Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH MANAJEMEN BENCANA

“TSUNAMI”

Kelompok 2

1. Ary Kurniati Teuf


2. Cicilia Angelis Gagi
3. Delsi A.P.P. Naramesah
4. Erniati Wunda
5. Loisa J. Metkono
6. Ratna A.I.P. Purandima
7. Astriana Tafui

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah Manajemen Bencana
yang berjudul “Tsunami”.Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Manajemen Bencana dengan menggunakan berbagai buku bacaan dan sumber-
sumber informasi lainnya terkait topik yang dibahas sebagai referensi dan sumber
acuan dalam penyusunannya.

Dalam proses penyusunan nya pun kami menyadari makalah ini masih jauh
dari kata sempurna baik dari segi isi maupun penulisan, sehingga kami mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Akhir kata, kami berharap melalui
makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca mengenai formulasi strategi.

September,2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. i

DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .................................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 3

B. Tujuan .............................................................................................................. 3

BAB II: PEMBAHASAN

A. Pengertian Tsunami ........................................................................................... 4


B. Penyebab Tsunami ............................................................................................ 7
C. Dampak dan Krisis Kesehatan Akibat Tsunami ............................................... 8
D. Manajemen Bencana Tsunami ........................................................................ 11
E. Tsunami Aceh ................................................................................................. 11

BAB III: PENUTUP

A. Kesimpulan .................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 17

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu tsunami?
2. Apa saja penyebab terjadinya tsunami?
3. Apa saja dampak dan krisis kesehatan yang ditimbulkan dari bencana
tsunami?
4. Bagaimana manajemen bencana tsunami?
5. Bagaimana situasi dan manajemen dari bencana tsunami di Aceh?

C. Tujuan
1. Agar pembaca mengetahui apa itu tsunami.
2. Agar pembaca mengetahui apa saja penyebab terjadinya tsunami.
3. Agar pembaca mengetahui apa saja dampak dan krisis kesehatan yang
ditimbulkan dari bencana tsunami.
4. Agar pembaca mengetahui bagaimana manajemen bencana tsunami.
5. Agar pembaca mengetahui bagaimana situasi dan manajemen dari
bencana tsunami di Aceh.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Tsunami berasal dari bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak


lautan “tsu” berarti lautan, “nami” berarti gelombang ombak. Tsunami adalah
serangkaian gelombang ombak laut raksasa yang timbul karena adanya
pergeseran di dasar laut akibat gempa bumi (BNPB No.8 Tahun 2011).
Tsunami adalah gelombang air yang sangat besar yang dibangkitkan oleh
macam-macam gangguan di dasar samudera. Gangguan ini dapat berupa
gempa bumi, pergeseran lempeng atau gunung meletus. Tsunami tidak
kelihatan saat masih berada jauh di tengah lautan, namun begitu mencapai
wilayah dangkal, gelombangnya yang bergerak cepat ini akan semakin
membesar. Tsunami juga sering disangka sebagai gelombang air pasang,
karena saat mencapai daratan gelombang ini memang lebih menyerupai air
pasang yang tinggi daripada menyerupai ombak biasa yang mencapai pantai
secara alami oleh tiupan angin. Namun sebenarnya gelombang tsunami sama
sekali tidak berkaitan dengan peristiwa pasang surut air laut.

Tsunami dapat terjadi setempat atau meluas ke wilayah lain. Besar


kecilnya gelombang tsunami dipengaruhi oleh kedalaman air laut. Makin
dalam air laut, kecepatan gelombang tsunami semakin kencang. Tsunami
merupakan rangkaian gelombang. Gelombang pertama yang datang biasanya
tidak begitu besar dan tidak begitu membahayakan, tetapi beberapa saat
setelah gelombang pertama, akan menyusul gelombang yang jauh lebih besar
serta sangat berbahaya. Setelah tsunami terjadi, gelombangnya merambat ke
segala arah. Selama perambatan ini, tinggi gelombang semakin besar karena
semakin dangkalnya dasar laut.

2
B. Penyebab Tsunami

Tsunami umumnya terjadi akibat gempa bumi bawah laut. Gerakan


vertikal ke atas atau ke bawah kerak bumi menyebabkan dasar laut naik dan
turun secara tiba-tiba, sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya
terganggu. Hal ini menyebabkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika
sampai di pantai menjadi gelombang besar.

Beberapa penyebab tsunami akan dijelaskan, sebagai berikut:

a. Longsoran Lempeng Bawah Laut (Undersea Landslides)


Gerakan yang besar pada kerak bumi biasanya terjadi diperbatasan
antar lempeng tektonik. Celah antara retakan kedua lempeng tektonik
ini disebut dengan sesar (fault). Sebagai contoh, di sekeliling tepian
samudera pasifik yang biasa disebutb dengan lingkaran api (ring of
fire), lempeng samudera yang lebih padat menunjam masuk kebawah
lempeng benua. Proses ini dinamakan dengan penunjaman
(subduction). Gempa subduksi sangat efektif membangkitkan
gelombang tsunami.
b. Gempa Bumi Bawah Laut (Undersea Earthquake)
Gempa tektonik merupakan salah satu gempa yang diakibatkan
oleh pergerakan lempeng bumi. Jika gempa semacam ini terjadi
dibawah laut, air diatas wilayah lempeng yang bergerak tersebut
berpindah dari posisi equilibrium nya. Gelombang muncul ketika air
ini bergerak oleh pengaruh gravitasi kembali ke posisi equilibrium
nya. Apabila wilayah yang luas pada dasar laut bergerak naik ataupun
turun, tsunami dapat terjadi.

3
c. Aktivitas Vulkanik
Pergeseran lempeng didasar laut, selain dapat mengakibatkan
gempa juga seringkali menyebabkan peningkatan aktivitas vulkanik
ada gunung berapi. Kedua hal ini dapat menggoncangkan air laut
diatas lempeng tersebut. Demikian pula, meletusnya gunung berapi
yang terletak didasar samudera juga dapat menaikan air dan
membangkitkan gelombang tsunami.

C. Dampak dan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Tsunami


Pengertian dampak menurut KBBI adalah benturan, pengaruh yang
mendatangkan akibat baik positif maupun negatif. Dampak negatif dari
bencana tsunami adalah :
a. Merusak apa saja yang dilaluinya bangunan, tumbuh-tumbuhan,
dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan
genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air
bersih.
b. Banyak tenaga kerja ahli yang menjadi korban sehingga sulit
untuk mencari lagi tenaga ahli yang sesuai dalam bidang
pekerjaanya
c. Pemerintah akan kewalahan dalam pelaksanaan pembangunan
pasca bencana karna faktor dana yang besar.
d. Menambah tingkat kemiskinan apabila ada masyarakat korban
bencana yang kehilangan segalanya.
Adapun dampak bencana terhadap kesehatan yaitu terjadinya krisis kesehatan,
yang menimbulkan :
a. Korban massal; bencana yang terjadi dapat mengakibatkan korban
meninggal dunia, patah tulang, luka-luka, trauma dan kecacatan
dalam jumlah besar.

4
b. Pengungsian; pengungsian ini dapat terjadi sebagai akibat dari
rusaknya rumah-rumah mereka atau adanya bahaya yang dapat
terjadi jika tetap berada dilokasi kejadian. Hal ini dipengaruhi oleh
tingkat resiko dari suatu wilayah atau daerah dimana terjadinya
bencana (Depkes RI, 2007).
c. Krisis air bersih: gelombang tsunami telah menimbulkan
tercampumya air laut dengan air tawar pada beberapa lokasi.
Tsunami juga menimbulkan masalah kesehatan terkait air bersih,
dan timbulnya gangguan penyakit seperti diare, kolera, dll.

David Batty dan David Callaghan pernah membeberkan penyakit-


penyakit yang mengancam korban tsunami melalui artikel berjudul “Tsunami
health hazards” di The Guardian, yakni kolera, diare, malaria, infeksi dada,
demam berdarah dengue, typhoid, hepatitis A, infeksi vagina, dan penyakit
anak-anak. Kolera merupakan infeksi usus yang disebabkan oleh bakteri, dan
disebarkan oleh air dan makanan yang terkontaminasi. Biasanya, wabah
tersebut disebabkan oleh pasokan air yang tercemar. Penyakit ini merupakan
penyakit yang paling mengancam kesehatan korban tsunami, sebab kolera
bisa menyebabkan diare dan muntah parah. Satu dari 10 pasien kolera
berpotensi menderita dehidrasi, dan rentan terjadi pada anak-anak dan
orangtua. Selain kolera, penyakit yang umum menyerang korban tsunami
adalah diare.

Menurut WHO, malaria juga menjadi penyakit yang mengancam


kesehatan pasca tsunami. Malaria merupakan penyakit yang ditularkan oleh
nyamuk dengan cara menggigit manusia, dan menyuntikkan parasit malaria ke
dalam darah, dan akan menginfeksi hati serta menghancurkan sel darah
merah. Tak hanya itu, WHO juga menyebut infeksi dada sebagai penyakit
yang sering terjadi pada korban tsunami, termasuk penyakit pernapasan ringan
hingga yang berisiko menyebabkan kematian seperti bronkitis akut dan

5
pneumonia. Situs resmi Centers for Disease Control and
Prevention mempublikasikan artikel berjudul “Health Effects of Tsunamis”.
Di situ, tertulis masalah kesehatan utama masyarakat adalah air bersih layak
minum, makanan, tempat tinggal, serta perawatan medis untuk cedera.

Hilangnya tempat tinggal membuat orang rentan terhadap paparan,


serangga, panas, dan berbahaya bagi lingkungan. Selain itu, air yang
terkontaminasi dan kurangnya persediaan makanan dapat menyebabkan
penyakit. Apalagi akses kesehatan mereka telah berkurang. Dalam artikel
berjudul “Tsunamis: Water Quality” yang ada pada Centers for Disease
Control and Prevention menjelaskan bahwa tsunami menciptakan gelombang
air laut yang dapat menyapu area geografis yang luas. Saat air laut menerjang
daratan, air bersih akan bercampur dengan air laut dan berpotensi
terkontaminasi mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit, serta bahan
kimia yang berpengaruh terhadap kesehatan manusia. Mikroorganisme
tersebut berbahaya saat tertelan, meskipun dalam jumlah kecil. Selain itu,
menggunakan air yang terkontaminasi untuk pembersihan luka kecil dan luka
terbuka juga menimbulkan bahaya infeksi. Kontaminan kimia yang terikut
bersama banjir tsunami itu juga berpotensi mencemari sumur. Kontaminan
tersebut dapat berasal dari tangki bahan bakar, atau pestisida. Untuk itu, pasca
tsunami, warga disarankan untuk menguras sumurnya dan memberikan
desinfektan.

D. Manjemen Bencana Tsunami


1. Pra Bencana
a. Pencegahan dan Mitigasi

Mitigasi tsunami merupakan upaya pendekatan yang perlu


segera dilakukan. Wilayah pantai yang merupakan kawasan wisata
umumnya ditempati oleh penginapan, restoran, anjungan wisata, dan

6
juga rumah warga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
diharapkan dapat memberi sosialisasi kepada wilayah pantai demi
pencegahan bahaya dan peningkatan kesiapsiagaan. Dengan
sosialisasi, warga akan memiliki kewaspadaan yang membuat dirinya
sadar berada pada lokasi yang berpotensi bahaya tsunami dan
memahami apa yang perlu dilakukan saat bahaya tersebut berpotensi
akan timbul. Mitigasi juga memerlukan infrastruktur. Pada wilayah
yang rawan tsunami perlu dibangun rambu-rambu keselamatan, peta,
perencanaan dan prosedur evakuasi tsunami. Infrastruktur tersebut
penting dapat terlihat jelas oleh warga ataupun pengunjung.
Infrastruktur tersebut tentunya akan lebih lengkap jika sarana
peringatan juga tersedia. Tidak hanya sirine tsunami, wilayah pantai
juga dapat memadukan pengeras suara lain seperti speaker masjid dan
kentongan sebagai alat pendukung dalam menyebarluaskan informasi.
Dengan tanggap informasi, tanggap peringatan, dan tanggap evakuasi,
maka risiko tsunami dapat dikurangi.
Upaya atau kegiatan dalam rangka pencegahan dan mitigasi
yang dilakukan, bertujuan untuk menghindari terjadinya bencana serta
mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh bencana. Tindakan mitigasi
dilihat dari sifatnya dapat digolongkan menjadi 2 (dua) bagian, yaitu
mitigasi pasif dan mitigasi aktif. Tindakan pencegahan yang tergolong
dalam mitigasi pasif antara lain adalah:
1) Penyusunan peraturan perundang-undangan
2) Pembuatan peta rawan bencana dan pemetaan masalah.
3) Pembuatan pedoman/standar/prosedur
4) Pembuatan brosur/leaflet/poster
5) Penelitian / pengkajian karakteristik bencana
6) Pengkajian / analisis risiko bencana
7) Internalisasi PB dalam muatan lokal pendidikan

7
8) Pembentukan organisasi atau satuan gugus tugas bencana
9) Perkuatan unit-unit sosial dalam masyarakat, seperti forum
10) Pengarus-utamaan PB dalam perencanaan pembangunan

Sedangkan tindakan pencegahan yang tergolong dalam mitigasi


aktif antara lain:
1) Pembuatan dan penempatan tanda-tanda peringatan, bahaya,
larangan memasuki daerah rawan bencana dsb.
2) Pengawasan terhadap pelaksanaan berbagai peraturan tentang
penataan ruang, ijin mendirikan bangunan (IMB), dan
peraturan lain yang berkaitan dengan pencegahan bencana.
3) Pelatihan dasar kebencanaan bagi aparat dan masyarakat.
4) Pemindahan penduduk dari daerah yang rawan bencana ke
daerah yang lebih aman.
5) Penyuluhan dan peningkatan kewaspadaan masyarakat.
6) Perencanaan daerah penampungan sementara dan jalur-jalur
evakuasi jika terjadi bencana.
7) Pembuatan bangunan struktur yang berfungsi untuk mencegah,
mengamankan dan mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh
bencana, seperti: tanggul, dam, penahan erosi pantai, bangunan
tahan gempa dan sejenisnya.
Adakalanya kegiatan mitigasi ini digolongkan menjadi mitigasi
yang bersifat non-struktural (berupa peraturan, penyuluhan,
pendidikan) dan yang bersifat struktural (berupa bangunan dan
prasarana).

8
b. Kesiapsiagaan
Kesiapsiagaan dilaksanakan untuk mengantisipasi kemungkinan
terjadinya bencana guna menghindari jatuhnya korban jiwa, kerugian
harta benda dan berubahnya tata kehidupan masyarakat. Upaya
kesiapsiagaan dilakukan pada saat bencana mulai teridentifikasi akan
terjadi, kegiatan yang dilakukan antara lain:
1) Pengaktifan pos-pos siaga bencana dengan segenap unsur
pendukungnya.
2) Pelatihan siaga / simulasi / gladi / teknis bagi setiap sektor
Penanggulangan bencana (SAR, sosial, kesehatan, prasarana
dan pekerjaan umum).
3) Inventarisasi sumber daya pendukung kedaruratan
4) Penyiapan dukungan dan mobilisasi sumberdaya/logistik.
5) Penyiapan sistem informasi dan komunikasi yang cepat dan
terpadu guna mendukung tugas kebencanaan.
6) Penyiapan dan pemasangan instrumen sistem peringatan dini
(early warning)
7) Penyusunan rencana kontinjensi (contingency plan) Mobilisasi
sumber daya (personil dan prasarana/sarana peralatan).
c. Tanggap Darurat
Tahap Tanggap Darurat merupakan tahap penindakan atau
pengerahan pertolongan untuk membantu masyarakat yang tertimpa
bencana, guna menghindari bertambahnya korban jiwa.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat
meliputi:
1) Pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan,
kerugian, dan sumber daya;
2) Penentuan status keadaan darurat bencana; 3. penyelamatan dan
evakuasi masyarakat terkena bencana;

9
3) Pemenuhan kebutuhan dasar;
4) Perlindungan terhadap kelompok rentan; dan
5) Pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital.
d. Pemulihan
Tahap pemulihan meliputi tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Upaya yang dilakukan pada tahap rehabilitasi adalah untuk
mengembalikan kondisi daerah yang terkena bencana yang serba tidak
menentu ke kondisi normal yang lebih baik, agar kehidupan dan
penghidupan masyarakat dapat berjalan kembali. Kegiatan-kegiatan
yang dilakukan meliputi:
1) Perbaikan lingkungan daerah bencana;
2) Perbaikan prasarana dan sarana umum;
3) Pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat;
4) Pemulihan sosial psikologis;
5) Pelayanan kesehatan;
6) Rekonsiliasi dan resolusi konflik;
7) Pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya;
8) Pemulihan keamanan dan ketertiban;
9) Pemulihan fungsi pemerintahan; dan
10) Pemulihan fungsi pelayanan publik
Sedangkan tahap rekonstruksi merupakan tahap untuk
membangun kembali sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana
secara lebih baik dan sempurna. Oleh sebab itu pembangunannya
harus dilakukan melalui suatu perencanaan yang didahului oleh
pengkajian dari berbagai ahli dan sektor terkait.
1) Pembangunan kembali prasarana dan sarana;
2) Pembangunan kembali sarana sosial masyarakat;
3) Pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat

10
4) Penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan
peralatan yang lebih baik dan tahan bencana;
5) Partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi
kemasyarakatan, dunia usaha dan masyarakat;
6) Peningkatan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya;
7) Peningkatan fungsi pelayanan publik; atau
8) Peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat.

E. Tsunami Aceh

Pada tanggal 26 Desember 2004, gempa besar Sumatera-Andaman


memicu tsunami besar yang dikenal dengan Tsunami Aceh. Gempa Aceh
tersebut terjadi pada 00:58:53 UTC atau 07:58:53 WIB. Pusat gempa berada
di 3.316 LU dan 95.854 BT pada kedalaman 30 km. Gempa itu disebabkan
oleh gerakan lempeng tektonik secara subduksi dan memicu serangkaian
tsunami yang menghancurkan di sepanjang pantai yang paling barat yang
berbatasan dengan Samudera Hindia. Tsunami Aceh tersebut menewaskan
lebih dari 250.000 orang di empat belas negara dan membanjiri masyarakat
pesisir dengan gelombang sampai 30 meter yang. Magnitudo gempa bumi
yang tercata sekitar 9,1 dan 9,3, itu adalah gempa kedua terbesar yang pernah
tercatat pada seismograf dunia. Berikut ini merupakan data mengenai kejadian
tsunami di Aceh:

1. Tanggal dan Waktu Kejadian : 26 Desember 2004, pukul 7:58:53 WIB


2. Magnitudo Gempa : 9.0 SR
3. Sumber Tsunami : Barat Daya Banda Aceh, Sumatera
4. Lokasi : 3.316 LU, 95.854 BT
5. Tinggi Gelombang (m) : 5-10 Meter
6. Korban Meninggal : 166.080 (Aceh), 227.898 (samudera
hindia)

11
Catatan pengamatan:

1. Air laut surut selama 30 menit setelah gempa, kemudian gelombang


tsunami pertama datang.
2. Gelombang pertama datang jam 08.42 ( 44 menit setelah gempa).
Gelombang kedua tiba jam 08.53 (lebih besar). Gelombang kedua tiba jam
09.15 (paling besar). Kota Banda Aceh yang luluh lantak akibat gempa
berkekuatan 9 SR semakin mudah dihempas gelombang tsunami dan
dibawanya jauh ke darat .
3. Rumah-rumah yang terletak di dekat pantai umumnya tersapu rata kecuali
beberapa masjid. Puing-puing dari rumah-rumah yang hancur tersebut
terbawa masuk dan diendapkan di dalam kota. Mobil-mobil terseret dan
mengapung. Perahu-perahu nelayan dan kapal bertonase besar terhempas
jauh ke arah darat. Rumah tanpa tulang beton hancur tersapu tsunami.
Sementara bangunan dengan struktur beton dan bertingkat relatif dapat
bertahan.
4. Ketinggian genangan tercatat di beberapa lokasi: Lhokruet (Kabupaten
Aceh Selatan): 10 m, Lhoknga (Kabupaten Aceh Barat): 30 m, Kota
Banda Aceh: 9 m, Krueng Raya: 5 m (Kabupaten Aceh Besar), Panteraja
(Kabupaten Aceh Timur): 4,5 m.
5. Jalan: Beberapa jalan aspal tergerus tsunami. Sebagian jalan raya Banda
Aceh-Meulaboh hilang tergerus tsunami
6. Jembatan: Di Banda Aceh, beberapa jembatan hancur, salah satunya di Jl.
Iskandar Muda dan yang menuju ke Lhok Nga. Jembatan Lhok Nga yang
memiliki panjang bentangan utama 20 m dan bentangan tambahan 10 m
terbuat dari rangka besi galvanis roboh ke sungai dihantam gelombang
tsunami. Di sepanjang jalan raya Meulaboh-Banda Aceh beberapa
jembatan hancur terhempas tsunami.

12
7. Pelabuhan: Umumnya struktur pelabuhan besar maupun kecil di Banda
Aceh dan Krueng Raya termasuk pelabuhan pabrik semen di Lhok Nga
mengalami kerusakan tetapi masih dapat difungsikan. Sebagian platform
pelabuhan hanyut terbawa tsunami tetapi pondasinya masih bertahan.
Pembangkit listrik: Pembangkit listrik utama di banda Aceh tidak
terpengaruh oleh goncangan gempa maupun tsunami. Tetapi, tiang-tiang
dan kabel distribusi tumbang dan putus. . Kapal PLTD apung seberat 2600
ton terseret ke darat sejauh 3,5 km dari asalnya di pantai Ulee Lhee.
8. Telekomunikasi: Menara antenna seluler lepas dari pondasinya dan
tergeser sejauh 2 km dari tempat asalnya. Beberapa fasilitas telepon umum
juga hancur.
9. Air bersih: Unit pengolahan air bersih di Banda Aceh tidak terpengaruh
goncangan gempa maupun hempasan tsunami. Tetapi pipa-pipa distribusi
terputus karena tergerus tsunami.
10. Industri: Pabrik semen yang terletak di dekat pantai di Lhok Nga
mengalami kerusakan parah. Tangki minyak di Kreung Raya (East of
Banda Aceh) rusak dimana beberapa tangki penyimpanan hanyut sejauh 1
km dari tempat asalnya. Tangki-tangki ini terendam sekitar sepertiga dari
tingginya. Kapal tongkang batubara sepanjang 90 meter (Kapasitas 8000
Ton) terseret 160 meter ke darat di Fasilitas pertambangan di Lhok Nga.
11. Korban tewas di Aceh 166.080 orang. Korban hilang di Aceh dan
SUMUT diperkirakan 6.245 orang. Korban luka-luka yang dirawat inap
mencapai 2.507 orang serta ada juga korban yang dirawat jalan. Sekitar
500.000 orang kehilangan tempat tinggal.
Setelah tsunami Aceh, banyak pemerintah dan organisasi non
pemerintah di seluruh dunia datang ke Aceh untuk membantuk membantu
Aceh bangkit kembali. Pemerintah Indonesia membentuk Badan Rehabilitasi
dan Rekonstruksi Aceh – Nias (BRR NAD-Nias) pada tanggal 28 April 2005,
4 bulan setelah tsunami. Badan ini berkoordinasi dengan UN (United Nation)

13
dan NGO lainnya untuk pemulihan dan membangun kembali Aceh dan Nias
pasca tsunami. Menurut laporan 1 tahun kinerja BRR, ada sekitar 50.000
korban tsunami yang masih tinggal di barak dan 67.000 masih di tenda-tenda.
Setelah empat tahun BRR dan NGO lainnya di Aceh dan Nias, mereka sukses
membangun lebih dari 100.000 rumah untuk korban tsunami dan kantor
publik lainnya.
Di negara-negara yang terkena dampak lainnya, LSM juga
memberikan bantuan lokal dan internasional dalam pemulihan dan
membangun kembali rumah-rumah dan bangunan publik. Pemerintah
Indonesia menunjuk Menteri Negara Riset dan Teknologi (Ristek) untuk
bersama-sama dengan enam belas instansi pemerintah terkait,
mengembangkan sistem peringatan dini untuk Indonesia. Untuk membawa ini
ke hasil, Menteri Koordinator di Bidang Kesejahteraan Sosial (Kesra)
mengeluarkan SK No.21/KEP/MENKO/KESRA/IX/2006 tanggal 26
September 2006 perihal “Penunjukan Lembaga Pemerintah sebagai Focal
Point dan Pembentukan dini Peringatan Indonesia. Tim Pengembangan
Sistem “dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi untuk bertindak
sebagai koordinator. Setiap lembaga focal point telah melaksanakan tugas-
tugasnya dan dilaksanakan kegiatan pengembangan sistem peringatan dini.
Sesuai dengan keputusan di atas, focal point adalah :

1. BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) untuk pemantauan seismik,


sistem diseminasi, dan pusat operasi.
2. BPPT (Teknologi Penelitian dan Aplikasi Tubuh) untuk pemantauan
oseanografi dan gempa bumi dan pemodelan tsunami.
3. LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Ilmiah Indonesia) untuk
kesiapsiagaan masyarakat, dan pengembangan ilmu kebumian.
4. Departemen Dalam Negeri (Depdagri) untuk pendidikan / hubungan
masyarakat

14
5. Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) untuk ICT
6. Bakosurtanal (Nasional Pemetaan dan Badan Koordinasi Survey)
untuk pemantauan deformasi kerak dan data geosparsial dan informasi.
7. Kementerian Negara Riset dan Teknologi untuk latihan tsunami, HRD,
workshop / seminar / konferensi.

Upaya mitigasi Struktural yang dilakukan pemerintah dan NGO setelah


tsunami Aceh. Dalam upaya mitigasi bencana tsunami, pemerintah bersama
LSM melakukan sosialisan hutan mangrove. Di Aceh, hutan mangrove
memiliki potensi sekitar 150.000 hektar hutan di sepanjang pantai.
Pemerintah juga membuat tembok pemecah ombak sepanjang pantai. Dekat
ke daerah pantai, BRR dan pemerintah daerah membuat gedung evakuasi. Di
jalan sekitar gedung escape, ada papan sekitar zona bahaya tsunami dan arah
untuk melarikan diri bangunan dan tanah yang tinggi. Untuk mengingatkan
generasi baru di masa depan, monumen dan museum tsunami dibangun di
Aceh. Pada tahun 2008, Pemerintah Aceh dilakukan Tsunami Drill untuk
mengajarkan orang bagaimana untuk bertahan dari tsunami.

15
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

16
DAFTAR PUSTAKA

Sadly, Muhammad,dkk.2018.Katalog Tsunami Indonesia tahun 416-2017. Jakarta:


Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.
Sugito,Nanin Trianawati.(2008).Tsunami.Jakarta
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 4 Tahun 2008
Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana.
Tejakusuma, Iwan G.(2005).Analisis Pasca Bencana Tsunami Aceh.Alami, 10.

17