Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN KUNJUNGAN RUMAH (HOME VISIT)

CLOSE FRACTURE CONDYLE LATERAL HUMERUS

Diajukan untuk memenuhi sebagian tugas kepaniteraan klinik dan melengkapi salah
satu syarat menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter di Bagian Ilmu Bedah RS
Islam Jemursari Surabaya

Oleh:

MAIMUNAH FAIZIN

6120018029

Pembimbing:

dr. Dayu Satriya Wibawa, Sp. B

Departemen / SMF ILMU BEDAH

Fakultas Kedokteran

Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

2019
MATERI EDUKASI

1. Definisi Fraktur
Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan
tulang dan atau tulangrawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa.
Trauma yang menyebabkan tulang patahdapat berupa trauma langsung,
misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius
dan ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu
pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah.2
Akibat trauma pada tulang bergantung pada jenis trauma, kekuatan
dan arahnya.Trauma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat
menyebabkan tulang patah dengan luka terbuka sampai ke tulang yang disebut
patah tulang terbuka. Patah tulang di dekatsendi atau mengenai sendi dapat
menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebutfraktur dislokasi.
2. Fraktur Tertutup (Closed)
Faktur Tertutup (Closed) yaitu terjadi bila tidak terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengandunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit
masih utuh) tanpa komplikasi. Padafraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri
yang berdasarkan keadaan jaringan lunaksekitar trauma, yaitu:
a. Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak
sekitarnya.
b. Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan
subkutan.
c. Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian
dalamdan pembengkakan.d)
d. Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan
ancamansindroma kompartement.
3. Tatalaksana
Prinsip penatalaksanaan fraktur terdiri dari 4R yaitu recognition
berupa diagnosis dan penilaian fraktur, reduction, retention dengan

2
imobilisasi, dan rehabilitation yaitu mengembalikan aktifitas fungsional
semaksimal mungkin. Penatalaksanaan awal fraktur meliputi reposisi dan
imobilisasi fraktur dengan splint. Status neurologis dan vaskuler di bagian
distal harus diperiksa baik sebelum maupun sesudah reposisi dan imobilisasi.
Pada pasien dengan multiple trauma, sebaiknya dilakukan stabilisasi awal
fraktur tulang panjang setelah hemodinamis pasien stabil. Sedangkan
penatalaksanaan definitif fraktur adalah dengan menggunakan gips atau
dilakukan operasi dengan ORIF maupun OREF.
Tujuan pengobatan fraktur :
a. Reposisi
Tujuan reposisi yaitu mengembalikan fragmen keposisi anatomi.
Tehnikreposisi terdiri dari reposisi tertutup dan terbuka. Reposisi tertutup
dapat dilakukandengan fiksasi eksterna atau traksi kulit dan skeletal. Cara
lain yaitu denganreposisi terbuka yang dilakukan padapasien yang telah
mengalami gagal reposisitertutup, fragmen bergeser, mobilisasi dini,
fraktur multiple, dan fraktur patologis.
b. Imobilisasi / Fiksasi
Imobilisasi/fiksasi bertujuan untuk mempertahankan posisi fragmen post
reposisi sampai Union. Indikasi dilakukannya fiksasi yaitu pada
pemendekan(shortening), fraktur unstabel serta kerusakan hebat pada kulit
dan jaringan sekitar
Jenis Fiksasi :
Ekternal / OREF (Open Reduction External Fixation)
 Gips ( plester cast)
 TraksiJenis traksi :
 Traksi Gravitasi: U- Slab pada fraktur humerus
 Skin traksi: Tujuan menarik otot dari jaringan sekitar fraktur
sehingga fragmenakan kembali ke posisi semula. Beban maksimal
4-5 kg karena bilakelebihan kulit akan lepas

3
 Sekeletal traksi : K-wire, Steinmann pin atau Denham pin.Traksi
ini dipasang pada distal tuberositas tibia (traumasendi koksea,
femur, lutut), pada tibia atau kalkaneus ( frakturkruris). Adapun
komplikasi yang dapat terjadi pada pemasangantraksi yaitu
gangguan sirkulasi darah pada beban > 12 kg, traumasaraf
peroneus (kruris) , sindroma kompartemen, infeksi tempat
masuknya pin.
Indikasi OREF :
 Fraktur terbuka derajat III
 Fraktur dengan kerusakan jaringan lunak yang luas
 fraktur dengan gangguan neurovaskuler
 Fraktur Kominutif
 Fraktur Pelvis
 Fraktur infeksi yang kontraindikasi dengan ORIF
 Non Union
 Trauma multiple

Internal / ORIF (Open Reduction Internal Fixation)

ORIF ini dapat menggunakan K-wire, plating, screw, k-nail.


Keuntungancara ini adalah reposisi anatomis dan mobilisasi dini tanpa
fiksasi luar.

Indikasi ORIF :

 Fraktur yang tak bisa sembuh atau bahaya avasculair


nekrosistinggi, misalnya fraktur talus dan fraktur collum femur.
 Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. Misalnya fraktur
avulsed dan fraktur dislokasi.

4
 Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. Misalnya
fraktur Monteggia, fraktur Galeazzi, fraktur antebrachii, dan
fraktur pergelangan kaki.
 Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih
baik dengan operasi, misalnya : fraktur femur.
4. Komplikasi
a. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi,
CRTmenurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin
padaekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting,
perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan.
b. Kompartement Syndrom
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi
karenaterjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan
parut. Inidisebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot,
saraf, dan pembuluhdarah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips
dan embebatan yang terlalukuat.
c. Infeksi
Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada
traumaorthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke
dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga
karena penggunaan bahanlain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
d. Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai
denganwaktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan
karena penurunan supai darah ke tulang.
e. Nonunion
Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan
memproduksisambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan.
Nonunion ditandai dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi

5
fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga
disebabkan karena aliran darah yang kurang.
f. Malunion
Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya
tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan
dengan pembedahan dan reimobilisasi yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Apley, A.Graham. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur Sistem APLEY.
Ed.7. Jakarta : WidyaMedika.
2. Bagian Bedah Staf Pengajar 1995. Fakultas kedokteran Universitas Indonesia.
Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : Binarupa Aksara.
3. Rasjad, Chairuddin. 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta : PT.
Yarsif Watampone.
4. Sjamsuhidajat R, De Jong Wim. 2017. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2.
Jakarta : Penerbit BukuKedokteran EGC.
5. Schwartz, Shires, Spencer . 2000. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Edisi
6 . Jakarta :EGC.
6. Sabiston, David C. 1994. Buku Ajar Bedah bagian 2. Jakarta: EGC.

6
DOKUMENTASI

7
8