Anda di halaman 1dari 16

HAND OUT MATA KULIAH

KOMUNIKASI KEPERAWATAN

OLEH :
RAHMA ELLIYA, SKp

AKADEMI KEPERAWATAN MALAHAYATI


YAYASAN ALIH TEKNOLOGI
BANDAR LAMPUNG T.A 2012 -2013
KOMUNIKASI KESEHATAN
Komunikasi merupakan alat yang efdektifd untuk mempengaruhi tingkah laku manusia
sehingga komunikasi harus dikembangkan dan dipelihara terus menerus.
Ada 4 alasan yang mengharuskan individu untuk berkomunikasi, yaitu :

1. Mengurangi ketidak pastian


Dalam berhubungan dengan oranglain selalu penuh dengan ketidakpastian. Ketidak
pastian dapat terletak pada seluruh aspek kehidupan manusia, semua perencanaan yang
telah tersusun rapi dapat dengan mudah berubah. Dalam hal ini alat yang paling ampuh
untuk mengurangi ketidak pastian adalah komunikasi, karena dengan berkomunikasi
“pendadakan” (perubahan terhadap rencana dengan tiba-tiba) dapat dihindari dan
ditanggulangi sehingga persoalan dapat diatasi.

2. Memperoleh informasi
Informasi sebagai salah satu pendukung berhasil tidaknya kebutuhan manusia, dan
mutlak diperlukan agar dapat bergaul dalam lingkungan masyarakat.

3. Menguatkan keyakinan
Dengan diperolehnya informasi sebagai hasil dari komunikasi akan menguatkan
keyakinan untuk melangkah mencapai tujuan yang diharapkan. Tanpa komunikasi akan
muncul keraguan untuk bertindak sehingga tujuan yang akan dicapai gagal.

4. Mengungkapkan perasaan
Melalui komunikasi dapat diungkapkan perasaan senang atau marah terhadap orang lain
dan diharapkan terjalin hubungan yang harmonis antar manusia.

Tujuan berkomunikasi adalah untuk :


 Memudahkan, Melancarkan, Melaksanakan kegiatan tertentu dalam rangka mencapai
tujuan yang optimal.

DEFINISI KOMUNIKASI
 Harold Koont & Cyril O’Donell :
Komunikasi adalah pemindahan informasi dari satu orang ke orang lain terlepas percaya
atau tidak.

 William Ablig :
Komunikasi adalah proses pengoperan lambang-lambang yang mengandung pengertian/
makna diantara individu-individu.

 Dale Yoder, dkk :


Komunikasi adalah bersama-sama membagi ide, apabila seseorang berbicara, orang
lainnya mendengarkan.
Komunikasi = Communications = Common = bersama-sama
 Komunikasi dilakukan oleh dua orang atau lebih
 Komunikasi merupakan pembagian ide, pikiran, dfakta dan pendapat
 Komunikasi melalui lambang-lambang yang harus dimengerti oleh yang melakukan
komunikasi

TIPE – TIPE KOMUNIKASI

Berbagai macam komunikasi menurut jenisnya dapat dibedakan berdasarkan :


1. Pelaksanaan
a. Komunikasi Formal
Komunikasi formal adalah komunikasi yang terjadi antara atasan dan bawahan dalam
lingkup pekerjaan yang secara hirarkis berbeda dan terjadi dalam situasi yang formal
(resmi).
b. Komunikasi Informal
Komunikasi Informal adalah komunikasi yang dalam pelaksanaanya tidak mengenal
hirarki dan tidak ada sangsinya.

2. Bentuk
a. Komunikasi verbal
Adalah Komunikasi yang menggunakan lambang bahasa dalam penyampaian pesan
kepada penerima.
Lambang bahasa dapan berupa Lisan maupun Tulisan.
b. Komunikasi non verbal
Adalah Komunikasi yang menggunakan lambang bukan bahasa dalam menyampaikan
pesan kepada penerima, spt : gambar, isyarat, sandi, dll.

3. Umpan balik
a. Komunikasi satu arah
Adalah bahwa komunikator tidak memberi kesempatan pada komunikan untuk
memberi penjelasan, pembenaran, dll. Komunikasi ini hanya menjamin penyampaian
pesan saja.
b. Komunikasi dua arah
Adalah bahwa komunikator memberi kesempatan pada komunikan untuk memberi
penjelasan/feedback. Komunikasi jenis ini mempunyai sistem umpan balik yang baik,
komunikasi jenis ini menjamin bahwa informasi jelas dan terbuka untuk hal yang
belum jelas.

RUANG LINGKUP KOMUNIKASI


Komunikasi dapat dilakukan dalam bentuk :

1. Suatu perintah : komunikasi sebagai bagian dari proses memimpin


2. Suatu permintaan
3. Suatu Observasi : Komunikasi sebagai salah satu usaha untuk mengambil suatu
keputusan
4. Sebagai informasi
5. Sebagai pelajaran : Komunikasi dalam pelatihan, penyuluhan, dll.

PROSES KOMUNIKASI

1. Unsur-unsur komunikasi :
a. Komunikator : Orang yang memprakarsai/memulai komunikasi / pemberi pesan.
b. Pesan : Ide, pikiran, pendapat, fakta yang akan disampaikan
c. Media :Sarana yang digunakan oleh komunikator untuk menyampaikan
pesan.
d. Metode : Cara yang digunakan untuk menyampaikan pesan
e. Komunikan : Orang yang menjadi objek komunikasi
f. Feedback : umpan balik/ respon
g. Lingkungan : suasana dimana proses komunikasi berlangsung.

Feedback

Komunikator Pesan Media Metode Komunikan

Lingkungan

2. Lambang-lambang Komunikasi
a.Lambang komunikasi berupa kata.
Dipergunakan untuk menunjukan pengertian-pengertian yang tidak nyata dan tidak
terlihat. Terkadang jika hanya menggunakan gambar saja akan menimbulkan
kesulitan dalam pengertian.

Hal yang harus diperhatikan dalam komunikasi efektif adalah :


- Sematik : Pemilihan kata dan perangkaian kalimat sehingga mempermudah
pencapaian komunikasi yang efektif.
- Situasi : Situasi saat komunikasi berlangsung sangat mempengaruhi arti dari
kata-kata.

b.Lambang komunikasi berupa tindakan.


Lambang komunikasi berupa tindakan akan lebih keras berbicara daripada kata-kata.
Pengertian yang ditimbulkan juga berbeda tergantung latar belakang dan posisi dari
komunikator.

c. Lambang komunikasi berupa gambar.


Menunjukan kekuatan dalam menyampaikan maksud dan pengertian dari
komunikator sehingga dapat memperjelas maksud dari lambang bahasa.

d.Lambang komunikasi berupa angka


Dipergunakan untuk memperlihatkan data-data statistik. Komunikasi akan lebih
terkesan dengan penggunaan lambang angka, apabila komunikasi yang dilaksanakan
untuk tujuan persuasif.

Kebanyakan komunikasi dilakukan dengan cara lisan, sehingga komunikan harus


menggunakan pendengaran sebagai bentuk perhatian terhadap komunikasi yang dilakukan.

Ada 3 jenis sifat pendengaran(perhatian) :


1. Marginal : Proses memberikan sedikit perhatian seseorang kepada pembicara.
Kelemahan dari pendengaran ini dapat mengakibatkan salah paham.
2. Evaluatif : Mengandung penuh perhatian sehingga terasa terlalu cepat oleh komunikan.
3. Proyektif : Mendengarkan dan memberi kritik, menyetujui dan tidak menyetujui.

3. Proses Komunikasi :
Proses komunikasi dapat digambarkan sebagai berikut :
a. Komunikator :
1. Mengembangkan ide tentang pikiran yang akan disampaikan
2. Mengkode ide atau pikiran dalam bentuk lambang verbal dan non verbal.
3. Menyampaikan pesan melalui saluran komunikasi dan menggunakan metode tertentu
4. Menunggu umpan balik dari komunikan untuk mengetahui keberhasilan komunikasi.

b. Komunikan :
1. Menerima lambang-lambang yang disampaikan komunikator
2. Membaca lambang verbal atau non verbal yang disampaikan oleh komunikator
3. Menggunakan pesan yang telah disampaikan
4. Memberikan umpan balik kepada komunikator.

4. Hambatan komunikasi
a. Faktor yang bersifat teknis.
Yaitu kurangnya menguasai teknik komunikasi yang mencakup unsur-unsur yang ada
dalam komunikator, spt:
- kemampuan mengungkapkan pesan
- kemampuan menyandi lambang-lambang
- kejelian dalam memilih saluran dan metode komunikasi.

b. Faktor yang bersifat perilaku.


Bentuk perilaku yang dimaksud adalah perilaku komunikan yang bersifat :
- Pandangan apriori
- Prasangka yang berdasarkan atas emosi
- Suasana yang otoriter
- Ketidakmauan untuk berubah walaupun salah
- Sifat yang egosentris.

c. Faktor yang bersifat situasional.


- Situasi/lingkungan intrenal : stress, emosi, penyakit dll
- Situasi/lingkungan eksternal : iklim, jarak, waktu, ekonomi, sosial politik dan keamanan.

5. Komunikasi efektif
Syarat-syarat komunikasi yang baik adalah :
a. menggunakan bahasa yang baik, agar artinya jelas.
b. Lengkap, agar pesan yang disampaikan dipahami komunikan secara menyeluruh.
c. Atur arus informasi sehingga antara pengiriman atau umpan balik seimbang.
d. Dengarkan secara aktif
e. Tahan emosi
f. Perhatikan isyarat non verbal

RAHMA ELLIYA = 0812-7934427


HUBUNGAN TERAPEUTIK PERAWAT - KLIEN

Hubungan terapeutik perawat – klien adalah pengalaman belajar bersama untuk memperbaiki
emosi klien. Dalam hubungan ini perawat memakai diri sendiri. Dalam hubungan ini perawat
memakai diri sendiri dan tehnik pendekatan yang khusus dalam bekerja dengan klien untuk
memberi pengertian dan merubah perilaku klien.

Secara umum, tujuan hubungan terapeutik adalah untuk perkembangan klien (Stuart &
Sundeen, 1987) :
1. Kesadaran diri, penerimaan diri dan penghargaan diri yang meningkat.
2. Pengertian yang jelas tentang identitas diri
3. Kemampuan untuk membina hubungan intim, interdependen, pribadi dengan kecakapan
menerima dan memberi kasih sayang.
4. Meningkatkan dfungsi dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan
pribadi yang realistis

Didalam hubungan terapeutik perawat - klien, perawat yang memakai dirinya secara
terapeutik dalam membantu klien, perlu mengenal dirinya sendiri, termasuk perilaku,
perasaan, pikiran dan nilai agar asuhan yang diberikan tetap berkualitas dan menguntungkan
pasien.

ANALISA DIRI PERAWAT

Perawat merupakan profesi yang menolong manusia untuk beradaptasi secara positif
terhadap stress yang dialami. Pertolongan yang diberikan harus bersifat terapeutik dan
instrumen yang dipakai adalah diri perawat sendiri. Jadi, analisa diri sendiri merupakan dasar
utama untuk dapat memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas.

KOMPONEN ANALISA DIRI PERAWAT :


1. KESADARAN DIRI
Perawat harus dapat mengkaji perasaan, reaksi dan perilakunya secara pribadi maupun
sebagai pemberi perawatan. Kesadaran diri akan membuat perawat menerima perbedaan
dan keunikan klien.
Johari Widow (Stuart & Sundeen, 1987) menggambarkan tentang perilaku,pikiran,
perasaan seseorang melalui gambar berikut :

1 2
Diketahui oleh diri sendiri dan orang lain Hanya diketahui oleh orang lain
(terbuka) (buta)

3 4
Hanya diketahui oleh diri sendiri Tidak diketahui oleh diri sendiri dan
(rahasia) orang lain (gelap)

Prinsip Johari Window :


1. Perubahan satu kuadran akan mempengaruhi kuadran yang lain.
2. Jika kuadran 1 yang paling kecil, berarti komunikasinya buruk atau kesadaran dirinya
kurang.
3. Kuadran 1 paling besar berarti individu mempunyai kesadaran diri yang tinggi.

Kesadaran diri dapat ditingkatkan melalui cara berikut :


1. Mempelajari diri sendiri.
Proses eksplorasi diri sendiri, tentang pikiran, perasaan dan perilaku termasuk
pengalaman yang menyenangkan, hubungan interpersonal dan kebutuhan pribadi.

2. Belajar dari orang lain.


Kesedian dan keterbukaan menerima umpan balik orang lain akan meningkatkan
pengetahuan tentang diri sendiri. Aspek yang negatidf memberi kesadaran bagi
indivcidu untuk memperbaikinya sehingga indicvidu akan selalu berkembangsetiap
menerima umpan balik.

3. Membuka diri.
Keterbukaan merupakan salah satu kriteria kepribadian yang sehat. Untuk ini harus
ada teman intim yang dapat dipercaya tempat menceritakanhal yang merupakan
rahasia.

2. KLARIFIKASI NILAI.
Perawat sebaiknya mempunyai sumber kepuasan dan rasa aman yang cukup, sehingga
tidak mengunakan klien untuk kepuasaan dan keamanannya.

Jika perawat mempunyai konflik atau ketidak puasan, sebaiknya perawat menyadari dan
mengklarifikasi agar tidak mempengaruhi keberhasilan hubungan perawat – klien.

Dengan menyadari sistem nilai yang dimiliki perawat, misalnya kepercayaan, seksual,
ikatan keluarga, perawat akan siap mengidentifikasi situasi yang bertentangan dengan
sistem nilai yang dimiliki.

3. EKSPLORASI PERASAAN
Perawat perlu terbuka dan sadar terhadap perasaaannya, dan mengontrolnya agar ia
dapat menggunakan dirinya secara terapeutik (Stuart & Sundden, 1987)

Jika perawat terbuka pada perasaannya maka ia mendapatkan 2 infdormasi penting,


yaitu:
- bagaimana responnya pada klien
- bagaimana penampilannya pada klien
Sewaktu berbicara dengan klien,perawat harus menyaari responnya dan mengontrol
penampilannya.

4. KEMAMPUAN MENJADI MODEL


Perawat yang mempunyai masalah pribadi seperti ketergantungan obat, hubungan
interpersonal yang terganggu akan mempengaruhi hubungannya dengan klien (Stuart &
Sundden, 1987)

Perawat mungkin menolak dan mengatakan ia dapat memisahkan hubungan profesional


dengan kehidupan pribadi.Hal ini tidak mungkin pada asuhan keperawatan, karena
perawat memakai dirinya secara terapeutik dalam menolong klien.

Perawat yang efektif adalah perawat yang dapat memenuhi dan memuaskan kehidupan
pribadi serta tidak didominasi oleh konflik, distress atau pengingkaran, dan
memperlihatkan pekembangan serta adaptasi yang sehat. Perawat diharapkan
bertanggungjawab atas perilakunya, sadar akan kelemahan dan kekurangannya.

HUBUNGAN TERAPEUTIK PERAWAT - KLIEN

Hubungan terapeutik antara Perawat – Klien adalah hubungan kerjasama yang ditandai
dengan tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman dalam membina
hubungan intim yang terapeutik (Stuart & Sundeen, 1987).

Komponen Hubungan Sosial Hubungan Terapeutik


Hubungan
Saling membuka diri Bervariasi K : Membuka diri
P : Membuka diri dalam rangka
menanggapi saja

Topik yang tepat Sosial, bisnis, umum dan tidak Pribadi dan berhubungan dengan
pribadi perawat dan klien.
Hubungan Tidak terkait dan menggunakan Ada keterlibatan dan mengguna
pengalaman dengan pengetahuan yang tidak kan pengetahuan yang terkait
topik percakapan berhubungan

Orientasi waktu Masa lalu dan masa mendatang Sekarang

Pengungkapan Ungkapan perasaan dihindari Ungkapan perasaan didorong oleh


perasaan perawat

Pengakuan harkat Tidak diakui Sangat diakui


individu

Proses berhubungan Perawat – Klien dapat dibagi dalam 4 fase :


1. Prainteraksi : Eksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan sendiri, analisa kekuatan
kelemahan profesional diri, dapatkan data tentang klien jika mungkin, rencanakan
pertemuan pertama.
a. Evaluasi diri :
- Apa pengetahuan yang saya miliki tentang masalah klien?
- Apa yang saya ucapkan saat bertemu dengan klien ?
- Bagaimana respon saya selanjutnya jika pasien diam, menolak, marah atau
inkoheren ?
- Adakah pengalaman interaksi dengan pasien yang positif ?
- Jika ada, lakukan penguatan diri (self reinforcement)
- Adakah pengalaman interaksi dengan pasien yang buruk/negatif/ tidak
menyenangkan ?
- Jika ada lakukan koreksi dengan cara mempelajari cara berhubungan dengan pasien
& konsultasi dengan pembimbing atau diskusi kelompok.
- Bagaimana tingkat kecemasan saya ?
- Jika cemas ringan lakukan interaksi.
- Jika cemas sedang sampai berat, konsultasi dengan pembimbing dan tunda kontak
dengan pasien sampai dapat mengatasi kecemasan.

b. Penetapan tahapan interaksi/hubungan.


- Apakah ini interaksi yang pertama / lanjutan/ terminasi ?
- Apa tujuan pertemuan : pengkajian/ observasi / pemantauan / pelaksanaan/
terminasi ?
- Apa tindakan yang akan lakukan ?
- Bagaimana cara melakukannya

c. Rencana interaksi
- Rencana percakapan tertulis
- Tehnik komunikasi dan observasi yang akan dilakukan.
- Langkah-langkah tindakan/prosedur yang akan dilakukan (SOP)

Rencana tertulis diperlukan pada saat latihan, dan jika telah membudaya tidak diperlukan
tertulis tetapi telah terpola dan menjadi kebiasaan.
2. Perkenalan dan orientasi :Tentukan alasan klien minta pertolongan, bina rasa percaya,
penerimaan dan komunikasi terbuka, rumuskan kontrak bersama, eksplorasi pikiran,
perasaan dan perbuatan klien, identifikasi masalah klien, rumuskan tujuan dengan klien.
a. Perkenalan :
 Salam terapeutik disertai perkenalan :
- Ucapan salam : Selamat pagi/ siang / malam
- Mengulurkan tangan untuk salaman (sesuaikan dengan kondisi)
- Memperkenalkan diri : Nama saya Windasari, saya senang dipanggil winda, saya
yang akan merawat ibu pagi ini.
- Menanyakan nama pasien : Nama Bapak/Ibu siapa ? senangnya dipanggil apa ?

 Evaluasi / Validasi :
- Apa yang ibu Tuti rasakan dirumah ?
- Apa yang terjadi dirumah sampai ibu Tuti datang kemari ?

 Kontrak :
- Topik : Bagaimana kalau kita bercakap-cakap sebentar? / Bagaiamana kalau saya
periksa ibu sebentar ?
- Waktu : Kita bercakap-cakap + 10 menit
- Tempat : Jika pasien tidak ditempat tidur, sesuaikan dengan situasi.

b. Orientasi
 Salam Terapeutik : Selamat pagi Ibu tuti ?
 Evaluasi / Validasi :
- Bagaimana perasaan ibu pagi ini ?
- Bagaimana tidur ibu tadi malam ?
- Bagaimana dengan latihan nafas dalamnya ?

 Mengingatkan kontrak :
- Topik : Ibu masih ingat apa yang akan kita bicarakan pagi ini ?
/ Baik bu, pagi ini saya akan ganti vcerban ibu dan nanti saya akan bantu ibu
latihan duduk
- Tempat dan waktu disesuaikan dengan kondisi.

3. Kerja : Eksplorasi stressor yang tepat, dorong perkembangan kesadaran diri klien dan
pemakaian mekanisme koping yang konstruktif, atasi penolakan perilaku adaptif.
Tujuan tindakan keperawatan adalah :
a. Meningkatkan pengertian dan pengenalan pasien akan dirinya, pikirannya,
perasaannya dan perilakunya. Tujuan ini sering disebut sebagai tujuan kognitif.
Contoh :
- apa yang menyebabkan Tuti marah ?
- Apa tanda atau gejala yang Tuti rasakan saat marah ?
- Kapan saja Tuti mendengar suara-suara itu ?
- Apa yang Tuti rasakan pada saat mendengar suara tersebut ?

b. Mengembangkan, mempertahankan dan meningkatkan kemampuan pasien secara


mandiri menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tujuan ini sering disebut tujuan afektif
dan psikomotor.
Contoh :
- Apa yang Tuti lakukan saat marah
-Apa yang Tuti lakukan saat mendengar suara-suara itu ?
-Apakah dengan cara itu masalah Tuti selesai ?
-Apakah dengan cara itu keinginan Tuti tercapai ?
-Apakah dengan cara itu suara-suara itu hilang ?
-Apa kira-kira cara lain yang lebih baik ?
-Bagaimana kalau kita bicarakan beberapa cara baru ? jelaskan !
-Tuti ingin mencoba cara yang mana ?
-Baik, saya akan beri contoh (lakukan demonstrasi)
Coba Tuti tiru cara tadi !
Bagus, Tuti dapat melakukannya dengan baik
Bagaimana perasaan Tuti setelah mencobanya ?
Bagaimana kalau Tuti mencoba sendiri ?
c. Melaksanakan observasi dan monitoring
d. Melaksanakan Terapi keperawatan
e. Melaksanakan pendidikan kesehatan (kognitif, afektif, psikomotor)
f. Melaksanakan tindakan kolaborasi

4. Terminasi : Ciptakan realitas perpisahan, bicarakan proses terapi dan pencapaian tujuan,
saling mengeksplorasi perasaan penolakan dan kehilangan, sedih, marah dan perilaku
lain.
a. Terminasi sementara
Terminasi sementara adalah akhir dari tiap pertemuan perawat dan pasien, pada
terminasi sementara perawat akan bertemu lagi dengan pasien pada waktu yang telah
ditentukan, misalnya satu atau dua jam berikutnya.
 Evaluasi hasil :
- CobaTuti sebutkan hal-hal yang sudah kita bicarakan !
- Apa saja yang telah Tuti dapat dari percakapan kita tadi ?
 Tindak lanjut :
- Bagaimana kalau dilakukan diruangan / rumah?
- Yang mana yang ingin Tuti coba.
 Kontrak yang akan datang :
- Waktu : Kapan kita bertemu lagi ? Bagaimana nanti kalau jam 10.00 WIB kita
bertemu lagi/ kita akan bertemu lagi besok pagi.
- Topik : bagaimana kalau kita bicara tentang ……….. ?

b. Terminasi Akhir.
Terminasi akhir terjadi jika pasien akan pulang dari RS (sehat, pindah ke RS lain, atau
meninggal). Isi percakapan meliputi seluruh tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan terutama kemampuan dan kegiatan yang diperlukan dirumah.
 Evaluasi akhir :
- Bagaimana perasaan ibu akan pulang hari ini ?
- Apa saja yang telah ibu pelajari selama dirawat ?
 Tindak lanjut :
Coba ibu sebutkan apa saja yang perlu ibu lakukan dirumah ?
 Kontrak yang akan datang :
- Topik, waktu, tempat : Ibu jangan lupa kontrol, satu bulan lagi, jam 09.00 dipoli
kebidanan, tapi jika ada gejala yang dirasakan membingungkan, silahkan telpon
atau datang kemari.

SRTATEGI PELAKSANAAN (SP)


Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan merupakan rangkaian percakapan perawat
dengan klien pada saat melaksanakan tindakan keperawatan. SP melatih kemampuan
intelektual tentang pola komunikasi, dan pada saat pelaksanaannya merupakan latihan
kemampuan yang terintegrasi antara intelektual, psikomotor dan afektif.

SP terdiri dari dua bagian :


 Proses keperawatan
 Strategi komunikasi (pada saat melaksanakan tindakan keperawatan)

PROSES KEPERAWATAN.
Pada SP dituliskan garis besar dari Proses Keperawatan yang merupakan justifikasi ilmiah dari
mana sumber tindakan keperawatan yang akan dilakukan. Hal ini merupakan kemampuan
intelektual yang harus selalu dilakukan oleh perawat pada saat melakukan tindakan
keperawatan.
Contoh : Pada saat perawat akan melakukan pengukuran TTV, ia harus terlebih dahulu
mengetahui apa diagnosa keperawatannya? Apa tujuannya? Apa saja rangkaian tindakan
keperawatan yang akan dilakukan? dsb…

Tidak diperkenankan hanya melakukan tindakan keperawatan tanpa mengetahui diagnosa


dan tujuan dari tindakan tersebut, jika hal ini terjadi maka sifatnya menjadi Vokasional bukan
Professional.

Tindakan keperawatan yang telah ditetapkan merupakan faktor yang penting dalam
melakukan langkah selanjutnya, yaitu Strategi Komunikasi.

STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN.

Strategi Komunikasi yang digunakan adalah tahapan komunikasi terapeutik Perawat – Klien,
yang terdiri dari : prainteraksi, perkenalan dan orientasi, kerja dan terminasi.

1. Prainteraksi
Prainteraksi dilakukan sebelum berinteraksi dengan klien (SP sebagai rencana interaksi),
pada saat menjadi mahasiswa SP harus dibuat secara tertulis, namun pada saat telah
menjadi perawat SP harus sudah menjadi pola berpikir (integrasi antara kemampuan
psikomotor dan afektif).
Setiap akan berinteraksi dengan klien, pola SP seharusnya sudah ada baik secara tertulis
maupun sudah menjadi pola pikir mahasiswa perawat.
Jadi jika dalam 1 shift dinas, perawat merawat 5 klien dan masing-masing klien
membutuhkan 3 tindakan keperawatan , maka harus ada 15 SP yang perlu dipersiapkan
baik secara tertulis maupun pola pikir.

2. Perkenalan dan orientasi


Secara garis besar tahapan ini dibagi menjadi 3 pola sepanjang merawat klien :
- pertemuan awal (kontak pertama)
- pertemuan kedua dan seterusnya (kontak selama proses keperawatan)
- pertemuan akhir (kontak diakhir shift atau diakhir perawatan)

Isi dari tahapan ini merupakan ringkasan teoritis yang dianggap penting saat melakukan
interaksi secara operasional, yang terdiri dari :
- Salam terapeutik
- evaluasi/validasi
- kontrak.
Contoh :
A. Pertemuan pertama
- Salam terapeutik : berisi perkenalan antara perawwat klien termasuk didalamnya
elemen kontrak secara teoritis. Contoh : “selamat pagi Bu, saya Novarini, tapi panggil
saja saya Ns. Nova, nama ibu siapa ? senangnya dipanggil siapa? Saya yang akan
merawat ibu pagi ini?

- Evaluasi dan atau validasi : berisi kajian tentang keluhan, alasan atau kejadian
yang membuat klien datang meminta pertolongan. Contoh komunikasinya : “apa
keluhan ibu” ? “ Ada apa sampai ibu datang kemari?” Apa yang terjadi dirumah?”.
Evaluasi/validasi merupakan kajian untuk mendapatkan fokus pengkajian lebih lanjut.
Jika klien / keluarga mengatakan “klien mengamuk dirumah” langsung pikirkan apa
pengkajian yang perlu dilakukan untuk memastikan diagnosis ‘Perilaku Kekerasan’.

- Kontrak : terdiri dari 3 aspek yaitu :


 Topik : tindakan atau kegiatan yang akan dilakukan pada klien beserta tujuan dan
keuntungannya bagi klien, kemudian meminta persetujuan klien untuk
pelaksanaannya.
 Waktu : kesepakatan berapa lama tindakan dan kegiatan dilakukan, misalnya 10
mnt / 15 mnt / 30 mnt, dsb.
 Tempat : Kesepakatan akan tempat pelaksanaan tindakan, umumnya dipilih
tempat yang terapeutik.
Contoh kontrak :
“ Baik bu, bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang kejadian dirumah, agar
saya dapat membantu cara mengatasinya, Ibu mau berapa lama bercakap-cakap,
bagaimana kalau 10 mnt?, Ibu mau bercakap-cakap dimana? Bagaimana kalau
diruangan ini”?

B. Pertemuan kedua dan seterusnya (* lihat terminasi sementara):


- Salam terapeutik : tidak disertai perkenalan lagi hanya salam saja, misal : “ Selamat
pagi Ibu Ani”?

- Evaluasi dan atau validasi : dapat bersifat umum atau berfokus pada rencana
tindak lanjut klien pada pertemuan sebelumnya.
Evaluasi umum : “Bagaimana perasaan Ibu Ani pagi ini?”
Evaluasi yang berfokus pada rencana tindak lanjut : “Apakah Ibu Ani telah mencoba
cara mengendalikan emosi yang kemarin telah dilatih?”

- (Mengingatkan) Kontrak : tetap berisi 3 aspek topik, waktu dan tempat.


Topik : Berfokus pada tindakan dan tujuan yang terkait dengan ‘kontrak yang akan
datang’ pada pertemuan sebelumnya, misalnya : “Ibu Ani masih ingat apa yang akan
kita lakukan sekarang?” sesuai janji kita tadi pagi, sekarang kita akan latihan cara
mengendalikan emosi yang kedua”. Dan dapat diteruskan dengan tujuannya, waktu
dan tempat yang sama pada pertemuan pertama.

C. Pertemuan terakhir (* lihat terminasi akhir) :


Pertemuan terakhir pada saat klien akan pulang.
- salam terapeutik : sama dengan pertemuan kedua.

- Evaluasi/validasi : berfokus pada semua tindakan keperawatan yang telah


dilaksanakan, kemampuan yang telah dimiliki klien dan jadual kegiatan dirumah sakit
yang dapat dilanjutkan dirumah. Misalnya : “Ibu akan pulang hari ini”?, Bagaimana
latihannya bu”?, Bagaimana jadual kegiatannya Bu”?.
- Kontrak : untuk waktu dan tempat sama dengan pertemuan sebelumnya, sering pula
pertemuan ini dilakukan bersama-sama keluarga

3. Tahap Kerja.
Tahap ini berisi berbagai tindakan keperawatan yang telah direncanakan pada tiap
diagnosa keperawatan. Tindakan keperawatan dapat berupa :
- tindakan observasional / monitoring
- terapi keperawatan termasuk individu dan kelompok disertai terapi modalitas
keperawatan.
- Pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga
- Tindakan kolaborasi dengan berbagai tim kesehatan

Prinsip pada tahap ini adalah bahwa perawat menggunakan diri secara terapeutik yang
tampak dari tehnik komunikasi terapeutik, sikap yang terapeutik dan pelaksanaan
tindakan keperawatan yang sesuai dengan rencana.

4. Tahap Terminasi.
Tahap terminasi hampir sama dengan tahap perkenalan dan orientasi, yaitu dibagi
menjadi dua : Terminasi sementara dan Terminasi Akhir.

a. Terminasi Sementara : dilakukan pada tiap akhir pertemuan, Contoh :


- Evaluasi Subjektif : “Bagaimana perasaan Ibu Ani setelah latihan cara mengontrol
emosi?”
- Evaluasi Objektif : “Jadi, sudah berapa cara mengendalikan emosi yang Ibu Ani
pelajari?”, “Coba sebutkan cara-cara melakukan ‘Tarik Nafas Dalam’.
- Evaluasi Objektif dapat pula penyampaian evaluasi perawat terhadap klien,
misalnya : “Ibu Ani telah dapat melakuakn ‘Tarik Nafas Dalam’ dengan tepat.
- Rencana tindak lanjut : “Baik bu Ani, bagaimana kalau ibu latih tarik nafas
dalamnya?”, “Ibu mau berapa kali latihanya dalam sehari?”, “Bagaimana kalau kita
buat jadual kegiatan harian Ibu?”, “Baik, Ibu coba latihannya nanti kalau ada
kesulitan kita bicarakan lagi”.
- Kontrak yang akan datang :
 Topik : “Bagaiamana nanti kalau kita latih cara mengendalikan marah yang
ketiga”.
 Waktu : “Ibu mau ketemu lagi jam berapa?”, “Bagaimana kalau jam 10.00
nanti”.
 Tempat : “Ibu mau bercakap-cakap dimana?” “Bagaiamana kalau disini lagi?”

b. Terminasi Akhir : Dilakukan saat klien pulang


- Evaluasi Subjektif : “Bagaimana perasaan ibu selama dirawat disini?”
- Evaluasi Objektidf : “Coba Ibu Ani sebutkan apa saja yang telah ibu dapatkan /
pelajari selama dirawat disini?”, “Ibu Ani telah mampu mengendalikan emosi
dengan cara 1………… 2………… 3…………..
- Rencana tindak lanjut : “Bu Ani, jadual yang telah dibuat dirumah coba dijalankan,
jika ada hambatan, ibu bisa datang kemari atau kepelayanan kesehatan terdekat.
- Kontrak yang akan datang : “Jangan lupa 2 minggu lagi ibu kontrol kemari, dan
bawa jadual kegiatan ibu, nanti kita bicarakan lagi kegiatan yang dapat ditambah
atau diubah. ‘ Jika ada hal-hal yang membingungkan jangan tunggu 2 minggu,
segera saja kontrol.

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN SETIAP HARI

A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi klien
………………………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………………………
……
2. Diagnosa keperawatan
………………………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………………………
……
3. Tujuan Khusus
………………………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………………………
……
4. Tindakan keperawatan
………………………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………………………
…………

B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

ORIENTASI
SALAM TEURAPEUTIK
…………………………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………………………
EVALUASI / VALIDASI
…………………………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………………………
KONTRAK :
TOPIK : ………………………………………………………………………………………………
WAKTU : ………………………………………………………………………………………………
TEMPAT : ………………………………………………………………………………………………

KERJA (langkah-langkah tindakan keperawatan) :


1.………………………………………………………………………………………………………………………………
2………………………………………………………………………………………………………………………………
3………………………………………………………………………………………………………………………………
4………………………………………………………………………………………………………………………………
5………………………………………………………………………………………………………………………………

TERMINASI
1. EVALUASI RESPON KLIEN TERHADAP TINDAKAN KEPERAWATAN
- Evaluasi Klien (Subjektif)………………………………………………………………………………………………
- Evaluasi Perawat (objektif setelah reinforcement) ………………………………………………………….

2. Tindak lanjut klien (apa yang perlu dilatih klien sesuai dengan hasil tindakan yang telah
dilakukan)
……………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………………………

Kontrak yang akan datang :


Topik : …………………………………………………………………………
Waktu : …………………………………………………………………………
Tempat : …………………………………………………………………………