Anda di halaman 1dari 21

“ALIRAN PERENIALISME DAN

REKONSTRUKSIONISME
Makalah ini di susun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Filsafat dan Ilmu Pendidikan yang diampu oleh
Dr. Halfian Lubis, S.H., M.Ag

disusun Oleh:
Alima Putri Utami 11170110000003
Ridho Nursaputra 11170110000105

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULAH JAKARTA

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Hidayah,
Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan laporan
ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga laporan ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu pembelajaran dan penjelasan bagi pembaca dalam
mempelajari “Aliran Perenialisme dan Rekonstruksionisme”.

Harapan kami semoga laporan ini membantu menambah pengetahuan bagi para
pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi laporan ini sehingga
kedepannya dapat lebih baik lagi.

Laporan ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami
miliki sangat kurang. Oleh karena itu, kami harapkan kepada para pembaca untuk
memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
laporan ini.

Ciputat, 10 November 2019

Kelompok 7
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................i
DAFTAR ISI ..................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1


A. Latar Belakang Masalah ...................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................ 1
C. Tujuan .................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN........................................................................2
A. Aliran Perenialisme..............................................................2
B. Aliran Rekonstruksionisme..................................................5

BAB III PENUTUP ............................................................................... 11


A. Kesimpulan.........................................................................11
B. Saran ............................................................................... ...11
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filsafat pendidikan merupakan titik permulaan dalam proses pendidikan, juga
menjadi tulang punggung kemana bagian-bagian yang lain dalam pendidikan itu
bergantung dari segi tujuan-tujuan pendidikan, kurikulum pendidikan, metode
mengajar, penilaian administrasi, alat-alat mengajar, dan lain-lain lagi aspek
pendidikan yang memberinya arah, menunjuk jalan yang akan dilaluinya dan
meletakkan dasar-dasar dan prinsip tempat tegaknya. Makalah ini di buat untuk
mengetahui tentang aliran-aliran filsafat pendidikan Islam dan juga implikasinya dalam
pemikiran dan pendidikan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Aliran Perenialisme?
2. Apa yang dimaksud dengan Aliran Rekonstruksionisme?
C. Tujuan
1. Mengetahui yang dimaksud dengan Aliran Perenialisme.
2. Mengetahui yang dimaksud dengan Aliran Rekonstruksionisme.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Aliran Perenialisme
1. Hakikat Perenialisme
Perennialisme diambil dari kata Perennial, yang dalam Oxford Advanced
Learner’s Dictionary of Current English diartikan sebagai “Continuing throughtout the
whole year” atau “Lasting for a very long time” abadi atau kekal. Dari makna yang
terkandung dalam kata itu, aliran perenialisme mengandung kepercayaan filsafat yang
berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal abadi.

Perennial berarti everlasting, tahan lama atau abadi. Aliran ini mengikuti paham
realisme, yang sejalan dengan pemikiran Aristoteles bahwa manusia itu rasional.
Sekolah adalah lembaga yang di desain untuk menumbuhkan kecerdasan. Siswa
seyogyanya diajari gagasan besar agar mencintainya, sehingga mereka menjadi
intelektual sejati. Akar filsafat ini datang dari gagasan besar Plato, Aristoteles, dan
kemudian dari St. Thomas Aquinas yang sangat berpengaruh pada model-model
sekolah katolik.1

Aliran filsafat perenialisme menegaskan bahwa pendidikan diarahkan pada upaya


pengembangan kemampuan intelektual anak didik melalui pemberian pengetahuan
yang bersifat abadi, universal, dan absolute.2

Di zaman modern ini, banyak bermunculan krisis diberbagai bidang kehidupan


manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini,
perenialisme memberikan jalan keluar yaitu dengan megembalikan pada kebudayaan
masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. Untuk itu,

1
Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,1995), hal. 27
2
Abudin Nata, filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005), hal. 26
pendidikan harus lebih banyak mengarahkan perhatiannya pada kebudayaan ideal yang
telah teruji dan tangguh.

Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses


mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang
berpengaruh baik teori maupun praktik bagi kebudayaan dan pendidikan zaman
sekarang.3

Perenialisme memandang bahwa keadaan sekarang adalah sebagai zaman yang


mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan, kebingungan, dan
kesimpangsiuran. Aliran ini lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif.
Mereka menentang pendangan progresivisme yang menekankan perubahan dari
sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia saat ini penuh kekacauan,
ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual, dan
sosio kultural. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan
tersebut yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip
umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji.

Jadi bisa kita simpulkan bahwa aliran ini memandang bahwa hakikat manusia
sebagai makhluk rasional yang akan selalu sama bagi setiap manusia dimanapun
sampai kapanpun dalam perkembangan historisitasnya. Keyakinan ontologis
sedemikian, membawa mereka kepada suatu pemikiran, bahwa kemajuan dan
keharmonisan yang di alami oleh manusia di suatu masa akan dapat pula diterapkan
pada manusia-manusia yang lain pada masa yang berbeda, sehingga kesuksesan masa
lalu dapat pula diterapkan untuk memecahkan problem masa sekarang dan masa yang
akan datang bahkan sampai kapanpun dan dimana pun.4

3
Muhammad Noor Syam, Pendidikan Filsafat, (Surabaya: Usaha Nasional, 1986)
4
Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, (Bandung: Refika Aditama)
2. Konsep Pendidikan Perenialisme

Pendidikan menurut aliran ini bukanlah semacam imitasi kehidupan, tetapi tidak
lain adalah suatu upaya mempersiapkan suatu kehidupan. Sekolah menurut kelompok
ini tidak akan pernah menjadi situasi kehidupan yang rill. Tugasnya adalah bagaimana
merealisasikan nilai-nilai yang diwariskan kepadanya dan jika memungkinkan
meningkatkan dan menambah presentasi-presentasi melalui usaha sendiri.5

Prinsip mendasar pendidikan bagi aliran parenial ini adalah membantu subjek-
subjek didik menemukan dan menginternalisasikan kebenaran abadi, akrena memang
kebenaran mengandung sifat universal yang tetap. Kebenranan-kebenaran seperti ini
hanya dapat diperoleh subjek-subjek didik melalui latihan intelektual yang dapat
menjadikan pikirannya teratur dan tersistemasi sedemikian rupa. Hal ini semakin
penting terutama jika dikaitkan dengan persoalan pengembangan spiritual manusia.

Aliran ini menyakinkan bahwa pendidikan adalah transfer ilmu pengetahuan


tentang kebenaran abadi. Pengetahuan adalah suatu kebenaran sedangkan kebenaran
selamanya memiliki kesamaan. Oleh karena itu pula, maka penyelenggaraan
pendidikan pun dimana-mana mestilah sama. Pendidikan mestilah mencari pola agar
subjek-subjek didik dapat menyesuaikan diri bukan pada dunia saja, tetapi hendaklah
pada hakikat-hakikat kebenaran.

Tugas utama perenialisme adalah mempersiapkan peserta didik kearah


kematangan rasionalitas dalam menghadapi berbagai problema dan kesulitan
kehidupan. Tugas guru dalam aliran ini tentu lebih membimbing dan membantu peserta
didik agar memiliki kemampuan intelektual dan spiritual yang memadai untuk
menghadapi problema kehidupan. Pada tingkat perguruan tinggi aliran ini menekankan
bahwa materi pembelajaran mestilah bersendikan filsafat, karena filsafat ini pada

5
Rukiyati, Pendidikan menurut Eksistnsialisme, (Fondasia, 2009), Nomor 9/Vol1/Th.VII/Maret
dasarnya adalah cinta intelektual dari Tuhan. Dan hanya dengan cara demikian, dunia
akademi di topang oleh sendi-sendi yang kuat dalam menghadapi realitas
kehidupannya dalam masyarakat.6

Menurut perenialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi, karena


dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif. Jadi, dengan
berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan.

Oleh karena itu, secara epistimologis, manusia harus memiliki pengetahuan


tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki, yang dibuktikan
dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika
melalui metode deduksi. Metode deduksi merupakan metode filsafat yang
menghasilkan kebenaran hakiki, dan tujuan dari epistimologi perenialisme dalam
premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita khusus.

Menurut perenialisme, penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama


adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Prinsip-
prinsip pertama mampu mempunyai peranan penting karena ia telah memiliki evidensi
diri sendiri. Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu
mengenal dan memahami faktor-fakor dan problema yang perlu diselesaikan dan
berusaha untuk mengadakan penyelesaian masalahnya.

Diharapkan, anak didik mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang


menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah
pikiran besar pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah
dicatat menonjol seperti bahasa, sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika,

6
Achmad Dadiri, Aspek-Aspek Filsafat dan Kaitannya Dengan Pendidikan, (Majalah Ilmiah
Fondasi Pendidikan, 2009), Volume 1
ilmu pengetahuan alam, dan lain-lainnya, yang telah banyak memberikan sumbangan
kepada perkembangan zaman dulu.

Dengan mengetahui beberapa pemikiran para ahli di atas, maka anak didik akan
mempunyai dua keuntungan. Pertama, anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi
pada masa lampau yang telah dipikirkan oleh orang-orang besar. Kedua, mereka
memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karya-karya tokoh tersebut untuk diri
sendiri dan sebagai bahan pertimbangan zaman sekarang.

Dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya para ahli pada


masa lampau tersebut, anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli
dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada
masa lampau tersebut dapat berguna bagi diri mereka sendiri dan sebagai bahan
pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang.7

3. Tokoh-Tokoh Aliran Perenialisme

Adapun beberapa tokoh yang berperan dalam aliran perenialisme, yaitu:

a. Plato (427-347 SM)

Lahir di Athena, Yunani dan juga meninggal disana. Menurut plato, manusia pada
hakikatnya memiliki tiga potensi dasar, yaitu nafsu, kemauan, dan pikiran. Ketiga
potensi ini merupakan asas bagi bangunan kepribadian dan watak manusia. Ketiga
potensi ini akan tumbuh dan berkembang melalui pendidikan, sehingga ketiganya
berjalan secara seimbang dan harmonis.8

7
Jalaluddin, Abdullah, Filsafat Penidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2011) hal. 110-112.
8
Ibid Muhmidayeli
Menurutnya juga, “Dunia Ideal”, bersumber dari ide mutlak, yaitu Tuhan.
Kebenaran, pengetahuan, dan nilai sudah ada sebelum manusia lahir yang semuanya
bersumber dari ide yang mutlak tadi. Manusia tidak mengusahakan dalam arti
menciptakan kebenaran, pengetahuan, dan nilai moral, melainkan bagaimana manusia
menemukan semuanya itu. Dengan menggunakan akal dan rasio, semuanya itu dapat
ditemukan kembali oleh manusia.

b. Aristoteles (384-322 SM)

Lahir di Stagira, Yunani dan meninggal di Khalkis, Yunani. Menurut Aristoteles,


manusia adalah makhluk materi dan rohani sekaligus. Sebagai materi, ia menyadari
bahwa manusia dalam hidupnya berada dalam kondisi alam materi dan sosial. Sebagai
makhluk rohani manusia sadar akan menuju pada proses yang lebh tinggi yang menuju
kepada manusia ideal, manusia sempurna. Manusia sebagai hewan rasional memiliki
kesadaran intelektual dan spiritual, ia hidup dalam alam materi sehingga akan menuju
pada derajat yang lebih tinggi, yaitu kehidupan yang abadi, alam supranatural.

c. Thomas Aquinas (1225-1274)

Lahir di Roccasecca, Italia dan meninggal di Abbazia di Fossanova, Italia. Dalam


masalah pengetahuan, Thomas Aquinas mengemukakan bahwa pengetahuan itu
diperoleh sebagai persentuhan dunia luar dan oleh akal budi, menjadi pengetahuan.
Selain pengetahuan manusia yang bersumber dari wahyu, manusia dapat memperoleh
pengetahuan dengan melalui pengalaman dan rasionya.9

B. Aliran Rekonstruksionisme
1. Hakikat Rekontruksionisme

9
Sadulloh, Uyoh, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: ALFABETA, 2014)
Kata rekontruksionisme dalam bahasa Inggris reconstruct yang berarti menyusun
kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekontruksionisme adalah suatu
aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup
kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekontruksionisme pada prinsipnya
sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan
modern.10 Menurut Syam, kedua aliran tersebut, rekontruksionisme dan perenialisme,
memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan
yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpangsiuran.

Secara historis, lahirnya Rekontruksionisme sebagai sebuah sistem pendidikan,


berawal dari terbitnya buku John Dewey pada tahun 1920, yang berjudul Recontruction
in Philosophy. Buku ini lalu dijadikan gerakan oleh George Counts dan Harold Rugg
pada tahun 1930an, melalui keinginan mereka untuk menjadikan lembaga pendidikan
sebagai media rekonstruksi terhadap masyarakat.11

Rekonstruksionisme seringkali diartikan sebagai rekonstruksi sosial merupakan


perkembangan dari filsafat pendidikan progresivisme. Rekonstruksionisme
menganggap progresivisme belum cukup jauh berusaha memperbaiki masyarakat.
Progresivisme hanya memperhatikan masyarakat pada saat itu saja, padahal yang
diperlukan pada abad kemajuan teknologi yang pesat ini adalah rekonstruksi
masyarakat dan penciptaan tatanan dunia baru secara menyeluruh.12
Imam Barnadib mengartikan rekonstruksionisme sebagai filsafat pendidikan yang
menghendaki agar anak didik dapat dibangkitkan kemampuannya untuk secara

10
Djunaidatul Munawwaroh dan Tanenji, Filsafat Pendidikan Islam (Perspektif Islam dan
Umum), (Ciputat: UIN Jakarta Press, 2003), h. 103
11
Imam Hanafi, Paradigma Pembelajaran Rekontruksionisme, Al-Fikra: Jurnal Ilmiah Keislaman,
2006, h. 31
12
Ali Muttaqin, Implikasi Aliran Filsafat Pendidikan dalam Pengembangan Kurikulum
Pendidikan Islam, Jurnal Dinamika, 2016, h. 75
rekonstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat
sebagai akibat adanya pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi.13
Meskipun demikian, prinsip yang dimiliki oleh aliran rekontruksionisme tidaklah
sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme. Keduanya mempunyai
visi dan cara berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan
kebudayaan yang serasi dalam kehidupan. Aliran perenialisme memilih cara tersendiri,
yakni dengan kembali ke alam kebudayaan lama yang mereka anggap paling ideal.
Sementara itu aliran rekontruksionisme menempuhnya dengan jalan berupaya
membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi
dalam kehidupan manusia.14
Upaya mencapai tujuan tersebut, rekontruksionisme berupaya mencari
kesepakatan antar sesama manusia, atau orang, yakni agar dapat mengatur tata
kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Maka, proses dan
lembaga pendidikan dalam pandangan rekontruksionisme perlu merombak tata
susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru, untuk
mencapai tujuan utama tersebut memerlukan kerjasama antar umat manusia.15

Aliran rekontruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatkan dunia


merupakan tugas semua umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali daya
intelektual dan spiritual yang sehat melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma
yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga
terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.16

13
Ali Muttaqin, Ibid.,h. 76
14
Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan Pendidikan, (Jakarta:
Raja Wali Pers, 2012), h. 116
15
Djunaidatul Munawwaroh dan Tanenji, Op. Cit, h. 104
16
Jalaluddin dan Abdullah Idi, Op. Cit, h. 117
Kemudian aliran ini mempunyai persepsi bahwa masa depan suatu bangsa
merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan
bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Cita-cita yang sungguh bukan hanya
teori tetapi mesti menjadi kenyataan, sehingga dapat tercipta suatu dunia dengan
potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan
kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan
nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.17

Menurut filsafat ini, modifikasi dan inovasi teori dan filsafat pendidikan tidak
harus dengan cara menemukan, merumuskan atau membangun sebuah teori dan filsafat
yang sama sekali baru. Rekonstruksi filosofis dapat saja dilakukan dengan memelihara
kesinambungan pandangan filsafat-filsafat yang sudah ada; mengambil dan
menggabungkan unsur unsur terbaik dari setiap filsafat; dan merekonstruksi kembali
menjadi sebuah filsafat sintesis. Yang terpenting adalah bahwa nilai-nilai dan tujuan-
tujuan dari setiap filsafat yang akan disintesiskan dipandang kontributif terhadap nilai-
nilai dan tujuan-tujuan dalam suatu masyarakat dan budaya demokrasi.18

Dengan kata lain bahwa rekonstruksionisme sebagai sebuah filsafat sintesis tidak
lain sebagai filsafat yang berupaya memadukan nilai-nilai atau tujuan-tujuan yang
terbaik dari filsafat-filsafat sebelumnya atau sebuah filsafat. Tidak berlebihan jika
dikatakan bahwa filsafat rekonstruksionisme merupakan puncak dari evolusi filsafat
kehidupan, kemanusiaan, dan pendidikan. Meminjam ungkapan sosiolog seperti Bell
& Fukuyama bahwa filsafat rekonstruksionisme merupakan sejarah dan filsafat paling
akhir.19

17
Djunaidatul Munawwaroh dan Tanenji, Op. Cit, h. 104
18
Mohammad Imam Farisi, Kurikulum Rekontruksionis dan Implikasinya terhadap Ilmu
Pengetahuan Sosial: Analisis Dokumen Kurikulum 2013, Jurnal Paedagogia, 2013, h. 145
19
Mohammad Imam Farisi, Ibid., h. 146
Pertama, filsafat rekonstruksionisme merupakan revitalisasi (menghidupkan
kembali) pemikiran dan filsafat pendidikan dari Plato, Aristoteles, Comenius,
Pestalozzi, hingga Dewey. Kedua, demokrasi sebagai tujuan utama filsafat
rekonstruksionisme. Ketiga, filsafat rekonstruksionisme lahir dan bangkit dari
kesadaran nurani terdalam manusia untuk sebuah tujuan mulia yaitu terciptanya
manusia yang baru yang lebih menggunakan akalnya. Keempat, yang paling fitrah
karena filsafat rekonstruksionisme juga memasukkan dimensi keagamaan sebagai
pilarnya.20

Jadi, dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa aliran rekontruksionisme


adalah sebuah aliran dalam filsafat pendidikan yang berusaha merombak tata susunan
kebudayaan lama dan mengkonstruk tata kehidupan kebudayaan baru yang lebih
modern.

2. Konsep Pendidikan Rekontruksionisme

Rekonstruksionisme menghendaki tujuan pendidikan untuk meningkatkan


kesadaran siswa mengenai problematika sosial, politik dan ekonomi yang dihadapi oleh
manusia secara global, dan untuk membina serta membekali mereka dengan
kemampuan-kemampuan dasar agar bisa menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut.
Kurikulum dan metode pendidikan bermuatan materi sosial, politik dan ekonomi yang
sedang dihadapi oleh masyarakat. Termasuk juga masalah-masalah pribadi yang
dihadapi oleh siswanya. Kurikulumnya menggunakan disiplin ilmu-ilmu sosial dan
metode ilmiah.

20
Mohammad Imam Farisi, Ibid., h. 146
Dalam penerapan metode belajar, yang dapat mengaktifkan siswa dan siswa
sendiri dapat mengkontruksi pengetahuan perlu mempertimbangkan beberapa hal
sebagai berikut :21

1. Hindari indoktrinasi dengan membiarkan siswanya aktif dalam; berbuat, bertanya


bersikap kritis terhadap apa yang dipelajarinya, mengungkapkan alternatif
pandangan yang mungkin sangat berbeda dengan gurunya.
2. Menjauhi paham bahwa guru yang paling benar dan siswa selalu salah. Semestinya
guru memberi peluang yang cukup bagi siswanya untuk mengungkapkan gagasan
alternatif dam kreatif terhadap penyelesaian persoalan.
3. Ungkapan tentang “diam itu emas” harus benar-benar dihindari. Karena siswa
perlu dilatih untuk berbicara. Siswa diajak bereksplorasi gagasan dalam proses
membangun dan meneguhkan sebuah pengertian.
4. Memberikan peluang kepada siswa untuk boleh salah. Ketika siswa salah, pada
saat itu guru harus menelusuri dan memahami dimana letak kesalahan tersebut
terjadi, kemudian meluruskan dan membantu dalam kerangka berfikir yang benar.
5. Mengajak siswa itu bermimpi (dream) atau berfantasi. Sehingga siswa bisa
berandai-andai tentang berbagai kemungkinan cara dan peluang untuk mencari
inspirasi serta mewujudkan rasa ingin tahunya.
3. Tokoh-Tokoh Aliran Rekontruksionisme
a. George Counts dan Harold Rugg
George Counts lahir 9 Desember 1889 di kota Baldwin, Kansas, Amerika. Dan
wafat di Belleville, Kansas, Amerika pada 10 November 1974. Beliau hidup selama 84
tahun. Pada tahun 1932, George Counts (1889 – 1974) mengkritik praktek-praktek
sekolah yang telah mengabdikan ketidaksamaan-ketidaksamaan yang mencolok
berdasarkan ras, kelas, dan etnik. Ia menegaskan bahwa sekolah-sekolah menengah

21
Imam Hanafi,Op. Cit, h. 38
umum telah menjadi milik orang-orang berkelas sosial tinggi dan keluarga yang
berkecukupan. Melalui tulisannya yang berjudul Dare the School Build a New Social
Order, ia lalu mencoba mempertanyakan bagaimana sistem sosial dan ekonomi
masyarakat pada saat itu, telah menjadi persoalan yang cukup mendasar bagi
masyarakat.22
Count mengemukakan bahwa sekolah akan betul-betul berperan apabila sekolah
menjadi pusat bangunan masyarakat baru secara keseluruhan, dan kesukuan
(rasialisme). Masyarakat yang menderita kesulitan ekonomi dan masalah-masalah
sosial yang besar merupakan tantangan bagi pendidikan untuk menjalankan perannya
sebagai agen pembaharu dan rekonstruksi sosial dari pada pendidikan hanya
mempertahankan status qua (keadaan sekarang sama dengan yang sebelumnya) dengan
ketidaksamaan-ketidaksamaan dan masalah-masalah yang terpendam di dalamnya.
Sekolah harus bersatu dengan kekuatan buruh progresif, wanita, para petani, dan
kelompok minoritas untuk mengadakan perubahan-perubahan yang diperlukan.23
Sedangkan Rugg lahir 17 Desember 1886 di Massachusetts, Amerika. Dan wafat
17 Mei 1960 di Woodstock, New York. Beliau hidup selama 74 tahun. Count dan Rugg
bahwa sekolah harus melakukan perbaikan masyarakat yang spesifik. Hal tersebut
sesuai dengan pandangan Count bahwa apa yang diperlukan pada masyarakat yang
memiliki perkembangan teknologi yang cepat adalah rekonstruksi masyarakat dan
pembentukan serta perubahan tata dunia baru.24
b. Von Glaserfeld
Beliau lahir di Munchen, Jerman pada 8 Maret 1917. Dan meninggal di Leverett,
Massachusetts, Amerika pada 12 November 2010. Beliau hidup selama 93 tahun.
Menurut Von Glaserfeld, tokoh filsafat Rekontruksionisme, pengetahuan bukanlah

22
Imam Hanafi, Op. Cit, h. 32
23
Ibid., Nurul Qomariyah, h. 211
24
Ibid., Nurul Qomariyah, h. 211
suatu barang yang dapat dipindahkan dari pikiran seseorang yang mempunyai
pengetahuan (guru) ke pikiran orang yang belum punya pengetahuan (murid). Bahkan
bila guru bermaksud untuk mentransfer konsep, ide dan pengertiannya kepada murid,
pemindahan itu harus diinterpretasikan dan dikonstruksikan oleh murid sendiri dengan
pengalaman mereka.
Von Glaserfeld menyebutkan beberapa kemampuan yang diperlukan untuk proses
pembentukan pengetahuan itu, seperti (1) kemampuan mengingat dan mengungkapkan
kembali pengalaman, (2) kemampuan membandingkan dan mengambil keputusan akan
kesamaan dan perbedaan, dan (3) kemampuan untuk lebih menyukai suatu pengalaman
yang satu daripada yang lain.
c. Jean Piaget
Beliau lahir di Neuchatel, Swiss pada 9 Agustus 1896. Dan wafat di Jenewa, Swiss
pada 16 September 1980. Beliau hidup selama 84 tahun. Salah satu teori atau
pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar rekonstruksionisme
adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori
perkembangan intelektual atau teori anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap
perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan
intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi
ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan
atau perbuatan.
Menurut Piaget, seorang anak belajar melalui pengalaman kongkritnya dengan
cara merefleksikan pengalamannya. Ketika ia menemukan pengalaman baru, anak akan
menyesuaikan dengan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya melalui proses
asimilasi dan akomodasi. Karakteristik perkembangan berfikir anak berbeda-beda
menurut tahapan usianya, dan tahapan ini berimplikasi pada perbedaan cara belajar
anak dan cara mengajar guru. Oleh karena itu, kurikulum musti dirancang sesuai
dengan apa yang telah diketahui oleh anak sebelumnya secara konkrit, sehingga anak
mampu melakukannya dan selanjutnya secara bertahap anak diperkenalkan kepada
konsep dan kompetensi baru. Tidak heran jika kemudian ada yang mengatakan bahwa
Rekontruksionisem pada dasarnya mengajarkan anak Bagaimana belajar yang efektif.
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai Rekontruksionisme pertama menegaskan
bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan
akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan,
akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru,
sehingga informasi tersebut mempunyai tempat. Pengertian tentang akomodasi yang
lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan
ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan
rangsangan itu.
Lebih jauh Piaget mengemukakan bahwa pengetahuan tidak diperoleh secara pasif
oleh seseorang, melainkan melalui tindakan. Bahkan, perkembangan kognitif anak
bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan
lingkungannya. Sedangkan, perkembangan kognitif itu sendiri merupakan proses
berkesinambungan tentang keadaan ketidakseimbangan dan keadaan keseimbangan.
Dari pandangan Piaget tentang tahap perkembangan kognitif anak dapat dipahami
bahwa pada tahap tertentu cara maupun kemampuan anak mengkonstruksi ilmu
berbeda-beda berdasarkan kematangan intelektual anak. Pandangan tentang anak dari
kalangan rekonstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar
kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang
anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skema yang dimilikinya.
d. Vygotsky
Beliau lahir di Orsha, Belarus pada 17 November 1896. Dan meninggal di
Moscow, Rusia pada 11 Juni 1934. Beliau hidup selama 38 tahun. Berbeda dengan
Rekontruksionisme kognitif ala Piaget, Rekontruksionisme sosial yang dikembangkan
oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan
lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah
diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang. Dalam penjelasan lain Tanjung
mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal
dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Aliran perenialisme memandang bahwa hakikat manusia sebagai makhluk rasional
yang akan selalu sama bagi setiap manusia dimanapun sampai kapanpun dalam
perkembangan historisitasnya. Keyakinan ontologis sedemikian, membawa
mereka kepada suatu pemikiran, bahwa kemajuan dan keharmonisan yang di alami
oleh manusia di suatu masa akan dapat pula diterapkan pada manusia-manusia
yang lain pada masa yang berbeda, sehingga kesuksesan masa lalu dapat pula
diterapkan untuk memecahkan problem masa sekarang dan masa yang akan datang
bahkan sampai kapanpun dan dimana pun.
2. Aliran rekontruksionisme adalah sebuah aliran dalam filsafat pendidikan yang
berusaha merombak tata susunan kebudayaan lama dan mengkonstruk tata
kehidupan kebudayaan baru yang lebih modern.
B. Saran
Demikianlah pokok pembahasan makalah ini yang dapat kami paparkan, besar
harapan kami, makalah ini dapat bermanfaat untuk semua pembaca, baik itu guru
maupun peserta didik itu sendiri. Karena kami masih menyadari makalah ini masih
jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat
diharapkan agar makalah ini dapat disusun menjadi lebih baik lagi dikesempatan yang
akan datang.
DAFTAR PUSTAKA

Dadiri, Achmad. Aspek-Aspek Filsafat dan Kaitannya Dengan Pendidikan, (Majalah


Ilmiah Fondasi Pendidikan, 2009), Volume 1

Farisi, Mohammad Imam. Kurikulum Rekontruksionis dan Implikasinya terhadap Ilmu


Pengetahuan Sosial: Analisis Dokumen Kurikulum 2013. Jurnal Paedagogia. 2013

Hanafi, Imam. Paradigma Pembelajaran Rekontruksionisme. Al-Fikra: Jurnal Ilmiah


Keislaman. 2006.

Jalaluddin dan Idi, Abdullah. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat dan Pendidikan.
Jakarta: Raja Wali Pers. 2012

Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, (Bandung: Refika Aditama)

Munawwaroh, Djunaidatul dan Tanenji. Filsafat Pendidikan Islam :Perspektif Islam


dan Umum. Ciputat: UIN Jakarta Press. 2003.

Muttaqin, Ali. Implikasi Aliran Filsafat Pendidikan dalam Pengembangan Kurikulum


Pendidikan Islam. Jurnal Dinamika. 2016.

Nata, Abudin. filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005)

Noor Syam, Muhammad. Pendidikan Filsafat, (Surabaya: Usaha Nasional, 1986)

Rukiyati, Pendidikan menurut Eksistnsialisme, (Fondasia, 2009), Nomor


9/Vol1/Th.VII/Maret

Sadulloh, Uyoh. Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: ALFABETA, 2014)

Zuhairini, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,1995)