Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN STATUS KLINIS

STASE NEUROMUSKULAR
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS BELL’S PALSY
RSUP SANGLAH DENPASAR

I NYOMAN OKA YULIARTHA (1802631024)


RINI ISMAYANA SANTY (1802631034)
A.A. ISTRI AYESA FEBRINIA A. (1802631043)
DEVA NATALIA MOTIK (1802631065)

PEMBIMBING:
dr. IDA AYU SRI WIJAYANTI, M. Biomed, Sp.S
dr. IDA AYU SRI INDRAYANI, Sp.S
NI LUH NOPI ANDAYANI, SSt. Ft, M.Fis
MADE HENDRA SATRIA NUGRAHA, S.Ft, M.Fis
ENY SULISTINAWATI, S.Ft
I MADE INDUSAKA, S.Ft

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI FISIOTERAPI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2019
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

A. Definisi Bell’s palsy

Bell's palsy adalah kelumpuhan saraf wajah perifer akut dengan etiologi yang
tidak diketahui, menyebabkan onset kelemahan wajah yang cepat. Defisit terjadi dari
jam ke hari, dan mencapai tingkat keparahan maksimum dalam tiga minggu. Gejala-
gejalanya juga dapat berkembang di malam hari saat pasien tidur, menyebabkan
semakin terlihat akut (Handoko, 2012).
Bell’s palsy terjadi di akibatkan dari proses inflamasi akut pada nervus fasialis
di daerah tulang temporal, di sekitar foramen stilomastoideus pada nervus fasialis
yang menyebabkan peningkatan diameter nervus fasialis sehingga terjadi kompresi
dari saraf tersebut pada saat melalui tulang temporal. Perjalanan nervus fasialis keluar
dari tulang temporal melalui kanalis fasialis yang mempunyai bentuk seperti corong
yang menyempit pada pintu keluar sebagai foramen mental. Dengan bentukan kanalis
yang unik tersebut, adanya inflamasi, demyelinisasi atau iskemik dapat menyebabkan
gangguan dari konduksi (Saep, Amet, 2015).
Kelemahan wajah biasanya sembuh — sebagian atau seluruhnya — dalam
waktu enam bulan. Meskipun Bell's palsy dapat mempengaruhi pasien dari segala usia,
rata-rata usia onset adalah 40 tahun, dan itu lebih umum pada pasien di dekade ketiga
hingga kelima. Karena Bell's palsy mempengaruhi saraf wajah (Nervus VII), maka
menyebabkan kelemahan wajah pada pola periferal — yaitu, kelemahan yang
melibatkan mulut, mata, dan dahi. Gambaran klinis spesifik meliputi: kelemahan
mengangkat alis dan mengerutkan alis; kesulitan atau ketidakmampuan untuk menutup
mata; kelemahan dalam meringis dan tersenyum; dan perataan lipatan nasolabial (John
R. de Almeida. 2014).

A) anatomi wajah yang normal selama tersenyum dan mengangkat alis.


B) Di sebelah kiri, lipatan nasolabial datar dan mulut menurun tetapi kerutan dahi
masih utuh dan fisura palpebra simetris.
C) Di sebelah kiri, lipatan nasolabial datar, mulut diturunkan, dahi tidak kusut dan
fisura palpebra melebar.
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

B. Anatomi
Saraf fasialis atau saraf kranialis ketujuh mempunyai komponen motorik yang
mempersarafi semua otot ekspresi wajah pada salah satu sisi, komponen sensorik kecil
(nervus intermedius Wrisberg) yang menerima sensasi rasa dari 2/3 depan lidah, dan
komponen otonom yang merupakan cabang sekretomotor yang mempersarafi glandula
lakrimalis. Saraf fasialis keluar dari otak di sudut serebello-pontin memasuki meatus
akustikus internus. Saraf selanjutnya berada di dalam kanalis fasialis memberikan
cabang untuk ganglion pterygopalatina sedangkan cabang kecilnya ke muskulus
stapedius dan bergabung dengan korda timpani. Pada bagian awal dari kanalis fasialis,
segmen labirin merupakan bagian yang tersempit yang dilewati saraf fasialis; foramen
meatal pada segmen ini hanya memiliki diameter sebesar 0,66 mm Wijaya Randi.
2014).

C. Etiologi Bell’s palsy


Terdapat lima teori yang kemungkinan menyebabkan terjadinya Bell’s palsy,
yaitu iskemik vaskular, virus, bakteri, herediter, dan imunologi. Teori virus lebih
banyak dibahas sebagai etiologi penyakit ini. Burgess et al mengidentifikasi genom
virus herpes simpleks (HSV) di ganglion genikulatum seorang pria usia lanjut yang
meninggal enam minggu setelah mengalami Bell’s palsy (Handoko Lowis, dkk. 2012).
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

D. Patofisiologi Bell’s palsy


Bell’s palsy terjadi karena proses inflamasi akut pada nervus fasialis di daerah
tulang temporal, di sekitar foramen stilomastoideus. Bell’s palsy hampir selalu terjadi
secara unilateral. Namun demikian dalam jarak waktu satu minggu atau lebih dapat
terjadi paralysis bilateral. Penyakit ini dapat berulang atau kambuh. Patofisiologinya
belum jelas, tetapi salah satu teori menyebutkan terjadinya proses inflamasi pada
nervus fasialis yang menyebabkan peningkatan diameter nervus fasialis sehingga
terjadi kompresi dari saraf tersebut pada saat melalui tulang temporal. Perjalanan
nervus fasialis keluar dari tulang temporal melalui kanalis fasialis yang mempunyai
bentuk seperti corong yang menyempit pada pintu keluar sebagai foramen mental.
Dengan bentukan kanalis yang unik tersebut, adanya inflamasi, demyelinisasi atau
iskemik dapat menyebabkan gangguan dari konduksi (John R. de Almeida. 2014).
Impuls motorik yang dihantarkan oleh nervus fasialis bisa mendapat gangguan di
lintasan supranuklear, nuklear dan infranuklear. Lesi supranuklear bisa terletak di
daerah wajah korteks motorik primer atau di jaras kortikobulbar ataupun di lintasan
asosiasi yang berhubungan dengan daerah somatotropik wajah di korteks motorik
primer. Karena adanya suatu proses yang dikenal awam sebagai “masuk angin” atau
dalam bahasa inggris “cold”. Paparan udara dingin seperti angin kencang, AC, atau
mengemudi dengan kaca jendela yang terbuka diduga sebagai salah satu penyebab
terjadinya Bell’s palsy. Karena itu nervus fasialis bisa sembab, ia terjepit di dalam
foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan fasialis LMN. Pada lesi LMN
bias terletak di pons, di sudut serebelo-pontin, di os petrosum atau kavum timpani, di
foramen stilomastoideus dan pada cabang-cabang tepi nervus fasialis
(Brach, S.J. & Van Swearingen, J.M. 1999).
Lesi di pons yang terletak di daerah sekitar inti nervus abdusens dan fasikulus
longitudinalis medialis. Karena itu paralisis fasialis LMN tersebut akan disertai
kelumpuhan muskulus rektus lateralis atau gerakan melirik ke arah lesi. Selain itu,
paralisis nervus fasialis LMN akan timbul bergandengan dengan tuli perseptif
ipsilateral dan ageusia (tidak bisa mengecap dengan 2/3 bagian depan lidah).
Berdasarkan beberapa penelitian bahwa penyebab utama Bell’s palsy adalah reaktivasi
virus herpes (HSV tipe 1 dan virus herpes zoster) yang menyerang saraf kranialis.
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

Terutama virus herpes zoster karena virus ini menyebar ke saraf melalui sel satelit.
Pada radang herpes zoster di ganglion genikulatum, nervus fasialis bisa ikut terlibat
sehingga menimbulkan kelumpuhan fasialis LMN (Saep, Amet, 2015).
Kelumpuhan pada Bell’s palsy akan terjadi bagian atas dan bawah dari otot
wajah seluruhnya lumpuh. Dahi tidak dapat dikerutkan, fisura palpebra tidak dapat
ditutup dan pada usaha untuk memejam mata terlihatlah bola mata yang berbalik ke
atas. Sudut mulut tidak bisa diangkat. Bibir tidak bisa dicucurkan dan platisma tidak
bisa digerakkan. Karena lagoftalmos, maka air mata tidak bisa disalurkan secara wajar
sehingga tertimbun disitu (John R. de Almeida. 2014).

E. Penatalaksanaan Bell’s palsy


1. Infra Red
Infra Red memberikan efek fisiologis berupa peningkatan metabolisme
pada lapisan superfisial kulit sehingga suplai nutrisi dan oksigen ke jaringan
meningkat, hal tersebut akan membantu rileksasi otot dan meningkatkan
kemampuan kontraksi dari otot (Banu HB. 2017).
Pelaksanaan terapi : Lampu Infra Red diletakkan tegak lurus dengan area
terapi dengan jarak 45 - 60 cm. Evaluasi di lakukan sebelum dilakukan penyinaran
dan saat penyinaran, apakah ada panas yang terlalu tinggi atau terlalu banyak
keringat yang keluar.
Dosis : Dosis waktu : 15 menit
Pengulangan : 1x1 hari (Banu HB. 2017).

2. Massage
Massage adalah suatu teknik stimulasi pada jaringan lunak bertujuan untuk
meningkatkan fleksibilitas, mencegah terjadinya perlengketan jaringan dengan
cara memberikan penguluran pada jaringan yang superfisial, merangsang reseptor
sensoris pada jaringan kulit sehingga terjadi efek rileksasi, meningkatkan proses
metabolisme, mengurangi spasme dan rasa tebal pada wajah yang lesi (Beurskens
CHG, Heymans PG. 2006).
Pelaksanaan terapi : Massage diberikan pada wajah yang lesi. Sebelumnya
tuangkan media pelicin ditangan terapis. Usapkan pada wajah pasien dengan
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

gerakan stroking menggunakan seluruh permukaan tangan dengan arah gerakannya


tidak tentu. Lakukan gerakan efflurage secara gentle, arah gerakan dari dagu
kearah pelipis dan dari tengah dahi turun ke bawah menuju ke telinga. Dilanjutkan
dengan finger kneading dengan jari-jari dengan cara memberikan tekanan dan
gerakan melingkar, diberikan ke seluruh otot wajah yang terkena lesi dari dagu,
pipi, pelipis dan tengah dahi menuju ke telinga. Kemudian lakukan tapping dengan
jari-jari dari tengah dahi menuju ke arah telinga, dari dekat mata menuju ke arah
telinga, dari hidung ke arah telinga, dari sudut bibir ke arah telinga dan dari dagu
menuju kearah telinga. Khusus pada bibir, lakukan stretching kearah yang lesi.
Dosis : Dosis waktu : 10 menit, 2-3 kali sehari.
Pengulangan : Gerakan massage dilakukan dengan dosis masing-masing 3-5 kali
pengulangan (Beurskens CHG, Heymans PG. 2006).
3. Electrical Stimulation
Satu-satunya bentuk arus listrik yang digunakan pada wajah adalah arus
searah yang diputus-putus (Interrupted Direct Current) atau disebut juga Arus
Galvanic, apakah itu ada reaksi degenerasi atau tidak ada reaksi. Hal ini diminta
hanya untuk menjaga sebagian besar otot-otot wajah dan mencegah atrofi sambil
menunggu untuk reinnervasi dalam kasus axotomesis atau reconduction setelah
neurapraxia jika saraf tidak rusak sepenuhnya. Tidak ada ruang bagi penggunaan
arus faradik pada wajah karena bisa menyebabkan kontraktur sekunder pada
wajah. Selain itu, sebagian besar pasien merasa tidak mampu menahan nyeri pada
wajah karena stimulasi sensorik yang tidak nyaman. Hal ini dikarenakan bahwa
arus faradic memiliki frekuensi 50 siklus per detik, sehingga menghasilkan
kontraksi tetanik pada otot-otot yang terangsang. Meskipun untuk saat ini adalah
kontraksi otot arus faradic melonjak untuk menghasilkan kontraksi alternatif dan
relaksasi namun berhubung tipe tatanik pada kontraksi yang menghasilkan 50
pulse hanya dalam satu detik, tidak diperlukan pada wajah. Otot-otot wajah yang
sangat tipis dan halus dan tidak bisa mentolerir jenis arus ini yang dapat merusak
dan menghasilkan kontraktur sekunder. Jika kontraktur sekunder terjadi, semua
bentuk stimulasi listrik harus ditinggalkan sementara untuk menghindari
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

kerusakan lebih lanjut pada otot. Wajah harus segera direnggangkan dan dipijat
lembut (Shamsi, Sharick., 2015).
Pelaksanaan terapi :
Mesin masih dalam posisi off dan tombol intensitas dalam posisi nol.
Elektroda pasif diletakkan pada cervical 7, sedangkan elektroda aktif pada motor
poin otot wajah lesi. Stimulasi diberikan pada wajah yang lesi. Hidupkan alat, pilih
arus faradik dan naikkan intensitas sesuai toleransi pasien. Tiap satu motor point
pada otot dilakukan kontraksi sebanyak 30 kali rangsangan, dengan waktu 1-3
menit. Untuk mengakhiri stimulasi terlebih dahulu menurunkan intensitas arusnya.
Kemudian lepaskan elektroda baik yang pasif maupun aktif dari kulit pasien dan
matikan dan rapikan alat (Shamsi, Sharick., 2015).
Dosis : 3x10 kontraksi setiap motor point
4. Terapi Latihan Mirror Exercise
Pada kondisi bell’s palsy palsy, latihan yang dilakukan didepan cermin akan
memberikan biofeedback, yaitu berupa mekanisme kontrol suatu sistem biologis
dengan memasukan kembali keluaran yang dihasilkan dari sistem biologis
tersebut, dengan tujuan akhir untuk memperoleh keluaran baru yang lebih
menguntungkan sistem tersebut. Pelaksanaan terapi ini harus dilakukan dengan
tenang agar pasien bisa lebih berkonsentrasi dalam melakukan latihan gerakan
pada wajah. Pemberian Mirror Exercise bertujuan untuk meningkatkan kekuatan
otot wajah dan melatih kembali gerakan fungsional otot-otot wajah (Infante-
Cossio, P., dkk, 2015).
Pelaksanaan terapi :
Pertama-tama terapis memberikan contoh gerakan-gerakan yang harus
dilakukan oleh pasien kemudian pasien diminta untuk menirukan gerakan-gerakan
tersebut 10 kali pengulangan setiap gerakan, terapis memperhatikan dan
mengoreksi apabila ada gerakan yang keliru, terapi dilakukan selam 10 menit.
Gerakan yang dilakukan diantaranya:
 Minum dengan menggunakan sedotan
 Mengendus kuat, kerutkan hidung
 Tekuk bibir atas, mencoba untuk menyentuh hidung
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

 Meniup udara ke dalam pipi, berusaha menjaga mulut tetap tertutup (seperti
meniup balon). Lakukan pergeseran udara dari 1 pipi ke pipi lainnya
 Tersenyum tanpa menunjukkan gigi kemudian tersenyum menunjukkan gigi
 Gunakan ibu jari dan telunjuk, tarik sudut-sudut bibir
 Mencoba menutup mata perlahan
 Menaikkan alis dan tahan 5 detik, kerutkan dahi
 Cemberut dan gerakkan alis ke bawah
 Tutup mata erat
 Mengedipkan mata secara bergantian
 Buka mata secara luas namun tidak melibatkan alis
 Coba mengunyah makanan menggunakan kedua sisi mulut (Infante-Cossio,
P., dkk, 2015).
5. Edukasi
Selain memberikan sebuh intervensi, edukasi merupakan salah satu hal
yang sangat penting untuk mendukung proses penyembuhan pasien. Adapun
edukasi yang dapat diberikan adalah :
a) Pasien disarankan untuk kompres air hangat setiap pagi dan sore hari selama
10-15 menit.
b) Pasien disarankan untuk tidak tidur dilantai, saat tidur menggunakan penutup
mata dan jangan menggunakan kipas angin secara langsung menerpa wajah.
c) Pasien disarankan melindungi mata dari terpaan debu dan angin secara
langsung untuk menghindari terjadinya iritasi dan tidak lupa menggunakan
tetes mata setiap harinya.
d) Pasien diajarkan untuk melatih gerakan-gerakan di depan kaca (mirror
exercise) seperti: mengangkat alis dan mengkerutkan dahi ke atas, menutup
mata, tersenyum, bersiul, menutup mulut dengan rapat, mengangkat sudut
bibir ke atas dan memperlihatkan gigi-gigi, mengembang kempiskan cuping
hidung, mengucapkan kata-kata labial L,M,N,O dengan dilakukan sesering
mungkin.
e) Saat keluar malam menggunakan helm full face dengan kaca tertutup serta
memakai selayer atau masker (John R. de Almeida. 2014).
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

ASSESSMENT
I. Identitas Pasien
a. Nama : NWWJ
b. Jenis kelamin : Perempuan
c. Umur : 33 tahun
d. Alamat : Giayar
e. Pekerjaan : PNS
f. No RM : 19012341
II. Pemeriksaan Subjektif
a. Keluhan Utama (KU) (19 Maret 2019)
Kelemahan pada wajah sisi kiri
b. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS)
Pasien datang dengan keluhan merasa tebal di wajah sisi kiri, kesulitan
berkumur sejak tanggal 14/3/2019 dan memberat 3 hari setelahnya.
Awalnya pasien merasa susah untuk menutup mata kiri lama kelamaan
menjadi sulit menggerakkan bibir (tersenyum). Pasien kemudian datang ke
poli rehabilitasi medik dan dirujuk ke fisioterapi RSUP sanglah tanggal 19
Maret 2019.
c. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) & Penyakit Penyerta
Disangkal.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga dan Sosial Ekonomi

Riwayat bell’s palsy dalam keluarga disangkal.


Pasien biasa tidur terpapar kipas angin.
Pasien merupakan seorang PNS.

III. Pemeriksaan Objektif


a. Vital Sign (Tanggal 19 Maret 2019)
Absolut Tambahan*
TD : 120/80 mmHg Saturasi Oksigen : 98 %
RR : 20 x/Min Kesadaran : Compos mentis
HR : 82 x/Min GCS : E4 V5 M6

Tanggal 21 Maret 2019


Absolut Tambahan*
TD : 110/80 mmHg Saturasi Oksigen : 98 %
RR : 22 x/Min Kesadaran : Compos mentis
HR : 85 x/Min GCS : E4 V5 M6
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

Tanggal 22 Maret 2019


Absolut Tambahan*
TD : 120/80 mmHg Saturasi Oksigen : 95 %
RR : 21 x/Min Kesadaran : Compos mentis
HR : 88 x/Min GCS : E4 V5 M6

b. Pemeriksaan Per-Kompetensi
- Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Hasil
Inspeksi - Sudut alis terlihat simetris ketika diam
Statis - Bibir tidak terlihat mencong ketika diam
Inspeksi - Tampak sedikit asimetris saat menggerakan otot
Dinamis wajah, seperti mengangkat alis, tersenyum,
mencucu.
- Saat mengembungkan pipi masih belum mampu
lama mempertahankannya
- Tidak terdapat nyeri pada wajah sisi kiri.
Palpasi - Akral hangat
Auskultasi -

- Pemeriksaan Terkait
Pemeriksaan Hasil
Pemeriksaan - Sudah mampu mengerutkan dahi namun belum
Fungsi sempurna
Gerak Dasar - Pasien sedikit mampu mengangkat alis kiri namun
Aktif belum simetris.
- Sudah mampu menutup kelopak mata kiri namun
belum tertutup sepenuhnya.
- Pasien belum mampu menggerakkan alis kiri ke
medial namun belum simetris
- Pasien belum mampu sepenuhnya mengembang
kempiskan cuping hidung
- Mampu mengembungkan pipi namun tidak bertahan
lama.
- Mampu menarik sudut bibir kiri tetapi belum simetris.
- Bibir pasien mampu mencucu tetapi belum sempurna.

Sensoris - Terasa tebal pada pipi sisi kiri


- Masih bisa membedakan panas dingin tajam tumpul
- Ketika mengkonsumsi makananan jadi tidak enak
karena ada perubahan rasa
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

- Pengukuran (19 Maret 2019)


Pengukuran Alat Ukur Hasil
Kekuatan Manual Otot Dextra Sinistra
otot wajah Muscle m. Frontalis 5 3
Testing m. Orbicularis 5 3
(MMT) oculi
- Reliabilitas m. corugator 5 3
: 0,63-0,98 supercilli
- Validitas : m. nasalis 5 3
0,768 m. orbicularis 5 3
(C Cuthbert, oris
S., & J m. buccinator 5 3
Goodheart m. zygomaticum 5 3
Jr., G., 2007) major
m. levator labii 5 3
superior
m. Depresor 5 3
anguli oris
m. Depresor labii 5 3
inferior
Fungsi Ugo Fisch
motorik Scale (UFS) Posisi Wajah Hasil
wajah - Validitas :- Saat diam atau 20 x 100% = 20
- Reliabilitas istirahat
:0,87 Mengerutkan dahi 10 x 70% = 7
(Meier- Menutup mata 30 x 70% = 21
Gallati, V,. & Tersenyum 30 x 70% = 21
Scriba, H.,
Bersiul 10 x 70% = 7
2017)
Jumlah 76 poin

Keterangan :
Derajat I : Normal (100 poin)
Derajat II : Kelumpuhan ringan (75 – 99 poin)
Derajat III : Kelumpuhan sedang (50 – 75 poin)
Derajat IV : Kelumpuhan sedang berat (25 – 50
poin)
Derajat V : Kelumpuhan berat (1 – 25 poin)
Derajat VI : Kelumpuhan total (0 poin)
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

Nyeri NRS - Nyeri diam : 0/10


(Numeric - Nyeri tekan : 0/10
Rating Scale) - Nyeri gerak : 0/10
- Validitas :
Construct
validity
(0,88)
- Reliabilitas
: Test-retest
reliability
(0,81)
(Pathak, A.,
Sharma, S.,
& Jensen,
M.P., 2018)
Derajat House- - Derajat 3 (disfungsi sedang) : saat diam
kelemahan Brackmann simetris, kerutan dahi sedikit asimetris,
nervus scale menutup mata komplit dengan usaha
facialis - Reliabilitas maksimal dan jelas terlihat asimetris,
: sudut mulut bergerak dengan usaha
- Validitas : maksimal dan asimetris tampak jelas.
0,87
(Meier-
Gallati, V,. &
Scriba, H.,
2017)

- Synkinesis Assessment Questionnaire (SAQ)

No Question Score
1 Ketika saya tersenyum, mata saya tertutup 1
2 Ketika saya berbicara, mata saya tertutup 1
3 Ketika saya bersiul atau mengerutkan bibir, mata saya tertutup 1
4 Saat saya tersenyum, leher saya menegang 1
5 Saat saya menutup mata, wajah saya menjadi kencang 1
6 Ketika saya menutup mata, sudut mulut saya bergerak 1
7 Ketika saya menutup mata, leher saya menegang 1
8 Saat aku makan, mataku berair 1
9 Ketika saya menggerakkan wajah saya, dagu saya 1
mengembangkan area berlesung pipit
Jumlah Skor 9
SAQ Total Skor : 9/45 x 100 20
Normal
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

Keterangan :
1 = jarang atau tidak sama sekali
2 = sesekali, atau sangat ringan
3 = kadang-kadang, atau sedikit
4 = sebagian besar waktu, atau sedang
5 = sepanjang waktu, atau sangat
Validitas : Construct Validity (0,769)
Reliabilitas : internal consistency (Cronbach α 0,863), Test-retest
reliability (0,881)
Sumber : WernickRobinson, & M., Hadlock, T.A. 2007

c. Pemeriksaan Penunjang
Jenis Pemeriksaan Kesan
CT-scan -
MRI -
EMG -

d. Diagnosis Banding
Diagnnosis Banding Hasil
Stroke Negatif
Trigeminal Neuralgia Negatif
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

e. Algoritma Pemeriksaan

Sulit menggerakkan
Ho : Bell’s palsy
wajah satu sisi

Wajah tebal di sisi kiri, sulit berkumur dan


Anamnesis sulit menutup mata kiri serta sulit
mengangkat alis sisi kiri

TD : 120/80mmHg
Vital Sign HR : 82 x/menit
RR : 20 x/menit
SpO2 : 98 %

Inspeksi statis : tampak asimetris pada wajah


Pemeriksaan Inspeksi dinamis : tampak asimetris saat
menggerakkan otot wajah

Pemeriksaan Fungsi Gerak aktif : Tampak lifting tidak simetris


Gerak Dasar Dextra-sinistra

Pengukuran
MMT Wajah, Ugo Lesi nervus
Fisch Scale (UFS), facialis central
NRS, Derajat tidak
kelemahan nervus
facialis

Bell’s palsy hari ke-6


KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

DIAGNOSIS
ICFCoding
I. Impairment (Body Structure & Body Function Impairment)

Body Structure
- s1106.1.0.2 Structure of cranial nerve (nervus facialis)
- s7104.1.0.2 Muscles of head and neck region

Body Function
- b5100.2 Sucking Functions
- b 5102.2 Chewing Functions

- b7308.2 Muscle power functions, other specific


- b 5101 Biting Functions
- b5103 Manipulation of food in the mouth Functions of moving
food around the mouth with the teeth and tongue.

II. Activity Limitation

- d550.2 Carrying out eating appropriatel


- d560.2 Drinking
- d1203.2 Tasting Exploring the taste of food or liquid by bitting,
chewing, sucking.

III. Participation of Restriction

- d9100 Informal associations


- d9101 Formal associations
- d9102 Ceremonies
- d840 Work and employent

IV. Contextual Factor


a. Personal Factor
Pasien koperatif saat diberikan intervensi dan instruksi latihan.
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

b. Environmental Factor
Fasilitator :
- e310 Immediately family
- e385 Health professional
Barrier :
- e2250 Temperature Degree of heat or cold, such as high and low
temperature, normal normal or extreme temperature.

Diagnosis Fisioterapi
\
Kesulitan dalam menggerakkan otot-otot wajah (mengerutkan dahi, mengangkat
alis, menutup mata, mengembungkan pipi, mencucu dan tersenyum) karena
adanya kelemahan otot wajah ec Bell’s Palsy onset hari ke-6 sehingga mengalami
gangguan saat bekerja dan bersosialisasi di lingkungan.

PROGNOSIS
I. Quo ad vitam
Bonam

II. Quo ad sanam


Sanam

III. Quo ad cosmeticam

Bonam

IV. Qou ad fungsionam


Bonam

PLANNING
I. Jangka Pendek
- Meningkatkan kekuatan otot wajah
- Mencegah komplikasi seperti synkinesis

II. Jangka Panjang

Mengembalikan gerak fungsional yang melibatkan otot-otot wajah seperti mengunyah,


menutup kelopak mata, mengangkat alis, berkumur serta meningkatkan kepercayaan diri
pasien
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

Clinical Reasoning

Contextual Factor Bell’s Palsy Sensoris limitation

Functional
Internal Factor Eksternal Factor Anatomy Impairment Impairment Rasa tidak enak
saat makan

Usia Terpapar udara Inflamasi


dingin n.facialis Activity Limitation Participation
Restriction
Motivasi
Dukungan Frontalis zygomaticum
keluarga Edema mielin Working
Sadar akan
pemilihan
metode Mengerutkan Socialize
Kompresi Berkumur
pengobatan dahi
aksonal
Mengangkat Mengembu Mandibula
entrapment pada alis ngkan pipi
foramen
stiloimastoideus Minum
Menutup Meniup
mata
Paresis nervus Mengunyah
facialis perifer Tersenyum
(motorik murni)

Intervensi Edukasi Home Program


 Infra Red  Penggunaan Masker dan  Pasien diminta untuk latihan bersiul untuk
 Electrical Stimulation kacamata saat berpergian melatih otot-otot wajah
keluar rumah  Latihan mengunyah permen karet pada sisi yang
 Facial exercise
 Penggunaan Helm dengan terganggu
 Massage (efflurage dan  Pasien di minta untuk Latihan Meniup Balon
Kaca tertutup
kneading)  Saat minum menggunakan untuk melatih otot-otot wajah
sedotan  Melakukan facial exercise di rumah setiap hari
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

INTERVENSI
I. Tabel Intervensi
Intervensi Metode Pelaksanaan Dosis Evidence Based
Infra-Red Infra-Red di letakan 15 menit tiap Banu HB. 2017. Effect
Tegak lurus pada sisi terapi of Infrared Radiation
yang mengalami (IRR) on Patients with
kelemahan dengan jarak Bell’s Palsy.
10-15 cm Bangladesh Medical
Journal, Vol. 46(1), 1-
6
Electrical Electrical Stimulation di Stimulasi
Stimulation berikan sesuai dengan galvanic Shamsi, Sharick. 2015.
dengan arus motor point otot-otot menggunakan Effect of
galvanic wajah dari 11 otot rectangular Physiotherapy in the
wajah (frontalis, pulses 100 ms Management of Facial
corrugator supercilii, yang diberikan Palsy- Case Study.
orbicularis oculi, levator pada frekuensi International Journal
labii superioris alaeque 1 pulses / s atau of Health Sciences &
nasi, levator labii lebih dapat Research, Vol. 5(1),
superioris, levator diberikan 3 Set, Hal. 2249-9571.
anguli oris,risorius, 30-100
orbicularis oris, kontraksi / sesi.
depressor anguli oris,
depressor labii
inferioris, and levator
menti), intensitas
disesuaikan dengan
toleransi pasien
Facial exercise Pasien diinstrusikan 10 repetisi pada Infante-Cossio, P.,
untuk melakukan tiap gerakan Prats-Golczer, V.,
gerakan seperti : Lopez-Martos, R.,
 Mengerutkan dahi Montes-Latorre, E.,
 Mengangkat alis Antonio Exposito-
 Menutup mata Tirado, J., &
Gonzalez-Cardero, E.
secara perlahan dan
2015. Effectiveness of
rapat
facial exercise therapy
 Mengembang for facial nerve
kempiskan cuping dysfunction after
hidung superficial
 Mengerutkan hidung parotidectomy: A
(seperti mengendus) randomized controlled
 Tersenyum dengan trial. Clinical
bibir tertutup, Rehabilitation, Vol.
tersenyum dengan 30(11):1097-1107.
bibir terbuka
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

 Mencoba bersiul
dengan mengerutkan
bibir dan
mengempiskan pipi
 Kencangkan dagu
dan leher untuk
menarik bibir bawah
ke bawah untuk
memperlihatkan gigi
bawah
Massage Terapis berada di 15x / menit dan Beurskens CHG,
sebelah atas wajah dilakukan Heymans PG. 2006.
pasien. Massage selama kurang Mime therapy
diberikan pada wajah lebih 5-10 improves facial
yang lesi. Sebelumnya menit symmetry in people
tuangkan media pelicin with long-term facial
ditangan terapis. nerve paresis: a
Kemudian usapkan randomized controlled
pada wajah pasien trial. Aust J
dengan gerakan Physiother, Vol.
stroking dengan 52:177-83.
menggunakan seluruh
permukaan tangan satu
atau permukaan kedua
belah tangan dan arah
gerakannya tidak tentu.
Lakukan gerakan
efflurage secara gentle,
gerakan dari dagu
kearah pelipis dan dari
tengah dahi turun ke
bawah menuju ke
telinga. Dilanjutkan
dengan finger kneading
dengan jari-jari dengan
cara memberikan
tekanan dan gerakan
melingkar, diberikan ke
seluruh otot wajah yang
terkena lesi dari dagu,
pipi, pelipis dan tengah
dahi menuju ke telinga.
Kemudian lakukan
tapping dengan jari-jari
dari tengah dahi menuju
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

ke arah telinga, dari


dekat mata menuju ke
arah telinga, dari hidung
ke arah telinga, dari
sudut bibir ke arah
telinga dan dari dagu
menuju kearah telinga.
Khusus pada bibir,
lakukan stretching
kearah yang lesi

II. Edukasi
Edukasi Evidence Based
- Penggunaan masker dan kacamata saat berpergian John R. de Almeida.
keluar rumah 2014.Management of
- Penggunaan helm dengan kaca tertutup Bell palsy: clinical
- Menggunakan sedotan saat minum practice guideline.
- Penggunaan obat tetes mata Canadian Medical
Association or its
licensors, Vol.
186(12):917-922

III. Home Program


Edukasi Evidence Based
- Pasien diminta untuk latihan bersiul untuk melatih John R. de Almeida.
otot-otot wajah 2014. Management
- Latihan mengunyah permen karet pada sisi yang of Bell palsy: clinical
terganggu practice guideline.
- Pasien di minta untuk Latihan Meniup Balon untuk Canadian Medical
melatih otot-otot wajah Association or its
- Melakukan facial exercise di rumah setiap hari
licensors, Vol.
186(12):917-922

TIMELINE KLINIS

19/3/2019
Pasien datang ke RSUP Sanglah karena mengeluh lemah pada satu sisi wajah bagian kiri.
19/3/2019
Pasien dirujuk ke fisioterapi oleh dokter rehabilitasi medik karena mengeluh lemah pada satu
sisi wajah bagian kiri.
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

19/3/2019
Pasien mendapatkan tindakan fisioterapi ke-1
PEMERIKSAAN INTERVENSI
KU: Intervensi :
- Kelemahan satu sisi wajah bagian kiri, sulit
 Infra-red
menggangkat alis, kesulitan saat berkumur,
 Electrical Stimulation dengan arus
mencucu, tersenyum.
faradic
Inspeksi statis:
 Facial exercise
- Sudut alis terlihat simetris ketika diam
- Bibir tidak terlihat mencong ketika diam
Inspeksi dinamis:
- Tampak asimetris saat menggerakan otot
wajah, seperti mengangkat alis, tersenyum,
mencucu.
- Saat mengembungkan pipi masih belum
mampu lama mempertahankannya
- Tidak terdapat nyeri pada wajah sisi kiri.
Test Pre Post
BP 120/80 120/80 120/80 120/80
(mmHg) dextra sinistra dextra sinistra
SpO2
98 99
(%)
HR
80 84
(x/menit)
RR
20 20
(x/menit)
21/3/2019
Pasien mendapatkan tindakan fisioterapi ke-2
PEMERIKSAAN INTERVENSI
KU: Intervensi :
- Kelemahan satu sisi wajah bagian kiri, sulit
Intervensi :
menggangkat alis, kesulitan saat berkumur,
 Infra-red
tersenyum sudah mampu namun belum
 Electrical Stimulation dengan arus
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

simetris, mampu mengembungkan pipi namun faradic


hanya 5 detik  Facial exercise
Inspeksi statis:  Massage
- Sudut alis terlihat simetris ketika diam
- Bibir tidak terlihat mencong ketika diam
Inspeksi dinamis:
- Tampak asimetris saat menggerakan otot
wajah, seperti mengangkat alis, tersenyum,
mencucu.
- Sudah mampu saat mengerutkan dahi
- Saat mengembang kempiskan cupping hidung
sudah bisa namun belum sempurna
- Saat mengembungkan pipi masih belum
mampu lama mempertahankannya
- Tidak terdapat nyeri pada wajah sisi kiri.
Test Pre Post
BP 110/80 110/80 120/80 120/80
(mmHg) dextra sinistra dextra sinistra
SpO2
98 98
(%)
HR
85 87
(x/menit)
RR
22 22
(x/menit)
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

22/3/2019
Pasien mendapatkan tindakan fisioterapi ke-3
PEMERIKSAAN INTERVENSI
KU: Intervensi :
- Kelemahan satu sisi wajah bagian kiri, sulit
 Infra-red
menggangkat alis, kesulitan saat berkumur,
 Electrical Stimulation dengan
tersenyum sudah mampu namun belum
arus faradic
simetris, sudah mampu mengembungkan pipi
 Facial exercise
selama 10 detik
 Massage
Inspeksi statis:
- Sudut alis terlihat simetris ketika diam
- Bibir tidak terlihat mencong ketika diam
Inspeksi dinamis:
- Tampak asimetris saat menggerakan otot
wajah, seperti mengangkat alis, tersenyum,
mencucu.
- Sudah mampu mengembungkan pipi selama
10 detik
- Sedikit mampu mengangkat alis
- Sudah mampu menutup kelopak mata tetapi
belum simetris
- Sudah mampu mengembang kempiskan
cupping hidung
- Tidak terdapat nyeri pada wajah sisi kiri..
Test Pre Post
BP 120/70 120/70 120/80 120/80
(mmHg) dextra sinistra dextra sinistra
SpO2
95 98
(%)
HR
88 85
(x/menit)
RR
21 21
(x/menit)
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

EVALUASI
22/03/2019
MMT Otot wajah
MMT Facial

Dextra Otot Wajah Sinistra


22-03 21-03 19-03 19-03 21-03 22-03
2019 2019 2019 2019 2019 2019
5 5 5 m. Frontalis 3 3 3
5 5 5 m. Orbicularis oculi 3 3 3
5 5 5 m. corugator supercilli 3 3 3
5 5 5 m. nasalis 3 3 5
5 5 5 m. orbicularis oris 3 3 3
5 5 5 m. buccinator 3 3 3
5 5 5 m. zygomaticum major 3 3 3
5 5 5 m. levator labii superior 3 3 3
5 5 5 m. Depresor anguli oris 3 3 3
5 5 5 m. Depresor labii 3 3 3
inferior
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

Ugo Fisch Scale (UFS)

Keterangan :
Derajat I : Normal (100 poin)
Derajat II : Kelumpuhan ringan (75 – 99 poin)
Derajat III : Kelumpuhan sedang (50 – 75 poin)
Derajat IV : Kelumpuhan sedang berat (25 – 50 poin)
Derajat V : Kelumpuhan berat (1 – 25 poin)
Derajat VI : Kelumpuhan total (0 poin)

Posisi Wajah Hasil


Saat diam atau 20 x 100% = 20
istirahat
Mengerutkan dahi 10 x 70% = 7
Menutup mata 30 x 70% = 21
Tersenyum 30 x 70% = 21
Bersiul 10 x 70% = 7
Jumlah 76 poin

22/03/2019

Synkinesis Assessment Questionnaire (SAQ)

No Question Score
1 Ketika saya tersenyum, mata saya tertutup 1
2 Ketika saya berbicara, mata saya tertutup 1
3 Ketika saya bersiul atau mengerutkan bibir, mata saya 1
tertutup
4 Saat saya tersenyum, leher saya menegang 1
5 Saat saya menutup mata, wajah saya menjadi kencang 1
6 Ketika saya menutup mata, sudut mulut saya bergerak 1
7 Ketika saya menutup mata, leher saya menegang 1
8 Saat aku makan, mataku berair 1
9 Ketika saya menggerakkan wajah saya, dagu saya 1
mengembangkan area berlesung pipit
Jumlah Skor 9
SAQ Total Skor : 9/45 x 100 20
Normal
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

Keterangan :
1 = jarang atau tidak sama sekali
2 = sesekali, atau sangat ringan
3 = kadang-kadang, atau sedikit
4 = sebagian besar waktu, atau sedang
5 = sepanjang waktu, atau sangat

Manual Muscle Testing (MMT)


Untuk menilai kekuatan otot fasialis yang mengalami paralisis digunakan skala Daniel and
Worthinghom’s Manual Muscle Testing. Penilaian otot wajah ini diakukan dalam posisi
duduk. Gravitasi tidak dianggap sebagai faktor penilaian otot wajah, sehingga dalam penilaian
otot – otot wajah hanya terdapat nilai yaitu :
Nilai ( 0) : Tidak ada kontraksi
Nilai (1) : Kontraksi Minimal
Nilai (3) : Ada kontraksi tapi dilakukan dengan sebagian ROM.
Nilai (5) : Kontraksi penuh dan terkontrol
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

DAFTAR PUSTAKA

Banu HB. 2017. Effect of Infrared Radiation (IRR) on Patients with Bell’s Palsy. Bangladesh
Medical Journal, Vol. 46(1), 1-6.
Beurskens CHG, Heymans PG. 2006. Mime therapy improves facial symmetry in people with
long-term facial nerve paresis: a randomized controlled trial. Aust J Physiother,
Vol. 52:177-83.
Brach, S.J. & Van Swearingen, J.M. 1999. Physical Therapy for Facial Paralysis: A Tailored
Treatment Approach (Case Report). Physical Therapy Journal (APTA): Volume
79, No. 4.
C Cuthbert, S., & J Goodheart Jr., G. 2007. On the reliability and validity of manual muscle
testing: a literature review. Chiropractic & Osteopathy, Vol. 15(4):1-23
Handoko Lowis, dkk. 2012. Bell’s Palsy, Diagnosis dan Tata Laksana. di Pelayanan Primer.
Retrieved November 10, 2016 From:
http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/viewFile/1118/
Infante-Cossio, P., Prats-Golczer, V., Lopez-Martos, R., Montes-Latorre, E., Antonio
Exposito-Tirado, J., & Gonzalez-Cardero, E. 2015. Effectiveness of facial exercise
therapy for facial nerve dysfunction after superficial parotidectomy: A randomized
controlled trial. Clinical Rehabilitation, Vol. 30(11):1097-1107.
John R. de Almeida. 2014. Management of Bell palsy: clinical practice guideline. Canadian
Medical Association or its licensors, Vol. 186(12):917-922
Mehta, R.P., WernickRobinson, M., Hadlock, T.A. 2007. Validation of the Synkinesis
Assessment Questionnaire. Laryngoscope, 117:923-926.
Meier-Gallati, V., Scriba, H. 2017. Objective Assessment of the Reliability of the House-
Brackmann and Fisch Grading of Synkinesis. Eur Arch Otorhinolaryngol, Vol. 274
: 4217-4223.
Nevein M.M. Gharib, Sahar M. Adel, & Nirmeen A. Kishk. 2011. Reliability of three-
dimensional motion analysis in assessment of Bell’s palsy. Journal of American
Science,Vol. 9(7) : 126-134.
Pathak, A., Sharma, S., Jensen, M.P. 2018. The utility and validity of pain intensity rating
scales for use in developing countries. Pain Rep, 3(5):e672.
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
Jalan PB. Sudirman, Denpasar 80232 Bali, Telp. (0361) 222510, Fax. (0361) 246656, E-mail :psfisioterapi@unud.ac.id

Purwatiningsih, Endang Sari. (2012). Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kondisi Bell’s Palsy
Sinistra di RSUD dr. Moewardi Surakarta. Naskah Publikasi Universitas
Muhammadiyah Surakarta: diterbitkan.
Saep, Amet. 2015. Bell’s Palsy. Retrieved November 10, 2016 From :
https://www.academia.edu/13520626/BELLS_PALSY
Shamsi, Sharick. 2015. Effect of Physiotherapy in the Management of Facial Palsy- Case
Study. International Journal of Health Sciences & Research, Vol. 5(1), Hal. 2249-
9571.
Wijaya Randi. 2014. “ Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kondisi Bell’s Palsy Dextra di
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta”. Avaible from :
http://eprints.ums.ac.id/31120/17/11._Naskah_Publikasi.pdf. Di akses pada : 13
November 2016.