Anda di halaman 1dari 15

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2019/2020

MODUL : Reverse Osmosis

PEMBIMBING : Dian Ratna Suminar, ST., MT.

Praktikum : 04 Oktober 2019


Penyerahan : 11 Oktober 2019

Oleh :

Kelompok : IV (Empat)

1. Fatimah (171411079)
2. Hafizha Tsalis (171411080)
3. Iffatul Aziza (171411081)
4. Isnaniah Wahyuni (171411082)

Kelas : 3C – D3 Teknik Kimia

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air bersih digunakan untuk keperluan rumah tangga maupun untuk keperluan industry.
Sekitar 71% di permukaan bumi ini adalah air, tetapi hanya sedikit air bersih yang dapat
digunakan. Untuk menghasilkan air bersih yang layak pakai, air harus dilakukan tahapan
pengolahan, salah satu proses pengolahan air adalah reverse osmosis.
Salah satu contoh pengunaan reverse osmosis adalah air laut, untuk industry yang
berdekatan dengan air laut, air yang digunakan untuk proses industry adalah air laut. Dengan
dilakukan nya reverse osmosis mampu menghilangkan padatan terlarut dan ion shingga
menghasilkan air murni. Oleh karena itu dilakukan percobaan “Reverse osmosis” di
laboratorium Pengolahan Limbah Industri agar praktikan dapat mengetahui dan memahami
proses reverse osmosis dengan baik dan benar.

1.2 Tujuan
1. Memahami proses pemisahan kation dalam air baku dengan system reverse osmosis
2. Membuat kurva atau grafik hubungan antara kadar zat terlarut (solute) di aliran permeat
dan konsentrat terhadap waktu atau volume permeat
3. Menghitung persen zat terlarut yang ditolak (% reject)
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Reverse Osmosis

Gambar 1. Reverse Osmosis


(Sumber: www.espwaterproducts.com)
Osmosis merupakan proses perpindahan air dari larutan yang konsentrasinya rendah
menuju larutan yang konsentrasinya tinggi dikarenakan adanya tekanan osmosis. Proses
perpindahan ini melalui membran semipermeabel, dimana proses perpindahan air akan
berhenti setelah konsentrasi kedua larutan sama. Sedangkan, RO membutuhkan tekanan
hidrostatik lebih besar daripada perbedaan tekanan osmotiknya sehingga air bisa mengalir dari
larutan yang konsentrasinya lebih tinggi melalui membran semipermeabel.
Reverse osmosis (RO) adalah sebuah metode filtrasi yang mampu menyisihkan banyak
jenis molekul dan ion besar dari larutan dengan memberikan tekanan pada larutan yang berada
pada salah satu sisi membran selektif (Mulder, 1996 dalam wenten).
Tekanan eksternal diaplikasikan pada larutan untuk melawan tekanan osmotiknya.
Sehingga hasilnya adalah perpindahan air dari larutan hipertonik ke larutan hipotonik.(
Wenten, dkk ,2014).

2.2 Faktor yang Mempengaruhi Reverse Osmosis


Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas air hasil filtrasi. Faktor-faktor tersebut adalah
sebagai berikut :
a. Tekanan
Menurut Heitmann (1990) dalam Yusuf,dkk (2009), tekanan mempengaruhi laju alir bahan
pelarut yang melalui membran itu. Laju alir meningkat dengan terus meningkatnya
tekanan, dan mutu air olahan (permeate) juga semakin meningkat. Tekanan memegang
peranan penting bagi laja permeate yang terjadi pada proses membran. Semakin tinggi
tekanan suatu membran, maka semakin besar pula fluks yang dihasilkan permeate (Nassa
dan Dewi, 2004).
b. Temperatur/suhu
Standar temperatur yang digunakan dari 70F (21C), tetapi umumnya yang digunakan
mulai dari 85F (29C) (Eckenfelder, 2000 dalam Yusuf, dkk, 2009).
c. Kepadatan/kerapatan membrane.
Semakin rapat membran, maka semakin baik air olahan yang dihasilkan (Eckenfelder, 2000
dalam Yusuf,dkk, 2009),
d. Flux (fluks)
Gerakan air yang terus menerus. Untuk menentukan fluks dapat diperoleh dengan
menghitung laju alir permeate per satuan luas membran (Nassa dan Dewi, 2004).
e. Salt Rejection (rejeksi garam-garaman)
Garam rejeksi tergantung dari tipe dan karakteristik pemilihan membran. Namun juga
sangat tergantung pada kondisi operasi, konsentrasi larutan umpan dan debit aliran. Nilai
rejeksi merupakan angka mutlak (Nassa dan Dewi, 2004). Umumnya nilai rejeksi dari 85
– 99,5% dengan 95% yang lebih sering digunakan (Eckenfelder, 2000 dalam Yusuf, dkk,
2009).
f. Ketahanan Membran
Membran hanya dapat bertahan sebentar (akan cepat rusak) apabila terlalu banyak
komponen – komponen yang tidak diinginkan ikut masuk di dalam air umpan, seperti
bakteri, jamur, phenol, dan bahkan nilai pH terlalu tinggi/rendah. Biasanya membran dapat
bertahan selama 2 tahun dengan perubahan pada efisiensinya (Eckenfelder, 2000 dalam
Yusuf, dkk, 2009).
g. PH
pH pada membran yang sering digunakan memiliki batasan operasi antara 6 – 7,7 9).
h. Kekeruhan (Turbidity)
Kekeruhan (Turbidity) Reverse Osmosis digunakan untuk memindahkan/menyingkirkan
kekeruhan dari air umpan (air masuk). (Eckenfelder, 2000 dalam Yusuf, dkk, 2009).

Adanya kemampuan yang terbatas dari suatu media akan memberikan pengaruh dalam
pertimbangan mendesain debit aliran.
a) Pengaruh Debit Air Masuk terhadap Effluent

Debit air baku dipengaruhi oleh dua faktor yaitu debit air hasil penyerapan dan debit air
buangan. Debit air masuk (Qf) berbanding lurus dengan konsentrasi zat terlarut pada aliran
masuk (Cf), dimana bila debit pada aliran masuk besar maka konsentrasi zat terlarut pada
aliran masuk akan besar pula. Debit air pada aliran masuk merupakan penjumlahan dari
debit konsentrasi aliran hasil penyerapan ditambah debit dan konsentrasi aliran
pembuangan. Bila konsentrasi ditetapkan maka debit aliran pembuangan (Qc) lebih besar
dibandingkan debit air hasil penyerapan (Qp) hal ini disebabkan oleh banyaknya padatan
tersuspensi yang menempel pada daya serap atau permukaan membran, (Metcalf and Eddy,
2004 dalam Yusuf, dkk, 2009).
b) Pengaruh Tekanan Operasi terhadap Penyerapan Aliran Jika ditinjau dari tekanan operasi
pada membran, maka berlaku persamaan berikut:

Tekanan operasi pada membran (ΔP) dipengaruhi oleh tekanan penyerapan aliran (ΔP).
Untuk mendapatkan tekanan hidrostatik yang besar maka tekanan aliran masuk (Pf) dan
tekanan aliran pada aliran pada zat terlarut (Pc) harus besar, sedangkan tekanan penyerapan
aliran (Pp) harus kecil karena tekanan operasi (Δ ) berbanding lurus dengan tekanan
pnyerapan (ΔPp). Tekanan aliran masuk (Pf) dan tekanan zat terlarut (Pc) berbanding
terbalik dengan tekanan hidrostatik (ΔP ), (Metcalf and Eddy, 2004).
c) Persentase Penyisihan untuk menentukan mutu produk Jika didasarkan pada persentase
penyisihan dapat digunakan dengan persamaan berikut :

Persentase penyisihan berpengaruh terhadap konsentrasi zat terlarut pada aliran masuk.
Persentase penyisihan berbanding terbalik dengan konsentrasi akhir (C akhir), sehingga
bila persentase penyisihan besar maka konsentrasi awal (C awal) akan besar. Begitu juga
sebaliknya bila persentase penyisihan kecil maka konsentrasi awal (C awal) akan kecil
(Hartomo dan Widiatmoko, 1994 dalam Yusuf, dkk, 2009).

2.3 Tahapan Proses Reverse Osmosis

Gambar 2. Tahapan Proses Reverse Osmosis

a) Sedimen 5 mikron ( Tabung yang berdiri vertikal dan berwarna bening) Menyaring air
langsung dari kran air PAM/sumur terhadap partikelpartikell yang besar atau >5 mikron,
seperti pasir, debu, rambut, lumpur atau endapan-endapan lainnya secara fisika.
b) Granular Actived Carbon (GAC) ( Tabung yang berdiri vertikal berada ditengah dan
berwarna putih) Menyaring air sebagai kelanjuta tahap 1 untuk membuang zat-zat kimia
yang ada di dalam air seperti deterjen kaporit/klorin dsb.
c) Clorine Taste Odor (CTO) Carbon Block ( Tabung yang berdiri vertikal berada kiri dan
berwarna putih) Menyaring air sebagai kelanjutan tahap 1 untuk membuang zat-zat kimia
yang ada di dalam air kaporit/klorin, netralisir rasa, bau, trikolometana dengan tingkat
lebih baik. Juga menyaring partikel >10 mikron
d) Membrane Reverse Osmosis ( Tabung besar berwarna putih melintang secara horisontal
) Penyaringan pada tahap ini berbeda dari tahap sebelumnya, pada tahap penyaringan ini
memiliki dua saluran yaitu pertama, air minum RO, air yang telah melalui filter 0.0001
mikron dan kedua, air limbah atau air buangan yang tidak dapat masuk kedalam membran
seperti pencemaran kimia dan fisika, bakteri dan virus.
e) Post Carbon (Tabung kecil berwarna putih melintang secara horisontal diatas membrane)
Menyaring air sebagai kelanjutan tahap 1 untuk membuang zat-zat kimia yang ada di
dalam air kaporit/klorin, netralisir rasa, bau, trikolometana dengan tingkat lebih baik. Juga
menyaring partikel >10 mikron.
f) Pompa diafragma adalah jenis Positive displacement pumps menggunakan kombinasi
dari perlakuan reciprocating dari karet , termoplastik atau teflon diafragma dan cocok
untuk penggunaan pada katup searah / check valve untuk memompa fluida . Kadang-
kadang pompa jenis ini juga disebut pompa membrane (Buku Manual Desalite).
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat yang digunakan
1. Seperangkat alat Reverse Osmosis
2. Gelas kimia 100 mL; 400 mL; 250 mL
3. Gelas ukur 100 mL
4. Botol semprot
5. TDS meter
6. Konduktometer
7. Stopwatch
3.1.2 Bahan yang digunakan
1. Air Baku (Air Keran)
3.2 Cara Kerja
Mempelajari alat Reverse Osmosis yang terdiri dari 5 tabung filter yang berisi media filter, memeriksa
semua aliran (influen, permeat dan konsentrat)

Membuka semua valve (kran) di aliran influen

Menyalakan mesin Reverse Osmosis

Mengatur laju alir influen dengan mengatur bukaan kran

Mencatat tekanan operasi

Mengukur DHL dan TDS di aliran umpan

Setelah aliran berjalan normal, memulai pengukuran DHL dan TDS di aliran permeat dan konsentrat
setiap 10 menit selama 40 menit

Hasil pengukuran di aliran permeat ditampung dan dimasukkan ke tempat atau bak penampungan,
sedangkan aliran konsentrat dibuang ke saluran pembuangan

Mengulangi prosedur diatas pada laju alir yang berbeda


BAB IV

PENGOLAHAN DATA

4.1 Data Pengamatan

Umpan
 Laju Alir : 15,57 ml/ menit
 Konsentrasi :
 TDS = 205,3 mg/L
 DHL = 419,9 uS/cm
 pH = 6
Tabel 1. Tabel Data Pengamatan

Tekanan Konsentrasi di Aliran Permeat Konsentrasi di Aliran Konsentrat


Waktu
Operasi TDS DHL Volume (ml) TDS DHL Volume (ml)
(menit)
(kg/cm2) (mg/L) (uS/cm) pH per 5 sekon (mg/L) (uS/cm) pH per 5 sekon
0 110 10,77 20,75 5 26 307,9 629,0 7 46
10 110 5,167 9,712 6 25 308,4 628,5 6 43
20 110 9,361 18,10 5 26 308,3 629,1 7 48
30 110 5,443 9,853 5 26 308,6 628,8 6 49
40 110 5,742 10,68 5 27 308,7 628,7 6 46
50 110 5,144 9,593 5 27 307,8 626,8 6 47
60 110 12,18 23,86 5 25 308,4 630,9 6 42
70 110 10,58 21,24 5 27 308,8 629,7 6 48
80 110 8,985 17,70 5 26 307,1 626,1 6 46
90 110 8,514 16,59 5 24 306,5 623,9 6 47
100 110 6,198 11,68 5 20 304,5 620,2 6 40
110 110 4,218 7,688 5 24 307,0 625,7 6 41
120 110 8,250 15,71 5 25 310,7 632,6 6 42

4.2 Menentukan persen reject (% R)

𝑇𝐷𝑆(𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛)−𝑇𝐷𝑆(𝑝𝑒𝑟𝑚𝑒𝑎𝑡)
%R = 𝑇𝐷𝑆 (𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛)
x 100 %
Tabel 2. Tabel Hasil Perhitungan Persen Reject
Waktu Umpan Konsentrasi di Aliran Permeat
% Rejection
(menit) TDS TDS (mg/L) DHL (uS/cm) pH
0 205,3 10,77 20,75 5 94,75401851
10 205,3 5,167 9,712 6 97,48319532
20 205,3 9,361 18,1 5 95,44033122
30 205,3 5,443 9,853 5 97,34875792
40 205,3 5,742 10,68 5 97,20311739
50 205,3 5,144 9,593 5 97,49439844
60 205,3 12,18 23,86 5 94,0672187
70 205,3 10,58 21,24 5 94,846566
80 205,3 8,985 17,7 5 95,62347784
90 205,3 8,514 16,59 5 95,8528982
100 205,3 6,198 11,68 5 96,98100341
110 205,3 4,218 7,688 5 97,94544569
120 205,3 8,25 15,71 5 95,9814905

4.3 Hubungan DHL dan TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan Konsentrat
4.3.1 Hubungan DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan Konsentrat

Grafik DHL vs Waktu


700

600

500
DHL uS/cm

400

300 Permeat

200 Konsentrat

100

0
0 20 40 60 80 100 120 140
Waktu (menit)

Gambar 3. Grafik DHL vs waktu di aliran permeat dan konsentrat


4.3.2 Hubungan TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan Konsentrat

Grafik TDS vs Waktu


350

300

250
TDS (mg/L)

200

150 Permeat

100 Konsentrat

50

0
0 20 40 60 80 100 120 140
Waktu (menit)

Gambar 4. Grafik TDS vs waktu di aliran permeat dan konsentrat


BAB V PEMBAHASAN
BAB VI KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Maulana, A.M dan Widodo, A.S. 2009. “Pengolahan Air Produk Reverse Osmosis Sebagai
Umpan
Boiler dengan Menggunakan Ion Exchange:Makalah Penelitian”. Jurusan Teknik
Kimia
Fakultas Teknik Universitas Dipenogoro

Mukhtar, Ghozali. 2008. “Revese Osmosis : Jobsheet Praktikum Pengolahan Limbah Industri”.
Politeknik Negeri Bandung.

Wenten, I G, Khoiruddin, dan Hakim, A. 2014. Osmosis Balik. Institut Teknologi Bandung.
LAMPIRAN

Pertanyaan

1. Gambarkan skema peralatan system reverse osmosis yang digunakan untuk


percobaan tersebut dan lengkapi dengan valve (kran) dan lainnya
2. Hitung persen (%) reject dan tabelkan serta bahas dengan singkat dan jelas
3. Perkirakan hubungan (korelasi) antara konsentrasi zat terlarut yang dinyatakan
DHL dan TDS (membentuk persamaan linier/ tidak linier)
4. Jelaskan secara singkat dan jelas, mengapa di aliran permeat konsentrasi zat terlarut
dan tidak dapat/sulit dihasilkan harga rendah atau mendekati nol
5. Usaha apa agar kadar zat terlarut di aliran permeat dihasilkan TDS atau DHL sekecil
mungkin
6. Jelaskan fungsi masing-masing kolom (tabung) dalam system RO tersebut

Jawaban

1.
𝑇𝐷𝑆(𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛)−𝑇𝐷𝑆(𝑝𝑒𝑟𝑚𝑒𝑎𝑡)
2. %R = x 100 %
𝑇𝐷𝑆 (𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛)

Waktu Umpan Konsentrasi di Aliran Permeat


% Rejection
(menit) TDS TDS (mg/L) DHL (uS/cm) pH
0 205,3 10,77 20,75 5 94,75401851
10 205,3 5,167 9,712 6 97,48319532
20 205,3 9,361 18,1 5 95,44033122
30 205,3 5,443 9,853 5 97,34875792
40 205,3 5,742 10,68 5 97,20311739
50 205,3 5,144 9,593 5 97,49439844
60 205,3 12,18 23,86 5 94,0672187
70 205,3 10,58 21,24 5 94,846566
80 205,3 8,985 17,7 5 95,62347784
90 205,3 8,514 16,59 5 95,8528982
100 205,3 6,198 11,68 5 96,98100341
110 205,3 4,218 7,688 5 97,94544569
120 205,3 8,25 15,71 5 95,9814905
Dari dtabel diatas dapat diketahui bahwa nilai R yang paling besar yaitu 97,9 % menunjukan
bahwa proses pemisahannya semakin baik, artinya permeat semakin murni. Hal ini
menunjukkan bahwa kadar garam pada aliran efluen (permeat) semakin sedikit, dimana ion-
ion garam tersaring dalam membrane.