Anda di halaman 1dari 11

PERAN VIRUS Epstein - Barr PADA PENDERITA RINOSINUSITS KRONIS DENGAN POLIP HIDUNG

KAJIAN TERHADAP
KADAR EKSPRESI PROTEIN MMP-9 dan TIMP-1
LUH PUTU INDRAWATI, DR., SP.THT., M.KES
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Rinosinusitis kronis disertai dengan polip hidung adalah suatu penyakit

inflamasi yang melibatkan mukosa hidung dan sinus paranasal, dapat mengenai

satu atau lebih mukosa sinus paranasal dan disertai dengan timbulnya masa lunak

bertangkai, berwarna putih keabu-abuan, jernih, mengandung cairan yang dapat

tumbuh secara tunggal maupun bergerombol pada mukosa hidung dan sinus

paranasal. Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan di bidang Ilmu

Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorok oleh karena mengalami peningkatan

dan memberikan dampak bagi pengeluaran finansial masyarakat serta dapat

mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat.

Rinosinusitis dibagi menjadi kelompok akut dan kronik. Istilah rinosinusitis

kronis digunakan untuk sinusitis yang menetap lebih dari 3 bulan sebagai akibat

dari sinusitis akut yang tidak terkontrol dengan baik atau pengobatan yang tidak

tepat (Piheiro et al. 2001). Rinosinusitis kronik dikelompokkan lagi menjadi

rinosinusitis kronik dengan polip hidung dan tanpa polip hidung. Definisi

tersebut di atas menekankan bahwa sinusitis pada umumnya disertai terjadinya

inflamasi mukosa hidung dan sinus paranasal secara bersamaan. Oleh karena itu

menurut European of Allergology and Clinical Immunology Position Paper on

Rhinosinusitis and Nasal Polyps, penggunaan kata rinosinusitis lebih disarankan

daripada sinusitis (Fokkens et al, 2007).

Etiologi rinosinusitis kronis bersifat multifaktorial meliputi faktor penjamu

(host) baik sistemik maupun lokal, faktor mikrobial dan faktor lingkungan

1
PERAN VIRUS Epstein - Barr PADA PENDERITA RINOSINUSITS KRONIS DENGAN POLIP HIDUNG
KAJIAN TERHADAP
KADAR EKSPRESI PROTEIN MMP-9 dan TIMP-1
LUH PUTU INDRAWATI, DR., SP.THT., M.KES
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

(Fokkens, 2012 ; Singh & Tiwari, 2014). Rinosinusitis umumnya dimulai karena

adanya inflamasi pada mukosa hidung terutama daerah kompleks osteomeatal

atau inflamasi pada mukosa sinus sehingga menyebabkan tertutupnya ostium

sinus paranasal. Tertutupnya ostium sinus paranasal mengakibatkan terganggunya

ventilasi udara dan aliran selimut mukus sehingga terjadi absorbsi oksigen pada

ruang sinus yang menyebabkan tekanan negatif dan hipoksia pada ruang sinus,

akibatnya terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan angiogenesis

yang mengakibatkan transudasi, berkurangnya kekentalan selimut mukus

sehingga kecepatan aliran mukus menurun dan berhenti sama sekali, dan menjadi

media pertumbuhan kuman yang cukup baik (Kennedy, 2004).

European Position Paper on Rinosinusitis and Nasal Polyps 2012

selanjutnya di sebut dengan EPOS 2012 mendefinisikan rinosinusitis kronik

sebagai sumbatan pada hidung disertai meler, ada atau tidak ada rasa sakit atau

penekanan pada wajah, berkurangnya atau hilangnya penciuman yang lebih dari

12 minggu dan dengan pemeriksaan endoskopi dapat disertai atau tanpa adanya

polip hidung dan atau discharge mukopurulen, udem / obstruksi mukosa meatus

medius, pemeriksan CT Scan menunjukkan perubahan pada sinus dan atau daerah

kompleks osteomeatal.

Rinosinusitis dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang serius,

gangguan kualitas hidup yang berat, yang menyebabkan beban keuangan yang

cukup luas pada masyarakat umum, di mana terjadi peningkatan prevalensi

hampir disemua negara dan merupakan penyakit yang paling sering dijumpai.

Sekitar 5-15 % masyarakat kota di Eropa dan USA, menderita rinosinusitis kronik

2
PERAN VIRUS Epstein - Barr PADA PENDERITA RINOSINUSITS KRONIS DENGAN POLIP HIDUNG
KAJIAN TERHADAP
KADAR EKSPRESI PROTEIN MMP-9 dan TIMP-1
LUH PUTU INDRAWATI, DR., SP.THT., M.KES
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

(Alobid et al. 2008). Pada populasi umum, prevalensi penderita rinosinusitis

kronis disertai dengan tumbuhnya polip hidung diperkirakan sekitar 4,3%

(Hedman et al. 1999). Selain itu, pada studi kadaver, prevalensinya di laporkan

sebesar 40% (Laren et al. 1994). Kebanyakan ditemukan pada orang dewasa yang

berusia lebih dari 20 tahun dan jarang ditemukan pada anak-anak berusia dibawah

10 tahun. Perbandingan antara penderita pria dan wanita adalah 2 : 1, biasanya

disertai dengan penyakit asma (7%) (Settipane, 1996).

Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung

dan sinus lainnya berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama

atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit . Dari laporan penelitian

yang ada, angka kejadian rinosinusitis kronik di Indonesia cukup bervariasi.

Penelitian di RS Ciptomangunkusumo Jakarta selama 3 bulan oleh Sucipto

melaporkan angka kejadian sinusitis sebesar 2,8% dari seluruh kunjungan

poliklinik pada tahun 1995, sedangkan periode bulan Januari – Agustus 2005

insidens kasus baru rinosinusitis pada penderita dewasa yang datang berobat ke

divisi Rinologi Departemen THT RS Ciptomangunkusumo adalah 6,9%.

Pada tahun 2004 – 2007 tercatat antara 4,2 – 5,6 % dari jumlah kunjungan

pasien di bagian THT RSUP Dr. Sardjito terdiagnosis sebagai penderita

rinosinusitis kronis dan menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun

2004 dari 13.366 kunjungan pasien poliklinik THT, 565 orang terdiagnosis

sebagai penderita rinosinusitis kronik. Pada tahun 2005 dari 13.507 kunjungan

pasien di poliklinik THT, 578 pasien terdiagnosis sebagai penderita rinosinusitis

kronis, dan pada tahun 2006 dari 13.508 jumlah kunjungan tercatat 607 penderita

3
PERAN VIRUS Epstein - Barr PADA PENDERITA RINOSINUSITS KRONIS DENGAN POLIP HIDUNG
KAJIAN TERHADAP
KADAR EKSPRESI PROTEIN MMP-9 dan TIMP-1
LUH PUTU INDRAWATI, DR., SP.THT., M.KES
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

rinosinusitis kronis. Tahun 2007 meningkat cukup signifikan dari 13.533 pasien,

didiagnosis sebagai penderita rinosinusitis kronis sebanyak 756 orang. Sepanjang

tahun 2010 - 2014 tercatat mengalami penurunan yaitu sebanyak 386 penderita

terdiagnosis sebagai rinosinusitis kronis dan 209 orang diantaranya adalah

penderita rinosinusitis kronis dengan polip hidung. Penurunan jumlah kasus

rinosinusitis ini disebabkan oleh adanya perubahan sistim rujukan oleh

pemerintah mengenai jaminan kesehatan, sehingga penderita yang datang ke

RSUP Dr. Sardjito adalah penderita rinosinusitis yang membutuhkan

penatalaksaan bedah yang lebih kompleks.

Polip hidung adalah suatu lesi jinak pada mukosa hidung dan sinus

paranasal berupa masa lunak yang bertangkai, berbentuk bulat atau lonjong,

berwarna putih keabuan dengan permukaan licin dan agak bening. Dapat tumbuh

tunggal atau multipel, unilateral maupun bilateral. Polip disebabkan oleh

inflamasi kronik mukosa hidung yang menyebabkan hiperplasia reaktif membran

mukosa intranasal, sehingga terbentuk polip. Penyebabnya masih belum diketahui

secara pasti, dahulu diduga bahwa faktor predisposisi timbulnya polip hidung

ialah adanya riwayat alergi atau penyakit atopi, tetapi para ahli sampai saat ini

menyatakan bahwa mekanisme pembentukan polip hidung yang sebenarnya

belum diketahui secara pasti (Vento, 2001 & Kalish, 2012). Menurut Mygind

(1997) terjadinya polip hidung tidak hanya disebabkan oleh satu faktor etiologi,

tetapi multifaktorial. Penatalaksanaan secara medikamentosa maupun bedah

sering memberikan hasil yang tidak memuaskan. Oleh karena itu sampai sekarang

rinosinusitis kronis disertai dengan polip hidung masih merupakan masalah

4
PERAN VIRUS Epstein - Barr PADA PENDERITA RINOSINUSITS KRONIS DENGAN POLIP HIDUNG
KAJIAN TERHADAP
KADAR EKSPRESI PROTEIN MMP-9 dan TIMP-1
LUH PUTU INDRAWATI, DR., SP.THT., M.KES
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

kesehatan, karena angka kekambuhan yang tinggi, walaupun telah diusahakan

berbagai macam cara pengobatan.

Meskipun prevalensi dan morbiditas rinosinusitis kronis disertai dengan

polip masih sangat tinggi, tetapi masih sedikit diketahui tentang mekanisme yang

mendasari patogenesisnya. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tingkat EBV-

induced protein 2 juga meningkat pada penderita polip hidung (p < 0,5) dan

berkorelasi positif terhadap sel B, terjadi peningkatan kadar sel B dan sel plasma

pada jaringan nasal polip dibandingkan pada jaringan orang normal, di duga sel B

memainkan peranan penting dalam patogenesis polip hidung (Hulse et al. 2013).

Epstein-Barr Virus (EBV) merupakan virus herpes yang umum

menginfeksi manusia. Penyebaran virus Epstein-Barr antar manusia diperantarai

oleh saliva, dan sekitar 90% populasi dunia terinfeksi oleh virus tersebut. Virus

Epstein-Barr sendiri akan terus bertahan dalam tubuh inang (laten) (Almqvist,

2005). Induksi bahan kimia dan paparan sinar UV akan memicu fase laten EBV

menjadi litik (Jawetz et al. 2007). Salah satu produk virus Epstein-Barr adalah

Epstein-Barr Nuclear Antigen-1 (EBNA-1) dan Latent Membrane Protein-1

(LMP-1). EBNA-1 diketahui selalu diekspresikan oleh virus Epstein-Barr disetiap

tipe infeksi latennya. LMP-1 adalah salah satu protein produk EBV yang diduga

menyebabkan kenaikan regulasi reseptor Epidermal Growth Factor (EGF),

sekresi Interleukin -8 (IL-8) (Hu et al. 1993 cit Hariwiyanto, 2009). Li et al.

(2003) melakukan penelitian tentang peran IL-8 dan didapatkan hasil bahwa IL-8

menyebabkan peningkatan jumlah sel endothelial, proliferasi sel, produksi Matrix

5
PERAN VIRUS Epstein - Barr PADA PENDERITA RINOSINUSITS KRONIS DENGAN POLIP HIDUNG
KAJIAN TERHADAP
KADAR EKSPRESI PROTEIN MMP-9 dan TIMP-1
LUH PUTU INDRAWATI, DR., SP.THT., M.KES
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

Metallo Proteinase (MMP), terutama aktifitas matrix metalloproteinase-9 (MMP-

9) dan matrix metalloproteinase-2 (MMP-2).

Pada penelitian pendahuluan yang telah kami lakukan untuk melihat

ekspresi protein EBNA-1 pada kasus rinosinusitis kronis, didapatkan hasil bahwa

ekspresi protein EBNA-1 tersebut ditemukan positif pada 6 dari 10 kasus polip

yang kami teliti, dengan hasil biopsi pada jaringan polip menunjukkan gambaran

sebukan sel radang, terutama sel neutrofil. Melihat hasil serologi dan penemuan

klinis yang kemudian dibuktikan juga dengan pemeriksaan patologi anatomi,

diduga bahwa virus Epstein-Barr mempunyai peranan yang penting didalam

timbulnya polip pada rinosinusitis kronis (Indrawati, 2009)

Kesimpulan tersebut dirasa masih terlalu awal untuk diutarakan,

mengingat selama ini pertumbuhan polip hidung masih menjadi perdebatan

dikalangan para ahli. Untuk membuktikan dugaan ini, kami melakukan

pemeriksaan imunohistokimiawi untuk melihat ekspresi protein EBNA-1, dan

keseimbangan MMP-9 dan TIMP-1 pada lebih banyak kasus rinosinusitis kronis

dengan polip hidung.

B. Perumusan Masalah

Rinosinusitis kronis khususnya yang disertai dengan timbulnya polip hidung

merupakan penyakit yang cukup tinggi angka kejadiannya dan mengganggu

kualitas hidup penderita serta memerlukan biaya pengobatan yang sangat besar.

Insidensi polip hidung meningkat seiring dengan bertambahnya umur, lebih


6
PERAN VIRUS Epstein - Barr PADA PENDERITA RINOSINUSITS KRONIS DENGAN POLIP HIDUNG
KAJIAN TERHADAP
KADAR EKSPRESI PROTEIN MMP-9 dan TIMP-1
LUH PUTU INDRAWATI, DR., SP.THT., M.KES
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

banyak dialami oleh kaum laki-laki dibanding perempuan (Hamadi, 2004)

Sampai saat ini polip hidung masih merupakan masalah kesehatan oleh karena

angka kekambuhan yang tinggi, walaupun telah diusahakan berbagai macam

pengobatan.

Etiologi polip hidung masih menjadi perdebatan diantara para ahli.

Beberapa faktor predisposisi telah dikemukakan seperti adanya riwayat alergi (1-

5% populasi) tetapi pada pemeriksaan skin prick test ternyata hanya menunjukkan

1% - 2% saja yang positif (Settipane et al. 1977), kondisi medis yang umum

menyertai polip hidung seperti asma (7% populasi), cystic fibrosis , faktor genetik

dan lingkungan (Fokkens et al. 2007 ; Lund, 1995).

Peradangan kronik dan berulang pada mukosa hidung dan sinus paranasal

disebut juga sebagai salah satu etiologi terjadinya polip hidung. Salah satu jenis

mikroorganisme yang dikenal kerap menginfeksi mukosa hidung dan sinus

paranasal dan bersifat menetap adalah virus Epstein-Barr (Tao, 1996). Mengingat

sifat dari virus Epstein-Barr tersebut, maka besar kemungkinan bahwa virus

tersebut menjadi salah satu penyebab timbulnya polip hidung pada penderita

rinosinusitis kronis melalui aktivasi terhadap protein matrix metalloproteinase-9.

Matrix metalloproteinase-9 (MMP-9) diketahui berfungsi mendegradasi

komponen matriks ekstraseluler dan membran basalis. Kenaikan dari kadar matrix

metalloproneinase-9 akan memberikan dampak kerusakan kolagen pada membran

basalis, menyebabkan peningkatan permeabilitas dan udem pada stroma.

Aktifitas ekstraseluler dari matrix metalloproteinase-9 ini diregulasi oleh

tissue inhibitors of matrix metalloproteinase-1 (TIMP-1). Ketidak seimbangan

7
PERAN VIRUS Epstein - Barr PADA PENDERITA RINOSINUSITS KRONIS DENGAN POLIP HIDUNG
KAJIAN TERHADAP
KADAR EKSPRESI PROTEIN MMP-9 dan TIMP-1
LUH PUTU INDRAWATI, DR., SP.THT., M.KES
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

dari dua komponen tersebut dicurigai memiliki peran yang penting pada

pembentukan polip hidung.

C. Pertanyaan Penelitian

1. Apakan protein EBNA-1 dan LMP-1 terekspresi pada polip hidung ?

2. Apakah terdapat hubungan antara ekspresi protein EBNA-1 dan LMP-1

dengan polip hidung ?

3. Apakah terdapat perbedaan keseimbangan ratio ekspresi protein MMP-9 /

TIMP-1 pada penderita rinosinusits kronis dengan polip hidung di

bandingkan pada rinosinusitis kronis tanpa polip hidung ?

4. Apakah ada perbedaan tipe histopatologik polip hidung berdasarkan

klasifikasi Hellquist pada polip hidung penderita Rinosinisitis kronik di

RSUP dr. Sardjito Yogyakarta.

5. Apakah terdapat perbedaan keluhan antara penderita rinosinusitis kronis

dengan polip hidung dan penderita rinosinusits kronis tanpa polip hidung?

D. Keaslian Penelitian

1. Sampai saat ini penelitian terhadap Virus Epstein-Barr banyak dilakukan pada

penderita karsioma nasofaring atau keganasan di daerah kepala dan leher.

Peran Epstein-Barr pada penderita rinosinustis dengan polip hidung belum

banyak dikakukan. Tao et al. (1996) melaporkan bahwa Epstein-Barr terdeteksi

pada kasus polip hidung dengan teknik PCR (69%) dan teknik EBERs (85%).

8
PERAN VIRUS Epstein - Barr PADA PENDERITA RINOSINUSITS KRONIS DENGAN POLIP HIDUNG
KAJIAN TERHADAP
KADAR EKSPRESI PROTEIN MMP-9 dan TIMP-1
LUH PUTU INDRAWATI, DR., SP.THT., M.KES
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

2. Hulse K.E. (2013) melakukan penelitian terhadap jaringan sinus penderita

rinosinusitis kronis dengan polip hidung dan pada orang normal sebagai

kontrol, didapatkan hasil pada penderita rinosinusits dengan polip hidung

terjadi peningkatan ekspresi sel B dan sel plasma dan menariknya bahwa

terjadi juga meningkatnya level EBV-2 induced protein 2 di mana berkolerasi

dengan sel B dan sel plasma. Dapat di simpulkan bahwa virus Epstein-Barr

berperan pada reaksi inflamasi kronis pada penderita rinosinusitis.

3. EBNA- 1 merupakan suatu rangkaian spesifik DNA yang berikatan dengan

fosfoprotein yang dibutuhkan untuk replikasi dan mempertahankan genom

virus Epstein-Barr . Berperan utama dalam mempertahankan infeksi laten virus

Epstein-Barr (Thompson et al. 2004 ).

4. Lie et al. (2003) melakukan penelitian tentang peran IL-8 di mana didapatkan

hasil bahwa IL-8 menyebabkan peningkatan jumlah sel endotel, proliferasi, sel

produksi matrix metallo proteinase (MMP), terutama aktifitas matrix

metalloproteinase-9 dan matrix metalloproteinase-2.

5. Kahveci (2008) melaporkan bahwa tingkat kadar MMP-9 meningkat secara

signifikan dan tingkat kadar TIMP-1 menurun secara signifikan ( p = 0,001)

dalam jaringan polip dibandingkan dengan kontrol tanpa adanya korelasi

antara kadar MMP-9 dan populasi sel-sel inflamasi.

6. Wang (2010) menjelaskan bahwa polimorfisme gen matrix metalloproteinase-

9 mempengaruhi perkembangan rinosinusitis kronis dengan polip hidung

namun tidak menaikkan risiko untuk kejadian berulangnya. Selanjutnya Chen

(2007) mengemukakan keterkaitan antara matrix metalloproteinase-9, matrix

9
PERAN VIRUS Epstein - Barr PADA PENDERITA RINOSINUSITS KRONIS DENGAN POLIP HIDUNG
KAJIAN TERHADAP
KADAR EKSPRESI PROTEIN MMP-9 dan TIMP-1
LUH PUTU INDRAWATI, DR., SP.THT., M.KES
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

metalloproteinase-2, tissue inhibitor metalloproteinase-1, IL-5 dan IL-8 pada

timbulnya polip hidung. Hasilnya adalah IL-5 dan matrix metalloproteinase-9

berperan penting dalam timbulnya polip hidung yaitu terdapat perbedaan

proses regulasi matrix metalloproteinase-9 pada kejadian polip hidung dengan

regulasi matrix metalloproteinase-9 pada proses perbaikan epitel sel sinus.

7. Yeo N et al (2013)., melaporkan bahwa ekspresi MMP-9 pada recurrent nasal

polip lebih tinggi secara signifikan dibanding pada kelompok nonrecurrent

terutama pada stroma dan diduga berperan pada kekambuhan dari polip

hidung .

E. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum :

Penelitian ini bertujuan untuk menganalis peran virus Epstein-Barr terhadap

timbulnya polip hidung pada penderita rinosinusitis kronis.

2. Tujuan Khusus :

a. Menganalis ekspresi protein EBNA-1, LMP-1, MMP-9, dan TIMP-1 pada

polip hidung.

10
PERAN VIRUS Epstein - Barr PADA PENDERITA RINOSINUSITS KRONIS DENGAN POLIP HIDUNG
KAJIAN TERHADAP
KADAR EKSPRESI PROTEIN MMP-9 dan TIMP-1
LUH PUTU INDRAWATI, DR., SP.THT., M.KES
Universitas Gadjah Mada, 2016 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/

b. Menganalis adanya perbedaan keseimbangan ratio ekspresi protein MMP-9

/ TIMP-1 pada penderita polip hidung.

c. Mengkaji keluhan penderita rinosinusitis kronis dengan polip hidung dan

tanpa polip hidung menurut kriteria Task Force (2007).

d. Menentukan tipe histopatologik polip hidung berdasarkan klasifikasi

Hellquist pada polip hidung penderita Rinosinisitis kronik di RSUP Dr.

Sardjito Yogyakarta.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat pada pengembangan ilmu

kedokteran khususnya di bidang rinologi yaitu, didapatkan bukti adanya

hubungan antara infeksi kronis virus Epstein-barr dengan terbentuknya polip

hidung pada penderita rinosinusitis kronis dan mengetahui peran virus Epstein-

Barr melalui ekspresi protein EBNA-1. Pengaruh EBV sebagai salah satu faktor

risiko timbulnya polip hidung melalui peran matrix metalloproteinase-9 (MMP-9)

dan tissue inhibitor metallopreoteinase-1 (TIMP-1) .

Deteksi dini virus Epstein-Barr pada rinosinusitis kronis diharapkan dapat

digunakan sebagai proses skrining rutin pada semua penderita rinosinusitis kronis

untuk memprediksi kemungkinan timbulnya polip hidung dapat, sebagai salah

satu kemajuan terapi dan menentukan prognosis kesembuhan pasien.

11

Anda mungkin juga menyukai