Anda di halaman 1dari 7

UNIVERSITAS INDONESIA

BOSTON CREAMERY, INC.

TUGAS KASUS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk kelulusan Mata Kuliah
Akuntansi Manajemen dan Biaya Lanjutan

KELOMPOK 3 :

Arifatul Ilmi 1906330854


Aqmarina Ishmah Jatmika 1906417602

Dosen : Prof. Dr. Lindawati Gani, S.E., Ak., M.B.A., M.M., CA., FCMA., CGMA.,
CPA.

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI
JAKARTA
SEPTEMBER 2019
JUDUL KASUS : BOSTON CREAMERY

Boston Creamy, perusahaan es krim, menggunakan sistem perencaan keuangan dan


pengendalian baru dengan membandingkan anggaran (budgeted results) dengan hasil aktual
(actual results) yang didapat. Setelah menggunakan sistem ini, Frank Roberts selaku wakil
presiden divisi penjualan dan pemasaran merasa puas setelah melihat laporan laba rugi
perusahaan pada tahun 1973. Jim Peterson, presiden divisi penjualan dan pemasaran, meminta
Frank membuat presentasi mengenai favorable income variance untuk pertemuan manajemen
selanjutnya. Peterson ingin menggambarkan kepada manajemen bagaimana analisis varians
laba dapat menyoroti hal yang perlu perhatian manajemen sehingga dapat dilakukan perbaikan.

Rencana Laba tahun 1973

Perusahaan membuat perencanaan untuk satu tahun berdasarkan pada empat pendekatan,
yaitu:

1. Mengembangkan biaya standar per unit untuk tiap elemen biaya variabel.
2. Membuat perencanaan laba berdasar tingkat aktivitas penjualan. Dalam perencanaan
perlu memperhatikan beberapa faktor :
a. Jumlah hari pada tiap periode
b. Kondisi ekonomi pada area pemasaran
c. Cuaca
d. Antisipasi promosi
e. Kompetitor
3. Menetapkan anggaran biaya tetap berdasarkan keputusan manajemen,
4. Membuat perencanaan laba, dengan menggabungkan margin kontribusi pada step 1
dengan prediksi penjualan pada step 2, lalu dikurangi biaya tetap dari step 3.

Antisipasi penjualan es krim pada tahun 1973 sebesar 11.440.000 galon, dengan market
share 50% sehingga prediksi penjualan gallon pada tahun 1973 sebanyak 5.720.329.
Hasil Aktual tahun 1973

Penjualan es krim ternyata lebih banyak dibanding anggaran, yaitu 5.968.000. Sedangkan
total es krim di area pemasaran juga meningkat, yaitu 12.180 galon.
Analisis Varians Laba tahun 1973

Untuk menganalisis bagian yang perlu dilakukan perbaikan, maka dibuatlah


perbandingan antara anggaran dan hasil aktual. Hasil ini akan dipresentasikan pada manajemen
perusahaan.
Menurut Petersen, analisis sudah bagus namun kurang menunjukkan perbaikan dan sebab
terjadinya perbedaan. Sehingga Petersen menyarankan untuk merinci perbedaan volume
penjualan menjadi bagian yang menyebabkan sales mix, penjualan dan market share, dan
bagian yang mengakibatkan perubahan seluruh volume.
JAWABAN

1. What changes, if any, would you make in the variance analysis schedule proposed by
Frank Roberts? Can the suggestion offered by Jim Peterson be incorporated without
making the schedule “too technical”?
Jawaban:
Pada kasus, analisis varians hanya menggunakan varians laba. Agar analisis lebih rinci,
dapat ditambahkan analisis varians volume. Jadi, Boston Creamery dapat melakukan
analisis varians laba yang terdiri dari varians harga bahan baku, varians tarif tenaga kerja,
dan varians biaya overhead. Boston juga melakukan analisis varians volume yang terdiri
dari varians pemakaian bahan baku, varians efisiensi tenaga kerja, dan varians volume
overhead.

2. Can you speculate about how John Parker might structure the variance analysis report. For
example, Parker felt it was Marketing’s responsibility to set prices so as to recover all
community cost increases.

3. Indicate the corrective actions you would recommend for 1974, based on the profit
variance analysis. Also indicate those areas which deserves commendation for 1973
performance.
Jawaban:
a. Membuat anggaran yang realistis, dengan memperhatikan kemampuan divisi
penjualan dan pemasaran serta divisi produksi.
b. Manajer dapat melaporkan varians yang mungkin terjadi tiap bulannya, terutama yang
melebihi batas wajar agar dapat dianalisis penyebabnya dan diatasi dengan baik.

4. The approach to “profit planning and control” described in the case is still very common
in the 1990s. Many people still consider this approach to be “bread and butter”
management theory. What do you see as the main weakness in this approach to
management? What is your overall assessment of this “management tool”, from a
contemporary perspective?
Jawaban:
Kelemahan pendekatan perencanaan laba dan pengendalian :
a. Pada saat melakukan penyesuaian dan perbaikan anggaran, manajer bisa jadi
terlalu berfokus untuk memikirkan hal ini.
b. Tidak semua kegiatan yang ada dapat dikendalikan oleh anggaran biaya standar
c. Pada saat membandingkan biaya standar dan biaya aktual, dapat muncul
pengeluaran yang tidak terkendali
d. Apabila anggaran biaya standar yang telah dibuat tidak tepat, maka anggaran tidak
dapat digunakan dengan baik karena tidak sesuai.
Anggaran merupakan alat manajemen untuk mencapai tujuannya, baik jangka panjang
maupun jangka pendek. Anggaran juga dapat digunakan dalam pengambilan keputusan,
serta dapat digunakan untuk memotivasi karyawan.