Anda di halaman 1dari 5

AKUNTANSI INTERNASIONAL

The Effect of Mandatory Adoption of IFRS on Earning


Quality : Evidence from the European Union

Disusun Oleh :
Kelompok 3 Kelas G
1. Nisrina Huwaida 2015310690
2. Aqmarina Ishmah J. 2015310692
3. Mifta Intishar Mahfud 2015310708
4. Ika Nurlaila W. 2015310709
5. Tiara Puspa P.R. 2015310710
6. Adinda Ayu S.C.W 2015310711
7. Frida Cahya N. 2015310715

Dosen Pembimbing :
Dr. Luciana Spica Almilia,S.E.,M.Si.,QIA.,CPSAK

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi


PERBANAS SURABAYA
2017/2018
Dampak Pengadopsian IFRS secara Wajib terhadap Kualitas Laba :

Fakta pada Uni Eropa

Latar Belakang Penelitian

Dengan adanya kewajiban pengadopsian IFRS, tentunya ada yang pro dan
kontra dari kebijakan ini. Untuk yang pro dengan kewajiban ini, mereka
berpendapat bahwa konversi ke IFRS akan meningkatkan kualitas informai karena
meningkatkan komparabilitas dan transparansi pelaporan keuangan di seluruh
dunia, yang diharapkan dapat mengurangi biaya modal perusahaan. Namun, skeptis
dari penggunaan IFRS dimana satu standar dapat digunakan untuk seluruh keadaan
menyarankan bahwa standar yang memiliki kualitas tinggi mungkin diperlukan
namun tidak terlalu mendesak. Faktor tambahan seperti kelembagaan negara dan
insentif perusahaan juga dapat berperan penting dalam menentukan kualitas
akuntansi.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Bartoy (2005), Gassen dan


Sellhorn (2006), dan Barth (2008) membuktikan bahwa pengadopsian IFRS secara
sukarela mampu meningkatkan kualitas laba. Namun, pengadopsi IFRS secara
wajib diharapkan dalam berbeda dari pengguna sukarela dalam hal insentif karena
mereka sudah diwajibkan untuk menerapkan standar ini dari tahun 2005 dan
seterusnya.

Dengan demikian, peneliti berpendapat bahwa insentif dari “penolakan


IFRS” cenderung konstan dari waktu ke waktu dibanding dengan pengadopsi secara
sukarela. Akibatnya, tidak dapat diasumsikan bahwa temuan studi tentang adopsi
secara sukarela perlu digeneralisasi untuk adopsi IFRS secara wajib, dan
konsekuensi dari transisi ini sebagian besar masih tidak jelas. Dengan kata lain,
pertanyaan apakah IFRS wajib mewakili situasi yang berbeda masih
dipertanyaakan, dan tujuan utama dari penelitian ini adlaah untuk mengisi
kesenjangan dengan meneliti efek pengadopsian IFRS secara wajib pada kualitas
laba di negara-negara Eropa.
Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitiana adalah untuk meneliti apakah ada perbedaan kualitas
pelaporan keuangan setelah adanya kewajiban untuk mengadopsi IFRS pada tahun
2005. Lebih spesifiknya, penelitian ini meneliti apakah pengadopsian IFRS pada
negara-negara Eropa berkaitan dengan rendahnya manajemen laba dan tingginya
ketepatan waktu, consevatisme, dan relevansi dari nilai akuntansi.

Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pada kualitas


akuntansi antara sebelum dan sesudah pengadopsian IFRS. Penelitian ini
menemukan bahwa perusahaan menunjukkan peningkatan pada atribut
akuntansinya, namun mengalami penurunan pada basis pasarnya setelah
pengadopsian IFRS tahun 2005. Penemuan ini lebih condong ke perusahaan di
negara-negara dimana jarak antara GAAP nasional dan IFRS adalah penting.
Namun, penelitian ini tidak bisa menjelaskan adanya perbedaan pada perusahaan
yang berfokus pada GAAP domestik ke IFRS sebelum adanya kewajiban untuk
mengubah.

Implikasi Praktek

Dalam hasil penelitian yang menggunakan sampel seluruh perusahaan


publik yang tergabung dalam salah satu dari 15 negara anggota Uni Eropa (pada
tahun 2004) yang ditemukan dalam database Thomson WorldScope, dengan
pembatasan penelitian hanya pada perusahaan dengan tahun fiskal yang berakhir
pada tanggal 31 Desember untuk menyederhanakan identifikasi ketika standar
tertentu berlaku untuk perusahaan dan untuk menghindari bias, ditemukan beberapa
implikasi, antara lain :

1. Menurunnya perusahaan yang melakukan perataan laba setelah adanya


pengadopsian IFRS.
2. Berdasar hasil kualitas akrual, ditemukan bahwa standar deviasi residual
yang diperkirakan oleh model secara signifikan lebih kecil pada periode
setelah pengadopsian IFRS secara wajib, yang menunjukkan kualitas akrual
yang lebih tinggi.
3. Perusahaan terlibat dalam manajemen laba pada tingkat yang lebih rendah
setelah adanya transisi ke IFRS.
4. Pengujian pada perataan laba, kualitas akrual, besarnya akrual diskresioner
dan manajemen laba menujukkan bahwa ada peningkatan pada kualitas
akuntansi setelah beralih ke IFRS.
5. Menurunnya kegunaan informasi akuntansi kepada investor setelah
pengadopsian IFRS. Adopsi IFRS wajib dikaitkan dengan menurunnya
ketepatan waktu, consevatisme, dan relevansi dari nilai akuntansi
khususnya pada perusahaan yang GAAP domestiknya berbeda dari IFRS.

Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Meskipun dalam penelitian


ini peneliti mengendalikan insentif erusahaan dan perubahan ekonomi, peneliti
masih tidak yakin bahwa faktor-faktor itu dipengaruhi oleh struktur kelembagaan
negara. Dalam penelitian ini, peneliti menyempurnakan analisisnya dengan
membandingkan efek IFRS antar negara-negara dan kendali atas sistem hukum dan
politik. Kebijakan kewajiban di negara Eropa memberikan peluang besar untuk
mengatasi interpendensi antar standar akuntansi, struktur kelembagaan negara, dan
insentif perusahaan.

Selain itu, penelitian ini menggunakan periode adopsi IFRS yang relatif
singkat. Oleh karena itu, akan lebih baik bila pada penelitian selanjutnya
menggunakan periode waktu yang lebih lama untuk meneliti efek kewajiban
pelaporan IFRS.

Terakhir, penelitian ini terbatas pada enam indikator sebagai proksi untuk
kualitas laba. Penelitian selanjutnya bisa memeriksa aspek-aspek lain dari kualitas
akuntansi, seperti komparabilitas, prediktabilitas, dan persistensi.