Anda di halaman 1dari 24

TUGAS MATA KULIAH AUDIT INTERNAL

BAB 7
(PEKERJAAN LAPANGAN II)

Kelompok 3 :
 Bryan Pradinda 023001808038
 Aditya Hartono 023001808039
 Tiwi Primasari 023001808028
 Nurita Aprilianing Tyas 023001808008

1
PEKERJAAN LAPANGAN II

Penerapan Teknik – teknik Audit

Teknik Audit
Teknik-teknik audit seperti melakukan pengamatan, mengajukan pertanyaan,
menganalisis, memverifikasi, menginvestigasi, dan mengevaluasi diterapkan pada
beragam kondisi dalam mengumpulkan bahan bukti audit.
Teknik – teknik tersebut dapat digunakan sendiri – sendiri maupun gabungan,
namun diterapkan dalam kerangka tertentu tergantung pada subjek yang diaudit
dimana hasil akhirnya adalah rekomendasi dan opini audit.

Audit Fungsional
Audit fungsional (functional audit) adalah audit yang mengikuti proses dari
awal hingga akhir, melintasi lini organisai. Audit ini bertujuan untuk menentukan
seberapa baik fungsi-fungsi dalam organisasi akan saling berinteraksi dan bekerja
sama.

Audit fungsional memiliki kesulitan khusus karena luas dan cakupannya.


Audit fungsional yang bernilai bagi sebuah organisasi mencakup audit atas:

 Pemesanan, penerimaan, pembayaran bahan baku dan perlengkapan.

 Pengiriman langsung perlengkapan atau jasa ke departemen pengguna.

 Penerapan perubahan pada produk.

 Pengumpulan, pemisahan, dan penjualan barang sisa.

 Pengendalian dan praktik keselamatan.

2
 Program untuk mendeteksi konflik kepentingan.

 Pengelolaan asset – asset modal.

 Formulasi anggaran.

 Fungsi – fungsi pemasaran.

Dalam melakukan audit fungsional, dan audit jenis lainnya, auditor internal
harus selalu menyadari apa yang diharapkan oleh manajemen senior dari auditor
internal. Setiap organisasi diarahkan dan dipimpin oleh keputusan manajemen.
Keputusan yang baik tergantung keputusan yang tepat.

Dalam semua auditnya, auditor internal, sebagai konsultan sekaligus mitra


bagi manajemen, harus mengevaluasi informasi yang menjadi pengambilan dasar
pengambilan keputusan oleh manajemen dan memastikan bahwa sistem kontrol
berfungsi seperti yang diinginkan.

Manajemen puncak mengharapkan auditor internal mempraktikan indra


keenam untuk menemukan kemungkinan masalah tetapi sebelum solusi diberikan,
auditor harus didukung oleh fakta dan angka – angka yang tak terbantahkan. Karena
itu manajemen senior mengharapkan auditor memiliki karakteristik berikut dalam
penugasannya:

 Menguasai teknik – teknik audit internal.

 Mampu menetapkan sumber – sumber informasi faktual.

 Memiliki kapasitas untuk secara mendalam menganalisis informasi yang


diterima.

 Memiliki kemampuan untuk membuat rekomendasi berdasarkan bukti –


bukti yang kuat.

 Memiliki sifat bersungguh – sungguh, penuh intgegritas, dan rendah hati


dalam melakukan semua penugasan audit.

Audit Organisasional (dan Evaluasi Produktivitas)

3
Audit organisasional (organizational audit) tidak hanya memperhatikan aktifitas
yang dilakukan dalam organisasi tetapi juga dengan kontrol administratif yang
digunakan untuk memastikan bahwa aktifitas-aktifitas tersebut dilaksanakan. Oleh
karena itu auditor tertarik pada seberapa baik manajer organisasi memenuhi tujuan
organisasi dengan sumber daya yang ada.

Khususnya dalam organisasi yang besar dengan berbagai operasi dan fungsi,
auditor disarankan untuk menetukan seberapa baik manajemen melakukan
pengelolaan, seberapa baik transaksi yang mengalir atau mengucur melalui saluran
pipa organisasi. Tolak ukur audit atau standar yang diterapkan pada operasi organisasi
dibangun dari elemen – elemen yang membentuk kontrol adiministratif yang dapat
diterima.

Auditor internal harus mengetahui prinsip - prinsip perencanaan yaitu


menetapkan tujuan, membuat kebijakan dan prosedur, mempertahankan kontinuitas,
dan menilai ulang rencana dan sasaran dalam kondisi yang berubah. Mereka harus
mengenal prinsip - prinsip pengorganisasian yaitu pemberian tanggung jawab,
pendelegasian wewenang, dan pengembangan staf.

Auditor internal harus mengetahui prinsip - prinsip pengarahan yaitu


kepemimpinan, motivasi, dan komunikasi. Mereka harus mengenal prinsip - prinsip
kontrol yaitu menetapkan standar, mempertahankan standar, melatih karyawan agar
mematuhi standar, menerapkan sistem persetujuan dan penelaahan, memastikan
kepatuhan terhadap standar, merencanakan sistem pencatatan, pelaporan, dan kontrol
induk, serta mengawasi keseluruhan proses yang sedang berjalan.

Setiap organisasi harus ditelaah produktivitasnya yaitu efisiensi dan efektivitas


pengguna sumber daya yang dipercayakan kepada manajer. Meningkatkan
produktivitas merupakan kunci bertahannya organisasi dalam lingkungan yang
kompetetif.

Studi dan Konsultasi Manajemen


Audit fungsional dan organisasional membentuk kerangka kerja program audit
jangka panjang. Setiap jenis audit, yang umurnya diulang pada jangka waktu tertentu,

4
mencerminkan “santapan” yang harus dimakan seorang auditor. Aspek lain dari audit
bisa jadi bagaikan kaviar dan sampanye, audit diarahkan menuju penyesuaian masalah
bagi manajemen (biasanya bukan menyelesaikan masalah manejemen).

Setiap organisasi membutuhkan konsultan luar untuk melakukan studi


manajemen, membuat evaluasi, dan menawarkan rekomendasi untuk memperbaiki
masalah organisasi. Organisasi - organisasi ini telah mendapatkan manfaat dari
pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki para konsultan. Organisasi - organisasi
yang lain munkin tidak merasakan hal yang sama. Kekecewaan ini bisa bersumber
dari berbagai penyebab. Beberapa diantaranya adalah:

 Para karyawan mungkin menganggap para konsultan tersebut sebagai


orang asing yang tidak terlibat dalam gaya hidup dan pergaulan
organisasi.

 Konsultan telah mengikuti pelatihan dalam jangka waktu yang lama dan
berbiaya tinggi.

 Rekomendasi konsultan luar, yang biasanya dikomunikasikan dalam


pertemuan terakhir atau dalam laporan rinci, bisa memancing reaksi
defensive dari klien.

 Konsultan luar biasanya mengenakan tarif yang sangat mahal, yang


dalam banyak kasus, akan melebihi biaya memberdayakan orang - orang
berbakat yang telah dimiliki organisasi

Auditor harus menerapkan semua teknik mempengaruhi yang mereka miliki


sejak permulaan dan disepanjang penugasan. mereka harus membuat manajemen tetap
mengetahui informasi dan memperoleh rekomendasi pada tingkat akar rumput
sebelum menyajikannya ke manajemen.

Setelah mengenali situasi tersebut internal auditor membuat persentasi formal


ke manajemen mengenai pandangan mereka terhadap masalah tersebut dan
memberikan usulan untuk mengatasinya. Studi ini dilaksanakan secara mendalam,
studi harus menghasilkan jawaban yang kuat atas pertanyaan relevan yang diajukan

5
manajemen dan bisa memberikan dukungan yang kuat atas rekomendasi yang
diajukan.

Studi harus didasarkan pada pemahaman mendalam atas masalah – masalah


berikut, diantaranya :

 Apa saja masalah yang mendasar? (masalah apa yang sebenarnya).

 Apa saja fakta-fakta yang relevan? (data, proses, sistem, kebijakan,


organisasi, orang-orang yang ada, masa lalu, masa kini, kemungkinan di
masa datang).

 Apa penyebabnya? (jumlah, variasi penyebab, akar masalah dan penyebab


di permukaan, kapan penyebab tersebut mulai mempengaruhi masalah).

 Apa solusi yang mungkin? (alternatif yang ada, biaya, jawaban atas
masalah lokal organisasi yang terpengaruh).

Setiap bulan audit bisa memberikan laporan kemajuan ke manajemen


eksekutif mengenai status studi tersebut. Laporan tersebut bisa berisi:

 Identifikasi studi manajemen utama yang sedang dilakukan.

 Ringkasan sejumlah memorandum studi manajemen yang dikeluarkan


dan statusnya.

 Identifikasi masalah-masalah yang penting yang telah diselesaikan


maupun yang belum terpecahkan.

 Diskusi secara umum mengenai kemajuan pekerjaan.

 Estimasi waktu yang di butuhkan untuk meyelesaikan studi. Tunjukkan


jumlah orang, baik auditor maupun teknisi, yang terlibat dalam studi dan
jumlah tim yang di tugaskan (hanya jika diminta).

6
Audit atas Program
Program merupakan istilah umum yang mencakup setiap upaya yang didanai
yang seiring dengan aktivitas normal organisasi yang sedang berlangsung – progam
ekspansi, program baru untuk manfaat karyawan, kontrak baru, program kesehatan
pemerintah atau program pelatihan yang berhubungan erat dengan tujuan organisasi.

Tujuan auditnya adalah memberikan manajemen informasi mengenai biaya,


pelaksanaan, dan hasil - hasil program dan membuat evaluasi yang informatif,
bermanfaat, dan objektif. Dalam penelaahan ini akan membantu semua pihak terkait
bila mereka memiliki pemahaman yang sama atas istilah - istilah yang digunakan.
Berikut beberapa diantaranya:

 Evaluasi - memastikan nilai sesuatu dengan membandingkan antara


pencapaian dengan standar atas tujuan.

 Evaluasi program - secara umum, mengevaluasi apa yang telah dicapai,


terkait dengan sumber daya yang digunakan, dan atas itu, apakah tujuan-
tujuan program telah layak dan sesuai.

 Study biaya manfaat - mempertimbangkan hubungan antara sumber


daya yang digunakan dan biaya (masukan) dan manfaat (keluaran atau
hasil).

 Study efektitas biaya - mempertimbangkan manfaat (hasil) yang tidak


dapat diukur dalam nilai uang (Dollar-Rupiah), manfaat-manfaat
program magang yang baru, misalnya, atau pengajaran siswa-siswi yang
cacat.

Intinya, auditor internal ingin menetukan tiga hal dalam audit atas program.
Dalam sektor swasta pencapaian umumnya diukur dalam pendapatan dan keuntungan.
Dalam sektor publik auditor internal memperhatikan:

Keluaran. Keluaran mencakup hal-hal seperti jasa yang diberikan, barang yang
diproduksi, dan biaya, dan bantuan yang diberikan. Misalnya siswa – siswa yang
diajar, kasus – kasus yang diproses.

7
Manfaat atau Hasil. Manfaat mencerminkan dampak dari keluaran . misalnya,
jumlah siswa yang diajar merupakan pengeluaran. Tetapi, peningkatan tingkat
pengetahuan, keahlian, motivasi, dan aspirasi dari para siswa merupakan manfaat.
Manfaat atau hasil lebih sulit diukur dibandingkeluaran namun jelas manfaat lebih
relevan dalam mengevaluasi suatu program.

Dampak. Adalah efek dari suatu program terhadap suatu komunitas.masyarakat, atau
bahkan dunia.

Jelaslah bahwa tujuan, sasaran dan standar harus diidentifikasi cukup spesifik dalam
penelaahan program jika tidak auditor tidak memiliki alat untuk mengukur dan hasil
audit berupa opini akan dipertentangkan. Tujuan, sasaran dan standar tidak mudah
diidentifikasi bila:

 Manajemen, dewan komisaris atau badan pembuat UU tidak dengan jelas


mendefinisikan tujuannya.

 Tujuan – tujuan saling tumpah tindih atau saling tergantung satu sama lain.

 Orang yang bertanggung jawab untuk mencapai tujuan sasaran, atau


standar tidak benar – benar memahaminya.

 Maksud yang tampak dari manajemen, dewan komisaris atau badan


pembuat UU tidak diikuti.

 Tujuan program yang sebenarnya tidak diidentifikasi atau telah berubah


meskipun tujuan dinyatakan tetap sama.

Audit Kontrak

8
Kontrak kontruksi atau operasi sering melibatkan uang dalam jumlah besar.
Kontrak kontruksi biasanya bukan merupakan bagian dari bisnis rutin organisasi.
Kontrak operasi bisa memberikan jasa ataupun operasi terprogram.

Kontrak umumnya terdiri atas tiga kategori:

Biaya Sekaligus (Lump-Sump)

Pada kontrak lump sum (harga tetap) kontraktor setuju melaksanakan


pekerjaan dengan harga tetap. Kadang kontrak mengandung klausul kenaikan,
kemajuan pembayaran, ketentuan insentif, dan penyesuaian atas biaya pekerjaan
alapangan, jika biaya melebihi yang disepakati biaya tambahan akan ditanggung oleh
organisasi.

Biaya Tambahan (Cost-Plus)

Merupakan cara paling ekonomis untuk proyek kontruksi atau operasi, karena
banyaknya ketidakpastian dalam proyek-proyek ini. Kontrak-kontrak cost-plus tidak
membutuhkan perlindungan atas ketidakpastian. Biaya-biaya tak terduga bisa
dimintakan penggantian sejumlah biaya ditambah tarif tetap atau biaya ditambah tarif
berdasarkan persentase biaya. Jenis penggantian banyak dihindari organisasi karena
adanya motivasi untuk menaikkan biaya sehingga meningkatkan tarif. Beberapa
kontrak cost-plus memberikan baiaya maksimum dan memisahkan setiap
penghematan yang bisa dilakukan.

Harga Per Unit (Unit-Price).

Berguna jika suatu proyek membutuhkan pekejaan yang seragam dalam


jumlah yang besar.

Semua bentuk kontrak ini, khususnya jenis cost-plus bisa memperoleh manfaat
dari pengawasan audit. Audit internal seharusnya tidak menungu sampai proyek
dijalankan untuk melindungi kepentingan organisasi mereka.

Berikut beberapa risiko dan bidang risiko dalam perjanjian kontrak yang harus
diperhatikan auditor internal:

9
Dalam Kontrak Lump-Sum
 Persaingan yang tidak memadai.
 Perlindungan asuransi dan utang yang tidak memadai.
 Sertifikasi penyelesaian pekerjaan padahal sebenarnya belum selesai.
 Pengenaan biaya atas perlatan atau aktifitas yang tidak diterima.
 Ketentuan kenaikan.
 Perubahan spesifikasi atau harga.
 Otorisasi ata pekerjaan ekstra dan revisi pekerjaan.
 Pekerjaan tambahan, perubahan dan revisi yang sebenarnya sudah tercakup
dalam kontrak awal.
 Biaya-biaya tidak langsung termasuk biaya-biaya tambahan.
 Isi perubahan pesanan termasuk tarif yang tidak sesuai.
 Inspeksi yang tidak memadai dibandingkan spesifikasi.

Dalam Kontrak Cost-Plus


 Biaya-biaya overhead ditagih secara langsung.
 Kontrol internal yang tidak memadai oleh kontraktor atas pengenaan biaya orang-
orang yang sedang dipekerjakan, bahan baku dan jasa.
 Pengenaan biaya yang tidak wajar untuk penggunaan peralatan yang dimiliki
kontraktor.
 Penggunaan buruh yang berlebihan.
 Tidak ada upaya untuk mendapatkan harga terbaik untuk bahan baku dan
peralatan.
 Tagihan di atas jumlah yang dibayar kontraktor untuk pekerja dan bahan baku.
 Kegagalan untuk mengkreditkan proyek atas diskon, tarif, restitusi, asuransi,
bahan baku sisa atau yang dikembalikan.
 Duplikasi usaha atau biaya antara kantor pusat dan kantor cabang.
 Pengawasan lapangan atau inspeksi yang tidak memadai oleh kontraktor atau
oleh insinyur arsitek.
 Komunikasi dan tindak lanjut yang tidak memadai dari kantor pusat.

10
 Akuntansi biaya dan prosedur pelaporan oleh kontraktor yang tidak dapat
diandalkan.
 Pengawasan tagihan karena adanya pelanggaran tenaga kerja langsung dari
ketentuan dalam kontrak.
 Perlatan yang disewa tidak dapat digunakan.
 Praktik kerja yng tidak bagus.
 Kualitas yang buruk.
 Penggunaan bahan baku dan perlengkapan yang boros atau tiba lebih awal.
 Standar yang terlalu tinggi untuk bahan baku dan perlengkapan.
 Proteksi fisik bahan baku dan perlatan yang buruk.
 Kurangnya kontrol atas ketidakhadiran pegawai kontraktor.
 Pekerjaan jenis cost-plus dilakukan secara bersamaan dengan pekerjaan fixed
type.
 Berlebihannya biaya yang terjadi akibat kelalaian kontraktor.
 Waktu lembur yang tidak terkendali.

Dalam Kontrak Unit-Plus


 Pembayaran berkala yang berlebihan.
 Pelaporan yang tidak layak atas unit yang disediakan.
 Harga yang tidak berkaitan dengan biaya.
 Perubahan yang tidak layak atas kontrak awal.
 Penyesuaian kenaikan yang tidak diotorisasi.
 Catatan lapangan yang tidak akurat.
 Perluasan harga per unit yang tidak akurat.

Audit Terintegrasi
Konsep integrasi bisa luas dan mencakup aspek-aspek seperti penyediaan audit
yang berlaku sebagai:

 Audit berkelanjutan atas elemen-elemen neraca dan operasional dalam audit


kinerja.

11
 Pelaksanaan audit tetap tahap varians dari koperasi klien yang biasanya akan
diaudit secara terpisah.

 Sebuah latihan dalam audit partisipasif yang klien:

- Membantu perencanan audit, dan/atau

- Berpartisipasi dengan staf dalam pelaksanaan audit.

 Sebuah audit yang sebenarnya menggabungkan berbagai tahap audit internal yang
berbeda seperti:

- Audit keuangan.

- Audit kinerja.

- Audit sistem informasi.

Jelasnya tingkat integritas tergantung pada:

 Ukuran staf audit.

 Keahlian yang dimiliki staf atau yang tersedia melalui sumber-sumber luar.

 Filosofi audit yang dipegang manajemen organisasi dan organisasi audit.

 Tingkat aktivitas teknologi di klien dan organisasi audit.

 Biaya manfaat dari pengoperasian audit semacam itu.

Konsultan

Beberapa aturan yang harus diikuti auditor internal dalam berhubungan dengan
konsultan (consultant):

 Konsultan tersebut harus dapat dipercaya dan menunjukkan kompetensi untuk


pekerjaan yang akan dilakukan.

12
 Konsultan dan auditor harus memiliki perjanjian lengkap atas lingkup dan tujuan
program sebelum mereka menyiapkan audit atau program kerja.

 Staf harus ditugaskan untuk bekerja dengan konsultan, mengawasi aktivitas


mereka, dan membahas masalah-masalah yang ada dengan mereka.

 Auditor harus memahami sifat pekerjaan konsultan, alasan yang ada di balik
pilihan analitis mereka, risiko yang melekat dalam data dan analisis mereka, dan
apakah pekerjaan yang dilakukan konsultan sesuai dengan yang dimaksudkan.

 Laporan audit akhir merupakan tanggung jawab auditor internal. Laporan tersebut
menyertakan opini auditor, meskipun ditunjang oleh hasil-hasil studi yang
dilakukan konsultan. Opini konsultan harus dikutip hanya jika subjek masalah
jelas berada diluar kompetensi auditor internal dan jelas-jelas berkaitan dengan
masalah teknis.

 Konsultan tidak boleh mengarahkan atau mengambil hak prerogative manajemen.

Penggunaan Sumber Daya dari Luar atau dari Mitra

Beberapa aspek pekerjaan lapangan di mana penggunaan sumber daya dari luar,
atau penggunaan ahli yang bukan merupakan bagian dari fungsi tersebut, menjadi
sebuah aspek penting dari operasi audit. Penggunaan sumber daya dari mitra,
dianggap sebagai bagian dari penggunaan sumber daya dari luar, umumnya dipahami
sebagai pengoperasian audit bila pihak luar melaksanakan bagian dari audit internal
bersamaan dengan aktivitas audit organisasi.

Penggunaan sumber daya dari luar dan dari mitra merupakan hal yang penting
dibidang spesialisasi. Misalnya bidang produksi, fisika, layanan kesehatan,
pendidikan, kedokteran, kimia, kedokteran hewan, jasa aktuaria, periklanan dan
penjualan, investasi, dan banyak lagi yang lain.

Kepala bagian audit bertanggung jawab atas kualitas jasa yang diberikan pihak
luar. Evaluasi mutu staf yang terlibat, baik dalam organisasi maupun luar organisasi,
harus sekomprehensif fungsi penugasan yang normal.

13
Bantuan dari luar atau dari mitra harus digunakan dalam proses perencanaan
jika diperlukan, serta dalam evaluasi aktivitas audit. Bantuan tersebut juga harus
memainkan bagian penting dalam aktivitas pelaporan dan harus digunakan dalam
pertemuan dengan klien.

Penelaahan Analitis

Penelaahan analitis telah lama digunakan unttuk menetukan kewajaran data


tertentu. Secara tradisional, penelaahan ini telah dikaitkan dengan masalah-masalah
keuangan. Misalnya:

 Perbandingan informasi keuangan periode sekarang dengan periode lalu.


 Perbandingan informasi keuangan saat ini dengan yang diharapkan, yaitu dengan
anggaran, perkiraan, dan pengalaman industri.

 Penelaahan hubungan informasi keuangan dan non-keuangan

Beberapa metodologi yang digunakan untuk melaksanakan penelaahan ini


adalah:

Analitis Tren. Adalah pengujian yang dilakukan dengan membandingkan data


sekarang dengan data sebelumnya.

Analisis Rasio. Rasio-rasio keuangan, seperti profitabilitas, solvensi (kemampuan


melunasi utang), dan efisiensi, bisa digunakan untuk menentukan kewajaran informasi
saat ini.

Analisis Regresi. Teknik ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel-
variabel tertentu.Analisis regresi merupakan sumber hubungan yang kaya
dibandingkan analisi tren atau rasio karena :

(1) Memungkinkan penggunaan berbagai variable independent.

14
(2) Auditor dapat mengeksplorasi hubungan antara laporan keuangan dan
indikator-indikator non neraca; dan fluktuasi, tren, dan rasio yang bersifat
musiman dapat dimasukkan.

Auditor dapat menggunakan penelaahan analitis dapat menunjukkan masalah-


masalah yang ada dan memberi jalan bagi dilakukannya audit yang lebih intensif
untuk menentukan tingkat abnormalitasnya, dan yang lebih penting, penyebabnya.
Berikut ini beberapa contohnya.

1. Pemeliharaan Aktiva Tetap

Dalam menguji control atas aktiva tetap, auditor internal ingin mengetahui
apakah aktiva telah dikelompokkan sesuai umur manfaatnya dan apakah biaya
pemeliharaan tersedia untuk masing-masing klasifikasi.

2. Statistik Karyawan

Laporan bisa dianalisis untuk menunjukkan berbagai hubungan antara jumlah


karyawan dan tren-tren organisasi lainnya.

3. Perputaran Persediaan

Perputaran umumnya dilaporkan sebagai angka dalam satu kesatuan (lump-


sum), mencangkup sejumlah akun atau daerah penyimpanan.

4. Biaya-biaya Karyawan dan Perputaran Karyawan

Biaya dan waktu yang digunakan untuk merekrut karyawan di berbagai


klasifikasi dan tingkat perputaran per departemen atau cabang.

5. Pengiriman Persediaan

Hal yang perlu diperhatikan adalah perhitungan hubungan antara jarak mil yang
dilalui dan rata-rata waktu pengunaan ban, baterai, dan steker. Analisis
perbandingan biaya penggunaan karyawan dibandingkan dengan mobil organisasi,
dan lain sebagainya.

15
6. Penyimpangan Perlengkapan dan Alat Tulis Kantor

Sering kali menarik untuk membandingkan penggunaan dan saldo persediaan,


juga bermanfaat membandingkan penggunaan dengan jumlah karyawan pengguna.

7. Catatan Bahan Baku

Untuk mendistribusikan biaya bahan baku, auditor bisa menganalisis laporan


yang menunjukkan jumlah permintaan gudang yang diproses.

8. Telepon dan Komputer

Auditor bisa menentukan dan menganalisis rasio jumlah karyawan terhadap


jumlah telepon. Dan menggunakan statistik untuk menunjukkan deviasi dari norma,
varians dengan operasi serupa, atau tren yang merugikan, analisinya bisa dilakukan
dengan menggunakan komputer.

Bukti Hukum dan Bukti Audit

Hubungan dengan Bukti Audit

Bukti audit memiliki banyak kesamaan. Keduanya memiliki tujuan yang sama
untuk memberikan bukti, untuk mendorong keyakinan tentang kebenaran atau
kesalahan setiap pernyataan atau suatu masalah. Keyakinan dibangun dari
pertimbangan atas informasi.

Fokus bukti audit sedikit berbeda dengan bukti hukum. Bukti-bukti hukum (legal
evidence) sangat mengandalkan pengakuan lisan, sedangkan Bukti-bukti audit (audit
evidence) lebih mengandalkan bukti-bukti dokumen.

Bentuk Bukti Hukum

Berikut beberapa bentuk bukti hukum :

16
 Bukti Terbaik

Bukti terbaik (best evidence), sering disebut bukti primer, merupakan bukti yang
paling alami, bukti yang paling memuaskan mengenai fakta-fakta yang sedang
diselidiki. Bukti tersebut memiliki hubungan yang kuat dengan keandalan. Bukti
tersebut terbatas pada bukti dokumen dan kebanyakkan diterapkan untuk
membuktikan isi pernyataan tertulis.

 Bukti Sekunder

Bukti sekunder (secondary evidence) berada dibawah bukti primer dan tidak dapat
disamakan keandalannya. Bukti sekunder mencangkup salinan bukti tertulis atau
lisan.

 Bukti tidak Langsung

Bukti tidak langsung (circumstantial evidence) membuktikan fakta sementara,


atau sekumpulan fakta. Yang dapat dirujuk seseorang untuk mengetahui
keberadaan beberapa fakta primer yang signifikan atas masalah yang sedang
dipertimbangkan. Bukti ini tidak langsung membuktikan keberadaan fakta-fakta
primer tetapi hanya meningkatkan penggunaan pemikiran logis yang ada.

 Bukti yang Meyakinkan

Bukti yang meyakinkan (consuve evidence) merupakan bukti yang tak


terbantahkan, apa pun bentuknya. Bukti ini sangat kuat sehingga mengalahkan
semua bukti lainnya dan merupakan sumber diambilnya kesimpulan. Bukti ini
tidak dapat dipertentangkan dan tidak membutuhkan bukti-bukti yang
menguatkan.

 Bukti yang Menguatkan

Bukti yang menguatkan (corroborative evidence) merupakan bukti tambahan dari


karakter yang berbeda menyangkut hal yang sama. Bukti ini mendukung bukti
yang telah diberikan dan cenderung menguatkan atau menginformasikannya

17
 Bukti Opini

Berdasarkan aturan opini (opinion rule), saksi-saksi harus memberikan kesaksian


hanya terhadap fakta yang ada pada apa yang benar-benar mereka lihat atau
dengar, sebaliknya audior harus menyaring opini dan mengumpulkan serta
mengevaluasi fakta – fakta untuk membuktikan kebenaran atau kesalahannya.

Untuk pengakuan berupa opini dibuat pengaman dengan mensyaratkan dua


elemen:

- Subyek yang dinyatakan opininya harus jelas terkait dengan pengetahuan,


profesi, bisnis, atau jabatan yang berada diluar pemahaman orang awam.

- Saksi ahli harus memiliki keahlian, pengetahuan, atau pengalaman dibidang


tersebut hingga bisa membantu anggota juri.

 Bukti Kabar Angin

Aturan bukti kabar angin memberikan pernyataan yang tidak dapat diterima yang
dibuat seseorang, selain saksi ahli, untuk membuktikan kebenaran suatu masalah.
Bukti ini berupa bukti lisan atau tertulis yang dibawa kepengadilan dan menjadi
bukti atas pernyataan yang dikatakan dipengadilan, jadi bahan bukti ini
merupakan bukti angina (hearsay evidence).

Bentuk Bukti Audit

I. Sifat Bukti Audit

Bukti audit (audit evidence) adalah informasi yang diperoleh auditor internal
melalui pengamatan suatu kondisi, wawancara, dan pemeriksaan catatan. Bukti audit
harus mempunyai dasar nyata untuk opini, kesimpulan, dan rekomendasi audit. Bukti
audit terdiri dari :

 Bukti fisik

18
Bukti fisik (physical evidence) diperoleh dengan orang, property, dan kejadian.
Bukti ini dapat berbentuk pernyataan observasi oleh pengamat atau oleh foto,
bagan, peta, grafik (bukti grafik bersifat persuasive), atau gambar lainnya.

 Bukti Pengakuan

Bukti pengakuan (testimonial evidence) berbentuk surat atau pernyataan sebagai


jawaban atas pertanyaan. Bukti ini tidak bersifat menyimpulkan, jika
dimungkinkan masih harus didukung oleh dokumentasi.

 Bukti Dokumen

Bukti dokumen (documentary evidence) merupakan bentuk bukti audit yang


paling biasa. Dokumen bisa eksternal (mencakup surat atau memorandum yang
diterima pleh klien, faktur dari pemasok, dan lembar pengemasan) maupun
internal (dokumen yang dibuat dalam organisasi klien mencakup catatan
akuntansi, salinan korespondensi ke pihak luar, laporan penerimaan melalui email,
dll).

Sumber bukti dokumen mempengaruhi keandalannya, sebuah dokumen eksternal


yang diperoleh langsung dari sumbernya lebih andal dibandingkan dokumen yang
didapatdari klien.

 Bukti Analitis

Bukti analitis (analitycal evidence) berasal dari analisis dan verifikasi. Sumber
bukti ini adalah perhitungan, perbandingan dengan standar yang ditetapkan,
operasi masa lalu, operasi yang serupa, dan hukum atau regulasi, pertimbangan
kewajaran, dan informasi yang telah dipecah ke dalam bagian-bagian kecil

Standar-standar Bukti Audit

Semua bukti audit harus memenuhi 3 uji yaitu :

 Kecukupan

19
Bukti dianggap memadai jika bersifat faktual, memadai dan meyakinkan sehingga
bisa menuntun orang yang memiliki sifat hati – hati untuk mengambil kesimpulan
yang sama dengan auditor.

 Kompetensi

Bukti yang kompeten adalah bukti yang andal, bukti tersebut haruslah yang
terbaik yang dapat diperoleh. Dokumen asli lebih kompeten dibandingkan
salinannya, pernyataan lisan yang menguatkan adalah lebih kompeten dari
pernyataan biasa, bukti langsung lebih andal dibandingkan bukti kabar angin.

 Relevansi

Mengacu pada hubungan antara informasi dengan penggunaannya. Fakta dan


opini yang digunakan untuk membuktikan atau menyangkal suatu masalah harus
memiliki hubungan logis dan masuk akal dengan masalah tersebut.

Penanganan Bukti yang Sensitif

Harus terdapat rencana yang dibuat untuk menangani dan mengamankan bahan-
bahan yang sensitif, rencana ini harus mencakup metode untuk menjaga integritas
dokumen yang harus dipisahkan dari dokumen kertas kerja biasa dan harus disimpan
dalama lemari terkunci atau kotak penympanan yang aman, penyimpanan juga dapat
dilakukan di lokasi luar.

Selain itu perlu mengamankan infoemasi bukti terkomputerisasi untuk


menghindari akses ke bentuk aslinya. Metode penyajian tambahan adalah
mengembangkan dokumen-dokumen pendukung yang disimpan pada lokasi selain
lokasi penyimpanan catatan atau dokumen asli.

Kertas Kerja

Kertas kerja merupakan dasar pengembangan bukti. Ada beberapa jenis kertas
kerja yang semuanya penting, yaitu mencakup:

20
 Kutipan dari sumber berwenang tentang kriteria dan standar.

 Ringkasan wawancara, pertemuan, dan percakapan.

 Subtansi verifikasi dan pemeriksaan dokumen.

 Analisis temuan dari kertas kerja atau pengamatan lainnya.

 Perhitungan analitis terkait dengan audit.

Kertas kerja merupakan substansi audit yang harus diberikan pengawasan dan
pemeriksaan seksama untuk menentukan keabsahannya dan tidak meninggalkan
pertanyaan yang tersisa juga bahwa materi di beberapa kertas kerja tidak bertentangan
dengan yang terdapat dalam kertas kerja yang lain.

Pekerjaan Lapangan dalam Lingkungan Berteknologi Tinggi

Karena sistem informasi terkait erat dngan pemrosesan tepat waktu, auditor
menghadapi komplikasi yang biasanya tidak ditemukan pada sistem yang lama.

Komplikasi ini makin luas bila perusahaan menerapkan system untuk


perusahaan secara keseluruhan (enterprise wide systems) yang memiliki potensi
mengintegrasikan fungsi-fungsi bisnis perusahaan mulai dari pemasaran hingga
manufaktur dan logistik hingga ke sumber daya dan pelaporan keuangan.

Enterprise Wide Systems

Perusahaan yang berkembang menggunakan sistem ini, yang juga disebut


sistem perencanaan sumber daya perusahaan. Sistem ini memberikan kemungkinan
besar terciptanya operasi yang lebih efisien dan efektif bagi perusahaan dengan
menggunakan sistem standar yang cukup fleksible terhadap komponen-komponen
usaha yang berbeda di negara yang berbeda dan meghasilkan informasi yang
dibutuhkan untuk tingkat manajemen yang sesuai.

21
Sistem ini bisa menangani bisnis dan fungsi-fungsi dalam kisaran yang luas
termasuk yang tercakup dalam e-commerce yang substansial selain itu sistem ini
menjadi standar bagi perusahaan besar untuk memiliki bidang audit internal sendiri.

Audit Berkelanjutan

Sifat sistem yang ada di enterprise wide system memungkinkan dilakukannya


audit berkelanjutan. Ikatan akuntan kanada dan AICPA mendefinisikan audit
berkelanjutan (continuous auditing) sebagai “sebuah metodologi yang memungkinkan
auditor independent memberikan keyakinan tertulis mengenai suatu subjek masalah
menggunakan serangkaian laporan auditor yang dikeluarkan secara simultan dengan
atau setelah suatu periode yang pendek, terjadinya suatu kejadian yang melandasi
masalah tersebut”

Studi penelitian menyimpulkan bahwa kondisi berikut memerlukan


diselenggarakannya audit berkelanjutan:

 Subjek masalah dengan karakteristik yang sesuai.

 Keandalan sistem yang melandasi subjek tersebut.

 Bukti audit yang diberikan oleh prosedur audit dengan tingkat otomatisasi yang
tinggi.

 Sarana yang dapat diandalkan untuk mendapatkan hasil-hasil prosedur audit


secara tepat waktu.

 TIngkat keahlian auditor yang tinggi dalam teknologi informasi dan subjek
masalah.

Berikut masalah yang menjadi perhatian utama yang berdampak pada pekerjaan
lapangan dan pelaporan auditor internal:

 Keterlibatan auditor internal dengan subjek masalah.

 Pengetahuan auditor internal mengenai keandalan subjek masalah.

22
 Keterlibatan auditor internal dalam pelaporan dan evaluasi tanggapan manajemen
terhadap laporan.

 Keahlian internal auditor dengan teknologi informasi dan masalah-masalah yang


sedang diaudit.

Salah satu komponen kunci dalam audit berkelanjutan adalah perancangan dan
implementasi kontrol otomatis dan pemicu tanda bahaya.

Pemicu tanda bahaya menjadi penanda bagi auditor internal dan manajemen
akan :

 Kontrol berfungsi dan mereka telah mengidentifikasi sebuah kesalahan yang harus
diinvestigasi dan atau diperbaiki.

 Kontrol tidak berfungsi berdasarkan informasi yang diidentifikasi.

Dalam enterprise wide system, auditor internal harus memainkan peran kunci
dalam mengurangi risiko hingga ke tingkat yang dapat diterima.

Masalah-masalah Audit Internal Terkait dengan Risiko

Perbedaan yang jelas harus dibuat antara apa yang dilaporkan ke manajemen
pada tingkat yang mana dan apa yang dilaporkan ke audit internal.

Dalam lingkungan yang mengumpulkan data penjualan, distribusi, manufaktur,


dan kinerja keuangan auditor internal dapat berada di posisi mnggunakan data kinerja
ini untuk dibandingkan dengan data keuangan tradisional guna mendeteksi kesalahan
atau kecurangan ataupun kelemahan kontrol.

Dalam enterprise wide systems, cenderung tersedia banyak data bagi auditor
internal yang memiliki pengetahuan memadai mengenai sistem tersebut. Karena
semua data disimpan dibasis data, auditor memiliki akses yang dapat digunakan untuk
perbandingan dalam beberapa periode waktu, selain itu auditor dapat menelaah
informasi dalam lingkungan tepat waktu sehingga kemunkinan perbedaan waktu yang
menyebabkan kesalahan atau kecurangan bisa dikurangi.

23
Perdagangan Elektronik

Jika suatu entitas mengguanakan e-commerce untuk menjual produk ke


pelanggan, terdapat risiko yang perlu dipertimbangkan audior dalam merencanakan
pekerjaan lapangan. Risiko ini mencakup kemungkinan penjualan dan retur fiktif dan
kemungkinan pesaing dapat mengakses informasi penting dari perusahaan.

Audit berkelanjutan dapat membantu memberikan tanda bagi auditor akan adanya
masalah potensial dan bagaimana menemukannya.

24