Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PASIEN DENGAN MASALAH SINDROM DISPEPSIA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Laporan Invidu Praktek Profesi


Keperawatan Departemen Keperawatan Medikal Bedah

Di Ruang Melati

RSUD Mardi Waluyo

Oleh:

Ahdal Casanoval

P17212195005

PRODI D4 DAN PROFESI KEPERAWATAN MALANG

JURUSAN KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG

TAHUN AJARAN 2019/2020


LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN MASALAH SINDROM DISPEPSIA

DI RUANG MELATI RSUD MARDI WALUYO KOTA BLITAR

OLEH :

AHDAL CASANOVAL

P17212195005

Blitar, September 2019


Mahasiswa

Ahdal Casanoval
P17212195005

Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik


LAPORAN PENDAHULUAN
A. Definisi
Dyspepsia berasal dari bahasa Yunani, Dys berarti sulit dan Pepse berarti
pencernaan (Arsyad dkk,2018). Dyspepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis
yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau
mengalami kekambuhan.
Dyspepsia adalah suatu penyakit saluran cerna yang disertai dengan nyeri ulu
hati (epigastrium), mual, muntah, kembung, rasa penuh atau rasa cepat kenyang dan
sendawa. Dyspepsia sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, keluhan ini
sangat bervariasi, baik dalam jenis gejala yang ada maupun intensitas gejala tersebut
dari waktu-kewaktu (Kapita Selekta Kedokteran,2010).
Menurut PGI (Perkumpulan Gastroentrologi Indonesia) dan KSHPI
(Kelompok Studi Helicobacter Pylori Indonesia) (2014), dyspepsia merupakan rasa
tidak nyaman yang berasal dari daerah abdomen bagian atas. Rasa tidak nyaman
tersebut dapat berupa salah satu atau beberapa gejala berikut yaitu: nyeri epigastrium,
rasa penuh setelah makan, cepat kenyang, rasa kembung pada saluran cerna bagian
atas, mual, muntah dan sendawa.
B. Klasifikasi
Dyspepsia terbagi 2 yaitu:
1. Dyspepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai
penyebabnya. kelainan yang nyata terhadap organ tubuh misalnya tukak (ulkus
peptikum), gastritis, stomach cancer, Gastro-Esophageal reflux disease,
hiperacidity.
2. Dyspepsia non organik, atau dyspepsia fungsional, atau dyspepsia non ulkus
(DNU), bila tidak jelas penyebabnya. tanpa disertai kelainan atau gangguan
struktur organ berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan
endoskopi (teropong saluran pencernaan) (Mansjoer,2010).
C. Etiologi
Faktor-faktor yang menyebabkan dyspepsia adalah :
1. Gangguan pergerakan (motilitas) piloroduodenal dari saluran pencernaan bagian
atas (esofagus, lambung dan usus halus bagian atas).
2. Menelan terlalu banyak udara atau mempunyai kebiasaan makan salah
(mengunyah dengan mulut terbuka atau berbicara).
3. Menelan makanan tanpa dikunyah terlebih dahulu dapat membuat lambung terasa
penuh atau bersendawa terus.
4. Mengkonsumsi makanan/minuman yang bisa memicu timbulnya dispepsia,
seperti minuman beralkohol, bersoda (soft drink), kopi. Minuman jenis ini dapat
mengiritasi dan mengikis permukaan lambung.
5. Obat penghilang nyeri seperti Nonsteroid Anti Inflamatory Drugs (NSAID)
misalnya aspirin, Ibuprofen dan Naproven (Rani, 2007).
6. Pola makan Di pagi hari kebutuhan kalori seseorang cukup banyak sehingga bila
tidak sarapan, lambung akan lebih banyak memproduksi asam. Tuntutan
pekerjaan yang tinggi, padatnya lalu lintas, jarak tempuh rumah dan kantor yang
jauh dan persaingan yang tinggi sering menjadi alasan para profesional untuk
menunda makan
7. Faktor stres erat kaitannya dengan reaksi tubuh yang merugikan kesehatan. Pada
waktu stres akan menyebabkan otak mengaktifkan sistem hormon untuk memicu
sekresinya. Proses ini memicu terjadinya penyakit psychosomatik dengan gejala
dispepsia seperti mual, muntah, diare, pusing, nyeri otot.
D. Patofisiologi
Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas, zat-zat seperti
nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres, pemasukan makanan menjadi
kurang sehingga lambung akan kosong, kekosongan lambung dapat mengakibatkan
erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung, kondisi demikian
dapat mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya
kondisi asam pada lambung, sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa
impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan.
E. Manifestasi Klinis
Klasifikasi klinis praktis, didasarkan atas keluhan/gejala yang dominan, membagi
dispepsia menjadi tiga tipe :
1. Dyspepsia dengan keluhan seperti ulkus, dengan gejala :
1) Nyeri epigastrum terlokalisasi
2) Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antacid
3) Nyeri saat lapar
4) Nyeri episodic
2. Dyspepsia dengan gejala seperti dismotilitas, dengan gejala seperti :
1) Mudah kenyang
2) Perut cepat terasa penuh saat makan
3) Mual
4) Muntah
5) Upper abdominal boating
6) Rasa tak nyaman bertambah saat makan
3. Dyspepsia non-spesifik (tidak ada gejala seperti kedua tipe diatas) (Mansjoer, et
al, 2010).
Sindroma dispepsia dapat bersifat ringan, sedang, dan berat, serta dapat akut atau
kronis sesuai dengan perjalanan penyakitnya. Pembagian akut dan kronik berdasarkan
atas jangka waktu tiga bulan.
Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada mungkin disertai dengan
sendawa dan suara usus yang keras (borborigmi). Pada beberapa penderita, makan
dapat memperburuk nyeri; pada penderita yang lain, makan bisa mengurangi nyerinya.
Gejala lain meliputi nafsu makan yang menurun, mual, sembelit, diare dan flatulensi
(perut kembung).
Jika dispepsia menetap selama lebih dari beberapa minggu, atau tidak memberi
respon terhadap pengobatan, atau disertai penurunan berat badan atau gejala lain yang
tidak biasa, maka penderita harus menjalani pemeriksaan.

F. Pemeriksaan Penunjang
Berbagai macam penyakit dapat menimbulkan keluhan yang sama, seperti halnya
pada sindrom dyspepsia, oleh karena dispepsia hanya merupakan kumpulan gejala
dan penyakit disaluran pencernaan, maka perlu dipastikan penyakitnya. Untuk
memastikan penyakitnya, maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan, selain
pengamatan jasmani, juga perlu diperiksa : laboratorium, radiologis, endoskopi, USG,
dan lain-lain.
1) Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih banyak ditekankan untuk
menyingkirkan penyebab organik lainnya seperti: pankreatitis kronik, diabets
mellitus, dan lainnya.
2) Radiologis
Pemeriksaan radiologis banyak menunjang dignosis suatu penyakit di saluran
makan. Setidak-tidaknya perlu dilakukan pemeriksaan radiologis terhadap saluran
makan bagian atas, dan sebaiknya menggunakan kontras ganda
3) Endoskopi (Esofago-Gastro-Duodenoskopi)
Sesuai dengan definisi bahwa pada dispepsia fungsional, gambaran endoskopinya
normal atau sangat tidak spesifik.
G. Penatalaksanaan
Menurut PGI dan KSHPI (2014), tata laksana dyspepsia dimulai dengan usaha untuk
identifikasi patofiologi dan factor penyebab sebanyak mungkin. Terapi dyspepsia
sudah dapat dimulai berdasarkan sindroma klinis yang dominan (belum diinvestigasi)
dan dilanjutkan sesuai hasil investigasi.
1. Dyspepsia belum diinventigasi
Strategi tata laksana optimal pada fase ini adalah memberikan terapi empirik
selama 1-4 minggu sebelum hasil investigasi awal, yaitu pemeriksaan adanya Hp.
Untuk daerah dan etnis tertentu serta pasien dengan faktor risiko tinggi,
pemeriksaan Hp harus dilakukan lebih awal.
Obat yang dipergunakan dapat berupa antasida, antisekresi asam lambung (PPI
misalnya omeprazole, rabeprazole dan lansoprazole dan/atau H2-Receptor
Antagonist [H2RA]), prokinetik, dan sitoprotektor (misalnya rebamipide), di mana
pilihan ditentukan berdasarkan dominasi keluhan dan riwayat pengobatan pasien
sebelumnya. Masih ditunggu pengembangan obat baru yang bekerja melalui down-
regulation proton pump yang diharapkan memiliki mekanisme kerja yang lebih
baik dari PPI, yaitu DLBS 2411.
Terkait dengan prevalensi infeksi Hp yang tinggi, strategi test and treat
diterapkan pada pasien dengan keluhan dispepsia tanpa tanda bahaya.
Test and treat dilakukan pada:
1) Pasien dengan dispepsia tanpa komplikasi yang tidak berespon terhadap
perubahan gaya hidup, antasida, pemberian PPI tunggal selama 2-4 minggu dan
tanpa tanda bahaya.
2) Pasien dengan riwayat ulkus gaster atau ulkus duodenum yang belum pernah
diperiksa.
3) Pasien yang akan minum OAINS, terutama dengan riwayat ulkus
gastroduodenal.
4) Anemia defisiensi besi yang tidak dapat dijelaskan, purpura trombositopenik
idiopatik dan defisiensi vitamin B12.
Test and treat tidak dilakukan pada:
1) Penyakit refluks gastroesofageal (GERD)
2) Anak-anak dengan dispepsia fungsional
2. Dipsepsia yang telah diiventigasi
Pasien-pasien dispepsia dengan tanda bahaya tidak diberikan terapi empirik,
melainkan harus dilakukan investigasi terlebih dahulu dengan endoskopi dengan
atau tanpa pemeriksaan histopatologi sebelum ditangani sebagai dispepsia
fungsional. Setelah investigasi, tidak menyingkirkan kemungkinan bahwa pada
beberapa kasus dispepsia ditemukan GERD sebagai kelainannya.
1) Dypsepsia organic
Apabila ditemukan lesi mukosa (mucosal damage) sesuai hasil endoskopi, terapi
dilakukan berdasarkan kelainan yang ditemukan. Kelainan yang termasuk ke
dalam kelompok dispepsia organik antara lain gastritis, gastritis hemoragik,
duodenitis, ulkus gaster, ulkus duodenum, atau proses keganasan. Pada ulkus
peptikum (ulkus gaster dan/ atau ulkus duodenum), obat yang diberikan antara
lain kombinasi PPI, misal rabeprazole 2x20 mg/ lanzoprazole 2x30 mg dengan
mukoprotektor, misalnya rebamipide 3x100 mg.
2) Dypsepsia fungsional
Apabila setelah investigasi dilakukan tidak ditemukan kerusakan mukosa, terapi
dapat diberikan sesuai dengan gangguan fungsional yang ada. Penggunaan
prokinetik seperti metoklopramid, domperidon, cisaprid, itoprid dan lain
sebagainya dapat memberikan perbaikan gejala pada beberapa pasien dengan
dispepsia fungsional. Hal ini terkait dengan perlambatan pengosongan lambung
sebagai salah satu patofisiologi dispepsia fungsional. Kewaspadaan harus
diterapkan pada penggunaan cisaprid oleh karena potensi komplikasi
kardiovaskular. Data penggunaan obat-obatan antidepresan atau ansiolitik pada
pasien dengan dispepsia fungsional masih terbatas. Dalam sebuah studi di
Jepang baru-baru ini menunjukkan perbaikan gejala yang signifikan pada pasien
dispepsia fungsional yang mendapatkan agonis 5-HT1 dibandingkan plasebo. Di
sisi lain venlafaxin, penghambat ambilan serotonin dan norepinerfrin tidak
menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding placebo Gangguan psikologis,
gangguan tidur, dan sensitivitas reseptor serotonin sentral mungkin merupakan
faktor penting dalam respon terhadap terapi antidepresan pada pasien dispepsia
fungsional.
KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses dimana kegiatan yang dilakukan
yaitu : Mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisa data. Data fokus
yang berhubungan dengan dispepsia meliputi adanya nyeri perut, rasa pedih di ulu
hati, mual kadang-kadang muntah, nafsu makan berkurang, rasa lekas kenyang, perut
kembung, rasa panas di dada dan perut, regurgitasi (keluar cairan dari lambung secar
tiba-tiba) (Mansjoer,2010).
Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis (sindrom) yang terdiri
dari rasa tidak enak/sakit diperut bagian atas yang dapat pula disertai dengan keluhan
lain, perasaan panas di dada daerah jantung (heartburn), regurgitasi, kembung, perut
terasa penuh, cepat kenyang, sendawa, anoreksia, mual, muntah, dan beberapa
keluhan lainnya.
B. Diagnosa
1. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi mukosa lambung ditandai dengan wajah
tampak kesakitan
2. Defisit nutrisi berhubungan dengan masukan nutrisi yang tidak adekuat ditandai
dengan berat badan menurun
3. Hipovolemia berhubungan dengan masukan cairan tidak adekuat ditandai dengan
mual dan muntah
4. Nausea berhubungan dengan peningkatan produksi HCL dilambung ditandai
dengan factor psikologis
5. Deficit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi ditandai
dengan menunjukan perilaku tidak sesuai anjuran
C. Intervensi
1. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi mukosa lambung ditandai dengan wajah
tampak kesakitan
Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama x24 jam diharapkan tingkat nyeri
menurun
Kriteria Hasil :
1) Kemampuan menuntaskan aktivitas meningkat
2) Keluhan nyeri menurun
3) Meringis menurun
4) Sikap protektif menurun
5) Gelisah menurun
6) Kesulitan tidur menurun
7) Menarik diri menurun
8) Berfokus pada diri sendiri menurun
9) Diaphoresis menurun
10) Perasaan depresi menurun
11) Perasaan takut mengalami cedera berulang menurun
12) Anoreksia menurun
13) Perineum terasa tertekan menurun
14) Uterus teraba membulat menurun
15) Ketegangan otot menurun
16) Pupil dillatasi
17) Muntah menurun
18) Mual menurun
19) Frekuensi nadi membaik
20) Pola nafas membaik
21) Tekanan darah membaik
22) Proses berfikir membaik
23) Focus membaik
24) Fungsi berkemih membaik
25) Perilaku membaik
26) Nafsu makan membaik
27) Pola tidur membaik
Tindakan
Observasi
1) Indetifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
2) Indetifikasi skala nyeri
3) Indetifikasirespon nyeri non verbal
4) Indetifikasi identivikasi factor yang memperberat dan memperingan nyeri
5) Indetifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
6) Indetifikasi pengaruh nyeri terhadapkualitas hidup
7) Monitor keberhasilan terapi komplementer yang sudah diberikan
8) Monitor efek samping penggunaan analgentik
Terapeutik
1) Berikan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis TENS,
hipnosis, akkupressure, terapi musik, dll)
2) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri
3) Fasilitasi istirahat tidur
4) Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan
nyeri
Edukasi
1) Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
2) Jelaskan strategi meredakan nyeri
3) Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri
4) Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
5) Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian analgetik jika perlu
2. Defisit nutrisi berhubungan dengan masukan nutrisi yang tidak adekuat ditandai
dengan berat badan menurun
Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama x24 jam, status nutrisi membaik
Kriteria Hasil :
1) Porsi makan yang dihabiskan meningkat
2) Kekuatan otot pengunyah meningkat
3) Kekuatan otot menelan meningkat
4) Serum albumin meningkat
5) Verbalisasi keinginan untuk meningkatkan nutria meningkat
6) Pengetahuan tentang pilihan makanan sehat meningkat
7) Pengetahuan tentang pilihan minuman sehat meningkat
8) Pengetahuan tentang standar asupan nutrisi yang tepat meningkat
9) Penyiapan dan penyimpanan makanan yang aman meningkat
10) Penyiapan dan penyimpanan minuman yang aman meningkat
11) Sikap terhadap makanan atau minuman sesuai dengan tujuan kesehatan
12) Perasaan cepat kenyang menurun
13) Nyeri abdomen menurun
14) Sariawan menurun
15) Rambut rontok menurun
16) Diare menurun
17) Berat badan membaik
18) Indeks masa tubuh membaik
19) Frekuensi makan membaik
20) Nafsu makan membaik
21) Bising usus membaik
22) Tebal lipatan kulit trisep membaik
23) Membrane mukosa membaik
Tindakan :
Observasi
1) Identifikasi status nutrisi
2) Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
3) Identifikasi makanan disukai
4) Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient
5) Identifikasi perlunya penggunaan selang nasogatrik
6) Monitor asupan makanan
7) Monitor berat badan
8) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
Terapeutik
1) Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu
2) Fasilitasi menentukan pedoman diet
3) Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai
4) Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
5) Berikan makanan tinggi protein dan tinggi kalori
6) Berikan suplemen makan, jika perlu
7) Hentikan pemberian makan melalui selang nasogatrik jika asupan oral dapat
ditoleransi
Edukasi
1) Anjurkan posisi duduk, jika mampu
2) Ajarkan diet yang diprogramkan
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan, jika perlu
2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient
yang dibutuhkan, jika perlu
3. Hipovolemia berhubungan dengan masukan cairan tidak adekuat ditandai dengan
mual dan muntah
Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama x24 jam, status cairan membaik
Kriteria Hasil :
1) Kekuatan nadi meningkat
2) Turgor kulit meningkat
3) Output urine meningkat
4) Pengisian vena meningkat
5) Ortopnea menurun
6) Dyspnea menurun
7) PND menurun
8) Edema anasarka menurun
9) Edema perifer menurun
10) Berat badan menurun
11) Distensi vena jugularis menurun
12) Suara nafas tambahan menurun
13) Kongesti paru menurun
14) Perasaan lemah menurun
15) Keluhan haus menurun
16) Konsentrasi urin menurun
17) Frekuensi nadi membaik
18) Tekanan darah membaik
19) Tekanan nadi membaik
20) Membrane mukosa membaik
21) JVP membaik
22) Kadar Hb membaik
23) Kadar Ht membaik
24) CVP membaik
25) Refluks hepatojugular membaik
26) Berat badan membaik
27) Hepatomegaly membaik
28) Oliguria membaik
29) Intake cairan membaik
30) Status mental membaik
31) Suhu tubuh membaik
Tindakan :
Observasi
1) Periksa tanda dan gejala hipovolemia
2) Monitor intake dan output cairan
Terapeutik
1) Hitung kebutuhan cairan
2) Berikan posisi modified trendelenburg
3) Berikan asupan cairan oral
Edukasi
1) Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
2) Anjurkan menghindari perubahan posisi secara mendadak
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis
2) Kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis
3) Kolaborasi pemberian cairan koloid
4) Kolaborasi pemberian produk darah
4. Nausea berhubungan dengan peningkatan produksi HCL dilambung ditandai
dengan factor psikologis
Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama x24jam, tingkat nausea menurun
Kriteria Hasil :
1) Nafsu makan meningkat
2) Keluhan mual menurun
3) Perasaan ingin muntah menurun
4) Perasaan asam dimulut menurun
5) Sensasi panas menurun
6) Sensasi dingin menurun
7) Frekuensi menelan menurun
8) Diaphoresis menurun
9) Jumlah saliva menurun
10) Pucat membaik
11) Takikardia membaik
12) Dilatasi pupil membaik
Tindakan :
Observasi
1) Identifikasi pengalaman mual
2) Identifikasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan
3) Identifikasi dampak mual terhadap kualitas hidup
4) Identifikasi factor penyebab mual
5) Identifikasi antiemetic untuk mencegah mual
6) Monitor mual
7) Monitor asupan nutrisi dan kalori
Terapeutik
1) Kendalikan factor lingkungan penyebab mual
2) Kurangi atau hilangkan keadaan penyebab mual
3) Berikan makanan dalam jumlah kecil dan menarik
4) Berikan makanan dingin, cairan bening, tidak berbau dan tidak berwarna, jika
perlu
Edukasi
1) Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup
2) Anjurkan sering membersihkan mulut, kecuali jika merangsang mual
3) Anjurkan makanan tinggi karbohidrat dan rendah lemak
4) Ajarkan penggunaan tehnik nonfarmakologis untuk mengatasi mual
Kolaborasi
1) Kolaborasi pemberian antiemetik, jika perlu
5. Deficit pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi ditandai
dengan menunjukan perilaku tidak sesuai anjuran
Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama x24 jam, tingkat pengetahuan
meningkat
Kriteria Hasil :
1) Perilaku sesuai anjuran meningkat
2) Verbalisasi minat dalam belajar meningkat
3) Kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topic meningkat
4) Kemampuan menggambarkan pengaaman sebelumnya yang sesuai dengan topic
meningkat
5) Perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat
6) Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun
7) Persepsi yang keliru terhadap masalah menurun
8) Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat menurun
9) Perilaku membaik
Tindakan :
Observasi
1) Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
2) Identiikasi factor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi
perilaku hidup bersih dan sehat
Terapeutik
1) Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
2) Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
3) Berikan kesempatan untuk bertanya
Edukasi
1) Jelaskan factor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
2) Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
3) Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup
bersih
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad dkk. 2018. HUBUNGAN SINDROMA DISPEPSIA DENGAN PRESTASI BELAJAR


PADA SISWA KELAS XI SMAN 4 BANDA ACEH. Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Kedokteran Biomedis 4(1) : 36-42, Pebruari 2018
Brunner dan Suddarth. 2010. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:EGC
Mansjoer, A, et al. 2010. Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3. Jakarta: Medika aeusculapeus
PGI dan KSHPI. 2014. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Dispepsia dan Infeksi
Helicobacter Pylori. Jakarta: PGI dan KSHPI
PPNI . 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik,
Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan, Edisi 1, Cetakan II. Jakarta: DPP PPNI
PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1, Cetakan II. Jakarta: DPP PPNI.

Anda mungkin juga menyukai