Anda di halaman 1dari 7

5.

Reformasi Pajak (Tax Reform)

5.1 LATAR BELAKANG REFORMASI PAJAK (TAX REFORMASI)

Sistem perpajakan di Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan atau yang kerap
disebut Tax Reform. reformasi pajak (Tax Reform) adalah perubahan yang mendasar di segala
aspek perpajakan. Setidaknya terdapat lima tahap reformasi perpajakan di Indonesia, yaitu:

1. Tax Reform yang Pertama pada tahun 1983–1985;


2. Tax Reform yang Kedua pada tahun 1997;
3. Tax Reform yang Ketiga pada tahun 1997;
4. Tax Reform yang Keempat pada tahun 2000;
5. Tax Reform yang Kelima pada tahun 2002-2009.

Latar belakang dilakukannya reformasi pajak yang dimulai pada tahun 1983, setidaknya ada
beberapa hal dalam situasi perpajakan nasional pada saat itu yang melatar belakangi adanya
reformasi pajak :

1. Peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku dikala itu adalah sebagai


warisan zaman kolonial Belanda yang pemikiran, dan tujuan yang dibuat pada zaman
tersebut dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan kehidupan bangsa Indonesia yang telah
merdeka dan berdaulat sejak Proklamasi tahun 1945. Pada zaman kolonial, pemungutan
pajak semata-mata dimaksudkan untuk memenuhi kepentingan pemerintah penjajahan.
Sedangkan dalam alam kemerdekaan, pemungutan pajak dijiwai oleh pancasila dan UUD
1945 untuk kemakmuran bangsa;
2. Selain tidak sesuai kehidupan Bangsa Indonesia yang telah merdeka dan berdaulat,
peraturan pajak warisan Hindia Belanda dirasakan tidak memperhatikan azas dan aspek
pemerataan, keadilan, kepastian hukum dan pertumbuhan ekonomi;
3. Performa instansi pajak dan aparatnya yang kurang baik sehingga menimbulkan sikap
masyarakat apatis dan berprasangka jelek terhadap pajak. Baik karena sistem perpajakan
yang ada saat itu bukan saja tidak sesuai dengan perekonomian Indonesia yang makin
modern, tapi juga sangat rumit dan sukar dipahami oleh pemungut pajak maupun oleh
pembayar pajak, maupun sikap moral korup oknum-oknumnya. Dan berlanjut pada
jumlah penerimaan pajak yang belum Optimal dan bisa dikatakan masih minim sekali
terlihat dari jumlah Wajib Pajak yang masih sedikit dengan jumlah penerimaan yang
sedikit pula terlihat dari Jumlah Penerimaan pada tahun anggaran 1983/1984 hanya
sebesar Rp 2,3 trilyun. Serta sampai dengan akhir 1983 tax ratio penerimaan pajak
dengan produk domestik bruto hanya sebesar 6,35% saja.

Disamping kondisi perpajakan di atas, pemicu utama sebagai latar belakang dilaksankannya tax
reform tahap pertama adalah merosotnya harga ekspor minyak bumi pada masa Pasca Oil Boom
yang pada Tahun Anggaran 1981/1982 Harga minyak sebesar US$ 35.00/barrel menurun
menjadi US$ 29.53/barrel pada Tahun Anggaran 1983/1984. Merosotnya harga minyak di pasar
internasional pasca Oil Boom menimbulkan masalah berat bagi perekonomian Indonesia karena
penerimaan sektor migas menurun, defisit transaksi berjalan dan defisit APBN meningkat.
Penerimaan migas dari hasil ekspor menurun 2,0% menjadi US$ 14.449 juta (1983/1984).
Defisit transaksi berjalan meningkat dari US$ 2.888 juta menjadi US$ 4.151 juta (1983/1984).
Defisit APBN meningkat dari Rp 1.938 triliun menjadi Rp 2.742 triliun (1983/1984).

Adapun beberapa alasan lainnya mengapa pemerintah melakukan reformasi pajak, yaitu:

1. Sebagai upaya menstabilkan perekonomian yang tidak menentu karena pengaruh


perekonomian internasional maupun nasional.
2. Sebagai usaha mengalihkan sektor penerimaan APBN dari migas yang semula sebagai
sektor primadona menjadi pajak sebagai sumber yang lebih dapat menjanjikan karena
secara rasional pajak adalah penerimaan yang berkelanjutan tidak seperti migas.
3. Usaha mengikuti ketentuan dunia terutama dalam hal pendanaan (pinjaman luar negeri)
yang mensyaratkan struktur pajak yang ada harus disesuaikan dengan kondisi seharusnya.
4. Meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak.

Harapannya dengan Reformasi Perpajakan, sistem perpajakan akan berintikan kesederhanaan,


menunjang pemerataan dan memberikan kepastian dan keadilan. Sistem perpajakan baru tidak
akan memungut pajak atas keseluruhan masyarakat, tetapi adalah upaya dalam memperoleh
penerimaan negara yang berasal dari hasil pemungutan pajak terhadap perusahaan-perusahaan
besar dan individu yang berpenghasilan.

5.2 TUJUAN REFORMASI PAJAK

Tujuan reformasi perpajakan adalah dalam rangka mewujudkan kemandirian bangsa dalam
membiayai pembangunan nasional dengan jalan lebih mengoptimalkan segenap kemampuan
dalam negeri terutama di bidang perpajakan. Pemerintahtelah menyadari bahwa untuk
membiayai pengeluaran negara baik itu rutin maupun pembangunan pada saat ini dan masa yang
akan datang kita tidak dapat lagi bergantung pada penerimaaan negara dari sumber minyak bumi
dan gas alam maupun utang luar negeri. Oleh sebab itu peningkatan penerimaan pajak
merupakan keharusan bagi terpenuhinya kebutuhan dana bagi pengeluaran negara terutama
pembangunan. Reformasi perpajakan akan memudahkan tercapainya kehendak tersebut.

Reformasi perpajakan memiliki beberapa tujuan, yaitu antara lain untuk:

1. Lebih menegakkan kemandirian Indonesia dalam membiayai pembangunan nasional;


2. Meningkatkan penerimaan pajak dari sektor pajak;
3. Membuat beban pajak akan makin adil dan wajar;
4. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada wajib pajak;
5. Meningkatkan kepatuhan bagi wajib pajak;
6. Menerapkan prinsip konsep good governance, dengan adanya asas transparansi,
responsibility, keadilan dan akuntabilitas dalam meningkatkan kinerja instansi pajak;
7. Meningkatkan penegakan hukum pajak, pengawasan yang tinggi dalam pelaksanaan
administrasi pajak baik kepada petugas pajak maupun kepada wajib pajak.

5.3 PELAKSANAAN REFORMASI PAJAK DI INDONESIA


Sebelum dilakukannya Tax Reform beberapa jenis pajak yang ada di Indonesia adalah
sebagaimana berikut ini:

1. Staatsblad No. 13 Tahun 1908 tentang Ordinasi Rumah Tangga


2. Staatsblad No. 498 Tahun 1921 tentang Aturan Bea Materai
3. Staatsblad No. 291 Tahun 1924 tentang Ordinasi Bea Balik Nama
4. Staatsblad No. 405 Tahun 1932 tentang Ordinasi Pajak Kekayaan
5. Staatsblad No. 718 Tahun 1934 tentang Ordinasi Pajak Kendaraan Bermotor
6. Staatsblad No. 611 Tahun 1934 tentang Ordinasi Pajak Upah
7. Staatsblad No. 671 Tahun 1936 tentang Ordinasi Pajak Potong
8. Staatsblad No. 17 Tahun 1944 tentang Ordinasi Pajak Pendapatan
9. Staatsblad No. 12 Tahun 1947 tentang Pajak Radio
10. Staatsblad No. 144 Tahun 1947 tentang Pajak Pembangunan
11. UU No. 12 Tahun 1952 tentang Pajak Peredaran
12. UU Tahun 1951 tentang Pajak Penjualan yang diubah UU No. 2 Tahun 1968
13. UU No. 21 Tahun 1959 tentang Pajak Deviden yang diubah dengan UU No. 10 Tahun
1967 tentang Pajak atas Bunga, Deviden, dan Royalti
14. UU No. 19 Tahun 1959 tentang Penagihan Pajak Negara dengan Surat Paksa
15. UU No. 74 Tahun 1958 tentang Pajak Bangsa Asing
16. UU No. 8 Tahun 1967 tentang Tata Cara Pemungutan PPd, PKk, dan PPs/ Tata Cara
MPS-MPO

Sejalan dengan tuntutan perubahan zaman dan kebutuhan yang melatarbelakangi, pemerintah
Indonesia telah melakukan berbagai langkah guna mereformasi sistem perpajakan di Indonesia.
Reformasi sistem perpajakan meliputi dua aspek yaitu :
1. Reformasi di bidang kebijakan perpajakan (Tax Policy Reform); melalui Perubahan UU PPh,
Perubahan UU PPN dan PPn Bm, Perubahan UU PBB, Perubahan UU Bea Materai, serta UU
Kepabeanan dan UU cukai. Pada intinya Paket Amandemen Undang-Undang Perpajakan ini
lebih dititik-beratkan pada pemberianrasa keadilan dan kepastian hukum di bidang perpajakan,
yang bertujuan untuk mendorong investasi, serta mengoptimalkan penerimaan perpajakan.
2. Reformasi sistem administrasi perpajakan (Tax Administrative Reform), meliputi :

 Penyempurnaan peraturan pelaksanaan undang-undang perpajakan;


 Pembentukan dan perluasan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) khusus Wajib Pajak (WP)
Besar (Large Tax Payer Office, LTO), diantaranya meliputi pembentukan organisasi
berdasarkan fungsi, pengembangan sistem administrasi perpajakan yang terintegrasi
dengan pendekatan fungsi, dan implementasi dari prinsip-prinsip Good Corporate
Governance;
 Pembangunan KPP khusus Wajib Pajak menengah, dan KPP khusus WP kecil di Kanwil
VI Direktorat Jenderal Pajak;
 Pengembangan basis data, pembayaran pajak dan penyampaian SPT secara online;
 Perbaikan manajemen pemeriksaan pajak; serta
 Peningkatan efektivitas penerapan kode etik di jajaran Direktorat Jenderal Pajak dan
Komisi Ombudsman
Nasional.
Pengertian Hukum Pajak Internasional

Pengertian hukum pajak ini dapat dibagi menjadi tiga bagian dari pendapat ahli hukum pajak,
yaitu:

1. Menurut pendapat Prof. Dr. Rochmat Soemitro, bahwa hukum pajak internasional adalah
hukum pajak nasional yang terdiri atas kaedah, baik berupa kaedah-kaedah nasional
maupun kaedah yang berasal dari traktat antar negara dan dari prinsif atau kebiasaan
yang telah diterima baik oleh negera-negara di dunia, untuk mengatur soal-soal
perpajakan dan di mana dapat ditunjukkan adanya unsur-unsur asing.
2. Menurut pendapat Prof. Dr. P.J.A. Adriani, hukum pajak internasional adalah suatu
kesatuan hukum yang mengupas suatu persoalan yang diatur dalam UU Nasional
mengenai pemajakan terhadap orang-orang luar negeri, peraturan-peraturan nasional
untuk menghindarkan pajak ganda dan traktat-traktat.
3. Sedangkan menurut pendapat Prof. Mr. H.J. Hofstra, hukum pajak internasional
sebenarnya merupakan hukum pajak nasional yang di dalamnya mengacu pengenaan
terhadap orang asing.

Persoalan yang terjadi dalam hukum pajak ini ialah apakah hukum pajak nasional akan
diterapkan atau tidak? Hukum pajak internasional juga merupakan norma-norma yang mengatur
perpajakan karena adanya unsur asing, baik mengenai objeknya maupun subjeknya.

Kedaulatan Hukum Pajak Internasional

Berbicara masalah Hukum Pajak Internasional, khususnya Hukum Pajak Internasional Indonesia
secara umum dapat dikatakan barlaku terbatas hanya pada subjeknya dan objeknya yang berada
di wilayah Indonesia saja. Dengan kata lain terhadap orang atau badan yang tidak bertempat
tinggal atau berkedudukan di Indonesia pada dasarnya tidak akan dikenakan pajak berdasarkan
UU Indonesia. Namun demikian, Hukum Pajak Internasional dapat berkaitan dengan subjek
maupun objek yang berada di luar wilayah Indonesia sepanjang ada hubungan yang erat dalam
hal terdapat hubungan ekonomis atau hubungan kenegaraan dengan Indonesia.

UU No. 7 Tahun 1983 tentang PPh sebagaimana telah diubah dengan UU No. 17 Tahun 2000
(UU PPh) khususnya dalam pasal 26 diatur bahwa terhadap WP luar negeri yang memperoleh
penghasilan dari Indonesia antara lain berupa bunga, royalti, sewa, hadiah dan penghargaan,
akan dikenakan PPh sebesar 20% dari jumlah bruto. Pasal ini menunjukkan bahwa contoh
adanya hubungan ekonomis antara orang asing dengan penghasilan yang diperoleh di Indonesia.

Dalam hukum antar negara terdapat suatu asas mengenai kedaulatan negara yang dinyatakan
sebagai kedaulatan setiap negara untuk dengan bebas mengatur kepentingan-kepentingan rumah
tangganya sendiri, dalam batas-batas yang ditentukan oleh hukum antar negara dan bebas dari
pengaruh kekuasaan negara lain. Sesuai dengan asas yang dimaksud di muak, maka kedaulatan
pemajakan sebagai spesial dari gengsi kedaulatan negera dapat dinyatakan sebagai kedaulatan
suatu negara untuk bertindak merdeka dalam lapangan pajak.
Sumber-sumber Hukum Pajak Internasional

Prof. Dr. Rochmat Soemito dalam bukunya “Hukum Pajak Indonesia, menyebutkan bahwa ada
bebarapa sumber hukum pajak internasional, yaitu:

1. Hukum Pajak Nasional atau Unilateral yang mengandung unsur asing.


2. Trakat, yaitu kaedah hukum yang dibuat menurut perjanjian antar negara baik secara
bilateral maupun multilateral.
3. Keputusan Hakim Nasional atau Komisi Internasional tentang pajak-pajak internasional.

Sedangkan dalam buku “Pengantar Ilmu Hukum Pajak” karangan R. Santoso Brotodihardjo, S.H.
menyatakan bahwa sumber-sumber formal dari hukum pajak internasional, yaitu:

1. Asas-asas yang terdapat dalam hukum antar negara


2. Peraturan-peraturan unilateral (sepihak) dari setiap negara yang maksudnya tidak
ditujukan kepada negara lain.
3. Traktat-traktat (perjanjian) dengan negera lain, seperti:

1. Untuk meniadakan atau menghindarkan pajak berganda.


2. Untuk mengatur pelakuan fiskal terhadap orang-orang asing.
3. Untuk mengatur soal pemecahan laba di dalam hal suatu perusahaan atau seseorang
mempunyai cabang-cabang atau sumber-sumber pendapatan di negara asing.

Terjadinya Pajak Berganda Internasional

Pajak berganda internasional umumnya terjadi karena pada dasarnya tidak ada hukum
internasional yang mengatur hal tersebut sehingga terjadi bentrokan hukum antar dua negara atau
lebih. Velkenbond memberikan pengertian bahwa pajak berganda internasional terjadi apabila
pengenaan pajak dari dua negara atau lebih saling menindih sedemikian rupa, sehingga orang-
orang yang dikenakan pajak di negara-negara yang lebih dari satu memikul beban pajak yang
lebih besar daripada jika mereka dikenakan pajak di satu negara saja. Beban tambahan yang
terjadi tidak semata-mata disebabkan karena perbedaan tarif dari negara-negara yang
bersangkutan, melainkan karena dua negara atau lebih secara bersamaan memungut pajak atas
objek dan subjek yang sama.

Dari pengertian di atas jelas bahwa pajak berganda internasional akan timbul karena atas suatu
objek pajak dan subjek pajak yang sama dikenakan pajak lebih dari satu kali sehingga
menimbulkan beban yang berat bagi subjek pajak yang dikenakan pajak tersebut. Selanjutnya
Prof. Rochmat Soemitro menjelaskan bahwa ada beberapa sebab terjadinya pajak berganda
internasional, yaitu:

1. Subjek pajak yang sama dikenakan pajak yang sama di beberapa negera, yang dapat
terjadi karena:

1. Domisili rangkap
2. Kewarganegaraan rangkap
3. Bentrokan atas domisili dan asas kewarganegaraan.

2. Objek pajak yang sama dikenakan pajak yang sama di beberapa negara.
3. Subjek pajak yang sama dikenakan pajak di negara tempat tinggal berdasarkan atas wold
wide incom, sedangkan di negera domisili dikenakan pajak berdasarkan asas sumber.

Cara Penghindaran Pajak Berganda Internasional

Ada dua cara untuk menghindari pajak berganda internasional, yaitu dengan cara sebagai
berikut:

1. Cara Unilateral

Cara ini dilakukan dengan memasukkan ketentuan untuk menghindari pajak berganda dalam UU
suatu negara dengan suatu prosedur yang jelas. Pengguanaan cara ini merupakan wujud
kedaulatan suatu negara untuk mengatur sendiri masalah pemungutan pajak dalam suatu UU.

2. Cara Bilateral atau Multilateral

Cara Bilateral atau Multilateral dilakukan melalui suatu perundingan antar negara yang
berkepentingan untuk menghindarkan terjadinya pajak berganda. Perjanjian yang dilakukan
secara bilateral oleh dua negara, sedangkan multelateral dilakukan oleh lebih dari dua negara,
yang lebih dikenal dengan sebutan traktat atau tax treaty. Proses terjadinya perjanjian secara
bilateral maupun multilateral tentu akan membutuhkan waktu yang cukup lama karena masing-
masing negara mempunyai prinsip pemajakannya masing-masing sesuai dengan kedaulatan
negaranya sendiri.

Perjanjian Dalam Pajak Berganda Internasional

Perjanjian seperti ini kebanyakan masih berusia muda, dahulu hanya dikenakan persetujuan
persahabatan, persetujuan untuk menetap, persetujuan dagangan dan peretujuan pelayanan yang
kadang-kadang mencakup satu ketentuan yang ada hubungannya dengan beberapa macam pajak
yang kebanyakan mencantumkan klausul tentang keharusan adanya perlakuan yang sama
terhadap penduduk atau penguasa dari negara-negara yang mengadakan persetujuan.

Prosedur dari perjanjian kolektif ternyata sukar untuk dilaksanakan karena bermacam-macam
ragam, sistem dan asas perpajakan di berbagai negara, dan karena lambannya prosedur
perundingan untuk tidak berbicara tentang lambannya atau resikonya pengukuhan oleh kepala
negara-negara peserta perjanjian.

Ketentuan-ketentuan penting yang tercantum dalam perjanjian-perjanjian pajak berganda secara


singkat adalah sebagai berikut:

1. Orang-orang yang dapat menikmati keuntungan dari perjanjian-perjanjian.


2. Pajak-pajak yang diatur dalam perjanjian.
3. Sengketa internasional.
4. arti tempa kediaman fiskal.

Kedudukan Hukum Perjanjian Perpajakan

Bagaimana kedudukan hukum suatu perjanjian perpajakan yang diadakan antara Indonesia
dengan negara lain? Bila ditelusuri dasar hukum bisa diadakannya perjanjian perpajakan antar
negara, maka kita kembali pada konstitusi yaitu pasal 11 ayat (1) UUD 1945 beserta
perubahannya. Mengacu pada dasar hukum tersebut, tentu saja akan memerlukan waktu yang
cukup lama. Oleh karenanya, dengan pertimbangan kepraktisan khusus dalam lalu lintas hukum
internasional antara Indonesia dengan negara-negara lain yang cukup intensif, maka tidak
diperlukan lagi persetujuan DPR tetapi cukup diberitahukan saja.

Berdasarkan ketentuan Pasal 11 UUD 1945 di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan
hukum perjanjian perpajakan adalah sama dengan UU Nasional seperti UU tentang PPh.
Kedudukan hukum perjanjian perpajakan tidak lebih tinggi dari UU Perpajakan Nasional.