Anda di halaman 1dari 24

Laporan Praktikum

Agroklimatologi

PENGENALAN ALAT-ALAT STASIUN KLIMATOLOGI

NAMA : WAHYUNI EKA PUTRI


NIM : G021181033
KELAS :E
KELOMPOK : 14
ASISTEN : GAVRILA CHAVVAH BIJANG
SAHETAPY

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN


PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Letak Indonesia yang berada di wilayah tropis dengan ragam kepulauan yang
membentang terletak diantara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia.
Terletak diantara dua samudera yaitu samudera Pasifik dan samudera Hindia.
Terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur juga terdapat
banyak selat dan teluk menyebabkan wilayah Indonesia rentan terhadap
perubahan iklim atau cuaca. Perubahan iklim dapat disebabkan oleh proses alami
dan aktivitas manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Aktivitas
manusia dalam bidang transportasi dan industri yang menghasilkan emisi dari
bahan bakar fosil dapat meningkatkan produksi gas rumah kaca yang
menyebabkan terjadinya pemanasan global sehingga dapat mempercepat
terjadinya perubahan iklim.
Provinsi Sulawesi Selatan terletak antara 0o12'–8o lintang selatan
dan 116o48'–122o36' bujur timur, yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat
di sebelah utara dan Teluk Bone serta Provinsi Sulawesi Tenggara disebelah
timur. Batas sebelah barat dan timur masing-masing adalah Selat Makassar
dan Laut Flores. Potensi iklim di Sulawesi Selatan untuk pembangunan
pertanian cukup mendukung. Wilayah pengembangan dikelompokkan menjadi
tiga bagian berdasarkan kesamaan relatif zona iklimnya, yaitu Sektor Barat, Timur
dan Peralihan. Sektor Barat dipengaruhi oleh angin barat dan sektor timur
dipengaruhi oleh angin timur yang sangat erat berkaitan dengan musim hujan
dan musim kemarau.
Klimatologi yang menekankan pembahasan tentang permasalahan iklim
dibidang pertanian. Membahas pengaruh positif maupun negatif perilaku
iklim terhadap usaha pertanian. Dalam hubungan yang luas, klimatologi
pertanian mencakup pula durasi musim pertanian, hubungan antara laju
pertumbuhan tanaman atau hasil panen dengan faktor atau unsur-unsur cuaca dari
pengamatan jangka panjang.
Pengenalan alat dalam praktikum sangat penting karena akan menambah
wawasan untuk praktikan itu sendiri yang nantinya akan diterapkan ketika dalam
sebuah kegiatan praktik lapang. Seorang praktikan akan merasa kesulitan untuk
memahami setiap kegiatan praktikum klimatologi jika belum mengenal alat-alat
praktikum yang digunakan dalam klimatologi. Dalam laporan praktikum ini
praktikan akan dikenalkan setiap alat yang digunakan dalam pengukuran
intensitas cahaya matahari, suhu udara dan suhu tanah, kelembaban, curah hujan
dan kecepatan angin.
Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan praktikum pengenalan
alat klimatologi agar kita dapat mengetahui alat-alat klimatologi beserta
bagian-bagian, fungsinya serta cara penggunannya.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari pelaksanaan paraktikum ini adalah untuk mengetahui fungsi dan
cara kerja dari alat-alat klimatologi serta peranannya terhadap bidang pertanian.
Adapun Kegunaan praktikum ini adalah dengan adanya praktikum ini
mahasiswa dapat memahami cara kerja serta melihat langsung alat-alat
klimatologi juga sebagai bahan perbandingan antara materi kuliah di dalam kelas
dan praktek yang dilakukan di lapangan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Cuaca dan Iklim


Cuaca adalah keadaan udara pada saat tertentu dan di wilayah tertentu
yang relatif sempit dan pada jangka waktu yang singkat. Cuaca terjadi
dilapisan troposfer, yaitu atmosfer yang paling tipis dan paling rendah.
Troposfer berada pada ketinggian sekitar 10 Km diatas permukaan bumi
diukur dari khatulistiwa (Anshari, 2013).
Iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam waktu yang relatif lama
dan meliputi wilayah luas. Proses terjadinya cuaca dan iklim merupakan
kombinasi dari variabel-variabel atmosfir yang sama yang disebut unsur-unsur
iklim. Iklim beserta unsurnya adalah hal penting untuk diperhatikan, dipelajari
dan diantisipasi efeknya karena pengaruhnya sering menimbulkan masalah bagi
manusia serta mahluk hidup lainnya (Miftahuddin, 2016).
Iklim merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
dan produktivitas tanaman. Iklim dapat berpengaruh dalam penentuan tipe
vegetasi yang dapat tumbuh di daerah tersebut. Pengaruh iklim pada pertumbuhan
tanaman dapat mengetahui informasi iklim yang lebih rinci dari beberapa dekade
dengan nilai rata-rata bulanan dengan pola sebarannya sepanjang tahun. Terdapat
bebrapa faktor cuaca yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman yaitu curah
hujan, suhu dan radiasi (Anshari, 2013).
2.2 Unsur-Unsur Cuaca dan Iklim
Cuaca dan iklim merupakan keadaan atau kondisi fisik atmosfer
yang terbentuk melalui interaksi dari berbagai unsur atau komponen yang disebut
unsur-unsur cuaca dan iklim yang saling berinteraksi satu dengan lainnya.
Unsur-unsur cuaca dan iklim berbeda dari tempat yang satu dengan yang lainnya.
Perbedaan tersebut disebabkan karena pengendali iklim atau faktor iklim, yaitu
ketinggian tempat, latitude (letak bintang), daerah-daerah tekanan, arus-arus laut
dan permukaan tanah (Sabaruddin, 2014).
Perbedaam utama diantara cuaca dan iklim yaitu terletak pada luasnya
cakupan wilayah dan waktu. Cuaca cakupan wilayahnya sempit dan waktunya
lebih singkat, sedangkan iklim lebih luas dan waktunya relatif lama. Namun
cuaca dan iklim memiliki persamaan yang terletak pada unsur-unsur
yang terkandung di dalamnya. Unsur-unsur tersebut meliputi radiasi atau
lama penyinaran matahari, suhu, kelembaban, tekanan udara, angin, awan,
presipitasi dan evaporasi (Sabaruddin, 2014).
Menurut Handoko (2010), unsur-nsur cuaca dan iklim adalah sebagai berikut.
1. Radiasi Matahari
Radiasi matahari atau disebut radiasi surya merupakan sumber energi utama
bagi proses-proses fisika atmosfer pembentuk cuaca dan iklim, serta kehidupan
di bumi karena tanpa radiasi surya proses fotosintesis serta rantai makanan tidak
akan terjadi. Permukaan matahari sangat panas dengan suhu 6000o K yang
memancarkan energi sangat tinggi berupa gelombang elekromagnit hingga
ke bumi. Namun, karena jarak matahari-bumi 150 juta Km, intensitas energinya
yang sampai dipuncak atmosfer hanya 1360 W.m-2. Keberadaan atmosfer yang
melindungi bumi menyebabkan radiasi yang sampai di permukaan bumi menjadi
kurang dari 1000 W.m-2 bergantung penutupan awan dan aman bagi manusia.
Bumi berputar pada porosnya (rotasi bumi) dengan satu putaran
(360o bujur) selama 24 jam, sehingga terjadi siang dan malam. Di equator,
1o bujur sama dengan 110 Km, sehingga kecepatan rotasi bumi di equator sekitar
1600 Km/jam, hal tersebut merupakan suatu kecepatan yang tinggi
jika dibandingkan dengan kecepatan pesawat terbang besar yang hanya 1000
Km/jam. Disamping itu, bumi mengelilingi matahari (revolusi) dengan satu
putaran selama setahun (365 hari). Dengan jarak matahari-bumi 150 juta Km,
maka lintasan bumi yang ditempuh selama 365 hari tersebut adalah 942 juta Km.
Dengan demikian, kecepatan bumi selama berevolusi adalah lebih dari seratus
ribu Km/jam (107.500 Km/jam), namun kita tidak merasakan kecepatan yang
sangat tinggi tersebut karena ukuran bumi yang besar.
2. Lama Penyinaran dan Panjang Hari
Lama penyinaran adalah periode (dalam jam) matahari bersinar cerah. Faktor
yang menentukan lama penyinaran adalah penutupan awan, semakin lama
penutupan awan maka lama penyinaran berkurang. Matahari bersinar cerah jika
kertas pias pada alat ukur Cambell Stokes terbakar. Di Indonesia, lama penyinaran
maksimum sekitar 8 jam.
Panjang hari adalah periode dari matahari terbit sampai terbenam yang juga
dihitung dalam jam. Panjang hari tidak ditentukan oleh penutupan awan seperti
pada Lama penyinaran, melainkan dihitung dari fungsi letak lintang dan julian
date (perhitungan waktu dari 1 Januari =1 sampai 31 Desember=365).
Lama penyinaran menentukan jumlah energi radiasi surya, sehingga
mempengaruhi pertumbuhan tanaman melalui proses fotosintesis. Sebaliknya,
panjang hari menentukan proses perkembangan tanaman melalui respon
fotoperiodisme, yang tidak bergantung pada intensitas energi radiasi surya
melainkan periode pencahayaannya mulai matahari terbit hingga terbenam.
Tanaman yang berasal dari lintang tinggi umumnya sensitif terhadap
fotoperiodisme, dapat berupa tanaman hari pendek (short-day plants) atau
tanaman hari panjang (long-dayplants). Tanaman hari pendek dan hari panjang
tidak ada hubungannya dengan batasan tanaman akan berbunga jika panjang hari
kurang atau lebih 12 jam, melainkan berhubungan dengan periode panjang hari
kritis (critical photoperiod) yang tidak harus 12 jam. Banyak orang yang salah
menafsirkan tentang batas 12 jam ini.
3. Suhu dan Kelembaban Udara
Proses pemanasan udara yang mengakibatkan peningkatan suhu udara, terjadi
akibat penerimaan energi radiasi surya di permukaan bumi (daratan dan lautan)
yang selanjutnya digunakan untuk memanaskan udara di atasnya, untuk
penguapan dan pemanasan daratan serta lautan itu sendiri. Karena lautan jauh
lebih luas dari daratan, semakin tinggi tempat (altitude), maka suhu udara semakin
rendah. Awan akan terbentuk jika udara naik sampai ketinggian tertentu yang
suhunya telah mencapai titik embun atau lebih rendah. Pada suhu titik embun,
kelembaban udara menjadi jenuh (RH=100%), sehingga pengembunan terjadi
pada debu yang melayang-layang di udara sebagai inti kondensasi. Butir-butir air
yang terjadi merupakan awan dan ketinggian dengan suhu titik embun merupakan
ketinggian dasar awan.
4. Curah Hujan
Curah hujan diukur dalam satuan mm, yang merupakan tinggi curah hujan
rata-rata pada suatu wilayah. Dengan satuan tinggi ini, kita dapat menghitung
volume hujan yang jatuh pada suatu luasan tertentu tanpa harus mengukur seluruh
volume hujan yang jatuh. Curah hujan merupakan sumber air bagi pertanian tadah
hujan yang tidak memiliki sistem irigasi. Tanaman akan tumbuh baik jika energi
radiasi surya tinggi, namun ketersediaan air pada lahan tadah hujan hanya
tercukupi pada musim hujan dengan penutupan awan yang tinggi yang berakibat
pada energi radiasi surya yang rendah.
5. Evapotranspirasi Potensial
Evapotranspirasi merupakan proses kehilangan air dari suatu lahan melalui
evaporasi dan transpirasi. Satuan evapotranspirasi sama dengan curah hujan yaitu
dalam Mm, sehingga perhitungan antara ketersediaan air dari hujan serta
kehilangannya melalui evapotranspirasi dapat dilakukan dengan mudah.
Evapotranspirasi potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi maksimum dari
suatu wilayah dan waktu tertentu yang hanya ditentukan oleh unsur-unsur cuaca
dan tidak bergantung kondisi tanamanan maupun tanah. Dengan konsep ini,
perhitungan kebutuhan air tanaman atau irigasi dimungkinkan, yang diduga dari
kehilangan airnya berdasarkan ETp. Sejak penemuan konsep ETp yang dipelopori
oleh Penman (1948), yaitu ETp hanya ditentukan serta dihitung dari unsur-unsur
iklim (radiasi surya, suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan angin), maka
sistem perencanaan irigasi menjadi berkembang.
6. Arah dan Kecepatan Angin
Angin adalah gerakan udara secara horizontal. Arah angin adalah arah
dari mana asal angin bertiup dan bukan menuju ke mana angin bertiup. Dalam ha1
ini, angin laut adalah angin yang berasal dari laut (menuju ke daratan), sedangkan
angin darat adalah angin yang berasal dari darat (menuju ke laut). Demikian juga,
arah angin utara berarti angin yang berasal dari utara menuju ke selatan.
2.3 Taman Alat Klimatologi
Taman alat-alat klimatologi merupakan taman dimana alat-alat pengukur
unsur-unsur cuaca dan iklim ditempatkan. Taman alat ini dibangun pada luasan
yang cukup sehingga dapat menampung berbagai alat pengukur tanpa
menyebabkan gangguan satu sama lain dan berfungsi sebagai stasiun klimatologi
yang dapat beroperasi secara terus menerus paling sedikit 10 tahun dengan
data yang dihasilkan dapat mewakaili daerah yang berhubungan dengan
wilayah pertanian disekitarnya (Ariffin, 2010).
Taman alat klimatologi adalah tempat untuk menempatkan alat-alat
meteorologi atau klimatologi yang nantinya mampu menghasilkan data cuaca
yang representative (mewakili) daerah sekitarnya pada radius yang
ditetapkan/diharapkan. Berdirinya taman alat klimatologi pada suatu
daerah didasari pada kebutuhan masyarakat akan perlunya pengamatan
iklim untuk diinformasikan kepada masyarakat luas agar dalam melakukan
kegiatan bercocok tanam misalnya, mereka dapat mengetahui masa tanam dan
masa panen yang baik (Khaeruddin, 2010).
Terdapat beberapa kebutuhan pokok stasiun klimatologi agar mendapatkan
data yang benar diperlukan, seperti (1) letak stasiun klimatologi harus memiliki
hubungan tanah, air dan iklim dimana data tersebut diperoleh; (2) masing-masing
instrumen harus menghasilkan data yang akurat serta alat tersebut
mudah dipelihara; (3) pembacaan alat mudah dilaksanakan dan (4) pengamat
cukup tersedia dan terlatih dengan baik serta bertempat tinggal tidak
jauh dari stasiun (Khaeruddin, 2010).
Taman alat menurut Ariffin (2010), antara lain sebagai berikut.
1. Sangkar meteo yang berisi thermometer bola basah, thermometer bola kering,
thermometer maksimal dan minimal
2. Penangkar hujan observtorium
3. Penangkar hujan hellman
4. Penangkar hujan tipe tipping bucket
5. Rain gauge automatic
6. AWS
7. Aktinograf
8. Sunshine recorder champell stock
9. Evaporimeter, thermometer apung dan anemometer
10. Thermometer tanah
11. Barometer
2.4 Syarat-Syarat Penempatan Stasiun Klimatologi
Stasiun iklim merupakan unit pelaksana teknis Badan Meteorologi
dan Geofisika dalam melaksakan tugas pokok dan fungsinya bergantung kepada
sumber daya manusia, sarana dan prasarana yag dimiliki, yang berada dibawah
dan tanggung jawab kepada kepala badan meteorologi, klimatologi dan geofisika.
Stasiun meteorologi alat merupakan suatu tempat dimana didalamnya
mengadakan pengamatan secara berkala terhadap keadaan lingkungan, baik
berhubungan dengan iklim maupun dengan cuaca (Diani, 2012).
Berdirinya stasiun klimatologi pada suatu daerah didasari pada kebutuhan
masyarakat akan perlunya pengamatan iklim untuk diinformasikan pada
masyarakat luas agar dalam melakukan kegiatan bercocok tanam mereka
mengetahui masa tanam dan masa panen yang baik. Terdapat beberapa kebutuhan
pokok stasiun klimatologi agar mendapatkan data yang benar diperlukan seperti,
letak stasiun klimatologi harus memiliki hubungan tanah air dan iklim dimana
data tersebut diperoleh, masing-masing instrumen harus menghasilkan data yang
akurat serta alat tersebut mudah dipelihara, pembacaan alat mudah dilaksanakan,
pengamat cukup tersedia dan terlatih dengan baik serta bertempat tinggal tidak
jauh dari stasiun (Fontain, 2010).
Pengamatan utama yang dilakukan di stasiun klimatologi meliputi unsur curah
hujan, suhu udara, arah dan laju angin, kelembaban, durasi penyinaran matahari
dan suhu tanah. Oleh karena itu, keadaan stasiun dan lingkungan sekitar
diharapkan tidak mengalami perubahan agar pemasangan alat dapat memenuhi
syarat dan menghasilkan pengukuran yang baik (Fontain, 2010).
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (2018), syarat
penempatan stasiun klimatologi antara lain sebagai berikut.
a. Digelar di atas tanah datar, sedekat mungkin dengan landas pacu, dengan jarak
antara landas pacu dengan titi tengah taman alat meteorologi antara 100 M
hingga 500 M.
b. Berada pada daerah terbuka yang luas.
c. Jarak antara taman alat meteorologi dengan kegiatan lalu lintas kendaraan
sekurang-kurangnya 50 M.
d. Ditempatkan di sisi utara atau sisi selatan dari bangunan terdekat,
sehingga bangunan tersebut tidak menghalangi sinar matahari,
sekurang-kurangnya 10° setelah matahari melewati cakrawala atau sebelum
matahari terbenam di cakrawala.
e. Tidak ada pembatas yang tinggi dan rapat antara landas pacu dengan
taman alat meteorologi.
f. Taman alat beserta alat-alat ditempatkan di dalamnya tidak menjadi obstacle
bagi operasi penerbangan.
g. Tidak dibenarkan membuat jalan di dalam tanah alat maupun buffer zone
menggunakan bahan padat, seperti semen atau aspal.
h. Buffer zone dapat ditutup dengan rumput pendek atau tanaman lain yang
tingginya tidak lebih dari 50 Cm.
i. Mudah dijangkau oleh pengamat yang melaksanakan tugas pengamatan.
j. Tidak terjadi genangan atau banjir.
2.5 Peran Klimatologi untuk Pertanian
Klimatologi adalah ilmu yang mempelajari cuaca dan iklim. Banyak faktor
yang mempengaruhi dalam terjadinya proses pertanian, salah satunya adalah
iklim. Iklim mempunyai pengaruh yang besar terhadap baik atau buruknya
pertumbuhan tanaman dalam proses pertanian yang berlangsung. Seperti yang kita
ketahui, iklim mempengaruhi tanah sebagai media tanam dalam bertani. Suhu
udara, angin, curah hujan, material tanah, oksigen dan mineral pada tanah sangat
berpengaruh pada proses bercocok tanam, dan hal tersebut sangat dipengaruhi
iklim sebagai sumber pengaruh semua itu. Bahkan berubahnya iklim bisa
mengakibatkan semua hal tadi berubah pula, baik pada perubahan yang
diharapkan bahkan pada perubahan yang tidak di harapkan yang dapat
menggarahkan proses pertanian pada hal yang kurang baik. Faktor suhu
mempunyai peranan yang sangat penting bagi perencanaan dan sistem produksi
pertanian karena seluruh unsur iklim berpengaruh terhadap berbagai proses
fotosintesis pertumbuhan dan produktifitas tanaman (Tjasyono, 2010).
Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang berada di wilayah Asia
Tenggara. Letak lintang Indonesia yang 6° lintang utara sampai 11° lintang
selatan memberikan pengaruh yang besar terhadap pertanian yang berada di
Indonesia karena matahari selalu menyinari sepanjang tahun. Matahari yang selalu
menyinari Indonesia sepanjang tahun membuat Indonesia memiliki dua musim
yang secara langsung akan mempengaruhi sistem pertanian di Indonesia. Musim
penghujan dan musim kemarau akan memberikan dampak terhadap jenis tanaman
pertanian yang berbeda di Indonesia (Budianto, 2015).
Menurut Bargumono (2012), beberapa manfaat agroklimatologi bagi pertanian
antara lain sebagai berikut.
1. Kita dapat mengetahui kapan tanaman melakukan stadia tumbuhnya.
2. Dapat mengetahui umur dari suatu tanaman.
3. Kita dapat merancang pola tanam.
4. Kita dapat mem-planning kapan waktu yang tepat untuk melakukan proses
pembudidayaan tanaman, misalnya menentukan jadwal pemupukan, jadwal
penyemprotan.
5. Kita dapat mengetahui tanaman yang sesuai untuk suatu daerah.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Tempat Dan Waktu


Praktikum pengenalan alat ini dilakukan di Laboratorium Agroklimatologi
dan Biostatistika, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar pada
hari Senin, tanggal 10 September 2019 pukul 13.00 WITA sampai 14.40
dan dilanjutkan dengan praktik lapang pada hari Minggu, 06 Oktober 2019
di Stasiun BMKG Maros.
3.2 Alat Dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum di laboratorium adalah actinograf
bimetal, LCD, komputer dan alat tulis menulis. Sementara alat yang digunakan
pada saat praktek lapang yaitu panci penguapan, campbell stokes, ARWS
(Automatic Rain Water Sampler), sangkar meteorologi, termometer tanah, gun
bellani, AWS (Automatic Weather System), HVAS (high volume sampler), cup
counter anemometer, ombrometer hellman, termometer tanah, ASRS (Automatic
Solar Radiation System).
Adapun bahan yang digunakan adalah berupa materi yang diberikan oleh
pemateri dalam hal ini asisten .
3.3 Prosedur
Prosedur kerja pengenalan alat-alat klimatologi yaitu sebagai berikut.
1. Melakukan kunjungan ke Stasiun BMKG Maros.
2. Mendapat materi sekaligus arahan dari pemateri sebelum dipersilahkan
masuk ke taman alat klimatologi untuk memperkenalkan alat-alat klimatologi
dan menjelaskan prinsip kerja alat tersebut.
3. Mencatat beberapa hal yang dianggap penting untuk dijadikan bahan materi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Hasil dari praktikum yang dilakukan di laboratorium dan praktik lapang
di Stasiun klimatologi Maros adalah sebagai berikut.
1. Panci Penguapan

HookGauge

Panci

Termometer apung

a. Fungsi
Untuk mengukur penguapan air per satuan waktu.
b. Kondisi Alat
Kondisi alat ini masih sangat baik dan layak untuk digunakan.
c. Cara Kerja
Dengan adanya penguapan, permukaan air pada panci akan berkurang.
Pengukuran dilakukan di dalam still well yang terdapat lubang pada dasarnya
untuk jalan masuk air. Jumlah air yang menguap dalam jangka waktu tertentu
diukur menggunakan hook gauge dengan merubah letak ujung jarum sampai
menyentuh permukaan air.
d. Cara Pengamatan
Pengamatan dilakukan dengan mencatat hasil pengukuran perubahan tinggi air
pada panci penguapan, pencatatan kecepatan angin rata-rata dari cup counter
anemometer serta pencatatan jumlah curah hujan dari penakar hujan OBS yang
terpasang. Bila terjadi hujan dan masih mungkin dilakukan pengukuran,
pengukuran tetap dilakukan dan penghitungannya menambahkan jumlah curah
hujan yang terjadi dalam penghitungan selisih tinggi permukaan air.
2. Penakar Curah Hujan Tipe Observatorium (OBS)

Mulut corong

Corong sempit

Tabung penampung

Keran

Penyangga

a. Fungsi
Untuk menampung jumlah air hujan dan diukur menggunakan gelas ukur.
b. Kondisi Alat
Kondisi alat ini masih sangat baik dan layak untuk digunakan.
c. Cara Kerja
Kerika ada air hujan maka akan tertampung pada reservoir, kemudian setelah
tertampung maka akan diukur pada gelas ukur sesuai jumlah angka yang ada
di gelas ukur tersebut.
d. Cara Pengamatan
Cara pengamatan dari alat ini adalah setelah air hujan tertampung direservoir
maka keran dibuka kemudian dipindahkan ke gelas ukur untuk dilakukan
pengukuran, sesuai garis angka yang dimunculkan. Biasanya diamati pada
jam-jam tertentu dan untuk kebutuhan pelaporan maka dilakukan pengamatan
sinoptik pada 3 jam sekali.
3. Campbell Stokes

Sekrup Bola kaca


pengunci
kedudukan Busuk pegangan bola
lensa

Kertas pias
a. Fungsi
Untuk mengetahui lamanya penyinaran matahari.
b. Kondisi Alat
Kondisi alat ini masih sangat baik dan layak untuk digunakan dalam
melakukan pengamatan.
c. Cara Kerja
Alat ini menggunakan kertas pias dan juga bola kaca. Kertas pias yang
digunakan akan memberikan informasi berapa lama penyinarannya dalam satu
hari. Ketika matahari dipantulkan oleh bola kaca dan terpantul pada kertas pias
yang terbakar itu merupakan tanda lama penyinaran matahari.
d. Cara Pengamatan
Alat ini diamati selama 12 jam, kertas pias yang terbakar diukur dan akan
memberikan data berapa lama penyinaran matahari pada hari itu.
4. ARWS (Automatic Rain Water Sampler)

Sensor

Penutup

Tempat menampung
air

Penyangga

a. Fungsi
Untuk mengukur curah hujan, suhu dan kelembaban secara otomatis.
b. Kondisi Alat
Kondisi alat ini masih layak untuk digunakan dalam melakukan pengamatan.
c. Cara Kerja
Ketika air hujan turun maka akan terkena oleh sensor, kemudian sensor akan
memberikan informasi kepada sistem kontrol untuk membuka tutup panci
penampungan dan digerakkan oleh motor listrik, selama air hujan turun maka
tutup panci akan selalu terbuka dan jika hujan berhenti maka otomatis kembali
pada posisi semula agar air hujan yang tertampung tidak terkontaminasi dengan
polusi atau kotoran.
d. Cara Pengamatan
Biasanya cara pengamatan ARWS ini dilakukan seminggu sekali atau pada
akhir bulan dan diukur beberapa jumlah curah hujan dan secara otomatis akan
memberi informasi melalui sensornya.
5. Sangkar Meteorologi

Termometer bola

basahbasah
Termometer bola kering

Terometer maksimum

Termoeter minimum

Piche

a. Fungsi
Digunakan untuk menyimpan termometer maksimum, termometer minimum,
bola kering, bola basah, pitcher evaporimeter dan melindungi alat-alat tersebut.
b. Kondisi Alat
Kondisi sangkar meteorologi masih sangat baik dan layak untuk digunakan,
sementara alat-alat di dalamnya ada yang sudah berkarat.
c. Cara Kerja
Sangkar meteorologi memiliki 5 jenis alat di dalamnya yaitu termometer
maksimum dan minimum, bola kering, bola basah dan pitche evaporimeter.
Termometer maksimum berisi air raksa dan thermometer minimum berisi alkohol
dimana kedunya berfungsi untuk mengukur suhu. Termometer bola kering
digunakan untuk megukur suhu udara sedangkan bola basah digunakan untuk
mengukur titik embun dengan ujung reservoir dibungkus dengan kain muslin.
Prinsipnya sama tetapi ada yang menggunakan kalor penguapan.
d. Cara Pengamatan
Dalam sangkat meteoroli masing-masing diamati untuk termometer bola kering
dan basah diamati 1 jam sekali. Selisih nilai dari keduanya dibagi dan kemudian
ditetapkan sebagai nilai due point. Pengamatan menggunakan termometer
maksimum dilakukan pada pukul 19.00 dan termometer minimum pada pukul
07.00. Pitche evaporimeter mengukur penguapan rekatif dengan menggunakan
kertas filter berbentuk bulat lalu dikunci dengan lingkaran besi dan diamati
pada pukul 07.30.
6. Termometer Vegetasi dan Non Vegetasi

Termometer tanah

Termometer tanah

Termometer minimum

a. Fungsi
Untuk mengukur suhu tanah pada beberapa kedalaman yang telah ditentukan.
b. Kondisi Alat
Kondisi alat ini masih sangat bagus dan layak untuk digunakan.
c. Cara Kerja
Prinsip kerja sama dengan prinsip kerja termometer bola kering hanya sumber
kalornya berasal dari tanah.
d. Cara Pengamatan
Waktu pengamatan I pada pukul 07.00 pagi, waktu pengamatan II pukul 13.00
siang dan waktu pengamatan III pada pukul 17.30 waktu setempat.
7. Gun Bellani
Bola kaca

Bola tembaga hitam

Tabung buret

Skala intensitas
a. Fungsi
Untuk mengukur jumlah radiasi harian matahari yang jatuh kepermukaan bumi.
b. Kondisi Alat
Kondisi alat ini masih sangat bagus dan layak untuk digunakan untuk
pengamatan.
c. Cara Kerja
Dalam alat ini terdapat bola tembaga hitam yang dibungkus dengan bola kaca
yang bisa menyerap panas dan dilengkapi reservoir atau tabung yang diberi air
aquades yang akan menguap jika terkena cahaya matahari dan berkondensasi
sehingga air turun kebawah.
d. Cara Pengamatan
Alat ini diamati pada pukul 07.00 dan tabung buret yang berisi aquades akan
menunjukkan jumlah volume yang dihasilkan dan menunjukkan data pengukuran.
Semakin besar selisihnya maka semakin banyak panas yang diserap oleh bumi.
8. AWS (Automatic Weather System)
Sensor suhu dan
kelekelembabandan

Sensor radiasi matahari

Sensor curah hujan

Data logger

a. Fungsi
Untuk mengukur para meter cuaca secara otomatis yaitu suhu udara,
kelembaban arah, kecepatan angin, radiasi matahari, tekanan dan curah hujan.
b. Kondisi Alat
Kondisi alat ini masih sangat bagus dan layak untuk digunakan melakukan
pengamatan.
c. Cara Kerja
Alat ini dilengkapi dengan sensor yang seluruh data-datanya secara otomatis
terekam dan tepat aktu terkirim keruang pengamatan.
d. Cara Pengamatan
Cara pengamatannya cukup mudah karena enggunakan sensor dan secara
otomatus dapat dipantau datanya dikomputer ruang observasi mengenai data
seluruh parameter.
9. High Volume Sampler (HVS)

Motor penghisap

Kertas filter dan penyaring


debu

Flow rate

a. Fungsi
Untuk mengukur jumlah atau tingkat konsentrasi polutan udara.
b. Kondisi Alat
Kondisi alat ini yaitu masih sangat bagus dan layak untuk digunakan.
c. Cara Kerja
Alat ini dilengkapi oleh kertas filter dan motor putaran kecepatan. Debu akan
dihisap atau menempel pada kertas filter dan akan ditimbang untuk mengukur
berapa konsentrasi polutan yang dihasilkan.
d. Cara Pengamatan
Cara pengamatannya, yaitu ketika kertas sampling ditimbang sebelum dan
sesudah, dan perlu juga dicatat waktu lamanya sampling sehingga didapat
konsentrasi tersebut. Biasanya pengamatan dilakukan 6 hari sekali,
10. Cup Counter Anemometer

Cup

Counter

Tiang
a. Fungsi
Untuk mengukur kecepatan angin rata-rata per km/jam.
b. Kondisi Alat
Kondisi alat ini masih sangat baik dan layak untuk digunakan pengamatan.
c. Cara Kerja
Alat ini memiliki cara kerja yang sangat sederhana, alat ini berputar mengikuti
arah angin dan dilengkapi dengan speedometer yang digunakan untuk melihat
kecepatan angin yang dihasilkan pada hari itu.
d. Cara Pengamatan
Pengamatan alat ini pun cukup sederhana, alat ini diamati 8 kali dalam sehari
dan hanya diamati pada speedometer untuk memperoleh angka kecepatan angin.
4.2 Pembahasan
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, dapat dilihat bahwa pengukuran
unsur-unsur iklim dilakukan dengan berbagai macam alat. Bahkan untuk
membaca satu unsur, diperlukan berbagai alat. Hal ini dilakukan untuk membuat
perbandingan antara hasil pembacaan alat satu dengan yang lain. Sehingga
dalam pengamatan unsur-unsur klimatologi dibutuhkan ketelitian yang tinggi
untuk itu dalam pengamatannya dibutuhkan lebih dari satu alat sebagai
pembanding dalam pengamatan.
Berdasarkan hasil yang didapatkan di lapangan, terdapat alat seperti
campbell stokes, gun bellani dan AWS. Dimana alat tersebut berfungsi meghitung
lamanya penyinaran matahari dan mengukur jumlah radiasi matahari.
Dengan mengetahui lamanya penyinaran matahari dapat membantu petani dalam
memilih jenis komoditi sepeerti apa yang cocok ditanam di daerahnya sesuai
dengan lamanya sinar matahari yang dibutuhkan tanaman sehingga tanaman dapat
tumbuh secara optimal.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan bahwa alat-alat klimatologi
sangat berguna dan menguntungkan bagi bidang pertanian. Dengan alat-alat
klimatologi seperti alat penakar hujan tipe observatorium (manual), Automatic
Rain Water Sampler (otomatis) dan Automatic Weather System (otomatis) kita
bisa mengukur curah hujan sehingga dapat memprediksi curah hujan tahun
berikutnya untuk meningkatkan hasil pertanian dan dapat mencegah terjadinya
gagal panen. Pertumbuhan tanaman berpengaruh pada suhu, pengaruhnya pada
pematangan buah adalah makin tinggi suhu makin cepat matang.
Selain itu, terdapat sangkat meteorologi yang terbuat dari kayu dengan cat
putih agar sangkar ini memantulkan cahaya bukan menyerap cahaya. Di dalam
sangkar meteorologi terdapat termometer maksimum, termometer minimum, bola
kering, bola basah dan pitcher evaporimeter. 5 jenis alat tersebut disimpan
di dalam sangkar meteorologi agar tetap aman.
Dengan mengunakan alat ukur termometer vegetasi dan non vegetasi kita
dapat mengetahui suhu tanah pada suatu wilayah. Dengan mengetahui suhu tanah
kita dapat memilih jenis tanaman mana yang bisa kita tanam pada wilayah
tersebut agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Selain itu, terdapat alat yang
digunakan untuk mengambil sampel udara berdebu. Dengan begitu kita dapat
mengetahui berapa konsetrasi polutan suatu wilayah.
Untuk mengetahui arah dan kecepatan angin digunakan alat cup counter
anemometer. Dengan mengetahui arah dan kecepatan angin kita dapat
mencegah kerusakan tanaman akibat angin kencang, juga dapat melakukan
penyerbukan tanaman dalam waktu yang tepat serta mencegah penyebaran
penyebab penyakit pada tanaman. Pengambilan data iklim menggunakan alat-alat
klimatologi berfungsi untuk meramalkan cuaca dan iklim yang akan terjadi
dimasa yang akan datang.
Di bidang pertanian, hal ini sangat berguna untuk menentukan kalender
pertanian. Petani dapat menentukan komoditi yang cocok ditanam pada cuaca
dan iklim tertentu, petani juga dapat mengatur kapan waktu yang efektif dan
efisien dalam melakukan aktivitas pertanian sehingga tidak terjadi kesalahan
penanaman atau kegagalan panen.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari pengamatan alat-alat klimatologi dapat disimpulkan bahwa :
1. Alat-alat klimatologi sangat dibutuhkan dalam bidang pertanian, unutk
meningkatkan hasil panen dan meminimalisir terjadinya kegagalan panen.
2. Dari alat-alat tersebut perlu kita ketahui dengan baik penempatan alat
serta penggunaaan alatnya agar hasil yang didapatkan sesuai dengan keadaan
iklim yang sebenarnya.
5.2 Saran
Sebaiknya kondisi alat-alat klimatologi yang tersedia di lokasi dapat berfungsi
dengan baik sehingga proses kerja dari alat-alat tersebut dapat dilihat dan diamati
langsung oleh praktikan. Dengan begitu praktikan dapat lebih mudah mengerti
dan memahami cara kerja alat-alat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Anshari. 2013. Perancangan Prediktor Cuaca Maritim Berbasis Logika Fuzzy


Menggunakan User Interface Android. Teknik Pomits, 2 (2), 324-328.

Ariffin,M.S. 2010. Modul Klimatilogi. Jawa Timur: Fakultas Pertanian


Universitas Brawijaya.

BMKG. 2018. Peraturan Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika.


http://hukum.bmkg.go.id (diakses pada Tanggal 29 September 2019 Pukul
21:32 WITA).

Bargumono, HM. 2012. Agroklimatologi. Yogyakarta: Fakultas Pertanian UPN


“Veteran”.

Budianto, Yoesep. 2015. Integrasi Teknologi Penginderaan Jauh Satelit Trmm


(Tropical Rainfall Measurement Mission) Dengan Sistem Pertanian
“Pranata Mangsa” Untuk Optimalisasi Produktivitas Pertanian Di
Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah. Jurnal Meteorologi Klimatologi
dan Geofisika Vol.2 No. 2

Diani, Fitri. 2012. Kajian Sistem Informasi Prakiraan Cuaca BMKG Terhadap
Pertumbuhan Tanaman Teh di Bandung. 2 (5): 23-34.

Fontain. 2010. Analisis Klimatologi Indeks Osilasi Selatan (SOI) untuk


Pendugaan Musim-Tiga Bulan Ke depan Menggunakan Regresi Linier:
Pendugaan SOI Musim JFM Tahun 2002. Jurnal Sains dan Teknologi
Modifikasi Cuaca, Vol.3, No.1.

Handoko. 2010. Unsur-unsur Cuaca dan Iklim. Jurusan Geofisika dan


Meteorologi, FMlPA IPB.

Khaeruddin. 2010. Pengantar Klimatologi Pertanian. Jakarta: Departemen


Pendidikan Nasional Proyek Pengembangan Sistem Standar Pengelolaan
SMK.

Miftahuddin. 2016. Analisis Unsur-unsur Cuaca dan Iklim melalui UjiMan-


Kendall Multivariat. Jurnal Matematika, statistika & komputasi. Vol 13,
No.1, 26-38, Juli 2016.

Sabaruddin, Laode. 2014. Agroklimatologi Aspek-aspek Klimatik untuk


Sistem Budidaya Tanaman. Bandung: Alfa Beta.

Tjasyono, Bayong. 2010. Klimatologi. Bandung : Penerbit ITB.


Darsiman, B,.Sutrisno., Mukri Siregar., Nazaruddin Hisyam. 2006. Karakteristik
Zone Agroklimat E2 di Sumatera Utara. Bogor :

Gusniwati.2012. Penuntun Praktikum Instrumentasi Klimatologi. Jambi :


Universitas Jambi.

Lakitan, Benyamin. 1994. Dasar - Dasar Klimatologi. Jakarta : Raja Grafindo.


Persada.

Las, I., A. Pramudia, E. Runtunuwu, dan P. Setyanto. 2011. Antisipasi Perubahan


Iklim dalam Mengamankan Produksi Beras Nasional. Jurnal
Pengembangan Inovasi Pertanian 4(1).

Sriwono. 2006. Tata Cara Tetap Pelaksanaan Pengamatan dan Pelaporan Data
Iklim dan Agroklimat. Jakarta : Badan Meteorologi dan Geofisika.

Sujatmiko, Eko. 2014. Kamus IPS. Surakarta : Aksara Sinergi Media Cetakan.

nshari, . K., ". rifin., dan . 1ahmadiansah. )(3. Perancangan


Prediktor Cuaca aritim 2erbasis +ogika 4uEEy enggunakan
User Interface
ndroid.
Teknik Pomits
, 0, 3 :-3 @2 K;. )(3.
Buku Informasi Perubahan Iklim dan Kualitas Udara di Indonesia,
Aakarta ' 2adan eteorologi Klimatologi dan ;iofisika 2 K;0.