Anda di halaman 1dari 24

BAGIAN DENTAL PUBLIC HEALTH

“UKGS dan UKGM”

Diajukan untuk memenuhi syarat dalam melengkapi


Kepaniteraan Klinik di Bagian Dental Public Health

Oleh:
IHUT HAMONANGAN (19-086)
Pembimbing : drg. Satria Yandi, MDSc

RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
PADANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan

karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan”Promkes: UKGS &

UKGM”untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan kepanitraan

klinik modul dental public health.

Dalam penulisan laporan kasus ini penulis menyadari, bahwa semua proses

yang telah dilalui tidak lepas dari bimbingan drg. Satria Yandi, MDSc.selaku

dosen pembimbing, bantuan, dan dorongan yang telah diberikan berbagai pihak

lainnya. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang

telah membantu.

Penulis juga menyadari bahwa laporan kasus ini belum sempurna

sebagaimana mestinya, baik dari segi ilmiah maupun dari segi tata bahasanya,

karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan dari pembaca.

Akhir kata penulis mengharapkan Allah SWT melimpahkan berkah-Nya

kepada kita semua dan semoga laporan kasus ini dapat bermanfaat serta dapat

memberikan sumbangan pemikiran yang berguna bagi semua pihak yang

memerlukan.

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Tujuan pembangunan kesehatan adalah terciptanya masyarakat Indonesia
yang hidup dan berperilaku dalam lingkungan sehat dan mampu menjangkau
pelayanan kesehatan yang bermutu. Di pihak lain pelayanan kesehatan yang
diberikan di seluruh wilayah Indonesia harus dilakukan secara adil, merata, dan
optimal (Kementerian Kesehatan RI, 2012).
Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, telah ditetapkan 4 (empat) misi
pembangunan kesehatan, yaitu: (1) Menggerakkan pembangunan nasional
berwawasan kesehatan.(2) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup
sehat. (3) Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu,
merata dan terjangkau. (4) Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu,
keluarga, masyarakat beserta lingkungannya. (Kementerian Kesehatan RI, 2012).
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian integral dari pelayanan
kesehatan secara keseluruhan telah menetapkan indikator status kesehatan gigi
dan mulut masyarakat yang mengacu pada Global Goals for Oral Health 2020
yang dikembangkan oleh FDI, WHO dan IADR. Salah satu program teknis dari
Departemen of Non-communicable Disease Prevention and Health Promotion
yang mewadahi program kesehatan gigi dan mulut secara global adalah WHO
Global Oral Health Programme (GOHP). Program ini menyarankan negara-negara
di dunia untuk mengembangkan kebijakan pencegahan penyakit gigi dan mulut
serta promosi kesehatan gigi dan mulut. Kebijakan ini juga mendukung integrasi
program kesehatan gigi dan mulut dengan program kesehatan umum.
Berdasarkan undang-undang no: 36 tahun 2009 tentang kesehatan,
pelayanan keseghatan gigi dan mulut dilakukan untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk peningkatan kesehatan
gigi, pencegahan penyakit gigi, pengobatan penyakit gigi dan pemulihan
kesehatan gigi yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan.
Tidakan yang dapat dilakukan untuk pengembangan kesehatan gigi dan mulut
antara lain:
1. Upaya promosi pencegahan dan pelayanan kesehatan gigi dasar di
puskesmas.
2. Upaya promosi pencegahan dan pelayanan kesehatan gigi perorangan di
rumah sakit
3. Upaya promosi pencegahan dan pelayanan kesehatan di sekolah melalui
Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) dari tingkat TK sampai SLTA
yang terkoordinir dalam UKS.
4. Upaya kesehatan yang berbasis masyarakat dalam bentuk Usaha
Kesehatan Gigi Masyarakat(UKGM)
5. Membangun kemitraan kesehatan gigi dan mulut.

1.2 Rumusan Masalah


1. Mengetahui bagaimana promkes UKGS?
2. Mengetahui bagaimana promkes UKGM?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Upaya Kesehatan Gigi Sekolah


2.1.1 Pengertian UKGS
Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) adalah upaya kesehatan
masyarakat yang ditujukan untuk memelihara, meningkatkan kesehatan gigi dan
mulut seluruh peserta didik di sekolah binaan yang ditunjang dengan upaya
kesehatan perorangan berupa upaya kuratif bagi individu (peserta didik) yang
memerlukan perawatan kesehatan gigi dan mulut (Kementerian Kesehatan RI,
2012).
Upaya Kesehatan Masyarakat pada UKGS berupa kegiatan yang
terencana, terarah dan berkesinambungan (Kementerian Kesehatan RI, 2012).
a. Intervensi perilaku yaitu:
• Penggerakan guru, dokter kecil, orang tua murid melalui
lokakarya/pelatihan.
• Pendidikan kesehatan gigi oleh guru, sikat gigi bersama dengan
menggunakan pasta gigi berfluor, penilaian kebersihan mulut
oleh guru/dokter kecil.
• Pembinaan oleh tenaga kesehatan.
b. Intervensi lingkungan
• Fluoridasi air minum (bila diperlukan)
• Pembinaan kerjasama lintas program/lintas sektor melalui TP
UKS.
Upaya kesehatan perorangan pada UKGS berupa intervensi individu pada
peserta didik yang membutuhkan perawatan kesehatan gigi dan mulut meliputi
surface protection, fissure sealant, kegiatan skeling, penambalan dengan metode
ART (Atraumatic Restorative Treatment technique) penambalan, pencabutan,
aplikasi fluor atau kumur-kumur dengan larutan yang mengandung fluor, bisa
dilaksanakan di sekolah, di Puskesmas atau di praktek dokter gigi
perorangan/dokter gigi keluarga (Kementerian Kesehatan RI, 2012).
2.1.2 Tujuan
Tujuan Umum:
Tercapainya derajat kesehatan gigi dan mulut peserta didik yang optimal.
Tujuan Khusus:
a. Meningkatnyapengetahuan, sikap dan tindakan peserta didik dalam memelihara
kesehatan gigi dan mulut.
b. Meningkatnya peran serta guru, dokter kecil, orang tua dalam upaya promotif-
preventif.
c. Terpenuhinya kebutuhan pelayanan medik gigi dan mulut bagi peserta didik
yang memerlukan.
2.1.3 Sasaran
Sasaran pelaksanaan dan pembinaan UKGS meliputi:
1. Sasaran primer: peserta didik (murid sekolah) TK–SD-SMP-SMA dan sederajat
2. Sasaran sekunder: guru, petugas kesehatan, pengelola pendidikan, orang tua
murid serta TP UKS disetiap jenjang.
3. Sasaran tersier:
a. Lembaga pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah sampai pada sekolah
lanjutan tingkat atas, termasuk perguruan agama serta pondok pesantren
beserta lingkungannya.
b. Sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan.
c. Lingkungan, yang meliputi :
• Lingkungan sekolah
• Lingkungan keluarga
• Lingkungan masyarakat
2.1.4 Strategi
a. UKGS Tahap I (Satu)/ Paket Minimal UKGS
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut untuk murid SD dan MI yang belum
terjangkau oleh tenaga dan fasilitas kesehatan gigi.
Tim Pelaksana UKS di SD dan MI melaksanakan kegiatan yaitu :
1. Pelatihan kepada guru Pembina UKS dan dokter kecil tentang
pengetahuan kesehatan gigi dan mulut secara terintegrasi. Pelatihan
dilaksanakan oleh dinas pendidikan dengan nara sumber tenaga kesehatan
gigi.
2. Pendidikan dan penyuluhan kesehatan gigi dilaksanakan oleh guru
penjaskes/guru pembina UKS/dokter kecil sesuai dengan kurikulum yang
berlaku (Buku Pendidikan Olahraga dan Kesehatan) untuk semua murid
kelas 1-6, dilaksanakan minimal satu kali tiap bulan
3. Pencegahan penyakit gigi dan mulut dengan melaksanakan kegiatan sikat
gigi bersama setiap hari minimal untuk kelas I, II, dan III dibimbingoleh
guru dengan memakai pasta gigi yang mengandung fluor (Kementerian
Kesehatan RI, 2012).
b. UKGS Tahap II (dua)/Paket Standar UKGS
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut untuk murid SD dan MI sudah
terjangkau oleh tenaga dan fasilitas kesehatan gigi yang terbatas, kegiatannya
adalah:
1. Pelatihan kepada guru Pembina UKS dan dokter kecil tentang pengetahuan
kesehatan gigi dan mulut secara terintegrasi. Pelatihan dilaksanakan oleh
dinas pendidikan dengan nara sumber tenaga kesehatan gigi.
2. Pendidikan dan penyuluhan kesehatan gigi dilaksanakan oleh guru
penjaskes /guru pembina UKS/ dokter kecil sesuai dengan kurikulum yang
berlaku (Buku Pendidikan Olahraga dan Kesehatan) untuk semua murid
kelas 1-6, dilaksanakan minimal satu kali tiap bulan
3. Pencegahan penyakit gigi dan mulut dengan melaksanakan kegiatan sikat
gigi bersama setiap hari minimal untuk kelas I, II, dan III dibimbing oleh
guru dengan memakai pasta gigi yang mengandung fl uor.
4. Pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit oleh guru.
5. Penjaringan kesehatan gigi dan mulut untuk kelas I pada awal tahun ajaran
diikuti dengan pencabutan gigi sulung yang sudah waktunya tanggal,
dengan persetujuan tertulis (informed consent) dari orang tua dan tindakan
dilakukan oleh tenaga kesehatan gigi.
6. Surface protection pada gigi molar tetap yang sedang tumbuh (dilakukan
di sekolah atau dirujuk sesuai kemampuan), bila pada penjaringan murid
kelas I dijumpai murid dengan gigi tetap ada yang karies atau bila gigi
susu karies lebih dari 8 gigi dilakukan fi ssure sealant pada gigi molar
yang sedang tumbuh.
7. Rujukan bagi yang memerlukan (Kementerian Kesehatan RI, 2012).
c. UKGS Tahap III / Paket Optimal UKGS
Pelatihan kepada guru Pembina UKS dan dokter kecil tentang
pengetahuan kesehatan gigi dan mulut secara terintegrasi. Pelatihan dilaksanakan
oleh dinas pendidikan dengan nara sumber tenaga kesehatan gigi.
1. Pendidikan dan penyuluhan kesehatan gigi dilaksanakan oleh guru
penjaskes/guru pembina UKS/dokter kecil sesuai dengan kurikulum yang
berlaku (Buku Pendidikan Olahraga dan Kesehatan ) untuk semua murid
kelas 1-6, dilaksanakan minimal satu kali tiap bulan.
2. Pencegahan penyakit gigi dan mulut dengan melaksanakan kegiatan sikat
gigi bersama setiap hari minimal untuk kelas I, II, dan III dibimbing oleh
guru dengan memakai pasta gigi yang mengandung fl uor.
3. Pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit oleh guru.
4. Penjaringan kesehatan gigi dan mulut untuk kelas I pada awal tahun ajaran
diikuti dengan pencabutan gigi sulung yang sudah waktunya tanggal,
dengan persetujuan tertulis (informed consent) dari orang tua dan tindakan
dilakukan oleh tenaga kesehatan gigi.
5. Surface protection pada gigi molar tetap yang sedang tumbuh pada murid
kelas 1 dan 2 atau dilakukan fi ssure sealant pada gigi molar yang sedang
tumbuh.
6. Pelayanan medik gigi dasar atas permintaan pada murid kelas I sampai
dengan kelas VI (care on demand).
7. Rujukan bagi yang memerlukan (Kementerian Kesehatan RI, 2012).
2.1.5 Langkah- Langkah
1. Persiapan
Kegiatan dijalankan dalam rangka mempersiapkan suasana yang
mendukung kelancaran program, mencakup:
a. Pengarahan dan forum komunikasi berjenjang, dengan unitunit lintas
program dan lintas sektoral yang ada kaitannya dengan pelayanan
kesehatan gigi dan mulut di SD dan MI, diselenggarakan di bawah
koordinasi atau koordinator kesehatan gigi dan mulut di Tingkat Pusat,
Dinas Kesehatan Propinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
(Kementerian Kesehatan RI, 2012).
b. Pada tingkat Puskesmas
1) Penjelasan dan pengarahan kepada pimpinan Puskesmas serta staf
pelaksanaan teknis, oleh koordinator kesehatan gigi dan mulut Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.
2) Penjelasan kepada unit Diknas dan unit Komite Sekolah Kecamatan oleh
Pimpinan Puskesmas/Pelaksanaan Teknis.
3) Perencanaan bersama menentukan SD dan MI sasaran operasional.
4) Pendekatan kepada para guru SD dan MI sebagai sasaran operasional,
karena guru merupakan orang yang berpengaruh (key person) dalam
proses merubah perilaku murid. Karena itu hubungan baik dengan para
guru harus dibina terlebih dahulu oleh pelaksana teknis
5) Penjelasan kepada orang tua murid/Komite Sekolah melalui Kepala
Sekolah dan atau guru kelas (Kementerian Kesehatan RI, 2012).
2.1.6 Pelaksanaan Lapangan
Pelaksanaan lapangan mencakup perangkat kegiatan yang dilaksanakan
pada tingkat Puskesmas, yang terdiri atas:
a. Pengumpulan data
1) Data dasar untuk keperluan perencanaan operasional meliputi:
a) Jumlah SD dan MI, murid dan guru
b) Data tentang situasi pelaksanaan UKS berdasarkan paket UKS
c) Data tentang situasi pelayanan kesehatan gigi dan mulut di SD dan MI
khususnya sehubungan dengan persentase sekolah menurut pentahapan
UKGS.
2) Data untuk evaluasi dampak program terhadap profil kesehatan gigi dan
mulut murid
a) Oleh tenaga kesehatan
b) Oleh guru
b. Intervensi perilaku
1) Penggerakan peran serta guru melalui lokakarya/pelatihan
2) Penyuluhan kepada murid berupa:
a) Latihan menggosok gigi
b) Pengajaran formal tentang kesehatan gigi dan mulut
c) Penilaian kebersihan mulut oleh guru, melalui pemeriksaan rutin
d) Penyuluhan oleh tenaga kesehatan secara insidental.
c. Intervensi medis teknis/perorangan
1) Pembuangan karang gigi
2) Pemeriksaan mulut, pengobatan sementara
3) Aplikasi fluor
a) Melalui pasta gigi yang memenuhi persyaratan
b) Untuk daerah khusus intensifi kasi melalui kumurkumur dengan larutan
yang mengandung fluor aktif atau pemberian tablet fluor.
4) Surface protection, fissure sealant, kegiatan skeling, penambalan dengan
metode ART (Atraumatic Restorative Treatment technique), pencabutan,
rujukan.
d. Manajemen
1) Supervisi dan bimbingan teknis
a) Kunjungan pembinaan ke SD dan MI, minimal 1x sebulan
b) Kunjungan supervisi dan pembinaan ke Puskesmas oleh koordinator
kesehatan gigi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau kunjungan
supervisi oleh penanggung jawab program kesehatan gigi dan mulut
Dinas Kesehatan Propinsi ke Kabupaten/Kota minimal 1x dalam 1
triwulan, dan supervisi dari penanggung jawab program kesehatan gigi
dan mulut pusat ke daerah minimal 1 x 1 tahun.
2) Pelaporan
3) Penilaian (Evaluasi)
Penilaian (evaluasi) UKGS ini dilaksanakan beberapa komponen:
a) Komponen kegiatan (Proses) Meliputi penilaian tentang pelaksanaan
lapangan, antara lain frekuensi pelaksanaan intervensi perilaku,
frekuensi pelaksanaan supervisi dan bimbingan teknis per minggu
(bulan).
b) Komponen karya cipta (Output) Meliputi penilaian volume pelayanan
antara lain jumlah murid yang diberi pelayanan medik gigi, jumlah
murid yang diberi penyuluhan, per minggu (bulan)
c) Komponen hasil antara (Outcome) Meliputi penilaian tentang
perubahan sikap dan perilaku antara lain jumlah murid yang melakukan
sikat gigi dengan benar, jumlah murid memanfaatkan fasilitas
pelayanan kesehatan gigi dan mulut sesuai kebutuhan.
d) Komponen dampak (Impact) Meliputi penilaian survei perubahan
dalam status kesehatan gigi dan mulut murid.
• Kebersihan gigi dan mulut murid (OHIS)
• Pengalaman karies gigi (DMF-T)
• Kondisi gusi
4) Pembinaan
Pembinaan mencakup:
a) Pembinaan untuk mempertahankan dan perbaikan status kesehatan gigi
dan mulut yang telah dicapai, kegiatan berupa:
• Penjaringan (screening) oleh guru dan atau tenaga kesehatan gigi atau
pelaksana UKS untuk menentukan jumlah murid yang perlu perawatan.
• Kegiatan menggosok gigi di sekolah dilakukan secara teratur di bawah
koordinasi guru.
• Kegiatan perawatan kesehatan gigi dan mulut bagimurid yang
memerlukan.
b) Pembinaan peran serta melalui forum komunikasi tatap muka, latihan
ketrampilan guru dan sebagainya.
2.1.7 Inovasi Terbaru
Simulator Irene Donut
1. Pengertian
Simulator Risiko Karies (Donut Irene) adalah suatu program interaktif
dalam bentuk program komputer atau versi manualnya. Dengan mengisi faktor-
faktor risiko terkait perilaku anak, kondisi kesehatan gigi anak,
kondisi/lingkungan ibu dan anak, pengetahuan, sikap dan perilaku ibu (orang tua
anak), maka program akan menampilkan gambaran besar risiko anak terhadap
kemungkinan karies gigi. Program juga akan menawarkan “menu” apa yang dapat
dilakukan orang tua anak/ anak untuk mengurangi risiko karies, dan dapat dibawa
sebagai pegangan untuk tindak lanjut dirumah (Kementerian Kesehatan RI, 2012).
2. Tujuan
1. Memberikan pemahaman tentang faktor-faktor risiko karies sejak dini.
2. Memberikan pemahaman tentang cara mencegah karies gigi.
3. Memberikan gambar visual besar risiko karies yang dihadapi dan kemungkinan
perbaikannya.
4. Memberdayakan orang tua anak (masyarakat sekolah) untuk pemeliharaan
kesehatan gigi anak.

Gambar 1. Pemberdayaan orang tua murid oleh tenaga kesehatan di


Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat

3. Indikasi
1. Untuk dipresentasikan kepada orang tua murid TK/SD kelas 1 pada awal
pelajaran baru sebagai pengenalan program UKGS Inovatif.
2. Untuk menggerakkan peran serta orang tua murid secara individual (atau
kelompok 5 orang) pada anak dengan kondisi karies parah (misalnya 5% dari
kondisi anak terparah atau dengan ketentuan anak tersebut gigi tetapnya telah
ada yang karies atau anak tersebut mempunyai karies gigi susu lebih dari 8
gigi). Pada dasarnya peran orang tua terhadap kesehatan gigi anaknya seusia
TK / SD kelas I sangat menentukan(Kementerian Kesehatan RI, 2012).
Instrumen simulator risiko karies:
1. Flipchart Simulator Risiko Karies “Donut Irene” versi manual / versi Komputer
2. Formulir / status pemeriksaan kesehatan gigi anak
3. Lembar kerja / rapor gigi
4. Set pemeriksaan pH biofi lm
5. Kaca mulut
4. Penatalaksanaan simulator risiko karies dan posisi operator.
Persiapan:
• Tabulasi hasil pemeriksaan gigi anak kelas I
• Pilih anak dengan kriteria “parah” (anak dengan gigi tetapnya telah ada yang
karies atau anak yang mempunyai karies gigi susu lebih dari 8 gigi).
• Siapkan Instrumen simulator risiko karies/alat tulis
Pelaksanaan:
Untuk konsultasi secara individual / kelompok 5 ibu:
• Ibu dan anak serta operator duduk menghadap komputer / flipchart

Gambar 2. Konsultasi menggunakan Donut Irene versi komputer ditanggapi


positif oleh anak dan orangtuanya.

• Jalankan program dan lakukan seperti yang diminta program dengan mengisi
data yang diperlukan.
• Mengambil sampel plak untuk diperiksa derajat keasamannya (lihat prosedur
dan panduan praktek pemeriksaan biofilm)
Gambar 3. Set pemeriksaan biofilm
• Tanyakan setiap pertanyaan yang ditampilkan program
• Pada saat memeriksa white spot/fisur hitam ajak ibu melihat juga kondisi gigi
anaknya (lihat prosedur dan panduan praktek pemeriksaan AAPB)
• Bila semua telah selesai diisi tunjukkan gambaran tingkat risiko karies.
• Tawarkan antisipasi (menu) yang dapat dilakukan dan tunjukkan perubahan
risiko yang tergambar
• Pada hasil wawancara tunjukkan apa yang harus dilakukan sebagai pekerjaan
rumah.
Penyelesaian:
• Catat/kompilasi hasil isian SRK Donut Irene (faktor yang jadi bersamaan, faktor
yang dapat diantisipasi, besar risiko sebelum dan sesuadah antisipasi).
• Lakukan tindakan surface protection/terapi remineralisasi (dilakukan di sekolah
atau dirujuk sesuai kemampuan)
• Lakukan evaluasi pengisian PR dan analisis keberhasilannya.
• Lakukan diskusi untuk meningkatkan peran serta orang tua dalam pemeliharaan
gigi anaknya.
5. Cara Kerja Aplikasi Irine Donut’s
a. Ibu dan anak serta operator duduk menghadap komputer / flipchart.

b. Jalankan program dan lakukan seperti yang diminta program dengan


mengisi data yang diperlukan. Isi data pemeriksa dan nama sekolah
yang akan di periksa

c. Mengisi identitas pasien


d. Memeriksa keasaman kuman dengan mengambil sampel plak pada gigi
depan anak.

e. Menjawab pertanyaan selanjutnya.


Apakah anak suka minum sofdrink ?

Berapa kali anak minum susu sehari?


Apakah anak suka makan permen?

Jumlah pertanyaan yang diberikan ada sebanyak 20 pertanyaan, dan orang tua
harus menjawab dengan jujur.
f. Setelah mengajukan pertanyaan pada orang tua pasian makan akan
didapatkan hasil diagram seperti berikut.

Dengan kebiasaan yang sekarang, maka kemungkinan terjadinya gigi berlubang


yang baru adalah 98,61%
g. Untuk mengetahui saran kesehatan gigi pasien klik “print saran” lalu
akan didapatkan hasil sebagai berikut.

Disarankan kepada pasien dan oarang tua untuk menerapkan saran diatas agar gigi pasien sehat
dan tidak terjadinya lubang gigi lagi
2.2 Upaya Kesehatan Gigi Masyarakat
2.2.1 Pengertian UKGM
Upaya Kesehatan Gigi Masyarakat ( UKGM ) adalah suatu pendekan
edukatif yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan peran serta
masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan gigi,dengan mengintegrasikan upaya
promotif, preventif kesehatan gigi pada berbagai upaya kesehatan bersumber daya
masyarakat yang berlandaskan pendekatan Primary Health Care ( Posyandu, Bina
Keluarga Balita,Polindes,Ponstren,Taman kanak-kanak dsb). Pendekatan ini
secara global dikenl sebagai primary oral health care aproach (Depkes RI, 2004).
2.2.2 Tujuan
Meningkatkan kesadaran,kemauan dan kemampuan pemeliharaan diri
masyarakat di bidang kesehatan gigi dan mulut dalam rangka terciptanya perilaku
hidup sehat.
2.2.3 Sasaran
Kelompok masyarakat yang rawan terhadap penyakit gigi dan mulut (Bumil,
Balita, Apras dan Anak sekolah). Agar masyarakat dapat berperan serta perlu
dibekali pelatihan-pelatihan.
2.2.4 Pelatihan Berjenjang
1. Prinsip pelatihan
a. manfaat esensial
b. alat peraga sesderhana mungkin
c. dipakai model hidup sebagai alat peraga
d. grup diskusi kecil
e. diutamakan pada demosntrasi
2. Pentahapan pelatihan (Depkes RI, 2004)
a. UKGM dengan sasaran anak sekolah dan balita
 Tahap I : Pelatihan provider pembina posyandu,
BKB, dan Tk
Peserta dari : Bidan, perawat, bidan desa
Supervisor :Dokter gigi, Perawat gigi
 Tahap II : Pelatihan kader, posyandy/BKB, guru Tk
 Tahap III : Pelaksanaan dilapangan oleh kader
b. UKGM dengan sasaran usia sekolah dan remaja
 Tahap I : Pelatihan provider pembinaUKS, Forum
koordinator PMT-AS, Ponstren tingkat kecamatan
Supervisor : Dokter gigi, Perawat gigi
 Tahap II : Pelatihan kader disekolah, guru/ustad di
ponstren
 Tahap III : Pelaksannan dilapangan oleh kader/guru
3. Tujuan Pelatihan (Depkes RI, 2004)
a. Peserta mengetahui alasan mengapa mereka dilibatkan dalam
program kesehatan gigi dan mulut
b. Peserta tahudengan pertumbuhan gigi susu
c. Peserta tahu perbedaan cara menyikat gigi
d. Peserta dapat mendiagnosis karies susu botol, tahu penyebabnya
dan cara pencegahannya
e. Peserta tahu kapan pasien dirujuk keklinik dokter gigi
f. Peserta tahu efek dari pencegahan pasta gigi berfluor

4. Pemantauan proses pelatihan (Depkes RI, 2004)


1. Hasil pelatihan tahap 1 dapat dilihat saat melaksanakan pelatihan tahap 2
2. Penampilan petugas kesehatan pada saat pelatihan tahap 2 mencerminkan
apakah mereka menangkap pelatihan tahap 1
a. Biasanya akan banayak bicara dan optimis apa yang dibicarakan
akan diterima
b. Dengan demonstrasi dan self practice excercise terjadi komunikasi
2 arah dan partisipasi aktif
c. Mempengaruhi antusiasisme pelatih dan peserta
5. Evaluasi (Depkes RI, 2004)
1. Proses di posyandu, Tk, dan Ponstren
a. Identifikasi masalah dan hambatan
b. Mencari pemecahan masalah
c. Perkenalkan kemajuan yang ada
2. Dampak
a. Posyandu, Tk sasaran dibandingkan dengan posyandu, Tk bukan
sasaran
 Semua murid Tk
 Semua ibu dan balita
 Balita dan pengunjung posyandu
b. SD, Posntren dsb sasaran dibandingkan dengan SD, Posntren bukan
sasaran
 Pengetahuan murid tentang kesehatan gigi dan mulut
 Perilaku menyikat gigi
 Tambalan ART
Yang dinilai :
 Pengetahuan tentang nutrisi, karies dan fluor
 Perilaku cara menyikat gigi
 Sisa plak sesudah menyikat gigi
 Pola makanan
 Kunjungan keklinik gigi
2.2.5 Inovasi
Kaderisasi kesehatan gigi dan mulut di masyarakat
1. Tahapan kegiatan kader
Pada sesi ini, dijelaskan tahapan kegiatan kader dengan peserta
(Kementrian kesehatan RI, 2012).
Langkah Kegiatan kader Respon pesrta
1 Menciptakan suasana nyaman dan
mendorong kesiapan peserta
untuk menerima materi sesuai
dengan yang telah direncanakan
(apersepsi) dengan cara meminta
peserta untuk menceritakan
tentang pengalaman yang
berhubungan dengan masalah
kesehatan gigi dan mulut.
2 a. Menciptakan suasana nyaman a. Peserta saling melihat
dan mendorong kesiapan dan memeriksa keadaan
peserta untuk menerima materi gigi dan mulut untuk
sesuai dengan yang telah memahami gambaran
direncanakan (apersepsi) gigi dan mulut
dengan cara meminta peserta b. Bila ada kaitannya,
untuk menceritakan tentang makapeserta dapat
pengalaman yang berhubungan menjelaskan mengapa
dengan masalah kesehatan gigi hal tersebut dapat terjadi.
dan mulut. gigi-geligi dan
jaringan lunak lainnya dengan
membuat berbagai pertanyaan
situasional dan mengungkit
pengalaman pribadi peserta.
b. Mengatur acara sehingga
peserta termotivasi untuk
berbagi pandangan dan
bertukar pengalaman antar
peserta.
3 Menjelaskan kelainan dan
a. Mendiskusikan dengan
penyakit yang terjadi pada gigikelompok mengenai pokok
dan mulut antara lain gigi bahasan gigi berlubang,
berlubang, radang gusi serta radang gusi serta karang
karang gigi. gigi.
b. Mengisi lembar kerja
yang tersedia.
c. Presentasi hasil diskusi
d. Memberikan klarifi kasi
masalah hasil diskusi
4 Menjelaskan kebiasaan baik dan a. Diskusi mengenal
buruk pada kesehatan gigi dan kebiasaan baik dan
mulut buruk dalam kesehatan
gigi dan mulut
b. Mengisi lembar kerja
yang tersedia.
c. Presentasi hasil diskusi
d. Memberikan klarifi kasi
masalah hasil diskusi
5 Menjelaskan penyakit tubuh a. Mengisi lembar kerja
akibat kerusakan gigi yang tersedia.
b. Presentasi hasil diskusi
c. Memberikan klarifi kasi
masalah hasil diskusi
6 Menjelaskan kelompok a. Diskusi tentang ibu
masyarakat yang rawan terhadap hamil, anak balita, anak
penyakit gigi dan mulut antara usia pendidikan dasar,
lain ibu hamil, anak balita, anak usila.
usia pendidikan dasar, usila. b. Mengisi lembar kerja
yang tersedia
c. Presentasi hasil diskusi
d. Memberikan klarifi kasi
masalah hasil diskusi
7 Menjelaskan pencegahan a. Diskusi tentang
terjadinya penyakit gigi dan mulut pencegahan terjadinya
dengan cara menyikat gigi yang penyakit gigi dan mulut
baik dan benar, pemilihan sikat dengan cara menyikat
gigi, waktu menyikat gigi, gigi yang baik dan benar,
penggunakan alat-alat bantu pemilihan sikat gigi,
pembersih gigi, makanan yang waktu menyikat gigi,
dapat merusak gigi, makanan penggunakan alatalat
yang baik untuk kesehatan gigi, bantu pembersih gigi,
periksa gigi secara teratur. makanan yang dapat
merusak gigi, makanan
yang baik untuk
kesehatan gigi, periksa
gigi secara teratur.
b. Mengisi lembar kerja
yang tersedia
c. Presentasi hasil diskusi
Memberikan klarifi kasi
masalah hasil diskusi.
8 Menjelaskan pemeriksaan dan a. Diskusi tentang
pengobatan sederhana terhadap pemeriksaan dan
penyakit gigi dan mulut. pengobatan sederhana
terhadap penyakit gigi
dan mulut.
b. Mengisi lembar kerja
yang tersedia
c. Presentasi hasil diskusi
d. Memberikan klarifi
kasi masalah hasil
diskus
9 Menjelaskan tentang rujukan, a. Diskusi tentang rujukan,
pencatatan dan pelaporan kegiatan pencatatan dan pelaporan
kesehatan gigi dan mulut di kegiatan kesehatan gigi
masyarakat. dan mulut di masyarakat.
b. Mengisi lembar kerja
yang tersedia
c. Presentasi hasil diskusi
Memberikan klarifi kasi
masalah hasil diskusi
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) adalah upaya kesehatan
masyarakat yang ditujukan untuk memelihara, meningkatkan kesehatan gigi dan
mulut seluruh peserta didik di sekolah binaan yang ditunjang dengan upaya
kesehatan perorangan berupa upaya kuratif bagi individu (peserta didik) yang
memerlukan perawatan kesehatan gigi dan mulut.
Simulator Risiko Karies (Donut Irene) adalah suatu program interaktif
dalam bentuk program komputer atau versi manualnya. Dengan mengisi faktor-
faktor risiko terkait perilaku anak, kondisi kesehatan gigi anak,
kondisi/lingkungan ibu dan anak, pengetahuan, sikap dan perilaku ibu (orang tua
anak), maka program akan menampilkan gambaran besar risiko anak terhadap
kemungkinan karies gigi.
Upaya Kesehatan Gigi Masyarakat ( UKGM ) adalah suatu pendekan
edukatif yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan peran serta
masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan gigi,dengan mengintegrasikan upaya
promotif, preventif kesehatan gigi pada berbagai upaya kesehatan bersumber daya
masyarakat yang berlandaskan pendekatan Primary Health Care ( Posyandu, Bina
Keluarga Balita,Polindes,Ponstren,Taman kanak-kanak dsb).
DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan RI, 2012, Pedoman usaha kesehatan gigi sekolah


(UKGS), Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Depkes RI, 2004, Pedoman upaya kesehatan gigi masyarakat (UKGM), Jakarta:
Direktort jenrdral pelayanan medik.
Kementrian kesehatan RI, 2012, Buku panduan pelatihan kader kesehatan gigi dan
mulut di masyarakat, Jakarta: Kementrian kesehatan RI