Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH MIKOLOGI

MIKOTOKSIN

OLEH:

 ASTI ARINI
 DINAR PERIYANTI
 FRININDA
 HASTRIALING DWI YUNIAR
 MUH. AMIRUDIN IDRIS
 NUR SELMIATIN
 SRI RAHAYU PUSPITA

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI
TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK
2019

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha


Penyayang, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penyusun dapat merampungkan
penyusunan makalah MIKOLOGI dengan judul "MIKOTOKSIN”.

Penyusunan makalah semaksimal mungkin di upayakan dan didukung


bantuan dari berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar dalam
penyusunannya.Untuk itu tidak lupa penyusun mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam merampungkan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, penyusun menyadari sepenuhnya


bahwa masih terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek
lainnya.Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penyusun
harapkan

Kendari,19 Oktober 2019

penyusun

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………2
DAFTAR ISI…………………………………………………………..3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang…………………………………………………….4.
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………....5
1.3 Tujuan……………………………………………………………..5
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Mikotoksin……………………………………………..6.
2.2 Sejarah Mikotoksin………………………………………………...7
2.3 Jenis Mikotoksin…………………………………………………...8
2.4 Pemeriksaan mikotoksin……………….. …………………… .....16
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan…………………………………………………….…19
3.2 Saran……………………………………………………………...19
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………..20.

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Jamur merupakan salah satu penyebab infeksi pada


penyakit terutama di negara-negara tropis. Penyakit kulit akibat jamur
merupakan penyakit kulit yang sering muncul di tengah masyarakat
Indonesia. Iklim tropis dengan kelembaban udara yang tinggi di Indonesia
sangat mendukung pertumbuhan jamur. Banyaknya infeksi jamur juga
didukung oleh masih banyaknya masyarakat Indonesia yang berada di bawah
garis kemiskinan sehingga masalah kebersihan lingkungan, sanitasi dan pola
hidup sehat kurang menjadi perhatian dalam kehidupan sehari- hari
masyarakat Indonesia (Hare, 1993).
Kontaminasi mikotoksin berbagai bahan makanan dan
komoditas pertanian merupakan masalah utama di daerah tropis dan subtropis, di
mana kondisi iklim dan praktek pertanian dan penyimpanan yang kondusif untuk
pertumbuhan jamur dan produksi toksin. Mikotoksin adalah metabolit sekunder
kapang diidentifikasi dalam banyak produk pertanian diskrining sebagai
toksigenik (Aziz,NH et. al. 1998).
Masalah mikotoksin dan mikotoksikosis sangat penting di Indonesia
mengingat negara kitaini terletak di daerah tropis yang merupakan lingkungan
ideal untuk tumbuh-kembang segala jeniskapang. Namun demikian, tampaknya
masih banyak pakar kesehatan dan kedokteran yang belum tertarik atau menaruh
perhatian pada bidang ini. Pada umumnya dalam keadaan normal, kapang-kapang
itu hidup secara saprofit. Akan tetapi jikalau keadaan lingkungan sekitarnya
berubah menjadi ideal, yakni suhu udara baik, kelembaban cukup tinggi dan ada
substrat yang cocok untuk ditumpangi, maka kapang tersebut akan tumbuh-
kembang subur dan memproduksi metabolit beracun. Bila bahan yang tercemar itu
termakan atau berkontak dengan kulit manusia atau hewan, maka dapat
menimbulkan keracunan.

4
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud mikotoksin?
2. Bagaimana sejarah mikotoksin?
3. Apa saja jenis mikotoksin?
4. Apa efek toksin pada hewan dan manusia?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah dapat diketahui jenis cendawan dan
mikotoksin yang berbahaya bagi manusia ,hewan dan tumbuhan.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Mikotoksin


Mikotoksin adalah metabolit sekunder yang dihasilkan oleh spesies
kapang tertentu selama pertumbuhannya pada bahan pangan maupun pakan.
Mikotoksin merupakan kontaminan alami yang –memiliki dampak yang negatif
tehadap keamanan pangan dan pakan secara global. Mikotoksin adalah komponen
yang diproduksi oleh jamur yang telah terbukti bersifat toksik dan karsinogenik
terhadap manusia dan hewan. Kondisi lingkungan seperti temperatur dan
kelembaban yang tinggi, infestasi serangga, proses produksi, panen dan
penyimpanan yang kurang baik akan menyebabkan tingginya konsentrasi
mikotoksin pada bahan baku pangan/pakan yang dapat menyebabkan timbulnya
wabah penyakit (Anonim, 2012)

Mikotoksin adalah metabolit sekunder yang diproduksi oleh beberapa


cendawan yang termasuk golongan genus Aspergillus, Penicillium, Fusarium dan
Alternaria. Jenis Aspergillus dan Penicillium dikenal sebagai mikroba kontaminan
pada makanan selama pengeringan atau penyimpanan, sedangkan Fusarium dan
Alternaria dapat memproduksi mikotoksin sebelum dan langsung setelah panen.
Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus adalah dua spesies cendawan yang
dapat memproduksi metabolit toksik yang disebut aflatoksin bersifat sangat
karsinogenik dan mutagenik. Jumlah aflatoxin B1 yang dapat menyebabkan racun
adalah antara 0,86 – 5,24 μg/ml kultur filtrat ekstrak tanaman (Noverisa, R.2008).
Selama transportasi, pada penyimpanan bahan baku ransum dan ransum
jadi. Pada dasarnya, semua jenis ternak dapat terserang Mikotoksin. Namun
tingkat kepekaannya bervariasi tergantung sejumlah faktor seperti : jeniskelamin,
umur, bangsa, kondisi fisik, status nutrisi, jumlah dan jenis Mikotoksin,
konsumsiransum, lama serangan , tatalaksana peternakan (sanitasi, suhu, kondisi
udara, kelembaban,dll) dan infeksi penyakit lain. Mikotoksin akan

6
menurunkan kadar glikogen pada darah sehinngga menyebabkan bertambahnya
kadar gluokosa serum (Anonim, 2012)
Pada kasus keracunan akut, fungsi mitokondria terganggu. Terganggunya
metabolisme lemak khususnya dalam sistem pengangkutan dan eksresi lemak
menyebabkan fatty liver syndrome (Anonim, 2012)

2.2 Sejarah munculnya mikotoksin


Mikotoksin mulai dikenal sejak ditemukannya aflatoksin yang
menyebabkan Turkey X –disease pada tahun 1960. Hingga saat ini telah dikenal
300 jenis mikotoksin, lima jenis diantaranya sangat berpotensi menyebabkan
penyakit baik pada manusia maupun hewan, yaitu aflatoksin, okratoksin A,
zearalenon, trikotesen (deoksinivalenol, toksin T2) dan fumonisin. Menurut Bhat
dan Miller (1991) sekitar 25-50% komoditas pertanian tercemar kelima jenis
mikotoksin tersebut. Penyakit yang disebabkan karena adanya pemaparan
mikotoksin disebut mikotoksikosis (Anonim, 2013).
Perbedaan sifat-sifat kimia, biologik dan toksikologik tiap mikotoksin
menyebabkan adanya perbedaan efek toksik yang ditimbulkannya. Selain itu,
toksisitas ini juga ditentukan oleh: (Anonim, 2013)
1. Dosis atau jumlah mikotoksin yang dikonsumsi
2. Rute pemaparan
3. Lamanya pemaparan
4. Spesies
5. Umur
6. Jenis kelamin
7. Status fisiologis, kesehatan dan gizi
8. Efek sinergis dari berbagai mikotoksin yang secara bersamaan
terdapat pada bahan pangan.
Dari lebih dari 100.000 spesies fungi (jamur) yang diketahui, hanya
beberapa yang dapat memproduksi mikotoksin. Beberapa fungi (jamur) yang
diketahui dapat menghasilkan mikotoksin yang sangat berbahaya di bidang
pertanian dan peternakan adalah Fusarium, Aspergillus, dan Penicilium sp.

7
Diketahui pula bahwa 1 spesies fungi dapat menghasilkan lebih dari 1 jenis
mikotoksin. Jarang hanya ada 1 mikotoksin per jenis tanaman atau biji-bijian,
biasanya ada 2 atau lebih jenis mikotoksin (Anonim, 2013).
2.3 Jenis-jenis Mikotoksin

Terdapat enam jenis mikotoksin utama yang sering merugikan manusia,


yaitu aflatoksin, citrinin, ergot alkaloid, fumonisin, ochratoxin, patulin,
trichothecene, dan zearalenone.

Tabel 1. Jenis Mikotoksin, sumber dan bahaya yang sering terkontaminasi


Mikotoksin Jamur yang memproduksi Bahan yang sering
terkontaminasi
Aflatoksin Aspergillus flavus Jagung, biji kapok,
Aspergillus parasiticus kacang, kedelai
Citrinin Penicillium citrinum jagung, beras, gandum,
Spesies monascus barley, dan gandum
hitam
Ergot alkaloid Claviceps purpurea Gandum, hewan ternak
Fumonisin Fusarium verticilloides Jagung
Fusarium graminearum
Ochratoksin A Aspergillus ochraceus Gandum, barley,oats,
Aspergillus nigri jagung, dll
Penicillium verrucosum
Patulin Fusarium miniliformin Jagung
Trichothecenes Fusarium graminiearum Jagung, gandum, barley
Fusarium culmorum
Zearalenone Fusarium graminearum Jagung, gandum, barley,
rumput

8
a. Aflatoksin

Gambar 1 : Aflatoksin B1

Aflatoksin merupakan segolongan senyawa toksik (mikotoksin, toksin


yang berasal dari fungi) yang dikenal mematikan dan karsinogenik bagi manusia
dan hewan.Spesies penghasilnya adalah segolongan fungi (jenis kapang) dari
genus Aspergillus, terutama A. flavus (dari sini nama "afla" diambil) dan A.
parasiticus yang berasosiasi dengan produk-produk biji-bijian berminyak atau
berkarbohidrat tinggi. Kandungan aflatoksin ditemukan pada biji kacang-
kacangan (kacang tanah, kedelai, pistacio, atau bunga matahari), rempah-rempah
(seperti ketumbar, jahe, lada, serta kunyit), dan serealia (seperti gandum, padi,
sorgum, dan jagung). Aflatoksin juga dapat dijumpai pada susu yang dihasilkan
hewan ternak yang memakan produk yang terinfestasi kapang tersebut. Obat juga
dapat mengandung aflatoksin bila terinfestasi kapang ini.

Toksin ini memiliki paling tidak 13 varian, yang terpenting adalah B1, B2,
G1, G2, M1, dan M2. Aflatoksin B1 dihasilkan oleh kedua spesies, sementara G1
dan G2 hanya dihasilkan oleh A. parasiticus. Aflatoksin M1, dan M2 ditemukan
pada susu sapi dan merupakan epoksida yang menjadi senyawa antara.

Aflatoksin B1, senyawa yang paling toksik, berpotensi merangsang


kanker, terutama kanker hati. Serangan toksin yang paling ringan adalah lecet
(iritasi) ringan akibat kematian jaringan (nekrosis). Pemaparan pada kadar tinggi
dapat menyebabkan sirosis, karsinoma pada hati, serta gangguan pencernaan,
penyerapan bahan makanan, dan metabolisme nutrien. Toksin ini di hati akan
direaksi menjadi epoksida yang sangat reaktif terhadap senyawa-senyawa di
dalam sel. Efek karsinogenik terjadi karena basa N guanin pada DNA akan diikat
dan mengganggu kerja gen.

9
Pada keracunan akut oleh aflatoksin, di hati terjadi kegagalan metabolisme
karbohidrat dan lemak dan sintesa protein, sehingga terjadi penurunan fungsi hati
karena adanya perombakan pembekuan darah, icterus dan penurunan sintesis
protein serum. Sementara itu, pada keracunan kronik akan menyebabkan
imunosupresif yang diakibatkan penurunan akitivitas vitamin K dan penurunan
aktivitas fagositas (phagocytic) pada makrofak. Setiap spesies hewan mempunyai
kepekaan yang berbeda terhadap keracunan akut aflatoksin, dengan nilai LD50
yang bervariasi antara 0,3 hingga 17,9 mg/kg berat badan (Tabel 2) dan organ hati
merupakan target utama yang terserang. Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa hewan
yang paling peka terhadap aflatoksin adalah kelinci dan itik .

b. Citrinin

Gambar 2 : Citrinin

Citrinin pertama kali diisolasi dari Penicillium citrinum Thom pada tahun
1931.Mikotoksin ini ditemukan sebagai kontaminan alami pada jagung, beras,
gandum, barley, dan gandum hitam (rye). Citrinin juga diketahui dapat dihasilkan
oleh berbagai spesies Monascus dan hal ini menjadi perhatian terutama oleh
masyarakat Asia yang menggunakan Monascus sebagai sumber zat pangan
tambahan. Monascus banyak dimanfaatkan untuk diekstraksi pigmennya
(terutama yang berwarna merah) dan dalam proses pertumbuhannya,
pembentukan toksin citrinin oleh Monascus perlu dicegah.

Citrinin telah mengakibatkan yellow rice desease di Jepang. Citrinin


menyebabkan nephrotoxin pada semua spesies hewab uji, toksisitas akut akan
bervariasi di berbagaispesies. LD 50% untuk bebek adalah 57 mg / kg; untuk
ayam itu adalah 95 mg / kg, dan untuk kelinci itu adalah 134 mg / kg.Citrinin
dapat bertindak sinergis dengan ochratoxin A untuk menekan sintesis RNA dalam
ginjal murine.(Bennett, 2003 : 501)

10
c. Ergot Alkaloid

Ergot alkaloid diproduksi oleh berbagai jenis cendawan, namun yang


utama adalah golongan Clavicipitaceae.Dulunya kontaminasi senyawa ini pada
makanan dapat menyebabkan epidemik keracunan ergot (ergotisme) yang dapat
ditemui dalam dua bentuk, yaitu bentuk gangren (gangrenous) dan kejang
(convulsive).Pembersihan serealia secara mekanis tidak sepenuhnya memberikan
proteksi terhadap kontaminasi senyawa ini karena beberapa jenis gandum masih
terserang ergot dikarenakan varietas benih yang digunakan tidak resiten terhadap
Claviceps purpurea, penghasil ergot alkaloid. Pada hewan ternak, ergot alkoloid
dapat menyebabkan tall fescue toxicosis yang ditandai dengan penurunan
produksi susu, kehilangan bobot tubuh, dan fertilitas menurun.

Gambar 3: tall fescue toxicosis

11
d. Fumonisin

Gambar 4 : Fuminosin

Fumonisin ditemukan pada tahun 1988 pada Fusarium verticilloides dan F.


proliferatum yang sering mengontaminasi jagungNamun, selain kedua spesies
tersebut masih banyak cendawan yang dapat menghasilkan fumonisin. Toksin
jenis ini stabil dan tahan pada berbagai proses pengolahan jagung sehingga dapat
menyebabkan penyebaran toksin pada dedak, kecambah, dan tepung jagung.
Konsentrasi fumonisin dapat menurun dalam proses pembuatan pati jagung
dengan penggilingan basah karena senyawa ini bersifat larut air.

Fumonisin bersifat sangat toksik terhadap kuda dan keledai dan


menyebabkan nekrosis di otak (leucoencephalomalacia = LEM). Disamping itu
juga menyebabkan kanker hati pada tikus dan gangguan saluran pernafasan pada
babi (porcine pulmonary edema = PPE). Kejadian LEM dilaporkan terjadi di
Afrika Selatan dan Cina (MARASAS, 2001) . Fumonsin BI (FBI) bersifat toksik
pada sistem saraf pusat, hati, pankreas, ginjal dan saluran pernafasan pada
beberapa spesies hewan .

Unggas merupakan hewan yang tahan terhadap fumonisin (HENRY et al.,


2000), dimana pemberian 80 ppm FBI pada ayam pedaging selama 21 hari tidak
berefek negatif terhadap perubahan berat badan, efisiensi pakan dan konsumsi air .
Namun untuk burung puyuh, pada pemberian melebihi 250 mg/kg berat badan
selama 4 minggu menyebabkan penurunan produksi telur sebesar 44,3% dan pada
pemberian melebihi 50 mg/kg berat badan terjadi penurunan berat telur
BUTKERAITIS et al ., 2004) . Untuk ruminansia, pemberian FBI (i .v .) pada
anak sapi sebesar 1 mg/kg per hari selama 7 hari menyebabkan penurunan nafsu

12
makan mulai hari ke-4, dan pada hasil pemeriksaan histolopatologi terlihat adanya
kerusakan hati dan ginjal yang parah dan ketidakseimbangan fungsi hati, kenaikan
konsentrasi sphinganin dan sphingosindi hati, ginjal, jantung maupun paru-paru .

e. Ochratoxin

Gambar 5 : Ochratoxin

Ochratoxin dihasilkan oleh cendawan dari genus Aspergillus, Fusarium,


and Penicillium dan banyak terdapat di berbagai macam makanan, mulai dari
serealia, babi, ayam, kopi, bir, wine, jus anggur, dan susu. Secara umum, terdapat
tiga macam ochratoxin yang disebut ochratoxin A, B, dan C, namun yang paling
banyak dipelajari adalah ochratoxin A karena bersifat paling toksik di antara yang
lainnyaPada suatu penelitian menggunakan tikus dan mencit, diketahui bahwa
ochratoxin A dapat ditransfer ke individu yang baru lahir melalui plasenta dan air
susu induknya.Pada anak-anak (terutama di Eropa), kandungan ochratoxin A di
dalam tubuhnya relatif lebih besar karena konsumsi susu dalam jumlah yang
besar. Infeksi ochratoxin A juga dapat menyebar melalui udara yang dapat masuk
ke saluran pernapasan.

Okratoksin A (OA) adalah mikotoksin yan dihasilkan terutama oleh


Aspergillus ochraceus yan tumbuh pada kisaran suhu 8 - 37 °C (pertumbuha
optimum pada 25 - 31 °C) serta pembentukan okratoksin A pada kisaran suhu 15 -
37 °C (pembentukan optimum pada 25 - 28 °C).

Berbagai dosis akut (LD50 ) dari OA pada berbagai rute dan hewan dapat
dilihat pada Tabel 3 yang memperlihatkan bahwa anjing dan babi merupakan
hewan yang paling peka terhadap OA.

13
f. Patulin

Patulin dihasilkan oleh Penicillium, Aspergillus, Byssochlamys, dan


spesies yang paling utama dalam memproduksi senyawa ini adalah Penicillium
expansum.Toksin ini menyebabkan kontaminasi pada buah, sayuran, sereal, dan
terutama adalah apel dan produk-produk olahan apel sehingga untuk diperlukan
perlakuan tertentu untuk menyingkirkan patulin dari jaringan-jaringan tumbuhan.
Contohnya adalah pencucian apel dengan cairan ozon untuk mengontrol
pencemaran patulin. Selain itu, fermentasi alkohol dari jus buah diketahui dapat
memusnahkan patulin.

Patulin pada awal penemuannya digunakan sebagai antibiotik pada bakteri


gram negatif maupun bakteri gram positif,namun patulin juga dapat memberikan
efek toksik terhadap manusia maupun hewan diantaranya adalah:

1. Bersifat karsinogenik,mutagenik dan teratogenik.


2. Menghambat pertumbuhan sel hepatoma dalam kultur jaringan
pada konsentrasi 1 mg/l bersifat sitotoksitas.
3. Hemorrhage, hiperemia G, penumpukan cairan dan metabolisme
alkalosis dengan kompensasi pada pernafasan dan oligoria.
4. Menginduksi kerusakan kromosom tetapi tidak merubah kromatin
induk dalam sel sum-sum tulang pada tikus.
5. Menghambat sintesa protein, dll.

g. Trichothecene

14
Gambar 8 Trichothecene

Mikotoksin golongan trikotesena mempunyai gugus 12,13-


epoksitrikotesene dan ikatan olefinik yang tersubtitusi pada berbagai sisi rantai.
Mikotoksin golongan ini terdiri atas 200 - 300 senyawaan sejenis yang bersifat
toksik melalui penghambatan sintesis protein pada ribosom.

Terdapat 37 macam sesquiterpenoid alami yang termasuk ke dalam


golongan trichothecene dan biasanya dihasilkan oleh Fusarium, Stachybotrys,
Myrothecium, Trichodemza, dan Cephalosporium. Toksin ini ditemukan pada
berbagai serealia dan biji-bijian di Amerika, Asia, dan Eropa. Toksin ini stabil dan
tahan terhadapa pemanasan maupun proses pengolahan makanan dengan
autoclave. Selain itu, apabila masuk ke dalam pencernaan manusia, toksin akan
sulit dihidrolisis karena stabil pada pH asam dan netral. Berdasarkan struktur
kimia dan cendawan penghasilnya, golongan trichothecene dikelompakan menjadi
4 tipe, yaitu A (gugus fungsi selain keton pada posisi C8), B (gugus karbonil pada
C8), C (epoksida pada C7,8 atau C9,10) dan D (sistem cincin mikrosiklik antara
C4 dan C15 dengan 2 ikatan ester).

Tanda-tanda klinis keracunan trikotesena dibagi dalam 5 kelompok yaitu


(1) menyebabkan penolakan pakan, (2) menyebabkan nekrosis kulit, (3)
menyebabkan gangguan pencernaan, (4) menyebabkankoagulopati dan (5)
menyebabkan gangguanimunologik. DON atau sering disebut vomitoksin
merupakan mikotoksin trikotesena yang rendah toksisitasnya (LD 50 untuk ayam
pedaging betina secara oral adalah 140 mg/kg berat badan dan pada anak itik
secara oral adalah 27 mg/kg berat badan) . T-2 toksin adalah mikotoksin yang
paling toksik diantara trikotesena lainnya (LD 50 untuk babi secara i .v adalah
1,21 mg/kg berat badan dan untuk anak ayam secara oral adalah 1,75 mg/kg berat
badan).

h. Zearalenone

15
Zearalenone adalah senyawa estrogenik yang dihasilkan oleh cendawan
dari genus Fusarium seperti F. graminearum dan F. culmorum dan banyak
mengkontaminasi nasi jagung, namun juga dapat ditemukan pada serelia dan
produk tumbuhan.Senyawa toksin ini stabil pada proses penggilingan,
penyimpanan, dan pemasakan makanan karena tahan terhadap degradasi akibat
suhu tinggi. Salah satu mekanisme toksin ini dalam menyebabkan penyakit pada
manusia adalah berkompetisi untuk mengikat reseptor estrogen.

Zearalenon mempunyai aktivitas estrogenic terhadap babi, sapi perah,


anak kambing, ayam, kalkun dan kelinci, namun hewan yang paling peka terhadap
zearalenon adalah babi . Pada sapi, zearalenon sebesar 0,75 ppm dan 0,5 ppm
DON menyebabkan kegagalan reproduksi, diare dan penurunan produksi.
Pemberian zearalenon pada babi sebesar 110 mg/hewan per hari (setara dengan
1,1 mg/kg berat badan per hari) 7 – 10 hari setelah kawin menyebabkan 3 dari 4
babi tersebut gagal bunting.

Zearalenon mempunyai kemampuan untuk membentuk hormon alami


zeranol (nama lainnya zearalenol) dalam bentuk a dan 3 yang merupakan bentuk
reduksi dari zearalenon yang terbentuk sesaat setelah hewan mengkonsumsi
zearalenon dalam dosis tinggi dan mempunyai aktivitas estrogenik 4 kali lipat
dibandingkan zearalenon. Pemberian dosis tinggi zearalenon (6000 mg setara
dengan 12 mg/kg berat badan) secara oral pada sapi laktasi menimbulkan residu
pada susu dengan konsentrasi tertinggi zearalenon 6,1 pg/L, a-zearalenol 4 μg/L,
dan 13-zearalenol 6,6 μg/L .

2.4 pemeriksaan mikotoksin

A. Metode kromatografi cair

a. Peralatan yang digunakan adalah

1. HPLC (High Per- formance Liquid Chromatography),

2. blender

3. timbangan

16
4. freeze dryer

5. peralatan gelas lainnya.

b. Bahan kimia yang digunakan antara lain

1. standar

2. etil asetat

3. sodium karbonat

4. sodium anhidrous

5. asam asetat

6. benzene

7. alkohol

8. aquadest

c. Prosedur

1. Sampel dalam bentuk jus atau konsentrat sebanyak 5 ml diekstraksi


dengan 10 ml etil asetat, dan kocok selama 1 menit menggunakan
vortex.

2. Kemudian tambahkan 10 ml etil asetat dan kocok kembali.

3. Selanjutnya ditambahkan 2 ml pelarut sodium karbonat 1,5%,


kemudian kocok lagi. Ekstrak selanjutnya dikeringkan menggunakan
1 g sodium sulfat anhi- drous.

4. Residu kemudian dicuci lagi dengan larutan asam (dengan cara


menambahkan 1 ml etil asetat). Selanjutnya residu dievaporasi
menggunakan freeze drier, kemudian didiamkan pada suhu kamar.

5. Selanjutnya larutkan kembali menggunakan 0.5 ml larutan asam


asetat.

6. Sampel kemudian diinjeksikan pada HPLC dengan flow rate 0,5

17
ml/menit, dan detektor UV.

7. Selanjutnya dilakukan kuantifikasi berdasarkan hasil pembacaan


kromatogram.

B. Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)


Analisis dengan KCKT dilakukan dengan menggunakan sistem KCKT fase
terbalik dengan kondisi sebagai berikut: kolom silika yang terikat dengan C-18
panjang 15 cm, fase gerak air-metanol-asetonitril (50:40:10), kecepatan alir 0,8
ml/menit, suhu ruang, volume injeksi 10 µl pada konsentrasi 0,044 mg/ml, dan
detektor fluoresensi. Panjang gelombang eksitasi maksimum dan panjang
gelombang emisi untuk detektor fluoresensi adalah 365 nm dan 455 nm.
C. Metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA)
Analisis mikotoksin dalam sampel pakan dilakukan dengan menggunakan
ELISA kit yang telah dikembangkan Roomer Labs (Romer Labs 2007).
Sebelum dilakukan analisa, pereaksi yang digunakan dikondisikan pada suhu
ruang. Pada pelat pencampur dimasukkan 100 µl standar pada masing-
masing lubang secara berurutan mulai dari blanko, konsentrasi rendah
sampai tertinggi (0; 0,25; 1; 2,5; 5 ppm), metanol (tanpa konjugat) dan
sampel. Ditambahkan 200 µl larutan konjugat ke dalam tiap lubang dan
dihomogenkan dengan menggunakan pipet multi channel, kemudian
dipindahkan 100 µl ke dalam pelat berlapis antibodi dengan 2 ulangan. Pelat
diinkubasi selama 10 menit, larutan dibuang dan dicuci dengan akuades lima
kali, selanjutnya ditambahkan 100 µl substrat yang telah dicampur dan
diinkubasi kembali selama lima menit. Selanjutnya, ditambahkan 100 µl
larutan penghenti reaksi, dan pelat dibaca pada alat pembaca ELISA (ELISA
reader) dengan panjang gelombang 450 nm. Hasil pembacaan dan
konsentrasi mikotosin dalam sampel dihitung dengan menggunakan
persamaan garis yang dihasilkan oleh kurva standar (konsentrasi vs
persentase inhibisi).

18
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Mikotoksin adalah racun atau toksik hasil dari proses metabolisme


sekunder yang dihasilkan oleh spesies jamur tertentu selama pertumbuhannya
pada bahan pangan maupun pakan, yang menyebabkan perubahan fisiologis
abnormal atau patologis manusia dan hewan.
Pada konsentrasi yang tinggi, mikotoksin akan menyerang secara langsung
organ spesifik seperti hati, ginjal, saluran pencernaan, sistem syaraf dan saluran
reproduksi. Sedangkan pada konsentrasi yang rendah, mikotoksin dapat
menurunkan pertumbuhan dan mengganggu kekebalan terhadap penyakit,
menjadikan hewan ternak lebih rentan terhadap penyakit dan mengalami
penurunan produktivitasnya.
3.2 Saran
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna,sehingga saran dan kritik
sangat di butuhkan demi kesempurnaan makalah ini.

19
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Jamur Okratoksin dan Pencegahannya. Terdapat di


http://ahlikopilampung.com/okratoksin-dan-pencegahannya/ .

Anonim. 2013.Mikotoksin.Terdapat di http://id.wikipedia.org/wiki/Mikotoksin.

Rawat, A. et. al. 2014. Detection Of Toxigenic Fungi And Mycotoxins In Some
Stored Medicinal Plant Samples. Department of Botany , School of Life
Sciences, Dr. B.R.Ambedkar University: Agra.

Santos, L. et. al.2013. Mycotoxin in Medicinal/Aromatic Herbs – a Review.


Boletín Latinoamericano y del Caribe de Plantas Medicinales y
Aromáticas, vol. 12, núm. 2, marzo-enero, Universidad de Santiago de
Chile. Santiago: Chile.

Stević, T. et.al. 2012. Pathogenic Microorganisms Of Medicinal Herbal Drugs.


Institute for Medicinal Plant Research “Dr Josif Pančić”, Belgrade:
Serbia.

20