Anda di halaman 1dari 3

Ivena Tandiyono

Kode Etik
Kelas B - 031814253041

TUGAS KODE ETIK

Perbedaan Okupasi dengan Profesi

Pada umumnya semua orang yang melakukan pekerjaan disebut okupasi, kecuali

pekerjaan yang mempunyai kriteria khusus disebut profesi. Pekerjaan adalah segala

pengerahan tenaga dan pikiran untuk mendapatkan hasil/kompensasi, sehingga yang

menjadi tujuan adalah nilai ekonomis. Setiap manusia memerlukan biaya untuk

kebutuhan hidupnya, sehingga memerlukan sesuatu yang bernilai ekonomis dan

dilakukan dengan cara bekerja. Okupasi merupakan pekerjaan biasa yang orientasinya

semata-mata hanya pada hasil. Sedangkan profesi adalah pekerjaan yang

membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Profesi

merupakan pekerjaan yang mempunyai kriteria khusus dan butuh keahlian khusus

untuk melakukannya, tidak semata-mata untuk mencari hasil (nilai ekonomis/uang).

Dapat dikatakan profesi adalah spesies dari pekerjaan. Untuk menyandang suatu

profesi tertentu, seseorang harus menguasai suatu pengetahuan tertentu yang

diperoleh baik dengan proses pendidikan maupun pelatihan. Suatu pekerjaan belum

tentu merupakan suatu profesi, tetapi suatu profesi pasti merupakan pekerjaan. Ciri-

ciri okupasi dapat dikatakan sebagai profesi adalah sebagai berikut:

1. Harus mempunyai spesialisasi pekerjaan (pekerjaan tertentu). Jadi, profesi itu

bukan pekerjaan yang melaksanakan berbagai jenis pekerjaan, tetapi fokus

pada pekerjaan tertentu. Misalnya, notaris adalah spesialisasi pekerjaan dalam

pembuatan akta.

2. Mempunyai keahlian dan keterampilan, karena inilah yang menggerakkan

penguasaan ilmu ke dalam praktek. Terdapat 3 tingkatan ilmu, yaitu kognitif,


Ivena Tandiyono
Kode Etik
Kelas B - 031814253041
afektif, dan psikomotorik. Kognitif berarti seseorang menguasai ilmu, ia

mengetahui segala peraturannya. Afektif berarti seseorang memahami bahwa

ilmu tersebut adalah kebenaran dan meyakininya dalam hati. Sedangkan

psikomotorik berarti menggerakkan indera untuk melakukan sesuatu sesuai

dengan keyakinannya. Keahlian diperoleh secara kognitif, misalnya untuk

menjadi Notaris harus menempuh pendidikan Magister Kenotariatan.

Keterampilan diperoleh secara psikomotor, misalnya untuk menjadi Notaris

harus menjalankan magang selama 24 bulan.

3. Pekerjaan itu harus dilakukan dengan tetap dan terus-menerus. Misalkan,

profesi notaris tetap sampai notaris tersebut pensiun (berumur 65 tahun).

4. Profesi merupakan pelayanan dan bukan imbalan semata, misalnya dalam

Pasal 37 UUJN dinyatakan Notaris wajib memberikan jasa hukum di bidang

kenotariatan secara cuma-cuma kepada orang yang tidak mampu. Jadi Notaris

dilarang menolak masyarakat yang tidak mampu.

5. Memiliki tanggung jawab yang tinggi, misalnya Notaris bertanggung jawab

terhadap aktanya seumur hidup.

6. Setiap profesi memiliki organisasi, misalnya INI (Ikatan Notaris Indonesia).

Fungsi dari organisasi INI yaitu menegakkan etika profesi notaris dan

membuat kode etik.

7. Mengedepankan pelayanan, melayani masyarakat, dan pengabdian pada

masyarakat dan negara. Profesi boleh mendapatkan imbalan, tetapi sebagai

profesional perolehan itu tidak boleh disetarakan dengan apa yang

dilakukannya. Imbalan itu bukan tujuan semata.

8. Harus berdasarkan pada moralitas, etika, hal ini terkait dengan kode etik

profesi. Kode etik sebagai pedoman dalam menjalankan tugasnya. Jadi


Ivena Tandiyono
Kode Etik
Kelas B - 031814253041
seseorang yang profesional segala tindakannya harus berdasarkan moral dan

etika, tidak hanya berdasarkan pada hukum semata.

9. Harus bertanggung jawab dan memiliki integritas, melakukan sesuatu yang

baik tanpa harus dilihat oleh siapapun.

10. Memiliki kode etik, yang memuat hal-hal yang baik dan menjadi arah bagi

profesi tersebut terkait apa yang harus dilakukan.

11. Segala tindakan dan pikirannya didasarkan pada kepercayaan. Apabila ada

klien datang pada notaris, menunjukkan bahwa klien tersebut percaya pada

notaris itu. Notaris harus membangun kepercayaan dan tidak boleh menyia-

nyiakannya.

Profesi dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu profesi jabatan dan profesi non

jabatan. Profesi jabatan adalah profesi yang mendapatkan power/gezag dari negara,

dan profesi non jabatan yaitu profesi yang tidak mendapatkan power/gezag dari

negara. Profesi jabatan contohnya adalah notaris, karena notaris memperoleh gezag

dari Negara dan menjalankan kewenangan atau otoritas dari Negara. Hal ini dapat

dilihat dari salinan yang dikeluarkan oleh Notaris terdapat lambang Negara. Notaris

merupakan sebuah profesi yang mendapatkan power/gezag dari Negara untuk

melaksanakan sebagian kewenangan atau tugas dari negara untuk melayani

masyarakat untuk membuat akta. Sedangkan profesi non jabatan contohnya dokter,

dokter tidak menggunakan lambang negara karena tidak melaksanakan kekuasaan dari

negara.