Anda di halaman 1dari 7

INVESTOR INSTITUSIONAL, INVESTOR ASING DAN KREDITUR

CORPORATE GOVERNANCE

Dosen Pengampu: Dr. Ni Made Dwi Ratnadi, S.E., M.Si., Ak. CA.

Kelompok 11

I Putu Gede Krisna Pratama Putra (1707532013)

Ida Bagus Ghana Manuaba (1707532016)

Nyoman Diantha Anggriawan (1707532031)

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI REGULER DENPASAR

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2019
Pengertian dan Peran Investor Institusional
Investor Institusional adalah investor yang berupa lembaga institusi yang sudah
berbadan hukum seperti reksa dana, asuransi, dana pensiun, bank, dan lain sebagainya.
Cara investor institusional untuk berperan serta dalam mendorong penerapan GCG
adalah dengan melakukan investasi yang bertanggung jawab. Yang dimaksud dengan investasi
yang bertanggung jawab adalah dengan membuat kebijakan hanya akan melakukan
penempatan investasi pada perusahaan-perusahaan yang menerapkan GCG, dan tentu secara
konsisten menerapkan kebijakan tersebut dalam melakukan investasi. Dengan cara ini, institusi
tersebut bertanggung jawab terhadap masyarakat yang dana-nya mereka kelola, karena dana
tersebut hanya di investasikan pada perusahaan-perusahaan yang memang dapat dipercaya,
sehingga risiko hilangnya dana masyarakat karena penempatan yang salah menjadi lebih kecil,
dan di lain pihak, perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa juga menjadi lebih
memberi perhatian terhadap penerapan GCG karena dengan menerapkan GCG secara
konsisten, saham mereka menjadi lirikan investor dan masuk dalam daftar saham yang
desirable atau ingin dimiliki oleh investor, lebih jauh hal ini akan menaikan nilai saham yang
secara tidak langsung juga menaikan nilai perusahaan.
Tentu untuk bisa menerapkan investasi yang bertanggung jawab dibutuhkan usaha
tambahan oleh investor institusional, karena harus ada fungsi di dalam institusi tersebut yang
bertanggung jawab melakukan analisis secara berkesinambungan terhadap penerapan GCG
perusahaan-perusahaan target dengan menggunakan acuan yang benar sebagai dasar penerapan
GCG.
Hal ini bukan sesuatu yang mustahil jika memang sudah menjadi sebuah itikad dalam
melakukan investasi yang bertanggungjawab, dalam mengelola dana masyarakat. Sebagai
contoh, CalPERS (California Public Employees Retirement System) adalah suatu organisasi
pengelola dana pensiun yang dibentuk pada tahun 1932 di Amerika untuk mengelola manfaat
pensiun dan kesehatan bagi pegawai negeri di negara bagian California (jika melihat fungsinya,
kurang lebih, bisa kita sejajarkan dengan Taspen atau Jamsostek di Indonesia), dan saat ini
memiliki lebih dari 1,3 juta anggota dengan total dana kelolaan senilai US$ 218 milyar per
Oktober 2010. CalPERS percaya bahwa penerapan GCG akan memberikan kinerja investasi
yang lebih baik, dan dalam upaya melindungi investornya (nasabah yang dikelola dananya oleh
CalPERS), maka institusi tersebut hanya mau melakukan penempatan investasi pada
perusahaan yang telah lulus seleksi penerapan GCG. CalPERS melakukan review terhadap
kinerja perusahaan tersebut, melihat indikator pengembalian (investment return) untuk periode
1, 3 dan 5 tahun terakhir dan melakukan pembandingan dengan indeks umum dan spesifik

1
untuk industri terkait; kemudian CalPERS juga melakukan review terhadap indikator
governance seperti antara lain independensi dewan, mekanisme pengangkatan anggota dewan,
kompensasi eksekutif, keragaman kemampuan anggota dewan, pelaksanaan manajemen risiko,
serta isu terkait tanggung jawab sosial dan lingkungan pada perusahaan. Perusahaan yang gagal
memenuhi standar penilaian, tidak akan dijadikan target investasi; dan bukan hanya itu,
CalPERS juga mengumumkan dalam websitenya nama-nama perusahaan yang masuk dalam
daftar yang lolos sensor penerapan GCG dan nama-nama perusahaan yang dikeluarkan dari
daftar tersebut karena dianggap sudah tidak lagi menerapkan GCG; daftar ini pun diperbaharui
secara berkala. Sehingga, hasil analisis mereka bisa dilihat oleh publik, dan dapat memiliki
dampak antara lain, menunjukkan pemenuhan tanggung jawab fidusia mereka kepada para
investor/nasabah yang dananya dikelola; dan daftar tersebut dapat digunakan sebagai acuan
oleh investor lain dalam memilih perusahaan target investasi. Jika daftar tersebut digunakan
sebagai acuan oleh pihak lain, tentunya perusahaan yang masuk daftar akan senang, tapi tidak
demikian dengan perusahaan yang tidak masuk daftar atau bahkan dikeluarkan dari daftar,
karena berarti publik dapat menilai ada sesuatu yang tidak baik dalam pengelolaan perusahaan
tersebut, serta bisa mengakibatkan menurunnya harga saham di pasar.
Jadi ini saatnya bagi investor untuk melakukan investasi yang bertanggung jawab,
bukan saja hal ini merupakan refleksi dari penerapan GCG, namun juga mendorong penerapan
GCG perusahan-perusahaan di Indonesia.

Pengertian dan Peran Investor Asing


Pengertian investor asing adalah investor yang berasal dari luar negeri dimana instrumen
investasi itu dikelola, diterbitkan dan diperdagangkan. Contohnya : Saham BUMN dikuasai
20% oleh investor Cina, maka investor asing di sini adalah investor Cina.
Adapun peran dari Investor Asing, yaitu:
1. investasi asing akan menciptakan perusahaan-perusahaan baru, memperluas pasar atau
merangsang penelitian dan pengembangan teknologi lokal yang baru.
2. investasi asing akan meningkatkan daya saing industri ekspor, dan merangsang
ekonomi lokal melalui pasar kedua (sektor keuangan) dan ketiga (sektor
jasa/pelayanan).
3. investasi asing akan meningkatkan pajak pendapatan dan menambah pendapatan
lokal/nasional, serta memperkuat nilai mata uang lokal untuk pembiayaan impor.

Pengertian dan Peran Kreditur dalam GCG


2
Kreditur adalah pihak (perorangan, organisasi, perusahaan atau pemerintah) yang
memiliki tagihan kepada pihak lain (pihak kedua) atas properti atau layanan jasa yang
diberikannya (biasanya dalam bentuk kontrak atau perjanjian) di mana diperjanjikan bahwa
pihak kedua tersebut akan mengembalikan properti yang nilainya sama atau jasa. Pihak kedua
ini disebut sebagai peminjam atau yang berhutang. Secara singkat dapat dikatakan bahwa
kreditur adalah pihak yang memberikan kredit atau pinjaman kepada pihak lainnya.
Kreditur dalam hal ini contohnya bank, bank harus dapat menilai apakah perusahaan yang
mengajukan permintaan kredit mampu mengembalikan pinjaman atau tidak. Kreditur akan
menolak usulan kredit dari suatu perusahaan bila informasi akuntansi perusahaan itu
meragukan atau tidak menunjukkan perkembangan yang positif.
Perusahaan yang mempunyai leverage tinggi mempunyai kewajiban lebih untuk
memenuhi kebutuhan informasi kreditur jangka panjang. Dengan semakin tinggi leverage,
yang mana akan menambah beban untuk program corporate social responsibility menjadi
terbatas atau semakin tinggi leverage, maka semakin rendah program CSR.

GCG dalam Pasar Modal


Secara formal, pasar modal dapat didefinisikan sebagai pasar dimana berbagai instrument
keuangan jangka panjang bisa diperjual belikan, baik dalam bentuk hutang maupun modal
sendiri, baik yang terbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan swasta. Keberadaan pasar
modal ditentukan oleh lembaga-lembaga penunjang pasar modal, antara lain: Badan Pengawas
Pasar Modal dan Lembaga Keuangan, Bursa Efek, Lembaga Kliring, Investor, Akuntan public,
Notaris, dan Konsultan hukum.
Pasar modal berkembang baik jika penerapan GCG-nya konsisten. Corporate
governance bukan hanya sebagai aksesoris, tetapi melekat sebagai nilai-nilai yang menjadi
pedoman berperilaku. Keberhasilannya sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu struktur
kepemilikan, hukum dan enforcement, sistem ekonomi, sosial, budaya, proses, serta ukuran.
GCG merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan guna menciptakan nilai
tambah (value added) untuk semua stakeholder. Konsep ini menekankan pada dua hal yakni:
1. Pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar dan tepat
pada waktunya
2. Kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan secara akurat, tepat waktu,
transparan terhadap semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder.
Fungsi dan peran Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam
LK) suatu negara sangat strategis, karena lembaga inilah yang diberi wewenang oleh

3
pemerintah untuk mengawasi semua lembaga terkait dan membuat berbagai peraturan yang
harus dipatuhi oleh semua lembaga terkait agar kegiatan pasar modal di bursa dapat berjalan
secara adil, efektif, dan efisien. Jadi, fungsi Bapepam LK dalam hal ini adalah memastikan
agar semua lembaga penunjang yang terkait dibursa menjalankan tata kelola lembaga masing-
masing secara sehat dan mematuhi peraturan yang berlaku, termasuk seperangkat peraturan
yang dikeluarkan oleh Bapepam LK.

Implementasi GCG pada Emiten dan Perusahaan Publik


Good corporate governance (GCG) menjadi sorotan publik. Isu tata kelola yang baik
emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) kian santer karena menyangkut kepentingan pemegang
saham, terutama investor publik. Belakangan ini sejumlah perusahaan publik terlilit kasus dan
dinyatakan pailit. Misalnya, PT Citra Maharlika Nusantara Corpora Tbk (CPGT) dan PT Dwi
Aneka Jaya Kemasindo Tbk (DAJK). Kabar terbaru terkait PT Nusa Konstruksi Enjiniring
Tbk (DGIK). Emiten konstruksi ini terpapar korupsi proyek rumah sakit Universitas Udayana
di Bali dan Wisma Atlet di Sumatera Selatan. Bukan hanya petingginya yang dihukum, DGIK
sebagai korporasi juga kena getahnya. Di proyek RS Udayana dan Wisma Atlet ini, hakim
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menghukum DGIK untuk membayar uang
pengganti senilai Rp 14,48 miliar dan Rp 33,42 miliar. Financial Expert Universitas Prasetiya
Mulya, Lukas Setia Atmaja menilai, peran direktur dan komisaris sangat penting dalam
pelaksanaan gcg. Peran itu perlu dimaksimalkan untuk melindungi seluruh stakeholders
perusahaan baik kreditur, pemasok, karyawan, dan pemerintah.
Ada beberapa pilar GCG, seperti persamaan hak antara pemegang saham. "Jangan sampai
pemegang saham mayoritas menzalimi pemegang saham minoritas," kata Lukas kepada
KONTAN, Senin (27/11). Menurut Lukas, terkait dengan emiten pailit, ada dua kemungkinan.
Pertama, manajemen tak bisa mengelola perusahaan dengan baik sehingga tidak bisa bersaing.
Kedua, perusahaan pailit karena unsur kesengajan. "Namun demikian, tidak bisa dipungkiri
dalam kondisi krisis, perusahaan yang CG-nya jelek akan ambruk duluan karena masalah
kepercayaan dan reputasi," ungkap Lukas. GCG juga bisa diukur dari kondisi keuangan
emiten. Peringkat utang pun menjadi pertimbangan karena acap menjadi parameter kondisi
kesehatan perusahaan.
Penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG) di
Indonesia sudah mengalami perbaikan dibandingkan ketika awal diperkenalkan pasca krisis
ekonomi pada 1998. Ketika itu, perusahaan-perusahaan masih enggan menerapkan prinsip-
prinsip GCG yang diwajibkan oleh regulator. Tapi, saat ini sudah banyak perusahaan

4
memandang GCG tidak lagi sebagai keharusan, melainkan suatu kebutuhan. Pergeseran cara
pandang tersebut dipengaruhi oleh sejumlah manfaat setelah menerapkan prinsip-prinsip
GCG. Dengan penerapan GCG, perusahaan dapat mendulang berbagai manfaat dan sekaligus
dapat mendorong kinerja keuangan karena pengambilan keputusan yang sehat.
Dengan implementasi GCG, pimpinan perusahaan harus mengambil keputusan yang
didasarkan pada keseimbangan dan akuntabilitas. Dengan demikian pengambilan keputusan
diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. Perusahaan yang menerapkan
GCG akan dinilai lebih menarik oleh perbankan, sehingga perusahaan bisa mendapatkan
kemudahan pembiayaan. Perusahaan yang mengimplementasikan GCG juga akan lebih
dipercaya oleh investor dan sangat menentukan minat investasi. Perusahaan yang tercatat di
bursa efek atau emiten akan tercipta kepercayaan, dan hal itu akan mendorong investor
membeli saham perusahaan tersebut. Sebaliknya, perusuhaan publik yang tata kelolanya tidak
baik maka sahamnya akan dihindari oleh para pemodal. Tumbuhnya kepercayaan investor
kepada emiten dapat mendongkrak jumlah investor yang masuk ke pasar modal.
Setidaknya, ada lima prinsip GCG yang bisa dijadikan pedoman oleh para pelaku bisnis,
yaitu keterbukaan informasi (transparency), akuntabilitas (accountability),
pertanggungjawaban (responsibility), kemandirian (independency), dan kesetaraan dan
kewajaran (fairness) yang biasanya diakronimkan menjadi TARIF. Perusahaan-perusahaan
yang menjalankan prinsip keterbukaan informasi dituntut untuk menyediakan informasi yang
cukup, akurat, tepat waktu kepada semua pemangku kepentingan. Perusahaan yang
menerapkan prinsip akuntabilitas secara efektifmensyaratkan adanya kejelasan akan fungsi,
hak, kewajiban, wewenang serta tanggung jawab antara pemegang saham, dewan komisaris,
dan dewan direksi. Sementara itu, prinsip pertanggung jawaban mengharuskan kepatuhan
perusahaan terhadap peraturan yang berlaku, di antaranya masalah pajak, hubungan industrial,
kesehatan dan keselamatan keria, perlindungan lingkungan hidup, memelihara lingkungan
bisnis yang kondusif bersama masyarakat dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/doc/289452113/CSR-Peran-Investor-dan-Kreditur (diakses pada 10


November 2019, pukul 17.00 WITA)

https://mitb23.com/blog/good-corporate-governance-dalam-pasar-modal/ (diakses pada 9


November 2019, pukul 12.30 WITA)

5
https://id.scribd.com/document/404673944/cg-implementasi-terhadap-emiten-dan-
perusahaan-publik (diakses pada 10 November 2019, pukul 21.20 WITA)

http://greatariana.blogspot.com/2013/07/analisa-kasus-bank-global-bab-1.html?m=1(diakses
pada 10 November 2019, pukul 23.45 WITA)