Anda di halaman 1dari 2

Guru dan Orangtua Perlu Pahami Peran Konseling

19-Sep-17, 13:44

Angela Gabrielle Wane

Depoedu - Konselor anak, Angela Gabriella Wane mengemukakan pentingnya guru dan orangtua murid memahami
peran seorang konseling dalam mendampingi putera dan puterinya sehingga dapat membantu prestasi anak secara
akademik maupun sikap moralnya. Peran sebagai seorang konselor anak dalam pendidikan tidak boleh diabaikan.

Seorang mahasiswa Perguruan Tinggi Fakultas Kedokteran mengikuti kuliah. Sebelumnya ia mengikuti tes masuk
dan dinyatakan lulus. Orangtuanya harus membayar uang masuk tersebut dengan jumlah dana yang cukup fantastis,
sekitar 200 juta rupiah. Dari segi akademis ia lulus tes dan mulai masuk kuliah di Perguruan Tinggi ternama itu.
Setelah melewati satu semester, mahasiswa itu memutuskan berhenti kuliah. Tidak terlalu jelas apa alasannya,
namun bisa ditebak mungkin Fakultas Kedokteran bukan pilihan awalnya, nyatanya ia tidak mau lagi kuliah di
universutas tersebut. Ia kemudian memilih di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti Jakarta. Pengalaman ini tentu
sangat membuat orantuanya kecewa lantaran uang yang dibayarkan ke Falkutas Kedokteran itu tidak mungkin
diterik kembali dari kampus itu. Siapa pun orangtua pasti menyayangkan keputusan mahaiswa tersebut.

Kasus lainnya menimpa seorang anak laki-laki kelas I SMPN di Bandung, belum lama ini. Siswa ini tidak lagi
masuk ke sekolah karena merasa sangat malu mengetahui ibu guru wali kelas di sekolahnya sedang berpacaran
dengan orangtuanya. Sebagai bentuk ‘protes’ terhadap keluarganya, siswa kelas satu SMPN ini tidak lagi pergi ke
sekolah. Ia mengetahui ayahnya sedang berpacaran dengan ibu wali kelasnya itu memalui telepon seluler milik
ayahnya.

Dua kasus yang dialami seorang mahasiswa kedokteran di Tangerang dan seorang siswa kelas satu SMPN di
Bandung hanyalah dua contoh kasus yang menimpa para siswa/ mahasiswa-mahasiswi. Persoalan yang dihadapi
mahasiwa, pelajar itu, merupakan bagian dari pekerjaan Konselor dan Edukasi Anak, Angela Gabriella Wane (33
tahun).

Gabriela Wane kepada Depoedu.com mengatakan belum lama ini, soal pemilihan jurusan di tingkat satuan
pendidikan hingga ke jenjang Perguruan Tinggi, fokus belajar anak yang terganggu karena problem keluarga dan
masih banyak lagi contoh yang sedang dihadapi peserta didik di sekolah di Indonesia. Seorang peserta didik
sesungguhnnya memiliki kemampuan di bidang akutansi tapi kadang kala ‘dipaksa’ guru masuk jurusan pariwisata
atau multimedia. Sayangnya secara sadar pemaksaan ini cenderung dilakukan oleh para guru di sekolah.

Untuk itu betapa pentingnya peran seorang konselor agar dengan tepat menentukan cita-citanya. Jadi bukan karena
dipaksa oleh teman, orangtua atau pun guru melainkan karena minat anak itu sendiri sehingga anak tersebut
melakukan penuh dengan gembira melakukannya sesuai yang diigninkannya. Pada akhirnya ia bisa mencapai cita-
citanya.

Grahita Indonesia, suatu lembaga psikologi terapan dengan menggunakan metode PMPO (Projective Multi Plus
Orientation ) yang bertekad membangun dan mencerdaskan anak bangsa dengan mewujudkan kepedulian tinggi
terhadap potensi diri sendiri, keluarga , lingkungan sosial sehingga berprestasi meraih kesuksesan yang maksimal.

Gabriella Wane, atau akrab dipanggil Wane, ikut bergabung dalam lembaga ini sejak tahun 2007 walaupun ia
bekerja free lance ia memiliki pengalaman yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Wane setiap hari bertugas
mengunjungi satuan pendidikan TK, SD, SMP , SMA dan SMK untuk menjelaskan program Grahita kepada
penyelenggara , pelaku pendidikan untuk mengetahui tentang hal ini. Program yang dilaksanakan Program
Pendampingan siswa yang berprestasi di 35 kota di Indonesia.

Masalah yang dihadapi anak dan remaja di awal tulisan merupakan jenis pekerjaan yang biasa ditangani Wane. Ia
menceritakan anak-anak yang didampingi bisa menemukan bakat atau kemampuan selanjutnya bisa meningkatkan
prestasi belajar melalui ‘interfensi-interfensi’ dari seorang konselor. Yang diharapkan dari pendampingan terhadap
anak tersebut adalah mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi, berprestasi dengan optimal, juga untuk
kehidupan sosial anak yang lebih baik.

Menjadi guru

Wane dilahirkan di Jakarta 27 Juli 1974. Meskipun dilahirkan di Jakarta, ia dibesarkan oleh kakek dan neneknya di
Bandung sejak berusia 5 tahun. Ia mengenyam pendidikan di TK, SD, SMP, SMK hingga Sekolah Tinggi Ilmu
Pariwisata di Bandung. Setelah melewati pendidikan STIE Par, Wane bekerja di sebuah hotel di Bandung sebagai
kasir di hotel tersebut.
Wane menikah pada tahun 1997 dan setahun kemudian ia dikarunai seorang anak laki-laki . Selanjutnya pada 2003
ia melahirkan anak kedua. Ketika mendampingi kedua anaknya itu ia mulai mengenal tentang Grahita yang
berkantor pusat di Tangerang.

Di Grahita seorang free lance bisa mengenal lebih mendalam tentang kepribadian seorang anak khususnya dalam
kaitan dengan psikologi anak. Misalnya seorang anak SD memiliki kemampuan heteroseksual melebihi (diatas 100)
maka anak tersebut perlu dilakukan terapi perilaku psikologi sehingga jangan sampai terjerumus dalam perilaku
yang menyimpang. Kasus lainnya misalnya anak kurang memiliki daya juang dalam belajar maka memerlukan
pendampingan yang serius

Kondisi emosi putera pertama Ibu Wane diakui superior maka ia sungguh-sungguh mendapingi puteranya agar dia
bisa belajar dengan baik. Awalnya ia mendapat penjelasan dari Grahita bahwa pentingnya mendampingi anak. “Kala
itu saya belum terlalu mengerti tetapi lama kelamaan melalui perjumpaan dengan banyak orang termasuk bersama
rekan-rekan di Garhita ., ilmu menjadi bertambah,’’ kisah ibu dari Faustinus C. Putera dan Nathanael Bima Putera
ini.

Tahun 2006-2011 Wane memilih menjadi guru TK di Bandung. Selama lima tahun itu dengan setia melakukan
tugasnya sebagai guru TK dan mengaplikasikan ilmu psikologinya selama menjadi tenaga lepas Grahita Indonesia.
Semua pengalaman yang dilewatinya menjadi suatu hal yang sangat berharga bukan hanya mendukung pekerjaan
sebagai guru di kelas tapi juga menambah wawasan dalam ilmu psikologi.

Terhitung mulai tahun 2011 – 2016 Wane menjadi tenaga pengajar di SMA, SMK Setia Bahkti Tangerang. Ia
mengampu bidang studi bahasa Inggris dan diberikan tugas menjadi tenaga Bimbingan Konseling. Dengan latar
belakang pendidikan pariwisata dengan focus psikologi kepemimpinan lagi-lagi Wane mengaplikasikan ilmunya itu
dalam dunia pendidikan.

Sebagai mitra sekolah, saban hari ia berkunjung ke sekolah – sekolah mengajak para kepala sekolah untuk bekerja
sama. Melalui Grahita sesungguhnya membangun ‘jembatan’ antara guru, orangtua dan para pendidik di sekolah
untuk mengoptimalkan kemampuan anak meraih keberhasilan yang lebih baik. Ia berharap sekolah-sekolah yang
didatangi memiliki persepsi yang sama bahwa lewat pelayanan psikologi ini dapat membantu siswa-siswi untuk
meraih berprestasi. (Konrad R Mangu)