Anda di halaman 1dari 110
Konstantinopel di dalam Al Quran

Konstantinopel di dalam Al Quran

KONSTANTINOPEL DI DALAM

AL QURAN

Imran N. Hosein

INH PUBLICATIONS

TRINIDAD DAN TOBAGO

© Copyright reserved by the publisher 1440 (Hijri); 2018 (Gregory XIII)

ISBN 978-976-95837-4-0

Dipublikasi oleh IMRAN N. HOSEIN PUBLICATIONS 3 Calcite Crescent, Union Hall Gardens San Fernando, Trinidad and Tobago

Website: www.imranhosein.org Email: inhosein@hotmail.com Bookstore: www.imranhosein.com

Desain cover dari buku ini menggambarkan Hagi Sophia, Katedral Kristen di Konstantinoppel yang telah dengan penuh dosa dirubah menjadi sebuah Masjid pada 1453 oleh Sultan Ottoman Muhammad Fateh.

Didistribusikan oleh INH DISTRIBUTORS inhdistributorsmsia@gmail.com Dicetak di Kuala Lumpur, Malaysia.

Alih Bahasa oleh Luthfy I IZ (Luthfy Dzikrillah H.A.M.) 23 Juli 2019

Untuk Hagia Sophia

Semoga hari itu segera datang ketika segolongan pasukan Muslim akan menakhlukan Konstantinopel, yang setelahnya engkau akan dikembalikan kepada umat Kristen yang sesungguhnya memiliki engkau. Mereka adalah segolongan umat yang menerima Jesus ‘alayhissalaam sebagai seorang Al Massih yang sesungguhnya, dan yang berusaha untuk mengikutinya dengan setia, sedang musuh-musuh mereka di sisi lain, yang menolak Jesus, juga aliansi mereka (yaitu, aliansi Judeo-Kristen Zionis), mengikuti Dajjal Al Massih yang salah atau Anti-Kristus!

Daftar Isi

Seri Memorial Ansari

xi

Kata

Sambutan

xvi

Kata

Pembuka

xix

Glossarium

xxi

Pengantar

xxv

 

Chapter Satu,

1

Sebuah Kota di sisi Laut bernama Konstantinopel

1

 

Jerusalem dan Konstantinopel

2

Pentingnya Kota tersebut

5

Chapter Dua,

7

Chapter Tiga,

17

Bagaimana Konstantinopel menjadi sebuah Kota Kristen!

17

 

Chapter Empat,

24

Konstantinopel di dalam Al Quran

24

 

Al Quran dan Rum

26

Rum akan Menang Dua Kali – ‘Sebelum’ dan ‘Sesudah

31

Perpecahan Besar Timur-Barat 1054

32

Chapter Lima,

38

Al Quran telah Menyatakan bahwa Segolongan Ummat dari Jesus „alayhissalaam akan Tetap Ada Hingga Akhir

38

 

Chapter Enam,

44

Al Quran dan sebuah Kota di sisi Laut

44

 

‘Kota di Sisi Laut’

44

Mereka Dihukum Sehingga Hidup Layaknya

47

Kota anakah Itu?

54

Chapter Tujuh,

59

Al Quran, Rum Barat dan Rum Timur

59

 

Bapak, Anak, Ibu dan Roh Kudus

59

Kami adalah Orang-orang Kristen!

63

Chapter Delapan,

72

Implikasi dari Kemenangan Rum yang kedua dan Penakhlukan Konstantinopel setelah Perang Besar

72

 

Implikasi Kemanangan Rum yang ke

73

Imperium Ottoman

74

Sebuah Aliansi dari umat Muslim dan Kristen

75

Chapter Sembilan,

81

Dan Jesus berkata; “Namanya adalah Ahmad”

81

Seri Memorial Ansari

Buku-buku Seri Memorial Ansari dipublikasikan dalam memori cinta kepada Maulana Dr. Muhammad Fazlur Rahman Ansari (1914-1974) yang adalah seorang Syaikh Sufi dari Sufi Qaderiyyah, seorang filsuf, seorang cendikiawan Islam zaman modern yang luar biasa, seorang misionaris Islam keliling, dan guru dan mentor spiritual saya dengan memori yang diberkati. Cinta saya kepadanya, dan kekaguman saya yang berlanjut untuk kedua buku Keilmiahan Islaminya juga pemikiran filosofisnya, lebih dari 40 tahun setelah kepergiannya, menjadi hal yang saya hargai dari setiap debu di dalam perjalanannya.

Saya mulai menulis buku-buku Seri Memorial Ansari pada 1994 ketika saya masih tinggal di New York, dan bekerja sebagai Direktur Studi-studi Islam untuk Komite Gabungan Organisasi- organisasi Muslim New York Besar. Saya memulai Seri buku-buu dalam nama baik Maulana karena saya ingin memberikan sebuah hadiah kepada guru saya pada peringatan kematiannya yang ke 25. Enam buku perta dari Seri ini diluncurkan di Masjid Muslim Centre New York di Flushing Meadows, Queens, New York, pada 1997, dan pada tahun-tahun yang telah berlalu sejak itu, lebih banyak bugu lagi ditambahkan ke dalam Seri ini. Daftar lengkap buku-buku di dalam Seri ini dapat ditemukan pada bagian akhir buku ini.

Buku selanjutnya di dalam Seri ini, berjudul Dari Jesus Al Massih yang Sesungguhnya menuju Dajjal Al Massih yang Salah Sebuah Perjalanan dalam Eskatologi Islam, berjanji akan menjadi yang paling sulit dan menantang dari semuanya. Subjek tersebut sulit dan menantang dikarenakan, di antara hal lainnya, ini membawa seorang cendikiawan secara langsung ke dalam sarang lebah Zionis, dan sebagai konsekuensinya terdapat sedikit ulama yang siap untuk mengambil resiko dalam menulis atau berbicara pada subjek ini. Tetapi mari kita ingat bahwa Nabi yang dirahmati salallahu ‘alayhi wassalaam berkata;

”Seorang (ulama) yang terpelajar lebih keras kepada Syaitan daripada seribu ahli ibadah

Sunan Ibn Majah

xi

Sehingga buku-buku dan ceramah-ceramah ilmiah tentang Dajjal , yang Fitnah-nya (kejahatan) dideskripsikan oleh Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam lebih hebat daripada Syaitan, tentunya akan menjadi jalan yang melaluinya para pembaca kami akan mampu mengidentifikasikan ulama-ulama Islam yang sejati. Saya berdoa agar buku saya yang mendahului tentang Dajjal yang berjudul Dajjal Al Quran dan Awwal al-Zaman, yaitu, awal dari sejarah, dapat melewati uji keilmiahan, dan jika iya, Insya Allah, agar itu dapat mendorong para ulama Islam yang terpelajar di zaman modern ini untuk juga menyampaikan subjek penting ini.

Saya mengakui subjek Dajjal sebagai ujian yang paling tinggi untuk keulamaan Islam, dan itu berarti hal ini merupakan ujian tersulit bagi metodologi untuk mempelajari Al Quran dan untuk pertimbangan Hadits. Saya yakin bahwa yanga seorang ulama Sufi yang otentik lah yang dapat menulis secara kredibel tentang subjek Dajjal, karena hanya dia yang memiliki metodologi yang benar untuk studi tentang Al Quran dan pertimbangan Hadits, epistemologi wawasan spiritualitas Sufi yang dengannya dapat menginterpretasikan simbolisme relijius, juga getaran nyata dari ikatan spiritual dengan Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam yang semuanya harus dimiliki untuk menembus subjek ini; dan inilah mengapa Saya harus mencurahkan perhatian kepada pemikiran relijius dari Maulana Ansari, seorang Syaikh Sufi yang otentik. Saya tidak akan pernah menulis buku tentang Dajjal tanpa kebaikan dari pemikiran relijiusnya. Metodologi ulama-ulama dari „Islam Moderisme‟, dari Salafi, Syiah, Deobandi, dan Brelvi atau sebuah Jamaah Tabligh, sebagai contohnya, tidak akan membuat mampu seorang ulama yang keberpihakan utamanya kepada aliran-aliran itu, untuk berhasil menembus subjek tentang Dajjal. Saya mengundang mereka, dengan kelembutan, untuk membuktikan jika saya salah.

Saya bertemu dengan Maulana Ansari untuk yang pertama kali pada tahun 1960 di pulau asal saya Karibia Trinidad ketika Saya masih berusia 18 tahun. Saya telah menyelesaikan beberapa studi sains, dan Saya cukup tercengang untuk belajar bahwa seorang Maulana (seorang ulama relijius Islam dari jajaran yang sangat tinggi) akan menjumpai Trinidad dari Pakistan, dan bahwa ia akan berceramah di Masjid Desa Montrose saya pada subjek Islam dan Sains’. (Masjid tersebut yang kemudian diberikan namanya, Masjid al-Ansari). Respon saya kepada berita tersebut cukup ragu, karena pada usia semuda itu Saya tahu bahwa tidak ada hubungan yang mungkin di antara Islam dan sains.

xii

Pada malam ceramah itu dia membuat saya terheran dengan kesarjanaan saintifiknya, juga dengan ilmu pengetahuan Islamnya yang tentangnya sampai saat itu saya masih bodoh. Saya terkejut untuk mengetahui bahwa Al Quran, lagi dan lagi, mengajak untuk melakukan „observasi‟ dan „pemikiran induktif‟, dan maka kepada apa yang hari ini disebut „inquiri saintifik‟, sebagai metode yang melaluinya seseorang dapat berusaha untuk menembus dan memahami realita alam semesta materiil. Saya juga terkejut untuk engetahui bahwa ilmu pengetahuan yang hadir ke dunia beberapa ratus tahun terakhir ini dari beberapa penemuan-penemuan sains modern, seperti di dalam embriologi, sudah hadir di dalam Al Quran.

Saya bahkan lebih tercengang lagi ketika Maulana berceramah di Woodfod Square di ibukota Port Spanyol, tentang ‘Islam dan Peradaban Barat’ di hadapan audiens yang mengisi kapasitas luas Square, dan dengan seorang Perdana Menteri Trinidad dan Tobago keluaran Universitas Oxford, Dr. Eric E. Williams, duduk di saping beliau. Dr. Williams telah memberikan hempasan keras kepada Peradaban Barat di dalam tesis PhD nya di Oxford yang berjudul ‘Kapitalisme dan Perbudakan’. Perdana Menteri yang terpelajar itu jelas-jelas terkesan oleh keulamaan Maulana seketika ia membedah fondasi-fondasi peradaban pagan tak bertuhan, tak berprikemanusiaan dan menindas yang telah secara sombong dan menipu menapakan dirinya sendiri sebagai dunia terbaik yang pernah disaksikan dunia.

Keulamaan Islami Maulana yang dinamik, dan pengaruh spiritual dari kepribadian Sufi-nya yang menarik perhatian, mengubah hidup saya. Dia menginspirasi saya sampai suatu titik bahwa Saya, juga, menginginkan untuk menjadi seorang ulama Islam. Pada November 1963, dan pada usia dua-puluh-satu tahun, Saya menjadi seorang mahasisa di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir, yang adalah institusi pembelajaran Islam tinggi yang paling terkenal di dunia. Tetapi saya tidak dapat menemukan di Universitas Al Azhar keulamaan Islam yang memukau yang memberikan saya paparan seperti tiga tahun sebelumnya pada diri Maulana Ansari. Ulama-ulama dari Al Azhar tampak kepada saya seperti yang terjebak di dalam waktu, dan tidak dapat bersaing dengan Maulana di dalam pemahaman keulamaannya tentang realita dari zaman modern yang aneh dan menantang ini, atau dalam kemampuan mereka untuk menawarkan sebuah respon Islami sebagai contoh, kepada tantangan-tantangan yang ditampakan oleh revolusi saintifik dan teknologi modern, revolusi feminis, dll.

xiii

Saya meninggalkan Mesir dan pergi ke Pakistan pada Agustus 1964 untuk menjadi murid Maulana di Institut Studi Islam Aleemiyah di Karachi, dan hal itu adalah keputusan paling baik yang pernah saya ambil di dalam hidup. (Institut tersebut masih ada hingga hari ini di Islamic Center, Blok B pinggiran kota Karachi, Utara Nazimabad.)

Saya tetap menjadi muridnya sampai Saya lulus dari Institut itu tujuh tahun kemudian pada 1971 pada usia dua-puluh-sembilan tahun dengan gelar Al Ijazah al ‘Aliyah, dan kembali ke Trinidad. Saya tidak pernah bertemu dengannya lagi di dalam hidup, semenjak beliau meninggal tiga tahun kemudian pada 1974 di Pakistan pada usia 60 tahun.

Terdapat banyak hal tentang Maulana yang ingin Saya tulis dan rekam untuk sejarah, tapi sejauh ini aspek-aspek yang paling penting dari semuannya adalah kekayaan dan kehidupan yang multi-dimensi beliau adalah pemikiran relijiusnya, dan itu adalah apa yang Saya telah mencoba untuk menerangkannya di dalam essay singkat saya ini pada subjek tersebut. Hal ini sangatlah penting bagi saya untuk melakukannya, tidak hanya karena keulamaannya yang istimewa menawarkan beberapa bantuan bagi keulamaan Islam modern untuk membebaskan dirinya dari keadaan buruk yang menyedihkan dan mengenaskan hari ini (seseorang tidak dapat menemukan satu orang pun ulama Islam hari ini yang berani untuk menyatakan system moneter yang sekarang ini adalah tidak benar, palsu dan Haram), tetapi juga karena keulamaannya telah memainkan peran yang sangat penting itu di dalam membimbing dan menolong saya di dalam menulis buku pendahulu saya yang baru ini tentang Dajjal Al Massih yang palsu, yang merupakan buku terakhir di dalam Seri Memorial Ansari.

Essay itu bisa ditemukan di dalam Appendix buku saya ‘Metodologi untuk Studi Al Quran

xiv

Kata Sambutan

Saya menyatakan fakta bahwa Syaikh Imran Nazar Hosein adalah ulama Muslim yang terdepan hari ini yang dengan gigih menuis dan mengajar tentang eskatologi (Ilmu Akhir al- Zaman) Islam. Sehingga Saya, menganggap bahwa ini adalah sebuah kehormatan untuk menulis kata sambutan ini untuk publikasinya yang mendatang, berjudul, Konstantinopel di dalam Al Quran. Penulis yang berilmu tersebut menyadari fakta bahwa nama Konstantinopel yang pada hakekatnya (dalam bahasa Arab, Konstantiniyyah) tidak muncul di dalam Al Quran. Kendatipun demikian bahwa, tujuannya adalah untuk mengingatkan para pembaca bahwa Sayyidina Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam merujuk kepada kota itu demikain dan maka umat Muslim pun seharusnya tidak memiliki keraguan dalam menyamai Nabi tercinta kita dengan membangkitkan kembali nama itu.

Syaikh Imran telah dengan sengaja memberi nama publikasinya demikian untuk mengingatkan dan mengedukasi umat Muslim dan Kristen juga tentang prediksi di dalam Al Quran berkaitan wilayah khusus tersebut dimana Konstantinopel terletak yang telah dipenuhi pada masa kehidpan Sayyidina Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam dan apa yang selanjutnya akan menjadi masa lalu di masa mendatang. Terlebih lagi, Syaikh Imran juga memberikan secerca penerangan tentang prediksi-prediksi di dalam literature Hadits yang secara langsung menghubungkan kepada kota Konstantinopel tersebut yang akan pada akhirnya terbuka pada waktu yang dikenal sebagai Akhil al-Zaman.

Hal yang sangat menarik adalah bahwa Syaikh Imran telah mengambil langkah tegas dalam melakukan interpretasi-ulang penggalan-penggalan Qurani yang secara langsung membuat acuan kepada kemenangan Rum; ‘sebelum dan sesudah dan umat Muslim yang bersuka cita(30;4); permasalahan penyalibanNabi „Isa „alayhissalaam (4;157, 3;55, dan 39;42); ‘Kota di tepi laut’ (7;63); ‘pengubahan manusia menjadi kera’ (7;166) dan ‘golongan Yahudi yang menampakan permusuhan kepada umat Muslimdan ‘golongan Kristen yang mencintai umat Muslim(5;82) dan ‘aliansi Judeo-Kristen(5;51). Interpretasi-interpretasi- ulang seperti itu dibutuhkan bagi para pembaca untuk menmahami dengan era tapa yang sekarang ini dengan cepat tersibak di Abad 21 yang pada akhirnya akan membawa kepada apa yang Sayyidina Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam ramalkan tentang Perang Besar atau Malhamah (atau Armageddon).

xv

Ketika membaca manuskrip buku ini untuk tujuan menulis Kata Sambutan ini, saya terkagum untuk mengatahui Syaikh Imran telah menyusun dengan logis chapter-chapter di dalam bukunya dan bahwa di akhir dari setiap chapter beliau mengangkat beberapa permasalahan yang tepat dan berlanjut untuk mengurai setiap permasalahan-permasalahan ini di dalam tiap-tiap chapter.

Saya sangat menyadari kebenaran bahwa tidak semua umat Muslim akan mau mengikuti wawasan-wawasan Syaikh Imran, tetapi meskipun demikian Saya dengan tegas menyarankan semua pembaca yang merupakan para pelajar eskatologi Islam yang serius untuk membaca buku ini dengan sebuah pemikiran yang terbuka. Tidak diragukan, mereka pastilah akan terpesona dengan pengetahuan dari penulis yang berilmu ini!

Abdul Fadl Mohsin Ebrahim

Professor Emeritius Sekolah Agama, Filosofi dan Klasik, Universitas KwaZulu-Natal, Durban, Afrika Selatan. 28 November 2018

xvi

Kata Pembuka

Hampir 50 tahun telah berlalu semenjak Saya menulis, pada usia 29 tahun, buku pertama saya berjudul Islam dan Budisme di Dunia Modern. Saya merasa terhormat ketika guru saya dengan memori yang diberkati, Maulana Dr. Muhammad Fazlur Rahman Ansari, (1914-1974) menulis Kata Sambutan untuk buku itu. Sekarang, hampir 50 tahun kemudian, buku apapun yang saya tulis bisa jadi buku saya yang terakhir, dan Saya sengguh bersyukur bahwa Allah Yang Maha Tinggi memberikan saya waktu untuk menulis buku ini sebelum Dia memanggil saya dari dunia ini. Terlepas dari ukurannya, insya Allah ini akan tetap diakui, sebagai sebuah kontribusi penting kepada eskatologi Islam.

Kesulitan-kesulitan dengan anak saya membuat saya kerepotan ketika untuk dua minggu Saya tidak dapat melakukan pekerjaan saya pada buku saya tentang Dajjal dan Uang. Ketika Saya berada di dalam keadaan payah itulah bahwa Saya memutuskan untuk beralih kepada sesuatu yang baru demi mempekerjakan akal dan hati saya bagaimanapun caranya agar Saya mungkin menemukan beberapa keringanan mental. Sehingga Konstantinopel di dalam Al Quran lah yang kemudian ditulis. Saya sendiri terkejut ketika Saya menyelesaikan draf pertama dari buku ini dalam dua minggu. Saya bahkan lebih terkejut lagi dan merendah dengan Kebaikan dan Rahmat Allah sebagaimana pengetahuan baru terus berdatangan kepada saya, bahkan ketika Saya sedang menulis buku ini.

Saya berterimakasih kepada seorang murid saya yang tercinta yang ingin tetap tidak disebutkan namanya, untuk desain-covernya yang indah untuk buku ini, juga untuk beberapa buku saya yang lainnya. Semoga Allah merahmatinya. Amin!

Yang terakhir, Saya berterimakasih kepada murid saya Gregoire untuk bantuannya yang baik dalam memberi bukti pembacaan teks buku ini dan untuk komentar-komentarnya yang berharga.

INH

Rabi’I al-awwal 1440H November 2018

xvii

Glossarium

Penting bagi para pembaca yang tidak familiar dengan bahasa Arab untuk memberikan sedikit waktunya dengan Glossarium istilah-istilah sebelum membaca buku ini.

Yang pertama, kode literal Islam membutuhkan agar kita menyebut rahmat Ilahi kapanpun kita berbicara atau menulis nama-nama Nabi dan Rasul yang diutus-secara Ilahi dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga tulisan-tulisan kecil ditemukan di dalam buku ini kapanpun kami merujuk kepada seorang Nabi; namun, ketika nama seorang Nabi muncul lebih dari satu di dalam sebuah paragraph, kami menggunakan tulisan Arab hanya pada kemunculan yang pertama.

Kapanpun kami merejuk di dalam teks buku ini terhadap seorang Nabi untuk perta makali, kami selalu memberikan namanya sebagaimana ditemukan di dalam Al Quran. Acuan yang berikutnya kepada Nabi itu, kami membantu pembaca-pembaca Kristiani dengan menggunakan nama yang familier bagi mereka. Dalam hal Nabi yang dilahirkan di Mekkah, namanya di dalam Al Quran, juga di dalam penggunaan yang umum, adalah sama. Tetapi Moses di dalam Al Quran adalah Nabi Musa ‘alayhissalaam, David adalah Nabi Daud ‘alayhissalaam, Abraham adalah Nabi Ibrahim ‘alayhissalaam dst.

Segolongan masyarakat beriman yang menerima seorang Nabi dan mengikutinya di sebut sebagai sebuah Ummat. Sehingga buku ini menrujuk, sebagai contoh, kepada Ummat dari Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam dan Ummat dari Jesus, yakni, Nabi ‘Isa ‘alayhissalaam

Akhir al-Zaman; persamaan bahasa Arab untuk Hari-akhir.

Bait al-Maqdis; Jerusalem.

Banu Ishaq; Keluarga, atau umat, dari Isaak alayhissalaam

Banu Israil; orang-orang Israelit.

xviii

Dabbatul Ard; secara literal makhluk daribumi. Ini mengacu kepada sesuatu yang akan muncul di dunia pada Akhir-zaman dan yang akan sangat menghancurkan jantung spiritual internal dari tongkat Sulaiman yang ajaib bahwa Jasad yang duduk di atas singgasana Sulaiman (yakni, Dajjal Al Massih yang salah) tidak akan lagi dapat menggunakan tongkat itu untuk menutupi identitasnya dari bangsa Jinn yang bekerja dengan perintah Ilahi untuk Sulaiman. Dikarenakan hal ini dapat menghancurkan jantung spiritual dari tongkat tersebut, hal ini juga dapat menghancurkan spiritualitas manusia.

Dajjal; sebuah gelar yang digunakan oleh Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam untuk merujuk kepada Anti-Kristus atau Al Massih yang palsu.

Eskatologi; sebuah cabang ilmu yang mempelajari Akhir Zaman.

Fitrah; suatu keadaan yang ditakdirkan dengan alam.

Hadits; sebuah catatan dari sesuatu yang Nabi katakan atau lakukan.

Hijrah; migrasi dari sebuah wilayah yang tidak aman (kepada seseorang atau keimanan) menuju sebuah wilayah yang aman.

Jihad; Perang Suci.

Negara Khilafah; sebuah Negara Suci yang mengakui kedaulatan Allah dan yang di dalamnya hukum dan pemerntahan didasarkan kepada Kebenaran.

Konstantiniyyah; Perasamaan bahasa Arab untuk Konstantinopel.

Kufr; penolakan terhadap Kebenaran.

Kuffar; mereka yang menolak Kebenaran.

Malhamah; Aramgeddon.

xix

Masjid / plural Masajid; sebuah rumah Ibadah.

Riba; bunga yang didapat dari suatu pinjaman.

Sultan atau Khalifah; istilah sinonim yang merujuk kepada seseorang yang memimpin.

Sunnah; cara atau contoh dari seorang Nabi.

Surah; sebuah bab di dalam Al Quran.

Yathrib; sebuah kota di utara Mekkah yang sekarang umum dikenal sebagai Madinah.

xx

Pengantar

KONSTANTINOPEL DI DALAM AL QURAN

Termasuk Penakhlukan Konstantinopel di Akhir al-Zaman

Suatu hari, mungkin, seorang ulama yang lebih berilmu dari penulis ini, akan menghasilkan sebuah karya yang akan menghubungkan semua lampu-lampu yang sejauh ini telah muncul dari Al Quran, demi menghadirkan kepada dunia sebuah penjelasan eskatologi Islam yang bercahaya tentang asal, peran dan takdir dari peradaban barat modern. Saya berdoa agar dia akanlah salah seorang dari murid-murid saya Insya Allah.

Karakteristik yang paling penting dar peran peradaban ini di dalam sejarah, dan akan terus seperti itu, adalah penindasan dan eksploitasi umat manusia yang tanpa henti. Memang ini adalah penindas yang paling keras yang sejarah pernah saksikan; dan membuat kejahatannya dengan penipuan yang paling hebat yang pernah ada.

Jika Malcolm X masih hidup beliau akan menemukan dengan terkejut dan senang bahwa pemikiran intuitifnya, dalam tahun-tahun terakhir dari kehidupannya yang singkat ketika beliau meraba-raba untuk menembus realita suram yang dihadapinnya di AS dan juga di Barat, telah membawa hatinya ke arah yang tepat dari penjelasan eskatologi yang disebutkan di atas.

Terdapat banyak orang hari ini yang merupakan masyarakat Barat tetapi yang memberontak dengan eksploitasi, penindasan dan penipuan di dalam perbuatan mereka yang mengendalikan kekuasaan di Barat. Mereka sekarang mulai untuk berfikir dan merasa sebagaimana Malcolm berfikir dan merasakannya tepat sebelum beliau dibunuh. Di dalam kesadaran ini Malcolm tidak pernah mati. Belia hidup di dalam hati dari jutaan orang yang menyembah Tuhan Yang Maha Esa, menginspirasi mereka untuk bangun demi kebenaran, keadilan dan kedamaian, dan bangkit terhadap ketidak-adilan, penindasan dan eksploitasi.

xxi

Sebagaimana mereka melakukannya, nama-nama mereka tertulis di dalam lembaran-lembaran emas sejarah. Mereka yang di sisi lain, merayakan kematiannya dan yang menyatakan beliau sebagai pengkhianat kepada masyarakatnya, terus memiliki status yang lebih rendah daripada sebuah catatan-kaki dalam lembaran-lembaran sejarah.

Malcolm akan menemukan di dalam „Konstantinopel di dalam Al Quran‟, dan juga di dalam buku-buku lainnya seperti „Jerusalem di dalam Al Quran‟, „Sebuah Pandangan Islam tentang Ya‟juj dan Ma‟juj di Dunia Modern‟, „Surah Al-Kahf dan Zaman Modern‟, penjelasan-penjelasan yang amat sangat penting dari Al Quran terhadap realita dunia yang mengerikan yang beliau hidup di dalamnya, dan yang di dalamnya umat manusia telah hidup untuk waktu yang lama. Jika dia kemudian menyuarakan penjelasan itu secara publik kepada masyarakatnya dan dunia, bayaran yang harus dibayar untuk membunuhnya akanlah sangat tinggi sehingga keuntungan yang di dapatkan dari membungkannya akan memudar tak berarti.

Tetapi peran Malcolm di dalam sejarah masih belum berakhir. Ketika NATO pada akhirnya melancarkan perang sesatnya kepada Russia demi memprovokasi sebuah Perang Dunia ke Tiga, para penindas rasis di AS akan mundur dalam kecemasan dan ketakutan seketika Malcolm kembali untuk menginspirasi dan memperkuat hati dan akal dari massa yang tertindas.

Pandangan kami adalah bahwa Al Quran menjelaskan realita dari proses sejarah sebagaimana sejarah menganca untuk berpuncak dengan sebuah Negara Yahudi Israel yang arogan dan penindas berusaha untuk menjadi Negara Pemimpin di dunia. Peran paling utama dari Peradaban barat modern di dalam sejarah nampaknya telah menjadi sesuatu yang membangun jalan bagi sejarah untuk berakhir demikian. Wawasan luar biasa yang dimiliki Malcolm telah membuatnya dapat melihat dan menyuarakan pada saat itu, apa yang sekarang telah menjadi begitu jelas.

Buku ini menawarkan sebuah wawasan ke dalam kemunculan peradaban barat modern di dalam drama yang menghadirkan lahirnya seorang anak dari seorang Ibu perawan, ketika sebagian dari masyarakat Israelit menerima Jesus ‘alayhissalaam sebagai Al Massih, dan sebagian lainnya menolaknya dan menghinannya dan ibundanya.

xxii

Semua orang-orang Israelit mereka yang menerima Jesus ‘alayhissalaam, dan juga mereka yang menolaknya kemudian diusir dari Tanah Suci setelah beliau pergi dari dunia ini, dan mereka dilarang untuk kembali hingga Ya‟juj dan Ma‟juj dilepaskan ke dunia dan mereka kemudian telah menyebar ke seluruh arah. Ya‟juj dan Ma‟juj kemudian akan menggunakan kekuatannya yang tak-terkalahkan untuk mendirikan orde-dunia Ya‟juj dan Ma‟juj, dan mereka akan menjadi kelompok yang akan membawa masyarkat Israelit kembali ke Tanah Suci untuk mengklaimnya ulang.

Mereka yang menerima Jesus ‘alayhissalaam, dan yang kemudian di kenal sebagai umat Kristen (yakni, Nasara di dalam Al Quran), kemudian diberkati oleh Allah Yang Maha Tinggi untuk mendapatkan sebuah rumah di Konstantinopel, di mana mereka selanjutnya mendirikan sebuah Negara Kristen Suci; tetapi ketika mereka diuji berkaitan dengan kepatuhan kepada Hukum Sabbat yang di dalamnya seluruh umat Kristen diharuskan untuk menahan diri dari bekerja (dan maka mencari ikan juga), sebagian dari mereka berlanjut untuk mematuhi hukum sakral tersebut yang dikirim di dalam Taurat dan tetap setia sebagai pengikut-pengikut Jesus. Al Quran mendeskripsikan mereka sebagai Ahl al-Injil, atau orang-orang dari Gospel. Tetapi yang lainnya, meninggalkan Hukm Sabbat dan pada akhirnya terpisah dari Konstantinopel untuk menjadi Kekristenan barat. Perbuatan mereka yang meninggalkan Hukum itu sekarang telah membawa mereka kepada sebuah akhir yang menghinakan di mana seorang pria dapat menikah pira lain dan mendapatkan sertifikat nikah. Mereka yang dikutuk oleh Allah Yang Maha Tinggi menjadi „Kera yang hina‟. Dari bagian dunia Kristen yang ini lah bahwa Peradaban Barat Modern muncul.

Buku ini mendeskripsikan hubungan di antara kedua dunia Kristen ini yang dikenali sebagai Rum Timur dan Rum Barat, dan menyingkap informasi mengejutkan tentang perselisihan Akhir- zaman di antara keduannya di dalam sesuatu yang dikenal sebagai Armageddon atau Malhamah. Setelah Perang Besar itulah bahwa Konstantinopel akan bergerak menuju panggung-utama di dunia sambil berbagi posisi itu dengan Jerusalem, dan peristiwa-peristiwa yang kemudian akan terbuka yang akan mengkonfirmasi bahwa Muhammad salallahu ‘alayhi wasalaam adalah, benar- benar, seorang Nabi yang sebenarnya dari Tuhan Yang Maha Esa.

xxiii

Segolongan pasukan Muslim akan menakhlukan Konstantinopel demi membangun jalan untuk sebuah aliansi di antara dunia Islam dan Krekristenan Ortodoks. Buku saya yang berjudul Dari Jesus Al Massih yang Sebenarnya menuju Dajjal Al Massih yang Salah sebuah Perjalanan di dalam Eskatologi Islam, akan mencoba Insya Allah, untuk menjelaskan akhir dari sejarah itu.

xxiv

Chapter Satu, Sebuah Kota di sisi Laut bernama Konstantinopel

Konsekuensi dari sebuah keputusan misterius yang diambil oleh Republik Turki milik Mustafa Kamal untuk tidak saja mengubah nama kota tersebut, tetapi juga untuk mengambil langkah sehingga pada akhirnya memastikan bahwa nama itu, Konstantinopel, tidak akan lagi digunakan, penulis ini telah harus mengambil kembali nama 'Konstantinopel' dari musium- musium sejarah demi ditulisnya buku ini. Mengapa pemimpin Turki sekular mengubah nama kota tersebut? Mengapa nama 'Konstantinopel' harus mengalami nasib misterius tersebut? Buku ini mengarah kepada Al Quran untuk membawakan kejelasan terhadap subjek itu.

Di era perang terhadap Islam ini, musuh-musuh kita melarang kita untuk mempertanyakan tindakan-tindakan mereka; namun terlepas dari usaha-usaha terbaik mereka untuk membungkam kita mereka tidak dapat mencegah Kebenaran dari kembalinya ia di sautu hari untuk menyingkiran kesesatan. Dan karena itu, kita berdoa, agar itu menjadi peran bagi buku yang sederhana ini dimana kita berusaha untuk mengembalikan kebenaran yang terletak di dalam Al Quran mengenai Konstantinopel.

Bukanlah lah perhatian kita terkait kota tersebut, suatu ketika dahulu dikenal sebagai Byzantium, dinamai-ulang Konstantinopel setelah Kaisar Romawi Konstantin yang membangunnya kembali dan memilihnya sebagai ibukota. Apa yang penting adalah sebagian dari komunitas di dalam masyarakat Israelit (Banu Israel) yang kepada mereka Jesus 'alayhissalam, diturunkan, yang menerimanya dan beriman kepadanya sebagai Al Masih yang sesungguhnya, telah dianugerahi untuk mendapati di dalam diri Konstantin seorang Kaisar pagan Romawi yang melindungi mereka, memelihara mereka, dan memperlakukan mereka dengan keadilan dan kebaikan hati. Imperium Romawi yang sama itu pula lah yang sebelumnya telah mengusir mereka (Banu Israel) semua dari Jerusalem, dan seluruh komunitasi Israelit, yang menerima Jesus 'alayhissalam, yang kemudian dikenal sebagai orang-orang Kristen, beigitu juga mereka yang menyangkalnya, dan kemudian dikenal sebagai orang-orang Yahudi - sebagai konsekuensinya hidup dalam pengusiran sambil tersebar di sini dan di sana di tanah-tanah yang dekat (sekitar Jerusalem).

1

Ketika Konstantin pada akhirnya memeluk Kekristenan sebelum meninggal, komunitas dari bangsa Israelit yang beriman kepada Jesus 'alayhissalam lebih lanjut dianugerahi dengan mendapatkan sebuah rumah perlindungan di Konstantinopel dimana kemudian mereka pada akhirnya dapat berusaha untuk mendirikan sebuah Negara yang akan kemudian dimodelkan seperti Israel Suci (Holy Israel) (Model Madinah Nabi kemudian akan didirikan di Arabia). Inilah bagaimana Konstantinopel menjadi sebuah kota pengganti (pewakil) bagi Jerusalem Suci yang darinya bangsa Israelit telah semuanya terusir. Hal ini tidak terjadi secara kebetulan; melainkan ini semua dikarenakan desain ilahi, dan terdapat sebuah Hadits dari Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam yang secara gamblang mendeskripsikan bagaimana Konstantinopel jatuh secara damai kepada segolongan orang-orang Kristen yang disebut sebagai Banu Ishaq.

Penulis ini yakin bahwa hilangnya nama 'Konstantinopel' yang secara misterius dari kosa kata dunia-modern ini secara langsung terhubung kepada status dan peranan dari kota tersebut dalam eskatologi Islam dan Kristen, sehingga menjadi bagian penting subjek-masalah dari buku ini.

Jerusalem dan Konstantinopel

Studi kami tentang eskatologi Islam telah mengungkapkan bahwa kedua kota, Jerusalem dan Konstantinopel itu, ditakdirkan untuk memaikan peran-peran yang sangat penting di Akhir al- Zaman. Penulis ini dengan rendah hati menyadari Rahmat ilahi yang karenanya dia dianugerahi untuk menulis buku-buku tentang kedua kota yang menjelaskan peranan-peranan mereka di dalam akhir sejarah, Jerusalem di dalam Al Quran, dan Konstantinopel di dalam Al Quran.

Jerusalem adalah, tentu saja, kota yang lebih penting, karena di Jerusalem lah sejarah akan berakhir ketika Al Massih yang Sebenarnya kembali untuk memerintah dunia dengan kemenangan yang final dan pasti dari kebenaran atas kesesatan, ketidak-adilan, penindasan dan segunung kebohongan (dengan si kikuk serangan 9/11 Mossad/CIA kepada Amerika berada di puncak gunung itu)

Tetapi Konstantinopel juga menempati sebuah tempat yang sangat penting di dalam Akhir zaman karena Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam telah meramalkan bahwa di

2

dalam beberapa bulan dari Perang Besar (Malhama atau Armageddon), segolongan pasukan Muslim akan menakhlukan kota tersebut.

Peristiwa itu, pada saatnya, akan memprovokasi munculnya Antikristus (Dajjal Al Massih yang Palsu) dalam wujud manusia. Memang, Nabi telah meramalkan bahwa kesemuanya dari 3 peristiwa ini, yakni; Perang Besar, penakhlukan Konstantinopel, dan kemunculan Anti-kristus, akan terjadi dalam rentang waktu tujuh bulan;

Anti-kristus , akan terjadi dalam rentang waktu tujuh bulan; Jam'i al-Tirmidhi Pembaca-pembaca kami harus

Jam'i al-Tirmidhi

Pembaca-pembaca kami harus memperhatikan bahwa Hadits lainnya menujukan 'tujuh tahun' sebagai ganti dari 'tujuh bulan';

Nabi salallahu ‘alayhi wassalaam berkata; Waktu antara Perang Besar dan penakhlukan kota itu akanlah enam tahun, dan Dajjal akan muncul pada tahun ketujuh.

Abu Daud berkata; Yang ni lebih kuat dari hadits yang dinarasikan oleh „Isa bin Yunus (yakni, tujuh bulan, lihat diatas).

3

Sunan, Abu daud Buku ini ditulis dengan tujuan yang diekspresikan secara terbuka untuk mengembalikan nama

Sunan, Abu daud

Buku ini ditulis dengan tujuan yang diekspresikan secara terbuka untuk mengembalikan nama 'Konstantinopel' ke dalam kosa kata dan berbicara mengenai realita dari dunia sekarang ini. Ini penting karena akan memfasilitasi pemahaman terhadap eskatologi Islam.

Buku ini menentang keputusan dari Mustafa Kemal dan Republik Turki sekularnya untuk membuang nama 'Konstantinopel', ke musium-musium sejarah, dan mengingatkan orang-orang muslim di Turki, Balkan, dan lainnya, yang mendukung penggantian nama kota tersebut, bahwa Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam merujuk kepada kota tersebut dengan nama ' Konstantinopel' (Arab - Kunstantiniyyah).

Jika Nabi merujuk kepada kota tersebut dengan nama itu, ini menjadi sebuah Sunnah bagi umatnya untuk megikutinya. Hal ini memang memalukan dan tercela bahwa beberapa Muslim akan merasa jengkel ketika yang lainnya, seperti penulis ini, merujuk kepada kota tersebut dengan nama yang digunakan oleh Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam.

Penulis ini, juga mereka diantara umat manusia yang terbangun sepanjang Akhir zaman ini (yang lainnya tertidur) tidak dapat diingkari kebebasannya untuk memilih kembali untuk

4

menggunakan nama yang digunakan Nabi salallahu 'alayhi wassalam, dan untuk menggunakannya dikarenakan rasa hormat dan cinta kepadanya; dan maka nama 'Konstantinopel' digunakan dalam judul buku ini secara menantang dan menyolok, juga di seluruh teks dalam buku ini.

Terdapat banyak orang-orang Muslim yang akan membaca buku ini, dan yang di dalam hatinya terdapat cinta tulus dan rasa hormat bagi Nabi Muhammad salallahu 'alayhiwassalam, yang sebelumnya tidak mengerti subjek dari buku ini dan sebagai konsekuensinya telah tersalah mengenai Konstantinopel dan status serta peranannya di dalam sejarah. Kami berdoa, dan kami memohon pembaca-pembaca kami yang ramah, Kristen maupun Muslim, untuk berdoa, agar orang-orang Muslim yang tersalah tersebut dapat terbimbing. Amin!

Pentingnya Kota tersebut

Konstantinopel itu penting bagi dua golongan umat. Ia penting untuk sebagian yang itu, dari orang-orang Israelit yang menjadi dikenal sebagai orang-orang Kristen, dan yang menghargainnya untuk lebih dari 1000 tahun sebagai rumah utama dari Ummat Kristen. Mereka juga mengagungkannya karena di dalamnya terdapat Katedral Kristen yang paling penting (di luar dari Jerusalem Suci) yang dikenal sebagai Hagia Sophia.

Kota itu juga penting bagi orang-orang Muslim karena Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam telah meramalkan bahwa ia akan ditakhlukan di Akhir zaman oleh segolongan pasukan Muslim.

Para pembaca Kristen akan ingin mengetahui mengapa segolongan pasukan Muslim akan mau menakhlukan sebuah kota yang terletak di jantung utama Ummat Kristen. Sehingga kami harus bergegas untuk menjelaskan subjek ini kepada pemaca-pembaca kami; dan pertanyaan pertama yang harus kami jawab, jika kami ini khendak menjelaskan ramalan Nabi, adalah apakah penakhlukan Konstantinopel yang diramalkan telah terpenuhi pada 1453 ketika segolongan pasukan Ottoman yang dipimpin oleh Sultan Muda Ottoman Muhammad Fateh menundukan kota itu atas nama Islam?

5

Chapter Dua,

Sudahkah terjadikah Penakhlukan Konstantinopel oleh segolongan Pasukan Muslim yang diramalkan oleh Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam?

Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam meramalkan, sebagaimana hanya seorang Nabi sejati dari Tuhan Yang Esa lah yang dapat memberikan ramalan, bahwa segolongan pasukan Muslim suatu hari nanti akan menundukan kota Konstantinopel. Beliau memuji pasukan itu dan beliau juga memuji pemimpinnya;

memuji pasukan itu dan beliau juga memuji pemimpinnya; "Kalian pasti akan menakhlukan Konstantinopel dan akan

"Kalian pasti akan menakhlukan Konstantinopel dan akan betapa hebatnya pasukan itu, dan betapa hebatnya pemimpinnya"

Musnad, Imam Ahmad

Pembaca yang memahami akan pastinya ingin mengetahui, mengapa beliau memuji pasukan tersebut? dan mengapa beliau memuji pemimpin dari pasukan tersebut?

Beberapa ramalan menetapkan penakhlukan dari kota tersebut oleh segolongan pasukan Muslim yang diramalkan oleh Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam akan terjadi pada Akhir zaman. Analisis kami dari ramalan-ramalan tersebut mengindikasikan dengan cukup jelas, dan tidak diragukan lagi, bahwa ramalan penakhlukan Konstantinopel masih lah belum terjadi. Maka, Penakhlukan Ottoman atas Konstantinopel pada 1453 tidak dapat dikualifikasikan sebagai pemenuhan dari ramalan Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam

7

Inilah dua ramalan yang secara jelas mengindikasikan bahwa penakhlukan Konstantinopel oleh segolongan pasukan Muslim yang diramalkan masih lah belum terjadi;

pasukan Muslim yang diramalkan masih lah belum terjadi; "Ketika Bait al-Maqdis (Jerusalem) berada dalam keadaan

"Ketika Bait al-Maqdis (Jerusalem) berada dalam keadaan yang berkembang (tumbuh menjadi panggung-pusat di dunia), Yathrib (Madina) akan berada dalam kehancuran (Kepapaan, dalam keadaan yang menyedihkan); dan ketika Yathrib dalam kehancuran, maka Malhama terjadi; dan ketika Malhama terjai, maka Konstantinopel akan ditakhlukan; dan ketika Konstantinopel ditakhlukan, maka Dajjal (Antikristus) akan muncul (dalam wujud manusia). Beliau (Nabi) menepuk paha atau pundaknya dengan tangannya dan berkata; Ini benar sebagaimana kalian berada di sini atau sebagaimana kalian duduk (artikan Muadh bin Jabal)

8

Musnad, Ahmad; Sunan, Abu Daud

Nabi lebih lanjut memberitahu kita bahwa;

Sunan, Abu Daud Nabi lebih lanjut memberitahu kita bahwa; "Perang Besar (Malhama), penakhlukan Konstantinopel, dan

"Perang Besar (Malhama), penakhlukan Konstantinopel, dan kemunculan Dajjal akan terjadi dalam (rentang waktu) tujuh bulan"

Sunan, Tirmidhi; Sunan, Abu Daud

Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam telah dengan jelas meramalkan peristiwa penakhlukan kota Konstantinopel oleh segolongan pasukan Muslim akan terjadi bersesuaian dengan sebuah rentetan-waktu kejaian-kejadian yang akan terjadi ketika Jerusalem mengambil sebuah status spesial di dunia.

Beliau meramalkan suatu masa ketika Bait al-Maqdis, juga dikenal dengan Jerusalem, akan dibangun, dan Yathrib, yang juga dikenal dengan Madina, akan berada dalam suatu keadaan yang mengenaskan (papa). Konstruksi analogi telah digunakan untuk menggambarkan satu masa ketika Jerusalem akan menjadi panggung-pusat di dunia, sedangkan Madina akan berada dalam keadaan yang menyedihkan.

Pembaca-pembaca kami tentunya akan mengenali bahwa keduanya, Jerusalem dan Madina, sekarang secara persis menempati posisi-posisi tersebut di dunia sebagaimana telah di deskripsikan di dalam ramalan tersebut. Dan lebih penting lagi, pembaca-pembaca kami pastinya akan juga mengetahui bahwa sebelum hari ini tidak pernah Jerusalem berada di posisi sebagai panggung-pusat dunia, tidak pula Madina pernah berada dalam kepapaan yang menyedihkan ketika dibandingkan dengan Jerusalem.

9

Sebelum Perang Dunia Pertama pada 1914-1918 di sana bahkan tidak ada satupun tanda di dalam sejarah politik dan diplomasi bahwa Jerusalem suatu hari dapat menempati panggung-pusat di dunia. Semua yang diketahui adalah bahwa Pergerakan Zionis telah didirikan di Basel, Switzerland, pada 1897, dan bahwa para Zionis menginginkan pembelian kota dari Imperium Ottoman. Ini terjadi hanya pada saat, 1917, sejumlah peristiwa-peristiwa mulai terbuka di dalam sejarah bahwa Jerusalem secara tiba-tiba dan misterius muncul kembali di atas panggung dunia. Inilah beberapa kejadian itu;

Segolongan pasukan Inggris menakhlukan Jerusalem pada 1917;

Pemerintahan Inggris (Britania) mengeluarkan, pada 1917, deklarasi paling aneh dan paling misterius dalam sejarah diplomasi, yakni, Deklarasi Balfour, yang di dalamnya Inggris menyatakan niatannya untuk mendirikan sebuah Negara Yahudi di Tanah Suci yang akan berusaha untuk pada akhirnya mengembalikan Negara Israel Suci Raja Daud;

Orang-orang yahudi kemudian dibawa kembali untuk mengklaim Jerusalem sebagai miliknya;

Sebuah Negara Israel kemudian didirikan pada 1948 di Tanah Suci.

Dunia secara tiba-tiba dihadapkan dengan suatu fenomena yang unik di dalam sejarah keagamaan dan politik umat manusia; Jerusalem dengan seketika telah menjadi penting di dalam kepentingan-kepentingan dunia. Faktanya hitungan-mundur terakhir di Akhir al Zaman telah dimuai dengan ditemukannya tubuh Firaun, pada 1989 (lihat buku saya yang berjudul Jerusalem di dalam Al Quran)

Israel secara konstan tumbuh dalam kekuatan dan pengaruhnya hingga sebuah perang dilancarkan pada 1967 yang berakhir dengan sebuah penakhlukan Israel atas kota Jerusalem. Pada 2017 AS memperpanjang pengakuan atas Jerusalem sebagai ibukota Israel dan, sebagai konsekuensinya, terdapat bukti yang sekarang dapat menkonfirmasi ramalan tersebut. Jika terdapat keraguan terkait Jerusalem yang sekarang menempati panggung-pusat di dunia pembaca-pembaca kami tentu dapat bercermin terhadap nasib yang telah terjadi pada setiap politikus Amerika dan publik figur terkemuka, termasuk seorang Presiden Amerika, juga Malcolm X, yang sudah pernah mengkritik Israel.

10

Pada waktu yang bersamaan bahwa Jerusalem sekarang dapat dikenali karena tempatnya di panggung-pusat di dunia, ini juga semestinya sama jelasnya kepada pembaca- pembaca kami bahwa kota Madina, ketika dibandingkan dengan Jerusalem, berada di dalam keadaan yang menyedihkan. Madina betul-betul tidak memainkan paran apapun pada saat ini di dalam kepentingan-kepentingan dunia.

Ramalan Nabi berlanjut menyatakan bahwa Perang Besar atau Malhama (dikenal dalam Eskatologi Judeo-Kristen sebagai Armageddon) akan terjadi ketika Jerusalem menempati panggung-pusat di dunia dan Madina, secara perbandingan, di dalam suatu keadaan yang menyedihkan (kejatuhan). Bukan saja Perang Besar atau Malhama masih belum terjadi, tapi ini sangat jelas dari ramalan tersebut bahwa hal ini adalah peristiwa besar selanjutnya yang akan terjadi di dalam rententan-waktu peristiwa-peristiwa Akhir-zaman.

Salah satu dari hal-hal yang paling menakjubkan yang Nabi telah katakan mengenai Perang Besar tersebut adalah bahwa hal itu akan dilakukan demi segunung emas yang akan muncul dari bawah Sungai Eufrat dan bahwa 99% dari seluruh partisipan yang berperang di dalam perang untuk segunung emas tersebut akan terbunuh;

Eufrat dan bahwa 99% dari seluruh partisipan yang berperang di dalam perang untuk segunung emas tersebut

11

Abu Hurairah berkata; 'Rasulullah salallahu 'alayhi wassalam berkata, "Masa itu (Hari Akhir) tidak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering untuk menampakan gunung emas, yang untuknya orang-orang akan berperang. Sembilan puluh sembilan dari seratus orang akan mati (dalam perang) dan setiap orang diantara mereka akan berkata; 'Mungkin aku akan jadi satu-satunya orang yang masih hidup'

Narasi yang lain; "Masa itu sudah dekat ketika Sungai Eufrat akan kering untuk menampakan sebuah harta karun emas. Siapapun yang akan hidup pada saat itu, tidak boleh mengambil apapun darinya"

Shahih Bukhari; Shahih Muslim

Perang semacam itu belum pernah terjadi di dalam sejarah Manusia; dan maka klaim apapun bahwa Malhama telah terjadi mestilah tertolak karena itu tidak masuk akal!

Memang, kita boleh saja menantikan perang semacam itu yang akan dilakukan demi 'gunung emas' tersebut agar terjadi sekarang ini, karena sebuah lautan minyak di bawah Sungai Eufrat sudah mulai berfungsi pada 1974 sebagai sebuah gunung emas yang di dalam konekuensinya sistem moneter petrodollar terlahir. Russia dan Cina sekarang menentang sistem moneter yang tidak adil tersebut, dan itu akan menjadi penyebab utama yang memprovokasi perang nuklir yang akan datang yang dikenal dalam eskatologi sebagai Malhama atau Armageddon. Ini sangat penting bagi pembaca-pembaca kami untuk mengenali bahwa, tidak seperti NATO, Russia dan Cina tidak berperang untuk gunung emas itu; tetapi, mereka berperang melawan sistem moneter petro-dollar yang tidak adil. Maka ramalan 99 dari tiap 100 yang akan terbunuh tidak berlaku kepada mereka.

Hanyalah setelah Malhama atau Perang besar terjadi bahwa dunia akan menyaksikan pemenuhan ramalan Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam bahwa segolongan pasukan tentara Muslim akan menundukan Konstantinopel.

Ramalan lain dari Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam yang dikutip di atas, ramalan-ramalan bahwa penakhlukan akan terjadi seketika setelah Perang Besar atau

12

Malhama, dan bahwa Dajjal kemudian akan muncul (dalam wujud manusia) sangat cepat sehinngga semua ketiga peristiwa akan terjadi dalam satu rentang waktu hanya tujuh bulan.

Apakah periode waktunya tujuh bulan atau tujuh tahun, hal ini mengindikasikan bahwa peristiwa-peristiwa itu akan berkerak sengat cepat seketika Malhama atau Perang Besar terjadi, dan sehingga secara konsekuensi tidak akan ada waktu untuk menjelaskan subjek ini seketika Perang Besar itu terjadi.

Sehingga diperlukannya subjek ini agar dijelaskan sebelum Perang Besar itu terjadi, dan momen itulah tepat dimana dunia hari ini berada. Penulis ini bersyukur kepada Allah Yang Maha Tinggi bahwa buku sederhana ini telah ditulis pada waktu yang tepat ini.

Sekarang seharusnya menjadi sedikit jelas kepada pembaca-pembaca kami bahwa klaim manapun tentang penaklukan Konstantinopel yang diramalkan oleh Muhammad salallahu 'alayhi wassalam telah terjadi ketika, pada faktanya, hal itu belum lah terjadi, haruslah ditolak karena salah.

Tidak penting apakah kita menerima periode dari tujuh bulan atau tujuh tahun, faktanya bahwa 1453 adalah suatu masa yang sangat jauh, dan, bahkan para pendukung yang keras kepala atas Sultan Muhammad Fateh pun harus mengakui bahwa tidak terdapat bukti bahwa Dajjal membuat kemunculannya dalam betuk manusia di dunia seketika setelah penakhlukan Ottoman terhadap Konstantinopel di tahun 1453.

Karena ini jelas bahwa ramalan tersebut belum terpenuhi, implikasinya adalah bahwa pasukan tentara Muslim tersebut yang pada akhirnya menakhlukan Konstantinopel di Akhir- zaman, bukanlah akan menakhlukan sebuah kota Kristen sebab, sebagai sebuah konsekuensi dari penakhlukan Ottoman atas Konstantinopel pada 1453, kota tersebut sekarang telah menjadi kota Muslim yang hampir secara ekslklusif dengan segolongan populasi Kristen yang kecil dan tidak signifikan.

Pembaca-pembaca kami, Kristen dan Muslim, sekarang akan bertanya sebuah pertanyaan yang seluruhnya dapat dimengerti; mengapa sekelompok pasukan Muslim akan khendak menakhlukan sebuah Konstantinopel yang telah ditakhlukan oleh orang-orang

13

Muslim sebelumnya, dan yang sebagai konsekuensinya memiliki populasi yang sudah menjadi hampir seluruhnya Muslim? Dan mengapa Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam mau memuji pasukan tersebut dan Pemimpinnya? Haruslah terdapat sebuah alasan bagi Nabi untuk bertindak seperti yang telah ia lakukan. Jawaban untuk pertanyaan ini bahkan lebih penting untuk saudara-saudari Muslim kita di Turki, Balkan dan lainnya yang teryakinkan bahwa penakhlukan Konstantinopel oleh sultan Muhammad Fateh Ottoman telah memenuhi ramalan dari Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam tentang penakhlukan Konstantinopel oleh pasukan Muslim. Generasi-generasi dari orang-orang Muslim seperti itu telah menjalani keseluruhan hidupnya sambil mengakui Sultan Muhammad Fateh sebagai Pemimpin dari pasukan tersebut yang telah dipuji oleh Nabi. Konsekuensinya adalah bahwa mereka yang disuapi dengan asupan kekeliruan tersebut telah secara konsisten memuji-muji pasukan Ottoman yang menakhlukan Konstantinopel, dan mereka juga telah secara konsisten memuji-muji Pemimpin dari pasukan itu, Sultan Muhammad Fateh! Sekarang mereka akan mengerti, sebagaimana mereka tidak pernah mengerti sebelumnya, bahwa tepat untuk alasan inilah bahwa Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam justru memuji, pasukan dan Pemimpinnya yang masih akan hadir, dan yang akan memperbaiki kerusakan yang dilakukan pada 1453.

Nasihat kami yang kami tawarkan kepada orang-orang Musim semacam itu, sebagai tambahan kepada apa yang ada di dalam buku ini, adalah untuk tetap beriman setiap waktu kepada Al-Quran yang dirahmati ini, dan kepada Hadits dari nabi setiap waktu sepanjang mereka berada dalam harmoni, dan tidak dalam konflik, dengan Al-Quran. Sehingga ketika fakta-fakta di lapangan tidak dalam harmoni dengan Al-Quran, mereka harus mempersiapkan diri mereka untuk mengenali bahwa 'tampilan' dan 'realita' dari fakta-fakta tersebut berbeda satu sama lain. 'Tampilan' dari peristiwa itu adalah bahwa pasukan Ottoman dan Sultan Muhammad Fateh melancarkan perang sesuai dengan Perintah-perintah Allah berkaitan dengan Hukum Peperangan dan Adab Peperangan, sedangkan kenyataannya adalah sebaliknya! Mereka sekarang mungkin, dapat memahami mengapa Nabi memuji pasukan tersebut dan memuji Pemimpinnya yang akan menakhlukan Konstantinopel untuk meluruskan kesalahan parah yang dilaukan dalam penakhlukan sebelumnya pada 1453.

14

Untuk menjawab pertanyaan itulah sekarang kita harus beralih kepada Al-Quran dan Nabi Muhammad salallahu 'alayhi wassalam untuk mencari status dan peran dari Konstantinopel di dalam pergerakan sejarah, juga ketika ia berpuncak pada akhir sejarah.

dalam

Konstantinopel dan kendali Ummat Kristen terhadap kota itu, adalah sesuatu yang

ditakdirkan-secara ilahi; dan kepada subjek itulah sekarang kita menuju.

Kita

perlu

untuk

mengetahui

khususnya,

apakah

kehadiran

Kristen

di

15

Chapter Tiga, Bagaimana Konstantinopel menjadi sebuah Kota Kristen!

Terdapat sebuah Hadits yang memberitahu kita bagaimana Konstantinopel, yang sebelumnya adalah sebuah kota Roma pagan, ditundukan oleh orang-orang Kristen tanpa pertempuran. Pandangan kami adalah bahwa suatu penundukan dari sebuah kota tanpa perang mengindikasikan suatu pengambil-alihan sebuah kota secara damai. Hadits tersebut secara jelas menunjukan bahwa penundukan Kristen terhadap Konstantinopel adalah ditakdirkan secara Ilahi.

Harusnya jelas kalau penakhlukan Konstantinopel ini tidak bisa menjadi sesuatu yang diramalkan oleh Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalam karena hal itu tidak dilakukan oleh segolongan pasukan Muslim dan seorang Pemimpin Muslim, yang dipuji oleh Nabi, dan hal itu tidak diselesaikan melalui sebuah perjuangan secara militer yang ditutup dengan kemenangan bagi pasukan Muslim.

Hadits menunjukan kita kepada sebuah kota yang dideskripsikan sebagai berikut;

kita kepada sebuah kota yang dideskripsikan sebagai berikut; satu sisi dari kota itu akanlah berada di

satu

sisi dari kota itu akanlah berada di darat, dan satu sisinya lagi di laut.

Kami memahami ini sebagai sebuah deskripsi geografis dari sebuah kota yang salah satu sisinya akan terhubung dengan daratan sedangkan satu sisinya lagi, yakni, sisanya, akan dikelilingi oleh lautan sehingga menjadi sebuah semenanjung.

Hadits itu selanjutnya mendeskripsikan kota tersebut memiliki tiga sisi, dan penundukan dari tiap sisinya dilakukan dengan seruan doa tentang keesaan Ilahi dan seterusnya. Segolongan orang yang dideskripsikan sebagai Banu Ishaq akan menundukan kota tersebut tanpa peperangan. Mereka akan memproklamirkan bahwa tidak ada Tuhan

17

selain Allah, dan Allah adalah Yang Tertinggi laa ilaha illallaah wallaahu akbar, dan ketiga sisi dari kota tersebut akan jatuh satu demi satu.

Kami mengidentifikasikan kota tersebut sebagai Konstantinopel karena hal ini bersesuaian terhadap deskripsi geografis yang diberikan di dalam Hadits tersebut. Satu bagian dari Konstantinopel bersatu dengan daratan sedangkan bagian lainnya dikelilingi oleh perairan. Kami juga melakukan hal demikian dikarenakan Hadits itu menyebutkan bahwa kota tersebut akan jatuh pada ketiga sisinya, tetapi sisi yang lainnya menjorok ke arah laut dalam bentuk dari dua sisi yang tersisa bagai sebuah segitiga. (Lihat gambar)

dua sisi yang tersisa bagai sebuah segitiga. (Lihat gambar) Abu Hurairah memberitahu Rasulullah ( salallahu ‘alayhi

Abu Hurairah memberitahu Rasulullah (salallahu ‘alayhi wassalam) berkata;

18

Kalian telah mendengar tentang sebuah kota, satu sisi darinya berada di darat dan sisi lainnya

Kalian telah mendengar tentang sebuah kota, satu sisi darinya berada di darat dan sisi lainnya berada di laut. Mereka berkata; Ya, Rasulullah. Kemudian beliau berkata; Hari

19

Akhir tidak akan datang kecuali tujuh puluh ribu orang dari Banu Ishaq akan menyerangnya. Ketika mereka akan mendarat di sana, mereka tidak akan berperang dengan senjata juga tidak akan menghujani anak panah tetapi hanya akan berkata; “Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar,” dan satu sisi darinya akan jatuh. Tsaur (salah satu narrator) berkata; Saya pikir bahwa dia berkata; Bagian yang berada di sisi laut. Lalu mereka akan berkata untuk kedua kalinya; “Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar” dan sisi kedua juga akan jatuh, dan mereka akan berkata; “Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar”, dan gerbang kemudian akan terbuka untuk mereka dan mereka akan masuk kedalamnya dan, mereka akan mengumpulkan rampasan perang dan membagikannya diantara mereka sendiri ketika sebuah suara akan terdengar berkata; Sungguh, Dajjal telah datang. Dan maka mereka akan meninggalkan semuanya di sana dan kembali.

Shahih, Muslim

Tidak ada apapun yang dapat digunakan untuk mengidenifikasikan Banu Ishaq sebagai Ummat-nya Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalam, maka suatu penundukan Konstantinopel oleh Banu Ishaq tidak bisa difahami sebagai suatu penundukan terhadap kota itu oleh segolongan pasukan Muslim.

Kedua, orang-orang Muslim yang termasuk kepada Ummat dari Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalam tidak akan menyatakan Shahadah bahwa tiada Tuhan selain Allah tanpa menuntaskannya dengan menyatakan juga bahwa Muhammad adalah Utusan Allah. Maka Banu Ishaq haruslah segolongan orang yang menyembah Allah Yang Maha Tinggi, tetapi tidak termasuk ke dalam Ummat Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalam.

Kepada siapakah Nabi merujuk sebagai Banu Ishaq?

Mengapa Nabi mau merujuk kepada keturunan dari Abraham, yakni, Nabi Ibrahim ‘alayhissalaam melalui anaknya Isaac, yakni, Nabi Ishaq ‘alayhissalaam, sebagai Banu Ishaq, padahal Allah Maha Yang Tinggi telah memlih sebutan Bani Israil bagi golongan yang sama? Satu-satunya penjelasan yang memungkinkan bagi penggunaan sebuah sebutan baru Banu Ishaq adalah bahwa hal ini diciptakan untuk membedakan satu bagian dari orang-orang

20

Israelit yang menerima Jesus ‘alayhissalaam sebagai Al Massih yang sesungguhnya, dari Banu Israil lainnya yang menolaknya. Sebagai konsekuensinya penakhlukan Konstantinopel yang diramalkan di dalam Hadits ini merujuk kepada sebuah penakhlukan Kristen terhadap kota tersebut yang tidak terjadi melalui pertempuran; dan secara tepat memang dengan damai lah bahwa Konstantinopel berakhir sebagai pagan, dan menjadi sebuah kota Kristen.

Namun terdapat sebuah kendala ketika Hadits tersebut berakhir dengan informasi bahwa gerbang-gerbang dari kota tersebut terbuka kepada Banu Ishaq setelah jatuhnya ketiga sisi kota itu, dan mereka kemudian mulai membagi harta rampasan dari kemenangan. Hal ini terlihat tidak sesuai dengan suatu pengambilan-alih kota yang dilakukan secara damai.

Hadits lebih lanjut menunjukan bahwa Dajjal akan membuat sebuah kehadiran ke dalam Konstantinopel segera setelah ia menjadi kota Kristen; dan sehingga terdapat suatu kendala ketidak-sesuaian mengenai waktu pelepasan Dajjal yang diberikan di dalam Hadits ini dengan informasi yang diberikan di dalam Hadits lain yang darinya kami menarik kesimpulan bahwa Dajjal telah dilepaskan di masa-kehidupan Nabi.

Karena kami menarik kesimpulan dari Hadits tentang Ibnu Sayyad bahwa pelepasan Dajjal terjadi seketika setelah Hijrah ke Madina, maka implikasinya menjadi bahwa apakah terdapat konflik di antara kedua waktu tentang pelepasan Dajjal ini, ataukah bahwa ketiga dinding dari kota itu haruslah sudah jatuh selama beberapa abad kinimengindikasikan bahwa Konstantinopel tidak menjadi Negara Khilafah atau sebuah Negara Kristen Suci seketika setelah kematian Konstantin, tetapi, malah, bahwa terjadi suatu proses tahap-demi- tahap bagi transformasi kota itu untuk menjadi Konstantinopel Suci. Ini adalah sebuah subjek yang cukup menarik bagi seorang pelajar peneliti.

Dan karena penuntasan dari penakhlukan Kristen terhadap kota tersebut memancing kehadiran Dajjal seketika, kita akan harus menantikan Imperium Kristen Byzantin untuk mengambil sebuah sikap permusuhan kepada Islam, dan memang itulah wajah Rum yang pertama kali orang-orang Muslim temui.

21

Tetapi, pada saat ini kami lebih memperhatikan untuk mengingatkan pembaca bahwa Hadits yang dikutip di atas memberikan bukti bahwa perjalanan Konstantinopel untuk menjadi sebuah kota Kristen merupakan takdir-Ilahi.

22

Chapter Empat,

Konstantinopel di dalam Al Quran

Ketika bangsa Israelit kehilangan Jerusalem setelah Imperium Roma menghancurkan Masjid al-Aqsa atau Kuil Solomon, yakni, Nabi Sulaiman ‘alayhissalaam dan mengusir mereka semua dari kota itu dan juga dari Tanah Suci, Al Quran merujuk kepada peristiwa ini dengan informasi tambahan bahwa suatu larangan Ilahi telah kemudian diletakan atas mereka yang mencegah mereka dari kembalinya kepada kota tersebut untuk mengklaimnya kembali sebagai miliknya sendiri. Larangan ini akan tetap berfungsi hingga masa Ya‟juj dan Ma‟juj;

ini akan tetap berfungsi hingga masa Ya ‟juj dan Ma‟juj; Quran, al-Anbiya, 21;95-6 Larangan sekarang telah

Quran, al-Anbiya, 21;95-6

Larangan sekarang telah diletakan atas sebuah kota (yakni, Jerusalem) yang Kami telah hancurkan, dan yang penduduknya telah Kami usir, bahwa mereka, penduduknya, tidak akan dapat kembali untuk mengklaim kembali kota itu sebagai miliknya, hingga Ya‟juj dan Ma‟juj telah dilepaskan, dan kemudian mereka menyebar ke seluruh arah.

Al Quran mengakui sebagian dari bangsa Israelit yang juga terusir adalah orang-orang yang beriman kepada Jesus alayhissalaam sebagai Al Massih yang Sesungguhnya, dan sebagian lainnya dari bangsa Israelit yang telah menolaknya. (Lihat Quran al-Shaff, 61;14)

Interpretasi kami dari ayat yang dikutip diatas adalah bahwa kota yang dirujuk adalah Jerusalem. Sebagai konsekuensinya kami memahami bahwa hal ini ditakdirkan secara Ilahi bahwa seluruh bangsa Israelit mereka yang menerima Jesus sebagai Al Massih dan

24

mengikutinya, begitu juga mereka yang menolaknya terusir dari Jerusalem dan dari Tanah Suci.

Tetapi Al Quran kemudian berlanjut untuk menunjukan sebagai berikut;

Quran kemudian berlanjut untuk menunjukan sebagai berikut; Quran, al- ‘Araf, 7;168 Dan Kami tebar mereka menjadi

Quran, al-‘Araf, 7;168

Dan Kami tebar mereka menjadi golongan-golongan yang terpisah di seluruh bumi; sebagian dari mereka beriman, dan sebagian dari mereka tidak lebih dari itu; dan yang (golongan ke dua) Kami uji mereka dengan kebaikan dan keburukan, agar mereka mau memperbaiki jalannya.

Dunia kemudian menyaksikan sebuah pertunjukan besar yang luar biasa di dalam sejarah religius umat manusia, bahwa mereka yang menolak Jesus alayhissalaam, dan yang karenanya sekarang dikenal sebagai al-Yahud (yakni, Yahudi), dipisahkan sebagai sebuah Ummat dari mereka yang menerimanya, dan yang mulai sekarang dikenal sebagai al-Nasarah (yakni, Kristen).

Orang-orang Yahudi dihukum karena penolakannya terhadap Al Massih dengan dihancurkan menjadi serpihan-serpihan dan potongan-potongan dan ditebarkan di seluruh bumi sebagai beberapa golongan.

Orang-orang Kristen, yang sekarang diakui sebagai sebuah Ummat terpisah dari orang- orang Yahudi dan yang juga dikenali di dalam Al Quran sebagai Ahl al-Injil (al-Maidah, 5;48) dan di dalam sebuah Hadits sebagai Banu Ishaq, diperlakukan secara berbeda. Daripada

25

mengalami nasib yang sama sebagaimana orang-orang Yahudi yang dihancuran menjadi serpihan dan potongan-potongan dan ditebarkan di seluruh bumi, mereka diberkati oleh Allah Maha Yang Tinggi untuk pada akhirnya memiliki Negara mereka sendiri dengan Konstantinopel sebagai ibukotanya. Chapter Tiga mendeskripsikan bagaimana hal itu telah terjadi. Al Quran merujuk kepada Negara Kristen Suci itu sebagai Rum.

Al Quran juga telah memilih untuk merujuk kepada kedua golongan ini, yakni, Ummat dari golongan Yahudi dan Ummat dari golongan Kristen, yang keduanya muncul dari Banu Israil, sebagai Ahl al-Kitab.

Pembaca-pembaca kami sekarang dapat mengerti mengapa Konstantinopel tetap menjadi sebuah mimpi buruk bagi Yahudi yang menolak Jesus alayhissalaam sebagai Al Massih, karena ia pada akhirnya menjadi sebuah rumah bagi mereka yang menerimanya sebagai seorang Al Massih yang Sesungguhnya. Mereka merasa terancam dengan Konstantinopel karena ia melambangkan semua hal yang mereka tolak berkaitan dengan Jesus alayhissalaam. Tidak ada yang dapat menyenangkan mereka lebih dari untuk melihat Konstantinopel ditinggali oleh mereka yang benci kepada golongan Kristen tersebut, dan kemudian untuk melihat nama Konstantinopel terdegradasi ke dalam musium-musium sejarah.

Dalam banyak cara yang sama bahwa nama „Jerusalem‟ telah digunakan, bahkan di dalam Al Quran, untuk melambangkan Tanah Suci, dan yang di dalamnya terdapat Negara Israel Suci, bisa juga nama „Konstantinopel‟ digunakan untuk merujuk Imperium Kristen Byzantin Suci yang Al Quran merujuknya sebagai Rum. Bukan saja Konstantinopel adalah ibukota dari Imperium tersebut, tetapi di dalamnya juga terletak Katedral Hagia Sophia yang merupakan jantung spiritual dari Imperium itu. Di dalam arti simbolik inilah bahwa Konstantinopel dapat dikenali terletak di dalam Al Quran di dalam sebuah Surah (yakni, Bab) yang diberinama Imperium Kristen Byzantium sebagai Surah al-Rum. Namun ini, bukanlah satu-satunya referensi di dalam Al Quran terhadap kota Konstantinopel.

Al Quran dan Rum

Kata Rum muncul pada bagian awal sekali dari Surah tersebut, dan bahkan meskipun ini hanya satu-satunya contoh yang di dalamnya Al Quran telah menggunakan kata Rum,

26

kendatipun demikian bagian kecil dari Kitab Suci yang di dalamnya kata tersebut muncul sudah sangat cukup untuk menunjukan bahwa Allah Maha Yang Tinggi mengakui Rum sebagai segolongan masyarakat Kristen yang berhak atas pertolongan Ilahi-Nya. Sehingga, mereka tidak bisa, merupakan segolongan orang yang telah meninggalkan agama yang dibawakan oleh Jesus alayhissalaam dan yang tidak lagi diakui sebagai yang termasuk ke dalam Ummat-nya (yakni, komunitas religius yang mengikuti Jesus alayhissalaam). Justru, Rum diakui secara Ilahi di dalam Surah ini sebagai Ummat dari Jesus alayhissalaam, dan sebagai konsekuensinya, Konstantinopel bukanlah kota yang biasa-biasa saja. Ia adalah ibukota dari segolongan orang-orang beriman yang mengikuti Jesus alayhissalaam.

Surah al-Rum juga mendirikan sebuah hubungan positif antara Rum dan Ummat dari Nabi Muhammad salallahu ‘alayhissalaam.

Di sini adalah teks Arab bagian Al Quran dari Surah al-Rum (Surah nomor 30; ayat 1-7)

Kami megingatkan para pembaca yang ramah bahwa teks Arab dari Al Quran yang penuh akan mukjizat tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, dan maka apa yang kami tawarkan adalah berupa penjelasan dan ulasan-ulasan dari tiap ayat. Kami selalu menggunakan kehati-hatian untuk selalu mengindikasikan hal ini kapanpun kami melakukan perjalanan untuk menawarkan sebuah interpretasi dari Al Quran dikarenakan hanya Allah Maha Tinggi lah yang dapat mengkonfirmasi apakah sebuah interpretasi itu benar atau tidak;

apakah sebuah interpretasi itu benar atau tidak; Quran, al-Rum, 30;1 Alif Lam Mim. Ayat pertama ini

Quran, al-Rum, 30;1

Alif Lam Mim.

Ayat pertama ini hanya terdiri dari tiga huruf alfabet Arab. Ayat-ayat semaca ini termasuk kepada sebagian dari dua bagian Al Quran. Bagian pertama, dikenal sebagai Ayat Muhkamat, meliputi ayat-ayat yang jelas dan gamblang dan yang hanya membutuhkan sebuah

27

penafsiran. Bagian kedua, yang dikenal sebagai Ayat Mutasyabihat, meliputi ayat-ayat semacam yang di atas, yang harus diinterpretasikan (di-ta‟wil) demi mendapatkan maknanya. Namun, Al Quran memperingati, bahwa hanya Allah lah yang dapat mengkonfirmasi apakah sebuah interpretasi itu benar atau tidak (lihat Surah Ali-Imran 3;7). Maka, kapanpun suatu ayat Al Quran semacam itu diinterpretasikan, tidak ada seorang pun yang dipaksa untuk menerima interpretasi tersebut. Penulis ini telah menawarkan sebuah interpretasi dari ayat-ayat Al Quran semacam itu yang hanya meliputi huruf-huruf dari alfabet Arab. Dia telah melakukannya demikian di dalam bukunnya yang berjudul Metodologi untuk Studi Al Quran

yang berjudul „ Metodologi untuk Studi Al Quran ’ Quran, al-Rum, 30;2 Rum telah dikalahkan. Quran,

Quran, al-Rum, 30;2

Rum telah dikalahkan.

Studi Al Quran ’ Quran, al-Rum, 30;2 Rum telah dikalahkan. Quran, al-Rum, 30;3 Kekalahan itu terjadi

Quran, al-Rum, 30;3

Kekalahan itu terjadi di sebuah tanah yang dekat, tetapi kendatipun kekalahan ini milik mereka, mereka akan segera menang.

sebuah tanah yang dekat, tetapi kendatipun kekalahan ini milik mereka, mereka akan segera menang. Quran, al-Rum,

Quran, al-Rum, 30;4

28

Kemenangan akan datang hanya dalam beberapa tahun; karena Allah lah Yang mengatur kemenangan Rum yang sebelumnya, juga yang setelahnya dan pada hari kemenangan Rum itu orang-orang yang beriman kepada Al Quran ini akan menyambut kemenangan tersebut dengan kebahagiaan dan suka cita.

kemenangan tersebut dengan kebahagiaan dan suka cita. Quran, al-Rum, 30; 5 Kemenangan akan datang karena

Quran, al-Rum, 30; 5

Kemenangan akan datang karena pertolongan Allah; karena Dia yang memberi pertolongan kepada siapapun yang Dia kekhendaki, karena Dia sendiri lah Maha Besar, Pemberi Rahmat.

karena Dia sendiri lah Maha Besar, Pemberi Rahmat. Quran, al-Rum, 30;6 Ini adalah janji Allah; tidak

Quran, al-Rum, 30;6

Ini adalah janji Allah; tidak pernah Allah gagal untuk memenuhi janji-Nya tetapi kebanyakan orang tidak mengatahuinya.

pernah Allah gagal untuk memenuhi janji-Nya – tetapi kebanyakan orang tidak mengatahuinya. Quran, al-Rum, 30;7 29

Quran, al-Rum, 30;7

29

Pengetahuan mereka terbatas pada kehidupan eksternal yang nampak dari dunia ini, padahal mereka tetap berada di dalam keadaan lalai dan tidak peduli dan sehingga buta secara internal mengenai Akhir yang menanti mereka.

Muhammad Asad, seorang penafsir modern Al Quran yang terkenal, mempunyai suatu hal untuk dibicarakan mengenai pembuka Surah al-Rum ini;

Kekalahan dan kemenangan yang dibicarakan di atas menghubungkan fase-fase akhir dari abad-abad perjuangan-panjang antara Imperium Byzantin dan Persia. Selama tahun-tahun awal dari abad ke tujuh bangsa Persia menakhlukan bagian-bagian dari Suriah dan Anatolia, “tanah yang dekat”, yakni, dekat dari dataran-jantung Imperium Byzantin; pada 613 mereka mengambil-alih Damaskus dan pada 614, Jerusalem; Mesir jatuh ke tangan mereka pada 615-16, dan pada waktu yang sama mereka meletakan kepungan kepada Konstantinopel itu sendiri. Pada waktu turunnya surah ini sekitar tahun ke tujuh sebelum Hijrah, bertepatan dengan 615 atau 616 dari era Kristen kehancuran total dari Imperium Byzantin terlihat tak terelakan. Orang-orang muslim yang jumlahnya sedikit yang berada di sekitar Nabi merasa gundah dan putus asa mendengar kabar-kabar yang benar-benar membingungkan tentang masyarakat Byzantin, yang merupakan orang-orang Kristen dan, demikian pula, beriman kepada Tuhan Yang Esa. Masyarakat pagan Quraysh, di sisi lain, bersimpati dengan bangsa Persia yang, mereka pikir, akan mempertahankan pertentangan mereka sendiri kepada faham Satu-Tuhan. Ketika Muhammad mengumumkan ayat-ayat Quran di atas yang memprediksikan sebuah kemangan Byzantin “dalam beberapa tahun”, ramalan ini diterima dengan cemoohan dari Quraysh. Sekarang sebutan „taruhan‟ (yang umumnya diterjemahkan sebagai sedikit”) menunjukan angka di antara tiga dan sepuluh; dan, sebagaimana hal ini terjadi, pada 622 yakni, enam atau tujuh tahun setelah prediksi Qurani gelombang pasang beralih menguntungkan orang-orang Byzantin. Di tahun itu, Kasiar Heraklius berhasil mengalahkan bangsa Persia di Issus, selatan Pegunungan Taurus, dan selanjutnya mengusir mereka keluar dari Asia Minor. Pada 624, dia melancarkan perang ke dalam wilayah Persia hingga membuat musuh berada dalam posisi bertahan; dan di awal Desember, 626, pasukan-pasukan Persia telah terusir seluruhnya.

30

Muhammad Asad, Message of the Quran. Comment on Surah al-Rum; 30;4 (Muhammad Asad, Pesan dari Al Quran. Tafsir atas Surah al-Rum; 30-4)

Imperium Kristen Byzantin telah dikalahkan di dalam perang oleh Imperium beragama Zoroastria Persia dan Al Quran mengambil catatan dari kekalahan yang terjadi itu „di tanah yang dekat‟. Para penyembah berhala Arab, yang menentang Nabi dan agama satu-tuhan Islam yang beliau ajarkan, berpihak dengan Imperium Persia polytheist (penyembah banyak tuhan) dan sombong atas kemenangan Persia terhadap sebuah Imperium Kristen yang memiliki banyak kesamaan keyakinan dengan agama Nabi.

Di dalam konteks inilah bahwa Al Quran menyampaikan berita menakjubkan kepada orang-orang Muslim bahwa Rum akan mencapai kemenangan atas Imperium Persia di dalam jeda hanya beberapa tahun; dan hal ini tepat apa yang telah terjadi. Al Quran telah dengan benar meramalkan sebuah peristiwa yang sangat penting dengan implikasi-implikasi strategis yang menjangkau-jauh hal-hal yang masih belum terjadi, tetapi hal-hal itu merupakan hal yang akan segera terjadi.

Rum akan Menang Dua Kali – ‘Sebelum’ dan ‘Sesudah’

Tetapi ketika Al Qruan meramalkan bahwa Rum akan segera menang, ia berlanjut menyatakan bahwa Allah memiliki otoritas untuk mengatur kemenangan di kedua waktu tersebut, sebelum begitu pula sesudah. Sebagian besar penafsir Al Quran, setuju bahwa ayat tersebut menginformasikan kita bahwa akan terjadi dua kemenangan, namun sebagian besar dari mereka menyimpulkan bahwa yang ke dua dari dua kemenangan tersebut terjadi ketika kemenangan Muslim atas Quraysh di dalam Perang Badr.

Kendala dengan pengelihatan kemenangan Muslim di dalam Perang Badr sebagai yang ke dua dari dua kemengangan yang diantisipasi di dalam bagian Al Quran tersebut adalah bahwa hal ini tidaklah cocok dengan konteks yang di dalamnya kata-kata sebelum dan sesudah muncul di dalam ayat itu. Satu-satunya cara bahwa penggunaan kata sebelum dan sesudah dapat dimengerti di dalam bagian tersebut adalah jika di sana terdapat sebuah jawaban terhadap pertanyaan sebelum apa? Kami menghadapi situasi yang serupa juga dengan penggunaan kata sesudah, yakni, sesudah apa?

31

Al Quran pasti sedang menunjukan kepada sesuatu yang terletak di antara dua kata-kata tersebut sebelum dan sesudah; dan dengan merujuk kepada hal itulah yang terletak di antara keduanya, bahwa kata sebelum dan sesudah dapat difahami.

Komentar pertama kami adalah bahwa konteks meminta kita untuk melihat kata sebelum dan sesudah agar dihubungkan kepada Rum, dan maka, untuk merujuk kepada peristiwa yang memberikan kejelasan di dalam sejarah Rum. Di dalam rujukan kepada peristiwa itulah kimi dapat mengenali kemanangan pertama Rum terjadi sebelum, dan kemenangan ke dua terjadi setelah, peristiwa itu.

Pada waktu Al Quran diturunkan, bahkan kemenangan pertama masih belum terjadi; maka peristiwa yang memberikan kejelasan harus dialokasikan di masa depan. Apakah itu?

Perpecahan Besar Timur-Barat 1054

Pandangan kami adalah bahwa Al Quran mengantisipasikan perpecahan besar Timur- Barat yang terjadi sekitar empat ratus tahun setelahnya pada tahun 1054, ketika Dajjal merekayasa terbelahnya Rum menjadi dua. Satu bagian dari Rum tetap bersama Konstantinopel sebagai ibukotanya, sambil teguh bahwa ia memelihara keimanan Ortodoks (tradisonalitas) di dalam Kekristenannya. Yang ini menjadi dikenal sebagai Kekristenan Ortodoks. Bagian barat lainnya dari Rum memeluk epistemologi satu-mata kepunyaan Dajjal yang menyampaikan sekularisme pertama, dan kemudian materialisme, dan kemudian sebuah peradaban yang dikenal sebagai Peradaban Barat Modern. Ini adalah peradaban yang mempunyai kata „Kafir‟ (yakni, tidak beriman) yang tertulis pada keningnya di antara kedua matanya.

Kejadian aktual yang menghasilkan perpecahan tersebut terjadi ketika Paus Leo IX menggertak kepada Michael Cerularius dan pengikut-pengikutnya dengan sebuah pengucilan, dan Patriak di Konstantinopel membalasnya dengan pengucilan yang serupa.

Konstantin telah melakukan sebuah pelayanan hebat demi Kekristenan ketika ia menyidang sebuah konferensi di Nicaea (di Turki) untuk menyelesaikan pertentangan teologis yang berkaitan dengan keimanan dari seorang umat Kristen. Perundingan Nicaea disetujui

32

pada sebuah Dekrit Nicaea yang kepadanya sebagian besar penganut Kristen berpegang teguh hingga hari ini. Dektrit tersebut menyatakan, dalam bagian;

Saya beriman kepada Roh Kudus, Tuhan, pemberi kehidupan

Yang berasal dari Bapak dan Anak-Nya.

Yang bersamaan dengan Bapak dan Anak-Nya disembah dan dimuliakan,

Yang telah berbicara melalui nabi-nabi

Pada jantung perpecahan itu adalah keputusan dari Kegerejaan Barat untuk meng-edit dekrit Nicaea tanpa persetujuan dari Kegerejaan Timur. Barat telah memilih untuk menambahkan kata-kata dan anak-Nya (lihat di atas) kepada teks Dekrit.

Maka perpecahan di anatara Timur dan Barat terjadi dikarenakan perihal-perihal yang secara langsung memang berhubungan kepada perjuangan demi Kebenaran, khususya sebagaimana hal itu memberikan perhatian tentang konsepsi Tuhan.

Sekarang kita dapat menyimpulkan bahwa ketika Al Quran menggunakan kata-kata sebelum dan sesudah sembari meramalkan kedua kemenangan bagi Rum ini merujuk kepada sebuah kemenangan yang akan terjadi sebelum Perpecahan Besar tersebut, dan kepada kemenangan lainnya yang akan terjadi setelah Perpecahan tersebut. Kami juga menyimpulkan bahwa pada kedua peristiwa tersebut orang-orang Muslim akan bersuka cita atas kemenangan Rum.

Analisis kami dari kemenangan yang pertama, yang terjadi pada masa-kehidupan Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam, dan yang beliau juga merayakannya, adalah bahwa ini mengindikasikan bahwa Allah dan Rasul-Nya, Muhammad, mengakui Rum pada masa itu sebagai Ummat dari Jesus alayhissalaam; itu juga berlanjut bahwa hal ini terjadi terlepas dari fakta bahwa Rum ketika itu menyembah suatu Ketuhanan Tritunggal.

Ini cukup mengherankan bahwa komunitas yang paling awal dari pengikut-pengikut Jesus alayhissalaam harus memeluk sebuah keyakinan bahwa Allah Yang Maha Tinggi

33

adalah Tuhan Yang Esa, tetapi juga meliputi tiga orang, yakni, Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Tuhan Roh Kudus.

Al Quran menyatakan bahwa iman kepada tritunggal adalah Kufr, dan mencela hal itu, tetapi juga menggenggam kemungkinan bahwa hanya sebagian dari golongan umat Kristen yang akan dihukum karena Kufr ini;

golongan umat Kristen yang akan dihukum karena Kufr ini; Quran, al-Maidah, 5;73 Sungguh, mereka mengingkari Kebenaran

Quran, al-Maidah, 5;73

Sungguh, mereka mengingkari Kebenaran ketika mereka berkata, “Perhatikan, Allah adalah yang ketiga dari Trinitas” – menganggap bahwa tidak ada sesembahan apapun yang dapat menyelamatkan Tuhan Yang Maha Esa. Dan terkecuali mereka berhenti dari pernyataan ini, penderitaan yang pedih akan menimpa orang-orang semacam itu dari golongan mereka yang bertekad untuk menyangkal kebenaran.

Pembaca diingatkan bahwa orang-orang Kristen yang dirujuk di dalam Al Quran sebagai Rum, dan yang telah menerima pertolongan Ilahi yang dalam konsekuensi darinya mereka mencapai kemenangan yang disebutkan di dalam Al Quran, adalah orang-orang Kristen yang sebelumnya telah memeluk keyakinan kepada tritunggal. Sehingga kami memahami ayat Al Quran di atas sebagai pengakuan terhadap kemungkinan bahwa boleh terdapat segolongan orang-orang Kristen yang meyakini tritunggal dan yang tetap dapat menerima pertolongan Ilahi, dan yang sehingga mereka masih tetap diakui sebagai Ummat dari Jesus alayhissalaam.

34

Implikasi dari analisis di atas adalah bahwa kemenangan yang ke dua, yang akan datang kepada setidaknya salah satu dari kedua Rum yang akan muncul setelah perpecahan besar Kristen Timur-Barat, akan datang kepada segolongan orang yang akan diakui secara Ilahi sebagai Ummat dari Jesus alayhissalaam.

Apakah Rum menghilang setelah perpecahan besar Timur-Barat, dan sehingga janji Ilahi tentang sebuah kemenangan yang ke dua kepada Rum setelah perpecahan, menjadi tidak mungkin?

Respon kami adalah untuk mengingatkan kepada pembaca bahwa tepat karena hal inilah Al Quran mengantisipasikan kritik-kritik semacam itu bahwa ia menggunakan kata- kata sebelum dan sesudah sambil merujuk kepada kedua kemenangan. Rum akan menjadi pemenang dua kali, sebelum dan sesudah Perpecahan Besar, dan dua kali juga orang-orang Muslim akan merayakan kemenangan-kemenangan itu.

Al Quran kemudian berlanjut menyatakan bahwa yang di atas merupakan janji Ilahi dan bahwa Allah tidak akan pernah gagal untuk memenuhi janji-Nya;

Allah tidak akan pernah gagal untuk memenuhi janji-Nya; Quran, al-Rum, 30;6 Ini adalah janji Allah; tidak

Quran, al-Rum, 30;6

Ini adalah janji Allah; tidak akan pernah Allah gagal untuk memenuhi janji-Nya tetapi sebagian besar manusia tidak mengetahui.

Sekarang menjadi perlu bagi kita untuk beralih kepada Al Quran untuk melihat apa yang ia katakan berkaitan dengan kedua Rum (yakni, dua dunia Kekristenan) yang muncul setelah Perpecahan Besar Timur-Barat.

35

Apakah Al Quran mengatakan sesuatu yang memungkinkan kita untuk mengenali Rum yang mana yang akan tetap menerima pertolongan ilahi dan menjadi pemenang kedua kalinya, dan Rum mana yang tidak akan terkualifikasi untuk hal itu? Akankah kemenangan ke dua Rum yang disebutkan di dalam Al Quran, menjadi kemenangan bagi orang-orang Kristen Ortodoks atas rival-rival baratnya? Sudahkah Al Quran memunginkan kita untuk mengantisipasikan bahwa Kristen Ortodoks Russia, yang pada saat ini adalah pemimpin dari dunia Kristen Ortodoks, akan menjadi pemenang di dalam sebuah perang dengan NATO, yang adalah aliansi militer Rum Barat?

Apakah Al Quran mengkonfirmasi bahwa akan terdapat golongan masyarakat Kristen yang akan diakui-secara Ilahi pada Akhir-zaman sebagai pengikut-pengikut Jesus alayhissalaam? Apakah Al Quran mengkonfirmasi bahwa ketika Jesus kembali akan tetap terdapat segolongan orang-orang Kristen hadir di dunia ini yang akan menjadi Ummat-nya? Kami menjawab pertanyaan-pertanyaan ini pada Chapter berikutnya.

36

Chapter Lima,

Al Quran telah Menyatakan bahwa Segolongan Ummat dari Jesus „alayhissalaam akan Tetap Ada Hingga Akhir Dunia.

Ketika bangsa Israelit melihat Jesus ‘alayhissalaam disalib tepat di hadapan mata mereka, dan mereka semua teryakinkan bahwa dia telah mati, beberapa dari mereka yang telah menerima kelahirannya (dari ibu) perawannya dan beriman kepadanya sebagai Al Massih yang dijanjikan secara Ilahi yang ditunggu-tunggu sejak lama, pasti lah telah menangis disebabkan oleh kedukaan, sedangkan yang lainnya, mereka yang meghina ibu perawannya dan menolak klaimnya sebagai Al Massih mereka, pastilah telah bersuka cita.

Apa yang mereka saksikan tepat di hadapan mata mereka membenarkan kepada mereka, tidak ada lagi bayangan keraguan, kalau dia pasti bukanlah Al Massih, karena Taurat yang diturunkan kepada Moses, yakni Nabi Musa ‘alayhissalaam telah menyatakan bahwa siapapun yang mati dengan cara digantung adalah orang yang terkutuk oleh Tuhan (Deutronomy 21;22-23). Dikarenakan mereka melihat Jesus disalib tepat di hadapan mata mereka, sekarang telah terkonfirmasi kepada mereka kalau dia tidak mungkin bisa jadi seorang Al Massih.

Al Quran telah merekam perayaan sarkastik mereka terhadap penyaliban yang telah membenarkan bagi mereka, penolakan mereka kepada Jesus;

mereka terhadap penyaliban yang telah membenarkan bagi mereka, penolakan mereka kepada Jesus; Quran, al-Nisa, 4;157 38

Quran, al-Nisa, 4;157

38

Dan bagaimana bisa mereka membual! “Lihat, kami telah membunuh Al Massih Jesus, putra Maryam, (yang mengklaim sebagai) seorang Rasul Tuhan!” Tetapi, mereka tidak membunuhnya, dan tidak pula mereka menyalibnya, tapi hal ini dibuat nampak demikian bahwa dia telah disalib. Dan, sungguh, mereka yang memegang pandangan- pandangan yang saling berselisih setelah itu adalah benar-benar dibingungkan, tidak memiliki pengetahuan (nyata) atasnya, dan hanya mengikuti dugaan. Karena, yang pasti, mereka tidak membunuhnya.

Allah Maha Tinggi merespon tepat pada momen tersebut dengan berkata kepada Jesus alayhissalaam yang mereka lihat telah mati, tetapi yang masih hidup dan sadar. Dia berkata kepadanya;

tetapi yang masih hidup dan sadar. Dia berkata kepadanya; Quran, Ali Imran, 3;55 Perhatikan! Allah berkata;

Quran, Ali Imran, 3;55

Perhatikan! Allah berkata; “Wahai Jesus, Aku akan mengangkat jiwamu, dan Aku akan mengangkat dirimu kepada Ku, dan membersihkanmu dari kesesatan-kesesatan dan hinaan-hinaan dari mereka yang berbuat Kufr terhadap mu dan ibumu; dan Aku kemudian pada akhirnya akan menjadikan mereka yang mengikuti mu diangkat di atas mereka yang berbuat Kufr. Ketika hal itu terjadi maka pengikut-pengikutmu akan tetap berada di posisi dominasi itu terhadap musuh-musuh mereka hingga Hari Kiyamat. Pada akhirnya, kepada-Ku lah kalian akan harus kembali, dan Aku akan menghakimi di antara kalian berkaitan dengan semua yang dahulu kalian berselisih.

39

Kita mengetahui dari ayat di atas bahwa kata-kata ini dikatakan kepada Jesus alayhissalaam sebelum Allah Maha Tinggi mengambil jiwanya; sehingga dia masih hidup dan sadar. Tetapi Al Quran kemudian menyatakan bahwa rencana Ilahinya adalah untuk membuat mereka yang hadir percaya bahwa dia telah mati dengan penyaliban ketika, pada faktanya, dia akan diselamatkan dari kematian semacam itu, namun tidak satu orang pun yang akan mengetahuinya;

itu, namun tidak satu orang pun yang akan mengetahuinya; Quran, al-Nisa, 4;157 Tetapi, mereka tidaklah membunuhnya,

Quran, al-Nisa, 4;157

Tetapi, mereka tidaklah membunuhnya, dan tidak pula mereka menyalibnya, namun ini dibuat demikian agar nampak kepada mereka hal itu telah terjadi

Hanya ada satu cara bahwa Allah Maha Tinggi dapat mengabil jiwa seseorang tetapi pada saat yang bersamaan tetap menyelamatkannya dari kematian. Cara apakah itu?

Al Quran mengkonfirmasi bahwa Allah dapat mengambil jiwa dan kemudian mengembalikannya untuk periode waktu yang telah ditentukan;

dapat mengambil jiwa dan kemudian mengembalikannya untuk periode waktu yang telah ditentukan; Quran, al-Zumar, 39;42 40

Quran, al-Zumar, 39;42

40

Allah Maha Tinggi mengambil jiwa-jiwa pada saat kematian. Namun ada di antara mereka yang jiwa-jiwanya diambil ketika mereka tertidur yang, tentunya, sebagai konsekuensinya, tidak mati. Hal ini karena Allah menahan jiwa-jiwa bagi mereka yang kematiannya telah ditetapkan, dan mengembalikan jiwa-jiwa yang lain untuk periode waktu yang ditentukan. Dalam semua hal ini, perhatikan, terdapat pesan-pesan bagi mereka yang benar-benar berfikir!

Maka sekarang kami mengetahui apa yang Allah Maha Tinggi lakukan demi membuat hal itu nampak kepada mereka yang hadir kalau Jesus alayhissalaam telah mati dengan penyaliban, yakni, bahwa Allah mengambil jiwanya, dan selanjutnya mengembalikannya.

Banyak orang Muslim telah diajak untuk meyakini bahwa Allah Maha Yang Tinggi telah membuat seseorang lain untuk mengambil wujud Jesus, dan orang yang tak berdosa itu, yang tidak pernah mengklaim diri sebagai Al Massih, disalib tepat untuk alasan tersebut. Hal ini bukan saja tidak masuk akal, tetapi juga, tidak masuk akal yang berbahaya; dan mereka yang berpegang kepada keyakinan ini yang mencantumkan perbuatan yang tidak adil kepada sifat Allah Yang Maha Tinggi harus diperingatkan agar mereka mau memperjuangkannya pada Hari Penghakiman kelak.

Al Quran kemudian berlanjut memberitahu Jesus (lihat Ali Imran, 3;55 di atas) bahwa Allah Yang Maha Tinggi akan mengangkatnya kepada Dirinya, maka dia, Jesus alayhissalaam, akan tetap bersama Allah Yang Maha Tinggi dari sejak hari itu dan seterusnya. Dia juga diberitahu bahwa Allah Yang Maha Tinggi akan membersihkan dirinya dari kesesatan-kesesatan dan hinaan-hinaan yang telah dilontarkan kepadanya oleh sebagian orang-orang Israelit tersebut yang telah menolaknya dan karenanya telah berbuat Kufr.

Apa yang mengikuti kata-kata ini, yang dikatakan kepada Jesus pada saat momen kritis tersebut, adalah tentunya sangat amat penting terhadap subjek kita ini.

Allah Yang Maha Tinggi menyampaikan kepada Jesus ‘alayhissalaam kabar-kabar bahwa Dia akan mengangkat mereka yang mengikuti-nya di atas, yakni, mengangkat hingga kepada sebuah posisi dominasi, atas mereka yang menentangnya, dan ketika hal itu terjadi, mereka akan tetap pada posisi dominasi itu hingga akhir dunia.

41

Mereka yang mengikuti Jesus alayhissalaam harus diakui sebagai bagian dariUmmat- nya terlepas dari apakah mereka percaya kepada konsep Tritunggal Tuhan atau tidak. Dan maka kami menyimpulkan dengan sebuah pernyataan yang jelas dari Al Quran bahwa segolongan Ummat dari Jesus alayhissalaam akan tetap berada di dunia ini hingga Akhir Zaman.

Karena kita telah mengenali Rum di dalam Surah al-Rum dari Al Quran sebagai Ummat dari Jesus ‘alayhissalaam, sebelum perpecahan, sekarang ini bagi kita masih akan harus menentukan sisi yang mana, yakni, Rum dari Barat ataukah Rum di Konstantinopel, yang akan tetap menjadi Ummat-nya setelah perpecahan. Ketika Ummat tersebut terkenali,kita tahu bahwa orang-orang Kristen yang seperti itulah yang akan pada akhirnya mendominasi (mengalahkan) orang-orang Kristen lainnya hingga akhir sejarah.

42

Chapter Enam,

Al Quran dan sebuah Kota di sisi Laut

Bab ini mencoba untuk menjawab pertanyaan; apakah Al Quran membenarkan kebaradaan dua jenis dari masyarakat Kristen di dalam Rum sebelum Perpecahan Besar 1054 yang akan menolong kita untuk mengenali profil-profil yang membedakan keimanan mereka setelah Perpecahan? Kita tahu bahwa Rum Barat dan Rum Timur secara geografis berbeda. Dapatkah Al Quran membantu kita untuk melihat yang manakah dari kedua Rum tersbut yang merupakan Ummat Jesus alayhissalaam; dan Rum yang akan diberkati untuk mendapatkan pertolongan Ilahi dan menjadi pemenang pada kemenangan yang ke dua yang akan terjadi setelah Perpecahan Besar?

Al Quran menyatakan bahwa orang-orang Muslim akan merayakan kemenangan Rum. Dikarenakan mereka merayakan kemenangan yang pertama yang telah terjadi sebelum Hijrah sementara Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam masih berada di Mekkah, mereka akanlah pasti merayakan kemenangan Rum yang kedua pula;

akanlah pasti merayakan kemenangan Rum yang kedua pula; Quran, al-Rum, 30;4 dan pada hari kemenangan itu,

Quran, al-Rum, 30;4

dan

pada hari kemenangan itu, orang-orang yang beriman akan bersuka cita.

Kota di Sisi Laut

Sekarang kita berjalan menuju suatu bagian dari Al Quran (Surah al-„Araf, 7;163-169) yang merujuk kepada sebuah kota-di-sisi-laut

Chapter tiga dari buku ini telah mengenalkan kita kepada sebuah ‘kota yang berada di daratan dan berada dilautanyang memiliki tiga sisi dan yang sangat mudah dikenali sebagai Konstantinopel. Kemudian kita belajar dari Kebaikan Allah kepada satu bagian dari Banu Israil, yang dikenali sebagai Banu Ishaq, yang diberkati untuk menundukan kota tersebut

44

tanpa adanya peperangan. Dan sehingga sekarang kita mengetahui tentang sebuah ‘kota di sisi lautyang dikuasai oleh sebagian dari Banu Israil.

Sekarang Al Quran membawa kita kepada sebuah „kota di sisi laut‟ yang diduduki oleh segolongan orang yang termasuk kepada Banu Israil. Kita tahu bahwa mereka adalah bangsa Israelit dikarenakan mereka diwajibkan untuk patuh kepada hukum-hukum Sabbat di dalam Taurat. Kesejajaran antara kota di dalam Hadits yang dirujuk di atas, dan kota ini yang sekarang diceritakan di dalam Al Quran, sekarang cukup jelas. Namun Al Quran berlanjut untuk memberikan bukti lebih yang dengannya kota tersebut dapat dikenali.

Al Quran menceritakan masyarakat Israelit yang hidup di dalam sebuah kota-di-sisi-laut yang merupakan bangsa Israelit, namun memiliki dua-profil religius. Sementara sebagian dari mereka berusaha untuk mematuhi Allah, dan sehingga mematuhi Hukum Sabbat dengan setia, yang lainnya yang imannya hanya sedalam-kulit, tidak memiliki perasaan cemas di dalam melanggar Sabbat yang dilakukan dengan sengaja, sehingga meninggalkan Hukum Sakral tersebut;

dengan sengaja, sehingga meninggalkan Hukum Sakral tersebut; Quran, al- ‘Araf, 7;163 Tanyalah mereka, dan agar

Quran, al-‘Araf, 7;163

Tanyalah mereka, dan agar mengingatkan mereka, tentang kota yang berdiri di tepi laut; bagaimana masyarakatnnya khendak mengotori Sabbat kapanpun ikan-ikan datang kepada mereka, memecah permukaan air pada suatu hari yang padannya mereka diharuskan memelihara Sabbat dikarenakan mereka (ikan-ikan) tidak mau datang

45

kepada mereka pada hari-hari lain selain hari-Sabbat! Demikianlah Kami menguji mereka dengan cara-cara dari perbuatan lalim mereka sendiri

Taurat melarang masyarakat Israelit untuk bekerja pada Hari Sabbat; maka mereka dilarang untuk mencari ikan pada hari tersebut. Allah menguji mereka dengan membuat ikan- ikan muncul secara jelas pada perairan-perairan mereka hanya pada Hari Sabbat. Pada semua hari-hari lainnya ikan tidak mau muncul. Sehingga mereka diuji untuk melihat apakah mereka akan tetap teguh dalam mematuhi larangan mencari ikan pada Hari Sabbat, atau apakah mereka akan khendak mencari ikan, dan maka melanggar Sabbat.

mereka akan khendak mencari ikan, dan maka melanggar Sabbat. Quran, al- ‘Araf, 7;16 4 Sebagian dari

Quran, al-‘Araf, 7;164

Sebagian dari mereka melanggar Hukum Sabbat dan pergi mencari ikan. Yang lainnya yang mematuhi Hukum telah memperingati mereka tentang pelanggaran Hukum.

Sekarang ayat ini (di atas) memberitahu kita bahwa mereka yang tetap setia dalam mematuhi Hukum tersebut telah menemukan sebuah kesimpulan bahwa mereka yang melanggar Hukum telah melampaui titik di mana tidak ada jalan untuk kembali. Dan sehingga mereka bertanya kepada diri mereka sendiri; “Saudara, mengapa kalian memperingatkan orang-orang yang akan Allah hancurkan atau hukum dengan hukuman yang berat dikarenakan mereka tidak akan pernah mau merubah perbuatan dosa mereka?” Respon mereka adalah untuk menerima bahwa orang-orang yang berdosa tersebut tidak akan pernah berubah. Namun mereka berlanjut untuk menjelaskan bahwa kita melakukan hal demikian agar bisa terbebas dari kesalahan di hadapan Tuhan kalian, dan agar orang-orang yang berdosa ini mungkin dapat sadar kepada Nya.

46

Mereka telah diuji, dan sedangkan sebagiannya tetap setia kepada Allah dan mematuhi Sabbat, yang lainnya telah gagal ujian dengan melanggar Hari Sabbat. Sehingga kita ditunjukan dengan sebuah profil dari „sebuah kota di sisi laut‟ dengan dua jenis orang-orang Isaelit. Yang pertama menghormati Hukum Sabbat dan menahan diri dari mencari ikan pada Hari Sabbat, sedangkan yang kedua tidak menghormati Hukum dan pergi mencari ikan dalam pelanggaran terhadap Hukum tersebut. Ayat (di atas) kemudian menceritakan keshalehan dari golongan pertama yang memperingati golongan ke dua yang berdosa tentang perbuatan mereka. Ketika telah ditunjukan kepada mereka golongan shaleh bahwa para pelanggar Sabbat tidak akan merubah perbuatan mereka dan akan pada akhirnya menghadapi hukuman Ilahi, respon dari golongan shaleh adalah untuk menerima hukuman Ilahi yang tak- terhindarkan itu bagi golongan yang ke dua namun juga untuk memperingati mereka supaya mereka bebas dari kesalahan di hadapan Allah Maha Tinggi ketika mereka dihukum. Sehingga hal tersebut tidak dapat dihindari bahwa sebuah perpisahan antara dua golongan yang pada akhirnya akan terjadi ketika hukuman Ilahi terjadi kepada golongan yang kedua.

ketika hukuman Ilahi terjadi kepada golongan yang kedua. Quran, al- ‘Araf, 7;165 Dan karenanya, ketika golongan

Quran, al-‘Araf, 7;165

Dan karenanya, ketika golongan pendosa telah melupakan semua yang mereka telah diberitahu agar dibawa ke dalam hati, Kami menyelamatkan mereka yang telah mencoba untuk mencegah perbuatan keji itu, dan menyelimuti mereka yang telah melenceng kepada perbuatan dosa dengan penderitaan yang pedih bagi kedosaan mereka.

Mereka Dihukum Sehingga Hidup Layaknya Kera.

Allah Yang Maha Tinggi menunggu sampai golongan pendosa ini telah melewati titik di mana mereka tidak dapat kembali lagi dalam kedzaliman mereka; yang pada waktunya Dia menyelamatkan mereka yang setia kepada Nya, sedangkan menghukum mereka yang telah

47

mengkhianati dan meninggalkan Nya dan Hukum Nya dan sehingga pada hakikatnya telah menjadi golongan orang-orang yang tak-bertuhan.

telah menjadi golongan orang-orang yang tak-bertuhan. Quran, al- ‘Araf, 7;166 Kemudian, ketika mereka

Quran, al-‘Araf, 7;166

Kemudian, ketika mereka sungguh-sungguh meremehkan dalam melakukan apa yang mereka telah dilarang untuknya, Kami katakan kepada mereka; Jadilah kera yang hina!

Sedangkan sebagian yang itu dari populasi kota-di-sisi-laut yang tetap setia dalam mematuhi Sabbat berlanjut untuk tetap menjadi golongan orang-orang yang beriman, golongan lainnya yang merupakan pendosa yang keimanannya hanya sedalam-kulit sungguh- sungguh dihukum oleh Allah, dalam konsekuensi dari perbuatan dosa yang terus-menerus yang mereka perbuat dalam melanggar Sabbat, bahwa Dia mengatakan kepada mereka; “Jadilah kera yang hina!”

Al Quran membuat sebuah referensi singkat ke dua kepada peristiwa dari pelanggaran mereka terhadap Sabbat tersebut dan konsekuensi hukuman mereka di dalam Surah yang pertama;

mereka terhadap Sabbat tersebut dan konsekuensi hukuman mereka di dalam Surah yang pertama; Quran, al-Baqarah, 2:65

Quran, al-Baqarah, 2:65

48

Kalian sungguh mengetahui tentang mereka dari golongan kalian yang mengotori Sabbat, yang kemudian Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kera yang hina!”

Yang terakhir Al Quran kembali kepada subjek tersebut untuk yang ke tiga kalinya ketika ia memperingati (dalam penggalan di bawah) bahwa ia mempersiapkan hukuman yang besar dari semua peristiwa-peristiwa yang besar bahwa hukuman diberikan kepada mereka yang mencemooh jalan hidup orang-orang yang berdasar kepada Kebenaran, dan mencemooh panggilan untuk shalat bagi mereka yang melanggar Sabbat. Ayat berlanjut untuk menunjukan bahwa mereka yang melanggar Sabbat akan juga melangga hukum Riba, dan bahwa dalam melakukan hal demikian mereka akan menyembah kekuasaan-kekuasaan keji. Allah menghukum mereka dengan hukuman yang paling hebat dari semuannya ketika Dia mengubah mereka menjadi kera dan babi. Demikianlah hal ini dilanggar ketika umat manusia, yang seharusnya hidup secara terpuji dan menjunjung cara hidup yang diperintahkan bagi umat manusia, justru mulai hidup, secara hina, selayaknya kera dan babi;

justru mulai hidup, secara hina, selayaknya kera dan babi; Quran, al-Maidah, 5;60 Katakan; “Haruskan aku beritahu

Quran, al-Maidah, 5;60

Katakan; “Haruskan aku beritahu kepada kalian siapa, yang di hadapan Allah, pantas atas ganjaran yang lebih buruk dari ini? Mereka yang Allah telah tolak dan yang Dia telah kutuk, dan yang Dia telah ubah menjadi kera dan babi dikarenakan mereka menyembah kekuasaan-kekuasaan keji; golongan ini bahkan lebih buruk dalam kedudukan, dan lebih jauh lagi tersesat dari jalan yang lurus (dibandingkan para pencemooh).

Perintah Ilahi; “Jadilah kera, terhina,” dapat dimengerti dalam tiga cara.

49

Yang pertama hal ini bisa berarti bahwa bangsa manusia diubah menjadi kera secara harfiah. Kami menolak kemungkinan ini karena seorang bangsa manusia tetap seorang manusia dari sejak masa penciptaan hingga Hari Penghakiman.

Penjelasan kedua yang mungkin adalah bahwa kera hidup di dalam suatu cara hidup yang hina, dan ketika seseorang dikutuk untuk hidup seperti kera, dia kemudian akan hidup, sebagai konsekuensinya, suatu cara hidup yang hina. Kami menolak kemungkinan ini juga sebab kera tidak dapat memilih cara hidup mereka. Justru mereka hidup dengan cara hidup yang diperintahkan oleh Fitrah, dan Fitrah tidak mungkin hina.

Penjelasan ketiga yang mungkin, yang adalah penjelasan yang benar, adalah bahwa bangsa manusia telah dihormati oleh Allah Yang Maha Tinggi sampai suatu derajat bahwa para malaikat diperintahkan untuk bersujud di hadapan mereka dalam penghormatan. Ketika seorang manusia meninggalkan cara hidup yang diperintahkan bagi umat manusia dan, justru, menjalani cara hidup yang mirip dengan cara hidup kera, perbuatan semacam itulah yang terhina.

Apakah ini mungkin bagi kita untuk mengenali segolongan umat manusia yang perbuatannya seperti perbuatan kera, dan yang karenanya terhina? Di sini terdapat cara-cara yang telah siap untuk membuat pengelihatan semacam itu.

Kera tidak memiliki kesadaran akan rasa malu yang berkaitan dengan tuna-busana publik atau dari kebutuhan apapun berkaitan privasi di dalam hubungan-hubungan seksual. Namun sejak hari itu di surga ketika Adam alayhissalaam dan Istrinya menjadi sadar terhadap ke-tuna-busanaan mereka dan bersegera untuk menutupi diri mereka sendiri dengan dedaunan, umat manusia telah selalu menutup diri mereka sendiri di dalam area publik, dan telah selalu melakukan hubungan-hubungan seksual di dalam ruangan pribadi. Dia selalu melakukannya demikian dalam konsekuensi dari suatu kesadaran atas rasa malu yang dikaitkan kepada perbuatan yang sebaliknya (yang tanpa mengenakan busana).

Sekarang kita perlu mencari segolongan masyarakat yang keluar dari sebuah kota-di- sisi-laut, dan yang semestinya mematuhi Hukum Sabbat, yang akan hidup seperti kera, sambil

50

menanggalkan busana di dalam area publik, dan yang konsekuensinya akan menanggalkan kebutuhan akan ruang privasi pula ketika terlibat di dalam hubungan-hubungan seksual.

Kita dapat dengan mudah menemukan mereka ketika mereka mempromosikan kampanye-kampanye semacam itu seperti; Go topless! (ayo telanjang dada)! Pada akhirnya mereka menampilkan diri mereka betul-betul tanpa busana. Kita juga mencari mereka yang berbusana tetapi juga telanjang, dikarenakan mereka, juga, akan pada akhirnya muncul di dalam area publik dengan benar-benar tanpa busana layaknya kera! Yang terakhir kita perlu mencari bagi peradaban seperti itu yang mengalami sebuah revolusi seksual semacam itu yang pada akhirnya akan menyaksikan seks-publik.

Kami memililiki satu lagi komentar pada subjek ini sebelum kami berlanjut untuk mengidentifikasikan kota-di-tepi-laut tersebut.

Di beberapa tempat lain di dalam Al Quran ketika Allah Yang Maha Tinggi berbicara di dalam suatu cara yang serupa, Dia selalu menahan Diri dari mendeskripsikan segolongan umat manusia layaknya selain dari umat manusia. Sebagai contoh Dia mendeskripsikan di dalam ayat di bawah, segolongan orang yang akan seperti keledai, tetapi tidak pernah berkata bahwa mereka adalah keledai;

tetapi tidak pernah berkata bahwa mereka adalah keledai; Quran, al-Jumu ’ah, 62;5 Perumpamaan dari mereka yang

Quran, al-Jumu’ah, 62;5

Perumpamaan dari mereka yang dihormati dengan beban Taurat, dan kemudian gagal untuk menahan beban ini, adalah seperti keledai yang membawa beban kitab-kitab di atas punggungnya (tetapi tidak mendapat keuntungan darinya). Musibah adalah

51

perumpaan dari orang yang melenceng dalam memberikan kebohongan kepada rasul- rasul Allah karena Allah tidak menganugerahi petunjuk Nya kepada golongan dhalim semacam itu!

Di tempat lain di dalam Al Quran Allah Maha Tinggi mendeskripsikan segolongan orang yang seperti binatang ternak, tetapi tidak berkata bahwa mereka adalah binatang ternak;

tetapi tidak berkata bahwa mereka adalah binatang ternak; Quran, al- ‘Araf, 7;179 Dan sungguh kami telah

Quran, al-‘Araf, 7;179

Dan sungguh kami telah peruntukan untuk neraka kebanyakan dari Jinn dan Manusia yang memiliki hati yang dengannya mereka gagal untuk memahami kebenaran, dan mata yang dengannya mereka gagal untuk melhat, dan telinga yang dengannya mereka gagal untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak tidak, bahkan mereka lebih sesat lagi dari itu; itulah mereka, merekalah yang (benar-benar) lalai!

Allah Maha Tinggi bahkan mendeskripsikan segolongan orang sebagai seperti anjing, tetapi tidak berkata bahwa mereka adalah anjiing;

52

Quran, al- ‘Araf, 7;176 Sekarang kalau Kami benar-benar berkekhendak, Kami sungguh dapat menunjungnya dengan cara-cara

Quran, al-‘Araf, 7;176

Sekarang kalau Kami benar-benar berkekhendak, Kami sungguh dapat menunjungnya dengan cara-cara dari sana (ayat-ayat); tetapi dia selalu melekat kepada bumi dan mengikuti hasrat-hasratnya sendiri. Demikianlah, perumpamaan dia seperti seekor anjing (yang menjulurkan lidah); apabila anda mendekatinya dengan mengancam, dia akan mengangah dengan lidahnya yang terjulur; dan. Jika anda meninggalkannya sendirian, dia akan mengangah dengan lidahnya yang terjulur. Seperti itulah perumpamaan dari mereka yang tersesat dengan mengatakan kebohongan terhadap rasul-rasul Kami. Katakan (kepada mereka), kisah ini, agar mereka mau berfikir.

Sehingga kita harus berhati-hati untuk mengenali sesuatu yang menakjubkan berbeda di dalam bahasa Ilahi ketika Allah Yang Maha Tinggi menyatakan kepada segolongan umat manusia; “Jadilah kera – terhina!” Dia tidak berkata; “Jadilah seperti kera!Justru Dia berkata; “Jadilah kera!” Hal ini tidak hanya menampakan bahasa Ilahi yang paling tinggi yang digunakan terhadap umat manusia, tetapi memberikan kita izin, hamba-hamba Nya, untuk juga menggunakan bahasa ini bagi orang-orang semacam itu yang telah terkutuk untuk hidup seperti kera terhina.

Bahasa keras yang sama muncul sebagaimana yang telah digunakan untuk menceritakan segolongan pasukan dari Quraysh yang akan menyerang Imam al-Mahdi ‘alayhissalaam. Nabi Muhammad ‘salallahu ‘alayhissalaam menceritakan pasukan itu sebagai pasukan Kalb;

53

Shahih Muslim Kalb bisa jadi sebuah suku dengan nama tersebut; namun Kalb juga bisa berarti

Shahih Muslim

Kalb bisa jadi sebuah suku dengan nama tersebut; namun Kalb juga bisa berarti seekor anjing. Ini bisa saja bahwa tidak akan ada bukti dari keberadaan sebuah suku di Arabia dengan nama tersebut pada masa hadirnya Imam al-Mahdi. Bahkan jika sebuah suku semacam itu khendak direkayasa untuk peristiwa tersebut, sudah pasti bahwa pasukan yang akan menyerang Imam tidak akan berasal dari suku hasil rekayasa itu. Sebagai tambahan, kehadiran Imam akan dipancing oleh kematian seseorang yang akan hampir pasti merupakan seorang Raja Saudi, yang setelahnya keluarga istana Saudi akan terjun ke dalam sesuatu keadaan perselisihan genting mengenai kepenerusan takhta Saudi. Dikarenakan keluarga istana Saudi akan tetap menempati takhta Saudi, hal ini berlanjut bahwa akanlah pasukan mereka yang menyerang Imam al-Mahdi. Di dalam konteks inilah bahwa makna ke dua dari kata Kalb akan dengan sesuai mendeskripsikan pasukan tersebut.

Kota anakah Itu?

Sekarang akhirnya kita tiba pada momen ketika kita dapat bertanya pertanyaan; Kota manakah mungkin itu? Kota manakah yang cocok secara pas dengan profil ini secara historis? Dari kota manakah segolongan masyarakat dan sebuah peradaban muncul yang pada hakikatnya tidak-bertuhan, dikarenakan mereka dengan sengaja melanggar Hukum Ilahi, dan yang pada akhirnya akan hidup layaknya kera, dan disebut „kera‟? Kita perlu melihat ke dalam semua perihal-perihal ini ketika membuat sebuah penentuan berkaitan dengan identitas dari sebuah kota-di-sisi-laut yang disebutkan di dalam Al Quran;

membuat sebuah penentuan berkaitan dengan identitas dari sebuah kota-di-sisi-laut yang disebutkan di dalam Al Quran; 54

54

Quran, al-‘Araf, 7;167

Dan perhatikan! Tuhanmu telah memberitahu hal ini bahwa sungguh Dia akan bangkit menghadapi mereka, hingga Hari Kebangkitan, yang khendak memberikan mereka penderitaan pedih; sungguh, Tuhanmu sangat cepat dalam genjaran tetapi, sungguh, Dia (juga) maha-pengampun, pemberi rahmat.

Bagian dari populasi kota tersebut yang secara konsisten melanggar Sabbat, dan dikutuk untuk pada akhirnya hidup seperti kera bukannya sebagai umat manusia yang dihormati- secara-ilahi, lebih lanjut dikutuk oleh Allah Maha Tinggi dengan kutukan yang unik, dan sehingga memfasilitasi pengenalan kita terhadap identitas dari kota-di-sisi-laut tersebut. Makhluk keji, yang diciptakan oleh Allah Maha Tinggi agar dilepaskan ke dunia di Akhir- zaman, sekarang dilepaskan di tengah-tengah mereka dan Al Quran selanjutnya menunjukan bahwa mereka akan tetap berada di tengah-tengah mereka sebagaimana kutukan Ilahi yang juga akan berlangsung hingga Akhir Zaman. Makhluk seperti itu yang rentang-usianya berlangsung hingga Hari Akhir hanyalah Dajjal, Ya‟juj dan Ma‟juj, dan Dabbatul Ard.

Dajjal, Ya ‟juj dan Ma‟juj, dan Dabbatul Ard. Quran, al- ‘Araf, 7;168 Dan kami terbarkan mereka

Quran, al-‘Araf, 7;168

Dan kami terbarkan mereka sebagai golongan-golongan (terpisah) di seluruh bumi; sebagian dari mereka beriman, dan sebagian dari mereka tidak lebih dari itu; dan golongan kedua Kami uji mereka dengan rahmat begitu pula dengan musibah, agar mungkin mereka mau memperbaiki jalannya.

55

Sehingga ini, adalah moment ketika sebuah pemisahan yang dirancang-secara-Ilahi di dalam komunitas tersebut yang hidup di dalam kota-di-sisi-laut tersebut dimulai.

yang hidup di dalam kota-di-sisi-laut tersebut dimulai. Quran, al- ‘Araf, 7;169 Dan mereka telah digantikan oleh

Quran, al-‘Araf, 7;169

Dan mereka telah digantikan oleh generasi-generasi (baru) yang (terlepas dari) telah mewarisi surat perintah ilahi (Taurat) tetapi menggenggam kenikmatan-sekejap dari dunia fana ini dan berkata, “Kami akan diampuni”, lalu ketika mereka siaga, jika kenikmatan- sekejap semacam itu datang lagi ke hadapan mereka, menggenggamnya (dan membuat dosa lagi). Tidakkah mereka telah sungguh-sungguh berjanji melalui surat perintah ilahi (Taurat) untuk tidak menyandangi kepada Allah kecuali apa-apa yang benar, dan (tidakkah mereka) membaca lagi dan lagi semua yang ada di dalamnya? Dikarenakan kehidupan di akhirat itu lebih baik (daripada keduanya) bagi mereka semua yang sadar tentang Allah lalu, tidak akankah kalian, menggunakan akal?

Hasil akhir dari pemisahan tersebut adalah bahwa generasi-generasi selanjutnya dari bagian golongan pendosa dari populasi kota-di-sisi-laut tersebut pada akhirnya kehilangan dunia yang suci dan tetap asyik semata-mata dengan kehidupan duniawi.

Kota manakah ini? Kota manakah yang cocok dengan profil ini?

56

Jawaban kami adalah Konstantinopel; sehingga kami mengenali Rum Barat, yang berlepas dari Konstantinopel (yakni Rum Timur) dalam Perpecahan Besar 1054, sebagai yang telah melahirkan peradaban barat yang pada dasarnya tidak-bertuhan yang telah meninggalkan Hukum Sabbat. Sebagai konsekuensinya, kami lebih jauh melihat kehadiran Ya‟juj dan Ma‟juj di dalam Rum Barat, dan juga melihat Dajjal sebagai perancang yang membawa peradaban barat modern hadir ke dunia ini; dan kami melihat pula Dabbatul Ard, yang sekarang muncul di dalam peradaban ini. Terakhir, kami mengenali bahwa peradaban barat modern membawa masyarakat-masyarakatnya kepada tata cara hidup tersebut yang adalah layaknya tata cara hidup kera.

Sekarang kita dapat mengingat Hadits tentang Banu Ishaq yang menundukan sebuah kota tanpa peperangan. Satu sisi dari kota segitiga tersebut bersatu dengan daratan sedangkan dua sisi lainnya dikelilingi oleh lautan. Kami mengidentifikasikan kota tersebut sebagai Konstantinopel. Hadits memberitahu kita bahwa masyarakat dari kota tersebut akan pada akhirnya mangalami kehadiran Dajjal di tengah-tengah mereka.

Sebagai sebuah konsekuensi dari pengenalan kami terhadap identitas dari kota-di-sisi- laut yang disebutkan di dalam Al Quran sebagai Konstantinopel, dan dari hubungan antara Dajjal dan kota tersebut, sekarang kami beralih kepada sebuah studi yang tepat mengenai Perpecahan Besar yang mematahkan Rum menjadi dua bagian Rum Barat yang meninggalkan hukum suci, dan Rum Timur yang tetap berpegang-teguh dalam mematuhi hukum suci tersebut.

57

Chapter Tujuh,

Al Quran, Rum Barat dan Rum Timur

Kita telah menunjukan bahwa ketika Al Quran (Sruah al-Rum, 30;4) merujuk kepada kemenangan Rum yang akan terjadi atas perintah Allah sebelum dan sesudah, Allah Yang Maha Tinggi menunjuk kepada suatu peristiwa yang masih belum terjadi, dan dengan merujuk kepada peristiwa itulah bahwa kemenangan yang pertama akan terjadi sebelum-nya, dan yang ke dua akan terjadi sesudah-nya. Kami mengidentifikasikan bahwa peristiwa yang kemudian terjadi adalah Perpercahan Besar Rum pada 1054 yang akhirnya menjatuhkan tirai perseturuan di antara Barat dan Timur dan konsekuensi darinya Rum Barat dan Rum Timur pada akhirnya terpisah satu sama lain.

Bentrokan terakhir yang mengunci perpecahan tersebut terjadi ketika bagian barat dari Rum, yang terletak di Eropa Barat, bertindak secara sepihak untuk mengubah pernyataan fundamental dari keimanan yang telah disetujui oleh sebagian besar umat Kristen di Nicaea pada tahun 325 (lebih dari 700 tahun sebelum 1054). Dekrit Nicene tersusun dalam beberapa bagian dan digunakan pada Perundingan Nicaea Pertama (325) dan direvisi dengan tambahan- tambahan oleh Perundingan Konstantinopel Pertama (281), adalah sebuah dektrit yang merangkum keimanan ortodoks Kegerejaan Kristen dan digunakan di dalam peribadatan sebagian besar Gereja-gereja Kristen. Pencapaian utama dari Perundingan Nicaea adalah bahwa hal ini telah menyelesaikan urusan yang paling menjengkelkan bagi sebagian besar umat Kristen tentang hubungan antara Bapak dan Anak di dalam keyakinan Kristen dari suatu Tritunggal Ketuhanan.

Bapak, Anak, Ibu dan Roh Kudus

Rum Timur, yakni, Konstantinopel, berpegang kepada keyakinan bahwa Bapak adalah Tuhan yang Tertinggi, bahwa Anak tidak setara terhadap Tuhan yang Tertinggi, dan maka bahwa Roh Kudus berasal dari Bapak. Rum Barat mengubah pernyataan fundamental yang telah disepakati tersebut dengan menambahkan kepada Dektrit Nicaea deklarasi bahwa Roh Kudus berasal dari Bapak begitu pula dari Anak. Mereka melakukan hal demikian demi mengangkat sang Anak agar menjadi Tuhan yang setara dengan sang Bapak.

59

Tepat perubahan inilah yang telah diciptakan oleh Rum Barat untuk mengangkat sang Anak kepada posisi yang setara dengan sang Bapak yang Al Quran merespon kepadanya di dalam penggalan berikut;

Al Quran merespon kepadanya di dalam penggalan berikut; Quran, al-Maidah, 5;116 Perhatikan! Allah akan bertanya; Ya

Quran, al-Maidah, 5;116

Perhatikan! Allah akan bertanya; Ya Jesus, putra Maryam! Apakah kamu yang mengatakan kepada mereka, „Sembahlah aku dan ibuku sebagai Tuhan di sisi Allah‟?

Pembaca-pembaca kami sebaiknya memperhatikan dengan hati-hati bahwa Allah Yang Maha Tinggi tidak mempertanyakan Jesus alayhissalaam atas urusan-urusan lain semacam Allah Maha Tinggi melahirkan seorang anak, atau bahwa Jesus adalah anak yang dilahirkan dari Allah. Justru pertanyaan tersebut secara langsung terhubung kepada Perpecahan Besar 1054 dan usaha dari Rum Barat untuk mengangkat sang Anak kepada posisi yang setara terhadap sang Bapak.

Allah Maha Tinggi juga mempertanyakan Jesus tentang penyembahan kepada Ibunya alayhassalaam, dan di dalam perihal ini juga, Rum Barat berpisah dari Rum Konstantinopel ketika ia mengangkat Maryam kepada posisi yang di dalamnya ia menjadi sebuah obyek sesembahan. Umat Kristen Ortodoks tidak menyembah Maryam!

Al Quran juga merespon kepada keyakinan yang salah bahwa Roh Kudus berasal dari sang Anak dan sang Bapak ketika ia menyatakan bahwa Ruh (Kudus) berasal dari perintah Allah;

60

Quran, al-Isra, 7;85 Dan mereka mempertanyakan mu tentang Ruh (yakni, Ruh al Qudus atau Holy

Quran, al-Isra, 7;85

Dan mereka mempertanyakan mu tentang Ruh (yakni, Ruh al Qudus atau Holy Spirit). Katakan; Ruh tersebut berasal dari Perintah Allah; dan kalian hanya telah diberi sedikit pengetahuan tentang urusan ini

Dari keseluruhan ayat di atas Al Quran sangat kritis kepada Rum Barat, dari pada Rum Timur. Sebagai konsekuensinya haruslah terlihat bahwa Al Quran tidak memperlakukan seluruh umat Kristen (dan Yahudi) dengan cara yang sama. Justru ia mengakui bahwa sebagaian dari umat Kristen (dan Yahudi) memanglah beriman, sementara sisanya tidak;

(dan Yahudi) memanglah beriman, sementara sisanya tidak; Quran, Ali ‘Imran, 3;110 Kalau lah para Ahli Kitab

Quran, Ali ‘Imran, 3;110

Kalau lah para Ahli Kitab (yakni, Yahudi dan Kristen) beriman (kepada Muhammad sebagai seorang Nabi dari Tuhan Yang Esa dan kepada Al Quran sebagai Wahyu Nya), itu akan menguntungkan bagi mereka; di antara mereka terdapat golongan yang memiliki iman, tapi sebagian besar dari mereka adalah pelanggar sesat

Konsekuensi dari pernyataan Allah Maha Tinggi yang tidak ambigu di atas yang di dalamnya Dia telah menegaskan bahwa di antara orang-orang Kristen dan Yahudi (yakni,

61

orang-orang Ahli Kitab) terdapat mereka yang memiliki iman, sedangkan sebagian besar dari mereka adalah para pembuat dosa di dalam perbuatannya, sistem makna di dalam Al Quran atas subjek tersebut haruslah berupa satu hal yang dengannya kita dapat mengidentifikasikan dan menggariskan kedua golongan, yakni, mereka yang perbuatannya berada di dalam sikap yang konsisten dengan golongan orang-orang yang memiliki iman, dan mereka yang memiliki perbuatan yang sebaliknya.

Segolongan orang yang memiliki iman tidak akan melabuhkan perasaan-perasaan kebencian di dalam hati mereka terhadap orang-orang yang beriman kepada Allah Maha Tinggi; tidak juga segolongan orang yang memiliki iman akan menjadi kawan dan aliansi dari mereka yang hatinya diisi oleh kebencian semacam itu. Maka kita dapat dengan mudah mengidentifikasikan mereka di antara umat Kristen dan Yahudi yang adalah segolongan orang tanpa keimanan.

Al Quran cukup eksplisit mengidentifikasikan segolongan dari orang-orang Yahudi sebagai orang-orang yang hatinya akan menampakan kebencian yang hebat bagi Islam dan umat Muslim. Hal ini termanifestasi pada masa-hidup Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wasalaam, dan telah sekali lagi memanifestasikan dirinya pada zaman modern yang di dalamnya segolongan orang-orang Yahudi telah menciptakan Pergerakan Zionis;

zaman modern yang di dalamnya segolongan orang-orang Yahudi telah menciptakan Pergerakan Zionis; Quran, Al-Maidah, 5;82 62

Quran, Al-Maidah, 5;82

62

Yang paling kuat di antara orang-orang dalam permusuhannya kepada orang-orang beriman yang akan kalian temukan adalah orang-orang Yahudi dan Pagan (Musyrikun); dan yang paling dekat di antara mereka dalam kasih sayang kepada orang-orang beriman yang akan kalian temukan adalah mereka yang dengan terbuka memproklamirkan, “Kami adalah orang-orang Kristen”; dikarenakan di tengah-tengah mereka terdapat pendeta-pendeta (yang mencurahkan kehidupan mereka untuk mengajar dan mengurus aturan-aturan keagamaan) dan orang-orang yang telah memeluk kerahiban (dan sehingga melepaskan keduniawian), dan mereka tidaklah sombong.

Kami adalah Orang-orang Kristen!

Tidak saja Al Quran mengidentifikasi dalam ayat di atas golongan orang-orang Yahudi sebagai Ahli Kitab yang tidak memiliki iman, tetapi juga berlanjut untuk mengidentifikasi mereka (di antara Ahli Kitab) yang akan menampakan cinta dan kasih sayang bagi orang- orang Muslim dan sehingga juga menampakan suatu tanda penting dari keimanan. Mereka adalah segolongan orang yang dengan bangga dan bersungguh-sungguh menyatakan diri mereka bahwa; “Kami adalah orang-orang Kristen

Golongan Kristen yang menampakan cinta dan kasih sayang bagi Islam dan bagi umat Muslim sungguh muncul pada permulaan Islam ketika Negus dari Abyssinnia (yakni, yang sekarang Ethiopia) menolak permintaan dari Mekkah untuk memulangkan kembali orang- orang Muslim (yang adalah budak atau semi-budak) yang telah melarikan diri dari penganiayaan dan penindasan di Mekkah, dan telah mencari suaka di Abyssinia. Memang, ketika Negus meninggal, dan kabar kematiannya sampai kepada Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam di Madina, beliau melaksanakan sholat jenazah untuknya dari kejauhan, sehingga mengakuinya sebagai seorang Kristen yang memiliki iman kepada Allah Maha Tinggi terlepas dari sebagian keyakinan-keyakinan Kristiani-nya. Betul-betul tidak terdapat bukti dari Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam, yang melaksanakan shalat jenazah tersebut, bahwa Negus telah melepaskan keyakinannya kepada Jesus alayhissalaam sebagai anak dari Tuhan, atau bahwa dia telah berhenti menyembah Jesus; tidak pula kita mempunyai bukti semacam itu dari golongan orang-orang Kristen yang dipimpinnya. Ketika tidak terdapat bukti semacam itu dari dua sumber utama ini, bukti dari sumber-sumber sekunder tidaklah memiliki nilai keilmiahan.

63

Ini merupakan suatu kepastian bahwa golongan Kristen semacam itu akan muncul sekali lagi di dalam proses sejarah dalam bingkai-waktu yang akan sesuai dengan kemunculan golongan Yahudi Zionis yang sejaman yang menampakan kebencian paling hebat bagi Islam dan orang-orang Muslim. Permusuhan itu sangat nampak di dalam penindasan tak ber- prikemanusiaan mereka terhadap masyarakat tak-berdosa Gaza di Tanah Suci.

Ayat Al Quran memberikan tanda-tanda penting yang dengannya golongan orang-orang Kristen semacam itu yang akan sangat dekat dalam cinta dan kasih sayang kepada orang- orang Muslim akan dikenali;

Mereka akanlah segolongan masyarakat Kristen yang memelihara institusi kerahiban (keulamaan) dan yang para pendetanya, dari Patriak mereka ke bawa hingga pendeta terendah, akan menunjukan cinta dan kasih sayang yang murni bagi Islam dan orang-orang Muslim. Hal ini barang tentu tidak termasuk Vatikan dan keimanan Katolik Roma, Kegerejaan Anglican (Inggris), dan semua kegerejaan-kegerejaan Kristen lainnya di dalam Kekristenan Barat.

Mereka akanlah segolongan masyarakat Kristen yang memelihara institusi kegerejaan (kebiaraan), dan yang rahib-rahibnya akan menampakan cinta dan kasih sayang bagi Islam dan orang-orang Muslim. Hal ini sudah barang tentu tidak termasuk kekristenan Barat yang telah hampir secara total meninggalkan kegerejaan dan cara hidup kebiaraan.

Mereka akanlah segolongan masyarakat Kristen yang di dalam perbuatannya tidak terdapat arogansi kesombongan. Hal ini lagi-lagi tidak termasuk golongan orang-orang Kristen itu yang telah membawa peradaban barat modern ke dunia dengan agenda arogan yang belum pernah ada sebelumnya untuk memaksakan aturannya yang tidak adil dan menindas kepada seluruh umat manusia dengan ujung pedang yang berlumran-darah.

Mereka akanlah segolongan masyarakat Kristen yang akan secara terbuka dan bangga mengidentifikasikan diri mereka sebagai „Orang Kristen‟. Hal ini akan mengecualikan golongan orang-orang Kristen dari peradaban barat modern yang tersekularisasi yang identitas utamanya adalah bersama Negara mereka, daripada bersama agama mereka.

64

Mereka tidak mungkin berupa sejumlah kecil golongan orang-orang Kristen yang menyembah Allah sebagaimana tertulis di dalam Al Quran, dan sehingga tidak menyembah Jesus alayhissalaam sebagai orang ketiga di dalam tirnitas; dan tidak menyatakan bahwa Allah Maha Tinggi memiliki seorang anak, dst. Malah, mereka akan berupa sebuah komunitas dari masyarakat Kristen lengkap dengan para pendeta dan rahib mereka, dan sehingga dengan mudah dikenali. Seseorang tidak akan perlu untuk mencari mereka di dalam cerukan dan celah dengan sisir yang rapat!

Al Quran juga telah memberitahu kita, di dalam suatu penggalan yang sangat penting di dalam sebuah Surah yang dinamakan dengan surah masyarakat Kristen, yakni, Surah al-Rum, bahwa Rum, atau Imperium Kristen Byzantin yang pernah dikalahkan oleh orang-orang Persia, akan segera membalikan kekalahan dan menjadi pemenang;

akan segera membalikan kekalahan dan menjadi pemenang; Quran, al-Rum 30;1-5 Orang-orang Byzantin telah dikalahkan

Quran, al-Rum 30;1-5

Orang-orang Byzantin telah dikalahkan di daratan yang dekat, tetapi, kendatipun mereka kalah, dalam beberapa tahun mereka akan menang; (karena) bersama Allah lah semua kekuasaan keputusan berada, sebelumnya dan setelahnya. Dan pada hari (kemenangan) itu orang-orang beriman akan merayakan dalam (respon terhadap pertolongan Allah); (karena) Dia memeberikan pertolongan kepada siapapun yang Dia kekhendaki, sebab Dia sendirilah Yang Maha Kuasa, pemberi rahmat.

65

Penggalan dari Al Quran (di atas) berlanjut dengan menyatakan bahwa pada hari kemenangan Byzanin orang-orang Muslim akan merayakan kemenangan (Byzantin) tersebut sambil mengakui bahwa hal itu dicapai dalam konsekuensi dari pertolongan Allah. Implikasi dari hal tersebut adalah bahwa Kristen Byzantin beriman kepada Jesus alayhissalaam sebagai anak Tuhan, dan mereka menyembah Jesus sebagai seorang ke tiga di dalam Tritunggal Tuhan, dan penyembahan mereka kepada Jesus sebagai orang ke tiga dalam Tritunggal Tuhan, tidak menghalangi orang-orang Muslim untuk merayakan kemenangan Kristen tersebut, tidak pula hal itu mencegah Allah Maha Tinggi dari menolong orang-orang Kristen tersebut untuk menggapai kemengan tersebut.

Maka kepada Rum (Timur) lah bahwa Al Quran telah menunjukan ketika ia mendeklarasikan bahwa akan terdapat segolongan orang-orang Kristen yang akan paling dekat dalam cinta dan kasing sayang bagi orang-orang Muslim.

Al Quran berlanjut untuk mengecualikan segolongan orang-orang Kristen tertentu dari mereka yang akan menjadi golongan yang paling dekat dalam cinta dan kasih sayang bagi oang-orang Muslim. Ia mendeklarasikan golongan Kristen semacam itu (dan Yahudi juga) bahwa mereka tidak akan pernah puas sampai mereka berhasil dalam membuat orang-orang Muslim untuk melepaskan Islam dan, justru agar mengikut jalan hidup mereka;

Islam dan, justru agar mengikut jalan hidup mereka; Quran, al-Baqarah, 2;120 Karena, tidak akan orang-orang

Quran, al-Baqarah, 2;120

Karena, tidak akan orang-orang Yahudi senang dengan kalian, tidak pula orang-orang Kristen, kecuali kalian mengikuti jalan ajaran mereka

Sikap arogan terhadap orang-orang Muslim ini ditemukan secara eksklusif di antara Rum Barat, yaitu, golongan Kristen yang berlokasi di dalam peradaban barat modern.

66

Jangan mengambil golongan Kristen dan Yahudi semacam itu sebagai Kawan dan Aliansi kalian!

Yang terakhir Al Quran menyampaikan tindakan yang menumbangkan terhadap golongan Kristen dari Barat modern (yaitu, Rum Barat) ketika ia melarang orang-orang Muslim dari menjalin persahabatan dan aliansi dengan golongan Kristen semacam itu yang telah menjadi kawan dan aliansi bagi golongan Yahudi di dalam sebuah aliansi Judeo-Kristen;

bagi golongan Yahudi di dalam sebuah aliansi Judeo-Kristen; Quran, al-Maidah, 5;51 Wahai kalian yang telah mengapai

Quran, al-Maidah, 5;51

Wahai kalian yang telah mengapai keimanan! Jangan mengambil golongan Yahudi dan Kisten (yang semacam itu) sebagai kawan dan aliansi yang, diri mereka sendiri, adalah kawan dan aliansi dari satu sama lainnya. Dan siapapun dari kalian yang menjadi aliansi dengan mereka menjadi, sungguh, bagian dari mereka; perhatikan, Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim semacam itu.

Sangat disayangkan, kami harus menjelaskan, lagi dan lagi dan lagi, aplikasi dari metodologi yang benar yang menyampaikan makna yang benar dari ayat Al Quran yang semuanya-penting ini.

Mereka yang mengadopsi metodologi yang tidak tepat dalam mempelajari sebuah ayat dari Al Quran secara terpisah (atau berdiri-sendiri) telah menjelaskan bahwa ayat tersebut berkata golongan Yahudi dan Kristen adalah kawan dan aliansi satu sama lain.

67

Respon kritis kami yang pertama terhadap sebuah penjelasan semacam itu adalah bahwa golongan Yahudi dan Kristen tidak pernah menjadi kawan dan aliansi (atau penyokong, atau kawan pelindung) dari satu sama lainnya di sepanjang sejarah hingga zaman modern. Mereka betul-betul bukanlah kawan dan aliansi satu sama lain ketika Al Quran ini diturunkan. Pada faktanya, persahabatan dan aliansi Yahudi-Kristen tidak pernah dikukuhkan hingga pada Perundingan Kedua Vatikan (1962-65) membebaskan golongan Yahudi dari dakwaan penyaliban Jesus alayhissalaam.

Jadi penjelasan apapun dari ayat tersebt bahwa golongan Kristen dan Yahudi adalah kawan dan aliansi atau penyokong, atau pelindung satu sama lain adalah jelas-jelas salah. Justru, golongan Kristen membenci Yahudi yang mereka salahkan atas penyaliban Jesus alayhissalaam yang mereka sembah sebagai Tuhan. Orang-orang Yahudi, di sisi lain, menolak kesyirikan Kristen dalam penyembahan mereka kepada Jesus sebagai Tuhan, juga dalam pernyataan mereka bahwa Tuhan mempunyai seorang anak, dan bahwa Tuhan adalah tiga orang dalam Satu, dst.

Dalam menjelaskan ayat tersebut dalam cara yang mereka punya, terjemahan- terjemahan dan penjelasan-penjelasan ini telah membuka jalan terhadap kritik-kritik untuk menyatakan bahwa Al Quran telah membuat suatu pernyataan yang jelas-jelas keliru.

Yang kedua, bahkan hari ini setelah kemunculan misterius dari sebuah aliansi Judeo- Kristen Zionis, tidak semua golongan orang-orang Kristen dan tidak semua golongan orang- orang Yahudi adalah aliansi dari satu sama lain. Memang, sebagian besar golongan orang- orang Yahudi pada mulanya menentang Pergerakan Zionis yang mencetak aliansi Judeo- Kristen tersebut, dan hingga hari ini terdapat komunitas-komunitas Yahudi yang menolak aliansi Judeo-Kristen. Banyak orang-orang yahudi yang dibunuh dikarenakan pertentangan mereka kepada tujuan aliansi Judeo-Kristen untuk menciptakan sebuah Negara Yahudi di Tanah Suci. Terdapat banyak orang-orang Kristen pula, yang menolak aliansi ini bersama dengan orang-orang Yahudi. Ornag-orang Kristen seperti itu dan orang-orang Yahudi seperti itu hampir tidak mungkin bisa terkesan dengan sebuah Al Quran yang, menurut penjelasan ayat yang ini, membuah suatu pernyataan berkaitan dengan mereka yang jelas-jelas keliru.

68

Yang ketiga, Allah Sendiri mendeklarasikan bahwa segolongan orang-orang Kristen akan menjadi yang paling dekat dalam persahabatan dan aliansi dengan orang-orang Muslim. Hal ini telah terjadi di dalam sejarah, dan akan terulang pada masa itu (sebagaimana disebutkan sebelumnya di bagian ini) ketika orang-orang Yahudi akan kembali menampakan kebenciannya yang paling hebat bagi orang-orang Muslim. Al Quran akan berkontradiksi dengan dirinya sendiri jika ia khendak melarang persahabatan dan aliansi dengan segolongan orang yang paling dekat dalam cinta dan kasih sayang bagi orang-orang Muslim.

Justru, ayat Al Quran mengantisipasikan sebuah rekonsiliasi misterius di antara satu bagian dari dunia Kristen dan satu bagian dari dunia Yahudi yang akan kemudian mencetak sebuah aliansi Judeo-Kristen di antara diri mereka sendiri. Tidak mungkin ada keraguan bahwa Al Quran di sini merujuk kepada alians Judeo-Kristen Zionis tersebut yang bertempat tepat di jantung peradaban barat modern. Kegerejaan Katolik Roma, yang dipimpin oleh Vatikan, memainkan sebuah peran yang sangat penting sekali di dalam mencetak aliansi tersebut. Masyarakat Muslim di Bosnia, Kosovo, Macedonia, Albania, dll., nampak tidak menyadari bahwa faktanya NATO adalah pasukan militer dari aliansi Judeo-Kristen Zionis tersebut.

Dengan orang-orang Kristen yang ini dan orang-orang Yahudi yang itu lah, dan tidak dengan semua orang-orang Kristen dan tidak dengan semua orang-orang Yahudi, bahwa Al Quran telah melarang persahabatan dan aliansi.

Kami memulai dengan ayat Al Quran yang mendeskripsikan sebagian besar dari orang- orang Kristen dan Yahudi sebagai orang-orang yang dzalim. Karakter dzalim dari mereka yang memimpin Kekristenan barat cukup terbukti dalam penerimaan yang semakin tinggi kepada homoseksualitas oleh Negara-negara Kristen barat. Ketika seorang laki-laki dapat menikahi seorang laki-laki lain dan mendapatkan sebuah sertifikat legal pernikahan di dalam Kekristenan barat (yaitu, Rum Barat), masyarakat Kristen seperti itu lah yang harusnya dikenali sebagai orang-orang tanpa iman.

Kami menyimpulkan dengan mengingatkan para pengkritik kita bahwa kami tidak mesti berhadapan di dalam sebuah pencarian yang bersifat theologi untuk golongan Kristen seperti itu yang akan paling dekat dalam cinta dan kasih sayang bagi orang-orang Muslim; justru

69

kita akan mengenali mereka ketika mereka menampakan cinta dan kasih sayang itu. Kami juga mengingatkan kepada para pengkritik kami bahwa bukanlah kami, orang-orang Muslim, yang akan menentukan apakah mereka adalah orang-orang Kristen yang sebenarnya atau tidak. Justru, Al Quran menyatakan bahwa merekalah yang menyatakan diri mereka sendiri ‘orang-orang Kristen’. Ketika itu terjadi, penulis ini akan mengenali mereka sebagai golongan masyarakat Kristen yang dirujuk di dalam tersebut, merangkul mereka di dalam sebuah aliansi Muslim-Kristen, dan maju di dalam proses sejarah yang akan segera menyaksikan penakhlukan Konstantinopel, sembari meninggalkan para pengkritik penolak yang keras-kepala di belakang.

70

Chapter Delapan,

Implikasi dari Kemenangan Rum yang kedua dan Penakhlukan Konstantinopel setelah Perang Besar

Sebagaimana buku ini hampir selesai kami mengingatkan para pembaca yang ramah bahwa Al Quran menyatakan (dalam Surah al-Rum) bahwa Kristen Rum akan dua kali menjadi pemengan sebelum, juga sesudah!

Kami tidak bersetuju dengan penafsir-penafsir Al Quran yang memandang bahwa kemenangan kedua yang diramalkan terjadi pada Pertermpuran Badr. Malah, kami bersikeras bahwa Al Quran telah menyatakan bahwa Rum akan dua kali menjadi pemenang, dan kemangan pada Badr bukanlah kemenangan bagi Rum. Sebagai tambahan, interpretasi dari kemenangan kedua sebagai kemenangan Muslim di dalam Pertempuran Badr bagaimanapun caranya tidak menjelaskan perihal sebelum dan sesudah yang digunakan di dalam ayat ini.

Di dalam chapter sebelumnya kami menawarkan bukti yang substansial dari Al Quran yang secara meyakinkan telah mendemonstrasikan bahwa Rum Timur akan memenuhi janji Ilahi dari sebuah kemenangan ke dua tersebut. Kami juga menawarkan sebuah interpretasi dari penggunaan terminologi istilah sebelum dan sesudah untuk mengindikasikan bahwa kemenangan pertama Rum terjadi sebelum Perpecahan Besar, dan maka sebelum perpisahan jalan antara Rum Timur dan Rum Barat, kemenangan ke dua tersebut tidak akan datang sampai beberapa lama setelah perpisahan jalan tersebut.

Karena Al Quran memberikan informasi yang akurat yang dengannya kita dapat mengetahui kapan kemenangan pertama Rum akan terjadi, hal ini menjadi tidak mungkin jika Allah Maha Tinggi khendak meninggalkan orang-orang beriman seluruhnya di dalam kegelapan berkaitan dengan kemenangan yang kedua. Implikasinya adalah bahwa Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam pastilah telah membuat satu penyebutan tentang perang tersebut yang akan menyaksikan kemenangan kedua Rum.

Di dalam buku kami yang berjudul Al Quran, Perang Besar dan Barat, kami menyediakan bukti substansial dari Al Quran bahwa Rum Timu, yang dipimpin oleh Kristen Ortodoks Russia, akan menjadi pemenang di dalam Perang Besar tersebut melawan Rum

72

Barat. Ketika kemenangan kedua tersebut terjadi, orang-orang Muslim, yang merayakan kemenangan pertama Rum, akan kembali merayakan kemenangan yang ke dua tersebut.

Sehingga mereka akan berada di sisi yang benar dalam sejarah, sedangkan mereka yang dikendalikan kepada kegilaan kefrustasian dan amarah dikarenakan kemenangan Rum yang kedua akan terlihat berada pada sisi yang salah dalam sejarah.

Jika masyarakat yang seperti itu berada dalam penguasaan atas Konstantinopel, maka implikasi dari kemenangan Rum yang kedua seharusnya sudah jelas bagi mereka. Tetapi, di karenakan mereka akan betul-betul tercuci-otak, ini membuat perlu bagi kita untuk menjelaskan kepada mereka apa-apa yang seharusnya jelas bagi mereka; dan bahwa, memang, ini adalah satu tujuan utama dari buku ini.

Implikasi Kemanangan Rum yang ke Dua.

Hal ini seharusnya tidak sulit bagi pembaca-pembaca kami untuk mengantisipasi bahwa kemenangan Rum yang ke dua, yang orang-orang Muslim akan kembali merayakannya sebagaimana mereka telah melakukannya pada saat kemenangan yang pertama, akan membawa kedua golongan komunitas relijius ini semakin dekat satu sama lain, yakni, dunia Islam dan dunia Kristen Ortodoks, atau Rum Timur.

Kalaupun terdapat keraguan berkaitan dengan nasib dari golongan masyarakat Kristen dan Yahudi yang seperti itu yang dipandang oleh Allah Maha Tinggi sebagai orang-orang beriman, tetapi yang tidak berada di dalam Rum Timur, atau dunia Muslim, seharusnya jelas bahwa seluruh umat manusia, termasuk orang-orang Kristen dan Yahudi seperti itu, akan mengikuti hati mereka sendiri untuk bergabung dengan orang-orang Kristen Ortodoks dan Muslim ketika mereka menyaksikan kemenangan Rum yang ke dua.

Mereka, di sisi lain, yang hatinya tetap terisi dengan kebencian bagi orang-orang Muslim, juga bagi orang-orang Kristen Ortodoks, bahkan setelah kemenangan Rum yang ke dua di dalam Perang Besar, akan tertinggal di belakang sebagaimana sejarah terus bergerak menuju klimaks tertinggi ketika Al Massih yang sebenarnya kembali ke dunia untuk membereskan Al Massih yang palsu.

73

Di sana akan tetap terdapat suatu komunitas signifikan dari orang-orang Muslim, bahkan setelah Perang Besar, yang akan tetap sangat buta dan betul-betul tercuci-otak bahwa mereka akan terus melawan Rum Timur, dan akan melakukan semua hal yang mungkin yang mereka bisa untuk mencegah kedua dunia dari orang-orang yang beriman, yakni, Rum Timur dan dunia Islam, dari semakin dekatnya mereka satu sama lain. Mereka akanlah orang-orang Muslim itu yang berpihak bersama Imperium Ottoman dan yang akan tetap mengendalikan kekuasaan di Konstantinopel bahkan setelah Perang Besar.

Imperium Ottoman

Ketika Imperium Ottoman menakhlukan Konstantinopel pada 1453, dan Ummat yang menerima Jesus alayhissalaam sebagai Al Massih yang sebenarnya kehilangan ibukota mereka, orang-orang Yahudi dan aliansi Kekristenan barat mereka dengan konsisten berusaha untuk 600 tahun selanjutnya untuk meyakinkan bahwa pengendalian atas kota tersebut akan tetap bersama mereka yang dapat mencegah suatu aliansi antara orang-orang Muslim dan Kristen Ortodoks terjadi.

Mimpi buruk mereka adalah bahwa sebuah penakhlukan Akhir-zaman terhadap kota tersebut, sebagaimana yang telah diramalkan oleh Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam akan mencipatakan jalan tepat bagi aliansi semacam itu. Seharusnya hal tidak sulit bagi pembaca-pembaca kami untuk menyadari bahwa ketika Konstantinopel ditakhlukan, sebagaimana yang diramalkan oleh Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam, orang- orang Muslim akan mengembalikan Katedral Hagia Sophia kepada dunia Kristen Ortodoks dan bahwa perkembangan yang seperti itu akan memfasilitasi, jika tidak mengunci, suatu aliansi Akhir-zaman di antara mereka yang mengikuti Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam dan mereka yang mengikut Jesus, Al Massih yang sebenarnya alayhissalaam.

Mimpi buruk tambahannya adalah bahwa konsekuensi kehilangan kendali atas Bosphorus dari suatu penakhlukan Konstantinopel Akhir-zaman seperti itu, sebagaimana yang diramalkan oleh Nabi, akan membuat angkatan laut Kristen Ortodoks Russia kebebasan untuk melintas melewati Bosphorus di dalam masa-masa peperangan, dan perkembangan yang seperti itu akan memberikan implikasi strategis yang menakutkan bagi aliansi Judeo- Kristen Zionis dan bagi sapi emasnya, yaitu, Negara Zionis Israel.

74

Para pembaca kami seharusnya sekarang menyadari bahwa Konstantinopel bisa digunakan untuk mencegah terbentuknya sebuah aliansi Muslim-Kristen Ortodoks, atau membuat aliansi semacam itu terjadi. Di sinilah letaknya peran yang sangat penting sekali yang kota tersebut ditakdirkan untuk memainkannya di Akhir-zaman.

Impikasi dari kemenangan yang ke dua bagi Rum, yang orang-orang Muslim akan merayakannya, adalah bahwa hal itu akan memunculkan jurang pemisah yang besar yang akan memisahkan golongan orang-orang Muslim yang terbimbing-dengan benar dari mereka yang tersesat yang terus melawan Rum. Pada saat inilah bahwa segolongan pasukan Muslim yang diramalkan oleh Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam kemudian akan harus membebaskan Konstantinopel demi membebaskan kota tersebut dari golongan orang-orang Muslim yang dengan keras-kepala bersikeras dalam melawan Rum.

Sebuah Aliansi dari umat Muslim dan Kristen

Nabi Muhammad telah meramalkan, sebagaimana hanya seorang nabi sejati lah yang dapat meramal, bahwa Dajjal akan membuat penampakannya dalam wujud manusia segera seketika penakhlukan Konstantinopel terjadi. Sehingga kedua golongan komunitas relijius tersebut yang menunggu kembalinya Jesus, dan yang keduannya menentang Dajjal, yaitu, golongan Muslim dan Kristen (yang mematuhi Sabbat) akan butuh menggabungkan kekuatan untuk menghadapi satu musuh bersama. Penakhlukan Akhir-zaman atas Konstantinopel akan terjadi tepat untuk alasan itu, yakni, untuk membuat mereka menggabungkan kekuatan bersama untuk menghadapi satu musuh bersama.

Al Quran telah memperingatkan bahwa jika mereka tidak menggabungkankan kekuatan untuk menentang orang-orang Kuffar, akan terjadi penderitaan dan juga kerusakan dan kehancuran yang hebat di bumi;

untuk menentang orang-orang Kuffar, akan terjadi penderitaan dan juga kerusakan dan kehancuran yang hebat di bumi;

75

Quran, al-Anfal, 8;73

Orang-orang kuffar adalah aliansi (kawan) satu sama lain; kecuali kalian orang-orang yang beriman berbuat hal yang sama dengan mendirikan aliansi di antara diri kalian sendiri, penindasan akan berkuasa di bumi, dan kerusakan yang hebat.

Kami berencana untuk mengangkat subjek ini lagi Insha’ Allah, dalam buku kami yang akan datang yang berjudul Dari Jesus Al Massih yang sebenarnnya menuju Dajjal Al Massih yang palsu sebuah perjalanan di dalam Eskatologi Islam.

Konstantinopel hingga hari ini tetap sangat tersayang di hati sebagian dari dunia Kristen

yakni, dunia Kristen Ortodoks timur, sedangkan bagian dari dunia Kristen yang lainnya, yakni, Kekristenan barat, yang membuat suatu aliansi misterius dengan golongan Yahudi, telah secara konsisten berusaha untuk menolak penguasaan atas kota tersebut terhadap umat Kristen Ortodoks selama mereka masih tetap menjadi orang-orang Kristen Ortodoks.

Penulis ini berpandangan bahwa penjelasan atas permusuhan Kekristenan Barat kepada umat Kristen Ortodoks yang nampak jelas di dalam semua perihal yang berkaitan dengan Konstantinopel sekarang dapat ditemukan di dalam suatu aliansi lain. Golongan orang-orang Kristen barat telam membuat sebuah aliansi dengan golongan orang-orang Yahudi di dalam aliansi Judeo-Kristen Zionis. Umat Kristen Ortodoks, di sisi lain, telah ditakdirkan untuk membuat sebuah aliansi dengan umat Muslim.

Ketika pasukan Ottoman disiapkan untuk menyerang Konstantinopel, permohonan orang-orang Kristen yang putus asa jatuh ke atas telinga-telinga Ottoman yang tuli. Al Quran yang Agung telah memerintahkan;

Kristen yang putus asa jatuh ke atas telinga-telinga Ottoman yang tuli. Al Quran yang Agung telah

76

Quran, al-Anfal, 8;61

Namun jika mereka menginginkan perdamaian, inginkanlah engkau kepadanya pula, dan litakan keyakinan anda kepada Allah; sungguh, Dia sendirilah yang maha- mendengar, maha-mengetahui!

Pasukan Ottoman yang tidak benar itu tidak peduli bahkan seharga dua biji kacang terhadap Al Quran yang Agung dan larangannya terhadap melancarkan perang atas mereka yang mencari perdamaian. Dalam situasi keputus-asaan inilah bahwa masyarakat Kristen Ortodoks menoleh kepada saudara Kristen baratnya untuk pertolongan untk menyelamatkan kota tersebut. Tetapi Kekristenan Barat menolak untuk memberikan pertolongan apapun yang akan menyelamatkan kota tersebut kecuali para umat Kristen Ortodoks meninggalkan keimanan mereka dan menerima versi keimanan barat yang di dalamnya, pada akhirnya, seorang pria dapat menikahi seorang pria lain dan mendapatkan sertifikat pernikahan yang valid dan legal.

Di dalam situasi-situasi yang mengenaskan inilah bahwa penakhukan Ottoman atas Konstantinopel terjadi di tahun 1453. Apa yang segera terjadi setelah penakhlukan itu bahkan lebih menyedihkan. Sang Sultan Ottoman menentang Al Quran yang telah meletakan suatu kewajiban kepada umat Muslim untuk melindungi sinagog-sinagog, biara-biara, gereja-gereja dan Masajid (lihat Al Quran, al-Hajj, 22;39-41). Bukannya melindungi Hagia Sophia, sebagaimana dia diwajibkan untuk melakukannya sebagai seorang Muslim, dia dengan penuh dosa dan memalukan dan dengan sangat tercela mengubahnya menjadi sebuah Masjid.

Penakhlukan Konstantinopel yang diramalkan oleh Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam akan terjadi tepat untuk alasan ini untuk mengoreksi kesalahan besar yang telah dilakukan dengan sangat tercela oleh Sultan Ottoman di atas nama Islam. Ketika pasukan Muslim menakhlukan Konstantinopel Insya ‘Allah, hal yang paling pertama yang akan dilakukan oleh Pemimpin Muslim tersebut akanlah mengembalikan Hagia Sophia kepada dunia Kristen.

Analisis

yang

dilakukan

di

dalam

buku

ini

membenarkan

bahwa

penakhlukan

Konstantinopel yang diramalkan oleh Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam masih

77

lah belum terjadi, dan bawa ketika itu terjadi, itu akan membebaskan kota tersebut dari penguasaan golongan orang-orang Muslim seperti itu yang berpihak kepada Imperium Ottoman dan yang betul-betul tercuci-otaknya bukan-kepalang yang, terlepas dari buku-buku semacam ini yang menjelaskan subjek tersebut, mereka tidak dapat mengerti apalagi Al Quran.

Allah Maha Tinggi telah memerintahakan mereka yang memiliki iman kepada Nya untuk melancarkan Jihad yang hebat bersama Al Quran terhadap semua golongan yang menolak kebenaran;

Al Quran terhadap semua golongan yang menolak kebenaran; Quran, al-Furqan, 25;22 Jangan ikuti orang-orang Kuffar!

Quran, al-Furqan, 25;22

Jangan ikuti orang-orang Kuffar! Justru, angkatlah Jihad yang hebat terhadap mereka dengan Al Quran ini.

Itulah tepat apa yang kami telah coba di dalam buku yang sederhana ini.

Al Quran telah memberikan informasi yang membolehkan kita untuk mengenali Kebenaran berkenaan dengan subjek di dalam buku ini, dan tujuan utama kami ketika menulis subjek ini adalah untuk beralih kepada Al Quran sehingga Kebenaran itu dapat dikenali dan bahwa kesalahan dapat terbuka. Di dalam proses menyelesaikan tugas penting ini kami berharap kami telah membawa kejelasan terhadap subjek ini yang sedemikian hingga implikasi-implikasi dari penakhlukan Konstantinopel Akhir-zaman yang diramalkan sekarang dapat dimengerti dalam cara yang definitive.

Buku ini beralih menuju Al Quran untuk memberikan bukti substansial yang mendukung sebuah aliansi Akhir-zaman dari umat Kristen Ortodoks dan Muslim. Buku ini telah melakukannya ketika menjelaskan dan menginterpretasikan beberapa ayat dari Al Quran, dan ketika kembali untuk menguji-ulang ramalan-ramalan Akhir-zaman yang

78

berkaitan dengan kota Konstantinopel yang telah dikubur oleh sejarah dengan kejahatan yang bukan-kepalang semacam itu bahwa itu semua betul-betul telah dilupakan oleh semua orang kecuali umat Kristen Ortodoks.

Kalaulah penulis ini tidak memilih untuk melakoni suatu perjuangan ilmiah yang sunyi selama 25 tahun ini di dalam sebuah cabang ilmu pengetahuan yang hingga kini tidak terkenal yang disebut Eskatologi Islam, sepertinya akan terdapat sedikit keraguan bahwa sebuah buku seperti ini akan pernah ditulis oleh cendikiawan Islam manapun pada saat ini; dan sehingga, masalah yang merepotkan untuk disampaikan oleh pembaca yang cerdas adalah sebuah penjelasan atas ketidak-hadiran yang misterisus bagi eskatologi hingga kini sebagai sebuah cabang independen dari ilmu pengetahuan di dalam kesarjanaan Islami.

79

Chapter Sembilan, Dan Jesus berkata; “Namanya adalah Ahmad”

Tidak mungkin ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan buku ini selain dengan sebuah chapter yang dicurahkan untuk mendeskripsikan jalinan cinta menakjubkan yang mengikat Jesus alayhissalaam dengan Muhammad salallahu ‘alayhissalaam

Kristen, yang hatinya terisi dengan kebencian bagi orang-orang Muslim, begitu pula Muslim, yang hatinya terisi dengan kebencian bagi orang-orang Kristen, bisa mendapatkan faedah dari membaca chapter terakhir dari Konstantinopel di dalam Al Quran ini. Jika hati dari orang-orang Kristen dan Muslim seperti itu tidak berubah, jika mereka tidak mengeluarkan kebencian itu dari dalam hati mereka, mereka berdua akan ditinggalkan di belakang sebagaimana sejarah bergerak maju terus menuju sebuah kesimpulan penutup yang akan menyaksikan umat Kristen menjadi golongan yang paling dekat kepada umat Muslim dalam cinta dan kasih sayang (lihat Al Quran al-Maidah, 5;82)

Kami telah menunjukannya sebelumnya bahwa kitab-kitab wahyu kadang-kadang mengekspresikan dirinya di dalam cara-cara yang tidak dapat dimengerti kecuali diinterpretasikan, dan hal itu hanya Tuhan sendirilah yang dapat mengkonfirmasi apakah sebuah interpretasi dari kata-kata suci Nya itu valid atau tidak.

Kami telah menawarkan di dalam buku ini interpretasi kami dari beberapa ayat semacam itu dari Al Quran yang diberkati ini tetapi tidak ada yang dapat melampaui kelembutan dan kebijaksanaan Ilahi yang istimewa yang nampak di dalam subjek yang sekarang kita pergi ke dalamnya.

Allah Maha Tinggi telah menyapa Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam di dalam Al Quran di dalam beberapa cara yang berbeda. Sebagai contohnya Dia telah menyapanya sebagai ‘Abd Nya, yakni, hamba, Rasul, yakni, Utusan, Nabi, dll.; tetapi pada empat peristiwa di dalam Al Quran Allah Maha Tinggi telah menyebut sang Nabi dengan nama, „Muhammad‟, sehingga mengakui bahwa namanya yang sebenarnya adalah, memang, Muhammad;

81

Quran, Ali ‘Imran, 3;144 Muhammad tidak lebih dari seorang Utusan Allah Yang Maha Tinggi Quran,

Quran, Ali ‘Imran, 3;144

Muhammad tidak lebih dari seorang Utusan Allah Yang Maha Tinggi

tidak lebih dari seorang Utusan Allah Yang Maha Tinggi Quran, al-Ahzab, 33;40 Dan Muhammad tidak memiliki

Quran, al-Ahzab, 33;40

Dan Muhammad tidak memiliki anak laki-laki

al-Ahzab, 33;40 Dan Muhammad tidak memiliki anak laki-laki Quran, Muhammad, 77;2 Mereka yang telah mencapai keimanan

Quran, Muhammad, 77;2

Mereka yang telah mencapai keimanan dan melakukan perbuatan baik, dan telah yakin kepada apa yang telah dianugerahi kepada Muhammad karena ini adalah kebenaran dari Pemelihara mereka (akan memperoleh rahmat Allah;) Dia akan menghapuskan perbuatan-perbuatan buruk (lampau) mereka, dan akan membuat hati mereka tenang.

82

Quran, al-Fath, 48;29 Muhammad adalah Utusan dari Allah Keempat ayat Al Quran tersebut memberitahu kita

Quran, al-Fath, 48;29

Muhammad adalah Utusan dari Allah

Keempat ayat Al Quran tersebut memberitahu kita dengan sangat jelas dan dengan tanpa keambiguan apapun bahwa nama dari Nabi itu (yakni, yang kepadanya Al Quran diwahyukan), sebagaimana yang telah dikonfirasikan oleh Allah Maha Tinggi sendiri, adalah „Muhammad‟ salallahu ‘alayhi wassalaam.

Sehingga ini sangatlah mengherankan untuk berkata setidaknya, bahwa Jesus alayhissalaam menyatakan namanya dengan selain „Muhammad‟. Ini adalah ayat yang mengherankan dalam Al Quran yang di dalamnya Jesus alayhissalaam membuat pernyataan tersebut;

Jesus „ alayhissalaam membuat pernyataan tersebut; Quran, al-Saff, 61;6 Dan Jesus, putra Maryam, berkata;

Quran, al-Saff, 61;6

Dan Jesus, putra Maryam, berkata; “Wahai masyarakat Israel! Perhatikan, Aku adalah Utusan dari Allah yang dikirimkan kepada kalian, (dikirim) untuk membenarkan kebenaran dari apapun yang masih ada di dalam Taurat, dan untuk memberi (kalian)

83

kabar gembira dari seorang Utusan Allah yang akan hadir setelahku, yang namanya

akanlah Ahmad

Penjelasan yang benar dari ayat di atas adalah bahwa ketika Jesus memberikan nama „Ahmad‟, dia merujuk kepada „Muhammad‟. Pertanyaan yang masih tersisa yang akan dijawab adalah mengapa Jesus memberikan nama kepadanya sebuah nama yang berbeda dari nama yang telah dikonfirmasikan oleh Allah Maha Tinggi? Mengapa Ahmad, dan kenapa bukan Muhammad?

Interpretasi kami, yang menjawab pertanyaan ini, adalah bahwa rasa cinta yang amat kuat bagi Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam lah yang membuat Jesus alayhissalaam memberinya sebuah nama yang special yang berbeda dari nama formalnya. Ketika orang-orang mempunyai rasa cinta yang kuat kepada satu sama lainnya mereka selalu mencari sebuah nama special yang melaluinya mereka dapat memberi eskpresi kepada rasa cinta itu. Hal ini cukup umum ketika orang tua mengekspresikan rasa cintanya kepada anak- anak mereka.

Sehingga kami yakin bahwa ketika Jesus alayhissalaam kembali ke dunia ini, kapan pun beliau merujuk kepada Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam beliau akan selalu menggunakan nama khusus dari rasa cinta tersebut, yakni, „Ahmad‟, daripada nama formalnya „Muhammad‟.

Kami juga mengingatkan pembaca-pembaca kami yang bijaksana bahwa Nabi Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam meramalkan, sebagaimana hanya seorang Nabi sejati dari Tuhan lah yang dapat meramal, baha Jesus alayhissalaam pada akhirnya akan meninggal, sebagaimana semua orang sebelumnya telah meninggal, dan bahwa beliau akan kemudian dimakamkan disamping Nabi Muhammad di kota Yathrib di Arab (sekarang dikenal dengan Madina);

bahwa beliau akan kemudian dimakamkan disamping Nabi Muhammad di kota Yathrib di Arab (sekarang dikenal dengan

84

Jam’I al-Tirmidhi

Sekarang seharusnya tidak lagi sulit bagi pembaca yang arif untuk mengenali pesan Ilahi yang telah datang dari atas. Jika ini adalah derajat dari rasa cinta yang mengikat Jesus alayhissalaam dengan Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam, maka hal ini berlanjut bahwa para pengikut dari Jesus alayhissalaam dan Muhammad salallahu ‘alayhi wassalaam ditakdirkan untuk bergerak semakin dekat kepada satu sama lainnya dalam persahabatan, dalam cinta, dan pada akhirnya di dalam sebuah aliansi yang akan dengannya untuk melawan musuh-musuh bersama dari keduannya.

85

SERI MEMORIAL ANSARI

Daftar Buku-buku

1. Strategis Pentingnya Mimpi dan Pengelihatan dalam Islam;

2. Jerusalem di dalam Al Quran Sebuah Pandangan Islam terhadap Takdir Jerusalem;

3. Dinar Emas dan Dirham Perak Islam dan Masa Depan Uang;

4. Surah al-Kahf dan Zaman Modern;

5. Metodologi untuk Studi Al Quran;

6. Dajjal Al Quran dan Awwal al-Zaman;

7. Sebuah Pandangan Islam terhadap Ya‟juj dan Ma‟juj di Dunia Modern;

8. Menjelaskan Agenda Imperial Misterius Israel;

9. Dalam Pencarian Jejak Kaki Khidir di Akhir Al-Zaman;

10. Pentingnya Larangan Riba dalam Islam;

11. Larangan Riba dalam Al Quran dan Sunnah;

12. Satu Jamaah Satu Amir; Organisasi dari sebuah Komunitas Muslim di Zaman Fitan;

13. Agama Ibrahim dan Negara Israel Sebuah Pandangan dari Al Quran;

14. Strategis Pentingnya Isradan Miraj.

15. Kekhilafahan Hijaz dan Negara-negara Saudi-Wahhabi;

16. Puasa dan Kekuatan Strategis Pentingnya Berpuasa Ramadhan;

17. Metode Qurani dalam Menyembuhkan Alkoholisme dan Kecanduan Obat-obatan;

18. George Bernard Shaw dan sang Cendikiawan Islam;

19. Sebuah Respon Muslim terhadap Serangan 9/11 kepada Amerika;

20. Surah al-Kahf; Teks dan Tafsir;

21. Tanda-tanda Hari Akhri di dalam Zaman Modern;

22. Travelog Islam; Berjalan menuju Selatan dalam Misi Islam;

23. Iqbal dan Momen Kebenaran Pakistan;

24. Madinah kembali ke Panggung-utama di Akhir al-Zaman;

25. Islam dan Buddisme di dalam Dunia Modern;

26. Al Quran Perang Besar dan Barat;

27. Konstantinopel di dalam Al Quran;

28. Fondasi dan Struktur Islam Masyarakat Muslim dalam 2 volume; sebuah buku yang ditulis oleh Maulana Dr. Muhammad Fazlur Rahman Ansari.

87

Untuk memesan buku-buku di atas silahkan kunjungi Toko Buku Online kami di www.imranhosein.com

89