Anda di halaman 1dari 6

Nama : Ayu Ega Siahaan

NIM : 15.01.1220

Tingkat : V-Teologia

Mata Kuliah : Seminar Ilmu Agama

Dosen : Meri Ulina Ginting, M.Si,Teol

Agama untuk Kepentingan Pasar?

I. Latar Belakang Masalah

Pada dasarnya agama hadir untuk mendamaikan umat manusia dan agama ada untuk
mendekatkan manusia dengan Allah, tetapi acap kali manusia menjadikan agama untuk
kepentingan pribadi/ kelompok. Seperti kasus Ahok, agama dijadikan sebagai kambing hitam
untuk menurunkan jabatan seseorang, disini dapat kita lihat bahwa ada penyalah gunaan atas
nama agama di berbagai pihak/ kalangan bisa menciptakan pemahaman kalau agama itu tidak
lagi kepada dasarnya yaitu memberi kedamaian melainkan menciptakan sebuah keributan. Dan
sekarang kita akan membahas tentang agama untuk kepentingan pasar.

II. Pembahasan
2.1. Ajaran Sosial Gereja
Pada tahun 1991 di seluruh dunia banyak diadakan seminar, lokakarya, studi dan
publikasi mengenai ajaran sosial Gereja bertepatan dengan peringatan 100 tahun
dikeluarkannya ensiklik sosial yang pertama oleh Paus Leo XIII, Rerum novarum, pada tahun
1891. Bisa dikatakan bahwa setelah satu abad berjalan, ajaran sosial Gereja mendapat
perhatian yang begitu mondial untuk pertama kalinya. 1 Namun, untuk apakah ajaran sosial
gereja itu? Ajaran sosial gereja dimaksudkan untuk menjadi pedoman, dorongan, dan bekal
bagi banyak orang khususnya Katolik dalam perjuangannya ikut serta menciptakan dunia
kerja dan beragam relasi manusia yang terhormat dan masyarakat sejahtera yang bersahabat
dan bermartabat.2

1
J.B. Banawiratma dan J. Muller, Berteologi Sosial Lintas Ilmu, (Yogyakarta: Kanisius, 1995), 33
2
A. Ariobimo Nusantara dan R Masri Sareb Putra, Keadilan dalam Masyarakat, (Yogyakarta: Kanisius,
2011), 7

1
Sebenarnya refleksi teologis-sosial bukanlah sesuatu yang serba baru dalam tradisi
Kristen. Sejak awal, gereja mempunyai ajaran atau paling tidak petunjuk-petunjuk mengenai
kehidupan sosial, sekalipun sering kurang eksplisit. Seperti dalam Kisah Para Rasul 2:42-47
diberitakan bahwa umat Kristen zaman itu tidak hanya bersatu dalam ibadat, tetapi juga
memiliki segala sesuatu bersama-sama sehingga tidak ada orang miskin diantara mereka.
Dalam zaman Patristik, para bapak gereja sangat menekankan bahwa harta benda dunia ini
ditentukan untuk semua orang, suatu prinsip pokok yang merupakan bagian penting dari
ajaran sosial gereja sampai hari ini. Melalui ajaran sosial gereja, gereja menyampaikan
perspektif menyeluruh mengenai manusia dan kenyataan-kenyataan hidup manusia, terutama
masalah-masalah sosial dan perkembangan-perkembangan dalam masyarakat.3
Akan tetapi, dalam perjalanan waktu, perhatian kalangan anggota gereja sendiri
terhadap ajaran sosial tersebut kian tipis dan pudar. Sama halnya dengan pemanfaatan ajaran
sosial sebagai tongkat dan cahaya dalam jalan yang sering kelam dan licin pada pergumulan
di kancah sosial. Maka, ajaran sosial gereja kini nyaris menjadi sekadar harta karun yang amat
indah dan berharga yang sayangnya hanya menjadi penghuni tempat penyimpanan, tidak
diutak-atik dan digunakan. Sesekali ajaran itu disebut dan dijadikan rujukan, tetapi terasa
bahwa ajaran itu tetap tinggal sebagai harta ruang pustaka.4
2.2. Fungsi Agama
Meskipun sulit atau tidak untuk memperoleh kesepakatan, tetapi semua agama
berusaha untuk mendasari para umatnya maupun institusinya untuk memiliki tidak saja
kepahaman tetapi juga kegiatan atau aktivitas untuk memerangi, melawan, menghapus,
menanggulangi dan mencari pemecahan atas ketidak berdayaan di dalam lingkup politik,
hukum, hankam, dan ekonomi. Dalam hal ini, semua agama dengan nilai-nilai luhur yang
dimilikinya memiliki peranan dan aktifitas untuk menghadirkan negara dan rakyat yang
sejahtera. Contohnya dalam permasalahan sosial, terutama masalah kemiskinan yang dapat
dikatakan bahwa penyebabnya lebih dominan berakar pada sistem dan struktur sosial politik.
Dalam hal ini, ayat-ayat berkaitan dalam kitab suci agama-agama menjadi solusi alternative di
saat gurita-gurita keserakahan mendominasi penyebab ketimpangan sosial. Nilai-nilai agama
yang mengajarkan tentang bagaimana orang miskin wajib diperlakukan dengan baik, bukan

3
J.B. Banawiratma dan J. Muller, Berteologi Sosial Lintas Ilmu, 34
4
A. Ariobimo Nusantara dan R Masri Sareb Putra, Keadilan dalam Masyarakat, 8

2
malah menghardiknya atau berlaku dan bertindak sombong; juga orang miskin wajib
mendapat solidaritas dengan menjauhi pola hidup yang kontras dengan kontras kemiskinan.
Dengan ini dapat dikatakan bahwa nilai-nilai luhur agama yang diungkapkan dari
kitab suci agama-agama yang berkaitan dengan lingkup sosial, politik, hukum, ekonomi dan
hankam, pada hakekatnya memiliki “arah, tujuan dan maksud” yang sama, yaitu bagaimana
manusia hidup dengan pemikiran, sikap, tingkah laku, perbuatan, dan sepak terjang di jalan
Allah. Saat ini dikalangan masyarakat dan para pemimpin terungkap adanya ketidak
berdayaan dalam lingkup sosial, ekonomi, politik, hukum, dan hankam dengan berbagai-bagai
stage, variasi dan tekanan. Dengan persekutuan, perkawanan, perbincangan, pendalaman, dan
pengejawantahan antar komponen dan antar agama akan menghubungkan dan mengaitkan
nilai-nilai luhur keberagaman agama-agama, dan hal ini akan menjadi suatu tiang modal yang
sangat kuat untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi ketidak berdayaan di bidang
sosial, politik, hukum, hankam dan ekonomi.5
2.3. Konflik Agama
Agama hadir dalam kehidupan manusia untuk menghadang terjadinya konflik sosial
dan perang. Masalah-malasah konflik dan perang atas nama agama tidak bersumber dari
agama, melainkan datang dari luar agama. Halim menyatakan bahwa seluruh masalah yang
ada dalam kehidupan beragama, hampir seluruhnya tidak bersumber dari ajaran agama, apa
pun agamanya, baik yang bersumber dari tradisi Ibrahim atau bukan.6 Bila kita menelusuri
sejarah, maka konflik dan kekerasan bersimbol keagamaan menjadi masalah yang terus
dihadapi oleh setiap bangsa di dunia. Tentu saja, munculnya konflik kekerasan demikian
bukan karena ajaran agama, karena pada dasarnya agama mengajarkan perdamaian, tetapi
justru karena adanya aktor, agamawan maupun individu beragama yang menafsirkan ajaran
agama yang diyakininya secara sempit bahkan tendensius.7
Tafsir terhadap teks-teks wahyu, politisasi agama untuk kepentingan tertentu,
membawa-bawa nama Tuhan untuk kepentingan kekuasaan dan sebagainya adalah bagian
dari prestasi manusia modern.8 Ketika tafsir dilakukan secara sempit, dan memiliki
kepentingan, akibatnya keagamaan menjauh dari kemanusiaan, karena ajaran agama lalu

5
Warsito Utomo, Kristianitas dalam Kancah Perpolitikan Nasional, (Yogyakarta: YTPKI, 2014), 30-34
6
Muharto, Fitrahlogi, (Yogyakarta: Deepublish, 2016), 75
7
Warsito Utomo, Kristianitas dalam Kancah Perpolitikan Nasional, 33
8
Muharto, Fitrahlogi, 75

3
dipahami sebagai ekstrim negative kemanusiaan. Aksi-aksi kemanusiaan atas nama agama,
acapkali terperangkap dalam aksi sepihak, hanya bagi golongan yang sepaham, lalu
menyempit pada wilayah emosi dan fanatisme golongan dan seagama, bagi golongannya
sendiri. Yang menjadi permasalahannya adalah posisi agama dalam kecamuk konflik ini
seringkali terbebani oleh kepentingan kelompok, dimana agama lebih diperlihatkan sebagai
sistem simbol dan makna untuk melegitimasi kepentingan yang spesifik. Sehingga dalam
pemahaman yang berkembang saat ini, agama memberi legitimasi teologis atas tindakan-
tindakan pelaku kekerasan pada konteks-konteks tertentu. Untuk itu, tindakan penafsiran
terhadap ajaran agama perlu dilakukan secara hati-hati, karena sistem tanda dan simbol ajaran
agama di wilayah realitas sosiologis bisa ikut berperan mengeskalasi konflik. Sistem simbol
agama dapat diarahkan untuk menyerang kelompok lain dan menyebabkan konflik yang
sangat besar dan brutal.9
Para fanatisme buta telah larut dalam skenario kegelapan. Mereka rela melakukan
apa saja bahkan perang sekalipun atas nama agama atau karena simbol-simbol keagamaan
mereka tercoreng. Seiring dengan itu, realitas menunjukkan bahwa tidak ada keuntungan bagi
agama ketika terjadi konflik atau perang.10
2.4. Agama untuk Kepentingan Pasar
Tujuan agama-agama banyak dipengaruhi di banyak sisi oleh intelektualisme, dan
oleh beragam hubungannya dengan otoritas keimaman dan otoritas politik. Hubungan-
hubungan ini pada gilirannya dipengaruhi kelas berkuasa yang kebetulan menjadi pengusung
terpenting intelektualisme tertentu. Awalnya, keimaman adalah pengusung terpenting
intelektualisme, khususnya ketika teks-teks suci sudah eksis, sehingga jadi muncul kebutuhan
bagi keimaman untuk membentuk sebuah guilda kesusastraan yang terlibat di dalam
penginterpretasian kitab suci, dan mengajarkan isi, makna, dan pengaplikasiannya yang
tepat.11
Pasar yang dimaksud dalam tulisan ini adalah situasi yang mempertemukan antara
orang-orang yang saling memiliki kepentingan (dalam istilah umum disebut dengan produsen
dan konsumen). Terkait dalam pembahasan berikut, maka untuk bisa menciptakan situasi
pasar seorang produsen harus terlebih dahulu memproduksi dan mempersiapkan produk yang

9
M. Fikri, Konflik Agama dan Konstruksi New Media, (Malang: UB Press, 2015), 8-10
10
Muharto, Fitrahlogi, 79
11
Max Weber, Sosiologi Agama, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2019), 277

4
akan dijajakannya. Ada kalanya produk yang dihasilkan ini, bukanlah sesuatu yang diperlukan
oleh konsumen. Maka akan ada usaha bagi produsen agar konsumen mau dan tertarik dengan
produk yang dia miliki. Hal ini juga banyak terjadi di sekitar kita. Agar apa yang telah
dipersiapkan seseorang/kelompok bisa diwujudkan, maka tidak jarang mereka akan membuat
perpecahan dalam diri masyarakat, dan untuk itu banyak yang menggunakan agama sebagai
rangsangan untuk memecah belah. Agama dapat dimanfaatkan untuk merangsang eskalasi
konflik sehingga perpecahan dapat merambat lebih cepat. Dalam bukunya “Al-Quran dan
Realitas Umat”, Maarif menggambarkan manusia yang haus darah dan punya hobi membuat
kebinasaan di muka bumi, tetapi merasa telah berbuat baik. Seperti presiden George W. Bush,
penganut Kristen fundamental yang memakai agama untuk menghancurkan bangsa lain yang
tak berdaya dengan seribu dalih. Hal itu juga terjadi dengan Muslim di Indonesia yang
memakai agama untuk membencanai tempat-tempat ibadah, perkantoran bahkan rumah-
rumah mereka yang berbeda agama atau mereka yang dianggap sesat.12
Dalam banyak kasus, beberapa tokoh nasional dan local dari berbagai organisasi
kemasyarakatan menggunakan agama untuk kepentingan pribadi, dan bahkan untuk tujuan
yang sama sekali tidak kudus. Agama direduksi menjadi instrument untuk mewujudkan
kepentingan pribadi seorang tokoh. Dan dalam perkara tersebut, akan selalu ada kreatifitas
untuk menciptakan kambing hitam (sosok yang setiap saat bisa dipersalahkan manakala
terjadi kegagalan, kemarahan, atau ketidakpuasan massal). Agama yang sakral menjadi
instrumental. Demi mewujudkan ambisi, maka kelompok minoritas akan di buat angkat kaki
dari tempat penguasa dan inilah yang membuat, akhirnya lahir sejumlah kebijakan yang
menoleransi kekerasan terhadap minoritas.13
2.5. Dasar Teologis

Agama hadir dalam kehidupan manusia untuk menghadang terjadinya konflik sosial dan
perang. Masalah-malasah konflik dan perang atas nama agama tidak bersumber dari agama,
melainkan datang dari luar agama. Dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 dijelaskan bahwa semua
orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu dan segala kepunyaan mereka adalah
kepunyaan bersama, ini artinya pada zaman Kisah Para Rasul ini menunjukan tidak adanya
konflik antar mereka dikarenakan mereka saling memberi kepada sesama mereka dan

12
Muharto, Fitrahlogi, 77-78
13
…, Negeri Sejumlah Ironi, (Jakarta: Tempo, 2013)

5
kepuyaan mereka menjadi milik bersama dan sifat seperti ini yang menjauhkan segala
keinginan untuk lebih mementingkan keinginan pribadi.

III. Kesimpulan

Jadi dapat disimpulkan bahwa Agama hadir dalam kehidupan manusia untuk
menghadang terjadinya konflik sosial dan perang. Masalah-malasah konflik dan perang atas
nama agama tidak bersumber dari agama, melainkan datang dari luar agama.

IV. Daftar Pustaka

…, Negeri Sejumlah Ironi, Jakarta: Tempo, 2013


Nusantara A. Ariobimo dan R Masri Sareb Putra, Keadilan dalam Masyarakat, Yogyakarta:
Kanisius, 2011
Banawiratma J.B. dan J. Muller, Berteologi Sosial Lintas Ilmu, Yogyakarta: Kanisius, 1995
Fikri M., Konflik Agama dan Konstruksi New Media, Malang: UB Press, 2015
Weber Max, Sosiologi Agama, Yogyakarta: IRCiSoD, 2019
Muharto, Fitrahlogi, Yogyakarta: Deepublish, 2016
Utomo Warsito, Kristianitas dalam Kancah Perpolitikan Nasional, Yogyakarta: YTPKI, 2014