Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Saat ini Aborsi menjadi salah satu masalah yang cukup serius, dilihat dari
tingginya angka aborsi yang kian meningkat dari tahun ke tahun. Di Indonesia
sendiri, angka pembunuhan janin per tahun sudah mencapai 3 juta.1 Angka
yang tidak sedikit mengingat besarnya tingkat kehamilan di Indonesia. Di sisi
lain aborsi dianggap oleh sebagian besar masyarakat sebagai tindakan
pembunuhan, dikarenakan janin atau bayi yang ada di dalam kandungan
seorang ibu berhak untuk hidup yang wajar, dan di dalam agama manapun
juga tidak diperbolehkan seorang wanita yang sedang hamil menghentikan
kehamilannya dengan alasan apapun. Selain itu banyak juga dijumpai di dalam
masyarakat, berita yang mengungkap kasus aborsi. Berita tersebut memuat
kasus aborsi baik yang tertangkap pelakunya maupun yang hanya
mendapatkan janin yang terbuang saja, antara lain janin yang ditinggal begitu
saja setelah selesai diaborsi, dan ada juga janin yang sengaja ditinggal di
depan rumah penduduk atau di depan Yayasan pengurus bayi. Aborsi akan
memberikan dampak yang sangat serius pada masyarakat yaitu menimbulkan
kesakitan dan kematian pada ibu. Sebagaimana diketahui penyebab utama
kematian ibu hamil dan melahirkan adalah pendarahan, dan infeksi. Aborsi
biasanya dilakukan oleh seorang wanita hamil, baik yang telah menikah
maupun yang belum menikah dengan berbagai alasan.
Alasan yang paling utama aborsi adalah alasan yang non-medis di
antaranya tidak ingin memiliki anak karena khawatir mengganggu karir,
sekolah atau tanggung jawab lain, tidak memiliki cukup uang untuk merawat
anak, dan tidak ingin melahirkan anak tanpa ayah. Alasan lain yang sering
dilontarkan adalah masih terlalu muda (terutama mereka yang hamil di luar
nikah), dan bisa menjadikan aib bagi keluarga. Alasan-alasan seperti ini juga
diberikan oleh para wanita di Indonesia yang mencoba meyakinkan dirinya
bahwa membunuh janin yang ada di dalam kandungannya adalah
diperbolehkan dan dibenarkan.

1
Alasan-alasan tersebut hanya menunjukkan ketidakpedulian seorang
wanita, yang mementingkan kepentingannya sendiri tanpa memikirkan
kehidupan janin yang dikandungnya. Tindakan aborsi pada sejumlah kasus
tertentu dapat dibenarkan apabila merupakan aborsi yang disarankan secara
medis oleh dokter yang menangani, misalnya karena wanita yang hamil
menderita suatu penyakit dan untuk menyelamatkan nyawa wanita tersebut
maka kandungannya harus digugurkan berdasarkan Undang-Undang Nomor
36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 75 ayat (2) point a. Aborsi yang
digeneralisasi menjadi suatu tindak pidana apabila aborsi itu dilakukan secara
sengaja dengan alasan yang tidak dibenarkan oleh hukum. Aborsi itu sendiri
dapat terjadi baik akibat perbuatan manusia (abortus provokatus) maupun
karena sebab-sebab alamiah, yakni terjadi dengan sendirinya, dalam arti bukan
karena perbuatan manusia (abortus spontanus). 3 Pengguguran kandungan
juga sering dilakukan oleh para wanita yang menjadi korban perkosaan.
Alasan yang sering diberikan oleh para wanita yang diperkosa adalah
bahwa mengandung anak hasil perkosaan itu akan menambah derita batinnya
karena melihat anak itu akan selalu mengingatkannya akan peristiwa buruk
tersebut. Tidak selamanya kejadian-kejadian seperti sudah terlalu banyak
anak, kehamilan di luar nikah, dan korban perkosaan tersebut membuat
seorang wanita memilih untuk menggugurkan kandungannya. Di sisi lain ada
yang tetap mempertahankan kandungannya dengan alasan bahwa
menggugurkan kandungan tersebut merupakan perbuatan dosa sehingga dia
memilih untuk tetap mempertahankan kandungannya. Alasan apapun yang
diajukan untuk menggugurkan kandungan, hal itu bukan disebabkan alasan
medis maka ibu dan orang yang membantu menggugurkan kandungannya
akan dihukum pidana. Hal ini dikarenakan hukum positif di Indonesia
melarang dilakukannya aborsi. Di lain pihak, jika kandungan itu tidak
digugurkan akan menimbulkan masalah baru, yaitu apabila terlahir dari
keluarga miskin maka ia tidak akan mendapat penghidupan yang layak,
apabila lahir tanpa ayah, ia akan dicemooh masyarakat sehingga seumur hidup
menanggung malu. Hal ini dikarenakan dalam budaya timur Indonesia, tidak
dapat menerima anak yang lahir di luar nikah. Alasan inilah yang kadang-

2
kadang membuat perempuan yang hamil di luar nikah nekat menggugurkan
kandungannya. Anak di sisi lain sebenarnya mempunyai hak untuk hidup dan
hal tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang
Perlindungan Anak Pasal 1 angka 2 yang menyatakan: 4 “Perlindungan anak
adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya
agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal
sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan
dari kekerasan dan diskriminasi. Pasal 1 angka 12 yang menyatakan: “Hak
anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan
dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara”.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan masalah yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian dari aborsi
2. Untuk mengetahui efek-efek yang terjadi yang diakibatkan dari tindakan
aborsi
3. Untuk menbgetahui resiko yang akan terjadi terhadap tindakan aborsi.
4. Untuk mengetahui dampak yang terjadi padaa aborsi
5. Untuk mengetahui prinsip-prinsip etika yang ada.
6. Untuk mengetahui hukum-hukum melakukan tindakan aborsi baik dalam
pandangan agama maupun secara hukum di Indonesia
7. Untuk mengetahui nursing advocacy
8. Untuk mengetahui kode etik keperawatan.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Aborsi
2.1.1 Pengertian
Secara etimologi, aborsi adalah mengugurkan anak, sehingga ia
tidak hidup. Adapun secara terminology, aborsi adalah praktik seorang
wanita yang mengugurkan janinnya baik dilakukan sendiri ataupun orang
lain. Mengugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal
dengan istilah “abortus”. Berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan
sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Ini
adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi
kesempatan untuk bertumbuh.
Secara sederhana kata aborsi adalah mati (gugurnya) hasil
konsepsi. Pengertian aborsi adalah tindakan penghentian kehamilan
sebelum janin dapat hidup di luar kandungan (sebelum usia 20 minggu
kehamilan), bukan semata untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dalam
keadaan darurat tapi juga bisa karena sang ibu tidak menghendaki
kehamilan itu. Abortus atau aborsi adalah pengakhiran kehamilan atau
konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Berarti
pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum
janin dapat hidup di luar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran
hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh.
Gugur kandungan atau aborsi (bahasa Latin: abortus) adalah
berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang
mengakibatkan kematian janin. Aborsi dalam bahasa Arab disebut
“ijhadh”, yang memiliki beberapa sinonim yakni; isqath (menjatuhkan),
ilqa’ (membuang), tharah (melempar) dan imlash (menyingkirkan))
.Aborsi secara terminology adalah keluarnya hasil konsepsi (janin,
mudgah) sebelum bisa hidup sendiri (viable).

4
2.1.2 Tujuan Aborsi
Adapun tujuan aborsi antara lain:
1. Terdapat kemungkinan janin lahir dengan cacat yang diturunkan secara
genetik.
2. Ditakuti atau dicurigai adanya cacat bawaan lahir
3. Suatu diagnosis kandung kemih terhadap janin menunjukan adanya
kelainan parah yang tidak sesuai dengan kehidupan seperti kehilangan
penglihatan atau kerusakan otak

2.1.3 Macam/Contoh

a. Abortus Provakatus ( Induced Abortion ).


Abortus Provakatus adalah abortus yang disengaja, baik dengan
memakai obat-obatan maupun alat-alat. Abortus ini dibagi menjadi dua
yaitu :
1. Abortus Medisinalis
Abortus Medisinalis adalah abortus karena tindakan kita sendiri,
dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan dapat membahayakan
jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat
persetujuan 2-3 tim dokter ahli.
2. Abortus Kriminalis
Abortus Kriminalis adalah abortus yang terjadi oleh karena
tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi
medis.
b. Abortus Spontan.
Abortus Spontan adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului
faktor-faktor mekanis ataupun medisinalis, semata-mata disebabkan
oleh faktor-faktor alamiah. Abortus Spontan dapat dibagi atas :
1. Abortus kompletus ( keguguran lengkap )
Artinya seluruh hasil konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus)
sehingga rongga rahim kosong

5
2. Abortus Inkompletus ( keguguran bersisa ) Artinya hanya sebagian
dari hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah
desidua dan plasenta
3. Abortus Insipiens ( keguguran sedang berlangsung )
Artinya abortus yang sedang berlangsung, dengan ostium sudah
terbuka dan ketuban yang teraba, kehamilan tidak dapat
dipertahankan lagi
4. Abortus Iminens ( keguguran membakat )
Artinya keguguran membakat dan akan terjadi, dalam hal ini
keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan memberikan obat-obat
hormonal dan antispasmodika serta istirahat
5. Missed Abortion
Artinya keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada
dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Fetus
yang meninggal ini ( a ) bisa keluar dengan sendirinya dalam 2-3
bulan sesudah fetus mati; ( b ) bisa diresorbsi kembali sehingga
hilang; ( c ) bisa jadi mongering dan menipis yang disebut : fetus
papyraceus ; atau ( d ) bisa jadi mola karnosa, dimana fetus yang
sudah mati satu minggu akan mengalami degenerasi dan air
ketubannya diresorbsi.
6. Abortus Habitualis ( keguguran berulang )
Artinya keadan dimana penderita mengalami keguguran berturut-
turut 3 kali atau lebih
7. Abortus Infeksiosus dan abortus Septik
Abortus Infeksiosus adalah keguguran yang disertai infeksi genital,
sedangkan abortus Septik adalah keguguran disertai infeksi berat
dengan penyebaran kuman atau toksinnya ke dalam peredaran
darah atau peritoneum

6
2.1.4 Akibat/Efek
Pada kasus aborsi terdapat efek dari aborsi. Efek aborsi di bagi menjadi 2
yaitu :
a. Efek Jangka Pendek
 Rasa sakit yang intens
 Terjadi kebocoran uterus
 Pendarahan yang banyak
 Infeksi
 Bagian bayi yang tertinggal di dalam
 Shock/Koma
 Merusak organ tubuh lain
 Kematian

b. Efek Jangka Panjang


 Tidak dapat hamil kembali
 Keguguran Kandungan
 Kehamilan Tubal
 Kelahiran Prematur
 Gejala peradangan di bagian pelvis
 Hysterectom

2.1.5 Resiko Aborsi


Ada 2 macam resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi :
a. Resiko kesehatan dan keselamatan secara fisik
Pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada
beberapa resiko yang akan dihadapi seorang wanita, seperti yang
dijelaskan dalam buku “Facts of Life” yang ditulis oleh Brian Clowes,
Phd yaitu:
1) Kematian mendadak karena pendarahan hebat

7
2) Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
3) Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan
4) Rahim yang sobek (Uterine Perforation)
5) Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan
menyebabkan cacat pada anak berikutnya
6) Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen
pada wanita)
7) Kanker indung telur (Ovarian Cancer)
8) Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
9) Kanker hati (Liver Cancer)
10) Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan
menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat
pada saat kehamilan berikutnya
11) Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic
Pregnancy) Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
12) Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis).
b. Resiko gangguan psikologis
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi
dari segi kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi
juga memiliki dampak yang sangat hebat terhadap keadaan mental
seorang wanita.
Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai “Post-Abortion
Syndrome” (Sindrom Paska-Aborsi) atau PAS.Gejala-gejala ini dicatat
dalam “Psychological Reactions Reported After Abortion” di dalam
penerbitan The Post-Abortion Review (1994).
Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan
mengalami hal-hal seperti berikut ini:
1) Kehilangan harga diri (82%)
2) Berteriak-teriak histeris (51%)
3) Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%)
4) Ingin melakukan bunuh diri (28%)
5) Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%)

8
6) Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)
Diluar hal-hal tersebut diatas para wanita yang melakukan aborsi akan
dipenuhi perasaan bersalah yang tidak hilang selama bertahun-tahun dalam
hidupnya.

2.1.6 Dampak Aborsi


Adapun dampak-dampak dari aborsi sebagai beriku:
 Timbul luka-luka dan infeksi-infeksi pada dinding alat kelamin dan
merusak organ-organ di dekatnya seperti kandung kencing atau
usus.
 Robek mulut rahim sebelah dalam (satu otot lingkar). Hal ini dapat
terjadi karena mulut rahim sebelah dalam bukan saja sempit dan
perasa sifatnya, tetapi juga kalau tersentuh, maka ia menguncup
kuat-kuat. Kalau dicoba untuk memasukinya dengan kekerasan
maka otot tersebut akan menjadi robek.
 Dinding rahim bisa tembus, karena alat-alat yang dimasukkan ke
dalam rahim.
 Terjadi pendarahan. Biasanya pendarahan itu berhenti sebentar,
tetapi beberapa hari kemudian/ beberapa minggu timbul kembali.
Menstruasi tidak normal lagi selama sisa produk kehamilan belum
dikeluarkan dan bahkan sisa itu dapat berubah menjadi kanker.

2.1.7 Kebijakan di Indonesia


a. Hukum Aborsi Menurut Undang-Undang
Beberapa pasal yang mengatur abortus provocatus dalam Kitab
Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) :
Pasal 229
1. Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau
menyuruhnya supaya diobati, dengan diberitahukan atau
ditimbulkan harapan, bahwa karenapengobatan itu hamilnya dapat
digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat
tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah.

9
2. Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan,
atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau
kebiasaan, atau jika dia seorang tabib, bidan atau juru obat,
pidananya dapat ditambah sepertiga.
3. Jika yang bersalah, melakukan kejahatan tersebut, dalam menjalani
pencarian maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian
itu.
Pasal 314

Seorang ibu yang, karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada
saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja
merampas nyawa anaknya, diancam, karena membunuh anak sendiri,
dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Pasal 342

Seorang ibu yang, untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena


takut akan ketahuan bahwa akan melahirkan anak, pada saat anak
dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya,
diancam, karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana,
dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Pasal 343

Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang, bagi
orang lain yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau
pembunuhan dengan rencana.

Pasal 346

Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan


kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan
pidana penjara paling lama empat tahun.

Pasal 347

1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan


kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan
pidana penjara paling lama dua belas tahun.

10
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut,
dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 348

1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan


kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan


pidana penjara paling lama tujuh tahun.

Pasal 349

Jika seorang tabib, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan
yang tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan
salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka
pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga
dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan
dilakukan.

Pasal 535

Barang siapa secara terang-terangan mempertunjukkan suatu sarana untuk


menggugurkan kandungan, maupun secara terang-terangan atau tanpa
diminta menawarkan, ataupun secara terang-terangn atau dengan
menyiarkan tulisan tanpa diminta, menunjuk sebagai bisa didapat, sarana
atau perantaraan yang demikian itu, diancam dengan kurungan paling lama
tiga bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

2.1.8 Aborsi Di Indonesia


Setiap tahunnya di Indonesia, berjuta-juta perempuan mengalami
kehamilan yang tidak direncanakan, dan sebagian besar dari
perempuan tersebut memilih untuk mengakhiri kehamilan mereka,

11
walaupun dalam kenyataanya aborsi secara umum adalah illegal.
Seperti di negara-negara berkembang lainnya dimana terdapat stigma
dan pembatasan yang ketat terhadap aborsi, perempuan Indonesia
sering kali mencari bantuan untuk aborsi melalui tenaga-tenaga
nonmedis yang menggunakan cara-cara antara lain dengan meminum
ramuan-ramuan yang berbahaya dan melakukan pemijatan penguguran
kandungan yang membahayakan.

Walaupun bukti-bukti yang dapat dipercaya tidak tersedia, para


peneliti memperkirakan bahwa setiap tahunnya sekitar dua juta aborsi
yang diinduksi terjadi di Indonesia1 dan di Asia Tenggara kematian
yang disebabkan karena aborsi yang tidak aman adalah sebesar 14-
16% dari semua kematian maternal.2 Upaya pencegahan terjadinya
aborsi yang tidak aman adalah sangat penting bila Indonesia ingin
mencapai tujuan ke lima dari Millennium Development Goal untuk
memperbaiki kondisi kesehatan ibu dan menurunkan kematian
maternal. Di Indonesia saat ini hukum tentang aborsi didasarkan pada
hukum kesehatan tahun 1992.3 Walaupun bahasa yang digunakan
untuk aborsi adalah samarsamar, secara umum hukum tersebut
mengizinkan aborsi bila perempuan yang akan melakukan aborsi
mempunyai surat dokter yang mengatakan bahwa kehamilannya
membahayakan kehidupannya, surat dari suami atau anggota keluarga
yang mengijinkan penguguran kandungannya, test laboratorium yang
menyatakan perempuan tersebut positif dan pernyataan yang menjamin
bahwa setelah melakukan aborsi perempuan tersebut akan
menggunakan kontrasepsi.
Laporan ini menerangkan tentang apa yang sudah diketahui sampai
saat ini tentang aborsi di Indonesia. Hasil-hasil penelitian yang tertera
dalam laporan ini terutama adalah berdasarkan hasil dari penelitian-
penelitian yang pernah dilakukan dimana penelitian-penelitian tersebut
mempunyai karakteristik sebagai berikut: dilakukan dalam skala kecil,
dilakukan di daerah perkotaan dan penelitian-penelitian yang berbasis

12
pada klinik bersadarkan pengalaman-pengalaman perempuan yang
melakukan aborsi. Walaupun ada juga hasil penelitian yang dilakukan
di daerah pedesaan, dan aborsi yang dilakukan bukan di klinik, tetapi
penelitian-penelitian tersebut tidak representatif secara nasional.
Walaupun penelitian-penelitian ini tidak memberikan deskripsi
yang lengkap tentang siapa yang melakukan aborsi di Indonesia dan
bagaimana pengalaman-pengalaman mereka, bukti-bukti dari
penelitian tersebut menggambarkan bahwa aborsi di Indonesia banyak
terjadi dan dalam hal ini jenis aborsi yang dilakukan adalah aborsi
yang tidak aman. Aborsi umum dilakukan di Indonesia. Pada tahun
2000 di Indonesia diperkirakan bahwa sekitar dua juta aborsi terjadi.
Angka ini dihasilkan dari penelitian yang dilakukan berdasarkan
sampel yang diambil dari fasilitasfasilitas kesehatan di 6 wilayah, dan
juga termasuk jumlah aborsi spontan yang tidak diketahui jumlahnya
walaupun dalam hal ini diperkirakan jumlahnya kecil. Walaupun
demikian, estimasi aborsi dari penelitian tersebut adalah estimasi yang
paling komprehensif yang terdapat di Indonesia sampai saat ini.
Estimasi aborsi berdasarkan penelitian ini adalah angka tahunan aborsi
sebesar 37 aborsi untuk setiap 1,000 perempuan usia reproduksi (15-49
tahun). Perkiraan ini cukup tinggi bila dibandingkan dengan negara-
negara lain di Asia: dalam skala regional sekitar 29 aborsi terjadi untuk
setiap 1,000 perempuan usia reproduksi. Sementara tingkat aborsi yang
diinduksi tidak begitu jelas, namun terdapat bukti bahwa dari 4.5 juta
kelahiran yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia pada waktu sekitar
waktu penelitian tersebut dilakukan, 760,000 (17%) dari kelahiran
yang terjadi adalah kelahiran yang tidak diinginkan atau tidak
direncanakan.

2.1.9 Aborsi menurut Pandangan Agama


A. Hukum Aborsi

13
Hokum Aborsi Menurut Syari’at Islam Pandangan Syariat Islam
secara umum mengharamkan praktik aborsi. Hal itu tidak
disperbolehkan karena beberapa sebab :
1. Sayriat Islam datang dalam rangka menjaga adhdharuriyyat al-
khams, lima hal yang urgen, seperti telah dikemukakan.
2. Aborsi sangat betentangan sekali dengan tujuan utama pernikahan.
Dimana tujuan penting pernikahan adalah memperbanyak
keturanan. Oleh sebab itu Allah memberikan karunia kepada Bani
Israil dengan memperbanyak jumlah mereka, Allah berfirman :
“Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar” (AL-isra :6)
Nabi juga memerintahkan umatnya agar memperbanyak
pernikahan yang diantara tujuannya adalah memperbanyak
keturunan. Beliau bersabda : “Nikahilah wanita penyayang nan
banyak melahirkan, karena dengan banyak jumlah kalian aku akan
berbangga-bangga dihadapan umat lainnya pada hari kiamat
kelak”.
3. Tindakan aborsi merupakan sikap buruk sangka terhadap Allah.
4. Seseorang akan menjumpai banyak diantara manusia yang
melakukan aborsi karena didorong rasa takut akan
ketidakmampuan untuk mengemban beban kehidupan, biaya
pendidikan dan segala hal yang berkaitan dengan konseling dan
pengurusan anal. Ini semua merupakan sikap buruk sangka
terhadap Allah. Padahal, Allah telah berfirman : “Dan tidak suatu
binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang meberi
rezekinya”.
Maka, Syariat Islam memandang bahwa hokum aborsi adalah
haram kecuali beberapa kasus tertentu. Dalam kalangan ulama terdapat
perbedaan pendapat tentang praktik aborsi tersebut, dan mereka
memiliki dalil-dalil yang sama kuat pula, yaitu sebagai berikut :
1. Dalil-dalil yang melarang dilakukannya aborsi sebelum Islam
datang, pada masa jahiliyah, kaum Arab mempeunyai tradisi
mengubur hidup-hidup bayi yang dilahirkan. Allah SWT

14
berfirman: “Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur
hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh”. (At
Takwiir 8-9). Islam membawa ajaran yang menentang dan
mengutuk tradisi jahiliyah ini. Allah SWT berfirman : “Dan
janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut
kemiskinan. Kamilah yang akan member rezeki kepada mereka
dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah
suatu dosa yang besar:. (Al-Isra 31). Pada perkembangan
selanjutya, pembunuhan tidak hanya dilakukan pada bayi-bayi
yang baru dilahirkan. Tetapi juga dilakukan dengan cara
membunuh calon-calon bayi yang akan dilahirkan. Dalam
istilah fiqih disebut : Sementara ulama lain berpendapat,
hokum mengugurkan kandungan tidak disamakan persis
dengan membunuh bayi yang suda dilahirjkan. Karena ketika
sperma sudah memasuki rahimm perempuan, masih ada proses
panjang sebelum akhirnya keluar menjadi bayi yang
dilahirkan.allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya kami
telah menciptakan manusia dari suatu sripati (berasal) dari
tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air
mani kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu
kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus
dengan daging. Kemudian kami jadikan Dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka maha sucilah Allah, Pencipta yang
paling baik”. )Al-mu’minun :12-14). Secara sederhana,
pendapat para ulama mengenai hokum aborsi dapat
disimpulkan sebagai berikut: Apabila kandungan masih dalam
bentuk gumpulan darah (40-80 hari) atau masih dalam bentuk
gumpulan daging (80-120hari), maka hukumnya adalah sebagai
berikut : menurut Ibnu Immad dan Imam Al-Ghozali, haram
hukumnya karena gumpalan itu akan menjadi makhluk yang

15
bernyawa. Pendapat ini di dukung oleh Imam Ibnu Imam Hajar
Al-Haytami.
2. Dalil-dalil yang membolehkan dilakukannya aborsi. Hukum
asal aborsi, sebagaimana yang telah dikemukakan adalah
haram. Akan tetapi dikarenakan kaidah : “ Hal-hal yang darurat
dapat menyebabkan dibolehkannya hal-hal yang dilarang”.
Para ulama kontemporer mambolehkan aborsi dengan syarat-
syarat sebagai berikut : a. Terbukti adanya penyakit yang
membahayakan jiwa sang ibu, b. Tidak ditemukannya cara
ppnyembuhan kecuali dengan cara aborsi, c. Adanya keputusan
dari sang dokter yang dapat di percaya bahwa aborsi adalah
satu-satunya cara untuk menyelamatkan sang ibu. Imam Abu
ishaq Al-Marwazi berpendapat bahwa hokum mengaborsi
adalah boleh. Karena kenyataannya gumpalan itu masih belum
dapat dikatakan makhluk yang bernyawa. Pendapat ini
didukung oleh Imam Romli. Sedangkan hokum aborsi pada
kandungan yang sudah berusia 120 hari hukumnya adalah
haram dan tergolong dosa besar, karena pada usia itu
kandungan sudah berbentuk makhluk hidup dan bernyawa
sehingga hukum-nya sama dengan membunuh manusia. Dalam
hadits dinyatakan : “Sesungguhnya kalian dikumpulkan di
dalam rahi ibu selama 40 hari dalam bentuk air mani, dan 40
hari dalam bentuk gumpalan darah, dan 40 hari dalam bentuk
gumpalan daging, lalu Allah SWT mengutus malaikat
meniupkan ruh” (HR.Bukori, Muslim).

Agama banyak mempeng- aruhi pandangan-pandang- an tentang


aborsi di Indonesia. Di Indonesia, agama membantu mempengaruhi
terbentuknya pendapat publik untuk isu seperti aborsi. Penelitian
terhadap 105 tokoh agama Islam, Katholik dan agamaagama Kristen
lainnya di Yogyakarta mencerahkan pandangan tentang aborsi dari
kelompok-kelompok agama di Indonesia. Walaupun tidak representatif

16
secara nasional, penelitian tersebut mengindikasikan keberadaan
berbagai pandangan tentang aborsi, dimana sebagian dari pandangan-
pandangan para tokoh agama yang diwawancarai tidak sekonservatif
kebijakan nasional tentang hal ini. Sebagian dari totoh-tokoh agama
(82%) setuju bila aborsi dilakukan karena membahayakan nyawa
perempuan.16 banyak yang berpendapat bahwa nyawa sang ibu lebih
penting dibanding nyawa fetus yang dikandungnya, karena sang ibu
diperlukan untuk merawat anak-anak yang lain dan juga keluarganya.
Tokoh-tokoh agama Islam, walau pada umumnya konservatif,
cenderung mempunyai pandangan yang lebih toleran terhadap aborsi
dibandingkan dengan tokoh-tokoh agama dari agama Kristen.16
Contohnya, bila banyak tokoh agama yang tidak setuju dengan aborsi
karena alasan akan mengganggu sekolah atau dapat mempengaruhi
keadaan kesehatan kejiwaan sang ibu, lebih banyak proporsi tokoh
agama Islam dibanding Kristen yang menyetujui tentang hal ini. Tidak
ada tokoh agama Kristen yang setuju dengan penguguran kandungan
karena alasan kegagalan kontrasepsi, tetapi beberapa tokoh agama
Islam menyetujui hal ini. Diantara tokoh agama Islam, pandangan
mereka tentang aborsi berbeda tergantung aliran yang diikutinya:
aliran Imam Hanafi menyetujui dilakukannya aborsi sampai 120 hari
setelah konsepsi, sementara aliran Syafi’i percaya bahwa aborsi hanya
dapat dilakukan dalam kurun waktu 40 hari setelah masa konsepsi.

2.2 Prinsip Etika


a. Otonomy (autonomy)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu
mampu berfikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang
dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri,
memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus
dihargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk resepek
terhdap seseorang, atau dipandang sebagai pesetujuan tidak memaksa
dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian

17
dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktik
professional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-
hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya.
b. Berbuat Baik (Beneficience)
Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik.
Kebaikan memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan,
penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatkan kebaikan
oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan
kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi.
c. Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dibutuhkan untuk tercapainya sesuatu yang sama
dan adil terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral,
legal dan kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam praktik
professional ketika pearawat bekerja untuk terapi yang bentar sesuai
hukum, standar praktik dan keyakinan yang benar untuk memperoleh
kualitas pelayanan kesehatan.
d. Tidak Merugikan (Non meleficience)
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya atau cedera fisik dan
psikologis selama perawat memberikan asuhan keperawatan pada
klien dan keluarga.
e. Kejujuran (Veracity)
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai diperlukan
oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebeneran
pada setiap klien dan untuk menyakinkan bahwa klien sangat
mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan
seseorang untuk mengatakan kebeneran. Informasi harus ada agar
menjadi akurat, komprehensif, dan objektif untuk memfasilitasi
pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang
sebenernya kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan
dengan keadaan dirinya selama menjalani perawatan. Walaupun
demikian, terdapat beberapa argumen mengatakan adanya batasan
untuk kejujuran seperti jika kebenaran akan kesalahan prognosis

18
klien untuk pemulihan atau adaya hubungan paternalistic bahwa
“doctors know best” sebab individu memiliki otonomi, mereka
memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang
kondisinya. Kebenaran merupakan dasar dalam membangun
hubungan saling percaya.
f. Menepati Janji (Fidelity)
Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan
komitmennya terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya
dan menepati janji serta menyampaikan rahasia kilen. Ketaatan,
kesetian, adalah kewajiban seseorang untuk mempertahankan
komitmen yang dibuatnya. Kesetian, menggambarkan kepatuhan
perawat terhadap kode etik yang menyatakan bahwa tanggung jawab
dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah
penyakit, memulihkan kesehatan dan meminimalkan penderitaan.
g. Kerahasian (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasian adalah informasi tentang klien
harus dijaga privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam
dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka
pengobatan klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh
informasi tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti
persetujuan. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan,
menyampaian pada temen atau keluarga tentang klien dengan tenaga
kesehatan lain harus dihindari.
h. Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan
seorang professional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau
tanpa terkecuali.

2.3 Kode Etik Keperawatan di Indonesia


Berkat bimbingan Tuhan Yang Maha Esa dalam melaksanakan tugas
pengabdian untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa dan tanah air,
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyadari bahwa perawat

19
Indonesia yang berjiwa pancasila dan UUD 1945 merasa terpanggil
untuk menunaikan kewajiban dalam bidang keperawatan dengan penuh
tanggung jawab, berpedoman kepada dasar-dasar seperti tertera di bawah
ini:
a. Perawat dan Klien
 Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan
menghargai harkat dan martabat manusia, keunikan klien,
dan tidak terpengaruh oleh pertimbangan kebangsaan,
kesukuan, warna kulit, umur, jenis kelamin, aliran politik, dan
agama yang dianut serta kedudukan social.
 Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan
senantiasa memelihara suasana lingkungan yang
menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan
kelangsungan hidup beragama dari klien.
 Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang
membutuhkan asuhan keperawatan.
 Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui
sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya
kecuali jika diperlukan oleh berwenang sesuai dengan
ketentuan hukum yang berlaku.
b. Perawat dan Praktik
 Perawat memelihara dan meningkatkan kompetisi dibidang
keperawatan melalui belajar terus menerus
 Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan
yang tinggi disertai kejujuran professional yang menerapkan
pengetahuan serta keterampilan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan klien.
 Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada
informasi yang akurat dan mempertimbangkan kemampuan
serta kualifikasi seseorang bila melakukan konsultasi,
menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang
lain

20
 Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi
keperawatan dengan selalu menunjukkan perilaku
professional
c. Perawat dan Masyarakat
 Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat
untuk memprakarsai dan mendukung berbagai kegiatan
dalam memenuhi kebutuhan dan kesehatan masyarakat.
d. Perawat dan Teman Sejawat
 Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan
sesama perawat maupun dengan tenaga kesehatan lainnya,
dan dalam memelihara keserasian suasana lingkungan kerja
maupun dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara
menyeluruh
 Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan
yang memberikan pelayanan kesehatan secara tidak
kompeten, tidak etis dan illegal.

e. Perawat dan Profesi


 Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar
pendidikan dan pelayanan keperawatan serta menerapkannya
dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan keperawatan
 Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan
pengembangan profesi keperawatan
 Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk
membangun dan memelihara kondisi kerja yang kondusif
demi terwujudnya asuhan keperawatan

2.4 Profesionalisme keperawatan


Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang
merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Pelayanan
keperawatan yang professional merupakan praktek keperawatan yang

21
dilandasi oleh nilai-nilai profesional, yaitu mempunyai otonomi dalam
pekerjaannya, bertanggung jawab dan bertanggung gugat, pengambilan
keputusan yang mandiri, kolaborasi dengan disiplin lain, pemberian
pembelaan dan memfasilitasi kepentingan klien. Tuntutan terhadap
kualitas pelayanan keperawatan mendorong perubahan dalam
memberikan asuhan keperawatan yang efektif dan bermutu. Dalam
memberikan asuhan keperawatan yang profesional diperlukan sebuah
pendekatan manajemen yang memungkinkan diterapkannya metode
penugasan yang dapat mendukung penerapan perawatan yang
profesional di rumah sakit (Bimo, 2008). Model praktek keperawatan
profesianal (MPKP) adalah salah satu metode pelayanan keperawatan
yang merupakan suatu system, struktur, proses dan nilai-nilai yang
memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan
keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan
tersebut. MPKP telah dilaksanakan dibeberapa negara , termasuk rumah
sakit di Indonesia sebagai suatu upaya manajemen rumah sakit untuk
meningkatkan asuhan keperawatan melalui beberapa kegiatan yang
menunjang kegiatan keperawatan profesional yang sistematik. Penerapan
MPKP menjadi salah satu daya ungkit pelayanan yang berkualitas.
Metode ini sangat menekankan kualitas kinerja tenaga keperawatan yang
berfokus pada profesionalisme keperawatan antara lain melalui
penerapan standar asuhan keperawatan. Standar Asuhan Keperawatan
merupakan pernyataan kualitas yang diinginkan dan dapat dinilai
pemberian asuhan keperawatan terhadap klien. Untuk menjamin
efektifitas asuhan keperawatan pada klien, harus tersedia kreteria dalam
area praktek yang mengarahkan keperawatan mengambil keputusan dan
melakukan intervensi keperawatan secara aman. adanya standar asuhan
keperawatan dimungkinkan dapat memberikan kejelasan dan pedoman
untuk mengidenfikasi ukuran dan penilaian akhir. Standar asuhan
keperawatan dapat meningkatkan dan memfasilitasi perbaikan dan
pencapaian kualitas asuhan keperawatan.

22
2.5 Nursing advocacy
Nursing Advocacy adalah proses dimana perawat secara objektif
memberikan klien informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan
dan mendukung klien apapun keputusan yang ia buat.
Menurut para ahli perawat advokat ada 3 yaitu
1. Ana pada tahun 1985
Melindungi klien atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan
keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten dan melanggar
etika yang dilakukan oleh siapapun.
2. Fry pada tahun 1987
Advokasi sebagai dukungan aktif tarhadap setiap hal yang memiliki
penyebab atau dampak penting.
3. Gondow pada tahun 1983
Advokasi merupakan dasar falsafat dan ideal keperawatan yang
melibatkan bantuan perawat secara aktif kepada individu secara bebas
menentukan nasibnya sendiri. Perawat sebagai advokat merupakan
penghubung antara klien tim kesehatan lain dalam rangka pemenuhan
kebutuhan klien, membela kepentingan klien dan membantu klien
memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan tim
kesehatan dengan pedekatan tradisional maupun profesional,
narasumber dan fasilitator dalam tahap pengembalian keputusan
terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien.
Peran Advokat Keperawatan sebagai berikut:
1. Melindungi hak klien sebagai manusia dan secara hukum
2. Membantu klien dalam menyatakan hak-haknya bila
dibutuhkan
3. Memberikan bantuan mengandung dua peran yaitu peran aksi
dan peran nonaksi
Tanggung jawab perawat sebagai berikut:
1. Secara Umum: Mempunyai tanggung jawab dalam
memberikan aspek,meningkatkan ilmu pengetahuan dan
menigkatkan diri sebagai profesi.

23
2. Secara khusus: Memberikan aspek kepada klien mencakup
asapek bio-spiko-sosio-kultural-spiritual yang kompehansif
dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasarnya.
Dalam menjalankan tugasnya perawat dilindungi oleh Undang-
Undang no. 6 tahun 1960 UU ini membedakan tenaga kesehatan
sarjana dan bukan sarjana.Tenaga perawat termasuk dalam tenaga
bukan sarjana atau tenaga kesehatan dengan pendidikan
rendah,termasuk bidan dan asisten farmasi dimana dalam
menjalankan tugas di bawah pengawasan dokter,dokter gigi,dan
apotek.
Permenkes No. 363/Menkes/Per/XX/1980 tahun 1980
Pemerintahan membuat suatu pernyataan yang jelas perbedaan
antara tenaga keperawatan dan bidang.Bidang seperti halnya
dokter,diijinkan mengadakan praktik swasta,sedangkan tenaga
keperawatan secara resmi tidak diijinkan.
Moral pada praktek keperawatan berarti perawat bisa
memberikan jawaban bagaimana mereka meningkatkan,
melindungi dan memenuhi kebutuhan kesehatan sambil
menghormati hak individu dalam menentukan pelayanan kesehatan
sendiri. Dalam keperawatan kesehatan masyarakat dimana
penekanan yang terbesar atas kelompok besar dan bukan atas
individu klien akuntabilitas moral berarti bisa di jawab bagaimana
kesehatan dari orang banyak, bagaimana ditingkatkannya
dilindungi dan di penuhi kebutuhannya.
Tujuan etika dan moral antara lain sebagai berikut:
1. Mengenal dan mengidentifikasi unsur moral dan praktik
keperawatan
2. Membentuk strategi/cara dan menganalisis masalah moral
yang terjadi dalam peraktik keperawatan
3. Menghubungkan prinsif /moral yang baik dan dapat di
pertanggungjawabkan terhadap diri sendiri

24
,keluarga,masyarakat,dan kepada Tuhan ,sesuai
kepercayaannya.
Konsep moral dalam praktik keperawatan. Praktik
keperawatan termasuk etika keperawatan mempunyai dasar
penting sebagai advokasi, akuntabilitas, loyalitas, kepedulian,
rasa haru dan menghormati martabat manusia. Dalam standar
praktik keperawatan dan telah menjadi bahan kajian dalam
waktu lama adalah advokasi, akuntabilitas dan loyalitas.
Advokasi sering digunakan dalam konteks hukum yang
berkaitan dengan upaya melindungi hak-hak manusia bagi
mereka yang tidak mampu membela diri. Arti advokasi
menurut ikatan perawat Amerika (1985) adalah melindungi
klien atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan
keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten dan
melanggar etika yang dilakukan oleh siapapun.

BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1 Kasus Aborsi :

Seorang perempuan bernama Bunga berusia 17 tahun didampingi oleh


orang tua dan seorang psikolog datang ke poli kebidanan. Dari hasil keterangan
psikolog tersebut, mengatakan bahwa Bunga sedang hamil akibat tindakan
perkosaan dari orang yang tidak dikenalnya beberapa minggu yang lalu. Saat ini
Bunga sangat trauma dan depresi akibat kejadian tersebut sehingga selalu
menunduk ketika berbicara dengan orang asing. Psikolog dan orang tua dari
Bunga ingin agar kehamilan Bunga diaborsi saja dikarenakan khawatir kehamilan
tersebut akan memperparah kondisi kejiwaan Bunga. Dari hasil pemeriksaan

25
ternyata janin Bunga memasuki usia kehamilan 7 minggu dan janin tampak sehat.
Apa yang anda lakukan sebagai seorang perawat? bagaimana anda harus
bersikap?

3.2 Pembagian Peran

 Mahasiswa Nur Intan Marliana sebagai “Bunga”


 Mahasiswa Pawestri Utami Putu J sebagai “Ibunya Bunga (Mamah Kia)”
 Mahasiswa Faris Mauladi Fahri sebagai “Ayahnya Bunga (Ayah Alex)”
 Mahasiswa Wiwi Setiawati sebagai “Bidan (Bd. Wiwi Setiawati, amd.Keb)
 Mahasiswa Nadya Nurhasanah sebagai “Psikolog (Nadya Pearce, S.Pi)
 Mahasiswa Anissa Duwi Nur A’ini sebagai “Perawat (Ns. Anissa Duwi
Nur A’ini, S.Kep, M.Kep )
 Mahasiswa pemeran pembantu 3 orang :
1. Aji Hadi Wijaya
2. Yofi amirul Hizam
3. Faris Mauladi Fahri

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Peninjauan kasus dari sudut dari prinsip etika


Dari prinsip etika yang diambil dari kasus aborsi ini yaitu:
1. Prinsip menepati janji (fidelity) Prinsip fidelity dibutuhkan individu
untuk menghargai janji dan komitmennya terhadap orang lain. Perawat
setia pada komitmennya dan menepati janji serta menyampaikan
rahasia kilen. Ketaatan, kesetian, adalah kewajiban seseorang untuk
mempertahankan komitmen yang dibuatnya. Kesetian, menggambarkan
kepatuhan perawat terhadap kode etik yang menyatakan bahwa
tanggung jawab dasar dari perawat adalah untuk meningkatkan

26
kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan dan
meminimalkan penderitaan. Karena pada kasus tersebut seorang
perawat harus menepati janji yang telah disepakati antara 2 pihak yaitu
perawat dan pasien. Karena seorang pasien memiliki privasi masing-
masing disetiap kehidupannya.
2. Prinsip autonomy yaitu Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan
bahwa individu mampu berfikir logis dan mampu membuat keputusan
sendiri. Orang dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan
membuat sendiri, memilih dan memiliki berbagai keputusan atau
pilihan yang harus dihargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan
bentuk resepek terhdap seseorang, atau dipandang sebagai pesetujuan
tidak memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak
kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri.
Praktik professional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai
hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya.
Karena pasien memiliki hak kewajibannya masing-masing dalam
mengambil sebuah keputusan terhadap kasus aborsi tersebut
dikarenakan kehamilan itu tidak diinginkan oleh pasien dan
keluarganya.
3. Dan prinsip kejujuran (veracity) Prinsip veracity berarti penuh dengan
kebenaran. Nilai diperlukan oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk
menyampaikan kebeneran pada setiap klien dan untuk menyakinkan
bahwa klien sangat mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan
kemampuan seseorang untuk mengatakan kebeneran. Informasi harus
ada agar menjadi akurat, komprehensif, dan objektif untuk
memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada, dan
mengatakan yang sebenernya kepada klien tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan keadaan dirinya selama menjalani perawatan.
Walaupun demikian, terdapat beberapa argumen mengatakan adanya
batasan untuk kejujuran seperti jika kebenaran akan kesalahan
prognosis klien untuk pemulihan atau adaya hubungan paternalistic
bahwa “doctors know best” sebab individu memiliki otonomi, mereka
memiliki hak untuk mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya.
Kebenaran merupakan dasar dalam membangun hubungan saling
percaya. Dalam kasus ini kejujuran tentang informasi yang diberikan
kepada pasien dan keluargannya sangat penting, karena dapat
berdampak negative terhadap kasus abosi ini dapat menimbulkan
kematian apabila seorang perawat tidak menjelaskan dengan detail dan
sejujur-jujurnya.

4.2 Kode etik

27
Dalam kasus aborsi ini kode etik yang dapat diambil tentang perawat
dan klien serta perawat dan praktik
1. Perawat dan Klien
 Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui
sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya
kecuali jika diperlukan oleh berwenang sesuai dengan
ketentuan hukum yang berlaku.
Karena pada kasus ini keluarga meminta kepada perawat untuk
merahasiakan kehamilan dari si pasien, dikarenakan keluarga pasien
tidak ingin nama baik dari keluarganya menjadi tercoreng akibat
peristiwa dari pemerkosaan serta aborsi yang dilakukan.
1. Perawat dan Praktik
 Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada
informasi yang akurat dan mempertimbangkan kemampuan
serta kualifikasi seseorang bila melakukan konsultasi,
menerima delegasi dan memberikan delegasi kepada orang
lain
 Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi
keperawatan dengan selalu menunjukkan perilaku
professional.
Dalam kasus ini perawat harus dapat memberitahu kepada pasien
dan keluarga bahwa tindakan abortus itu berbahaya, dan bisa
melanggar Undang-undang dalam keperawatan dan ada hokum
agama yang terkait kasus aborsi tersebut. Selain itu perawat
harus memberikan informasi dengan lengkap dan dapat
menghargai keputusan pasien dan keluarganya. Memberikan
inform consent setiap melakukan tindakan apapun kepada pasien.
Seorang perawat harus mematuhi SOP (Standart Operational
Procedure) yang berada dirumah sakit dan mematuhi kode etik
keperawatan serta selalu menjaga nama baik instansi tempat
bekerja karena tindakan abortus di ilegealkan di Indonesia.

28
4.3 Nursing advocacy
Menurut para ahli perawat advokat ada 3 yaitu:
1. Ana pada tahun 1985
Melindungi klien atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan
dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak kompeten dan
melanggar etika yang dilakukan oleh siapapun.
2. Fry pada tahun 1987
Advokasi sebagai dukungan aktif tarhadap setiap hal yang
memiliki penyebab atau dampak penting.
3. Gondow pada tahun 1983
Advokasi merupakan dasar falsafat dan ideal keperawatan yang
melibatkan bantuan perawat secara aktif kepada individu secara
bebas menentukan nasibnya sendiri. Perawat sebagai advokat
merupakan penghubung antara klien tim kesehatan lain dalam
rangka pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien
dan membantu klien memahami semua informasi dan upaya
kesehatan yang diberikan tim kesehatan dengan pedekatan
tradisional maupun profesional, narasumber dan fasilitator dalam
tahap pengembalian keputusan terhadap upaya kesehatan yang
harus dijalani oleh klien.
Menurut pandangan dari para ahli dalam kasus abortus ini
bahwa perawat dapat memberikan informasi tentang aborsi yang
dilakukan daan dapat membantu pasien dalam memutuskan
masalah dari kasus ini. Dan dalam nursing advocacy seorang
peraawat harus melindungi hak klien dalam mengambil sebuah
keputusan dan menghargai setiap keputusan yang diambil oleh
pasien dan keluarganya serta perawat memiliki tanggung jawab
dalam askep bio-psiko-sosial-kultural- dan spiritual untuk
memenuhi kebutuhan dasarnya karena dalam kasus ini pasien
mengalami depresi yang menyebabkan trauma terhadap lingkungan
luar. Sehingga seorang perawat dapat membantunya dalam aspek
mental yang dialami oleh pasien.

29
4.4 Hukum/kebijakan praktek keperawatan
Menurut hukum di Indonesia abortus merupakan tindakan
yang ilegal karena bersifat dan sangat tabuh di kalangan
masyarakat karena sama saja tindakan criminal yaitu termasuk
tindakan pembunuhan. Karena di Indonesia tindakan abortus
merupakan suatu tindakan dari kelahiran yang terjadi adalah
kelahiran yang tidak diinginkan atau tidak direncanakan. Sehingga
masyarakat Indonesia lebih memilih tindakan untuk mengugurkan
janinnya. Dan dalam tindakan aborsi ini memiliki Undang-Undang
yang berlaku di Indonesia.
Dalam pandangan agama tindakan abortus sama saja
membunuh manusia karena mengugurkan bakal janin yang akan
terbentuk menjadi seorang manusia yang suci dan bernyawa.
Sehingga dalam pandangan agama tindakan ini adalah tindakan
yang haram menurup para ulama.

4.5 Teori pengambilan keputusan etika


Pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang
sistematis terhadap hakikat suatu masalah dengan pengumpulan
fakta-fakta dan data, menentukan alternatif yang matang untuk
mengambil suatu tindakan yang tepat. Seoarang perawat dalam
kasus aborsi ini mengambil keputusan dengan bijak dan
mempertimbangkannnya dengan matang dari dampak serta resiko
yang dapat timbul dalam kasus ini. Dan harus sesuai dengan SOP
yang berlaku di intansi kesehatan yang bersangkutan dan sesuai
kode etik keperawatan yang ada dalam sebuah organisasi PPNI
tersebut.
4.6 Profesionalisme keperawatan
Dalam teori profesionalisme keperawatan adalah bentuk
pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan. Pelayanan keperawatan yang professional

30
merupakan praktek keperawatan yang dilandasi oleh nilai-nilai
profesional, yaitu mempunyai otonomi dalam pekerjaannya,
bertanggung jawab dan bertanggung gugat, pengambilan keputusan
yang mandiri, kolaborasi dengan disiplin lain, pemberian
pembelaan dan memfasilitasi kepentingan klien. Tuntutan terhadap
kualitas pelayanan keperawatan mendorong perubahan dalam
memberikan asuhan keperawatan yang efektif dan bermutu. Dalam
kasus abortus ini perawat harus bekerja secara professional dan
bertanggung jawab terhadap tindakan keperawatan yang dilakukan
dan dalam mengambil sebuah keputusan perawat harus
mempertimbangkannya dengan matang serta mendiskusikannya
dengan pasien maupun keluarganya. Sehingga setiap keputusan
yang diambil sesuai dengan hak dan kewajiban yang pasien
inginkan. Serta sebelum melakukan sebuah tindakan keperawatan
seorang perawat harus meminta persetujuan terhadap keluarga
maupun pasien dengan memberikannya inform concent agar tidak
terjadi kesalahan dalam melakukan tindakan dan perawat
mempunyai bukti yang akurat apabila terjadi kesalahan maka dari
itu perawat harus membuat sebuah catatan berupa asuahan
keperawatan sebagai bukti.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

31
Aborsi adalah tindakan penghentian kehamilan sebelum janin dapat hidup
di luar kandungan (sebelum usia 20 minggu kehamilan), bukan semata-mata
untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dalam keadaan darurat tapi juga bisa karena
sang ibu tidak menghendaki kehamilan itu. Alasan yang paling utama aborsi
adalah alasan yang non-medis di antaranya tidak ingin memiliki anak karena
khawatir mengganggu karir, sekolah atau tanggung jawab lain, tidak memiliki
cukup uang untuk merawat anak, dan tidak ingin melahirkan anak tanpa ayah.
Alasan lain yang sering dilontarkan adalah masih terlalu muda (terutama mereka
yang hamil di luar nikah), dan bisa menjadikan aib bagi keluarga. Selain itu,
aborsi juga dapat menimbulkan dampak buruk pada psikologis dan kesehatan fisik
ibu.

5.2 Saran

Di dalam keluarga dan lingkungan tempat tinggal harus selalu


menanamkan nilai-nilai moral, sosial, dan agama kepada remaja agar para remaja
dapat menjaga kehormatan dirinya masing-masing sehingga remaja dapat
terhindar dari bermacam-macam pergaulan bebas. Sebaiknya, pada kaum
perempuan yang mengalami kemamilan, hindari melakukan aborsi karena dengan
melakukan aborsi kita sudah menjadi pembunuh janin yang tidak berdosa.
Melakukan aborsi juga dilarang dalam hukum dan agama. Dan sebagai perawat,
kita harus memberikan dukungan atau motivasi kepada pasien agar pasien dapat
kembali menjalani kehidupannya secara normal kembali.

DAFTAR PUSTAKA

Dalami, Ermawati, dkk. 2015. Etika Keperawatan. Jakarta: CV. Trans Infomedia

32
Mukadimah. Kode etik. Diakses di http://www.inna-ppni.or.id/index.php/kode-
etik. Pada tanggal 20 Oktober 2016
Wijayarini, Maria. A. 1996.Maternity Nursing. Jakarta:EGC
Yuliyanti, Devi, dkk. 2011. Keperawatan Medikal-bedah Brunner dan Suddarth,
Ed.12. Jakarta:EGC

33