Anda di halaman 1dari 30

I.

IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. H

Umur : 49 tahun

Alamat : Bone

Agama : Islam

Status Perkawinan : Menikah

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Pasien masuk ke poliklinik Jiwa RSKD pada tanggal 9 April 2019 untuk pertama kalinya

diantar oleh keluarganya

II. RIWAYAT PSIKIATRI

Diperoleh dari catatan medis, autoanamnesis, dan alloanamnesis dari :

Nama : Ny. H

Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Pendidikan terakhir : SMA

Alamat : Bone

Hubungan dengan pasien: Anak


A. Keluhan Utama:

Gelisah, sulit tidur

B. Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang

1. Keluhan dan gejala

Seorang perempuan datang ke Poliklinik RSKD Dadi dengan keluhan gelisah

dan sulit untuk tidur. Keluhan pasien dirasakan semenjak kepergian daripada anaknya

sekitar 2 tahun yang lalu. Keluhan pasien dirasakan memberat sekitar 5 bulan yang lalu.

Pasien pernah terapi di bagian interna RS Bone dengan keluhan perut rasa terbakar

namun dari hasil pemeriksaan tidak didapatkan adanya kelainan yang berarti. Pasien

lebih sering menyendiri dalam kamar. Tidak didapatkan perilaku emosional berlebih

ketika pasien menyendiri. Pola makan pasien teratur, pola mandi baik namun pasien

sulit untuk memulai dan mempertahankan tidur. Pasien sering mulai tidur lebih dari jam

2 malam atau sesekali pasien tidak bisa tidur. Ketika tidak tidur pasien lebih sering

menyendiri dalam kamar. Pasien mengaku sering bermimpi akan anaknya yang telah

meninggal dan ingin ikut bersama anaknya.

Awal perubahan perilaku kurang lebih 2 tahun yang lalu setelah kepergian dari

anaknya. Pasien tidak ada gairah untuk melakukan aktivitas sehari- hari terutama

masak. Setelah kepergian anaknya, anaknya menceritakan bahwa ibunya sudah tidak

pernah masak kembali. Hubungan dengan keluarga dan lingkungan sekitar baik namun

kualitas komunikasi dengan pasien berkurang.

Hendaya Fungsi

 Hendaya dalam bidang sosial : ada

 Hendaya dalam aspek pekerjaan : ada


 Hendaya dalam penggunaan waktu senggang : ada

2. Faktor stressor psikososial : anak kandung meninggal dunia

3. Hubungan gangguan sekarang dengan gangguan riwayat penyakit fisik dan psikis

sebelumnya

 Riwayat infeksi : -

 Riwayat trauma : -

 Riwayat kejang : -

 Riwayat merokok: -

 Riwayat alkohol : -

 Riwayart NAPZA: -

C. Riwayat Gangguan Psikiatri sebelumnya

Awal perubahan perilaku kurang lebih 2 tahun yang lalu setelah kepergian dari anaknya.

Pasien tidak ada gairah untuk melakukan aktivitas sehari- hari terutama masak. Setelah

kepergian anaknya, anaknya menceritakan bahwa ibunya sudah tidak pernah masak kembali.

Pasien pernah berobat ke bagian interna RS di Bone namun tidak didapatkan hasil yang

berarti. Pasien juga pernah dibawa ke dukun dan diberi air. Pasien membaik hanya sekitar 7

hari.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi

1. Riwayat Prenatal dan Perinatal

Pasien lahir dalam normal dan cukup bulan di rumahnya pada tanggal 6-2-1970 .

Kelahiran pasien dibantu oleh dukun. Tidak ditemukan cacat lahir ataupun kelainan

bawaan. Selama kehamilan, ibu pasien dalam keadaan sehat.

2. Riwayat Masa Kanak Awal (Usia 0-3 tahun)


Di usia ini, pasien diasuh oleh kedua orang tuanya. Sejak pasien dilahirkan pasien

mendapat ASI. Pada saat bayi, pasien tidak pernah mengalami demam tinggi dan kejang.

Pasien tumbuh dan berkembang seperti anak lain seusianya. Pasien tidak mengalami

keterlambatan dalam perkembangan.

3. Riwayat Masa Kanak Pertengahan (Usia 4-11 tahun)

Saat ini, pasien masih diasuh oleh kedua orang tuanya. Pasien mulai bersekolah SD di usia

6 tahun dan dapat mengikuti pelajaran dengan baik serta memiliki banyak teman.

4. Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja (Usia 12-18 tahun)

Usia remaja, pasien masuk ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), kemudian setelah lulus

pasien tidak melanjutkan ke SLTA dikarenakan pasien telah dijodohkan.

5. Riwayat Masa Dewasa

- Riwayat Pekerjaan : Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga

- Riwayat Pernikahan : Pasien sudah menikah

- Riwayat Agama : Pasien memeluk agama Islam.

- Aktivitas Sosial : Sebelum perubahan perilaku, termasuk orang yang ramah, mudah

bergaul dengan tetangga dan keluarga yang lain.

E. Riwayat Kehidupan Keluarga

Pasien merupakan anak ke-4 dari 5 bersaudara (♀, ♀, ♂, ♀, ♀). Pasien sudah menikah.

Saat ini pasien tinggal bersama anak ke tiga dan cucu dari anak pertama pasien yang

meninggal dunia. Tidak ada riwayat penyakit yang sama di dalam keluarga pasien.
Genogram

F. Situasi Sekarang :

Pasien tinggal dengan anak ke 2 nya dan cucu dari anak pertama yang meninggal dunia .

Pasien sering menyendiri di dalam kamar. Pasien seorang ibu rumah tangga.

G. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya :

Pasien merasa dirinya sakit namun bingung harus bagaimana


III. STATUS MENTAL

A. Deskripsi Umum :

1. Penampilan : Seorang perempuan datang ke Poliklinik RSKD Dadi, wajah sesuai umur

(49 tahun), memakai baju ungu, perawakan sesuai, dan perawakan diri baik

2. Kesadaran : Berubah

3. Perilaku dan aktivitas psikomotor : Gelisah

4. Pembicaraan : - Miskin bicara

- Koheren

5. Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif

B. Keadaan Afektif (Mood), Perasaan dan Empati :

1. Mood : Bingung

2. Afek : Depresif

3. Empati : tidak dapat dirabarasakan

C. Fungsi Intelektual (Kognitif) :

1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan : pengetahuan umum dan

kecerdasan sesuai tingkat pendidikan

2. Daya konsentrasi : Terganggu

3. Orientasi :

 Orientasi waktu : Tidak terganggu

 Orientasi tempat : Tidak terganggu

 Orientasi orang : Tidak terganggu

4. Daya Ingat : Terganggu

5. Pikiran abstrak : Terganggu


6. Bakat kreatif : tidak ada

7. Kemampuan menolong diri sendiri : Terganggu

D. Gangguan Persepsi :

 Halusinasi : tidak ada

 Ilusi : tidak ada

 Depersonalisasi : tidak ada

 Derealisasi : tidak ada

 Fantasi : ingin ikut Bersama anaknya yang telah meninggal

 Mimpi : mimpi sering bertemu anaknya yang telah meninggal

E. Proses Berfikir :

1. Arus pikiran :

 Produktivitas : Miskin

 Kontinuitas : Relevan

 Hendaya Berbahasa : tidak ada

2. Isi Pikiran :

 Preokupasi : Tidak ada

 Gangguan isi pikiran : tidak ada

F. Pengendalian Impuls : Terganggu

G. Daya Nilai :

1. Norma Sosial : Terganggu

2. Uji Daya Nilai : Terganggu

3. Penilaian Realitas : Terganggu


H. Tilikan (Insight) : Tilikan derajat 5 (pasien menyadari bahwa dirinya sakit namun pasien

bingung)

I. Taraf dapat dipercaya : dapat dipercaya

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT

Pemeriksaan Fisik :

 Status Internus : TD 170/100 mmHg, N = 127 x/I, S = 36,9 oC, P = 20x/i. Konjungtiva tidak

anemis, sklera tidak icterus, jantung, paru, abdomen dalam batas normal, ekstremitas atas

dan bawah tidak ada kelainan.

 Status Neurologis

Gejala rangsang selaput otak: kaku kuduk (-), Kernig’s sign (-)/(-), pupil bulat dan isokor

2,5 mm/2,5 mm, refleks cahaya (+)/(+), fungsi motorik dan sensorik keempat ekstremitas

dalam batas normal, tidak ditemukan refleks patologis. cara berjalan kesan normal,

keseimbangan baik

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Seorang perempuan datang ke Poliklinik RSKD Dadi diantar anaknya dengan

keluhan sering menyendiri pasca meninggal nya anaknya sekitar 2 tahun yang lalu. Pasien

mengaku sulit untuk memulai tidur dan mempertahankan tidur. Pasien sering memimpikan

tentang anaknya dan ada rasa ingin ikut Bersama anaknya. Pola makan pasien dalam

kondisi baik, pola kebersihan diri pasien dalam kondisi baik.

Awal perubahan perilaku kurang lebih 2 tahun yang lalu. Selepas anaknya meninggal

dunia pasien lebih sering menyendiri dalam kamar. Keluhan pasien dirasakan memberat 5

bulan terakhir. pasien sulit untuk tidur dan berktivitas sediakala seperti sebelum

ditinggalkan anaknya.
Kesadaran berubah, perilaku dan aktivitas psikomotor gelisah, pembicaraan

terhambat, dan miski bicara. Sikap terhadap pemeriksa kooperatif. Keadaan mood bingung,

afek depresi, kesesuaian sesuai, empati tidak dapat diraba rasakan. Daya konsentrasi

terganggu, orientasi waktu, tempat dan orang tidak terganggu, daya ingat tidak terganggu,

pikiran abstrak terganggu. Tidak terdapat gangguan persepsi. Produktivitas miskin,

relevan. Tidak ada prekokupasi, tidak ada gangguan isi pikir. Norma sosial, uji daya nilai,

dan penilaian realitas terganggu. Tilikan derajat 5 (pasien menyadari penuh bahwa dirinya

sakit namun bingung). Taraf dapat dipercaya.

VI. EVALUASI MULTIAKSIAL

 Aksis I

Berdasarkan alloanamnesis dan autoanamnesis didapatkan gejala klinis bermakna yaitu

pasien mengamuk. Keadaan ini dapat menimbulkan penderitaan sosial dan pekerjaan

sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami Gangguan Jiwa.

Pada pemeriksaan status mental tidak ditemukan hendaya berat dalam menilai realita

hendaya berat dalam fungsi sosial berupa ketidakmampuan membina relasi dengan orang

lain sehingga pasien tidak mampu lagi bekerja, sehingga didiagnosis Gangguan Jiwa Non

Psikotik.

Pada pemeriksaan status internus dan neurologis tidak ditemukan adanya kelainan,

sehingga kemungkinan adanya gangguan mental organik dapat disingkirkan dan berdasarkan

PPDGJ-III didiagnosis Gangguan Jiwa Psikotik Non Organik.

Dari alloanamnesis, autoanamnesis, dan pemeriksaan status mental didapatkan adanya

perubahan afek depresif serta sering mengurung diri di dalam kamarnya, tidur terganggu,

harga diri dan kepercayaan diri yang hilang, daya konsentrasi dan perhatian berkurang,

kahilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju meningkatnya


keadaan mudah lelah dalam onset 2 tahun . Sehingga memenuhi kriteria diagnosis depresi

tanpa gejala psikotik (F32.3).

 Aksis II

Belum cukup data untuk menentukan ciri kepribadian.

 Aksis III

Tidak ada.

 Aksis IV

Stressor Psikososial : Anak Meninggal dunia

 Aksis V

GAF Scale saat ini : 50-41 (gejala berat, disabilitas berat)

VII. DAFTAR MASALAH

 Organobiologik:

Tidak ditemukan kelainan fisik bermakna, namun karena terdapat ketidakseimbangan

neurotransmitter maka memerlukan psikofarmaka.

 Psikologik:

Ditemukan adanya masalah psikologi sehingga memerlukan psikoterapi.

 Sosiologi:

Didapatkan adanya hendaya dalam bidang sosial, pekerjaan dan penggunaan waktu

senggang, sehingga memerlukan sosioterapi.

VIII. PROGNOSIS

 Ad Vitam : Bonam
 Ad Functionam : Dubia ad bonam

 Ad Sanationam : Dubia ad bonam

Faktor Pendukung Faktor Penghambat

- Stressor jelas Kontrol minum obat yang tidak baik

- Adanya dukungan keluarga terhadap

kesembuhan pasien

IX. RENCANA TERAPI

a. Psikofarmakoterapi

- Fluoxetine tab 10 mg

- Alprazolam tab 0,5 mg

b. Psikoterapi

- Suportif

Memberikan dukungan kepada pasien untuk dapat membantu pasien dalam memahami

dan menghadapi penyakitnya. Memberi penjelasan dan pengertian mengenai

penyakitnya, manfaat pengobatan, cara pengobatan, efek samping yang mungkin

timbul selama pengobatan, serta memotivasi pasien supaya mau minum obat secara

teratur.

- Sosioterapi

Memberikan penjelasan kepada orang-orang terdekat pasien sehingga bisa menerima

keadaan pasien dan memberikan dukungan moral serta menciptakan lingkungan yang

kondusif untuk membantu proses penyembuhan dan keteraturan pengobatan.


X. FOLLOW UP

Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya, tanda-tanda vital pasien

dan efektifitas terapi serta kemungkinan terjadinya efek samping dari obat yang diberikan.

XI. PEMBAHASAN

A. DEFINISI

Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan

alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk pada perubahan pola tidur

dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak

berdaya, serta gagasan bunuh diri. 4

Berdasarkan teori di atas, pada Pasien ini mengalami Depresi selama kurang lebih

dua tahun, yang ditandai dengan Pasien sering mengurung diri dalam kamar, kehilangan

minat dan gairah, afek depresi, mudah Lelah, hilangnya konsentrasi dan perhatian, dan

tidur terganggu.

B. ETIOPATOFISIOLOGI

Menurut Kaplan, faktor –faktor yang dihubungkan dengan penyebab depresi dapat dibagi

atas:

1. Faktor Biologi

Data penelitian biopsikologi menyatakan yang paling berperan dalam patofisologi

gangguan mood adalah disregulasi pada amin biogenik (norepinefrin, serotonin dan

dopamin). Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi, dan pada beberapa pasien

yang bunuh diri memiliki konsentrasi metabolik serotonin di dalam cairan

serebrospinal yang rendah serta konsentrasi tempat ambilan serotonin yang rendah di
trombosit. Beberapa pasien depresi juga memiliki respon neuroendokrin yng abnormal.

Walaupun norepinefrin dan serotonin adalah amin biogenik yan paling sering

dihubungkan dengan patofisologi depresi, dopamin juga telah diperkirakan memiliki

peranan dalam depresi. Data menyatakan bahwa aktivitas dopamin mungkin menurun

pada depresi dan meningkat pada mania.4

Faktor neurokimiawi lain seperti adenylate cyclase, phospotidylinositol dan regulasi

kalsium mungkin juga memiliki relevansi penyebab. Kelainan pada neuroendokrin

utama yang menarik perhatian dalam adalah sumbu adrenal, tiroid dan hormon

pertumbuhan. Neuroendokrin yang lain yakni penurunan sekresi nokturnal melantonin,

penurunan pelepasan prolaktin karena pemberian tryptopan, penurunan kadar dasar

folikel stimulating hormon (FSH), luteinizing hormon (LH) dan penurunan kadar

testoteron pada laki-laki.4

2. Faktor Genetik

Data genetik dengan kuat menyatakan bahwa suatu faktor penting di dalam

perkembangan gangguan mood adalah genetika. Tetapi, pola penurunan genetika

adalah jelas melalui mekanisme yang kompleks, bukan saja tidak mungkin untuk

menyingkirkan efek psikososial tetapi faktor non genetik kemungkinan memainkan

peranan kausatif dalam perkembangan gangguan mood pada sekurangnya beberapa

orang. 4

Penelitian keluarga telah menemukan bahwa kemugkinan menderita suatu gangguan

mood menurun saat derajat hubungan kekelurgaa melebar. Sebagai contoh, sanak

saudara derajat kedua (sepupu) lebih kecil kemungkinannya menderita daripada sanak

saudara derajat pertama (kakak).4


Peneltian adopsi juga telah menunjukkan bahwa orang tua biologis dari anak adopsi

dengan gangguan mood mempunyai suatu prevalensi gangguan mood yang serupa

dengan orang tua anak penderita gangguan mood yang tidak diadopsi. 4

3. Faktor Psikososial

Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan, suatu pengamatan klinis yang telah lama

direplikasi bahwa peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering

mendahului episode pertama gangguan mood daripada episode selanjutnya, hubungan

tersebut telah dilaporkan untuk pasien dengan gangguan depresi berat.4

Data yang paling mendukung menyatakan bahwa peristiwa kehidupan paling

berhubungan dengan perkembangan depresi selanjutnya adalah kehilangan orang tua

sebelum usia 11 tahun. Stressor lingkungan yang paling berhubungan dengan onset

satu episode depresi adalah kehilangan pasangan. Beberapa artikel teoritik dan dari

banyak laporan, mempermasalahkan hubungan fungsi keluarga dan onset dalam

perjalanan gangguan depresi berat. Selain itu, derajat psikopatologi didalam keluarga

mungkin mempengaruhi kecepatan pemulihan, kembalinya gejala dan penyesuaian

pasca pemulihan.4

C. EPIDEMIOLOGI

1. Insiden dan prevalensi

Gangguan depresi berat, paling sering terjadi dengan prevalensi seumur hidup sekitar

15 persen. Perempuan dapat mencapai 25 persen. Sekitar 10 persen di perawatan

primer dan 15 persen dirawat rumah sakit. 4

2. Jenis kelamin
Perempuan dua kali lipat lebih besar dibanding laki – laki. Diduga adanya perbedaan

hormon, pengaruh melahirkan, perbedaan stressor psikososial antara laki – laki dan

perempuan.4

3. Usia

Rata – rata usia sekitar 40 tahunan, hampir 50 persen awitan diantara usia 20 – 50

tahun. Gangguan depresi berat dapat timbul pada masa anak atau lanjut usia. Data

terkini menunjukkan, gangguan depresi berat diusia kurang dari 20 tahun mungkin

berhubungan dengan meningkatnya pengguna alkohol dan penyalahgunaan zat dalam

kelompok usia tersebut.4

4. Status perkawinan

Paling sering terjadi pada orang yang tidak mempunyai hubungan interpersonal yang

erat atau pada mereka yang bercerai atau pisah. Wanita yang tidak menikah memiliki

kecenderungan lebih rendah untuk menderita depresi dibandingkan dengan yang

menikah namun hal ini berbanding terbalik untuk laki – laki.4

D. GAMBARAN KLINIS

Beberapa pasien depresi terkadang tidak menyadari ia mengalami depresi dan tidak

mengeluh tentang gangguan mood meskipun mereka menarik diri dari keluarga, teman dan

aktivitas yang sebelumnya menarik bagi dirinya. Hampir semua pasien depresi (97 persen)

mengeluh tentang penurunan energi dimana mereka mengalami kesulitan menyelesaikan

tugas, mengalami hendaya di sekolah dan pekerjaan, dan menurunnya motivasi untuk

terlibat dalam kegiatan baru. Sekitar 80 persen pasien mengeluh masalah tidur, khususnya

terjaga dini hari (terminal insomnia) dan sering terbangun di malam hari karena

memikirkan masalah yang dihadapi. Kecemasan adalah gejala tersering dari depresi dan

menyerang 90 persen pasien depresi. 7


Berikut merupakan beberapa gejala depresi (ringan, sedang dan berat) berdasarkan

PPDGJ – III :1

Gejala utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat) :

- Afek depresi (sedih, murung, lesu, menangis)

- Kehilangan minat dan kegembiraan

- Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang

nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.

Gejala lainnya :6

a) Konsentrasi dan perhatian berkurang

b) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang

c) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna

d) Pandangan masa depan suram dan pesimis

e) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri

f) Tidur terganggu

g) Nafsu makan terganggu

Untuk episode depresi dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang –

kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat

dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.6

Kategori diagnosis episode depresif ringan, sedang dan berat hanya digunakan untuk

episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresif berikutnya harus diklasifikasi di

bawah salah satu diagnosis gangguan depresif berulang.6

E. DIAGNOSIS DAN KLASIFIKASI

Beberapa pasien depresi terkadang tidak menyadari ia mengalami depresi dan tidak

mengeluh tentang gangguan mood meskipun mereka menarik diri dari keluarga, teman dan
aktivitas yang sebelumnya menarik bagi dirinya. Hampir semua pasien depresi (97 persen)

mengeluh tentang penurunan energi dimana mereka mengalami kesulitan menyelesaikan

tugas, mengalami hendaya di sekolah dan pekerjaan, dan menurunnya motivasi untuk

terlibat dalam kegiatan baru. Sekitar 80 persen pasien mengeluh masalah tidur, khususnya

terjaga dini hari (terminal insomnia) dan sering terbangun di malam hari karena

memikirkan masalah yang dihadapi. Kecemasan adalah gejala tersering dari depresi dan

menyerang 90 persen pasien depresi. 7

Berikut merupakan beberapa gejala depresi (ringan, sedang dan berat) berdasarkan

PPDGJ – III :1

Gejala utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat) :

- Afek depresi (sedih, murung, lesu, menangis)

- Kehilangan minat dan kegembiraan

- Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang

nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.

Gejala lainnya :6

h) Konsentrasi dan perhatian berkurang

i) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang

j) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna

k) Pandangan masa depan suram dan pesimis

l) Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri

m) Tidur terganggu

n) Nafsu makan terganggu


Untuk episode depresi dari ketiga tingkat keparahan tersebut diperlukan masa sekurang –

kurangnya 2 minggu untuk penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat

dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung cepat.6

Kategori diagnosis episode depresif ringan, sedang dan berat hanya digunakan untuk

episode depresi tunggal (yang pertama). Episode depresif berikutnya harus diklasifikasi di

bawah salah satu diagnosis gangguan depresif berulang.6

Berikut adalah pembagian dari episode depresif :

1) Episode depresif ringan (F32.0)

Suasana perasaan mood yang depresif, kehilangan minat dan kesenangan,

dan mudah menjadi lelah biasanya dipandang sebagai gejala depresi yang paling khas;

sekurang-kurangnya dua dari ini, ditambah sekurang-kurangnya dua gejala lazim di

atas harus ada untuk menegakkan diagnosis pasti. Tidak boleh ada gejala yang berat

di antaranya. Lamanya seluruh episode berlansung ialah sekurang-kurangnya sekitar

2 minggu.5,6

Individu yang mengalami episode depresif ringan biasanya resah tentang gejalanya

dan agak sukar baginya untuk meneruskan pekerjaan biasa dan kegiatan social, namun

mungkin ia tidak akan berhenti berfungsi sama sekali.5,6

2) Episode depresif sedang (F32.1)

Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala yang paling khas yang

ditentukan untuk episode depresif ringan, ditambah sekurang-kurangnya tiga (dan

sebaiknya empat) gejala lainnya. Beberapa gejala mungkin tampil amat menyolok,

namun ini tidak esensial apabila secara keseluruhan ada cukup banyak variasi

gejalanya. Lamanya seluruh episode berlangsung minimal sekitar 2 minggu.5,6


Individu dengan episode depresif taraf; sedang biasanya menghadapi

kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga

.5,6

3) Episode depresif berat tanpa gejala psikotik (F32.2)

Pada episode depresif berat, penderita biasanya menunjukkan ketegangan

atau kegelisahan yang amat nyata, kecuali apabila retardasi merupakan ciri terkemuka.

Kehilangan harga diri dan perasaan dirinya tak berguna mungkin mencolok, dan bunuh

diri merupakan bahaya nyata terutama pada beberapa kasus berat. Anggapan di sini

ialah bahwa sindrom somatik hampir selalu ada pada episode dpresif berat.5,6

Semua tiga gejala khas yang ditentukan untuk episode depresif ringan dan

sedang harus ada, ditambah sekurang-kurangnya empat gejala lainnya, dan beberapa

diantaranya harus berintensitas berat. Namun, apabila gejala penting (misalnya agitasi

atau retardasi) menyolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu utnuk

melaporkan banyak gejalanya secara terinci. Dalam hal demikian, penentuan

menyeluruh dalam subkategori episode berat masih dapat dibenarkan. Episode

depresif biasanya seharusnya berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan tetapi

jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka mungkin dibenarkan untuk

menegakkan diagnosis dalam waktu kurang dari 2 minggu.5,6

Selama episode depresif berat, sangat tidak mungkin penderita akan mampu

meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf

yang sangat terbatas.5,6

Kategori ini hendaknya digunakan hanya untuk episode depresif berat

tunggal tanpa gejala psikotik; untuk episode selanjutnya, harus digunakan subkategori

dari gangguan depresif berulang.5,6


4) Episode depresif berat dengan gejala psikotik (F32.3)

Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2 tersebut di

atas, disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Wahamnya biasanya melibatkan

ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan pasien dapat

merasa bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya

berupa suara yang menghina atau menuduh atau bau kotoran atau daging membusuk.

Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor. Jika diperlukan, waham

atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan suasana

perasaan (mood). 5,6

5) Episode depresif lainnya (F32.8)1

6) Episode depresif YTT (F32.9)1

F. DIAGNOSIS BANDING

1. Gangguan Skizofrenia
a.
Terutama katatonik, tetapi tiap jenis skizofrenia dapat terlihat atau

menjadi depresi selama atau setelah satu episode. Adanya penyesuaian

premorbid yang buruk, gangguan proses pikir formal dengan waham yang

tersusun baik dan halusinasi yang komplek, tidak ada riwayat siklik, dan

tidak ada riwayat keluarga yang mengalami gangguan afektif, menyokong

dugaan suatu skizofrenia.4,6

2. Gangguan Skizoafektif
a.
Suatu gangguan psikotik yang memenuhi kriteria skizofrenia, tetapi

beberapa saat bertumpang tindih dengan gejala – gejala mood mayor.4,6

3. Gangguan Cemas Menyeluruh


a.
Pertama terlihat ansietas yang sangat menonjol. Pasien dengan cemas

hendaknya selalu dipertimbangkan kemungkinan adanya depresi.4,6

G. PENATALAKSANAAN

Tujuan terapi depresi adalah untuk mengurangi gejala depresi akut, meminimalkan efek

samping, memastikan kepatuhan pengobatan, membantu pengembalian ketingkat fungsi sebelum

depresi, dan mencegah episode lebih lanjut.

Berbagai obat dan teknik psikoterapi telah dikembangkan untuk memulihkan penderita

depresi. Pada sebagian besar kasus, pengobatan penderita depresi akan paling efektif dengan

mengkombinasikan pemberian obat-obatan oleh psikiater dengan pemberian psikoterapi oleh

psikolog.7

Semua pasien depresi harus mendapatkan psikoterapi dan beberapa memerlukan tambahan

terapi fisik. Kebutuhan terapi khusus bergantung pada diagnosis, berat penyakit, umur pasien, dan

respon terhadap terapi sebelumnya. Bila seseorang menderita depresi berat, maka diperlukan

seorang yang dekat dan yang dipercayainya untuk membantunya selama menjalani pemeriksaan

dan pengobatan depresi tersebut.Kadang seorang penderita depresi berat perlu rawat inap di rumah

sakit, kadang cukup dengan pengobatan rawat jalan.7,8

a. Terapi psikologi

Psikoterapi suportif selalu diindikasikan. Berikan kehangatan, empati, pengertian, dan

optimistik. Bantu pasien mengindentifikasi dan mengekspresikan hal-hal yang membuatnya

prihatin dan melontarkannya. Identifikasi faktor pencetus dan bantulah untuk mengoreksinya.

Bantulah memecahkan problem eksternal (misal pekerjaan) arahkan pasien terutama selama

episode akut dan bila pasien tidak aktif bergerak.


Terapi kognitif-perilaku Bertujuan memberikan peringanan gejala melalui perubahan

pikiran sasaran, mengidentifikasi kognisi yang menghancurkan diri sendiri, memodifikasi

anggapan salah yang spesifik dan mempermudah pengendalian diri terhadap pola pikiran. Terapi

ini juga dapat sangat bermanfaat pada pasien depresi ringan dan sedang. Diyakini oleh sebagian

orang “ketidak berdayaan yang dipelajari”, depresi diterapi dengan memberikan pasien latihan

keterampilan dan memberikan pengalaman-pengalaman sukses. Dari perpektif kognitif pasien

dilatih untuk mengenal dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif dan harapan-harapan negatif.

Terapi ini mencegah kekambuhan.8

Keluarga dan lingkungan. Memberikan penyuluhan bersama dengan pasien yang

diharapkan keluarga dapat membantu dan mendukung kesembuhan pasien.

Sosial-Budaya. Terapi kerja berupa memanfaatkan waktu luang dengan melakukan hobi

atau pekerjaan yang disukai pasien dan bermanfaat. Terapi rekreasi dapat berupa berlibur atau

bepergian kesuatu daerah yang disenangi pasien.

Religius. Bimbingan keagamaan agar pasien selalu menjalankan ibadah sesuai ajaran

agama yang dianutnya, yaitu menjalankan solat lima waktu, menegakkan amalan sunah seperti

mengaji, berzikir, dan berdoa kepada Allah SWT.

b. Terapi fisik

Pada farmakoterapi digunakan obat anti depresan, dimana anti depresan dibagi dalam

beberapa golongan yaitu :

Golongan trisiklik, seperti : amitryptylin, imipramine, clomipramine dan opipramol.

Golongan tetrasiklik, seperti : maproptiline, mianserin dan amoxapine.


Golongan MAOI-Reversibel (RIMA, Reversibel Inhibitor of Mono Amine Oxsidase-

A), seperti : moclobemide.

Golongan atipikal, seperti : trazodone, tianeptine dan mirtazepine.

Golongan SSRI (Selective Serotonin Re-Uptake Inhibitor), seperti : sertraline,

paroxetine, fluvoxamine, fluxetine dan citalopram.

Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan onset efek primer (efek klinis) sekitar

2-4 minggu, efek sekunder (efek samping) sekitar 12-24 jam serta waktu paruh sekitar 12-48 jam

(pemberian 1-2 kali perhari).3

Ada lima proses dalam pengaturan dosis, yaitu:

1. Initiating Dosage (dosis anjuran), untuk mencapai dosis anjuran selama minggu I.

Misalnya amytriptylin 25 mg/hari pada hari I dan II, 50 mg/hari pada hari III dan IV,

100 mg/hari pada hari V dan VI.

2. Titrating Dosage (dosis optimal), dimulai pada dosis anjuran sampai dosis efektif

kemudian menjadi dosis optimal. Misalnya amytriptylin 150 mg/hari selama 7 sampai

15 hari (miggu II), kemudian minggu III 200 mg/hari dan minggu IV 300 mg/hari.

3. Stabilizing Dosage (dosis stabil), dosis optimal dipertahankan selama 2-3 bulan.

Misalnya amytriptylin 300 mg/hari (dosis optimal) kemudian diturunkan sampai dosis

pemeliharaan.

4. Maintining Dosage (dosis pemeliharaan), selama 3-6 bulan. Biasanya dosis

pemeliharaan ½ dosis optimal. Misalnya amytriptylin 150 mg/hari.


5. Tapering Dosage (dosis penurunan), selama 1 bulan. Kebalikan dari initiating dosage.

Misalnya amytriptylin 150 mg/hari à 100 mg/hari selama 1 minggu, 100 mg/hari à 75

mg/hari selama 1 minggu, 75 mg/hari à 50 mg/hari selama 1 minggu, 50 mg/hari à 25

mg/hari selama 1 minggu.

Dengan demikian obat anti depresan dapat diberhentikan total. Kalau kemudian sindrom

depresi kambuh lagi, proses dimulai lagi dari awal dan seterusnya. Pada dosis pemeliharaan

dianjurkan dosis tunggal pada malam hari (single dose one hour before sleep), untuk golongan

trisiklik dan tetrasiklik. Untuk golongan SSRI diberikan dosis tunggal pada pagi hari setelah

sarapan. Pemberian obat anti depresi dapat dilakukan dalam jangka panjang oleh karena “addiction

potential”-nya sangat minimal.

Efek Samping obat anti depresi adalah:7

1. Tricyclic antidepressants.

Obat-obatan yang termasuk kedalam kelompok ini (misal Amitryptiline) sudah dipakai

bertahun tahun dan telah terbukti tidak kalah manjur dibandingkan dengan obat anti depresi yang

lebih baru. Hanya saja, karena banyaknya dan lebih kerasnya efek samping obat, maka obat

tricyclic antidepressant biasanya tidak diberikan sebelum obat jenis SSRI dicoba dan tidak

berhasil. Efek samping obat ini antara lain: penglihatan kabur, mulut kering, gangguan buang air

besar dan gangguan kencing, detak jantung cepat dan bingung. Obat jenis ini juga sering

menyebabkan penambahan berat badan.7


2. Tetracyclic.

Obat-obatan yang termasuk kedalam kelompok ini misalnya Maproptiline (Ludiomil) efek

sampingnya seperti TCA; efek samping otonomik, kardiologik relatif lebih kecil, efek sedasi lebih

kuat diberikan pada pasien yang kondisinya kurang tahan terhadap efek otonomik dan

kardiologik (usia lanjut) dan sindrom depresi dengan gejala anxietas dan insomnia yang

menonjol.8

Tabel 2. Dosis Obat Trisiklik dan Tetrasiklik pada Orang Dewasa


3.Selective serotonine reuptake inhibitors (SSRI).

Banyak dokter yang memulai pengobatan depresi dengan SSRI. Efek samping yang paling

sering adalah menurunnya dorongan seksual dan sulitnya mencapai orgasme. Berbagai efek

samping lainnya biasanya menghilang sejalan dengan penyesuaian tubuh terhadap obat-obatan

tersebut. Beberapa efek samping SSRI yang sering adalah: sakit kepala, sulit tidur, gangguan

pencernaan, dan resah/ gelisah.7

Tabel 3. Dosis Obat Selective Serotonin Reuptake Inhibitor pada Orang Dewasa

4. Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs).

Obat obatan dalam kelompok ini biasanya merupakan pilihan terakhir bila obat dari

kelompok lain sudah tidak mempan mengobati depresi. Obat obatan dalam kelompok ini bisa

menimbulkan efek samping yang serius, bahkan bisa menyebabkan kematian. Obat MAOIs

memerlukan diet ketat karena bila berinteraksi dengan makanan seperti keju, acar mentimun

(pickles) dan anggur, serta obat anti pilek (decongestant) dapat berakibat fatal. Selegiline (Emsam)

merupakan obat jenis terbaru dalam kelompok ini yang memakainya tidak dengan diminum, cukup

dengan ditempelkan di kulit. Obat selegiline mempunyai lebih sedikit efek samping dibandingkan
dengan obat MAOIs lainnya.7 Empat jenis MAOI yang sering digunakan di Amerika Serikat, yaitu

Isocarboxazid, Phenelzine, Tranylccypromine dan Selegiline.

5. Atypical antidepressant

Merupakan obat anti depresi yang tidak bisa dimasukkan kedalam kelompok obat lainnya.

Pada beberapa kasus, obat tersebut dikombinasikan untuk mengurangi efeknya terhadap tidur.

Obat terbaru dalam kategori ini adalah vilazodone (Vibryd). Obat vilazidone mempunyai efek

samping kecil terhadap dorongan seksual. Beberapa efek samping dari vilazodone yang sering

muncul adalah: mual, muntah, mencret dan sulit tidur.7

6. Obat obatan lainnya.

Dokter mungkin mengobati depresi dengan obat obat lainnya, misalnya dengan obat

stimulant, obat untuk menstabilkan suasana hati (mood), obat anti cemas/ anxiety, dan obat anti

psikotik. Pada beberapa kasus, dokter mungkin mengkombinasikan beberapa obat agar dihasilkan

efek yang optimal. Strategi ini dikenal sebagai augmentation (penguatan/ tambahan).7
Algoritma pengobatan farmakoterapi episode depresi sedang atau berat tanpa ada kontrindikasi

terhadap antidepresan.

Gambar 1. Algoritma Pengobatan Farmakoterapi Episode Depresi Sedang/ Berat12


H. PROGNOSIS

Gangguan depresi berat bukan merupakan gangguan yang ringan. keeadaan ini cenderung

merupakan gangguan yang kronis dan pasien cenderung mengalami relaps. Pasien yang dirawat

di rumah sakit untuk episode pertama gangguan depresif memiliki kemungkinan 50 % untuk pulih

di dalam tahun pertama.

Rekurensi episode depresi berat juga sering, kira-kira 30 sampai 50% dalam dua tahun

pertama dan kira-kira 50% sampai 70% dalam 5 tahun. Insidensi relaps adalah jauh lebih rendah

dari pada angka tersebut pada pasien yang meneruskan terapi psikofarmakologis profilaksis dan

pada pasien yang hanya mengalami satu atau dua episode depresi.
DAFTAR PUSTAKA

4. Kaplan, Harold I, Benjamin, J Saddock and Jack A. Grebb 2010, Sinopsis Paikiatri
Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis, Jilid II, Terjemahan, Jakarta: Binarupa
Aksara
5. Departemen Kesehatan RI. Manajemen Stress, Cemara dan Depresi . Jakarta FKMUI
2005
6. Maramis, Willy F., dan Maramis, Albert A (2009), Ilmu Kedokteran Jiwa, Surabaya:
Airlangga.
7. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: FKUI. Felicia Risca Ryandini, S. H., & Meikawati, W.
(2011)