Anda di halaman 1dari 3

PEMBAHASAN

ANDI HAEKAL 171411067

Pada percobaan ini dilakukan pengolahan limbah. Kedalam sampel limbah ditambahkan
nutrisi, nutrisi yang ditambahkan adalah sumber makanan untuk mikroorganisme yang akan
mendekomposisi bahan organik, hal ini yang menyebabkan kandungan organik dalam sampel
dapat diturunkan. Untuk mengetahui efisiensi pengolahan maka dilakukan pengukuran kandungan
organik sebelum dan setelah proses sehingga dilakukan pengukuran COD sebelum dan setelah
proses. Sedangkan MLVSS untuk mengetahui kuantitas mikroba yang mendekomposisi bahan
organik. Pada proses pendokomposisian oleh mikroba ini yang diperhatikan adalah adanya oksigen
(aerasi) sebagai sumber oksigen bagi mikroba untuk menghasilkan energi untuk mendekomposisi
bahan organik.
Sebelum dilakukan pengukuran COD setelah proses pendekomposisian, kedalam sampel
dimasukan sejumlah nutrisi sebagai sumber makanan untuk mikroba pendekomposisi. Nutrisi
yang ditambahkan adalah glukosa, KNO3 dan KH2PO4. Untuk glukosa ditambahkan sebagai
sumber karbohidrat atau gula, sedangkan KNO3 sebagai sumber nitrogen dan KH2PO4 sebagai
sumber posfor dimana perbandingan yang diberikan adalah Glukosa : KNO3 : KH2PO4 ; 100 : 5 :
1, hal ini dikarenakan mikroba dapat tumbuh pada komposisi nutrien tersebut.
Pada percobaan dilakukan pengukuran COD yaitu untuk mengetahui kandungan organik
dalam sampel, pengukuran COD ini untuk mengetahui berapa banyak oksigen yang dibutuhkan
untuk mengoksidasi kandungan organik dalam sampel, sehingga bila semakin banyak zat yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi zat organik maka semakin banyak pula kandungan zat organiknya.
Artinya semakin tinggi nilai COD maka kandungan organik dalam sampel semakin banyak atau
kualitas air semakin buruk. Sebelum dilakukan analisis pada COD, sebelumnya dilakukan terlebih
dahulu standarisasi FAS oleh K2Cr2O7, dimana reaksi yang terjadi reaksi redoks dalam keadaan
asam karena penambahan H2SO4 dimana dalam keadaan asam ini berfungsi untuk mengasamkan
larutan sehingga K2Cr2O7 dapat mengoksidasi Fe dengan reaksi:
Cr2O72- + 14H+ + 6e 2Cr3+ + 7H2O
Fe2+ Fe3+ + e
Cr2O72- + 14H+ + 6 Fe2+ 2Cr3+ + 7H2O + 6Fe3+
Berdasarkan percobaan terlihat bahwa nilai COD pada sampel limbah sebelum proses
degradasi adalah tinggi yaitu sebesar 400 mgO2/L. Nilai COD sebelum proses masih tinggi
sehingga dilakukanlah proses dekomposisi bahan organik untuk menurunkan kandungan
organiknya. Sedangkan nilai COD setelah proses selama 7 hari adalah sebesar 360 mgO2/L. Nilai
COD setelah proses ini lebih kecil dibanding nilai COD sebelum proses. Hal ini menunjukan
adanya penurunan kandungan organik pada sampel limbah, dimana penurunan kandungan organik
ini disebabkan mikroorganisme yang mendekomposisi bahan organik tersebut menjadi CO2, H2O
dan NH4 sehingga kandungan organik setelah proses menjadi turun. Besarnya penurunan
kandungan organik ini menghasilkan efisiensi sebesar 10%, sedangkan berdasarkan literatur
pengolahan limbah menggunakan lumpur aktif dapat menurunkan konsentrasi COD >85 %
(Lestari, 2003). Bila dibandingkan dengan literatur, hasil percobaan efisiensi penurunan COD
sudah melebihi dari 85%, sehingga dapat dikatakan bahwa proses ini sudah optimum untuk
menurunkan COD dalam sampel air limbah. Walaupun penurunan bahan organik dalam sampel
limbah telah optimum, akan tetapi hasil akhir dari proses ini menghasilkan kandungan organik
yang masih tinggi dimana nilai ini masih lebih besar bila dibandingkan dengan standar kualitas air
bersih dimana batas COD adalah 100 mgO2/L ( Peraturan Menteri Kesehatan RI.
416/Menkes/Per/IX/1990), sehingga dapat dikatakan dari hasil COD setelah proses ini kandungan
organiknya masih tinggi dan tidak memenuhi syarat kualitas air bersih. Maka hasil proses
pengolahan ini bila diterapkan tidak dapat langsung dibuang ke lingkungan sehingga harus diolah
kembali untuk menurunkan nilai COD hingga batas yang diperbolehkan. Kandungan organik
setelah proses dekomposisi yang masih tinggi dari nilai yang diperbolehkan diakibatkan karena
pada percobaan ini kurangnya pengecekan lingkungan pada bak proses seperti pH dan suhu.
Dimana kedua parameter ini tentunya harus selalu dicek secara rutin, untuk pH seharusnya pH
dalam keadaan netral dimana mikroba dapat bekerja, serta temperatur tidak boleh terlalu tinggi
ataupu terlalu rendah, sehingga temperatur berada pada suhu dimana mikroba dapat bekerja
optimal. Selain pH dan temperatur yang harus diperhatikan adalah oksigen yang ditambahkan
(aerasi), dimana keadaan aerasi ini seharusnya dicek secara rutin dimana adanya oksigen tidak
boleh kurang (jika kurang oksigen tidak akan cukup digunakan oleh mikroba untuk
mendekomposisi bahan organik) dan juga tidak boleh lebih (jika oksigen berlebih maka akan
menjadi racun untuk mikroba itu sendiri), sehingga jumlah oksigen kedalam bak aerasi harus
cukup mengingat bak aerasi dan dekomposisi ini adalah bak diam dan statis/tidak mengalir
sehingga jumlah oksigen yang ditambahkan adalah faktor penting. Parameter-parameter ini
merupakan kondisi yang mendukung untuk proses lumpur aktif, sehingga kemungkinan tidak
optimalnya parameter ini memungkinkan mikroba yang mendekomposisi bahan organik tidak
bekerja secara optimal yang menyebabkan efisiensi pengolahan belum efektif.
Sedangkan untuk pengukuran MLVSS dilakukan pada sampel limbah sebelum proses
dimana nilai MLVSS sama dengan nilai VSS. Nilai VSS adalah bahan organik yang mudah
teruapkan, dimana jumlahnya mewakili jumlah mikroorganisme yang ada didalamnya. Hal ini
dikarenakan bahan organik yang mudah menguap seperti protein, karbohidrat, glukosa, dan
lainnya ada dalam bakteri sehingga jumlahnya mewakili banyaknya bakteri didalam sampel.
Sedangkan untuk mengetahui jumlah mikroba yang mendekomposisi bahan organik dilakukan
dengan mengukur VSS dimana pengukuran VSS ini didapat dari berat yang dipanaskan pada oven
dengan berat yang dipanaskan pada furnace, sehingga dapat diketahui berat yang teruapkan dimana
berat ini menunjukan banyaknya mikroorganisme yang ada pada sampel. Dari hasil VSS didapat
nilai VSS adalah sebesar 106637,5 mg/L. Hal ini mewakili banyaknya kandungan organik yang
akan didekomposisi oleh mikroorganisme pada proses lumpur aktif. Dari nilai yang didapat, nilai
VSS masih tinggi sehingga kandungan organik yang akan didekomposisipun tinggi, sehingga
membutuhkan banyak mikroba untuk mendekomposisinya pada proses.
Sedangkan untuk pengukuran DO pada awal proses DO pada sampel air limbah adalah
sebesar 7,8 mg/L dimana oksigen terlarut pada sampel masih kecil (bila dibandingkan dengan
literatur SNI 01-3553-1996 dimana DO tidak boleh kurang dari 500 mg/L), bila nilai DO diukur
setelah proses lumpur aktif maka seharusnya nilai DO akan meningkat, dimana dari hasil proses
akan terjadi aerasi yang akan mengalirkan O2 kedalam sampel sehingga akan menghasilkan okigen
yang akan larut dalam sampel (McKinney, 1962). sedangkan pH pada sampel limbah sudah netral.