Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

DASAR DASAR ILMU TANAH

OLEH :

Nama : GIO RAMDHAN PRASETYO

No. BP : 1610232027

Kelompok : II (Dua)

Dosen Penanggung Jawab Praktikum : Dr. MIMIEN HARYANTI SP,MP

Asisten Praktikum : MUHAMMAD ZAKI JAMAIKA (1410231024)

REZKY SYAHPUTRA (1410232018)

PROGRAM STUDI ILMU TANAH


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat

dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum

Dasar–Dasar Ilmu Tanah pada waktu yang ditentukan.

Penulis menyadari bahwa kesempurnaan hanyalah milik sang pencipta,

penulis sangat mengharapkan saran-saran dari para pembaca agar laporan ini

dapat menjadi lebih baik lagi. Semoga laporan praktikum ini memberi manfaat

serta membantu kepada setiap pembaca maupun pihak-pihak yang membutuhkan,

terutama bagi penulis.

Padang, 27 Jili 2018

(Gio Ramdhan Prasetyo)


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut MARBUT (1940 ) tanah adalah suatu lapisan kerak bumi yang
tidak padu dengan ketebalan beragam berbeda dengan bahan-bahan di bawahnya,
yang juga tidak baku dalam hal warna, bangunan fisik, struktur, susunan kimiawi,
sifat biologi, proses kimia ataupun reaksi-reaksi.

Tanah merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari manusia, tumbuhan,
dan makhluk hidup lainnya. Tanah merupakan tempat bagi tumbuhan untuk hidup
dan menopang berdirinya akar tumbuhan. Selain itu tanah merupakan tempat bagi
manusia untuk hidup dimana manusia menggunakan tanah untuk tempat
membangun sebuah bangunan yang digunakan untuk tempat berteduh nantinya.
Oleh karena itu tanah harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar tanah sebagai
sumber daya alam dapat digunakan secara berkesinambungan.

Setelah melakukan praktikum dasar-dasar ilmu tanah saya sebagai


mahasiswa memahami bagaimana cara menganalisis keberadaan suatu tanah.
Analisis terhadap suatu tanah dapat dilakukan langsung di lapangan dan juga
dapat dilakukan di laboratorium. Penelitian yang berada di lapangan meliputi
meneliti warna tanah, tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi, kandungan bahan
organik, kandungan kapur, dan ph tanah. Pengamatan cirri dan sifat tanah tersebut
dilakukan terhadap contoh tanah hasil pengeboran tanah dengan bor tanah sampai
beberapa lapisan ( horizon ). Sedangkan analisis tanah di laboratorium meliputi
analisis kadar air, kadar garam, berat volume tanah.

B. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum kali ini yaitu untuk menentukan kelas
tekstur tanah, menghitung permeabilitas, kadar air, berat volume, total ruang pori,
ph dan al-dd, N-total, kapasitas tukar kation, C-organik dan P-tersedia, pada
contoh sampel tanah ultisol.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tekstur tanah

Tekstur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah (separat)


yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi (%) relatif antara fraksi pasir,
fraksi debu dan fraksi liat (Hanafiah, 2008).
Tekstur merupakan sifat kasar-halusnya tanah dalam percobaan yang
ditentukan oleh perbandingan banyaknya zarah-zarah tunggal tanah dari berbagai
kelompok ukuran, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi lempung, debu, dan
pasir berukuran 2 mm ke bawah (Notohadiprawito, 1978).
Tanah terdiri dari butir-butir yang berbeda dalam ukuran dan bentuk,
sehingga diperlukan istilah-istilah khusus yang memberikan ide tentang sifat
teksturnya dan akan memberikan petunjuk tentang sifat fisiknya. Untuk ini
digunakan nama kelas seperti pasir, debu, liat dan lempung. Nama kelas dan
klasifikasinya ini, merupakan hasil riset bertahun-tahun dan lambat laun
digunakan sebagai patokan. Tiga golongan pokok tanah yang kini umum dikenal
adalah pasir, liat dan lempung(Buckmandan Brady, 1992)
Pembagian kelas tektur yang banyak dikenal adalah pembagian 12 kelas tekstur
menurut USDA.Nama kelas tekstur melukiskan penyebaran butiran, plastisitas,
keteguhan, permeabilitas kemudian pengolahan tanah, kekeringan, penyediaan
hara tanah dan produktivitas berkaitan dengan kelas tekstur dalam suatu wilayah
geogtrafis (A.K. Pairunan, dkk, 1985).
Tekstur tanah dapat menentukan ssifat-sifat fisik dan kimia serta mineral
tanah. Partikel-partikel tanah dapat dibagi atas kelompok-kelompok tertentu
berdasarkan ukuran partikel tanpa melihat komposisi kimia, warna, berat, dan
sifat lainnya. Analisis laboratorium yang mengisahkan hara tanah disebut analisa
mekanis. Sebelum analisa mekanis dilaksanakan, contoh tanah yang kering udara
dihancurkan lebih dulu disaring dan dihancurkan dengan ayakan 2 mm.
Sementara itu sisa tanah yang berada di atas ayakan dibuang. Metode ini
merupakan metode hidrometer yang membutuhkan ketelitian dalam
pelaksanaannya. Tekstur tanah dapat ditetapkan secara kualitatif dilapangan
(Hakim, 1986).
Tekstur tanah dibagi menjadi 12 kelas seperti yang tertera pada diagram
segitiga tekstur tanah USDA yang meliputi pasir, pasir berlempung, lempung
berpasir, lempung, lempung liat berpasir, lempung liat berdebu, lempung berliat,
lempung berdebu, debu, liat berpasir, liat berdebu, dan liat (Lal, 1979).
Tanah terdiri dari butir-butir pasir, debu, dan liat sehingga tanah
dikelompokkan kedalam beberapa macam kelas tekstur, diantaranya kasar, agak
kasar, sedang, agak halus,dan hancur (Hardjowigeno, 1995).
Kasar dan halusnya tanah dalam klasifikasi tanah (taksnomi tanah) ditunjukkan
dalam sebaran butir yang merupakan penyederhanaan dari kelas tekstur tanah
dengan memperhatikan pula fraksi tanah yang lebih kasar dari pasir (lebih besar 2
mm), sebagian besar butir untuk fraksi kurang dari 2 mm meliputi berpasir
lempung, berpasir, berlempung halus, berdebu kasar, berdebu halus, berliat halus,
dan berliat sangat halus (Hardjowigeno, 1995).

2.2 Permeailitas, BV, TRP, KA

a. Permeabilitas

Permeabilitas menunjukkan kemampuan tanah untuk meloloskan air


struktur, sturktur dan tekstur serta unsur organik lainya juga ikut ambil bagian
dalam menaikan laju inflasi dan menurukan laju air. Tekstur tanah merupakan
salah satu sifat fisik tanah, begitu juga dengan permeabilitas. Permeabilitas dapat
mempengaruhi kesuburan tanah. Permeabilitas berbeda dengan drainase yang
lebih mengacu pada proses pengaliran air saja, permeabilitas dapat mencakup
bagaimana air, bahan organik, bahan mineral, udara dan partikel – partikel lainnya
yang terbawa bersama air yang akan diserap masuk kedalam tanah (Rohmat,
2009).
Permeabilitas tanah jenuh sangat bervariasi. Di dalam studi irigasi dan
drainase, permeabilitas adalah variabel yang dominan, beberapa tanah memiliki
permeabilitas yang berbeda. Pengetahuan permeabilitas tanah sangat penting
untuk kemajuan dalam studi ketersediaan air dan efisiensi aplikasi air, dan dalam
desain sistem drainase untuk reklamasi tanah salin dan alkali. Untuk aplikasi
irigasi biasa, tidak praktis untuk mengukur semua faktor yang mempengaruhi
permeabilitas, tetapi praktis dan sangat penting untuk mengukur permeabilitas
tanah di laboratorium dan di lapangan (Hansen, 1962).
Permeabilitas terutama tergantung pada ukuran rata-rata pori yang
dipengaruhi oleh distribusi ukuran partikel, bentuk partikel dan struktur tanah.
Secara garis besar, makin kecil ukuran partikel, makin kecil pula ukuran pori dan
makin rendah koefisien permeabilitasnya. Berarti suatu lapisan tanah berbutir
kasar yang mengandung butiran-butiran halus memiliki harga K yang lebih rendah
dan pada tanah ini koefisien permeabilitas merupakan fungsi angka pori. Kalau
tanahnya berlapis-lapis permeabilitas untuk aliran sejajar lebih besar dari pada
permeabilitas untuk aliran tegak lurus. Lapisan permeabilitas lempung yang
bercelah lebih besar dari pada lempung yang tidak bercelah (unfissured) (Seta,
1994).
Permeabilitas timbul karena adanya pori kapiler yang saling
bersambungan satu dengan yang lainnya. Secara kuantitatif permeabilitas dapat
dinyatakan sebagai kecepatan bergeraknya suatu cairan pada media berpori dalam
keadaan jenuh. Permeabilitas ini merupakan suatu ukuran kemudahan aliran
melalui suatu media poros. Secara kuantitatif permeabilitas diberi batasan dengan
koefisien permeabilitas. Beberapa faktor yang mempengaruhi permeabilitas di
antaranya tekstur tanah, bahan organik tanah, kerapatan massa tanah (bulk
density), kerapatan partikel tanah (particle density), porositas tanah, dan
kedalaman efektif tanah (Hanafiah, 2005).

b. Berat Volume (BV)


Berat volume (BV) tanah merupakan rasio antara berat dan volume total
contoh tanah termasuk volume ruang pori yang ada di dalamnya. Berat jenis (BJ)
tanah adalah rasio antara berat total partikel-partikel padat tanah dengan volume
total partikel-partikel padat tanah dengan volume ruang pori yang ada diantara
partikel. Nilai BV dan BJ yang terendah kemungkinan ditemui pada horizon
Organik yang kaya bahan organik sedangkan nilai tertinggi ditemui pada horizon
B dan C.
Keragaman berat volume tanah sangat bergantung pada jenis fraksi
penyusunan tanah termasuk tekstur tanah. Tanah-tanah yang bertekstur jarang
biasanya biasanya mempunyai berat volume yang lebih rendah dibandingkan
dengan tanah yang agak pejal. pertumbuhan akar akan terhambat pada tanah-tanah
yang mempunyai berat volume lebih dari 1,6 g/cm3. Perkembangan akar akan
terhenti pada tanah yang mempunyai berat volume antara 1,7 hingga 1,9
g/cm3sementara itu nilai berat jenis sangat mendekati 2,65 g/cm3 dengan standar
deviasi tidak lebih dari 0,15 g/cm3. Nilai BV dari Bj yang terendah ditemui pada
horizon O yang banyak mengandung bahan organik dan tertinggi pada horizon B (
Suhardi, 1997 ).
Berat isi tanah merupakan petunjuk kepadatan tanah, makin padat suatu
tanah makin tinggi pula berat isinya, yang berarti semakin sulit untuk meneruskan
air atau ditembus akar tanaman. Pada umunya berat isi tanah berkisar antara 1,1 –
1,6 g/cm3, namun ada juga beberapa jenis tanah yang memiliki Berat isi sebesar
0,85 g/cm3.
Metode untuk menentukan ukuran kerapatan tanah yaitu dengan mengukur
Volume tanah, mengeringkannya untuk menghilangkan air dan menimbang massa
tanah yang kering tersebut, untuk memperoleh suatu contoh volume tanah yang
tidak terganggu artinya strukturnya masih utuh secara alami, digunakanlah alat
pengambil sampel tanah dalam bentuk silinder (ring) atau kubus yang dapat
diukur panjang, lebar, tinggi maupun luas permukaannya. (Nurhidayati.2006.
Bahan ajar dasar ilmu tanah. Hal 62-63)
Faktor yang dapat mmempengaruhi berat isi tanah ialah besarnya ruang
pori atau porositas tanah, semakin besar porositas tanah dan jumlah ruang porinya
maka berat isinya akan semakin kecil. Tanah berpasir dan lempung berpasir
umumnya memiliki berat isi yang berkisar antara 1,2 – 1,8 g/cm2 sedangkan tanah
yang lebih halus umumnya kisaran Berat isinya antara 1,0 – 1,6 g/cm2 .

Kandungan bahan organik yang rendah dan kurangnya agresi tanah yang
kompak akan menyebabkan meningkatnya nilai berat isi tanah. Karena sangat
dipengaruhi oleh agresi tanah maka penentuan berrat isi tanah hanya baik apabila
dilakukan dengan menggunakan contoh tanah utuh. (Nurhidayati.2006.Penuntun
Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah. Hal :42)

c. Porositas (TRP)
Porositas adalah proporsi ruang pori total (ruang kosong) tang terdapat
dalam satuan volume tanah yang dapat ditempati oleh air dan udara, sehingga
merupakan indikator kondisi drainase dan aerasi tanah. Porositas dapat ditentukan
melalui 2 cara, yaitu menghitung selisih bobot tanah jenuh dengan bobot tanah
kering dan menghitung ukuran volume tanah yang ditempati bahan padat.
Komposisi pori-pori tanah ideal terbentuk dari kombinasi fraksi debu,
pasir, dan lempung. Porositas itu sendiri mencerminkan tingkat kesarangan untuk
dilalui aliran masa air (permeabilitas, jarak per waktu) atau kecepatan aliran air
untuk melewati masa tanah (perkolasi, waktu per jarak). Kedua indikator ini
ditentukan oleh semacam pipa berukuran non kapiler (yang terbentuk dari pori-
pori makro dan meso yang berhubungan secara kontinu) di dalam tanah. Hal
tersebut menekankan bahwa tanah permukaan yang berpasir memiliki porositas
lebih kecil daripada tanah liat. Sebab tanah pasir memiliki ruang pori total yang
mungkin rendah tetapi mempinyai proporsi yang besar yang disusun oleh
komposisi pori-pori yang besar yang efisien dalam pergerakan udara dan
airnya.Ini berarti karena prosentase volume yang terisi pori-pori kecil pada tanah
pasir menyebabkan kapasitas menahan air nya rendah. Maka tanah-tanah yang
memiliki tekstur halus, memiliki ruang pori lebih banyak dan disusun oleh pori-
pori kecil karena proporsinya relatif besar.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persen (%) Pori


- Kandunan bahan organik
- Struktur tanah
- Tekstur tanah

Porositas tanah tinggi kalau bahan organik tinggi tanah-tanah dengan


struktur granuler atau remah,mempunyai porositas yang lebih tinggi dari pada
tanah-tanah dengan struktur massive (pejal).
tanah dengan tekstur pasir banyak mempunyai pori-pori makro sehingga
sulit menahan air.(Hardjowigeno,1987).

d. Kadar Air
Kadar air tanah dinyatakan dalam persen volume yaitu persentase volume
air terhadap volume tanah. Cara penetapan kadar air dapat dilakukan dengan
sejumlah tanah basah dikering ovenkan dalam oven pada suhu 1000 C – 1100 C
untuk waktu tertentu. Air yang hilang karena pengeringan merupakan sejumlah air
yang terkandung dalam tanah tersebut. Air irigasi yang memasuki tanah mula-
mula menggantikan udara yang terdapat dalam pori makro dan
kemudian pori mikro. Jumlah air yang bergerak melalui tanah berkaitan dengan
ukuran pori-pori pada tanah.
Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah.
Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada
tanah bertekstur halus. Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada tanah pasir
umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau
liat. Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman. Ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi: banyaknya
curah hujan atau air irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya
evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan melalui vegetasi),
tingginya muka air tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa kimiawi atau
kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atau lapisan tanah (Madjid,
2010).
Cara penetapan kadar air tanah dapat digolongkan dengan beberapa cara
penetapan kadar air tanah dengan gravimetrik, tegangan atau hisapan, hambatan
listrik dan pembauran neutron. Daya pengikat butir-butir tanah Alfisol terhadap
air adalah besar dan dapat menandingi kekuatan tanaman yang tingkat tinggi
dengan baik begitupun pada tanah Inceptisol dan Vertisol, karena itu tidak semua
air tanah dapat diamati dan ditanami oleh tumbuhan (Hardjowigeno, S., 1993).
2.3 Ph Dan Al-dd
a. pH
pH tanah adalah salah satu dari beberapa indikator kesuburan tanah, sama
dengan keracunan tanah. Level optimum pH tanah untuk aplikasi penggunaan
lahan berkisar antara 5–7,5. tanah dengan pH rendah (acid) dan pH tinggi (alkali)
membatasi pertumbuhan tanaman. Efek pH tanah pada umumnya tidak
langsung. Di dalam kultur larutan umumnya tanaman budidaya yang dipelajari
pertumbuhannya baik/sehat pada level pH 4,8 atau lebih (Bunting, 1981).
PH tanah menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (didalam tanah).
Makin tinggi kadar ion didalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Bila
kandungan H sama dengan maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH = 7
(Hardjowigeno, 2010).
Larutan mempunyai pH 7 disebut netral, lebih kecil dari 7 disebut masam, dan
lebih besar dari 7 disebut alkalis. Reaksi tanah ini sangat menunjukkan tentang
keadaan atau status kimia tanah. Status kimia tanah mempengaruhi proses-proses
biologik (Hakim, dkk, 1986).
Nilai pH tanah dipengaruhi oleh sifat misel dan macam katron yang komplit
antara lain kejenuhan basa, sifat misel dan macam kation yang terserap. Semakin
kecil kejenuhan basa, maka semakin masam tanah tersebut dan pH nya semakin
rendah. Sifat misel yang berbeda dalam mendisosiasikan ion H beda walau
kejenuhan basanya sama dengan koloid yang mengandung Na lebih tinggi
mempunyai pH yang lebih tinggi pula pada kejenuhan basa yang sama
(Pairunan,dkk, 1985).
Kemasaman berpengaruh pada ketersediaanya atau tidak tersedianya hara
tanaman. Dalam hal ini kita mengenal pH tanah. pH tanah adalah suatu ukuran
aktifitas ion hydrogen di dalam larutan aior tanah dan dapat di pakai sebagai
ukuran bagi keasaman tanah. Hara adalah log dari harga kebalikan Cons ion
Hidrogen (Kartasapoetra, 2004 : 14).
pH tanah sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan
tanaman, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh langsung berupa
ion hidrogen sedangkan pengaruh tidak langsung yaitu tersedianya unsur-unsur
hara tertentu dan adanya unsur beracun. Kisaran pH tanah mineral biasanya antara
3,5–10 atau lebih. Sebaliknya untuk tanah gembur, pH tanah dapat kurang dari
3,0. Alkalis dapat menunjukkan pH lebih dari 3,6. Kebanyakan pH tanah toleran
pada yang ekstrim rendah atau tinggi, asalkan tanah mempunyai persediaan hara
yang cukup bagi pertumbuhan suatu tanaman (Sarwono, 2010).
Tanah masam adalah tanah dengan pH rendah karena kandungan H+ yang
tinggi. Pada tanah masam lahan kering banyak ditemukan ion Al3+ yang bersifat
masam karena dengan air ion tersebut dapat menghasilkan H+. Dalarn keadaan
tertentu, yaitu apabila tercapai kejenuhan ion Al3+ tertentu, terdapat juga ion Al-
hidroksida ,dengan demikian dapat menimbulkan variasi kemasaman tanah
(Yulianti, 2007).
Sumber kemasaman tanah dalam kandungan bahan-bahan organik dan
anorganik. Ionisasi asam menghasilkan ion H+yang bebas dalam larutan tanah.
Sumber lain dari kemasaman tanah adalah H+dan Al3+ yang dapat ditukar dengan
koloid tanah. Kemampuan suatu tanah dalam mempertahankan pH dari perubahan
karena terjadinya penambahan Alkalisatau masam biasa dinamakan sebagai daya
sanggah pada tanah (Hadjowigeno, 1987).
Kemasaman suatu tanah ditentukan oleh dinamika ion H+ yang terdapat di
dalam tanah dan berada pada kesetimbangan dengan ion H+yang terjerap.
Kemasaman tanah merupakan suatu sifat yang penting sebab terdapat hubungan
antara pH dengan ketersediaan unsur hara dan juga terdapatnya hubungan antara
pH tanah dengan proses pertumbuhan (Foth, 1989).
Kemasaman atau pH tanah yang tinggi biasanya mengakibatkan terjadinya
kerusakan atau terhambatnya pertumbuhan akar pada tanaman. Pengaruh tidak
langsung ketidakstabilan pada pH tanah, mengakibatkan keracunan pada tanaman
(Hakim, 1985).
Tanah yang terlalu masam, dapat dinaikkan pH-nya dengan menambahkan
kapur ke dalam tanah, sedangkan pH tanah yang terlalu alkalis atau mempunyai
nilai pH yang tinggi dapat diturunkan dengan cara menambahkan belerang atau
dengan cara pemupukan pada tanah (Hadjowigeno, 1987).
Kemasan tanah ada dua macam, yaitu:
1. Kemasaman aktif: Yaitu kemasaman yang disebabkan oleh adanya ion H+ yang
ada pada koloid tanah.
2. Kemasaman pasif: Yaitu kemasaman yang disebabkan oleh ion H+ dan Al3+
yang ada pada kompleks jerapan tanah.
pH meter adalah alat elektronik yang digunakan untuk mengukur pH
(keasaman atau alkalinitas) dari cairan (meskipun probe khusus terkadang
digunakan untuk mengukur pH zat semi-padat). Sebuah pH meter khas terdiri dari
probe pengukuran khusus atau elektroda yang terhubung ke meteran elektronik
yang mengukur dan menampilkan pembacaan pH (Aslilah, 2013).
b. Al-dd
Aldd adalah kadar Aluminium dalam tanah. Al dalam bentuk dapat
ditukarkan (Al-dd) umumnya terdapat pada tanah-tanah yang bersifat masam
dengan pH < 5,0. Aluminium ini sangat aktif karena berbentuk Al3+ ,monomer
yang sangat merugikan dengan meracuni tanaman atau mengikat fosfor.
Oleh karena itu untuk mengukur sejauh mana pengaruh Al ini perlu ditetapkan
kejenuhannya. Semakin tinggi kejenuhan aluminium, akan semakin besar bahaya
meracun terhadap tanaman. Kandungan aluminium dapat tukar (Al3+)
mempengaruhi jumlah bahan kapur yang diperlukan untuk
meningkatkan kemasaman tanah dan produktivitas tanah (Anonimous, 2009).
Kadar aluminium sangat berhubungan dengan pH tanah. Semakin rendah pH
tanah, maka semakin tinggi aluminium yang dapat dipertukarkan dan sebaliknya.

Hakim, dkk (1986) menyatakan bahwa keracunan aluminium menghambat


perpanjangan dan pertumbuhan akar primer, serta menghalangi pembentukan akar
lateral dan bulu akar. Apabila pertumbuhan akar terganggu, serapan hara dan
pembentukan senyawa organik tersebut akan terganggu. Sistem perakaran yang
terganggu akan mengakibatkan tidak efisiennya akar menyerap unsur hara.

2.4 N-total dan KTK


a. N-total
Sumber nitrogen terbesar bagi tanaman berasal dari N atmosfer. Nitrogen
organik yang dibenamkan ke dalam tanah merupakan N organik tanah yang
bentuk kimianya tidak dapat diserap begitu saja oleh tanaman. Dalam bentuk
NO3-, nitrogen mudah keluar dari daerah perakaran. Ia mudah tercuci karena
besar muatan listrik positif tanah biasanya sangat kecil. Nitrogen dalam bentuk
NO3- juga dapat tereduksi secara mikrobiologis menjadi NO, N2O, atau N2 yang
menguap.
Jumlah NH4+ dan NO3- di dalam tanah dapat bertambah akibat dari
pemupukan N, fiksasi N biologis, hujan, dan penambahan bahan organik.
Sedangkan berkurangnya jumlah NH4+ dan NO3- disebabkan oleh pencucian,
pemanenan, denitrifikasi, dan juga votalisasi. Air sangat berperan sekali dalam
dinamika nitrogen tanah.
Penerapan jumlah protein dilakuakan dengan penentuan jumlah nitrogen
yang terkandung oleh suatu bahan N-total bahan diukur dengan menggunakan
metode mikro-Kjeldahl. Prinsip dari metode ini adalah oksidasi senyawa organik
oleh asam sulfat untuk membentuk CO2 dan dalam bentuk ammonia yaitu
penentuan protein berdasarkan jumlah N.
Penentuan jumlah protein seharusnya hanya nitrogen yang berasal dari
protein saja yang ditentukan. Akan tetapi teknik ini sangat sulit sekali dilakukan
mengingan kandungan senyawa N lain selain protein dalam bahan juga terikut
dalam analisis ini. Jumlah senyawa ini biasanya sangat kecil yang meliputi urea,
asam nukleat, ammonia, nitrat, nitrit, asam amino, amida, purin dan pirimidin,
oleh karena itu penentuan jumlah N total ini tetap dilakukan untuk mewakili
jumlah protein yang ada. Kadar protein yang ditentukan dengan cara ini biasa
disebut sebagai protein kasar atau crade protein. Analisa protein cara Kjeldahl
pada dasarnya dibagi menjadi tiga tahap yaitu proses destruksi, destilasi dan titrasi
(Sudarmadji, 1996)
Cara utama nitrogen masuk ke dalam tanah adalah akibat kegiatan jasad
renik, baik yang hidup bebas maupun yang bersimbiose dengan tanaman. Dalam
hal yang terakhir nitrogen yang diikat digunakan dalam sintesa amino dan protein
oleh tanaman inang. Jika tanaman atau jasad renik pengikat nitrogen bebas, maka
bakteri pembusuk membebaskan asam amino dari protein, bakteri amonifikasi
membebaskan amonium dari grup amino, yang kemudian dilarutkan dalam larutan
tanah. Amonium diserap tanaman, atau diserap setelah dikonversikan menjadi
nitrat oleh bakteri nitrifikasi (Hakim, dkk., 1986).

b. KTK
Bagian yang paling aktif didalam tanah adalah partikel-partikel tanah
berukuran koloid. Koloid organik dan anorganik tanah ini bermuatan negative dan
dapat menjerap kation, yang dalam keadaan tertentu dapat terlepas kembali.
Koloid tanah dapat menjerap kation. Jumlah kation yang terjerap tergantung pada
susunan kimia dan mineral koloid tanah.
Muatan negatif koloid mineral berasal dari valensi-valensi yang pada
patahan-patahan mineral, ionisasi hydrogen dari gugus Al –OH dan subsitusi
isomorfik. Sedangkan muatan negative koloid organic berasal dari ionisasi gugus
karboksil dan fenolik.
Kapasitas Tukar Kation (KTK) adalah jumlah me kation yang dapat
dijerap 100 gram tanah kering mutlak (berat kering oven 105 C ). Kapasitas
Tukar Kation adalah kemampuan koloid tanah menjerap dan mempertukarkan
kayion . Penetapan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dapat dibagi menjadi dua
tahap. Pada tahap pertama , kompleks koloid tanah dijenuhi dengan suatu kation,
misalnya NH4 hingga seluruh kation yang dapat dipertukarkan dapat dikelurkan
dari kompleks jerapan tersebut (NH4) ditukar secara kuantitatif dengan kation
lainya , misalnya Na sehingga jumlah NH4 secara kuantitatif dengan metode
Amonium dalam praktikum KTK ini ditentukan dengan metode Amonium Asetat
1N pH7 dengan cara kerja yang ringkas.
Melalui penetapan KTK, kita juga dapat menentukan persen kejenuhan basa
(KB) adalah perbandingan jumlah me kation basa (K, Ca, Mg, Na ) dengan me
kapasitas tukar kation ( KTK) .
Kapasitas tukar kation tanah tergantung pada tipe dan jumlah kandungan
liat, kandungan bahan organik, dan pH tanah. Kapasitas tukar kation tanah yang
memiliki banyak muatan tergantung pH dapat berubah-ubah dengan perubahan
pH. Keadaan tanah yang masam menyebabkan tanah kehilangan kapasitas tukar
kation dan kemampuan menyimpan hara kation dalam bentuk dapat tukar, karena
perkembangan muatan positif. Kapasitas tukar kation kaolinit menjadi sangat
berkurang karena perubahan pH dari 8 menjadi 5,5. KTK tanah adalah jumlah
kation yang dapat dijerap 100 gram tanah pada pH 7 (Pairunan, dkk., 1999).
Kation adalah ion bermuatan positif seperti Ca++, Mg+, K+, Na+, NH4+,
H+, Al3+, dan sebagainya. Di dalam tanah kation-kation tersebut terlarut di dalam
air tanah atau dijerap oleh koloid-koloid tanah. Banyaknya kation (dalam
miliekivalen) yang dapat dijerap oleh tanah per satuan berat tanah (biasanya per
100 g) dinamakan kapasitas tukar kation (KTK). Kation-kation yang telah dijerap
oleh koloid-koloid tersebut sukar tercuci oleh air gravitasi, tetapi dapat diganti
oleh kation lain yang terdapat dalam larutan tanah. Hal tersebut dinamakan
pertukaran kation. Jenis-jenis kation yang telah disebutkan di atas merupakan
kation-kation yang umum ditemukan dalam kompleks jerapan tanah.(Rosmarkam
dan Yuwono, 2002)
2.5 C-Organik dan P-tersedia

a. C-Organik

Bahan organik adalah bahan pemantap agregat tanah yang tiada taranya.
Sekitar setengah dari kapasitas tukar kation (KTK) berasal dari bahan organik. Ia
merupakan sumber hara bagi tanaman. Di samping itu, bahan organik adalah
sumber energy dari sebagian besar organism tanah. (Nurhajati Hakim dkk, 1986)

Sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar,


batang, daun, bunga, dan buah. Sumber sekunder bahan organik adalah berasal
dari binatang. (Nurhajati Hakim dkk, 1986)

b. P-tersedia

Unsur P di dalam tanah berasal dari:

 Bahan organik (pupuk kandang, sisa – sisa tanaman)


 Pupuk buatan (TSP, DS)
 Mineral – mineral di dalam tanah (apatit)

Jenis P di dalam tanah adalah sebagai berikut

 P-organik (Phytin, nucleic acid, Phospho lipid)


 P-organik. (Sarwono Hardjowigeno, 2003)

Di dalam tanah masam banyak unsur P, baik yang telah berada di dalam tanah
maupun yang diberikan ke tanah sebagai pupuk (misalnya pupuk TSP) terikat
oleh unsur – unsur Al dan Fe sehingga tidak dapat oleh tanaman. Apabila terikat
oleh Al, maka terbentuklah senyawa Varisit yang sukar larut. (Sarwono, 2003)

Di bawah ini adalah beberapa fungsi dari unsur P:

 Untuk pembelahan sel, pembentukan albumin, pembentukan bunga,


mempercepat pematangan, memperkuat batang agar tidak mudah roboh,
 Memperbaiki kualitas tanaman terutama sayur – sayur dan makanan
ternak, perkembangan akar dan tahan terhadap penyakit, dll.
BAB III

BAHAN DAN METODA


3.1 Waktu dan Tempat
Pratikum ini dilaksanakan pada tanggal 10 Juli 2018 s/d 24 Juli 2018 di
Laboratorium Fisika dan Kimia Tanah Fakultas Pertanian Universitas
Andalas, Padang.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 BV, TRP, KA dan Permeabilitas Tanah
a. Berat Volume ( BV )
Bahan dan alat yang diperlukan pada penetapan berat volume tanah
meliputi ring sampel, pisau lapang, karet gelang, kertas label.
b. Permeabilitas
Bahan dan alat yang diperlukan dalam penetapan permeabilitas tanah
adalah tanah dalam ring sampel, air bebas ion.
3.2.2 Tekstur Tanah
Alat yang diperlukan dalam penetapan tekstur tanah adalah ayakan 2
mm, oven, timbanagan analitik,botol timbang, botol kocok, sheaker, gelas
semprot, cawan aluminium,dan hotplate.
Sedangkan bahan yang diperlukan dalam penetapan tekstur tanah adalah
sampel tanah, H2O2 30%, H2O2 10%, HCl, Na2P4O7, asam asetat sera aquades.
3.2.3 pH dan Al-dd
a. pH Tanah

Adapun alat yang digunakan adalah botol kocok 100 ml, dispenser 50
ml/gelas ukur, mesin pengocok, labu semprot 500 ml, dan pH meter.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan buffer pH 7,0 dan pH 4,0 ,
KCl 1 M , larutkan 74,5 g KCl p.a. dengan air bebas ion hingga 1 l.

b. Al-dd Tanah

Adapun alat yang digunakan adalah neraca analitik, buret 10 ml, mesin
kocok, botol kocok 100 ml, erlenmeyer 50 ml,sentrifuse atau kertas saring,
dispenser 50 ml, dan ipet 10 m. Sedangkan bahan yang digunakan adalah KCl
1M Timbang 74,6 g KCl, dilarutkan dengan air bebas ion dalam labu ukur 1 l,
kemudian diimpitkan. Penunjuk phenolphtalin (pp) 0,1% Larutkan 100 mg
phenolphtalin dalam 100 ml etanol 96%. NaF 4% Dilarutkan 40 g NaF
dengan air bebas ion dalam labu ukur 1 l, kemudian diimpitkan. Larutan baku
NaOH 0,020N Pipet 20 ml NaOH 1N (Titrisol), diencerkan dan diimpitkan
dengan air bebas ion dalam labu ukur 1 l. Tetapkan normalitas larutan ini
dengan larutan baku HCl 0,020 N setiap kali digunakan. Larutan baku HCl
0,020 N Pipet 20 ml HCl 1N (Titrisol), diencerkan dan diimpitkan dengan air
bebas ion dalam labu ukur 1 l.

3.2.4 C-organik dan P-tersedia

a. C-organik

Adapun alat yang digunakan adalah neraca analitik, spektrofotometer,


labu ukur 100 ml, dan dispenser 10 ml. Sedangkan bahan yang digunakan
adalah Asam sulfat pekat,kalium dikromat 1 N Dilarutkan 98,1 g kalium
dikromat dengan 600 ml air bebas ion dalam piala gelas, ditambahkan 100 ml
asam sulfat pekat, dipanaskan hingga larut sempurna, setelah dingin
diencerkan dalam labu ukur 1 l dengan air bebas ion sampai tanda garis.
Larutan standar 5.000 ppm C Dilarutkan 12,510 g glukosa p.a. dengan air
suling di dalam labu ukur 1 l dan diimpitkan.

b. P-tersedia

Alat yang digunakan adalah dispenser 25 ml, dispenser 10 ml, tabung


reaksi, pipet 2 ml, kertas saring, botol kocok 50 ml, mesin pengocok, dan
spektrofotometer. Sedangkan bahan yang digunakan adalah HCl 5 N
Sebanyak 416 ml HCl p.a. pekat (37 %) dimasukkan dalam labu ukur 1.000
ml yang telah berisi sekitar 400 ml air bebas ion, kocok dan biarkan menjadi
dingin. Tambahkan lagi air bebas ion hingga 1.000 ml. Pengekstrak Bray
dan Kurts I (larutan 0,025 N HCl + NH4F 0,03 N) Ditimbang 1,11 g hablur
NH4F, dilarutkan dengan lebih kurang 600 ml air bebas ion, ditambahkan 5
ml HCl 5 N, kemudian diencerkan sampai 1 l. Pereaksi Ppekat Larutkan 12
g (NH4)6 Mo7O24.4H2O dengan 100 ml air bebas ion dalam labu ukur 1 l.
Tambahkan 0,277 g H2O (SbO)C4H4O6 0,5 K dan secara perlahan140 ml
H2SO4 pekat.Jadikan 1l denganairbebasion. Pereaksi pewarnaP
Campurkan 1,06 g asam askorbat dan 100 ml pereaksi P pekat, kemudian
dijadikan1l denganairbebasion.Pereaksi Pini harus selalu dibuat baru.
Standar induk 1.000 ppm PO4 (Titrisol) Pindahkan secara kuantitatif larutan
standar induk PO4 Titrisol di dalam ampul ke dalam labu ukur 1 l. Impitkan
dengan air bebas ion sampai dengan tanda garis, kocok.

3.2.5 N Total dan KTK

a. N total

Alat yang digunakan adalah neraca analitik tiga desimal, tabung digestion
& blok digestion, labu didih 250 ml, erlenmeyer 100 ml, buret 10 ml,
pengaduk magnetik, dispenser, tabung reaksi, pengocok tabung, alat destilasi
atau Spektrofotometer. Sedangkan bahan yang digunakan adalah Destruks
Asam sulfat pekat (95-97 %) Campuran selen p.a. (tersedia di pasaran) atau
Dibuat dengan mencampurkan 1,55 g CuSO4 anhidrat, 96,9 g Na2SO4
anhidrat dan 1,55 g selen kemudian dihaluskan. Destilasi Asam borat 1%
Dilarutkan 10 g H3BO3 dengan 1 l air bebas ion. Natrium Hidroksida 40%
Dilarutkan 400 g NaOH dalam piala gelas dengan air bebas ion 600 ml,
setelah dingin diencerkan menjadi 1 l. Batu didih Dibuat dari batu apung yang
dihaluskan. Penunjuk Conway Dilarutkan 0,100 g merah metil (metil red) dan
0,150 g hijau bromkresol (bromcresol green) dengan 200 ml etanol 96%.
Larutan baku asam sulfat 1N (Titrisol) H2SO4 4 N Masukan 111 ml H2SO4
p.a. pekat (95-97%) sedikit demi sedikit melalui dinding labu labu ukur 1.000
ml yang telah berisi sekitar 700 ml air bebas ion, kocok dan biarkan menjadi
dingin. Tambahkan lagi air bebas ion hingga 1.000 ml, kocok. Larutan baku
asam sulfat 0,050 N Pipet 50 ml larutan baku H2SO4 1 N Titrisol ke dalam
labu ukur 1 l. Encerkan dengan air bebas ion hingga 1 l. Atau: Pipet 12,5 ml
asam sulfat 4 N ke dalam labu ukur 1 l. Diencerkan sampai 1 l dengan air
bebas ion, kocok. Kenormalannya ditetapkan dengan bahan baku boraks.
Spektrofotometri Standar 0 Encerkan ekstrak blanko dengan air bebas ion
menjadi 50 ml. Jumlah blanko yang dikerjakan disesuaikan dengan volume
standar 0 yang diperlukan. Standar pokok 1.000 ppm N.

Timbang 4,7143 serbuk (NH4)2SO4 p.a. (yang telah dikeringkan pada


100 oC selama 4 jam) ke dalam labu ukur 1 l. Tambahkan air bebas ion
hingga tepat 1 l dan kocok hingga larutan homogen. Standar 20 ppm N Buat
dengan memipet 2 ml standar pokok 1.000 ppm N ke dalam labu ukur 100 ml
dan diencerkan dengan standar 0 hingga tepat 100 ml. Deret standar 0-20 ppm
N Pipet 0; 1; 2; 4; 6; 8 dan 10 ml standar N 20 ppm masing-masing ke dalam
tabung reaksi. Tambahkan standar 0 hingga semuanya menjadi 10 ml. Deret
standar ini memiliki kepekatan 0; 2; 4; 8; 12; 16 dan 20 ppm N. Lakukan
pengocokan pada setiap pencampuran. Larutan Na-fenat Timbang 100 g
serbuk NaOH p.a. dan dilarutkan secara perlahan sambil diaduk dengan
sekitar 500 ml air bebas ion di dalam labu ukur 1 l. Setelah dingin tambahkan
125 g serbuk fenol dan aduk hingga larut. Diencerkan dengan air bebas ion
sampai 1 l. Larutan sangga Tartrat Timbang 50 g serbuk NaOH p.a. dan
dilarutkan secara perlahan sambil diaduk dengan sekitar 500 ml air bebas ion
di dalam labu ukur 1 l. Setelah dingin tambahkan 50 g serbuk K, Na-tartrat
dan aduk hingga larut. Encerkan dengan air bebas ion sampai 1 l. Natrium
hipoklorit (NaOCl) 5 %.

b. KTK

Alat yang digunakan adalah tabung perkolasi, labu ukur 50 ml, labu ukur
100 ml, labu semprot, spektrofotometer UV-Vis, dan SSA. Sedangkan bahan
yang digunakan adalah larutan Fenol Ditimbang 80 g serbuk NaOH p.a. dan
dilarutkan dengan sekitar 500 ml air bebas ion secara perlahan sambil diaduk.
Setelah dingin ditambahkan 125 g serbuk Fenol, kemudian diencerkan
dengan air bebas ion dan diimpitkan sampai garis 1 l. Larutan sangga Tartrat
Ditimbang 80 g serbuk NaOH p.a. dan dilarutkan dengan sekitar 500 ml air
bebas ion. Setelah dingin tambahkan 50 g K, Na-tartrat dan aduk hingga larut.
Diimpitkan dengan air bebas ion sampai tepat 1 l.
Natrium hipoklorit (NaOCl) 5% Standar pokok 2.500 m.e. NH4+l-1
Ditimbang 16,500 g serbuk (NH4)2SO4 p.a. ke dalam labu ukur 100 ml.
Larutkan dengan air bebas ion dan impitkan hingga tepat 100 ml. Standar
NH4+ 0 dan 25 m.e. l-1 Dipipet standar 2500 m.e. NH4+ l-1 sebanyak 1 ml,
dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml. Tambahkan 10 ml etanol 96% dan
diimpitkan dengan larutan NaCl 10%. Dengan cara yang sama, tapi tanpa
pemipetan larutan standar dibuat standar 0. Deret standar 0 – 25 m.e. NH4+ l-
1 Dipipet ke dalam tabung reaksi masing-masing 0; 1; 2; 4; 6; 8 dan 10 ml
standar 25 me NH4+. Tambahkan standar 0 hingga semuanya menjadi 10 ml.

3.3 Metode

3.3.1 Metode yang digunakan untuk mengukur pH tanah adalah pH meter.

3.3.2 Metode yang digunakan untuk mengukur Al-dd adalah Kalorimeter.

3.3.3 Metode yang digunakan untuk C Organik adalah Walkey and Black.

3.3.4 Metode yang digunakan untuk P tersedia adalah Bray I.

3.3.5 Metode yang digunakan untuk N total adalah Nitrogen khejedahl.

3.3.6 Metode yang digunakan untuk KTK adalah Leaching ( pencucian ).

3.3.7 Metode yang digunakan untuk tekstur adalah pipet dan ayakan.

3.3.8Metode yang digunakan untuk permeabilitas adalah constant head parameter.

3.4 Cara Kerja

3.4.1 Berat Volume


Ditimbang tabung kosong, umpamanya beratnya Y gram. Taruh tabung
tersebut dengan posisi tegak berdiri pada permukaan tanah yang akan diukur
berat volume tanahnya. Tekan tabung tadi secara perlahan-lahan sehingga
semua tabung masuk kedalam tanah.Angkat tabung beserta tanahnya,
kemudian bersihkan kotoran yang menempel pada sisi tabung bagian luar,
ratakan permukaan tanah dengan permukaan kedua ujung ring sampel lalu
tutup kedua ujung ring dengan penutupnya. Ring tersebut dibawa ke
laboratorium, kemudian keringkan dalam oven dengan temperatur 1050C,
sampai beratnya konstan. Timbang tabung beserta isinya, misalnya berat X
gram. Keluarkan tanah dalam ring dan hitung berat kering tanah dengan jalan
mengurangi X dengan Y, misalnya beratnya Z gram. Hitung volume tanah
setekah itu hitung berat volume tanah.
3.4.2 Permeabilitas
Contoh tanah diambil dari lapang dengan tabung silinder. Contoh tanah
dengan tabungnya direndam dalam bak air sampai setinggi 3 cm dari dasar
bak selama 24 jam. Maksud perendaman adalah untuk mengeluarkan udara
yang ada dalam pori-pori tanah sehingga tanah menjadi jenuh.Setelah
perendaman selesai, contoh tanah disambung dengan satu tabung silinder
lagi.Tabung kemudian dipindah kealat penetapan permeabilitas. Tambahkan
air secara hati-hati setinggi tabung dan dipertahankan tinggi air tersebut.
Lakukan pengukuran volume air yang mengalir melalui alat penetapan
permeabilitas tanah tersebut dalam waktu tertentu misalnya 3, menit, 5 menit,
atau 10 menit.Lakukan pengukuran volume air tersebut sebanyak 5 kali,
kemudian hasilnya dirata-ratakan.Hitung permeabilitas tanah
3.4.3 Tekstur Tanah
Timbang tanah 20 gram kering udara dan dimasukan dalam erlemayer
500 ml.Tambahakan 15 ml air dan 15 ml H2O2 30% dan kocok memutar
dengan tangan.Biarkan semalam, Apabila buih banyak tempatkan dalam bak
air dan tambahkan alcohol.Tempatkan diatas hot plate atau pemanas dengan
suhu rendah dan tambahkan dengan H2O2 30% sedikit demi sedikit sampai
tidak timbul buih.Bila tanah mengandung CaCO3 bebas, tambahkan 45 ml
HCL 0,4 N didihkan 60 menit, biarkan mengendap dan lakukan dekan tasi.
Tambahkan air sampai menjadi ± 300 ml, kemudian ditempatkan diatas hot
plate dengan menaikkan suhu perlahan-lahan dan didihkan selama 1jam
(untuk menghilangkan sisa H2O2 30%) setelah itu didinginkan.
Setelah dingin tambahkan 25 ml larutan Na4P2O7 5% dan biarkan
semalam.Hari beriku di kocok dengan pengocok (mixer) selama 5 menit, lalu
pasirnya dipisahkan dengan ayakan 0,053 mm. pasir dioven dengan suhu
1050C sampai konstan.Filtratnya untuk penentuan debu dan liat.
Penentuan debu dan liat pertama filtrat hasil saringan tadi dimasukkan ke
dalam tabung 1000 ml dan tempatkan di atas meja kocok sampai semua
larutan mengendap, dan langsung dipipet sebanyak 20 ml dan catat suhunya.
Hasil pemipetan dipindahkan ke tin timbangan (sebelumnya tin ditimbang
dulu). Keringkan dalam oven selama semalam dengan suhu 1050C. ini
menunjukkan fraksi ± 50 u = berat B.Diamkan jangan sampai kena getaran
(suhu no.1 menentukan waktu pemipetan yang kedua). Setelah waktu
pemipetan kedua, pipet lagi sebanyak 20 ml, masukkan kedalam tin.
Keringkan dalam oven semalam lalu timbang. Berat ini menunjukkan berat
fraksi yang berukuran lebih kecil dari 50 u = berat C. Suhu pemipetan kedua
dicatat, untuk menentukan waktu pemipetan yang ketiga. Selama tepat
waktunya, pipet lagi sebanyak 20 ml (seperti no.2) masukkan dalam tin dan
keringkan dalam oven selama semalam. Berat fraksi ini menunjukkan fraksi
yang lebih kecil 2 u = berat D. .
3.4.4 pH Tanah
Tanah ditimbang seberat 10 gram sebanyak dua kali. setelah itu masing-
masing tanah dimasukkan ke dalam botol kocok.lalu diambil 50 ml air bebas
ion ke botol yang satu (pH H2O ) dan 50 ml KCL 1 M ke dalam botol lainya
(pH KCL).setelah itu kocok dengan mesin pengocok selama 30
menit.Suspensi tanah diukur dengan pH meter yang telah dikalibrasi
menggunakan larutan sangga pH 7,0 dan pH 4,0. Lalu nilai pH dicatat dalam
satu decimal.
3.4.5 Al-dd
Tanah ditimbang seberat 5 gram sebesar < 2 mm kedalam botol kocok
100 ml,lalu ditambahkan 50 ml KCL 1 M.Setelah itu Campuran tersebut
dikocok dengan mesin pengocok selama 30 menit kemudian disaring atau
disentrifuse.Setelah itu ekstrak jernih dipipet 10 ml ke dalam Erlenmeyer,dan
dibubuhi indicator PP,kemudian dititrasi dengan larutan NaOH baku sampai
warna menjadi merah jambu.Tambahkan sedikit larutan HCL agar warna
merah jambu tersebut menjadi hilang dan bening.Lalu tambahkan 2 ml NaF
4% (warna ekstrak menjadi merah jambu kembali).Kemudian dititrasi dengan
larutan HCL sampai warna merah jambu tersebut menjadi bening.Lalu hitung
HCl yang terpakai dan kerjakan analisis blanko.
3.4.6 C-Organik
Tanah ditimbang seberat 0,5 g dengan ukuran bebas ayakan sebesar < 0,5
nm, lalu dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml.Ditambahkan 5 ml K2Cr2O7 1
N,lalu dikocok.Setelah itu ditambahkan 7,5 ml H2SO4 pekat,lalu dikocok dan
diamkan selama 30 menit.lalu diencerkan dengan air bebas ion,biarkan dingin
dan diimpitkan.Setelah itu keesokan harinya diukur absorbansinya larutan
jernih dengan spektofotometer pada Panjang gelombang 561 nm.Sebagai
pembanding dibuat standar 0 dan 250 ppm,dengan memipet 0 dan 5 ml
larutan standar 5000 ppm ke dalam labu ukur 100 ml dengan perlakuan yang
sama dengan pengerjaan contoh.Bila pembacaan contoh melebihi standar
tertinggi,ulangi penetapan dengan menimbang contoh lebih sedikit.Ubahlah
factor dalam perhitungan sesuai berat contoh yang ditimbang.
3.4.7 P-Tersedia Metode Bray I
Timbang tanah seberat 2,5 g lolos ayakan sebesar < 2 mm,setelah itu
tambahkan pengestrak Bray dan Kurt I sebanyak 25 ml,kemudian dikocok
selama 5 menit.Lalu disaring dan bila larutan tanah dikembalikan ke atas
saringan semula (proses penyaringan maksimum 5 menit).Setelah itu dipipet
2 ml ekstrak jernih ke dalam tabung reaksi.contoh dan deret standar masing-
masing ditambah pereaksi pewarna fosfat sebanyak 10 ml,lalu dikocok dan
dibiarkan 30 menit.lalu diukur absorbansinya dengan spektofotometer pada
Panjang gelombang 889 nm.
3.4.8 N-Total
 Destruksi
Ditimbang tanah seberat 0.5 g dengan lolos ayakan sebesar < 0.5 nm.lalu
dimasukkan ke dalam tabung digest.Setelah itu tambahkan 1 g campuran
serbuk selen dan 3 ml asam sulfat pekat,lalu didestruksi hingga suhu
350oC (3-4 jam).Apabila keluar asap putih maka proses Destruksi selesai
dan didapat ekstrak jernih (sekitar 4 jam).
Tabung diangkat,dan didinginkan dan kemudian ekstrak lalu diencerkan
dengan air bebas ion hingga mencapai 50 ml.lalu dikocok sampai
homogen,dan biarkan semalam agar partikel yang berada di larutan
tersebut mengendap.Ekstrak digunakan untuk pengukuran N dengan cara
destilasi atau cara kolorimeter
 Destilasi
Pindahkan secara kualitatif seluruh ekstrak ke dalam labu didih (gunakan
air bebas ion dan labu semprot).Tambahkan sedikit serbuk batu didih dan
aquades hingga mencapai setengah volume labu.Lalu siapkan penamung
untuk NH3 yang dibebaskan yaitu Erlenmeyer yang berisi 10 ml asam
borat 1 % yang ditambahkan tiga tetes indicator Conway (berwarna
merah) dan dihubungkan dengan alat destilasi.Lalu tambahkan NaOH 40%
kedalam gelas ukur sebanyak 10 ml ke dalam labu didih yag berisi contoh
dan secepatnya ditutup.Setelah itu didestilasi hingga mencapai volume
penampung 50-75 ml (berwarna hijau).Destilat dititrasi dengan H2SO4
0,050 N hingga berwarna merah muda.Catat volume titrasi
3.4.9 KTK
Sama dengan cara kerja penetapan N pertama isi tabung perkolasi
(setelah selesai tahap pencucian dengan etanol) dipindahkan secara kualitatif
seluruh ekstrak ke dalam labu didih (gunakan air bebas ion dan labu
semprot).Tambahkan sedikit serbuk batu didih dan aquades hingga mencapai
setengah volume labu.Lalu siapkan penamung untuk NH3 yang dibebaskan
yaitu Erlenmeyer yang berisi 10 ml asam borat 1 % yang ditambahkan tiga
tetes indicator Conway (berwarna merah) dan dihubungkan dengan alat
destilasi.Lalu tambahkan NaOH 40% kedalam gelas ukur sebanyak 10 ml ke
dalam labu didih yag berisi contoh dan secepatnya ditutup.Setelah itu
didestilasi hingga mencapai volume penampung 50-75 ml (berwarna
hijau).Destilat dititrasi dengan H2SO4 0,050 N hingga berwarna merah
muda.Catat volume titrasi.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
a. Tekstur tanah
Tabel 1 analisis tekstur tanah
Tekstur Nilai ( % ) Kelas Tekstur
pasir 31,7
debu 33,17 Lempung Berliat
liat 35,11

b. Permeabilitas, BV,TRP,KA
Tabel 2 analisis permeabilitas
Permeabilitas Nilai ( cm/jam ) Kriteria
5 menit 0,1227 lambat
10 menit 0,0613 Sangat lambat
15 menit 0,0613 Sangat lambat
Tabel 3 analisis BV,TRP,KA
Objek Nilai
TRP 70,8 %
BV 0,774 g/cm3
KA 22,54 %

c. pH dan Al-dd
Tabel 4 analisis pH dan Al-dd
Objek Nilai Kriteria
pH H2O 4,63 Masam
pH KCl 3,9 Sangat masam
Al-dd 1,2254 me/100g Sangat rendah
d. N total dan KTK
Tabel 5 analisis N total dan KTK

Objek Nilai ( % ) Kriteria


N totak (0-20cm) 0,0042 Sangat rendah
N total (20-40cm) 0,0068 Sangat rendah
KTK 14,214 rendah

e. C-organik dan Ptersedia


Tabel 6 analisis C organik dan Ptersedia

Kedalaman C-org ( % ) P(%) Kriteria


(0-20cm) 2,85 17,63 sedang
(20-40cm) 3,7 13,69 sedang

4.2 Pembahasan
a. Tekstur
Dari penetapan hasil tekstur sampel tanah didapatkan bahwa tekstur tanah
tersebut adalah lempung berliat . Hasil penetapan ini berdasarkan persentase pasir
debu dan liat dari sampel tanah kemudian di cocokkan dengan segitiga tekstur
tanah (USDA), Sehingga didapatkan kelas tekstur tanah.
Tekstur tanah merupakan sifat yang menggambarkan kasar halusnya tanah
yang ditentukan dalam percobaan dan ditentukan oleh perbandingan berat fraksi
fraksi penyusunnya. Suatu fraksi yang dominan pada suatu tanah akan
menentukan ciri dan jenis tanah yang bersangkutan. Tanah yang bertekstur pasir
mempunyai luas permukaan yang kecil sehingga kemampuan menahan air dan
menyediakan unsur hara sangat rendah.
Tanah yang didominasi pasir akan banyak mempunyai pori-pori makro,
tanah yang didominasi debu akan mempunyai pori-pori meso (sedang), sedangkan
didominasi liat akan banyak mempunyai pori-pori mikro.
Hal ini berbanding terbalik dengan luas permukaan yang terbentuk, luas
permukaan mencerminkan luas situs yang dapat bersentuhan dengan air, energi
atau bahan lain, sehingga makin dominan fraksi pasir akan makin kecil daya
tahannya untuk menahan tanah .

Makin poreus tanah akan makin mudah akar untuk berpenetrasi, serta
makin mudah air dan udara untuk bersirkulasi tetapi makin mudah pula air untuk
hilang dari tanah dan sebaliknya, makin tidak poreus tanah akan makin sulit akar
untuk berpenetrasi serta makin sulit air dan udara untuk bersirkulasi. Oleh karena
itu, maka tanah yang baik dicerminkan oleh komposisi ideal dari kedua kondisi
ini, sehingga tanah bertekstur debu dan lempung akan mempunyai ketersediaan
yang optimum bagi tanaman, namun dari segi nutrisi tanah lempung lebih baik
ketimbang tanah bertekstur debu.

b.Permeabilitas, BV, TRP, KA


Dengan menggunakan hukum Darcy diketahui bahwa permeabilitas tanah
yang diamati ialah kecildari 1cm/jam. Besar kecilnya permeabilitas tanah juga
dipengaruhi oleh :
 Tekstur Tanah.
Semakin halus tekstur tanah atau semakin banyak kandungan liat tanah maka
peresapan atau permeabilitas air tanah menjadi lambat.
 Bahan Organik
Semakin banyak bahan organik dalam tanah maka daya resapnya juga akan
semakin tinggi sehingga permeabilitasnya juga semakin besar pula.
 Struktur tanah.
Tanah dengan ruang pori yang kecil-kecil dan sedikit maka permeabilitasnya juga
akan menjadi lebih rendah dan begitu pula sebaliknya apabila tanah memiliki
ruang pori yang besar dan banyak maka peresapannya juga akan semakin besar
sehingga permeabilitasnya semakin besar pula.
Bulk density (berat jenis suatu tanah) adalah besar massa tanah
persatuan volume, termasuk butiran padat dan ruang pori, umumnya dinyatakan
dalam gr/cm3. Bulk density dipengaruhi oleh padatan tanah, pori-pori
tanah, struktur, tekstur, ketersediaan bahan organik, serta pengolahan tanah
sehingga dapat dengan cepat berubah akibat pengolahan tanah dan praktek
budidaya. Pada umumnya Bulk Density berkisar antara 1.1-1.6 g/cc. beberapa
jenis tanah bulk density kurang dari 0.90 g/cc misalnya tanah andisol, bahkan ada
yang kurang dari 0.10 g/cc misalnya tanah gambut.
Dari percobaan yang telah di lakukan tentang Bulk Density yang di ambil
dari sampel tanah di kebun percobaan unand di dapatkan besar bulk density rata-
ratanya adalah 0,774 g/cm3. Ini menunjukkan bahwa sampel tanah yang di ambil
merupakan sampel tanah ultisol yang mana kita tahu bahwa tanah ultisol adalah
tanah yang miskin akan unsur hara. Bulk density sebesar 0,774 g/cm3 sudah
termasuk sedang untuk tanah ultisol. Hasil yang di dapatkan ini sesuai dengan
pengolahan tanah yang terjadi di kebun sampel, kebun ini merupakan kebun
percobaan yang penggunaan dan pengolahan lahannya sangat sering dilakukan
sehingga kepadatan tanah yang ada cukup tinggi.
Hasil perhitungan mengenai TRP (Total Ruang Pori) yang telah di lakukan
di dapatkan sebesar 70,8 %. Ini menunjukkan bahwa tingkat Total Ruang Pori
dalam kategori tinngi untuk tanah ultisol. Dengan Total Ruang Pori sebesar 70,8
%. Dapat di katakan kemapuan tanah untuk menahan air cukup baik, dimana
tanah ini mempunyai jumlah pori-pori lebih tinggi dari tanah pasir. Porositas
tanah tinggi jika kandungan bahan organic juga tinggi. Tanah dengan struktur
granular atau remah, mempunyai porositas yang lebih tinggi dari pada tanah tanah
dengan struktur massive atau pejal.
Kadar air tanah adalah jumlah air yang bila dipanaskan dengan oven yang
bersuhu 105oC hingga diperoleh berat tanah kering yang tetap. Dua fungsi yang
saling berkaitan dalam penyediaan air bagi tanaman yaitu memperoleh air dalam
tanah dan pengaliran air yang disimpan ke akar-akar tanaman. Jumlah air yang
diperoleh tanah sebagian bergantung pada kemampuan tanah yang menyerap air
cepat dan meneruskan air yang diterima dipermukaan tanah ke bawah. Akan tetapi
jumlah ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor luar seperti jumlah curah hujan
tahunan dan sebaran hujan sepanjang tahun. Pada pengamatan menghitung kadar
air kering mutlak pada tanah ultisol yang dilakukan, didapatkan hasil yaitu 22,54
%.

c.pH dan Al-dd

Dari pengamatan dan perhitungan yang dilakukan dalam praktikum


terdapat pH tanah, pada tanah yang di tambahkan aquades setelah diukur
menunjukkan pH 4,63 sehingga pH tanah masam. Begitu juga dengan tanah yang
dicampur dengan kcl mempunyai pH 3,9 sangat masam. Hal ini disebabkan
karena tanah mengandung bahan organik yang cukup tinggi pada permukaaan
tanah yang bercampur bahan mineral tanah dan mengalami penguraian oleh
mikroba yang mengakibatkan terbentuknya asam sulfida dan asam nitrat.
Jumlah ion H+ dan OH- dapat menentukan kemasaman suatu tanah. Jika
jumlah ion H+ lebih tinggi dari jumlah ion OH- maka tanah akan bersifat masam,
begitu juga sebaliknya.
Al-dd adalah kadar aluminium dalam tanah, Al dalam bentuk dapat
dipertukarkan (Al-dd) umumnya terdapat dalam tanah tanah yang bersifat masam.
Semakin tinggi tingkat kejenuhan Al maka akan semakin meracuni tanaman.
Kandungan Al dapat ditukar (Al3+) mempengaruhi jumlah bahan kapur yng
diperlukan untuk meningkatkan kemasaman tanah dan produktivitas tanah,
kandungan Al dalam tanah dapat dikendalikan dengan melakukan pengapuran.

d.N-total dan KTK


Hasil KTK yang diperoleh pada tabel diatas sesuai dengan pendapat Foth,
Henry (1998) yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat kemasaman tanah
maka semakin rendah kemampuan kapasitas tukar kation tanah / nila KTK tanah.
Sebagaimana tingkat kemasaman tanah tersebut, ultisol lebih masam
dibandingkan regosol dan histosol, karena itu tanah ultisol memiliki nilai KTK
paling rendah dan histosol mempunyai KTK paling besar.
Kemasaman tanah ultisol terjadi karena tanah ultisol adalah tanah yanag
terbentuk didaerah yang lembab. Tanah ultisol bersifat masam dengan kejenuhan
basa-basa rendah, karena adanya pencucian basa-basa. Adanya keberadaan suhu
yang cukup pans dan pencucian yang lama, terjadi pelapukan yang intensif pada
mineral yag mudah lapuk.
Tanah ultisol, regosol dan histosol merupakan tanah yang masam dan sangat
tidak subur. Karen itu taah ini tidak begitu baik untuk usaha pertanian. Namun,
usaha pertanian pada tanah ini tetap bisa dilakukan pada tanah ini denga cara
menaikkan pH tanah. Hal ini bisa dibantu dengan pemberian memberikan kapur
dan bahan organic kepada tanah tersebut. Kapur akan menaikkan pH tanah,
sedangkan bahan organic akan bertindak untuk menambah ketersediaan unsur
hara bagi tanah untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman.
Dari hasil praktikum yang telah di lakukan dalam penetapan kandungan
senyawa nitrogen yang ada di dalam tanah maka di dapatlah hasilnya. Dimana
setelah melakukan rangkaian tahapan hingga akhirnya mendapatkan hasil yang
berupa data. Hasil yang di dapat bahwa kandungan nitrogen yang terkandung di
dalam tanah (0-20 cm) sebesar 0,0042 % (20-40 cm) sebesar 0,0068 %.
Sehingga dapat dikatategorikan kandungan nitrogen yang terkandung di
dalam tanah tersebut termasuk kedalam kriteria rendah. Hal ini telah dilihat di
dalam tabel kriteria penilaian kesuburan tanah sesuai dengan standar sistem
internasional. Hal ini disebabkan karena kandungan bahan organik yang
terkandung di dalam tanah tersebut rendah.
Di mana telah kita ketahui bahwa bahan organik adalah sumber bahan N
yang paling utama. Lopulisa (2004) yang menyatakan bahwa Nitrogen dalam
tanah berasal dari bahan organik tanah, bahan organik halus, N tinggi, C/N
rendah, bahan organik kasar, N rendah C/N tinggi. Bahan organik merupakan
sumber bahan N yang utama di dalam tanah. Selain N, bahan organik
mengandung unsur lain terutama C, P, S dan unsur mikro. Pengikatan oleh
mikrorganisme dan N udara.
Karena kandungan senyawa nitrogen di dalam tanah tersebut rendah maka
pertumbuhan dari tanaman yang tumbuh di tanah tersebut akan terganggu bahkan
tanaman tersebut dapat mati di tanah tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Kemas (2005) yang menyatakan bahwa kekurangan N menyebabkan tanaman
kerdil, pertumbuhan akar terbatas, daun-daun kuning dan gugur.
Senyawa nitrogen yang terdapat di dalam tanah saling berhubungan satu
sama lain dengan kandungan bahan organik yang terkandung di dalam tanah
tersebut. Telah di jelaskan sebelumnya bahwa jika kandungan bahan organik yang
terkandung didalam tanah rendah maka jumlah senyawa nitrogen di dalam tanah
tersebut juga rendah bahkan tidak ada. Hal ini lah yang menjadi kekhawatiran
terhadap pertumbuhan tanaman yang ada. Karena pertumbuhan tanaman tersebut
dapat terganggu. Hal ini karena senyawa nitrogen sangat penting bagi
pertumbuhan tanaman.
e.C-Organik dan P-tersedia

Dari hasil pengamatan didapatkan hasil pada lapisan tanah (0-20 cm)
memiliki tingkat kadar C-organik sebesar 2,85% dengan kandungan bahan
organik sebesar 1,12%,. Berdasarkan data yang didapatkan, pada tanah lapisan (0-
20 cm) memiliki jumlah bahan organik yang rendah.Jumlah bahan organik yang
berada pada lapisan (0-20 cm) rendah disebabkan oleh faktor-faktor yang
mempengaruhi bahan organik pada tanah, yaitu faktor biologi, faktor fisika, dan
faktor kimia. Tingkat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme yang
melakukan poses dekomposisi akan berbanding lurus dengan jumlah bahan
organik yang tebentuk karena dekomposer akan merombak sisa-sisa makhluk
hidup di atas tanah sehingga pda akhirnya menjadi humus, semakin banyak
mikroorganisme yang berperan sebagai dekomposer maka semakin cepat pula
proses perombakan bahan organik segar. Suhu yang terlalu ekstrim dan curah
hujan yang terlalu tinggi akan menyebabkan proses dekomposisi menjadi
terhambat karena bakteri yang berperan dalam proses tersebut tidak dapat
berkembang. Tingkat pH akan mempengaruhi kerja mikroorganisme dalam
melakukan proses dekomposisi, bagi mikroorganisme yang dapat bekerja optimal
pada pH basa tentu akan mengalami hambatan untuk bekerja pada pH yang asam
dan begitu juga sebaliknya.
Secara garis besar, fosfor tanah dibedakan menjadi fosfor organik dan
anorganik. Fosfor masuk ke dalam tanah melalui proses adsorpsi oleh tanaman
dan jasad renik. Ketersediaan fosfor anorganik juga ditentukan oleh faktor dari
pH tanah, ion Fe, Al, dan Mn larut, atau adanya mineral yang mengandung Fe, Al,
dan Mn. Ketersediaan unsur P dalam tanah sangat dipengaruhi oleh tingkat
kemasaman tanah, yaitu apabila kemasaman tanah tinggi maka misel tanah larut
lebih banyak sehingga cenderung untuk mengikat fosfat. Dan diketahui bahwa
ketersediaan fosfat sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu pH tanah, ion
Fe, Al, Mn larut, ketersediaan Ca, jumlah dan tingkat dekomposisi bahan organik,
kegiatan jasad renik, dan faktor tersebut kesemuanya sangat bergantung pada
kemasaman tanah.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilalukan dapat disimpulkan bahwa dengan
mengetahui pH tanah maka kita dapat menentukan tanah tersebut layak atau
tidaknya untuk lahan pertanian, pH rendah akan menghambat pertumbuhan dan
perkembangan tanaman, maka dari itu harus dilakukan pengendalian dengan
melakukan pengapuran pada tanah tersebut.
Tekstur, permeabilitas, BV, TRP, dan KA merupakan sifat fisika tanah
yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan produktivitas tanaman, Bila
sifat fisika tanah buruk maka proses pemulihannya membutuhkan waktu yng
sangat lama di bandingkan dengan pemulihan sifat kimia tanah nya seperti pH, N-
total, KTK, C-Organik dan P-tersedia, maka dari itu yang pertama sekali harus di
perhatikan pada saat menentukan lahan untuk pertanian adalah sifat fisik dari
tanah tersebut.

5.2 Saran
Diharapkan untuk praktikan selanjutnya agar memahami terlebih dahulu
materi dan langkah kerja sebelum melakukan praktikum, dan diharapkan agar
lebih teliti dalam melakukan praktikum. Perhitungan yang dilakukan dengan
benar akan menentukan data akhir dari praktikum.
Lampiran Perhitungan

1. Tekstur

Diketahui : Pasir ( A ) = 4,3 g

Debu + liat ( B ) = 0,38 g

Liat ( C ) = 0,2 g

A
%Pasir = X 100%
A  25( B  0,0095)

4,3
= X 100%
4,3  25(0,38  0,0095)

4,3
= X 100%
4,3  25(0,3705)

4,3
= X 100%
4,3  9,2625

4,3
= X 100%
13,5625

= 31,70 %

25( B  C )
%Debu = X 100%
A  25( B  0,0095)

25(0,38  0,2)
= X 100%
4,3  25(0,38  0,0095)

25(0,18)
= X 100%
4,3  25(0,3705)

4,5
= X 100%
4,3  9,2625

4,5
= X 100%
13,5625

= 33,17 %
25(C  0,0095)
%Liat = X 100%
A  25( B  0,0095)

25(0,2  0,0095)
= X 100%
4,3  25(0,38  0,0095)

25(0,1905)
= X 100%
4,3  25(0,3705)

4,7625
= X 100%
4,3  9,2625

4,7625
= X 100%
13,5625

= 35,11 %
2. Kadar Air

Diketahui : BB :5g

BK : 4,08 g

BB  BK
%KA = X 100%
BK

5 g  4,08 g
= X 100%
4,08 g

= 22,54%

KKA = 1 + KA

= 1 + 0,2254

= 1,2254

3. Permeabilitas

Diketahui : L = 4,2 cm

d = 7,5 cm

h = 3,1 cm

A= πr2

= 3,14 ( 3,75cm )2

= 44,156 cm2

Untuk Q 5 menit = 0,083 jam

Q.L
K =
A.t.h
2 X 4,2 8,4
= 44,156 X 0,5 X 3,1 = 68,4418

= 0,1227 cm/jam
Untuk Q 10 menit

Q.L
K =
A.t.h
1X 4,2
= 44,156 X 0,5 X 3,1

4,2
= 68,4418

= 0,0613 cm/jam

Untuk Q 15 menit

Q.L
K =
A.t.h
1X 4,2
= 44,156 X 0,5 X 3,1

4,2
= 68,4418

= 0,0613 cm/jam

4. BV dan TRP

Vt = πr2t
= 3,14. (3,75 cm)2. 4,15 cm
= 183,25 cm3

BK = (BR + BK) – BR
= 220,06 g – 78,16 g
= 141,9 g

BV = BK/Vt
= 141,9 g/ 183,25 cm3
= 0,774 g/cm3
 BV 
TRP = 1   X 100%
 BJ 
 0,774 
= 1  2,65  X 100%
 

= (1 – 0,292) x 100%
= 0,708 x 100%
= 70,8 %

5. Al-dd

Diketahui : ml HCl yang terpakai = 0,1 ml

KKA = 1,2254

Al-dd (me/100g) = ml HCl yg terpakai X nHCl X 100 X KKA

= 0,1 ml X 0,1 X 100 X 1,2254

= 1,2254 me/100g

6. N total

Diketahui : ml H2SO4 ( kedalaman 0 - 20 cm ) = 0,6 ml

ml H2SO4 ( kedalaman 20 - 40 cm ) = 0,9 ml

Kedalaman 0 - 20 cm

W
%N = ( V0 - V1 ) X nH2SO4 X Ar N X XKKA
100

0,5
= ( 0,6 - 0,1 ) X 0,1 X 14 X X 1,2254
100

0,5
= ( 0,6- 0,1 ) X 0,1 X 14 X X 1,2254
100

= 0,5 X 0,1 X 14 X 0,005 X 1,2254

= 0,0042 %
Kedalaman 20 - 40 cm

W
%N = ( V0 - V1 ) X nH2SO4 X Ar N X XKKA
100

0,5
= ( 0,9 - 0,1 ) X 0,1 X 14 X X 1,2254
100

0,5
= ( 0,9- 0,1 ) X 0,1 X 14 X X 1,2254
100

= 0,8 X 0,1 X 14 X 0,005 X 1,2254

= 0,0042 %

Volume awal = 9 ml

Volume akhir = 12 ml

Volume terpakai = 3 ml

Berat = 2,5 g

100
%KTK = ml H2SO4 ( terpakai - blanko ) X N H2SO4 X X KKA
2,5

= ( 3 ml - 0,1 ml ) X 0,1 X 40 X 1,2254

= 14,214%
7. P-tersedia

Kedalaman 0 - 20 cm = 0,160

Kedalaman 20 - 40 cm = 0,050

no standar ( x ) absorban ( y ) xy X2

1 0 0 0 0

2 1 0.094 0.094 1

3 2 0.319 0.638 4

4 3 0.386 1.158 9

5 4 0.421 1.684 16

6 5 0.619 3.095 25

∑ 15 1.839 6.669 55

 x 15
Rata-rata X = = = 2,5
n 6

 y 1,839
Rata-rata Y = = = 0,3065
n 6

xy 15  1,839
 xy  6,669 
n 6 6,669  2,1935
b = = =
( x)2 (15)2 55  37,5
 x2  55 
n 6

4,4754
=
17,5

= 0,2557
a = rata-rataY - b.rata-rataX

= 0,3065 - 0,2557 ( 2,5 )

= 0,3065 - 0,63925

= -0,33275

Sampel kedalaman 0 - 20 cm

ya
Ppm kurva =
b

0,160  (0,33275)
=
0,2557

0,49275
=
0,2557

= 1,927

mlekstrak 1000 142


%P = ppm kurva X X X XKKA
1000ml g 190

25ml 1000 142


= 1,927 X X X X 1,2254
1000ml 2,5 190

=1,927 X 0,025 X 400 X 0,747 X 1,2254

=17,63%

Sampel kedalaman 20 - 40 cm

ya
Ppm kurva =
b

0,050  (0,33275)
=
0,2557

0,38275
=
0,2557

= 1,496
mlekstrak 1000 142
%P = ppm kurva X X X XKKA
1000ml g 190

25ml 1000 142


= 1,496 X X X X 1,2254
1000ml 2,5 190

=1,496 X 0,025 X 400 X 0,747 X 1,2254

=13,69%

9. C organik

Kedalaman 0 - 20 cm = 0,149

Kedalaman 20 - 40 cm = 0,080

no standar ( x ) absorban ( y ) xy X2

1 0 0 0 0

2 250 0.263 65.75 62500

∑ 250 0.263 65.75 62500

x 250
Rata-rata X = = = 125
n 2

y 0,263
Rata-rata Y = = = 0,1315
n 2
xy
 xy 
b = n
( x)2
 x2 
n

250  0,263
65,75 
= 2
(250)2
62500 
2

65,75  124,86
=
62500  31250

 59,11
=
31250

= -0,00189

= -0,002

a = rata-rataY - b.rata-rataX

= 0,1315 - (-0,002) ( 125)

= 0,1315 - (-0,25)

= 0,3815

Sampel kedalaman 0 - 20 cm

ya
Ppm kurva =
b

0,149  0,3815
=
 0,002

 0,2325
=
 0,002

= 116,25
mlekstrak 100
% C-org = ppm kurva X X XKKA
1000ml mg

100ml 100
= 116,25 X X X 1,2254
1000ml 500

=116,25 X 0,1 X 0,2X 1,2254

=2,85 %

%BO = 1,72 X % C

= 1,72 X 2,85%

= 4,902%

Sampel kedalaman 20 - 40 cm

ya
Ppm kurva =
b

0,080  0,3815
=
 0,002

 0,3015
=
 0,002

= 150,75

mlekstrak 100
% C-org = ppm kurva X X XKKA
1000ml mg

100ml 100
= 150,75 X X X 1,2254
1000ml 500

= 150,75 X 0,1 X 0,2X 1,2254

= 3,69 %

= 3,7%

%BO = 1,72 X % C

= 1,72 X 3,7%

= 6,364%
DAFTAR PUSTAKA

Agus, F. dan I.G. Subiksa, 2008. Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan
Aspek Lingkungan. Balai Penelitian Tanah: Bogor.
Buckman, H. O., and Brady. 1982. Ilmu Tanah. Bharata Karya Aksara : Jakarta.
Dede, Rahmat. 2009. Ilmu Tanah. Jakarta: Erlangga.
Foth,DH dan L.N Turk. 1995.Dasar Dasar Ilmu Tanah. Lampung : Universitas
Lampung.
Hakim. N., dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung :
Lampung.
Hanafiah, kemas ali. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT Rajagrafindo Persada.
Jakarta.
Hardjowigeno, S 2003. Ilmu Tanah. Akademik Persindo. Jakarta.
Madjid, A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Mitra Wacana Media: Jakarta.
Pairunan, Anna K. J. L. Nanere, Arifin, Solo S. R. Samosir,
RomualdusTangkaisari, J. R. Lalopua, Bachrul Ibrahim, Hariadji Asmadi,
2001. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri
Indonesia Timur: Makassar.
Poerwowidodo, 2001. Penetapan Kadar Air Tanah. http://nkarlina.wordpress.
Com.
Sarief, Sari Pudin. 1985. Ilmu Tanah Pertanian. Bandung: Pistaka Buana.
Sutanto,Rachman. 2005. Dasar-daar Ilmu Tanah. Kanisus: Yogyakarta.