Anda di halaman 1dari 3

Balance Scorecard adalah metode pengukuran hasil kerja yang digunakan perusahaan.

Pelajaran tentang
Balance Scorecard mungkin pernah dibahas saat Anda kuliah dulu. Namun, banyak orang yang masih
salah persepsi dan belum dapat memahami arti dan penggunaannya.

Pada dasarnya, Balance Scorecard (BSC) merupakan kartu berimbang yang digunakan sebagai media
untuk mengukur aktivitas operasional yang dilakukan sebuah perusahaan. Dengan BSC, perusahaan
menjadi lebih tahu sejauh mana pergerakan dan perkembangan yang telah dicapai. Adanya BSC juga
membantu perusahaan untuk memberikan pandangan menyeluruh mengenai kinerja dari perusahaan.

Balanced Scorecard atau BSC merupakan suatu sistem manajemen strategi (Strategic Based
Responsibility Accounting System) yang menjelaskan mengenai misi serta strategi dari suatu perusahaan
ke dalam tujuan operasional dan tolok ukur kinerja perusahaan tersebut.

Scorecard sendiri memiliki makna kartu skor. Maksudnya yaitu kartu skor yang akan di gunakan dalam
merencanakan skor yang di wujudkan pada masa yang akan datang. Sedangkan balanced memiliki
makna berimbang, yang artinya dalam mengukur kinerja seseorang atau suatu organisasi harus di ukur
secara seimbang dari dua sudut pandang seperti keuangan dan non keuangan, jangka panjang dan
jangka pendek, intern dan ekstern.

Balanced Scorecard merupakan suatu mekanisme pada sistem manajemen yang mampu
menerjemahkan visi serta strategi organisasi ke dalam suatu tindakan yang nyata di lapangan. Sehingga
balanced scorecard menjadi salah satu alat manajemen yang terbukti membantu banyak perusahaan
dalam mengimplementasikan strategi bisnisnya jjlhhh

Agar kinerja perusahaan lebih efektif dan efisien, dibutuhkan sebuah informasi akurat yang mewakili
sistem kerja yang dilakukan. Dalam BSC, terdapat empat jenis perspektif untuk mengetahui ukuran
kinerja perusahaan. Apa saja itu?

1. Financial Perspective (Perspektif Keuangan)

Financial perspective atau perspektif keuangan erat kaitannya dengan pemasukan dan pengeluaran
perusahaan. Dengan kata lain, perusahaan harus mampu mengelola keuangan dengan baik agar
keuangannya terus stabil. Misalnya, biaya operasional, biaya produksi, biaya bahan baku, biaya tenaga
kerja, termasuk keuntungan dari aktivitas penjualan.

Baik pemasukan maupun pengeluaran, keduanya harus dicatat secara runtut dan jelas. Agar pihak
keuangan dapat mengamati laju pertumbuhan keuangan dari perusahaan yang bersangkutan.

Ada tiga tolok ukur dalam perspektif keuangan, yaitu:


Pertumbuhan dari pertambahan yang didapatkan selama proses bisnis berlangsung.

Penurunan aset ke arah yang optimal dan memaksimalkan strategi investasi.

Penurunan biaya dan peningkatan produktivitas kerja,

Ketiga tolok ukur di atas dapat dijadikan sebagai pedoman untuk menjalankan bisnis. Dengan begitu,
pemilik perusahaan mengetahui di tahap mana perusahaan tersebut berada.

2. Customer Perspective (Perspektif Pelanggan)

Customer perspective atau perspektif pelanggan berkaitan erat dengan cara perusahaan melayani
pelanggan. Dalam hal ini, setiap pelanggan harus diperlakukan secara layak. Dengan begitu, mereka
merasa puas atas pelayanan yang diberikan.

Adanya pelayanan yang bagus tentu akan meningkatkan loyalitas konsumen terhadap perusahaan.
Sebaliknya, apabila pelayanannya buruk, konsumen pasti mencari perusahaan lain yang memiliki sistem
yang lebih bagus.

Ada pun ukuran yang ditetapkan perusahaan dalam perspektif pelanggan, antara lain:

Seberapa besar omzet penjualan.

Tingkat keuntungan yang didapatkan perusahaan.

Berapa banyak pelanggan yang didapatkan.

Persentase loyalitas pelanggan terhadap produk.

Tingkat kepuasan pelanggan.

Tingkat profitabilitas pelanggan.

Kebutuhan pelanggan.

3. Internal Process Perspective (Perspektif Proses Bisnis Internal)

Dalam internal process perspective, perusahaan menilai seberapa besar ukuran dan sinergi dari setiap
unit kerja. Untuk mengukur poin ini, pemimpin perusahaan harus rutin mengamati bagaimana kondisi
internal dalam perusahaan. Apakah semuanya dijalankan sesuai dengan metode yang ditetapkan atau
malah melenceng dari peraturan.

Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam perspektif proses bisnis internal, antara lain:

Proses inovasi berkaitan dengan ide-ide terhadap produksi barang.

Proses operasi berkaitan dengan aktivitas dan rutinitas sehari-hari yang dilakukan bagian internal.

Proses pasca penjualan berkaitan dengan metode pemasaran yang tepat untuk meningkatkan omzet
penjualan.

4. Learning and Growth Perspective (Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan)

Karyawan menjadi elemen penting yang harus dijaga perusahaan. Tanpa adanya karyawan, proses
pertumbuhan dan perkembangan perusahaan akan menghadapi banyak kendala. Karyawan juga
berfungsi sebagai pendukung dalam perspektif keuangan dan pelanggan. Karena itu, apa yang
direncanakan perusahaan dapat mencapai target yang maksimal.

Selain keberadaan karyawan, perusahaan juga perlu memerhatikan sistem dan prosedur kerja yang
seperti apa yang perlu diterapkan dalam internal perusahaan. Ada baiknya jika semua elemen terkontrol
dan terkoordinasi dengan baik sehingga timbul keselarasan selama bisnis berlangsung.

Ada tiga hal yang dijadikan tolok ukur dalam perspektif ini, antara lain:

Kapabilitas atau kemampuan karyawan.

Kemampuan mengelola sistem informasi.

Motivasi, dorongan, dan garis tanggung jawab

Balance Scorecard Membantu Kinerja Perusahaan

Keberadaan BSC sangat penting bagi perusahaan. Adanya BSC telah terbukti membuat perusahaan
mampu menciptakan persaingan yang kompetitif. Perusahaan juga tidak takut lagi jika berhadapan
dengan kompetitor yang lebih besar. Dengan BSC, perusahaan jadi lebih tahu letak kelemahannya.
Dengan begitu, proses pencarian solusi juga lebih cepat dan akurat