Anda di halaman 1dari 15

i

MAKALAH
KIMIA MEDISINAL
(Teori interaksi obat – reseptor dan Hubungan Struktur,
interaksi obat-Reseptor )

OLEH :
KELOMPOK 5 (LIMA)

1. EKA RAHMAH KHAIRIDA (050218A062)


2. EKA SUPARDINATA (050218A063)
3. EKA ZULHA MARLYANA (050218A064)
4. EMIE MAHDALENA (050218A066)
5. ERICHA YULI ASTUTIK (050218A067)
6. ERMAWATI (050218A068)
7. ESTERLITA FARIDA (050218A069)
8. ETI LOVINIA (050218A070)
9. EVA FITRI R. (050218A071)
10. FAHTURRAHMAN (050218A072)
11. FARIDA RISKI A.P. (050218A073)
12. FENTI FITRIYANI (050218A074)
13. FERA ALFIANI (050218A075)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
TAHUN 2018
ii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah dengan judul “Teori Interaksi Obat dan Reseptor”.
Proses penyusunan makalah ini tidak lepas dari kerjasama semua anggota
kelompok. Oleh karena itu pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan
ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada ibu Melati Aprilliana R,
M.Farm., Apt yang sudah membimbing kami selama perkuliahan.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu,
dengan segala kerendahan hati, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun demi kesempurnaan makalah yang kami susun. Kami berharap
semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi kalangan akademis, khususnya
bagi mahasiswa farmasi dan masyarakat umum.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ungaran, Oktober 2018

Tim
iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i


KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iii
BAB 1. PENDAHULUAN...................................................................................1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................1
1.2 Ruang Lingkup ...................................................................................2
1.3 Tujuan .................................................................................................2
1.4 Manfaat ..............................................................................................3
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................4
2.1 Interaksi Obat ......................................................................................4
2.1.1 Definisi Interaksi Obat ..............................................................4
2.1.2 Jenis-Jenis Interaksi Obat ..........................................................4
2.2 Reseptor ..............................................................................................5
2.2.1 Definisi Reseptor .......................................................................5
2.2.2 Jenis-Jenis Reseptor ..................................................................5
2.3 Hubungan Struktur dan Interaksi Obat-Reseptor................................7
2.3.1 Definisi Hubungan Struktur dan Interaksi Obat-Reseptor ........7
2.3.2 Macam- Macam Teori Hubungan Struktur dan Interaksi Obat-
Reseptor .....................................................................................7
BAB 3. KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................11
3.1 Kesimpulan .......................................................................................11
3.2 Saran .................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Beberapa obat sering diberikan secara bersamaan pada penulisan
resep, maka mungkin terdapat obat yang kerjanya berlawanan. Obat
pertama dapa memperkuat atau memperlemah, memperpanjang atau
memperpendek kerja obat kedua.Interaksi obat harus lebih diperhatikan,
karena interaksi obat pada terapi obat dapat menyebabkan kasus yang
parah dan tingkat kerusakan-kerusakan pada pasien, dengan demikian
jumlah dan tingkat keparahan kasus terjadinya interaksi obat dapat
dikurangi (Mutschler, 1991).
Kejadian interaksi obat yang mungkin terjadi diperkirakan berkisar
antara 2,2% sampai 30% dalam penelitian pasien rawat inap di rumah
sakit, dan berkisar antara 9,2% sampai 70,3% pada pasien di masyarakat.
Kemungkinan tersebut sampai 11,1% pasien yang benar-benar mengalami
gejala yang diakibatkan oleh interaksi obat (Fradgley, 2003).
Interaksi obat merupakan suatu faktor yang dapat mempengaruhi
respon tubuh terhadap pengobatan. Obat dapat berinteraksi dengan
makanan atau minuman, zat kimia atau dengan obat lain. Dikatakan terjadi
interaksi apabila makanan, minuman, zat kimia, dan obat lain tersebut
mengubah efek dari suatu obat yang diberikan bersamaan atau hampir
bersamaan (Ganiswara, 2000).
Mekanisme kerja obat lainnya adalah berikatan dengan reseptor
karena sebagian besar obat berikatan dengan suatu reseptor. Suatu reseptor
dapat berinteraksi dengan suatu ligan, antara lain: hormone-hormon
endogen dan neurotransmitter,atau agen-agen pengatur lainnya. Pada
umumnya obat atau ligan dapat bertindak sebagai agonis antagonis.
Agonis merupakan analog hormon endogen dan neurotransmiter,
artinya agonis menimbulkan suatu efek biologis, meskipun efek yang
ditimbulkannya bias yang bersifat menstimulasi atau menghambat. Agonis
2

yang berbeda mengaktifkan reseptor dengan tingkat efektivitas yang


berbeda pula. Obat-obat antagonis adalah penghambat kompetitif bagi
agonis dalam mendapatkan reseptor (Ganiswara, 2000).
Interaksi suatu obat dengan sisi aktif reseptor tergantung pada
kesesuaian dari dua molekul tersebut, jadi bisa disimpulkan bahwa suatu
obat hanya mau berinteraksi terhadap suatu reseptor atau tidak sembarang
reseptor, hal ini merupakan ssalah satu sifat dari reseptor yaitu "spesifitas".
Namun meskipun demikian sebenarnya tidak ada spesifik yang
sesungguhnya tetapi beberapa mempunyai aksi selektif yang relatif pada
satu tipe dari reseptor. Molekul yang paling sesuai berinteraksi dengan sisi
aktif reseptor dan mempunyai ikatan terkuat dikatakan mempunyai
"afinitas" terbesar terhadap reseptornya. Afinitas merupakan kemampuan
suatu senyawa atau obat untuk berinteraksi dengan satu tipe tertentu dari
reseptor. Selain afinitas, syarat obat untuk menghasilkan efek ada
"aktivitas Intrinsik dan Efikasi/ Efikasi Instrinsik".

1.2 Ruang Lingkup


Ruang lingkup makalah ini meliputi :
1. Teori tentang interkasi obat
2. Teori tentang reseptor
3. Hubungan antara interaksi obat dengan reseptor

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui teori interaksi obat
2. Untuk mengetahui teori tentang reseptor
3. Untuk mengetahui hubungan antara struktur, interaksi obat dan
reseptor
3

1.4 Manfaat
1. Meningkatkan pengetahuan tentang hubungan reaksi obat dan reseptor
2. Sebagai informasi tambahan untuk pegembangan obat baru
3. Menjadikan dasar untuk pengambilan keputusan terapeutik dalam
bidang pengobatan
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Interaksi obat


2.1.1 Definisi Interaksi Obat
Interaksi obat merupakan efek suatu obat yang disebabkan
bila dua obat atau lebih berinteraksi dan dapat mempengaruhi respon
tubuh terhadap pengobatan. Hasilnya berupa peningkatan atau
penurunan efek yang dapat mempengaruhi autcome terapi pasien
(Bintarizka, 2016).
Menurut Bintarizka (2016) interaksi obat dapat terjadi
minimal melibatkan dua jenis obat, yaitu:
a. Obat obyek, yaitu obat yang aksinya atau efeknya dipengaruhi
atau diubah oleh obat lain.
b. Obat presipita, yaitu obat yang mempengaruhi atau mengubah
aksi atau efek obat lain.
Beberapa obat dapat menghasilkan efek setelah berikatan
dengan komponen organisme yang spesifik, komponen organisme
yang spesifik tersebut merupakan suatu protein yang terikat dalam
membran sel. Komponen spesifik tersebut ialah reseptor.

2.1.2 Jenis jenis interaksi obat


a) Interaksi Farmaseutik
Interaksi yang terjadi di luar tubuh antara obat-obat yang tidak
dapat dicampur (inkompatibel).
Contoh : Penisillin G bila dicampur dengan vitamin C dan
amfoterisin B akan mengendap dalam larutan garam fisiologis.
b) Interaksi Farmakokinetik
Interaksi famakokinetik terjadi bila salah satu obat
mempengaruhi ADME (absorpsi, distribusi, metabolisme dan
ekskresi) obat lain. Interaksi Absorpsi dapat mempengaruhi :
5

1) Rate of absorption
2) Fraction absorbed
3) First-pass metabolismperubahan bioavailability
c) Interaksi Farmakodinamik
Interaksi dimana efek suatu obat diubah oleh obat lain pada
tempat aksi. Antagonisme terjadi jika aktivitas obat 1 dikurangi
atau ditiadakan oleh obat 2 yang memiliki efek farmakologis yang
berbeda.
Contoh : Fenobarbital + strikinin

2.2 Reseptor
2.2.1 Definisi Reseptor
Reseptor merupakan suatu molekul yang jelas dan spesifik
terdapat dalam organisme, tempat molekul obat (Agonis)
berinteraksi membentuk suatu kompleks yang reversibel sehingga
pada akhirnya menimbulkan respon.
Suatu senyawa yang dapat mengaktifasi sehingga
menimbulkan respon disebut agonis. Selain itu senyawa yang dapat
membentuk kompleks dengan reseptor tapi tidak dapat menimbulkan
respon dinamakan Antagonis. Sedangkan senyawa yang mempunyai
aktivitas diantara dua kelompok tersebut dinamakan antagonis
parsial. Pada suatu kejadian dimana tidak semua reseptor diduduki
atau berinteraksi dengan agonis untuk menghasilkan respon
maksimum, sehingga terdapat kelebihan reseptor, kejadian ini
dinamakan reseptor cadangan.

2.2.2 Jenis-Jenis Reseptor


a) Reseptorr terhubung kanal ion
Reseptor ini berada di membran sel, disebut juga reseptor
ionotropik. Respon terjadi dalam hitungan milidetik. Kanal
merupakan bagian dari reseptor.
6

Contoh : reseptor nikotinik, reseptor GABA, reseptor ionotropik


glutamat dan reseptor 5-HT3.

b) Reseptor terhubung transkripsi gen


Reseptor terhubung transkripsi gen disebut juga reseptor nuklear
(walaupun beberapa ada di sitosol, merupakan reseptor sitosolik
yang kemudian bermigrasi ke nukleus setelah berikatan dengan
ligand, seperti reseptor glukokortikoid).
Contoh : reseptor kortikosteroid, reseptor estrogen dan
progestogen, reseptor vitamin D.

c) Reseptor terhubung enzim


Reseptor terhubung enzim merupakan protein transmembran
dengan bagian besar ekstraseluler mengandung binding site untuk
ligan .
contoh : faktor pertumbuhan, sitokin, dan bagian intraseluler
mempunyai aktivitas enzim (biasanya aktivitas tirosin kinase).

d) Reseptor terkopling protein G (GPCR)


GPCR disebut juga reseptor metabotropik, berada di sel membran
dan responnya terjadi dalam hitungan detik. GPCR mempunyai
rantai polipeptida tunggal dengan 7 heliks transmembran.
Transduksi sinyal terjadi dengan aktivasi bagian protein G yang
kemudian memodulasi atau mengatur aktivitas enzim atau fungsi
kanal.
Tabel 1. Contoh reseptor terkopling protein G
Contoh Reseptor Efek Agonis Antagonis
Histamin H 1 Kontraksi otot Histamin Mepiramin
polos (IP3)
Berbagai efek
karena posforilasi
7

protein
Adrenoreseptor Relaksasi otot polos Adrenalin Propanolol
β2 Salbutamol
Muskarinik M2 Penurunan Asetilkolin Atropin
kekuatan
kontraksi jantung
Pelambatan
Jantung

2.3 Hubungan Struktur dan Interaksi Obat-Reseptor


2.3.1 Definisi Hubungan Struktur dan Interaksi Obat-Reseptor
Reseptor obat adalah suatu makro molekul jaringan sel hidup,
mengandung gugus fungsional atau atom-atom terorganisasi, reaktif secara kimia
dan bersifat spesifik, dapat berinteraksi secara reversibel dengan molekul obat
yang mengandung gugus fungsional spesifik, menghasilkan respon biologis yang
spesifik pula. Interaksi obat-reseptor terjadi melalui dua tahap, yaitu :
a) Interaksi molekul obat dengan reseptor spesifik, interaksi ini memerlukan
afinitas.
b) Interaksi yang dapat menyebabkan perubahan konformasi makro molekul
protein sehingga timbul respon biologis.

2.3.2 Macam-Macam Teori Hubungan Struktur dan Interaksi Obat-Reseptor


a) Teori klasik
Crum, Brow dan Fraser (1869) menyatakan bahwa
aktivitas biologis suatu senyawa merupakan fungsi dari struktur
kimianya dan tempat obat berinteraksi pada sistem biologis
mempunyai sifat yang berinteraksi. Langley (1878)
memperkenalkan konsep reseptor pertama kali untuk antagonis
atropine dan pilokarpin. Selain itu, Erlich (1907) menunjukkan
bahwa respon biologis timbul bila ada interaksi tempat atau
struktur dalam tubuh yang karakteristik atau sisi respetor, dengan
8

molekul asing yang sesuai atau obat dan satu sama lain
merupakan struktur yang paling mengisi.

b) Teori Pendudukan
Clack (1926) menyatakan bahwa satu molekul obat akan
menempati satu sisi reseptor dan obat harus diberikan dalam
jumlah yang berlebih agar tetap efektif selama proses
pembentukan kompleks. Obat (O) akan berinteraksi dengan
reseptor (R) sehingga membentuk komleks obat reseptor (OR).

K1 K3
O+R OR E
K2
Keterangan :
k1 = kecepatan penggabungan
k2 = kecepatan disosiasi
k3 = faktor proporsional
E = efek biologis yang dihasilkan
Efek biologis yang besar dihasilkan secara langsung sesuai
dengan jumlah reseptor spesifik yang diduduki oleh molekul obat.
Calk hanya meninjau dari segi agonis saja yang kemudian
dilengkapi oleh Gaddum (1937), yang meninjau dari segi
antagonis.
Ariens (1954) dan Stephenson (1956) memodifikasi dan
membagi interaksi obat-reseptor menjadi dua tahap yaitu
membentuk kompleks obat-reseptor, dan menghasilkan respons
biologis.
Respon biologis merupakan fungsi dari jumlah kompleks
obat-reseptor. Proses interaksi obat-reseptor menurut Airens,
sebagai berikut :
Afinitas Efikasi
9

O+R O-R Respon Biologis


Kompleks
Afinitas adalah ukuran kemampuan obat untuk mengikat
reseptor. Afinitas sangat tergantung pada struktur molekul obat
dan sisi reseptor. Efikasi (aktivitas intriksi) adaalah ukuran
kemampuan obat untuk dapat memulai respons bioilogis. Efikasi
karakteristik dari senyawa agonis :
O+R OR (+) : senyawa agonis
(Afinitas >> dan aktivitas intriksik = 1)
O+R OR Respons (-) : senyawa antagonis
Senyawa antagonis dapat menghambat efek agonis.
Agonis parsial adalah senyawa yan dapat memberikan respons
lebih kecil daripada respon agonis dan bekerja pada sisi reseptor
yang sama dengan agonis. Bila aktivitas intriksik senyawa agonis
= 1, aktivitas intriksi senyawa agonis parsial terletak 0<1.
Aktivitasnya intriksik senyawa antagonis = 0.

c) Teori kecepatan
Patan (1961) menyatakan bahwa efek biologis obat setara
dengan kecepatan ikatan obat -reseptor dan bukan dari jumlah
reseptor yang didudukinya.
Asosiasi Disosiasi
O+R OR E
Efek biologis obat ditemukan oleh kecepatan asosiasi dan
disosiasi kompleks obat-reseptor dan bukan pembentukan
kompleks obat-reseptor yang stabil. Senyawa dikatakan agonis
bila mempunyai kecepatan asosiasi dan disosiasi lebih besar.
Senyawa dikatakan antagonis bila mempunyai kecepatan asosiasi
lebih besar dan disosiasi lebih kecil. Senyawa dikatakan agonis
parsial bila kecepatan asosiasi dan disosiasinya tidak maksimal.
10

d) Teori kesesuaian terimbas


Belleau (1964) memperkenalkan teori model kerja obat
yang disebut teori gangguan makro molekul. Menurut Belleau,
interaksi mikro molekul obat dengan makro molekul protein
(reseptor) dapat menyebabkan terjadinya perubahan bentuk
konformasi reseptor sebagai berikut :
1. Gangguan konformasi spesifik (Specific Conformational
Perturbation / SCP).
2. Gangguan konformasi tidak spesifik (Non Specific
Conformational Perturbation / NSCP).

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
11

3.1.1 Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat
lain (interaksi obat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan
senyawa kimia lain. Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika
dua atau lebih obat digunakan bersama-sama.
3.1.2 Hubungan antara obat dan reseptor biologisnya yang didukung oleh
beberapa teori antara lain teori klasik, teori kependudukan dan teori
kecepatan dan interaksi obat antara reseptor dapat berlangsung karena
adanya kekuatan ikatan kimia tertentu, dan bersifat spesifik, dapat
berinteraksi secara reversible dengan molekul obat yang mengandung
gugus fungsional spesifik, sehingga menghasilkan respons biologis
yang spesifik

3.2 Saran
Untuk menghindari ineraksi obat yang tidak diinginkan maka sebaiknya:
3.2.1 Hindari semaksimal mungkin pemakaian obat gabungan (polifarmasi)
kecuali jika memang kondisi penyakit yang diobati memerlukan
gabungan obat dan pengobatan gabungan tersebut sudah diterima dan
terbukti secara ilmiah manfaatnya.
3.2.2 Jika memang harus memberikan obat gabungan (lebih dari satu)
bersamaan, yakinkan bahwa tidak ada interaksi yang merugikan, baik
secara kinetik maupun dinamik.
DAFTAR PUSTAKA

Bintarizka L.(2016). Pengaruh Rekonsilisasi Obat pada Pasien Rawat Inap di


RSUD Prof. Dr. Margono Soekerjo Purwokerto. Skripsi. Universitas
Muhammadiyah Purwokerto

Fradgley, S. (2003). Interaksi Obat dalam Aslam. M.,Tan., C, K., dan Priyatno, A.
Farmasi Klinis. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo Kelompok
Gramedia.

Ganiswara, S.G. (2000). Farmakologi dan Terapi Edisi IV. Jakarta : Farmakologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Mutschler, E. (1991). Dinamika Obat Edisi V. Diterjemahkan Widianto, M. B.


dan Ranti, A. N. 88-92. Bandung : ITB