itu
rebah bangun dengan teratur terkena sampokannya angin.
Di udara ada terlihat juga burung-burung yang terbang.
Dengan pengikat kepalanya, Kiau Liong seka darah di
tangannya, kemudian setindak demi setindak ia berjalan
pergi. Niatannya adalah mencari kemahnya si nona Kozak.
Apamau ia sukar berjalan, karena kedua kakinya pun ia
rasakan sakit. Ia menjadi bingung, sebab ia merasa pasti
padang rumput mestinya ada ratusan lie luasnya.
"Ke mana aku mesti cari kemahnya si nona?" ia berpikir.
Ia sudah jalan lama tetapi ia dapat kenyataan yang ia belum
terpisah jauh dari tempat di mana ia rubuh. Ia jalan sangat
perlahan.
"Padang ini ada sebagai gurun pasir saja, aku pun bisa
mati karena dahaga dan kelaparan di sini ... " ia berpikir,
dengan hati ciut. Ia bisa berlari keras tetapi sekarang dua-
dua kakinya sakit, jangankan lari atau lompat, jalan cepat
saja ia tak mampu Dengan meringis menahan sakit ia paksa
bertindak terus ...
Sampai matahari mulai doyong ke arah barat, masih
Kiau Liong belum bisa lewati padang rumput, masih ia
belum ketemui kemah atau orang. Ia sekarang merasa lapar,
dan berdahaga juga, sedang kedua kakinya sakit bukan
main, hingga sangat terpaksa ia rebahkan diri di atas
rumput. Beberapa kali ia menghela napas.
Dengan lambat laun, cahaya langit bersorot merah, dan
di tengah udara serombongan gagak terbang lewat sambil
kadang-kadang perdengarkan suaranya yang tak sedap
didengarnya. Angin malam kemudian telah menyusul
menghembus-hembus.
Melihat datangnya sang magrib, Kiau Liong bingung tak
kepalang. Ia pun rasakan seperti tenaganya habis, hingga ia
lantas picingkan kedua matanya.
Tiba-tiba dari kejauhan ada terdengar suara tindakan
kuda. Kiau Liong terperanjat, ia segera berbangkit. Sambil
duduk ia mengawasi ke jurusan dari mana suara tindakan
kaki kuda terdengar. Di antara cuaca yang remang-remang
ia lantas lihat beberapa ekor kuda sedang lari mendatangi.
Penglihatan ini bikin semangatnya terbangun, karena
sekarang harapannya timbul.
"Tolong!" ia berteriak, apabila ia lihat beberapa ekor
kuda itu sudah datang lebih dekat.
Suaranya itu dapat didengar, karena beberapa ekor kuda
itu, yang ada penunggangnya, lantas menindak, dan
penunggangnya mengawasi ke tempat dari mana suara
datang. Kemudian, semua mereka lantas menghampiri.
"Aku di sini!" Kiau Liong berseru pula.
"Oh, kiranya siocia di sini!" berseru beberapa orang itu.
"Kita justru sedang cari kau, siocia!"
Kiau Liong melengak. Ia dapat kenyataan, orang-orang
itu berdandan sebagai serdadu-serdadu ayahnya, antaranya
ada satu punggawa yang kepalanya pakai kopiah kebesaran
dan tubuhnya tertutup jubah hijau yang gerombongan.
Kapan punggawa itu sudah loncat turun dari kudanya,
Kiau Liong awasi padanya. Dia ada bertubuh tinggi dan
besar, mukanya hitam, sepasang matanya bersinar tajam,
tidak berkumis atau jenggot, mukanya tercukur licin. Ia
seperti kenali punggawa ini tetapi ia tidak ingat she dan
namanya, tetapi ia merasa pasti bahwa orang itu bukan
pegawai ayahnya. Ia lantas mundur.
"Kau datang dari mana?" ia lantas tanya.
"Kita datang dari Peksee kang," sahut punggawa itu.
"Ketika kemarin siocia lenyap selagi angin besar, thaythay
jadi sangat bingung dan kuatir, maka kita lantas diperintah
cari siocia buat diajak pulang. Di padang pasir, di padang
rumput, kita cari siocia sudah seharian penuh. Silahkan
siocia turut kita!"
Kiau Liong mau percaya keterangan itu, akan tetapi
ketika ia awasi yang lain-lain, ia jadi tercengang. Bersama
itu punggawa ada datang tiga serdadu, tetapi sekarang
semua serdadu itu pada putar kuda mereka dikasih lari
menuju ke utara.
"Eh, kenapa mereka itu pada pergi?" ia tanya.
“Mereka bukannya rombonganku," kata si punggawa.
"Mereka ada serdadu-serdadu yang mesti pergi ke Seekie
koan, tadi kita ketemu di tengah jalan secara kebetulan saja.
Thaythay cuma perintah aku seorang. Sekarang ini
thaythay dan rombongannya berada di Peksee kang, tidak
jauh dari sini. Silahkan siocia turut aku "
Kesangsiannya Kiau Liong menjadi bertambah, apapula
kapan ia lihat di selanya punggawa itu ada tergantung satu
buntalan cita merah, yang ia rasanya kenal. Itu ada salah
satu buntalannya, yang ia perintah Siu Hiang bawa.
Dengan tidak kata apa-apa, dengan air muka tak
berubah, nona ini lantas awasi itu punggawa, siapa
sebaliknya sudah lantas tunduk.
Buat sedetik, Kiau Liong tercengang, tetapi segera ia
samperi kuda dan naik ke atasnya, atas mana itu punggawa,
dengan memegang les kuda, bertindak melewatkan kuda
itu.
Matahari sore telah menyinari mereka ini pada
punggung mereka. Punggawa itu jalan sebagai penunjuk
jalan dengan tindakan perlahan, dan Kiau Liong pun kasih
kudanya jalan perlahan sekali. Sembari jalan, nona ini terus
mengawasi orang, hingga ia dapat kenyataan, kopiahnya itu
punggawa ada tak pas pada kepalanya dan bajunya juga ada
gerombongan.
"Kau she apa?" tiba-tiba ia tanya.
"Aku she Lo," sahut itu punggawa, dengan tak menoleh.
"Orang panggil aku Lo cheekhoa. Aku turut siocia sama-
sama dari Cieboat. Mustahil siocia tidak kenali aku?"
"Mana aku kenal semua punggawa dalam tangsi?" nona
ini baliki.
Punggawa itu berdiam, ia jalan terus.
Di dalam hatinya, Kiau Liong tertawa mengejek, tetapi,
memandang tubuhnya yang kekar, diam-diam ia merasa
girang.
Itu punggawa berjalan dengan sudah tak pegangi lagi les
kuda, maka Kiau Liong bisa berkuasa atas binatang
tunggangannya itu. Begitu, dengan tiba-tiba, ia kasih maju
kudanya sampai ia lewatkan itu punggawa, di depan siapa,
tiba-tiba ia tahan kuda itu seraya ia menoleh, akan
mengawasi muka orang.
Cuaca masih terang, itu punggawa pun tak menyangka,
maka tampang mukanya bisa terlihat dengan nyata.
Di matanya Kiau Liong, punggawa ini baru berumur dua
puluh lebih, romannya cakap ganteng. Ia rasanya kenal ini
orang, tetapi ia tak tahu, di mana ia orang pernah bertemu
satu pada lain. Maka sendirinya, air mukanya menjadi
merah. Toh ia tetap berpikir, oleh karena kecurigaannya.
Punggawa ske Lo itu tertawa kapan ia lihat tingkah
lakunya si nona.
"Kita semua tak ketahui bahwa siocia ada berkepandaian
tinggi," ia kata.
"Siapa omong itu pada kau?" Kiau Liong tanya. "Jikalau
aku benar punya kepandaian, mustahil aku rubuh dengan
begini parah? Sudah, kau jangan ngobrol saja, hayo antar
aku ke Peksee kang!"
"Tetapi, siocia," kata punggawa itu, seraya maju
menghampiri, "hari ini kita tidak bakalan sampai ke Peksee
kang ... "
"Habis, apa kita mesti rebah tidur di atas rumput, di
udara terbuka sebagai ini?" si nona balik menanya. "Kau
tunjuki aku jurusannya Peksee kang, aku bisa pergi sendiri
ke sana!"
"Cuaca sudah mulai gelap, siocia," punggawa itu kata
pula. "Taruh kata aku beritahukan siocia jurusannya itu
tempat, pasti nona tidak bakal keburu sampai di sana.
Umpama siocia kesasar, habis bagaimana aku mesti
melaporkannya kepada thaythay? Tidak jauh dari sini ada
sebuah kampung, aku hendak antar siocia ke sana untuk
bermalam, besok pagi baru kita susul thaythay...."
"Aku tak sangka bahwa kau kenal baik keadaan tempat
ini!" kata nona itu.
“Harap siocia jangan heran, tempat ini biasa aku
lewatkan. Semua surat-surat dinas untuk Ielee adalah aku
yang biasa antarkan," punggawa itu kasih keterangan.
Kiau Liong manggut. Jawaban itu ada tepat dan
beralasan. "Apakah kau ketahui tayjin pergi ke mana?'"
kemudian tanya pula.
"Bukankah tayjin pulang ke Pakkhia?" si punggawa
baliki.
Mau atau tidak, nona Giok mesti percaya punggawa ini,
ia sangsikan kecurigaannya barusan. Demikian ia kasih
jalan kudanya, dengan ikuti si anak muda.
Langit jadi semakin gelap dan gelap, dan sang bintang,
dengan rembulan sisa, mulai pencarkan sinarnya yang
lemah. Angin malam meniup-niup, sampai Kiau Liong
merasai keletihan tubuhnya.
Sekian lama mereka berjalan, akhir-akhirnya mereka
sampai dalam sebuah kampung yang terdiri dari belasan
rumah. Di situ ada dipelihara anjing, karena binatang itu
terus menggonggong apabila dua orang asing ini dan
kudanya mulai masuk ke dalam bilangan kampung itu.
Punggawa she Lo itu menghampiri sebuah rumah, yang
pintunya ia terus tolak, akan ia masuk ke dalam
pekarangan, maka tidak lama kemudian, muncullah satu
petani tua, yang tangannya menenteng lentera, yang
mengundang masuk.
Kiau Liong bawa kudanya masuk ke dalam pekarangan,
di sini ia loncat turun, dengan tenteng buntalan, yang ia
jumput dari atas kuda, ia bertindak masuk mengikuti tuan
rumah itu.
Di dalam tidak ada lain orang, si petani letakkan
lenteranya di atas meja.
Si orang she Lo masuk belakangan, rupanya ia habis
tambat kuda. "Ada makanan apa di sini?" ia tanya "Tolong
lekas sajikan!"
"Baik, baik!" menyahut si orang tua, agaknya ia sangat
ketakutan. Ia berlalu dengan lekas.
Kiau Liong bikin lentera menjadi terang, atas mana,
punggawa itu lekas menoleh ke lain jurusan.
"Di dalam itu ada pakaian siocia," ia kata, seraya
menunjuk buntalan. "Sudah dua hari siocia tidak kembali,
thaythay kuatir pakaian kau sudah kotor, dari itu ia
perintah aku bawa ini buntalan, untuk siocia salin!"
Kiau Liong bertindak, akan mendekati, tetapi punggawa
itu mundur ke samping, mukanya terus dibikin teraling dari
sinar api.
Kiau Liong buka itu buntalan, ia dapati isinya benar ada
pakaiannya sendiri. Cuma di situ tidak ada sepatu dan kaus
kaki. Ia berpaling, akan awasi pula punggawa itu, yang
tidak lantas undurkan diri dengan pergi ke luar.
"Sekarang pergilah kau keluar!" ia kata, dengan suaranya
satu nona majikan. "Jikalau aku tidak panggil, jangan kau
datang kemari!"
Orang she Lo itu menyahuti, "ya," lantas ia berlalu.
Lantas Kiau Liong duduk di atas pembaringan,
pikirannya bekerja. Tiba-tiba ia dapat gangguan dari
tangisannya satu anak kecil, yang bersuara dua kali, lantas
berhenti, sebagai juga ada orang menekap mulutnya.
Kemudian terdengar hanya tangisan perlahan sekali.
Dengan kecurigaan, Kiau Liong menghampiri bilik
papan, akan pasang kuping. Di sini ia dengar terang, anak
itu hendak menangis tetapi batal.
"Jangan nangis! Kalau kau nangis, kau binasa!" demikian
terdengar suaranya seorang perempuan, suara ancaman
yang tertekan.
Kiau Liong merasa heran, tetapi ia lekas kembali ke
pembaringannya.
Dari luar rumah terdengar suara kuda berbenger, dan
dari luar jendela terdengar suara helaan napas berat dari
orang lelaki.
Diam-diam nona Giok tersenyum tawar.
Tidak berselang lama, pintu kamar dibuka dari luar dan
si orang tani datang dengan membawa tehkoan teh, sepiring
garam, sepotong kue dan bubur yang mana ia terus atur di
atas meja.
Kiau Liong turun dari pembaringan selagi orang bekerja,
di saat orang itu sudah selesai, tiba-tiba ia menghampiri,
akan cekal lengannya.
"Apakah kau telah kenal lama orang she Lo itu?" ia
tanya, dengan perlahan, tetapi suaranya berpengaruh.
"Apakah kau takuti ia?"
Matanya petani tua itu mendelong, kumis dan
jenggotnya bergerak-gerak. Ia tidak jawab itu pertanyaan.
Sementara itu, daun pintu terbuka renggang dan di
depan pintu berdiri si orang she Lo.
"Sekarang pergilah kau keluar!" kata Kiau Liong, dengan
suara nyaring. "Kalau nanti aku sudah pulang, aku nanti
kirim orang untuk membalas kebaikanmu ini!"
Orang tua itu tetap bungkam, ia terus ngeloyor keluar.
Kiau Liong turut bertindak ke pintu, untuk menutup
pintu itu sekeluarnya si petani tua, tetapi berbareng dengan
itu ia melihat keluar di mana cuaca ada gelap. Si orang she
Lo sudah tidak berada lagi di depan pintu.
Tatkala si nona rapati pintu, ia dapat kenyataan kunci
cuma sebatang sorok, hingga pintu itu tidak bisa dikunci
dengan kuat, sedang di dalam kamar itu tidak ada benda
apa juga yang bisa dipakai menapai atau mengganjal pintu.
Bertindak ke meja, nona ini dahar sepotong kue,
kemudian ia padamkan api, meraba pembaringan, di situ ia
terus rebahkan diri. Ia rebah sambil pasang kuping. Ia tidak
usah menunggu lama, akan dengar suara helaan napas yang
berat di luar jendela.
Lekas-lekas ia berpura-pura menggeros.
Lewat pula sekian lama, tiba-tiba terdengar pintu
berkelotekan. Kiau Liong terperanjat, tetapi ia diam saja,
melainkan matanya mengawasi. Ia rebah miring tangan kiri
menandai pembaringan, tangan kanan siap dengan dua
jeriji telunjuk dari tengah. Ia terus perdengarkan suara
mengoroknya.
Daun pintu telah terbuka dan tertutup pula, setelah mana
di muka pembaringan ada berdiri seorang dengan tubuh
besar dan tinggi, tangannya seperti ada menyekal suatu apa,
yang mana dengan hati-hati dia letaki di atas pembaringan,
kemudian tangan itu dipakai meraba dan mengusap-usap
rambutnya si nona.
Dengan tiba-tiba Kiau Liong geraki tubuhnya loncat
bangun dan berduduk, sedang tangan kanannya, dengan
dua jarinya, menotok tubuhnya orang. Tapi orang itu
menangkis dengan cepat, karena mana, si nona terus loncat
turun seraya membarengkan menyerang pula.
"Jangan, jangan menyerang, aku tidak bermaksud jahat!"
kata itu orang, yang gerakannya sebat luar biasa, sebab
begitu berkelit dari serangan, ia bisa menubruk dan coba
bikin tak berdaya tangannya si nona.
"Kau tidak bermaksud jahat?" menegur nona Giok.
"Jangan kira aku tidak tahu siapa kau ada!" Sambil
mengucap demikian, Kiau Liong geraki kakinya, menjejak,
hingga orang itu seloyongan di depan ia.
"Benar-benar aku tidak bermaksud jahat!" kata pula
orang itu, yang tidak melakukan penyerangan membalas.
"Jikalau aku berpikiran lain tentu sejak di tempat sunyi, aku
sudah culik pada kau! Mustahil aku mau tunggu sampai aku
antar kau kemari ... Jikalau kau tidak percaya aku, coba
lihat!"
Dengan cepat orang ini keluarkan bahan api dan
nyalakan itu, untuk dipakai menyuluhi ke atas
pembaringan.
"Lihatlah itu!" ia kata.
Kiau Liong lihat sebatang pedang dan sebungkus uang di
atas pembaringannya, meski demikian, ia toh tidak segera
lepaskan kedua lengannya orang, yang ia tadi telah sambar
dan cekal.
"Kau toh Poan Thian In?" ia tanya. "Kenapa kau
pedayakan aku dengan kau menyamar sebagai punggawa
negeri? Dari mana kau mendapati bungkusan pakaianku
itu? Apa maksud kau maka tengah malam buta rata, secara
diam-diam ini, kau antarkan aku ini pedang dan uang?
Lekas terangkan!"
Sementara itu, Kiau Liong pun lihat orang itu ada
memakai ikat pinggang hijau di mana ada menyelip
sebatang golok kangtoo yang panjangnya tidak ada dua
kaki, maka dengan sebat luar biasa, ia sambar dan cabut
golok itu, hingga segeralah terdengar satu suara nyaring,
dari gelang-gelangan pada gagangnya golok! Goloknya
sendiri pun berkelebat bersinar.
Atas itu, itu orang segera ulapkan tangannya.
"Hati-hati!" ia peringati. "Golok itu tajam luar biasa,
nanti tanganmu terluka!"
Kiau Liong angkat tangannya yang menyekal golok itu,
dengan itu senjata ia ancam dadanya orang.
Orang itu tidak unjuki roman takut, bajunya malah
terbuka kancingnya, hingga kelihaian dadanya. Dengan
tenang ia menoleh, ia geraki tubuhnya, buat nyalakan api di
meja.
"Jangan gusar, siocia," ia bilang. "Kau dengarlah
keteranganku."
Kiau Liong berdiam, ia mengawasi terus.
"Dengan sebenarnya aku ada Poan Thian In Lo Siau
Hou," kata pula pemuda itu, yang menyamar sebagai
punggawanya Giok tayjin. "Siocia telah datang ke sarangku
di dalam lembah, aku dapat kenyataan, kecuali cantik, kau
pun gagah, maka aku jadi ingin cari tahu tentang asal-usul
kau. Aku percaya siocia tidak nanti mau cerita jikalau aku
menanyakan kau, dari itu, aku lantas berdaya upaya sendiri.
Dengan ajak sejumlah orangku, malam-malam juga aku
berangkat ke Peksee kang. Di sana ada bersanggerah
serombongan kereta pembesar negeri, di sana aku dapat
keterangan hal lenyapnya Giok siocia selama terjadi
penyerbuan rombongan begal. Dari keterangan ini, aku
mendapat tahu siapa adanya siocia, maka sengaja, dari
kereta keluarga, aku curi buntalan ini. Kita lantas datang
kemari, dengan pakai pakaian yang kita dapat rampas. Aku
ada bawa tiga pengikut. Dari satu nona Kozak aku dapat
tahu siocia telah pergi dengan menunggang kuda, bahwa
selagi kudanya kembali, kau tidak turut muncul. Nona
Kozak itu kuatir siocia dapat celaka. Aku pun berkuatir,
maka kita segera mencari, berputar-putar, sampai setengah
harian. Aku kuatir siocia menyangka jelek, maka tiga
orangku itu, aku perintah segera undurkan diri, sedang
siocia, aku pedayakan sampai datang ke sini. Aku tidak
bermaksud lain, siocia. Aku pikir akan besok antar sioijia ke
Peksee kang, hanya aku kuatir, mereka tentu tidak berdiam
lama di sana, barangkali mereka sudah pergi terus sampai di
kota Keklieah. Boleh jadi dari sana barulah mereka akan
kirim orang, untuk mencari siocia. Jalanan di sini ada
buruk, aku sendiri tidak merdeka akan ikuti kau, dari itu,
siocia, aku sengaja bawakan kau ini pedang dan bungkusan.
Aku juga telah rawat kuda kau, aku akan bekali rangsum
kering dan air. Dan aku akan kirim orang untuk menjadi
pengantar siocia. Aku tidak kandung maksud jelek, aku
lihat kau cantik dan gagah, aku kagumi itu, maka aku ingin
berbuat suatu apa untuk kau! ... "
Poan Thian In, si Awan di Tengah Langit, bicara dengan
tetap dan sambil tersenyum, tubuhnya sedikit bergerak,
suatu tanda dari tabahnya hati. Karena gerakan tubuhnya
itu, beberapa kali dadanya membentur goloknya yang
tajam, yang berada dalam cekalannya si nona, hingga Kiau
Liong mesti setiap kali-setiap kali tarik mundur tangannya
itu.
Selama itu, perlahan-lahan hatinya Kiau Liong jadi sabar
dan sabar. Di lain pihak, ia ketarik dengan itu golok yang
gagangnya bergelang. Ia pun jadi ketarik oleh ini kepala
berandal dari Sinkiang.
Tadinya Poan Thian In piara rambut panjang dan kusut,
mukanya berewokan, hingga jadi tidak keruan, tetapi
sekarang ia merupakan satu anak muda yang cakap,
tubuhnya tinggi besar dan kekar, usianya paling juga baru
duapuluh empat atau duapuluh lima tahun. Hampir Kiau
Liong tidak mau percaya bahwa pemuda ini telah mampu
kendalikan ratusan berandal yang ganas, yang sangat
ditakuti.
"Jangan kau omong bahwa kau hendak berbuat suatu
apa untuk aku ... " kemudia dia kata, "tidak usah sebut-
sebut hendak kirim orang untuk antar aku pada
rombonganku. Aku memberi tahu kau, memang sengaja
aku pisahkan diri dari rombonganku di saat yang kalut itu,
karena aku berniat merantau, pesiar ke mana aku suka, dan
aku tidak pikir untuk segera pulang! Tapi aku dengar, dari
suaramu, kau bukannya asal sini, dan kau masih begini
muda! Mengapa kau datang ke tempat begini jauh, untuk
menjadi berandal?"
Poan Thian In geleng-geleng kepala, tetapi ia tersenyum.
"Kau tidak tahu tentang urusanku," ia bilang. "Dan aku
tidak hendak jelaskan itu pada kau! Tetapi aku ingin kau
tidak anggap aku ada satu berandal sejati! Aku tahu aturan,
aku tidak hidup melulu sebagai begal. Kau tahu, aku pun
ada pelihara banyak kuda. Hanya, aku ada seorang yang
bernasib buruk, hingga karenanya, aku telah merantau dan
bersengsara sampai di sini ... "
Ia menghela napas, ia kancing bajunya.
Kiau Liong mundur, akan berduduk di atas
pembaringan. Ia masih cekal terus goloknya orang.
"Ini hari aku suka kasih ampun pada kau!" kata ia,
dengan masih mendongkol.
Poan Thian In geleng kepala sambil tertawa.
"Aku tidak takut mati!" ia bilang dengan gagah. "Siocia,
kau ada terlalu cantik, umpama kau bunuh aku dengan
golok itu, aku tak penasaran!"
"Sudah, keluar!" nona itu membentak, matanya
mendelik.
Poan Thian In tetap tertawa, ia putar tubuhnya, akan
bertindak pergi.
"Tunggu dulu!" tiba-tiba Kiau Liong memanggil. "Nama
apa kau pakai barusan?"
Poan Thian In berpaling dan menjawabnya: "Lo Siau
Hou."
Nona itu perdengarkan suara dari hidung, sampai
beberapa kali, ia tertawa tawar.
"Biasanya kau ada sangat galak, sampai semua orang di
sini sangat takuti kau!" ia kata pula. "Lihat saja itu bocah di
kamar sebelah, sampai ia takut nangis!"
Poan Thian In tidak kata apa-apa, ia terus bertindak
keluar, daun pintu ia rapati di belakangnya.
Kiau Liong mengawasi sampai pintu sudah tertutup,
lantas ia pasang kuping. Sampai sekian lama, ia masih
dengar tindakan kaki bulak balik. Ia mengerti, Lo Siau Hou
tentu tidak punyakan tempat tidur. Samar-samar, ia pun
dengar itu nyanyian yang ia kenal: “ … Hou adalah aku, Pa
nama adikku ... “
"Aneh ... " ia berpikir, "ia benar-benar ada satu berandal
yang aneh ... "
Kiau Liong rasai mukanya panas sendirinya kapan ia
ingat bagaimana barusan Lo Siau Hou telah raba dan usap-
usap rambutnya.
"Aku telah berlaku sembrono, sampai aku rubuh dari
kuda dan tak berdaya," ia lalu ngelamun, "coba tidak ada
Lo Siau Hou, yang datang menolong, sekarang ini aku
tentu masih rebah di padang rumput. Ia berlaku sopan
santun terhadap aku, ia malah sangat perlukan
kebutuhanku, hingga ia sudah bawakan aku pakaian,
pedang dan uang, dan besok ia berniat mengirim wakil buat
antar aku ... Benar aku berlalu dengan suka sendiri, tetapi
dari pihakku, tidak ada datang orang yang mencari, maka
beruntung aku ketemu ini orang ... "
Di luar sang angin telah meniup keras pada jendela
sampai kertas jendela perdengarkan suara, di antara itu, pun
ada terdengar suaranya Lo Siau Hou:
“Dunia suram guram, memancarkan bencana … "
"Kau nyanyikan apa di sana?" akhirnya menegur ini
nona.
"Ini adalah nyanyian yang orang ajarkan aku," sahut Lo
Siau Hou, yang datang menghampiri jendela. "Jikalau aku
sedang berduka atau pikiran pepat, seringkali aku
nyanyikan lagu ini ... "
"Mengapa kau tidak cari kamar untuk tidur?" tanya Kiau
Liong, yang tidak pedulikan jawaban itu.
"Aku merasa berat akan tinggalkan kau, siocia," ada
penyahutan dari luar. "Biar aku berdiam di luar jendela ini,
buat satu malaman untuk temani kau karena begitu lekas
besok kita berpisahan, untuk selama-lamanya, kita tak akan
bertemu pula ... "
Kiau Liong mau tertawa tetapi ia cegah itu, kendati
demikian, ia tunduk sendirinya. Ia merasa mukanya jadi
semakin panas.
Tiba-tiba terdengar daun pintu berbunyi dan si berandal
muda masuk pula ke dalam.
"Berhenti!" berseru nona Giok, selagi orang hendak
bertindak terus.
Lo Siau Hou benar-benar tunda tindakannya.
Nona Giok mengawasi dengan mata terbuka lebar.
"Coba kau nyanyikan pula nyanyianmu, untuk aku
dengar," ia kata kemudian.
Lo Siau Hou menurut dengan tidak kata apa-apa, ia
menyanyi, tapi, baru saja ia nyanyi sampai di bagian si ibu
menelan racun, suaranya menjadi semakin perlahan dan
mengharukan hati, rupanya ia sangat berduka.
Kiau Liong tunduk, hatinya berdebar-debar.
Api telah berkelak-kelik di antara sampokannya angin,
yang molos dari pintu.
Siau Hou lanjuti nyanyiannya, meskipun dengan
suaranya yang sember. Ia nyanyi sampai di bagian masih
ada dua adik perempuan, lantas ia berhenti dan kata: "Di
belakang ini masih ada dua rintasan, yang aku telah lupa
syairnya, hanya apa yang aku masih ingat, adalah dua yang
terakhir, ialah ... Duapuluh tahun kemudian, kalau kita
bertemuan, kita akan balas budi dan dendam, tak ayal-
ayalan ... "
Habis berkata begitu, dengan lengan bajunya, ia susut air
matanya, yang telah keluar dengan tak terasa ...
Kiau Liong telah gigit rapat kedua baris giginya atas dan
bawah.
"Apakah nyanyian itu ada mengenai kejadian yang
benar?" ia tanya. "Apa benar ayahmu binasa di tangan
musuh dan ibumu telah racuni diri?"
"Itulah aku tak tahu," sahut Siau Hou. "Aku ada asal
orang Lulamhu, sejak aku ingat, aku hanya punya engkong
tukang warung arak, siapa tak tahu tentang ayahku. Dalam
umur sembilan tahun, engkong kirim aku ke sekolah
kampung. Engkong punya sepucuk surat, ketika ia buka
surat itu, di dalam situ ada tertulis ini nyanyian yang aku
nyanyikan dan guruku ajarkan itu padaku, sebagai mata
pelajaran, yang aku mesti apalkan. Katanya adikku dan
saudara perempuan berada di lain tempat, bahwa mereka
pun bisa nyanyikan nyanyian ini, maka kalau aku menyanyi
dan mereka dapat dengar, mereka bakal kenali aku sebagai
saudara mereka. Sayang itu waktu aku ada sangat gemar
memain, sampai aku tak ingat seluruhnya nyanyian itu,
hingga berselang satu tahun, aku lantas lupa benar-benar.
Aku telah merantau ke beberapa propinsi, aku telah
yakinkan ilmu silat. Di saat-saat hati pepat, aku tentu
nyanyi, tetapi sampai sebegitu jauh, aku masih belum juga
dapat cari atau ketemu sekalian saudaraku itu ... "
"Kau harus dikasihani ... " kata si nona, yang terharu
bukan main. "Mengapa kau sampai di Sinkiang ini?"
Buat sesaat, Lo Siau Hou bersangsi, tetapi toh ia
menyahut.
"Biarlah aku omong terus terang," ia kata. "Ketika aku
berumur sepuluh tahun, lantaran ayah dan ibu angkatku
perlakukan buruk padaku, sedang juga aku tidak ketarik
akan bersekolah, aku lantas minggat. Aku buron mengikuti
satu pengemis. Ia ada satu panca longok, maka juga ia telah
ajarkan banyak ilmu untuk mencuri, hingga aku selanjutnya
bantu ia cari penghasilan dengan itu jalan sesat. Satu kali
aku kepergok dan orang telah hajar aku sampai hampir aku
binasa, baiknya kemudian aku dapat ditolong oleh satu
saykong, yang bawa aku ke Butong San. Semua imam di
atas gunung ini mengerti ilmu silat, maka aku juga turut
belajar, antaranya aku utamakan ilmu menggunai pedang.
Kemudian lagi, karena lakukan satu kesalahan, suhu usir
aku dari gunung ... "
"Apakah itu yang kau lakukan?" memotong Kiau Liong.
Poan Thian In unjuki roman malu.
"Oleh karena aku permainkan satu nona, aku telah
langgar pantangan gereja," ia akui. "Sejak turun gunung,
aku hidup dalam perantauan, sampai beberapa tahun. Aku
datang kemari untuk cari satu orang. Di sini tempat
memang ada bersarang serombongan berandal, mereka
pegat aku, tetapi dalam satu pertempuran, aku bisa takluki
mereka, dengan kesudahannya mereka angkat aku sebagai
pemimpin mereka. Aku tinggal di Angsiong Nia, tempat di
mana kemarin kau dibegal, belum ada satu tahun.
Bukannya cita-citaku akan hidup terus sebagai berandal,
pekerjaan ini aku lakukan selama menantikan berhasilnya
usahaku memelihara banyak kuda, agar dengan hasil kuda
itu, kita bisa punyakan cukup uang untuk hidup kita
selanjutnya. Setelah bisa andalkan kuda, aku berniat cuci
tangan. Umpama kata aku dapat cari orang yang aku cari
itu, barangkali aku sudah angkat kaki terlebih siang ... "
"Siapa itu yang kau cari?" si nona menanya terus.
"Ia ada satu tuan penolong dari aku," sahut Lo Siau Hou,
yang mau omong terus terang. "Sejak perpisahan aku
dengan penolong itu, sepuluh tahun lebih sudah lewat.
Dahulu ialah yang pesan aku, andaikata aku ingin ketemu
padanya, aku mesti susul dan cari ia di Sinkiang.
Nyanyianku itu adalah ia yang karang untuk kita. Aku ini
ada anak siapa dan di mana adanya adik laki-laki dan adik
perempuanku, semua itu adalah penolong itu sendiri yang
ketahui."
"Jadinya ia itu ada seorang aneh," pikir Kiau Liong. Ia
lalu tanya: "Siapa namanya orang itu?"
"Ia ada Kho Long Ciu ... "
Nona Giok terperanjat.
"Kho Long Ciu?" ia ulangi. "Apakah ia ada Kho In Gan,
itu orang yang telah berusia limapuluh tahun lebih, yang
putih kumis jenggotnya?"
Siau Hou pun agaknya heran, tetapi ia menyahuti:
"Tatkala dulu aku ketemu Kho Long Ciu, itu waktu aku
baru berumur tujuh atau delapan tahun, maka kalau
sekarang aku ketemu padanya, tentu aku sudah tidak dapat
mengenalkan lagi. Aku cuma dengar ia dipanggil Kho Long
Ciu, belum pernah aku dengar ia dipanggil Kho In Gan. Ia
ada seorang terpelajar surat."
“Inilah tentu dianya!" kata Giok Kiau Liong sambil
berbangkit. "Aku kenal orang yang kau cari itu. Ia adalah
guruku, ia memang ada seorang luar biasa. Ia berada dalam
rombongan kita, dan mempunyai isteri. Isterinya pun
mengerti ilmu silat. Ketika kemarin ini orang-orangmu
datang menyerbu, ia berada dalam sebuah kereta, karena
aku berlalu dalam kekalutan, aku tidak tahu apa jadinya
dengan mereka. Besok aku nanti antar kau menyusul
rombongan keretaku, akan cari penolongmu itu. Aku
percaya, asal ia mendapati kau, kau tentu akan diajak
bersama-sama, hingga kau tak usah menjadi berandal terus
... "
Lo Siau Hou girang mendengar keterangan ini, ia
manggut-manggut.
"Baiklah!" ia bilang, "Asal aku ketemu penolongku itu
dan mendapati keterangan perihal adik-adikku, aku tentu
akan pergi cari mereka. Hanya ... " ia lantas beroman lesu
dan masgul. "Bagaimana, siocia, andaikata gurumu itu
bukan tuan penolongku she Kho itu? Bagaimana bila aku
ikut kau dan di antara hamba-hamba negeri dalam
rombonganmu itu ada yang kenali aku sebagai Poan Thian
In? Bagaimana aku mesti menyingkir dari gangguan hamba-
hamba negeri itu?"
Kiau Liong tersenyum ewa.
"Jangan kau menyangka aku hendak pedayakan kau!" ia
kata. "Apa kau menyangka aku berniat membekuk
padamu? Jikalau aku berniat demikian, untuk tangkap kau,
itulah sangat gampang!"
Lo Siau Hou tidak kata apa-apa, ia melainkan
tersenyum.
"Tapi, apakah perlunya bagiku akan tangkap kau?" si
nona baliki kemudian. "Mendengar kau, aku merasa
kasihan padamu. Benar aku ada satu siocia dari keluarga
berpangkat, tetapi aku paling ketarik kepada orang-orang
gagah yang nasibnya malang ... "
Mendengar ini, air mukanya Poan Thian In sedikit
berubah.
"Ini!" kata si nona, seraya ia kembalikan goloknya Poan
Thian In. "Ambillah ini, aku tak perlu dengan golok ini! ... "
Tetapi Lo Siau Hou tidak mau sambuti goloknya itu.
"Golok ini aku mendapati di kota Tekhoa, di waktu
berjudi, dari satu punggawa dari tangsi Solun, ia kata. "Ini
golok pendek tetapi tajamnya luar biasa, dapat dipakai
menabas putus segala macam kuningan atau besi, selama
bertahun-tahun aku senantiasa simpan di pinggangku. Kau
ada baik sekali, siocia, untuk balas kebaikanmu, aku suka
serahkan senjata yang aku sayangi ini!"
Kiau Liong pandang pula golok itu, ia suka senjata itu,
tetapi mengingat yang itu ada buah kemenangan judi,
hatinya berubah dengan segera. Malah sambil lemparkan
golok itu hingga jatuh sambil bersuara, ia kata dengan
cepat: "Ambillah ini, aku tak sudi!"
Siau Hou pungut goloknya, ia berdiri dan awasi si nona,
yang duduk atas pembaringan. Ia agaknya tidak niat
undurkan diri.
Ketika itu, api di atas meja sudah hampir padam.
Melihat orang belum mau berlalu, Kiau Liong angkat
kepalanya.
"Apakah kau belum mau keluar?" ia tanya.
Poan Thian In berdiri tetap, matanya terus mengawasi.
"Siocia, kau terlalu manis, bugee-mu bikin aku kagum ...
" ia bilang.
Tiba tiba Kiau Liong sambar pedangnya, ujungnya ia
tandkan pada dadanya kepala penyamun itu.
"Lekas keluar!" ia membentak. "Kau bernyali besar
sekali. Cara bagaimana berani bicara begini padaku?"
Masih saja Lo Siau Hou berdiri tegak.
"Aku harap kau suka memikir, siocia," ia kata pula. "Kau
telah tinggalkan rumah, kau sekarang sedang merantau,
sendirian saja, dari itu, kenapa kita tak mau berjalan
bersama-sama? Aku bersedia akan tinggalkan semua orang
dan kudaku, untuk ajak kau menjaga gunung-gunung!"
"Pergi!" berseru pula si nona dengan roman gusar, dan
sambil berseru demikian pedangnya ia tusukkan.
Lo Siau Hou egos tubuhnya dengan gesit, setelah itu
tubuhnya itu ia bungkukkan.
Menampak demikian, Kiau Liong kaget, hingga sambil
tarik pulang pedangnya, ia loncat turun dari pembaringan.
Lebih dahulu ia bikin lampu menyala lebih besar, kemudian
ia awasi itu anak muda.
Sekarang ini Siau Hou sudah angkat pula tubuhnya,
hingga ia berdiri pula dengan tegak seperti tadinya, cuma,
selagi tangan kanan menyekal goloknya, tangan kirinya
menekan dada, dan dari celah-celah jarinya ada benda cair
yang mengalir keluar, darah hidup!
"Kau masih tidak mau pergi?" nona ini tanya pula
dengan mata melotot. "Apakah kau mau mati?"
Meskipun tampang mukanya pucat, Siau Hou toh
tertawa, tertawa meringis. Ia manggut.
"Aku pergi, aku akan pergi," ia kata. "Siocia, silahkan
kau beristirahat! Harap besok siocia ajak aku akan ketemui
penolongku she Kho!"
Habis kata begitu, dengan menahan rasa sakitnya, kepala
penyamun tersohor dari Sinkiang ini putar tubuhnya, akan
bertindak keluar dari kamar.
Baru sekarang Giok Kiau Liong menyesal.
"Ia tentu terluka hebat ... " pikir ia. "Tidak seharusnya
aku tikam ia ... “
Selagi nona ini berhenti berpikir, tiba-tiba kupingnya
dengar suara jatuhnya barang berat, sebagai tubuh manusia,
hingga ia kaget, hingga lekas juga ia sambar lampu buat
dibawa keluar.
Sang angin telah sambar api dan bikin itu padam,
kendati demikian, nona Giok sudah lantas dapat lihat tubuh
rebah di tanah dari Poan Thian In, hingga ia jadi
bertambah-tambah kaget, tak tempo lagi, dengan tidak
pedulikan apa juga, ia letaki lampu dan lompat pada anak
muda itu, yang ia terus pondong dikasih bangun.
"Bagaimana?" ia tanya, dengan suara dari kesibukan.
"Apakah aku lukakan hebat pada kau? Oh, kalau kau
terbinasa karena tikamanku barusan, sungguh celaka! ... "
Siau Hou geleng kepala.
"Tidak apa, tidak apa," ia bilang. "Aku cuma tertikam
sedikit ... Memangnya lenganku yang kiri masih belum
sembuh betul. Ketika di bulan kesatu aku pergi memburu,
seekor biruang besar telah berhasil menggigit aku ... Poan
Thian In ada satu manusia batu, luka kecil saja tak berarti
apa-apa!"
Dan ia paksakan berbangkit berdiri seraya tersenyum.
"Sebenarnya kau tinggal di mana?" tanya Kiau Liong.
"Mari aku antar padamu ... "
"Di ini rumah kampung cuma ada satu kamar dan kamar
itu aku berikan pada kau," sahut Lo Siau Hou sambil
tertawa. "Aku telah pikir untuk berdiri satu malaman di luar
jendela dari kamarmu ... "
"Kalau begitu, mari balik ke kamarku!" kata si nona,
yang terus saja, sambil pegangi lengan kanannya orang
pimpin kepala penyamun itu ke dalam kamar. Sekarang ia
merasa benar sekali, lengannya pemuda ini ada keras
sebagai batu saja.
Sesampainya di dalam, Kiau Liong lepaskan cekalannya,
ia mau pergi keluar, akan ambil lampunya, tetapi apa mau,
dengan tiba-tiba Lo Siau Hou sambar tangannya terus
ditarik dengan kaget, hingga selanjutnya, satu ciankim
siocia telah rubuh di tangannya satu kepala penyamun,
seorang muda gagah dengan hati mulia, tetapi sang nasib
sedang permainkan padanya.
Besoknya pagi pintu telah diketok, oleh tiga orangnya
Poan Thian In. Mereka ini, atas perintah pemimpinnya,
telah mondok di rumah lain yang berdekatan. Atas ini,
pemimpin itu lantas ke luar.
Kiau Liong berada sendirian dalam kamarnya, air
matanya membasahkan kedua belah pipinya. Ia ada sangat
berduka, mendongkol dan menyesal, hingga ia pikir, kalau
sebentar kepala penyamun itu kembali, ia hendak tikam saja
sampai mati.
Belum terlalu lama, Lo Siau Hou telah datang pula.
Entah dari mana, ia sekarang sudah salin pakaian dengan
bersih, pakaian sutera hitam. Dadanya ada melowek,
lukanya telah tertambal dengan koyo. Dengan tubuhnya
yang tinggi besar, ia kelihatan gagah, tampangnya yang
ganteng membikin ia ada menarik hati. Maka itu, si nona
Giok batal dengan niatnya akan menikam saja kepala
penyamun ini.
"Eh, kenapa kau belum salin?" tanya Siau Hou sambil
tertawa. "Lekas dandan, supaya kita bisa segera berangkat!"
Kiau Liong masih pegangi pedangnya, air matanya
mengucur deras, tubuhnya kelihatan bergemetaran.
"Pergi ke mana?" ia tanya, dengan sengit. "Apakah
benar-benar kau hendak ajak aku merantau, menjajah ke
mana-mana, menjadi penyamun?"
Lo Siau Hou goyang kepala.
"Bukan," ia menyahut. "Kemarin aku pikir untuk
antarkan kau pada rombonganmu, tentu saja bukan aku
sendiri yang pergi mengantari, tetapi kau ada terlalu cantik,
hingga pikiranku jadi tersesat ... Jangan kau sesalkan aku,
sebab buat bilang terus terang, bukan melainkan aku yang
menyayangi kau, hanya kau pun ada mencintai aku! Coba
dari mula-mula kau benci aku sebagai berandal, tidak nanti
sampai kejadian seperti sekarang ini ... "
Kiau Liong tersenyum menghina.
"Aku ingin kemudian kita menjadi suami isteri," kata
pula Lo Siau Hou. "Aku tahu kau telah kabur dari
rombonganmu, melulu sebab kau ingin coba mengicipi
penghidupan yang merdeka, supaya kau bisa pergi ke mana
kau suka, untuk merasakan juga kesengsaraan, tetapi,
apabila itu terjadi, kau pasti tak akan sanggup menderita ...
Kau memang pandai bugee, hanya pengalaman di kalangan
Sungai Telaga kau tidak mempunyainya. Oleh karena itu,
sekarang ini, kau harus susul rombonganmu, untuk
sementara, kau mesti pulang ke rumahmu ... "
Kiau Liong angkat kepalanya, ia awasi itu pemuda cakap
ganteng.
"Dan kau?" ia tanya. "Kau hendak pergi ke mana?"
"Aku akan ikuti kau dari sebelah belakang," sahut itu
anak muda. "Aku ingin kau undang keluar gurumu she Kho
itu, agar kita bisa bikin pertemuan. Asal ia benar ada
penolongku yang bernama Kho Long Ciu, segala apa lantas
bisa diurus beres!"
"Apakah artinya beres ini?" si nona menegasi.
"Aku telah tersesat dan menjadi penyamun, itu bukan
karena kehendakku yang sebenarnya," kata si kepala
berandal, cabang atas dari Sinkiang. "Aku menyesal bahwa
sampai sebegitu jauh belum ada orang yang bisa bikin aku
sadar dan insyaf, aku ada begitu menyesal, sampai aku
merasa runtuh sendiri. Begitu aku sekap diriku di dalam
lembah, belum pernah aku cukur muka dan rawati
rambutku, malah pakaian juga aku tidak sering-sering salin!
Hidupku sehari-hari adalah, kecuali minum arak mabok-
mabokan dan berjudi, aku perintah orang perempuan
menyanyi, untuk meriahkan hatiku. Aku sendiri sering
nyanyikan laguku yang kau kenal itu, semakin aku
menyanyi, semakin aku uring-uringan. Tapi sekarang,
sekarang aku hendak ubah diriku, aku ingin hidup barui!
Aku ingin penolongku itu, Kho Long Ciu, mendayakan
agar aku bisa pangku pangkat dalam kalangan ketentaraan,
dengan bugee-ku, aku percaya aku akan mampu berbuat
suatu apa, maka kalau nanti aku telah berhasil, aku nanti
utus penolongku she Kho itu menjadi orang perantaraan,
guna meminang kau! Itu waktu, aku percaya, semua
saudaraku pun tentu aku telah dapat cari, hingga kita bisa
berkumpul beramai-ramai! Malah aku percaya, juga sakit
hati kita sejak duapuluh tahun, akan dapat terbalas ... "
Kiau Liong seka air matanya.
"Apakah kau benar punya semangat ini?" ia tanya.
Lo Siau Hou tepuk dadanya, di betulan di mana koyo
tertempel.
“Jikalau aku tak punyakan semangat itu, kecewa Poan
Thian In ada satu jantan!"
Dengan tiba-tiba, Giok Kiau Liong tertawa. Ia manggut.
"Baik!" ia kata. "Jikalau benar kau punya itu semangat,
aku nanti tunggu kau sampai sepuluh tahun!"
"Tidak usah sampai sepuluh tahun!" nyatakan Lo Siau
Hou. "Sejak aku ketemu kau, aku sebenarnya tidak ingin
lagi berpisah daripadamu! Siapa sanggup menderita rindu
sampai sepuluh tahun?"
Kiau Liong ayun pedangnya.
"Lekas perintah orang sediakan teh dan nasi!" ia kata,
separo tertawa, separo marah.
Siau Hou berlalu sambil tersenyum.
Kiau Liong mau tukar pakaiannya atau tiba-tiba ia
batalkan itu.
"Buntalan ini Siau Hou mendapati dari mencuri di
keretaku, kalau sekarang aku kembali dengan salin pakaian,
apakah ibuku dan sekalian budak tak akan curigai aku?"
demikian ia pikir. "Baik buntalan ini aku tidak ganggu.
Bagaimana aku mesti terangkan yang aku berkenalan
dengan Poan Thian In? ... "
Ia lihat pakaiannya sendiri, ia lihat itu tidak terlalu kotor.
Maka selagi tunggu barang makanan, ia buka dua
kuncirnya, buat kembali dikepang menjadi satu cacing
besar, hitam dan panjang.
Tidak antara lama, Lo Siau Hou telah datang pula,
sekarang ia bantui si petani tua membawa barang makanan.
Nona Giok lihat kepala penyamun itu berlaku manis
pada tuan rumah, siapa sebaliknya, nampaknya, tak
ketakutan dan jeri sebagai kemarinnya.
Kemudian mereka duduk berhadapan, akan dahar dan
minum teh.
Kiau Liong tertawa melihat cara daharnya si anak muda,
yang mulutnya senantiasa dipentang lebar dan daharnya
pun cepat sekali, ia sendiri, sebaliknya, dahar sedikit. Ia pun
mesti paksakan diri akan telan bahpau yang kering, keras
dan hitam ... Air teh ia minum banyak, ia ada berdahaga
sekali, meskipun itu ada air teh dari daun jie.
"Sekarang kita boleh berangkat," kata Siau Hou,
sehabisnya mereka bersantap.
Kiau Liong manggut, tetapi ia kata: "Ini buntalan dan
pedang aku tidak mau bawa, kau ambil saja!"
"Kenapa begitu?" si anak muda tanya.
"Kau pikir saja!" sahut si nona. "Aku mengerti bugee,
tetapi semua orang di dalam rumahku tidak ada yang tahu,
benar di waktu pergi aku ada bawa pedang tetapi itu
bukannya pedang ini. Ini pakaian semua ada kepunyaanku,
cara bagaimana aku bisa bawa pulang? Melihat ini, orang
bisa curigai aku. Laginya, kalau nanti aku kembali, aku
harus bawa terus sikapku sebagai satu siocia, tentang urusan
kita, aku tidak akan sebut-sebut ..."
"Tentu saja rahasia kita ini tidak boleh dibuka ... "
Habis mengucap begitu, Siau Hong menghela napas. Ia
terus jumput itu pedang dan buntalan, buat dibawa keluar,
ia Kiau Liong sudah lantas ikut keluar juga.
Di pekarangan sudah menantikan dua ekor kuda
tunggang, di bebokong kuda ada tergendol kantong air dari
kulit kerbau dan kantong rangsum kering.
Lo Siau Hou gantung buntalan dan pedang di atas kuda
bulu hitam, dan Kiau Liong ambil kuda bulu merah, seekor
kuda yang bagus dan gesit, ketika ia menyambuti cambuk,
kuda itu dituntunya keluar di mana ada menantikan tiga
orang, yang semua segera memberi hormat pada si nona.
Kiau Liong tahu, tiga orang itu ada laskarnya Lo Siau
Hou, karena ia dikasih hormat, ia jadinya ada satu apcee
hujin alias ratu berandal ... Bagaimana ia malu sendirinya,
sampai air mukanya sedikit berubah, saking jengah ...
"Kau boleh pergi," kata Siau Hou ketika ia menyusul
keluar. "Aku hendak antarkan siocia."
Tiga pengikut itu manggut, mereka lantas berlalu.
"Sekarang mari kita berangkat!" kata si anak muda pada
tunangannya sambil tertawa.
Kiau Liong tidak kata apa-apa, ia cekal keras lesnya dan
loncat naik atas kudanya.
Siau Hou pun loncat naik atas kuda hitamnya, yang ia
terus cambuk, maka itu binatang terus angkat kedua kaki
depannya dan lari congklang. Ia mesti jalan di sebelah
depan, sebagai penunjuk jalan.
Maka dengan berlari keras, kedua kuda kabur
meninggalkan kampung.
Mereka berdua berada di padang rumput yang lebar dan
luas, udara ada terang, hawa pun hangat. Matahari baru
saja mulai mendadari di timur. Mega ada sedikit dan tipis,
dan angin ada bersilir halus. Di tengah udara, burung-
burung gagak berterbangan dalam beberapa rombongan.
Kiau Liong larikan kudanya sampai anak rambut di
kedua samping kupingnya seperti berterbangan, setiap kali-
setiap kali ia awasi anak muda di hadapannya, siapa juga
sering menoleh, hingga kalau dua pasang mata saling
bentrok, keduanya lantas tertawa atau tersenyum.
Siau Hou anggap si nona ada sangat manis dan menarik
hati, dan si nona merasa yang itu kepala penyamun muda
ada sebagai penawar untuk hatinya yang kosong.
Beberapa kali di tengah jalan, larinya dua kuda
membikin kaget dan terbang rombongan-rombongan
burung kecil yang sedang berkumpul mencari makanan.
Agaknya Siau Hou ketarik dengan pemandangan dari
berterbangannya sang burung kecil, lalu dari kantongnya ia
keluarkan serupa barang, ialah sebuah busur kecil mungil
serta beberapa anak panahnya, yang kecil dan mungil juga.
Ia menyiapkan dengan cepat, lalu ia memanah, atas mana
beberapa burung jatuh hampir berbareng, karena mereka
telah jadi korbannya itu anak panah istimewa.
Kiau Liong tertawa ketika ia tampak itu.
"Sungguh bagus!" ia berseru. "Mari kasih aku lihat!"
Dan ia majukan kudanya, akan rapatkan kudanya
cabang atas Sinkiang itu.
Siau Hou lemparkan busurnya pada si nona, siapa
menyanggapi itu dengan gapa, buat ia terus perhatikan. Itu
ada busur yang kecil dan benar mungil.
Selagi si nona mengawasi dengan kekaguman, ini anak
muda telah loncat turun dari kudanya, akan punguti
burung-burung yang menjadi korbannya, sebab semua anak
panah telah nancap di badannya binatang itu. Panah itu
tidak lebih dari tiga dim panjangnya, maka meskipun
tubuhnya tertusuk sampai mereka tak mampu terbang,
semua burung itu masih hidup.
Siau Hou bawa semua burung pada si nona, maka ia ini
lantas cabuti anak panahnya, sedang burungnya
dilemparkan ke tanah.
"Panah kecil ini sungguh menarik!" kata nona Giok
sambil tertawa.
"Ini ada panah buatanku sendiri," Siau Hou memberi
tahu. "Sedari masih kecil aku sudah bisa bikin ini panah dan
bisa menggunainya, benar aku tidak pandai, tetapi belum
pernah aku bikin gagal. Selama aku hidup merantau,
pernah aku menghadapi orang-orang jahat yang berani
satrukan aku, walaupun demikian, aku tidak kehendaki jiwa
orang, dari itu, musuh jahat demikian aku biasa ajar adat
dengan panah ini. Kalau kau suka ini anak panah, pergilah
ambil! Apabila ini panah disimpan di dalam tangan baju,
ada sukar untuk lain orang melihatnya."
Habis kata begitu, ia rogoh kantongnya, akan keluarkan
empat ikat panah mungil itu, yang berjumlah kira-kira
empat puluh batang, dan semua itu ia serahkan pada si
nona.
"Kau kasihkan semua panah ini padaku, andaikata kelak
kau membutuhkan itu, bagaimana?" tanya si nona sambil
tertawa.
"Selanjutnya aku tak akan gunai lagi ini macam senjata
main-main," ia memberi tahu. "Selanjutnya aku akan gunai
saja tombak atau golok besar, akan dirikan jasa di medan
perang, guna peroleh pangkat besar. Senjata ini aku gunai
selama aku merantau. Asal aku cari tukang besi, berapa
banyak juga yang aku kehendaki aku akan bisa mendapati!"
"Aku tidak sangka kau punya kepandaian pertukangan
sebagai ini!" ia memuji.
"Buat bilang sejujurnya aku memang berotak terang.
Ilmu silatku aku tidak yakin sehebat-hebatnya, toh
kepandaianku ada lumayan. Aku pun tidak bersekolah lama
tetapi bukan sedikit huruf yang aku kenal. Sayangnya buat
aku adalah tidak ada orang yang tilik dan angkat aku,
jikalau tidak, tidak nanti aku tersesat dan menjadi
penyamun! ... "
"Sudah, jangan ucapkan itu!" kata Kiau Liong seraya
ulapkan tangannya. "Dahulu kau ada Poan Thian In,
sekarang bukan lagi! Satu enghiong tidak usah dilihat dari
asal usulnya, asal saja ia bisa latih diri dan maju, meski ia
tidak menjadi satu pembesar berpangkat tinggi, aku sudah
... "
Berkata sampai di situ, si nona berhenti sendirinya,
mukanya menjadi merah, rupanya ia malu sendirinya.
Sebaliknya, Siau Hou lantas tertawa berkakakan, sampai
dadanya yang lebar memain turun dan naik ...
"Kancinglah bajumu!" kata si nona, sambil melototi
mata. Tapi toh ia akhirnya tersenyum.
Siau Hou menyahuti "ya", dan ia terus kancingi bajunya
itu.
Baru sekarang, selagi orang mengancing baju, Kiau
Liong melihat ke bawah, pada kakinya orang, hingga ia
dapat tampak sepatu hijaunya yang sudah tua, karena
sepatu itu sudah ada lubangnya ...
"Apakah kau akan kembali ke gunungmu?" ia tanya.
"Aku mesti kembali, untuk satu kali," jawab Siau Hou.
"Aku mesti jual semua kuda, supaya uangnya bisa dibagi
rata di antara semua pengikutku, supaya mereka punya
modal untuk berusaha lain. Jikalau aku tidak berbuat
begitu, pasti mereka akan mempertahankan aku, tidak kasih
aku pergi, untuk cuci tangan, guna pergi ke jalan yang benar
.."
Kiau Liong manggut.
"Bagaimana dengan itu dua orang perempuan di dalam
lembah?" ia tanya pula.
"Mereka adalah orang-orang yang dikasih datang oleh
orang-orangku," Siau Hou terangkan, "mereka pun harus
dimerdekakan."
"Orang-orangku telah hidup galang-gulung satu tahun
lebih dengan aku, mereka pernah culik banyak perempuan
lain, semuanya aku perintah mereka merdekakan pula.
Semasa aku hidup, aku paling benci mereka yang menghina
orang perempuan dan anak kecil. Aku pun satu kali pernah
pikir, jangan-jangan di antara mereka yang terculik ada ada
adik perempuanku. Itu juga sebabnya, ketika kau datang
padaku, aku lantas tanya kau asal Lulam atau bukan. Aku
mulanya sangka, cantik dan pandai bugee sebagai kau, kau
pantasnya ada salah satu daripada adikku itu, siapa tahu,
kau sebenarnya ada Giok siocia, ... "
"Apakah adik perempuanmu itu mengerti silat?" si nona
tanya lebih jauh.
"Itulah aku tidak berani pastikan," Siau Hou goyang
kepala. "Hanya aku mau menyangka, adikku itu mesti elok
luar biasa dan bugee-nya liehay!"
Baru ia habis kata begitu, Siau Hou lantas nyanyikan:
“Dunia suram guram, menurunkan bencana, hingga kita
bersaudara mesti bercerai berai ... "
Mau atau tidak, Kiau Liong tertawa.
Sekarang kuda mereka dikasih berendeng, perjalanan
dilanjutkan sambil mereka terus pasang omong, maka itu,
dengan hampir tidak merasa, mereka telah lalui perjalanan
duapuluh lie lebih, hingga sekarang mereka berhadapan
dengan sekawanan kuda.
"Kita mesti menyingkir dari rombongan kuda itu," Siau
Hou memberi tahu. "Kita baik jangan bertemu dengan
orang-orang Kozak, sebab dengan satu pada lain tidak bisa
bicara, kesulitan gampang timbul"
Lantas Poan Thian In larikan kudanya ke jurusan
selatan.
Giok Kiau Liong menurut, ia pun cambuk kudanya ke
jurusan itu.
Hampir berbareng dengan itu, dari rombongan kuda ada
lari keluar seekor kuda bulu hitam.
"Kasihkan panah padaku!" kata Siau Hou dengan tiba-
tiba. "Lekas!"
Tetapi Kiau Liong segera kenali kuda itu ada kudanya si
nona Kozak, Bie Hee, sebagaimana si nona sendiri berada
di atas kudanya itu.
Juga Siau Hou lantas kenali itu nona, maka ia kata:
"Nona itu pandai sekali menunggang kuda, hanya sayang
hidungnya ada terlalu mancung!"
Kiau Liong tersenyum mendengar ucapan lucu itu.
Sementara itu Bie Hee telah datang dengan cepat, karena
ia telah bedal kudanya.
"Oh, kau telah kembali!" ia mendahului buka mulut
begitu lekas ia telah datang dekat.
Kiau Liong telah tahan kudanya dan dari jauh-jauh
sudah menggapekan.
Apabila ia sudah datang dekat, nona Kozak itu agaknya
merasa heran, karena ia mendapati si nona Han ada
bersama sama seorang lelaki, hingga ia awasi kedua
pasangan itu dengan bergantian.
"Apakah kau ada dari satu keluarga?" akhirnya ia tanya.
Kiau Liong menggeleng kepala dengan muka sedikit
merah.
"Bukan," ia menyahut. "Ia ini hanya hendak
mengantarkan aku."
"Kau hendak pulang ke manakah?" tanya nona Kozak
itu. "Apakah kau akan datang pula kemari akan cari aku?"
"Aku tidak berani pastikan " sahut Kiau Liong.
"Sekarang aku niat pergi ke Ielee kemudian aku akan
kembali ke Cieboat. Umpama aku lewat di sini, tentu aku
akan cari kau."
"Kudamu dan pedang masih ada padaku, maukah kau
pergi ambil?"
"Apakah kemahmu terpisah jauh dari sini?"
"Tidak jauh, lihat itu di sana," sahut Bie Hee seraya
tangannya menunjuk.
"Kuda aku tak pikirkan tetapi itu pedang," kata Kiau
Liong pada Siau Hou. "Pedang itu ada kepunyaan ayahku,
benar bukannya mustika, tapi itu adalah pedang tua, dari
itu, aku ingin ambil.”
Sebelumnya menjawab, Lo Siau Hou terlebih dahulu
memandang ke jurusan yang ditunjuk oleh si nona Kozak.
"Tunjukan dari orang Kozak tak dapat dipercaya habis,"
kemudian ia kata. "Dan tunjukannya si nona ini barangkali
berani seratus atau duaratus lie jauhnya. Apakah ini
bukannya berarti mensia-siakan tempo? Apakah dengan
begitu kita tidak jadi ketinggalan jauh oleh rombongan
keretamu? Aku pikir baiklah pedang itu dititipkan dahulu,
nanti aku berdaya akan ambil dan kirimkan padamu ... "
Kiau Liong setujui usul ini, ia manggut. "Oleh karena
kita hendak buru-buru, sekarang kita tidak punya tempo
akan ambil pedang itu," ia lalu kata pada Bie Hee. "Buat
sementara itu aku titipkan dahulu pedangku padamu, di
belakang hari, aku sendiri, atau tuan ini, nanti pergi
mengambil. Tentang kudanya, aku hadiahkan itu padamu.
Nah, sampai kita bertemu pula!"
Nona Giok manggut pada nona Kozak itu, ia tersenyum,
lantas ia larikan kudanya, Siau Hou pun segera keprak
kudanya. Bie Hee mengawasi dua orang itu pergi, pergi
jauh di padang rumput itu.
Siau Hou jalan di depan, Kiau Liong mengikuti dari
belakang.
Nona ini telah simpan baik-baik panah pemberiannya
pemuda itu. Kepalanya ia telah ikat dengan sapu tangan.
Untuk sementara itu, mereka tidak banyak omong.
Setelah melewati padang rumput, berdua sepasang anak
muda ini jalan di antara padang pasir. Di sini kebetulan
tidak ada angin besar, meski begitu, ada gangguan dahaga,
hingga orang dan kuda perlu minum. Matahari bikin Kiau
Liong mandi keringat saking panas teriknya, dan Siau Hou
sampai pentang dadanya. Terpaksa mereka cari bukit pasir
di belakang mana mereka turun dari kuda mereka, untuk
duduk beristirahat.
Siau Hou buka kantongnya bekalan rangsum kering dan
air, duduk di atas pasir, bersama-sama si nona ia dahar dan
minum.
Masih saja pemuda itu merasa gerah, hingga ia terpaksa
buka bajunya, hingga kelihatan nyata tubuhnya yang penuh
dengan urat-urat, hingga kelihatan juga tanda luka di bahu
tangannya bekas gigitan biruang. Di dadanya masih nempel
koyok. Ia pun kasih makan pada kuda mereka. Ia dahar dan
minum dengan cepat, setelah mana, ia rebahan.
Nona Giok duduk di sampingnya pemuda ini, ia melihat
ke sekelilingnya, apa yang ia mendapati adalah pasir yang
hitam, tidak ada satu manusia lainnya, tidak ada benda apa
juga. Awan sebaliknya ada putih dan bersih laksana sutera.
Kemudian ia pun rebahkan diri. Tapi, tiba-tiba, air matanya
mengucur keluar.
Kapan Siau Hou lihat kesedihannya si nona, ia lekas
berbangkit dan duduk.
"Kenapa eh?" ia tanya. "Kau berduka, Giok siocia?"
Nona itu goyang kepala, tapi air matanya meleleh terus.
"Jangan panggil aku siocia," ia bilang. "Namaku Kiau
Liong. Sekarang aku sesalkan guruku. Kenapa ia boleh
banggakan kepandaian silatnya dan di luar tahunya ayah, ia
turunkan kepandaiannya itu kepadaku? Aku terlebih
menyesal pula karena aku mendapati dua jilid kitab ilmu
silat, hingga sekarang aku tak bisa secara baik-baik menjadi
satu siocia sejati dan mengikuti ayah bundaku ... "
"Apakah kau niat batalkan kehendakmu akan pulang?"
tanya Siau Hou. "Kalau benar, itulah gampang. Aku
bersedia akan mengikuti kehendakmu itu. Dengan begitu,
aku tidak usah pergi mencari pangkat, terutama aku tidak
usah menjadi penyamun lagi, hanya berdua kita akan tuntut
penghidupan di atas ini gurun pasir dan padang rumput.
Aku tanggung, lapar kita punya makanan, haus kita punya
air, dan ada banyak kuda untuk ditunggang buat pesiar!"
Tetapi nona itu goyang kepala.
"Aku tidak ingin berpisah dari ibuku," ia bilang. "Siau
Hou, pertemuan kita ini, walaupun dalam impian, aku tak
pernah sangka! Kau tahu, aku ada seorang yang beradat
keras dan angkuh, tetapi kau telah takluki sifatku itu! Di
mataku, kecuali ayah dan ibu, tidak ada lain orang lagi,
tetapi sekarang ada kau! Untuk selanjutnya, biar
bagaimana, aku tak nanti bisa lupakan pula pada kau! Maka
itu, untuk selamanya juga, kau pun tidak boleh lupai aku,
kau mesti berbuat segala apa untuk aku! Kau harus ingat
hari kemudian kita, kau mesti cari kemajuan, supaya di
belakang hari kita bisa tetap berada bersama-sama ... Ingat,
Siau Hou, segera juga kita bakal berpisahan. Umpama kata
Kho suhu bisa tolong kau, kau tetap akan berada di luar dan
aku telap berdiam di dalam rumah, hingga ada sukar buat
kita sering-sering bertemu ... Siau Hou, benar-benar aku tak
bertetap hati kapan aku mengingat-ingat hari kemudian kita
..."
Kiau Liong nampaknya lesu.
"Siau Hou ... In ... " kata ia, seperti mengeluh.
"Kiau Liong ... " kata si anak muda.
Demikian pasangan ini beber hati mereka, selagi awan
putih bergulung-gulung, selagi sang jagat ada sunyi. Angin
tidak ada, suara kelenengan onta tidak ada, dan suara
berkeruyuknya ayam pun tidak ...
Kedua kuda mereka juga sedang rebah-rebahan, sesudah
mereka dapat makan dan minum.
Adalah setelah berselang pula sekian lama, Siau Hou
bangun, akan siapkan kuda mereka itu.
"Marilah kita berangkat!" ia kata pada Kiau Liong.
Kemudian ia bantu si nona naik atas kudanya itu.
Sisa ransum dan kantong air pun sudah dibenahi semua.
Ketika mereka mulai berangkat, Kiau Liong tidak punya
kegembiraan akan kaburkan kudanya, hanya ia kasih
kudanya jalan berendeng sama kudanya si anak muda
hingga mereka bisa berjalan sambil pasang omong. Ini ada
perjalanan yang menambah kekalnya pergaulan di antara
mereka.
Selewatnya padang pasir, pasangan ini kembali jalan di
antara rumput tebal, malah sekarang ada tertampak sawah-
sawah di tepi jalan.
Lagi sepuluh lie, Siau Hou segera tahan kudanya. Ia
menunjuk ke depan di mana ada segundukan pepohonan
kayu yang berupa sebagai rimba kecil atau dusun.
"Itu dia Peksee kang," ia memberi tahu kawannya.
"Rombongan keretamu kemarin malam singgah di sana,
mereka menunda karena kehilangan kau dan mereka mesti
cari padamu. Sekarang mereka tentu masih ada di sana,
maka, pergilah kau menghampiri mereka. Aku tidak bisa
mengantar lebih jauh, supaya tidak ada orang-orang dari
rombonganmu yang kenali aku ... "
Kiau Liong rapatkan kudanya, tangannya menyekal
tangan orang dengan keras.
"Habis sekarang kau hendak pergi ke mana?" ia tanya.
"Untuk sementara, aku akan pergi ke lain tempat,” Siau
Hou jawab. "Kau ingat, tempat ini dipanggil dusun Cinciu
cun, sebab penduduk tani di sini kebanyakan ada orang-
orang pindahan dari Cinciu. Besok pagi aku akan datang
pula kemari. Andaikata gurumu benar Kho Long Ciu,
tolong kau undang ia supaya besok ia ketemui aku."
"Dan umpama kata ia bukannya tuan penolongmu itu?"
tanya nona Giok sambil kerutkan alisnya.
"Tidak bisa lain, terpaksa aku mesti berdaya sendiri,"
sahut Siau Hou. "Biar bagaimana, cepat atau lambat, aku
toh mesti ketemu pula dengan kau!"
Air maunya si nona mengembeng.
"Jagalah dirimu baik-baik", ia pesan. "Terutama lukamu
itu, kau mesti obati sungguh-sungguh.”
Tetapi Siau Hou tepuk dadanya, yang terluka itu.
"Luka ini tak ada artinya!" ia kata dengan gagah.
Tepukan itu tak bikin ia meringis bahna sakitnya.
"Dan, janganlah kau suka berduka," Kiau Liong pesan
pula. "Aku minta kau suka ingat baik-baik semua
pesananku ... "
Si anak muda manggut.
"Tak usah kau pesan, aku tahu," ia menjawab. "Aku tak
akan dapat cari lain perempuan cantik sebagai kau ini,
maka juga aku ingin lekas-lekas nikah kau! Pasti aku akan
berdaya agar aku lekas mendapati kedudukan baik!"
Nona Giok susut air matanya.
"Nah, sekarang kita berpisah." ia kata. "Sampai bertamu
pula! ... "
"Ya, sampai bertemu pula!" Siau Hou menyahut, kedua
matanya mengawasi si cantik itu.
Kiau Liong larikan kudanya, tetapi sebentar-sebentar ia
menoleh ke belakang, hingga ia bisa lihat bagaimana anak
muda itu senantiasa terus awasi ia ...
Matahari sekarang telah bersinar kuning emas, angin
padang rumput sudah mulai menghembus, tetapi, meski
dunia ada terang benderang dan indah lama-lama toh Siau
Hou kehilangan si nona, yang tubuhnya nampak semakin
kecil dan akhirnya lenyap di kejauhan, sebagai amblas ke
dalam bumi ...
Peksee kang berada tidak jauh lagi dari tempat
singgahnya sepasang pemuda tadi. Ini bukannya satu kota
atau dusun, hanya ada sebuah pos, tempat perhentian,
penduduknya juga cuma empat atau lima rumah. Di sini
benar Giok thaythay singgah ketika ia dan rombongannya
menyingkir dari bahaya. Penjaga pos melainkan bisa
sediakan dua kamar untuk si nyonya besar sendiri serta
budak-budak perempuan, maka yang lain-lain terpaksa
menumpang di rumah-rumah penduduk, dan orang lelaki,
semua pada tidur di atas kereta. Kecuali semua barang
berharga, yang lainnya tetap diantap di kereta masing-
masing, tidak tersimpan sempurna, dari itu tidak heran
kalau orangnya Poan Thian In bisa curi satu buntalan,
karena kehilangan mana, budak-budak menjadi kaget dan
ketakutan.
Selagi orang sibuk karena kehilangan itu meskipun
buntalan itu bukannya barang-barang berharga besar,
seorang tani telah berkata-kata: "Tadi malam ada dua
penunggang kuda datang kemari, mengetok pmtu,
membikin kita mendusin. Mereka itu tanya, keluarga siapa
yang mondok di sini. Mereka bilang, di padang pasir ada
satu nona kesasar sendirian. Mereka tanya, siapa adanya si
nona itu. Dua penunggang itu ada beroman bengis, mereka
semua bekal senjata. Mestinya mereka ada orang-orangnya
Poan Thian In, yang datang kemari untuk mencari kabar,
untuk kemudian mereka datang menyerbu ... "
Ucapannya petani ini bikin semua orang tambah sibuk,
saking kuatir.
"Di sini kita tidak bisa singgah lama," begitu kata
beberapa orang dalam rombongan. “Baik kita lekas
berangkat, supaya lekas sampai di kota Kekli eah ... "
Giok thaythay sibuk dan berduka karena lenyap
puterinya, ia sering menangis, ia sangat tidak ingin segera
angkat kaki, karena itu berarti ia mesti tinggalkan putrinya
itu. Ia telah perintah punggawa dan serdadu pergi mencari,
tetapi sudah dua hari, hasilnya tidak ada.
"Tentu sekali siocia telah kena diculik Poan Thian In,"
demikian orang nyatakan. "Semakin lama kita berdiam
disini, semakin berbahaya. Kita sebenarnya mesti lekas
pergi ke Keklieah, untuk minta bantuannya tentara dalam
jumlah besar untuk pergi dan tolong Siocia, dengan begitu
baru siocia bisa dirampas pulang dari tangannya Puan
Thian In ... "
Sementara itu Kho suya telah mendapat sakit, ia rebah di
kamar yang bertembok tanah di rumahnya seorang tani,
kapan ia ketahui muridnya tetap tak dapat diketemukan, ia
suruh isterinya pergi pada Giok thaythay.
“Pergi kau memberi tahu thaythay supaya perjalanan
kita dilanjutkan saja. Bilang bahwa meskipun siocia
ketinggalan, thaythay tidak usah kuatir, bahwa siocia akan
sampai terlebih dahulu di Ielee."
Pekgan Holie menurut, ia pergi kepada Giok thaythay.
"Khu suya sedang sakit, ia tentu bicara karena ia lagi
ngaco!" kata Giok thaythay, yang tak percaya sedikit juga
omongan itu.
Karena ini, nyonya besar itu tetap tidak mau berangkat,
ia masih saja tunda perjalanannya, sedang di lain pihak,
orang-orangnya terus berada dalam kekuatiran, mereka
kuatir nanti ada penyerbuan pula dari Poan Thian In.
Syukur buat mereka, di Peksee kang ini mereka bisa
mendapati segala keperluan air dan rumput, hingga mereka,
tak usab sibuki itu. Hanya mereka tahu, satu hari siocia
tidak pulang, satu hari juga mereka mesti menunda lebih
lama.
Akhir-akhirnya, mereka semua merasa bersyukur, hati
mereka jadi lega bukan main. Bukan karena disusul atau
dicari, dengan tiba-tiba Giok siocia pulang seorang diri,
dengan tidak kurang suatu apa, pulangnya sambil
menunggang seekor kuda bagus, lengkap dengan persiapan
ransum kering dan kantong kulit yang terisi air.
Munculnya nona ini dipandang sebagai melayang
turunnya satu bidadari!
"Siocia pulang!" demikian mereka berseru, hingga suara
mereka bergemuruh.
Semua budak perempuan di dalam pos dapat dengar
seruan di luar itu, mereka lantas lari keluar yang ada sangat
kegirangan, sedang budak yang samperi Kiau Liong paling
dahulu, sudah bantui si nona turun dari kudanya.
"Siocia pulang! Siocia pulang!" demikian ada
pengutaraan dari kegirangan.
Napasnva si nona ada sedikit memburu, tampang
mukanya bersemu dadu, ia lekas bertindak ke dalam pos,
akan cari ibunya.
Giok thaythay mendelong mengawasi putrinya itu, ia
seperti sedang bermimpi.
"Oh, Liong, anakku! ... " akhirnya ia mengeluh, air
matanya turun dengan deras "Dalam dua hari, ke mana saja
kau sudah pergi? Kau bikin aku seperti mau mati karena
memikirkan kau ... "
"Selagi angin menderu hebat, kawanan penyamun telah
bawa aku lari," sahut Kiau Lieong dengan dongengnya.
"Aku dibawa lari jauh di padang pasir. Karena gusar, aku
hajar penyamun yang bawa aku, tetapi ia, karena gusarnya,
balas joroki aku, hingga aku jatuh dari atas kuda dan
pingsan. Buat satu malaman, aku kelengar di atas pasir.
Besoknya pagi satu nona bangsa Kozak telah tolongi aku. Ia
ada satu nona yang baik budi, ia pun mengerti bahasa kita.
Ia bawa aku ke kemahnya dan ia rawati aku. Satu hari aku
tinggal bersama itu nona. Hari ini ia dengar bahwa ibu
masih singgah di sini, lantas ia siapkan kuda, rangsum
kering dan air untuk aku berangkat menyusul kemari. Ia
telah unjuki aku jalalan hingga aku tak kesasar.”
Giok thayhay menjadi kagum.
'"Sungguh baik itu nona Kozak!" ia memuji. "Baiklah
besok dikirim orang untuk menghaturkan terima kasih
padanya!"
"Tidak usah, ibu," Kiau Liong mencegah. "Aku telah
janji pada nona, kalau nanti kita kembali dari Ielee, aku
hendak mampir padanya.”
"Inilah tentu karena malaikat dan dewa," kata satu
nyonya punggawa, "si nona rupanya sengaja ditunjuk untuk
monolong siocia. Coba pikir, di padang pasir, umpama ada
orang lelaki, ia tentu tak leluasa akan memberikan
pertolongannya ... "
Kemudian Kiau Liong tanya tentang gurunya, guru itu
mendapat bencana atau tidak.
Ditanya tantang Kho In Gan, Giok thaythay menghela
napas.
"Bicara tentang ia, sungguh hebat," ia bilang. "Itu hari
gurumu telah diseret oleh penyamun, sampai ia jatuh dari
keretanya, sesudah mana, kuda bantu mendupaki ia. Itu
waktu masih tidak apa, hanya sesampainya di sini, ia terus
mesti rebah. Ia sekarang menumpang di rumahnya seorang
tani, katanya hawa panasnya ada naik tinggi, sampai ia
sering tak sadar akan dirinya dan suka ngaco juga.
Begitulah ia anjurkan kita berangkat dari sini, bahwa kau
tidak akan lenyap, dan bahwa kau akan mendahulukan kita
sampai di Ielee ... "
Air mukanya Kiau Liong berubah apabila ia dengar
keterangan ibunya itu.
"Aku ingin lihat padanya," ia kata dengan cepat.
"Baik siocia beristirahat dulu," kata satu budak. "Siocia
baik salin pakaian. Kita sebenarnya ada membekal banyak,
tetapi karena kurang periksa, kemarin ini kita kehilangan
satu bungkusan ... "
Tidak tunggu sampai budaknya bicara habis, Kiau Liong
sudah ulapkan tangan.
"Tidak apa, itukah perkara kecil!" ia bilang.
Karena sang ibu pun menyuruh, Kiau Liong lantas tukar
pakaian. Rambutnya telah dicuci dan budaknya telah
kepang pula cacingnya. Di dalam kamar itu ada dinyalakan
lilin. Air teh merah dan kue pun lantas siap, untuk nona ini
dahar dan minum. Tapi, meninggalkan itu semua, Kiau
Liong cepat pergi menengoki gurunya, Kho In Gan.
Giok thaythay tak heran akan sikap anaknya ini. Ia tahu
Kiau Liong belajar sejak umur tujuh atau delapan tahun,
tidak heran, mendengar sang guru mendapat sakit, sang
murid menjadi sibuk dan ingin lekas menyambangi, ia
masih perintah tiga budak itu dan dua punggawa serta
sepuluh serdadu pergi mengikuti.
Tatkala itu langit sudah gelap, rombongan-rombongan
gagak terbang lewat sambil berbunyian, sedang dari jurusan
padang pasir dan rumput ada terdengar suara berdesir-
desirnya angin. Hawa udara ada dingin sekali.
Rumah petani di mana Kho Long Ciu nginap melainkan
terpisah kira-kira tigapuluh tindak dari pos, dari itu, dalam
tempo pendek, Kiau Liong dan rombongan pengiringnya
telah bisa sampai di sana. Ia ada teriring sebagai juga ia ada
satu pembesar tinggi. Begitu sampai, ia terus masuk ke
dalam rumah, yang kecil dan sempit, dan di kamarnya Kho
Long Ciu, kecuali pembaringan tanah dan tempat di mana
Kho sunio duduk, hampir tak ada tempat lagi untuk lain
orang.
Kamar ada gelap, Kiau Liong sampai sukar lihat
tampangnya ini guru.
"Oh, siocia sudah pulang?" menyambut Pekgan Holie,
yang berbangkit berdiri dengan tubuhnya yang tinggi dan
besar. "Dalam dua hari ini, kau tentu telah ngalami banyak.
Nyata kau ada jauh terlebih gagah daripada gurumu!
Gurumu kena didupak kuda beberapa kali, lantas ia tak
mampu bangun lagi! Tadinya kita menduga bahwa siocia
bakal pergi langsung ke Ielee ... "
Pekgan Holie bicara dengan suara keras, hingga Kho In
Gan sambar tangannya untuk dibetot, sedang dari
mulutnya, suami ini peringati: "Awas, jangan bicara keras-
keras!" Ia terus menghela napas, tetapi pada Kiau Liong,
dengan suara lemah, ia lanjuti: "Kiau Liong, aku kuatir aku
bakalan tidak bisa bangun pula. Di depan sunio-mu ini, kau
boleh bicara terus terang, tidak ada bahayanya. Sebenarnya
dua jilid kitabku itu kau telah salin semua atau belum?"
"Jangan mendahulukan tanya itu, suhu," Giok Kiau
Liong sebaliknya menyahut. "Aku justru hendak lebih
dahulu menanyakan suhu! Apa benar suhu bernama Kho
Long Ciu?"
Sebelum suaminya menyahuti, Pekgan Holie lebih
dahulu cekal bahu si nona.
"Ia telah ajarkan kau sepuluh tahun lebih, apa benar ia
belum beri tahu namanya yang sebenarnya?" nyonya guru
ini berbisik.
Kiau Liong belum sempat menjawab, atau gurunya telah
dahulukan dia.
"Aku belum pernah pedayakan orang atau melanggar
undang-undang negara, tidak ada halangannya andaikata
orang ketahui she dan namaku yang sejati!" demikian orang
she Kho itu. "Tetapi muridku, dari siapa kau dengar nama
itu? Inilah aneh!"
"Sunio," kala si nona, sebelum ia sahuti gurunya, "aku
mohon kau suka keluar sebentar dari kamar ini, aku ingin
bicara sama suhu."
Pekgan Holie tertawa menyindir.
"Aha, inilah aneh." ia kata, justru dengan suara keras.
"Murid perempuan hendak bicara sama gurunya tetapi si
nyonya guru diminta undurkan diri! ... "
Berbareng dengan itu, pintu terbuka, dua budak muncul.
"Silahkan siocia kembali, nanti thaythay berkuatir," kata
satu di antaranya. "Biarkanlah Kho suhu dan sunio
beristirahat ... "
"Benar, siocia!" kata Kheng Liok Nio sambil tertawa.
"Silahkan siocia kembali! Sebentar, kapan diinginkan, siocia
masih bisa antarkan kedua jilid kitab itu ... "
Melihat demikian, dengan terpaksa Kiau Liong keluar
dari kamar, akan antap dirinya diiring kembali ke dalam
pos. Ia terus duduk dahar bersama ibunya. Tentu saja ini
bukannya santapan seperti di Cieboat, meski begitu ini ada
terlebih menang dari barang makanan yang ia dahar sama-
sama Lo Siau Hou! Tapi barang makanan ini susah turun di
tenggorokannya, karena sekarang hatinya lagi ruwet dan
girang dengan berbareng.
Nyata benar, Kho In Gan adalah Kho Long Ciu! Jadi
gurunya adalah tuan penolong dari Lo Siau Hou. Maka itu,
nyanyiannya Poan Thian In ada nyanyian yang si guru ini
karang sendiri. Dengan begini, riwayatnya keluarga Lo, dan
tentang anak lelaki dan perempuan dari keluarga itu, ini
guru pasti ketahui dengan baik. Ini adalah orang yang ia
buat harapan, guna nanti menolong pada satu orang gagah
yang perjalanannya sesat, yang nasibnya malang, supaya
pemuda gagah itu kembali ke jalan yang lurus.
"Hanya sayang, sunio nampaknya nyelak di antara suhu
dan aku ... " begitu ia beipikir. "Mengapa sunio
berkeberatan yang aku bicara berduaan saja sama suhu?"
Nona Giok pegangi saja sumpitnya selagi otaknya itu
bekerja. Tapi syukur ia sadar dengan cepat, hingga ia tak
usah membangkitkan keheranan atau kecurigaan dari
ibunya.
"Malam ini, ya malam ini!" pikir ia. "Sebentar aku mesti
pergi ke tempat suhu, akan lebih dahulu singkirkan sunio,
supaya dengan begitu aku bisa bicara dengan merdeka
dengan suhu. Aku mesti minta, biarnya ia sedang sakit,
supaya suhu pergi ke Cinciu, akan ketemui Siau Hou, agar
kemudian ia dayakan menolong Siau Hou memperoleh
pangkat ... "
Sementara itu sang ibu, dengan sinar mata menyayang,
asyik mengawasi puterinya.
"Anak, mengapa kau tidak dahar nasimu?" tanya orang
tua ini. "Sudah, jangan kau pikirkan saja apa yang telah
terjadi ... Memang tidak selayaknya kita bikin ini perjalanan
yang jauh ... "
"Apakah siocia inginkan arak yang masih panas?" Siu
Hiang tanya.
"Arak panas ada baik untuk mententeramkan hati ... "
"Aku tidak mau!" sahut si nona dengan getas.
Penyebutan ini bikin sang ibu mengawasi dengan
keheranan. Kiau Liong lihat sikap ibunya itu, ia lalu
paksakan diri akan tertawa.
"Ibu, aku justru pikir ingin balik ke padang pasir!" ia
kata. "Di padang pasir!” ia kata. "Sungguh
menggembirakan hati. Di sana ada kuda! Di sana ada orang
menyanyi! ... "
Ia meradek dengan tiba-tiba, karena dari luar jendela ia
seperti dengar nyanyian. Ia segera pasang kupingnya. Ia
merasa lega. Itu bukannya nyanyian yang ia kenal, yang ia
buat ingatan, hanya salah satu serdadu sedang coba-coba
suaranya.
"Suruh mereka tahu sedikit aturan," kata Giok thaythay
pada satu budaknya. "Siocia baru pulang dan malam ini
mereka mesti berjaga-jaga dengan hati-hati, untuk bersiaga
kalau-kalau Poan Thian In datang menyerbu pula ... "
Kiau Liong rasai mukanya panas sendirinya apabila ia
dengar disebutnya nama Poan Thian In, ia berbangkit dan
berdiri membelakangi api.
Giok thaythay menghela napas apabila ia lihat kelakuan
anaknya itu.
Siu Hiang lantas benahkah pembaringan untuk nona
majikannya, siapa ia terus undang tidur.
"Kalau nanti kita ketemu sama ayahmu, kejadian ini aku
akan rahasiakan," kata Giok thaythay sambil menepas air
mata. Ia ada sangat berduka. "Aku tidak ingin ayahmu
ketahui yang kau telah terlenyap dua hari dua malam di
gurun pasir ini. Benar tidak sampai terjadi bencana hebat
tetapi toh aku merasa tak enak hati …”
Kiau Liong berdiam, ia pun merasa sebagai ibunya.
Cuma, mengenai dirinya sendiri, ia ada punya perasaan lain
lagi ...
"Silahkan tidur, siocia," Siu Hiang mengundang
nonanya.
Kiau Liong tidak puas untuk tidur di dalam itu kamar di
mana kecuali ibunya, satu bujang perempuan dan satu
budak, juga masih ada anggauta perempuan dari satu
pembesar, maka itu, kendati ia sudah rebahkan diri,
matanya tidak mau lantas rapat. Dengan mata meram, ia
bayangkan pertemuannya dengan Siau Hou, yang bikin ia
kaget dan girang. Ia pun dengar suara tindakan kaki dari
serdadu-serdadu ronda, ia dengar suara beradunya gagang
pedang. Ia telah pikir akan cari gurunya, tetapi ia lantas
bersangsi akan lakukan itu.
“Entah di mana adanya Siau Hou sekarang?" begituj ia
memikir.
"Padang pasir ada luas, padang rumput ada lebar ... di
manakah ia mondok? Kasihan ia ... "
Ia lalu ingat itu nyanyian yang sedih dan bersemangat.
Sekarang ia tak dengar lagi nyanyian itu ...
Besoknya, pagi-pagi, Kiau Liong dengar dan lihat
bagaimana semua orang menjadi repot berbenah, di luar
orang siapkan kuda kereta, di dalam budak-budak bereskan
buntalan. Kuda dan kereta telah perdengarkan suara berisik.
Orang telah siap untuk berangkat.
"Kho suhu sedang sakit keras, cara bagaimana ia bisa
diajak berangkat?" Kiau Liong tanya ibunya. "Apa tidak
baik aku pergi kepadanya, buat minta ia suka menunda
terus di sini selama ia masih sakit?"
"Kau tidak usah pergi, suruh saja Cian mama," sahut
sang ibu.
Benar-benar nyonya ini perintah bujang tuanya itu.
Sebentar kemudian Cian mama kembali, dengan
wartanya: "Kho sunio juga sudah bersiap, tetapi ia mohon
sebuah kereta untuk ia antarkan Kho suhu pulang ke
Cieboat untuk tetirah di sana. Sunio kata, dengan tinggal di
sini, sakitnya suhu tidak bakalan menjadi sembuh ... "
"Begitupun baik," Giok thaythay kata. "Pergi suruh Thio
chekhoa ajak empat serdadu pergi mengantarkan mereka."
Kiau Liong tersenyum ewa di dalam hatinya. Ia tahu
yang Kho sunio mencari alasan buat pulang, tentu untuk
mencoba mencari itu dua jilid kitab ilmu silat. Mengenai ini
ia tidak kuatirkan suatu apa. Ia tahu yang kedua jilid
kitabnya berada dengan selamat di dalam peti di tangannya
Siu Hiang, peti mana ada terkunci dengan kunci kuningan.
Sia-sia saja apabila sunio geledah bekas gedungnya
"Hanya kalau suhu pergi misah, ini ada sukar untuk
aku," demikian ia berpikir lebih jauh. "Aku perlu ketemu
sama suhu, buat sampaikan pesanannya Siau Hou, guna
ketahui hal ikhwalnya keluarga Lo itu."
"Ibu, aku pikir untuk tengok pula suhu,” akhirnya ia kata
pada ibunya, untuk mohon perkenan. “Kemarin aku lihat
keadaan suhu ada hebat sekali, sekarang kita bakal
berpisahan, siapa tahu bila kemudian kita tak dapat ketika
untuk bertemu pula? …"
Tetapi nyonya Giok unjuk roman tidak puas.
"Kau toh satu nona yang sudah berusia dewasa?" ia kata
"Terhadap Kho Suhu, tidak selayaknya kau bergaul terlalu
rapat. Laginya, belum tentu yang ia bakal lekas mati, ia
cuma mendapat kaget dan menjadi seperti orang edan!
Coba kemarin aku turuti obrolannya, di waktu kau
menyusul kemar, pasti kau tidak akan ketemui kita! Mari,
kita mesti lekas sampai di kota Kekleah, untuk singgah dua
hari di sana, supaya kita bisa lanjuti perjalanan kita ke Ielee.
Aku lihat, sejak kemarin kau pulang, pikiranmu senantiasa
ada kurang tenreram!"
Kiau Liong berdiam ia tidak nyana yang ibunya bisa
lihat perubahan pada kelakuannya. Karena ia berdiam,
ibunya pun tidak bicara lebih jauh.
Tidak antara lama, dari antara luar jendela, ada
punggawa yang tanya, apa sudah waktunya untuk
berangkat?
"Ya, sekarang juga!" ada jawabannya si nyonya besar.
Atas itu, sebentar kemudian, semua kereta telah disiapkan
terlebih jauh.
Giok thaythay lantas berbangkit, buat bertindak keluar.
Ia ajak puterinya, yang pun ia ajak duduk sama-sama dalam
keretanya sendiri.
Nona Giok menurut dengan pikirannya kusut, ia
bersangsi hingga ia tidak mampu ambil putusan. Ia tidak
kasih lihat sikap apa juga, ia biarkan budak-budak bantui ia
naik ke kereta. Ia telah kembali bawa diri sebagai satu
siocia.
Nyonya Giok duduk menghadapi puterinya, tenda
dikasih, turun. Di bagian depan ada berduduk kusir
bersama satu bujang perempuan.
Lantas juga Kiau Liong dengar suaranya roda roda
kereta menggelinding dan tindakan kaki kuda, disusul sama
bergeraknya keretanya sendiri. Ia tidak bisa melongok ke
jendela, karena di depan itu ada menghalang Ibunya.
"Kereta sedang berjalan, Siau Hou tentu lari mengawasi
dari kejauhan,” demikian si nona berpikir, hatinya jadi
berdebar-debar, ia merasa sangat berduka, hingga diam-
diam, ia tepas air matanya.
Suara tindakan kaki kuda terdengar semakin nyata, suara
roda kereta menggelinding lebih nyaring, di antara itu ada
terdengar juga suara sampokannya angin keras.
"Biarlah datang taufan pula, agar aku bisa lagi sekali
menyingkirkan diri," begitu nona ini mengharap-harap. Ia
ingin dapat bertemu pula sama Lo Siau Hou.
Tetapi, perjalanan ada tidak kurang suatu apa, sorenya
rombongan ini sudah sampai di Keklieah dan telah masuk
ke dalam kota. Kota ini dipanggil Keklieah shia tetapi
sebenarnya Ieguekoan. Di situ ada terdapat satu tiekoan,
satu congtin, lainnya ada jawatan rendahan.
Mengetahui yang datang ada keluarga lengtwie taysin,
Cucongtin sudah lantas datang menyambut dan undang
Giok thaythay dan puterinya pergi ke gedungnya, ia berlaku
sangat hormat, malah ia segera memohon maaf waktu ia
dengar si nyonya besar ceritakan perihal penyerbuan
penyamun di tengah jalan.
Atas ini laporan, besokannya, sebagaimana Kiau Liong
dengar, Cucongtin sudah lantas pimpin pasukan tentaranya.
Buat pergi ke padang pasir, guna menumpas kawanan
berandal dan Poan Thian In. Mengetahui ini, hatinya si
nona jadi goncang. Tapi, mengenai ini, ia tak berhasil
peroleh kabar lebih jauh, sebab ibunya, yang lihat gedung
ada kecil, sudah tidak mau singgah lama, hanya di hari itu
juga, mereka mesti lanjuti perjalanan. Untuk mencegah
gangguan di tengah jalan, Cucongtin ada kirim pasukan
pelindung sampai di Hocinkoan.
Di kota ini Giok thaythay menginap satu malam,
besoknya ia berangkat terus, sampai di Seekie koan, dari
mana waktu berangkat lebih jauh, pembesar kota pun ada
kirim barisan pengantar.
Demikian perjalanan dilanjuti, ke utara.
Semakin jauh, orang semakin terpisah dari gurun pasir,
dan semakin jauhnya jarak, hatinya Kiau Liong semakin
tak tetap. Ia ingat Siau Hou, ia berkuatir, ia kuatir pemuda
itu tertawan oleh tentara negeri. Atau kalau pemuda itu bisa
meloloskan diri di mana adanya ia sekarang? Dan,
bagaimana keadaannya?
Hampir si nona menangis sesenggukan, tetapi ia bisa
keraskan hati. Melainkan air matanya, yang ia musti tepas.
Ia tidak ingin ibunya ketahui apa yang ia pikir. Ia merasa
sangat tidak leluasa, karena ibunya, budak-budak juga,
seperti ada menilik sangat keras padanya. Setindak juga, ia
tak mampu berkisar dari ibunya itu.
Lewat pula beberapa hari, akhir-akhirnya orang sampai
di Ielee. Ciangkun di sini ada pembesar yang berpangkat
paling tinggi untuk seluruh piopinsi, karena ia ada terkena
sanak, siang-siang ia sudah sediakan sebuah gedung atau
kongkoan guna keluarga Giok.
Di sini Kiau Liong telah bertemu sama bouku-nya Sui
taysin, dan Ie hujin, isteri dari bouku itu. Mereka ini ada
punya dua anak perempuan, yang semua menjadi piauijie-
nya atau kakak misanan, yang satu bernama Giok Ceng,
yang satunya pula Giok Un. Malah dengan kedua encik itu,
Kiau Liong tinggal bersama-sama.
Baik tempat tinggal, maupun barang hidangan di sini
segala apa ada melebihi di rumah sendiri, demikian
dirasakan oleh puterinya Giok thaythay. Di dalam gedung
pun kebetulan ada tersebar keharuman dari bunga souyoh,
yang ada saatnya mekar Sang bouku dan engkim juga ada
manis budi. Kedua encie piau itu ada pandai menulis dan
melukis gambar, begitupun pekerjaan tangan, maka mereka
bisa menjadi kawan yang cocok. Di lain pihak, semua
bujang dan budak ada berlaku hormat dan tahu aturan.
Hanya sekalipun ada itu semua hal-hal yang
menyenangkan hati, hatinya Kiau Liong tetap tidak puas
dan tidak tenang. Hatinya berada jauh di gurun pasir. Ia
tidak gembira akan dengarkan engkim-nya pasang omong,
apapula untuk dengarkan segala nasehat. Ia pun tidak puas
terhadap kedua encie piau-nya, yang setiap kali-setiap kali
tanya ia perihal "Su Sie", tentang "Liat Lie Toan", atau
mengajaki ia menyulam.
Sebaliknya di situ ada seekor kucing, yang menarik
sangat perhatiannya. Binatang ini, yang kecil dan mungil,
ada berbulu putih mulus, kecuali di batang hidungnya, ada
satu titik hitam. Katanya itu ada kucing yang boukoonya
bawa dari Pakkhia. Karena nampaknya ia ketarik, kucing
itu lantas dihadiahkan kepadanya, hingga ia jadi sangat
girang. Orang di situ panggil kucing itu dengan nama "Soat
Tiong Song Hwee", yang berarti "di dalam salju mengantar
arang". Bulu putih diartikan salju, titik bulu hitam diartikan
arang. Tapi Kiau Liong sendiri namai binatang itu dengan
ringkas "Soat Hou", yang berarti "Harimau Salju," Sering ia
empo binatang ini seraya panggil-panggil namanya "Soat
Hou" berulang-ulang, malah kadang-kadang dengan
"keliru" menjadi Siau Hou, ...
Masih saja, selagi berada sendirian, Kiau Liong suka
melepas air mata.
Di dalam gedung ini, nona Giok setiap hari dandan
dengan mewah dan mentereng, tetapi tiap kali ia melihat
kaca, ia tahu yang tubuhnya ada terlebih kurus daripada
biasanya.
Di dalam tromol hiasnya, Kiau Liong ada simpan empat
jilid buku, dua antaranya adalah salinan kitab ilmu silat,
yang ia curi baca dan lihat dari kitab aslinya kepunyaan
Kho In Gan, gurunya. Karena kecerdikannya, ia bisa bikin
kunci palsu, hingga ia bisa curi kitab itu dan pulangkan lagi
dengan rapi sebagaimana asalnya, sampai sang guru kena
dikelabui. Guru itu menyangka muridnya berkepandaian
seperti apa yang ia ajari, tidak tahunya, murid ini ada
mendapati kepandaian jauh lebih tinggi. Adalah setelah
pertempuran dengan penyamun, baru Kho In Gan curiga
dan mengerti perihal kegagahan muridnya itu.
Dua bulan lamanya Kiau Liong pakai tempo, untuk
menyalin semua. Ia pakai buku yang kecil, supaya gampang
disimpan dan dibawa-bawa. Selama beberapa tahun, ia baca
terus kitab itu, ia yakinkan dan melatih diri sendiri, ia
berkeras hati. Kalau dua kitab yang kecil ada salinan, dua
yang lain ada kitab yang tulen, yang ia ambil setelah ia
gunakan tipu membakar kamar tidurnya si guru. Ia lakukan
ini karena terpaksa, sebab ia telah dapat kenyataan guru itu
ada punya sifat lemah dan pendiriannya cupat, sedang di
lain pihak, Kheng Liok Nio datang justru untuk mendapati
kitab itu, maka ia segera mendahului. Ia sirik kalau kitab itu
jatuh ke tangannya si nyonya guru.
Biasanya, bila ada ketikanya Kiau Liong terus baca dan
baca pula itu empat kitab, tetapi di sini, karena kedua emjie-
nya seperti gerembengi ia, jangan kata baca, buka
tromolnya saja, ia tidak berani. Selamanya Siu Hiang yang
simpan tromol itu. Sebenarnya tidak begitu penting, untuk
ia membaca, karena ia sudah apal di luar kepala, tapi ia
anggap perlu baca dan baca pula itu, untuk memahamkan
lebih jauh. Karena ia tidak bisa buka itu tromol, dalam hal
dandanan mewah, ia kalah dari kedua encie piau-nya itu.
Mereka ini setiap hari tukar gelang dan cincin dan lain-lain,
agaknya mereka hendak membanggai. Sikap bangga itu,
Kiau Liong tidak ambil peduli. Ia masih melatih diri, ialah
di saat kedua encie-nya tidur, dengan diam-diam ia suka
pergi keluar kamar, akan bersilat, akan loncat turun dan
naik di atas genteng. Ia berlaku cerdik dan hati-hati,
meskipun itu ada gedung dan terjaga baik oleh orang-orang
ronda, dari siapa ia selalu singkirkan diri.
Satu kali Kiau Liong pernah memikir mencuri kuda akan
susul dan cari Siau Hou, pikiran ini ia batalkan kapan ia
merasa bahwa berat untuk ia meninggalkan ibunya. Oleh
karena ini, ia mesti bisa bawa diri, akan tungkuli hatinya
yang terus berada dalam kesangsian.
Sesudah tinggal satu bulan lebih di Ielee, lantas datang
saatnya Sui tayjin mesti berangkat, akan menjabat tugasnya,
dari itu, Giok thaythay dan puterinya pun harus kembali ke
Cieboat. Apamau, itu waktu justru ada di musim ketiga,
hawa udara sangat panas, hawa itu sangat mengganggu
perjalanan.
Kiau Liong masgul bukan main apabila ia dengar
keberangkatan mesti ditunda, ia terpaksa mesti tungkuli diri
pula, akan berlaku sabar.
Pada suatu hari, dengan sekonyong-konyong, nona Giok
terima kunjungan dari Kho sunio, dengan nyonya guru ini
ada pakai pakaian berkabung. Sebab katanya, pada bulan
yang sudah, Kho Long Ciu telah menutup mata di kota
Cieboat.
Kabar ini, atau lebih benar kematiannya Kho In Gan,
ada satu pukulan hebat bagi Kiau Liong, sampai di depan
lain orang, ia lantas menangis. Orang menyangka yang ia
ingat kebaikannya si guru, hingga ia jadi begitu berduka,
padahal ia ada punya sebab lain untuk kesedihannya itu.
Sejak datangnya Kheng Liok Nio, Kiau Liong mesti
tunda latihan silatnya setiap malam. Terhadap ini nyonya
guru, ia mesti berlaku hati-hati, meski juga itu waktu
nyonya guru ini dapat kamar di tempatnya bujang-bujang
dan selama berkabung, ia ini tidak bisa sembarang waktu
bertemu satu pada lain. Atau andaikan mereka bertemu,
mereka tidak merdeka akan pasang omong seperti biasanya.
Pada sualu tengah malam, Kiau Liong tersadar karena ia
dengar suara apa-apa di pintu, apabila ia pasang mata, ia
lihat satu orang masuk dengan berindap-indap dan orang itu
lantas merangkak masuk ke kolong pembaringan. Tidak
tempo lagi, ia ulur tangannya, akan menangkap konde
orang itu, setelah mana dengan perlahan ia kata:
"Lekas pergi keluar, tunggu aku di sana!"
Orang itu agaknya tersenyum ewa, tetapi ia terus
merangkak keluar, buat berlalu, seperti caranya tadi ia
nelusup masuk.
Dengan hati-hati, Kiau Liong turun dari
pembaringannya, akan keluar juga.
Di dalam kamar itu ada tidur Giok Ceng dan Giok Un,
di sebelah luar ada satu bujang dan satu budak perempuan,
tetapi mereka ini semua tidak tahu bahwa ada orang datang
dan masuk ke dalam kamar, bahwa dua orang telah keluar
dari kamar itu.
Sesampainya di luar, Pekgan Holie menunggui sambil
mendekam, begitu ia tampak si nona keluar, ia loncat
bangun dengan tiba-tiba, akan terus cekal nona itu. Ia pun
tertawa dingin.
"Kau jangan kuatir, aku tidak bermaksud kurang baik,"
ia kata, dengan perlahan. "Sebelum hendak hembuskan
napasnya yang penghabisan, gurumu bilang bahwa kedua
kitab ada padamu dan karena itu, ia perintah aku datang
kemari untuk minta itu dari kau. Sekarang kau serahkan
kitab itu padaku, lantas habis perkara, jika tidak ... ,"
Baru Kheng Liok Nio berkata sampai di situ, ia rasakan
tangannya si nona bergerak dan jerijinya hendak menotok
iga kirinya, maka berbareng dengan kaget, ia egos
tubuhnya, tangannya dipakai menangkis. Tetapi karena
anggap telah sampai waktunya, tangan kirinya segera
dipakai balas menyerang. Di luar dugaannya serangannya
itu dapat ditangkis, selagi ia tidak menyangka, kakinya si
nona bergerak, hingga tahu-tahu ia rubuh mendeprok
sambil tubuhnya perdengarkan suara terbanting. Ia jadi
sangat gusar, karena ia jatuh duduk, ia segera loncat
bangun.
Kiau Liong unjuk kesehatannya, ia maju seraya kirim
pula dupakannya, mengarah dada.
Sekali ini Pekgan Holie telah siap dan berlaku jeli, ia kelit
ke samping dan terus loncat naik ke atas genteng, selagi
kakinya sampai di genteng, tangannya menjemput selembar
genteng, maksudnya adalah menimpa si nona. Tidak
tahunya, selagi tubuhnya berdiri lempang, tahu-tahu ia rasai
sakit pada batok kepalanya bagian belakang, sampai ia tak
tahan akan tidak menjerit! Inilah sebab sebatang panah kecil
sudah sambar ia dan nancap di kepalanya itu.
Gesit laksana seekor rase, Kiau Liong loncat naik ke
genteng untuk menyusul.
Dengan menahan sakit, Kheng Liok Nio mencoba akan
tidak lari terus, waktu si nona sampai, ia menyambut
dengan totokan, guna totok nona itu. Apamau, karena
kegesitannya yang luar biasa, si nona tahu-tahu sudah
berhadapan dan totokannya itu dapat dipunahkan, ialah
tangannya ditangkis, ditangkap, terus diputar, berbareng
dengan mana, lagi-lagi kaki dikasih bekerja.
Lagi sekali, nyonya guru itu rubuh di atas genteng!
Sekali ini Kiau Liong tidak mengasih ketika, ia maju
akan duduki tubuh lawan itu, kedua tangannya itu orang ia
ringkus, hingga Pekgan Holie tidak mampu bergerak lagi,
percuma dia itu coba kerahkan tenaganya.
"Aku nanti berteriak, aku nanti menjerit!" mengancam
nyonya guru ini. "Taruh kata aku kena tertawan, buat kau
itu tak ada untungnya!"
Kiau Liong tersenyum dingin.
"Aku tidak takut," sahut si nona, sekalipun dengan suara
perlahan. "Buat aku, paling banyak adalah yang orang
ketahui bahwa aku mengerti ilmu silat! Tetapi kau, kau
adalah satu penjahat besar yang termashur! Aku memang
sudah lama ketahui siapa adanya kau, maka asal aku mau
bekuk kau dan bongkar rahasiamu, gampang sekali jiwamu
akan melayang!"
Tubuhnya Kheng Liok Nio bergerak-gerak, rupanya ia
ada sangat gusar dan mendongkol.
"Lepaskan aku, aku nanti angkat kaki," kata ia kemudian
dengan perlahan. Baru sekarang ia mau menyerah dan
mohon belas kasihan. "Sekarang ini aku pun tak kehendaki
lagi kedua kitab itu!"
"Aku pun tidak bisa berikan buku itu kepada kau!" Kiau
Liong memberi tahu dengan pasti. "Sekarang barulah kau
insyaf bahwa kepandaianku ada terlebih liehay daripada
kebisaannya Kho In Gan, lebih tinggi berlipat ratus kali!
Percuma kau coba melawan aku, itu akan sia-sia belaka!
Dan ke mana saja kau pergi, aku juga bisa uber dan bekuk
padamu! Sekarang ini, kau mesti tunduk padaku, apa juga
yang aku perintahkan, kau mesti turut, sedikit juga kau tak
boleh membantah! Percaya, aku pun tidak nanti perlakukan
jelek pada kau, malah perlahan-lahan, aku nanti berikan
pelajaran padamu, menurut bunyinya kitab itu! Sekarang
jawab, kau suka terima baik perjanjian ini atau tidak?
Lekas!"
Dengan tiba-tiba, Pekgan Holie jadi berduka, hingga ia
menangis.
“Baik, aku berjanji, aku berjanji," ia menyahut. "Aku
memang tidak punya tempat di mana aku bisa pernahkan
diri. Aku mengaku bahwa semua kelakuanku dahulu ada
tersesat. Siocia, jikalau kau suka tolong aku, mengapa aku
pun tidak suka hidup dengan damai dan aman? Hanya,
semasa mau mati, gurumu pesan akan aku lekas singkirkan
diri, katanya kau kejam, kau tidak bakal mengasih hati
kepadaku! ...."
Kiau Liong tersenyum tawar.
"Suhu tidak kenal sifatku," ia jawab. "Bagaimana aku
akan perlakukan kau, di belakang hari kau akan buktikan
sendiri."
Lantas ia lepaskan cekalannya, ia berbangkit, buat
mendahului loncat turun ke bawah. Ia masuk terus ke
kamarnya, akan tidur ...
Besok paginya, Giok Ceng kata pada saudara misannya:
"Tadi tengah malam aku dengar suara genteng berbunyi,
saking takut, aku selimutkan kepalaku. Aku kuatirkan
gangguan penjahat ...”
Mulanya Kiau Liong unjuk rupa heran, tetapi kemudian
ia tertawa, "Penjahat datang mengganggu? Itulah tak bisa
jadi!" ia kata, sambil goyang kepala. "Di mana ada penjahat
yang bernyali begitu besar berani datang menyatroni
kemari?"
Di itu hari juga Kho sunio mendapat sakit, dengan kain
putih, ia belebat kepalanya, katanya ia sakit kepala!
Kapan Kiau Liong dikabarkan sakitnya nyonya guru itu,
ia datang menengoki.
"Suhu sudah menutup mata, sunio baik jangan berduka
lebih jauh," ia menghibur. "Tentu disebabkan perjalanan
yang jauh, kau jadi dapat sakit kepala. Baik-baik saja sunio
beristirahat di sini. Sebagaimana aku perlakukan suhu,
demikian juga akan aku rawat kau."
Atas itu hiburan, Kho sunio melainkan bisa mengucap
terima kasih.
Mereka pun memang sedang bermain sandiwara.
Kiau Liong girang karena ia telah berhasil menakluki si
Rase Mata Biru itu. Ia tadinya hendak cari alasan, akan
suruh nyonya ini pergi meninggalkan ia, buat bawa
suratnya, akan cari Lo Siau Hou, guna anjurkan pemuda itu
bertetap hati mencari pangkat, tetapi karena ia belum
percaya habis nyonya ini, ia batalkan itu niatan. Ia kuatir,
kalau si nyonya berbalik pikir, suratnya itu bisa dipakai
sebagai senjata untuk memeras ia. Dan itulah berbahaya
bagi kedudukannya sebegitu lama rahasianya belum dibeber
di muka ayah dan ibunya.
Karena ini, nona Giok tak berdaya akan cari tahu halnya
Poan Thian In, sedang juga ia menyesal yang ia telah
kurang ketetapan hati akan segera dengar keterangannya
Kho Long Ciu, hingga itu guru keburu menutup mata.
Dengan meninggalnya si guru, tertutuplah riwayat atau hal
ikhwalnya Siau Hou dan saudara-saudaranya.
Kapan sedang berduka, pikirannya Kiau Liong melayang
ke gurun pasir, matanya seperti bayangkan pemandangan di
lautan darat itu, hingga ia lalu teringat pada nyanyian
“Dunia suram guram, menurunkan bencana, hingga kita
bersaudara, mesti tercerai-berai ..."
Itu adalah lagu yang menyedihkan, yang bikin ia pun
turut bersedih. Apa ia punya keadaan juga tidak
menyedihkan, sebagai keadaannya Lo Siau Hou, yang
malang nasibnya?
Dalam keadaan sebagai itu, Kiau Liong lewatkan dua
atau tiga bulan, musim panas telah pergi, musim rontok
telah datang. Justru itu, Giok tayjin telah kembali dari kota
raja. Di Ielee, buat beberapa hari, ayah ini singgah untuk
bikin berbagai-bagai kunjungan, setelah itu, ia tetapkan
tanggal untuk berangkat pulang ke tempat jabatannya. Dan
itu adalah suatu harian musim rontok yang terang dan
indah.
Rombongan sekarang menjadi jauh terlebih besar
daripada rombongannya Giok thaythay karena sekarang
kereta dan barang-barang tergabung dengan kereta-kereta
dan barang-barangnya Giok tayjin sendiri, yang pun ada
bawa sejumlah pengiring. Kereta saja ada empat-puluh
buah, kuda seratus ekor lebih, punggawa limapuluh dan
serdadu seratus lebih!
Giok tayjin duduk atas keretanya sendiri, tetapi kadang-
kadang, selagi gembira, ia naik atas kudanya, hingga ia
jalan sebagai kepala iring-iringan. Sikapnya ada keren.
Kiau Liong duduk di dalam kereta dengan Siu Hiang
selaku teman, di tangannya ini budak ada tromol hiasnya,
yang isinya berharga besar. Kucing putihnya yang mungil
pun dipangku oleh budaknya itu.
Sekali ini, umpamanya ada datang taufan, orang pun tak
usah kuatir nanti ada penyamun yang datang menyerbu,
dan Kiau Liong juga niscaya sukar cari jalan akan
"minggat" pula. Ia sekarang ada sebagai seekor burung yang
terkurung dalam kurungannya.
Setelah berjalan tiga hari dari Ielee, rombongan ini mulai
masuk di daerah padang rumput, hanya sekarang, sekalian
rumput sudah salin rupa, dari hijau menjadi kuning dan
kering.
Semua punggawa dan serdadu berjalan dengan
bersemangat. Di antara alingan jendela kereta, Kiau Liong
dapat dengar pembicaraan di antara mereka itu: "Jangan
kuatir, umpama jalan malam, kita tidak usah takut lagi!
Sekali ini kita bukan bikin perjalanan seperti di waktu pergi
dahulu, sebab sekarang di padang pasir sudah tidak ada lagi
kawanan penyamun. Poan Thian In dan laskarnya semua
telah habis dibasmi oleh tentara negeri! ... "
Kiau Liong terperanjat mendengar omongan itu, ia kaget
berbareng berduka, kekuatirannya ada besar sekali.
"Apa benar Siau Hou telah binasa? Pantas aku tidak
dengar suatu apa tentang ia atau dari ianya ... Ia mati
dengan tak ketemu suhu Kho Long Ciu, dengan juga tak
ketemu sama aku ... Oh, benar-benar ia bernasib sangat
buruk ... "
Nona ini mesti bersedih di dalam hati. Pada siapa ia bisa
buka rahasia? Dari siapa ia mampu mendapati hiburan?
Selewatnya padang rumput, orang sampai di padang
pasir.
Sekarang Kiau Liong bayangkan bagaimana duluan ia
berada berduaan sama Lo Siau Hou, akan beber hati
masing-masing.
Dan sekarang, di mana tulang-tulangnya pemuda itu
menggeletak belarakan? Diam-diam, ia tepas air matanya.
Siu Hiang lihat nonanya menangis,
"Eh, siocia, kau kenapa?" tanya budak ini. "Apa kau
teringat akan kejadian duluan? Jangan takut, siocia,
sekarang ada tayjin yang melindungi kita, umpama ada
datang taufan, Poan Thian In tak nanti berani datang
menyerbu pula! ... " Ia tertawa, lalu ia menambahkan: "Baik
siocia empo Soat Hou! Ia tak ingin aku yang empo, ia
menyakar! Ia ingin siocia yang empo padanya!"
Dan budak ini, yang tak tahu urusan, angsurkan kucing
itu pada pangkuan nonanya. Maksudnya untuk hiburi si
nona, tetapi ia tidak tahu, justru karena itu, air matanya
nona itu turun semakinan deras, air mata itu jatuh menetes
kepada Soat Hou ...
Rombongan sekarang telah sampai di tengah-tengah
lautan pasir, tindakan kaki kuda terdengar berat, roda-roda
kereta lambat menggelindingnya, dan semua orang tidak
ada yang bercakapan atau kasih dengar suara lainnya,
semua nampaknya sungguh-sungguh.
Giok Kiau Liong terus bersedih, ia sendiri tak tahu dari
mana datangnya air matanya, yang begitu banyak. Selagi ia
sangat berduka itu, tiba-tiba ia dengar suara nyanyian,
begitu nyaring tetapi demikian mengharukan hati. Ia tidak
usah memasang kuping akan dengar suara yang tedas:
"Dunia suram guram, menurunkan bencana.
Hingga kita bersaudara, mesti terceraiberai ... "
Tidak terhingga kagetnya nona Giok, sampai ia tergugu.
Tapi, hampir berbareng dengan itu, ia pun berkuatir bukan
main. Karena segera terdengar suara berisik, dari
bergeraknya barisan serdadu pengiring. Nyata ia dengar
teriakan:
"Kawanan penyamun! Itu si kumis gompyok! Dia tentu
Poan Thian In!”
Teriakan itu lantas disusul dengan suara penuh
kegusaran dari Giok tayjin:
"Lepaskan panah!" berseru ini pembesar agung.
Dan ini perintah disusul sama suara melesatnya anak-
anak panah, berbareng dan saling susul!
Hatinya Kiau Liong goncang, air matanya turun pula
semakin deras. Ia tekan dadanya.
Siu Hiang ketakutan, mukanya pucat. Ia tempel
tubuhnya pada tubuh nonanya.
Dalam suasana rusuh dan genting itu, suara nyanyian
yang nyaring dan berpengaruh terdengar pula:
" … Ayah terbinasa, ibu racuni dirinya.
Sampai kita hidup mengandal sanak beraya.
Kita berempat, dunia ketahui semua,
Hanya kita sendiri, tak saling mengenalnya …”
Suara melesatnya, atau menyambarnya anak-anak
panah, jadi semakin seru, kereta-kereta diberhentikan
dengan tiba-tiba. Dalam berisik itu, Kiau Liong dengar pula
suara ayahnya:
"Kejar! Bunuh padanya! Sebelum penyamun tertawan,
jangan kau kembali!"
Di antara suara gandewa terdengar juga berisiknya kaki
kuda berlari-lari, dan di antara itu ada terselip pula suara
nyanyian:
" ... Hou adalah aku, Pa adikku punya nama.
Tetapi masih ada Eng dan Hong, perempuan dua ... “
Nyanyian itu kadang-kadang terdengar, kadang-kadang
terputus, rupanya si penyanyi perdengarkan suaranya
sambil bedal kudanya lari, karena sebentar kemudian, suara
itu terdengar semakin jauh dan semakin jauh, akan
akhirnya lenyap ...
Kiau Liong tolak tubuhnya Siu Hiang, ia lepaskan
kucingnya, ia merayap ke depan, akan keluar, hingga ia
berdiri di muka kereta, jauh ke depan, ia memandang
dengan matanya yang tajam. Maka itu ia bisa saksikan tiga
atau empatpuluh serdadu, dengan siap golok dan panah,
sedang laratkan kuda mereka, mengejar ke arah utara.
Jauh di jurusan utara itu, dengan samar-samar, ada
tertampak beberapa penunggang kuda, yang kabur di
sebelah depannya tentara negeri, setiap kali-setiap kali
mereka itu putar tubuh ke belakang, akan lepaskan panah
mereka. Tapi sampai mereka lenyap di antara tumpukan
pasir laksana tanjakan, tetap Kiau Liong tidak lihat rupanya
Lo Siau Hou ...
Semua kereta, yang telah berhenti dengan berkumpul,
ada terkurung oleh sisa barisan, yang berjumlah lebih besar
daripada mereka yang pergi mengejar penyamun. Semua
punggawa dan serdadu ini siap dengan senjata mereka,
guna melindungi, untuk menangkis serangan.
Giok tayjin, dengan pedang di tangan, duduk atas
kudanya bulu merah yang tinggi dan besar.
"Kejar! Kejar!" begitu ia masih berseru-seru dengan
titahnya, rupanya karena ia saking gusar dan penasaran. Di
antara sampokannya sang angin kelihatan kumis dan
jenggotnya yang bergerak-gerak.
Karena kerusuhan sudah sirap, Kiau Liong lekas-lekas
kembali ke dalam kereta, tetapi hatinya masih memukul,
saking berkuatir dan berduka. Ia ada bingung dan menyesal,
hingga ia gigit-gigit giginya. Kembali air matanya turun
deras. Ia menangis dengan tak menerbitkan suara.
Siu Hiang masih ketakutan, ia meringkuk sebagai
tenggiling.
Tapi di pojokan, Soat Hou tidur nyenyak ...
Di empat penjuru, keadaan sekarang ada sangat sunyi,
kesunyian di antara keseraman. Hanya kemudian, perlahan
dengan perlahan, mulai terdengar suara orang, malah
kemudian lagi, beberapa bujang dan budak perempuan telah
datang ke keretanya si nona, tenda siapa mereka singkap.
“Jangan takut, siocia," mereka menghibur. "Penyamun
telah dapat diusir oleh pasukan tentara kita!"
"Aku tidak terlalu takut," sahut Kiau Liong, ia goyang
kepala sambil susut air matanya. "Bagaimana dengan
thaythay?"
"Thaythay tidak kaget seberapa.” sahut satu bujang.
Siu Hiang lantas tolongi nonanya pakai sepatu,
kemudian dengan dibantu oleh beberapa bujangnya, Kiau
Liong turun dari kereta, akan pergi tengok ibunya, yang
berada di sebelah depan. Ia menghibur ibunya itu,
"Aku tidak apa-apa," berkata si ibu. "Aku lebih girang
buat mendapat tahu yang kau pun tidak kurang suatu apa.
Penyamun datang dalam jumlah tidak besar, cuma
berempat atau berlima. Apakah kau tidak dengar si
penyamun bernyanyi?"
"Tidak, ibu," sahut si anak, yang goyang kepalanya.
“Nah, kembalilah kau ke keretamu, akan beristirahat,"
sang ibu kata kemudian. "Sebentar juga si penyamun akan
dapat terbekuk! Poan Thian In itu ada sangat besar
nyalinya, entah ia ada orang macam apa ... "
"Aku dapat lihat padanya," kata satu bujang perempuan.
"Ia panjang kumis jenggotnya, panjang juga rambutnya,
mirip dengan iblis saja! Ia menunggang seekor kuda bulu
hitam, ialah yang bernyanyi ... "
Kiau Liong berduka sampai ia rasakan kakinya lemas,
hingga budak-budak lekas pegangi ia, ajak ia kembali ke
keretanya. Ia ada sangat berkuatir.
"Bagaimana kalau sebentar Lo Siau Hou digusur kemari,
batang lehernya ditabas di depan kereta, darahnya
menyiram gurun pasir ini? Bagaimana rasa hatiku? ... "
Tiba-tiba, kesunyian terganggu oleh berisiknya kuda, dari
barisan serdadu yang kembali habis mengejar berandal. Di
antara itu segera terdengar suara seram dari Giok tayjin:
"Kau masih ada muka akan kembali? Tidak ada satu
penjahat juga yang dapat dibekuk? Dasar tolol, kantong
nasi!"
Mendengar itu, hatinya Kiau Liong menjadi lega.
Sekarang ia ketahui yang Lo Siau Hou telah terlolos. Maka
itu, ia kagumi kegagahannya itu anak muda, yang pun
cerdik dan licin. Hanya, mengingat sebaliknya, ia menjadi
masgul.
"Sudah setengah tahun kita berpisah, siapa tahu kau
masih tetap berada di sini, menjadi berandal ... " pikir ia.
"Ke mana semangatmu? Dengan kau masih jadi penyamun,
cara bagaimana aku bisa ketemu pula padamu?"
Oleh karena ini, kembali air matanya keluar.
Sebentar kemudian, kereta-kereta mulai berangkat pula.
Giok tayjin masih murka, maka juga ia masih mengutuk
ketika ia berikan titahnya akan lanjutkan perjalanan.
Siu Hiang terus menghibur nonanya, hingga Kiau Liong
bisa juga berhenti menangis. Hanya ia tetap berduka dan
masgul. Ia ingin sekali dapati seekor kuda, akan bedal itu
mencari Siau Hou, guna ia sendiri tegur pemuda itu untuk
tanya, kenapa semangatnya demikian lemah ...
Kereta-kereta dikasih jalan keras, apabila padang pasir
telah dapat dilintasi, mereka singgah di suatu perhentian di
mana mereka lewati sang malam. Besoknya pagi,
perjalanan dilanjutkan dengan tak ayal lagi. Dan berselang
beberapa hari, akhirnya tibalah mereka di Cieboat.
Semua orang segera turun dari kereta, akan masuk ke
gedung.
Setelah selang berbulan-bulan, sesudah apa yang terjadi
semua, masuk ke dalam gedungnya ini, Kiau Liong seperti
merasa asing.
"Sejak thaythay dan siocia pergi, di sini tak terjadi apa
juga," kata bujang-bujang yang menunggu rumah.
"Cuma Kho suya dan sunio pulang, suya sakit dan
kemudian menutup mata. Di dalam kamar siocia setiap
kali-setiap kali ada terdengar suara apa-apa, kita takut setan,
kita jadi tak berani masuk ke kamar siocia itu ... "
"Berhenti!" Giok thaythay membentak. "Jangan ngaco
lebih jauh! Di tengah jalan siocia mendapat kaget, di sini
kau lantas ngaco belo, bicara begini macam! Pergi!"
Beberapa budak itu kaget dan berkuatir, lekas-lekas
mereka undurkan diri.
"Jangan percaya mereka itu," thaythay lalu kala pada
puterinya. "Jikalau kau tidak ingin tidur di kamarmu, kau
boleh pindah ke kamarku ... "
"Aku tidak takut, ibu," sahut si nona, yang geleng kepala.
"Aku ingin tidur di kamarku, asal ada Kho sunio yang
setiap malam temani aku."
Untuk sesaat, Giok thaythay ada bersangsi, tetapi ia
segera ingat bahwa Kho sunio sudah berusia tinggi,
kelakuannya baik, dan berhubung dengan baru kematian
suaminya dia harus dikasihani.
"Kalau anakku suka padanya, apa halangannya bila ia
menjadi kawan anakku? Ia toh boleh menjadi kawan dan
pelayan dengan berbareng? Ia sudah ada umur, ia tentu
dapat diandali melebihi budak-budak.”
Oleh karena memikir demikian, thaythay luluskan
permohonan anaknya. Maka itu, mulai itu malam, Kho
sunio jadi tidur dalam satu kamar sama nona Kiau Liong.
Kiau Liong ada pepat pikiran, tetapi mendapat kawan
Kho sunio, ia tak jadi kesepian. Kalau malam, tentu ia
pasang omong sama itu nyonya guru, siapa mempunyai
banyak bahan pembicaraan.
Kheng Liok Nio berceritera bahwa ia merantau sejak
umur dua-puluh tahun, berselang tigapuluh tahun, ia telah
dengar banyak dan mengalami banyak juga, semua ada hal-
hal yang sulit dan luar biasa. Ia menutur dengan cara yang
bersemangat. Tentu saja ia umpatkan semua kejahatannya.
Ia lukiskan gunung-gunung yang tinggi, sungai-sungai yang
besar, perihal penjahat-penjahat dan orang-orang budiman.
Ia juga tak rahasiakan hal perhubungannya dengan Kho
Long Ciu, sampai mereka aniaya Ah Hiap, si Jago Gagu,
hingga jago itu terbinasa, hingga di akhirnya, Kho Long
Ciu yang licin sudah pedayakan ia dengan bawa kabur dua
kitab berharga itu.
Setelah dengar itu semua, Kiau Liong jadi peroleh
banyak pendengaran. Ia menjadi heran dan tertarik, hingga
buat sementara itu, lenyap kedukaannya.
Juga Pekgan Holie bisa tinggal tenang bersama-sama
nona Giok ini. Ia sudah ada umur, ia insyaf segala
kejahatannya, bahwa ia telah mendapati banyak musuh, di
antaranya musuh-musuh di kalangan pembesar negeri,
terutama kepala-kepala polisi. Ia tahu benar, di mana-mana
orang cari ia, hingga ia perlu dapat tempat sembunyi yang
aman. Sekarang ia telah mendapati itu tempat, ia bisa
makan dan pakai cukup, ia bisa tidur enak, maka, apa lagi
yang ia hendak cari? Dari itu, tinggal sama-sama si nona, ia
rajin menjahit. Ia memangnya tidak punya pekerjaan dan
tak diberikan tugas apa juga di itu gedung. Ia pun senang
yang semua orang panggil ia "Kho sunio." Hanya, meski
demikian, ia terus berhati-hati menjaga diri, ia kuatir nanti
ada orang kenali ia sebagai Pekgan Holie, hingga ia bisa
disatroni dan ditangkap.
"Teristimewa aku mesti jaga diri terhadap Kang Lam
Hoo, yang sewaktu-waktu bisa datang untuk membalas
sakit hati suhengnya Ah Hiap," demikian ia pikir. "Kalau
jago Kanglam ini datang, aku mesti loloskan diri. Tapi
kalau Kang Lam Hoo datang dan aku kabur, aku harus
bawa Kiau Liong bersama aku. Si nona bisa menjadi
andalanku ... "
Inilah sebabnya kenapa Kheng Liok Nio suka bicara
tentang kejadian-kejadian di kalangan kangou dan ia
sengaja berceritera secara menarik hati, untuk memancing
nona itu, untuk bikin tergerak hati orang. Terhadap si nona,
ia berlaku sangat hormat dan telaten, apa yang
diperintahnya ia segera lakukan, belum pernah ia
membantah.
Kiau Liong sendirinya ada punya lain pikiran. Sembari
menilik keras nyonya guru itu, di lain pihak ia mencoba
akan dapati simpati yang sungguh-sungguh. Ia mengharap
bantuannya ini nyonya guru, untuk ia bisa pergi ke gurun
pasir, guna mencari Lo Siau Hou, atau sedikitnya nyonya
ini bisa dipakai sebagai juru pengantar surat kepada Poan
Thian In ... Toh, sementara itu, ia belum bisa serahkan
kepercayaannya pada nyonya guru ini, ia belum mau buka
rahasia hatinya terhadap Siau Hou.
Sang waktu lewat terus, lagi beberapa bulan, telah
berselang. Sekarang orang berada di musim dingin. Di luar
kota, pepohonan pada kering dan rontok daunnya, hingga
kawanan beburonan sukar mendapat tempat sembunyi itu
ada waktunya orang berburu. Maka itu, justru wilayahnya
ada aman dan di kantor ada banyak tempo senggang,
hampir setiap hari Giok tayjin ajak pengiring pergi
memburu binatang alas. Kalau ia keluar, ia ada merupakan
serombongan orang yang keren sikapnya, sebab sedikitnya
ia ajak duapuluh lebih punggawa dan serdadu dan mereka
ini semua lengkap membawa burung dan anjing, panah dan
senapan. Setiap kembali dari perburuan, ia bawa pulang
banyak oleh-oleh: rase, kelinci dan rusa.
Ada kalanya, selagi gembira, Giok tayjin ajak juga
puterinya turut, bersenang-senang di rimba belukar, dan
setiap kali ikut, Kiau Liong tentu ajak Siu Hiang dan Kho
sunio. Ia ketarik dengan pemburuan, tetapi belum pernah
satu kali juga ia turut geraki tangannya, akan memanah
atau menembak. Toh sekarang ia telah pandai benar
menggunai Tincu cian, ialah itu panah kecil mungil
pemberian dari Lo Siau Hou. Dengan pakai ini, ia tak usah
menggunai lagi panah lainnya atau senapan untuk
memburu rase dan lain-lain. Di depan ayahnya, ia tak mau
pertontonkan bugee-nya, sebaliknya, ia unjuk kelemah
lembutan dan nyali kecil ...
Giok tayjin menyangka bahwa puterinya, belum pandai
benar menunggang kuda, ia benar-benar tidak tahu bahwa
puteri itu sebenarnya ada sebagai seekor naga (liong) yang
binal. Ia pun sama sekali tak pernah menduga bahwa Kho
sunio ada satu betina liar, yang banyak sekali kejahatannya
...
Pada suatu hari Kiau Liong ikut pula ayahnya memburu,
sekali ini kedukaannya muncul pula dengan tiba-tiba. Itulah
disebabkan hatinya sangat tergoncang kapan ia saksikan
burung-burung dan anjing ayahnya bergerak dengan
merdeka dan gesit, yang satu terbang melayang-layang,
terputar-putar, yang lain lari serabutan ke sana dan ke sini,
sedang ia, yang ada punyakan kepandaian, tidak berani
coba kepandaiannya itu. Karena ini, ia pun segera teringat
pada itu orang yang berada jauh di gurun pasir, itu pemuda
cakap dan gagah, yang peruntungannya buruk.
"Entah ia ada di mana sekarang dan bagaimana cara
hidupnya ... "
Kalau langit tadinya ada terang benderang, lain
waktunya, sang salju seperti bergumpal dan tertahan di
tengah udara. Seharusnya, dalam keadaan seperti itu, di
waktu hari sudah bukan siang lagi, rombongan pemburu ini
sudah mesti berangkat pulang, tetapi apa mau, Giok tayjin
belum merasa puas dengan bebolehannya, yang masih
sedikit, ia penasaran.
"Pergilah kau pulang lebih dahulu," kata ayah ini pada
puterinya, siapa ia anggap sebaliknya kurang baik akan
pulang sampai sore atau malam. "Aku akan pulang
belakangan ... "
Kiau Liong menurut.
Giok tayjin perintah dua pengiring akan antar atau jaga
puterinya itu. ...
Kiau Liong ada menunggang kuda yang dahulu ia dapat
hadiah dari si nona Kozak, maka melainkan ia sendiri yang
ketahui lelakonnya kenapa ia sampai mendapati kuda ini.
Ini ada binatang yang setiap waktu membikin ia bisa
bayangkan lelakonnya itu, yang menjadi kenang-kenangan.
Untuk pergi berburu, Kiau Liong ada pakai kopiah kulit
binatang tiau, di bagian luar, tubuhnya terkerebong mantel,
sepatu sulamnya duduk atas injakan kaki kuningan. Pada
tangannya yang kanan, tertutup sarung bulu tiau ada
tercekal cambuk kulit, dan tangan yang lainnya, memegang
les.
Kho sunio dan Siu Hiang duduk atas sebuah kereta
keledai.
"Apa siocia tidak mau duduk kereta?" tanya Siu Hiang.
"Mari hangati tangan, perapiannya sudah sedia ... "
"Atau, baik siocia duduk kereta, dan kasih aku yang coba
belajar naik kuda!" kata Kho sunio.
Tapi si nona goyang kepala, sambil tersenyum. "Aku
tidak suka duduk kereta!" ia jawab.
Mereka berjalan terus. Dari dua pengiring, satu jalan di
depan, satunya pula di belakang, Kiau Liong kasih kudanya
jalan di samping kereta. Dua-dua keledai dan kuda telah
keluarkan hawa putih dari mulut mereka, saking dinginnya.
Langit ada mendung, salju sudah mulai turun.
Selagi mendekati pintu kota, Kho sunio muncul di antara
tenda kereta.
"Itu di sana ada kuburannya gurumu," ia berkata, seraya
menunjuk ke arah selatan. "Lihat itu tugu batu di depan
kuburan! Tugu itu ada buatannya tuan Tan Bun An dari
geemui dan ia bikin itu atas permintaannya gurumu
sebelum ia menutup mata. Baru saja bulan yang sudah tugu
itu selesai dan terus dipasang."
Tentang tugu itu, Kiau Liong memang sudah tahu, cuma
ia belum pernah lihat, ia ingin saksikan, ketikanya tidak
ada. Maka kebetulan sekali, sekarang Kho sunio
peringatkan ia.
"Tahan!” ia lantas berkata. “Kau tunggu sebentar, aku
mau tengok dahulu kuburannya suhu. Aku akan lekas
kembali!"
Segera ia larikan kudanya, ke selatan. Sebentar saja, ia
sudah sampai di muka kuburannya Kho In Gan alias Kho
Long Ciu. Ia loncat turun dari kudanya, ia samperi tugu itu.
Pada bongpay ia baca:
"Kuburan dari Kho sianseng In Gan dari Suikang.”
Lekas-lekas Kiau Liong baca tulisan pada tugu. Di situ
ada pujian buat Kho Long Ciu, yang dinyatakan ada pandai
bergaul dan gemar berbuat kebaikan, maka sayang, ia
meninggal di Cieboat, dengan belum merasa puas
hidupnya, karena urusannya Yo Siau Hou masih belum
selesai ...
Baru Kiau Liong membaca sampai di situ, salju sudah
turun deras sekali dan cuaca pun semakin gelap, hingga ia
terperanjat. Ia tak dapat kesempatan membaca terus, huruf-
huruf ukiran masih panjang. Ia ingin kerik sebaris kata-kata,
yang berbunyi, "Ada si nona keluarga Hau", ia menyesal
tak punya golok atau pedang, maka dengan penasaran, ia
naik atas kudanya dan kembali pada rombongannya, buat
terus pulang.
Sekalipun sudah berada di dalam kamarnya, nona Giok
tidak bisa lantas lampiaskan penasarannya. Dari bunyinya
tugu, terang Kho Long Ciu tidak kenal baik sifatnya dan
rupanya guru itu pandang ia mirip dengan Kheng Liok Nio,
bahwa ia disangka di belakang hari akan telad segala
perbuatannya Pekgan Holie ...
"Sungguh keliru!" ia pikir. "Apa suhu menduga begini
padaku karena aku curi baca dan salin dua kitabnya? Apa ia
benci aku karena aku curi dua kitabnya itu dengan akal
melepas api, hingga sampai pada dekat ajalnya, ia masih
mencoba akan melampiaskan dengan perantaraannya tugu
itu? Ia benar cupat pikiran!"
Kemudian ia ingat Lo Siau Hou.
"Suhu menulis dengan pakai she Yo, terang Lo Siau Hou
ada orang she Yo ... " ia pikir lebih jauh. "Mengapa suhu
tidak mau memberi penjelasan padaku? Inilah aneh!
Bagaimana duduknya itu budi dan dendaman? Mengapa
bunyinya syair ada begitu samar? Apa maksud sebenarnya?
Pantas suhu menjadi satu kutu buku! Ia telah belajar surat
beberapa puluh tahun, ia yakin silat beberapa puluh tahun
juga toh ia tak mampu memangku pangkat yang berarti, ia
tidak bisa menjadi satu hiapkek! Malah satu Pekgan Holie,
ia tidak mampu bikin tunduk!"
Terhadap Kho sunio, Kiau Liong tidak mau beberapa
yang ia pikir itu. Ia simpan kemendongkolannya, karena
gurunya pandang tak mata kepadanya.
"Apa siocia tidak baca bunyinya surat dalam tugu?"
tanya Pekgan Holie selagi mereka berada berduaan,
suaranya perlahan sekali.
"Sudah, aku sudah baca," sahut si nona. "Itu ada syair
karangan suhu sendiri dan di situ ia puji kepandaiannya
yang tinggi!"
Si Rase Mata Biru perlihatkan roman mendongkol.
"Kutu buku itu cuma pandai mengarang syair dan
mempedayakan orang!" ia kata dengan sengit. "Coba
dahulu ia tidak pedayakan dari aku itu dua jilid buku
sekarang aku pasti tidak menjadi begini ... "
Kiau Liong tersenyum, ia awasi itu nyonya guru.
"Taruh kata kedua buku ada padamu, kau tak akan
mampu yakinkan itu," ia bilang. "Gambar ada jelas dan
bunyinya surat pun terang, tetapi, walaupun demikian,
siapa tak membaca dengan mengerti bunyinya dengan
benar serta punya keyakinan, ia sukar dapat memahamkan
itu untuk ia melatih sendiri! Sekarang baik sunio jangan
pikirkan pula tentang itu dua kitab! Kau harus tahu yang
kau telah berusia tinggi, hingga umpama kata kau
diajarkan, kau masih tak akan bisa pelajarkan itu. Sunio
baik turut aku dengan hati tenang. Sunio harus ketahui, asal
aku terus lindungi kau, kau tidak usah takuti apa juga.
Sebentar aku hendak pergi untuk sedikit waktu saja ... "
Kheng Liok Nio merasa heran.
"Ke mana siocia hendak pergi?" ia tanya.
"Aku hendak pergi ke kuburan suhu, buat hapuskan
beberapa garis kata-kata dalam tugu," Kiau Liong memberi
tahu.
"Siocia toh bisa lakukan besok atau lusa, kenapa mesti
malam-malam ini juga?" tanya pula nyonya guru itu. "Kau
harus melewati tembok kota ... "
"Baru satu tembok kota, dua lapis pun tak ada
halangannya bagi aku!" kata nona itu dengan sengit. "Kata-
kata itu ada mencaci aku, aku mesti singkirkan, kalau tidak,
aku tidak senang hati! Pun di situ ada garis-garis yang
memaki sunio sendiri."
"Dia pun maki aku?" Kho sunio kata dengan sengit.
'"Bagaimana ia makinya? Berhari-hari ia sakit, aku yang
rawati! Sedang aku bukannya isterinya yang sejati! Dan dia
bukan suamiku yang sebenarnya! ...”
"Dia maki kau kokok beluk dan dia caci aku rase!" Kiau
Liong memberi tahu.
"Biar, aku nanti belah tugunya itu!" berseru si nyonya
dengan gusar. Ia segera hendak berlalu.
Nona Giok tahan nyonya tua itu.
"Apa gunanya akan membelah tugu itu?" ia kata. "Ini
kali kau membelah, besok Tan Bun An mendirikan lagi!
Berdua mereka ada bersahabat sangat kekal. Laginya,
dalam tugu itu, melainkan dua garis yang mencaci kita,
yang lainnya tak ada sangkut pautnya. Kalau sebentar aku
singkirkan itu dua garis saja, orang tentu tidak
memperhatikannya."
Pekgan Holie kena dibujuk.
"Sekarang kau sediakan aku alat-alat untuk
menyingkirkan huruf-huruf itu," kemudian kata si nona.
"Kau mesti tunggu kamar dengan hati-hati."
Kheng Liok Nio menurut, ia lantas pergi bersiap.
Kiau Liong tunggu sampai sudah tengah malam, ia
perintah si nyonya guru pergi keluar, akan lihat salju sudah
berhenti turun atau belum.
Pekgan Holie keluar akan sebentar kemudian balik pula.
"Salju sedang turun secara besar-besaran, maka baik
siocia jangan pergi ini malam," ia melaporkan. "Kita kaum
kangou ada punya pepatah. 'Jalan di waktu gelap gulita, tak
di waktu terang bulan. Jalan di waktu hujan, tidak di waktu
turun salju’. Meskipun orang ada bertubuh sangat enteng, di
atas salju ia mesti meninggalkan bekas-bekas telapakan
kaki."
Kiau liong tertawa mendengar keterangan ini.
"Aku tidak suka dengar omongan kau ini!" ia kata. "Buat
aku, semakin salju besar, semakin aku gembira!"
Dan lantas ia dandan. Ia pakai baju dan celana putih,
pedangnya diselipkan di punggungnya, kepalanya pun ia
bungkus dengan pelangi putih. Sebagai baju luar, yang
sepan, ia pakai baju dari kulit rase. Hingga ia jadi serba
putih mirip dengan Soat Hou. Setelah bawa alat-alat yang
perlu, ia nyeplos keluar dari kamarnya, yang pintunya
dipentang sedikit oleh si Rase Mata Biru. Dia ini hanya
tampak berkelebatnya satu sinar putih, lantas si nona lenyap
dari pemandangan matanya, hingga diam-diam ia menjadi
kagum.
Pada saat itu, seluruh kota Cieboat terbenam dalam
kesunyian dan gelap petang, apa yang kelihatan putih
melulu sang salju, yang melulahan di sana-sini, yang masih
saja sedang melayang-layang turun. Angin tidak ada.
Di jalanan atau gang-gang tidak ada suatu apa juga yang
bergerak-gerak
Tembok kota ada terjaga keras tetapi serdadu-serdadu
penjaga tak bisa rintangi Giok Kiau Liong, yang tubuhnya
terlihat pun tidak.
Sebentar saja, Kiau Liong sudah berada di luar kota,
laksana seekor kucing ia berlari-lari ke jurusan di mana
kuburannya Kho Long Ciu ada ambil kedudukan. Ia terus
samperi tugu, di depan situ ia berjongkok, akan keluarkan
bahan api, yang ia segera kasih nyala. Dengan tangannya,
ia sapu salju yang menimpa tugu itu.
Karena salju turun terus, beberapa kali api tertimpa
sampai padam, hingga setiap kali-setiap kali Kiau Liong
mesti menyalakan pula. Ia bisa bekerja dengan leluasa,
karena di tengah tegalan, di waktu tengah malam yang
penuh salju itu, lain orang tak nanti kesudian keliaran ke
tempat pekuburan itu.
Sekarang Kiau Liong dapat ketika akan baca habis
bunyinya tugu itu, setelah membaca, ia jadi tersenyum.
Nyata sekarang bunyinya tugu ada suatu nasehat bagi ia,
supaya ia jangan andalkan kepandaiannya untuk berbuat
jahat, bahwa ia justru harus menyontoh Pan Ciau yang
pintar ilmu suratnya, Hoa Bok Lan yang gagah perkasa.
Hong Sian dan Liap In Nio yang gagah mulia. Ia pun
dianjurkan akan bakar saja kedua kitab ilmu silat, agar kitab
itu tak sampai jatuh ke tangan orang-orang jahat. Mengenai
Yo Siau Hou, ia dipesan, kalau ia ketemu pemuda itu, akan
ajak itu pemuda datang membaca tugu ini, agar si pemuda
ketahui, tubuh yang rebah di dalam lubang kubur itu adalah
satu sahabat baik, yang sudah duapuluh tahun lebih dia tak
ketemukan. Dengan itu Siau Hou dianjurkan cari adik-
adiknya lelaki dan perempuan, yang tinggal di rumahnya
Luciuhiap Yo Kong Kiu. Tentang musuhnya keluarga Yo
ini, disebut si musuh ada seorang she Ho. Bahwa untuk
peroleh keterangan perihal permusuhan itu, Siau Hou
dianjurkan pergi tanya pada Kho Bou Cun, kandanya.
Sama sekali di situ ada dua ratus hurut lebih, bunyinya
samar-samar. Siapa ketahui sedikit halnya Kho Long Ciu
dan keluarga Yo, asal ia membaca dengan teliti, ia akan
berhasil menangkap maksudnya yang sekedarnya.
Demikian dengan Kiau Liong, yang bisa juga mengerti.
Pantas guru itu minta sahabatnya membikin tugu kiranya
ada itu pesanan yang si guru buat menyesal karena ia tak
keburu menemui Yo Siau Hou.
Sesudah mengerti itu semua, Kiau Liong cabut
pedangnya dengan itu ia bikin lenyap kira-kira dua puluh
huruf yang ada mengenai dirinya, yang lain-lain, ia antap.
Selagi api berkelak-kelik bekerjanya pedang atas batu telah
menerbitkan suara.
Tiba-tiba nona Giok terperanjat. Tahu-tahu ia merasa
ada orang yang tubruk ia dari belakang, tubuhnya terus
dipeluk. Tapi berbareng dengan kaget, ia masih bisa geraki
tubuhnya, pedangnya menyambar ke belakang. Ia
menyerang dengan ia tak tunggu sampai ia sempat menoleh
lagi.
Orang yang menubruk itu lepaskan pelukannya dengan
satu loncatan, ia melesat ke belakang kuburan. Ia
menyingkir sambil perdengarkan suara tertawa, ialah
suaranya seorang lelaki.
Kiau Liong tidak mau mengerti, ia lompat menyusul, ia
tidak loncat langsung ke belakang kuburan hanya ke atas
kuburan hingga dari situ ia lihat orang yang sedang
sembunyi, merupakan satu bayangan hitam. Ia lompat
turun, pedangnya sekalian dipakai membacok. Gerakannya
ada cepat laksana kilat.
Orang serba hitam itu tidak menyingkir lagi seperti tadi,
sebaliknya dengan sebuah golok pendek, ia menangkis.
Kedua senjata telah kebentrok satu pada lain, beradu
dengan keras, suaranya nyaring. Tapi Kiau Liong segera
loncat mundur dengan kaget, karena ia dapat kenyataan,
pedangnya sudah sapat ujungnya.
"Siapa kau?" ia segera menanya dengan tegurannya.
Orang itu maju mendekati, ia berdiri dengan tubuhnya
yang tinggi besar dan gagah. Ia pun sudah lantas tertawa.
"Kiau Liong, jangan takut! Aku adalah Siau Hou,"
demikian penyahutannya. "Sudah lima hari aku sampai di
sini, sudah dua kali aku lihat kau, hanya aku tidak berani
sembarangan datang dekat pada kau atau pun
memanggilnya! Kemarin dahulu malam juga aku pernah
datang ke gedungmu, tetapi aku tak tahu kamarmu ...
Sangat cepat, satu tahun hampir lewat, selama itu aku
senantiasa ingat kau... Kiau Liong mari ikut aku, kita cari
tempat untuk bicara...."
Sembari kata begitu, Poan Thian In datang lebih dekat,
tangannya ia ulur, untuk menyekal bahu orang.
Dengan sekonyong-konyong, kakinya si nona terangkat
naik berbareng dengan mana goloknya si anak muda
terdupak sampai terlepas dan terpental dan ketika nona ini
lanjuti gerakan kaki dan tangannya, selagi si pemuda
tercengang, dengan gampang ia berhasil membikin pemuda
itu rubuh di salju ...
Habis itu, bukannya ia maju lebih jauh, nona ini terus
menangis ...
"Buat apa aku ikut kau?" kata ia sambil susut air
matanya. "Kau, kau seorang yang tak bersemangat! Apa
pesanku dahulu? Aku anjurkan kau ubah kelakuan, supaya
kau cari kemajuan dan pangkat! Bagaimana jawabmu
waktu itu? Tapi sekarang, sudah berselang hampir satu
tahun, kau masih tetap berdiam di sini, sebagai penyamun!
Mula-mula kau berani susul keretaku, sekarang kau susul
aku kemari! Sudah, lekas kau pergi!"
Lo Siau Hou merayap bangun, ia pungut goloknya. Ia
maju, tetapi ia tidak mau datang terlalu dekat si nona. Di
tempat jauhnya lima tindak, ia berdiri dengan diam saja,
cuma helaan napasnya ada terdengar.
Kiau Liong mengawasi, keduanya sama-sama bungkam.
Tapi tidak lama, si nona bertindak menghampiri, akan cekal
lengan orang.
"Jangan kau gusar," ia kata, "jangan kau bersusah hati ...
Ketahuilah, selama satu tahun ini, aku pun sangat berduka
sebagai kau, aku selalu ingat padamu, setiap kali-setiap kali
aku mengeluarkan air mata ... Aku tahu, memang sukar
bagimu untuk mencari kedudukan yang baru, tetapi kau
sebenarnya mesti ubah kelakuanmu. Kenapa kau tetap
menjadi penyamun? Kenapa kau tidak tinggalkan gurun
pasir? Kau sekarang tetap ada satu penyamun, maka itu,
cara bagaimana kau bisa mengharap nikah aku? Aku ada
satu siocia, meski aku mengerti silat, aku bukannya
sebangsa perempuan dari kalangan Sungai Telaga.
Karenanya, aku tidak bisa sembarangan berpisah dari
ayahku, akan menjadi isterinya satu kepala berandal! Inilah
kau tentunya mengerti. Maka kalau kau ingin nikah aku,
kau harus pangku pangkat! Kau mengerti atau belum? Kau
jangan berduka, sekarang silahkan kati pergi, untuk
selamanya aku akan tunggui kau! ... "
Lo Siau Hou manggut, tandanya ia mengerti. Ia tidak
kata apa-apa, ia hanya putar tubuhnya, akan berlalu.
Tapi Kiau Liong tarik tangannya Siau Hou.
"Lihatlah ini kuburan," ia kata, seraya tangannya
menunjuk. "Ini ada kuburannya tuan penolongmu, Kho
Long Ciu. Coba baca bunyinya surat di tugu itu, di situ ada
pesanan untukmu. Nyata, sekalipun hendak menutup mata,
ia masih pikirkan urusanmu, hal ikhwal selama duapuluh
tahun dari keluargamu. Ia telah tak berhasil mencari kau, ia
jadi sudah tinggalkan ini tugu peringatan. Ia bilang kau
sebenarnya ada orang she Yo, bahwa semua adikmu berada
pada Luciuhiap Yo Kong Kiu. Musuhmu ada orang she
Ho, kalau kau tanyakan Kho Bou Cun, engko-nya
penolongmu itu, kau akan ketahui jelas duduknya perkara.
Sekarang ini tentunya Kho Bou Cun itu sudah berusia
sangat tinggi. Yo Kong Kiu dan itu musuh she Ho, entah
mereka masih hidup atau sudah menutup mata. Dan adik-
adikmu, mereka semua tentu sudah besar ... Sekarang kau
jangan pikirkan aku, kau harus urus urusan rumah
tanggamu sendiri, pergi kau cari adik-adikmu. Hanya aku
mohon, jangan lagi kau jadi penyamun, aku ingin orang
tidak akan lihat kau pula di tengah lautan pasir!"
Sembari kata begitu, Kiau Liong awasi mukanya itu
pemuda, yang ia dapat kenyataan ada sedikit perok,
tampang mukanya kucel, tanda dari kedukaan hati. Maka
dengan sendirinya, ia jadi merasa terharu dan kasihan.
"Jangan bersusah, besarkan hatimu," ia menghibur,
dengan suara halus dan menyayang.
Siau Hou manggut. Baru sekarang ia buka mulutnya.
"Aku mengerti," ia kata, suaranya perlahan dan lemah.
"Sekarang juga aku pergi! Sampai ketemu pula!"
Ia coba lepaskan tangannya si nona, ia balik tubuhnya
akan bertindak pergi di antara salju melulahan. Tubuhnya
seperti juga ketutupan salju, yang terus melayang-layang
turun.
Setelah anak muda itu tidak kelihatan lagi, Kiau Liong
cari pedang buntungnya dengan bawa itu, ia lekas lari
pulang.
Kapan api telah dinyalakan, Kheng Liok Nio, yang
tunggui si nona, kaget melihat keadaannya nona itu.
Pedangnya tak berujung, mukanya sendiri masih
meninggalkan bekas air mata.
"Kau ketemu siapa, siocia?" tanya sunio itu dengan
heran, ia bicara dengan perlahan.
"Jangan tanya aku," sahut si nona sambil goyang kepala.
Ia sembunyikan pedangnya ia buka pakaiannya yang ia
serahkan pada si nyonya guru, sesudah itu ia terus naik atas
pembaringannya, buat terus tidur ...
Kheng Liong Nio kipratkan semua salju yang menempel
di pakaiannya si nona, yang mana ia terus lipat dan simpan,
kemudian ia awasi nona itu, yang kerebongi diri sampai di
kepala. Ia percaya si nona tidak tidur, hanya menangis.
Maka itu, ia jadi heran dan sangsi.
"Apakah boleh jadi ia ketemu orang yang bugee-nya
lebih liehay?" demikian nyonya guru ini menduga-duga.
"Apakah ia ketemu Kang Lam Hoo atau orang dari pihak
langsung dari Ah Hiap? Kalau benar, inilah hebat ... "
Oleh karena ia menduga demikian, Pekgan Holie lekas
kunci pintu kamar dan api segera ditiup padam.
Di kantor, kedengaran tanda jam yang menyatakan
pukul empat. Dari jendela yang setiap kali-setiap kali
berbunyi, terdengar suara yang menandakan bahwa salju
masih belum berhenti turun.
Dan sampai besoknya pagi, salju itu tetap masih turun
saja.
Dengan cari alasan, Pekgan Holie pergi keluar, akan
melihat tanda apa-apa, tetapi tanda itu ia tak dapat cari. Ia
tak menduga bahwa tanda itu lenyap ketindih salju yang
turun belakangan, tetapi ia menjadi kagumi bugee-nya si
nona hingga ia jadi bertambah jeri.
Sejak itu, Kiau Liong jadi kurang kegembiraannya.
Musim dingin lewat dengan lekas, musim semi datang
menggantikan.
Untuk menghibur diri, kecuali ikut ayahnya pergi
memburu, sekarang Kiau Liong suka pergi ke luar kota,
dengan menunggang kuda, ia berpesiar sambil melatih diri.
Atau kalau ia kurung diri di dalam rumah, ia belajar
menulis huruf atau melukis gambar. Dan kalau malam, ia
terus yakini ilmu silat dan panahnya, benar ia selalu berlatih
di waktu malam, tetapi sekarang ia tidak menyingkir lagi
dari Kheng Liok Nio, hingga Kho sunio jadi bisa turut
berlatih juga, hingga kepandaiannya nyonya ini jadi
bertambah. Oleh karena ini, Pekgan Holie jadi bersyukur
pada si nona, ia jadi semakinan tak ingin berlalu dari
gedung itu.
Demikian Kiau Liong lewatkan waktunya. Tidak ada
orang yang dapat menghibur ia, kecuali Soat Hou, kucing
bulu salju yang mungil dan ngarti itu. Dari Lo Siau Hou ia
tidak dapat kabar apa-apa, dan perihal Poan Thian In, ia tak
dengar suatu apa.
Musim semi terganti oleh musim panas, lalu datang pula
musim rontok. Rumput di pekarangan dari hijau muda
berubah jadi hijau tua dan akhirnya jadi kuning. Burung-
burung walet telah pergi dan datang pula.
Pada suatu hari sehabisnya hari raya Tiongyang,
mendadak ia ke kantornya Giok tayjin ada datang satu
nona Kozak katanya untuk menemui Giok siocia. Di antara
orang-orang kantor ada yang ingat bahwa ini adalah nona
Kozak yang dahulu telah tolongi nona mereka di gurun
pasir, maka kabar segera disampaikan ke dalam.
Giok thaythay sudah lantas perintah bajangnya undang
masuk tetamu asing itu.
Bie Hee datang dengan rambut terkepang menjadi dua
kuncir dan mukanya ada memakai pupur, dan kecuali
sepasang sepatu kulitnya, pakaiannya mirip dengan
dandanan orang Boan. Ia datang dengan menunggang kuda
dan dari atas kudanya ia kasih turun kecuali sebatang
pedang juga dua potong besar dendeng kuda. Itu pedang
ada Toan-goat kiam kepunyaan Kiau Liong, dan dendeng
ada oleh-olehnya.
Giok thaythay dan puterinya keluar menyambut tetamu
ini ketika ia mulai dipimpin masuk ke pedalaman, ia
diundang masuk dan disuguhkan teh dan kue-kue.
"Ketika dahulu anakku menampak kesusahan di padang
pasir, syukur nona telah tolong padanya," berkata Giok
thaythay, "dan ketika ia hendak pulang, nona pun
hadiahkan ia seekor kuda. Kita sebenarnya hendak
haturkan terima kasih pada nona, sayang padang rumput
ada demikian luas hingga aku kuatir tak mampu cari kau.
Nona, terima kasih banyak untuk kebaikan kau!"
Bie Hee ada sedikit tercengang mendengar itu ucapan
sampai ia tak mampu menjawab.
Kiau Liong mengerti duduknya hal, ia lantas campur
bicara, akan kesampingkan hal itu, kemudian dengan
perkenan ibunya, ia tuntun nona Kozak itu untuk dibawa
ke kamarnya sendiri.
Bie Hee datang dengan satu tugas, begitu lekas ia berada
di dalam kamar si nona, dari dalam bajunya ia keluarkan
sepucuk surat yang terlipat-lipat dan serahkan itu pada nona
rumah.
Sambil terima surat itu, Kiau Liong kedip-kedip mata
pada Kho sunio dan Siu Hiang, akan minta mereka
undurkan diri, setelah itu, ia lekas buka surat itu, untuk
dibaca. Seperti ia sudah bisa duga, surat itu datangnya dari
orang yang ia buat pangenan, yang ia sangat harap harap.
Lo Siau Hou menulis sebagai berikut:
Kiau Liong, isteriku yang bijaksana.
Sejak kita berpisah, kembali satu tahun telah berlalu.
Selama itu, aku senantiasa ingat padamu.
Sekarang aku iringi kehendakmu, akan cari kemajuan
untuk hari kemudian kita. Aku telah berusaha dan aku
peroleh kemajuan. Aku berdagang karena aku pikir,
sesudah mengumpul uang, aku baru bisa memangku
pangkat. Memangku pangkat bukan soal sukar. Maka aku
percaya, paling banyak satu tahun lagi, aku akan sudah bisa
naik kereta atau kuda besar, untuk menemui kau, akan
siapkan joli terpanjang, guna sambut padamtu supaya orang
ranti bilang bahwa suamimu ada satu enghiong.
Dengan pertolongan nona Bie Hee, aku kirim suratku
ini, supaya kau ketahui tentang aku dan jadi bertetap hati.
Bersama ini aku pun ada kirim dua puluh batang panah,
yang aku bikin sendiri, untuk kau simpan.
Aku tidak bisa menulis banyak, isteriku, maka, sampai
lain hari saja.
Terimalah.
Hormatnya,
Siau Hou.
Mukanya Kiau Liong bersemu dadu sendirinya, ia mau
tersenyum tetapi urung, karena kegirangannya ada
tercampur kedukaan.
Bie Hee tidak kala apa-apa, ia hanya lekas keluarkan
panah kirimannya Siau Hou.
Kiau Liong lekas sambuti panah itu, yang bersama surat
tunangannya, ia lekas-lekas simpan, kemudian ia tarik si
nona Kozak ke pembaringannya di atas mana berdua
mereka duduk berendeng.
"Apakah kau tahu ia berdagang apa?" ia tanya seperti
berbisik.
"Ia berdagang kuda, ia sekarang hidup mewah," sahut
Bie Hee.
Jawaban ini ada melegakan hatinya ini kekasih.
"Aku tidak membalas surat," ia kata pula, "hanya aku
minta pertolongan kau saja. Yaitu andaikata kau ketemu ia,
minta ia ubah she dan namanya. Ia asalnya she Yo. Harus
dijaga agar di belakang hari jangan orang kenali Lo Siau
Hou adalah ... "
"Jangan kuatir, nona," Bie Hee bilang. "Sekarang ia tak
jadi penyamun lagi, laskarnya ia sudah bubarkan. Pula,
kecuali beberapa hamba negeri, kita kaum pengembala tak
ada yang benci padanya. Sejak beberapa tahun tinggal di
gurun pasir, belum pernah ia rampas binatang atau barang
kita lainnya."
Kiau Liong manggut.
"Tolong sampaikan juga," ia pesan lebih jauh, "jangan ia
terlalu utamakan perdagangan, ia mesti lekas berdaya akan
mencari pangkat, kalau tidak, bagaimana aku bisa ... "
Nona Giok berhenti dengan tiba-tiba, karena satu bujang
bertindak masuk.
"Thaythay kata nona ini datang dari tempat jauh, siocia
diminta suka mohon ia berdiam di sini sedikitnya beberapa
hari," kata bujang itu.
Kiau Liong lantas awasi tetamunya.
"Bisakah kau tinggal di sini untuk beberapa hari?" ia
tanya.
"Bisa," sahut Bie Hee. "Aku ada seorang merdeka, aku
memang sering pesiar, ada kalanya sampai setengah tahun
aku tak pernah pulang-pulang, di rumahku tidak ada orang
cari aku ... "
Ini jawaban ada menggirangkan nona kita.
"Aku mengerti bugee tetapi aku kalah dari ia ini," pikir
Kiau Liong. "Kenapa aku tidak bisa pergi merantau?
Bagaimana aku mesti berdiam saja di dalam kamar? Dasar
aku yang berhati lemah, aku tak tega akan tinggalkan ibu ...
"
Tapi sekarang ada si nona Kozak sebagai kawan, ia
bergembira, apapula dari Siau Hou ia sudah peroleh kabar
yang menggirangkan, yang bikin hatinya menjadi besar dan
tenteram. Hampir setiap hari, ia ajak Bie Hee pergi ke luar
kota, sambil menunggang kuda. Kalau ia pesiar, ia ajak dua
budak perempuan serta cuma empat atau enam serdadu.
Dalam hal ini, Giok tayjin tidak menghalang-halangi.
Di lapang rumput, di antara desirnya angin barat, Kiau
Liong dan Bie Hee sering bedal kuda mereka untuk
berlomba, atau bersama-sama mereka memburu burung dan
kelinci. Atau kalau sedang berdiam di rumah Kiau Liong
lantas belajar bahasa Kozak dari si nona.
Secara begini, hatinya si nona jadi terbuka benar-benar,
sedang tetamunya seperti lupa pulang, hanya baru sampai
di akhir tahun, Bie Hee pamitan untuk pulang ke
negaranya. Tapi sejak ini perpisahan, Kiau Liong kembali
merasa kesepian, ia kembali setiap kali-setiap kali ingat Siau
Hou.
Dengan lewatnya sang tahun, Kiau Liong telah masuk
usia delapanbelas. Ia jadi semakin cantik, ilmu silatnya
bertambah maju. Pergaulannya dengan Pekgan Holie juga
jadi semakin rapat, karena juga Kheng Liok Nio jadi
merasa bahwa si nona benar-benar ada andalannya yang
berharga, sebab selama itu, ia tidak peroleh gangguan dari
siapa juga. Melainkan kabar hal Siau Hou tidak terdengar
pula, sebab Bie Hee pun tidak pernah datang lagi ...
Di tahun itu, di musim rontok, dari kota raja datang
kabar yang menggirangkan buat Giok teetok, sebab
menurut bunyinya firman, ia telah diangkat menjadi
Kiubun Teetok Cengtong, untuk mana ia telah dipanggil
pulang ke kota raja ialah tempat kedudukannya yang baru.
Kabar ini diterima dengan girang oleh semua pihak, luar
dan dalam, dan