Anda di halaman 1dari 21

HUKUM SEBAGAI SOSIAL

KONTROL DALAM MASYARAKAT


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Semua masyarakat dan semua kelompok sosial mempunyai mekanisme


untuk menjamin ketaatan (conformity) terhadap norma-norma, yang
disebut mekanisme kontrol sosial. Kontrol social berarti proses-proses
dan metode-metode yang digunakan oleh anggota-anggota sebuah
masyarakat atau suatu kelompok untuk memelihara keteraturan/
kedamaian sosial (social order) dengan penegakan perilaku yang telah
disepakati.

Hukum merupakan salah satu sarana perubahan sosial yang ada di


dalam masyarakat. Terdapat suatu hubungan interaksi antara sektor
hukum dan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Dapat
dikatakan hokum sebagai perlengkapan masyarakat untuk menciptakan
ketertiban keteraturan di dalam masyarakat maka antara hokum dengan
manusia tidak dapat dipisahkan maka hukum adalah bagian hidup dari
manusia dan hukum harus dicintai oleh setiap orang dan ditaati oleh
setiap orang.

Hukum adalah sistem yang terpenting dalam pelaksanaan atas


rangkaian kekuasaan kelembagaan. dari bentuk penyalahgunaan
kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi dan masyarakat dalam
berbagai cara dan bertindak, sebagai perantara utama dalam hubungan
sosial antar masyarakat terhadap kriminalisasi dalam hukum pidana,
hukum pidana yang berupayakan cara negara dapat menuntut pelaku
dalam konstitusi hukum menyediakan kerangka kerja bagi penciptaan
hukum, perlindungan hak asasi manusia dan memperluas kekuasaan
politik serta cara perwakilan mereka yang akan dipilih. Administratif
hukum digunakan untuk meninjau kembali keputusan dari pemerintah,
sementara hukum internasional mengatur persoalan antara berdaulat
negara dalam kegiatan mulai dari perdagangan lingkungan peraturan
atau tindakan militer. filsuf Aristotle menyatakan bahwa "Sebuah
supremasi hukum akan jauh lebih baik daripada dibandingkan dengan
peraturan tirani yang merajalela.

Dalam kehidupan masyarakat pra-modern, tatkala kehidupan itu masih


berada pada skalanya dan formatnya yang lokal, homogen dan eksklusif
– yang oleh sebab itu lebih cocok untuk diistilahi ‘komunitas’
(community) daripada ‘masyarakat’ (society) atau ‘masyarakat negara’
(political state) — apa yang disebut ‘hukum’ ini umumnya tidak tertulis
dan eksis sebagai asas-asas umum di dalam ingatan warga komunitas,
dirawat secara turun temurun sebagai tradisi yang dipercaya berasal
dari nenek-moyang. Inilah yang disebut tradisi atau moral kehidupan
suatu komunitas, yang di dalam kajian sosiologi hukum sering juga
disebut juga ‘hukum rakyat’, dan yang didalam ilmu hukum disebut
‘hukum kebiasaan’ atau ‘hukum adat’.

Dalam perkembangan kehidupan yang lebih mutakhir, tatkala kehidupan


bernegara bangsa menggantikan kehidupan-kehidupan lokal yang
berskala kecil dan eksklusif, apa yang disebut hukum itu mulai
menampakkan wujudnya yang tertulis. Inilah yang disebut hukum
undang-undang, yang ditulis dalam rumusan-rumusan yang lebih eksak,
dibentuk atau dibuat melalui prosedur tertentu, dan terstruktur atau
terlembagakan sebagai sarana kontrol yang nyata-nyata formal sifatnya,
yang oleh sebab itu akan ditunjang oleh otoritas kekuasaan negara yang
berkewenangan untuk mendayagunakan sanksi.

Manusia dan hukum adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan.
Bahkan dalam ilmu hukum, terdapat adagium yang terkenal yang
berbunyi: “ Ubi societas ibi jus ” (di mana ada masyarakat di situ ada
hukumnya). Artinya bahwa dalam setiap pembentukan suatu bangunan
struktur sosial yang bernama masyarakat, maka selalu akan dibutuhkan
bahan yang bersifat sebagai “semen perekat” atas berbagai komponen
pembentuk dari masyarakat itu, dan yang berfungsi sebagai “semen
perekat” tersebut adalah hukum.

Manusia, disamping bersifat sebagai makhluk individu, juga berhakekat


dasar sebagai makhluk sosial, mengingat manusia tidak dilahirkan
dalam keadaaan yang sama (baik fisik, psikologis, hingga lingkungan
geografis, sosiologis, maupun ekonomis) sehingga dari perbedaan
itulah muncul inter dependensi yang mendorong manusia untuk
berhubungan dengan sesamanya. Berdasar dari usaha pewujudan
hakekat sosialnya di atas, manusia membentuk hubungan sosio-
ekonomis di antara sesamanya, yakni hubungan di antara manusia atas
landasan motif eksistensial yaitu usaha pemenuhan kebutuhan hidupnya
(baik fisik maupun psikis).

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, tiap individu manusia maupun


kelompok biasanya berhadapan dengan individu atau kelompok lainnya,
dalam konteks ini manusia akan menghadapi dua hubungan yakni kerja
sama atau persaingan dan untuk mengatur hubungan ini, manusia
maupun masyarakat akan membutuhkan aturan hukum dalam
mengatur dan mengendalikan tiap individu dan masyarakat agar tidak
terjadi benturan. Hal ini menjadikan hukum harus berfungsi sebagai alat
control sosial.

Hukum sebagai ‘Kontrol Sosial’ berarti hukum dapat mengendalikan


masyarakat dan melakukan pengendalian terhadap kejahatan dan
potensinya di dalamnya, baik dalam perspektif para pelaku sosial secara
individual maupun secara kooperatif bersama dalam kesatuan sosial,
baik dari dalam maupun dari luar diri masyarakat. Sebagaimana dua
proses dasar kontrol sosial adalah internalisasi dan juga dengan
tekanan dari luar masyarakat. kontrol sosial merujuk pada cara para
anggota sebuah masyarakat memelihara aturan dan meningkatkan
kemungkinan untuk memperkirakan suatu tindakan.

B. Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang di atas, maka penulis membuat rumusan


masalah sebagai focus dalam kajian pembahasan adalah; Hukum
Sebagai Fungsi Kontrol Sosial dalam Masyarakat

C. Tujuan

Tujuan dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana


bentuk hukum sebagai fungsi sosial control dalam Masyarakat

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kontrol Sosial

Pengendalian sosial (sosial control) merupakan suatu sistem yang


mendidik, mengajak bahkan memaksa warga masyarakat untuk
berperilaku sesuai dengan nilai dan norma - norma sosial agar
kehidupan masyarakat dapat berjalan dengan tertib dan teratur. Berger
dalam Kamanto (1993 : 65) mengartikan pengendalian sosial sebagai
cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggota yang
membangkang. Semantara, Roucek dalam Bagong (2010)
mendefenisikan pengendalian sosial tidak hanya pada tindakan
terhadap mereka yang membangkang, tetapi proses - proses yang
dapat kita klasifikasikan sebagai proses sosialisasi. Berbeda dengan,
Veeger dalam Kolip (2010 : 252) pengendalian sosial adalah titik
kelanjutan dari proses sosialisasi dan berhubungan dengan cara dan
metode yang digunakan untuk mendorong seseorang agar berperilaku
selaras dengan kehendak kelompok atau masyarakat yang jika
dijalankan secara efektif, perilaku individu akan konsisten dengan tipe
perilaku yang diharapkan.

Proses - proses pengandalian sosial yang dilakuakan secara terus-


menerus maka sacara tidak langsung akan menyebabkan perilaku
individu sesuai dengan nilai - nilai dan pola - pola atau aturan - aturan
yang telah disepakati secara bersama oleh seluruh lapisan masyarakat
tertentu. Menurut Reucek (1987 : 2) proses pengendalian sosial dapat
diklasifikasikan dalam tiga bentuk, yaitu:

1. Pengendalian sosial antara individu dan individu lainnya, dimana


individu yang satu mengawasi individu yang lainnya. Misalnya, seorang
ayah yang mendidik anak-anaknya untuk menaati peraturan dalam
keluarga. Hal ini merupakan contoh dari pengendalian sosial yang pada
dasarnya pengendalian sangat lazim dalam kehidupan sehari - hari,
meskipun kadang-kadang tidak disadari.

2. Pengendalian sosial antara individu dan kelompok terjadi ketika


individu mengawasi suatu kelompok.

3. Pengendalian sosial antara kelompok dan kelompok lainnya, terjadi


ketika suatu kelompok mengawasi kelompok lainnya.

Pengendalian sosial dapat terjadi dalam kehidupan sehari - hari agar


keserasian dan stabilitas dalam kehidupan sehari - hari tercapai.
Dengan pengendalian sosial ini, diharapkan penyimpangan yang terjadi
di masyarakat dapat berkurang khususnya penyimpangan yang
dilakukan oleh para anak - anak remaja. Oleh karena itu pengendalian
sosial harus mendapat perhatian yang mendalam dan mendasar.

Pengendalian Sosial (social control) biasanya diartikan sebagai suatu


proses, baik yang direncanakan maupun tidak, yang bersifat mendidik,
mengajak, atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi
sistem kaidah dan nilai yang berlaku. Perwujudan social control tersebut
mungkin berupa pemidanaan, kompensasi, terapi, maupun konsiliasi.
Standar atau patokan dari pemidanaan adalah suatu larangan, yang
apabila dilanggar akan mengakibatkan penderitaan (sanksi negatif) bagi
pelanggarnya. Dalam hal ini, bila kepentingan-kepentingan dari suatu
kelompok dilanggar, inisiatif datang dari seluruh warga kelompok (yang
mungkin dikuasakan kepada pihak tertentu).

Pada kompensasi, standar atau patokannya adalah kewajiban, di mana


inisiatif untuk memprosesnya ada pada pihak yang dirugikan. Pihak
yang dirugikan akan meminta ganti rugi, oleh karena pihak lawan
melakukan wanprestasi. Di sini ada pihak yang kalah dan ada pihak
yang menang, seperti halnya dengan pemidanaan yang sifatnya
akusator.

Berbeda dengan kedua hal di atas, terapi maupun konsiliasi sifatnya


“remedial”, artinya mengembalikan situasi (interaksi sosial) pada
keadaan yang semula. Oleh karena itu, yang pokok bukanlah siapa
yang kalah dan siapa yang menang, melainkan yang penting adalah
menghilangkan keadaan yang tidak menyenangkan bagi para pihak. Hal
itu tampak bahwa konsiliasi, standarnya adalah normalitas, keserasian,
dan kesepadanan yang biasa disebut keharmonisan.

Setiap kelompok masyarakat selalu memiliki problem sebagai akibat


adanya perbedaan antara yang ideal dan yang aktual, antara yang
standar dan yang praktis, antara yang seharusnya atau yang diharapkan
untuk dilakukan dan apa yang dalam kenyataan dilakukan. Standar dan
nilai-nilai kelompok dalam masyarakat mempunyai variasi sebagai faktor
yang menentukan tingkah laku individu. Penyimpangan nilai-nilai yang
ideal dalam masyarakat dapat disebut sebagai contoh: pencurian,
perzinaan, ketidakmampuan membayar utang, melukai orang lain,
pembunuhan, mencemarkan nama baik orang yang baik-baik, dan
semacamnya. Semua contoh itu merupakan bentuk-bentuk tingkah laku
menyimpang yang menimbulkan persoalan di masyarakat, baik
masyarakat yang sederhana maupun masyarakat modern. Di dalam
situasi yang demikian itu, kelompok itu berhadapan dengan problem
untuk menjamin ketertiban bila kelompok itu menginginkan
mempertahankan eksistensinya

B. Fungsi Hukum Sebagai Kontrol Sosial

Kontrol sosial adalah upaya untuk mewujudkan kondisi seimbang di


dalam masyarakat, yang bertujuan terciptanya suatu keadaan yang
serasi antara stabilitas dan perubahan di dalam masyarakat. Maksudnya
adalah hukum sebagai alat memelihara ketertiban dan pencapaian
keadilan. Pengendalian sosial mencakup semua kekuatan-kekuatan
yang menciptakan serta memelihara ikatan sosial. Hukum merupakan
sarana pemaksa yang melindungi warga masyarakat dari perbuatan dan
ancaman yang membahayakan dirinya dan harta bendanya.

Hukum sebagai ‘Kontrol Sosial’ berarti hukum dapat mengendalikan


masyarakat dan melakukan pengendalian terhadap kejahatan dan
potensinya di dalamnya, baik dalam perspektif para pelaku sosial secara
individual maupun secara kooperatif bersama dalam kesatuan sosial,
baik dari dalam maupun dari luar diri masyarakat. Sebagaimana dua
proses dasar kontrol sosial adalah internalisasi dan juga dengan
tekanan dari luar masyarakat

Hukum sebagai alat kontrol sosial dalam kehidupan masyarakat dituntut


untuk dapat mengatasi atau mewaspadai segala bentuk perubahan
sosial atau kebudayaan. Meskipun telah diatur dalam peraturan
perundang-undangan masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui
dan memahami bagaimana prosedur-prosedur yang berlaku dalam
hukum itu sendiri. Tidak adanya pemahaman tersebut seringkali
menyebabkan terjadi implementasi hukum yang tidak benar. Hal
tersebut dapat membuat hukum yang berlaku di masyarakat menjadi
tidak optimal, bahkan tidak jarang perangkat hukum tersebut justru
disalahgunakan untuk tujuan-tujuan dan maksud-maksud tertentu oleh
oknum-oknum tertentu demi mendapatkan keuntungan pribadi atau
golongan.

Fungsi hukum sebagai social control bertujuan untuk memberikan suatu


batasan tingkah laku masyarakat yang menyimpang dan akibat yang
harus diterima dari penyimpangan tersebut. Penggunaan hukum
sebagai social control dapat berarti bahwa hukum itu mengawasi tingkah
laku masyarakat artinya tidak terjadi penyimpangan dari aturan hukum
itu. Misalnya menentukan larangan – larangan pemberian ganti rugi, dll.
Adapun maksudnya agar setiap orang maupun masyarakat tidak
melakukan perbuatan yang dilarang oleh hukum.

Sebagai fungsi control, hukum juga dapat dijadikan sebagai alat


pengendalian sosial dengan tujuan untuk menganjurkan, mengajak,
menyuruh, bahkan memaksa warga masyarakat untuk mematuhi kaidah
hukum yang berlaku. Sarana pengendalian sosial dapat dilakukan dalam
3 bentuk yaitu :
- Bersifat preventif yaitu bertujuan untuk mencegah terjadinya
gangguan stabilitas di dalam masyarakat.

- Bersifat represif yaitu bertujuan mengembalikan keseimbangan yang


telah mengalami gangguan di dalam masyarakat.

- Bersifat preventif represif yaitu selain bertujuan untuk mencegah


terjadinya gangguan dalam masyarakat, juga sekaligus untuk
mengembalikan keseimbangan antara stabilitas dan fleksibilitas dalam
kehidupan masyarakat.

Kontrol sosial mengacu umumnya mekanisme sosial dan politik atau


proses yang mengatur perilaku individu dan kelompok, yang
menyebabkan kesesuaian dan kepatuhan terhadap aturan negara,
masyarakat diberikan, atau kelompok sosial. Banyak mekanisme kontrol
sosial lintas-budaya, jika hanya dalam mekanisme kontrol yang
digunakan untuk mencegah pembentukan kekacauan atau anomi
klarifikasi diperlukan] Beberapa teori, seperti Émile Durkheim, lihat
bentuk kontrol sebagai peraturan.. Sosiolog mengidentifikasi dua bentuk
dasar kontrol sosial yakni; Internalisasi norma dan nilai dan Eksternal
sanksi, yang dapat baik positif (penghargaan) atau negatif (hukuman).

Fungsi hukum dalam kelompok sosial di maksud adalah menerapkan


mekanisme kontrol sosial yang akan membersihkan masyarakat dari
sampah-sampah masyarakat yang tidak dikehendaki sehingga hukum
mempunyai suatu fungsi untuk mempertahankan eksistensi kelompok
itu. Anggota kelompok akan berhasil mengatasi tuntutan-tuntutan yang
menuju ke arah penyimpangan, guna menjamin agar kelompok
dimaksud tetap utuh, atau kemungkinan lain hukum gagal dalam
melaksanakan tugasnya sehingga kelompok itu hancur, atau cerai-berai
atau punah. Karena itu, hukum tampak mempunyai fungsi rangkap. Di
satu pihak dapat merupakan tindakan yang mungkin menjadi demikian
melembaga, yaitu menjadi mantap di antara anggota-anggota kelompok
masyarakat sehingga hukum mudah dipakai untuk mencapai tujuan-
tujuan kelompok, dan kelompok itu menganggap tindakan itu sebagai
suatu kewajiban. Di lain pihak mungkin merupakan tindakan yang
berwujud reaksi kelompok itu terhadap tingkah laku yang menyimpang,
dan yang diadakan untuk mengendalikan tingkah laku yang
menyimpang itu. Hukum dalam pengertian yang disebutkan terakhir ini
terdiri dari pola-pola tingkah laku yang dimanfaatkan oleh kelompok
untuk mengembalikan tindakan-tindakan yang jelas mengganggu usaha-
usaha untuk mencapai tujuan-tujuan kelompok. Hukum dalam fungsinya
yang demikian itu, merupakan instrumen pengendalian sosial.

1. Kontrol sosial informal

Kontrol sosial informal diejawantahkan sebagai fungsi-fungsi “tatakrama”


(folkways) yaitu norma-norma yang dibuat untuk praktek-praktek umum
seperti menspesifikasikan tatacara berbusana, etiket, dan penggunaan
bahasa; serta “pamali” (mores), yaitu norma-norma masyarakat yang
berhubungan dengan perasaan yang kuat tentang yang benar dan yang
salah dan aturan keras tentang perilaku yang tidak seharusnya
dilanggar, misalnya incest. Kontrol-kontrol informal ini meliputi teknik-
teknik dimana individu-individu yang mengenal satu sama lain secara
pribadi setuju (accord) untuk menjunjung tinggi individu-individu yang
patuh (comply) terhadap harapan masyarakat dan menunjukkan
ketidakpuasan kepada individu-individu yang tidak patuh (Shibutani,
1961:426). Teknik-teknik ini dapat diamati dari perilaku spesifik seperti
olok-olok (ridicule), gossip, pujian, teguran (reprimands), kritikan,
menghalang-halangi (obstracism), atau kutukan (verbal rationalizations),
dan pernyataan pendapat (expressions of opinion). Gosip, atau
ketakutan akan gossip, adalah salah satu dari alat efektif yang
digunakan oleh sejumlah anggota masyarakat untuk membawa individu-
individu agar patuh dengan norma-norma. Tidak seperti kontrol sosial
formal, kontrol informal ini tidak dilaksanakan melalui mekanisme
kelompok resmi, dan tidak ada orang tertentu yang ditunjuk untuk
penegakannya.

Mekanisme informal dari kontrol sosial cenderung lebih efektif bila


dilaksanakan di kelompok-kelompok atau masyarakat yang
hubungannya tatap-muka (face-to-face) dan intim serta dimana
pembagian kerjanya masih sederhana. Misalnya, Emile Durkheim
berpendapat bahwa di masyakarat sederhana, seperti desa-desa suku
atau di kota-kota kecil, norma-norma hukum lebih sesuai (accord)
dengan norma-norma social, daripada di desa yang lebih besar atau di
masyarakat yang jauh lebih kompleks. Ketidaksetujuan moral terhadap
si penyimpang adalah mutlak di masyarakat sederhana; seperti catatan
Daniel Glaser (1971: 32), “Toleransi terhadap keragaman perilaku
bervariasi secara langsung dengan pembagian kerja (distribution of
labor) di masyarakat”. Pada masyarakat sederhana hukum seringkali
tidak tertulis, yang mengharuskan pengajaran langsung tentang norma-
norma ke anak-anak. Sosialisasi di masyarakat sederhana tidak
memberi contoh kepada anak-anak tentang norma-norma kontradiktif
yang menimbulkan kebingungan atau konflik internal. Interaksi tatap
muka yang sangat intens di masyarakat sederhana menghasilkan
konsensus moral yang diketahui dengan baik oleh semua anggota
masyarakat; sehingga adanya tindakan yang menyimpang akan segera
menarik perhatian semua anggota masyarakat.

Ada bukti dalam literatur sosiologi untuk mendukung pendapat bahwa


kontrol sosial informal lebih kuat di masyarakat yang lebih kecil dan
homogen, dibandingkan dengan di masyarakat yang heterogen. Di
penelitiannya yang sangat berpengaruh tentang perilaku menyimpang di
Koloni Teluk Massachussets, Kai T. Erikson menemukan bahwa ukuran
kecil dan homogenitas budaya dari masyarakat membantu perilaku
terkontrol, karena setiap orang dalam masyarakat menekan individu-
individu yang punya bakat menyimpang untuk patuh terhadap norma-
norma dominan. Terdapat sejumlah mata-mata oleh tetangga di dalam
masyarakat yang mengawasi tindakan-tindakan yang menyimpang.
Sensor moral seketika akan mengikuti tindakan yang menyimpang
(Erikson, 1966: 169-170). Bahkan hari ini, reaksi terhadap tindakan
kriminal tertentu seperti perkosaan atau pembunuhuhan di kota kecil,
homogen, dan antar anggota masyarakat terkait yang erat, sangatlah
besar dan seketika sehingga pengadilan terhadap si terdakwa dari
kejahatan macam ini akan sulit, karena tekanan publik terhadap sistem
hukum yang menginginkan adanya hukuman yang keras dan seketika
akan membuat jalannya proses pengadilan akan sulit. Dalam kasus
seperti itu, perlu adanya perubahan lokasi pengadilan untuk
meminimalkan tekanan publik. Perubahan lokasi pengadilan seperti itu
biasanya terjadi di masyarakat sederhana daripada di masyarakat yang
kompleks dimana pengadilan tidak mengasumsikan bahwa si terdakwa
akan menerima peradilan yang fair karena adanya prasangka / prejudice
(Friendly dan Goldfarb, 1967: 96-101).

Tidak diragukan lagi, kontrol sosial informal berjalan lebih efektif di


masyarakat yang lebih kecil dimana individu-individu tahu satu sama lain
dan secara teratur berinteraksi. Di masyarakat yang seperti itu agen
penegakan hukum (polisi, jaksa, hakim) boleh berharap adanya
kerjasama yang lebih baik. Seperti yang dicatat oleh Komisi Presiden
tentang Penegakan Hukum dan Administrasi Pengadilan (the
President’s Commission on Law Enforcement and Administration of
Justice) (1967a: 6), “Seorang laki-laki yang hidup di pedesaan atau di
kota kecil kemungkinan besar harus selalu berhati-hati, karena diawasi
terus oleh masyarakatnya, dan oleh karena itu berada di bawah
pengaruh masyarakatnya. Seorang laki-laki yang tinggal di kota besar
hampir tidak terlihat (invisible), secara sosial terisolasi dari
masyarakatnya, dan oleh karena itu tidak dapat dikontrol oleh
masyarakatnya. Ia mempunyai peluang yang lebih besar untuk
melakukan tindak kejahatan”.

Pendapat bahwa mekanisme sosial kontrol informal yang lebih efektif di


masyarakat sederhana didukung oleh penelitian Sarah L. Boggs tentang
sosial kontrol formal dan informal di pusat-pusat kota, pinggiran-
pinggiran kota, dan kota-kota kecil di Negara bagian Missouri. Boggs
menyimpulkan bahwa penduduk kota-kota besar lebih apatis daripada
penduduk pinggiran kota atau kota kecil untuk merasakan bahwa
kejahatan segera akan terjadi (likely to occur) di dalam masyarakatnya.
Penduduk kota besar kemungkinan besar tidak akan melaporkan
perampokan (burglary) yang dilihatnya, dan lebih banyak penduduk kota
besar yang tahu adanya tindak kejahatan atau perilaku yang
mencurigakan di kotanya di tahun yang lampau. Kebanyakan orang
mengatakan bahwa lokasi tempat tinggal (neighborhood) mereka aman,
dan hanya sedikit yang merasa demikian di kota-kota besar. Ketika
ditanya apa yang membuat lokasi tempat tinggal mereka aman, 83
persen dari mereka yang tinggal di pedesaan dan kota kecil mengatakan
bahwa itu karena adanya kontrol sosial; 70 persen di pinggiran kota dan
68 persen di kota besar mengatakan aman karena adanya kontrol
sosial. Ketika mereka mengatakan bahwa lokasi tempat tinggalnya
aman karena kontrol sosial informal, mereka mengartikan mereka
merasa aman karena karakter dari masyarakat dan penduduknya, yaitu
“warga negara yang baik, terhormat (decent), patuh kepada hukum (law-
abiding), dan kelas menengah” (Boggs, 1971: 323). Keamanan dari
lokasi tempat tinggal (neighborhood) juga karena jaringan sosial dalam
masyarakat yang akan membuat “orang-orang di pinggir jalan”
(bystander) untuk mengintervensi tindak kejahatan. Responden yang
tinggal di pinggiran kota dan kota-kota besar kemungkinan besar akan
menyangkutpautkan keamanan dengan agen kontrol sosial formal
seperti polisi daripada responden yang tinggal di pedesaan dan kota-
kota kecil (Boggs, 1971:234). Boggs menyimpulkan bahwa penduduk
kota-kota besar cenderung lebih mengharapkan terjadinya tindak
kejahatan, namun cenderung tidak mengandalkan tetangganya untuk
melindungi komunitasnya dan lebih mengandalkannya ke perlindungan
polisi. Sebagai hasilnya, mereka lebih berjaga-jaga (take precautions),
seperti membeli senjata atau anjing penjaga daripada penduduk yang
tinggal di pinggiran kota, kota-kota kecil, dan di pedesaan.

Dalam penelitian lainnya tentang penggunaan mekanisme kontrol sosial


formal dan informal, Richard D. Schwartz (1977) memeriksa dua
kompleks pemukiman pertanian Israel. Komunitas itu awalnya sama
satu dengan yang lainnya, karena tidak adanya perbedaan besar
terhadap ide-ide kontrol hukum. Satu pemukiman adalah pemukiman
kolektif atau kvutza, yang tidak mempunyai mekanisme formal untuk
menyelesaikan perselisihan hukum, dan satu pemukiman lainnya adalah
pemukiman semi swasta yang disebut moshav, yang mempunyai komisi
judisial untuk menangani perselisihan hukum. Pemukiman kolektif
tersebut tidak mempunyai komisi hukum karena adanya interaksi intensif
dan tatap muka yang memberikan cara yang efektif untuk kontrol sosial
melalui tekanan kelompok. Sebaliknya, pada pemukiman yang semi
swasta, adanya kekurangan interaksi dan kekurangan konsensus :
perilaku agak tidak kelihatan (less visible) bagi anggota-anggota
komunitas daripada di pemukiman kolektif. Schwartz menyimpulkan
bahwa kontrol sosial informal kurang efektif pada pemukiman semi
swasta daripada di permukiman kolektif dimana aliran informasi akan
membuat tindakan menyimpang akan segera diketahui oleh semua
anggota masyarakat.

Kesimpulan yang sama tentang peranan mekanisme kontrol sosial


informal dapat ditarik dari penelitian-penelitian tentang negara-negara
berkembang (developing nations). Sebagai contoh, dalam
membandingkan antara komunitas yang tingkat kejahatannya rendah
dan komunitas yang tingkat kejahatannya tinggi di Kampala, Uganda,
Mashall B. Clinard dan Daniel J. Abbott menemukan bahwa lokasi-lokasi
yang tingkat kejahatannya kurang menunjukkan adanya solidaritas
sosial yang tinggi, adanya interaksi sosial antara para tetangga, adanya
partisipasi dalam organisasi lokal, kurangnya mobilitas geografi (jarang
bepergian, jarang pindah), dan adanya stabilitas dalam hubungan
keluarga. Juga adanya homogenitas budaya yang lebih besar dan
adanya penekanan lebih besar pada hubungan kesukuan dan keluarga
(tribal and kinship ties) pada komunitas yang tingkat kejahatannya
rendah, yang sangat membantu dalam menanggulangi (counteract)
orang-orang yang tidak diketahui dengan jelas (anonymity) yang pindah
ke kotanya. Ikatan kelompok utama yang lebih besar di antara
penduduk di komunitas yang tingkat kejahatannya rendah membuatnya
lebih sulit bagi orang asing (stranger) di dalam komunitasnya untuk
melarikan diri dari perhatian publik. Untuk menghindari pencurian,
penduduk di area itu harus merasakan apa yang salah; membagi
tanggung jawab untuk memelihara property dari lokasi tempat tinggal;
dapat mengindentifikasikan orang-orang asing di arenya; dan mau untuk
mengambil tindakan jika mereka melihat seorang pencuri (Clinard dan
Abbott, 1973: 149).

Berdasarkan penelitian-penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa jika


terdapat adanya interaksi sosial yang intim dan tatap muka, konsensus
normatif, dan pengawasan (surveillance) terhadap perilaku anggota-
anggota masyarakat, kontrol sosial informal akan kuat sehingga kontrol
sosial formal dan legal mungkin tidak lagi diperlukan. Unger
berpendapat bahwa hukum birokrasi timbul ketika Negara dan
masyarakat menjadi “menaruh perhatian” (differentiated), dan adanya
perasaan kebutuhan akan sebuah institusi yang berdiri di atas semua
kelompok yang bertikai. Hal ini terjadi jika komunitas terpecah belah,
yaitu, ketika individu-individu tidak dianggap lagi untuk bertindak di
serangkaian cara tanpa petunjuk yang sebaliknya (when individuals may
no longer be counted on to act in set ways without overt guidance).
Disintegrasi seperti itu datang ketika pembagian pekerjaan menimbulkan
peluang-peluang baru untuk kekuasaan dan kekayaan, yang pada
gilirannya, memotong hirarki lama yang ditentukan oleh kelahiran /
keturunan (detemined by birth). Proses ini disertai dengan
bertambahnya sandaran kepada kontrol sosial formal.

Kontrol sosial secara informal dicontohkan dengan fungsi-fungsi yang


berjalan dalam cara kerakyatan(norma-norma yang dimunculkan dalam
praktik keseharian sebagaimana mode pakaian tertentu, etiket, dan
penggunaan bahasa) dan adat-istiadat(norma-norma sosial berasosiasi
dengan perasaan-perasaan intens tentang benar atau salah dan aturan
tertentu tentang tingkah laku yang secara sederhana tidak akan
mengganggu, sebagai contoh, incest). Kontrol informal tersebut terdiri
atas teknik-teknik yang oleh individu yang mengetahui satu sama lain
dalam dasar keseuaian personal akan memuji kepada mereka yang
mentaati harapan bersama dan menunjukkan ketidaknyamanan kepada
mereka yang tidak mentaatinya (Shibutani, 1961:426)

Dengan demikian kontrol sosial yang sifatnya informal selalu merupakan


bagian dari masyarakat dengan ciri keeratan sosial yang oleh Durkheim
dikatakan memiliki mechanical solidarity, yang oleh Dragan Milovanovic
(1994) dikatakan sebagai tipe normal dalam masyarakat yang
pemilahan tingkat pekerjanya masih sangat kecil, dan “perekat” ikatan
sosial dalam kesamaan dan kesetaraan masih kuat. Tetapi konteks
kontrol sosial informal tidaklah hanya ada dalam bentuk masyarakat
dengan mechanical solidarity sebagaimana dijelaskan Durkheim. Nilai-
nilai tentang solidaritas dan kesepakatan dalam masyarakat majemuk
dengan konsep hukum tidak tertulisnya juga selalu memiliki potensi
informal social controls.

Mekanisme informal dari kontrol sosial dirancang untuk lebih efektif


dalam kelompok dan masyarakat dimana relasi bersifat face to face dan
intimasi dan dimana pembagian pekerjaan relatif sederhana.
Selanjutnya, intensional interaksi face to face dalam masyarakat tertentu
menciptakan konsensus moral yang dikenal oleh seluruh anggotanya;
juga membawa tindakan menyimpang secara cepat menjadi perhatian
setiap orang.

2. Kontrol Sosial Formal

Walaupun tidak ada garis pembatas yang jelas, kontrol sosial formal
biasanya dicirikan oleh masyarakat yang lebih kompleks dengan
pembagian kerja yang lebih jelas, populasi yang lebih heterogen, dan
sub kelompok-sub kelompok dengan nilai-nilai yang saling berkompetisi
dan berbagai rangkaian “pamali” (mores) dan ideology. Kontrol formal
muncul ketika kontrol informal tidak mencukupi untuk mempertahankan
kepatuhan (conformity) terhadap norma-norma tertentu, dan mempunyai
karakteristik adanya sistem tentang lembaga-lembaga khusus dan
teknik-teknik standar.

Kontrol sosial formal diejawantahkan delam lembaga-lembaga di dalam


masyarakat dan mempunyai karakter sebagai adanya prosedur-
prosedur eksplisit, dan delegasi kepada lembaga-lembaga khusus untuk
menegakkan prosedur-prosedur eksplisit tersebut (hukum, dekrit,
regulasi, undang-undang). Karena mereka diejawantahkan ke dalam
lembaga-lembaga di dalam masyarakat, mereka dikelola oleh individu-
individu yang menjabat di jabatan-jabatan lembaga tersebut. Pada
umumnya, seseorang yang mencoba untuk memanipulasi perilaku dari
yang lainnya melalui penggunaan sangsi formal dapat disebut agen
kontrol sosial (Clinard dan Meier, 1979: 21).

Dalam konsep Durheim dan Vago memiliki kecenderungan yang sama.


Ia menjelaskan bahwa konrol sosial formal biasanya merupakan
karakteristik dari masyarakat yang lebih kompleks dengan pembagian
tingkat pekerjaan yang lebih besar, heterogenitas populasi, dan sub-
grup dengan nilai-nilai terkompetensi dengan bentuk berbeda dalam
adat-istiadat dan ideologi. Kontrol yang bersifat formal muncul ketika
kontrol informal tidak lagi sesuai diterapkan untuk memelihara
kenyamanan pada norma-norma tertentu dan dicirikan dengan sistem
yang mengenal spesialisasi agen-agen sosialnya dan dengan teknik-
teknik yang standar.

Seperti telah dijelaskan bahwa pengertian formal adalah saat yang


informal tidak lagi mampu hadir dan memberikan fungsi kontrolnya.
Maka formal selalu timbul dari kebutuhan akan keteraturan dan kontrol
yang membuat segalanya kepada keadaan sebagaimana kondisi
informal. Seperti menjelaskan bagaimana Durkheim berupaya
mengganti secara perlahan ‘solidaritas mekanis’ sederhana dengan
‘solidaritas organik’ yang lebih kompleks, yakni solidaritas
komplementer, berkat semakin tegasnya pembagian kerja dalam
masyarakat. Jika Durkheim berusaha menjaga tetap adanya solidaritas,
maka demikian pula peran sosial kontrol selalu diupayakan tetap ada,
karena eksistensinya yang menjadi urgensi dan kebutuhan sosial.

Formal dijelaskan sebagai kebutuhan yang tumbuh sebagai karena


ketiadaan informal. Begitu pula hukum, informal mengenal formulasi
kontrol pada hukum tak tertulis, sedangkan format formal adalah mulai
dikenalnya konsep ‘standarisasi’ atau dalam hukum dikenallah hukum
yang mengenal prinsip ‘legalitas’ atau ketertulisan. Sehingga logika
kebenaran dan kesalahan, kebaikan dan kejahatan, yang sesuai definisi
bersama, dituangkan ke dalam perundang-undangan untuk dijadikan
sebagai alat kontrol sosial.

Dinyatakan sebagai undang-undang melalui hukum, aturan, dan regulasi


terhadap perilaku menyimpang. Hal ini dilakukan oleh pemerintah dan
organisasi yang menggunakan mekanisme penegakan hukum dan
sanksi formal lainnya seperti denda dan hukuman penjara dalam
masyarakat demokratis tujuan dan mekanisme kontrol sosial formal
ditentukan melalui undang-undang oleh wakil-wakil terpilih dan dengan
demikian menikmati dukungan dari ukuran. penduduk dan kepatuhan
sukarela.

Kontrol yang bersifat formal muncul ketika kontrol informal tidak lagi
sesuai diterapkan untuk memelihara kenyamanan pada norma-norma
tertentu dan dicirikan dengan sistem yang mengenal spesialisasi agen-
agen sosialnya dan dengan teknik-teknik yang standar.

Kontrol sosial merupakan aspek normatif dari kehidupan sosial atau


dapat disebut sebagai pemberi definisi dari tingkah laku yang
menyimpang serta akibat-akibatnya seperti larangan-larangan, tuntutan-
tuntutan, pemidanaan dan pemberian ganti rugi”.

Fungsi hukum sebagai alat pengendalian sosial dapat diterangkan


sebagai fungsi hukum untuk menetapkan tingkah laku mana yang
dianggap merupakan penyimpangan terhadap aturan hukum, dan apa
sanksi atau tindakan yang dilakukan oleh hukum jika terjadi
penyimpangan tersebut.

Perlu dicatat dari awalnya bahwa kontrol melalui hukum jarang


dilaksanakan dengan penggunaan sanksi positif atau penghargaan
(rewards). Seseorang yang selama hidupnya menghormati hukum dan
memenuhi persyaratan hukum jarang menerima penghargaan atau
rekomendasi. Kontrol negara dilaksanakan utamanya, namun tidak
secara eksklusif, melalui penggunaan hukuman untuk mengatur perilaku
warga negaranya.

Berikut akan membahas penggunaan sangsi pidana dan komitmen sipil


untuk mengontrol tipe perilaku tertentu.

a. Kontrol Sosial Formal untuk Penyimpang : Sanksi Pidana

Kontrol sosial terhadap kejahatan (criminal) dan perilaku melanggar


(delinquent behavior) membentuk sistem formal terstruktur tertinggi (the
most highly structured formal system) yang digunakan oleh masyarakat.
Sistem untuk mengontrol kejahatan dan pelanggaran (the criminal
justice system) secara eksplisit menyatakan ketidaksetujuan masyarakat
akan “tindak kejahatan” (“crime”), tidak seperti bentuk lain dari
penyimpangan sosial (Clinard dan Meier, 1979: 243). Hukum, yang
diundangkan oleh legislator dan dimodifikasi oleh keputusan pengadilan,
mendefinisikan tindak kejahatan dan perilaku melanggar dan
menyebutkan sanksi-sanksi yang akan diterapkan bagi yang
melanggar. Waktu demi waktu, terdapat pengandalan yang meningkat
dari hukum (an increasing reliance of law) untuk mengatur aktivitas-
aktivitas dan kehidupan dari masyarakat. Karena hukum telah
disebarluaskan untuk mencakup berbagai tipe perilaku, banyak
perubahan dalam hal hukuman untuk tipe-tipe kejahatan tertentu yang
telah terjadi (Packer, 1968). Peningkatan ini tidak bisa tidak akan
menghasilkan kontrol sosial yang lebih ketat dan perubahan lebih lanjut
dari metode-metode kontrol. Mengingat banyak perilaku lagi yang
didefinisikan sebagai tindak kejahatan, maka lebih banyak tindakan
yang menjadi perhatian polisi, pengadilan, dan sistem penjara.

Dalam literatur sosiologi, istilah “legislasi” digunakan untuk


menggambarkan proses dimana norma-norma dipindahkan dari level
sosial ke level legal / hukum. Tidak semua norma sosial menjadi
hukum; pada kenyataannya, hanya norma-norma tertentu yang
diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk hukum. Mengapa pelanggaran
terhadap norma-norma tertentu, namun tidak yang lainnya, dipilih untuk
dimasukkan ke dalam hukum pidana ? Austin T. Turk (1972) menjawab
bahwa ada kekuatan-kekuatan sosial yang terlibat di dalam legislasi dan
pembuatan dari norma-norma legal: kehormatan moral (moral
indignation), nilai tinggi terhadap keteraturan / kedamaian (a high value
on order), respons terhadap ancaman, dan taktik-taktik politik.

Seperti yang telah saya diskusikan di Bab sebelumnya, hukum mungkin


dibuat oleh tindakan ”pengusaha moral” (”moral entrepreneurs”) yang
menjadi marah karena beberapa praktek yang menurut mereka tidak
dapat dimengerti, misalnya merokok marijuana. Pihak yang lainnya lebih
suka keteraturan / kedamaian (order) dan bersikeras pada persyaratan-
persyaratan (provisions) untuk mengatur kehidupan dan membuat
masyarakat seteratur mungkin. Mereka mengajukan (promulgate)
hukum untuk menjamin keteraturan (order) dan keseragaman
(uniformity), seperti pada kasus regulasi lalu lintas. Beberapa orang
bereaksi terhadap ancaman yang riil atau imajiner dan menyarankan
adanya tindakan kontrol legal (legal control measures). Sebagai contoh,
banyak orang menganggap adanya benda-benda pornografi tidak hanya
salah secara moral, namun berkontribusi secara langsung terhadap
peningkatan kejahatan sex.

Dalam hal ini, sudah tentu orang-orang ini akan berusaha untuk
melarang secara hukum penjualan benda-benda pornografi ini. Sumber
lainnya dari legalisasi dari norma-norma adalah masalah politik, dimana
hukum pidana dibuat sesuai dengan minat kelompok-kelompok yang
berkuasa di dalam masyarakat. Sumber ini diindentifikasikan dengan
perspektif konlik yang dipunyainya seperti yang telah saya diskusikan di
bab-bab sebelumnya. Proses legalisasi norma-norma juga diikuti oleh
hukuman tertentu untuk jenis tertentu dari pelanggaran hukum pidana.
”Setiap sistem produksi cenderung untuk menemukan hukuman yang
berhubungan dengan hubungan produktifnya” (Rusche dan Kirchheimer,
1968:5). Michel Foucault (1977) mengatakan bahwa sebelum revolusi
industri, kehidupan terbilang murah dan individu-individu tidak
mempunyai nilai utilitas atau nilai komersial yang diberikan kepada
mereka pada suatu ekonomi industri. Dalam hal ini, hukuman sangatlah
berat (severe) dan sering tidak berhubungan sama sekali dengan sifat
dari kejahatan itu sendiri (misalnya, hukuman mati untuk pencurian
ayam). Ketika banyak pabrik bermunculan, nilai dari individu-individu
dalam kehidupan, bahkan para pelaku kejahatan, mulai ditekankan.
Dimulai di akhir abad kedelapanbelas dan permulaan abad
kesembilanbelas, usaha-usaha telah dilakukan untuk menghubungkan
sifat dari hukuman tertentu dengan sifat dari kejahatan yang
dilakukannya.

Mencocokkan hukuman dengan tindak kejahatan yang dilakukan adalah


pekerjaan yang sulit dan kadang-kadang kontroversial. Definisi tindak
kejahatan dan hukumannya sangat beragam dari waktu ke waktu dan
dari satu masyarakat ke masyarakat yang lainnya. Dalam suatu
demokrasi, kekuasaan untuk mendefinisikan tindak kejahatan dan
hukumannya terletak pada warganegara (citizenry). Kekuasaan ini
umumnya didelegasikan ke perwakilan yang dipilih. Statutanya
seringkali sangat luas dan tergantung kepada berbagai interpretasi.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, perundangan legislatif
membolehkan hakim, jaksa, dan juri untuk mempunyai fleksibilitas dan
diskresi yang luas dalam mengkaji kesalahan dan tahap-tahapan
hukumannya.

b. Kontrol Sosial Formal untuk Penyimpang : Komitmen Sipil

Kontrol formal dari perilaku menyimpang tidak terbatas kepada sanksi-


sanksi kriminal. Ada berbagai macam bentuk kontrol sosial berupa
hukum yang beroperasi secara luas di masyarakat Amerika – yang
disebut komitmen sipil (Forst, 1978:1). Komitmen sipil adalah proses
nonkriminal, yang menempatkan (commits) individu-individu yang cacat
(disabled) atau kalau tidak tergantung (karena cacatnya), tanpa
sepengetahuan mereka, ke lembaga-lembaga negara untuk
pemeliharaan, perlakuan, atau perwalian (custody), namun bukan
penghukuman (punishment). Hal itu didasarkan kepada 2 prinsip hukum
: 1) hak dan kewajiban negara untuk melindungi (to assume
guardianship) individu-individu yang menderita cacat (disability); dan 2)
kekuasaan polisi di dalam batasan-batasan konstitusi untuk mengambil
langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi masyarakat. Secara
prosedur, komitmen sipil berbeda dengan komitmen pidana (criminal
commitment). Pada komitmen sipil jaminan prosedur-prosedur tertentu
tidak ada, seperti hak diadili oleh juri, yang meliputi menghadirkan saksi-
saksi yang melawan terdakwa, atau untuk menghindari kesaksian
melawan seseorang. Selain itu, kutukan moral formal dari komunitas
bukan merupakan issue dalam komitmen sipil. ” Situasi ini bisa timbul
jika perilaku itu disengaja tapi tidak secara moral patut untuk
dipersalahkan, seperti di gugatan perdata untuk adanya kerusakan /
kerugian (damages), kecacatan mental, dimana tindak kriminal (criminal
culpability) disebarkan atau dinegasikan. Di kasus yang terakhir, issue
perdata bukan merupakan ”perilaku” seseorang tapi ”status”nya” (Forst,
1978:3). Dalam pandangan ini, pecandu heroin, cacat mental, atau
pelanggar sex tidak harus bertanggung jawab terhadap aksinya.
Konsensus umum adalah bahwa individu-individu pantas mendapatkan
perawatan, bukan hukuman, walaupun perawatan itu akan berakibat
pada pemasungan kebebasannya di suatu lembaga perawatan mental
tanpa adanya proses hukum.
Di Amerika Serikat, sekitar 1 dari 12 orang akan melewatkan sebagian
waktu hidupnya di lembaga-lembaga perawatan mental (mental
institutions). Di suatu hari pada suatu tahun, sekitar setengah juta orang
Amerika dirawat di bangsal-bangsal perawatan mental; bahkan, sekitar
setengah tempat tidur di rumah sakit Amerika dihuni oleh orang yang
menderita cacat mental. Namun komitmen sipil untuk sakit mental dan
ketidakmampuan adalah hanya salah satu dari tipe-tipe komitmen sipil
yang digunakan untuk mengontrol perilaku menyimpang. Tipe-tipe
lainnya seperti pengebirian (incarceration) anak-anak nakal (juveniles) di
sekolah-sekolah pelatihan atau rumah-rumah tahanan; komitmen
terhadap pecandu berat alkohol atau pelanggar yang berhubungan
dengan alkohol; komitmen terhadap pecandu narkoba; dan
pemasyarakatan (institutionalization), melalui hukum perdata, dari para
pelanggar sex (umumnya disebut psikopat seksual, orang-orang yang
berbahaya secara seksual, atau pelanggar seksual cacat mental).
Martin L. Forst (1978:7) menyebut bahwa berbagai tipe komitmen sipil
”merupakan salah satu dari bentuk-bentuk utama dari kontrol sosial
melalui hukum di masyarakat Amerika”. Dia lebih lanjut menyebutkan
bahwa bentuk kontrol sosial seperti ini lebih ekstensif / manjur daripada
kontrol sosial melalui komitmen pidana tradisional.

Para profesional kesehatan mental, khususnya psikiatris, mempunyai


kekuasaan besar dengan menempatkan individu-individu ke lembaga-
lembaga perawatan tanpa jaminan pengadilan. Sebagai contoh, Thomas
S. Szasz (1965: 85-143) menggambarkan kasus dari operator pompa
bensin di kota Syracuse, negara bagian New York yang telah ditekan
oleh pengembang real estate untuk menjual tanahnya sehingga sebuah
pusat perbelanjaan dapat dibangun di lokasi tersebut. Ketika
pengembang ingin mendirikan papan tanpa dari properti tersebut,
pemilik pompa bensin yang marah memberi tembakan peringatan ke
udara. Dia ditahan tetapi tidak pernah dibawa ke pengadilan. Dengan
rekomendasi oleh jaksa penuntut, operator tersebut diperintahkan untuk
menjalani pemeriksaan psikiatris untuk menentukan bahwa ia cukup
sehat untuk menghadapi pengadilan. Dia diputuskan tidak mampu
(untuk mengendalikan dirinya sendiri) sehingga dimasukkan ke dalam
rumah sakit jiwa. Setelah 10 tahun di rumah sakit jiwa, ia telah
menjalani masa hukuman yang lebih lama daripada ia diadili dan
dinyatakan bersalah.

Dalam arena hukum, penyebab perilaku kriminal dan tanggung jawab


dari perilaku tersebut terletak pada individu-individu. Namun di suatu
sistem hukum yang mempercayai (posits) sebab-sebab individu
melakukan tindakan tertentu, muncul adanya komplikasi dalam usaha
untuk mengontrol individu-individu yang mengancam namun tidak
melanggar hukum. Salah satu cara untuk mengontrol individu seperti itu
adalah dengan mendefinisikannya sebagai sakit mental (mental
disorder). ”Definisi ini mempunyai efek kombinasi untuk mengurangi
irasionalitas terhadap perilaku tersebut dan memberi kontrol terhadap
individu-individu melalui cara-cara yang lunak (ostensibly benign), dan
bukan intervensi psikiatrik yang memaksa” (Greenaway dan Brickey,
1978: 139). Jadi, tidak mengherankan untuk menemukan bahwa
banyak rumah sakit jiwa negara merawat orang-orang yang telah
melakukan pelanggaran ringan (trivial misdemeanors) atau yang belum
didakwa melakukan tindak kejahatan apapun, namun telah dikirim ke
sana untuk keperluan ”observasi”. Polisi dan pengadilan menunjuk
individu-individu yang perilakunya ”aneh” untuk diperiksa psikiatris, dan
jika mereka menemukan bahwa orang tersebut ”gila” (insane), maka
mereka akan dirawat di rumah sakit jiwa tanpa persetujuan orang
tersebut untuk periode waktu yang lama, bahkan seumur hidup.

Penggunaan komitmen sipil sebagai bentuk kontrol sosial tidak hanya


terbatas di Amerika Serikat. Di Uni Soviet (dulu), sebagai contoh,
banyak pembangkang di tahun-tahun belakangan ini tidak dikirim ke
kamp konsentrasi di Siberia, tapi dikirim ke rumah sakit jiwa. Daftar
penyair, penulis, dan intelektual yang telah didefinisikan ”sakit jiwa” dan
bukan penjahat kriminal oleh penguasa Soviet, sangatlah panjang.
Psikiatris di Uni Soviet tidak sinis seperti yang kita pikirkan. Dengan
”realitas” mereka adalah Marxist-Leninist, ternyata banyak di antara
mereka yang berpikir bahwa orang-orang yang tidak beradaptasi
terhadap realitas dianggap mempunyai cacat psikologis dan harus
ditempatkan di lembaga pengasingan. Namun apakah mereka sadar
atau tidak tentang implikasi politis dari diagnosis mereka, psikiatris di
Uni Soviet telah memberi cap ”sakit jiwa” sebagai metode kontrol sosial.

Ada berbagai penjelasan tentang meningkatnya penggunaan komitmen


sipil sebagai mekanisme kontrol sosial. ”Ada beberapa mereka
(kriminologis positif) yang memandang peningkatan tersebut sebagai
pergeseran warisan (beneficial shift) dari penekanan tradisional tentang
menghukum orang untuk merehabilitasi mereka…Penjelasan lain dari
meningkatnya penggunaan komitmen sipil (pergeseran dari hukum
pidana) bahwa komitmen sipil berfungsi sebagai ganti dari, atau
merupakan pelengkap dari, hukum pidana untuk mengontrol secara
sosial bentuk tingkah laku yang tidak diinginkan
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam pembahasan ini di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa;

- Hukum sebagai alat kontrol sosial memberikan arti bahwa ia


merupakan sesuatu yang dapat menetapkan tingkah laku manusia

- Fungsi hukum sebagai sosial control dalam masyarakat dapat dibagi


menjadi dua yakni, kontrol sosial informal dan kontrol sosial formal

- Dalam menjalankan fungsi control, hukum harus memiliki sanksi agar


masyarakat harus menaati dan tidak melakukakkn pelanggaran agar
dapat terciptanya masyarakat yang teratur dan penuh keseimbangan

- Fungsi social control dari hukum, pada dasarnya memaksa warga


masyarakat agar berprilaku sesuai dengan hukum

B. Saran

Setelah melakuan tugas makalah yang berjudul Fungsi Hukum sebagai


Kontrol Sosial di masyarakat, penulis hendak member saran bahwa;

- Untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang harmonis maka penting


kiranya tiap angggota masyarakat harus menjadikan hukum sebagai alat
control yang efektif agar terciptanya sebuah tatanan sosial yang
harmonis

- Selain itu kita juga harus membiasakan diri hidup sesuai dengan nilai
dan norma yang dinut oleh masyarakat secara umum yang baik dan
bermanfaat, demi terciptanya keteraturan sosial dalam kehidupan
bermasyarakat

Penulis sangat menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat


banyak kekurangan, untuk itu kami mengharapkan adanya masukkan
untuk penyempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Zainuddin, Sosiologi Hukum, Sinar Grafika, 2009.
Arrasjid, Chainur, Dasar – Dasar Ilmu Hukum. Cetakan I. Jakarta: Sinar
Grafika, 2000.

Johnson, Alvin, Sosiologi Hukum, Rineka Cipta, 1994

Choiruddin, Sosiologi Hukum, Sinar Grafika; Jakarta 1991.

F. Budi Hardiman, Teori Sistem Niklas Luhmann: Sebuah Pengantar


Singkat, Jurnal Filsafat Driyarkara Tahun XXIX, no. 3 / 2008, Jakarta:
STF Driyarkara, 2008.

Soekanto Soerjono, Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum. Jakarta;


Rajawali Press,1982

Soekanto Soejono & Heri Tjandra, J.S. Roucek, Pengendalian Sosial


(seri pengenalan Sosiologi) Rajawali Press, Jakarta. 1987.

Soemitro Ronny Hanitijo, Masalah-masalah Sosiologi Hukum, Sinar


Baru, Bandung, 1984

Rahardjo Satjipto, Ilmu Hukum. Bandung;PT Citra Aditya Bakti