Anda di halaman 1dari 16

KEBIJAKAN MONETER DALAM EKONOMI ISLAM

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester


Mata Kuliah: Ekonomi Islam
Dosen Pengampu: Taufiq Hidayat, Lc., MIS.

Disusun oleh:
Kharisma Adi Nuramalia
1405015073
PBSB-2

PROGRAM STUDI D3 PERBANKAN SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG

Ekonomi Islam merupakan suatu bentuk ekonomi yang berasaskan atau berdasarkan
tuntunan yang ada di Al-Quran dan As-Sunnah. Dalam ekonomi, tentu ada beberapa
bentuk kebijakan-kebijakan yang akan membantu menjaga atau mengembalikan atau
memperbaiki atau mengendalikan masalah-masalah ekonomi yang ditimbulkan. Seperti
halnya dalam ekonomi konvensional, dalam ekonomi Islam juga terdapat kebijakan-
kebijakan ekonomi. Kebijakan-kebijakan tersebut ialah kebijakan fiskal dan kebijakan
moneter.

Kebijakan fiskal adalah suatu kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk
memutuskan masalah ekonomi yang menyangkut mengenai fiskal (pajak). Sedangkan,
kebijakan moneter adalah suatu kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk
mengendalikan masalah suku bunga dan jumlah uang yang beredar di masyarakat.
Semua tujuan dari kebijakan-kebijakan tersebut ialah untuk menstabilkan atau
mengendalikan atau mengatur perekonomian suatu negara tersebut. Dengan kata lain
ialah untuk mencegah terjadinya deflasi atau inflasi.

Dalam ekonomi Islam, pengertian dan konsep kebijakan moneter sedikit berbeda
dengan pengertian dan konsep dari kebijakan moneter dalam ekonomi konvensional.
Perbedaan tersebut timbul karena adanya hal-hal yang diperbolehkan dalam ekonomi
konvensional tetapi di dalam ekonomi Islam dilarang atau tidak diperbolehkan.

1.2.RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian, konsep, dan macam-macam dari kebijakan moneter dalam Islam?
2. Perbedaan apakah yang ada dalam kebijakan moneter konvensional dan kebijakan
moneter Islam?
3. Bagaimana peran bank sentral dalam pengambilan kebijakan moneter Islam?
4. Bagaimana instrumen kebijakan moneter dalam Islam?
5. Bagaimana pengaplikasian instrumen kebijakan moneter dalam Islam?

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi, Konsep, dan Macam Kebijakan Moneter Islam

Kebijakan moneter adalah suatu kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk
memperbaiki keadaan perekonomian melalui pengaturan jumlah uang yang beredar.
Jumlah uang yang beredar dalam analisis ekonomi makro memiliki pengaruh penting
terhadap tingkat output perekonomian, juga terhadap stabilitas harga-harga. Uang
beredar yang terlalu tinggi tanpa disertai kegiatan produksi yang seimbang akan
ditandai dengan naiknya tingkat harga-harga pada seluruh barang dalam perekonomian
atau dikenal dengan istilah inflasi.

Kebijakan monter dalam perekonomian modern dilakukan melalui berbagai instrumen,


yaitu operasi pasar terbuka (open market operation), penentuan tingkat bunga, ataupun
penentuan besarnya cadangan wajib dalam sektor perbankan. Ada instrumen lain yang
digunakan oleh pemerintah selaku pengelola moneter, yaitu imbauan moral atau moral
persuasion. Sektor yang paling berperan dalam berlangsungnya kebijakan moneter
adalah sektor perbankan. Melalui pengaturan sektor perbankan itulah, pemerintah
mencoba menerapkan kebijakan-kebijakan moneternya dengan menggunakan
instrumen atau alat-alat seperti yang telah diuraikan di atas.

Namun krisis ekonomi yang terjadi pada 1997 telah mengajarkan banyak hal.
Perekonomian Indonesia yang ikut terseret dalam pusaran krisis yang berkepanjangan,
ditengarai akibat pengelolaan kebijakan moneter yang tidak efektif. Bahkan
keterlibatan IMF dan Bank Dunia membantu pemerintah Indonesia dalam penanganan
krisis secara moneter, justru membuat keadaan semakin parah. Itulah antara lain yang
membuat efektivitas kebijakan moneter dalam mengelola perekonomian banyak
diperdebatkan para ahli. Salah satu penyebab ketidakefektifan itu adalah digunakannya
suku bunga perbankan sebagai salah satu instrumen kebijakan moneter.

Selain itu, kebijakan moneter dianggap lebih baik sebagai alat stabilitas kegiatan
ekonomi oleh negara, karena1:
1. Tidak menimbulkan masalah crowdingout;
2. Decision lag-nya tidak terlalu lama, sehingga waktu pelaksanaan kebijakan dapat
disesuaikan dengan masalah ekonomi yang dihadapi;
3. Tidak menimbulkan beban kepada generasi yang akan datang dalam bentuk
keperluan untuk membayar bunga dan mencicil utang pemerintah
Melalui kebijakan moneter pemerintah dapat mempertahankan, menambah, atau
mengurangi jumlah uang beredar dalam upaya mempertahankan kemampuan ekonomi
untuk terus tumbuh sekaligus mengendalikan inflasi2. Jika yang dilakukan adalah
menambah jumlah uang yang beredar maka pemerintah dikatakan menempuh

1
M. Nur Rianto Al-Arif, Dasar-dasar Ekonomi Islam, Solo: PT Era Adicitra Intermedia, 2011, h. 191-192
2
Prathama Rahardja dan Mandala Manurung, Pengantar Ilmu Ekonomi, Jakarta: LPFE UI, 2008, h. 435

2
kebijakan moneter ekspansif. Sebaliknya, jika jumlah uang yang beredar dikurangi,
pemerintah menempuh kebijakan kontraktif atau biasa juga dikenal sebagai kebijakan
uang ketat.
Selain kebijakan moneter dapat pula sebagai peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan
dalam mengatur penawaran uang dan tingkat bunga, kebijakan ini dilakukan bank
sentral di Indonesia yang bertindak sebagai bank sentral ialah Bank Indonesia. Agar
ekonomi timbul lebih cepat, bank sentral bisa memberikan lebih banyak kredit kepada
sistem perbankan melalui operasi pasar terbuka atau bank sentral menurunkan tingkat
diskonto yang harus dibayar oleh bank, jika hendak meminjam dari bank sentral. Akan
tetapi, apabila ekonomi tumbuh terlalu cepat dan inflasi menjadi masalah yang semakin
besar maka bank sentral dapat melakukan operasi pasar terbuka (open market
operations), menarik uang dari sistem perbankan, menaikkan peryaratan cadangan
minimum (reserve instrument), atau menaikkan tingkat diskonto (insterest or discount
rate), sehingga dengan demikian akan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Instrumen kebijakan moneter lain berkisar dari kebijakan kredit selektif sampai moral
suasion, suatu kebijakan yang sederhana, tetapi sering sangat efektif. Kebijakan
moneter dapat dibedakan menjadi dua, yaitu3:
1. Kebijakan moneter yang bersifat kuantitatif, yaitu kebijakan umum yang bertujuan
untuk mempengaruhi jumlah penawaran uang dan tingkat bunga dalam
perekonomian.
a. Operasi pasar terbuka
b. Mengubah persyaratan cadangan minimum (reserve requirement)
c. Mengubah tingkat bunga (discount rate)
2. Kebijakan moneter yang bersifat kualitatif
a. Pengawasan pinjaman secara selektif yaitu menentukan jenis-jenis pinjaman
mana yang harus dikurangi atau digalakkan
b. Pembujukan moral, yaitu bank sentral mengimbau serta membujuk kepada
bank-bank untuk melakukan suatu hal yang diarahkan, misalnya pada saat
terlalu banyak jumlah uang beredar, bank sentral bisa membujuk kepada bank
untuk mengurangi penyaluran kreditnya
Banyak faktor yang mempengaruhi pemerintah dan sistem bank dalam menentukan
jumlah penawaran uang pada suatu waktu tertentu. Tingkat bunga tidak mempunyai
peranan dalam menentukan jumlah uang yang ditawarkan pada suatu waktu tertentu.
Perubahan tingkat bunga dalam analisis parsial saat ada pergeseran baik permintaan
dan penawaran uang.
Kebijakan moneter dijalankan dalam rangkaian perubahan dalam perekonomian yang
akhirnya menyebabkan perubahan pendapatan nasional dan penggunaan tenaga kerja.
Rangkaian perubahan itu disebut dengan mekanisme transmisi, yaitu:
∆r → ∆I → ∆AE → ∆Y
Di mana:
1. Kebijakan moneter mengubah tingkat bunga (∆r)

3
M. Nur Rianto Al-Arif, Dasar-dasar.... h. 193-195

3
2. Tingkat bunga mengubah investasi (∆I)
3. Investasi mengubah pembelanjaan agregat (∆AE)
4. Perubahaan pembelanjaan agregat dapat mengubah pendapatan nasional dan
penggunaan tenaga kerja dalam perekonomian (∆Y)

Gambar 1.1
Pengaruh Tingkat Bunga
Terhadap Penawaran dan Permintaan Uang

Tingkat Bunga Tingkat Bunga

MS1 MS2
MS

r2
r1

r1 DmY2 r2

Dm
DmY1

0 0
Jml Uang Beredar Jml Uang Beredar

Adapun faktor-faktor yang menentukan efektivitas kebijakan moneter yaitu:


1. Perbedaan tingkat elastisitas permintaan uang
2. Perbedaan elastisitas efisien modal marginal (MEI)
3. Perubahan dalam marginal propesity to consume (MPC)

Kebijakan moneter sangat kuat mempengaruhi pada harga. Berikut ini grafik
kebijakan moneter dan tingkat harga:

4
Gambar 1.2. Kebijakan Moneter dan Tingkat Harga

Tingkat Harga

AS

P2

P1
P0
AD2

AD AD0 AD1

Pendapatan
0
Y Y0 Y1 YF nasional riil

2.2 Perbedaan Kebijakan Moneter Konvensional dan Islam

Ada beberapa hal yang membedakan pengambilan kebijakan moneter konvensional


dan kebijakan moneter Islam diantaranya ialah4:
1. Kebijakan Moneter Konvensional
Adanya ketidakteraturan dan hubungan anatarvariabel dalam perekonomian
seringkali menjadikan kita sulit untuk mengidentifikasi alur suatu kebijakan
moneter mencapai tujuannya. Sehingga banyak pihak masih melihat bahwa
mekanisme moneter seperti halnya black box. Dengan demikian, perlu kiranya kita
sedikit mengurai dan memahami proses yang terjadi di dalamnya. Pada dasarnya,
ada dua paradigma dalam memahami mekanisme transmisi moneter, yakni apa
yang disebut dengan paradigma uang pasif dan paradigma uang aktif. Perbedaan
antara dua paradigma ini terletak dari penggunaan sasaran operasional yang
digunakan dalam mekanisme moneternya.
a. Uang pasif
Paradigma uang pasif mempercayai bahwa kesenjangan output merupakan
kausal utama dalam mekanisme transmisi. Dalam paradigma ini suku bunga
jangka pendek dana nilai tukar dijadikan sebagai sasaran antara (intermediate
objective) yang pada gilirannya akan mempengaruhi perkembangan besaran
permintaan, kesenjangan output, dan ekspektasi inflasi.

4
Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami, Jakarta, Rajawali Pers, 2007, h. 193.

5
Dalam paradigma uang pasif ini uang dinyatakan sebagai variabel endogen di
mana otoritas moneter tidak mempunyai kemampuan secara penuh untuk
mengatur jumlah uang beredar. Asumsi yang digunakan dalam paradigma
endogenous konvensional ini adalah:
- Jumlah uang yang beredar adalah dependen tergantung terhadap tingkat
suku bunga, uang adalah variabel endogen.
- Instrumen moneter yang dijadikan sasaran operasional bank sentral
bukanlah jumlah uang beredar melainkan suku bunga
Sasaran pokok yang ingin dicapai oleh paradigma ini adalah tecapainya target
inflasi yang telah ditetapkan sebelumnya (price targeting) dengan
menggunakan sasaran suku bunga jangka pendek sebagai instrumen
moneternya.
Chart paradigma Uang pasif
Instrumen moneter (suku bunga) → suku bunga jangka pendek dan nilai tukar
→ agregat demand, kesenjangan output, dan ekspektasi insflasi → inflasi.
b. Uang aktif
Paradigma uang aktif percaya bahwa likuiditas merupakan penyebab utama
dalam mekanisme transmisi moneter. Dalam paradigma ini, suku bunga
dianggap sebagai variabel biasa yang terjadi dalam mekanisme instrumen
moneter. Penganut dari paradigma ini adalah Milton Friedman. Paradigma uang
aktif secara sederhana dapat dijelaskan dengan teori kuantitas (quantity theory
of money). Teori yang diajukan oleh Irving Fisher dengan MV + PT merupakan
dasar pijakan utama dalam paradigma uang aktif ini. Bahwa perubahan 0/00 M
= dengan 0/00 V sebanding dengan perubahan 0/00 P= 0/00 T. Dalam
pandangan ini diasumsikan bahwa M secara penuh mampu dikendalikan oleh
otoritas moneter merupakan sarana yang aktif dijadikan pemerintah sebagai
instrumen moneter dalam mengendalikan tingkat inflasi.

Paradigma uang aktif dalam teori konvensional menganggap bahwa uang


sebagai variable oxeogen yang bentuk kurva penawarannya bersifat inelastis
sempurna. Sarana pokok yang ingin dicapai dari kebijakan dengan paradigma
ini adalah terkendalinya tingkat inflasi dengan menggunakan besaran moneter
(jumlah uang beredar) sebagai sasaran operasional.

Chart paradigma Uang aktif

Instrumen moneter (besaran jumlah uang beredar) → target operasional →


target antar → inflasi.

2. Kabijakan moneter Islam


Dasar pemikiran dari manajemen moneter dalam konsep Islam adalah terciptanya
stabilitas permintaan uang dan mengharapkan permintaan uang tersebut kepada
tujuan yang penting dan produktif. Sehingga, setiap instrumen yang akan
mengarahkan kepada instabilitas dan pengalokasian sumber dana yang tidak

6
produktif akan ditinggalkan. Dalam teori Keynes telah dikenal bahwa adanya
permintaan spekulatif akan uang pada dasarnya dipengaruhi oleh keberadaan suku
bunga (The theory of liquidity preferance). Pergerakan suku bunga merupakan
refleksi pergerakan permintaan uang untuk spekulatif. Semakin tinggi permintaan
uang untuk spekulatif maka semakin rendah tingkat bunga yang berlaku di pasar.
Begitu juga sebaliknya, apabila permintaan uang spekulatif menurun maka tingkat
suku bunga akan relatif meningkat. Penghapusan suku bunga dan adanya
kewajiban pembayaran pajak atas biasa produktif yang menganggur dalam
manajemen moneter Islam akan menghilangkan insentif orang untuk memegang
uang yang menganggur (idle fund), sehingga mendorong orang untuk melakukan:
- Qard (meminjam harta kepada orang lain)
- Penjualan muajjal
- Mudharabah
Para pemilik dana menginvestasikan dananya pada kegiatan yang memberikan
keuntungan aktual terbesar (actual return), jadi semakin tinggi permintaan uang untuk
investasi di sektor riil atau kebutuhan akan persediaan dana untuk investasi semakin
besar maka tingkat keuntungan harapan yang akan diberikan relatif menurun. Karena
besarnya tingkat actual return ini tidak berfluktuasi seperti halnya suku bunga maka
sebagai opportunity cost tidak memberikan jaminan terhadap penggunaan dana yang
tersedia.
Dalam kata lain, tidak ada mekanisme kontrol dari suku bunga dalam mengalokasikan
untuk apa dana pinjaman tersebut digunakan. Di satu sisi bunga merupakan biaya modal
(cost of capital) yang sudah pasti harus dibayar di masa yang akan datang. Peristiwa ini
menjadikan para peminjam dana berusahan untuk mendapatkan nilai tambah dana
tersebut guna menutupi biaya bunga. Jika tidak ada mekanisme kontrol disertai dengan
rentannya fluktuasi suku bunga maka memungkinkan dana akan dialokasikan untuk
usaha-usaha yang tidak bersinggungan dengan sektor riil; karena dasar pengembalian
keputusan merupakan bukanlah nilai di sektor riil, akan tetapi nilai tambah akan uang
yang bisa didapatkan dari dunia maya dan bukannya sektor riil. Perilaku ini akan
mengurangi sumber dan peminjam investasikan di sektor riil.
Dalam strategi manajemen moneter Islam, ketika ada penurunan actual return dari
investasi sektor riil (kondisi ekonomi sedang lesu) maka hal ini akan direspons oleh
para pemegang dana untuk mengurangi investasinya dan cenderung lebih memegang
uang kas riil. Dan apabila itu terjadi, kebijakan yang akan ditempuh pemerintah adalah
meningkatkan biaya atas aset atau dana yang tidak digunakan (dues of idle fund).
Kebijakan ini akan memposisikan pemilik dana menanggung sejumlah biaya dari
pengangguran uang. Akibatnya mereka akan menginvestasikan uangnya dan
menurunkan permintaan kas riil.

Strategi dasar dalam manajemen Islam menurut mazhab kedua (mazhab mainstream)
adalah:
a. Tidak adanya suku bunga sebagai biaya dari modal (cost of capital) dan
dikenakannya pajak bagi aset produktif yang dibiarkan menganggur atau
tidak digunakan (dues on idle fund), hal ini bertujuan untuk mendorong

7
pemilik modal untuk menginvestasikan sejumlah kekayaan pada sektor riil
yang produktif.
b. Adanya mekanisme sistem bagi hasil dalam transaksi syirkah akan
memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat secara bersama-sama
ikut serta dalam kegiatan perekonomian, yang pada akhirnya terjadi
pemerataan kesempatan kerja dan akan terealisasikan ketika kesempatan
berusaha dapat dimiliki oleh semua orang.5
c. Terciptanya kepastian berusaha yang didukung dengan tidak adanya suku
bunga yang ditentukan di muka dalam transaksi pinjam-meminjam.
Sedangkan satu-satunya perhitungan biaya dana peminjaman yang
ditentukan di muka adalah perhitungan risiko bagi hasil (profit sharing ratio),
sedangkan besarnya bagi keuntungan yang harus ditanggung oleh peminjam
dana adalah besarnya nisbah bagi hasil dikalikan dengan keuntungan aktual
yang didapat. Kondisi ini dapat memungkinkan terciptanya kepastian
berusaha bagi peminjam dana karena mereka akan membayar tambahan bagi
hasil sesuai dengan keuntungan yang diperoleh dari usahanya. Karena
besarnya profit sharing ratio tidak berfluktuatif sepeti halnya suku bunga
maka dunia usaha akan relatif lebih stabil. Karena profit sharing ratio dibagi
berdasarkan pendapatan aktual yang diterima oleh peminjam dana dan bukan
berdasarkan pendapatan ekspetasi seperti pada bunga.
Strategi dasar manajemen moneter Islam menurut mazhab ketiga, yaitu:
a. Bahwa penawaran uang (Ms) mengikuti besarnya permintaan uang (Md),
atau dengan kata lain keseimbangan Ms = Md selalu terjaga. Sedangkan, Md
merupakan fungsi dari Permintaan Agregatif (AD). Dengan kata lain, Ms
juga merupakan fungsi dari Permintaan Agregatif (AD).
b. Bahwa penentuan besarnya Ms yang merupakan refleksi dari MD ditentukan
melalui shuratic process (proses musyawarah) yang melibatkan para pelaku
ekonomi di sektor riil.
c. Shuratic process akan efektif jika masyarakat mempunyai pengetahuan
merata (induced knowledge).

2.3 Peran Bank Sentral dalam Kebijakan Moneter

Dalam sistem konvensional, bank sentral berfungsi sebagai lembaga yang bertanggung
jawab dalam mengatur kelancaran proses intermediasi, penyaluran mata uang dan yang
tidak kalah pentingnya, bank sentral merupakan “Lender of the Last Resort”. Namun
dalam sejarahnya, bank sentral adalah institusi yang lahir dari kebutuhan untuk
membiayai ekspansi militer di Eropa pada awal abad ke-20.

Bank sentral mulai berfungsi sebagai pengelola kebijakan moneter dimulai ketika uang
kertas mulai menggantikan uang emas dan uang yang dikeluarkan oleh bank sentral
tidak lagi didukung dengan cadangan emas. Di samping fungsiya sebagai pengatur
aliran dan pertukaran valuta asing, Lender of the last resort dan supervisi bank, haruslah
diakui peran bank sentral sebagai pengelola kebijakan moneter tetap merupakan tugas

5
M. Umer Chapra, Al Quran: Menuju Sistem Moneter yang Adil, Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 1997.

8
utama bank sentral. Ini tercermin dari pernyataan mantan Menteri keuangan AS,
Lawrence Summer, “Monetary the century and beyonds depends as much on monetary
policies as on any other factor...”

Konsep bank sentral dengan segala tanggung jawab dan fungsinya ini, sesungguhnya
tidak dikenal dalam sejarah perekonomian Islam. Apalagi seperti dijelaskan di muka,
bank sentral sendiri merupakan inovasi baru dalam sistem ekonomi konvensional,
sehingga wajar apabila fungsi dan kedudukan bank sentral dalam konteks ekonomi
Islam sekarang patut diperdebatkan.

Bahkan Muhammad Anwar (dalam Tamanni, 2002) melihat keberadaan bank sentral
sebagai sesuatu yang tidak Islami. Alasannya, pengeluaran fiat money telah secara
langsung menciptakan seignorage kepada pemerintah, dan proses ini sekaligus
mentransfer properti riil dari masyarakat kepada pihak berkuasa. Jelas ini bertentangan
dengan apa yang diperintahkan oleh syariah, sebagaimana firman Allah SWT.6:

َ‫اْلثْ ِم َوأَ ْنت ُ ْم تَ ْعلَ ُمون‬ ِ َّ‫اط ِل َوت ُ ْدلُوا بِهَا إِلَى ا ْل ُحك َِّام ِلتَأ ْ ُكلُوا فَ ِريقًا ِم ْن أَ ْم َوا ِل الن‬
ِ ْ ِ‫اس ب‬ ِ َ‫َو ََل تَأ ْ ُكلُوا أ َ ْم َوالَ ُك ْم بَ ْينَ ُك ْم بِا ْلب‬

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu
dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada
hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu
dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui “ (QS. Al-Baqarah:188).

Tidak Islaminya bank sentral ini terkait dengan kegiatan pengedaran uang yang
dilakukannya, di mana bank sentral sebagai tangan pemerintah, memperoleh
pendapatan yang tidak adil dari uang yang beredar atau seignorage. Dalam bahasa
mudah, seignorage adalah pendapatan yang diterima dari mencetak uang, di mana nilai
nominal uang yang dicetak jauh lebih besar daripada nilai kertas dan biaya
pencetakannya.

2.4 Instrumen Kebijakan Moneter

Bagaimana mengelola kebijakan moneter dalam konteks ekonomi Islam, masih belum
terlalu banyak dibahas. Tahapan yang dibicarakan masih seputar metodologi dan
epstemologinya. Meskipun demikian sejumlah kajian telah meletakkan fondasi serta
menyusun kerangka pemikiran yang cukup jelas terhadap kedudukan dan konsep
pelaksanan kebijakan moneter dalam sistem ekonomi Islam. Di antara kajian itu
dilakukan oleh Chapra (1995,1996), Choudry dan Mirakhor (1997), dan Rosly (1999).
Tidak adanya sistem moneter Islami yang solid dan secara teoritis bisa diuji
kemampuannya menjadi masalah tersendiri. Serta sangat sedikitnya tulisan atau
literatur yang secara komprehensif mengkaji dan mengembangkan sistem moneter
Islam, baik berupa model ekonomi ataupun bahasan deskriptif-kualitatif. Oleh sebab
itu, keinginan untuk membentuk sistem yang Islami akan terbentur pada keterbatasan
acuan dan panduan, baik teoritis maupun empiris (Tamanni, 2002).

6
Al Quran Karim, QS. Al-Baqarah ayat 18.

9
Langkah yang dilakukan dalam keadaan seperti itu adalah mencoba secara bertahap dan
konsisten dan menawarkan sistem moneter Islam sedikit demi sedikit. Salah satunya
adalah secara bertahap memodifikasi struktur dan mekanisme pengambilan kebijakan-
kebijakan ekonomi (fiskal dan moneter) dengan mencoba memasukkan instrumen-
instrumen keuangan syariah.

Instrumen yang diperlukan untuk mengelola kebijakan moneter di negara muslim


adalah satu kebijakan moneter yang tidak saja akan membantu mengatur penawaran
uang seirama terhadap permintaan riil terhadap uang, tetapi juga membantu memenuhi
kebutuhan untuk membiayai defisit pemerintah yang benar-benar riil dan mencapai
sasaran sosio-ekonomi masyarakat Islam lainnya. Terhadap sejumlah elemen untuk
mengatur hal ini di antaranya (Chapra, 2000):
1. Target pertumbuhan dalam M dan M0
Setiap tahun bank sentral harus menentukan pertumbuhan peredaran uang yang
diinginkan (M) sesuai dengan sasaran ekonomi nasional. Termasuk yang harus
dipertimbangkan dengan sasaran ekonomi nasional adalah laju pertumbuhan
ekonomi yang memadai dan berkesinambungan dan mata uang yang stabil. Target
pertumbuhan dalam M ini harus dilihat ulang setiap kuartal atau kapan saja bila
diinginkan dengan melihat kinerja perekonomian dan tren variabel penting lainnya.
Pilihan periode ini dipilih karena umumnya kecepatan pendapatan uang dapat
diprediksi dengan tepat selama periode tersebut. Target ekonomi nasional
sebaiknya tidak diubah-ubah, kecuali terjadi gejolak ekonomi, domestik, maupun
eksternal.
2. Saham publik terhadap deposito unjuk (Uang Giral)
Sebagian uang giral bank komersial, sampai ukuran tertentu, misalnya 25 persen,
harus dialihkan kepada pemerintah untuk membiayai proyek-proyek yang
bermanfaat secara sosial, di mana prinsip bagi hasil tidak layak diterapkan dalam
kondisi itu. Ini merupakan tambahan dari jumlah yang dilimpahkan oleh bank
sentral kepada pemerintah untuk melakukan ekspansi basis moneter (M0). Salah
satu caranya adalah mengalihkan sebagian deposito unjuk yang dimobilisasi kepada
perbendaharaan publik untuk membiayai proyek-proyek yang bermanfaat secara
sosial, tanpa memaksakan beban kepada pundak publik lewat pajak yang
dikumpulkan.
3. Cadangan wajib resmi
Bank-bank komersil diwajibkan menahan suatu proporsi tertentu, misalnya 10-20
persen, dari deposito unjuk mereka dan disimpan di bank sentral sebagai cadangan
wajib. Bank sentral harus menanggung ongkos memobilisasi deposito ini kepada
bank-bank komersial, persis seperti pemerintah menanggung ongkos memobilisasi
25 persen deposito untuk divariasikan oleh bank sentral dengan anjuran kebijakan
moneter.
4. Pembatasan kredit
Alat-alat seperti yang disebutkan di atas akan mempermudah bank sentral dalam
melakukan ekspansi yang diinginkan pada uang berdaya tinggi, sampai pada
ekspansi yang melebihi batas yang diinginkan.

10
5. Alokasi kerdit (pembiayaan) yang beriorentasi kepada nilai
Mengingat kredit bank terjadi karena dana yang dimiliki oleh publik kredit harus
dialokasikan dengan bijak agar bisa membantu mewujudkan kemaslahatan umat.
Kriteria untuk alokasi ini, seperti dalam kasus sumber-sumber daya yang disediakan
Allah pada umumnya, harus mewujudkan sasaran masyarakat Islam dan kemudian
memaksimalkan keuntungan pribadi. Hal ini dapat dicapai dengan menjamin
bahwa:
- Alokasi kredit akan menimbulkan suatu produksi dan distribusi optimal bagi
barang dan jasa yang diperlukan oleh sebagian besar anggota masyarakat
- Manfaat kredit dapat dirasakan oleh sejumlah besar kalangan bisnis di
masyarakat
6. Teknik lain
Bank sentral melalui kontak personalnya, konsultasi dan rapat dengan bank-bank
komersial, dapat saling bahu-membahu menjaga kekuatan dan memecahkan
persoalan perbankan serta memberikan saran kepada mereka dengan tindakan-
tindakan yang diperlukan untuk mengatasi kesulitan dan mencapai tujuan yang
diinginkan.

2.5 Pengaplikasian Kebijakan Moneter Islam

Dari teori-teori dan instrumen-instrumen mengenai kebijakan moneter Islam, sudah ada
yang mengaplikasikannya dalam proses pengambilan keputusan mengenai masalah
untuk mengatasi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter Islam ini banyak
diterapkan di berbagai negara, terutama diterapkan oleh negara Islam dan ada yang
menerapkannya di negara yang mayoritas penduduknya muslim. Dari sekian banyak
ada beberapa yang dapat diambil contoh, yaitu7:
1. Sudan
Pada masa sebelum diberlakukannya syariah Islam pada sistem perbankan di Sudan,
Bank Sentral Sudan sangat tergantung pada instrumen-instrumen langsung seperti
tingkat suku bunga, plafon kredit (credit celling), ketentuan rasio likuiditas (statutory
liquidity ratio), dan tingkat diskonto. Pada pada tahun 1984, setelah diperkenalkan
syariah Islam di Sudan, Bank Sentral Sudan mengeluarkan arahan dan perintah kepada
seluruh bank-bank yang beroperasi di Sudan agar menjalankan prinsip-prinsip
perbankan yang sesuai dengan syariah Islam dalam aktivitas kesehariannya.
Instrumen-instrumen moneter yang digunakan oleh Bank Sentral Sudan dalam
operasionalnya adalah sebagai berikut:
a. Reserve requiment, RR paling kurang disediakan 20% (10% untuk simpanan mata
uang asing)
b. Bank-bank komersial harus mencapai dan memelihara rasio likuiditas sebesar 10%
dari dana giro dan tabungan dalam bentuk mata uang lokal
c. Plafon kredit 90% diprioritaskan pada:
- pertanian,
- ekspor,
- perindustrian,

7
Adiwarman A. Karim, Ekonomi... h. 229.

11
- pertambangan dan energi,transportasi dan pergudangan,
- profesional, pengrajin,dan bisnis keluarga ukuran kecil,
- perumahan rakyat,
- investasi pada pasar saham resmi Khartoum.
d. Marjin keuntungan minimum murabahah 10%-50%
e. Penyertaan minimum nasabah untuk perjanjian musyarakah sebagi alat untuk
mengatur jumlah ketersediaan sumber daya untuk kredit
f. Aturan kredit kualitatif dan kuantitatif seperti:
- Minimum 50% dari kredit diberikan kepada daerah rural
- Kredit tidak diberikan kepada orang atau institusi yang gagal sebelumnya
- Seluruh kerdit harus dipastikan memenuhi ketentuan syariah
g. Foreign Exchange Operation sebagai alat Bank Sentral Sudan untuk menjaga
stabilitas nilai tukar uang (bukan untuk fungsi kontrol likuiditas)
h. Open Market Operation dengan menggunakan instrumen
- Central Bank Musharaka Certificate (CMC)
- Government Musharaka Certificate (GMC)
i. Ijarah Certfificate (Sukuk). Sukuk ini merepresentasikan tiga perjanjian dasar:
- Perjanjian pembelian aset
- Perjanjian sewa-menyewa
- Perjanjian penujalan aset

2. Iran
Iran adalah satu-satunya negara yang menerapkan sistem perekonomian dengan
mengacu kepada pemikiran teori pemikiran ekonomi Islam Mazhab Iqtishaduna.
Banyak modifikasi yang dilakukan oleh otoritas moneter di Iran terhadap sistem
perbankannya agar tetap kompetitif di era persaingan global ini. Berikut adalah
instrumen yang dipakai:
a. Resreve Requipment Ratio. Rasio cadangan dari 10% sampai 30% biasanya
digunakan untuk menarik dana yang dianggurkan yang secara potensial dapat
digunakan dalam peningkatan likuiditas
b. Adjusted Open Market Operation
c. Discount Rates. Karena adanya pelarangan riba maka instrumen ini tidak
digunakan seluas konvensional. Discounting ini terjadi pada sekuritas yang
berdasarkan pada transaksi riil
d. Credit Celling
e. Minimum Expecting Proft Rato of Bank dan Bnk’s share of Profit in Various
Contract
3. Indonesia
Bank Indonesia dalam menjalankan fungsi bank sentralnya mempunyai instrumen
moneter syariah diantaranya sebagai berikut:
a. Giro Wajib Minimum. Dalam pelaksanaannya besaran GMW adalah 5% dari
pihak ketiga yang berbentuk rupiah dan 3% yang berbentuk mata uang asing
b. Sertifikat Investasi Mudharabah Antar bank Syariah (sertifikat IMA). Sertifikat
IMA adalah suatu instrumen yang digunakan oleh bank-bank syariah yang
kelebihan dana untuk mendapatkan keuntungan dan di lain pihak sebagai sarana
penyedia dana jangka pendek bagi bank-bank syariah yang kekurangan dana

12
c. Sertifikat Wadiah Bank Indonesia –SWBI (sekarang menjadi Sertifikat Bank
Indonesia Syariah-SBIS). SWBI adalah instrumen Bank Indonesia yang sesuai
dengan syariah Islam yang digunakan dalam OMO. Selain itu, SWBI ini juga
dapat digunakan oleh bank-bank syariah yang mempunyai kelebihan likuiditas
sebagai sarana penitipan dana jangka pendek.
d. Pasar Uang Antara Bank Syariah (PUAS). Sebagai fasilitas bagi bank syariah
yang membutuhkan dana di pasar uang, sehingga mereka dapat saling
mengadakan perjanjian antarbank syariah.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kebijakan moneter adalah suatu kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk
memperbaiki keadaan perekonomian melalui pengaturan jumlah uang yang beredar.
Kebijakan moneter dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Kebijakan moneter yang bersifat kuantitatif, yaitu kebijakan umum yang bertujuan
untuk mempengaruhi jumlah penawaran uang dan tingkat bunga dalam
perekonomian.
a. Operasi pasar terbuka
b. Mengubah persyaratan cadangan minimum (reserve requirement)
c. Mengubah tingkat bunga (discount rate)
2. Kebijakan moneter yang bersifat kualitatif
a. Pengawasan pinjaman secara selektif
b. Pembujukan moral
Perbedaan kebijakan moneter konvensional dan kebijakan moneter Islam, ialah:
a. Kebijakan moneter konvensional
- Uang aktif
- Uang pasif
b. Kebijakan moneter Islam
- menurut mazhab pertama
- menurut mazhab kedua (mazhab mainstream)
- menurut mazhab ketiga

13
Instrumen kebijakan moneter dalam Islam menurut Chapra:
1. Target pertumbuhan dalam M dan M0
2. Saham publik terhadap deposito unjuk (Uang Giral)
3. Cadangan wajib resmi
4. Pembatasan kredit
5. Alokasi kerdit (pembiayaan) yang beriorentasi kepada nilai
6. Teknik lain
Pengaplikasian Kebijakan Moneter Islam
1. sudan
2. Iran
3. Indonesia

14
DAFTAR PUSTAKA

Al-Arif, M. Nur Rianto, Dasar-Dasar Ekonomi Islam, Solo: PT. Era Adicitra Intermedia, 2011.
Al-Qur'an dan Terjemahannya, Departemen Agama, Semarang: Toha Putera, 1989.
Basri, Ikhwan Abidin (Penterjemah), Fowards a Just Monetary System, Jakarta: Gema Insani
Pers, 2000.
Nasution, Mustafa Edwin, Pengenalan Eksklusif: Ekonomi Islam, Jakarta: Kharisma Putra
Grafika, 2006.

15