Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN IMUNOHEMATOLOGI

CROSSMATCH METODE GEL TEST DENGAN

MENGGUNAKAN 1 DONOR

Oleh : Kelompok 5

1. NI LUH KOMANG WEDAYANTI (P07134017 046)


2. NI MADE SUKMA WIJA YANTI (P07134017 058)
3. PUTU INDAH PUSPITA SARI (P07134017 078)
4. NI KADEK WINDAYANI (P07134017 08)
5. GUSTI AYU PUTERI SARASWATI (P07134017 085)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN ANALIS KESEHATAN

2018/2019
PEMERIKSAAN SILANG SERASI METODE GEL TEST DENGAN
MENGGUNAKAN 1 DONOR

Hari/Tanggal : Selasa, 15 Oktober 2019

Tempat : Laboratorium Hematologi Poltekkes Denpasar

I. TUJUAN
1) Tujuan Instruksional Umum
a. Untuk dapat mengetahui cara melakukan pemeriksaan uji silang serasi
(Crossmatching).
2) Tujuan Instruksional Khusus
a. Untuk dapat melakukan pemeriksaan uji silang serasi dengan metode Gel Test.
b. Untuk dapat mengetahui kecocokan antara darah donor dengan darah OS.

II. PRINSIP

Antibodi yang terdapat dalam serum bila direaksikan dengan antigen pada sel darah
merah melalui inkubasi pada suhu 37 ̊ C dan dalam waktu tertentu, dan dengan
penambahan anti monoglobulin akan terjadu reaksi aglutinasi.

III. METODE

Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode gel test.

IV. DASAR TEORI

Transfusi darah adalah proses pemindahan atau pemberian darah dari seseorang (donor)
kepada orang lain (resipien). Transfusi bertujuan mengganti darah yang hilang akibat
perdarahan, luka bakar, mengatasi shock dan mempertahankan daya tahan tubuh terhadap
infeksi. Reaksi silang (Crossmatch = Compatibility-test) perlu dilakukan sebelum melakukan
transfusi darah untuk melihat apakah darah penderita sesuai dengan darah donor (Plapp FV,
Beck ML. 2011).

Pelayanan transfusi darah adalah upaya pelayanan kesehatan meliputi perencanaan,


pengarahan dan pelestarian pendonor darah, penyediaan darah, pendistribusian darah dan
tindakan medis pemberian darah kepada pasien untuk tujuan penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan (Plapp FV, Beck ML. 2011). Pertimbangan utama dalam transfusi
darah, khususnya yang mengandung eritrosit, adalah kecocokan antigen-antibodi eritrosit.
Golongan darah AB secara teoritis merupakan resipien universal, karena memiliki antigen A
dan B di permukaan eritrositnya, sehingga serum darahnya tidak mengandung antibodi (baik
anti-A maupun anti-B). Golongan darah O secara teoritis merupakan donor universal, karena
memiliki antibodi anti-A dan anti-B. Potensi manfaat transfusi sel darah merah harus selalu
ditimbang terhadap potensi risiko setiap bentuk terapi. Tanggapan merugikan transfusi tidak
selalu dapat dihindari, hasilnya jauh lebih mungkin menjadi menguntungkan jika uji silang
serasi dilakukan sebelum transfuse (Goldfinger D, Lu Q. 2013).

Crossmatch merupakan pemeriksaan utama yang dilakukan sebelum transfusi yaitu


memeriksakecocokan antara darah pasien dan donor sehingga darah yang diberikan benar-
benar cocok dan supaya darah yang ditranfusikan benar-benar bermanfaat bagi kesembuhan
pasien. Pemeriksaan yang dilakukan sebelum transfusi bertujuan agar sel- sel darah yang
ditransfusikan dapat hidup di tubuh pasien dan tidak menimbulkan kerusakan pada sel darah
pasien. Uji crossmatch penting bukan hanya pada transfusi tetapi juga ibu hamil yang
kemungkinan terkena penyakit hemolitik pada bayi baru lahir (Bhatt JK.2016).

Potensi manfaat transfusi sel darah merah harus selalu ditimbang terhadap potensi risiko
setiap bentuk terapi. Tanggapan merugikan transfusi tidak selalu dapat dihindari, hasilnya
jauh lebih mungkin menjadi menguntungkan jika uji silang serasi dilakukan sebelum
transfuse. Pemeriksaan yang dilakukan sebelum transfusi bertujuan agar sel- sel darah yang
ditransfusikan dapat hidup di tubuh pasien dan tidak menimbulkan kerusakan pada sel darah
pasien (Setyati, 2010). Uji crossmatch penting bukan hanya pada transfusi tetapi juga ibu
hamil yang kemungkinan terkena penyakit hemolitik pada bayi baru lahir (Yuan, 2011).

Tahapan yang dilakukan pada uji crossmatch antara lain identifikasi contoh darah pasien
yang benar, mengecek riwayat pasien sebelumnya, memeriksa golongan darah pasien, darah
donor yang sesuai golongan darah pasien, pemeriksaan crossmatch, pelabelan yang benar
sebelum darah dikeluarkan (Bhatt JK.2016). Yves Lampiere dari Perancis menemukan
metode gel dan mengembangkan metode gel di Switzerland pada akhir 1985 sebagai metode
standar sederhana yang memberikan reaksi aglutinasi dan dapat dibaca dengan mudah.
Metode gel pertama kali digunakan untuk pemeriksaan rutin pada tahun 1988,saat ini telah
digunakan lebih dari 80 negara termasuk Indonesia. Prinsip pemeriksaan crossmatch metode
gel adalah penambahan suspensi sel dan serum atau plasma dalam microtube yang berisi gel
di dalam buffer berisi reagen (Anti-A, Anti-B, Anti-D, enzim, Anti-Ig G, Anti komplement).
Microtube selanjutnya diinkubasi selama 15 menit pada suhu 370C dan disentrifus.
Aglutinasi yang terbentuk akan terperangkap di atas permukaan gel. Aglutinasi tidak
terbentuk apabila eritrosit melewati pori-pori gel, dan akan mengendap di dasar microtube
(MJAFI, 2010).

Metoda gel merupakan metode untuk mendeteksi reaksi sel darah merah dengan
antibodi. Metode gel akan lebih cepat dan mempunyai akurasi tinggi dibandingkan dengan
metode tabung. Pemeriksaan crossmatch metode gel dapat dilakukan dengan metode semi
otomatis dan metode otomatis. Crossmatch metode semi otomatis adalah metode
pemeriksaan crossmatch menggunakan reagen gel, dimana tehnisi yang melakukan tahap
analitik adanya aglutinasi memberi hasil positif dan tidak adanya aglutinasi dinyatakan
negatif.

4+ : Aglutinasi sel darah merah membentuk garis di atas microtube gel.

3+ : Aglutinasi sel darah merah kebanyakan berada di atas setengah dari microtubegel.

2+ :Agutinasi sel darah merah terlihat di sepanjang microtube gel.

1+ : Aglutinasi sel darah merah berada di bawah setengah darimicrotube gel

Neg : Aglutinasi semua sel darah merah lolos di bagian bawah microtube gel.

V. ALAT DAN BAHAN

Alat Bahan

1. ID Centrifuge 1. Serum/plasma OS dan DN


2. ID Incubator 2. Sel darah merah 100% OS
3. Sel darah merah 100% DN
3. Micropipet 4. ID LISS/Coomb’s Card
5. ID diluent
4. Rak Tabung
5. Tabung Serologis
6. Label

VI. CARA KERJA


a. Pembuatan suspense sel darah merah OS 1%
1. Tabaung serologi disiapkan dan diberi label
2. Dimasukkan 500 µl ID Diluent
3. Ditambahkan 5 µl suspense sel 100% pasien
4. Dihomogenkan
b. Pembuatan sel darah merah DN 1%
1. Tabung serologi disiapkan dan diberi label
2. Dimasukkan 500 µl ID Diluent
3. Ditambahkan 5 µl suspense sel 100% donor
4. Dihomogenkan
c. Crossmatching metode gel test
1. Mikrotube 1 (Mayor tes) :
Dengan mikropipet dimasukkan 50 µl sel donor suspense 1% dan dengan
mikropipet ditambahkan 25 µl serum pasien.
2. Mikrotube 2 (Minor tes) :
Dengan mikropipet dimasukkan 50 µl sel pasien suspense 1% dengan
mikropipet ditambahkan 25 µl serum donor.
3. Mikrotube 3 (Auto Control) :
Dengan mikropipet dimasukkan 50 µl sel pasien suspense 1% dan dengan
mikropipet ditambahkan 25 µl serum.
4. Diinkubasi pada ID Inkubator pada suhu 370C selama 15 menit.
5. Diputar dalam ID Sentrifuge dengan kecepatan 1030 rpm selama 10 menit
(sudah diatur pada alat).
6. Hasil reaksi dibaca secara makroskopis.
7. Pembacaan hasil :
 Tidak hemolisis/aglutinasi : cocok/compatible. Darah boleh diberikan
kepada pasien.
 Terjadi hemolisis/aglutinasi : tidak cocok/incompatible. Darah tidak
boleh diberikan kepada pasien.

VII. INTERPRETASI HASIL

Negative : Seluruh sel menembus/melewati gel dan membentuk endapan pada bagian
dasar mikrotube.

Positif 1 : Seluruh sel beraglutinasi dalam media gel dan kepekatan aglutinasi dapat
berpusat pada bagian dasar mikrotube.

Positif 2 : Seluruh sel beraglutinasi dalam media gel dan aglutinasi dapat dilihat
memanjang pada seluruh bagian mikrotube.

Positif 3 : Seluruh sel beraglutinasi dalam media gel dan kepekatan aglutinasi terlihat
hampir/mendekati bagian permukaan atas mikrotube.
Positif 4 : Seluruh sel beraglutinasi dalam media gel dan letak aglutinasi terdapat pada
permukaan atas mikrotube (lapisan atas mikrotube).

Mix Field : Sebagian sel beraglutinasi dan terdapat pada bagian atas mikrotube, sebagian
lagi terletak pada dasar mikrotube mengendap tak beraglutinasi.

VIII. HASIL PENGAMATAN


a. Identitas Probandus
1. Nama probandus : Kadek Kadik Purtamiati
2. Jenis kelamin : Perempuan
3. Umur : 20 th.
b. Identitas Donor
1. Nama Donor : Ni Luh Komang Wedayanti
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Umur : 20 th

c. Hasil
Mayor Minor Auto Control Kesimpulan Dokumentasi

Tidak
Kompatibel

+2 +1 Negatif

IX. PEMBAHASAN
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup (kecuali tumbuhan)
tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan
tubuh serta mengangkut bahan-bahan makanan. Darah adalah cairan khusus di dalam tubuh
yang memberikan atau menghantarkan zat yang diperlukan ke sel-sel tubuh seperti nutrisi,
oksigen dan juga sebagai jalur transportasi untuk membuang produk dari sel yang sudah
terpakai. Darah adalah cairan tubuh yang paling penting untuk mengatur fungsi vital dari
tubuh seperti respirasi, sirkulasi, ekskresi, osmotic keseimbangan dan transportasi zat
metabolisme. Sirkulasi darah di dalam sistem kardiovaskular sangat penting untuk
transportasi gas, nutrisi, mineral, produk metabolisme dan hormon antara organ yang
berbeda. Jika tubuh kekurangan banyak darah, tubuh bisa kekurangan oksigen, sel pembentuk
antibody dan juga protein (Vinutha H Reddy, 2014).
Transfusi darah adalah transfer darah atau komponen darah dari satu orang (donor) ke
aliran darah orang lain (penerima). Pengujian pretransfusi adalah proses multistep yang
bertujuan menghindari reaksi transfusi hemolitik yang berpotensi fatal. Proses dimulai di
bangsal klinis dengan identifikasi penerima yang dituju dan pengumpulan sampel darah yang
berlabel dengan benar. Ketika sampel dan daftar permintaan diterima di laboratorium
transfusi, staf bank darah meninjau riwayat transfusi penerima dan melakukan setiap
pengujian yang diperlukan jika ada pesanan. Pretransfusion compatibility test atau disebut
uji/tes kompatibilitas pretransfusi merupakan elemen yang sangat penting dari seluruh proses
transfusi untuk meningkatkan keamanan transfusi vena-ke-vena. Pengujian pretransfusi
dilakukan untuk mencegah transfusi sel darah donor yang tidak kompatibel yang dapat
menyebabkan reaksi transfusi hemolitik yang dimediasi oleh sistem imun. Pengelompokan
darah ABO dan Rh penerima dan donor, dan crossmatching antara donor dan penerima pada
fase indirect antiglobulin (IAT) yang berfungsi untuk mendeteksi antibodi yang signifikan
secara klinis merupakan langkah integral dari pengujian kompatibilitas (Downes & Shulman,
2011; Carlson, 2011).
Uji cocok serasi atau yang lebih sering disebut crossmacthing memiliki beberapa
sinonim antara lain uji silang serasi atau uji kompatibilitas. Crossmacthing dilambangkan
dengan XM. Istilah uji kompatibilitas sebenarnya kurang tepat apabila disamakan dengan
crossmacthing. Crossmacthing dan uji kompatibilitas memang identik, tetapi memiliki
pengertian yang berbeda. Crossmacthing adalah suatu prosedur untuk mereaksi silangkan
komponen darah donor dan pasien. Uji kompatibilitas adalah semua tahapan yang harus
dilakukan sehingga diperoleh darah donor yang benar-benar tepat untuk pasien. Uji
kompatibilitas meliputi: identifikasi pasien dengan akurat, pengambilan sampel darah pasien
diikuti dengan pelabelan dan penanganan sampel yang benar, mereview riwayat pemberian
transfusi sebelumnya, melakukan pemeriksaan golongan darah sistem ABO dan Rhesus,
melakukan skrining dan identifikasi antibodi, melakukan crossmatching, mengecek ketepatan
dan kelayakan distribusi produk darah, melakukan reindentifikasi pasien sebelum transfusi,
dan memonitoring pasien sebelum, selama dan setelah pemberian transfusi (Blaney and
Howard, 2013).
Crossmatch terkadang juga dilakukan pada kondisi khusus seperti Crossmatching
pada darah autologous. Darah autologous adalah darah yang didonorkan oleh pasien untuk
digunakan sendiri di kemudian hari, umumnya dilakukan pada kasus-kasus pembedahan
berencana. Pada kondisi ini, dibutuhkan prosedur untuk meyakinkan bahwa produk darah
diberikan pada pasien yang tepat. Jenis uji pratransfusi yang dilakukan bervariasi tergantung
fasilitas yang ada (Blaney and Howard, 2013). Pemeriksaan yang biasanya harus dilakukan
adalah uji golongan darah ABO dan Rhesus. Unit darah harus dilabel “hanya untuk
penggunaan autologous”. Pemeriksaan terhadap unexpected antibodies dan crossmatching
pada transfusi autologous bersifat opsional (Zundel, 2012).
Crossmatching pada bayi berusia < 4 bulan. Bayi berusia kurang dari 4 bulan, belum
mampu memproduksi antibodi dengan baik. Antibodi yang terdeteksi dalam sirkulasi
umumnya berasal dari antibodi ibu. Umur 4-6 bulan, bayi mulai mampu memproduksi
antibodi dengan baik. Uji pratransfusi awal pada bayi harus menyertakan pemeriksaan
golongan darah ABO dan Rhesus. Karena antibodi ABO belum terbentuk sempurna,
pemeriksaan serum grouping untuk sistem ABO tidak perlu dilakukan. Skrining antibodi
perlu dilakukan baik terhadap sampel darah ibu maupun bayi. Jika antibodi yang bermakna
secara klinis ditemukan, maka transfusi membutuhkan komponen darah dengan kandungan
antigen negatif (Blaney and Howard, 2013).
Crossmatching pada komponen noneritrosit. Uji pratransfusi untuk komponen plasma
sebenarnya tidak rutin dibutuhkan, tetapi untuk transfusi dengan volume plasma yang besar,
96 crossmatching antara plasma donor dan eritrosit pasien dapat dilakukan, meskipun standar
terkini tidak mengharuskan untuk dilakukan crossmatching. Tujuan utama dari pemeriksaan
tersebut adalah untuk mendeteksi inkompatibilitas ABO antara donor dan pasien, dalam hal
ini immediate spin crossmatch cukup untuk dilakukan (Stoe, 2011; Zundel, 2012).
Pada praktikum ini uji crossmatch dilakukan dengan metode gel test. Prinsip dari uji
ini adalah kabalikan dari uji tabung reaksi, serum dan reaksi sel berlangsung di sebuah
mikrotube. Enam dari mikrotubes semacam itu tertanam dalam kartu plastik untuk
memudahkan penanganan, pengujian, pembacaan dan pembuangan ( Malyska H, 2010).
Saat ini metode column agglutination test atau yang lebih umum disebut gel test telah
digunakan secara luas menggantikan metode manual atau tube test. Metode gel test memiliki
banyak kelebihan dibandingkan metode tabung. Selain menghemat waktu pemeriksaan,
prosedur tes juga lebih sederhana dan pembacaan hasil lebih mudah dilakukan. Tidak ada
proses pencucian dan penambahan CCC. Berikut akan dibahas salah satu prosedur
pemeriksaan gel test yang banyak digunakan. Prinsipnya adalah sejumlah volume suspensi
sel darah merah dan serum atau plasma dari donor dan pasien dimasukkan ke dalam
microtube diikuti oleh proses inkubasi dan sentrifugasi. Tahap inkubasi akan memberi
kesempatan antigen pada permukaan sel darah merah berikatan dengan antibodi pada serum
atau plasma sehingga membentuk aglutinasi. Pada tahap sentrifugasi, sel yang beraglutinasi
kuat akan tertangkap pada bagian atas matrik gel sedangkan sel yang beraglutinasi lemah
akan pindah ke bagian bawah matrik gel. Bila aglutinasi tidak terjadi maka semua sel akan
mengendap ke bagian bawah matrik gel (McCullough, 2012; Walker and Harmening, 2012 ).
Hasil crossmatch dilaporkan berdasarkan derajat atau seberapa kuat reaksi aglutinasi
yang terjadi. Derajat aglutinasi pada gel tes dinilai dari 1+ sampai 4+ dan reaksi mixed-field.
Aglutinasi 4+ ditandai oleh mengelompoknya seluruh sel darah merah pada permukaan
microtube dan tidak ada eritrosit disepanjang microtube atau di bagian bawahnya. Reaksi 3+
ditunjukkan oleh sebagian besar sel darah merah berada pada permukaan gel dan beberapa
mulai turun ke bagian bawah gel. Reaksi 2+, eritrosit terdistribusi disepanjang microtube.
Reaksi 1+, mayoritas eritrosit mengendap pada dasar gel dan sebagian kecil naik ke bagian
atas gel. Pada reaksi negatif seluruh eritrosit berada pada bagian bawah gel. Pada reaksi yang
mixed field, sebagian eritrosit ada dipermukaan gel dan sebagian mengendap pada dasar gel.
Eritrosit yang ada dipermukaan gel adalah eritrosit yang mengalami aglutinasi, sedangkan
eritrosit yang mengendap di dasar gel adalah eritrosit yang tidak mengalami aglutinasi.
Hemolisis dinilai sebagai ada (+) atau tidak ada (-) berdasarkan perubahan warna merah
larutan dalam ruang di bagian atas gel (Walker and Harmening, 2012).
Pada praktikum crossmatch lebih dari 1 donor metode gel test pada tanggal 14
Oktober 2019 digunakan darah probandus atas nama Kadik Purtamiati (20th/P) dan sebagai
donor 1 atas nama Wedayanti (20th/P) dan donor 2 atas nama Devi Dana (20th/p).
Didapatkan hasil pada mikrotube mayor 1 dengan hasil 2+, mikrotube mayor 2 dengan hasil
1+ hal ini menunjukkan hasil yang inkompatibel berarti darah pendonor tidak dapat
ditransfusikan ke pasien. Terdapat berbagai hal yang menyebabkan hasil inkompatibel , salah
satunya adalah gel yang digunakan ternyata sudah lewat dari Expired Date. Selain itu suhu
penyimpanan gel yang terlalu panas , jadi gel tersebut menjadi kering.
Beberapa penyebab hasil positif pada crossmatch mayor antara lain: (Makroo, 2009; Zundel,
2012)
1. Kesalahan golongan darah ABO pada pasien atau donor.
Pada kondisi ini, pemeriksaan golongan darah harus segera diulang, khususnya
jika hasil menunjukkan reaksi kuat dan dijumpai setelah immediate spin. Pengulangan
pemeriksaan dilakukan menggunakan sampel pasien yang sama dengan pemeriksaan
pertama dan sampel donor diambil langsung dari kantong darahnya.
2. Adanya alloantibodi pada serum pasien yang bereaksi dengan antigen yang terdapat
pada sel darah merah donor.
 Jika sel darah merah donor yang dites inkompatibel dengan serum pasien dan
antibodi skrining juga positif, mengindikasikan adanya antibodi yang
mengaglutinasi 97 antigen dari insiden yang tinggi atau antibodi multipel.
 Jika skrining antibodi negatif dan hanya satu unit donor yang inkompatibel,
mengindikasikan adanya antibodi pada serum pasien yang mengaglutinasi antigen
sel darah merah donor dengan insiden yang rendah.
 Jika skrining antibodi negatif, tetapi serum pasien kemungkinan menggandung
antibodi misal anti A1 , periksa kembali serum grouping pasien dan konfirmasi
ada tidaknya anti A1 dengan menggunakan sel yang sudah diketahui mengandung
antigen A1
3. Adanya autoantibodi pada serum pasien yang bereaksi dengan antigen sel darah
donor. Pada kasus ini autokontrol akan positif. Skrining antibodi pada serum pasien
akan menunjukkan hasil positif. Salah satu teknik yang bisa ditempuh untuk
menghilangkan autoantibodi pada serum pasien adalah teknik autoadsorpsion.
Pemeriksaan crossmatch dilakukan setelah teknik autoadsorpsion.
4. Sel darah merah donor di coated dengan protein yang dapat memberikan hasil
crossmatch yang inkompatibel.
5. Terdapat masalah pada serum pasien, misalnya pada pasien dengan multiple myeloma
dan makroglobulinemia dapat menghasilkan rouleaux formation. Rouleaux biasanya
akan bertambah kuat pada inkubasi 37 o C dan tidak bertahan setelah pencucian
sebelum penambahan Anti Human Globulin (AHG). Rouleaux dapat ditangani dengan
salin replacement technique.
6. Adanya kontaminasi dalam sistem pemeriksaan. Kontaminasi dapat berasal dari
tabung gelas yang kotor, kontaminasi bakteri pada sampel, kontaminasi salin oleh
bahan kimia atau bahan lain dan adanya bekuan fibrin pada sampel

Tahapan yang dilakukan pada uji crossmatch antara lain identifikasi contoh darah
pasien yang benar, mengecek riwayat pasien sebelumnya, memeriksa golongan darah pasien,
darah donor yang sesuai golongan darah pasien, pemeriksaan crossmatch, pelabelan yang
benar sebelum darah dikeluarkan (Prasun Bhattacharya. 2018).
Fungsi crossmatch adalah :
1. Mengetahui ada tidaknya reaksi antara darah donor dan pasien
sehingga menjamin kecocokan darah yang akan ditranfusikan bagi pasien.
2. Mendeteksi antibodi yang tidak diharapkan dalam serum pasien
yang dapat mengurangi umur eritrosit donor/ menghancurkan eritrosit donor.
3. Cek akhir setelah uji kecocokan golongan darah ABO (Yuan,
2011).
Golongan darah ABO pasien dan donor jika sesuai, baik mayor maupun minor test
tidak bereaksi. Golongan darah pasien dan donor berlainan umpamanya donor golongan
darah donor O dan pasien golongan darah A maka pada test minor akan terjadi aglutinasi.
Mayor crossmatch merupakan tindakan terakhir untuk melindungi keselamatan penerima
darah dan sebaiknya dilakukan demikian sehingga complete antibodies maupun incomplete
Antibodies. Reaksi silang yang dilakukan hanya pada suhu kamar saja, tidak dapat
mengesampingkan aglutinin rhesus yang hanya bereaksi pada suhu 37oC (Fatih Demirkan.
2013).
DAFTAR PUSTAKA

Bhatt JK, Patel TR, Gajjar MD, Solanki MV, Bhatnagar NM, Shah SD. Evaluation of

incompatible crossmatch at blood bank of a tertiary care teaching hospital in Western

India. Pathol Lab Med. 2016;7(1)

Blaney, K.D., Howard, P.R. 2013. Compatibility Testing. Basic&Applied Concepts of Blood

Banking and Transfusion Practices. Third Edition. United States: Elsevier Mosby.

p.188-201.

Downes, K.A., Shulman, I.A. 2014. Pretransfusion testing. In: Fung, M., Grossman, B.J.,

Hillyer, C.D., Westhoff, C.M. eds. Technical manual 18th edition. Bethesda, MD:

AABB. p. 367-390.

Fatih Demirkan. 2013. A New Method For Electronic Crossmatch: ABO /Rh Blood Group

Confirmation and Antibody Screening Concomitantly With Serologic Crossmatch

Goldfinger D, Lu Q. The incompatible crossmatch. 2013.

Malyska H, Weiland D. The gel test. Lab Med 2010; 25: 81-5.

McCullough, J. 2017. Laboratory Detection of Blood Groups and Provision of Red

Cells.Transfusion Medicine 4th Edition. UK: Wiley Blackwell. p. 210-241

Vinutha H Reddy. (2014). Automatic Red Blood Cell And Whit Blood Cell Counting For

Telemedicine System. International Journal of Research in Advent Technology .Volume

2, Issue 1, January 2014

Plapp FV, Beck ML. 2011. Transfusion support in the management of immune haemolytic

disorders. Clin Haematol. 2011;13:167–83. [PubMed] [Google Scholar]


Prasun Bhattacharya. 2018. An approach to incompatible cross-matched red cells: Our

experience in a major regional blood transfusion center at Kolkata, Eastern India.

Walker, P. S., Harmening, D. M. 2012. Other Technologies and Automation. Blood Groups

and Serologic Testing. Modern Blood Banking & Transfusion Practices 6th Edition.

Philadelphia: F.A Davis company. p. 273-285.

Yuan S, 2011, Pretransfusion Compatibility Testing

(http://pathology.ucla.edu/workfiles/Education/Transfusion

%20Medicine/Pretransfusion Compatibility -Testing.pdf).

Zundel, W. B. 2012. Pretransfusion Testing. Blood Groups and Serologic Testing. In:

Harmening, D.M. Modern Blood Banking & Transfusion Practices 6th Edition.

Philadelphia: F.A Davis company. p. 241-259.