Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH MIKROBIOLOGI

“Brucella”

Oleh :

Kelompok 7

FAJAR RIZKI 200110110093

HARISA SABATIANA 200110110094

IIP LATIPAH 200110110095

WAHYU TEJAKUSUMA 200110110096

EMILY AYU LUTHFIAN 200110110097

R. FAISAL HILMI 200110110098

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2011/2012
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Brucella merupakan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit brusellosis
pada ternak seperti sapi, kambing, dan manusia. Brucella berbentuk kecil, tidak
bergerak, bersimpai, tak berspora, dan tidak tahan terhadap asam. Morfologi
Brucella adalah kokobasil pendek berukuran 0,5 – 0,7µ × 0,6 – 0,5µ satu persatu
terkadang juga membentuk rantai. Brucella termasuk dalam Gram negatif (Dr. Julius
E.S., 1990).

Satish Gupte, M.D. menyatakan bahwa Brucella akan tumbuh dengan baik
pada suhu 37º dan pH optimumnya 6,6 sampai 7,4. Baik juga pada keadaan
tekanan karbon dioksida yang meningkat serta dipisahkan antara satu dengan yang
lainnya. Pemisahan tersebut biasa dilakukan pada percobaan teknik biokimia dan
serologi. Pada reaksi biokimiawi, bakteri ini katalasa positif, oksidasi positif dan
ureasa positif selain itu juga mereduksi nitrat menjadi nitrit dan tidak ada karbohidrat
yang diragikan.

1.2 Identifikasi masalah

Adapun masalah – masalah yang akan dibahas pada makalah tentang


bakteri Brucella ini diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Klasifikasi bakteri Brucella


b. Bakteri Brucella pada ternak (sapi) dan manusia
c. Tindakan pencegahan / pemberantasan pada ternak dan manusia

1.3 Maksud dan Tujuan

Beberapa maksud dan tujuan pembuatan makalah ini yaitu :

a. Dapat mengetahui apa itu bakteri Brucella


b. Dapat mengetahui akibat bakteri Brucella pada ternak (sapi) dan manusia
c. Dapat mengetahui cara pencegahan penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini
baik kepada manusia maupun ternak (sapi)
II

PEMBAHASAN MATERI

2.1 Klasifikasi Bakteri Brucella

Bakteri Brucella untuk pertama kalinya ditemukan oleh Bruce (1887) pada
manusia dan dikenal sebagai Micrococcus miletensi. Kemudian Bang dan Stribolt
(1897) mengisolasi jasad renik yang serupa dari sapi yang menderita kluron
menular. Jasad renik tersebut diberi nama Brucella abortus bovis. Bakteri Brucella
bersifat gram negatif, berbentuk batang halus, mempunyai ukuran 0,2 - 0,5 mikron
dan lebar 0,4 - 0,8 mikron, tidak bergerak, tidak berspora dan aerobik. Brucella
merupakan parasit intraseluler dan dapat diwarnai dengan metode Stamp atau
Koster.
Bakteri Brucella merupakan salah satu dari jutaan bakteri yag turut ada
dalam kehidupan peternakan maupun kehidupan manusia. Bentuk pada biakan
muda berkisar dari kokus sampai batang dengan panjang 1,2 μm. Yang terbanyak
adalah bentuk kokobasil pendek. Bakteri ini merupakan gram negatif tertapi sering
berwarna tidak teratur, bersifat aerob, tidak bergerak, dan tidak membentuk spora.

Brucella teradaptasi pada kehidupan intraseluler, dan kebutuhan nutrisinya


kompleks. Beberapa strain dapat ditanam pada perbenihan yang terdiri atas asam
amino, vitamin, garam, dan glukosa. Brucella menggunakan karbohidrat tetapi tidak
menghasilkan asam atau gas dalam jumlah yang cukup untuk klasifikasi. Katalase
dan oksidase di hasilkan oleh empat spesies yang menginfeksi manusia . Brucella
secara moderat bersifat peka terhadap panas dan keasaman . dalam susu, bakteri
ini dimatikan dengan pasteurisasi.
Bakteri Brucella menyebabkan penyakit bruselosis. Bruselosis ini lebih
dikenal dengan penyakit zoonosis, karena ditularkan dari binatang kepada manusia.
Biasanya pada manusia, berbentuk seperti, demam, malaise, penurunan berat
badan, tetapi tanpa temuan fisis.

Brucella mempunyai tiga spesies, yaitu: Brucella melitensis, Brucella abortus,


dan Brucella suis. Ketiga spesies Brucella bersifat patogen terhadap manusia,
terutama untuk Brucella melitensis. Brucella melintensis yang paling virulen dan
menyebabkan bruselosis yang berat serta akut sehingga dapat menyebabkan cacat.
Sedangkan Brucella suis, menyebabkan penyakit yang kronik, biasanya berupa lesi
dekstruksi supuratif. Untuk Brucella abortus ini yang bersifat ringan atau taraf
sedang dan jarang sekali yang menyebabkan komplikasi (Dr. Julius E.S.,1990).

Brucellosis di Indonesia dikenal sebagai penyakit reproduksi yang menular


pada ternak, tetapi sebagai penyakit menular pada manusia, penyakit ini belum
banyak dikenal di masyarakat. Hewan yang terinfeksi kuman Brucella dapat
mengalami abortus, retensi plasenta, orchitis dan epididimitis serta dapat
mengekskresikan kuman ke dalam uterus dan susu. Penularan penyakit ke
manusia terjadi melalui konsumsi susu dan produk susu yang tidak dipasteurisasi
atau melalui membrana mukosa dan kulit yang luka. Berat atau ringannya penyakit
tergantung strain Brucella yang menginfeksi.

2.2 Bakteri Brucella Pada Ternak dan Manusia

2.2.1 Bakteri Brucella Pada Ternak

Brucella abortus termasuk dalam genus Brucella. Brucella adalah parasit


obligat pada hewan dan manusia. Ciri khas bakteri ini adalah bakteri ini terletak
intraseluler. Brucella Abortus khususnya menginfeksi sapi. Brucella abortus
merupakan bakteri gram negatif yang sering hidup di daerah peternakan. Bakteri ini
memiliki ciri-ciri, berbentuk batang, bersifat gram negatif, tidak berspora, aerobik,
dan tidak bergerak. Ukuran 0,5-2 mikrometer

Brucellosis adalah penyakit hewan menular yang secara primer menyerang


sapi, kambing, babi dan sekunder beberapa jenis hewan lainnya dan manusia.
Brucellosis pada sapi disebabkan bakteri Brucella abortus. Spesies brucellosis yang
lain diantaranya adalah Brucella suis dan Brucella meletensis juga dapat menyerang
sapi, namun organisme tersebut biasanya hanya terbatas didalam system
retikuloendotelial, serta tidak mengakibatkan gambaran penyakit yang jelas. Abortus
karena Br. abortus umumnya terjadi dari bulan ke-6 sampai ke-9 periode
kebuntingan. Kejadian abortus berkisar antara 5-90% di dalam suatu kelompok
ternak tergantung pada berat ringan infeksi, daya tahan hewan bunting, virulensi
organisme dan faktor-faktor lain (Toelihere, 1985).

Brucellosis yang menimbulkan masalah pada ternak terutama disebabkan


oleh 3 spesies, yaitu Brucella melitensis, yang menyerang pada kambing, Brucella
abortus, yang menyerang pada sapi dan Brucella suis, yang menyerang pada babi
dan sapi.

Terjadinya keguguran setelah kebuntingan 5 bulan merupakan petunjuk


kunci untuk menemukan penyakit ini. Seekor sapi betina setelah keguguran itu
masih mungkin bunting lagi tetapi tingkat kelahiran akan rendah dan tidak teratur.
Sedangkan menurut Akoso (1990), terjadinya keguguran karena penyakit ini
biasanya pada usia kebuntingan 7 bulan. Kemungkinan selaput janin akan tertinggal
lama dan menyebabkan sapi menjadi mandula dalah merupakan gejala penyakit ini.

Pada sapi gejala penyakit brucellosis yang dapat diamati adalah keguguran,
biasanya terjadi pada kebuntingan 5 - 8 bulan, kadang diikuti dengan kemajiran,
Cairan janin berwarna keruh pada waktu terjadi keguguran, kelenjar air susu tidak
menunjukkan gejala-gejala klinik, walaupun di dalam air susu terdapat bakteri
Brucella, tetapi hal ini merupakan sumber penularan terhadap manusia. Pada ternak
jantan terjadi kebengkakan pada testes dan persendian lutut.

Selain gejala utama berupa abortus dengan atau tanpa retensio secundinae
(tertahannya plasenta), pada sapi betina dapat mempperlihatkan gejala umum
berupa lesu, napsu makan menurun dan kurus. Disamping itu terdapat pengeluaran
cairan bernanah dari vagina. Pada sapi perah, brucellosis dapat menyebabkan
penurunan produksi susu.

Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui ingesti makanan dan air yang
terkontaminasi oleh kotoran-kotoran dari alat kelamin hewan yang mengalami
abortus. Disamping itu penularannya dapat juga terjadi melalui selaput lendir mata
dan melalui IB dengan semen terinfeksi. Anak sapi yang menyusu dari induk yang
tertular juga dapat tertulari (Toelihere, 1985).
2.2.2 Bakteri Brucella Pada Manusia

Bakteri Brucella menyebabkan penyakit bruselosis. Bruselosis ini lebih


dikenal dengan penyakit zoonosis, karena ditularkan dari binatang kepada manusia.
Gejala klinis penyakit brucellosis pada manusia yaitu demam, sakit kepala, lemah,
arthralgia, myalgia dan turunnya berat badan. Komplikasi penyakit dapat terjadi
berupa arthritis, endokarditis, hepatitis granulosa, meningitis, orchitis dan
osteomyelitis serta dilaporkan dapat pula mengakibatkan abortus pada wanita hamil.
Diagnosis brucellosis dilakukan dengan isolasi Brucella dalam darah dan urin serta
uji serologis. Pengobatan dengan menggunakan antibiotik dapat diberikan pada
orang yang terinfeksi tetapi memerlukan waktu lama. Kontrol brucellosis pada
manusia dapat dilakukan dengan pengendalian brucellosis pada hewan melalui
program eradikasi yang komprehensif berupa program vaksinasi yang diikuti dengan
eliminasi hewan positif brucellosis secara serologis (Anonimous, 2006).

Brucella ini patogen pada binatang yang dipindahkan pada manusia melalui
kontak yang tidak disengaja dengan kotoran, urin, susu, atau jaringan binatang
tersebut yang terinfeksi. Sumber yang paling sering terjadi pada manusia adalah
pada susu yang tidak dipasteurisasi dan kontak langsung dengan binatang yang
terinfeksi. Hal tersebut, biasanya terjadi pada petani, peternak, atau pekerja di
pemotongan hewan.

Tiap Brucella mempunyai inang khusus tetapi hampir semuanya dapat


menginfeksi semua jenis hewan dan manusia. Mekanisme infeksi pada umumnya
yang terjadi pada manusia adalah menginfeksi saluran pencernaan, selaput lendir
dan kulit. Keju yang terbuat dari susu kambing dan yang tidak dipasteurisasi
merupakan perantara yang paling umum. Setelah masuk ke dalam tubuh, Brucella
difagosit oleh leukosit polimorfonuklear dan makrofag. Brucella yang sudah difagosit,
sebagian memang sudah mati tetapi ada juga yang justru berkembang biak dalam
sel leukosit dan makrofag. Tidak hanya berkembang biak saja, Brucella ini juga
dapat menghancurkan sel tersebut. Kemudian Brucella hidup bebas dalam fagosit
dengan cara menghambat degranulasi yang mengandung mieloperoksidase granula
sehingga dapat mengganggu mekanisme bakterisidal yang tergantung pada
mieloperoksidase (Akmal Sya’roni, 2006).
Brucella berkembang melalui saluran limfe ke limfonodus regional dan jika
tidak tertahan, menyebar ke aliran darah dengan disebarkan oleh organ-organ
parenkhimatous. Nodul granulomatosa yang berkembang menjadi abses terbentuk
dalam jaringan limpatik, hati, limpa, sumsum tulang, dan bagian lain dari system
retikuloendotelial. Pada lesi, pada prinsipnya Brucella sifatnya intraselular dan
Brucella yang ada dalam fagositik terlindungi terhadap antibody dan banyak
antibiotik.
Brucella yang menginfeksi manusia menunjukkan perbedaan dalam
patogenitas. Reaksi jaringan terhadap Brucella adalah pembentukan granuloma oleh
sel-sel epitoloid, sel-sel raksasa, limfosit, sel-sel plasma. B. abortus selalu
menyebabkan penyakit ringan dengan granuloma tanpa perkejuan di dalam hati dan
organ retikuloendotelial lainnya serta tanpa komplikasi nanah. B. suis cenderung
menjadi kronik dengan komplikasi supurasi lokal dan granuloma yang mungkin
mengalami perkejuan bahkan dengan lesi yang bernanah. B. melitensis ini
menimbulkan penyakit yang akut dan yang paling membahayakan karena dapat
menyebabkan cacat (Ahmad H. Asdie, 1999).
Keluhan yang dirasakan pada penderita biasanya badan terasa tidak enak,
demam lemah, dan berkeringat. Demam selalu muncul pada sore hari tetapi turun
saat malam hari disertai keringat yang mengalir deras. Bahkan, disertai dengan
gejala gastrointestinal dan gelisah. Kelenjar limfe membesar dan teraba. Hepatitis
dapat diikuti dengan gejala sakit kuning. Tulang belakang juga terasa nyeri dengan
dugaan osteomielitis. Gejala-gejala tersebut di atas dapat hilang dalam waktu yang
lama meskipun luka dan gejala masih berlanjut.

Setelah infeksi awal, penderita bisa masuk ke stadium kronis, dengan gejala-
gejala seperti badan terasa lemah, demam ringan, adanya kecemasan, dan
manifestasi yang nonspesifik menyerupai gejala psikoneurotik atau keluhan
neuropsikiatri.
Penularan kepada manusia :
 Melalui saluran pencernaan, misalnya minum air susu yang tidak dimasak yang
berasal dari ternak penderita Brucellosis. Susu segar di Indonesia berasal dari
ternak sapi perah. Oleh karena itu ternak sapi perah menjadi obyek utama
kegiatan pemberantasan Brucellosis.

 Melalui selaput lendir atau kulit yang luka, misalnya kontak langsung dengan
dengan janin atau plasenta (ari-ari/bali). Dari sapi penderita Brucellosis.

2.3 Pencegahan Penyakit Brucellosis

2.3.1 Pada Ternak

Usaha-usaha pencegahan terutama ditujukan kepada vaksinasi dan tindakan


sanitasi dan tata laksana. Tindakan sanitasi yang bisa dilakukan yaitu (1) sisa-sisa
abortusan yang bersifat infeksius dihapushamakan. Fetus dan plasenta harus
dibakar dan vagina apabila mengeluarkan cairan harus diirigasi selama 1 minggu (2)
bahanbahan yang biasa dipakai didesinfeksi dengan desinfektan, yaitu : phenol,
kresol, amonium kwarterner, biocid dan lisol (3) hindarkan perkawinan antara
pejantan dengan betina yang mengalami kluron. Apabila seekor ternak pejantan
mengawini ternak betina tersebut, maka penis dan preputium dicuci dengan cairan
pencuci hama (4) anak - anak ternak yang lahir dari induk yang menderita
brucellosis sebaiknya diberi susu dari ternak lain yang bebas brucellosis (5)
kandang-kandang ternak penderita dan peralatannya harus dicuci dan
dihapushamakan serta ternak pengganti jangan segera dimasukkan.

Usaha lainnya untuk mencegah terjadinya perkembangan penyakit bruceollis


adalah memisahkan sapi yang menderita abortus pada tempat yang terisolasi,
menghindari perkawinan antara pejantan dengan betina yang menderita abortus,
jangan memberikan susu pada sapi dengan susu sapi yang menderita abortus,
selalu memperhatikan kebersihan baik kandang maupun peralatan kandang dan
peralatan pemerah yang digunakan, serta melaksanakan vaksinasi secara teratur
(Siregar, 1982). Apabila terjadi abortus akibat Brucella abortus fetus dan placenta
yang digugurkan harus dikubur atau dibakar dan tempat yang terkontaminasi harus
didesinfeksi dengan 4% larutan kresol atau desinfektan sejenis (Toelihere, 1985).
2.3.2 Pada Manusia

Tindakan pencegahan dan pemberantasan brucellosis pada manusia yaitu :

• Susu atau bahan makanan dimasak sebelum dikonsumsi

• Dihindari kontak langsung dengan janin atau plasenta yang mengandung kuman

• Petugas harus menggunakan sarung tangan (plastic glofis) pada saat palpasi
rectal
III

KESIMPULAN

Bakteri merupakan salah satu makhluk hidup yang sangat kecil


(mikroorganisme) yang ada dalam kehidupan kita, baik dalam tubuh kita maupun
pada hal-hal yang lain selain tubuh kita, seperti lingkungan kita. Bakteri Brucella
adalah salah satu bakteri dari jutaan bakteri yang ada dalam kehidupan kita.
Terdapat tiga spesies bakteri Brucella, yaitu Brucella abortus, Brucella suis dan
Brucella meletensis. Spesies Brucella yang menyebabkan penyakit Brucellosis pada
ternak adalah Brucella abortus. Penyakit ini dapat mengakibatkan keguguran pada
ternak atau kehamilan ternak menjadi tidak teratur. Selain itu, penyakit ini dapat
menular kepada manusia melalui kontak langsung seperti pada saat melakukan
palpasi / rectal oleh dokter hewan atau pada saat meminum susu yang tidak
melewati proses pasteurisasi terlebih dahulu.

Cara pencegahan agar penyakit ini tidak berkembang (menular) yaitu dengan
sanitasi kandang, tidak mengawinkan sapi jantan dengan betina yang memiliki
penyakit ini, dan tidak memberikan susu pada anak sapi dari induk yang memiliki
penyakit ini. Adapun pencegahan lainnya agar kita tidak tertular oleh penyakit ini
yaitu dengan memakai peralatan yang lengakap pada saat kontak langsung dengan
ternak dan tidak meminum susu yang tidak melalui proses pasteurisasi.
DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2008. Abortus atau Keluron. http://jogjavet.wordpress.com

http://edis.ifas.ufl.edu/VM026

http://www.indomedia.com/bpost/012007/22/kalsel/lbm7.htm

http://discussofmedical.com/bruselosis

Jawetz, M, 1996,Mikrobiologi Kedokteran, 270-272, EGJ, Jakarta

www.Pojok-Vet.com