Anda di halaman 1dari 28

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia dikatakan sebagai keseluruhan yang komplit, independen,
dan holistik secara biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang
keseluruhannya tidak dapat dipisahkan. Teori Henderson mempunyai 14
kebutuhan dasar manusia yaitu: bernafas secara normal, makan dan minum
cukup, eliminasi, bergerak dan mempertahankan posisi yang dikehendaki
(mobilisasi), istirahat dan tidur, memilih cara berpakaian, berpakaian dan
melepas pakaian, mempertahankan temperatur suhu tubuh dalam rentang
normal, menjaga tubuh tetap bersih dan rapi, menghindari bahaya dari
lingkungan, berkomunikasi dengan orang lain, beribadah menurut
keyakinan, bekerja yang menjanjikan, prestasi, bermain dan bepatisipasi
dalam berbagai bentuk rekreasi, belajar, menggali atau memuaskan rasa
keinginantahuan yang mengacu pada perkembangan dan kesehatan normal
(Potter & Perry, 2005).
Berdasarkan teori Henderson terdapat kebutuhan mobilisasi yang
harus dipenuhi untuk mencapai kesehatan. Mobilisasi adalah kemampuan
seseorang untuk bergerak secara bebas dan teratur untuk memenuhi
kebutuhan sehat menuju kemandirian dan mobilisasi yang mengacu pada
ketidakmampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas (Potter & Perry,
2006). Mobilisasi secara tahap demi tahap sangat berguna untuk
membantu jalannya penyembuhan pasien. Secara psikologis mobilisasi
akan memberikan kepercayaan pada pasien bahwa dia mulai merasa
sembuh. Perubahan gerakan dan posisi ini harus diterangkan pada pasien
atau keluarga yang menunggui. Pasien dan keluarga akan dapat
mengetahui manfaat mobilisasi, sehingga akan berpartisipasi dalam
pelaksanaan mobilisasi.
Kondisi dimana seseorang tidak dapat melakukan mobilisasi
dinamakan imobilisasi. Imobilitas atau lebih dikenal dengan keterbatasan
gerak didefinisikan oleh North American Nursing Diagnosis Association
(NANDA) sebagai suatu keadaan ketika individu mengalami atau berisiko
mengalami keterbatasan gerak fisik baik aktif dan pasif memiliki dampak
pada sistem tubuh (Kim et al, 1995). Imobilitas dapat mempengaruhi
fisiologis sistem tubuh yang abnormal dan patologis seperti perubahan
sistem muskuluskeletal, sistem kardiovaskuler, sistem repirasi, sistem
urinari dan endokrin, sistem integument, sistem neourosensori, perubahan
metabolisme dan nutrisi, perubahan eliminasi bowel, perubahan sosial,
emosi dan intelektual (Kozier & Erb, 1987).
Gangguan pergerakan atau yang disebut dengan imobilisasi sering
dijumpai pada pasien dengan penyakit stroke. Penyakit stroke adalah suatu
penyakit yang terjadi akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah
di otak, sehingga bagian otak tertentu berkurang bahkan terhenti suplai
oksigennya, akibatnya timbulah berbagai macam gejala sesuai bagian otak
yang terlibat salah satunya ialah lumpuh sebagian atau seluruh anggota
gerak. Tidak mampunya pasien dengan penyakit stroke melakukan gerak
aktivitas maka akan mengakibatkan komplikasi pada sistem yang lainnya
misalnya gangguan pada sistem integumen akibat tirah baring yang lama.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah konsep dasar mobilisasi?
2. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
mobilisasi?
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Penulis dapat mengetahui tentang gambaran umum asuhan
keperawatan pada pasien dengan gangguan mobilisasi.
2. Tujuan khusus
Mahasiswa mampu:
a. Melakukan pengkajian keperawatan pada pasien dengan
gangguan mobilisasi
b. Menentukan diagnosa keperawatan pada pasien dengan
gangguan mobilisasi
c. Menyusun perencanaan keperawatan pada pasien dengan
gangguan mobilisasi
d. Melakukan tindakan keperawatan pada pasien dengan
gangguan mobilisasi
e. Melakukan evaluasi keperawatan pada pasien dengan
gangguan mobilisasi

D. Metoda Penulisan
Sistematika penulisan laporan kasus ini terdiri dari empat bab,
yaitu BAB I Pendahuluan, yang menguraikan tentang latar belakang,
rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan dan sistematika
penulisan. BAB II Konsep teoritis asuhan keperawatan. Pada konsep
teoritis terdiri dari konsep dasar mobilisasi dan asuhan keperawatan
teoritis gangguan pemenuhan mobilisasi. Pada konsep dasar mobilisasi
terdiri dari definisi mobilisasi dan imobilisasi, jenis-jenis mobilisasi dan
imobilisasi, fisiologis gerak aktivitas, faktor-faktor yang mempengaruhi
mobilisasi, gangguan mobilisasi, pemeriksaan penunjang dan
penatalaksanaan gangguan pemenuhan mobilisasi, sedangkan pada asuhan
keperawatan teoritis gangguan pemenuhan mobilisasi terdiri dari
pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. BAB III
Tinjauan kasus, pada tinjauan kasus terdiri dari pengkajian, diagnosis,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi berdasarkan data yang diperoleh
dari pasien atau keluarga pasien. BAB IV Penutup, pada penutup
menyajikan kesimpulan dan saran atas keseluruan asuhan keperawatan
gangguan pemenuhan mobilisasi.

A. DEFINISI MOBILISASI dan IMOBILISASI


Aktivitas adalah suatu energi atau keadaan bergerak dimana
manusia memerlukannya untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup. Salah
satu tanda kesehatan adalah adanya kemampuan seseorang melakukan
aktivitas seperti berdiri, berjalan dan bekerja.Kemampuan aktivitas
seseorang tidak terlepas dari keadekuatan sistem persarafan dan
muskuloskeletal.
Menurut Doengoes,M.E (2000), mobilitas fisik yaitu keadaan
ketika seseorang mengalami atau bahkan beresiko mengalami keterbatasan
fisik dan bukan merupakan immobile. Menurut Barbara Kozier, (1995),
mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas,
mudah, teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan
penting untuk kemandirian.
Selain pengertian mobilisasi juga terdapat pengertian mengenai
imobilisasi. Menurut Susan J. Garrison (2004), keadaan imobilisasi adalah
suatu pembatasan gerak atau keterbatasan fisik dari anggota badan dan
tubuh itu sendiri dalam berputar, duduk dan berjalan, hal ini salah satunya
disebabkan oleh berada pada posisi tetap dengan gravitasi berkurang
seperti saat duduk atau berbaring.
Maka berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan
bahwa Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk
bergerak secara bebas, mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan aktivitas guna untuk mempertahankan kesehatannya. Setiap
orang perlu untuk bergerak, kehilangan kemampuan bergerak
menyebabkan seseorang mengalami ketergantungan dan ini membutuhkan
tindakan keperawatan. Mobilitas diperlukan untuk meningkatkan
kemandirian diri, meningkatkan kesehatan, memperlambat proses penyakit
khususnya penyakit degeneratif, dan untuk aktualisasi diri (harga diri dan
citra tubuh), sedangkan imobilisasi merupakan keadaan dimana seseorang
tidak dapat bergerak secara bebas karena kondisi yang menganggu
pergerakan (aktivitas), misalnya mengalami trauma tulang belakang,
cedera otak berat disertai fraktur pada ekstremitas dan sebagainya.
A. JENIS-JENIS MOBILISASI dan IMOBILISASI
Berdasarkan jenisnya, menurut Aziz (2009) mobilisasi terbagi atas dua
jenis, yaitu:
1. Mobilisasi penuh, merupakan kemampuan individu untuk bergerak
secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial
menjalankan peran sehari-hari. Mobilitas penuh ini merupakan
fungsi saraf motorik volunteer dan sensorik untuk dapat
mengontrol seluruh area tubuh seseorang.
2. Mobilitas sebagian, merupakan kemampuan seseorang untuk
bergerak dengan batasan jelas dan tidak mam.pu bergerak secara
bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan
sesnsorik pada area tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus
cedera atau patah tulang dengan pemasangan traksi. Pada pasien
paraplegi dapat mengalami mobilitas sebagian pada ekstremitas
bawah karena kehilangan kontrol motorik dan sensorik. Mobilitas
sebagian ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
a. Mobilitas sebagian temporer, merupakan kemampuan
individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya
sementara. Hal tersebut dapat disebabkan oleh trauma
reversibel pada system musculoskeletal, contohnya adalah
adanya dislokasi sendi dan tulang.
b. Mobilitas permanen, merupakan kemampuan individu
untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap. Hal
tersebut disebabkan oleh rusaknya system saraf yang
reversibel, contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke,
paraplegi karena cedera tulang belakang, poliomilitis
karena terganggunya system saraf motorik dan sensorik.

Selain mobilisasi juga terdapat beberapa jenis imobilisasi yaitu sebagai


berikut:
1. Imobilisasi fisik, merupakan pembatasan untuk bergerak secara
fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi
pergerakan.
2. Imobilisasi intelektual, merupakan keadaan ketika seseorang
mengalami keterbatasan daya pikir.
3. Imobilitas emosional, merupakan keadaan ketika seseorang
mengalami pembatasan secara emosional karena adanya perubahan
secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri.
4. Imobilitas sosial, merupakan keadaan individu yang mengalami
hambatan dalam melakukan interaksi sosial karena keadaan
penyakitnya, sehingga dapat mempengaruhi perannya dalam
kehidupan sosial.

B. FISIOLOGIS MOBILISASI
Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi
sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot
Skeletal mengatur gerakan tulang karena adanya kemampuan otot
berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai sistem pengungkit. Ada
dua tipe kontraksi otot yaitu isotonik dan isometrik. Pada kontraksi
isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek.
Kontraksi isometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja
otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya,
menganjurkan klien untuk latihan kuadrisep. Gerakan volunter adalah
kombinasi dari kontraksi isotonik dan isometrik. Meskipun kontraksi
isometrik tidak menyebabkan otot memendek, namun pemakaian energi
meningkat.
Perawat harus mengenal adanya peningkatan energi (peningkatan
kecepatan pernafasan, fluktuasi irama jantung, tekanan darah) karena
latihan isometrik. Hal ini menjadi kontra indikasi pada klien yang sakit
(infark miokard atau penyakit obstruksi paru kronik). Postur dan Gerakan
Otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati seseorang dan tergantung
pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal. Koordinasi dan
pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari
otot yang berlawanan, sinergis, dan otot yang melawan gravitasi. Tonus
otot adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang.
Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan
relaksasi yang bergantian melalui kerja otot. Tonus otot mempertahankan
posisi fungsional tubuh dan mendukung kembalinya aliran darah ke
jantung. Imobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi
berkurang. Skeletal adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari empat
tipe tulang: panjang, pendek, pipih, dan ireguler (tidak beraturan). Sistem
skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi organ vital, membantu
mengatur keseimbangan kalsium, berperan dalam pembentukan sel darah
merah.

C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOBILISASI


Menurut Mubarak (2008) mobilitas seseorang dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu:
1. Gaya hidup :
Perubahan gaya hidup dapat mepengaruhi kemampuan mobilitas
seseorang, karena gaya hidup berdampak pada prilaku atau
kebiasaan sehari-hari.
2. Proses penyakit atau cidera :
Proses penyakit dapat mempengaruhi kemampuan mobilitas karena
dapat mempengaruhi fungsi sistem tubuh. Sebagai contoh, orang
yang menderita fraktur femur akan mengalami keterbatasan
pergerakan dalam ekstremitas bagian bawah.
3. Kebudayaan :
Kemampuan melakukan mobilisasi juga dapat dipengaruhi oleh
kebudayaan. Sebagai contoh, orang yang memiliki budaya sering
berjalan jauh memiliki kemampuan mobilitas yang kuat ;
sebaliknya ada orang yang mengalami gangguan mobilitas (sakit)
karena adat dan budaya tertentu dilarang untuk beraktivitas.
4. Tingkat energi :
Energi adalah sumber untuk melakukan mobilitas. Agar seseorang
dapat melakukan mobilitas dengan baik dibutuhkan energi yang
cukup.
5. Usia dan status perkembangan :
Terdapat perbedaan kemampuan mobilitas pada tingkat usia yang
berbeda hal ini dikarenakan kemampuan atau kematangan fungsi
alat gerak sejalan dengan perkembangan usia.

D. GANGGUAN MOBILISASI
Ganguan gerak dapat didefinisikan sebagai sindrom neurologik
dengan gejala gerakan yang berlebihan atau gerakan yang kurang, yang
tidak berkaitan dengan kelemahan (paresis) atau spatisitas. Untuk kelainan
ini sering digunakan kata diskinesia.
Banyak kelainan neurologi yang ditandai dengan gangguan gerak
(diskinesia).
Gangguan gerak dapat berupa:
1. Gerakan yang lamban (bradikinesia), berkurang atau tidak ada
gerakan (akinesia),walaupun penderitanya tidak lumpuh.
2. Gerakan involunter yang berlebihan (hiperkinesia).
Ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan
mobilisasi dapat menimbulkan berbagai dampak, baik dari segi fisik
maupun psikologis. Secara psikologis, imobillitas dapat menyebabkan
penurunan motivasi, kemunduran kemampuan dalam memecahkan
masalah, dan perubahan konsep diri. Selain itu, kondisi ini juga disertai
dengan ketidaksesuaian antara emosi dan situasi, perasaan tidak berharga
dan tidak berdaya, serta kesepian yang diekspresikan dengan perilaku
menarik diri, dan apatis.
Sedangkan masalah fisik yang dapat terjadi adalah sebagai berikut:
1. Gangguan Sistem Muskuloskeletal
Pada sistem ini, imobilitas dapat menimbulkan berbagai
masalah, seperti osteoporosi, atrofi otot,kontraktur, dan kekakuan
serta nyeri pada sendi.
a. Osteoporosis
Tanpa adanya aktivitas yang memberi beban pada tulang,
tulang akan mengalami demineralisasi (osteoporosis). Proses
ini akan menyebabkan tulang kehilangan kekuatan dan
kepadatannya sehingga tulang mennjadi keropos dan mudah
patah.
b. Atrofi Otot
Otot yang tidak dipergunakan dalam waktu lama akan
kehilangan sebagian besar kekuatan dan fungsi normalnya.
c. Kontraktur
Pada kondisi imobilisasi, serabut otot tidak mampu memendek
atau memanjang. Lama kelamaan kondisi ini akan
menyebabkan kontraktur (pemendekan otot permanen). Proses
ini sering mengenai sendi, tendon dan ligamen.
d. Kekakuan Dan Nyeri Sendi
Pada kondisi imobilisasi, jaringan kolagen pada sendi dapat
mengalami ankilosa. Selain itu, tulang juga mengalami
demineralisasi yang akan menyebabkan akumulasi kalsium
pada sendi yang dapat mengakibatkan kekakuan pada sendi.

2. Gangguan gastrointestinal
Kondisi imobilisasi mempengaruhi 3 fungsi sistem
pencernaan yaitu fungsi ingesti, digesti, dan eliminasi.Dalam hal
ini, masalah yang umum ditemui salah satunya adalah
konstipasi.Konstipasi terjadi akibat penurunan peristaltik dan
motilitas usus. Jika konstipasi terus berlanjut, feses akan menjadi
sangat keras dan diperlukan upaya yang kuat untuk
mengeluarkannya.
3. Gangguan sistem integumen
a. Turgor kulit menurun
Kulit dapat mengalami atrofi akibat imobilitas yang
lama.Selain itu, perpindahan cairan antar –konpartemen pada
area tubuh yang menggantung dapat menggangu keutuhan dan
kesehatan dermis dan jaringan subkutan. Pada akhirnya kondisi
ini akan menyebabkan penurunan elastisitas kulit.
b. Kerusakan Kulit
Kondisi imobilitas menggangu sirkulasi dan suplai nutrien
menuju area tertentu.Ini mengakibatkan iskemia dan nekrosis
jaringan superfisial yang dapat menimbulkan ulkus dekubitus.

4. Gangguan sistem neurosensorik


Ketidakmampuan mengubah posisis menyebakan
tehambatnya input sensorik, menimbulkan perasaan lelah, iritabel,
persepsi tidak realistis, dan mudah bingung.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Rontgen : Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang,
tekstur, dan perubahan hubungan tulang.
2. CT scan (Computed Tomography) : menunjukkan rincian bidang
tertentu tulang yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor
jaringan lunak atau cidera ligament atau tendon. Digunakan untuk
mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang didaerah yang
sulit dievaluasi. Dapat juga digunakan untuk mengetahui
kerusakan otak yanng menyebabkan tergangunya kemampuan
gerak.
3. MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan
khusus, noninvasive, yang menggunakan medan magnet,
gelombang radio, dan computer untuk memperlihatkan
abnormalitas (misal: tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak
melalui tulang)
4. Pemeriksaan Laboratorium: Hb menurun pada trauma, Ca menurun
pada imobilisasi lama, Alkali Fospat meningkat, kreatinin dan
SGOT meningkat pada kerusakan otot.
5. Arteriogram : Dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
6. Hitung darah lengkap : Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi)
atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ
jauh pada trauma multipel). Peningkatan jumlah SDP adalah
respon stres normal setelah trauma.
7. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk
klirens ginjal.
8. Profil koagulasi : Perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah,
trafusi mutipes, atau cedera hati.

F. PENATALAKSANAAN GANGGUAN PEMENUHAN MOBILISASI


Adapun penatalaksanaan umum dan khusus dalam pemenuhan
mobilisasi (Nuzulul,2011) , diantaranya ialah:
Penatalaksanaan umum:
1. Kerjasama tim medis interdisiplin dengan partisipasi pasien,
keluarga, dan pramuwerdha.
2. Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai bahaya tirah baring
lama, pentingnya latihan bertahap dan ambulasi dini, serta
mencegah ketergantungan pasien dengan melakukan aktivitas
kehidupan sehari-hari sendiri, semampu pasien.
3. Dilakukan pengkajian geriatri paripurna, perumusan target
fungsional, dan pembuatan rencana terapi yang mencakup pula
perkiraan waktu yang diperlukan untuk mencapai target terapi.
4. Temu dan kenali tatalaksana infeksi, malnutrisi, anemia, gangguan
cairan dan elektrolit yang mungkin terjadi pada kasus imobilisasi,
serta penyakit/ kondisi penyetara lainnya.
5. Evaluasi seluruh obat-obatan yang dikonsumsi; obat-obatan yang
dapat menyebabkan kelemahan atau kelelahan harus diturunkan
dosisnya atau dihentkan bila memungkinkan.
6. Berikan nutrisi yang adekuat, asupan cairan dan makanan yang
mengandung serat, serta suplementasi vitamin dan mineral.
7. Program latihan dan remobilisasi dimulai ketika kestabilan kondisi
medis terjadi meliputi latihan mobilitas di tempat tidur, latihan
gerak sendi (pasif, aktif, dan aktif dengan bantuan), latihan penguat
otot-otot (isotonik, isometrik, isokinetik), latihan
koordinasi/keseimbangan, dan ambulasi terbatas.
8. Bila diperlukan, sediakan dan ajarkan cara penggunaan alat-alat
bantu berdiri dan ambulasi.
9. Manajemen miksi dan defekasi, termasuk penggunaan komod atau
toilet.
Penatalaksanaan Khusus:

1. Tatalaksana faktor risiko imobilisasi


2. Tatalaksana komplikasi akibat imobilisasi.
3. Pada keadaan-keadaan khusus, konsultasikan kondisi medik
kepada dokter spesialis yang kompeten.
4. Lakukan remobilisasi segera dan bertahap pada pasien–pasien yang
mengalami sakit atau dirawat di rumah sakit dan panti werdha
untuk mobilitas yang adekuat bagi usia lanjut yang mengalami
disabilitas permanen.

Selain penatalaksanaan tersebut juga terdapat pencegahan primer


dan sekunder dalam pemenuhan gerak aktivitas diantaranya:

1. Pencegahan Primer:
Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsung
sepanjang kehidupan dan episodik. Sebagai suatu proses yang
berlangsung sepanjang kehidupan, moblilitas dan aktivitas
tergantung pada fungsi sistem muskuloskeletal, kardiovaskuler,
pulmonal. Sebagai suatu proses episodik, pencegahan primer
diarahkan pada pencegahan masalah-masalah yang dapat timbul
akibat imobilitas atau ketidak aktifan.
a. Hambatan terhadap latihan
Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam
latihan secara teratur. Bahaya-bahaya interpersonal
termasuk isolasi sosial yang terjadi ketika teman-teman dan
keluarga telah meninggal, perilaku gaya hidup tertentu
(misalnya merokok dan kebiasaan diet yang buruk),
depresi, gangguan tidur, kurangnya transportasi dan
kurangnya dukungan. Hambatan lingkungan termasuk
kurangnya tempat yang aman untuk latihan dan kondisi
iklim yang tidak mendukung.
b. Pengembangan program latihan
Program latihan yang sukses sangat individual,
diseimbangkan, dan mengalami peningkatan.Program
tersebut disusun untuk memberikan kesempatan pada klien
untuk mengembangkan suatu kebiasaan yang teratur dalam
melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat
memberikan efek latihan. Ketika klien telah memiliki
evaluasi fisik secara seksama, pengkajian tentang faktor-
faktor pengganggu berikut ini akan membantu untuk
memastikan keterikatan dan meningkatkan pengalaman:
1) Aktivitas saat ini dan respon fisiologis denyut nadi
sebelum, selama dan setelah aktivitas diberikan.
2) Kecenderungan alami (predisposisi atau
peningkatan kearah latihan khusus).
3) Kesulitan yang dirasakan.
4) Tujuan dan pentingnya latihan yang dirasakan.
5) Efisiensi latihan untuk diri sendiri (derajat
keyakinan bahwa seseorang akan berhasil).
c. Keamanan
Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan
diterima oleh klien, instruksi tentang latihan yang aman
harus dilakukan. Mengajarkan klien untuk mengenali tanda-
tanda intoleransi atau latihan yang terlalu keras sama
pentingnya dengan memilih aktivitas yang tepat.

2. Pencegahan Sekunder
Spiral menurun yang terjadi akibat eksaserbasi akut dari
imobilitas dapat dikurangi atau dicegah dengan intervensi
keperawatan.Keberhasilan intervensi berasal dari suatu pengertian
tentang berbagai faktor yang menyebabkan atau turut berperan
terhadap imobilitas dan penuaan.Pencegahan sekunder
memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan
komplikasi. Diagnosis keperawatan yang dihubungkan dengan
pencegahan sekunder adalah gangguan mobilitas fisik.
G. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS GANGGUAN MOBILISASI
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan
merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari
berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status
kesehatan klien. Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam
memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu
(Nursalam, 2001).
Adapun data-data pengkajian pada pasien masalah pemenuhan
kebutuhan mobilitas dan imobilitas adalah sebagai berikut:
a. Riwayat Keperawatan Sekarang
Pengkajian riwayat pasien meliputi alasan pasien yang menyebabkan
terjadi keluhan dalam mobilitas dan imobilitas, seperti adanya nyeri,
kelemahan otot, kelelahan, tingkat mobilitas dan imobilitas, daerah
terganggunya, dan lama terjadinya gangguan mobilitas.
b. Riwayat Keperawatan Dahulu
Pengkajian Riwayat penyakit yang berhubungan dengan pemenuhan
kebutuhan imobilitas misal adanya riwayat penyakit sistem
neurologis, riwayat penyakit sistem kardiovaskuler,riwayat penyakit
pernafasan dan juga riwayat penyakit muskuloskeletal.
c. Kemampuan Fungsi Motorik
Pengkajian fungsi motorik antara lain pada tangan kanan dan kiri,
kaki kanan dan kiri untuk menilai ada atau tidaknya kelemahan,
kekuatan, atau spastis.
d. Kemampuan Mobilitas
Pengkajian kemampuan mobilitas dilakukan dengan tujuan untuk
menilai kemampuan gerak untuk posisi miring, duduk, berdiri,
bangun, dan berpindah tanpa bantuan.
e. Kemampuan Rentang Gerak
Pengkajian rentang gerak yang dilakukan pada daerah seperti
bahu,siku,lengan,panggul,dan kaki.
f. Perubahan Intoleransi Aktifitas
Pengkajian intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan sistem
pernapasan, antara lain suara napas,analisis gas darah, gerakan
didinding thorak, adanya mukus,batuk yang produktif diikuti panas,
dan nyeri saat respirasi. Sedangkan pengkajian berhubungan dengan
sistem kardiovaskuler yaitu tanda vital, gangguan sirkulasi perifer,
adanya trombus, serta perubahan tanda vital setelah melakukan
aktifitas.
g. Kekuatan otot dan gangguan koordinasi
Dalam mengkaji kekuatan otot dapat ditentukan kekuatan secara
bilateral atau tidak.
h. Perubahan psikologis
Pengkajian perubahan psikologis yang disebabkan oleh adanya
gangguan mobilitas dan imobilitas, antara lain perubahan perilaku,
peningkatan emosi, perubahan dalam mekanisme koping.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan Menurut Carpenito (2000), diagnosa
keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respons
manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu
atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat
mengidentifikasi dan memeberikan intervensi secara pasti untuk
menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi, mencegah dan
mengubah.
NANDA mendefinisikan diagnosa keperawatan adalah keputusan
klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang
masalah kesehatan aktual atau potensial, sebagai dasar seleksi
intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan
sesuai dengan kewenagan perawat.
Adapun beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
pada pasien dengan gangguan mobilisasi, yaitu
a. Hambatan mobilitas di tempat tidur
Batasan karakteristik :
 Hambatan kemampuan mengubah dari posisi duduk lama
ke telentang
 Hambatan kemampuan mengubah dari posisi telungkup ke
telentang
 Hambatan kemampuan mengubah dari posisi telentang ke
duduk
 Hambatan kemampuan mengubah posisi dari telentang ke
telungkup
 Hambatan kemampuan mengubah posisi dari telentang ke
duduk
 Hambatan kemampuan mengubah posisi sendiri di tempat
tidur
 Hambatan kemampuan untuk miring kanan-kiri

Faktor yang berhubungan:


 Gangguan kognitif
 Fisik tidak bugar
 Kurang pengetahuan
 Keterbatasan lingkungan (mis., ukuran tempat tidur, tipe
tempat tidur, peralatan terapi, restrain)
 Kekuatan otot tidak memadai
 Gangguan muskuloskeletal
 Gangguan neuromuskular
 Obesitas
 Nyeri
 Obat sedasi
b. Hambatan Mobilitas Fisik
Batasan karakteristik :
 Penurunan waktu reaksi
 Kesulitan membolak-balik posisi
 Melakukan aktivitas lain sebagai pengganti pergerakan
(misalnya meningkatkan perhatian pada aktivitas orang lain,
mengendalikan perilaku, fokus pada ketunadayaan/ aktivitas
sebelum sakit)
 Dispnea setelah beraktivitas
 Perubahan cara berjalan
 Gerakan bergetar
 Keterbatasan kemampuan melakukan keterampilan motorik
halus
 Keterbatasan kemampuan melakukan keterampilan motorik
kasar
 Keterbatasan rentang pergerakan sendi
 Tremor akibat pergerakan
 Ketidakstabilan postur
 Pergerakan lambat
 Pergerakan tidak terkoordinasi

Faktor yang berhubungan:


 Intoleran aktivitas
 Perubahan metabolisme seluler
 Ansietas
 Indeks massa tubuh diatas persentil ke-75 sesuai usia
 Gangguan kognitif
 Kontraktur
 Kepercayaan budaya tentang aktivitas sesuai usia
 Fisik tidak bugar
 Penurunan ketahanan tubuh
 Penurunan kendali otot
 Penurunan massa otot
 Penurunan kekuatan otot
 Kurang pengetahuan tentang nilai aktivitas fisik
 Keadaan mood depresif
 Keterlambatan perkembangan
 Ketidaknyamanan
 Disuse
 Kaku sendi
 Kurang dukungan lingkungan (mis., fisik atau sosial)
 Keterbatasan ketahanan kardiovaskular
 Kerusakan integritas struktur tulang
 Malnutrisi
 Gangguan muskuloskeletal
 Gangguan neuromuskular
 Nyeri
 Agens obat
 Program pembatasan gerak
 Keengganan memulai pergerakan
 Gaya hidup monoton
 Gangguan sensoriperseptual

c. Intoleransi Aktivitas
Batasan Karakteristik:

 Respons tekanan darah abnormal terhadap aktivitas


 Respons frekuensi jantung abnormal terhadap aktivitas
 Perubahan EKG yang mencerminkan aritmia
 Perubahan EKG yang menverminkan iskemia
 Ketidaknyamanan setelah beraktivitas
 Dispnea setelah beraktivitas
 Menyatakan merasa letih
 Menyatakan merasa lemah

Faktor yang Berhubungan:

 Tirah baring
 Kelemahan umum
 Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
 Imobilitas
 Gaya hidup monoton

d. Resiko Intoleransi Aktivitas


Faktor yang Berhubungan :
 Masalah sirkulasi
 Status fisik kurang bugar
 Riwayat intoleransi aktivitas sebelumnya
 Tidak berpengalaman dengan suatu aktivitas
 Masalah pernafasan.

3. Perencanaan
Menurut Judith dan Nancy (2014), perencanaan yang mungkin pada
pasien dengan gangguan pemenuhan mobilisasi ialah sebagai berikut:
a. Hambatan mobilitas di tempat tidur.
Tujuan : mencapai mobilitas di tempat tidur.
Kriteria hasil :
1. Gerakan terkoordinasi.
2. Pergerakan sendi aktif
3. Pengaturan posisi tubuh dengan kemauan sendiri
4. Mobilitas yang memuaskan

Rencana Keperawatan.
No Intervensi Rasional
1 Perawatan tirah meningatkan kenyamanan dan
baring keamanan serta pencegahan
komplikasi untuk pasien yang tidak
mampu bangun dari tempat tidur
2 Berikan promosi memfasilitasi penggunaan postur dan
mekanika tubuh pergerakan dalam aktivitas sehari-
hari untuk mencegah keletihan dan
ketegangan atau cedera
muskuluskeletal.

3 Berikan promisi memfasilitasi pelatihan otot resistif


latihan fisik latihan secara rutin untuk mempertahankan
kekuatan: atau meningkatkan kekuatan ootot.

4 Berikan terapi latihan menggunakan gerakan tubuh aktif


fisik : mobilitas sendi atau pasif untuk mempertahnkan atau
mengembalikan fleksibilitas sendi.

5 Berikan terapi latian menggunakan aktivitas spesifik atau


fisik : pengendalian protokol latihan yang sesuai untuk
otot meningkatkan atau mengembalikan
gerakan tubuh yang terkendali.

6 Berikan pengaturan mengatur penempatan pasien atau


posisi bagian tubuh pasien secara hati-hati
untuk meningkatkan kesejahtraan
fisiologi dan psikologi.

7 Bantuan perawatan membantu orang lain dalam


diri melakukan aktivitas kehidupan
sehari-hari.

b. Hambatan mobilitas fisik


Tujuan : Memperlihatkan mobilitas
Kriteria Hasil :
1. Mampu mebolak balikan posisi tubuh
2. Meningkatkan waktu reaksi
3. Tidak dispnea saat beraktifitas
4. Cara berjalan normal
5. Mampu melakukan gerakan motorik halus dan kasar
6. Pergerakan sendi bebas
7. Tidak terjadinya tremor yang diinduksi oleh pergerakan
8. Postur tubuh stabil
9. Gerakan teratur dan terkoordinasi.

Rencana Keperawatan
No Intervensi Rasional
1. Berikan promosi memfasilitasi penggunaan postur dan
mekanika tubuh pergerakan dalam aktivitas sehari-hari
untuk mencegah keletihan dan
ketegangan atau cedera muskuloskeletal.

2. Berikan promosi memfasilitasi pelatihan otot resistif secara


latihan fisik: rutin untuk mempertahankan atau
latihan kekuatan meningkatkan kekuatan otot.

3. Berikan terapi meningkatkan dan membantu dalam


latihan fisik: berjalan untuk mempertahankan atau
ambulasi mengembalikan fungsi tubuh autonom
dan voluntir selama pengobatan dan
pemulihan dari kondisi sakit atau cedera.

4. Berikan terapi mobilitas sendi menggunakan gerakan


latihan fisik tubuh aktif dan pasif untuk
mempertahnkan atau mengembalikan
fleksibilitas sendi.

5. Berikan terapi menggunkan aktivitas tertentu atau


latihan fisik: ptotokol latiham yang sesuai untuk
pengendalian otot meningkatkan ata mengembalikan
gerakan tubuh yang terkendali.

6. Berikan mengatur posisi pasien atau bagian tubuh


pengaturan posisi pasien secara hati-hati untuk
meningkatkan kesejahteraan fisiologis
dan psikologis.

c. Hambatan Mobilitas Berkursi Roda


Tujuan : memperlihatkan ambulasi : kursi roda.
Kriteria Hasil :
1. Mampu mengoperasikan kursi roda manual di trotoar
2. Mampu mengoperasikan kursi roda listrik di trotoar
3. Mampu mengoperasikan kursi roda manual di permukaan rata
4. Mampu mengoperasikan kursi roda listrik di permukaan rata
5. Mampu mengoperasikan kursi roda manual di permukaan tidak
rata
6. Mampu mengoperasikan kursi roda listrik di permukaan tidak
rata
7. Mampu mengoperasikan kursi roda manual di tanjakan
8. Mampu mengoperasikan kursi roda listrik di tanjakan
9. Mampu mengoperasikan kursi roda manual di turunan
10. Mampu mengoperasikan kursi roda listrik di turunan

Rencana Keperawatan
No intervensi Rasional
1. Berika Promosi memfasilitasi pelatihan otot resistif
latihan fisik: latihan secara rutin untuk mempertahkan atau
kekuatan meningkatkan kekuatan otot.

2. Berikan Terapi aktivitas spesifik atau protokol latihan


latian fisik: yang sesuai untuk meningkatkan
keseimbangan menggunakan atau mengembalikan
gerakan tubuh yang terkendali.

3. Lakukan mengatur posisi pasien pada kursi roda


Pengaturan posisi: yang sesuai untuk meningkatkan
kursi roda kenyamanan, meningkatkan intergritas
kulit, dan mendukung kemandirian.

4. Bantuan perawatan membantu individu untuk mengubah


diri: berpindah lokasi tubuh.

d. Intoleransi aktivitas
Tujuan : menunjukan toleransi aktivitas
Kriteria Hasil :
1. Nyaman dan tidak dispnea saat beraktivitas
2. Frekuensi jantung atau tekanan darah normal sebagai respon
terhadap beraktivitas
3. Tidak ada aritmia atau iskemia saat beraktivitas
Rencana Keperawatan
No Intervensi Rasional
1. Berikan Terapi memberi anjuran tentang dan bantuan
Aktivitas dalam aktifitas fisik, kognitif, social,
dan spiritual yang spesifik untuk
menungkatkan rentang, frekwensi, atau
durasi aktivitas individu (atau
kelompok)

2. Lakukan mengatur penggunaan energi untuk


Menajemen energy mengatasi atau mencegah kelelahan
dan mengoptimalkan fungsi.

3. Lakukan memenipulasi lingkuangan sekitar


Menajemen pasien untuk memperoleh manfaat
lingkungan terapiutik, stimulai sensoris, dan
kesejahteraan psikologis.

4. Berikan Terapi dan menggunakan gerakan tubuh aktif atau


latihan fisik : pasif untuk mempertahan kan aktifitas
mobilitas sendi dan fleksibelitas sendi.

5 Terapi dan latihan menggunakan aktifitas aytau protokol


fisik: pengendalian latihan yang spesifik untuk
otot meningkatkan atau memulihkan
gerakan tubuhyang terkontrol.

6 Promosi latihan fisik menggunakan aktifitas aytau protokol


: latihan kekuatan latihan yang spesifik untuk
meningkatkan atau memulihkan
gerakan tubuhyang terkontrol.

7 Bantuan membantu pasien dan keluarga untuk


pemeliharaan rumah menjaga, rumah sebagai tempat tinggal
yang bersih, aman, dan menyenagkan.
Lakukan memberi rasa keamanan, stabilisasi,
8 Menejemen alam pemulihan, dan pemeliharaan pasien
perasaan yang mengalami disfungsi aam
perasaan baik depresi maupun
peningkatan alam perasaan.

9 Bantuan perawatan- membantu individu untuk melakukan


diri AKS.

e. Risiko intoleransi aktivitas


Tujuan : mampu menoleransi aktivitas yang biasa di
lakukan
Kriteria Hasil :
1. Beraktivitas tanpa risiko itoleransi aktivitas
Rencana Keperawatan
No Intervensi Rasional
1 Manajemen Energi Mengatur penggunaan energi untuk
mencegah keletihan dan
mengoptimalkan fungsi
2 Promosi latihan Memfasilitasi aktivitas fisik yang rutin
fisik untuk mempertahankan atau
meningkatkan tingkat kebugaran dan
kesehatan
3 Promosi latihan Memfasilitasi latihan otot resistif secara
fisik : latihan rutin untuk mempertahankan atau
kekuatan meningkatkan kekuatan otot

4. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai
tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana
tindakan disusun dan ditujukan pada nursing order untuk membantu
klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana
tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor
yang mempengaaruhi masalah kesehatan pasien.
Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan, yang mencakup peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping.
Perencanaan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan
baik jika klien mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam
pelaksanaan tindakan keperawatan (Nursalam, 2001).

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan,
meskipun evaluasi diletakkan pada akhir proses keperawatan, evaluasi
merupakan bagian integral pada setiap tahap proses keperawatan.
Pengumpulan data perlu direvisi untuk menentukan apakah informasi
yang telah dikumpulkan sudah mencukupi dan apakah prilaku yang
diobservasi telah sesuai. Diagnosa juga perlu di evaluasi dalam hal
keakuratan dan kelengkapannya. Tujuan dan intervensi dievaluasi
adalah untuk menentukan apakah tujuan tersebut dicapai secara efektif
(Nursalam,2001).
Evaluasi diklasifikasikan menjadi 2 yaitu:
a. Evaluasi formatif (proses)
Fokus pada evaluasi proses (formatif) adalah aktivitas dari
proses keperawatan dan hasil kwalitas palayanan asuhan
keperawatan . evaluasi proses harus dilaksan akan segera setelah
perencanaan keperawatan diimplementasikan untuk membantu
menilai efektivitas intervensi tersebut. Evaluasi proses harus
terus menerus dilaksanakan hingga tujuan yang telah ditentukan
tercapai. Metode pengumpulan data dalam evaluasi proses
terdiri atasan alisis rencana asuhan keparawatan, pertemuan
kelompok, wawancara, observasi klien, dan menggunakan form
evaluasi. Ditulis pada catatan perawatan.

b. Evaluasi sumatif (hasil)


Rekapitulasi dan kesimpulan dari observasi dan analisa
status kesehatan sesuai waktu pada tujuan. Ditulis pada catatan
perkembangan. Focus evaluasi hasil (sumatif) adalah perubahan
perilaku atau status kesehatan klien pada akhir asuhan
keperawatan. Tipe evaluasi ini dilaksanakan pada akhir asuhan
keperawatan secara paripurna.
Dalam proses evaluasi, kriteria hasil yang diharapkan ialah:
1) Mampu mebolak balikan posisi tubuh
2) Meningkatkan waktu reaksi
3) Tidak dispnea saat beraktifitas
4) Cara berjalan normal
5) Mampu melakukan gerakan motorik halus dan kasar
6) Pergerakan sendi bebas
7) Tidak terjadinya tremor yang diinduksi oleh pergerakan
8) Postur tubuh stabil
9) Gerakan teratur dan terkoordinasi