Anda di halaman 1dari 13

I.

Kegiatan Praktikum 9 & 10 : Obat diuretik


II. Kompetensi Mata Kuliah : Mahasiswa mampu melakukan PIO
Obat Diuretik
III. Tujuan Mata Kuliah : Kegiatan praktikum bertujuan agar Anda dapat memahami dan
membedakan jenis obat diuretik sehingga dapat menjelaskan atau menginformasikan merk
yang beredar dan produsennya kepada masyarakat
IV. Dasar Teori :
A. Diuretik
Diuretika adalah obat-obatan yang menyebabkan suatu keadaan meningkatnya aliran urin.
Diuretika merupakan zat-zat yang dapat memperbanyak pengeluaran kemih melalui kerja
langsung terhadap ginjal. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian, pertama menunjukkan
adanya penambahan volume urin yang diproduksi dan yang kedua menunjukkan jumlah
pengeluaran zat-zat terlarut dan air (Setiabudi, 2007; Tjay dan Rahardja, 2007).
Fungsi utama diuretika adalah untuk memobilisasi cairan edema, yang berarti mengubah
keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel kembali menjadi normal
(Nafrialdi, 2009).
Proses diuresis dimulai dengan mengalirnya darah ke dalam glomeruli (gumpalan kapiler)
yang terletak di bagian luar ginjal (cortex). Dinding glomeruli inilah yang bekerja sebagai
saringan halus yang secara pasif dapat dilintasi air,m garam dan glukosa. Ultrafiltrat yang
diperoleh dari filtrasi dan mengandung banyak air serta elektrolit ditampung di wadah, yang
mengelilingi setiap glomerulus seperti corong (kapsul Bowman) dan kemudian disalurkan ke
pipa kecil. Di sini terjadi penarikan kembali secara aktif dari air dan komponen yang sangat
penting bagi tubuh, seperti glukosa dan garam-garam antara lain ion Na+. Zat-zat ini
dikembalikan pada darah melalui kapiler yang mengelilingi tubuli.sisanya yang tak berguna
seperti ”sampah” perombakan metabolisme-protein (ureum) untuk sebagian besar tidak diserap
kembali. Akhirnya filtrat dari semua tubuli ditampung di suatu saluran pengumpul (ductus
coligens), di mana terutama berlangsung penyerapan air kembali. Filtrat akhir disalurkan ke
kandung kemih dan ditimbun sebagai urin.
Diuretik diklasifikasikan berdasarkan tempat kerjanya (diuretik loop), khasiat (high-ceiling
diuretic), struktur kimia (diuretik tiazid), kesamaan kerja dengan diuretik lain (diuretik mirip
tiazid), efek terhadap ekskresi kalium (diuretik hemat kalium), dll (Jackson, 2008). Dalam
penggunaan klinisnya, obatobatan diuretik diindikasi untuk hipertensi, gagal jantung, gagal
ginjal, diabetes insipidus nefrotik, hiperkalemia, glaukoma, dan sebagainya (Harlan, 2011).
Efek samping dari obat-obat diuretik sangat banyak, terutama untuk dosis jangka panjang.
Furosemid yang merupakan diuretik kuat bekerja menghambat reabsorpsi elektrolit natrium,
kalium, dan klorida mempunyai efek samping gangguan cairan dan elektrolit, hipersensitivitas,
efek metabolik, dan ototoksisitas. Acetazolamide bekerja menghambat reabsorpsi bikarbonat,
hidrogen, dan Natrium mempunyai efek samping parastesi dan kantuk terus menerus,
hipersensitivitas, dan disorientasi mental pada pasien sirosis hepatis. Tiazid bekerja menghambat
reabsorpsi natrium klorida, dalam dosis tinggi dapat menyebabkan efek samping berupa
gangguan elektrolit, hiperkalsemia, hiperurisemia yang biasanya terjadi pada pasien gout artritis.
Spironolakton bekerja sebagai reabsorpsi natrium dan kalium mempunyai efek samping
hiperkalemia, ginekomastia, bahkan gangguan saluran cerna (Nafrialdi, 2009).
B. Obat-Obat Diuretik
1. Indikasi

1
Deuretik digunakan untuk menurunkan volume dan cairan interstisialdengan cara yang
meningkatkan ekskresi natrium klorida dan air. Bila deuretik diberikan secar akut, akan terjadi
kehilangan natrium lebih banyak daripada jumah natrium yang masik dan makanan. Tetapi pada
penggunaaan kronis akan dicapai keseimbangan, sehingga natrium yang keluar sama dengan diet
rendah garam.
2. Keadaan yang memerlukan diuresis cepat
Pada udem paru, pemberian furosemid atau asam etakrinat IV dapat menyebabkan dieresis
cepat. Perbaikan yang terjadi sebagian mungkin disebabkan oleh adanya perubahan hemodiamik
yaitu perubahan pada daya tamping vena (venous capacintance); tetapi efek duresisnya tetap
diperlukan untuk mempertahnkan hasil tersebut.
a. Udem
Semua diuretic dapat digunakan untuk keadaan udem. Seringkalii udem ini disertai
hiperaldonsteronisme dan karena itu penggunaan deeuretika cenderung disertai kehilangan
kalium. Penyebab utama uden adalah payah jantung ; penyebab lainnya antara lain penyakit hati
dan sindrom nefrotik. Pada semua keadaan ini harus diusahakan meningkatkan kadar kalium
dalam serumdengan pemberian suplemen kalium atau dengan penggunaan bersama deuretik
hemat kalium. Pada penderita sirosis hati yang disertai asites dan udem, sebaiknya digunakan
dahulu diuretic hemat kalium, kemudian disusul dengan diuretic yang lebih kuat. Pada udem
yang disertai gagal ginjal penggunaan tiazid kurang bermanfaat, sebaliknya diuretic kuat sangat
bermanfaat. Dalam hal ini perlu dosis besar untuk mendapatkan efek pada tubuli proksimal;
furosemid lebih disukai dibandingkan dengan asam etakrinat karena asam etakrinat lebih besar
atotoksisitasnya. Diuretic hemat kalium sama sekali tidak boleh diberikan pada gagal
ginjal,karena ada bahaya terjadi karena hiperkalemia yang fatal.
b. Hipertensi
Dasar penggunaan diuretic pada hipertensi terutama karena efeknya terhadap keseimbangan
natrium dan terhadap resistensi perifer.
Furosemid dan asam etakrinat mempunyai natriuresus lebih kuat disbanding dengan tiazid;
tetapi keduanya tidak mempunyai efek fasedilatasi arteriol langsung seperti tiazid. Oleh karena
itu tiazid terpilih untuk pengobatan hipertensi berdasarkan pertimbangan efektivitas maupun
besarnya biaya.
c. Diabetes Insipidus
Diuretic tiazid dapat mengurangi ekskresi air pada penderita diabetes insipidus mungkin
sekali melalui mekanisme konpensasi intrarenal

d. Batu Ginjal
Tiazid menurunkan ekskresi kalium dalam urin. Hal ini munkin sebagai akibat adanya
konpensasi intrarenal yang menyebabkan reabsorpsi kasium ditubuli proksimal bertambah atau
akibat adanya pengmambatan lamgsung sekresi kalsium.
e. Hiperkalsemia
Furosemid dosis tinggi yang diberikan secara IV (100 mg) dalam infuse larutan angaram
faal dapat menhambat reabsorpsi latihan, air dan kalsium di tubuli proksimal sehingga digunakan
untuk pengobatan hiperkalsemia.

3. Penggolongan Obat Diuretik


a. DIURETIK OSMOTIK

2
Istilah diuretik osmotik biasanya dipakai untuk zat bukan elektrolit yang mudah dan cepat
diekskresi oleh ginjal.
Diuresis osmotik merupakan zat yang secara farmakologis lembam, seperti manitol (satu
gula). Diuresis osmotik diberikan secara intravena untuk menurunkan edema serebri atau
peningkatan tekanan intraoukular pada glaukoma serta menimbulkan diuresis setelah overdosis
obat. Diuresis terjadi melalui “tarikan” osmotik akibat gula yang lembam (yang difiltrasi oleh
ginjal, tetapi tidak direabsorpsi) saat ekskresi gula tersebut terjadi. Diuretik osmotik mempunyai
tempat kerja :
- Tubuli proksimal
Diuretik osmotik ini bekerja pada tubuli proksimal dengan cara menghambat reabsorpsi
natrium dan air melalui daya osmotiknya.
- Ansa enle
Diuretik osmotik ini bekerja pada ansa henle dengan cara menghambat reabsorpsi natrium
dan air oleh karena hipertonisitas daerah medula menurun.
- Duktus Koligentes
Diuretik osmotik ini bekerja pada Duktus Koligentes dengan cara menghambat reabsorpsi
natrium dan air akibat adanya papillary wash out, kecepatan aliran filtrat yang tinggi, atau
adanya faktor lain.
Dengan sifat-sifat ini, maka diuretik osmotik dapat diberikan dalam jumah cukup besar
sehingga turut menentukan derajat osmolaritas plasma filtrat glomerulus dan cairan tubuli.
Contoh golongan obat ini adalah manitol, urea, gliserin, isosorbid.
a) Manitol
Manitol paling sering digunakan diantara obat ini, karena manitol tidak mengalami
metabolisme dalam badan dan hanya sedikit sekali direabsorpsi tubuli bahkan praktis
dianggap tidak direabsorpsi. Manitol harus diberikan secara IV, jadi obat ini tidak praktis
untuk pengobatan udem kronik. Pada penderita payah jantung pemberian manitol berbahaya,
kerana volume darah yang beredar meningkat sehingga memperberat kerja jantung yang
telah gagal.
Diuretik osmotik terutama bermanfaat pada pasien oliguria akut akibat syok hipovolemik
yang telah dikoreksi, reaksi transfusi atau sebab lain yang menimbulkan nekrosis tubuli,
karena dalam keadaan ini obat yang kerjanya mempengaruhi fungsi tubuli tidak efektif.
Manitol digunakan misalnya untuk :
- Profilaksis gagal ginjal akut, suatu keadaan yang dapat timbul akibat operasi jantung, luka
traumatik berat, atau tindakan operatif dengan penderita yang juga menderita ikterus
berat.
- Menurunkan tekanan maupun volume cairan intraokuler atau cairan
serebrospinal.
 Efek Nonterapi
Manitol dapat menimbulkan reaksi hipersensitif. Manitol di distribusikan ke cairan ekstra
sel, oleh karena itu pemberian larutan manitol hipertonis yang berlebihan akan
meningkatkan osmolaritas cairan ekstraseluler, sehingga secara tidak diharapkan akan
terjadi penambahan jumlah cairan ekstraseluler.
 Sediaan
Manitol untuk suntikan intravena digunakan larutan 5-25% dengan volume antara 50-
1000ml. Dosis untuk menimbulkan diuresis adalah 50-200g yang diberikan dalam cairan
infus selama 24 jam dengan kecepatan infus sedemikian, sehingga diperoleh diuresis

3
sebanyak 30-50ml per jam. Untuk penderita dengan oliguria hebat diberikan dosis
percobaan yaitu 200mg/kgBB yang diberikan melalui infus selama 3-5 menit. Bila dengan
1-2 kali dosis percobaan diuresis masih kurang dari 30ml per jam dalam 2-3 jam, maka
status pasien harus di evaluasi kembali sebelum pengobatan dilanjutkan.
 Kontraindikasi
Manitol dikokntraindikasikan pada penyakit ginjal dengan anuria, kongesti atau udem paru
yang berat, dehidrasi hebat dan perdarahan intrakranial kecuali bila akan dilakukan
kraniotomi. Infus manitol harus segera dihentikan bila terdapat tanda-tanda gangguan fungsi
ginjal yang progresif, payah jantung atau kongesti paru.
b) Urea
Suatu kristal putih dengan rasa agak pahit dan mudah larut dalan air. Sediaan intravena
mengandung urea sampai 30% dalam dekstrose 5% (iso-osmotik) sebab larutan urea murni
dapat menimbulkan hemolisis. Pada tindakan bedah saraf, urea diberikan intravena dengan
dosis 1-1,5g/kgBB. Sebagai diuretik, urea potensinya lebih lemah dibandingkan dengan
manitol, karena hampir 50% senyawa urea ini akan direabsorbsi oleh tubuli ginjal.
Urea lebih bersifat iritatif terhadap jaringan dan dapat menimbulkan trombosis atau nyeri
bila terjadi eksravasasi.
c) Gliserin
Diberkan per oral sebelum suatu tindakan optalmologi dengan tujuan menurunkan tekanan
intraokuler. Efek maksimal terlihat 1 jam sesudah pemberian obat dan menghilang sesudah 5
jam.
Gliserin dimetabolisme dalam tubuh dan dapat menyebabkan hiperglikemia dan glukosuria.
d) Isosorbid
Diberikan secara oral untuk indikasi yang sama dengan gliserin. Efeknya juga sama, hanya
isosorbid menimbulkan diuresis yang lebih besar daripada gliserin, tanpa menimbulkan
hiperglikemia. Dosis berkisar antara 1-3g/kgBB, dan dapat diberikan 2-4 kali sehari.
b. PENGHAMBAT KARBONIK ANHIDRASI
Karbonik anhidrase adalah enzim yang terdapat di dalam sel korteks renalis, pankreas,
mukosa lambung, mata, eritrosit dan SSP, tetapi tidak terdapat dalam plasma.
Karbonik anhidrase merupakan protein dengan berat molekul kira-kira 30.000 dan
mengandung satu atom Zn dalam setiap molekul. Enzim ini dapat dihambat aktivitasnya
oleh sianida, azida, dan sulfida. Derivat sulfonamid yang juga dapat menghambat kerja
enzim ini adalah asetazolamid dan diklorofenamid.
a) Asetasolamid
Efek farmakodinamik yang utama dari asetozolamid adalah penghambatan karbonik
anhidrase secara nonkompetitif. Akibatnya terjadi perubahan sistemik dan perubahan
terbatas pada organ tempat enzim tersebut berada.
Farmakokinetk: Asetazolamid diberikan per oral.Asetozalamid mudah diserap melalui
saluran cerna, kadar maksimal dalam darah dicapai dalam 2 jam dan ekskresi melalui ginjal
sudah sempurna dalam 24 jam. Obat ini mengalami proses sekresi aktif oleh tubuli dan
sebagian direabsorpsi secara pasif. Asetazolamid terikat kuat pada karbonik anhidrase,
sehingga terakumulasi dalam sel yang banyak mengandung enzim ini, terutama sel eritrosit
dan korteks ginjal. Distribusi penghambat karbonik anhidrase dalam tubuh ditentukan oleh
ada tidaknya enzim karbonik anhidrase dalam sel yang bersangkutan dan dapat tidaknya
obat itu masuk ke dalam sel. Asetazolamid tidak dimetabolisme dan diekskresi dalam bentuk
utuh melalui urin.

4
Efek Nonterapi Dan Kontraindikasi
Intoksikasi asetazolamid jarang terjadi. Pada dosis tinggi dapat timbul parestesia dan kantuk
yang terus-menerus. Asetazolamid mempermudah pembentukan batu ginjal karena
berkurangnya ekskresi sitrat, kadar kalsium dalam urin tidak berubah atau meningkat.
Asetazolamid sebaiknya tidak diberikan selama kehamilan, kerena pada hewan cobra obat
ini dapat menimbulkan efek teratogenik.
Indikasi: Penggunaan asetazolamid yang utama ialah untuk menurunkan tekanan intraokuler
pada penyakit glaukoma.
Asetazolamid jarang digunakan sebagai diuretik, tetapi dapat bermanfaat untuk alkalinisasi
urin sehingga mempermudah ekskresi zat organik yang bersifat asam lemah.
Sediaan: Asetazolamid tersedia dalam bentuk tablet 125 mg dan 250 mg untuk pemberian
oral. Dosis antara 250-500 mg per kali, dosis untuk chronic simple glaucoma yaitu 250-
1000 mg per hari. Natrium asetazolamid untuk pemberian parenteral hendaknya diberikan
satu kali sehari, kecuali bila dimaksudkan untuk menimbulkan asidosis metabolik maka obat
ini diberikan setiap 8 jam.
Dosis dewasa untuk acute mountain sickness yaitu 2 kali sehari 250 mg, dimulai 3-4 hari
sebelum mencapai ketinggian 3000 m atau lebih, dan dilanjutkan untuk beberapa waktu
sesudah dicapai ketinggian tersebut.
Dosis untuk paralisis periodik yang bersifat familier (familial periodic paralysis) yaitu 250-
750 mg sehari dibagi dalam 2 atau 3 dosis, sedangkan untuk anak-anak 2 atau 3 kali sehari
125 mg.
b) Diklorofenamid
Diklorofenamid dalam tablet 50 mg, efek optimal dapat dicapai dengan dosis awal 200 mg
sehari, serta metazolamid dalam tablet 25 mg dan 50 mg dan dosis 100-300 mg sehari, tidak
terdapat dipasaran.
c. TIAZID
Zat yang aktif sebagai penghambat karbonik anhidrase, dalam dosis yang mencukupi,
memperlihatkan efek sama seperti asetazolamid dalam ekskresi bikarbonat. Efek
penghambatan enzim karbonik anhidrase di luar ginjal praktis tidak terlihat karena tiazid
tidak ditimbun di sel lain.
Pada penderita hipertensi, tiazid menurunkan tekanan darah bukan saja efek diuretiknya,
tetapi juga karena efek langsung terhadap arteriol sehingga terjadi vasodilatasi.
Farmakokinetik: Absorpsi tiazid melalui saluran cerna baik sekali. Umumnya efek obat
tampak setelah satu jam. Klorotiazid didistribusikan keseluruh ruang ekstrasel dan dapat
melewati sawar uri, tetapi obat ini hanya ditimbun dalam jaringan ginjal saja. Dengan suatu
proses aktif, tiazid diekskresi oleh sel tubuli proksimal kedalam cairan tubuli. Jadi bersihan
ginjal obat ini besar sekali, biasanya dalam 3-6 jam sudah diekskresi dari badan.
Bendroflumetiazid, politiazid, dan klortalidon mempunyai masa kerja yang lebih panjang
karena ekskresinya lebih lambat. Klorotiazid dalam badan tidak mrngalami perubahan
metabolik, sedang politiazid sebagian dimetabolisme dalam badan.
Efek Samping: Intoksikasi dalam klinik jarang terjadi, biasanya reaksi yang timbul
disebabkan oleh reaksi alergi atau karena penyakitnya sendiri.
Pada penggunaan lama dapat timbul hiperglikemia, terutama pada penderita diabetes yang
laten. Tiazid dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol dan trigliserid plasma dengan
mekanisme yang tidak diketahui, tetapi tidak jelas apakah ini meninggikan resiko terjadinya
aterosklerosis.

5
Indikasi : Tiazid merupakan diuretik terpilih untuk pengobatan udem akibat payah jantung
ringan sampai sedang. Ada baiknya bila dikombinasikan dengan diuretik hemat kalium pada
penderita yang juga mendapat pengobatan digitalis untuk mencegah timbulnya hipokalemia
yang memudahkan terjadinya intoksikasi digitalis. Hasil yang baik juga didapat pada
pengobatan tiazid untuk udem akibat penyakit hati dan ginjal kronis. Tiazid merupakan
salah satu obat penting pada pengobatan hipertensi, baik sebagai obat tunggal atau dalam
kombinasi dengan obat hipertensi lain.
Pemberian tiazid pada penderita gagal jantung atau hipertensi yang disertai gangguan fungsi
ginjal harus dilakukan dengan hati-hati sekali, karena obat ini dapat memperhebat gangguan
tersebut akibat penurunan kecepatan filtrasi glomerulus dan hilangnya natrium, klorida dan
kalium yang terlalu banyak. Pengobatan lama udem kronik dengan obat ini, hendaknya
diberikan dalam dosis yang cukup untuk mempertahankan berat badan tanpa udem.
Penderita jangan terlalu dibatasi makan garam.

Obat Sediaan Dosis (mg/hari) Lama


kerja jam
Klorotiazid Tablet 250 dan 500 mg 500-2000 6-12
Hidroklorotiazid Tablet 25 dan 50 mg 25-100 6-12
Hidroflumetiazid Tablet 50 mg 25-200 6-12
Bendroflumetiazid Tablet 2,5; 5 dan 10 mg 5-20 6-12
Politiazid Tablet 1,2 dan 4 mg 1-4 24-48
Bendztiazid Tablet 50 mg 50-200 6-12
Siklotiazid Tablet 2 mg 1-2 18-24
Metiklotiazid Tablet 2,5 dan 5 mg 2,5-10 24
Klortalidon Tablet 25, 50 dan 100 25-100 24-72
Kuinetazon mg 50-200 18-24
Indapamid Tablet 50 mg 2,5-5 24-36
Tablet 2,5 mg

d. DIURETIK HEMAT KALIUM


Yang tergolong dalam kelompok ini adalah antagonis aldosteron, triamteren dan
amilorid. Efek diuretiknya tidak sekuat golongan diuretik kuat.
a) Antagonis Aldosteron (Spironolakton)
Aldosteron adalah mineralokortikoid endogen yang paling kuat. Peranan utama aldosteron
adalah memperbesar reabsorpsi natrium dan klorida di tubuli serta memperbesar ekskresi
kalium. Jadi pada hiperaldosteronisme, akan terjadi penurunan kadar kalium dan alkalosis
metabolik karena reabsorpsi HCO3- dan sekresi H+ yang bertambah. Kadar kalium dan
alkalosis metabolic karena reabsorpsi HCO3- dansekresi H+ yang bertambah.
Mekanisme kerja antagonis aldosteron adalah penghambatan kompetitif terhadap
aldosteron. Ini terbukti dari kenyataan bahwa obat ini hanya efektif bila terdapat aldosteron
baik endogen ataupun eksogen dalam tubuh dan efeknya dapat dihilangkan dengan
meniggikan kadar adosteron. Jadi dengan pemberian antagonis aldosteron, reabsorpsi Na+ di
hilir tubuli distal dan duktus koligentes dikurangi, dengan demikian ekskresi K+ juga
berkurang.

6
Efek Samping: Efek toksik yang utama dari spironolakton adalah hiperkalemia yang sering
terjadi bila obat ini diberikan bersama-sama dengan asupan kalium yang berlebihan. Tetapi
efek toksik ini dapat pula terjadi bila dosis yang biasa diberikan bersama dengan tiazid pada
penderita dengan gangguan fungsi ginjal yang berat. Efek samping lain yang ringan dan
reversible diantaranya ginekomastia, efek samping mirip androgen dan gejala salura cerna.
Indikasi: Antagonis aldosteron digunakan secara luas untuk pengobatan hipertensi dan
udem yang refraktor. Biasanya obat ini dipakai bersama diuretic lain dengan maksud
mengurangi efek kalium, disamping memperbesar diuresis.
Sediaan dan Dosis: Spironolakton terdapat dlam bentuk tablet 25,50 dan 100 mg. dosis
dewasa berkisar antara 25-200 mg, tetapi dosis efektif sehari-hari rata-rata 100 mg dalam
dosis tunggal atau terbagi.terdapat pula sediaan kombinasi tetap antara sprironolakton 25 mg
dan hidroklorotiazid 25 mg dan, serta antara spironolakton 25 mg dan tiabutazid 2,5 mg.
b) Triamteren dan Amilorid
Kedua obat ini terutama memperbesar ekskresi natrium dan klorida, sedangkan ekskresi
kalium berkurang dan ekskresi bikarbonat tidak mengalami perubahan. Efek penghambatan
reabsorpsi natrium dan klorida oleh triameteren agaknya suatu efek langsung, tidak melalui
penghambatan aldosteron, karena obat ini memperlihatkan efek yang sama baik pada
keadaan normal, maupun setelah adrenalektomi. Triameren menurunkan ekskresi K+ dengan
menghambat sekresi kalium di sel tubuli distal. Berkurangnya reaabsorpsi natrium di tempat
tersebut mengakibatkan turunnya perbedaan potensial listrik transtubular,
sedangkan adanya perbedaan potensial listrik transtubular ini diperlukan untuk
berlangsungnya proses sekresi K+ oleh sel tubuli distat. Secara eksperimental, obat ini efektif
dalam keadaan asidosis maupun alkalosis.
Beberapa pengalaman klinik menunjukkan bhwa kedua obat ini terutama bermanfaat bila
diberikan bersama diuretic lain, misalnya hidroklorotiazid. Dengan kombinasi ini efek
natriuresisnya lebih besar dan ekskresi kalium oleh tiazid dikurangi.
Dibandingkan oleh trimteren, amilorid jauh lebih mudah larut dalam air sehingga lebih
banyak diteliti. Pengalaman klinik dengan triamteren pun masih sangat kurang sehingga
msih banyak hal-hal yang belum diketahui mengenai obat ini.
Efek Samping: Efek toksik yang paling berbahaya dari kedua obat ini yaitu hiperkalemia.
Triameteren juga dapat menimbulkan efek samping yang berupa mual, muntah, kejang kaki
dan pusing.azotemia yang ringan sampai xedang sering terjadi dan bersifat reversible. Pada
penderita dengan sirosis hati akibat alcohol yang mendapat triameteren pernah dilaporkan
terjadi nemia meloblastik, tetapi hubungan sebab-akibat belum pasti. Hal ini mungkin akibat
terjadinya penghambatan terhadap enzim hidrofolat reduktase, terutama pada penderita
dengan penurunan cadangan dan masukan asam folat.
Efek samping amilorid yang paling sering selain hiperkalemia yaitu mual, muntah, diare dan
sakit kepala.
Indikasi: iuretic hemat kalium ternyata bermanfaat untuk pengobatan beberapa pasien
dengan udem. Tetapi obat golongan ini akan lebih bermanfaat bila diberikan bersama
dengan diuretic golongan lain. Misalnya dari golongan tiazid. Mengingat kemungkinan
dapat terjadi efek samping hiperkalemia yang membahayakan,, maka pasien-pasien yang
sedang mendpatkan pengobatan dengan diuretic hemat K+ sekali-kali jangan diberikan
suplemen K+. juga harus waspada bila memberikan diretik ini bersama dengan obat
penghambat ACE, karena obat ini mengurangi sekresi aldosteron, sehingga bahaya
terjadinya hipovolemi dan hiperkalemiamenjadi besar. Selain itu perlu diingat pula

7
bahwatriameteren atau amilorid sekali-kali jangan diberikan bersama spironolaktn
mengingat bahaya terjadinya hiperkalemia.
Sediaan: Triameteren tersedia sebagai kapsul dari 100 mg. dosisnya 100-300 mg sehari.
Untuk tiap penderita harus ditetapkan dosis penunjang tersendiri. Amilorid dalam bentuk
tablet 5 mg. dosis sehari sebesar 5-10 mg. Sediaan kombinasi tetap antara amilorid 5 mg dan
hidroklorotiazid 50 mg dan hidroklorotiazid 50 mg terdapat dalam bentuk tablet dengan
dosis sehari antara 1-2 tablet.
e. DIURETIK KUAT
Diuretik kuatv(high-ceiling diuretics) mencakup sekelompok diuretic yang efeknya
sangat kuat dibandingkan dengan diuretic lain. Tempat kerja utamanya dibagi epitel tebal
ansa henle bagian asenden, karena itu kelompok ini disebut juga sebagai loop diuretics.
Termasuk dalam kelompok ini adalah asam etakrinat, furosemid dan bumetanid.
Asam etakrinat termasuk deuretik yang dapat diberikan secara oral maupun
parenteral dengan hasil yang memuaskan. Furosemid atau asam 4-kloro-N-furfuril-5-
sulfamoil antranilat masih tergolong derivate asam bumetamid merupakan derivate asam 3-
aminobenzoat yang lebih poten daripada furosemid, tetapi dalam hal lain kedua senyawa ini
mirip satu dengan yang lain.
Cara Kerja : Secara umum dapat dikatakan bahwa diuretic kuat mempunyai mula kerja dan
lama kerja yang lebih pendek dari tiazid. Hal ini sebagian besar ditentukan oleh faktor
farmokokinetik dan adanya mekanisme kompensasi.
Diuretic kuat terutama bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi elektrolit di ansa
henle asenden bagian epitel tebal: tempat kerjnya dipermukaan sel epitel bagian luminal
(yang menghadap ke lumel tubuli). Pada pemberian secara IV obat ini cederung
meningkatkan aliran darah ginjal tanpa disertai peningkatan filtrasi glomerulus. Perubahan
hemodiamik ginjal ini mengakibatkan menurunya reabsorpsi cairan dan elektrolit di tubuli
proksimal serta meningkatnya efek awal dieresis. Peningkatan aliran darah ginjal ini relative
hanya berlangsung sebentar. Dengan berkurangnya cairan ekstrases akibat dieresis, maka
aliran darah ginjal menurun dan hal ini akan mengakibatkan peningkatan reabsorpsi cairan
dan elektrolit di tubuli poksimal. Hal yang terakhir ini agaknya merupakan suatu mekanisme
konpensasi yang membatasi jumlah zat terlarut yang mencapai bagian epitel tebal henle
asenden, dengan demikian akan mengurangi dieresis.
Farmakokinetik: Ketika obat mudah diserap melalui saluran cerna dengan derajat yang
agak berbeda-beda. Bioavailabilitas fursemid 65% sedangkan bumetanid hamper 100%.
Deuretik kuat terikat pada protein plasma secara ekstensif, sehingga tidak difiltrasi di
glomerulus tetapi cepat sekali disekresi melalui system transport asam organic di tubuli
proksimal. Dengan cara ini obat terakumulasi di cairan tubuli dan mungkin sekali di tempat
kerja di daerah yang lebih distal lagi. Probenesid dapat menghambat sekresi furosemid dan
interaksi antara keduanya ini hanya terbatas pada tingkat sekresi tubuli dan tidak pada
tempat kerja deuretik.
Efek samping asam atakrinat dan furosemid dapat dibedakan atas: (1) reaksi toksik berupa
gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit yang sering terjadi dan (2) efek samping yang
tidak berhubungan dengan kerja utamanya jarang terjadi. Hiper uresemia relative sering
terjadi, namun pada kebanyakan penderita hal ini hanya merupakan kelainan biokimia.
Dapat pula terjadi reajksi berupa gangguan saluran cerna, depresi elemen darah, rash kulit,
parestesia dan difungsi hati. Gangguan saluran cerna lebih sering terjadi dengan asam
etakrinat daripada furosemid. Sensivitas mungkin terjadi antara furosemid dan sulfnamid

8
yang lain. Furosemid dan tiazid diduga dapat menyebabkan nefritis interstisialis
alergik yang menyebabkan gagal ginjal reversibel juga terjadi penurunan konsentrasi
karbohidrat, tetapi lebih ringan daripada tiazid. Pada dosis yang berlebihan pernah
dilaporkan terjadinya hipoglikemia akut dengan mekanisme yang tidak dikeahui.
Berdasarkan efeknya pada janin hewan coba, maka diuretic kuat ini tiidak dianjurka pada
wanita hamil, kecuali bila mutlak diperlukan.
Asam etakrinat dapat menyebabkan ketulian sementara maupun menetap, dan hal ini
merupakan efek samping yang serius. Ketulian sementara juga dapat terjadi pada furosemid
dan lebih jarang pada bumetanid. Ketulian mungkin sekali disebabkan oleh perubahan
komposisi elektrolit cairan endolimfe. Ototoksisitas merupakan suatu efek samping unik
kelompok obat ini. Bila karena suatu hal diperlukan pemberian obat yang juga bersifat
ototoksik misalnya aminoglikosid, maka sebaliknya dipilih diuretic yang lain, misalnya
tiazid.
Deuretik kuat dapat berinteraksi dengan warfarin klofibrat melalui penggeseran
ikatannya dengan protein. Pada penggunaan kronis diuretic kuat ini dapat menurunkan
bersihan litium. Penggunaan bersama dengan sefalosporin dapat meningkatkan
nefrotoksisitas sefalosporin. Antiinflamasi nonsteroid terutama indometasin dan
kortikosteroid melawan kerja furosemid.
Sediaan
 Asam etakrinat.
Tablet 25 dan 50 mg digunakan dengan dosis 50-200 mg per hari. Sediaan IV berupa Na-
etakrinal, dolsisnya 50mg atau 0,5-1 mg/kgBB
 Furosemid.
Obat ini tersedia dalam bentuk tabletb20, 40, 80 mg dan preparat suntikan. Umumnya pasien
membutuhkan kurang dari 600 mgg/hari. Dosis anak 2 mg/kgBB, bila perlu dapat
ditingkatkan menjadi 6 mg/kgBB.
 Bumetanid.
Tablet 0,5 dan 1 mg digunakan dengan dosis dewasa 0,5-2 mg sehari. Dosis maksimal
perhari 10mg. obat ini tersedia juga dalam bentuk bubuk injeksi dengan dosis IV atau IM
dosis awal atara 0,5-1 mg: dosis diulang 2-3 jam maksimum 10 mg/hari
4. Efek Samping
a. Hipokalemia
Diuretik dengan tempat kerja di segmen dilusi distal, ansa henle bagian asenden dari tubuli
proksimal dapat menyebabkan kehilangan kalium. Rasio kehilangan kalium dan natrium
lebih besar pada penggunaan tiazi dari pad furosemid, mungkin karena furosemid tidak
mempunyai aktivitas penghambat karbonak anhidrase. Tetapi furosemid mempunyai efek
natriuresis lebih kuat, sehingga biasanya akan diikuti deplesi kalium. Penggunaan tiazid
dosis kecil pada hipertensi, misalnya dengan klorotiazid 500 mg/hari atau klortaidon 25
mg/hari tidak akn banyak mempengaruhi kadar kalium atau asam urat plasma. Tetapi
dengan dosis lebih besar pada pengobatan udem, perlu diadakan pemantauan kadar kalium
dalam serum.
b. Hiperurisemia.
Hampir semua diurretik menyebabkan peningkatan kadar asamurat dalam serum melalui
pengaruh langsung terhadap sekresi asam urat dan efek ini berbanding lurus dengan dosis
diuretic yang digunakan. Pada penggunaan diuretic dapat terjadi penyakit pirai, baik pada

9
orang normal maupun mereka yang rentan terhadap gout. Hiperurisemia dapat diperbaiki
dengan pemberian alopurinol atau probenesid
c. Gangguan toleransi glukosa dan diabetes.
Tiazid dan furosemid dapat menyebabkan gangguan toleransi glukosa terutama pada
penderita diabetes laten, sehingga manifestasi diabetes. Mekanisme pasti penyebab keadaan
ini belum jelaskarena menyangkut berbagai macam faktor, antara lain berkurangnya sekresi
inslin dari pancreas , meningkatnya glikogenolisis dan berkurangnya glikogenesis. Bila
keadaan ini terjadi maka penggunaan diuretic harus dihentian.
d. Hiperkalesemia.
Tiazid dapat mengakibatkan peninggian kadar kalsium serum. Diuretic hemat kalium dapat
mengakibatkan hiperkalemia yang dapat merupakan komplikasi yang fatal. Oleh karena itu
obat golonga ini tidak boleh diberikan dengan dosis berlebihan dan juga tidak boleh
diberikan pada penderita gagal ginjal
e. Sindrom udem idiopatik
Penggunaan diuretic kuat pada keadaan ini kadang-kadang justru menyebabkan retensi
garam dan air. Dengan menghentikan pemberian diuretic, biasanya dalam waktu 5-10 hari
akan timbul dieresis
f. Volume depletion
Pemberian diuretik kuat pada penderita gagal jantung berat dapat mengaibatkan berkurangya
volume darah yang beredar secara akut. Dan ha ini ditandai dengan turunnya tekanan darh,
rasa lelah dan lemah. Biasanya dieresis jstru akan terjadi setela pemberian diuretic
dihentiakn.
g. Hiponatremia
Hiponatremia ringan yang sering kali terjadi tidak menimbulkan masalah. Hiponatremia
mudah terjadi pada penggunaan furosemid dosis besar bersama deuretik lain yang bekerja di
tubuli distal; keadaan ini akan lebih berat bila penderita juga dianjurkan pantang garam
V. Bahan dan Alat Praktikum
Sebelum pelaksanaan praktikum Anda mempersiapkan bahan dan alat yang akandigunakan
selama kegiatan yaitu:
1. Leaflet/ brosur obat-obat diuretik sebanyak 5 buah dari golongan terapi yang berbeda
(perorang).
2. Buku ISO, MIMS atau buku/materi lainnya yang memuat nama (merk)
obat asma dan produsennya.
3. Laptop.
4. White board.

VI. Pelaksanaan Praktikum


1. Peserta praktikum dibagi menjadi 3 kelompok. Satu kelompok terdiri atas 10-15
mahasiswa.
2. Satu anggota kelompok mengumpulkan leaflet produk yang telah dibawanya.
3. Setiap kelompok mengidentifikasi dan mengelompokan produk obat diuretik yang
dibawanya.
4. Diskusi kelompok dilakukan selama 45 menit.
5. Setiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya di depan kelas selama 10-15 menit.
6. Pembimbing mengatur dan mengarahkan jalannya diskusi agar terjadi komunikasi dua
arahantara kelompok yang presentasi dan kelompok lain yang mendengarkan.

10
7. Setiap kelompok mengisi tabel dari leaflet yang dibawa oleh masing-masing
anggotakelompoknya. Zat aktif yang dengan huruf tebal (bold) harus terisi lengkap,
untukkeseluruhan jumlah zat aktif terisi paling sedikit 50% dari yang disediakan dalam
tabel.
8. Liflet/ brosur untuk praktikum berikutnya sudah harus terkumpul dan ditunjukan kepada
pembimbing paling lambat sehari sebelum praktikum dimulai.

Tabel. 1 Pengamatan praktikum antibiotik


Golonga Indikasi Nama Zat Bentuk Brand E.S Interaksi /
n Obat aktif sediaan name/ nama kontraindikasi
obat/ produsen
kekuatan

VII. Ringkasan
Diuretika adalah obat-obatan yang menyebabkan suatu keadaan meningkatnya aliran
urin. Diuretika merupakan zat-zat yang dapat memperbanyak pengeluaran kemih
melalui kerja langsung terhadap ginjal. Istilah diuresis mempunyai dua pengertian,
pertama menunjukkan adanya penambahan volume urin yang diproduksi dan yang
kedua menunjukkan jumlah pengeluaran zat-zat terlarut dan air (Setiabudi, 2007; Tjay
dan Rahardja, 2007).
Fungsi utama diuretika adalah untuk memobilisasi cairan edema, yang berarti
mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel
kembali menjadi normal (Nafrialdi, 2009)
Diuretik dapat dibagi menjadi 5 golongan yaitu :
1. Diuretik osmotik
Istilah diuretik osmotik biasanya dipakai untuk zat bukan elektrolit yang mudah
dan cepat diekskresi oleh ginjal. Contoh dari diuretik osmotik adalah ; manitol, urea,
gliserin dan isisorbid.
2. Diuretik golongan penghambat enzim karbonik anhidrase.
Diuretik ini merintangi enzim karbonanhidrase di tubuli proksimal sehingga di samping
karbonat , juga Na dan K di ekskresikan lebih banyak bersama dengan air. Khasiat
diuretiknya hanya lemah, setelah beberapa hari terjadi tachyfylaxie, maka perlu
digunakan secara selang seling (intermittens). Diuretic bekerja pada tubuli Proksimal
dengan cara menghambat reabsorpsi bikarbonat. Yang termasuk golongan diuretik ini
adalah asetazolamid, diklorofenamid dan meatzolamid.
3. Diuretik golongan tiazid
Diuretik golongan tiazid ini bekerja pada hulu tubuli distal dengan cara menghambat
reabsorpsi natrium klorida. Efeknya lebih lemah dan lambat tetapi tertahan lebih lama
(6-48 jam) dan terutama digunakan dalam terapi pemeliharaan hipertensi dan kelemahan
jantung (dekompensatio cardis). Obat-obat ini memiliki kurva dosis efek datar, artinya
bila dosis optimal dinaikkan lagi efeknya (dieresis, penurunan tekanan darah) tidak

11
bertambah.Obat-obat diuretik yang termsuk golongan ini adalah ; klorotiazid,
hidroklorotiazid, hidroflumetiazid, bendroflumetiazid, politiazid, benztiazid, siklotiazid,
metiklotiazid, klortalidon, kuinetazon, dan indapamid.
4. Diuretik hemat kalium
Diuretik hemat kalium ini bekerja pada hilir tubuli distal dan duktus koligentes daerah
korteks dengan cara menghambat reabsorpsi natrium dan sekresi kalium dengan jalan
antagonisme kompetitif (sipironolakton) atau secara langsung (triamteren dan
amilorida).efek obat-obat ini hanya melemahkan dan khusus digunakan terkombinasi
dengan diuretika lainnya guna menghemat ekskresi kalium. Aldosteron menstimulasi
reabsorbsi Na dan ekskresi K. proses ini dihambat secara kompetitif (saingan) oleh
obat-obat ini. Amilorida dan triamteren dalam keadaan normal hanyalah lemah efek
ekskresinya mengenai Na dan K. tetapi pada penggunaan diuretika lengkungan dan
thiazida terjadi ekskresi kalium dengan kuat, maka pemberian bersama dari penghemat
kalium ini menghambat ekskresi K dengan kuat pula. Mungkin juga ekskresi dari
magnesium dihambat.
5. Diuretik kuat
Diuretik kuat ini bekerja pada Ansa Henle bagian asenden pada bagian dengan epitel
tebal dengan cara menghambat transport elektrolit natrium, kalium, dan klorida. Obat-
obat ini berkhasiat kuat dan pesat tetapi agak singkat (4-6 jam). Banyak digunakan pada
keadaan akut, misalnya pada udema otak dan paru-paru. Memperlihatkan kurva dosis
efek curam, artinya bila dosis dinaikkan Yang termasuk diuretik kuat adalah ; asam
etakrinat, furosemid dan bumetamid.

VIII. Latihan 1.

1. Jelaskan fungsi utama dari penggunaan diuretik


2. Jelaskan mekanisme kerja dari diuretik
3. Sebutkan efek samping dari penggunaan diuretik
4. Sebutkan penggolongan dari diuretic serta berikan contoh obatnya

Latihan II

1. Pasien datang IGD RS UNS didapatkan oedem yang disebabkan oleh gagal jantung dan
gagalginjal, obat diuretik golongan apakah yang merupakan indikasi kelainan diatas ...
a. penghambat ezim karbonik anhydrase b. diuretik kuat c. diuretik hemat kalium
d. diuretik osmotic e. tiazid
2. Toksisitas yang dapat terjadi akibat penggunaan diuretik kuat adalah….
a.Hipokalemi b.Hiperkalemi c.Hipourisemia d.Hipernatremi e.Hipokloremi
3. Diuretik yang paling aman dipakai untuk hipertensi adalah ...
a. penghambat ezim karbonik anhidrase b. diuretik kuat c. diuretik hemat kalium
d. diuretik osmotik e. Tiazid
4. Obat asam etakrinat dapat menimbulkan efek samping ototoksisitas yang memiliki makna
a. Kebutaan sementara atau menetap b. Kelemahan otot sementara
c. Kelemahan otot menetap d. Gangguan syaraf e. Ketulian sementara atau menetap
5. Obat dibawah ini yang jika digunakan bersama dengan diuretic kuat dapat menyebabkan
nefrotoksik

12
a. Probenesid b. Sefalosporin c. Amlodipin
d. Cimetidin e. Na diklofenak

Kunci Jawaban:
1. c 2. a 3. e 4. e 5. b

DAFTAR PUSTAKA

Aslam Mohamed, cik kaw tan, adji prayitno.Farmasi klinis.(2003).Jakarta : PT Elex Media
Komputindo

Drs. Tjah tan hoan & Drs Rahardja kirana. (2008). Obat-obat penting. Jakarta : PT Gramedia.

Deglin judithhopfer & Vallerant april hazard. (2005). Pedoman obat untuk perawat. Jakarta : EGC.

Dr Jan Tambayong. (2002). Farmakologi untuk keperawatan. Jakarta : widya medika

Katzung Bertram g. (1997). Farmakologi dasar dan klinik. Jakarta : EGC

13