Anda di halaman 1dari 15

PROPOSAL PELAKSANAAN KEGIATAN PKMRS (PROMOSI KESEHATAN

MASYARAKAT RUMAH SAKIT) PADA KELUARGA PASIEN HEMODIALISA


RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO

Pembimbing :
Nunung Wahyuni, S.ST, RD

Disusun oleh :
Khairunnisa 22030116140069
Novia Dwi Haryani 22030116130070
Chacha Nailil Muna 22030116130071
Nida Nur Amalia 22030116130085
Ella Martha Yolanda 22030116140086

PROGRAM STUDI S1 ILMU GIZI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2019
A. LATAR BELAKANG
Ginjal merupakan organ penting yang berfungsi menjaga komposisi darah dengan
mencegah menumpuknya limbah dan mengendalikan keseimbangan cairan dalam tubuh,
menjaga level elektrolit seperti sodium, potasium dan fosfat tetap stabil, serta memproduksi
hormon dan enzim yang membantu dalam mengendalikan tekanan darah, membuat sel
darah merah dan menjaga tulang tetap kuat.
Gangguan pada ginjal dapat berupa penyakit ginjal kronis (PGK) atau dahulu
disebut gagal ginjal kronis, gangguan ginjal akut (acute kidney injury) atau sebelumnya
disebut gagal ginjal akut. Penyakit ginjal kronis adalah penurunan progresif fungsi ginjal
dalam beberapa bulan atau tahun. penyakit ginjal kronis didefinisikan sebagai kerusakan
ginjal dan/atau penurunan Glomerular Filtration Rate (GFR) kurang dari 2 60mL/min/1,73
m selama minimal 3 bulan (Kidney Disease Improving Global Outcomes, KDIGO 2012
Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management). Kerusakan ginjal adalah
setiap kelainan patologis atau penanda keruasakan ginjal, termasuk kelainan darah, urin
atau studi pencitraan.
Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan masyarakat global
dengan prevalensi dan insidensi gagal ginjal yang meningkat, prognosis yang buruk dan
biaya yang tinggi. Prevalensi PGK meningkat seiring meningkatnya jumlah penduduk usia
lanjut dan kejadian penyakit diabetes melitus serta hipertensi. Sekitar 1 dari 10 populasi
global mengalami PGK pada stadium tertentu. Hasil Riskesdas 2013, populasi umur ≥ 15
tahun yang terdiagnosis gagal ginjal kronis sebesar 0,2%. Angka ini lebih rendah
dibandingkan prevalensi PGK di negara-negara lain, juga hasil penelitian Perhimpunan
Nefrologi Indonesia (Pernefri) tahun 2006, yang mendapatkan prevalensi PGK sebesar
12,5%. Hal ini karena Riskesdas 2013 hanya menangkap data orang yang terdiagnosis PGK
sedangkan sebagian besar PGK di Indonesia baru terdiagnosis pada tahap lanjut dan akhir.

B. TUJUAN KEGIATAN
1. Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan pasien PGK derajat 5 dengan hemodialisis sehingga
tercapai kesembuhan dan kualitas hidup yang maksimal.
2. Tujuan Khusus
- Mengetahui pengertian hemodialisis
- Mengetahui tujuan hemodialisis
- Mengetahui manfaat hemodialisis bagi pasien PGK
- Mengetahui efek samping yang mungkin ditimbulkan pasca hemodialisis
- Mengetahui penanganan atau perawatan pasien PGK yang menjalani hemodialisis
- Mengetahui diet yang tepat bagi pasien PGK yang telah menjalani hemodialisis

C. NAMA KEGIATAN
Kegiatan ini dinamakan “GIZI TEPAT, GINJAL SEHAT”

D. BENTUK KEGIATAN
Promosi dan penyuluhan kesehatan.

E. METODE
1. Ceramah
2. Diskusi

F. MEDIA
Leaflet

G. WAKTU KEGIATAN
Kegiatan ini dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Sabtu/ 5 Oktober 2019
Pukul : 08.00-08.45 WIB
Tempat : Ruang tunggu unit hemodialisa

H. SASARAN KEGIATAN
Peserta yang akan mengikuti kegiatan ini yaitu pasien dan keluarga.

.
I. KEGIATAN PENYULUHAN
Uraian Kegiatan
No Waktu Kegiatan
Penyuluh Peserta
1 08.00- Pembukaan a. Mengucapkan salam a. Menjawab
08.05 5 menit b. Perkenalan mahasiswa salam
c. Perkenalan dengan CI b. Mendengarkan
d. Menyampaikan, tujuan, dan
pokok bahasan kegiatan, memperhatikan
dan kontrak waktu
2 08.05- Penyampaian a. Memberikan pengetahuan a. Menyimak
08.25 materi serta penjelasan yang penjelasan
20 menit berhubungan dengan
Hemodialisis, yaitu:
- Pengertian
- Tujuan
- Manfaat
- Efek samping
- Penangangan/perawatan
- Penatalaksanaan diet
b. Memotivasi pasien serta
keluarga
3 08.25- Tanya jawab a. Memberikan kesempatan a. Menyimak dan
08.40 15 menit pada peserta untuk bertanya bertanya
tentang hal yang belum
dipahaminya
b. Menjawab pertanyaan
peserta
4 08.40- Penutup a. Menyimpulkan dan a. Menyimak
08.45 5 menit menutup diskusi b. Menjawab
b. Mengucapkan salam salam
J. HASIL
Hasil dari kegiatan promosi kesehatan masyarakat rumah sakit kepada keluarga
pasien hemodialisa adalah sebagai berikut :
Target
No Indikator Hasil Evaluasi
pencapaian
1. Jumlah sasaran 30 orang 15 orang 50% tercapai
dikarenakan
beberapa pasien
datang sendiri atau
tidak didampingi
keluarga.
2. Pelaksanaan a. Kegiatan a. Kegiatan tetap Membuat
kegiatan : dilakukan di dilakukan di pemberitahuan
a. Tempat ruang tunggu ruang tunggu terlebih dahulu
b. Waktu hemodialisa hemodialisa menggunakan media
b. Kegiatan b. Waktu brosur yang
dilaksanakan pelaksanaan ditempelkan
pada Sabtu, 8 mundur dari bertepatan dengan
Oktober pukul yang sudah jadwal hemodialisis
08.00-08.45 direncanakan sebelumnya pada
WIB dikarenakan kloter yang sama.
jumlah peserta
masih terlalu
sedikit untuk
dilaksanakan
tepat pukul
08.00 WIB
3. Antusiasme Peserta mampu Sebagian peserta Jika diadakan
peserta memahami dan sudah cukup kegiatan serupa,
mengajukan antusias dan dapat lebih
pertanyaan terkait mendengarkan dikondisikan peserta
materi yang dengan seksama agar peserta lebih
disampaikan sepanjang materi merapat ke pemateri
disampaikan serta sehingga
mengajukan penyampaian materi
beberapa dapat diterima
pertanyaan baik secara optimal
yang berkaitan mengingat kegiatan
langsung dengan dilakukan tanpa
materi maupun pengeras suara.
diluar materi.
K. LAMPIRAN
Materi Penyuluhan
HEMODIALISIS
1. Pengertian
Hemodialisis berasal dari kata hemo yang berarti darah dan dialisa yang artinya
memisahkan. Jadi hemodialisis adalah Suatu proses pemisahan darah dari zat
anorganik/toksik/sisa metabolisme melalui membran semipermiabel dimana darah
disisi ruang lain dan cairan dialisat disisi ruang lainnya. Hemodialisis merupakan suatu
proses untuk yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam
tubuh ketika ginjal tidak mampu melaksanakan fungsi tersebut. Tujuan hemodialysis
adalah untuk mengambil zat-zat nitrogen yang toksik dari dalam darah dan
mengeluarkan air yang berlebihan. Hemodialisis digunakan pasien dalam keadaan sakit
akut yaitu pasien yang memerlukan dialisis jangka pendek (beberapa hari hingga
beberapa minggu) atau pasien dengan penyakit ginjal stadium terminal yang
membutuhkan terapi jangka panjang atau terapi permanen.1

Tiga prinsip yang mendasari kerja hemodialysis, yaitu difusi, osmosis dan
ultrafiltrasi. Toksin dan zat limbah di dalam darah dikeluarkan melalui proses difusi
dengan cara bergerak dari darah yang memiliki konsentrasi tinggi, ke cairan dialisat
dengan konsentrasi yang lebih rendah. Cairan dialisat tersusun dari semua elektrolit
yang penting dengan konsentrasi ekstrasel yang ideal. Kadar elektrolit darah dapat
dikendalikan dengan mengatur rendaman dialisat (dialysate bate) secara tepat (pori-
pori kecil dalam membran semipermiabel tidak memungkinkan lolosnya sel darah
merah dan protein). Air yang berlebihan dikelurkan dari tubuh melalui proses osmosis.
Pengeluaran air dapat dikendalikan dengan menciptakan gradien tekanan; dengan kata
lain, air bergerak dari daerah tekanan yang lebih tinggi (tubuh pasien) ke takanan yang
lebih rendah (cairan dialysat). Gradien ini dapat ditingkatkan melalui penambahan
tekanan negatif yang dikenal sebagai ultrfiltrasi pada mesin dialysis. Membaran dialisis
mempunyai koefisien ultrafiltrasi yang berbeda (yaitu cairan yang disingkirkan per
milimeter tekanan air raksa per menit), pemilihan menentukan pembuangan cairan,
seiring dengan perubahan tekanan hidrostatik. Tekanan negatif diterapkan pada alat ini
sebagai kekuatan penghisap pada membran dan memfasilitasi pengeluaran air. Karena
pasien tidak dapat mengekskresikan air, kekuatan ini diperlukan untuk mengeluarkan
cairan hingga terrcapai isovolemia.1
2. Tujuan
Tujuan dari terapi hemodialysis yaitu untuk menurunkan kreatinin dan zat toksik
yang lainnya dalam darah. Hemodialysis juga bertujuan untuk menghilangkan gejala
yaitu untuk mengendalikan uremia, kelebihan cairan, dan ketidakseimbangan elektrolit
yang terjadi pada pasien penyakit ginjal tahap akhir.
3. Komplikasi Hemodialisa
Pada saat dialysis, pasien, dialyser dan rendaman dialisat memerlukan pemantauan
yang konstan untuk mendeteksi berbagai komplikasi, yaitu :
a. Hipotensi
Hipotensi selama hemodialisis disebabkan banyak faktor : ukuran sirkulasi
ekstrakorporeal, derajat ultrafiltrasi, perubahan osmolalitas serum, adanya
neuropati autonom, penggunaan bersamaan antihipertensi, penyingkiran
katekolamin atau asetat sebagai buffer dialisat yang merupakan depresan jantung
dan vasodilator. Perkiraan yang seksama terhadap cairan ekstraselluler yang akan
dibuang dan penggunaan ultrafiltrasi terpisah serta dialisat natrium yang lebih
tinggi membantu dalam mencegah hipotensi. 2
b. Emboli udara
Masalah pada sirkuit dialisis dapat menyebabkan emboli udara. Emboli
udara merupakan komplikasi yang jarang, tetapi dapat saja terjadi jika udara
memasuki sistem vaskuler pasien. 2
c. Nyeri dada
Nyeri dada selama dialisis dapat disebabkan oleh efek vasodilator asetat atau karena
penurunan pCO2 bersamaan dengan terjadinya sirkulasi darah di luar tubuh. 3
d. Pruritus
Pruritis dapat terjadi selama terapi dialisis ketika produk akhir metabolisme
meninggalkan kulit atau karena dieksaserbasi oleh pelepasan histamin akibat alergi
ringan terhadap membran dialisis. Kadangkala pajanan darah ke membran dialisis
dapat menyebabkan respon alergi yang lebih luas. 3
e. Gangguan keseimbangan dialysis
Fluks cepat pada osmolalitas dapat menyebabkan sindrom
ketidakseimbangan dialisis dan karena perpindahan cairan serebral yang terdiri atas
kebingungan, kesadaran berkabut dan kejang. Komplikasi ini kemungkinan
terjadinya lebih besar jika terdapat gejala uremia yang berat. 1
f. Kram otot dan nyeri
Kram otot dan nyeri terjadi ketika cairan dan elektrolit dengan cepat
meninggalkan ruang ekstrasel dan juga mencerminkan pergerakan elektrolit
melewati membran otot. 4
g. Hipoksemia
Hipoksemia selama dialisis dapat mencerminkan hipoventilasi yang
disebabkan oleh pengeluaran bikarbonat atau pembentukan pirau dalam paru akibat
perubahan vasomotor yang diinduksi oleh zat yang diaktivasi oleh membran
dialysis. 3
h. Hipokalemia
Kadar kalium yang dikurangi secara berlebihan menyebabkan hipokalemia
dan disritmia. 4
4. Efek Samping Hemodialisis
Efek samping hemodialisa adalah5:
a. Penyakit kardiovaskuler
Hipertensi merupakan salah satu faktor penting dalam menimbulkan
aterosklerosis dan keadaan ini menyebabkan insiden penyakit kardiaovaskuler dan
serebrovaskuler pada pasien yang menjalani hemodialysa. Hipertensi dapat
menyebabkan terjadinya gagal jantung setelah melewati beberapa mekanisme :
- Hipertensi menyebabkan terjadinya percepatan aterosklerosis dari arteri
koronaria, sehingga terjadi iskemia miokard yang selanjutnya terjadi gagal
jantung
- Hipertensi akan menaikkan after load yang selanjutnya terjadi penurunan stoke
volume dengan akibat retensi natrium dan air, sehingga berakhir dengan gagal
jantung.
- Hipertensi menyebabkan otot jantung mengalami hipertropi ventrikel kiri yang
selanjutnya terjadi dilatasi ventrikel kiri dan fungsi jantung akan menurun.
b. Kelainan fungsi seksual
Penderita gagal ginjal kronik yang mendapat terapi hemodialisa mengalami
penurunan seksual, baik pencapaian orgasme, frekwensi dan lamanya ereksi. Hal
ini disebabkan karena toksin uremia dan faktor psikologis.
c. Kelainan tulang dan paratiroid
Penyakit tulang disebabkan karena aluminium yang ada di dalam dialisat dan
karena gangguan metabolisme vitamin D. Gangguan vitamin D menyebabkan
meningkatnya hormon paratiroid yang merupakan toksin uremia. Tanda kelainan
tulang antara lain sakit pada tulang dan fraktur patologis.
d. Kelainan neurologis
Banyak hal yang menyebabkan gangguan sistem saraf pusat pasien dengan gagal
ginjal kronik yang menjalani hemodialisa yaitu ensefalitis metabolik, dimensia
dialisis karena intoksikasi aluminium, disekuilibrium dialisis, penurunan
intelektual progresif, ensefalopati hipertensi, aterosklerosis yang menyebabkan
cerebrovasculer accident dan perdarahan otak.
e. Anemia
Anemia pada penyakit gagal ginjal kronik disebabkan oleh produksi eritropeitin
yang tidak adekuat oleh ginjal.
f. Kelainan gastrointestinal
Banyak kelainan gastrointestinal ditemukan pada penderita gagal ginjal kronik
yang menjalani hemodialisa yaitu gastritis, ulkus, perdarahan, obstruksi saluran
bagian bawah dan lain-lain
g. Gangguan metabolis kalsium akan menyebabkan osteodistrofi renal yang
menyebabkan nyeri tulang dan fraktur
h. Infeksi, tromboisi fistula dan pembentukan aneurisma juga terjadi pada fistula
aeteriovenosa.
5. Penatalaksanaan Pasien Yang Menjalani Hemodialisis Jangka Panjang
a. Diet Dan Masalah Cairan
Diet merupakan faktor penting bagi pasien yang menjalani hemodialisis
mengingat adanya efek uremia. Gejala yang terjadi akibat penumpukan tersebut
secara kolektif dikenal sebagai gejala uremik. Diet rendah protein akan mengurangi
penumpukan limbah nitrogen dan akan meminimalkan gejala uremik. Protein
diberikan 0,6-0,8 gr/kg.bb/hari, yang 0,35-0,50 gr dianteranya protein nilai biologi
tinggi. Jumlah kalori yang diberikan sebesar 30-35 kkal/kg.bb/hari. Jumlah asupan
protein dan kalori dapat ditingkatkan pada pasien yang mengalami malnutrisi. 4
Penumpukan cairan juga dapat terjadi dan dapat mengakibatkan gagal
jantung kongestif serta edema paru. Jika pembatasan protein dan cairan diabaikan,
komplikasi dapat membawa kematian.
b. Pertimbangan Medikasi
Banyak obat yang diekskresikan seluruh atau sebagian melalui ginjal.
Pasien yang memerlukan obat-obatan harus dipantau dengan ketat untuk
memastikan agar kadar obat-obatan dalam darah dan jaringan dapat dipertahankan
tanpa menimbulkan akumulasi toksik. Beberapa obat akan dikeluarkan dari darah
pada saat hemodialisis tergantung pada berat dan ukuran molekulnya. Obat yang
terikat protein tidak akan dikeluarkan. Semua jenis obat dan dosisnya harus
dievaluasi dengan cermat. Terapi hipertensi jika diminum pada hari yang sama
dengan hemodialisis, efek hipotensi saat hemodialisis dapat terjadi dan berbahaya
bagi pasien. 1
6. Manajemen Cairan
a. Cairan
Cairan merupakan kebutuhan dasar yang utama. Pada “One Day Care”
pasien yang menjalani hemodialisis, cairan merupakan salah satu perhatian perawat
disamping oksigenasi, nutrisi, eliminasi, proteksi dan aktifitas. Jumlah cairan
adalah 60% BB dengan komposisi 36% cairan intra sel dan 24% cairan ekstra
sel(18% interstisial; 6% intravaskular). Komposisi cairan bervariasi tergantung dari
umur, jenis kelamin, dan jumlah lemak dalam tubuh. Pengertian dewasa sehat
dalam konteks cairan adalah jika nilai fungsi ginjal 120 cc/menit, belum ada tanda-
tanda penurunan fungsi ginjal dan Creatinine Clearence Test (CCT) atau TKK test
kreatini klirens normal. Kebutuhan cairan pada dewasa sehat adalah 50 cc/kg berat
badan/24 jam atau dengan menggunakan rumus kebutuhan cairan dalam/24 jam :
IWL (Insensibel Water Loss : 500 cc ) + total produksi urin (24 jam).
Kebutuhan cairan terpenuhi direfleksikan dari produksi urin 1 cc/menit, sehingga
produksi urin dewasa normal ±1200 cc/ 24 jam. Insensibel Water Loss (IWL)
adalah 25% dari kebutuhan cairan per hari atau 500 ml – 700 ml. Peningkatan suhu
1° C kebutuhan cairan ditambah 12%-15% dari kebutuhan cairan dalam 24jam.
Penting untuk diingat tentang penyebab haus. Haus adalah hasil langsung
dari terlalu banyaknya garam dalam air, makanan dan juga garam yang
ditambahkan dalam makanan. Diet garam terlalu banyak akan meyebabkan tingkat
natrium meningkat dan mengaktifkan mekanisme haus di otak, untuk itu perlu
minum cairan yang cukup untuk menormalkan natrium. Aspek yang lebih penting
untuk menjaga IDWG normal pada pasien dengan hemodialysis dan peritonial
dialysis adalah dengan mengurangi jumlah garam dan menggunakan bumbu-
bumbu serta rempah-rempah untuk menambah rasa. 6
Sensasi haus sering berupa kegiatan perilaku seperti minum, timbul dari
proses motivasi dan kognitif yang memunculkan perilaku. Karena asupan natrium
merupakan penyebab utama dari sensasi haus osmometrik pasien yang di HD.
Seorang pasien anuri akan mengkonsumsi satu liter air untuk setiap 8 gr garam yang
dikonsumsi untuk mendapatkan kembali hemostasis. Temuan penelitian ini
menunjukkan bahwa mayoritas pasien HD minum dalam menanggapi kehausan
osmometrik. Akibatnya, asupan natrium merupakan bagian penting dari cairan
pasien HD. 6
Banyak pasien HD yang minum lebih banyak, jauh dari yang
direkomendasikan. Meskipun pasien menyadari harus patuh terhadap penjatahan
cairan meskipun berkeinginan untuk minum, karena menciptakan keadaan tidak
nyaman yaitu ambivalensi antara minum dan tidak minum.
Ada beberapa petunjuk bagi pasien untuk menjaga cairan tubuh pada pasien yang
menjalani hemodialisa, yaitu6:
- Menggunakan sedikit garam dalam makanan dan hindari menambahkan garam
makanan
- Menggunakan bumbu dari rempak-rempah
- Menghindari dan batasi penggunaan makanan olahan
- Menghindari makanan yang mengandung monosodium glutamate
- Mengukur tambahan cairan dalam tempat tertentu
- Membagi jumlah cairan rata dalam sehari
- Menggunakan gelas kecil bukan gelas besar
- Setiap minum hanya setengah gelas.
- Es batu kubus bisa membantu untuk mengurangi rasa haus. Satu es batu kubus
sama dengan 30 ml air (2 sendok makan).
- Membilas mulut dengan berkumur, tetapi airnya tidak ditelan.
- Merangsang produksi saliva, dengan menghisap irisan jeruk lemon/jeruk bali,
permen karet rendah kalori.
- Minum obat jika perlu
- Ketika pergi, menjaga tambahan cairan seperti ekstra minum ketika
bersosialisasi
- Penting untuk menjaga pekerjaan/kesibukan
- Cek berat badan tiap hari sebelum makan pagi, akan membantu untuk
mengetahui tingkat cairan antar hemodialisa.
Dokumentasi Kegiatan
DAFTAR PUSTAKA

1. Brunner & Suddarth. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 Volume 2.
Jakarta: EGC
2. O’Callaghan (2007). Sistem ginjal. Jakarta. Penerbit Erlangga
3. Isselbacher (2001). Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta EGC
4. Sudoyo (2009). Ilmu Penyakit Dalam, Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta
5. Yuwono, (2000), Kualitas Hidup Menurut Spitzer Pada Penderita Gagal Ginjal Terminal
Yang Menjalani Hemodialysa di Unit Hemodialysa RSUP dr, Kariadi Semarang. Tesis.
Universitas Diponegoro Semarang
6. Thomas et.al (2009) Effect of patient counseling on quality of life of hemodialysis
patients India. Pharmacy Practice (internet) 2009 juli-Sept;7(3):181-184.