Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH


(POTENSI LIMBAH TULANG dan
PEMANFAATAANYA)

Oleh:

KELOMPOK 5 (KELAS : A)

 ANDI WAHIDIN ASRIANTO (607001170)


 ST AISYAH (60700117017)

JURUSAN ILMU PETERNAKAN


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat allah swt. Atas segala rahmat

dan karunia-Nya. Akhirnya kami telah dapat menyelesaikan makalah ini sesuai

dengan uji kopentensi yang sedang kami pelajari. Dalam rangka membuat

mencerdasan bangsa, makalah ini di siapkan dengan keyakinan dan upaya dapat

memberikan pengetahuan bagi pembacanya.

Makalah ini di buat sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan

pembacanya dalam mempelajari tentang TEKNOLOGI PENGOLAHAN

LIMBAH terkhusus LIMBAH TULANG. Sehingga pembacanya dengan mudah

mempelajari tampa harus mencari dari berbagai sumber.

Dalam penulisan makalah ini, kami sebagai penulis menyadari bahwa

masih jauh dari sempurna, maka saya dengan penuh kerendah hati menerima

saran dan keritik yang bersifat membangun. Akhirnya kami tidak lupa

mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga

makalah ini dapat di selesaikan, dengan harapan makalah ini dapat bermanfaat

bagi pembacanya.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN
BAB II TINJAUAN PUSTAK
A. DEFINISI TERNAK
B. PENGERTIAN LIMBAH
BAB III PEMBAHASAN
A. POTENSI LIMBAH TULANG
B. PEMANFAATAN LIMBAH TULANG
C. TEPUNG TULANG AYAM
BAB IV PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semua mahluk hidup memerlukan asupan nutrisi baik manusia, hewan
maupun tumbuhan. Namun ketiga mahluk tersebut saling memiliki keterkaitan
dan saling membutuhkan . manusia membutuhkan makanan baik dalam bentuk
hewani maupun nabati. untuk mencukupi kebutuhan manusia maka dilakukan
pemeliharaan baik tumbuhan maupun hewan.
Ternak adalah hewan yang sengaja dipelihara untuk diambil manfaatnya
yang dibutuhkan manusia sebagai sumber asupan nutrisi. Hewan yang diternakkan
merupakan hasil dari domistikasi atau hewan yang dijinakkan. Hewan yang biasa
dipelihara secara umum dibagi atas ternak ruminansia non ruminansia dan unggas.
Hasil dari ternak terbagi atas 2 bagian daging dan limbah dimana daging
digunakan manusia sebagai makanan sedangkan limbah dari ternak diabaikan
sehingga mencemarkan lingkungan. Pencemaran lingkungan yang diakibatkan
oleh limbah akan berdampak pada kehidupan mahluk hidup termasuk manusia,
hewan dan tumbuhan.
Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh limbah dari ternak sangat
mempengaruhi ekosistem sehingga limbah ini perlu ditangani secara tepat.
Limbah terdiri atas 2 bentuk ada yang berbentuk cair ada pula yang berbentuk
padat. Bentuk padat ataupun cair sangat merugikan lingkungan jika tidak
ditangani dengan benar agar kehidupan menjadi seimbang antara mahluk hidup
dan lingkungan.
Tulang merupakan limbah yang berbentuk padat yang sering dijumpai
sebagai sampah yang tidak bernilai dan dibuang sembarang tempat. Banyaknya
tulang yang berserakan dapat mengganggu kelestarian lingkungan disekitarnya.
Tulang yang dibuang kesungai dapat mencemarkan aiar dan merusak kehidupan
didalam sungai, begitu juga tulang yang ditimbun dapat merusak unsur hara yang
ada dalam tanah. Untuk itu tulang merupakan limbah yang perlu ditangani secara
tepat.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah bagaimana cara
mengatasi limbah tulang serta pemanfaatannya dalam kehidupan masyarakat?
C. Tujuan
Adapun tujuan pada makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara
mengatasi limbah tulang serta pemanfaatannya dalam kehidupan masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Defenisi Ternak
Ternak adalah satu dari sekian banyak ciptaan Allah SWT yang bisa
digunakan itu dari segi daging maupun telur serta bisa untuk keperluan ekonomi
dengan untuk kebutuhan dalam kehidupan manusia seperti sapi, bebek, ayam dan
sebagainya , baik menjualnya. Namun dalam mengkonsumsi hasil dari ternak
tersebut kita haruski memperhatikan dari kualitas dan sehatnya ternak tersebut
supaya memberikan nilai gizi yang baik untuk kita (Astrina dkk, 2010).
Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk mencukupi kebutuhan
manusia, seperti adanya binatang-binatang ternak yang Allah ciptakan untuk
kemashlahatan umat manusia. Pada binatang-binatang ternak terdapat banyak
manfaat yang dapat diambil dan digunakan untuk kelangsungan hidup
manusia. Hal tersebut tersirat dalam surat An-nahl ayat 5 yang berbunyi :
Artinya: Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada
(bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya
kamu makan (QS.An-Nahl:5).

Dalam firman Allah pada lafadz “al-an’aam khalaqahaa lakum” yang


artinya “binatang ternak telah diciptakan untuk kamu’’. Allah telah
menciptakn hewan ternak dan memiliki keistimewaan antara lain memiliki
bulu yang dapat menghangatkan kamu. Dengan demikian penggalan ayat ini
merupakan uraian menyangkut sebagian nikmat Allah kepada manusia yakni
nikmatnya melalui binatang ternak (Shihab, 2002).
Ayam merupakan salah satu jenis unggas yang bisa dimanfaatkan
manusia sebagia hewan ternak untuk dimanfaatkam daging maupun telurnya.
Daging ayam salah satu daging yang paling digemari masyarakat dikarenakan
daging ayam sangat mudah ditemukan termasuk pasar tradisional. Selain dari
itu daging ayam juga relatif murah sehingga masyarakat kalangan ekonomi
bawah dapat membeli dan menikmatinya (Eniza, 2004).
Selain ternak ayam ada pula ternak lain yang sering dipelihara manusia
untuk diambil manfaatnya seperti sapi, kerbau, kambing dan lain-lain. Sapi
Bali (Bos sondaicus) merupakan sapi Bali asli Indonesia yang diduga sebagai
hasil domestikasi (perjinakan) dari banteng liar. Sebagai keturunan banteng, sapi
Bali memiliki warna dan bentuk tubuh persis seperti banteng liar (Guntoro, 2002).
B. Pengertian Limbah
Limbah atau sampah adalah kotoran yang dihasilkan karena pembuangan
sampah zat kimia dari pabrik-pabrik. Limbah padat adalah hasil buangan industri
atau aktivitas domestik yang berupa padatan. Contoh dari limbah padat
diantaranya kertas, plastik, serbuk besi, serbuk kayu, tulang dan lain-lain (Thalib,
2009).
Kebutuhan akan daging sebagai salah satu bahan makanan makin hari
makin meningkat, terutama dikota-kota besar seperti Jakarta. Kebutuhan daging
untuk masyarakat Jakarta dan sekitarnya salah satunya diperoleh dari Rumah
Potong Hewan (RPH) Cakung, sebagai perusahaan daerah milik. Pemerintah
Propinsi DKI Jakarta-Raya. Pada kondisi normal rata-rata pemotongan mencapai
200 - 300 ekor sapi setiap hari saat ini. Sedangkan pada hari- hari besar seperti
Hari Raya Fitri dan Adha, pemotongan pada hari itu bisa mencapai 600 ekor sapi.
Pada masa sebelum krisis, pemotongan sehari-hari mencapai 800 ekor sapi setiap
hari. Limbah yang dihasilkan dari kegiatan pemotongan ternak ini (termasuk
pemeliharaan ternak sementara sebelum di potong ) rata –rata mencapai 40 ton
limbah padat meliputi rumput sisa pakan kotoran sapi dan instrumen sedangkan
limbah cair dipotong) rata-rata mencapai 40 ton limbah padat meliputi rumput
sisa pakan, kotoran sapi dan isi rumen sedangkan limbah cair kurang lebih 300 m3
setiap hari. Pengkajian penanganan limbah RPH dilakukan di Jerman dengan
alasan bahwa negara tersebut mempunyai peraturan yang ketat terhadap limbah
yang dihasilkan (Djoko, 2005).
Dengan peraturan ini tidak hanya karkas (badan ternak), tetapi juga
komponen-komponen seperti darah, rambut, bulu, kulit, tanduk, kuku, tulang, dan
wool harus dibuang ke lembaga khusus penanganan bangkai. Pada kenyataannya
tidak semua bahan- bahan tersebut benar-benar bisa disisihkan secara sempurna,
sebagian tetap akan terbuang melalui saluran limbah bersama dengan limbah
seluruh proses pemotongan hewan. Pada saluran tersebut, bahan-bahan yang
terbawa, disaring dengan saringan kasar seperti lemak, isi rumen dan intestinal
serta kotoran sapi adalah bahan yang mendapat perhatian khusus terhadap
pemotongan ternak yang tidak boleh masuk ke saluran limbah kota yang ada
(Djoko, 2005).
Nilai spesifik bahan yang perlu, telah diamati untuk limbah cair dan padat
selama proses pemotongan dan proses pengolahan daging serta limbah padat yang
tersaring pada proses pemisahan fisik limbah cair. Pola penanganan dan
pembuangan dalam kerangka kerja pengolahan limbah padat dan cair, kombinasi
proses dan prinsip-prinsip alternatif ditampilkan disini, perhatian khusus
diberikan pada konsep baru bahwa proses pendegradasian bahan organik telah
dikaji dengan sukses dengan beberapa bahan baku tetapi belum di standarisasikan
untuk rumah potong hewan (Djoko, 2005).
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Potensi Limbah Tulang
Salah satu permasalahan mendasar yang terjadi pada beberapa RPH
(Rumah Potong Hewan) di Indonesia adalah belum maksimalnya upaya
pemanfaatan hasil ikutan (by product) dari pemotongan ternak yang salah satunya
adalah limbah tulang. Semakin banyaknya peredaran sumber-sumber kolagen
impor dengan sumber bahan baku yang tidak jelas kehalalannya, menjadi salah
satu permasalahan bangsa yang menjadi sebuah prioritas untuk dicari solusinya
secara arif (Astrina dkk, 2010).
Kebutuhan makanan sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia,
terutama makanan yang kaya akan gizi. Salah satu makanan yang mengandung
gizi yang cukup yaitu daging, baik itu daging sapi, kambing ayam dan lain-lain.
Namun saat ini, daging yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat yaitu daging
ayam potong (broiler). Selain dagingnya yang enak, harganya pun relatif murah
dan mudah dijumpai. Terlepas dari itu, daging yang dikonsumsi akan
menyisakan tulang yang nantinya menjadi limbah. Hal ini tentunya menimbulkan
masalah lingkungan akibat sisa tulang yang tidak memiliki nilai ekonomi. Tulang
juga sulit terurai sehingga hanya dapat mencemari lingkungan. Untuk itu
diperlukan alternatif agar limbah tulang dapat bermanfaat dan memiliki nilai
ekonomi.
Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah yang seringkali tidak
dikehendaki kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau
secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia senyawa organik dan senyawa
anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat
berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia
sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah (Astrina dkk, 2010).
Tulang merupakan jaringan penyokong utama tubuh yang struktur
pembentuknya terdiri dari unsur organik dan anorganik. Unsur organik terdiri dari
protein, mukopolisakarida (rantai protein dengan polisakarida berulang), dan
kondroitin sulfat, sedangkan unsur anorganik dalam tulang didominasi oleh ion
kalsium dan fosfor. Selain kalsium dan fosfor, didalam tulang juga terkandung
ion magnesium, karbonat, hidroksil, klorida, fluorida, dan sitrat dalam jumlah
yang lebih sedikit. Sebanyak 65% berat tulang kering terbentuk dari garam-garam
anorganik, sedangkan 35% lainnya terbentuk dari substansi dasar organik dan
serat kolagen. Sebesar 85% dari seluruh garam yang terdapat pada tulang
merupakan kalsium posfat, dan 10% dalam bentuk kalsium karbonat. Lebih
kurang 97% kalsium dan 46% natrium yang ada dalam tubuh terdapat pada tulang
(Singh, 1991).
Salah satu upayah untuk menangani limbah tulang adalah menjadikan
tulang tersebut sebagai tepung tulang. Tepung tulang merupakan bahan makanan
ternak yang dapat dijadikan sebagai sumber mineral, terutama kalsium dan fosfor.
Tepung tulang banyak mengandung garam-garam mineral seperti kalsium
posfat58,3%, kalsiumkarbonat 1,0%,magnesiumposfat 2,1% dan kalsium klorida
1,9% (Eniza, 2004).
Cara pembuatan tepung tulang diawali dengan membersihkan tulang,
kemudian dilanjutkan dengan mengeringkan tulang yang sudah dibersihkan.
Tulang tersebut kemudian dihancurkan hingga menjadi tepung kasar, serpihan-
serpihan tulang tadi direndam dalam air kapur 10% selama semalam, kemudian
dicuci dengan air tawar. Hasil perendaman dikeringkan sampai kadar air 5%
sehingga menghasilkan tepung tulang yang berkualitas (Satria, B. S, dkk, 2012).

B. Pemanfaatan Tulang
Di Indonesia, limbah tulang ternak utamanya tulang sapi, telah
dimanfaatkan melalui pengolahan khusus untuk menjadi berbagai macam
souvenir/cinderamata yang cukup tinggi diminati baik oleh wisatawan domestik
maupun mancanegara. Bagi sebagian kecil petani, tulang sapi ini seringkali diolah
menjadi pupuk yang mampu untuk menyuburkan tanaman dan mensuplai
kebutuhan bahan organik. Limbah tulang ternak juga dapat dibuat menjadi tepung
tulang untuk campuran makanan ternak sebagai sumber kalsium (Ca) dan fosfor
(P). Dewasa ini, tulang ternak utamanya sapi telah diolah lanjut menjadi bahan
baku pembuatan gelatin meskipun masih dengan skala kecil (Rugayah, 2014).
Menurut Sulastri (2002), konsentrasi Na plasma pada tulang sebesar 341,24
mg/100 mL dan 0,10% BK sedangkan K plasma pada tulang sebesar 0,22% BK dan
83,03 mg/100 mL. Menurut Sutejo (1990) bahwa pupuk bubuk tulang mengandung 10%
N, 2,1% P (5% P2O5) dan K 1%. Asam phospat atau yang sering disebut asam
orthophospat dengan rumus kimia H3PO4 adalah asam berbasa tiga deret garam, yaitu
orthophospat primer, misal NaH2PO4; orthophospat sekunder, misal Na2HPO4 dan
orthophospat tersier, misal Na3PO4 (Vogel, 1979). Pada umumnya setiap bahan yang
mengandung phospat cukup banyak dapat dijadikan bahan dasar industri phospat.
Dewan Standarisasi Nasional Indonesia menetapkan beberapa karakteristik mutu
tepung tulang meliputi kadar air, mineral, lemak, dan kotoran pasir tanpa penentuan
kandungan protein.
Tabel 2.3. Karakteristik mutu kandungan tepung tulang mutu I dan II
Syarat
No. Karakteristik
Mutu I Mutu II
1. Kadar air, % (bobot/bobot) maks. 8 8
2. Lemak, % (bobot/bobot) 3 6
3. Kalsium, % (bobot/bobot kering) min. 20 30
4. Posfat sebagai P2O5, % (bobot/bobot kering) maks. 20 20
5. Kadar pasir/silika, % (bobot/bobot kering) maks. 1 1
6. Kehalusan (mesh 25), % (bobot/bobot kering) maks. 90 90
7. Kadar posfat, % (bobot/bobot kering) 8 8
Sumber: SNI 01-3158-1992
Tepung tulang merupakan salah satu bahan baku pembuatan pakan ternak
yang terbuat dari tulang hewan. Tulang yang akan dijadikan tepung haruslah
tulang yang berasal dari hewan ternak dewasa dan biasanya berasal dari tulang
hewan berkaki empat seperti tulang sapi, kerbau, babi, domba, kambing, dan
kuda. Tepung tulang dijadikan sebagai salah satu bahan dasar pembuatan pakan
karena mengandung mineral makro yakni kalsium dan posfor serta mineral mikro
lainnya. Kalsium dan fosfor sangat diperlukan oleh hewan karena memiliki
peranan dalam pembentukan tulang dan kegiatan metabolisme tubuh. Fungsi
mineral bagi hewan ternak antara lain menjaga keseimbangan asam basa dalam
cairan tubuh, sebagai khelat, sebagai zat pembentuk kerangka tubuh, sebagai
bagian aktif dalam struktur protein, sebagai bagian dari asam amino, sebagai
bagian penting dalam tekanan osmotik sel pendukung aktivitas enzim, dan
membantu mekanisme transportasi dalam tubuh (Murtidjo, 2001).
Tepung tulang digunakan sebagai sumber kalsium, terutama bagi unggas
yang sedang bertumbuh dan unggas petelur. Kegunaan tepung tuang didalam
ransum sebagai sumber calcium kerap kali dikombinasikan dengan tepung
kerang.Hal ini dilakukan untuk menjaga palatabilitas ransum. Sebagai sumber
kalsium dan fosfor, tepung tulang mengandung fosfor 12% hingga 15% dan
calcium 24% hingga 30%; jumlah yang jauh lebih besar dari pada kandungan Ca
dan P pada tepung ikan dan limbah rumah jagal. Tepung ikan bukan berarti ikan
utuh yang dikeringkan lalu digiling. Sebagaimana dikemukakan bagian yang
utama untuk konsumsi manusia dan untuk ternak diambil sisa-sisa atau buangan
yang tidak dikonsumsi lagi oleh manusia. Tepung ikan yang digunakan ini berasal
dari sisa-sisa pengolahan industry makanan ikan untuk manusia. Secara umum
tepung ikan berkualitas baik mengandung protein kasar antara 60% sampai 70%
dan merupakan sumber lysine dan methionine yang baik (Rasyaf, 1990).
Tepung tulang berbentuk serpihan (tepung) berwarna coklat dengan tekstur
yang kasar jika dirasakan, dengan aroma yang khas sesuai dengan bahan yang
digunakan, tetapi ada juga yang tidak berbau. Sekilas memang mirip dengan
tepung MBM tetapi kandungan nutrisi yang jelas berbeda. Berasal dari tulang
hewan ternak yang sehat (tidak memiliki virus atau rabies, anthraks, dan penyakit
lainnya yang membahayakan apabila dikonsumsi) dan yang telah dibersihkan
darisisa-sisa daging yang diproses sehingga dapat berbentuk tepung, berwarna
coklat dengan tekstur kasar. Dalam pembuatan pakan, tepung tulang tidak perlu
banyak digunkan, dengan kata lain tepung tulang merupakan suatu pelengkap
dalam pembuatan pakan guna melengkapi mineral yang ada dalam pakan.
Biasanya tepung tulang digunakan sebagai pendamping bagi tepung ikan yang
kaya protein karena mineral merupakan bagian yang tidak dibutuhkan terlalu
banyak tetapi harus ada dalam ransum pakan (Retnani, 2011).
C. Tepung Tulang Ayam
Data dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan hewan,
Kementrian Pertanian Republik Indonesia, menunjukkan perkiraan populasi ayam
pedaging di Indonesia selama 5 tahun secara nasional berturut-turut 892 juta ekor
(2007), 902 juta ekor (2008), 1 milyar ekor (2009), 987 juta ekor(2010) dan 1
milyar ekor (2011). Meski demikian, jumlah tersebut masih belum bisa menutupi
permintaan pasar daging asal unggas (Fadilah, 2013).
Tulang ayam adalah limbah padat yang dalam kehidupan sehari-hari dapat
diasumsikan sebagai sampah atau sisa makanan yang sampai saat ini
pemanfaatannya masih minim. Secara kimia komposisi utamanya adalah garam-
garam terutama kalsium karbonat dan kalsium fosfat Serbuk tulang ayam
memiliki potensi sebagai adsorben. Pemanfaatan ini memberikan dampak positif
terhadap penanggulangannya sebagai sampah mengingat konsumsi daging ayam
di restoran-restoran umum atau cepat saji serta dalam industri katering cukup
besar (Darmayanto, 2009).

Tulang masih merupakan sumber utama fosfor dan asam phospat, tetapi
sampai saat ini pemanfaatanya masih sangat terbatas untuk campuran pupuk,
makanan ternak, lem, dan gelatin. Akibatnya banyak tulang yang terbuang begitu
saja sebagai limbah yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.
Penyusunan tulang terdiri dari senyawa organik dan senyawa anorganik. Senyawa
organik dalam tulang terdiri atas protein dan polisakarida, sedangkan senyawa
anorganik dalam tulang terdiri dari garam-garam phospat dan karbonat. Menurut
Capah (2006), komposisi tulang bervariasi tergantung pada umur hewan, status,
dan kondisi makanannya, dimana tulang yang normal mengandung kadar air
(45%), lemak (10%), protein (20%), dan abu (25%).
Tabel 2.2. Komposisi Tulang Ayam Kerangka Binatang
No. Komponen Kandungan (%)
1. Kalsium 24 – 30
2. Fosfor 12 – 15
3. Lemak 1,2 – 2y6,9
4. Zat organik 28,0 – 56,3
Sumber: Retno, 2012
Fosfor merupakan mineral kedua terbanyak di dalam tubuh setelah
kalsium, yaitu 1% dari berat badan. Kurang lebih 85% fosfor di dalam tubuh
terdapat sebagai garam kalsium fosfat, yaitu bagian dari Kristal hidroksiapatit di
dalam tulang dan gigi yang tidak dapat larut (Syarfaini, 2012). Fosfor yang
terdapat bebas di alam, terutama di air, dominan berada di dalam bentuk senyawa

PO43- (phosphate; fosfat). Karena itu penggunaan istilah ‘fosfat’ lebih umum
digunakan (Dewi dan Masduqi, 2003).
Selain zat anorganik juga terdapat zat organik salah satunya yaitu kolagen.
Kolagen merupakan protein fibriler/skleroprotein yang struktur molekulnya
serabut (Winarno, 2002). Pemanasan serat kolagen dalam air sampai 60°-70° C
dapat memperpendek sampai 1/3-1/4 dari panjang asalnya. Jika suhu dinaikkan
sampai 80°C, kolagen akan berubah menjadi gelatin (Deman, 1997).
Limbah tulang ayam berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai tepung tulang
yang kaya akan kalsium dan fosfor karena dalam tulang ayam terdapat sekitar
28,0-56,3% zat anorganik termasuk di dalamnya kalsium dan fosfor (Retno,
2012). Kalsium (Ca) merupakan elemen ke-5 terbanyak sekaligus kation
terbanyak dalam tubuh manusia dan hewan (Hidayat, 2012). Kalsium dibutuhkan
untuk proses pembentukan dan perawatan jaringan rangka tubuh serta beberapa
kegiatan penting dalam tubuh seperti membantu dalam pengaturan transport ion-
ion lainnya ke dalam maupun ke luar membran, berperan dalam penerimaan dan
interpretasi pada impuls saraf, pembekuan darah dan pemompaan darah, kontraksi
otot, menjaga keseimbangan hormon dan katalisator pada reaksi biologis
(Trilaksani dkk, 2006).
Cara pembuatan tepung tulang yang berasal dari paha ayam yaitu, tulang
paha ayam broiler direbus dan dibersihkan. Setelah dibersihkan, dilakukan proses
penghilangan lemak (degreasing) dengan cara dimasak selama 30 menit pada suhu

80oC kemudian tulang ditiriskan dan dijemur di bawah sinar matahari selama 1
jam. Tulang dipotong dengan ukuran ±2 cm. Tulang ditimbang sebanyak 100 g
dan direndam dengan larutan natrium hidroksida (NaOH) 4% dengan
perbandingan berat terhadap volume basa (1:4) selama 48 jam kemudian disaring.
Tulang kemudian dicuci dengan menggunakan aquabides sampai pH-nya netral.
(Thalib, 2009).

Proses selanjutnya tulang dimasukkan ke dalam autoklaf (121oC, 1 atm)

selama 3 jam. Tulang dikeringkan dalam oven dengan suhu 80oC selama 24 jam.
Tahap akhir proses pembuatan tepung tulang adalah pengayakan. Tulang
ditepungkan menggunakan blender. Tepung yang dihasilkan diayak menggunakan
ayakan dengan ukuran 100 mesh agar diperoleh tepung tulang yang halus.
Mengulangi perlakuan yang sama dengan variasi waktu perendaman 72 jam dan
96 jam (Thalib, 2009).
Namun keberadaan kolagen kurang efektif dalam pembuatan tepung tulang
sebab sulit dicerna oleh enzim yang terdapat dalam usus sehingga dibutuhkan
suatu upaya untuk menghilangkan kolagen. Cara yang dapat ditempuh dalam
penghilangan kolagen yaitu dengan proses deprotenasi atau dekolagenasi.
Dekolagenasi adalah proses pelepasan kolagen dari ikatannya. Kolagen
yang terikat dapat didegradasi dengan perlakuan kimia yaitu pelarutan dalam
larutan basa kuat atau dengan perlakuan biologis. Dekolagenasi dilakukan dengan
pemberian kondisi basa yang diikuti pemanasan selama rentang waktu tertentu.
Sebagai basa, banyak dipilih NaOH sebab selain lebih efektif bahan ini juga
relatif murah dan mudah didapatkan. Pemberian basa dimaksudkan untuk
mendenaturasi protein menjadi bentuk primernya yang akan mengendap
(Ermawati dkk, 2009).
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyusunan tulang terdiri dari senyawa organik dan senyawa anorganik.
Senyawa organik dalam tulang terdiri atas protein dan polisakarida, sedangkan
senyawa anorganik dalam tulang terdiri dari garam-garam phospat dan karbonat.
Komposisi tulang bervariasi tergantung pada umur hewan, status, dan kondisi
makanannya, dimana tulang yang normal mengandung kadar air (45%), lemak
(10%), protein (20%), dan abu (25%).
Salah satu cara yang dilakukan dalam penanganan limbah padat seperti
tulang adalah menjadikan tulang tersebut tepung tulang yang memiliki kandungan
organik serta anorganik yang baik dan merupakan sumber kalsium yang tinggi.
Tepung tulang berbentuk serpihan (tepung) berwarna coklat dengan tekstur yang
kasar jika dirasakan, dengan aroma yang khas sesuai dengan bahan yang
digunakan, tetapi ada juga yang tidak berbau. Sekilas memang mirip dengan
tepung MBM tetapi kandungan nutrisi yang jelas berbeda
Pemanfatan tepung tulang digunakan sebagai sumber kalsium, terutama
bagi unggas yang sedang bertumbuh dan unggas petelur. Kegunaan tepung tulang
didalam ransum sebagai sumber calcium kerap kali dikombinasikan dengan
tepung kerang.Hal ini dilakukan untuk menjaga palatabilitas ransum. Selain itu
tepung tulang juga dapat dijadikan sebagai campuran pupuk organic karena
tingginya kandungan fosfor didalam tepung tulang.
B. Saran
Penulis sadar akan kekurangan dalam makalah ini baik dari cara penulisan
maupun sumber yang digunakan, untuk itu saran dan kritikan sangat dibutuhkan
agar makalah ini layak untuk dipublikaskan dan dibaca.
DAFTAR PUSTAKA

Astrina, Aninda Rahma,et. al.,Pemanfaatan Limbah Tulang Ikan Bandeng (Chanos


chanos) sebagai Bakso Berkalsium Tinggi, Karya Tulis Ilmia. Universitas
Negeri Malang. Malang.
Capah, R. L. 2006. Kandungan Nitrogen dan Fosfor Pupuk Organik Cair dari Sludge
Instalasi Gas Bio dengan Penambahan Tepung Tulang Ayam dan Tepung
Darah Sapi. Skripsi Program Studi Teknologi Produksi Ternak. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Darmayanto,2009, Penggunaan Serbuk Tulang Ayam Sebagai Penurun Intensitas
Warna Air Gambut,Tesis, Universitas Sumatera Utara. Medan.
Deman, John, M., 1997, Kimia Makanan. Terj. Kokasih Padmawinata. Penerbit.
ITB. Bandung.

Dewi, Devina, Fitrika, dan Ali Masduqi, 2003,Penyisihan Fosfat dengan Proses
Kristalisasi dalam Reaktor Terfluidisasi Menggunakan Media Pasir Silika,
Jurnal Purifikasi,4(4): 151-156.

Djoko Padmono, 2005. Alternatif Pengolahan Limbah Rumah Potong Hewan


Cakung ( Suatu Studi Kasus ) Peneliti Di Pusat Badan Pengkajian Dan
Penerapan Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian Dan Penerapan
Teknologi.

Ermawati, Yunita, et. al., 2009,Pemanfaatan Kitosan dari Limbah Rajungan


(Portunus pelagicus) sebagai Antimikroba pada Obat Kumur, Karya
Ilmiah,Yogyakarta: Fakultas Farmasi. UGM.
Eniza, 2004. Tanah dan Lingkungan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Fadilah, Roni, 2013, Beternak Ayam Broiler, PT AgroMedia Pustaka. Jakarta.


Guntoro, S. 2002. Membudidayakan Sapi Bali. Kanisius. Yogyakarta.
Hidayat, Muhammad Nur, 2012, Ilmu Dasar Nutrisi Ternak. Alauddin University
Press. Makassar.
Jackson PGG, Cockcroft PD. 2002. Clinical Examination of Farm Animals. ISBN 0-
632-05706-8. Blackwell Science.
Ido Bonar Sinaga, Lukman Adlin Harahap, Nazif Ichwan, 2016. Karakteristik
Tepung Tulang Yang Dihasilkan Berbagai Bahan Baku Yang Diolah Dengan
Alat Penggiling Tulang. Jurnal. Program Studi Keteknikan Pertanian Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera utara Jl. Prof. Dr. A. Sofyan No. 3 Kampus
USU. Medan.
Muritdjo. 2001. Mikrobiologi Lingkungan dan Terapan. Rasyaf M. 1990. Bahan
Makanan Unggas di Indonesia. Penerbit Kanisius. Jakarta

Retnani, Y. 2011. Proses Produksi Pakan Ternak. Ghalia Indonesia. Bogor.

Retno, Dyah Tri, 2012,Pembuatan Gelatin dari Tulang Ayam dengan Proses
hidrolisa,Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi (SNAST)
Periode III, Universitas Pembangunan Nasional. Yogyakarta.
Rugayah, N. 2014.Potensi Kotoran dan Tulang Ternak Sebagai Sumber Produk Non-
Pangan.http://repository.ipb.ac.id [20 Januari 2016].

Shihab, 2002. Kimia Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Singh, 1991. Teknologi Penggemukan sapi Bali.-BPTP NTB it-2.pdf. I.Putu


Sampurna. 2018. Fakultas Kedokteran. Universitas Udayana.
SNI 01-3158-1992. Karakteristik Mutu Kandungan tepung Tulang Mutu I dan II .
Badan Standarisasi Nasional.
Sulastri, Asri. 2002. Suplementasi Rayap (Glyptotermes montanus Kemner) dalam
Ransum serta Pengaruhnya Terhadap Kandungan Mineral (Na dan K) Plasma
dan Tulang Ayam Rokky-301. Skripsi Program Studi Ilmu Nutrisi dan
Makanan Ternak -Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak - Fakultas
Peternakan. institut Pertanian Bogor. Universitas Negeri Semarang. Semarang.

Sutejo, M. M. 1990. Pupuk dan Cara Pemupukan. Jakarta: Rhineka Cipta.


Trilaksani, Wini,et. al., 2006,Pemanfaatan Limbah Tulang Ikan Tuna (Thunnus sp.)
sebagai Sumber Kalsium dengan Metode Hidrolisis Protein,Buletin Teknologi
Hasil Perikanan, 9(2): 34-43.