Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR

INTERAKSI ORGANISME DENGAN LINGKUNGANNYA

KELOMPOK 2

NADIA ALIMA FADHILLA 18304241032

ANISAH NUR AFIFAH 18304241033

AZIZAH NUR ISNAINI 18304241034

GILANG SINATA ERA YUDHA 18304241037

ELISA FEBY IFANI 18304244019

KELAS : PENDIDIKAN BIOLOGI C

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2018
A. LATAR BELAKANG
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup
dengan lingkungannya. Komponen abiotik yang terdapat pada suatu lingkungan akan
mempengaruhi komponen biotiknya. Suatu organisme kan selalu berinteraksi dengan
lingkungan abiotik maupun dengan organisme lain di sekelilingnya.
Interaksi adalah suatu jenis tindakan yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek
mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Interaksi dapat terjadi dalam bentuk abiotik
d engan abiotik, abiotik dengan biotik, dan biotik dengan biotik. Interkasi abiotik dengan biotik
adalah bentuk interaksi antara makhluk hidup (organisme) dengan benda tak hidup yang ada di
lingkungannya.
Komponen abiotik berupa mikroklimat dan edafik dapat mempengaruhi komponen biotik
dalam suatu lingkungan. Parmeter untuk mikroklimat adalah suhu, kelembaban, intensitas
cahaya, dan kecepatan angin. Sedangkan, paramter untuk edafik adalah suhu tanah, kelembaban
tanah, pH tanah dan tekstur tanah. Maka dari itu diperlukan observasi untuk mengetahui adanya
keterkaitan antara organisme dengan komponen abiotiknya.

B. TUJUAN
1. Mengamati / mengukur kondisi mikroklimatik dan edafik lingkungan / ekosistem yang
kontras berbeda (lingkungan penuh dengan vegetasi, lingkungan yang sangat miskin
vegetasi).
2. Mengidentifikasi macam vegetasi yang menyusun lingkungan tersebut.
3. Memberi penjelasan saling hubungan antara keadaan mikroklimatik dengan keadaan
vegetasi yang ada.
4. Menunjukan pengaruh vegetasi terhadap keadaan mikroklimatik yang ada dan
sebaliknya.
5. Menunjukan hubungan antara kondisi mikroklimat dengan kondisi edafiknya.
C. DASAR TEORI

Ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungannya disebut Ekologi. Lingkungan adalah satu kesatuan hidup antara kondisi fisik
yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, matahari, udara baik di daratan
maupun di perairan. Di dalam lingkungannya, setiap makhluk hidup bergantung pada makhluk
hidup lain dan bergantung pula pada sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Makhluk hidup
dengan lingkungannya yang saling berhubungan di alam, biasa di sebut dengan ekositem, dan
di alam terdapat bermacam-macam ekosistem. Ekosistem dapat dikatakan suatu tatanan
kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan yang saling
mempengaruhi. Ekosistem adalah suatu sistem yang terbentuk oleh hubungan timbal balik
antara mahkluk hidup dengan llingkungannya. Ekosistem dibagi menjadi 2 yaitu ekosistem air
dan ekosistem darat.

1. Ekosistem air

Dalam ekosistem air dapat dibagi menjadi 4 tipe ekosistem :

1) Ekosistem air, termasuk air tawar dan air laut


2) Ekosistem darat alami, mempunyai ketinggian antara 0 – 1000 mdpl
3) Ekosistem pegunungan, terbagi menjadi 2 bagian yaitu pegunungan (1000 – 2500
mdpl ) dan pegunungan atas ( 2500 – 3300 mdpl).
4) Ekosistem buatan, seperti waduk, kolam, dll.
Pembagian ekosistem air tawar :
1) Litoral, daerah pinggir paling banyak populasinya.
2) Limnetik, daerah yang masih dapat ditembus cahaya matahari, banyak
phytoplankton.
3) Profundal, daerah yang tidak bisa ditembus cahaya, di daerah ini tidak terdapat
phytoplankton.
Pembagian ekosistem air laut berdasarkan kedalaman
1) Litoral, daerah pasang surut.
2) Sub litoral (neuritik), sampai kedalaman 200 m.
3) Bathial, kedalaman 200 – 400 m.
4) Abisal, kedalaman 4000 – 6000 m
5) Hadal, kedalaman 6000 – 10.000 m.
Ekosistem air berdasarkan daerah yang bisa ditembus oleh cahaya :
1) Daerah fotik, daerah yang bisa ditembus cahaya dengan kedalaman 0 – 200 m.
2) Daerah disfotik, daerah remang – remang kedalaman 200 – 2000 m.
Pembagian organisme laut berdasarkan sifatnya :
1) Plankton
2) Perifiton
3) Nekton
4) Neuston
5) Bentos
2. Ekosistem darat
Ekosistem darat yang luas dapat disebut dengan bioma. Berikut adalah pembagian
dalam ekosistem darat :
1) Gurun
 Suhu pada siang hati panas, sedangkan pada malam hari dingin
 Curah hujan 25 cm/tahun
 Kelembaban rendah
 Evaporasi Tinggi
 Presipitasi rendah
 Hewan, artropoda, unta, dll.
 Tumbuhan tipe xerophyt
 Tanah tandus
2) Padang rumput
 Suhu tinggi
 Curah hujan 20 – 75 cm / tahun
 Kelembaban rendah
 Evaporasi tinggi.
 Tumbuhan tipe indian grases, bufallo grases
 Hewan herbivora seperti gajah, jerapah, zebra, domba, dll serta karnivora seperti
singa, serigala, harimau, dll.
3) Hutan gugur
 Suhu sedang
 Curah hujan 75 – 100 cm / tahun
 Kelembaban sedang
 Evaporasi sedang
 Tumbuhan tipe pohon jati (dapat menggugurkan daun)
 Hewan kompleks seperti gajah, dan herbivor lainnya.
 Mempunyai 4 musim, yaitu musin dingin, panas, kemarau, dan gugur
4) Hutan tropis
 Suhu sedang
 Curah hujan 200 – 225 cm / tahun
 Kelembaban sedang
 Tumbuhan tipe kompleks, seperti tumbuhan liana dan tumbuhan epifit
mempunyai iklim makro dan mikro. Tumbuhannya mempunyai kanopi,
tumbuhannya tinggi – tinggi .
 Hewan kompleks seperti gajah, harimau,dll.
 Tanah sangat subur
5) Taiga
 Terdapat di sub kutub ataupun di sub puncak gunung yang sangat tinggi didaerah
tropis
 Suhu rendah
 Curah hujan berupa salju
 Kelembaban tinggi
 Evaporasi rendah
 Tumbuhan, berdaun jarum, seperti cemara, birch, juniper, dll.
 Hewan : moose, caribow, lynk, dll.
6) Tundra
 Terdapat di kutub atau di puncak gunung di daerah tropis
 Suhu sangat rendah
 Curah hujan berupa salju
 Kelembaban tinggi
 Evaporasi sangat rendah
 Tumbuhan, berupa vegetasi perintis : lichenes, spagnum, dan tumbuhan biji :
salix, dan birch
 Hewan : caribaou, musk oxen, raindeer, burung camar, pinguin, rubah, dll.
Komponen - komponen di dalam ekosistem dibagi menjadi 2 yaitu komlonen biotik dan
komponen abiotik.

1. Komponen Biotik (makhluk hidup)


 Produsen merupakan organisme yang dapat membuat makanan sendiri. Contohnya
tumbuhan hijau
 Konsumen, pada konsumen dikenal dengan istilah herbivor, omnivor, karnivor.
 Pengurai berfungsi menguraikan zat organik menjadi zat anorganik, misal jamur,
dan bakteri.
 Detrivor merupakan pemakan detritus. Detritus adalah sisa – sisa bangkai atau sisa
– sisa zat organik.

Organisasi kehidupan antara lain :

1) Individu
2) Populasi
3) Komunitas
4) Ekosistem
5) Biosfer

2. Abiotik (makhluk mati)


 Cahaya merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam proses fotosintesis pada
tanaman.
 Suhu, terdapat 3 suhu kisaran pada tanaman yaitu suhu maksimum (suhu yang
paling tinggi), suhu optimum (suhu yang paling baik), dan suhu minimum (suhu
paling kecil dimana tanaman masih dapat tumbuh).
 Kelembaban, untuk menekan penguapan atau transpirasi atau evaporasi.
 Tanah, sangat penting sebagai tumpuan hidup juga menyediakan unsur hara bagi
tanaman. Unsur hara dibagi menjadi 3 bagian : unsur hara makro, mikro, dan ultra
atau tambahan.
 Air merupakan hal penting dalam berlangsungnya metabolisme tubuh, selain itu
juga komponen terbesar penyusun struktur tubuh.
3. Rantai makanan
Rantai makanan adalah hubungan makan – memakan diantara makhluk hidup, apabila
banyak rantai makanan dan saling silang menyolang disebut dengan jaring jaring
makanan. Jadi jaring jaring makanan merupakan kumpulan dari rantai makanan.
Skema rantai makanan:

Konsumen
Produsen
Tingkat I

Zat Konsumen
Anorganik Tingkat II

Konsumen
Pengurai Tingkat III,
dst.

Zat
Organik

Energitika adalah tingkatan makanan (tropi) dalam rantai makanan. Misalnya :


- Produsen : Padi Tropi I
- Konsumen tingkat I : Tikus Tropi II
- Konsumen tingkat II : Ular Tropi III
- Konsumen tingkat III : Elang Tropi IV

D. ALAT DAN BAHAN

Alat :

1. Termometer Udara 7. Anemometer


2. Higrometer 8. Plastik Klip
3. Ph meter (Ph stick) 9. Referensi Buku Morfologi Tumbuhan
4. Lux meter 10. Rafia (12 meter)
5. Soil tester 11. Patok (4 buah)
6. Termometer tanah
E. CARA KERJA
1. Menentukan lokasi pengamatan. Membuat plot 3x3 m untuk membatasi lokasi
2. Mengamati kondisi mikroklimatiknya, meliputi : suhu, pencahayaan, kelembaban, dan
angin
3. Mengamati keadaan edafik tanahnya: suhu, kadar air (kelembaban), ph, dan tekstur
tanahnya (berbentuk remahan atau padatan)
4. Mengamati macam vegetasi yang ada dalam plot
5. Melakukan diskusi mengenai hubungan antara : faktor mikroklimat dan keadaan
vegetasi yang ada, mikroklimat dengan edafik dan kondisi vegatasi dengan edafiknya
6. Memberikan argumen antara kondisi mikroklimat, edafik, dan vegetasi yang terjadi
pada lingkungan tersebut.

F. HASIL PENGAMATAN
Tabel 1. hasil pendataan vegetasi, mikroklimat, dan edafik
Nomor Parameter Hasil
1. Kondisi organisme :
a. macam jenis tumbuhan Kelapa, petai cina, rumput gajah
b. macam hewan Semut hitam. Semut rang - rang
2. Mikroklimat
a. suhu 29°C
b. kelembaban 55%
c. intensitas cahaya 0,384 lux
d. kecepatan angin 0,6 m/s
3. Edafik
a. suhu tanah 30°C
b. kelembaban tanah 7%
c. Ph 7
d. tekstur tanah kering dan berbentuk remahan
Tabel 2. Hubungan antara kondisi vegetasi, mikroklimat, dan edafik.
A. Tanah yang kering serta tumbuhan yang tidak subur menyebabkan hanya
terdapat semut dan serangga.
B. Karena kondisi tanah berbatu menyebabkan hanya rumput dan tanaman berakar
tunggang yang tumbuh.
G. PEMBAHASAN

Pengamatan yang dilakukan pada tanggal 15 September 2018 di Desa Wisata Tinalah,
Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta mengenai “Interaksi Organisme dengan
Lingkungannya” bertujuan untuk mengamati / mengukur kondisi mikroklimatik dan edafik
lingkungan / ekosistem yang kontras berbeda (lingkungan penuh dengan vegetasi,
lingkungan yang sangat miskin vegetasi), mengidentifikasi macam vegetasi yang menyusun
lingkungan tersebut, memberi penjelasan saling hubungan antara keadaan mikroklimatik
dengan keadaan vegetasi yang ada, menunjukan pengaruh vegetasi terhadap keadaan
mikroklimatik yang ada dan sebaliknya, dan menunjukan hubungan antara kondisi
mikroklimat dengan kondisi edafiknya.

Alat yang digunakan pada pengamatan ini adalah termometer udara, higrometer,
pH meter (pH stick), lux meter, soil tester, termometer tanah, anemometer, plastik klip,
referensi buku morfologi tumbuhan, rafia (12 meter), dan patok (4 buah). Termometer
udara digunakan untuk mengukur temperatur udara pada plot dengan menggantungkannya
di rantai pohon. Didapatkan temperatur udara sebesar 29°C. Higrometer digunakan untuk
mengukur kelembaban udara dengan cara menggantungkan higrometer di ranting pohon.
Didapatkan kelembaban udara pada plot sebesar 55%. Kelembaban udara pada plot sebesar
55% termasuk normal, karena standar kelembaban udara tergolong normal adalah 40-60%
(http://medicalogy.com, 2017). Lux meter digunakan untuk mengukur intensitas cahaya
dengan cara membuka tutup lux meter dan diarahkan ke cahaya, akan muncul angka pada
lux meter yang menunjukkan besarnya intensitas cahaya. Menurut hasil percobaan
didapatkan intensitas cahaya sebesar 0,384 lux. Anemometer digunakan untuk mengukur
kecepatan angin dengan cara memegangnya secara vertikal dan akan muncul angka pada
anemometer yang menyatakan kecepatan angin. Menurut hasil percobaan didapatakan
kecepatan angin pada plot sebesar 0,6 m/s.
Pada pengukuran edafik plot digunakan termometer tanah dan soil tester.
Termometer tanah digunakan untuk mengukur suhu tanah dengan menancapkan
termometer ke tanah. Didapatkan suhu tanah sebesar 30°C. Soil tester digunakan untuk
mengukur kelembaban dan pH pada tanah dengan cara membersihakn tanah yang akan
diukur dan menancapkan soil meter. Terdapat angka yang akan muncul pada soil tester,
skala bawah menunjukkan kelembaban dan skala bawah menunjukkan Ph. Berdasarkan
pengamatan yang telah dilakukan didapatkan kelembaban tanah sebesar 7% dan pHnya
sebesar 7. Tekstur tanah pada plot diidentifikasi dengan cara mengambil sebagaian tanah
sebagai sampel dan merasakan tekstur tanah dengan meraba menggunakan tangan. Tekstur
tanah pada plot berbentuk remahan dan bersifat kering. Kondisi tanah yang kering berarti
tidak terdapat cukup air dalam tanah, sehingga tumbuhan kurang mendapatkan air untuk
proses fotosintesis. Kondisi plot yang berupa batuan mengakibatkan tanaman yang tumbuh
memiliki akar tunggang, karena tumbuhan harus menembus tanah lebih dalam untuk
mendapatkan air dan zat hara yang digunakan untuk proses fotosintesis.

H. KESIMPULAN

Menurut hasil pengukuran, plot yang teliti merupakan

1. Tanah berbentuk lereng dan tidak terlalu curam.


2. Tanah bersifat kering namun masih bisa ditumbuhi tumbuhan.
3. Kelembaban udara pada plot ini termasuk normal (55%).
4. Intensitas cahaya plot ini termasuk sedang, tidak terlalu panas maupun tidak terlalu
dingin.
5. Kecepatan angin pada plot ini juga termasuk normal, kecepatan angin di Indonesia di
bawah 5,9 m/s (http://www.energilipi.go.id, 2017)
6. Suhu tanah dan suhu udara termasuk normal.
I. DAFTAR PUSTAKA
Prowel. (2010). Mudah dan Cepat Menghafal Biologi. Yogyakarta : Pustaka Book Publisher.

Barus, Ing. T. A. (2002). Teori Limnologi. Medan : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam USU.

Kodoatie, R. J. (1996). Pengantar Hidrogeologi. Yogyakarta : Andi.