Anda di halaman 1dari 10

BAB II

PEMBAHSAN

Diamond adalah mineral yang tersusun atas unsur karbon (C), diamond dalam Skala Mohs
merupakan mineral dengan kekerasan tertinggi 10 Mohs atau 40- 42 skala wooddell dan
kemampuannya dalam mendispersikan cahaya dengan indeks bias sekitar 2,4175.
Diamond terdiri dari unsur karbon hampir murni dan sering mengkristal dalam sistem kubik.
Memiliki berat jenis sekitar 3,52 dan ekspansion termal yang sangat rendah. Berlian adalah
konduktor listrik . Batu Intan / Diamond memiliki celah pita lebar sebesar 5,5 eV sesuai dengan
panjang gelombang ultraviolet yang mendalam dari 225 nanometer. Ini berarti berlian murni harus
memancarkan cahaya tampak dan muncul sebagai kristal tak berwarna yang jelas. Warna dalam
berlian berasal dari cacat kisi dan kotoran. Kisi kristal berlian adalah atom yang sangat kuat dan
hanya nitrogen, boron dan hidrogen dapat diperkenalkan ke berlian selama pertumbuhan pada
konsentrasi yang signifikan (hingga persen atom). Nitrogen merupakan pengotor yang paling umum
ditemukan di berlian permata dan menyebabkan warna kuning dan coklat, sedangkan Boron
menyebabkan untuk warna biru . Berlian berwarna mengandung pengotor atau cacat struktur yang
menyebabkan pewarnaan, sementara berlian murni atau hampir murni berbentuk transparan dan
tidak berwarna. Kebanyakan pengotor dalam berlian mengganti atom karbon dalam kisi kristal, yang
dikenal sebagai cacat karbon.

Struktur Diamond
Diamond adalah senyawa relatif yang sederhana dalam keadaan stabil . Diamond memiliki
beberapa bentuk kristal dan politypes, seperti diamond kubik dan heksagonal. Diamond tetrahedron
bergabung dengan 4 tetrahedron lainnya membentuk ikatan yang kuat tiga dimensi dan membentuk
struktur kristal kovalen. Diamond memiliki 2 struktur , salah satunya dengan kubik semetris (lebih
stabil) dan satu lagi dengan simetris heksagonal yang ditemukan di alam sebagai mineral lonsdaleite.
Struktur diamond kubik lebih stabil dan lebih sederhana. Ikatan kovalen antara atom karbon dari
diamond digambarkan dengan ikatan kecil yang panjangnya (0,154 nm) dan energi ikatan tingginya
711 Kj/mol (170 kcal) . Struktur kubik dari diamond dapat dilihat dari banyaknya ruas ruas lorong
(111 bidang).
Berlian heksagonal adalah bentuk allotropik karbon yang mirip dengan berlian kubik dalam struktur
dan sifat. Politype berlian yang merupakan bentuk khusus dari polimorf dimana lapisan dikemas
dekat (111) untuk kubik dan (100) untuk hexagonal) adalah identik, tetapi memiliki urutan susunan
yang berbeda.

Sifat Fisik dan Kimia Diamond


Berlian dapat bertahan hidup dalam kondisi ekstrim sehingga memiliki banyak kegunaan
dalam ilmu pengetahuan dan industri. Intan alam langka dan sangat mahal sehingga belum
memungkinkan untuk memanfaatkan sepenuhnya.
Diamonds memiliki berbagai sifat yang unik:
1. Intan merupakan mineral alami yang paling keras, sehingga intan banyak digunakan sebagai
alat untuk memotong, mengasah dan sebagai mata bor.
2. Memiliki titik leleh yang sangat tinggi yakni 4827 °C).
Hal ini disebabkan Ikatan kovalen karbon-karbon yang terbentuk pada struktur intan
sangat kuat bahkan lebih kuat dari ikatan ionik.
3. Berupa isolator namun dapat menyerap panas dengan sangat baik.
Daya hantar listrik intan berkaitan dengan elektron yang digunakan untuk membentuk
ikatan, dimana pada intan elektron-elektron berikatan sangat kuat sehingga tidak ada elektron
yang bebas bergerak ketika diberi beda potensial. Sifat penyerap panas yang baik dari intan
diaplikasikan pada peralatan elektonik untuk menyerap panas yang dihasilkan ketika
peralatan elektronik digunakan. Dengan melapisi intan pada konduktor dalam peralatan
elektronik maka suhu peralatan tersebut dapat dijaga relatif konstan sehingga peralatan
tersebut dapat berfungsi secara normal.
4. Tidak larut dalam air dan pelarut organik.
Dalam hal ini tidak memungkinkan terjadinya daya tarik antara molekul pelarut dan
atom karbon yang dapat memisahkan daya tarik antara atom-atom karbon yang berikatan
secara kovalen. Akibat pelarut tidak mampu mensolvasi molekul intan.
Komposisi Kimia C (Carbon)
Kekerasan 10
Berat Jenis 3.5
Kerapatan 0.293 g/cm3
Panas jenis 6.195 C.J/mol (pada 300K)
Entropy standar 2.428 J/mol.K (pada 300K)
Entalpi standar 1.884 J/mol.K (pada 300K)
Transparansi Transparant
Warna Cenderung ke arah kuning pucat,
cokelat, abu, dan juga putih, biru,
hitam, kemerahan, dan kehijauan
Cerat Putih
Kilap Adamantine berminyak
Sempurna di 4 arah berbentuk
Belahan/Fracture octahedrons/ Conchoidal
Prismatic (bentuk isometrik seperti
Habbit/Perawakan kubus dan octahedrons)

FUNGSI DIAMOND
Beberapa fungsi diamond secara umum :
 Sebagai batu permata atau hiasan
 Sebagai bahan industri
 Sebagai bahan penelitian dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

APLIKASI DIAMOND
Beberapa Aplikasi Diamond :
 Sebagai Perhiasan
Penggunaan utama diamond (intan) adalah sebagai perhiasan. Intan merupakan
mineral yang secara kimia merupakan bentuk kristal atau alotrop dari karbon. Intan terkenal
karena memiliki sifat fisika yang istimewa yaitu kekerasannya dan kemampuannya
mendispersikan cahaya. Ini yang menyebabkan intan digunakan sebagai perhiasan.

 Sebagai Pemotong Kaca


Diamond atau intan digunakan sebagai pemotong kaca. Teksturnya yang sangat keras
menyebabkan diamond (intan) digunakan sebagai pemotong kaca.
 Sebagai mata bor untuk eksplorasi
 Sebagai Lukisan
Selain digunakan sebagai perhiasan, diamond (intan) juga digunakan sebagai hiasan.
Dengan aplikasi teknologi tingkat tinggi pada pembuatan intan dapat memungkinkan guna
mengkombinasikan cita rasa seni, perancangan, dan keunikan tersendiri.Ahli-ahli dari Pusat
Penelitian IST Institut Fraunhofer bekerja sama dengan Winter CVD Technik GmbH
Hamburg telah berhasil menciptakan suatu jenis terbaru dalam wujud perhiasan intan, yaitu :
lukisan dari intan (picture diamond) dengan nama produk : VALIUDIAMOND.
GRAFIT MENJADI DIAMOND

Diamond dan grafit sama-sama tersusun atas unsur karbon (C) namun memiliki karakteristik yang
berbeda.
Grafit berasal dari pelapukan sisa-sisa kehidupan, prosesnya disebut dengan
metamorfogenik. Tumbuhan yang mati akan menjadi endapan yang disebut gambut (peat). Seiring
lamanya waktu, kedalaman lapisan bumi, serta peningkatan tekanan dan suhu, maka gambut tadi
akan bertransformasi menjadi batuan sedimen organik, yaitu lignite (batu bara coklat/brown coal).
Dari lignite berubah menjadi coal (batu bara hitam/black coal). Coal tersusun menjadi beberapa
bentuk mineral, dari lapisan atas ke bawah, yaitu sub-bituminous, bituminous, dan anthracite.

Di kedalaman 7-8 km dari permukaan bumi (kerak bumi), suhu mencapai 2000C-5000C dan tekanan
sekitar 0,4-0,5 GPa (3947.69-4934.61 atm) merubah coal anthracite menjadi grafit.
Grafit dapat berubah jadi intan. Di bawah permukaan bumi, kedalaman 100-200 km (mantel
bumi), pada batuan cair (magma) yang bersuhu 900 - 13000C dan bertekanan 45-60 kilobar
(44411.5 - 59215.4 atm) adalah kondisi yang tepat untuk mengubah grafit (atau mineral karbon
murni yang lain) menjadi intan.
Erupsi magma yang sangat kuat membawa batuan vulkanik (kimberlite atau lamporite)
yang mengandung intan ke permukaan bumi dengan kecepatan erupsi 10-30 km/jam
(Eggler,1989) dan akan semakin cepat jika telah mendekati permukaan. Jalannya erupsi magma
membentuk pipa vulkanik. Pipa vulkanik inilah yang merupakan lokasi sumber intan pertama.
Bebatuan yang mengandung intan pada sedimen di atas pipa vulkanik dapat mengalami proses
geologi lanjutan berupa pengangkutan oleh air atau glacier, sehingga terbawa jauh dari tempat
asalnya dan kemudian terendapkan di dasar sungai (deposit aluvial). Bebatuan terkikis, tetapi
intan tidak, maka intan ditemukan di dasar sungai atau tepiannya dalam bentuk kerikil kecil atau
bahkan bongkahan.
Pipa vulkanik yang mengandung intan disebut pipa kimberley dan bebatuannya disebut
kimberlite, dinamakan demikian sesuai dengan tempat mereka pertama kali ditemukan, yaitu di
Kimberley, Afrika Selatan. Pipa vulkanik di Australia ditemukan jenis batuan yang lain disebut
lamporite (jenis mineralnya beda dengan kimberlite).
Penambangan intan dilakukan dengan cara digali, baik secara manual maupun dengan
mekanisasi. Sekarang kebanyakan para penambang intan sudah menggunakan mekanisasi, yaitu
dengan mesin penyedot untuk menyedot tanah yang sudah digali, seningga meninggalkan lubang
yang besar dan dalam.
Saat ini ada banyak pertambangan intan, yang terkenal antara lain; di Afrika, yaitu Afrika
Selatan, Angola, Botswana, Congo, Zimbabwe, dan Tanzania; Asia, yaitu Russia dan India;
Amerika Utara, yaitu Canada dan USA; dan Australia. Indonesia juga ada pertambangan intan,
yaitu di Banjarmasin dan Martapura, Kalimantan Selatan.

Kini intan sintetis dapat diproduksi dengan metode antara lain HPHT (High Pressure
High Temperature) dan CVD (Chemical Vapor Deposition). Pembuatan intan dengan metode
HPHT dilakukan pertama kali oleh oleh James B. Hannay pada 1879 dan Ferdinand F. H.
Moissan pada 1893. Metode mereka memanaskan grafit dan besi dalam wadah peleburan dengan
suhu di atas 35000C pada tungku pembakaran. Hannay memanaskannya dengan api, sedangkan
Moissan dengan pancaran listrik. Besi yang meleleh didinginkan secara cepat oleh air. Reaksi
pendinginan ini menghasilkan tekanan yang tinggi, menciptakan suatu kondisi yang dibutuhkan
oleh grafit untuk berubah menjadi intan. Sekarang metode HPTP menggunakan peralatan yang
lebih canggih dengan biaya reproduksi yang lebih murah, cukup dengan tekanan 5 GPa
atau 49346.16 atm dan temperatur 15000C.
Pada tahun 1950-an, penelitian dilakukan di Uni Soviet dan USA membuat intan sintesis
menggunakan metode CVD, yaitu dengan pirolisis gas hidrokarbon pada suhu dan tekanan relatif
rendah (8000C dan 27 kPa atau 0.266 atm). Metode CVD memberikan keunggulan yang lebih,
daripada HPHT, tetapi saat ini masih populer dilakukan untuk skala laboratorium saja.