Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Profesi akuntan publik merupakan profesi kepercayaan masyarakat. Dari

profesi akuntan publik, masyarakat mengharapkan penilaian yang bebas dan

tidak memihak terhadap informasi yang disajikan oleh manajemen perusahaan

dalam laporan keuangan. Profesi akuntan publik bertanggungjawab untuk

menaikkan tingkat keandalan laporan keuangan perusahaan, sehingga

masyarakat memperoleh informasi keuangan yang andal sebagai dasar

pengambilan keputusan (Mulyadi dan Puradiredja, 1998:3).

Peran akuntan publik dewasa ini menunjukkan perkembangan pesat.

Pengaruh globalisasi menyebabkan kaburnya batas-batas antar Negara.

Dampaknya, semakin jauh jarak pembuat dan pengguna informasi yang

akhirnya menyebabkan bisa pada informasi tersebut. Selain itu, terdapat pula

perbedaan kepentingan antara pembuat laporan dan pengguna laporan. Untuk

itu diperlukan suatu opini dari pihak ketiga yang independen untuk menilai

informasi tersebut. Pihak ketiga yang dimaksud dalam hal penilaian informasi

yang terkait dengan keuangan tersebut adalah akuntan publik. Disini akuntan

publik bertugas memberikan opini terhadap laporan keuangan suatu

perusahaan. Opini tersebut nantinya akan digunakan oleh pengguna laporan

keuangan seperti pemegang saham, kreditor, atau pemerintah, sebagai dasar

pengambilan keputusan. Dengan 2 demikian, opini yang dibuat akuntan publik

1
akan sangat berpengaruh pada kegiatan perusahaan tersebut di masa yang akan

datang.

Kualitas audit yang baik pada prinsipnya dapat dicapai jika auditor

menerapkan standar-standar dan prinsip-prinsip audit, bersikap bebas tanpa

memihak (Independen), patuh kepada hukum serta mentaati kode etik profesi.

Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) adalah pedoman yang mengatur

Standar umum pemeriksaan akuntan publik,

Kepercayaan yang besar dari pemakai laporan keuangan auditan dan jasa

lainnya yang diberikan oleh akuntan publik inilah yang akhirnya

mengharuskan akuntan publik memperhatikan kualitas audit yang

dihasilkannya. Adapun pertanyaan dari masyarakat tentang kualitas audit yang

dihasilkan oleh akuntan publik semakin besar setelah terjadi banyak skandal

yang melibatkan akuntan public baik diluar negeri maupun didalam negeri.

Dampak penurunan kualitas audit dapat menurunkan kepercayaan publik

terhadap profesi akuntansi, menurunkan kredibilitas para akuntan public atas

hasil-hasil audit yang mereka lakukan. Pada akhirnya akibat dari penurunan

kualitas audit dapat mematikan profesi itu sendiri serta akan menimbulkan

campur tangan pemerintah yang berlebihan terhadap profesi itu sendiri (Otley

dan Pierce 1995). Berbagai penelitian sehubungan dengan kualitas audit telah

dilakukan antara lain oleh Kelly dan Margheim (1990), menyebutkan bahwa

penurunan kualitas audit adalah akibat dari tekanan (pressure), system

pengendalian (control system) dan gaya pengendalian (supervissory style).

Otley dan Pierce (1995), menjelaskan bahwa beberapa perilaku disfungsional

2
auditor seperti Prematur Sign-Off Audit Procedures (menghentikan prosedur

audit) Underreportingof Time (keterlambatan atau tidak tepat waktu), Altering

Audit Process dan Gathering Unsufficient Evidence (mengganti proses audit

dan mengumpulkan bukti yang tidak cukup) akan berdampak terhadap

penurunan kualitas audit.

1.2. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah yang penulis uraikan, banyak permasalahan

yang penulis dapatkan. Permasalahan tersebut antara lain:

1. Bagaimana Membangun kembali kepercayaan publik?

2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kepercayaan publik?

1.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan karya tulis Atau makalah ini adalah

1. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kepercayaan publik

2. Menjelaskan cara menbangun kembali kepercayaan publik

3. Memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah

1.4. Ruang Lingkup

Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan yang penulis miliki maka

ruang lingkup karya tulis atau makalah ini terbatas pada pembahasan

mengenai Membangun Kembali kepercayaan Publik sesuai dengan judul

yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Membangun Kembali Kepercayaan Publik

2.1.1. Disiplin Ilmu Akuntansi

Disiplin ilmu akuntansi itu sendiri menjadi faktor penyebab mengapa

akuntansi itu semakin meredup tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar yang

semakin berkembang dan semakin canggih. Hal ini bisa dimaklumi karna

pengembangan ilmu akuntansi ini bisa dikatakan berenti pada dekade 60-an dan

70-an profesi akuntansi dan akademisi merumuskan kerangka teoriakuntansi

melalui beberapa upaya seperti yang tertuang dalam APB statement No. 4 tetnang

prinsip, sifat dan kualitas laporan keuangan dan trueblood committee report yang

membahas tujuan laporan keuangan dan upaya lainnya seperti SOATATA,

ASOBAT, dan sebagainya.

Disiplin dan produk laporan keuangan menjadi andalan akuntasi saat ini

dibangun atas dasar konsep kerangka itu yang didasarkan pada kondisi,

sruktur,ekonomi,bisnis,kebutuhan pemakai pada saat itu. Perkembangan

ekonomi,bisnis,teknologi.komputer, komunikasi yang Demikian spektakuler

khususnya teknologi komputer dan komunikasi menyebabkan disiplin ilmu

akuntansi yang masih tidak berubah dari situasi lama. Disiplin akuntansi

tradisional tidak mengandalkan teknologi dan tidak menyesuaikan diri dengan

tuntunan pasar menyebabkan ilmu akuntansi tidak tidak bisa memenuhi

kebutuhan dan tuntunan masyarakat yang berubah sehingga ia ditinggalkan

pemakainya dan beralih mencari sumber atau media lain. Disiplin akuntansi yang

4
kita nikmati saat ini adalah produk yang lahir dari permasalahan dan tantangan

dari ekonomi,bisnis dan manajemen pada era 70-an dan 80-an, dimana struktur

ekonomi waktu itu ditandai dengan bisnis manufaktur yang ditandai dengan

banyaknya asset tangible yaitu aktiva tetap yang terdiri dari lahan, bangunan,

mesin dan pealatan,perabot dan furnitur,kendaraan dan lain sebagainya.

Sebagaimana yang diketahui sektor ekonomi, bisnis, teknologi, dan

manajemen berkembangan terus. Dunia awalnya dikuasai oleh sektor ekonomi

agricultur, kemudian berkembang dikuasai oleh ekonomi manufaktur dan saat ini

ditandai dengan perkembangan ekonomi jasa dengan ditopang kemajuan

teknologi komputer, komunikasi, informasi, yang sangat pesat. Sedangkan ilmu

akuntansi khususnya kerangka konsepnya sendiri tidak dikembangkan sehingga

akhirnya situasi yang dihadapi tidak bisa dijawab dengan kerangka konsep yang

lama yang memiliki kerangka konsep yang jauh berbeda dengan tuntunan pasar

dan para pemakai pada saat ini. Beberapa prinsip yang tidak sesuai dengan situasi

yang kita hadapi saat ini antara lain adalah:

a. Prinsip historical cost

b. Pengukuran tangible cost

c. Pengukuran aspek nonkeuangan

d. Pengukuran aspek sosial ekonomi seperti lingkungan dan tanggung

jawab sosial perubahan

e. Aspek keadilan dalam pelaporan keuangan

f. Aspek keyakinan agama

5
Prinsip diatas telah dijawab oleh masyarakat maupun profesi melalui berbagai

konsep baru yang ditawarkan, baik melalui dikursus akademik maupun melalui

perumusan standar akuntansi yang diberikan secara resmi, namun tidak melalui

kerangka konsep dasar sebagaimana pada 1970-an yang menjadi dasar

membangun kerangka teori akuntasi. Kerangka konsep dasar akuntansi yang

dibangun pada era 70-an tidak diubah sama sekali, yang diubah hanya pada

tataran standar yang lepas dari postulat dan prinsip dasarnya. Kerangka konsep

teori akuntansi ini mutlak dimiliki jika kita ingin membangun disiplik akuntansi.

Karna kerangka dasar teori inilah yang menjadi dasar, pedoman dan arah

pengembangan disiplin itu dilakukan supaya tidak sembarangan dan tanpa arah.

Sayangnya kerangka dasar yang lama belum pernah diubah, tetapi sudah

mengubah ranting atau turunannya yang didasarkan pada tuntutan pasar, tetapi

tidak berdasar kerangka teori yang ada. Danpaknya adalah produk

akuntansimenjadi berkembang tidak terarah dan berkembang tidak sejalan dengan

kerangka konsep dasar. Mari kita berikan beberapa contoh yang terjadi dalam

disiplin akuntansi berkaitan dengan situasi ini:

a. Munculnya penilaian “fair value” nila menyebabkan pelanggaran telak

pada prinsip historical cost

b. Dengan perkembangan bisnis berbasis teknologi maju seperti IT,

komunikasi yang berbasis dan digerakan ol maka banyak perusahaan

tidak memiliki pendoman bagai mana menilai “intangible asset” yang

belum ada p “standard setter body”

c. Banyak sekali kinerja saat ini bukan diukur hanya oleh ukuran

6
keuangan tetapi nonkeuangan misalnya perkemban menambahkan

ukuran nonkeuangan (market share, learning process, kualitas).

Sayangnya akuntansi tidak mampu memberikan pendoman untuk

memenuhi tuntutan ini

d. Dengan semakin derasnya tuntutan masyarakat agar perusahaan

tidak hanya bertanggung jawab pada tujuan mencari laba, tetapi

juga menyelamatkan lingkungan dan ikut bertanggung jawab kepada

kehidupan masyarakat maka seharusnya akuntansi mampu

memberikan informasi sejauh mana perusahaan ikut bertanggung

jawab pada da bidang ini lingkungan dan sosial. Dalam diskursus

akademik sudah dikenal a kuntansi sosial ekonomi atau socio

economic accounting yang mengukur aspek social dan ekonomi dari

setiap transaksi yang melibatkan perusahaan. Bahkan masyarakat saat

ini yang menggabungkan antara kepentingan laba, social, dan

lingkungan yang dikenal dengan istilah Triple P atau 3P yang

menggambarkan profit (Keuangan), People (Sosial), Planet (Alam).

Akuntansi secara resmi masih diam dalam menjawab tuntutan pasar

dan masyarakat ini.

e. Salah satu tuntutan masyarakat yang tidak pernah berhenti dari benak

kita adalah keadilan. Keadilan harus ditegakan kendatipun langit

runtuh katanya. Namun, sejauh mana akuntansi mampu memberikan

informasi tentang keadilan ini terutama tentang keadilan dalam

distribusi pendapatan dalam suatu kegiatan bisnis yang memang

7
hasilnya merupakan kontribusi dari semua pihak atau “stakeholders”

bukan hanya kontribusi pemilik modal atau akademik sudah

ditawarkan apa yang Reporting, atau pelaporan nilai tambah PSAK

sampai saat ini belum memberikan sikap.

f. Munculnya system ekonomi islam (Syariah) yang didasarkan pada

keyakinan ideologis yang berbeda dari keyakinan ideologis kapitalis

yang menjadi dasar ilmu akuntansi menyebabkan bangun teori dan

kerangka konsep, serta sistem pelaporan juga mestinya akan

berbeda.sejauh ini disiplin akuntansi secara resmi belum mau

membahas dan memberikan pedoman dalam bidang ini. Profesi

akuntan diam saja dan umat islam yang coba merumuskannya, namun

belum serapih sebagaimana harusnya akuntansi yang mapan. IAI dan

PSAK syariah telah berhasil memisahkan PSAK konvesional dan

syariahberhasil melahirkan sampai tahun 2010, 12 PSAK Syariahyang

berlaku untuk entitas dan transaksi syariah dan kerangka konsep dasar

penyusunan pelaporan lembaga keuangan syariah. Ditingkat

International dikenal AAOIFI (Accounting Auditing Organization for

Islamic Financial Institution), namun hanya melahirkan standar yang

kerangka dasarnya masih bersifat konvensional dan sayangnya hanya

untuk lembaga keuangan bukan lembaga bisnis secara keseluruhan.

2.1.2. Faktor Eksternal dan Kemajuan Disiplin Lain

Ilmu akuntansi adalah bagian dari ilmu informasi. Akuntansi adalah

system informasi dan menawarkan engineering dalam mengolah transaksi yang

8
diwakili bukti , data, menjadi informasi yang berguna bagi para pengambil

keputusan. Sayangnya akuntansi tidak sendirian. Dalam ilmu informasi ada ilmu

teknologi komputer, ada ilmu teknologi komunikasi, ada audio visual, internet dan

sebagainya. Karena ilmu akuntansi menawarkan informasi maka mau tidak mau

teknologi tadi itu juga memengaruhi kepuasan orang terhadap ilmu akuntansi.

Ilmu computer, audio visual, komunikasi, internet misalnya bisa menjadi media

penyampain informasi akuntansi melalui internet dengan kecepatan, akurasi yang

lebih baik. Dampak dari kemajuan teknologi ini menyebabkan masyarakat

memiliki pilihan lain selain produk akuntansi yang dampaknya adalah peran

akuntansi sebagai jasa untuk masyarakat menjadi berkurang. Ini yang

menyebabkan masyarakat mulai mengabaikan pelaporan akuntansi tradisonal.

Faktor Individu Pelaku Dalam Profesi Akuntansi

Value Added Reporting (VAR) atau Laporan Pertambahan Nilai berkaitan juga

dengan Human Rresources Accounting dan Employee Reporting terutama dalam

hal informasi yang disajikannya. Value Added Reporting ini masih belum

diwajibkan sebagai laporan utama di berbagai Negara, jadi masih dalam tahap

wacana akademik. Value Added Reporting ini sebenarnya menutupi kekurangan

informasi yang disajikan dalam laporan keuangan utama, Neraca, Laba Rugi, dan

Arus kas. Karena semua laporan ini gagal memberikan informasi:

1. Total produktivitas dari perusahaan;

9
2. Share dari setiap stakeholder atau anggota tim yang ikiy dalam proses

manajemen yaitu, pemegang saham, kreditor, pegawai, dan pemerintah

(Belkaoui, 1995).

Kalau laporan kkeuangan konvensional menekkankan informasinya pada laba

maka VAR menekankan pada upaya meng-generate kekayaan atau nilai tambah.

Karena laba biasanya hanya menggambarkan hak atau kepentingan pemegang

saham saja bukan seluruh tim yang ikut terlibat dalam kegiatan perusahaan. Value

Added adalah kenaikan nilai kekayaan yang digenerate atau dihasilkan dengan

penggunaan asset produktif dari seluruh sumber-sumber kekayan perusahaan oleh

seluruh tim yang ada termasuk pemilik modal, karyawan, kreditor, dan

pemerintah. Sebenarnya konsep dasar dari VAR ini sudah dikenal dalam ilmu

ekonomi terutama dalam perhitungan Pendapatan Nasional. Namun, perlu diingat

bahwa value added tidak sama dengan laba. Laba menunjukkan pendapatan bagi

pemilik saham sedangkan pertambahan nilai mengukur kenaikan kekayaan bagi

seluruh stakeholders. Laporan Pertambahan Nilai jangan pula disamakan dengan

Pajak Pertambahan Nilai.

Isi Laporan Pertambahan Nilai

Sebenarnya Laporan Pertambahan Nilai ini adalah modifikasi dari Laporan

Laba Rugi sehingga pada dasarnya dapat disusun dengan menggunakan laporan

laba rugi ini. Langkah yang di ikuti dalam menyusun laporan pertambahan nilai

dari laporan laba rugi adalah (Belkaoui, 1995):

Langkah 1:

10
Disini dihitung Laba Ditahan yang didapat dari Hasil Penjualan dikurangi

Biaya, Pajak, Dividen, atau:

Penerimaan

penjualan Rp..........

Dikurangi:

Pembelian barang dan jasa Rp............

Penyusutan Rp............

Biaya karyawan Rp..............

Biaya bunga Rp..............

Dividen Rp..............

Pajak Rp..............

Total

pengurangan Rp..............

Laba

ditahan Rp..............

Langkah 2:

Laporan penambahan nilai dapat disusun dari data diatas dengan format sebagai

berikut:

Penerimaan penjualan Rp...............

Dikurangi: pembelian barang dan jasa Rp...............

Pertanbahan nilai yang kotor Rp...............

Penyusutan Rp...............

11
Biaya karyawan Rp...............

Biaya bunga Rp...............

Dividen Rp...............

Pajak RP...............

Total Pertambahan

Nilai Rp.............

Beberapa kegunaan dari Value Added Reporting ini dapat disebut sebagai

berikut:

a. Konsep ini dinilai objektif sehingga dianggap sebagai informasi yang

abash sebagai dasar perhitungan reward.

b. Pertambahan nilai kotor merupakan informasi yang sangat berguna untuk

memgetahui angka reinvestasi (laba ditahan dan penyusutan).

c. Laporan ini dianggap dapat menjembatani kepentingan akuntansi

danekonomi dengan jumlah kekayaan dalam pengukuran pendapan

nasional.

d. Pertambahan nilai bersih bisa menjadi dasar distribusi kekayaan bukan

pertambahan nilai kotor:

1. Pertambahan nilai bersih sangat cocok menjadi dasar perhitungan

bonus produktivitas tenaga kerja dengan memberikan penyisihan pada

perubahan modal.

2. Dengan mengurangi biaya penyusutan akan menghindari double

counting yang bisa terjadi jika ada pertukaran aktiva antara dua

perusahaan.

12
3. Pertambahan nilai bersih sangat menguntungkan bagi konsep laba

untuk semua.

4. Mestinya remunerasi karywan tidah hanya berasal dari gaji, tetapi juga

kenaikan kekayaan, ini konsep baru dalam dunia bisnis modern.

5. Dapat menjadi media peramalan yang baik bagi peristiwa ekonomi

yang dapat mempengaruhi kesehatan perusahaan.

6. Sangat cocok untuk ekonom dalam perhitungan pendapatan nasional.

7. Dapat menilai proporsi masing-masing terhadap niali tambah sehingga

dapat mendorong keadlian.

Namun, di samping keunggulannya ada juga beberapa keterbatasan Laporan

Pertambahan Nilai ini, yaitu sebagai berikut:

a. Tidak semua pihak yang terlibat dalam menghasilkan pertambahan nilai

itu merasa senang bekerja sama dengan yang lain.

b. Ada kemungkinan dengan adnya laporan pertambahan niali ini manajemen

salah tanggep seolah ingin memaksimalisasi pertamabahan nilai.

c. Kesalahan penafsiran terhadap pertambahan nilai dapat menimbulkan

kepalsuan pendapat seperti

1. Kenaikan pertambahan nilai dianggap kenaikan laba;

2. Kenaikan pertambahan niali per unit dianggap otomatis bermanfaat

bagi pemegang saham;

3. Seolah dianggap bisa mengidentifikasi distribusi yang adil atas

perubahan pertambahan niali;

13
4. Pertambahan nilai yang tinggi untuk tenaga kerja per unit dianggap

meruapakan prestasi ekonomi yang baik;

5. Share tenaga kerja yang besar atas pertambahan nilai tidak berhak

mendapatkan gaji yang tinggi.

2.2.4. Akuntansi Perilaku

Aspek budaya dalam akuntansi disebut juga behavioral accounting. Di

sini diperhatikan berbagai budaya yang dapat memengaruhi peran atau hasil dari

interaksi antara informasi akuntansi dengan perilaku konsumennya atau

penyajiannya. Dengan perkataan lain, berkaitan dengan hubungan antara perilaku

manusia dan system akuntansi baik dalam bidang akuntansi keuangan maupun

akuntansi manajemen. Bahkan ini dianggap sebagai bidang (cabang) akuntansi

yang khusus (Siegel, Ramanauskas-Marconi, 1989). Bidang akuntansi ini dimulai

dikembangkan pada awal tahun 1950-an. Pada tahun 1951 the Controllership

Foundation of America mensponsori penelitian untuk mengetahui pengaruh

budget terhadap manusia. Riset ini dilakukan oleh Cornell University dengan

dipimpim oleh Chris Argyris. Penelitian ini telah memberikan beberapa

rekomendasi tentang beberapa perilaku yang muncul dalam penerapan budget.

Hasil riset ini muncul di Harvard business Review yang ditulis oleh Argyris

dengan judul Human Problems with budget. Sejak itu maka banyak ahli menjadi

pemerhati dan menjadi peneliti akuntansi perilaku ini seperti Mayo, Maslow, Mc

Gregor, Likert.

Dalam akuntansi perilaku ini yang menjadi sorotan adalah dampak dari informasi

akuntansi terhadap perilaku orang yang membaca atau menyiapkannya. Juga

14
melihat bagaimana reaksi manusia terhadap informasi yang akuntansi yang

diberikan. Dampak perilaku dari system budget terhadap prilaku, dampak systevm

responsibility accounting terhadap oerilaku, dampak system desentralisasi ataupun

sentralisasi pengambilan keputusan terhadap perilaku, dimensi perilaku dalam

system pengawasan internal, beberapa pola perilaku auditor, aspek perilaku dalam

proses pengambulan keputusan, factor perilaku dalam kebutuhan pengungkapan,

aspek perilaku dalam akuntansi sumber daya manusia, dan sebagainya. Lebih

simple Siegel, Ramanauskas, dan Marconi (1989) membaginya atas tiga bagian

besar berikut ini.

1. Pengaruh perilaku manusia terhadap desain, kontruksi, dan penggunaan

system akuntansi.

2. Pengaruh system akuntansi terhadap perilaku manusia.

3. Metode untuk meramalkan dan strategi untuk mengubah perilaku manusia.

2.2.5. Multidiscipline Paradigm

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan semakin

munculnya paradigm baru yang pada akhirnya menimbulkan ketergantungan dan

keterkaitan yang semakin erat antara satu disiplion ilmu dengan disiplin ilmu

lainnya. Fenomena ini juga melanda akuntansi.

Mulanya ilmu yang dikenal manusia adalah ilmu filsafat. Menurut Al-

Farabi, ilmu filsafat adalah ilmu pengdetahuan tentang alam yang maujud dan

bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya (Anshari, 1991). H.Endang

Saifuddin Anshari (1991) mengubgkapkan ilmu itu kemudian berkembang

menjadi tiga bidang.

15
a. Ilmu Pengetahuan Alam (Natural science):

1. Biology

2. Antropologi fisik

3. Kedokteran

4. Farmasi Pertanian

5. Ilmu Pasti

6. Ilmu Alam

7. Teknik

8. Geologi, dan lain-lain.

b. Ilmu Sosial (Social Science):

1. Ilmu Hukum

2. Ekonomi

3. Jiwa Sosial

4. Bumi Sosial

5. Sociology

6. Antropologi Sosial Budaya

7. Sejarah

8. Politik

9. Pendidikan

10. Publisistik dan Jurnalistik

11. Dan lain-lain.

c. Humaniora (Humanities Science):

1. Ilmu Agama

16
2. Ilmu Filsafat

3. Ilmu bahasa

4. Ilmu seni

5. Ilmu Jiwa (psikologi)

Ilmu ekonomi yang merupakan bagian dari ilmu social berkembang menjadi

berbagai disiplin ilmu seperti;

1. Ekonomi Mikro dan Makro

2. Ilmu Manajemen

3. Pembangunan

4. Pemasaran (marketing)

5. Produksi (production)

6. Keuangan (finance)

Ilmu manajemen berkembang lagi menjadi berbagai disiplin ilmu seperti;

Akuntansi, Business Policy, budgeting, Planning, Operating Research,

Information System, dan lain-lain.

Akuntansi kemudian berkembang lagi seperti: Akuntansi Keuangan,

Akuntansi Manajemen, Teori Akuntansi, Sejarah Akuntansi, Akuntansi

Internasional, Controllership, Sistem Pengawasan Manajemen, Auditing, dan

sebagainya.

Perkembangan ilmu di masing-masing bidang ini selalu berkaitan erat dan saling

mengisi dengan disiplin ilmu lain. Contoh yang paling menarik adalah munculnya

ilmu decision science. Ilmu ini tampaknya mengkristal sebagai gabungan dari

17
berbagai disiplin ilmu seperti akuntansi, computer, information system, expert

system, decision science, mathematic, dan management science.

Akuntansi sebagai suatu system informasi membutuhkan computer,

information science, dan decision science. Akhirnya muncullah ilmu baru seperti

decision science yang sumberformula dan elemen-elemennya berasal dri ilmu

tadi. Decision science ini merupakan disiplin ilmu baru di Amerika dan bahkan

sudah menjadi salah satu jurusan yang popular di College of Business, fenomena

inilah yang disebut Multidicipline paradigm.

Fenomena ini menarik karena Nampak sekali bahwa lengah sedikit saja dalam

pengembangan ilmu itu kita akan ketinggalan ditelan kemajuan disiplin lain. Oleh

karena itu, pengembangan disiplin dan profesi akuntansi di tanah air jangan

sampai lengah dan terlambat mengantisipasi perubahan ilmu dan teknologi yang

demikian cepat.

Dalam megatrend akuntansi Enthoven diharapkan akuntansi lebih

memikirkan perndekatan terpadu dengan disiplin ilmu lainnya.

2.2.6. Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan

Dilaksanakannya “Earth Summit” mangingatkan kita pada isu yang sama di

ajukan oleh Club of Rome tahun 1975 yang lalu yaitu Konsep Limit to Growth

atau sering juga disebut Zero Growth. Club para ahli nomor wahid ini

menganggap bahwa kerusakan bumi timbul dari kombinasi dari berbagai factor

yang harus direm perkembangannya seperti perkemabangan penduduk, investasi,

kkonsumsi sumber alam, industry, ketidakadilan distribusi pendapatan, pertanian,

kehutanan. Club ini ingin menyelamaykan masa depan umat manusia dengan

18
mengingatkan kita perlunya keharmonisan pengelolaan ekosistem yang bersfat

global dan dependen. Subbab ini ingin mencoba menjelaskan perlunya alat ukur

untuk memudahkan para pengambil keputusan dalam memanaje masalah

pembangunan, lingkunagn, dan aspek social ekonominya.

a. Akuntansi sebagai Alat Ukur

Sebenarnya akuntansi diam-diam mempunyai perangkat penting dalam

mengamankan pembangunan bumi yang aman. Namun, para teknokrat barangkali

belum tahu dan mungkin tidak terpikir untuk memanfaatkannya. Bekas presiden

Bank Dunia A. W. Clausen pernah mengeluh bahwa karena ketiadaan aat yang

dapat mencatat, mengukur, dan melaporkan posisi kejadian, dampak industry

(pembangunan) kepada masyarakat, menimbulkan kesukaran kita mengawasi

dampak itu.

Ia menyebutkan: Saya mengakui salah satu alasan dari respons kita yang tidak

lengkap terhadap permasalahan social adalah isu kualitas hidup yang

membingungkan dan penyebab utama kebingungan itu adalah kekurangan atau

karena “kasarnya” bentuk dan kualitas pengukuran[6]. Keluhan beliau ini

sebenarnya dapat diatasi oleh disiplin akuntansi sebagai satu instrument

measurement of quality. Para ahli akuntansi sejak awal athun 1930-an sebenarnya

sudah melakukan pengkajian yang intensif tentang bagaiman mencatat, mengukur

national income, social accounting, dan dampak social yang diakibatkan oleh

industry, perusahaan, atau kegiatan pembangunan. Ini tidak berbeda dengan apa

yang dibicarakan dalam KTT Bumi tersebut. Dalam pengertian lingkungan

termasuk di dalamnya manusia, flora, fauna, air, lahan, dan segala isinya.

19
Untuk mengelola setiap suatu masalah perlu keputusan-keputusan.

Keputusan yang baik hanya dapat lahir dari analisis terhadap keadaan yang valid,

factual, dan relevan. Keadaan yang factual, valid, dan relevan dapat disupply oleh

akuntansi. Dalam akuntansi disiplin yang mensupply ini disebut environment

accounting. Disiplin ini secara, teori-teorinya belum sepenuhnya disepakati oleh

sebagian besar para ahli akuntansi dan organisasi profesi. Bidang ini sampai saat

ini masih terus menjadi ladang penelitian para ahli dan secara parsial, ada yang

sudah diwajibkan dan ada yang masih dalam taraf dianjurkan penyajiannya dalam

laporan keuangan.

b. Perlunya Akuntansi Lingkungan

Keperluan akan akuntansi lingkungan ini sebenarnya sudah jelas. Konsep

yang menganggap bahwa perusahaan sebagai wadah hukum yang melakukan

eksploitasi dalam suatu wilayah dan Negara dan mendapatkan keuntungan dari

kekayaan alam wilayah itu, mestinya juga menjadi penduduk yang baik, yang

melindungi alamnya dan juga makhluk pengisinya. Filosofi ini jelas dan rasional.

Sebuah industry sebenarnya hidup dari lingkungan. Ya factor alam, tenaga kerja,

makhluk lainnya yang mendiami bumi. Adalah etis seandainya perusahaan itu

juga yang tergantung dengan makhluk lain sebagai penduduk bumi ikut

bertanggung jawab melindungi bumi dari setiap kerusakan lingkungan yang kalau

tidak dijaga akhirnya akan merusak dia sendiri sehingga tidak dapat dilakukan

pembangunan berkelanjutan atau pembangunan berwawasan lingkungan.

c. Kesulitan Pengukuran

20
Kesulitan utama dari akuntansi bidang ini adalah ketidaksepakatan para ahli

dalam menentukan criteria pengukuran. Mengukur nilai kerusakan lingkungan,

nilai social cost maupun social benefit-nya tidak semudah yang dibayangkan.

Contohnya kasus Cernobyl, kasus Union Carbides, dan lain sebagainya

menunjukkan betapa sukarnya melakukan penetapan nilai kerusakan dan

perbaikan lingkungan yang sama-sama diterima dan sesuai pula dengan prinsip

akuntansi yang sudah baku.

d. Penyajian

Dari berbagai konsep yang diajukan lembaga dan para ahli ada yang

menganjurkan metode penyajian: penjelasan dalam laporan keuangan (footnote

disclosure, narrative disclosure), membuat pos tersendiri, laporan khusus tentang

kerusakan lingkungan, Social Responsibility Report, Environment Exchange

Report, Social Income Statement Report, Compherensive Social Benefit Cost

Model, dan Multidimensional Income Statement. SEC biasanya mengharuskan

perusahaan yang listed di bursa New York Stock Exchange untuk melaporkan hal-

hal yang bertalian dengan masalah lingkungan, dan social cost dan benefit

lainnya.

2.2.7. Efficient market Hypothesis

Sebenarnya topic ini bukan baru apalagi tren, karena isu ini sudah lama

kenal dalam akuntansi. Dalam akuntansi dikenal teori atau hipotesis EMH

(Efficient Market Hypothesis). Teori EMH ini menyatakan bahwa “Pasar akan

menyesuaikan diri dengan setiap informasi baru yang dikeluarkan mengenai

saham.” Dalam bahasa penelitian bidang penelitian yang menyangkut soal ini

21
adalah positive accounting teory. Dalam teori ini yang dibahas bukan bagaimana

mencatat transaksi, tetapi menyangkut:

a. Melihat hubungan antara pengumuman informasi akuntansi kepada public

dan reaksi pasar terhadap informasi itu yang dilihat dari indicator harga

saham di bursa;

b. Melihat pengaruh perubahan kebijakan akuntansi terhadap harga pasar.

Fama’ (1969) menyatakan bahwa beberapa syarat untuk menciptakan pasar yang

efisien adalah sebagai berikut:

a. Tidak ada biaya transaksi dalam perdagangan saham.

b. Semua informasi tersedia secara Cuma-Cuma bagi semua peserta pasar.

c. Semua sepakat terhadap implikasi informasi saat ini terhadap harga

sekarang dan distribusi harga masa yang akan dating dari tiap saham.

Menurut Fama’ informasi ada tiga set informasi:

a. Gerakan harga saham masa lalu;

b. Informasi yang tersedia bagi public;

c. Seluruh informasi baik uang tersedia bagi public maupun milik

perusahaan.

Ketiga set informasi di atas dapat memengaruhi harga saham sebagai berikut.

a. Bentuk lemah (weak form) dari sham efisien. Di sini harga pasar saham

pada periode tertentu secara penuh merupakan refleksi dari informasi yang

berasal dari harga harga saham masa lalu. Di sini tidak ada strategi dagang

berdasarkan siklus harga, pola harga atau peraturan lainnya

22
b. Bentuk semi kuat (semistrong) di mana harga saham secara penuh

merupakan gambaran dari seluruh informasi yang tersedia kepada public

termasuk harga saham masa lalu. Di sini juga tidak ada strategi dagang

yang dipakai dalam perdagangan saham.

c. Bentuk kuat (strong form) di mana harga saham merupakan gambaran dari

seluruh yang ada baik informasi harga saham yang lalu, informasi yang

tersedia untuk public dan informasi lainnya seperti informasi dari dalam

dan informasi pribadi lainnya.

Dari ketiga bentuk ini maka bentuk semistrong-lah yang paling relevan dengan

akuntansi karena dasar informasinya adalah informasi yang tersedia bagi publik.

Dalam EMH sering digunakan Capital Assets Princing Model (CAPM). Yang

dimaksud dengn model CAMP ini adalah suatu model yang menaksir laba yang

abnormal atau laba yang tidak diperkirakkab dari saham biasa suatu perusahaan

pada saat diumumkannya laba perusahaan. Bentuk semistrong juga dipakai dalam

model ini.

2.2.8. Krisis Akuntansi Masa Depan

Walaupun profesi akuntan dinilai mengalami perkembangan yang demikian

cepat, bukan berarti profesi ini tidak menunjukan hal-hal yang bersifat suram.

Disamping itu, akuntansi tidak hanya memberikan informasi kuantitatif, tetapi

juga informasi kualitatif. Akuntansi konvensional juga sedang menjadi sorotan

khususnya ketidakmampuannya memberikan informasi yang relevan pada situasi

di mana prinsip stable monetary unit tidak berjalan seperti masa inflasi.

23
Akuntansi konvensional juga mendapat tantangan dari akuntansi islam, akuntansi

pertambahan nilai, akuntansi sumber daya manusia,dan pelaporan pegawai.

Berbeda dengan akuntansi kovensional , akuntansi islam lebih menekan pada

aspek pertanggungjawaban dengan penekan pada keadilan dan kebenaran, bukan

saja mengabdi kepada kepentingan pemegang saham saja, tetapi juga semua pihak

dan menaati semua hokum syriah. Fenomena ini menunjukan ketidakpuasan

terhadap akuntansi konvensional jika tidak ditanggapi akan dapat menimbulkan

krisis kepercayaan terhadap konvensional saat ini.

Akuntansi manajemen juga dapat mempengaruhi eksistensi akuntansi

keuangan. Fungsi akuntansi keuangan selama ini menekan pada kepentingan

public yang terkait dengan standar yang ditetapkan oleh organisasi profesi atau

regulator sehingga relevansinya terhadap kepentingan manajemen kurang.

Akuntansi manajemen dianggap memberikan informasi yang lebih relevan untuk

kepentingan pengambilan keputusan. Menurut penelitian proses penurunan porsi

penerimaan kantor akuntan dari jasa audit semakin lama semakin menurun dan

fungsi atau jasa konsultasi justru semakin meningkat.

Ketentuan itu adalah sebagai berikut :

1. Kantor akuntan hanya boleh memberikan jasa information technology (IT)

dan konsultasi lainnya jika Komite Dewan Audit menerimanya.

2. Auditor independen akan dinilai apakah investor yang biasa akan melihat

ada tidaknya konflik.

3. Auditor tidak dapat melakukan tugas internal auditing melebihi 40%.

4. konsultasi, dan jas pajak.

24
 Krisis Akuntansi Menurut Lev

Menurut Lev, akuntan bukan a good eyesight. Apalagi jika ingin

melaporkan hal-hal yang berkaitan dengan aktiva tidak berwujud seperti : ide,

merek, cara kerja, goowill, franchises. Lev mengambil contoh, didalam standart

dan poor 500,500 perusahaan memiliki rasio market to net value perusahaan (yang

terdapat di neraca) lebih besar dari 6. Ini berarti bahwa angka neraca yang di-

supply oleh akuntansi keuangan hanya menggambarkan 10-15% dari nilai

perusahaan. Pada tahun 1929 rasio modal intangible business yang cukup

spektakuler. Produk intangible asset dapat berupa :

1. Aktiva yang dikaitkan dengan produk inovasi atau hasil R & D.

2. Aktiva yang dikaitan menjual dengan merek (brand) perusahaan dengan

mana perusahaan menjual mereknya. Misalnya nike, reebok, mc Donald,

dunhill;

3. Aktiva structural yaitu kemampuannya melebihi perusahaan lain selaku

kompetitornya;

4. Monopoli, perusahaan yang menikmati hak hal monopoli.

 Krisis menurut Belkaoui

Pada tahun 1989 Belkaoui menulis buku dengan judul The Coming Crisis in

Accounting yang membahas krisis akuntansi yang mungkin muncul dari hal-hal

sebagai berikut:

1. Profesi Akuntan Dalam profesi akuntan terjadi penurunan

remunerasi, penurunan jumlah tenaga kerja, peningkatan porsi jasa

konsultasi dan pengurangan jasa akuntan/auditing. Akuntan yang

25
selama ini dianggap borjius justru menjadi proletar. Di samping

itu, ada juga anggapan bahwa akuntan sebetulnya bukan tergolong

sebagai profesi karena ketidakmampuan menjadi independen dan

otonom dari langganannya dan kehilangan monopolinya atas jasa

informasi akuntansi yang saat ini banyak di-supply oleh IT.

2. Kecurangan dalam lingkungan akuntansi Kecurangan adalah

tindakan criminal. Banyak tindakan kecurangan yang dilakukan

korporasi maupun kecurangan yang melibatkan akuntan khususnya

melalui laporan keuangan. Public menganggap meningkatnya

kecurangan ini tidak lepas dari kegagalan profesi akuntan. Bahkan

di tanah air akuntan sering juga dicap”tukang angka” yang bias

menentukan jumlah laba atau rugi perusahaan. Kasus factual telah

banyak terjadi mendukung anggapan ini sehingga akuntan berada

di ambang krisis.

3. Menurunnya work load dalam proses akuntansi Karena kemajuan

computer, tugas-tugas akuntansi sudah bias dilakukan oleh

software yang user friendly sehingga tidak memerlukan keahlian

akuntansi lagi. Dengan demikian, beban kerja dari seorang ahli

akuntan semakin terbatas yang akan menimbulkan krisis profesi

akuntan.

4. Iklim organisasi dikantor akuntan Kantor akuntan adalah fakultas

kedua setelah fakultas ekonomi. Kantor akuntan hanya sebagai

batu loncatan untuk memasuki dunia bisnis lain yang lebih

26
menggiurkan. Bahkan turn over perpindahan kerja, di kantor

akuntan cukup tinggi, career path tidak jelas, job description yang

tidak tegas, semakin kabur, dan bahkan semakin tingginya konflik

internal dalam kantor akuntan itu sendiri. Bahkan jasa yang akan

dibolehkan diberikan oleh akuntan semakin di atur dan dibatasi

seperti baru-baru ini diberlakukan oleh SEC di USA, di mana

akuntan tidak bias bebas memberikan beberapa jasa pada

perusahaan yang sama karena dianggap mengurangi independensi.

5. Problema produksi ilmu pengetahuan dalam akuntansi Ilmu

pengetahuan paling tidak saat ini dari proses akademik sedangkan

akuntansi adalah kebutuhan profesi yang berkembang secara

praktik dalam dunia bisnis. Sering terjadi antara hasil proses ilmu

pengetahuan dari proses akademik sering tidak match atau tidak

sesuai dengan keinginan atau kebutuhan dunia praktik sehingga

terjadi gap antara dunia akademis dengan dunia profesi.

Banyaknya keluhan ditemukan pasar bahwa apa yang diajarkan di bangku kuliah

tidak relevan dengan apa yang diinginkan pasar atau user dari tenaga akuntan

yang dihasilkan perguruan tinggi itu. Jika hal ini berjalan terus maka akuntansi

juga akan mengalami krisis. Disamping itu, semua Belkaoui (2006)

mempertanyakan apakah akuntan itu benar sebagai profesi atau tidak . Menurut

beliau paling tidak ada persyaratan jika ingin disebut sebagai suatu profesi, yaitu;

1. Memiliki disiplin ilmu pengetahuan

2. Otonom dalam melaksakan profesinya

27
3. Memiliki perasaan solidaritas kelompok yang paling setia

4. Bias mengatur sendiri praktik

5. Memerlukan izin praktik

6. Memiliki kekuasaan atas langganannya

7. Memiliki kode etik.

Menurut Belkaoui akuntan saat ini tidak memiliki otonomi yang cukup

kepada langganan dalam melaksanakan profesinya dan tidak memiliki kekuasaan

atas langganan. Kemudian, dengan berkembangnya ilmu computer maka

kompleksitas profesi menjadi berkurang akibat kemampuan computer menyabot

sebagian besar fungsi akuntan terutama dalam penyajian laporan keuangan. Dari

sini Belkaoui menyimpulkan bahwa akuntansi berada dalam situasi apakah

sebagai”yang tidak murni profesi” atau berada pada proses

bertahap”deprofessionalisasi”.

 Skandal Korporasi

Skandal korporasi ini sebenarnya bukan hal yang baru. Sejarah menunjukan

bahwa manusia dengan segala kemajuan dan perangkat social yang dimilikinya

sudah didesain untuk menghindari kemungkinan skandal itu. Skandal korporasi

itu ada yang menggunakan teknik akuntansi. Skandal korporasi yang terjadi

belakangan ini terungkap, umumnya menyangkut skandal akuntansi. Bahkan

skandal ini sempat meruntuhkan salah satu kantor akuntan besar Arthur Anderson

di Amerika dan mengubah system pertanggungjawaban korporasi di Amerika.

Untuk mengasi itulah tidak kurang presiden George bush jr melakukan pidato dan

mengujungi NYSE dan pada tanggal tangga 30 juli 2002 UU Corporate

28
Accountability telah diundangkan. UU ini diharapkan untuk dapat

mengembalikan kepercayaan public terhadap perusahaan Amerika yang sudah

jatuh akibat berbagai skandal yang terjadi belakangan ini. UU itu mencakup

sebagai berikut :

1. Peningkatan hukuman bagi pelaku kecurangan dan pemusnahan dokumen

2. Mewajibkan CEO dan CFO perusahaan public untuk membuat pernyataan

mengenai keakuratan laporan keuangan serta bertanggung jawab jika

terjadi kecurangan

3. Mewajibkan SEC menunjukan badan pengawasan yang bekerja purna

waktu dan mendisiplinkan akuntan public pasar modal

4. Mencegah KAP memberikan jasa konsultasi kepada perusahaan yang dia

audit, menghentikan setiap kecenderungan pertentangan kepentingan

5. Melarang pinjaman pribadi dari perusahaan kepada pimpinan puncak dan

direksi dan mewajibkan orang dalam perusahaan memberikan informasi

kepada SEC sesegera mungkin jika terjadi pembelian atau penjualan

saham perusahaan.

Respon Amerika terhadap skandal besar 2002 ini cukup cepat kendatipun

kemungkinan terjadinya kasus serupa di masa yang akan datang masih mungkini.

Sejauh ini memang skandal keuangan akibat kesalahan akuntansi belum banyak

terungkap karena dinaungi besarnya KKN.

 Alternatif Akuntansi Konvensional

Skandal besar dalam korporasi belakangan ini yang mempengaruhi industry

keuangan, pasar modal, investor, profesi dan karyawan menurut Bazerman et.al

29
(2002) tidak lepas dari tindakan korupsi, kriminalitas dari akuntan yang tidak

memiliki etika yang memalsukan angka-angka, melakukan penyelewengan baik

untuk kepentingan pribadi maupun untuk melindungi kliennya. Hal ini tidak

terlepas dari factor “unconscious bias” yang berasl dari sifat subjektif dari

akuntansi itu sendiri serta hubungan yang sangat erat antara akuntan public dan

langganannya.

Akuntansi kapitalisme dinilai dituduh hanya sebagai bentuk kesadaran palsu yang

memistikkan. Akuntansi dituduh bukan memberikan informasi yang benar tentang

hubungan social yang harmonis. Ia hanya membungkus kepentingan ekonominya

dalam symbol efisiensi, laba rugi, produktifitas, dan sebagainya (Harahap,1993).

Dalam diri disiplin akuntansi konvensional itu sendiri lahir beberapa konsep yang

keluar dari mainstreamnya seperti munculnya socio economic accounting,

environmental accounting, employee reporting, human resoures accounting, value

added reporting, Islamic aceounting.Current Cost accounting (Belkaoui, 1984,

Harahap, 2003).

Menurut Bazerman (2002) akuntan itu memiliki unconscious bias, sesuatu

bias yang terjadi tanpa disadarinya disebabkan adanya “self serving bias”. Self

serving bias ini muncul disebabkan enam factor psikis:

1. ambiguity dari ilmu akuntansi karena banyaknya persoalan yang

memerlukan pertimbangan dan kebijakan subjektif ;

2. attachement, terhadap kepentingan nasabah karena akuntan ditunjukan dan

dibayar oleh perusahaan;

30
3. approval, di mana akuntan selalu cenderung menerima dan menyetujui

judgment perusahaan;

4. familiarity merupakan sifat di mana kita mengutamakan membela kenalan

daripada orang asing yang belum dikenal;

5. discounting di mana orang cenderung merespons akibat yang akan muncul

segera dan menunda risiko yang masih lama;

6. escalation merupakan kecenderungan untuk menyembunyikan atau

mengabaikan hal-hal yang bersifat minor. Auditor pada akhirnya ikut

menerima laporan keuangan yang disusun oleh manajemen perusahaan.

Albrecht dan Sack (2000) melakukan penelitian yang sangat intens tentang

nasib pendidikan akuntansi di USA dan mereka menyimpulkan bahwa profesi ini

tengah mengalami bahaya disebabkan tiga factor:

1. Jumlah dan kualitas mahasiswa yang memilih jurusan akuntansi

menurun secara drastic. Mereka menganggap profesi ini tidak

bernilai tinggi lagi dalam bekerja di dunia bisnis.

2. Praktisi dan akademis akuntansi yang ingin melanjutkan studi

memilih jurusan yang bukan akuntansi.

3. Tokoh akuntan dan praktisinya menyatakan bahwa pendidikan

akuntansi yang sekarang sudah kuno, rusak, dan perlu diubah

secara signifikan.

Memang situasi ini belum memasuki profesi di tanah air tetapi biasanya

gelombangnya akan merambah praktisi di Negara lain karena sector ekonomi dan

bisnis dikuasai oleh Amerika.

31
Akuntansi dan UKM dan Dunia Ketiga Desain dari akuntansi yang saat ini

dikenal terutama yang diajarkan di perguruan tinggi lebih banyak untuk

kepentingan perusahaan besar dan perusahaan yang terdaftar di pasar modal.

Padahal sebagian besar perusahaan banyak tergolong perusahaan kecil dan titik

terdaftar di pasar modal sehingga akuntansinya juga mestinya memiliki

perbedaan. Salah seorang yang bergelut dengan sector usaha kecil dan koperasi

Thoby Mutis menyatakan betapa akuntansi konvensional tidak bias diandalkan

untuk membantu perusahaan UKM dan perusahaan yang tidak terdaftar di pasar

modal. Akuntansi untuk UKM dan koperasi harus memiliki sifat dan ciri

tersendiri.

Siapa Mengawasi Siapa Permasalahan lain yang juga sering dihadapi di

masyarakat adalah masalah siapa yang mengawasi akuntan. Akuntan yang sering

juga dinilai sebagai profesi pengawas, sering dipertanyakan siapa yang

mengawasinya? Kita dihadapkan pada pertanyaan filosofi yang telah lama: “ Quis

custodiet custodies? Siapa yang mengawal pengawal, yang menjadi polisi bagi

polisi, yang mengontrol pengontrol, yang mengawasi pengawas?

Jim Peterson Dalam sebuah artikelnya di International Herald Tribune

tanggal 18-19 November 2006 halamn 17 dengan judul yang sangat provokatif “

An Auditor’s Cry for Love? Saya terjemahkan dengan “Auditor yangminta

disayangi?” Jim Peterson mengemukakan isu yang sangat kritis yang selam ini

sudah menjadi buah bibir masyarakat, tetapi tidak pernah dijadikan isu formal

dalam profesi, yaitu apakah jasa akuntansi selam ini dalam menyajikan informasi

32
keuangan masih bermanfaat? Beliau mengemukakan pada awal November 2006

th Big Four ditambah dua lembaga besar, yaitu:

1. Deloittee

2. Ernest & Young

3. KPMG

4. Pricewaterhouse Coopers

5. Grant Thornton

6. BDO

2.3. kemampuan Akuntansi

Karena Akuntansi hanya memikirkan entitynya karena pengaruh filosoi

kapitalis maka akuntansi menjadi terisolir dan mengabaikan masyarakatnya.

Akuntansi hanya mencatat transfer yang bersifat “reci procal transfer” yaitu

transfer yang terjadi secara timbal balik dimana perusahaan mengeluarkan resorsis

dan mendapatkan timbal baliknya yang mempunyai manfaat kepadanya.

Sedangkan transfer yang bersifat “non reciprocal” seperti sumbangan

perusahaan, kerugian masyarakat seperti pembungan limbah belum menjadi

bagian yang dicatat oleh akuntansi keungan.

Sifat dan tujuan akuntansi yang hanya untuk pengambilan keputusan dan

lupa terhadap masyarakatnya ini terus dinilai dan disorot masyarakat. Apa yang

harus dibiarkan pengaruh yang ditimbulkan perusahaan kepada masyarakat dan

apa benar akuntansi dapat memenuhi tujuannya ini? Dan apakah akuntansi harus

tutup mata pada tuntutan masyarakat yang selalu berubah bagaimana telah ditulis

33
ahli futurolog seperti Naisbette, Alvin Toffler, dan lain sebagainya? Hal ini selalu

menjadi pertanyaan dan ternyata saat ini pemakai akuntansi informasi akuntansi

baik manajemen,masyarakat,banyak yang meragukan keampuhannya.

Keadaan ekonomi khususnya yang dialami private sevtor dapat kita

menambah persyaratan disclosure maupun menambah audit dalam kegiatan

auditing tetapi ekonomi mengalami crash juga.

Var berusaha untuk mengisi kekurangan ini ditambah dengan memberikan

iformasi tentang konpenmasi yang diberikan kepada pegawai yang dapat

digunakan baik oleh pegawai maupun mereka yang berkepentingan lainya

terhadap informasi kegiatan SDM dan prestasi perusahaan.

Kalau laporan keuangan konvensional menekankan informasinya pada laba

maka VAR menekankan pada upaya meng-generate kekayaan atau nilai tambah.

Karena laba biasanya hanya menggambarkan hak atau kepentingan pemegang

saham saja bukan seluruh tim yang ikut terlibat dalam kegiatan perusahaan. Value

added adalah kenaikan nilai kekayaan yang digenerate atau dihasilkan dengan

penggunaan aset produktif dari seluruh sumber-sumber kekayaan perusahaan oleh

seluruh tim yang ada termasuk pemilik modal, karyawan, kreditor, dan

pemerintah. Sebenarnya konsep dasar dari VAR ini sudah dikenal dalam ilmu

ekonomi terutama dalam perhitungan pendapatan nasional, namun, perlu diingat

bahwa value added tidak sama dengan laba. Laba menunjukan pendapatan bagi

pemilik saham sedangkan pertambahan nilai mengukur kenaikan kekayaan bagi

seluruh stakeholders. Laporan pertambahan nilai jangan pula disamakan dengan

pajak pertambahan nilai.

34
Keadaan akan pentingnya VAR ini sejalan dengan peralihan penekanan

tujuan manajemen dari pertama-tama memaksimalkan profit kepada pemilik

modal, ke memaksimalkan nilai tambah kepada stakebolders. Masyarakat yang

semakin menyadari pentingnya keadilan sosial juga merupakan salah satu

penyebab munculnya VAR ini. Karena hubungan antara masing-masing pihak

yang bekerja sama dalam satu tim lebih harmonis karena masing-masing nilai

tambah yang diberikannya diukur. Indikator atau informasi ini tentu akan bisa

digunakan untuk melakukan pembagian hasil yang lebih adil. Dalam kosep

ekonomi islam tampaknya konsepa VAR ini lebih sesuai karena konsep bisnis

dalam islam didasarkan pada kerja sama (musyarakah atau mudharabah) yang

adil, transparan, dan saling menguntungkan bukan salah satu mengekploitasi yang

lain.

35
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Adolf J.H. Ethoven (1995) dalam Accounting Research Monograph No.5 dengan

judul Mega Accounting Trends, bedasarkan mega Trend 2000-nya Naisbitt, ia

merefleksikan megatrend akuntansi akan menghadapi persoalan sebagai berikut.

1. Perlunya akuntansi memberikan pengukuran efisiensi dan produktivitas.

2. Perlunya keterpaduan akuntansi dengan bidang dan disiplin lainnya.

3. Perlunya mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi yang

lebih relevan.

36
Perkembangan terakhir yang masih terus menjadi bahan riset dan pengembangan

bidang akuntansi yang menjadi tren di antaranya adalah:

1. Akuntansi internasional atau akuntansi global;

2. Akuntansi Islam;

3. Akuntansi Sumber Daya Manusia;

4. Triple entry accounting system;

5. Employee Reporting;

6. Value Added Reporting;

7. Akuntansi Perilaku;

8. Multi Diciplines Paradigm;

9. Akuntansi dan Pembangunan Berkelanjutan;

10. Efficient Market Hypothesis (EMH);

11. Krisis Akuntansi.

3.2. Kata Penutup

Demikianlah makalah yang sangat sederhana ini, penulis berharap

semoga bermanfaat bagi kita. Saran dan kritik kami harapkan demi perbaikan

selanjutnya,tak lupa di ucapkan terimakasih.

37
38