Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

KODE ETIK PSIKOLOGI INDONESIA

IKLAN PERNYATAAN PUBLIK DAN BIAYA

Makalah ini disusun sebagai tugas MK Kode Etik Psikologi

Disusun oleh:

Aprilia Firdaus

Shafira Allayda Hernany Eddy

Gabriela Sekar Pangestika

Helmi Hammam Wicaksono

Rizvanda Dzulfan Hafizh

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

FAKULTAS PSIKOLOGI 2018


Daftar Isi

Daftar Isi .......................................................................................................... 2


BAB I
Pendahuluan ................................................................................................... 5
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 5
1.2 Tujuan .................................................................................................... 5
1.3 Manfaat .................................................................................................. 6
1.4 Rumusan Masalah ................................................................................. 6
BAB II
ISI .................................................................................................................... 7
BAB VI IKLAN dan PERNYATAAN PUBLIK ................................................ 7
Pasal 28
Pertanggungjawaban .................................................................................................. 7
Pasal 29
Keterlibatan Pihak lain Terkait Pernyataan Publik ............................................ 8
Pasal 30
Deskripsi Program Pendidikan Non Gelar ........................................................... 9
Pasal 31
Pernyataan Melalui Media ........................................................................................ 9
Pasal 32
Iklan Diri yang Berlebihan ....................................................................................... 10
BAB VII BIAYA LAYANAN PSIKOLOGI ..................................................... 10
Pasal 33
Penjelasan Biaya dan Batasan.............................................................................. 10
Pasal 34
Rujukan dan Biaya .................................................................................................... 11
Pasal 35
Keakuratan Data dan Laporan kepada Pembayar atau Sumber Dana .... 12
Pasal 36
Pertukaran (Barter).................................................................................................... 12
BAB III
Pembahasan ................................................................................................. 13
Bab VI IKLAN DAN PERNYATAAN PUBLIK ............................................. 13
Pasal 28
Pertanggungjawaban.………………………………………………………..12
Pasal 29
Keterlibatan Pihak Lain Terkait Pernyataan Publik ......................................... 13
Pasal 30
Deskripsi Program Pendidikan Non Gelar ......................................................... 14
Pasal 31
Pernyataan Melalui Media ...................................................................................... 14
Pasal 32
Iklan Diri Yang Berlebihan ...................................................................................... 14
BAB VII BIAYA LAYANAN PSIKOLOGI ..................................................... 15
Pasal 33
Penjelasan Biaya dan Batasan.............................................................................. 15
Pasal 34
Rujukan dan Biaya .................................................................................................... 15
Pasal 35
Keakuratan Data dan Laporan kepada Pembayar atau Sumber Dana .... 16
Pasal 36
Pertukaran (Barter).................................................................................................... 16
BAB IV
DISKUSI KASUS ........................................................................................... 17
Kasus Satu ................................................................................................. 17
Analisa Kasus Satu .................................................................................... 18
Kasus Dua ................................................................................................. 18
Analisa Kasus Dua ..................................................................................... 19
BAB V
Penutup ......................................................................................................... 20
Kesimpulan ................................................................................................ 20
Saran ......................................................................................................... 20
BAB VI
Daftar Pustaka............................................................................................... 21
BAB I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Semakin berkembangnya zaman, berkembang pula tingkat kejahatan
yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Maraknya
malapraktik yang dilakukan oleh tenaga ahli baik dalam bidang medis
maupun psikologis kian menjamur. Maka dari itulah dibutuhkan banyak
profesional baru yang mampu menaati nilai-nilai luhur yang terkandung
dalam Kode Etik. Dalam psikologi terdapat suatu pedoman yang berisi
pasal-pasal yang mengatur hal-hal seputar ketentuan, adab, dan
pedoman etis yang terangkum dalam Kode Etik Psikologi Indonesia. Kode
Etik Psikologi Indonesia merupakan ketentuan tertulis yang menjadi
pedoman dalam bersikap dan berperilaku, serta pegangan teguh seluruh
Psikolog dan Kelompok Ilmuwan Psikologi dalam menjalankan aktivitas
profesinya sesuai dengan kompetensi dan kewenangan masing-masing,
guna menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera. Psikolog
dan Kelompok Ilmuwan Psikologi harus memiliki tanggung jawab khusus
yang mewajibkan mereka bertindak demi kesejahteraan dan kepentingan
pengguna layanan psikologi. Tanggung jawab khusus inilah yang
dijadikan sebagai dasar dalam menetapkan Kode Etik Psikologi
Indonesia.

1.2 Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
kode etik. Tugas ini disusun dengan mempelajari dan memahami buku
Kode Etik Psikologi Indonesia.
1.3 Manfaat
Manfaat dari penyusunan makalah ini adalah memperluas wawasan
mengenai ketentuan dan adab yang berlaku terhadap Psikolog dan
Ilmuan Psikologi, dan memahami tanggung jawab yang Psikolog dan
Ilmuan Psikolog emban dalam menjalani profesinya.

1.4 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang akan dibahas di dalam makalah ini adalah:

1. Pasal-pasal apa saja yang terkandung dalam Bab Iklan dan


Pernyataan Publik serta Bab Biaya Layanan Psikologi yang terdapat di
dalam Kode Etik Psikologi Indonesia?
2. Apa penjelasan dari pasal-pasal tersebut?
3. Apa contoh kasus yang berkaitan dengan pelanggaran Kode Etik
Psikologi Indonesia?
4. Pasal apa yang berkaitan dengan kasus pelanggaran tersebut?
BAB II
ISI

Bab dan pasal-pasal yang terdapat di dalam buku Kode Etik Psikologi
Indonesia yang mencakup seputar iklan, pernyataan publik, dan biaya.

BAB VI IKLAN dan PERNYATAAN PUBLIK

Pasal 28
Pertanggungjawaban
Iklan dan Pernyataan publik yang dimaksud dalam pasal ini dapat
berhubungan dengan jasa, produk atau publikasi profesional Psikolog
dan/atau Ilmuwan Psikologi di bidang psikologi, mencakup iklan yang dibayar
atau tidak dibayar, brosur, barang cetakan, daftar direktori, resume pribadi
atau curriculum vitae, wawancara atau komentar yang dimuat dalam media,
pernyataan dalam buku, hasil seminar, lokakarya, pertemuan ilmiah, kuliah,
presentasi lisan di depan publik, dan materi-materi lain yang diterbitkan

(1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi; dalam memberikan pernyataan


kepada masyarakat melalui berbagai jalur media baik lisan maupun
tertulis mencerminkan keilmuannya sehingga masyarakat dapat
menerima dan memahami secara benar agar terhindar dari kekeliruan
penafsiran serta menyesatkan masyarakat pengguna jasa dan/atau
praktik psikologi. Pernyataan tersebut harus disampaikan dengan;
 Bijaksana, jujur, teliti, hati-hati,
 Lebih mendasarkan pada kepentingan umum daripada pribadi atau
golongan,
 Berpedoman pada dasar ilmiah dan disesuaikan dengan bidang
keahlian atau kewenangan selama tidak bertentangan dengan
kode etik psikologi.
(2) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dalam pernyataan yang dibuat
harus mencantumkan gelar atau identitas keahlian pada karya di
bidang psikologi yang dipublikasikan sesuai dengan gelar yang
diperoleh dari institusi pendidikan yang terakreditasi secara nasional
atau mencantumkan sebutan psikolog sesuai sertifikat yang diperoleh.
(3) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak membuat pernyataan palsu,
menipu atau curang mengenai
a. Gelar akademik/ijazah
b. Gelar profesi
c. Pelatihan, pengalaman atau kompetensi yang dimiliki
d. Izin Praktik dan Keahlian
e. Kerjasama institusional atau asosiasi
f. Jasa atau praktik psikologi yang diberikan
g. Konsep dasar ilmiah, atau hasil dan tingkat keberhasilan jasa
layanan
h. Biaya
i. Orang-orang atau organisasi dengan siapa bekerjasama
j. Publikasi atau hasil penelitian

Pasal 29
Keterlibatan Pihak lain Terkait Pernyataan Publik
(1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi yang melibatkan orang atau
pihak lain untuk menciptakan atau menempatkan pernyataan publik
yang mempromosikan praktek profesional, hasil penelitian atau
aktivitas yang bersangkutan, tanggung jawab profesional atas
pernyataan tersebut tetap berada di tangan Psikolog dan/ atau
Ilmuwan Psikologi.
(2) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi berusaha mencegah orang atau
pihak lain yang dapat mereka kendalikan, seperti lembaga tempat
bekerja, sponsor, penerbit, atau pengelola media dari membuat
pernyataan yang dapat dikategorikan sebagai penipuan berkenaan
dengan jasa layanan psikologi. Bila mengetahui adanya pernyataan
yang tergolong penipuan atau pemalsuan terhadap karya mereka yang
dilakukan orang lain, Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi berusaha
untuk menjelaskan kebenarannya.
(3) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak memberikan kompensasi
pada karyawan pers, baik cetak maupun elektronik atau media
komunikasi lainnya sebagai imbalan untuk publikasi pernyataannya
dalam berita.Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak memberikan
kompensasi pada karyawan pers, baik cetak maupun elektronik atau
media komunikasi lainnya sebagai imbalan untuk publikasi
pernyataannya dalam berita.

Pasal 30
Deskripsi Program Pendidikan Non Gelar
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi bertanggung jawab atas pengumuman,
katalog, brosur atau iklan, seminar atau program non gelar yang
dilakukannya. Psikolog dan/ atau Ilmuwan Psikologi memastikan bahwa hal
yang diberitakan tersebut menggambarkan secara akurat tentang tujuan,
kemampuan tentang pelatih, instruktur, supervisor dan biaya yang terkait.

Pasal 31
Pernyataan Melalui Media
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dalam memberikan keterangan pada
publik melalui media cetak atau elektronik harus berhati-hati untuk
memastikan bahwa pernyataan tersebut:
a) Konsisten terhadap kode etik.
b) Berdasar pada pengetahuan/pendidikan profesional, pelatihan,
konsep teoritis dan konsep praktik psikologi yang tepat.
c) Berdasar pada asas praduga tak bersalah.
d) Telah mempertimbangkan batasan kerahasiaan sesuai dengan
pasal 24 buku kode etik ini.
e) Pernyataan melalui media terkait dengan bidang psikologi forensik
terdapat dalam pasal 61 buku kode etik ini.

Pasal 32
Iklan Diri yang Berlebihan
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dalam menjelaskan kemampuan atau
keahliannya harus bersikap jujur, wajar, bijaksana dan tidak berlebihan
dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku untuk menghindari
kekeliruan penafsiran di masyarakat.

BAB VII BIAYA LAYANAN PSIKOLOGI

Pasal 33
Penjelasan Biaya dan Batasan
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi menjunjung tinggi profesionalitas dan
senantiasa terus meningkatkan kompetensinya. Berkaitan dengan hal
tersebut Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi perlu dihargai dengan imbalan
sesuai profesionalitas dan kompetensinya. Pengenaan biaya atas layanan
psikologi kepada pengguna jasa perorangan, kelompok, lembaga atau
organisasi/institusi harus disesuaikan dengan keahlian dan kewenangan
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi, dengan kewajiban untuk
mengutamakan dasar-dasar profesional.

(1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi pada saat awal sebelum kontrak
layanan dilakukan, perlu menjelaskan kepada pengguna layanan
psikologi secara rinci hak dan kewajiban masingmasing pihak
termasuk biaya layanan psikologi yang disediakannya, sesuai
kompetensi keilmuan dan profesional yang dimiliki, dalam cakupan
standar yang pantas untuk masyarakat/ kelompok pengguna layanan
psikologi khusus.
(2) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dapat menggunakan berbagai
cara termasuk tindakan hukum untuk mendapatkan imbalan layanan
yang telah diberikan jika pengguna layanan tidak memberikan imbalan
sebagaimana yang telah disepakati. Psikolog dan/atau Ilmuwan
Psikologi harus memberitahu pihak yang bersangkutan terlebih dahulu
bahwa tindakan tersebut akan dilakukan, serta memberi kesempatan
untuk dapat menyelesaikan permasalahan sebelum tindakan hukum
dilakukan.
(3) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak menahan catatan yang
diperlukan untuk penanganan darurat terhadap pengguna layanan
psikologi, hanya atau semata-mata karena imbalan terhadap layanan
psikologi yang diberikan belum diterima.
(4) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak bersedia memenuhi
permintaan layanan psikologi yang diketahui melanggar Kode Etik
seperti yang dicantumkan dalam keseluruhan pasal-pasal dalam Kode
Etik ini, apalagi menerima imbalan dalam bentuk uang atau dalam
bentuk lain untuk pekerjaan tersebut.
(5) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi sebagai bentuk kepedulian pada
masyarakat dapat dan baik untuk menjalankan, atau terlibat dalam
aktivitas-aktivitas penyediaan layanan psikologi secara suka rela,
dengan tetap menjunjung tinggi profesionalitas.

Pasal 34
Rujukan dan Biaya
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi membagi imbalan dengan profesional
lain, atasan atau bawahan, pembayaran terhadap masing-masing harus
berdasarkan layanan yang diberikan dan sudah diatur sebelum pelaksanaan
layanan psikologi dilakukan.

Pasal 35
Keakuratan Data dan Laporan kepada Pembayar atau Sumber Dana
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi memastikan keakuratan data dan
laporan pemeriksaan psikologi kepada pembayar layanan atau sumber dana.

Pasal 36
Pertukaran (Barter)
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dapat menerima benda atau imbalan
non uang dari pengguna layanan psikologi sebagai imbalan atas pelayanan
psikologi yang diberikan hanya jika tidak bertentangan dengan kode etik dan
pengaturan yang dihasilkan tidak eksploitatif.
BAB III
Pembahasan

Pembahasan mengenai pasal-pasal di dalam Bab VI dan Bab VII Kode Etik
Psikologi Indonesia

Bab VI IKLAN DAN PERNYATAAN PUBLIK


Pasal 28
Pertanggungjawaban

Pasal ini membahas mengenai sikap yang harus dimiliki seorang Psikolog
dan/atau Ilmuan Psikologi dalam memberikan pernyataan, publikasi
profesional, presentasi, dan materi-materi lain yang diterbitkan. Seorang
Psikolog dan/atau Ilmuan Psikologi dalam memberikan pernyataannya harus
mencerminkan keilmuannya sehingga mudah dipahami dan tidak
menimbulkan kekeliruan masyarakat yang menerima pernyataan tersebut.
Seorang Psikolog dan/atau Ilmuan Psikologi identitas atau gelar yang
dimilikinya saat mempublikasi hasil karyanya. Seorang Psikolog dan/atau
Ilmuan Psikologi tidak memberikan pernyataan yang palsu, berisi penipuan,
ataupun kecurangan mengenai data-data yang berkaitan.

Pasal 29
Keterlibatan Pihak Lain Terkait Pernyataan Publik
Pasal ini membahas mengenai sikap seorang Psikolog dan/atau Ilmuan
Psikologi yang dalam memberikan suatu pernyataan kepada khalayak umum
melibatkan pihak lain. Seorang Psikolog dan/atau Ilmuan Psikologi ketika
berkerjasama dengan pihak lain, tetap memegang tanggung jawab
profesional atas pernyataan yang dikemukakan. Seorang Psikolog dan/atau
Ilmuan Psikologi harus berusaha mencegah segala macam perbuatan yang
merugikan pihak tertentu seperti pemalsuan dan penipuan seputar jasa
layanan psikologi yang sekiranya akan dilakukan pihak mitra Psikolog
dan/atau Ilmuan Psikologi yang bersangkutan. Dan apabila pemalsuan atau
penipuan tersebut tidak dapat dicegah, Psikolog dan/atau Ilmuan Psikologi
berusaha untuk menjelaskan kebenarannya. Seorang Psikolog dan/atau
Ilmuan Psikologi tidak diperkenankan memberikan imbalan kepada pihak
karyawan pers untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti
munculnya spekulasi masyarakat atau pihak yang mengetahui pemberian
imbalan tersebut bahwa pernyataan yang disampaikan tidak orisinal.

Pasal 30
Deskripsi Program Pendidikan Non Gelar
Di dalam pasal ini tercantum bahwa seorang Psikolog dan/atau Ilmuan
Psikologi memegang tanggung jawab atas pengumuman, katalog, brosur,
iklan, seminar, atau program non gelar yang dilakukannya serta memastikan
yang disampaikannya memiliki keakuratan tujuan, kemampuan tentang
pelatih, supervisor, dan biaya.

Pasal 31
Pernyataan Melalui Media
Pasal ini menjelaskan mengenai hal-hal yang harus diperhatikan oleh
Psikolog dan/atau Ilmuan Psikologi dalam memberikan keterangan pada
publik. Seorang Psikolog dan/atau Ilmuan Psikologi harus konsisten terhadap
kode etik, berdasar pada pengetahuan serta konsep yang tepat, asas
praduga tak bersalah, dan pertimbangan batas kerahasiaan.

Pasal 32
Iklan Diri Yang Berlebihan
Psikolog dan/atau Ilmuan Psikologi dalam mengiklankan dirinya tidak
melebih-lebihkan, bijaksana, bersikap jujur dan apa adanya untuk
menghindari salah tafsir oleh masyarakat.
BAB VII BIAYA LAYANAN PSIKOLOGI

Pasal 33
Penjelasan Biaya dan Batasan
Pasal ini menjelaskan mengenai penghargaan seorang Psikolog dan/atau
Ilmuan Psikologi berupa imbalan atas layanan psikologis yang diterima oleh
pengguna jasa baik perorangan, kelompok, lembaga, organisasi yang
disesuaikan dengan keahlian dan kompetensi yang dimiliki Psikolog dan/atau
Ilmuan Psikologi bersangkutan dengan tetap mengutamakan profesionalitas.
Kesepakatan mengenai besar kecilnya imbalan yang akan diterima Psikolog
dan/atau Ilmuan Psikologi dibicarakan sebelum proses layanan psikologi
berlangsung dan jika kesepakatan tersebut tidak dilakukan oleh pengguna
layanan psikologi, Psikolog dan/atau Ilmuan Psikologi berhak menggunakan
jalur hukum apabila pengguna layanan psikologi tersebut telah diingatkan
namun tetap tidak menggubris. Apabila catatan dari Psikolog dan/atau Ilmuan
Psikologi dibutuhkan dalam keadaan darurat, meskipun imbalan belum
diberikan Psikolog dan/atau Ilmuan Psikologi wajib untuk tidak menahan
catatan tersebut. Psikolog dan/atau Ilmuan Psikologi harus menolak segala
permintaan layanan psikologi yang menjurus kepada pelanggaran kode etik
dan menerima suapan dari pihak yang mengajukan permintaan tersebut.
Psikolog dan/atau Ilmuan Psikologi secara profesinal bersedia untuk bekerja
secara sukarela memberikan layakan psikologi sebagai bentuk kepedulian
terhadap masyarakat yang membutuhkan.

Pasal 34
Rujukan dan Biaya
Psikolog dan/atau Ilmuan Psikologi ketika bekerjasama dengan profesional
lain membagi imbalan yang didapatkan sesuai dengan layanan yang
diberikan masing-masing atau yang telah disepakati sebelumnya.
Pasal 35
Keakuratan Data dan Laporan kepada Pembayar atau Sumber Dana
Data yang diberikan oleh Psikolog dan/atau Ilmuan Psikologi kepada
pengguna jasa layanan psikologi harus dipastikan akurat dan benar.

Pasal 36
Pertukaran (Barter)
Imbalan yang diberikan oleh pengguna jasa layanan psikologi terhadap
Psikolog dan/atau Ilmuan Psikologi boleh berupa hal lain selain uang dengan
catatan tidak melanggar kode etik dan tidak bersifat eksploitatif
BAB IV
DISKUSI KASUS

Kasus Satu
Sekolah Menengah Atas A yang masih memakai kurikulum KTSP ingin
mengadakan psikotes penjurusan terhadap murid kelas 10 untuk
menentukan jurusan apa yang akan para murid ambil ketika naik ke kelas 11.
Salah satu guru sekolah A mengontak seorang psikolog yang kemudian
mengadakan pertemuan untuk membahas perihal psikotes lebih lanjut.
Dalam pertemuan tersebut guru dari sekolah A dan sang psikolog berbincang
mengenai kesepakatan waktu dan tanggal psikotes, tempat pelaksanaan,
waktu penerimaan laporan hasil psikotes, biaya layanan psikotes, dan
mekanisme pembayaran. Setelah kedua pihak sepakat untuk bekerjasama,
kertas kesepakatan ditandatangani. Sebelum mengadakan psikotes psikologi
dan timnya mendatangi lokasi sekolah A untuk mengadakan survei. Sebelum
psikolog dan timnya menyurvei sekolah A, klien harus sudah melunasi 25%
dari biaya layanan psikotes kepada psikolog. Seminggu setelah survei
dilakukan psikotes dilaksanakan oleh psikolog dan tim. Dua minggu setelah
pelaksanaan psikotes, laporan hasil psikotes telah selesai dibuat dan
diantarkan ke sekolah A. Satu bulan berlalu setelah pemberian hasil psikotes
namun pihak sekolah belum juga melunasi sisa 75% dari pembayaran. Karna
kesal, psikolog pun menyebarkan kepada rekan-rekan sejawatnya agar tidak
menerima permintaan jasa layanan psikologi apabila sewaktu-waktu diajukan
oleh sekolah A dan menyindir guru perwakilan sekolah A di status WhatsApp.
Seminggu kemudian psikolog meminta bantuan rekannya untuk mengurus
masalah pembayaran tersebut ke jalur hukum. Dua hari setelah pengajuan ke
jalur hukum dilakukan, sekolah A membayar penuh 75% sisa pembayaran.
Lima hari setelah melakukan pembayaran, pihak sekolah kebingungan
karena mendapati surat dari kepolisian mengenai masalah pembayaran jasa
layanan psikologi. Pihak sekolah kemudian menghubungi psikolog untuk
meminta penjelasan dan pencabutan pengaduan.

Analisa Kasus Satu


Dalam kasus di atas ada beberapa pelanggaran Kode Etik Psikologi
Indonesia yang termasuk dalam lingkup biaya layanan psikologi. Dalam pasal
33 tercantum bahwa ketika pengguna jasa layanan psikologi tidak
memberikan imbalan (dalam kasus ini pembayaran) sesuai dengan
kesepakatan, psikolog boleh melakukan tindakan hukum namun dengan
catatan telah memberitahu dan membicarakannya dengan pengguna jasa
layanan psikologi bersangkutan dan memberikan kesempatan untuk
menyelesaikan permasalahan perihal pemberian imbalan tersebut.
Sedangkan dalam kasus di atas, psikolog melaporkan pengguna jasa
layanan psikologi tanpa adanya konfirmasi terlebih dahulu dan pemberian
kesempatan untuk melunasi pembayaran.

Kasus Dua
AT adalah seorang ilmuwan psikologi yang sedang melanjutkan pendidikan
profesi. Dia pernah satu kali mengikuti pelatihan forgiveness therapy yang
dipandu langsung oleh Ustad Asep Khairul Gani. Suatu saat, untuk pertama
kalinya AT diminta untuk menjadi narasumber dalam suatu workshop yang
membahas tentang forgiveness therapy. AT menerima proyek tersebut dan
meminta pihak penyelenggara acara untuk membuat pengumuman dalam
bentuk brosur yang akan dibagikan kepada calon peserta. Dalam brosur
tersebut AT meminta untuk menuliskan bahwa AT adalah murid langsung
dari Ustad Asep Khairul Gani dan telah memiliki pengalaman selama 10
tahun memberikan seminar yang sama. AT juga meminta pihak
penyelenggara untuk menuliskan investasi seminar yang jauh lebih tinggi dari
biaya normalnya dengan alasan karena AT adalah narasumber yang sudah
berpengalaman, jadi biayanya pun juga relatif mahal.
Analisa Kasus Dua
Tindakan AT pada kasus tersebut merupakan pelanggaran dari pasal 30
kode etik psikologi Indonesia yang membahas mengenai deskripsi
pendidikan non gelar dan pasal 32 yaitu iklan diri yang berlebihan. AT telah
memberitakan hal yang kurang benar pada brosur pelatihannya hanya untuk
menarik peserta. Seharusnya AT menuliskan pengalamannya secara jujur
dan berhati-hati. AT tidak menggambarkan secara akurat mengenai
kemampuannya, tetapi cenderung berbohong bahwa AT adalah narasumber
yang sudah berpengalaman.
BAB V
Penutup

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari dua contoh kasus pelanggaran kode etik
di atas adalah, seorang Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi harus bertindak
secara profesional tidak hanya dalam memberikan layanan psikologi, namun
juga dalam menghadapi kesalahan yang diperbuat pengguna jasa layanan
psikologi. Seorang Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi sudah seharusnya
memiliki etika yang baik, menjaga kejujuran, mengesampingkan kepentingan
pribadi, dan mencerminkan sikap profesional. Kode etik yang telah ada
dijadikan sebagai pedoman, dipegang secara teguh serta diamalkan.
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak dibenarkan menyampaikan suatu
kebohongan kepada publik dan menciptakan keraguan masyarakat. Apabila
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi memutuskan sesuatu yang
berhubungan dengan pengguna jasa layanan psikologinya, ada baiknya
untuk dibicarakan terlebih dahulu dengan yang bersangkutan agar tidak
terjadi salah paham antara kedua pihak. Dalam melakukan promosi diri
Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi harus mengutamakan kejujuran tanpa
adanya unsur melebih-lebihkan apalagi menipu untuk mendapatkan
perhatian masyarakat.

Saran
Untuk siapapun yang sedang dalam proses studi atau yang nantinya ingin
menjadi Psikolog atau Ilmuwan Psikologi diharapkan kesungguhannya dalam
menjalankan profesinya kelak, memiliki tanggung jawab yang besar untuk
menyejahterakan umat manusia, dan tidak melanggar nilai-nilai luhur yang
terangkum dalam Kode Etik Psikologi Indonesia.
BAB VI
Daftar Pustaka

 https://ipkindonesia.or.id/media/2017/12/kode-etik-himpsi-2010.pdf
 https://www.youtube.com/watch?v=9H_XFy-1cVs
 http://robikanwardani.blogspot.com/2014/02/kode-etik-psikologi-bab-vi-
iklan-dan.html?m=1