Anda di halaman 1dari 3

Antara MPKP Atau MAKP?

Kira-kira awal era 2000-an, dunia keperawatan Indonesia mulai dilanda


demam trend baru, yaitu model praktik keperawatan profesional atau
disingkat MPKP. Gagasan penerapan MPKP ini, bermula dari kesadaran
bahwa sudah saatnya perawat Indonesia mengaplikasikan tatanan model
praktik keperawatan berbasis profesionalitas. Profesional dari sisi sumber
daya manusia, sarana-prasarana, dan yang terpenting profesional dalam
hal mutu asuhan keperawatan yang diberikan pada klien. Implementasi
konsep MPKP, terutama di area keperawatan jiwa, dimotori dan di-
support sepenuhnya oleh Dr. Budi Anna Keliat, M.App.Sc beserta crew
dari FIK UI. Meskipun tidak bisa dibilang mulus-mulus saja, namun
penerapan MPKP lambat laun mulai diadopsi oleh sebagian besar RSJ di
Indonesia, seperti RSJ Bogor, RSJ Magelang, RSJ Lawang, RSJ
Surakarta dan RSJ Semarang. Hasilnya cukup signifikan dalam
meningkatkan kinerja perawat dan mutu layanan keperawatan jiwa.
Setidaknya itu menurut hasil beberapa riset yang rutin dipublikasikan
lewat forum konferensi nasional keperawatan jiwa (KONAS Jiwa) yang
hampir tiap tahun digelar.

Setelah hampir satu dekade penerapan MPKP, mulai muncul pertanyaan-


pertanyaan yang menyoal kata per kata dalam singkatan MPKP. Ada
yang menyoal penggunaan kata model, ada pula yang menyoal kata
praktik, dan ada pula yang menyoal kata profesional. Kata model disoal
karena katanya terlalu berbau laboratoris, prototype, dan tidak untuk
konsumsi publik. Kata profesional disoal karena katanya merendahkan
(baca: menganggap tidak profesional) praktik keperawatan yang telah
dilakukan sebelumnya. Kata praktik, akhir-akhir ini juga disoal karena kata
tersebut dengan identik dengan mahasiswa praktek atau praktek
mahasiswa. Kemudian muncul ide untuk mengganti kata praktik dengan
kata pelayanan, sehingga kepanjangannya berubah menjadi model
pelayanan keperawatan profesional, singkatannya masih tetap MPKP.
Ide paling mutakhir yang gencar dimunculkan adalah mengganti kata
pratik menjadi asuhan, hal ini didasarkan pada beberapa literatur
manajemen keperawatan yang menyebut MPKP dengan istilah MAKP.
Sepintas, ide mengganti kata-kata dalam singkatan MPKP kelihatan
cerdas, kritis dan peka keadaan. Namun benarkah demikian? Mari kita
coba berpikir kritis sejenak.

Kata model tidak perlu diganti, karena harus diakui bahwa memang
terdapat banyak model dalam mengaplikasikan konsep keperawatan.
MPKP hanya salah satu model yang ditawarkan dan dirasa pas dengan
kondisi keperawatan di Indonesia. Kata profesional juga tidak perlu
diganti dengan kata lainnya, karena harus diakui bahwa praktik
keperawatan yang dilakukan sebelumnya memang jauh dari kesan
profesional. Penggunaan kata profesional juga sangat menginspirasi
setiap perawat yang sudah mencoba bekerja dalam format MPKP. Jadi
tidak ada yang salah dengan penggunaan kata profesional dalam MPKP.
Kata praktik juga sama sekali tidak perlu diganti dengan kata pelayanan
atau kata asuhan karena hakikatnya pelayanan keperawatan adalah
praktik keperawatan, yaitu suatu praktik yang diberikan pada klien
berdasarkan keahlian, keterampilan, konsep, teknologi dan tata etika
keperawatan yang dapat dipertanggungjawabkan. Kata praktik
keperawatan sama sekali tidak identik dengan penyebutan untuk praktek
mahasiswa atau mahasiswa praktek di rumah sakit. Kata praktik
bermakna lebih luas karena mewakili jenis pelayanan publik yang
dilakukan oleh kaum profesional, termasuk perawat. Sebagai bukti, lihat
saja profesi kedokteran, mulai dari undang-undangnya disebut undang-
undang praktik kedokteran (bukan pelayanan kedokteran atau asuhan
kedokteran), ketika buka pelayanan mandiri di rumah atau di apotik,
mereka menyebutnya praktik umum atau praktik spesialis. Terakhir, kata
praktik juga tidak perlu diganti dengan kata asuhan karena justru akan
mempersempit lingkup praktik keperawatan. Seperti kita ketahui bahwa
dalam pendekatan MPKP, ada management approach (pendekatan
manajerial, yang menjadi area kepala ruang) dan care delivery approach
(pendekatan asuhan keperawatan, yang menjadi area ketua tim). Jika
kata praktik diganti dengan kata asuhan, maka pendekatan yang
diberikan semata-mata pendekatan asuhan keperawatan, pendekatan
manajerial keperawatan sama sekali tidak diberi tempat. Apa itu yang kita
mau? Masih ingin mengganti MPKP dengan kepanjangan yang lain?
Masih ingin mengganti MPKP menjadi MAKP?

Kesimpulannya tidak ada satu katapun dalam singkatan MPKP yang


harus diganti. Biarkan apa adanya. Karena yang terpenting bukan
menyoal singkatannya, tapi bagaimana mengimplementasikan konsep
MPKP secara optimal, sehingga keperawatan benar-benar menjadi
backbone pelayanan prima dan profesional rumah sakit.