Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH KIMIA ORGANIK

IKATAN DALAM SENYAWA ORGANIK

(Kepolaran, Hibridasi Orbital Atom, Panjang Ikatan)

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Kimia Organik

Disusun oleh:

Leni Rohqimah (18020050)

Rafli Swanda Batubara (18020066)

Sandi Mumin Pratama (18020079)

Sarah Samira Nada (18020080)

Siska Nopita Putri (18020081)

Zulfiqri Siddiq Masyhuri (18020096)

POLITEKNIK STTT BANDUNG

KIMIA TEKSTIL

2019
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat
dan karunia-Nya, yang telah dianugerahkan bagi kita semua. Shalawat serta
salam semoga tetap dicurahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad
SAW.

Atas karunia-Nya saya selaku penulis dapat menyelesaikan Makalah


dengan judul: “IKATAN SENYAWA ORGANIK” dengan baik.

Dalam penulisan makalah ini, saya menyadari masih banyak kekurangan


yang harus diperbaiki. Oleh akrena itu, saya senantiasa menanti kritikan dan
saran dari pembaca agar dapat memperbaiki kesalahan dan kekurangan dari
penulisan sehingga bisa menjadi suatu ilmu yang bermanfaat.

Tugas Makalah ini tidak akan dapat terselesaikan tanpa adanya bantuan
dan dorongan dari pihak lain. Untuk itu saya mengucapkan terimakasih kepada

IDA RAMDHANI, S.St., M.Sc. Selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah


KIMIA ORGANIK Politeknik STTT Bandung.

Akhir kata saya ucapkan terimakasih kepada yang telah membantu


penulisan makalah ini sehingga dapat terselesaikan. Namun dalam penulisan
makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan makalah ini.

Bandung, Sseptember 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI.........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1 LATAR BELAKANG ............................................................................ 1

1.2 RUMUSAN MASALAH ........................................................................ 1

1.3 TUJUAN PENULISAN .......................................................................... 2

BAB II LANDASAN TEORI ............................................................................... 3

2.1. KEPOLARAN ............................................................................................ 3

2.2 HIBRIDISASI ORBITAL .......................................................................... 4

2.3. PANJANG IKATAN SENYAWA ORGANIK ...................................... 10

BAB III PENUTUP ............................................................................................. 16

3.1. SIMPULAN ............................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 18

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Senyawa Organik adalah golongan besarsenyawa kimia yang molekulnya
mengandung karbon, kecuali hibrida, karbonat, dan oksida karbon. Banyak diantara
senyawa organik, seperti protein, lemak, dan karbonat merupakan komponen penting
dalam biokimia.
Sekitar tahun 1850, Kimia Organik didefinisikan sebagai kimia dari senyaa
yang datang dari benda hidup, sehingga dikenal dengan istilah Kimia Organik.
Definisi ini mulai usang sejak 1900. Pada saat itu, ahli kimia mensintesa senyawa
kimia baru di laboratorium, dan banyak dari senyawa baru ini tidak mempunyai
hubungan dengan benda hidup. Pada saat ini, Kimia Organik didefinisikan sebagai
kimia senyawa karbon, seperti Karbondi oksida, dianggap sebagai kimia organik.
Senyawa KCN, dan Natrium Karbonat dianggap sebagai anorganik. Senyawa
organik merupakan senyawa kimia yang terdiri dari unsur organik C, H, dan O.
Sehingga mudah diuraikan oleh mikroorganisme. Senyawa anorganik merupakan
senyaw tidak terurai dan umumnya terdiri dari unsur anorganik selain C, H, O baik
logam maupun non-logam.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Sesuai dengan latar belakang diatas adapun rumusan masalah dalam makalah
ini sebagai berikut:
1. Apakah pengertian Kepolaran?
2. Apakah pengertian Hibridasi?
3. Apa pengertian panjang ikatan?
4. Apakah faktor-faktor yang memengaruhi kepolaran?
5. Apa faktor-faktor yang memengaruhi Hibridasi Atom ?
6. Apa faktor-faktor yang memengaruhi Panjang Ikatan?
7. Apa contoh dari Panjang Ikatan?
8. Apa contoh dari Hibridasi Atom?
9. Apa contoh dari Kepolaran?

1
1.3 TUJUAN PENULISAN
Tujuan dalam pembahasan ini adalah interpretasi terhadap rumusan permasalahan
ini yaitu :
1. untuk mengetahui pengertian kepolaran, hibridasi atom, panjang ikatan,
2. untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Kepolaran,
3. untuk mengetahui faktor-faktor Hibridasi Atom,
4. untuk mengetahui faktor-faktor Panjang Ikatan,
5. untuk mengetahui contoh dari Hibridasi Atom,
6. untuk mengetahui contoh dari Kepolaran,
7. untuk mengetahui contoh dari Panjang Ikatan.

2
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. KEPOLARAN

Kepolaran senyawa adalah perilaku suatu zat yang menyerupai medan


magnet, yaitu terdapat kutub sementara yang disebut dipol. Kepolaran
senyawa terdapat pada senyawa kovalen, dan dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Senyawa Kovalen Polar
Adalah senyawa kovalen yang dibentuk oleh dua unsur berbeda,
dimana keelektronegatifan pasti berbeda, sehingga menghasilkan dipol.
 Ciri-ciri senyawa polar :
1) Dapat larut dalam air dan pelarut polar lain.
2) Memiliki kutub( +) dan kutub (-) , akibat tidak meratanya distribusi
elektron.
3) Memiliki pasangan elektron bebas (bila bentuk molekul
diketahui) atau memiliki perbedaan keelektronegatifan.
Contoh: HCl, HBr, HI, H2O.
2. Senyawa kovalen non-polar
Adalah senyawa kovalen yang dibentuk oleh dua unsur sama, dimana
keelektronegatifan pasti sama.
 Ciri-ciri senyawa non polar :
1) Tidak larut dalam air dan pelarut polar lain.
2) Tidak memiliki kutub (+) dan kutub (-) , akibat meratanya distribusi
elektron.
3) Tidak memiliki pasangan elektron bebas (bila bentuk molekul
diketahui) atau keelektronegatifannya sama.
Contoh: H2, Cl2, O2, N2, dan senyawa poliatomik lainnya.
Tingkat kepolaran senyawa dinyatakan dalam momen dipol dalam
satuan Coulumb meter. Senyawa non-polar memiliki momen dipol nol.

3
Tingkat kepolaran senyawa dinyatakan dalam momen dipol dalam
satuan Coulumb meter. Senyawa non-polar memiliki momen dipol nol.
Senyawa polar memiliki perbedaan keelektronegatifan yang besar,
perbedaan harga ini mendorong timbulnya kutub kutub listrik yang
permanen ( dipol permanent). Jadi antar molekul polar terjadi gaya tarik
dipol permanent.
Senyawa non polar memiliki perbedaan keelektronegatifan yang
kecil, bahkan untuk senyawa biner dwiatom ( seperti O2,H2) perbedaan
keelektronegatifannya = 0.
Bila terdapat senyawa non polar terjadi gaya tarik dipol sesaat (
gaya dispersi/ gaya london ) gaya ini terjadi akibat muatan + inti atom
salah satu atom menginduksi elektron atom lain sehingga terjadilah kutub
kutub yang sifatnya sesaat.

2.2 HIBRIDISASI ORBITAL

Hibridasi adalah serangkaian proses penggabungan orbital dari suatu


atom dengan atom lain ketika terjadinya pemaknaan ikatan kimia sehingga
mencapai energi yang lebih rendah atau kestabilan yang tinggi. Ketika dua
atom akan berikatan secara kimia, maka dua atom ini membutuhkan sebuah
orbital kosong untuk ditempati elektron dari masing masing atom tersebut
sehingga setelah berikatan maka kedua atom akan menempati orbital yang
sama pada elektron valensinya. Oleh karena itu dalam proses hibridasi ini
melibatkan konfigurasi elektron terutama pada elektron valensi yang
digunakan untuk berikatan.

2.2.1 Teori Hibridasi


Ketika suatu molekul tidak mengalami hibridasi orbital pada
pembentukan ikatannya, maka yang teradi yaitu panjang dan sudut
ikatan yang terbentuk akan berbeda beda dan tingkat energinya pun
berbeda. Akibatnya akan menghasilkan bentuk yang tak beraturan,
namun pada kenyataannya molekul kimia memiliki panjang dan sudut

4
ikatan yang seragam serta bentuk yang beraturan dan dapat ditentukan.
Sebagai contoh pada molekul metana (CH4) dimana atom karbon
memiliki elektron valensi sebanyak 4 yang digunakan dapat untuk
berikatan dengan atom lain dan terdapat pada orbital 2s dan 2p.
Ketika karbon membentuk ikatan misalnya dengan hidrogen,
secara teoritis orbital 2s dan 2p yang memiliki tingkat energi berbeda
maka akan menghasilkan ikatan dengan panjang, sudut dan tingkat
energi yang berbeda pula karena jenis orbital yang berbeda. Namun
pada kenyataannya, senyawa CH4 memiliki panjang ikatan untuk setiap
ikatan C-H yang sama, selain itu sudut ikatan yang terbentuk dan
energinya pun sama menghasilkan bentuk geometri tetrahedral.
Sehingga dipastikan bahwa terjadi sesuatu yang membuat orbital itu
menghasilkan tingkat energi yang setara, karena tidak mungkin karbon
dan hidrogen berikatan dengan orbital 2s dan 2p yang berbeda
menghasilkan panjang, sudut, dan energi ikatan yang sama.
Peristiwa itu yang dinamakan hibridasi orbital dimana orbital 2s
bergabung dengan orbital 2p yang terdiri dari 3 orbital p sehingga
membentuk orbital sp3 yang mampu menghasilkan bentuk geometri
molekul CH4 sebagai tetrahedral.

5
2.2.2 Macam Hibridasi
Pada atom karbon, dapat terjadi beberapa jenis hibridasi orbital
yang menghasilkan panjang ikatan, sudut ikatan, kekuatan ikatan serta
energi ikatan yang berbeda untuk tiap hibridasi.

1. Hibridasi sp3
Hibridasi sp3 merupakan hibridasi yang melibatkan
penggabungan 1 orbital s dengan 3 orbital p yang terdiri dari px, py,
dan pz menghasilkan sp3 yang dapat digunakan untuk berikatan
dengan 4 atom lain.
Hibridasi sp3 memiliki jenis ikatan tunggal atau satu ikatan
sigma dimana kekuatan ikatan pada hibridasi ini paling lemah
diantara hibridasi lainnya, sedangkan panjang ikatan pada hibridasi
ini yang paling besar diantara lainnya. Molekul dengan hibridasi
sp3 akan menghasilkan bentuk geometri tetrahedral. Contoh
hibridasi sp3 adalah pada molekul CH4.

6
2. Hibridasi sp2
Pada hibridasi sp2, sesuai namanya merupakan
penggabungan 1 orbital s dengan 2 orbital p sehingga terdapat 1
orbital p bebas yang tidak digunakan untuk hibridasi. Hibridasi sp2
menghasilkan jenis ikatan rangkap 2 sehingga kekutan ikatannya
lebih tinggi daripada ikatan tunggal dan panjang ikatan yang
dihasilkan juga lebih pendek.
Dalam hibridasi ini ikatan rangkap dapat terjadi karena
adanya 1 orbital p bebas yang dapat membentuk ikatan phi dengan
orbital dari atom lain. Hibridasi sp2 akan menghasilkan bentuk
geometri planar dengan sudut ikatan 120. Contoh molekul yang
memiliki hibridasi sp2 adalah C2H4.
3. Hibridasi sp
Hibridasi sp merupakan penggabungan antara 1 orbital s
dengan 1 orbital p sehingga terdapat 2 orbital p bebas yang tidak
digunakan. Hibridasi sp menghasilkan jenis ikatan rangkap 3
karena terdapat 2 orbital p bebas yang masing masing dapat
menghasilkan ikatan phi dengan orbital atom lain sehingga secara
keseluruhan hibridasi ini memiliki 1 ikatan sigma dan 2 ikatan phi.
Akibatnya, kekuatan ikatan menjadi kuat lebih kuat
daripada dua hibridasi lainnya dan jarak ikatan juga paling pendek.
Bentuk molekul yang dihasilkan hibridasi sp adalah linear dengan
sudut 180. Contoh molekul dengan hibridasi sp adalah C2H2.

2.2.3. Proses Terjadinya Hibridasi


Dalam terjadinya hibridasi melibatkan beberapa proses.
Secara keseluruhan proses hibridasi dapat dilihat pada skema
gambar berikut yang menampilkan proses atau tahapan hibridasi
yang disertai dengan tingkat energi untuk setiap tahap dan setiap
orbital.

7
1. Keadaan Dasar (Ground State)
Dalam keadaan dasar, semua atom memiliki
konfigurasi elektron seperti pada umumnya. Pada kondisi ini,
tingkat energi dari masing masing orbital berbeda dan relatif
lebih tinggi sehingga kurang stabil.
2. Eksitasi atau Promosi Elektron
Pada tahap eksitasi atau yang juga disebut dengan
promosi, salah satu elektron dari orbital 2s akan tereksitasi
menuju ke orbital kosong pada 2p karena pada orbital 2p masih
terdapat 1 orbital kosong. Dengan hal tersebut, maka semua
orbital yaitu 2s dan 2p terpenuhi oleh elektron dengan masing
masing terisi 1 elektron.
3. Hibridasi
Tahap terakhir yaitu hibridasi atau penggabungan antar
orbital dimana pada sp3 maka orbital 2s akan bergabung
dengan tiga orbital 2p membentuk sp3 dan seterusnya. Dengan
adanya penggabungan tersebut maka didapatkan level energi
yang lebih rendah dan setara untuk keempat jenis orbital. Hal
itulah yang menyebabkan panjang ikatan, sudut ikatan, dan
energi ikatannya sama.

2.2.4. Contoh Molekul dengan Hibridasi Orbital


Adapun untuk memperjelaskanya berikut ini merupakan
beragam contoh melekul dengan hibridasi orbital, antara lain
adalah sebagai berikut :

8
1. Metana (CH4)
Seperti yang telah dijelaskan diawal bahwa pada
senyawa metana memiliki hibridasi sp3 yang menyebabkan
tiap ikatan C-H memiliki panjang, sudut, dan energi ikatan
yang setara. Molekul CH4 umumnya memiliki sudut ikatan
109.5 dengan bentuk geometri tetrahedral. Hal itu merupakan
hasil dari hibridasi orbital yang terjadi pada atom karbon
tersebut.
2. Etilena (C2H4)
Etilena yang juga merupakan senyawa hidrokarbon
memiliki hibridasi orbital sp2 dimana antara atom C pada
senyawa tersebut dihubungkan melalui ikatan rangkap 2 yang
terdiri dari satu ikatan sigma dan satu ikatan phi.
Selain mengikat karbon yang lain, karbon pada
senyawa etilena juga mengikat dua atom hidrogen dengan
sudut ikatan yang sama yaitu 120. Akibatnya didapatkan
bentuk geometri berupa planar atau datar pada senyawa etilena
ini.
3. Asetilena (C2H2)
Berbeda dengan kedua senyawa di atas, asetilena
merupakan senyawa hirdokarbon dengan ikatan rangkap 3
yang terdiri dari 1 ikatan sigma dan 2 ikatan phi. Hal ini akibat
dari hibridasi orbital yang merupakan hibridasi sp sehingga
menghasilkan 2 orbital p bebas.
Bentuk geometri dari senyawa ini adalah linear atau
berupa garis lurus karena selain mengikat karbon yang lain,
karbon pada asetilena mengikat satu atom hidrogen lain.

9
2.3. PANJANG IKATAN SENYAWA ORGANIK

Dalam geometri molekul, panjang ikatan atau jarak ikatan adalah jarak rata-
rata antara inti dua atom yang terikat dalam molekul. Hal ini adalah salah satu sifat yang
dapat dipindahkan dari ikatan antara atom dari jenis tetap, yang relatif independen dari
molekul tersebut.
Panjang ikatan berhubungan dengan orde ikatan: bila lebih
banyak elektron berpartisipasi dalam pembentukan ikatan, ikatannya menjadi lebih
pendek. Panjang ikatan juga berbanding terbalik dengan kekuatan ikatan dan energi
disosiasi ikatan: semua faktor lainnya sama, ikatan yang lebih kuat akan lebih
pendek.[3] Dalam ikatan antara dua atom yang identik, separuh jarak ikatan sama
dengan jari-jari kovalen.[4]
Panjang ikatan diukur dalam fasa padat dengan cara difraksi sinar-X, atau
didekati dalam fasa gas dengan spektroskopi gelombang mikro. Ikatan antara sepasang
atom tertentu dapat bervariasi antara molekul yang berbeda. Misalnya, ikatan karbon
dengan hidrogen dalam metana berbeda dari senyawa metil klorida.[5] Akan tetapi,
mungkin untuk membuat generalisasi ketika struktur umumnya sama.
2.3.1. Faktor yang mempengaruhi panjang ikatan
1. Jari-jari kovalen
Jari-jari kovalen adalah setengah dari jarak antara dua inti atom
homonuklir yang berikatan kovalen atau setengah dari jarak ikatan antara dua
atom yang sama. Perbedaan panjang ikatan dalam ikatan antar molekul karena
perbedaan pada nomor atom dalam molekul-molekul tersebut. Jika nomor
atom dalam suatu molekul semakin besar maka semakin besar jari-jari
atomnya.

10
2. Keelektronegatifan

Struktur dan dimensi hidrogen klorida (HCl). Perhatikan bahwa panjang


ikatan dipengaruhi oleh perbedaan kepolaran kedua atom penyusunnya
Panjang ikatan dipengaruhi oleh keelektronegatifan, untuk ikatan yang
dibentuk dari atom-atom yang memiliki perbedaan keelektronegatifan, rumus
Pauling dan Huggins tidak dapat diterapkan. Kenyataan memberi petunjuk
bahwa panjang ikatan seperti ini selalu lebih pendek daripada jumlah jari-jari
atom pembentuknya. Hal ini terjadi karena adanya kontraksi akibat perbedaan
keelektronegatifan termasuk panjang ikatan H-X (X = halida) karena
perbedaan keelektronegatifan.
3. Orde Ikatan
Panjang ikatan berkurang dengan bertambahnya orde ikatan. Makin
tinggi orde ikatan, maka ikatannya semakin pendek, bergitu pula sebaliknya.
Namun makin tinggi orde ikatan suatu ikatan molekul, maka ikatan yang
terjadi di antara molekul semakin kuat. pada umumnya ikatan rangkap lebih
kecil ikatannya dari ikatan tunggal.
2.3.2. Panjang ikatan karbon dengan unsur lainnya

11
Struktur dan dimensi dari molekul etana, etilena dan asetilena. Perhatikan bahwa ikatan C–
C memendek seiring peningkatan orde ikatan, dan semakin pendek ikatan diatas, kekuatan
ikatannya meningkat.
Sebuah tabel dengan ikatan tunggal untuk karbon dengan unsur
lainnya[1] diberikan di bawah ini. Panjang ikatan diberikan dalam pikometer.
Dengan perkiraan jarak ikatan antara dua atom yang berbeda adalah jumlah jari-
jari kovalen individu (diberikan dalam artikel unsur kimia untuk setiap unsur).
Sebagai kecenderungan umum, jarak ikatan menurun sepanjang periode di tabel
periodik dan meningkat sepanjang golongan. Tren ini identik dengan jari-jari
atom.

Panjang ikatan karbon dengan unsur lain[8]

Unsur yang terikat Panjang ikatan (pm) Golongan

H 106–112 golongan 1

Be 193 golongan 2

Mg 207 golongan 2

B 156 golongan 13

Al 224 golongan 13

In 216 golongan 13

C 120–154 golongan 14

Si 186 golongan 14

Sn 214 golongan 14

Pb 229 golongan 14

N 147–210 golongan 15

12
Panjang ikatan karbon dengan unsur lain[8]

Unsur yang terikat Panjang ikatan (pm) Golongan

P 187 golongan 15

As 198 golongan 15

Sb 220 golongan 15

Bi 230 golongan 15

O 143–215 golongan 16

S 181–255 golongan 16

Cr 192 golongan 6

Se 198–271 golongan 16

Te 205 golongan 16

Mo 208 golongan 6

W 206 golongan 6

F 134 golongan 17

Cl 176 golongan 17

Br 193 golongan 17

I 213 golongan 17

2.3.3. Panjang ikatan dalam senyawa organik


Panjang ikatan antara dua atom dalam suatu molekul tidak hanya tergantung
pada atom tetapi juga pada faktor-faktor seperti hibridasi orbital dan sifat
elektronik dan sterik dari substituennya. Panjang ikatan karbon-karbon (C-C)
pada intan adalah 154 pm, yang juga merupakan panjang ikatan terbesar yang
ada untuk ikatan kovalen karbon biasa. Karena satu satuan panjang atom (yaitu
jari-jari Bohr) adalah 52.9177 pm, panjang ikatan C-C adalah 2.91 satuan
atomik, atau sekitar tiga jari-jari Bohr panjang.
Panjang ikatan dengan panjang yang tidak biasa memang ada. Dalam satu
senyawa, trisiklobutabenzena, panjang ikatan sebesar 160 pm dilaporkan.
Pemegang rekor saat ini adalah siklobutabenzena lainnya dengan panjang 174
pm berdasarkan kristalografi sinar-X.[9] Pada jenis senyawa ini cincin

13
siklobutana akan memaksa sudut 90° pada atom karbon yang terhubung pada
cincin benzena di mana biasanya memiliki sudut 120°.

Keberadaan panjang ikatan C-C yang sangat panjang hingga 290 pm diklaim
dalam dimer dari dua tetrasianoetilena, meskipun ini menyangkut ikatan 2-
elektron-4-pusat.[10][11] Jenis pengikatan ini juga telah diamati pada
dimer fenalena netral. Panjang ikatannya disebut "ikatan panekuk"[12] adalah
mencapai 305 pm.
Ikatan yang lebih pendek dari rata-rata jarak ikatan C–C juga
dimungkinkan: Alkena dan alkuna memiliki panjang ikatan masing-masing 133
dan 120 pm karena peningkatan karakter-s dari ikatan sigma.
Pada benzena semua ikatan memiliki panjang yang sama: 139 pm. Ikatan
karbon-karbon tunggal yang meningkatkan karakter-s juga penting dalam
ikatan pusat diasetilena (137 pm) dan dari dimer tetrahedran (144 pm).
Dalam propionitril gugus siano menarik elektron, juga menghasilkan
panjang ikatan yang berkurang (144 pm). Pemampatan ikatan C-C juga
dimungkinkan dengan penerapan regangan. Senyawa organik yang tidak biasa
ada yang disebut In-metilsiklopana dengan jarak ikatan yang sangat pendek
147 pm untuk gugus metil yang terjepit di antara triptisena dan gugus fenil.
Dalam percobaan in silico jarak ikatan 136 pm diperkirakan
untuk neopentana yang terkunci dalam fullerene.[13] Ikatan tunggal C-C teoretis
terkecil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 131 pm untuk turunan
tetrahedran hipotetis.
Studi yang sama juga memperkirakan bahwa meregangkan atau meremas
ikatan C-C dalam molekul etana pada 5 pm masing-masing mensyaratkan 2.8
atau 3.5 kJ/mol. Peregangan atau pemampatan ikatan yang sama pada 15 pm
membutuhkan sekitar 21.9 atau 37.7 kJ/mol.

14
Panjang ikatan C–H pada senyawa metana adalah 108.7 pm

Panjang ikatan senyawa organik[15]

C–H Panjang (pm) C–C Panjang (pm) Ikatan rangkap Panjang (pm)

sp3–H 110 sp3–sp3 154 Benzena 140

sp2–H 109 sp3–sp2 150 Alkena 134

sp–H 108 sp2–sp2 147 Alkuna 120

sp3–sp 146 Alena 130

sp2–sp 143

sp–sp 137

15
BAB III
PENUTUP

3.1. SIMPULAN
Senyawa polar adalah senyawa yang terbentuk akibat adanya suatu ikatan
antar elektron pada unsur-unsurnya sedangkan, Senyawa nonpolar adalah
senyawa yang terbentuk akibat adanya suatu ikatan antar elektron pada unsur-
unsur yang membentuknya.
Beberapa senyawa ada yang larut dengan pengadukan, tanpa pengadukan,
atau tidak larut. Pengadukan didalam mengetahui kepolaran suatu senyawa
sangat mempengaruhi kelarutan suatu senyawa karena dengan melakukan
pengadukan suatu senyawa dapat larut lebih cepat.
Ada bahan-bahan yang tetap tidak larut setelah pengadukan yaitu bahan -
bahan dari jenis minyak tidak dapat larut meskipun setelah diaduk. Adapun
faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan satuan senyawa yaitu
suhupelarut, volume zat pelarut, dan lama pengadukan.
Hibridasi orbital adalah serangkaian proses penggabungan orbital dari suatu
atom dengan atom lain ketika terjadinya pemaknaan ikatan kimia sehingga
mencapai energi yang lebih rendah atau kestabilan yang tinggi. Ketika suatu
molekul tidak mengalami hibridasi orbital pada pembentukan ikatannya, maka yang
teradi yaitu panjang dan sudut ikatan yang terbentuk akan berbeda beda dan
tingkat energinya pun berbeda. Akibatnya akan menghasilkan bentuk yang tak
beraturan, namun pada kenyataannya molekul kimia memiliki panjang dan sudut
ikatan yang seragam serta bentuk yang beraturan dan dapat ditentukan.
Panjang Ikatan jarak rata-rata antara inti dua atom yang terikat dalam molekul. Hal
ini adalah salah satu sifat yang dapat dipindahkan dari ikatan antara atom dari jenis
tetap, yang relatif independen dari molekul tersebut.
Panjang ikatan berhubungan dengan orde ikatan: bila lebih
banyak elektron berpartisipasi dalam pembentukan ikatan, ikatannya menjadi lebih
pendek. Panjang ikatan juga berbanding terbalik dengan kekuatan ikatan dan energi

16
disosiasi ikatan: semua faktor lainnya sama, ikatan yang lebih kuat akan lebih pendek.
Faktor panjang ikatan adalah jari-jari ikatan, keelektronegatifan, orde ikatan.

17
DAFTAR PUSTAKA

https://id.m.wikipedia.org
https://bisakimia.com
https://www.urip.info

18