Anda di halaman 1dari 29

DRYING

LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II
“DESTILASI EKSTRAKTIF”

OLEH :

Nama / NPM : 1.Nur Ismi Nilasari / 17031010004


2. Fatchur Rozaq / 17031010042
Pararel / Grup :A/I
Tanggal Percobaan : 13 November 2019

LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA


PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
SURABAYA
2019

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I1


DESTILASI EKSTRAKTIF

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN TUGAS PRAKTIKUM


OPERASI TEKNIK KIMIA II

“DESTILASI EKSTRAKTIF”

Grup I :
1. Nur Ismi Nilasari (17031010004)
2. Fatchur Rozaq (17031010042)

Telah Diperiksa dan disetujui oleh :

Kepala Laboratorium
Operasi Teknik Kimia II Dosen Pembimbing

(Ir. Ketut Sumada, MS ) (Dr. Ir. Srie Muljani, MT )


NIP 19620118 198803 1 001 NIP 19611112 1989032 001

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 2


DESTILASI EKSTRAKTIF

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan
rahmat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan resmi operasi teknik
kimia II ini dengan judul “Destilasi Ekstraktif”.
Laporan resmi ini merupakan salah satu tugas mata kuliah operasi teknik
kimia II yang telah kami lakukan berdasarkan percobaan, dengan melakukan
pengamatan hingga perhitungan dan dilengkapi dengan teori dan literatur serta
petunjuk dari asistem pembimbing yang dilaksanakan pada tanggal 13 November
2019 di laboratorium operasi teknik kimia II.
Laporan hasil praktikum ini tidak dapat tersusun sedemikian rupa tanpa
bantuan baik dari sarana, prasarana, kritik dan saran. Oleh karena itu, tidak lupa
kami ucapkan terima kasih kepada :
1. Ir. Ketut Sumada, MSselaku kepala Laboratorium Operasi Teknik Kimia.
2. Dr. Ir. Srie Muljani, MTselaku dosen pembimbing.
3. Seluruh asisten dosen yang membantu dalam pelaksanaan praktikum.
4. Rekan-rekan mahasiswa yang membantu dalam memberikan masukan-
masukan dalam praktikum.
Kami sangat menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan laporan ini masih
banyak kekurangan, maka kami selalu mengharapkan kritik dan saran seluruh
asisten dosen yang turut membantu dalam praktikum yang kami lakukan.
Tentunya kami sangat berharap laporan yang telah kami susun ini dapat
bermanfaat bagi mahasiswa Fakultas Teknik khususnya jurusan Teknik Kimia.

Surabaya, 16 November 2019

Penyusun

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 3


DESTILASI EKSTRAKTIF

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ...................................................................................2

KATA PENGANTAR……………....………………………………………...….3
DAFTAR ISI ..........................................................................................................4

INTISARI ...............................................................................................................5

BAB 1 PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang ............................................................................................6


I.2 Tujuan ..........................................................................................................6
I.3 Manfaat ........................................................................................................7
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Destilasi ......................................................................................................8


II.2 Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi ......................................................14
II.3 Sifat Bahan ...............................................................................................15
II.4 Hipotesa ...................................................................................................17
BAB 3 PELAKSAAN PRAKTIKUM

III.1 Bahan ......................................................................................................18


III.2 Alat .........................................................................................................18
III.3 Gambar Alat............................................................................................18
III.4 Prosedur ..................................................................................................20
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1Tabel Perhitungan ....................................................................................21


IV.2Grafik .......................................................................................................22
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
V.1 Kesimpulan ..............................................................................................24
V.2 Saran ........................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................25
LAMPIRAN 1 .......................................................................................................26
LAMPIRAN 2 .......................................................................................................29

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 4


DESTILASI EKSTRAKTIF

INTISARI

Destilasi ekstraktif merupakan suatu motode pemisahan beberapa


komponen yang memiliki beda titik didih rendah. Metode ini melibatkan dengan
penambahan entrainer yang tidak volatil dari zat yang akan dipisahkan, sehingga
kebanyakan terikat sebagai residu. Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk
mengetahui refluks ratio pada proses destilasi ekstraktif campuran etanol-air.
Kemudian untuk memperoleh etanol dengan kemurnian yang tinggi melalui
proses pemisahan destilasi ekstraktif. Dan untuk menentukan kurva
kesetimbangan dan perhitungan jumlah plate pada proses destilasi ekstraktif.
Adapun prosedur dari percobaan yaitu membuat larutan etanol dengan
konsentrasi 91% sebanyak 350 ml kemudian ditambahkan garam sebagai media,
masukkan larutan etanol garam kedalam labu leher tiga, lalu pastikan air
pendingin sudah mengalir dalam kondensor dan lakukan pengaturan jumlah
volume refluks, setelah itu panaskan larutan sampai diatas titik didihnya, lakukan
pengamatan pada saat destilat telah mencapai 10ml, serta lakukan pengamatan
konsentrasi etanol pada destilat dan residu dan suhu pada sistem selama 10 kali,
kemudian membuat kurva kesetimbangan dan perhitungan jumlah plate.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan data percobaan setelah
dilakukan perhitungan sebanyak 3 kali, didapatkan bahwa destilasi etanol pada
kolom destilasi tersebut sebagian besar densitas semakin naik dengan seiring
dengan lama waktu proses saat destilasi, dimana pada percobaan terakhir
didapatkan densitas sebesar 0,81079gr/mL. Sedangkan pada densitas bottom
(kolom bagian bawah) dapat diperoleh bahwa sebagian besar densitas semakin
naik dengan seiring dengan lama waktu proses destilasi, dimana destilasi pada
percobaan terakhir didapatkan sebesar 0,95813gr/mL. Kadar distilat tertinggi
didapatkan sebesar 97,589 % dan Relative volatility (α) sebesar 2,2462.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 5


DESTILASI EKSTRAKTIF

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LatarBelakang
Suatu larutan merupakan campuran dua atau lebih komponen yang saling
larut ataupun tidak saling larut. Dalam larutan yang memiliki komponen yang
saling larut dapat dipisahkan kembali ke komponen awalnya. Destilasi merupakan
metode yang sering dipakai dalam pemisahan komponen saling larut berdasarkan
perbedaan titik didihnya. Apabila perbedaan titik didih terlalu besar, maka dapat
dilakukan destilasi ekstraktif, dengan menambahkan media mudah larut dan dapat
memperbesar titik didih komponennya. Dalam industri kimia pinsip destilasi
banyak digunakan, sebagai contohnya pada pemisahan minyak bumi.
Dilakukannya percobaan destilasi ekstraktif ini digunakan untuk mengetahui cara
pemisahan suatu produk yang memiliki titik didih yang kecil perbedaannnya
untuk meningkatkan konsentrasi produk serta didapatkannya cara untuk
merancang alat destilasi.

I.2 Tujuan
1. Menghilangkan titik azeotrop dari dua komponen yang ada dan saling larut
pada kurva kesetimbangan
2. Mendapatkan produk suatu etanol pada grade, dengan menggunakan
metode destilasi ekstraktif
3. Mengetahui pengaruh konsentrasi pelarut terhadap hasil destilat yang akan
diperoleh

I.3 Manfaat
1. Agar praktikan dapat mengetahui faktor yang mempengaruhi proses
destilasi ekstraktif
2. Agar praktikan dapat mengetahui aplikasi dari proses destilasi ekstraktif
dalam dunia industry kimia

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 6


DESTILASI EKSTRAKTIF

3. Agar praktikan dapat mengetahui pengaruh penambahan sejumlah


konsentrasi garam terhadap destilat yang didapatkan setelah proses
ekstraktif

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 7


DESTILASI EKSTRAKTIF

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Secara Umum

Destilasi merupakan suatu proses pemisahan yang paling banyak


digunakan di industri. Destilasi adalah proses fisik untuk pemisahan campuran
air berdasarkan perbedaan titik didih kompnen penyusunnya. Prinsip pemisahan
yang digunakan yaitu berdasarkan perbedaan titik didih tiap komponen. Tidak
semua campuran dapat dipisahkan dengan destilasi sederhana dikarenakan
terdapat beberapa campuran yang bersifat azeotropik. Salah satu contoh
campuran ini yang paling banyak dijumpai ialah tetrahidrofuran-etanol
(Christoper,2018).

II. 1. 1. Prinsip Destilasi

Prinsip dasar dari destilasi adalah perbedaan titik didih dari zat cair dalam
campuran zat cair tersebut sehingga zat yang memiliki titik didih terendahakan
menguap terlebih dahulu kemudian apabila didinginkan akan mengembun dan
menetes sebagai zat murni.
II. 1.2. Jenis – Jenis Destilasi

a) Distilasi Sederhana
Biasanya distilasi sederhana digunakan untuk memisahkan zatcair yang
titik didihnya rendah atau memisahkan zat cair dengan zat padat atau minyak.
b) Distilasi Bertingkat
Proses ini digunakan untuk Komponen yang memiliki titik didih yang
berdekatan pada dasarnya sama dengan distilasi sederhana hanya saja memiliki
kondensor yang lebih banyak sehingga mampu memisahkan dua komponen yang
memiliki perbedaan titik didih yang berdekatan pada proses ini akan didapatkan
substansi kimia yang lebih murni.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 8


DESTILASI EKSTRAKTIF

c) Distilasi Vacuum
Distilasi vakum adalah distilasi yang tekanan operasinya 0,4 ATM distilasi
yang dilakukandalam tekanan operasi ini biasanya dikarenakan beberapa alasan
yaitu :
a. Sifat penguapan relative antara komponen biasanya meningkat seiring
dengan menurunnya boiling temperature
b. Distilasi pada temperature rendah dilakukan ketika mengolah produk
yang relative sensitive terhadap suhu
c. Proses pemisahan dapat dilarutkan terhadap komponen dengan tekanan
uap yang sangat rendah
d) Refluks atau Destruksi
Refluks atau destruksi ini bisa dimasukkan dalam macam-macam destilasi
walau pada prinsipnya sedikit berkelainan. Refluks dilakukan untuk
mempercepat reaksi dengan jalan pemanasan.
e) Distilasi Azeotrop
Digunakan dalam memisahkan campuran azeotrop biasanya dalam proses
nya digunakan senyawa lain yang dapat memecah ikatan tersebut atau
dengan menggunakan tekanan tinggi.
II. 1. 3. Metode Destilasi

Menurut Gusmawari, 2007 ada beberapa cara yang digunakanantara lain :


a. Pressure Swing Distilasi
Prinsip yang digunakan pada metodeiniyaitu pada tekanan yang berbeda
komposisi azeotrop suatu campuran akan berbeda pula berdasarkan prinsip
tersebut di Sulawesi dilakukan bertahap menggunakan dua kolom distilasi yang
beroperasi pada tekanan yang berbeda kolom distilasi pertama memiliki tekanan
operasi yang lebih tinggi dari kolom distilasi kedua
b. Extractive Distilasi
Distilasi ekstraktif didefinisikan sebagai distilasi dalam kehadiran
misiblemen didih tinggi komponen yang relatif nonvolatil pelarut bahwa tidak ada
bentuk azeotrop dengan komposisi lain dalam campuran metode yang digunakan

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 9


DESTILASI EKSTRAKTIF

untuk campuran memiliki nilai volatilitas lebih rendah mendekati kesatuan


metode penyulingan ekstraktif menggunakan pemisahan pelarut yang umumnya
non volatil memiliki titik didih tinggi dan misible dengan campuran namun tidak
merupakan azeotrope.
II. 1. 4. Pemilihan Solven
Menurut Gusmawari, 2007 pertimbangan pemilihan solven meliputi :
a. Harga Relatif Murah
b. Pemakaian tidak banyak
c. Perbedaan relative volatility tinggi
d. Tidak berbahaya
e. Mudah dipisahkan dari air dan juga tidak membentuk azeotrope
II. 1. 5. Refluks

Refluks adalah teknik distilasi yang melibatkan kondensasi uap dan


berbaliknya kondensat ini ke dalam sistem asalnya. Ini digunakan dalam distilasi
industri dan laboratorium. Refluks juga digunakan dalam bidang kimia untuk
memasok energi pada reaksi untuk waktu yang panjang.
Fungsi refluks, adalah memperbesar L/V di enriching section, sehingga
mengurangi jumlah equibrium stage yang diperlukan untuk product quality yang
ditentukan, atau, dengan jumlah stage yang sama, akan menghasilkan product
quality yang lebih baik dengan menggandakan kontak kembali antara cairan dan
uap agar panas yang digunakan efisien. Refluks/destruksi ini bisa dimasukkan
dalam macam-macam destilasi walau pada prinsipnya agak berkelainan. Refluks
dilakukan untuk mempercepat reaksi dengan jalan pemanasan tetapi tidak akan
mengurangi jumlah zat yang ada. Dimana pada umumnya reaksi - reaksi
Muhrinsyah Fatimura 26 senyawa organik adalah lambat maka campuran reaksi
perlu dipanaskan tetapi biasanya pemanasan akan menyebabkan penguapan baik
pereaksi maupun hasil reaksi. Karena itu agar campuran tersebut reaksinya dapat
cepat, dengan jalan pemanasan tetap jumlahnya tetap reaksinya dilakukan secara
refluks. (Fatimura, 2014)

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 10


DESTILASI EKSTRAKTIF

II. 1. 6. Kondisi Aliran Uap


1. Foaming
Foaming adalah ekspansi Liquid karena adanya aliran Vapor atau gas
meskipun hal ini bentuk kontak antarmuka Liquid Vapor yang tinggi
foaming yang berlebihan sering mengakibatkan penumpukan liquid dalam
Tray.
2. Entrainment
Entrainment adalah liquid yang terbawa oleh Vapor ke Tray di atasnya dan
disebabkan oleh laju aliran faktor yang tinggi Hal ini bersifat merusak
karena efisiensi pemisahan menjadi berkurang karena material volatil
rendah terbawa ke planet yang memiliki volatilitas yang lebih tinggi.
(Fatimura, 2014)
II. 1. 7. Operasi Kolom Destilasi

Pemisahan komponen-komponen dari campuran liquid melalui destilasi


bergantungan pada perbedaan titik didih masing-masing komponen. Juga
bergantung pada konsentrasi komponen yang ada. Campuran liquid akan memiliki
karakteristik titik didih yang berbeda. Oleh karena itu, proses destilasi bergantung
pada tekanan uap campuran uap liquid. Tekanan uap selalu liquid pada
temperatur-temperatur tertentu adalah tekanan kesetimbangan yang dikeluarkan
oleh molekul-molekul yang kurang keluar dan masuk pada percobaan liquid
(Fatimurah, 2014).

II. 1. 8. Pengertian Azeotrop

Azeotrop sendiri adalah campuran dari dua atau lebih cairan dalam
semedikian rupa sehingga komponen yang tidak dapatdipisahkan atau destilasi
sederhana. Campuran azeotrop banyak dijumpai dlm industry kimia seperti
campuran aseton dan methanol.
II. 1. 9. Hukum Relative Volatility

Destilasi atau penyulingan adalah metode pemisahan bahan kimia


berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatility). Proses

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 11


DESTILASI EKSTRAKTIF

pemisahan campuran cairan biner A dan B menggunakan destilasi dapat


dijelaskan dapat dijadikan dengan hukum Dalton dan roulth. Menurut hukum
Dalton tekanan gas total suatu campuran biner atau tekanan uap suatu cairan (P)
adalah jumlah tekanan parsial komponen A dan B.

P = PA + PB ………………..…………………….(1)

Hukum raoult menyatakan bahwa pada suhu dan tekanan tertentu, tekanan
parsial uap komponen A (PA) dalam campuran sama dengan hasil kali antara A
(PA murni) dan fraksi molnya XA.

PA = PA murni x XA………………………………………………..(2)

Sedangkan tekanan uap totalnya :

Ptot = PA murni x XA + PB murni x XB……………………………..(3)

Keterangan :

PA : tekanan parsial komponen A

PB : tekanan parsial komponen B

P : tekanan uap cairan

XA,B : fraksi mol A atau B

Ptot : tekanan uap total

PA murni, PB murni : tekanan uap komponen murni A,B. (Fatimura, 2014)

Relative volatility adalah ukuran keefektifan ratio konsentrasi zat A dalam


fase uap terhadap konsentrasi zat A dalam fase liquid dibagi dengan ratio
konsentrasi dalam uap terhadap konsentrasi B dalam fraksi awal. Secara
matematis adalah perbandingan antara fraksi mol komponen yang lebih volatile
pada fase gas dan cair dengan fraksi mol komponen yang tidak volatile pada fase
gas dan cair, sehingga persamaannya dituliskan :

𝑌𝐴/𝑋𝐴 𝑌𝐴/𝑋𝐴
α AB = 𝑌𝐵/𝑋𝐵 = (1−𝑌𝐴)/(1−𝑋𝐴) …………………………(4)

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 12


DESTILASI EKSTRAKTIF

Jika mengikuti hukum roult maka :

𝑃𝐴 𝑥 𝑋𝐴
YA = ……………………………………(5)
𝑃

𝑃𝐵 𝑥 𝑋𝐵
YB = ……………………………………(6)
𝑃

Keterangan :

α AB : relative volatility A terhadap B

YA,B : konsentrasi A dan B

XA,B : fraksi mol komponen A dan B

PA,B : tekanan uap komponen A dan B

P : tekanan uap cairan

II. 1. 10. Pengaruh Penambahan Garam pada Destilasi Ekstraktif

Penambahan garam pada destilasi ekstraktif ini memiliki efek langsung


terhadap relative volatility, karena pada dasarnya garam memiliki efek dehidrasi
yang dapat merubah komposisi fase uap dan liquid dari ethanol. Perubahan
relative volatility ini akan berpengaruh terhadap produk, sehingga kemurnian
ethanol dapat melampaui kondisi azeotropnya. (Billah, 2009)

II. 1. 11. Ratio Refluks

Ratio Refluks adalah perbandingan antara jumlah kondensat yang


dikembalikan ke kolom (jumlah refluks) persatuan waktu terhadap jumlah distilat
yang diambil persatuan waktu disebut rasio refluks. Faktor-faktor penting yang
mempengaruhi pemisahan campuran menjadi fraksi murni salah satunya adalah
rasio refluks (Malahayati,2014).

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 13


DESTILASI EKSTRAKTIF

II. 1. 12. Hukum Henry

Hukum Henry menyatakan bahwa tekanan parsial suatu komponen (A) di


atas larutan sebanding dengan fraksi mol komponen tersebut dalam larutan.
Penyataan ini dapat dituliskan:

𝑃𝐴 = 𝐻. 𝑋𝐴
Keterangan:
PA = Tekanan parsial komponen A di atas larutan

XA = Fraksi mol komponen A

H = Konstanta hukum Henry (Harga konstanta hukum Henry berubah


terhadap perubahan temperatur)

II. 1. 13. Hukum Raoult

Hukum Raoult juga memberikan hubungan antar tekanan parsial suatu zat
di atas larutan dengan fraksi molnya. Hukum Raoult dapat didefinisikan untuk
fase uap-cair dalam kesetimbangan, sebagai berikut :

𝑃𝐴 = 𝑃°𝐴. 𝑋𝐴
dimana, 𝑃𝐴 adalah tekanan uap komponen A diatas larutan dengan fraksi mol A
adalah XA dan 𝑃°𝐴 adalah tekanan parsial komponen A dalam keadaan murni pada
temperatur larutan tersebut (Maulida,2018).

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 14


DESTILASI EKSTRAKTIF

II. 2. Faktor yang Mempengaruhi Operasi Kolom Destilasi


Kinerja kolom destilasi ditentukan oleh banyak faktor sebagai berikut :
1. KondisiUmpan
Ada 4 macam aliran dalam proses distilasi :
2. Aliiran umpan yaitu aliran yang masih masuk dalam distilasi
3. Aliran produk yaitu aliran yang keluar dan kolom distilasi paling sedikit 2
macam, produk atas dan produk bawah
4. Aliran internal yaitu fluida yang terjadi didalam kolom distilasi ada 2 macam
yaitu aliran uap dan aliran cairan
5. Aliran refluks adalah produk atas atau distilat dikembalikan kekolom distilasi
melalui puncak kolom (Fatimura, 2014).

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 15


DESTILASI EKSTRAKTIF

II.3 Sifat Bahan


A. Aquadest
a) Sifat fisika
1. Berupa cairan
2. Tidak berwarna
3. Densitas = 1 gr/ml
4. Titik didih = 100°C
b) Sifat kimia
1. Rumus molekul = H2O
2. Berat molekul = 18,02 gr/mol
c) Fungsi = Sebagai pelarut universal dan pengisi
kondensor
(Perry ,2007,“Water”)

B. Kalium Klorida
a) Sifat fisika
1. Berupa padatan
2. Berwarna putih
3. Densitas = 2,152 gr/ml
4. Titik didih = 1600°C
5.
b) Sifat kimia
1. Rumus molekul = CaCl2
2. Berat molekul = 110,99 gr/mol
c) Fungsi = Sebagai zat yang ditambahkan untuk
membuat perbedaan titik didih antar
komponen dalam campuran
(Perry,2007, “Calcium Chloride”)

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 16


DESTILASI EKSTRAKTIF

C. Etanol
a) Sifat fisika
1. Berupa cairan
2. Tidak berwarna
3. Densitas = 0,789 gr/ml
4. Titik didih = 78,4°C
b) Sifat kimia
3. Rumus molekul = C2H5OH
4. Berat molekul = 46,07 gr/mol
c) Fungsi = Sebagai zat yang dimurnikan
(Perry ,2007,“Ethyl Alcohol”)

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 17


DESTILASI EKSTRAKTIF

II.4 Hipotesa
Pada percobaan destilasi ekstraktif diharapkan mendapatkan etanol dengan
kemurnian atau konsentrasi 96% dengan berbagai faktor yaitu konsentrasi
alkohol, jenis garam serta temperatur.

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 18


DESTILASI EKSTRAKTIF

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

III.1 Bahan
1. Etanol
2. Kasium klorida
3. Aquadest

III.2 Alat
1. Kondensor
2. Neraca analitik
3. Piknometer
4. Erlenmeyer
5. Selang
6. Heating mantel
7. Thermometer
8. Labu leher tiga
9. Divider

III.3 Gambar Alat

Erlenmeyer Neraca Selang Heating


analitik mantel

Piknometer Thermometer Labu


leher tiga

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 19


DESTILASI EKSTRAKTIF

Kondensor Divider

III.3. 1 Rangkaian Alat

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 20


DESTILASI EKSTRAKTIF

III.5. Prosedur

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 21


DESTILASI EKSTRAKTIF

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. 1 Tabel Perhitungan


Tabel 1. Perhitungan Fraksi Destilat (Xd) dan Fraksi Bottom (Xw)
T
Wa 𝝆 Destilat 𝝆Bottom Botto T Packed % Ethanol % Ethanol
ktu (gr/ml) (gr/ml) m Colomn Destilat Bottom
1 0,7789 0,9387 83 61 - 34,421
2 0,7856 0,9497 83 62 97,589 28,278
3 0,8108 0,9581 83 63 - 23,291

Pada percobaan destilasi ekstraktif ini menggunakan ethanol 85%. Setelah


didapatkan destilat dan bottom, didinginkan terlebih dahulu hingga suhu mencapai
30OC. Didapatkan kadar ethanol destilat tertinggi sebesar 97,589% dan kadar
ethanol bottom terendah 23,291%. Menurut teori (Billah, 2014) dan (Yansen,
2018) pengaruh penambahan entrainer dapat melampaui kondisi akhir azeotrope
karena entrainer mengikat air sehingga titik didih air jauh melebihi titik didih
aslinya. Oleh sebab itu, ethanol yang didapat lebih murni yaitu melebihi 96%.
Maka pada percobaan ke 2 sudah membuktikanterbukanya titik azeotrop.
Sedangkan pada percobaan ke 1 masih belum membuka,

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 22


DESTILASI EKSTRAKTIF

IV. 2 Grafik

Kurva Kesetimbangan Ethanol - Air Kurva Kestimbangan Etanol-Air (Literatur)


1
1
0.9
0.9
0.8 0.8

0.7 0.7
0.6 0.6

Y
0.5 0.5
Y

0.4 0.4
0.3 0.3
0.2 0.2
0.1
0.1
0
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
X X

GrafikI. (a) Kurva kesetimbangan ethanol – air percobaan, dan (b) Kurva
kesetimbangan ethanol – air pada literatur

Pada grafik (a) dapat dilihat bahwa titik azeotrop telah terbuka pada
percobaan dikarenakan keberadaan entrainer sebagai pengikat air. Hal ini sesuai
dengan teori (Billah, 2014) dan (Yansen, 2018). Sedangkan grafik (b) merupakan
kurva kesetimbangan etanol – air jika tidak diberi entrainer yang memiliki titik
azeotrope pada konsentrasi ethanol 96%. Semakin kurva kesetimbangan
mengembang ke atas dari kurva 45 maka menandakan mudah untuk dipisahkan
(𝛼>1). Begitu juga sebaliknya, apabila kurva kesetimbangan mengembang ke
bawah dari kurva 45 maka semakin susah untuk dipisahkan (α ≤ 1).

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 23


DESTILASI EKSTRAKTIF

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1. Kesimpulan
Pada percobaan Destilasi Ekstraktif ini telah dilakukan dengan baik,
berdasarkan data – data praktikum yang didapat dapat disimpulkan titik azeotrope
ethanol – air terbuka dengan penambahan garam 𝐶𝑎𝐶𝑙2 sebagai entrainer dan
kadar destilat sebesr 97,589%.

V.2 Saran
1. Sebaiknya saat destilat telah diambil langsung ditutup agar alcohol tidak
menguap
2. Sebaiknya saat pengambilan sampel bottom jangan dibiarkan terbuka lebih
lama agar alcohol tidak berkurang terlalu banyak
3. Sebaiknya adanya ethanol awal tidak perlu diencerkan agar didapatkan
kadar ethanol lebih murni

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 24


DESTILASI EKSTRAKTIF

DAFTAR PUSTAKA

Billah, M. 2009.”Produksi Alkohol Fuel Grade dengan Proses Destilasi


Ekstraktif”. Jurnal Penelitian Ilmu Teknik. Vol 9, No 1,hal 25-26.
Christoper, J. 2018.”Pemisahan Campuran THF Etanol Menggunakan
Ekstraokus Dwiding Wall Coloumn”. Jurnal Teknik Kimia FTI “UPN
Veteran Yogyakarta”.
Fatimura, M.2014.“Tinjauan Teoritis Faktor Faktor Yang Mempengaruhi
Operasi Pada Kolom Destilasi”.Jurnal Media Teknik. Vol 11, No 1, hal 23-
26.
Komariyah, L. 2009.”Tinjauan Teoritis Untuk Perencanaan Kolom Destilasi
Untuk Pra rencana Pabrik Skala Industri”. Jurnal Teknik Kimia. Vol 4 No
16.
Perry,R. 2007.”Perry’s Chemical Engineers Handbook Sevent Edition”. New
York : Mc Graw Hill
Wonorarahardjo.2013.”Metode – Metode Pemisahan Kimia”. Jakarta : Akademi
Permita
Yansen.2017. ”Destilasi Ekstraktif dengan Pemisahan Air dan Metanol”.Jurnal
Teknik Kimia. Vol 6, No 4, hal 169

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 25


DESTILASI EKSTRAKTIF

LAMPIRAN 1

I. Tabel Pengamatan
Tabel 1. Pengamatan Densitas Destilat dan Bottom
𝝆 𝝆
Waktu Massa isi Massa isi destilat bottom
destilat (gr) bottom (gr) (gr/ml) (gr/ml)
1 19,752 21,3494 0,7789 0,9387
2 19,8185 21,4595 0,7856 0,94971
3 20,0703 21,5437 0,81079 0,95813

II. Perhitungan
1. Perhitungan densitas
a. Densitas Destilat
𝑚 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑖𝑠𝑖 − 𝑚 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔
𝜌 𝑑𝑒𝑠𝑡𝑖𝑙𝑎𝑡 =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜
19,7520 − 11,9624 𝑔𝑟
𝜌 𝑑𝑒𝑠𝑡𝑖𝑙𝑎𝑡 =
10 𝑚𝑙
𝑔𝑟
𝜌 𝑑𝑒𝑠𝑡𝑖𝑙𝑎𝑡 = 0,7789
𝑚𝑙
b. Densitas Bottom

𝑚 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑖𝑠𝑖 − 𝑚 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔


𝜌 𝑑𝑒𝑠𝑡𝑖𝑙𝑎𝑡 =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜
21,3494 − 11,9624 𝑔𝑟
𝜌 𝑑𝑒𝑠𝑡𝑖𝑙𝑎𝑡 =
10 𝑚𝑙
𝑔𝑟
𝜌 𝑑𝑒𝑠𝑡𝑖𝑙𝑎𝑡 = 0,9387
𝑚𝑙

2. Perhitungan Pembuatan Larutan


a. Pembuatan alcohol 91% dari akohol 93 %
%1 𝑥 𝑉1 = %2 𝑥 𝑉2
91% 𝑥 350 𝑚𝑙 = 93% 𝑥 𝑉2
𝑉2 = 342,473 𝑚𝑙

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 26


DESTILASI EKSTRAKTIF

Jadi ambil 342,473 ml alcohol 93% dan ditambah aquadest hingga 350
ml
b. Pembuatan Etilen Glikol 1N
𝜌 𝑥 % 𝑥 1000
𝑁=
𝐵𝑒
1,11 𝑥 99,8% 𝑥 1000
𝑁= 62,07
2

𝑁 = 35,694
𝑁1 𝑥 𝑉1 = 𝑁2 𝑥 𝑉2
1𝑁 𝑥 100𝑚𝑙 = 35,694 𝑁𝑥 𝑉2
𝑉2 = 2,8 𝑚𝑙
Jadi ambil 2,8 ml etilen glikol lalu dilarutkan dengan aquadest hingga 100
ml
3. Tekanan Uap Parsial Alkohol
a. Pada Bottom
83 − 78,4 𝑥 − 260
=
78,4 − 63,5 760 − 400
𝑥 = 870,88
b. Pada Packed Colomn

62 − 48,4 𝑥 − 200
=
63,5 − 48,4 400 − 200
𝑥 = 380,132 𝑚𝑚𝐻𝑔
4. Tekanan Uap Parsial Water
a. Pada Bottom 62 ˚C = 163,77
b. Pada Packed Colomn 83 ˚C = 400,6
5. Perhitungan Relative Volatility
a. Pada Bottom
𝑃𝑜 𝐴𝑙𝑘𝑜ℎ𝑜𝑙
∝ 𝑏𝑜𝑡𝑡𝑜𝑚 = 𝑜
𝑃 𝐴𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡
738, 255
∝ 𝑏𝑜𝑡𝑡𝑜𝑚 = = 2,298
321,196

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 27


DESTILASI EKSTRAKTIF

b. Pada Packed Colomn

𝑃𝑜 𝐴𝑙𝑘𝑜ℎ𝑜𝑙
∝ 𝑃𝑎𝑐𝑘𝑒𝑑 𝐶𝑜𝑙𝑜𝑚𝑛 =
𝑃𝑜 𝐴𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡
380,132
∝ 𝑃𝑎𝑐𝑘𝑒𝑑 𝐶𝑜𝑙𝑜𝑚𝑛 = = 2,3211
163,77
c. Total
𝛼 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = √𝛼 𝑏𝑜𝑡𝑡𝑜𝑚 𝑥 𝛼 𝑝𝑎𝑐𝑘𝑒𝑑 𝑐𝑜𝑙𝑜𝑚𝑛

𝛼 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = √2,1739 𝑥 2,3211


𝛼 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = 2,2462
6. Perhitungan %ethanol
a. Destilat
Interpolasi table 2-112 Perry’s Chemical Engineering Handbook 7th
Edition. Sehingga didapatkan kadar ethanol pada densitas destilat
0,7856 gr/ml sebesar 97,589%
b. Bottom
Interpolasi table 2-112 Perry’s Chemical Engineering Handbook 7th
Edition. Sehingga didapatkan kadar ethanol pada densitas bottom
0,9581 gr/ml sebesar 23,291,%

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 28


DESTILASI EKSTRAKTIF

LAMPIRAN 2

Gambar 1. Proses destilasi ekstraktif Gambar 2. Pemanasan labu


leher 3 yang berisi alcohol,
air, CaCl2 dan ethylene glikol
dengan mantel pemanas.

Gambar 3. Penimbangan Gambar 4. Penimbangan


pikno berisi destilat pikno berisi campuran di
bottom

PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II 29