Anda di halaman 1dari 31

“AUDIT KAS DAN INSTRUMEN KEUANGAN”

Tugas ini diajukan untuk memenuhi syarat Mata Kuliah Auditing II

Dosen Pembina:
R. Wedi Rusmawan K, DR., S.E., M.Si., Ak, C.A.

Disusun oleh :

(25) Dea Annisa Fitri (0116101303)

(09) Banowaty Ayu (0116101276)

(11) Jenny Deborah (0116101282)

(18) Roflina Wahyuni Virgin (0116101291)

(24) Annet Minanti (0116101301)

Kelas : G

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS WIDYATAMA

BANDUNG

2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kas adalah sumber pembiayaan yang paling likuid, dimana saldo kas dapat digunakan
sewaktu-waktu dalam proses pembiayaan dalam kegiatan operasional suatu entitas. Kas
merupakan harta lancar perusahaan yang mudah diselewengkan. Hal itu terjadi karena banyaknya
transaksi yang berkaitan dengan penerimaan dan pengeluaran kas. Selain itu, kas menjadi objek
potensi kecurangan dan pencurian dibandingkan dengan jenis aset lainnya karena kebanyakan
aset harus dikonversikan terlebih dahulu ke kas agar dapat diuangkan. Oleh karena itu sangatlah
perlu dilakukan audit terhadap saldo kas. Tujuan utama audit saldo kas adalah untuk memastikan
saldo kas telah diidentifikasi dan diklasifikasikan dengan tepat dalam neraca, sehingga kas tersebut
dapat memenuhi kebutuhan entitas. Dengan audit atas saldo kas maka akan memudahkan
perusahaan dalam mengembangkan anggaran kas. Dengan pengelolaan anggaran kas yang baik
perusahaan dapat mempr oyeksikan peramalan yang baik atas penerimaan dan pengeluaran kas.
Dengan teknik peramalan kas, manajemen dapat merencanakan untuk menginvestasikan kelebihan
kas, dan bila terdapat kebutuhan akan kas mendapatkan pinjaman dengan tingkat bunga yang
menguntungkan.
1.2 TUJUAN
1. Menunjukan hubungan antara kas di bank dan berbagai siklus transaksi.
2. Mengidentifikasi jenis akun kas utama yang digunakan oleh entitas bisnis.
3. Menjelaskan mengenai pengujian audit atas akun kas umum.
4. Mengetahui prosedur yang berorientasi kecurangan.
5. Menjelaskan mengenai audit ataas akun instrumen keuangan.
1.3 MANFAAT
Manfaat yang diharapkan dari karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut.
1. Bagi Pembaca
Untuk memberikan wawasan dan pengetahuan mengenai proses audit atas kas.
2. Bagi Penulis
Untuk menambah pengalaman dalam membuat paper ini dan menambah wawasan tentang proses
audit atas kas.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. JENIS AKUN KAS DAN INSTRUMEN KEUANGAN

Kita awali dengan membahas jenis akun kas dan instrumen keuangan yang umum
digunakan oleh sebagian besar perusahaan. karena pendekatan auditing terhadap masing-masing
akun itu bewariasi. Auditor akan mengetahui lebih banyak berbagai jenis saldo kas dan instrumen
keuangan setelah memahami bisnis klien. Berikut adalah jenis akun yang utama.

Akun kas umum (general cash account)

Mempakan kas yang panting bagi sebagian besar organisasi karena hampir semua
penerimaan dan pengeluaran kas mengalir melalui akun ini. Sebagai contoh, pengeluaran untuk
siklus akuisisi dan pembayaran biasanya dibayar dari akun ini. sementara penerimaan kas dalam
siklus penjualan dan penagihan disetorkan dalam akun ini.

Akun Imprest Seperti dibahas pada Bab 20, banyak perusahaan membuat akun penggajian
imprest yang terpisah untuk memperbaiki pengendalian internal terhadap pengeluam penggajian.
Suatu saldo tetap, seperti sebesar $5.000, dipertahankan dalam akun bank penggajian imprest
Segera sebelum setiap periode pembayaran, satu cek atau transfer elektronik ditarik dari akun kas
umum untuk menyetorkan total jumlah penggajian bersih ke akun penggajian. Setelah mencairkan
semua cek penggajian pada alum penggajian imprest, rekening bank akan memiliki saldo sebesar
$5.000. Satu-satunya setoran ke akun itu adalah untuk penggajian mingguan dan setengahbulanan.
dan satu-satunya pengeluaran adalah pembayaran kepada karyawan.

Jenis akun imprest yang agak berbeda terdiri dari satu reken'mg bank untuk penerimaan
dan satu untuk pengeluaran. Mungk‘m terdapat beberapa rekcn'mg semacam itu di perusahaan
untuk divisi yang berbeda. Semua penerimaan disetorkan dalam akun imprest, dan totalnya
ditransfer ke akun umum secara periodik Akun pengeluaran ini ditetapkan atas dasar imprest,
tetapi dengan cara yang, berbeda dari akun penggajian imprest. Suatu saldo tetap akan
dipertahankan dalam alum imprest, dan personil yang berwenang dapat bcbas menggunakan dam
tersebut untuk melakukan pembayaran asalkan konsisten dengan kebijakan perusahaann Ketika
saldo kas hampir habis, permohonan pengisian kembali diajukan ke akun

Akun bank cabang. Untuk perusahaan yang beropcrasi di lokasi yang bcrbeda, akan lebih
mudah jika perusahaan memiliki saldo bank yang terpisah di setiap lokasi. Akun bank
cabang (branch bank accounts) berguna untuk membangun hubungan perbankan di komunitas
lokal dan memungkinkan sentralisasi operasi pada tingkat cabang, Di beberapa perusahaan,
setoran dan pengeluaran untuk setiap cabang dilakukan di rekening bank terpisah, dan kelebihan
kas akan ditransfer dilakukan secara elektronik dan secara periodik ke rekening bank umum kantor
utama. Akun cabang dalam contoh ini hampir sama seperti akun umum, tetapi pada tingkat cabang.

Dana kas kecil imprest (imprest petty cash fund) bukan mempalan rekening bank. tetapi
hampir serupa dengan kas di bank dalam hal pencantumannya. Akun has had adalah akun
sederhana seperti memisahkan sejumiah kas dalam kotak terkunci untuk beban yang tidak terduga.
Dana tersebut digunakan untuk akuisisi tunai bernilai kecil yang dapat dibayar secara lebih mudah
dan lebih cepat dengan kas ketimbang dengan cek, atau untuk memudahkan karyawan dalam
mencairkan cek pribadi atau cek penggajian. Akun kas imprest dibentuk atas dasar yang sama
seperti akun bank cabang imprest, tetapi biasanya digunakan untuk pengeluaran dalam jumlah
yang lebih kecil. Beban yang umum meliputi perlengkapan minor kantor. perangko. dan
sumbangan amal. Akun kas kecil biasanya tidak melampaui beberapa ratus dolar dan sering kali
hanya diisi kembali satu atau dua kali setiap bulan. Sebagai akibat dari saldo yang tidak material,
kita tidak membahas penguji atas rincian saldo kas kecil di bab ini. Untuk organisasi, kita berfokus
pada pengendalian internal. Banyak organisasi menggunakan kartu pembelian yang belum
disetujui (dikenal sebagai kartu-P) untuk melakukan rupa-rupa pembelian ketimbang mengadakan
dana kas kecil. Kartu pembeiian ini berfungsi seperti kartu kredit. tetapi mcngandung banyak
restriksi menyangkut sifat dan jumlah pembelian yang dapat dilakukan.
kantor utama. Akun cabang dalam contoh ini hampir sama seperti akun umum, tetapi pada tingkat
cabang.

Ekuivalen kas. Perusahaan seringkali menginvestasikan kelebihan kas yang diakumulasi


selama bagian tertentu dari siklus operasi, yang akn diperlukan tidak lama lagi dalam bentuk
ekuivalen kas (cash aquivalent) yang bersifat jangka pendek dan sangad liquid. Hal tersebut
termasuk deposito berjangka, sertifikat deposito, dan dana pasar uang. Ekivalen kas, yang dapat
sangat material dicantumkan dalam laporan keuangan sebagai bagian dari akun kas hanya jika
ekuivalen kas tersebut merupakan investasi jangka pendek yang siap dikonversi menjadi sejumlah
kas tertentu, dan terdapat risiko perubahan nilai yang tidak signifikan akibat perubahan suku
bunga.

Instrumen keuangan. Akun instrumen keuangan mencakup investasi dalam sekuritas


yang dapat diperdagangkan seperti sekuritas utang dan ekuitas, instrumen derivatif, dan aktivitas
lindung- nilai (hedging). Investasi dalam instrumen keuangan dapat diklasifikasikan sebgai
sekuritas perdagangan, sekuritas yang tersedia untuk dijual, atau sekuritas yang ditahan hingga
jatuh tempo (held- to- maturity). Sedangkan instrumen derivatif dapat diklasifikasikan sebgai aset
atau kewajiban, sesuai dengan standar akuntansi.
2.2. KAS DI BANK DAN SIKLUS TRANSAKSI

Pembahasan singkat mengenai hubungan antara kas di bank dan siklus transaksi lainnya
memiliki peran ganda: '

1. Hal tersebut menunjukkan pentingnya pengujian audit atas berbagai sildus transaksi dalam
audit kas.
2. Hal tersebut membantu kita memahami lebih lanjut tentang integrasi berbagai siklus transaksi.

Gambar 23-2 mengilustrasikan hubungan di antara berbagai siklus transaksi, dengan titik
fokusnya pada akun kas umum (“Kas di bank”). Dengan memeriksa Gambar 23-2, tampak jelas
mengapa akun kas umum dianggap signiiikan dalam hampir semua audit, meskipun saldo
akhirnya tidak material. Iumlah kas yang mengalir masuk ke dalam dan keluar dari akun kas
sering kali lebih besar ketimbang jumlah kas yang mengalir untuk akun lainnya dalam laporan
keuangan. Lebib 1311qu, kas lebih rentan digelapkan ketimbang jenis aset lainnya karena
sebagian besar aset lainnya itu hams dikonversikan menjadi kas agar dapat digunakan.

Dalam audit kas, auditor harus membedakan antara memverifikasi rekonsiliasi saldo pada
laporan bank ldien dan saldo di buku besar umum, serta memveriflkasi apakah kas yang tercatat
di buku besar umum merefleksikan dengan benar semua transaksi kas yang terjadi selama tahun
berjalan. jadi, jauh lebih mudah memverifikasi rekonsiliasi saldo di rekening bank klien dengan
buku besar umum. tetapi bagian Yang signifikaan dari total audit perusahaan melibatkan
verifikasi apakah transaksi yang dicatat dengan benar. Sebagai contoh. masing-masing dari salah
saji berikut akhirnya menghasilkan pembayaran yang tidak tepat atau kegagalan untuk menerima
kas. tetapi biasanya tidak ada yang akan ditemukan sebagai bagian dari audit . rekonsiliasi bank:
•Kegagalan menagih pelanggan.
• Penggelapan kas dengan memotong penerimaan kas dari pelanggan sebelum penerimaan itu
dicatat, dengan menghapus akun sebagai piutang tak tertagih.
• Salinan pembayaran faktur vendor.
• Pembayaran yang tidak semestinya berupa pengeluaran pribadi pejabat.
• Pembayaran bahan baku yang tidak diterima.
• Membayaran kepada karyawan untuk jam kerja yang lebih besar dari yang dia kerjakan. '
Pembayaran bunga kepada pihak terkait dalam jumlah yang melampaui tingkat yang berlaku.

Jika salah saji tersebut akan diungkapkan dalam audit, penemuannya harus terjadi melalui
pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi, yang dibahas pada bab-bab
sebelumnya. Dua salah saji yang pertama dapat ditemukan “bagai bagian dari audit siklus
penjualan dan penagihan (Bab 14), tiga salah saji selanjutnya dalam audit siklus akuisisi dan
pembayaran (Bab 18), dan dua yang terakhir dalam siklus penggajian dan personalia (Bab 20)
serta sildus akusisi modal pembayaran kembali (Bab 22).
Seluruh jenis salah saji yang berbeda itu umumnya ditemukan scbagai bagian dari pengujian
rekonsiliasi bank. Hal tersebut termasuk
jika salah saji tersebut akan diungkapkan dalam audit, penemuannya harus terjadi melalui
pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi, yang dibahas pada bab-bab
sebelumnya. Dua salah saji yang pertama dapat ditemukan “bagai bagian dari audit siklus
penjualan dan penagihan (Bab 14), tiga salah saji selanjutnya dalam audit siklus akuisisi dan
pembayaran (Bab 18), dan dua yang terakhir dalam siklus penggajian dan personalia (Bab 20)
serta sildus akusisi modal pembayaran kembali (Bab 22).

Seluruh jenis salah saji yang berbeda itu umumnya ditemukan scbagai bagian dari pengujian
rekonsiliasi bank. Hal tersebut termasuk:

 Kegagalan memasukkan cek yang belum di kliring oleh bank pada daftar cek yang beredar,
walaupun telat dicatat dalam jurnal pengeluaran kas.
 Kas yang diterima oleh klien setelah tanggal neraca tetapi diacatat sebagai penerimaan kas
pada tahun berjalan.
 Setoran yang diacatat sebagai penerimaan kas mendekati akhir tahun, disetorkan ke bank
pada bulan yang sama, dan dicantumkan dalam rekonisliasi bank sebagai storan dalam
perjalanan.
 Pembayaran wesel bayar yang didebet langsung ke saldo bank oleh bank, tetapi belum
dimasukkan dalam catatan klien.

2.3. AUDIT AKUN KAS UMUM

Neraca saldo Hillsburg Hardware Co. Disisipan buk jilid I hanya memasukkan satu akun
kas. Akan tetapi, perhatikan bahwa semua siklus , kecuali persediaan dan pergudangan,
mempengaruhi kas di bank.

Dalam menguji saldo akhir tahun pada akun kas umum, auditor harus mengakumulasi bukti
yang cukup dan tepat untuk mengevaluasi apakah kas, seperti yang tercantum dalam neraca, telah
dinyatakan secara wajar dan diungkapkan secara layak sesuai dengan lima dari delapan tujuan
audit yang berkaitan dengan saldo yang digunakan untuk semua pengujian atas rincian saldo
(ekstensi, kelengkapan, keakuratan, pisah batas, dan detail tie-in). Hak atas kas umum,
klasifikasinya pada neraca, dan nilai realisasi kas tidak dapat diterapkan.

Metedologi untuk mengaudit kas akhir taahun pada intinya sama dengan yang digunakan
untuk semua akun neraca lainnya dan akan dibahas secara terinci.

 Mengidentifikasi risiko bisnis klien yang mempengaruhi kas ( Tahap I)

Sebagian besar perusahaan mungkin tidak menghadapi resiko bisnis klien yang signifikan
yang mempengaruhi saldo kas. Akan tetapi, resiko bisnis klien bisa saja berasal dari kebijakan
manajemen kas yang tidak tepat atau penanganan dana yang dilakukan oleh pihak lain.

Risiko bisnis klien kemungkinan besar dari ekuivalen kas dan jenis investasi lainnya. Kita
akan membahas risiko bisnis yang terkait dengan investasi secara lebih terinci pada bagian
selanjutnya tentang mengaudit aku instrumen keuangan. Auditor harus memahami risiko yang
berasal dari kebijakan dan strategi investasi klien, seerta pengendalian manajemen mengurangi
risiko tersebut.

 Menetapkan materialitas kinerja dan menilai risiko inheren (Tahap I)


Saldo kas bersifat material pada sebagian besar audit, tetapi transaksi kas yang
mempengaruhi saldo itu hampir selalu sangat material. Oleh karena itu, potensi salah saji kas
material sering kali ada.
Karena kas lebih rentan terhadap pencurian ketimbang aset alinnya, terdapat risiko inheren
yang tinggi untuk tujuan eksistensi, kelengkapan, dan keakuraran. Tujuan-tujuan tersebut biasanya
menjadi fokus dalam mengaudit saldo kas. Pada umumnya, risiko inheren untuk semua tujuan
lainnya adalah rendah.
Pengendalian internal terhdapat saldo kas kahir tahun dalam akun umum yang dapat dibagi
dalam dua kategori:
1. Pengendalian terhadap siklus transaksi yang mempengaruhi pencatatan penerimaan
dan pengeluarak kas.
2. Rekonsiliasi bank independen.
Rekosiliasi bank bulanan terhadap akun ban umum atas dasar waktu oleh orang
independen menangani atau mencatat penerimaan serta pengeluaran kas merupakan
pengendaluan yang penting terhadap saldo kas akhir. Perusahaan yang memiliki aldo kas
yang signifikan dan volume transaksi kas yang besar dapat merekonsiliasi kas setiap hari
dengan catatan perbankan online. Jika suatu perushaan menunda penyiapan rekonsiliasi
bank dalam periode yang lama, nilai pengendaluan akan berkurang dan mungkin
mempengaruhi penilaian risiko pengendalian akan berkurang dan mungkin mempengaruhi
penilaian risiko pengendalian las oleh auditor. Rekonsiliasi itu akan memastikan bahwa
catatan akuntansi merefleksikan saldo kas yang sama seperti jumlah aktual kas di ank
setelah mempertimbangkan item-item rekonsiliasi. Lebih penting lagi, rekonsiliasi
independen memberikan kesempatan bagi verfikasi internal atas transaksi penerimaan dan
pengeluaran kas. Jika laporan bank diterima dalam kondisi tertutup oleh orang yang
melakukan rekonsiliasi selesai, cek yang dibatalkan, salinan slip deposit, dan dokumen
lainnya yang dicantumkan dalam laporan dapat diperiksa tanpa khawatir dengan
kemungkinan adanya perubahan, penghapusan, atau penambahan. Rekonsiliasi bank yang
cermat oleh personil klien yang kompeten meliputi tindakan-tindakan berikut :

 Membandingkan cek yang dibatalkan atau catatan bank elektronik tentang


pembayaran dengan catatan pengeluaran kas menyangkut tanggal, payee
atau pihak yang dibayar, dan jumlahnya.
 Memeriksa cek yang dibatalkan atau catatan bank elektronik tentangg
pembayaran menyangkut tanda tangan , endorsment, dan pembatalan
 Membandingkan setoran di bank dengan penerimaan kas yang tercatat
menyangkut tanggal, pelanggan, dan jumlah
 Memeriksai urutan nomor cek, dan menyelidik cek yang hilang.
 Merekonsiliasi semua item yang menyebalkan perbedaan antara nilai buku
dan saldo bank serta memverivikasi kesesuaiannya dengan bisnis klien
 Merekonsiliasi total debet pada laporan bank dengan total catatan
pengeluaran kas
 Merekonsiliasi total kredit pada laporan bank dengan total catatan
penerimaan kas
 Mereview transfer antarbank pada akhir bulan unttuk melihat kesesuaian
dan pencatatan yang tepat.
 Menindaklanjuti cek yang beredar dan pemberitahuan penghentian
pembayaran.

Sebagian besar paket perangkat lunak akuntansi memasukkan rekonsiliasi bank sebagai
bagian dari prosedur akhir bulan. Walaupun perangkat lunak itu mengurangi tugas klerikal
dalam melaksanakan rekonsiliasi bank, penyusunannya masih harus melakukan sebagian
besar prosedur yang disebutkan diatas. Pengendalian rekonsiliasi bank dapat ditingkatkan
dengan cara mereview rekonsiliasi bank bulanan oleh karyawan yang komponen segera
setelah rekonsiliasi itu selesai.

 Merangcang dan melaksanakan pengujian pengendalian serta pengujian substantif


atas transanksi ( Tahap II )

Langkah awal dalam memverifikasi saldo akun bank umum adalah memperoleh
rekonsiliasi bank dari klien untuk dicantumkan dalam dokumentasi auditor.

Gambar 23-3 menunjukkan rekonsiliasi bank setelah klien membuat penyesuaian atas saldo
akunnya. Perhatikan bahwa angka pada bagian bawah skedul audit adalah saldo yg telah
disesuaikan dalam buku umum, yang merupakan saldi yang harus disajikan pada laporan
keuangan. Auditor harus menetukan bahwa klien telah membuat penyesuaian seperti yang
dilakukan pada bagian bawah gambar 23-3, jika angka tersebut material.

Untuk mengaudit kas di bank, auditor memverifikasi apakah rekonsilasi bank yang
diterima dari klien sudah benar. Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo dan pengujian atas
rincian saldo yang umum dalam mengaudit akun kan ditunjukkan di tabel 23-1. Tujuan yang paling
penting adalah eksistensi, kelengkapan, dan keakuratan. Karena itu, tujuan-tujuan tersebut
mendapat perhatian yang paling besar. Selain tujuan audit yang berkaitan dengan saldo, auditor
juga melakukan pengujian yang berhubungan dengan empat tujuan penyajian dan penangkapan,
seperti
revies
notulen
dan

persetujuan pinjaman untuk menetukan apakah terdapat pembatasan terhadap kas yang haruus
diungkapkan. Seperti dalam bidang audit lainnya, prosedur audit aktual
tergantung pada materialitas dan resiko kas yang telah diidentifikasi oleh auditor pada bagian audit
lainnya.

Berikut adalah tiga prosedur yang layak dibahas lebih lanjut karena arti penting dan
kompleksitasnya: penerimaan konfirmasi bank, penerimaan laporan pisah batas bank, dan
pengujian rekonsiliasi bank.

Penerimaan Konfirmasi Bank konfirmasi bank tidak diharuskan untuk audit entitas non-publik
atau menurut standar auditing internasional. Akan tetapi, biasanya

Auditor meminta penerimaan informasi langsung setiap bank atau institusi keuangan lainnya
dimana klien melakukan bisnis ,kecuali jika ada sejumlah besar akun yang tidak aktif. Jika bank
tidak merespons permintaan konfirmasi, auditor harus mengirimkan permintaan kedua atau
meminta klien berkomunikasi dengan bank untuk memintanya melengkapi dan mengembalikan
konfirmasi ke auditor. Untuk memudahkan auditor dan juga bankir yang dimintai untuk mengisi
komfirmasi bank, AICPA menyetujui penggunaa formulir konformasi bank standar. Gambar
23-4 mengilustrsikan konfirmasi standar yang lengkap yang disebut ‘formulir standaruntuk
mengkonfirmasi saldo akun dengan institusi keuangan’. Formulir standar ini telah disetujui oleh
AICPA dan American Banker Association. Seabagaimana dijelaskan dalam sketsa di hal. 345,
konfirmsi bank seringkali dikrim secara elektronik dan beberapa bank hanya akan merespons
permintaan konfirmasi yang dikirim secara elektronik melalui pihak ketiga yang ditujukannya.

Pentingnya konfirmasi bank dalam audit melampaui verifikasi atas saldo kas aktual. Biasanya,
bakn mengkonfirmasi informasi tentang pinjaman dan saldo bank pada formulir yang sama, seperti
3 pinjaman yang beredar pada gambar 23-4. Informasi mengenai kewajiban kepada bank atas
wesel, hipotik atas utang lain biasanya mencantumkan jumlah dan tanggal pnjaman, tanggal jatuh
tempo pinjaman, suku bunga dan keberadaan jaminan.

Bank tidak bertanggung jawab untuk mecari catatan mengenai saldo bank atau pinjaman diluar
yang dicantumkan dalam formulir oleh klien kantor akuntan pblik. Pernyataan didekat bagian
bawah formulir, mewajibkan bank untuk memberitahu kantor akuntan publik mengenai setiap
pinjaman yang tidak dimasukkan dalam konfirmasi dimana bank mengetahui hal tersebut. Dampak
dari tanggung jawab terbatas ini adalah mengharuskan auditor untuk memenuhi sendiri tujuan
kelengkapan saldo bank dan pinjaman yang belum tercatat dengan cara lain. Demikian juga, bank
tidak diharuskan untuk mengkonfirmasi auditor hal- hal seperti batas kredit, pernyataan saldo
kompensasi atau kewajiban kontinjen untuk menjamin pinjaman lainnya. Jika auditor
menginginkan konfirmasi informasi, jenis informasi ini mereka harus memperoleh konfirmsi
terpisah dari institusi keuangan mengenai masalah yang menjadi perhatiannya.

Setelah auditor menerima konfirmasi bank yang lengkap, saldo akun bank yang telah dikonfirmasi
oleh bank ditelusuri ke jumlah yang dinyatakan pada rekonsiliasi bank. Demikian juga semua
informasi lain mengenai rekonsiliasi harus ditelusuri ke skedul audit yang relevan. Jika konfirmasi
bank tidak sama, dengan skedul audit, auditor harus menyelidiki perbedaan tersebut.
Penerimaan Aktiva Atas Pisah Batas Bank Setelah Akhir Tahun Laporan Pisah Batas Bank
(Cutoff Bank Statement)

Adalah laporan bank periode parsial dan salinan terkait atau akses digital cek yang dibatalkan yang
terkait, salinan slip deposit, dan dokumen lain yang tercantum dalam laporan bank, yang
dikirimkan langsung oleh bank ke kantor akuntan publik atau melalui akses online ke catatan
elektronik bank tentang informasi rekening bank klien. Tujuan dari laporan pisah batas bank atas
akses elektronik ke informasi akun pada sistem bank adalah memverifiksi item rekonsiliasi pada
rekonsilisi bank akhir tahun klien dengan bukti yang tidak dapat diakses oleh klien. Untuk
memenuhi tujuan ini, aiditor meminta klien untuk meminta bank mengirimkan laporan periode
parsial atau akses digital ke informasi, 7-10 hari setelah tanggal neraca langsung ke auditor.

Cara lain, dapat menunggu hingga laporan bank periode berikutnya tersedia untuk memverifikasi
item- item rekonsiliasi, jika laporan pisah batas tidak diterima secara langsung dari bank.
Tujuannya adalah untuk mengujia apakah karyawan klien telah menghilangkan, menambah, atau
mengubah dokumen yang menyertai laporan. Jelas, ini adalah untuk pengujian salah saji yang
disengaja. Auditor melaksanakan verifikasi tersebut dalam bulan setelah tanggal neraca;
 Memfoot dftar semua cek yang dibatalkan. Memo debit, setoran, dan memo kredit
 Memverifikasi bahwa laporan bank dalam keadaan seimbang ketika total footing
digunakan.
 Mereview item yang dilibatkan dalam footing untuk memastikan bahwa hal itu telah
dibatalkan oleh bank pada periode yang benar dan tidak memasukkan penghapusan atau
perbahan.

Pengujian Rekonsiliasi Bank

Rekonsiliasi bank yang independen disiapkan dengan baik merupakan pengendalian internal
yang penting terhadap kas. Auditor menguji rekonsiliasi bank untuk menentukan apakah
personil kilen telah membuat rekonsiliasi bank dengan cermatdan untuk memverifikasi apakah
saldo bank yang tercatat milik klien sama jumlahnya dengan kas aktuak di bank kecuali setoran
dalam perjalanan, cek yang beredar, dan item rekonsiliasi lainnya.

Dalam verifikasi rekonsiliasi, auditor menggunakan informasi yang ada dalam laporan pisah
batas bank atau memverifikasi kelayakan item yang direkonsiliasi. Verifikasi atas rekonsiliasi
yang dilakukan auditor melibatkan beberapa prosedur;

 Memverifikasi bahwa rekonsiliasi bank klien sudah akurat secara matematis


 Menelusuri saldo pada kofirmasi bank dan atau saldo awal pada laporan pisah batas ke
saldo per bank pada rekonsiliasi bank untuk memastikan saldo tersebut sama.
 Menelusuri cek yang ditulis dan dicatat sebelum akhir tahun dan dimasukkan dengan
laporan pisah batas bank ke daftar cek yang beredar pada rekonsiliasi sebelum tanggal
neraca. Semua cek yang telah dikliring oleh bank setelah tanggal neraca dan
dimasukkan dalam jurnal pegeluarankas, cek itu harus dimasukkan sebagai cek yang
beredarjika belum dikliring sebelum tanggal neraca. Demikian juga, jika cek sudah
dikliring oleh bank sebelum tanggal neraca, cek itu tidak boleh ada dalam rekonsiliasi
bank.
 Menyelidiki semua cek yang signifikan yang tercantum dalam daftar cek beredar yang
belum dikliring oleh bank pada laporan pisah batas. Langkah pertama dalam
penyelidikan ini adalah menelusuri jumlah setiap item yang belum dikliring ke jurnal
pengeluaran kas. Alasan cek itu belum diuangkan harus dibahas dengan klien , dan jika
auditor khawatir mengenai kemngkinan adanya kecurangan, saldo untang usaha vendor
harus dikonfirmasi utuk menentukan apakah vendor telah mengakui penerimaan kas
dalam catatanya. Selain it, cek yang dibatalkan juga harus diteliti sebelum hari terakhir
audit jika cek tersebut tersedia.
 Menelusuri setoran dalam perjalanan ke laporan pisah batas bank. Semua penerimaan
kas yang belum disetorkan ke bank pada akhir tahun harus ditelusuri ke laporan pisah
batas bank untuk memastikan bahwa hal itu disetorkan segera setelah awal tahun yang
baru.
 Mempehitungkan item yang direkonsiliasi lainnya pada laporan bank dan rekonsiliasi
bank. Hal tersebut termasuk item seperti beban jasa bank kesalahan dan koreksi bank,
dan transaksi yang belum tercatat didebet atau dikredit secara langsung ke akun bank
oleh bank. Item yang direkonsiliasi tersebut harus diselidiki untuk memastikan bahwa
item itu telah di perlakukan secara tepat oleh klien.
2.4. PROSEDUR YANG BERORIENTASI KECURANGAN

Pertimbangan utama dalam audit saldo kas umum adalah kemungkinan terjadinya kecurangan.
Auditor harus memperluas prosedur audit kas akhir tahun untuk menentukan kemungkinan adanya
kecurangan yang material apabila pengendalian internal tidak memadai, terutama pemisahan tugas
yang tidak tepat antara penanganan kas dan pencatatan transaksi kas dalam catatan akuntansi serta
tidak adanya rekonsiliasi bank bulanan yang disiapkan secara independen.

Dalam merancang prosedur untuk mengungkapkan kecurangan, auditor harus


mempertimbangkan secara cermat sifat defisiensi pengendalian internal, jenis kecurangan yang
mungkin terjadi akibat defisiensi itu, materialitas kecurangan yang potensial, dan prosedur audit
yang paling efektif dalam mengungkapkan kecurangan.

Ketika secara khusus menguji kecurangan, auditor harus ingat bahwa prosedur audit selain
pengujian atas rincian saldo kas juga dapat bermanfaat. Prosedur yang dapat mengungkapkan
kecurangan dalam bidang penerimaan kas termasuk:

 Konfirmasi piutang usaha


 Pengujian yang dilaksanakan untuk mendeteksi lapping. Mereview ayat jurnal buku besar
umum dalam akun kas untuk pos-pos tidak biasa
 Membandingkan pesanan pelanggan dengan penjualan dan penerimaan kas selanjutnya.
 Memeriksa persetujuan dan dokumen pendukung piutang tak tertagih serta retur penjualan
dan pengurangan.

Pengujian serupa dapat digunakan untuk menguji kemungkinan pengeluaran kas yang
mengandung kecurangan.

Bahkan dengan prosedur yang berorientasi pada kecurangan, sangatlah sulit mendeteksi
pencurian kas, serta pelaporan keuangan yang curang yang melibatkan kas, terutama transaksi dan
saldo akun yang dihilangkan. Sebagai contoh, jika perusahaan memiliki akun kas offshore ilegal
dan melakukan setoran ke akun tersebut dari penjualan yang tidak tercatat, tidak mungkin auditor
dapat mengungkapkan kecurangan itu. Akan tetapi, auditor bertanggung jawab melakukan upaya
yang maksimal untuk mendeteksi kecurangan apabila meyakini alasan bahwa hal tersebut memang
ada. Untuk mengungkapkan kecurangan yang berhubungan secara langsung dengan saldo kas
akhir tahun prosedurnya adalah: memperluas pengujian rekonsiliasi bank, bukti kas, dan pengujian
transfer antarbank.

Memperluas Pengujian Rekonsiliasi Bank

]ika auditor yakin bahwa rekonsiliasi bank akhir tahun disalahsajikan dengan sengaja, maka tepat
melaksanakan pengujian lebih lanjut atas rekonsiliasi bank akhir tahun. Prosedur yang diperluas
ini memverifikasi apakah semua transaksi yang dicantumkan dalam jurnal selama beberapa bulan
terakhir tahun berjalan telah dimasukkan dalam atau dikeluarkan dari rekonsiliasi bank secara
benar, dan memverifikasi apakah semua item dalam rekonsiliasi bank telah dicantumkan secara
benar. Mari kita asumsikan bahwa ada kelemahan pengendalian internal yang material dan akhir
tahun klien adalah 31 Desember. Dengan menggunakan pendekatan umum, auditor:

1. Memulai dengan rekonsiliasi bank bulan November dan membandingkan semua item yang
direkonsiliasi dengan cek yang dibatalkan dan dokumen lain dalam laporan bank bulan
Desember.
2. Membandingkan semua cek yang dibatalkan yang tersisa dan slip setoran dalam laporan
bank bulan Desember dengan jurnal pengeluaran kas dan penerimaan kas.
3. Menelusuri semua item yang belum dikliring dalarn rekonsiliasi bank bulan November
serta jurnal pengeluaran dan penerimaan kas bulan Desember ke rekonsiliasi bank tanggal
31 Desember untuk memastikan bahwa itemitem tersebut telah dimasukkan.
4. Memveriflkasi bahwa semua item rekonsiliasi dalam rekonsiliasi bank tanggal 31
Desember menyajikan item dari rekonsiliasi bank bulan November dan jurnal bulan
Desember yang belum dikliring oleh bank.

Selain keempat pengujian tersebut, auditor juga harus melaksanakan prosedur setelah akhir
tahun dengan menggunakan laporan pisah batas bank. Pengujian tersebut sama seperti yang telah
dibahas sebelumnya.
Bukti Kas

Auditor terkadang menyiapkan bukti kas ketika klien memiliki kelemahan Pengendalian internal
yang material terhadap kas. Auditor menggunakan bukti kas untuk menentukan apakah hal-hal
berikut dilakukan:

 Semua penerimaan kas yang tercatat telah disetorkan


 Semua setoran di bank dicatat dalam catatan akuntansi
 Semua pengeluaran kas yang tercatat telah dibayarkan oleh bank
 Semua jumlah yang telah dibayar oleh bank dicatat

Bukti kas (proof of cash) meliputi empat tugas rekonsiliasi berikut:

1. Merekonsiliasi saldo laporan bank dengan saldo buku besar pada awal periode bukti kas.

2. Merekonsiliasi penerimaan kas yang disetorkan per bank dengan penerimaan yang dicatat dalam
Jurnal penerimaan kas selama periode tertentu.

3. Merekonsiliasi pembayaran elektronik dan kliring cek yang dibatalkan oleh bank dengan yang
dicatat di jurnal pengeluaran kas selama periode tertentu.

4. Merekonsiliasi saldo laporan bank dengan saldo buku besar umum pada akhir periode bukti kas.

Bukti kas jenis ini sering kali disebut bukti kas empat kolom yang masing-masing kolom berisi
jenis informasi yang telah disebutkan. Bukti kas dapat dilaksanakan untuk satu atau lebih bulan
interim, setahun, atau bulan terakhir dari suatu tahun. Hal yang menjadi perhatian dari bukti kas
bulan interim, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 23-6, bukanlah saldo kas akhir. Akan tetapi,
auditor berfokus pada merekonsiliasi jumlah yang dicatat dalam pembukuan dengan jumlah yang
dimasukkan dalam laporan bank

Ketika mengumpulkan bukti kas, auditor mengombinasikan pengujian substantif atas


transaksi dengan pengujian atas rincian saldo. Penerimaan bukti kas adalah pengujian atas
transaksi yang tercatat, sementara rekonsiliasi bank adalah pengujian atas saldo kas pada suatu
waktu tertentu. Bukti kas merupakan metode yang jitu untuk membandingkan penerimaan dan
pengeluaran kas yang tercatat dengan rekening bank dan dengan rekonsiliasi bank. Akan tetapi,
bukti pengeluaran kas tidak efektif untuk mengungkapkan cek yang ditulis dalam jumlah yang
tidak sesuai, cek palsu, atau salah saji lainnya di mana jumlah dolar yang muncul dalam catatan
pengeluaran kas tidak benar. Demikian juga, bukti penerimaan kas tidak dapat digunakan untuk
mengungkapkan pencurian kas atau pencatatan dan penyetoran jumlah kas yang tidak tepat.

Pengujian Transaksi Antarbank

Para penggelap uang biasanya menutupi pencurian kas dengan praktik yang dikenal sebagai kiting:
mentransfer uang dari satu bank ke bank lainnya dan mencatat transaksi tersebut dengan tidak
benar. Mendekati tanggal neraca, sebuah cek ditarik dari satu rekening bank dan dengan segera
disimpan di rekening kedua untuk dikredit sebelum akhir periode akuntansi. Dalam melakukan
transfer tersebut, penggelap uang memastikan bahwa cek disimpan pada saat-saat terakhir
sehingga tidak dikliring oleh bank pertama hingga akhir periode. Jika transfer antarbank tidak
dicatat hingga setelah tanggal neraca, jumlah yang ditransfer dicatat sebagai aset di kedua bank.
Walaupun terdapat cara lain untuk melakukan kecurangan ini, masing-masing melibatkan
peningkatan saldo rekening bank untuk menutupi kekurangan karena menggunakan transfer
antarbank itu.

Untuk menguji kiting, serta kesalahan tidak sengaja dalam mencatat transfer antarbank, auditor
dapat mendata semua transfer antarbank yang dilakukan beberapa hari sebelum dan setelah tanggal
neraca dan menelusuri masing-masing ke catatan akuntansi agar pencatatannya benar. Gambar 23-
7 menunjukkan skedul transfer antarbank dengan empat transfer antarbank yang dilakukan segera
sebelum dan setelah tanggal neraca. Terdapat beberapa hal yang sebaiknya diaudit dalam skedul
transfer antarbank.

 Ketepatan informasi di skedul transfer antarbank harus diverifikasi. Auditor harus


membandingkan informasi pengeluaran dan penerimaan pada skedul dengan catatan
pengeluaran dan penerimaan kas untuk memastikan bahwa informasi tersebut akurat.
Begitu pula, tanggal pada skedul transfer yang diterima dan dikeluarkan harus disesuaikan
dengan laporan bank. Terakhir, catatan pengeluaran dan penerimaan kas harus diperiksa
untuk memastikan bahwa semua transfer beberapa hari sebelum dan sesudah tanggal
neraca saldo telah dimasukkan dalam skedul. (Tanda (ceklis) pada skedul di Gambar 23-7
menunjukkan bahwa langkah-langkah tersebut telah dilakukan).
 Transfer antarbank harus dicatat baik dalam laporan bank yang menerima maupun bank
yang mengeluarkan. Iika, misalnya, terdapat transfer sebesar 510.000 dari Bank A ke Bank
B tapi hanya pengeluaran yang dicatat, maka hal tersebut membuktikan bahwa terdapat
usaha untuk menutupi pencurian kas.
 Tanggal pencatatan pengeluaran dan penerimaan dari setiap transfer harus berada dalam
tahun fiskal yang sama. Dalam Gambar 23-7, tanggal di kedua kolom “tanggal yang
tercatat di pembukuan” [(4) dan (7)] berada dalam periode yang sama untuk setiap transfer;
oleh karena itu, transfer tersebut benar. Iika

 Pengeluaran dalam skedul transfer antarbank harus dimasukkan dalam atau dikeluarkan
dari rekonsiliasi bank akhir tahun dengan benar sebagai cek yang beredar. Dalam Gambar
23-7, rekonsiliasi bank 31-12-13 untuk akun kas umum harus mencantumkan cek yang
beredar untuk transfer kedua dan ketiga tetapi tidak dua lainnya. [Bandingkan tanggal di
kolom (4) dan (5).] Kurang saji mengenai cek yang beredar pada rekonsiliasi bank
menunjukkan kemungkinan adanya kiting.
 Penerimaan dalam skedul transfer antarbank harus dimasukkan dalam atau dikeluarkan
dari rekonsiliasi bank akhir tahun dengan benar sebagai setoran dalam perjalanan. Dalam
Gambar 23-7, rekonsiliasi bank 31-12-13 untuk akun tabungan dan payroll harus
mengindikasikan setoran dalam perjalanan untuk transfer ketiga tapi bukan untuk tiga yang
lainnya. (Bandingkan tanggal dari masing-masing transfer di kedua kolom terakhir). Lebih
saji setoran dalam perjalanan di rekonsiliasi bank mengindikasikan kemungkinan adanya
kiting.

Walaupun pengujian audit untuk transfer antarbank biasanya berorientasi pada kecurangan,
pengujian tersebut sering kali dilakukan pada audit di mana terdapat sejumlah transfer bank,
tanpa memperhatikan pengendalian Internal. Selain kemungkinan adanya kiting, penanganan
transfer yang salah dapat juga menghasilkan misklasifikasi antara kas dan utang usaha.
Materialitas transfer dan kemudahan melaksanakan pengujian membuat banyak auditor yakin
bahwa prosedur tersebut harus selalu dilaksanakan.

2.5.AUDIT ATAS AKUN INSTRUMEN KEUANGAN

Dalam menguji saldo akhir tahun instrumen keuangan, auditor harus mengumpulkan bukti yang
cukup dan tepat untuk mengevaluasi apakah akun instrumen keuangan, sebagaimana tercantum
dalam neraca, telah disajikan secara wajar dan diungkapkan layak sesuai dengan kedelapan tujuan
audit yang berkaitan dengan saldo yang digunakan dalam pengujian atas rincian saldo (eksistensi,
kelengkapan, keakuratan, klasifikasi, pisah batas, detail tie-in, nilai realisasi, dan hak)
sebagaimana tercantum lebih terinci pada Tabel 23-2. Kita sekarang membahas metodologi untuk
mengaudit instrumen keuangan akhir tahun.

Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien yang Mempengaruhi Instrumen Keuangan (Tahap I)

Risiko bisnis yang terkait dengan instrumen keuangan akan bervariasi tergantung pada signifikansi
dan agresivitas aktivitas investasi perusahaan. Risiko yang lebih tinggi akan ditanggung oleh
perusahaan yang berinvestasi dalam sekuritas yang kurang likuid atau instrumen keuangan
derivatif, dan jika proporsi investasi lebih besar dari total aset. Perusahaan jasa keuangan akan
menanggung risiko yang lebih besar akibat minimnya volume aktivitas dan jenis instrumen yang
diperdagangkan; misalnya, beberapa perusahaan menderita kerugian perdagangan yang besar dari
aktivitas “pedagang nakal” (rogue trader) individu yang disembunyikan dengan menyalahsajikan
saldo investasi dan kas. Selain itu, seperti diilustrasikan dalam sketsa yang terkait dengan
“program nakal” (rogue program), volatilitas pasar secara keseluruhan juga lebih tinggi hanya
karena sifat dari aktivitas perdagangan di pasar. Auditor harus memahami risiko dari kebijakan
dan strategi investasi klien, serta pengendalian manajemen yang mengurangi risiko tersebut.

Menetapkan Materialitas Kinerja dan Menilai Risiko Inheren (Tahap I)


Saldo akun instrumen keuangan mungkin bersifat material tergantung pada jenis dan frekuensi
aktivitas investasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi risiko inheren atas instrumen keuangan
meliputi tujuan manajemen terkait dengan aktivitas investasi (misalnya, hedging untuk
meminimalkan risiko), kompleksitas sekuritas atau derivatif, pengalaman sebelumnya perusahaan
dengan investasi tertentu, dan apakah faktor-faktor eksternal seperti risiko kredit atau risiko suku
bunga mempengaruhi asersi yang relevan. Banyak dari risiko tersebut berhubungan dengan tujuan
audit keakuratan, klasifikasi, dan nilai realisasi. Faktor lainnya yang meningkatkan risik inheren
atas instrumen keuangan adalah kompleksitas standar akuntansi yang relevan. Mayoritas
instrumen keuangan dinilai dengan menggunakan estimasi nilai wajar (fair value estimates).
Standar akuntansi membedakan antara estimasi nilai wajar tingkat 1 (harga yang dapat diamati,
yaitu ditetapkan, di pasar aktif untuk aset ata kewajiban yang identik) dan estimasi tingkat 2 atau
tingkat 3. Estimasi tingkat menggunakan input yang dapat diamati (langsung atau tidak langsung)
selain harga Yang ditetapkan, seperti harga aset atau kewajiban yang serupa, sedangkan estimasi
tingkat 3 menggunakan input yang tidak dapat diamati seperti model penetapan harga atau arus
kas yang didiskontokan. Estimasi ini memerlukan pertimbangan manajemen yang signifikan dan
auditor juga perlu mempertimbangkan insentif manajemen untuk mengklasilikasikan investasi
sebagai nilai wajar tingkat 2 atau tingkat 3. Semua risiko ini, dikombinasikan dengan volatilitas
pasar baru-baru ini dan potensi pasar menjadi tidak likuid, akan menghasilkan potensi salah saji
dan misklasifikasi saldo instrumen keuangan yang signifikan.

Menilai Risiko Pengendalian (Tahap I)

Auditor harus memahami efektivitas perancangan dan pengoperasian pengendalian internal


menyangkut inisiasi, otorisasi, pemrosesan, pengukuran nilai wajar, dan pengungkapan aktivitas
investasi. Hal yang paling penting, manajemen harus memiliki (1) strategi investasi dan kesadaran
atas tingkat exposure berbagai risiko; (2) prosedur untuk mengklasifikasikan instrumen keuangan
dengan benar sebagai perdagangan, tersedia untuk dijual, atau dimiliki hingga jatuh tempo
berdasarkan niat; (3) prosedur untuk memulai dan mencatat transaksi; dan (4) pengendalian
internal yang ketat atas penentuan estimasi nilai wajar, seperti personil dengan keahlian atau
pengalaman yang tepat dalam menilai estimasi tingkat 2 atau 3. Jika perusahaan menggunakan
organisasi jasa, seperti penasihat atau manajer investasi, untuk mengelola aktivitas investasinya,
auditor juga harus memahami pengendalian organisasi jasa itu. Auditor sering kali dapat
mengandalkan pengendalian internal organisasi jasa jika auditor organisasi jasa tersebut
menerbitkan laporan tentang pengendalian internal organisasi jasanya, seperti dibahas dalam Bab
12 (di Jilid l). Sebaliknya, auditor mungkin memerlukan pengetahuan khusus atau mungkin harus
mengandalkan spesialis internal perusahaan untuk membantu memahami sistem informasi yang
relevan.

Merancang dan melaksanakan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas


Transaksi (Tahap II)

Tidak seperti beberapa akun lain di mana auditor dapat memilih untuk melakukan pengujian
substantif yang lebih ekstensif dan mengurangi ketergantungan pada pengendalian, penilaian
pengendalian internal yang terkait dengan instrume keuangan mungkin diperlukan demi
mengurangi risiko audit ke tingkat yang dapat diterima, terutama untuk tujuan audit yang berkaitan
dengan transaksi. Pengujian transaksi yang akan dilakukan terkait dengan instrumen keuangan
meliputi pengujian pembelian dan penjualan sekuritas serta derivatif atau penyelesaian transaksi
hedging atau lindung-nilai, keuntungan atau kerugian yang terkait, serta bunga dan pendapatan
dividen. Biasanya auditor mengandalkan laporan dan saran broker (notiiikasi yang dikirim dari
broker kepada klien berupa rincian pembelian atau penjualan) dari manajer investasi untuk
menguji pembelian dan penjualan selama pengendalian dianggap efektif, menelusuri pembayaran
atau hasil ke pengeluaran atau penerimaan kas, kemudian menguji keakuratan matematis
keuntungan dan kerugian. Pendapatan bunga dapat dihitung ulang, sementara dividen dapat
dihitung ulang dan dibandingkan dengan sumber publik seperti catatan dividen Standard and
Poor's.

Merancang dan Melaksanakan Prosedur Analitis (Tahap II)

Prosedur analitis biasanya tidak begitu penting dalam menilai saldo akhir tahun Maumen keuangan
karena saldo tersebut dapat berfluktuasi dari tahun ke tahun dan tidak selalu terkait dengan akun
lainnya. Namun, prosedur analitis dapat digunakan untuk menguji kewajaran pendapatan bunga
dan dividen. Auditor juga dapat membandingkan persentase relatif investasi di masing-masing dari
tiga kategori nilai wajar (tingkat 1, 2, atau 3) dari tahun-ke-tahun untuk menilai perubahan strategi
investasi atau risiko portofolio.
Merancang Pengujian atas Rincian Saldo Instrumen Keuangan (Tahap III)

Titik awal pengujian saldo akhir akun instrumen keuangan adalah mendapatkan skedul aktivitas
investasi selama tahun berjalan. Skedul aktivitas investasi akan meliputi saldo awal, pembelian
dan penjualan instrumen keuangan serta keuntungan dan kerugian terkait, saldo akhir yang dicatat
pada nilai pasar wajar atau nilai lain yang konsisten dengan standar akuntansi. Skedul itu juga akan
menunjukkan pendapatan dividen dan bunga. Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo dan
pengujian atas rincian saldo yang umum dalam audit instrumen keuangan ditampilkan pada Tabel
23-2. Tujuan yang paling penting adalah eksistensi, keakuratan, dan nilai realisasi bagi investasi
dalam sekuritas, sementara kelengkapan juga penting bagi instrumen keuangan derivatif. Tujuan
penyajian dan pengungkapan juga sangat penting menurut persyaratan pengungkapan catatan kaki
yang ekstensif terkait estimasi nilai wajar. Dalam pembahasan tentang pengujian yang terinci, kita
mengasumsikan bahwa entitas menggunakan organisasi jasa sebagai manajer investasi dan auditor
telah menentukan bahwa organisasi jasa itu memiliki pengendalian yang efektif. Manajer investasi,
atau penasihat investasi, biasanya yang mengawali transaksi, memegang sekuritas, serta memroses
dan menyimpan catatan yang terkait dengan transaksi itu. Kita mengacu organisasi jasa itu sebagai
broker-dealer dalam pembahasan kita tentang prosedur audit.

Auditor meminta konfirmasi dari broker-dealer untuk mengkonfirmasi holdings akhir tahun serta
transaksi yang telah selesai dan belum selesai yang terjadi selama tahun bersangkutan. Konfirmasi
ini memberikan assurance atas eksistensi, kelengkapan, dan keakuratan. Sangatlah penting
memverifikasi saldo kas, ekuivalen kas, dan instrumen keuangan secara simultan untuk
memastikan bahwa manajemen tidak berupaya menutupi kekurangan kas dengan menghitung
ganda kas. Pengujian yang lebih ekstensif terkait dengan kelengkapan juga akan diperlukan jika
ada instrumen keuangan derivatif, seperti memeriksa kontrak derivatif terlampir serta membaca
notulen rapat dewan direksi yang berhubungan dengan aktivitas hedging dan investasi.

Pengujian yang berkaitan dengan nilai realisasi akan bervariasi menurut jenis sekuritas dan standar
akuntansi terkait. Standar akuntansi mungkin mengharuskan agar instrumen keuangan dicatat pada
harga pokok, nilai wajar, atau berdasarkan hasil keuangan investee. Pedoman auditing disediakan
untuk mengaudit estimasi akuntansi dan terutama untuk mengestimasi nilai wajar karena
melibatkan banyak pertimbangan auditor. Estimasi nilai wajar tingkat 1 (aset identik dengan harga
pasar yang ditetapkan) lebih mudah diaudit dan biasanya melibatkan observasi harga pasar pada
akhir tahun, yang dapat dilakukan dengan memeriksa The Wall Street Journal atau publikasi
keuangan ternama lainnya. Estimasi nilai wajar tingkat 2 dan tingkat 3 lebih sulit diaudit karena
melibatkan pertimbangan manajemen yang signifikan baik dalam klasifikasi (tingkat 2 atau 3)
maupun dalam menentukan nilai wajar. Auditor harus menguji kelayakan dan ketepatan asumsi
serta model Yang digunakan oleh manajemen ketika menentukan estimasi nilai wajar. Jika auditor
memilih menggunakan spesialis untuk menguji estimasi nilai wajar, standar auditing
mengharuskan auditor menentukan apakah spesialis tersebut objektif dan memenuhi kualifikasi,
selain harus memahami metode yang digunakan oleh spesialis untuk menentukan nilai wajar. Juga
penting bagi auditor untuk mempertimbangkan insentif manajemen dalam mengklasiflkasikan
instrumen keuangan sebagal tmgkat 2 atau tingkat 3 akibat perbedaan estimasi yang diperoleh
menurut pandekatan yang berbeda, serta persyaratan pengungkapan yang lebih ekstensif terkait
dengan estimasi nilai wajar tingkat 3.

BAB 3

KESIMPULAN
Dalam bab ini kita telah melihat bahwa transaksi di sebagian besar siklus mempengaruhi
akun kas. Karena hubungan antara transaksi di beberapa siklus dan saldo akun kas akhir, auditor
biasanya menunda audit saldo kas akhir hingga hasil dari pengujian pengendalian dan pengujian
substantif atas transaksi untuk semua siklus telah selesai dan dianalisis. Pengujian saldo kas
biasanya memasukkan pengujian rekonsiliasi bank dari akun kas utama, seperti akun kas umum,
akun penggajian imprest, dan dana kas kecil imprest. Jika kemungkinan kecurangan pada kas
dinilai tinggi oleh auditor, mereka mungkin melaksanakan pengujian tambahan seperti prosedur
rekonsiliasi bank yang diperluas, bukti kas, atau pengujian transfer antarbank.

Upaya dan banyaknya pertimbangan yang dilibatkan ketika mengaudit instrumen


keuangan akan bervariasi tergantung pada strategi investasi klien dan insentif manajemen.
Pengujian utama meliputi konfirmasi dengan broker-dealer serta pengujian estimasi nilai wajar.
DAFTAR PUSTAKA

Arens A. Alvin, Randal J. Elder dan Mark S. Beasley. 2015. Auditing dan Jasa. Assurance
Pendekatan Terintegrasi. Jilid 2. Edisi Lima Belas-Jakarta. Erlangga