Anda di halaman 1dari 23

PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA

ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI

Oleh : A2/Kelompok 4

Emie Mahdalena NIM 050218A066

Ericha Yuli Astutik NIM 050218A067

Ermawati NIM 050218A068

Esterlita Farida H.O NIM 050218A069

Eti Lovina NIM 050218A070

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

April 2019
BAB I

DASAR TEORI

1.1 Farmakokinetika

Farmakokinetik atau kinetika obat adalah nasib obat dalam tubuh atau efek
tubuh terhadap obat (Setiawan, 2008). Dalam arti sempit farmakokinetika
khsusunya memperlajari perubahan-perubahan konsentrasi dari obatn dan
metabolitnya didalam darah dan jaringan sebagai fungsi dari waktu (Tjay dan
rahadrdja, 2007). Farmakokinetik mencangkup 4 proses, yakni proses absorpsi
(A), distribusi (D), metabolisme (M) dan ekskresi. Metabolisme atau
biotransformasi dan ekresi bentuk utuh atau bentuk aktif merupakan proses
eliminasi (Anonim, 2006).

1. Absorbsi
Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian
ke dalam darah. Tergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian
obat adalag saluran cerna (mulut sampai dengan rectum), kulit, paru,
otot dan lain-lain (Setiawan, 2008).
Laju dan jumlah absorbs obat dalam tubuh dapat dipengaruhi oleh
beberapa factor yaitu : luas permukaan dinding usus, kecepatan
pengosongan lambung, pergerakan saluran cerna dan aliran darah ke
tempat absorpsi. Laju absoripsi obat ini dapat digambarkan secara
matematik sebagai suatu proses orde kesstu stsu orde nol. Dalam model
mengikuti orde kesatu, kecuali apabila menganggap absorbs orde nol
memperbaiki model secara bermakna atau telah teruji dengan percobaan
(Shargel dan Yu, 2005).
2. Distrubusi
Distribusi merupakan proses perpindahan bolak-balik suatu obat
menuju dan dari tempat aksi, biasanya darah atau plasma. Pada
umumnya distribusi suatu obat dari darah menuju kejaringan adalah
secara difusi pasif (Riviere, 1999). Distribusi obat terlebih dahulu terjadi
pada organ-organ yang perfusinya sangat baik, seperti jantung, hati,
ginjal dan otak. Selanjutnya mencakup jaringan yang perfusinya tidak
sebaik organ-organ tadi seperti otot, visera, kulit dn jaringan lemak.
Kesetimbangan akan terjadi setelah waktu yang lama (Setiawati dkk,
2002). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi distribusi suatu obat
yaitu perfusi aliran darah pada organ, kemampuan menembus
membrane (permeabilitas), serta ikatan obat dengan darah dan jaringan
(Rowland and Toze, 1995).
Distribusi sebagian besar ditentukan oleh pasokan darah dari organ
dan jaringan. Apabila pasokan darah semakin besar, maka bagian obat
yang dapat berdifusi ke dalam organ tertentu dari pembuluh darah juga
semakin banyak. Ini berarti bahwa organ yang mempunyai banyak
kapiler untuk memulai proses distribusi mengambil jumlah obat lebih
banyak dibandingkan dengan organ yang pasokan darahnya kurang
(Mutschler, 1991).
Seperti halnya absorpsi, laju distribusi juga dapat dibatasi baik oleg
perfusi maupun permeabilitas. Suatu perfusion-rate limitation terjadi
bila membrane jaringan tidak menjadi sawar secara esensial bagi proses
ditribusi. Kondsi ini terjadi pada molekul-molekul kecil lipofilik, yang
berdifusi melintasi hampir semua membrane tubuh. Perfusi dinyatakan
dalam satuan ml darah per menit per volume jaringan (ml/menit/ml).
Sedangkan permeability rate limitation muncul khususnya pada obat
polar yang berdifusi melintasi membrane lipoid yang rapat. Karena
adanya perbedaan perdifusi dan permeabilitas dari berbagai jaringa ini,
maka sulit untuk memperediksi distribusi jaringan dari suatu obat
(Rowland and Tozer, 1995).
Faktor terpenting lain untuk proses distribusi obat adalahh ikatan
obat pada protein plasma, protein jaringan dan sel darah merah.
Konsekuensinya, konsentrasi obat dalam darah total, dalam plasma, dan
tak terikat dalam air plasma, dapat sangat berbeda. Hanya obat bebas
atau tak terikat yang dapat menembus membrane dan mencapai
kesetimbangan (Rowland and Tozer, 1995).
Ikatan protein bersifat bolak-balik. Derajat ikatan obat dengan
protein plasma ditentukan oleh afinitas obat terhadap protein, kadar obat
dan kadar protein sendiri. Pada keadaan defisiensi protein, pengikatan
obat oleh protein menjadi berkurang (Setawati dkk, 2002). Makin besar
tetapan afinitas zat terhadap protein, makin kuat ikatan protein.
Kesetimbangan distribusi akan bergeser ke protein dengan tetapan
afinitas yang lebih besar (Mutscher, 1991).
3. Metabolisme
Metabolisme obat terutama terjadi di hati. Tempat metabolisme
yang lain adalah dinding usus, ginjal, paru, darah, otak dan kulit, juga di
lumen kolon (oleh flora usus). Tujuan metabolisme obat adalah
mengubah obat yang non polar menjadi polar agar dapat diekskresi
melalui ginjal atau empedu. Dengan perubahan ini obat aktif umumnya
diubah menjadi inaktif, tapi sebagian berubah menjadi lebih aktif,
kurang aktif, atau menjadi toksik (Setiawati, 2008). Reaksi metabolisme
terjadi dari rekasi fase I dan rekasi fase II. Reaksi fase I berfungsi untuk
mengubah molekul lipofilik menjadi molekul yang lebih polar.
Metabolisme fase I bisa meningkatkan, mengurangi, atau tidak
mengubah aktivitas farmakologik obat (Mycek et al, 2001). Sedangkan,
pada rekasi fase II terjadi reaksi penggabungan (konjugasi). Disini
molekul obat bergabung dengan suatu molkeul yang terdapat didalam
tubuh sambil mengeluarkan air, misalnya dengan zat-zat alamiah seperti
asetilasi, sulfatasi, glukuronidasi, dan metilasi (Tjay dan Rahardja,
2007)
4. Eliminasi Obat
Eliminasi merupakan proses kehilangan tak bolak-balik suatu obat
dari tempat aksi ke organ eliminasi. Dua organ eliminasi utama tubuh
adalah hati dan ginjal. Ginjal merupakan organ eliminasi utama untuk
ekresi obat bentuk tak berubah. Sebagian besar obat mengalami
eliminasi yang berlangsung melalui ginjal. Hati merupakan tempat
dimana terjadi biotranformasi obat. Sekresi bentukj obat tak berubah
juga dapat dilakukan hati ke dalam empedu (Rowland and Tozer, 1995).
Eliminasi obat terjadi melalui dua proses yaitu biotranformasi dan
ekresi.
a) Biotranformasi
Biotranformasi atau metabolisme obat adalah proses oerubahan
struktur kiawai suatu obat dalam tubuh yang dikatalis oleh enzim.
Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar yang
artinya lebih mudah larut dalam air daripada dalam lemak, sehingga
lebih mudah diekresi melalui ginjal. Selain itu, umumnya oabt
menjadi inaktif sehingga sangat berperan dalam mengakhiri masa
kerja obat (Setiawati dkk, 2002). Pada umumnya, hati merupakan
biotranformasi utama, dan kadang satun-satunya dari suatu obat
(Rowland and Tozer, 1995).
Terdapat obat yang metabolitnya sama aktif, lebih aktif atau
lebih toksik atau obat tersebut justru diaktifkan oleh enzim
biotranformasi ini (disebut sebagai prodrug). Metabolit aktif akan
mengalami biotranformasi lebih lanjut dan atau dieksresi sehingga
kerjanya berakhir (Setawati dkk, 2002).
Jalur biotranformasi obat terdiri dari dua fase yaitu fase I dan
fase II. Pada fase I meliputi oksidasi, reduksi, hidrolisis. Rekasi fase
I ini mengubah obat menjadi metabolit yang lebih polar, yang
dapatbersifat inaktif, kurang aktif atau lebih aktif dari bentuk
aslinya. Reaksi fase II, disebut juag reaksi sintetik, merupakan
konjugasi obat atau metabolit reaksi fase I dengan subtract endogen
(misalnya asam gluronat, sulfat, asetat dan asam amino). Hasil
konjugasi bersifat lebih polar dan lebih mudah terionisasi sehingga
lebih mudah diekresikan. Metabolit hasil konjugasi biasanya tidak
aktif, kecuali untuk prodrug tertentu. Beberapa hanya mengalami
salah satu dari kedua fase tersebut, tetapi kebanyakan obat
mengalami biotranformasi melalui beberap reaksi sekaligus atau
secara berututan menjadi macam metabolit (Setiwawati dkk, 2002).
5. Ekresi
Ekresi obat adalah proses kehilangan tak bolak-balik dari bentuk
obat tak berubah (Rowland and Tozer, 1995). Obat diekresikan dari
tubuh melalui berbagai organ tubuh dalam bentuk metabolitnya atau
dalam bentuk tak berubahnya. Ginjal merupakan organ ekresi tubuh
yang paling penting. Ekresi obat melalui ginjal mencakup tiga tahap
yaitu filtrasi di glomerulus, sekresi aktif ditubulus proksimal dan
reabsoprsi pasiff ditubulus proksimal dan distal (Setawatidkk, 2002).
Eksresi obat juga dapat terjadi melalui keringat, air liur, air mata, air
susu dan rambut tetapi dalam jumlah yang relative sangat kecil shingga
tidak berart dalam pengakhiran efek obat (Setiawati, 2002).

1.2 Faktor-faktor penentu dalam proses farmakokinetik antara lain:

1. Sistem kompartemen dalam cairan tubuh, seperti cairan


intrasel, ekstrasel (plasma darah, cairan interstitial, cairan
cerebrospinal) d a n b e r b a g a i f a s a l i p o f i l d a l a m tubuh.
2. P r o t e i n plasma, protein jaringan, dan berbagai
s e n ya w a b i o l o g i s y a n g m u n g k i n dapat mengikat obat.
3. D i s t r i b u s i o b a t d a l a m b e r b a g a i s i s t e m k o m p a r t e m e n
b i o l o g i s , t e r u t a m a h u b u n g a n waktu dan kadar obat dalam
berbagai sistem tersebut, yang sangat menentukankinetika obat.
4. Dosis sediaan obat, transport antar kompartemen seperti proses
absorpsi, D bioaktovasi, biodegredasi dan ekskresi yang menentukan
lama obat dalam tubuh (Siswandono, 1998)
1.3 Parameter farmakokinetika

Parameter farmakokinetika adalah besaran yang diturunkan secara


matematis dari model berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh atau
metabolitnya dalam darah, urin atau cairan hayati lainnya. Fungsi dari
penetapan parameter farmakokinetik suatu obat adalah untuk mengkaji
kinetika absorbsi, distribusi dan eliminasi didalam tubuh (Shargel dan Yu,
2005). Secara umum parameter farmakokinetika digolongkan menjadi
parameter primer, sekunder dan turunan. Parameter primer adalah
parameter farmakokinetika yang harganya dipengaruhi secara langsung
oleh variabel biologis. Contoh dari parameter primer adalah volume
distribusi (Vd), klirens (Cl), dan kecepatan absorpsi (Ka). Volume
distribusi adalah volume hipotetik dalam tubuh tempat obat terlarut. Vd
adalah salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam memperkirakan
jumlah obat dalam tubuh. Vd merupakan suatu parameter yang berguna
untuk menilai jumlah relatif obat di luar kompartemen sentral atau dalam
jaringan (Shargel dan Yu, 2005).

Klirens merupakan parameter farmakokinetika yang menggambarkan


eliminasi obat yang merupakan jumlah volume cairan yang mengandung
obat yang dibersihkan dari kompartemen tubuh setiap waktu tertentu.
Eliminasi tersebut tidak dipermasalahkan bagaimanakah prosesnya. Secara
umum eliminasi obat terjadi pada ginjal dan hati yang sering dikenal
dengan istilah klirens total yang merupakan jumlah dari klirens ginjal
(renalis) dan hati (hepatik) (Mutschler, 1999). Parameter sekunder adalah
parameter farmakokinetika yang harganya bergantung pada parameter
primer. Contoh dari parameter sekunder adalah waktu paruh eliminasi (t1/2
eliminasi) dan Kecepatan eliminasi (Kel). Waktu paruh eliminasi adalah
waktu yang dibutuhkan obat untuk tereliminasi menjadi separuh dari harga
awal. Besar kecilnya waktu paruh eliminasi sangat menentukan lama kerja
obat dan menjadi acuan untuk menentukan dosis pada pemakaian berulang
dalam terapi jangka panjang (Mutschler, 1999). Sedangkan contoh dari
parameter turunan adalah waktu mencapai kadar puncak (tmaks), kadar
puncak (cpmaks) dan area under curve (AUC). Kadar puncak adalah kadar
tertinggi yang terukur dalam darah atau serum atau plasma.

AUC adalah permukaan dibawah kurva (grafik) yang menggambarkan


naik turunnya kadar plasma sebagai fungsi waktu. AUC dapat digunakan
untuk membandingkan kadar masing-masing plasma obat bila penentuan
kecepatan eliminasinya tidak mengalami perubahan (Tjay dan Rahardja,
2007).

1.4 Darah

Darah merupakan cairan yang beredar melalui jantun, arteri, kapiler


dan vena yang berfungsi mengankut zat makanan dan oksigen ke sel-sel
tubuh dan mengaluarkan produk-produk buangan dan karbondioksida.
Darah terdiri dari bagian cairan dan elemen-elemen (Anoim, 1998).

Sekitar 40-45% dari darah unsur-unsur sel yang terdiri dari eritrosit,
leukosit dan trombosit (Frisell, 1982). Plasma darah merupakan bagian cair
dari darah. Plasma diperoleh dengan membuat darah tidak beku dan sel
darah disentrifugasi. Apabila darah dibiarkan saja tanpa penambahan
antikoagulan maka sel-sel darah akan mengendap an terbentuk fase cair
yang disebut sevagai serum. Plasma darag berbeda dengan serum darah
terutama pada serum tidak terdapat factor pemebkuan fibrinogen
(Mutschler, 1991).

Plasma manusia mengandung 90-92% air. Air tersebut tidak hanya


berfungsi sebagai pelarut bagi zat organic dan ionorganik yang
ditransportasikan oleh darah, melainkan juga berperan penting dalam
regulasi panas dan pertukaran osmotic diantara kompatemen cair tubuh
(Fisell, 1982). Selain itu, sekita 7% dari plasma terdiri dari protein dan
sisanya adalah garam-garam, karbohidrat, lipid dan asam amino. Sekitar
56% protein plasma merupakan akbumin. Albumin mempunyai arti yang
sangat besar untuk ikatan protein obat yaitu dalam hal distribusi obat
(Mutschler, 1995).

Dalam mempersiapkan plasma atau serum untuk dianalisis adalah


dengan memutuskan ikatan protein dengan obat. Bila dilakukan
pengukuran secara langsung, maka yang terukur hanyalah obat bebas saja,
bukan keseluruhan obat yang ada. Metode yang digunakan dengan
mengendapkan protein dam memperoleh filtratnya. Protein didenaturasi
dan ikatannya dengan obat dihancurkan sehingga seluruh obat terlepas ke
dalam filtrat. Reagen asam yang banyak digunkan mendenaturasi protein
asam trikloroasetat (TCA) karena memiliki efisiensi yang baik
(Chamberlain, 1995).

1.5 Asam Salisilat

Asam salisilat, dikenal juga dengan asam 2-hidroksi benzoat atau asam-
ortohidrobenzoat yang memiliki struktur kimia C7H6O3. Asam salisilat
telah digunakan sebagai bahan terapi topikal lebih dari 100 tahun yang lalu.
Dalam bidang dermatologi, asam salisilat telah lama dikenal dengan
khasiat utamanya sebagai bahan keratolitik. Hingga saat ini asam salisilat
masih digunakan dalam terapi veruka, kalus, psoriasis, dermatitis seboroik
pada kulit kepala, dan iktiosis. Penggunaannya semakin berkembang
sebagai bahan peeling dalam terapi penuaan kulit, melasma,
hiperpegmentasi pasca inflamasi, dan akne (Lee dan Kim, 2003;
Muhammad et al., 2016). Struktur asam salisilat digambarkan seperti
Gambar 1.1.
1.1 Struktur Asam Salisilat

Berbagai penelitian menyimpulkan bahwa terdapat tiga faktor yang


berperan penting pada mekanisme keratolitik asam salisilat yaitu
melarutkan ikatan korneosit, menurunkan ikatan korneosit, melarutkan
semen interselluler dan melonggarkan serta mendisintegrasikan korneosit.
Asam salisilat bekerja sebagai pelarut organik dan menghilangkan ikatan
kovalen interselluler yang berikatan dengan cornified envelope di sekitar
keratinosit. Mekanisme kerja zat ini adalah pemecahan struktur desmosom
yang menyebabkan disintegrasi ikatan antar sel korneosit. Terminologi
desmolitik lebih menggambarkan mekanisme kerja asam salisilat topikal.
Efek desmolitik asam salisilat meningkat seiring dengan peningkatan
konsentrasi ( Levequ dan Saint, 2002).

Asam salisilat memiliki sifat sukar larut dalam air. Apabila asam
salisilat diformulasikan sebagai sediaan topikal, maka pemilihan dasar
salep merupakan hal yang sangat penting, yang akan menentukan efek
terapi asam salisilat. Bila asam salisilat diberikan pada rute pemberian
secara oral, namun pemberian topikal memiliki potensi toksisitas sistemik,
efek teratogenik, dan interaksi obat akibat absorpsi sistemik yang harus
diwaspadai. Pada pemberian oral, sebagian salisilat diabsorpsi dengan daya
absorpsi 70% dalam bentuk utuh dalam lambung, tetapi sebagian besar
absorpsi terjadi dalam usus halus bagian atas. Sebagian asam salisilat
dihidrolisis kemudian didistribusikan ke seluruh tubuh dan segera
menyebar ke seluruh tubuh dan cairan transeluler setelah diabsorpsi.
Kecepatan absorpsi tergantung dari kecepatan disintegrasi dan disolusi
tablet, pH, permukaan mukosa, dan waktu pengosongan lambung. Salisilat
dapat ditemukan dalam cairan sinovial, cairan spinal, liur, dan air susu.
Kadar tertinggi dicapai kira-kira 2 jam setelah pemberian (Sulistyaningrum
dkk, 2012). Pada formulasi pebuatan salep yang harus diperhatikan apda
dasar salep yang digunakan dalam suatu sediaan, dapat mempengaruhi
pelepasan bahan aktif dari sediaan salep. Apabila bahan obat tidak dapat
dilepaskan dari pembawanya, maka obat tersebut tidak dapat bekerja secara
efektif. Faktor-faktor penting yang mempengaruhi penetrasi suatu obat
ke dalam kulit diantaranya adalah konsentrasi obat terlarut, koefisien
partisi dan koefisien difusi (Astuti, 2007).

Asam salisilat merupakan asam organis yang berkhasiat fungisid


terhadap banyak fungi pada konsentrasi 3-6% dalam salep. Di samping ini,
zat ini juga bekerja keratolitis, yaitu dapat melarutkan lapisan tanduk kulit
pada konsentrasi 5-10%. Selain itu berkhasiat bakteriostatis lemah.
Asam salisilat banyak digunakan dalam sediaan obat luar terhadap infeksi
jamur yang ringan. Seringkali asam asam ini dikombinasi dengan asam
benzoat (salep Whitfield) dan belerang (sulfur preciptatum) yang
keduanya memiliki kerja fungistatis maupun bakteriostatis. Bila
dikombinasikan dengan obat lain, misalnya kortikosteroida, asam
salisilat meningkatkan penetrasinya ke dalam kulit. Tidak dapat
dikombinasikan dengan oksida karena akan terbentuk garam
sengsalisilat yang tidak aktif (Tjay, 2002).
BAB II

METODE PENELITIAN

2.1 Prosedur Kerja

2.1.1 Penetakan Kadar Asam Salisilat (Blangko)

 Diambil 1mL Na2EDTA yang berfungsi sebagai antikoagulan


 Ditambahkan 0,5 mL darah
 Ditambahkan 5 mL TCA 10% yang berfungsi sebagai deproteinnisasi
 Di sentirfuge dengan kecepatan 300 rpm selama 15 menit
 Setelah terbentuk 2 fase (atas dan bawah), diambil cairan yang atas atau
bagian supernatan yang berupa cairan bening pada bagian atas
 Terakhir, cairan supernatan dibaca pada spektrofotometer dengan
panjang gelombang 256 nm

2.1.2 Penetapan Kadar Asam Salisilat (menggunakan hewan uji yaitu tikus)

 Diambil 1mL Na2EDTA yang berfungsi sebagai antikoagulan


 Ditambahkan 0,5 mL darah dan 1 mL sampel (Asam Salisilat) 200
µg/ml dan 300 µg/ml, tiap masing-masing kadar direplikasi 3x
 Ditambahkan 5 mL TCA 10% yang berfungsi sebagai deproteinnisasi
 Di sentirfuge dengan kecepatan 300 rpm selama 15 menit
 Setelah terbentuk 2 fase (atas dan bawah), diambil cairan yang atas atau
bagian supernatan yang berupa cairan bening pada bagian atas
 Terakhir, cairan supernatan dibaca pada spektrofotometer dengan
panjang gelombang 256 nm
BAB III

HASIL DAN PERHITUNGAN

3.1 Pembuatan Kurva Baku


KONSENTRASI ABSORBANSI I ABSORBANSI II
100 0,348 0.365
200 0,593 0,751
300 0,813 0,805
400 1,100 1,438

Maka nilai Regresi Linier dari tiap Absorbansi :

ABSORBANSI II
ABSORBANSI I

A= 0,0215
A = 0,0945
B= 3,273.10-3
B=2,476.10-3
R= 0.998 (BAIK) R= 0,951 (tidak dipakai)

Dimasukkan pada persamaan y=bx+a

3.2 Penetapan Kadar Asam Salisilat (konsentrasi 200µm/mL)


PEROLEHAN
KADAR KS KA
KONSENTRASI ABSORBANSI KEMBALI
(µM/ML) (%) (%)
(%)
200 0,083 4,64 2,32 2,32
200 0,085 3,84 1,02 1,92 64,72
200 0,090 1,82 0,91 0,91
RATA-RATA KADAR = 3,43
3.3 Penetapan Kadar Asam Salisilat (konsentrasi 300µm/mL)

PEROLEHAN
KADAR
KONSENTRASI ABSORBANSI KEMBALI KS (%) KA(%)
(µ/ML)
(%)
300 0,043 20,79 6,93 83,07
300 0,040 22,01 7,34 92,57 1,03
300 0,045 19,99 6,66 92,57
RATA-RATA KADAR = 20,93

3.4 PERHITUNGAN
3.4.1 Penetapan Kadar Asam Salisilat 200 µg/ml
3.4.1.1 Bila dimasukkan dalam persamaan y=bx+a
1) Replikasi 1 y=bx+a
0,083 = 2,476.10-3x + 0,0945
0,0945 - 0,083 = 2,467.10-3x
0,0115 = 2,476.10-3x
0,0115
=x
2,476.10-3
115.10-4
=x
24,76.10-4
4,64 µg/mL= x
2) Replikasi 2 y=bx+a
0,085 = 2,476.10-3x + 0,0945
0,0945 - 0,085 = 2,467.10-3x
9,5.10-3
=x
2,476.10-3
115.10-4
=x
24,76.10-4
3,84 µg/mL= x
3) Replikasi 3 y= bx + a
0,090 = 2,476.10-3x + 0,0945
0,0945 - 0,090 = 2,467.10-3x
4,5.10-3
=x
2,476.10-3
1,82 µg/mL= x

3.4.1.2 Perolehan Kembali (Recovery%) pada kadar 200µg/ml


Kadar terukur
1) P1(%) = Kadar diketahui . 100%
4,64
= 200 = 100%

= 2,32 %
Kadar terukur
2) P2(%) = . 100%
Kadar diketahui
3,84
= 200 = 100%

= 1,92 %
Kadar terukur
3) P3(%) = Kadar diketahui . 100%
1,82
= 200 = 100%

= 0,91 %
3.4.1.3 Kesalahan Acak kadar 200µg/ml
Rata-rata = 3,43 µg/mL
2 2
√Σ(2,32-3,43) +(1,92-3,43)+(0,91-3,43)
SD = 3-1

√1,2321 2,2801 + 6,3504


= 2

√9,8626
= = √4,93 = 2,22
2
SD
Maka nilai KA = Harga rata-rata . 100%

2,22
= 3,34 . 100% = 64,72%

3.4.1.4 Kesalahan Sistemik Kadar 200 µg/mL


KS(R1) = 100 % - 2,32 % = 97,68 %
KS(R2) = 100 % - 1,92% = 98,08 %
KS (R3) = 100 % - 0,91 % = 99,09 %
3.4.2 Penetapan Kadar Asam Salisilat 300 µg/ml
3.4.2.1 Bila dimasukkan dalam persamaan y=bx+a
1) Replikasi 1 y= bx + a
0,043 = 2,476.10-3x + 0,0945
0,0945 - 0,043 = 2,467.10-3x
0,0515
=x
2,476.10-3
515.10-4
=x
24,76.10-4
20,79 µg/mL= x
2) Replikasi 2 y= bx + a
0,040 = 2,476.10-3x + 0,0945
0,0945 - 0,040 = 2,467.10-3x
0,0545
=x
2,476.10-3
545.10-4
=x
24,76.10-4
22,01 µg/mL= x
3) Replikasi 3 y= bx + a
0,045 = 2,476.10-3x + 0,0945
0,0945 - 0,045 = 2,467.10-3x
0,0495
=x
2,476.10-3
495.10-4
=x
24,76.10-4
19,99 µg/mL= x
3.4.2.2 Perolehan kembali (Recovery %) pada kadar 300 µg/ml
Kadar terukur
1) P1% = Kadar diketahui . 100%
20,79
= 300 . 100% = 6,93%
Kadar terukur
2) P2% = Kadar diketahui . 100%
22,01
= 300 . 100% = 7,34%
Kadar terukur
3) P3% = Kadar diketahui . 100%
19,99
= 300 . 100% = 6,66%

3.4.2.3 Kesalahan Acak pada kadar 300 µg/ml


Rata-rata kadar = 20,93 µg/mL
2 2
√Σ(20,79-20,93) +(22,01-20,93)+(19,99-20,93)
SD = 3-1

√10,0196+1,1664+0,8836
= 2

√2,0696
= = 1,03
2
SD
KA= Harga rata-rata . 100 %

1,03
= 20,93 . 100% = 4,92 %

3.4.2.4 Kesalahan Sistemik pada kadar 300 µg/mL


KS (R1)= 100 % - P %
= 100 % - 6,93 %
= 93,07 %
KS (R2)= 100 % - P %
= 100 % - 7,34 %
= 92,57 %
KS (R3)= 100 % - P % = 100 % - 6,66 % = 93,34%
BAB III

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk memahami langkah-langkah


analisis cairan hayati obat dalam cairan hayati. Cairan hayati byang digunakan
berupa darah dari tikus yang diambil pada bagian vena lateralis ekor tikus. Serta
bahan uji yang digunakan berupa asam salisilat. Untuk menguji ketepatan dan
ketelitian dalam pengujian ada beberapa parameter statistika yaitu perolehan
kembali (recovery), kesalahan acak sebagai parameter ketepatan dan kesalahan
sistemik sebagai parameter ketelitian.
Hewan uji yang digunakan berupa tikus. Hal yang menjadi pertimbangan
yaitu apabila yang digunakan hewan uji berupa mencit maka volume darah
yang diperoleh tidak akan mencukupi karena volume darah mencit yang terlalu
sedikit. Bila hewan uji yang digunakan kelinci dikarena terdapat perbedaan
fisiologis pada saluran pencernaan dengan manusia yaitu adanya pola
pengosongan lambung yang lambat sehingga akan berpengaruh pada pola
absorpsi obat (Sulistiawati, 2008).
Cuplikan sampel yang digunakan merupakan darah. Hal tersebut
dikarenakan darah merupakan tempat paling cepat untuk mengetahui peredaran
obat menuju jaringan target yang dimana ketika obat masuk kedalam tubuh
akan mengalami system absorpsi, metabolisme, distribusi dan eliminasi. Selain
itu bentuk obat didalam darah umumnya tidak akan mengalami perubahan dan
memiliki aktivitas farmakologi maka dari itu penetapan kadar dalam darah akan
menunjukkan hasil berupa jumlah kadar yang berada didalam darah
(Susilawati, 2008).
Pada praktikum, darah yang telah diambil pada vena lateralis ekor tikus
dibiarkan mengalir pada dinding tabung yang telah berisi Na2EDTA yang
sebagai antikoagulan. Yang bertujuan agar protein didalam darah tidak akan
mengalami penggumpalan dikarenakan adanya gugus karboksil dan sisa sulfat.
Na2EDTA memiliki sifat asam kuat dengan cara menghambat pembekuan
darah yang kerjanya bergantung adanya trombin III α-2 globulin dan kofaktor
dari Na2EDTA sehingga akan membentuk kompleks NA2EDTA-antirombin
yang mampu mengaktifkan factor-faktor IXa, Xa, Xia dan XIIa sehingga
mengambat pembentukan thrombin. Ketika Na2EDTA bereaksi dan mengikat
antithrombin III maka akan membentuk senyawa kompleks dan memiliki
afinitas yang besar sehingga dapat mencegah terbentuknya fibrin dan
menginaktivkan factor pembekuan darah. Maka obat yang terikat atau maupun
yang tidak terikat tidak akan terjebak dalam gumpalan atau jendalan darah
(Katszung, 2002). Selanjutnya ditambahkan dengan TCA yang bertujuan untuk
mendenaturasi protein sehingga obat didalam darah akan mengalami pemisahan
dengan proteinnya. Yang dengan cara memecahkan struktur asli dari protein
dan akan merusak struktur sekunder dan tersier protein melalui ikatan disulfida
yang merupakan pembentuk kedua struktur sehingga bagian nonpolar dari
protein akan keluar dan protein kehilangan aktivitas biologiknya. Maka dari itu
protein akan mengalami denaturasi menjadi kurang larut dan kemudian akan
mengalami pengendapan. Selanjutnya dilakukan sentrifunge yang bertujuan
untuk menyempurnakan pengendapan, dengan adanya percepatan proses
pencampuran antara TCA dengan darah yang mengandung antikoagulan secara
merata sehingga proses denaturasi berjalan dengan cepat. Maka plasma dan
supernatant (cairan bening) menjadi terpisah. Dan yang nantinya diambil
supernatannya untuk dilakukan penentuan absorbansinya.
Dari hasil pengukuran kurva baku tersebut diperoleh persamaan kurva baku
dengan membuat persamaan garis regresi yaitu y=2,476.10-3x+0,0945.
Hubungan antara konsentrasi dan absorbansi didapatkan koefisien kolerasi (r)
0,998 yang mendekati angka 1 dan hampir membentuk garis lurus dan memiliki
taraf kepercayaan 95% (Fajri dkk, 2014). Lampiran 1. Sehingga persamaan
kurva baku tersebut dapat digunakan untuk menghitung kadar asam salisilat
dalam plasma.
Pada metode analisis nilai perolehan kembali (recovery) merupakan tolak
ukur akurasi atau kecermatan. Semakin besar persen recovery maka semakin
besar peluang untuk memperoleh nilai akurasi yang besar karena kriteria akurat
sangat dipengaruhi oleh besar konsentrasi yang dianalisis dan kepresisian
metode. Jika konsentrasi analit dalam sampel cukup besar dengan metode yang
tepat akan mempengaruhi kesalahan sistematis sehingga memperoleh persen
recovery yang besar akibatnya akan semakin mudah untuk memperoleh hasil
yang akurat.Kecermatan hasil analisis sendiri tergantung kepada sebaran
kesalahan sistematis didalam keseluruhan tahapan analisis. Untuk
meningkatkan kecermatan maka harus diperhatikan menggunakan peralatan
yang telah dikalibrasi, menggunakan pelarut yang baik dan pelaksaan yang
cermat sesuai dengan priosedure (Harmita, 2007).
Nilai recovery dikatakan memiliki nilai yang baik bila berada dalam rentang
80-120% (Febri, 2013). Nilai hasil recovery pada praktikum dengan penetapan
kadar 200µg/ml diperoleh secara berutut-turut yaitu 2,32% ; 1,92 % dan 0,91%
dan pada kadar 300 µg/ml diperoleh secara berturut-turut yaitu 6,93% ; 7,34%
dan 6,66% dari data yang diperoleh dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai hasil
recovery pada penetapan kadar 200µg/ml dan 300µg/ml tidak memenuhi syarat
hal tersebut dikarenakan pada saat pengambilan darah tikus pada vena lateralis
ekor tikus tidak mencukupi sehingga dan adanya ketidak cermataan praktikan
dalam melaksanakan prosedure kerja sehingga dapat mempengaruhi hasil dari
pembacaan absorbansi Selain itu dikarenakan juga pada saat pengambilan
terlalu banyaknya cairan bening (supernatant) yang ikut terbawa pada saat
pembacaan absorbansi atau adanya protein yang masih terdapat didalam darah
sehingga dapat meningkatkan nilai dari absorbansinya, dan mempengaruhi dari
nilai recovery sehingga tingkat akurasi dan efisiensinya menjadi rendah. Maka
dari itu dapat disimpulkan bahwa penetapan kadar asam salisilat 200µg/ml dan
300µg/ml metode yang digunakan tidak valid.
Metode analisis nilai kesalahan sistemik merupakan tolak ukur dari
ketelitian praktikum. Nilai kesalahan sistemik dikatakan baik bila hasilnya
<10% (Mulja dan Suharman, 1995). Pada praktikum diperoleh nilai hasil
kesalahan sistemik pada kadar asam salisilat 200µg/ml yang secara berturut-
urut yaitu 97,68% ; 98,08% dan 99,09% dan 300µg/ml yang secara berturut-
urut yaitu 93,07% ; 92,57% dan 93,34% dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil
nilai dari kesalahan sistemik pada kadar 200µg/ml dan 300µg/ml tidak ada
yang memenuhi syarat dan dikatakan metode yang digunakan sangat tidak
valid. Hal ini dikarenakan adanya molekul-molekul pada saat pengambilan
cairan bening (supernatant) yang banyak sehingga dapat mempengaruhi pada
proses pembacaan absorbansi. Selain itu dikarenakan adanya kesalahan metode
pada pengambilan sampel sehingga adanya reaksi kimia yang tidak sempurna
sehingga menyebabkan reaksi diazotasi yaitu adanya gelembung udara sehingga
juga dapat mempengaruhi hasil dari absorbansi.
Metode analisis nilai kesalahan acak merupakan tolak ukur dari untuk
ketetapan analisis yaitu presisi. Kesalahan acak disebut juga dengan kesalahan
yang tidak tergantung (indeterminate eror). Kesalahan acak dikatakan baik bila
<10% maka data yang digunakan akurat atau valid. Pada prakitum diperoleh
hasil kesalahan acaknya pada penetapan kadar 200µg/ml yaitu 64,72% dan
300µg/ml yaitu 4,92% hal ini dapat disimpulkan bahwa pada penetapan kadar
200200µg/ml tidak memenuhi syarat yang dimana hasilnya >10% dimana tidak
memiliki nilai presisi yang baik. Dan pada penetapan kadar 300µg/ml memiliki
presisi yang baik dimana hasilnya <10%. Hal ini menandakan dalam upaya 3x
replikasi maka nilai dari pengukuran absorbansi tidak serupa satu sama lain.
Penyebab pengukuran kesalahan acak tidak diketahui penyebab pastinya,
namun selalu ada didalam setiap percobaan. Kemungkinan penyebab factor
yang bervariasi pada pserlakuan sampel oleh tiap praktikuan yang berbeda,
seperti alat sentrifuge dan spektrsofotometer. Maka dari itu untuk mendapatkan
hasil pengukuran yang baik harus diperhatikan dengan cermat pada prosedure
kerjanya, dan perlunya pengkalibrasi terdahulu pada alat-alat yang akan
digunakan.
BAB V
KESIMPULAN

1) Metode pengukuran harus memenuhi beberapa kriteria diantaranya


perolehan kembali (recovery), kesalahan sistemik dan kesalahan acak.
2) Berdasarkan praktikum diperoleh data bahwa pada penetapan kadar
200µg/ml dari ketiga parameter pengukuran tidak ada yang memenuhi
syarat, maka dapat hasil yang diperoleh tidak akurat. Pada penetapan
kadar 300µg/ml dari ketiga parameter pengukuran hasil dari recovery
dan kesalahan sistemik tidak memenuhi syarat sehingga dapat dikatakan
bahwa hasil yang diperoleh tidak akurat, tetapi pada pengukuran
parameter kesalaham acak memenuhi syarat maka dapat dikatakan
bahwa hasil yang diperoleh cukup valid.
Daftar Pustaka

Astuti, YS., 2007. Pengaruh Konsentrasi Adaps Lanae Dalam Dasar Salep Cold
Cream Terhadap Pelepasan Asam Salisilat. Pharmacy Vol. 05,
Universitas Muhammadiyah Purwkerto.
Departemen Farmakologi dan Tepeutik. 2016. Farmakologi Dan Terapi Edisi 6.
Jakarta: Universitas Indonesia.
Frisell, W.R., 1982. Human biochemistry. McMillan Publishing Co., Inc., USA

Harmita, 2004. Petunjuk Pelaksaan Validasi Metode dan Cara Perhitungan


review artikel, Majalah Ilmu Kefarmasian, 1(3), 117-133.

Kastzung, B.G., 2002. Basic and Clinical Pharmacology, 8th Edition, Mc Graw-
Hill Companies Inc., USA

Mutschler, E., 1991. Dinamika Obat : Buku Ajar Farmakologi dan Toksikologi,
diterjemahkan oleh Mathilda B. Widianto dan Anita Setiadi Ranti,
Penerbit ITB, Bandung.

Rownland, M., and Tozer, T. N., 1995. Clinical Pharmacokinetics Concepts


and Aplication. 3th Edition, Lea & Febiger Book, USA

Setawati, A., Zulnida, S. B., Suyatna, F. D. 2002. Pengantar Farmakologi dalam


Ginaswara, S. G., Setiabudy, R., Suyatna, F. D., Purwantyastuti,
Nafrialdi (ed), Farmakologi dan Terapi, edisi 4 (Dengan Perbaikan),
Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universita Indonesia, Jakarta.

Shargel, L., Wu-Pong. S., and Yu, A. B. C,. 2005. Applied Biopharmaceutics &
Phamacokinetic, 5th Edition, McGraw-Hill Companies, Singapore.

Siswandono, 1998. Modifikasi Struktur dan Hubungan Struktur-


Aktivitas Senyawa-senyawa Baru Turunan Benzoilurea. Disertasi P
Tjay, T.H. dan Rahardja, K., 2002, Obat-Obat Penting, PT Elex
Media Kompoitindo Gramedia, Jakarta