Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) adalah infeksi saluran pernapasan yang dapat
berlangsung sampai 14 hari. Secara klinis ISPA ditandai dengan gejala akut akibat infeksi
yang terjadi disetiap bagian saluran pernapasan dengan berlangsung tidak lebih dari 14 hari.
Infeksi saluran pernapasan akut merupakan kelompok penyakit yang komplek dan heterogen
yang disebabkan oleh 300 lebih jenis virus, bakteri, serta jamur. Penyebab ISPA antara lain
golongan miksovirus yang meliputi virus influenza, virus pra influenza dan virus campak
(Mega, 2017)
Ada beberapa factor yang dapat mempengaruhi terjadinya ISPA antara lain debu dan
asap. Dalam hal ini lingkungan pabrik merupakan tempat yang sangat potensial terdapat
factor-faktor yang dapat mencetuskan ISPA tersebut khususnya pabrik gula, lingkungan
pabrik, yang lembab dan sedikit terpapar sinar matahari tempat yang ideal berkembangnya
virus, bakteri, dan jamur. Lingkungan yang lembab, ventilasi, dan basah juga dapat
mempengaruhi ISPA (Depkes RI, 2012)
Menurut WHO, ISPA merupakan peringkat ke 4 dari 15 juta penyebab kematian pada
setiap tahunnya. Jumlah tiap tahun kejadian ISPA di Indonesia 150 ribu kasus atau dapat
dikatakan seorang meninggal tiap 5 menit. Pada tahun 2007, prevalensi ISPA di Indonesia
dengan diagnosa gejala (DG) sebesar 25,5 % sedangkan dengan diagnose tenaga kesehatan
(D) sebesar 8,10%. Pencemaran lingkungan khususnya pencemaran udara di provinsi jawa
timur cukup tinggi, peringkat ke 3 di kawasan asia setelah Bangkok dan Jakarta. Keduanya
merupakan penyebab utama penyebaran ISPA. Tingginya tingkat pencemaran udara di jawa
timur menyebabkan ISPA memiliki angka yang paling banyak di derita oleh masyarakat di
bandingkan penyakit lainnya yaitu sebesar 20,55%. Sedangkan pada tahun 2011 di
Indonesia kasus ISPA terbesar terdapat di provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 72,76%,
dan ISPA kedua terbesar terdapat di Provinsi DKI Jakarta sebesar 42,36% dan ketiga di
Provinsi Jawa Barat sebesar 39,11% (Kemenkes RI, 2011). Prevalensi ISPA di Puskesmas
Caringin pada bulan juni sebanyak 148 orang, bulan juli sebanyak 191 orang, bulan agustus
sebanyak 166 orang tahun 2019 total keseluruhan dari bulan juni-agustus sebanyak 505
orang.
Secara umum efek polusi udara terhadap saluran pernapasan dapat menyebabkan
terjadinya iritasi pada saluran pernapasan. Hal ini dapat menyebabkan pergerakan silia
menjadi lambat, bahkan dapat berhenti sehingga tidak dapat membersihkan saluran
pernapasan, peningkatan produksi lendir akibat iritasi oleh bahan pencemar, produksi lendir
dapat menyebabkan penyempitan saluran pernapasan, rusaknya sel pembunuh bakteri di
saluran pernapasan, pembengkakan saluran pernapasan dan merangsang pertumbuhan sel
sehingga saluran pernapasan menjadi menyempit serta lepasnya silia dan lapisan selaput
lendir (Mega, 2017). Akibat dari hal tersebut di atas, akan menyebabkan terjadinya kesulitan
bernapas sehingga benda asing termasuk bakteri atau mikroorganisme lain tidak dapat
dikeluarkan dari saluran pernapasan dan hal ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran
pernapasan (Dewi, 2012).

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka kelompok mengambil
kasus “Asuhan Keperawatan pada An. M.R Pada Sistem Pernapasan Di Puskesmas
Caringin Kota Bandung”.

C. TUJUAN PENULISAN

1. Tujuan Umum
Diharapkan mahasiswa dapat melakukan tindakan keperawatan pada An M.R dengan
ISPA di Puskesmas Caringin Kota Bandung.
2. Tujuan Khusus
a. Diharapkan mahasiswa mampu memahami penyakit ISPA secara teoritis
b. Diharapkan mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada An M.R dengan ISPA
c. Diharapkan mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada An M.R
dengan ISPA
d. Diharapkan mahasiswa mampu menentukan intervensi keperawatan pada An M.R
dengan ISPA
e. Diharapkan mahasiswa mampu melakukan tindakan sesuai dengan perencanaan pada
An M.R dengan ISPA
f. Diharapkan mahasiswa mampu melakukan evaluasi dari tindakan keperawatan pada
An M.R dengan ISPA

D. MANFAAT PENULISAN

1. Manfaat teoritis
Hasil pengkajan asuhan keperawatan pada An M.R dengan ISPA ini diharapkan dapat
menjadi bahan pembalajaran untuk Sekolah Iinggi Ilmu Kesehatan Immanuel Bandung.
dan juga dapat menjadi tolak ukur pihak puskesmas untuk memberikan tindakan
pelayanan asuhan keperawatan pada pasien ISPA yang optimal.
2. Manfaat praktis
a. Bagi profesi keperawatan
Makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai asuhan keperawatan
pada An M.R dengan ISPA di Puskesmas Caringin Kota Bandung
b. Bagi institusi pelayanan kesehatan
Makalah ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan asuhan keperawatan terhadap
pasien maupun keluarga dengan ISPA.

E. SISTEMATIKA PENULISAN

Penyusunan makalah ini terdiri dari lima BAB, ada pun metode penyusunan sebagai berikut:
1. BAB I: pendahuluan
BAB ini akan menjelaskan mengenai latar belakang, perumusan masalah, tujuan
penulisan, dan sistematika penulisan.
2. BAB II: tinjauan teoritis
BAB ini akan membahas teori-teori yang berkaitan dengan pengeRtian, etiologi, anatomi
fisiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan
penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut.
3. BAB III: tinjauan ASKEP
BAB ini akan membahas asuhan keperawatan pada penyakit yang mencakup:
pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi.
4. BAB IV: pembahasan kasus
BAB ini akan membahas kesinambungan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus.
5. BAB IV: penutup
BAB terakhir ini akan membahas simpulan dari isi keseluruhan BAB-BAB sebelumnya
dan saran-saran hasil yang diperoleh yang diharapkan dapat bermanfaat dalam penulisan
selanjutnya.