Anda di halaman 1dari 4

C.

Mengonstruksi Nilai-Nilai dalam Novel Sejarah ke dalam Teks


Eksplanasi

Kegiatan 1 – Mengidentifikasi Nilai-Nilai Dalam Novel Sejarah


Nilai-nilai yang terkadung di dalam novel Pangeran Diponogoro adalah sebagai berikut.

1. Nilai Moral (Nilai yang yang dapat memberikan atau memancarkan petuah atau
ajaran yang berkaitan dengan etika atau moral).

Kutipan:
"Hm." Jan Willem van Rijnst menerka-nerka ambisi Danurejo di balik pernyataan
yang kerang-keroh itu. sambil menatap lurus-lurus ke muka Danurejo, setelah
membagi arah pandangannya kepada Raden Mas Sunarko yang sangat tolek, Jan
Willem van Rijnst berkata dalam hati, “Al wie kloekzinnig is,handelt met wetenschap,
maar een zot breidt dwaasheid uit. Deza kakkerlak verwach zeker een geode positie
zodat hij mogelik corruptie kan doen” (yang cerdik akan bertindak dengan
pengetahuan, tapi yang bebal akan membeberkan ketololannya. Kecowak ini pasti
berharap kedudukan yang memungkinkan baginya bisa melakukan korupsi).

Nilai Moral :
Orang yang cerdik akan bertindak dengan pengetahuan, tetapi yang bebal akan
mengumbar kebodohannya.

2. Nilai Budaya (Nilai yang dapat memberikan atau mengandung hubungan yang
mendalam dengan suatu masyarakat, peradaban, atau kebudayaan).

Kutipan :
"Perasaan benci yang direka di dalam piranti kebudayaan, yaitu kesenian, khususnya
wayang dan tembang macapat, daya tahannya luar bias, dan daya serapnya amat
istimewa merasuk dalam jiwa dalam sanubari dalam ruh, sepanjang hayat dikandung
badan."
"Tunggu," kata Jan Willem van Rijsnt, ragu, dan rasanya asan-tak-asan. "Tuan bilang
wayang dan tembang punya napas panjang? Bagaimana caranya Tuan menyimpulkan
itu?"

"Maaf, Tuan Van Rijnst, perlu Tuan ketahui, wayang dan tembang berasal dari leluri
Hindu-Buddha Jawa. Sekarang, setelah Islam menjadi agama Jawa, leluri wayang dan
tembang itu tetap berlanjut sebagai kebudayaan bangsa. Apakah Tuan tidak melihat
itu sebagai kekuatan?"

Nilai Budaya:
Piranti kebudayaan, yaitu kesenian, khususnya wayang dan tembang macapat
merupakan kekuatan bangsa.

3. Nilai Sosial (Nilai yang berkaitan dengan tata pergaulan antara individu dalam
masyarakat)

Kutipan :
Ketika Danurejo II datang kepadanya, dia menyambut dengan bahasa Melayu yang
fasih, sementara pejabat keraton Yogyakarta yang merupakan musuh dalam selimut
dari Sultan Hamengku Buwono II ini lebih suka bercakap bahasa Jawa.

"Sugeng", kata Danurejo II, menundukkan kepala dengan badan yang nyaris bengkok
seperti udang rebus.

Jan Willem van Rijnst bergerak menyamping, membuka tangan kanannya, memberi
isyarat kepada Danurejo untuk masuk dan duduk. Agaknya untuk penampilan yang
berhubungan dengan bahasa Belanda beschaafdheid yang lebih kurang bermakna 'tata
krama santun sesuai peradaban', alih-alih Jan Willem van Rijnst sangat peduli, dan
hal itu merupakan sisi menarik darinya yang jali di antara sisi-sisi lain yang
menyebalkan.

Nilai Sosial :
Nilai sosial dari kutipan di atas tampak pada sikap Danurejo II yang tetap
menghormatinya dan bersikap dengan ramah dan sopan kepada van Rijnst meski
merupakan musuh dari Sultan Hamengkubuwono II. Begitu pula dengan van Rijnst
yang sangat peduli dengan tata krama dalam menyambut tamunya.

4. Nilai Ketuhanan (Nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan atau bersumber
pada nilai-nilai agama).

Kutipan :
Terlebih dulu mestilah dibilang, bahwa Jan Willem van Rijnst adalah seorang
oportunis bedegong. Asalnya dari Belanda tenggara. Lahir di Heerlen, daerah
Limburg yang seluruh penduduknya Katolik. Tapi, masya Allah, demi mencari muka
pada pemegang kekuasaan di Hindia Belanda, sesuai dengan agama yang dianut oleh
keluarga kerajaan Belanda di Amsterdam sana yang Protestan bergaris kaku
Kalvinisme, maka dia pun lantas gandrung bermain-main menjadi bunglon,
membiarkan hatinya terus bergerak-gerak sebagaimana air di daun talas.

Nilai Ketuhanan :
Nilai ketuhanan dalam kutipan di atas adalah van Rijnst adalah seseorang yang bukan
taat beragama, karena van Rijnst beragama Katolik, tetapi ketika di Hindia Belanda,
ia mengikuti agama Protestan.

Kegiatan 2 – Mengaitkan Nilai-Nilai dalam Novel Sejarah dengan


Kehidupan

Nilai-Nilai yang
Nomor Terkandung dalam Jawaban
Novel Sejarah

Nilai moral dalam novel tersebut adalah nilai moral yang baik yakni orang
1 Nilai Moral cerdik dan cekatan bertindak dengan berdasarkan pengetahuan, serta
bertanggung jawab atas keputusan yang telah diambil.

Nilai budaya dalam novel tersebut adalah kesenian Jawa khususnya wayang
2 Nilai Budaya
dan tembang macapat yang digunakan untuk menebar kebaikan.
Nilai sosial dalam novel tersebut adalah tetap bersikap hormat, ramah, dan
3 Nilai Sosial
sopan kepada siapapun termasuk kepada musuh sekalipun.

Nilai ketuhanan dalam novel tersebut adalah perubahan seseorang dalam hal

Nilai Ketuhanan spiritual dimana salah satuh tokoh (Van Rijnst) yang awalanya beragama
4
(Religi) Kristen Katholik dan kurang taat taat beragama, tetapi ketika di Hindia
Belanda ia mengikuti agama Kristen Protestan.

Kegiatan 3 – Menyajikan Nilai Novel Sejarah ke dalam Sebuah Teks


Eksplanasi

Novel sejarah “Pangeran Diponegoro Menggagas Ratu Adil” merupakan salah


satu karya sastra Indonesia yang ditulis oleh Remy Sylado yang berceita tentang kisah
hidup Ontowiryo (Pangeran Dipenogoro kelak). Jika ditelusuri lebih mendalam, ada
beberapa nilai yang bisa kita ambil dari novel ini. Salah satunya adalah kondisi
kehidupan masyarakat yang ditindas oleh penguasa.

Kondisi ini sebenarnya masih sangat relevan saat ini. Hingga kini, masih ada
banyak oknum penguasa atau mereka yang memiliki jabatan tertentu yang merasa dapat
berbuat seenak hati kepada siapapun karena menganggap merada memiliki status yang
lebih rendah darinya. Bahkan tindakan penindasan tersebut tak jarang berlanjut dengan
tindakan represif atau tindakan kriminal lainnya.

Hal inilah yang seharusnya kita cegah untuk terjadi pada saat ini, terutama karena
segala bentuk penindasan pada dasarnya merupakan pelanggaran atas hak asasi manusia.