Anda di halaman 1dari 13

AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN 1 BERBASIS PSAK

BAB 1

KOMBINASI BISNIS

Latar Belakang

Motivasi

Perusahaan menjadi semakin besar akibat pertumbuhan dan perkembangan usaha.


Perkembangan dapat terjadi melalui pertumbuhan organik dan unorganik. Pertumbuhan organik adalah
pertumbuhan perusahaan secara natural akibat peningkatan skala usaha dan pendirian usaha baru.
Pertumbuhan unorganik adalah pertumbuhan perusahaan akibat akuisisi dan pembelian perusahaan
yang sudah berjalan. Pertumbuhan organik membutuhkan waktu lebih panjang.

Pertumbuhan organik dapat dicapai oleh perusahaan dengan peningkatan pangsa pasar secara
alami atau melakukan ekspansi usaha dari awal. Pertumbuhan organik membutuhkan waktu lebih lama,
karena perusahaan untuk melakukan ekspansi misalnya, akan memulai dengan mengembangkan
produk baru, mengembangkan pabrik baru memasarkan produk baru. Namun jika pengembangan
dilakukan dengan cara unorganik, perusahaan dapat membeli perusahaan lain yang telah menghasilkan
produk tersebut sehingga dalam waktu cepat perusahaan memperoleh hasilnya.

Perusahaan melakukan kombinasi bisnis dengan berbagai tujuan dan motivasi. Motivasi umum
dalam melakukan kombinasi bisnis adalah ingin agar entitas tersebut menjadi lebih besar dan
berkembang. Semakin besar perusahaan, investor akan memperoleh pengembalian investasi (return),
yang semakin besar dari investasinya. Beberapa motivasi spesifik kombinasi bisnis antara lain:

a. Menjadikan entitas lebih besar.


b. Menghindari pengambilalihan oleh entitas lain.
c. Mensinergikan sumber daya yang yang dimiliki.
d. Kompensasi yang diterima manajemen terkadang dikaitkan dengan ukuran perusahaan.
e. Meningkatkan kebanggaan entitas.

Keuntungan Kombinasi Bisnis

Keuntungan akhir kombinasi bisnis adalah diperolehnya imbal hasil yang lebih besar kepada
pemegang saham dibandingkan pada saat entitas belum melakukan kombinasi bisnis. Keuntungan
kombinasi bisnis tercipta karena entitas mampu menghasilkan sinergi dalam kombinasi bisnis tersebut
sehingga jika nilai entitas sebelum bergabung 5 dan 3 maka hasil kombinasi bisnis harus
mampu menghasilkan lebih dari 8.

Proses kombinasi bisnis bersifat kompleks sehingga perlu kehati-hatian agar sinergi yang
diharapkan dapat tercapai. Bertambahnya ukuran entitas akibat kombinasi bisnis dapat membuat
pengelolaan entitas menjadi lebih birokratis dan kompleks sehingga keputusan yang diambil lambat
sehingga entitas tidak dapat fleksibel menghadapi perubahan lingkungan. Dalam beberapa kasus sering
terjadi kegagalan dari kombinasi bisnis, sehingga pada akhirnya sinergi tidak diperoleh. Bahkan sering
kali akuisisi bisnis tidak mampu menghasilkan imbal hasil seperti yang diharapkan.

Pengembangan Bisnis

Kombinasi bisnis merupakan salah satu cara dalam melakukan pengembangan usaha sehingga
menjadi lebih besar. Pengembangan bisnis dapat dilakukan secara internal maupun eksternal.
Pengembangan bisnis internal dapat dilakukan dengan pembentukan entitas baru secara internal.
Dalam rangka pengembangan bisnis entitas membentuk entitas anak melalui penyetoran modal secara
tunai. Tujuan pembentukan entitas baru tersebut biasanya untuk membuka pasar yang lebih luas atau
memperluas jaringan produksi. Misalnya entitas melakukan ekspansi usaha ke Timor Leste. Untuk
tujuan kemudahan bisnis dan pemenuhan regulasi di negara tersebut perlu didirikan perusahaan
dengan bentuk hukum tersendiri.

Pembentukan entitas baru dapat juga dilakukan melalui mekanisme spin-off atau pemisahan
satu unit atau divisi perusahaan menjadi entitas anak tersendiri. Melalui mekanisme spin-off, setoran
modal dari entitas induk berupa aset dari divisi tersebut yang dipisahkan. Tujuan pemisahan tersebut
untuk fleksibilitas dalam menjalankan usaha, alasan regulasi yang mengharuskan menjadi bentuk
hukum terpisah atau karena tujuan perpajakan. Sebagai contoh, Undang-Undang Migas tidak
membolehkan usaha migas terintegrasi dari hulu dan hilir dalam satu perusahaan. Untuk itu, Pertamina
melakukan spin-off usaha hulu migas dengan membentuk PT Pertamina Internasional Irak, PT
Pertamina Internasional Malaysia Explorasi and Production dan PT Pertamina Hulu Energi. Contoh
lainnya misalnya pembentukan PT BNI Syariah yang awalnya merupakan unit usaha syariah (UUS) dari
PT BNI (Persero).

Bentuk pengembangan bisnis internal dapat juga dilakukan melalui kombinasi bisnis internal
atau sering disebut sebagai restrukturisasi entitas sepengendali. Kombinasi bisnis dilakukan oleh entitas
anak yang dimiliki oleh satu entitas induk. Sebagai contoh PT A memiliki entitas anak PT B dan PT C.
Kombinasi bisnis dilakukan dengan menjual kepemilikan PT A pada saham PT C kepada PT B. Bentuk
kombinasi bisnis tersebut merupakan contoh bentuk retrukturisasi entitas sepengendali. Secara total
tidak terjadi perubahan kepemilikan, hanya terjadi perubahan PT C yang awalnya entitas anak berubah
menjadi entitas cucu.

Pengembangan bisnis secara eksternal dilakukan dengan membeli atau mengakuisisi entitas
lain di luar entitas. Pengembangan bisnis yang sebenarnya hanya terjadi jika terjadi pengembangan
bisnis secara eksternal, karena pengembangan ini benar-benar menjadikan perusahaan menjadi
bertambah besar. Pengembangan bisnis secara internal baru dapat memperbesar bisnis jika setelah
dibentuk entitas tersebut mampu berkembang dengan cepat. Fokus pembahasan dalam bab ini adalah
pengembangan binsis secara eksternal.

Aspek Etika dalam kombinasi Bisnis

Kombinasi bisnis mampu mengakselerasi pertumbuhan perusahaan sehingga dapat


berkembang jauh lebih cepat dibandingkan jika melakukan pertumbuhan secara alami melalui
peningkatan produksi dan skala usaha. Kombinasi bisnis akan menjadikan perusahaan besar sehingga
struktur kepemilikannya menjadi rumit. Dalam beberapa kasus, kerumitan kepemilikan dalam satu grup
usaha dimanfaatkan untuk melakukan manajemen laba yang merugikan pemegang saham dan seluruh
stakeholder.

Kasus Enron menyebabkan perusahaan tersebut dibubarkan pada tahun 2001. Enron
mendirikan banyak entitas baru yang disebut sebagai entitas bertujuan khusus (Special Purpose Entity
- SPE) dalam bisnisnya. Melalui entitas baru tersebut dirancang transaksi fiktif yang sulit untuk dilacak
sehingga menghasilkan laba yang tinggi namun sebenarnya hanya laba yang dimanipulasi.
Pembentukan SPE dalam kasus Enron juga dimanfaatkan untuk menyembunyikan utang entitas,
sehingga tidak terlihat utang entitas yang sebenarnya.

Kombinasi bisnis diakui sebesar biaya perolehan bagi pihak pengakuisisi. Biaya perolehan
didasarkan pada hasil negosiasi antara para pihak. Pengakuisisi akan mencatat aset dan liabilitas dari
hasil kombinasi bisnis tersebut dengan menggunakan nilai wajar. Penggunaan nilai ini sering kali juga
dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai perusahaan dengan cepat sehingga harga saham perusahaan
juga meningkat.

Beberapa kasus yang menunjukkan tindakan tidak etis yang dirancang dalam transaksi
kombinasi bisnis baik untuk tujuan manajemen laba maupun juga perpajakan, menjadikan transaksi ini
juga memperoleh perhatian bagi regulator pasar modal. Kompleksitas akuntansi kombinasi bisnis
menjadikan kombinasi bisnis menjadi transaksi penting yang perlu dipelajari dan dicermati.

Jenis Kombinasi Bisnis


Strategi Bisnis

Kombinasi bisnis dapat dilihat dari aspek strategi perusahaan. Perusahaan melakukan
kombinasi bisnis dalam rangka mengembangkan usahanya. Pengembangan usaha dapat dilakukan
melalui integrasi vertikal, horizontal, dan konglomerasi.

a. Integrasi vertikal adalah kombinasi bisnis dengan melakukan akuisisi entitas yang memiliki
hubungan pemasok atau distribusi. Dalam integrasi ini entitas dapat melakukan akuisisi hilir dengan
melakukan akuisisi pada jalur distribusi atau akuisisi hulu dengan melakukan akuisisi pada jalur
pemasok.
Misalnya entitas produsen mie instan mengakuisisi entitas produsen gandum yang merupakan
bahan baku mie instan atau mengakuisisi entitas distribusi mie instan. Proses ini disebut integrasi
hulu. Namun dapat juga perusahaan melakukan integrasi hilir dengan mengakuisisi perusahaan ritel
yang menjual produk mie instan.
b. Integrasi horizontal adalah kombinasi bisnis dengan melakukan akuisisi entitas yang
menghasilkan produk sejenis atau produk yang berkaitan. Misalnya entitas produsen mie instan
mengakuisisi entitas produsen kecap, saus, makanan kecil lainnya yang bahan bakunya sejenis
dengan mie instan.
c. Konglomerasi adalah kombinasi bisnis dengan melakukan akuisisi entitas yang tidak memiliki
hubungan dengan entitas. Hasil dari integrasi akan terbentuk perusahaan konglomerat, grup usaha
dengan berbagai produk yang dihasilkan dan bergerak dalam beberapa industri berbeda. Misal
perusahaan mie instan mengakuisisi bank, asuransi, perusahaan otomotif.

Bentuk Entitas

Jenis kombinasi bisnis dapat juga dibedakan tentang bagaimana bentuk perusahaan sebelum
dan sesudah melakukan kombinasi bisnis. Berdasarkan bentuk hukum ini, kombinasi bisnis dapat
diklasifikasikan atas:

a. Merger (Statutory merger) adalah kombinasi bisnis yang dilakukan dengan menggabungkan dua
atau lebih entitas, di mana entitas yang diakuisisi dibubarkan serta semua aset dan liabilitasnya
diambil alih pihak yang mengakuisisi. Dalam merger harus ada pihak yang dibubarkan dan pihak
yang tetap berdiri untuk menerima aset dari pembubaran pihak yang dibubarkan. Bentuk ini sering
juga disebut sebagai legal merger karena secara hukum entitas dibubarkan dan bergabung dengan
perusahaan lain. Entitas yang masih berdiri akan menggabungkan aset dan liabilitasnya dengan aset
dan liabilitas entitas yang diakuisisi.
b. Konsolidasi (Statutory consolidation) adalah kombinasi bisnis dengan membentuk satu entitas
baru yang akan mengambil alih semua aset dan liabilitas entitas yang bergabung. Entitas baru
dibentuk dengan mengambil alih semua aset dan liabilitas dari entitas yang bergabung yang telah
dibubarkan.
c. Akuisisi (Stock acquisition) adalah kombinasi dengan membeli kepemilikan entitas yang
diakuisisi, namun entitas yang diakuisi tetap berdiri hanya dikendalikan oleh entitas pengakuisisi.
Bentuk akuisisi dilakukan dengan pembentukan perusahaan baru yang bertindak sebagai entitas
holding, atau pihak pengakuisisi merupakan entitas yang sebelumnya telah ada. Pihak pengakuisisi
atau entitas holding yang dibentuk akan menyusun laporan keuangan konsolidasian yang akan
menggabungkan aset dan liabilitas entitas dari semua anak yang berada di bawah kendalinya.

Dalam istilah sehari-hari, statutory consolidation sering juga disebut sebagai merger.
Bergabungnya bank-bank pemerintah menjadi entitas baru yang bernama Bank Mandiri lebih sering
disebut sebagai merger bank-bank pemerintah, bukan konsolidasi bank-bank pemerintah. Oleh karena
itu, dalam dunia bisnis, ketiga bentuk kombinasi bisnis di atas dikenal sebagai merger dan akuisisi.
Untuk memudahkan, pada bagian selanjutnya istilah yang lebih sering digunakan adalah AKUISISI,
yang meliputi akuisisi aset dan liabilitas (statutory merger and consolidation) dan akuisisi saham (stock
acquisition).
Konsep Kunci

Akuisisi meliputi akuisisi aset dan liabilitas (statutory merger & consolidation) dan akuisisi saham (stock
acquisition)

Metode Akuntansi

Jenis kombinasi bisnis dapat juga dilihat dari sudut pandang akuntansi. Ada dua metode yang dikenal
dalam kombinasi bisnis yaitu:

a. Metode pooling of interest atau penyatuan kepentingan. Dalam metode penyatuan kepentingan
masing-masing pihak akan menyatukan kepentingan bisnisnya sehingga tidak diperlukan penilaian
ulang aset dan liabilitas entitas yang bergabung. Dalam metode ini dasar
pencatatannya adalah nilai buku dari entitas yang bergabung. Metode penyatuan kepentingan tidak
diperkenankan dalam kombinasi bisnis yang umum, namun masih diperkenankan untuk kombinasi
bisnis entitas sepengendali seperti diatur dalam PSAK 38 Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali.
Dalam kombinasi bisnis entitas sepengendali sebenarnya tidak terjadi perubahan kepemilikan dari
pihak pengendali dalam kombinasi bisnis tersebut sehingga dasar nilai buku menjadi lebih tepat.
b. Metode purchase atau pembelian atau akuisisi. Dalam metode akuisisi, dasar pencatatan adalah
nilai wajar pada tanggal akuisisi, karena kombinasi bisnis dianggap sebagai pembentukan entitas
baru, sehingga dilakukan penilaian atas aset bersih entitas yang bergabung. Metode ini yang saat
ini berlaku untuk kombinasi bisnis seperti diatur dalam PSAK 22 Kombinasi Bisnis. Berbeda dengan
metode penyatuan kepentingan, dasar pencatatan pada nilai wajar dalam metode ini dapat
menimbulkan goodwill.

Standar Akuntansi Bisnis Kombinasi

Perkembangan PSAK 22: Kombinasi Bisnis

Standar akuntansi untuk kombinasi bisnis saat ini diatur dalam PSAK 22 (Revisi 2010)
Kombinasi Bisnis yang telah mengalami penyesuaian pada tahun 2014. Sebelumnya ketentuan
kombinasi bisnis menggunakan PSAK 22 (1994) Penggabungan Usaha. Terdapat perbedaan istilah
dalam standar baru dibandingkan dengan standar lama yaitu penggabungan usaha berubah menjadi
kombinasi bisnis. PSAK 22 (Penyesuaian 2014) merupakan adopsi IFRS 3 Business Combination. PSAK
22 (1994) diterbitkan pada 7 September 1994. Pada PSAK 22 (1994) penggabungan usaha menjelaskan
dua metode penggabungan usaha yaitu metode pembelian (purchase) dan metode penyatuan
kepentingan (pooling of interest). Penggabungan usaha melalui akuisisi dipertanggungjawabkan
dengan metode pembelian. Metode penyatuan kepentingan (pooling of interest) digunakan untuk
penggabungan usaha yang sulit mengidentifikasi pihak pengakuisisi, pemegang saham perusahaan
yang bergabung bersama-sama mengendalikan operasi perusahaan dan manajemen perusahaan yang
bergabung menjadi bagian perusahaan gabungan. Metode penyatuan kepentingan, aset dan liabilitas
perusahaan yang bergabung dicatat sebesar nilai buku (tercatat).

Pada PSAK 22 (Penyesuaian 2014), penggabungan usaha hanya menggunakan metode


pembelian, atau yang sekarang disebut metode akuisisi. Metode penyatuan kepentingan tidak
diperkenankan. Goodwill yang terjadi tidak lagi diamortisasi tetapi akan diturunkan nilainya sesuai
dengan ketentuan dalam PSAK 48 (Revisi 2013) Penurunan Nilai. Jika terjadi goodwill negatif akan
diakui sebagai pendapatan pada tanggal akuisisi.

Restrukturisasi Entitas Sepengendali

Restrukturisasi entitas sepengendali (RES) diatur khusus dalam PSAK 38(Revisi 2012)
Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali. RES adalah kombinasi bisnis yang semua entitas atau bisnis
yang bergabung pada akhirnya dikendalikan oleh pihak yang sama (baik sebelum maupun sesudah
kombinasi bisnis) dan pengendaliannya tidak bersifat sementara. RES tidak diatur secara khusus dalam
IFRS sehingga PSAK 38 (Revisi 2012) merupakan PSAK yang disusun oleh Dewan Standar Akuntansi
Keuangan (DSAK) tanpa mengacu pada IFRS. Saat ini belum ada ketentuan IFRS terkait transaksi
entitas sepengendali.

Contoh transaksi RES misalnya, entitas induk memindahkan sebagian aset neto dari entitas
anak yang dimilikinya menjadi aset entitas induk. Entitas induk mengalihkan sebagian hak kepemilikan
entitas anak ke entitas anak lainnya. Entitas induk menukar kepemilikannya aset neto dalam entitas
anak dengan saham tambahan yang diterbitkan oleh entitas anak lain. Perubahan tersebut akan
menyebabkan perubahan bentuk hukum kepemilikan di entitas anak atau entitas induk, tetapi bukan
perubahan substansi ekonomi. Substansi ekonomi atas transaksi tersebut tidak berubah karena
dilakukan pada entitas yang dikendalikan oleh pihak yang sama, sehingga walaupun terjadi pengalihan
namun tetap akan masuk dalam laporan keuangan konsolidasian.

Restrukturisasi entitas sepengendali merupakan pengalihan bisnis yang dilakukan dalam rangka
reorganisasi entitas-entitas yang berada dalam satu pengendalian atau dalam satu kelompok usaha
yang sama. RES bukan merupakan perubahan kepemilikan dalam arti substansi ekonomi sehingga
dalam transaksi tersebut tidak boleh menimbulkan laba atau rugi. Transaksi RES diakui pada jumlah
tercatat berdasarkan metode penyatuan kepemilikan. Metode penyatuan kepemilikan dianggap sebagai
metode paling tepat untuk mencerminkan sifat transaksi kombinasi bisnis entitas sepengendali yang
pada dasarnya tidak mengakibatkan perubahan substansi ekonomi yang signifikan.

Metode ini juga masih digunakan dalam FASB ASC Topic 805 - Business Combination dan
praktik di negara lain seperti Inggris, Hong Kong, dan Singapura. Metode penyatuan kepemilikan
dianggap tidak bertentangan dengan IFRS yang berlaku saat ini karena tidak diatur secara spesifik
dalam IFRS. Saat ini IASB sedang dalam proses memformulasikan metode akuntansi untuk transaksi
kombinasi bisnis entitas sepengendali, sehingga IFRS 3 Business Combinations mengeluarkan hal ini
dari ruang lingkupnya.

Aspek Perpajakan dalam Kombinasi Bisnis

Pajak merupakan hal yang diperhatikan dalam proses merger dan akuisisi perusahaan. Proses
merger dan akuisisi melibatkan transfer aset dan liabilitas. Pajak penghasilan dikenakan atas selisih
antara nilai buku aset dan liabilitas dengan nilai wajar aset dan liabilitas yang dialihkan dalam proses
merger dan akuisisi.

Pajak harus dibayar oleh pihak yang melakukan pengalihan aset. Jika yang dialihkan tanah dan
bangunan akan dikenakan 5% pajak final atas nilai jual. Jika bukan tanah dan bangunan akan
dikenakan pajak penghasilan sebesar keuntungan dari selisih nilai wajar dengan nilai buku. Untuk
pengalihan tanah dan bangunan pihak yang mengakuisisi dikenakan bea perolehan hak tanah dan
bangunan sebesar 5%.

Perusahaan yang ingin menggunakan nilai buku harus mengajukan permohonan kepada Dirjen
Pajak dengan melampirkan tujuan melakukan merger, melunasi seluruh pajak dan memenuhi
persyaratan tujuan bisnis (business purpose test). Business purpose test dilakukan untuk memastikan
bahwa tujuan merger untuk menciptakan sinergi yang kuat dan memperkuat struktur permodalan serta
tidak dilakukan untuk mengindarkan pajak. Direktorat Jenderal Pajak melarang merger yang
menggunakan nilai buku apabila perusahaan yang menerima pengalihan harta mengalami kerugian
atau kerugiannya lebih besar dari perusahaan yang mengalihkan hartanya.

KOMBINASI BISNIS DAN PENGENDALIAN

Konsep Kunci
Kombinasi bisnis adalah peristiwa di mana sebuah entitas memperoleh pengendalian atas entitas lain.
Definisi
Pembelian entitas yang sudah ada untuk digabungkan dengan entitas yang sudah ada diartikan
sebagai proses mengombinasikan bisnis sehingga transaksi ini dikenal dengan istilah business
combination atau pernah juga digunakan istilah penggabungan usaha. PSAK 22 (Penyesuaian 2014)
Kombinasi Bisnis, mendefinisikan kombinasi bisnis sebagai transaksi atau
peristiwa di mana sebuah entitas memperoleh pengendalian atas entitas lain. PSAK 22 (Revisi 2010)
mendefinisikan pengendalian sebagai kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional
suatu entitas untuk memperoleh manfaat dari aktivitas entitas tersebut.
Pengendalian
Definisi pengendalian awalnya dijelaskan dalam PSAK 22 (Penyesuaian 2014) sebagai
kekuasaan untuk mengatur keuangan dan operasi entitas yang diakuisisi. Namun definisi pengendalian
tersebut diganti dengan definisi pengendalian seiring terbitnya PSAK 65 Laporan Keuangan
Konsolidasian dan PSAK 22 (Penyesuaian 2014) Kombinasi Bisnis. Menurut PSAK 65, investor
mengendalikan investee ketika:
1. Investor memiliki kekuasaan (power) atas investee;
2. Investor terekspos atau memiliki hak atas imbal hasil variabel (variable return) dari keterlibatannya
dengan investee; dan
3. Investor memiliki kemampuan untuk memengaruhi imbal hasil tersebut melalui kekuasaannya atas
investee.
Investor memiliki kekuasaan atas investee ketika investor saat ini memiliki hak berupa
kemampuan kini untuk mengarahkan aktivitas relevan. Aktivitas relevan adalah aktivitas yang secara
signifikan memengaruhi imbal hasil investee. Investor dikatakan terekspos atau memiliki hak atas imbal
hasil variabel dari keterlibatannya dengan investee ketika imbal hasil yang akan diterima investor atas
keterlibatannya tersebut dapat bervariasi tergantung dari kinerja investee. Imbal hasil investor dapat
positif, negatif atau kombinasinya. Investor mengendalikan investee jika investor tidak hanya memiliki
kekuasaan dan memiliki kemampuan atas investee dan eksposur atau hak atas imbal hasil variabel dari
keterlibatannya dengan investee, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menggunakan kekuasaannya
dalam memengaruhi imbal hasil investor dari keterlibatannya dengan investee.
Konsep Kunci
Investor mengendalikan investee ketika investor terekspos atau memiliki hak atas imbal hasil
variabel dari keterlibatannya dengan investee dan memiliki kemampuan untuk untuk memengaruhi
imbal hasil tersebut melalui kekuasaannya atas investee.
Contoh paling sederhana adalah investor A yang merupakan pemegang saham mayoritas pada
investee B. Sebagai pemegang saham mayoritas, investor A memiliki kekuasaan atas investee B dari
hak suara yang dimilikinya. Selain itu, Imbal hasil yang akan diterima investor A adalah dividen yang
nilainya tergantung dari kinerja (laba) yang diperoleh investee B. Dengan kekuasaan yang dimiliki,
investor A dapat menentukan jumlah dividen yang akan diterima dari investee B. Berbeda halnya jika
investor C yang memiliki oblisasi Investee B, obligasi tidak memiliki hak suara dan imbal hasil (bunga)
bersifat tetap. Oleh karena itu, investor C tidak memiliki pengendalian atas investee B meskipun investor
C memiliki seluruh obligasi Investee B.
Investor mengendalikan investee ketika investor terekspos atau memiliki hak atas imbal hasil
variabel dari keterlibatannya dengan investee dan memiliki kemampuan untuk memengaruhi imbal hasil
tersebut melalui kekuasaannya atas investee. Hak imbal hasil variabel adalah dividen yang dibagikan
kepada pemegang saham. Pengendalian terjadi jika investor memiliki hak untuk menentukan jumlah
dividen yang dibagikan. Jumlah dividen yang dibagikan ditentukan dalam rapat umum pemegang
saham. Jika pemegang saham memiliki suara mayoritas dalam rapat umum saham maka pemegang
saham tersebut dapat menentukan kapan dan jumlah dividen yang akan dibagikan.
Memengaruhi imbal hasil dapat juga diartikan kemampuan memengaruhi aktivitas relevan pada
perusahaan investee. Aktivitas relevan adalah aktivitas utama dan signifikan memengaruhi kinerja
investee. Kemampuan investor terekspos atau memiliki hak atas imbal hasil variabel dari
keterlibatannya dengan investee dan memiliki kemampuan untuk memengaruhi imbal hasil tersebut
melalui kekuasaannya atas investee.
Bisnis
Dalam transaksi kombinasi bisnis harus dipastikan bahwa transaksi tersebut merupakan
pembelian sebuah bisnis bukan pembelian aset perusahaan secara terpisah. Menurut PSAK 22
(Penyesuaian 2014), bisnis adalah suatu rangkaian terpadu dari kegiatan dan aset yang mampu dikelola
dengan tujuan memberikan hasil dalam bentuk dividen, efisiensi biaya atau manfaat ekonomi lainnya
secara langsung kepada pemilik entitas. Suatu rangkaian terpadu dari kegiatan tersebut paling tidak
meliputi input, proses, dan output.
Industri perkapalan misalnya, setiap kapal berbentuk satu perusahaan. Pada akuisisi kapal
harus dipastikan bahwa akuisisi tersebut terjadi atas bisnis kapal bukan kapal sebagai aset tetap. Jika
akuisisi atas kapal beserta izin usaha dan infrastruktur lainnya maka akuisisi tersebut merupakan
kombinasi bisnis. Namun jika akuisisi tersebut atas kapal tanpa disertai izin usaha dan lainnya, maka
walaupun terjadi pembelian perusahaan, namun transaksi tersebut merupakan
transaksi pembelian aset tetap.
Identifikasi Kombinasi Bisnis
Entitas pertama-tama harus menentukan apakah suatu transaksi merupakan kombinasi bisnis
atau bukan dengan menerapkan definisi dalam standar bahwa aset dan liabilitas yang diambil alih
merupakan suatu bisnis. Panduan aplikasi pada PSAK 22 (Penyesuaian 2014) menjelaskan
lebih rinci untuk membedakan transaksi adalah bisnis kombinasi atau penjualan aset tetap.
Dalam melakukan pencatatan transaksi kombinasi bisnis PSAK 22 (Penyesuaian 2014),
mengharuskan menggunakan metode akuisisi. Pada kombinasi bisnis dengan metode akuisisi
disyaratkan dilakukan hal-hal berikut:
1. Mengidentifikasi pihak pengakuisisi. Salah satu dari entitas dalam kombinasi bisnis diidentifikasi
sebagai pihak pengakuisisi yaitu entitas yang memperoleh pengendalian atas pihak yang diakuisisi.
2. Menentukan tanggal akuisisi. Pihak pengakuisisi mengidentifikasi tanggal akuisisi, yaitu tanggal
pihak pengakuisisi memperoleh pengendalian atas pihak yang diakuisisi.
3. Mengakui dan mengukur aset teridentifikasi yang diperoleh, liabilitas yang diambil alih, dan
kepentingan nonpengendali pihak yang diakuisisi. Pada tanggal akuisisi, pihak pengakuisisi
mengakui secara terpisah berupa goodwill, aset teridentifikasi yang diperoleh, liabilitas
diambil alih, dan kepentingan nonpengendali dari pihak yang diakuisisi. Pihak pengakuisisi mengukur
aset teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih dengan nilai wajar pada tanggal
akuisisi.
4. Mengakui dan mengukur goodwill atau keuntungan dari pembelian dengan diskon.
Akuntansi kombinasi bisnis terkait dengan pencatatan Akuntansi untuk pihak yang melakukan
akuisisi atau pengakuisisi. Dalam setiap kombinasi bisnis harus dilakukan diidentifikasi pihak
pengakuisisi. Biasanya pihak pengakuisisi adalah pihak yang membeli atau mengakuisisi entitas lain.
Namun dalam situasi tertentu tidak mudah untuk menentukan pihak mana pengakuisisinya. Jika pihak
pengakuisisi sulit diidentifikasi ada beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk
menentukan pihak pengakuisisi antara lain:
a. Pihak pengakuisisi biasanya dari sisi ukuran lebih besar;
b. Pihak pengakuisisi yang mengalihkan aset, saham, atau sumber daya untuk memperoleh
kepemilikan bisnis.
Namun dapat terjadi kondisi sebaliknya, pihak yang yang mengeluarkan aset, saham atau
sumber daya justru menjadi pihak yang diakuisisi. Kondisi ini disebut akuisisi terbalik atau
reverse acquisition.
Pada tanggal akuisisi, pihak pengakuisisi mengakui, secara terpisah dari goodwill, aset
teridentifikasi yang diperoleh, liabilitas yang diambil alih, dan kepentingan nonpengendali pihak
yang diakuisisi. Untuk memenuhi kualifikasi pengakuan dalam metode akuisisi, aset teridentifikasi yang
diperoleh dan liabilitas yang diambil-alih memiliki persyaratan sebagai berikut:
1. Memenuhi definisi aset dan liabillitas sesuai dengan kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian
Laporan Keuangan (KDPPLK) pada tanggal akuisisi.
2. Merupakan bagian yang dipertukarkan antara pihak pengakuisisi dan pihak yang diakuisisi dalam
transaksi kombinasi bisnis, bukan hasil transaksi terpisah di luar kombinasi bisnis.
Dalam menentukan aset teridentifikasi yang diperoleh. liabilitas yang diambil alih
memungkinkan munculnya aset dan liabilitas yang sebelumnya tidak diakui oleh pihak yang diakuisisi.
Misalnya, pihak pengakuisisi mengakui aset tak berwujud yang dapat diidentifikasi yang diperoleh,
seperti merek, paten atau hubungan pelanggan, yang tidak diakui oleh pihak yang diakuisisi sebagai
aset dalam laporan keuangannya karena pihak yang diakui mengembangkannya secara internal dan
sebelum kombinasi bisnis memperlakukan biaya terkait sebagai beban.
AKUNTANSI KOMBINASI BISNIS
Pengakuan dan Pengukuran Aset dan Liabilitas
Dalam suatu kombinasi bisnis, akuisisi dilakukan terhadap aset dan liabilitas yang dapat juga
menghasilkan goodwill. Jika akuisisi tidak dilakukan secara penuh, maka bagian yang tidak diakuisisi
disebut kepentingan non-pengendali. Pihak pengakuisisi mengakui secara terpisah berupa goodwill,
aset teridentifikasi yang diperoleh, liabilitas yang diambil alih, dan kepentingan nonpengendali dari
pihak yang diakuisisi. Aset dan liabilitas tersebut pada umumnya diklasifikasikan sebagaimana klasifikasi
yang ada dalam PSAK lain.
Pihak pengakuisisi mengukur aset teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih
dengan nilai wajar pada tanggal akuisisi. Pengukuran nilai wajar atas aset dan liabilitas mengacu kepada
pengukuran nilai wajar pada PSAK 68 (2013) Pengukuran Nilai Wajar, kecuali pengukuran tersebut
sudah diatur secara spesifik pada PSAK tertentu seperti imbalan kerja, pajak penghasilan, dan liabilitas
kontinjensi.
Biaya Transaksi
Transaksi kombinasi membutuhkan biaya yang besar. Biasanya biaya tersebut dikeluarkan oleh
pihak pengakuisisi, namun tidak menutup kemungkinan pihak yang diakuisi juga akan mengeluarkan
biaya. Biaya tersebut mencakup biaya makelar (finder's fees), advis, hukum, akuntansi, penilaian, dan
biaya profesional atau konsultasi lainnya, biaya administrasi umum dan biaya pendaftaran serta
penerbitan efek utang dan efek ekuitas. Biaya-biaya terkait akuisisi tersebut diakui sebagai beban pada
periode saat biaya tersebut terjadi dan jasa diterima, kecuali biaya untuk menerbitkan efek utang dan
efek ekuitas. Jika pihak pengakuisisi menerbitkan efek sebagai imbalan yang dialihkan dalam suatu
kombinasi bisnis, maka biaya tersebut diakui sebagai pengurang premium atau agio/tambahan modal
disetor yang timbul atas penerbitan efek tersebut. Ketentuan ini mengacu pada PSAK 55 (Revisi 2013)
Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.
Imbalan yang Dialihkan
Dalam suatu kombinasi bisnis, pihak pengakuisisi membayar imbalan kepada pihak yang
diakuisisi atas akuisisi yang dilakukan. Akuisisi pada prinsipnya adalah pembelian sebuah bisnis, seperti
halnya pembelian suatu aset secara tunai, maka imbalan yang dialihkan atas pembelian tersebut adalah
kas. Imbalan dalam kombinasi bisnis dapat berupa kas, aset non-kas lainnya, efek utang atau efek
ekuitas yang diterbitkan oleh pihak pengkuisisi. Imbalan yang dialihkan dalam suatu kombinasi bisnis
diukur pada nilai wajar, yang dihitung sebagai hasil penjumlahan dari nilai wajar tanggal akuisisi atas
seluruh aset yang dialihkan oleh pihak pengakuisisi, liabilitas yang diambil alih oleh pihak pengakuisisi
kepada pemilik pihak yang diakuisisi sebelumnya. Jika imbalan yang dialihkan berupa kas, maka nilai
wajarnya sama dengan nilai nominalnya. Namun jika imbalan yang dialihkan selain kas, maka timbul
konsekuensi harus diukur pada nilai wajar. Pengukuran nilai wajar atas imbalan yang dialihkan mengacu
kepada pengukuran nilai wajar pada PSAK 68 (2013).
Goodwill
Goodwill adalah aset yang diklasifikasikan sebagai aset takberwujud. Goodwill muncul pada
saat entitas melakukan akuisisi entitas lain. Goodwill akan diakui oleh entitas yang melakukan akuisisi.
Goodwill mencerminkan manfaat ekonomi yang timbul dari aset yang diperoleh dalam kombinasi bisnis
yang tidak dapat diidentifikasikan secara individu sehingga harus diakui secara terpisah.
Goodwill akan terjadi jika harga perolehan dari entitas yang diakuisisi lebih tinggi dibandingkan
nilai wajar entitas yang diakuisisi. Pada saat terjadi goodwill pihak pengakuisisi membeli dengan harga
yang lebih mahal dari nilai wajar entitas yang diakuisisi. Pada transaksi tersebut nilai aset pihak
pengakuisisi telah menunjukkan nilai wajar pada tanggal tersebut, maka kelebihan harga beli tersebut
tidak dapat diidentifikasikan ke aset yang ada, sehingga harus diakui bentuk aset baru yaitu goodwill.
Pihak pengakuisisi bersedia membayar lebih mahal karena memandang ada nilai lebih yang akan
dihasilkan oleh entitas yang diakuisisi melebihi nilai wajarnya. Kelebihan mungkin disebabkan karena
jaringan pemasaran, teknologi, keandalan SDM, dan lain-lain. Lebih spesifik, nilai goodwill dihitung
sebagai berikut:
Goodwill = (imbalan yang dialihkan + kepentingan ekuitas yang sebelumnya dimiliki oleh pihak
pengakuisisi + kepentingan nonpengendali pada pihak yang diakuisisi) - aset teridentifikasi yang
diperoleh dan liabilitas yang diambil alih.
Nilai-nilai dalam perhitungan di atas diukur pada nilai wajar pada tanggal akuisisi. Sebagai
gambaran, perhitungan di atas dapat juga dilihat seperti Gambar 1.1 berikut:
GAMBAR 1.1
Perhitungan Nilai Goodwill

Biaya Transaksi

Imbalan Yang
Goodwill
dialihkan

Aset Teridentifikasi
Kepentingan ekuitas
yang diperoleh dan
yang dimiliki
liabilitas yang
sebelumnya
diambilalih

Untuk akuisisi aset dan liabilitas, goodwill diakui dalam laporan posisi keuangan pihak
pengakuisisi. Sedangkan pada akuisisi saham, goodwill yang timbul pada akuisisi diakui dalam saldo
investasi dalam laporan posisi keuangan pihak pengakuisisi dan akan diakui secara terpisah pada
laporan posisi keuangan konsolidasian. Goodwill diuji atas penurunan nilai setiap akhir periode
pelaporan, terlepas ada atau tidaknya indikasi penurunan nilai.
Pencatatan Transaksi Kombinasi Bisnis
Pencatatan transaksi kombinasi bisnis sangat dipengaruhi bagaimana bentuk transaksi tersebut
dilakukan. Transaksi bisnis kombinasi akan dicatat oleh pihak yang diakuisisi atau pihak yang melakukan
akuisisi. Pencatatan yang dilakukan akan dipengaruhi oleh Fokus pembahasan pada bab ini adalah
pencatatan pada pihak yang melakukan akuisisi. Transaksi kombinasi bisnis secara umum dapat
dikategorikan transaksi berikut:
a) Entitas yang diakuisisi menjual aset bersih dan kemudian entitas tersebut dibubarkan.
b) Entitas yang mengakuisisi menerima aset dari entitas yang dibubarkan.
c) Entitas yang diakuisi menjual aset namun entitas tidak dibubarkan.
d) Entitas yang mengakuisisi menerima aset dari entitas yang tidak dibubarkan.
e) Entitas mengakuisisi kepemilikan entitas lain dan entitas tersebut tidak dibubarkan.
Untuk pencatatan pihak yang mengakuisisi terdapat perbedaan jurnal jika pihak pengakuisisi
menerima aset dan tidak menerima aset. Jika pihak pengakuisi menerima aset atau sering diistilahkan
sebagai legal merger, pihak pengakuisi akan mengakui seluruh aset dan liabilitas pihak yang diakuisi
berdasarkan nilai wajar serta mencatat imbalan yang diserahkan dalam rangka akuisisi tersebut. Jika
terdapat perbedaan antara nilai perolehan dan nilai wajar aset akan diakui sebagai goodwill. Pihak yang
diakuisisi akan menerima kas dari pihak pengakuisi, kemudian melakukan proses likuidasi perusahaan
dengan membagikan kas tersisa kepada pemilik perusahaan. Dapat pula terjadi akuisis aset dan
liabilitas tersebut tidak diikuti dengan pembubaran entitas yang diakuisi. Jika hal itu terjadi penerimaan
kas dari pihak yang mengakuisisi akan dicatat sebagai aset entitas dan sebagai lawannnya nilai aset
dan liabilitas akan dihapuskan dari pembukuan. Setelah akuisisi tersebut dilakukan entitas yang diakuisi
akan melanjutkan usahanya dengan uang kas yang diperolehnya dari proses akuisisi tersebut.
Akuisisi perusahaan dapat juga terjadi tanpa pembubaran pihak yang diakuisisi. Ada dua
kemungkinan transaksi yang dilakukan oleh pihak pengakuisisi yaitu dengan melakukan transaksi
langsung dengan pemegang saham atau transaksi dengan perusahaan. Jika transaksi dilakukan dengan
pemegang saham, maka transaksi ini tidak mengubah ekuitas dan nilai aset entitas yang diakuisi,
sehingga transaksi ini tidak dicatat oleh pihak yang diakuisisi. Hanya terjadi perubahan susunan
pemegang saham. Untuk perusahaan yang telah terdaftar di pasar modal transaksi yang lebih sering
terjadi adalah pembelian saham langsung dari pemilik. Transaksi perubahan pengendalian biasanya
tidak melalui pembelian langsung di pasar spot sehingga harus mengikuti mekanisme yang diatur di
pasar modal. Jika transaksi ini dilakukan dengan perusahaan, maka perusahaan yang diakuisisi akan
menerima uang sehingga terjadi tambahan modal.
Jika perusahaan yang diakuisisi tidak dibubarkan, maka pihak pengakuisisi akan mencatat
akuisisi tersebut sebagai investasi pada entitas anak sebesar harga perolehan dan akan dicatat dengan
mendebit investasi pada entitas anak dan mengkredit sebesar imbalan yang diserahkan. Dalam
transaksi akuisisi imbalan yang diserahkan dapat berupa kas, aset selain kas dan saham perusahaan
yang mengakuisisi atau saham perusahaan lain. Pada saat pihak pengakuisisi menyusun laporan
keuangan, harus dibuat laporan keuangan konsolidasian. Investasi pada entitias anak tersebut akan
diliminasi dengan ekuitas entitas anak, sehingga aset dan utang entitas yang diakuisisi akan
digabungkan.
Contoh 1.1 Merger: Akuisisi Aset Bersih - Imbalan berupa Kas
Pada 31 Desember 2015, PT Permata mengakuisisi seluruh aset bersih PT Samara dalam
sebuah merger. Informasi laporan keuangan untuk PT Permata dan PT Samara pada saat itu adalah:
Laporan Posisi Keuangan
31 Desember 2015
(dalam 000 Rupiah, kecuali par saham)

PT Permata PT Samara
Nilai Tercatat Nilai Tercatat Nilai Wajar
Kas Rp480.000 Rp40.000 Rp40.000
Piutang Usaha Rp280.000 Rp70.000 Rp70.000
Persediaan Rp340.000 Rp60.000 Rp100.000
Tanah Rp160.000 Rp80.000 Rp120.000
Bangunan dan Mesin Rp760.000 Rp620.000 Rp300.000
Akumulasi Penyusutan -Rp380.000 -Rp400.000
Total Aset Rp1.640.000 Rp470.000 Rp630.000
Utang Usaha Rp170.000 Rp110.000 Rp110.000
Utang Wesel Rp300.000 Rp240.000 Rp240.000
Saham Biasa
Nominal Rp 20.000 Rp400.000
Nominal Rp 12.000 Rp36.000
Tambahan Modal Disetor Rp320.000 Rp20.000
Saldo Laba Rp450.000 Rp64.000
Total Liabilitas & Ekuitas Rp1.640.000 Rp470.000
PT Permata mengalihkan imbalan senilai Rp352.000.000 untuk mengakuisisi aset neto PT
Samara. PT Permata mengeluarkan Rp20.000.000 untuk biaya legal.
Atas akuisisi tersebut, maka goodwill yang terjadi dapat dihitung sebagai berikut:
Imbalan yang dialihkan Rp352.000.000
Kepentingan yang Dimiliki Sebelumnya -
Kepentingan Nonpengendali -
Jumlah Rp352.000.000
Aset Bersih Teridentifikasi Rp280.000.000
Goodwill Rp72.000.000
Aset bersih teridentifikasi dihitung dari nilai wajar aset dikurang liabilitas. Tidak ada
kepentingan yang dimiliki sebelumnya karena PT Permata tidak mengakuisisi secara bertahap, demikian
juga dengan nilai kepentingan nonpengendali karena akuisisi dilakukan atas seluruh aset bersih PT
Samara. Pada contoh ini, akuisisi dilakukan terhadap aset bersih sehingga pihak pengakuisisi mengakui
seluruh aset teridentifikasi yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih pada nilai wajarnya. Berikut
jurnal yang dicatat oleh PT Permata:
Beban 20.000.000
Kas 20.000.000
Mencatat biaya transaksi

31 Desember 2015
Kas 40.000.000
Piutang Usaha 70.000.000
Persediaan 100.000.000
Tanah 120.000.000
Bangunan dan Mesin 300.000.000
Goodwill 72.000.000
Utang Usaha 110.000.000
Utang Wesel 240.000.000
Kas (imbalan yang dialihkan) 352.000.000
Mencatat akuisisi aset bersih
Atas akuisisi ini, PT Samara sebagai entitas yang dibubarkan akan menghapusbukukan seluruh
aset dan liabilitas yang dimiliki dan menghentikan operasinya.
Contoh 1.2 Merger: Akuisisi Aset Bersih - Imbalan berupa Non Kas
Berdasarkan Contoh 1.1, seandainya PT Permata menerbitkan 11.000 lembar saham biasa
sebagai imbalan yang dialihkan atas akuisisi tersebut. Nilai wajar saham PT Permata adalah Rp32.000/
lembar. Atas penerbitan saham tersebut, PT Permata juga membayar biaya penerbitan saham senilai
Rp30.000.000. PT Permata akan mencatat jurnal sebagai berikut:
31 Desember 2015
Beban 20.000.000
Beban Tangguhan 30.000.000
Kas 50.000.000
Mencatat biaya akuisisi

31 Desember 2015
Kas 40.000.000
Piutang Usaha 70.000.000
Persediaan 10.000.000
Tanah 120.000.000
Bangunan dan Mesin 300.000.000
Goodwill 72.000.000
Utang Usaha 110.000.000
Utang Wesel 240.000.000
Saham Biasa (Rp 20.000 x 11.000) 220.000.000
Tambahan Modal Disetor 102.000.000
Beban Tangguhan 30.000.000
Mencatat akuisisi aset bersih

Nilai Tambahan Modal Disetor dihitung sebagai berikut:


Nilai wajar saham (Rp32.000 x 11.000) Rp352.000.000
Nilai nominal saham (Rp20.000 x 11.000) Rp220.000.000
Nilai Tambahan Modal Disetor Rp132.000.000
Beban Tangguhan Rp 30.000.000
Nilai Tambahan Modal Disetor-Bersih Rp 102.000.000

Perbedaan jurnal pada Contoh 1.2 ini dibandingkan Contoh 1.1 adalah pada imbalan yang
dialihkan (saham biasa dan tambahan modal disetor). Perlu diperhatikan bahwa Saham Biasa dan
Tambahan Modal Disetor dalam jurnal di atas bukanlah milik PT Samara yang diakui oleh PT Permata
namun imbalan non-kas yang dibayarkan oleh PT Permata.
Contoh 1.3 Akuisisi Saham - Imbalan berupa Kas
Berdasarkan Contoh 1.1, seandainya PT Permata mengakuisisi seluruh saham biasa PT Samara
dengan membayar tunai Rp352.000.000. Atas akuisisi tersebut, PT Samara tetap beroperasi dan tidak
dibubarkan. PT Permata akan mencatat jurnal sebagai berikut:
31 Desember 2015
Beban 20.000.000
Kas 20.000.000
Mencatat biaya akuisisi

31 Desember 2015
Investasi pada PT Samara 352.000.000
Kas 352.000.000
Mencatat akuisisi saham

Pada Contoh 1.3, jurnal yang dicatat oleh PT Permata sangat sederhana karena tidak mencatat
aset dan liabilitas secara individual. Hal ini disebabkan PT Samara tidak dibubarkan dan tetap
menggunakan aset dan liabilitas tersebut dalam operasinya. Pada tiap akhir periode pelaporan laporan
keuangan PT Permata dan PT Samara akan dikonsolidasikan. Pembahasan lebih rinci atas prosedur
konsolidasi akan dibahas pada bab-bab selanjutnya yang hanya membahas kombinasi bisnis melalui
akuisisi saham.
Jika akuisisi pada Contoh 1.3 dilakukan dengan imbalan non-kas, maka akun kas pada jurnal
akuisisi diganti dengan akun imbalan non-kas tersebut dan diukur pada nilai wajar.
Contoh 1.4 Konsolidasi: Akuisisi Aset Bersih - Imbalan berupa kas
Pada 31 Desember 2015, PT Mandiri mengakuisisi seluruh aset bersih PT Permata dan PT
Samara dalam sebuah statutory consolidation. Akuisisi ini menyebabkan dibubarkannya PT Permata
dan PT Samara dan bergabung menjadi entitas baru yaitu PT Mandiri. Informasi laporan keuangan
untuk PT Permata dan PT Samara pada saat itu adalah:
Laporan Posisi Keuangan
31 Desember 2015
(dalam 000 Rupiah)

PT Permata PT Samara
Nilai Tercatat Nilai Wajar Nilai Tercatat Nilai Wajar
Kas 480.000 480.000 40.000 40.000
Piutang Usaha 280.000 280.000 70.000 70.000
Persediaan 340.000 300.000 60.000 100.000
Tanah 160.000 200.000 80.000 120.000
Bangunan dan Mesin 760.000 600.000 620.000 300.000
Akumulasi Penyusutan (380.000) (400.000)
Total Aset 1.640.000 1.860.000 470.000 630.000
Utang Usaha 170.000 170.000 110.000 110.000
Utang Wesel 300.000 310.000 240.000 240.000
Saham Biasa
Nominal Rp20.000 400.000
Nominal Rp 12.000 36.000
Tambahan Modal Disetor 320.000 20.000
Saldo Laba 450.000 64.000
Total Liabilitas & Ekuitas 1.640.000 470.000

PT Mandiri mengalihkan imbalan senilai Rp1.800.000.000 untuk mengakuisisi aset neto PT


Permata dan PT Samara. PT Mandiri mengeluarkan Rp40.000.000 untuk biaya legal. Atas akuisisi
tersebut, maka goodwill yang terjadi dapat dihitung sebagai berikut:
Imbalan yang dialihkan Rp1.800.000.000
Kepentingan yang Dimiliki Sebelumnya -
Kepentingan Nonpengendali -
Jumlah Rp 1.800.000.000
Aset Bersih Teridentifikasi Rp 1.660.000.000
Goodwill Rp 140.000.000

Anda mungkin juga menyukai