Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

BLIGHTED OVUM

A. Anatomi dan Fisiologi

Gambar alat reproduksi Internal pada wanita

Gambar alat reproduksi Eksternal pada wanita

1. Vagina
Vagina menghubungkan genitalia eksterna dengan genitalia interna. Introitus vaginae
tertutup pada himen (selaput dara), suatu lipatan selaput setempat. Pada seorang virgo selaput
daranya masih utuh, dan lubang selaput dara (hiatus himenalis) umumnya hanya dapat dilalui
oleh jari kelingking.
Pada koitus pertama himen robek di beberapa tempat dan sisanya dinamakan
karunkulae mirtiformes. Bentuk lain yang ditemukan pada himen ialah hymen kribriformis
(menunjukkan beberapa lubang), himen septus, dan sebagainya; kadang-kadang himen
tertutup sama sekali (himen imperforatus). Besarnya lubang himen tidak menentukan apakah
wanita tersebut masih virgo atau tidak.
Hal ini baik diketahui sehubungan dengan kedokteran kehakiman. Di Indonesia
keutuhan selaput dara pada seorang gadis/virgo masih dihargai sekali; maka selayaknya para
dokter memperhatikan hal ini. Pada seorang gadis yang memerlukan pemeriksaan ginekologik
sebaiknya dilakukan pemeriksaan rektal. Vagina berukuran di depan 6,5 cm dan dibelakang
9,5 cm, sumbunya berjalan kira-kira sejajar dengan arah pinggir bawah simfisis ke
Promontorium. Arah ini penting diketahui jika memasukkan jari ke dalam vagina pada
pemeriksaan ginekologik.
Pada pertumbuhan janin dalam uterus 2/3 bagian atas vagina berasal dari duktus Miilleri
(asal dari entoderm), sedangkan 1/3 bagian bawahnya dari lipatan-lipatan ektorderm. Hal ini
penting diketahui dalam menghadapi kelainan-kelainan bawaan. Epitel vagina terdiri atas
epitel skuamosa dalam beberapa lapisan. Lapisan tidak mengandung kelenjar, akan tetapi
dapat mengadakan transudasi. Pada anak kecil epitel itu amat tipis, sehingga mudah terkena
infeksi, khususnya oleh gonokokkus.
Mukosa vagina berlipat-lipat horisontal; lipatan itu dinamakan ruga di tengah-tengah
bagian depan dan belakang ada bagian yang lebih mengeras, disebut kolumna rugarum. Ruga-
ruga jelas dapat dilihat pada VS bagian distal vagina pada seorang virgo atau nullipara,
sedang pada seorang multipara lipatan-lipatan untuk sebagian besar hilang. Di bawah epitel
vagina terdapat jaringan ikat yang mengandung banyak pembuluh darah. Di bawah jaringan
ikat terdapat otot-otot dengan susunan yang serupa dengan susunan otot usus.
Sebelah luar otot-otot terdapat fasia (jaringan ikat) yang akan berkurang elastisitasnya
pada wanita yang lanjut usianya. Di sebelah depan dinding vagina bagian bawah terdapat
urethra sepanjang 2,5-4 cm. Bagian atas vagina berbatasan dengan kandung kencing sampai
ke forniks vaginae anterior. Dinding belakang vagina lebih panjang dan membentuk forniks
posterior yang jauh lebih luas daripada forniks anterior. Di samping kedua forniks itu dikenal
pula forniks lateralis sinistra dan dekstra. Umumnya dinding depan dan belakang vagina dekat
mendekati. Pada wanita yang telah melahirkan anak, pada kedua dinding vagina sering
ditemukan tempat yang kondor dan agak merosot (sistokele dan rektokele). Pada seorang
virgo keadaan ini jarang ditemukan.
2. Uterus
Uterus pada seorang dewasa berbentuk seperti buah advokat atau buah peer yang sedikit
gepeng. Ukuran panjang uterus adalah 7-7,5 cm, lebar di tempat yang paling lebar 5,25 cm,
dan tebal 2,5 cm. Uterus terdiri atas korpus uteri (% bagian atas) dan serviks uteri (VS bagian
bawah). Di dalam korpus uteri terdapat rongga (kavum uteri), yang membuka ke luar melalui
saluran (kanalis servikalis) yang terletak di serviks. Bagian bawah serviks yang terletak di
vagina dinamakan porsio uteri (pars vaginalis servisis uteri), sedangkan yang berada di atas
vagina disebut pars supravaginalis servisis uteri. Antara korpus dan serviks masih ada bagian
yang disebut isthmus uteri.
Bagian atas uterus disebut fundus uteri, di situ tuba Fallopii kanan dan kiri masuk ke
uterus. Dinding uterus terdiri terutama atas miometrium, yang merupakan otot polos berlapis
tiga; yang sebelah luar longitudinal, yang sebelah dalam sirkuler, yang antara kedua lapisan
ini beranyaman. Miometrium dalam keseluruhannya dapat berkontraksi dan berelaksasi.
Kavum uteri dilapisi oleh selaput lendir yang kaya dengan kelenjar, disebut
endometrium. Endometrium terdiri atas epitel kubik, kelenjar-kelenjar, dan stroma dengan
banyak pembuluh-pembuluh darah yang berkeluk-keluk. Di korpus uteri endometrium licin,
akan tetapi di serviks berkelok-kelok; kelenjar-kelenjar itu bermuara di kanalis servikalis
(arbor vitae). Pertumbuhan dan fungsi endometrium dipengaruhi sekali oleh hormon steroid
ovarium.
Uterus pada wanita dewasa umumnya terletak di sumbu tulang panggul dalam
anteversiofleksio (serviks ke depan atas) dan membentuk sudut dengan vagina, sedang korpus
uteri berarah ke depan dan membentuk sudut 120°-130° dengan serviks uteri. Di Indonesia
uterus sering ditemukan dalam retrofleksio (korpus uteri berarah ke belakang) yang pada
umumnya tidak memerlukan pengobatan.
Perbandingan antara panjang korpus uteri dan serviks berbeda-beda dalam
pertumbuhan. Pada bayi perbandingan itu adalah 1 : 2, sedangkan pada wanita dewasa 2:1. Di
luar, uterus dilapisi oleh serosa (peritoneum viserale).Jadi, dari luar ke dalam ditemukan pada
dinding korpus uteri serosa atau perimetrium, miometrium, dan endometrium. Uterus
mendapat darah dari arteria uterina, ranting dari arteria iliakainterna, dan dari arteria
ovarika.
3. Tuba
Tuba Fallopii ialah saluran telur berasal — seperti juga uterus — dari duktus Miilleri.
Rata-rata panjangnya tuba 11-14 cm. Bagian yang berada di dinding uterus dinamakan pars
intertisialis, lateral dari itu (3-6 cm) terdapat pars isthmika yang masih sempit (diameter 2-3
mm), dan lebih ke arah lateral lagi pars ampullaris yang lebih lebar (diameter 4-10 mm) dan
mempunyai ujung terbuka menyerupai anemon yang disebut infundibulum. Bagian luar tuba
diliputi oleh peritoneum viserale, yang merupakan bagian dari ligamentum latum.
Otot di dinding tuba terdiri atas (dari luar ke dalam) otot longitudinal dan otot sirkuler.
Lebih ke dalam lagi terdapat mukosa yang berlipat-lipat ke arah longitudinal dan terutama
dapat ditemukan di bagian ampulla. Tuba terdiri atas epitel kubik sampai silindrik, yang
mempunyai bagian-bagian dengan serabut-serabut dan yang bersekresi. Yang bersekresi
mengeluarkan getah, sedangkan yang berserabut dengan getarannya menimbulkan suatu arus
ke arah kavum uteri.
4. Ovarium
Indung telur pada seorang dewasa sebesar ibu jari tangan, terletak di kiri dan di kanan,
dekat pada dinding pelvis di fossa ovarika. Ovarium berhubungan dengan uterus dengan
ligamentum ovarii proprium. Pembuluh darah ke ovarium melalui ligamentum Suspensorium
ovarii (ligamentum infundibulopel- vikum).
Ovarium terletak pada lapisan belakang ligamentum latum.Sebagian besar ovarium
berada intraperitoneal dan tidak dilapisi oleh peritoneum. Bagian ovarium kecil berada di
dalam ligamentum latum (hilus ovarii). Di situ masuk pembuluh-pembuluh darah dan saraf
ke ovarium. Lipatan yang menghubung- kan lapisan belakang ligamentum latum dengan
ovarium dinamakan mesovarium.
Bagian ovarium yang berada di dalam kavum peritonei dilapisi oleh epitel kubik-
silindrik, disebut epithelium germinativum.Di bawah epitel ini terdapat tunika albuginea dan
di bawahnya lagi baru ditemukan lapisan tempat folikel-folikel primordial. Pada wanita
diperkirakan terdapat banyak folikel. Tiap bulan satu folikel, kadang-kadang dua folikel,
berkembang menjadi folikel de Graaf.
Folikel-folikel ini merupakan bagian ovarium yang terpenting, dan dapat ditemukan di
korteks ovarii dalam letak yang beraneka ragam, dan pula dalam tingkat-tingkat
perkembangan dari satu sel telur yang dikelilingi oleh satu korpus luteum lapisan sel-sel saja
sampai folikel de Graaf yang matang. Folikel yang matang ini terisi dengan likuor follikuli
yang mengadung estrogen, dan siap untuk berovulasi.
Pada waktu dilahirkan bayi mempunyai sekurang-kurangnya 750.000 oogonium.
Jumlah ini berkurang akibat pertumbuhan dan degenerasi folikel- folikel. Pada umur 6-15
tahun ditemukan 439.000, pada 16-25 tahun 159.000, antara umur 26-35 tahun menurun
sampai 59.000, dan antara 34-45 hanya 34.000. Pada masa menopause semua folikel sudah
menghilang.
5. Vulva
Vulva ialah tempat bermuaranya sistem urogenital. Di sebelah luar vulva dilingkari oleh
labia majora (bibir besar) yang ke belakang menjadi satu dan membentuk kommissura
posterior dan perineum. Di bawah kulitnya terdapat jaringan lemak serupa dengan yang ada di
mons veneris. Medial dari bibir besar ditemukan bibir kecil (labia minora) yang ke arah
perineum menjadi satu dan membentuk frenulum labiorum pudendi. Di depan frenulum ini
terletak fossa navikulare. Kanan dan kiri dekat pada fossa navikulare ini dapat dilihat dua
buah lubang kecil tempat saluran kedua glandulae Bartholini bermuara. Ke depan labia
minora menjadi satu dan membentuk prepusium klitoridis dan frenulum klitoridis. Di bawah
prepusium klitoridis terletak klitoris. Kira-kira 1,5 cm di bawah klitoris terdapat orifisium
urethrae eksternum (lubang kemih). Di kanan kiri lubang kemih ini terdapat dua lubang kecil
dari saluran yang buntu.

B. Definisi
Blighted ovum atau BO adalah kehamilan tanpa dijumpai adanya pertumbuhan embrio
(Dr. Andon Hestiantoro, SpOG (K). 2008). Menurut Hanifa W (2006) Blighted Ovum adalah
kehamilan tanpa janin, jadi cuma ada kantong gestasi (kantong kehamilan) dan air ketuban
saja. Sedangkan Blighted Ovum adalah kehamilan dimana embrio tidak berkembang normal
semestinya dan menyebabkan kehamilan kosong dan hanya ada air ketuban saja. (Mochtar R.
2008)
Kehamilan anembryonic mengacu pada kehamilan di mana kantung kehamilan
berkembang di dalam rahim, namun kantung kosong dan tidak mengandung embrio.
Penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa embrio berhenti berkembang pada tahap yang
sangat awal dan itu kembali diserap. Kehamilan Anembryonic" berarti kehamilan tanpa
embrio.
Dikenal sebagai "kehamilan anembryonic" terjadi ketika telur yang telah dibuahi
menempel pada dinding rahim, tetapi embrio tidak berkembang.Sel berkembang
untuk membentuk kantung kehamilan, tetapi tidak embrio itu sendiri. Blighted ovum adalah
jenis umum keguguran. Ini terjadi ketika telur dibuahi di dalam rahim tetapi embrio yang
dihasilkan berhenti berkembang sangat awal atau tidak terbentuk sama sekali.
Blighted ovum (anembryonic pregnancy) terjadi pada saat ovum yang sudah dibuahi
menempel ke dinding uterus, tapi embrio tidak berkembang. Sel-sel berkembang membentuk
kantong kehamilan, tapi tidak membentuk embrio itu sendiri. Blighted ovum biasanya terjadi
pada trimester pertama sebelum wanita tersebut mengetahui tentang kehamilannya.

C. Etiologi
1. Kelainan kromosom pada saat proses pembuahan sel telur dan sel sperma (kualitas sel
telur yang tidak bagus.)
2. Infeksi dari torch, kelainan imunologi dan penyakit diabetes dapat ikut menyebabkan
terjadinya blighted ovum
3. Faktor usia, semakin tinggi usia suami atau istri, semakin tinggi pula peluang terjadinya
blighted ovum.
D. Manifestasi Klinis
Blighted ovum sering tidak menyebabkan gejala sama sekali. Gejala dan tanda-tanda
mungkin termasuk:
1. Periode menstruasi terlambat
2. Kram perut
3. Minor vagina atau bercak perdarahan
4. Tes kehamilan positif pada saat gejala
5. Ditemukan setelah akan tejadi keguguran spontan dimana muncul keluhan perdarahan
6. Hampir sama dengan kehamilan normal

E. Adaptasi Fisiologi / Patofisiologi


Pada saat pembuahan, sel telur yang matang dan siap dibuahi bertemu sperma. Namun
dengan berbagai penyebab (diantaranya kualitas telur/sperma yang buruk atau terdapat
infeksi torch), maka unsur janin tidak berkembang sama sekali. Hasil konsepsi ini akan tetap
tertanam didalam rahim lalu rahim yang berisi hasil konsepsi tersebut akan mengirimkan
sinyal pada indung telur dan otak sebagai pemberitahuan bahawa sudah terdapat hasil
konsepsi didalam rahim. Hormon yang dikirimkan oleh hasil konsepsi tersebut akan
menimbulkan gejala-gejala kehamilan seperti mual, muntah dan lainya yang lazim dialami ibu
hamil pada umumnya.

F. Penatalaksanaan
1. Jika telah di diagnosis blighted ovum, maka tindakan selanjutnya adalah mengeluarkan
hasil konsepsi dari rahim (kuretase). Hasil kuretase akan dianalisa untuk memastikan
apa penyebab blighted ovum lalu mengatasi penyebabnya .
2. Jika karena infeksi maka dapat diobati sehingga kejadian ini tidak berulang.
3. Jika penyebabnya antibodi maka dapat dilakukan program imunoterapi sehingga kelak
dapat hamil sungguhan.
4. Lebih penting adalah trauma mental untuk pasangan. Hal ini membutuhkan konseling
dan meyakinkan mereka bahwa proses ini sangat umum.
5. Menghindari kehamilan selama 2 bulan dan dapat mencoba lagi. Tidak perlu menunggu
sangat lama.Umumnya sel telur blighted adalah kejadian acak dan kemungkinan
pengulangan cukup kurang.
G. Komplikasi
Komplikasi yang berbahaya pada abortus menurut Wiknjosastro, (2005) ialah:
1. Perdarahan
Pendarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan
jika perlu pemberian transfusi darah.
2. Perforasi
Perforasi uterus pada saat curetage dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiperretrofleksi. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang biasa
menimbulkan persoalan gawat karena perlakuan uterus biasanya luas, mungkin pula
terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus.
3. Infeksi
Biasanya pada abortus kriminalis infeksi kandu ng sampai sepsisdan infeksi
tulang yang dapat menimbulkan kemandulan.
4. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarah an (syok hemeragik) dan karena
infeksi berat (syok endoseptik).
H. Pathway

Etiologi (faktor resiko) Tanda dan gejala


Kelainan kromosom dalam pertumbuhan Pada awalnya pemeriksaan awal tes kehamilan
sel sperma dan sel telur. menunjukkan hasil posif.
Infeksi rubella, infeksi TORCH, kelainan Selanjutnya pertumbuhan plasenta akan
imunologi, dan diabetes melitus yang berhenti, kadar hormon HCG menurun dan
tidak terkontrol. akhirnya gejala kehamilan menghilang.
Faktor usia dan paritas. Hasil pemeriksaan USG saat usia kehamilan
Kelainan genetik lebih dari 8 minggu rahim masih kosong.
Kebiasaan merokok dan alkohol Biasanya terjadi setelah usia kehamilan 3
bulan.
Rasa tidak nyaman di perut
Keluar bercak perdarahan dari vagina.
Pemeriksaan
Penunjang USG

Diagnosa
Blighted Ovum (BO)

Penatalaksanaan diterminasi
dengan dilatasi dilanjutkan
dengan kuretase

Komplikasi Post Kuretase

Robekan serviks Perforasi uterus


Darah keluar
pervaginam

Terjadi luka Rasa nyeri Resiko kerusakan


pada serviks Resiko Resiko pada abdomen integritas
syok perdarahan jaringan

Resiko infeksi Nyeri akut


Kurang
pengetahuan

Kecemasan/ansietas
KONSEP DASAR
ASUHAN KEPERAWATAN BLIGHTED OVUM

A. Fokus Pengkajian Keperawatan


1. Data Demografi
a. Identitas klien meliputi : nama, uumr, agama, pekerjaan, pendidikan, alamat, status
perkawinan
b. Data umum kesehatan meliputi: tinggi badab, berat badan, masalah kesehatan
khusus, obat-obatan.
c. Perdarahan, haid terakhir dan pola siklus haid
2. Keluhan utama: pada kasus blighted ovum kemungkinan mengalami kram perut ringan,
dan atau perdarahan bercak ringan. Keluhan pada Trimester I: Chloasma gravidarum,
mual dan muntah (akan hilang pada kehamilan 12-14 minggu) sering kencing, pusing,
ngidam, obstipasi.
3. Riwayat kesehatan dahulu: untuk mengetahui apakah klien pernah atau tidak pernah
menderita penyakit menular (seperti TBC, kusta), penyakit menurun (DM, HT, asma,
dll) serta serta penyakit infeksi seperti TORCH. Infeksi dari torch, kelainan imunologi
dan penyakit diabetes dapat ikut menyebabkan terjadinya blighted ovum.
4. Riwayat kesehatan sekarang: untuk mengetahui bagaimana keadaan kesehatan klien
saat ini, apakah klien sedang menderita menular (seperti TBC, kusta), penyakit
menurun (jantung, Diabetes, hipertensi, asma, dll) serta penyakit infeksi seperti
TORCH. Infeksi dari torch, kelainan imunologi dan penyakit diabetes dapat ikut
menyebabkan terjadinya blighted ovum.
5. Pemeriksaan fisik umum
6. Keadaan umum, TTV, jika keadaan umum buruk lakukan resusitasi dan stabilisasi
segera.
7. Pemeriksaan genikologi
Ada tidaknya tanda akut abdomen jika memungkinkan, cari sumber perdarahan, apakan
dari dinding vagina atau dari jaringan servik.
8. Jika diperlukan ambil darah untuk pemeriksaan penunjang
9. Pemeriksaan vaginal touche: bimanual tentukan besat dan letak uterus, tantukan juga
apakah satu jari pemeriksa dapat dimasukkan kedalam ostium dengan mudah atau tidak.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan insisi pembedahan
2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
3. Risiko infeksi berhubungan dengan tindakan kuretase
4. Risiko perdarahan dibuktikan dengan komplikasi pasca kuretase

C. Rencana Tindakan Keperawatan


DIAGNOSA
NO. SLKI SIKI
KEPERAWATAN
1. Nyeri Akut Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri
Definisi: Pengalaman Dalam waktu 3x24 jam Observasi
sensorik atau emosional pengalaman sensorik atau - Identifikasi lokasi,
yang berkaitan dengan emosional yang berkaitan karakteristik, durasi,
kerusakan jaringan actual dengan kerusakan jaringan frekuensi, kualitas,
atau fungsional, dengan actual atau fungsional, intensitas nyeri
onset mendadak atau dengan onset mendadak - Identifikasi skala nyeri
lambat dan berintensitas atau lambat dan - Identifikasi respon nyeri
ringan hingga berat yang berintensitas ringan non verbal
berlangsung kurang dari hingga berat dan konstan - Identifikasi faktor yang
3 bulan. dengan ekspetasi memperberat dan
menurun. memperingan nyeri
Kriteria Hasil: - Monitor keberhasilan terapi
1. Keluhan nyeri komplementer yang sudah
menurun diberikan
2. Meringis menurun - Amonitor efek samping
3. Gelisah menurun penggunaan analgesic
4. Kesulitan tidur Terapeutik
menurun - Berikan teknik
5. Ketegangan otot nonfarmakologis untuk
menurun mengurangi rasa nyeri
6. Mual menurun - Control ruangan yang
7. Frekuensi nadi memperberat rasa nyeri
membaik - Fasilitasi istirahat dan tidur
8. Pola napas membaik - Pertimbangkan jenis dan
9. Nafsu makan membaik sumber nyeri dalam
10. Pola tidur membaik pemilihan strategi
meredakan nyeri
Edukasi
- Jelaskan penyebab, periode,
dan pemicu nyeri
- Jelaskan strategi meredakan
nyeri
- Anjurkan memonitor nyeri
secara mandiri
- Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu
2. Ansietas Tingkat Ansietas Reduksi Ansietas
Dalam 3x24jam Observasi
Definisi: Kondisi emosi diharapkan kondisi emosi - Identifikasi saat tingkat
dan pengalaman subjektif dan pengalaman subjektif ansietas berubah
individu terhadap objek individu terhadap objek - Identifikasi kemampuan
yang tidak jelas dan yang tidak jelas dan mengambil keputusan
spesifik akibat antisipasi spesifik akibat antisipasi Terapeutik
bahaya yang bahaya yang - Ciptakan suasana terpeutik
memungkinkan individu memungkinkan individu untuk menumbuhkan
melakukan tindakan melakukan tindakan untuk kepercayaan
untuk menghadapi menghadapi ancaman - Temani pasien untuk
ancaman. dengan ekspetasi mengurangi kecemasan
menurun. - Pahami situasi yang
Kriteria Hasil: membuat ansietas
1. Verbalisasi - Dengarkan dengan penuh
kebingungan menurun perhatian
2. Verbalisasi khawatir - Gunakan pendekatan yang
akibat kondisi yang tenang dan meyakinkan
dihadapi menurun Edukasi
3. Perilaku gelisah -Jelaskan prosedur, termasuk
menurun sensasi yang mungkin
4. Perilaku tegang dialami
menurun -Informasikan secara factual
5. Keluhan pusing mengenai diagnosis,
menurun pengobatan, dan prognosis
6. Anoreksia menurun -Anjurkan keluarga untuk
7. Palpitasi menurun tetap bersama pasien
8. Frekuensi pernapasan -Anjurkan mengungkapkan
menurun perasaan dan persepsi
9. Frekuensi nadi -Latih teknik relaksasi
menurun Kolaborasi
10. Tekanan darah - Kolaborasi pemberian obat
menurun antiansietas
11. Konsentrasi membaik
12. Pola tidue membaik
13. Kontak mata membaik
3. Resiko infeksi Tingkat infeksi Pencegahan infeksi
Dalam waktu 3x24 jam Observasi
Definisi: Berisiko derajat infeksi - Monitor tanda dan gejala
mengalami peningkatan berdasarkan observasi infeksi lokal dan sistemik
terserang organisme atau sumber informasi. - Terapeutik
patogenik Kriteria Hasil: - Batasi jumlah pengunjung
1. Demam menurun - Berikan perawatan kulit
2. Kemerahan menurun pada area adema
3. Nyeri menurun - Cuci tangan sebelum dan
4. Bengkak menurun sesudah kontak dengan
5. Kadar sel darah putih pasien dan lingkungan
membaik pasien
6. Nafsu makan membaik - Pertahankan teknik aseptik
7. Kebersihan badan pada pasien berisiko tinggi
meningkat Edukasi
- Jelaskan tanda dan gejala
infeksi
- Ajarkan cuci tangan dengan
benar
- Ajarkan cara memeriksa
kondisi luka atau luka
operasi
- Anjurkan meningkatkan
asupan nutrisi
- Anjurkan meningkatkan
asupan cairan
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
imunisasi, jika perlu
4. Resiko Perdarahan Tingkat Perdarahan Pencegahan Perdarahan
Dalam 3x24 jam Observasi
Definisi: Berisiko kehilangan darah baik - Monitor tanda dan gejala
mengalami kehilangan internal (terjadi di dalam perdarahan
darah baik internal tubuh) maupun eksternal - Monitor nilai
(terjadi di dalam tubuh) (terjadi hingga keluar hematocrit/hemoglobin
maupun eksternal (terjadi tubuh) dengan ekspetasi sebelum dan setelah
hingga keluar tubuh). menurun. kehilangan darah
Kriteria Hasil: - Monitor tanda-tanda vital
1. Distensi abdomen ortostatik
menurun Terapeutik
2. Perdarahan vagina - Pertahankan bed rest selama
menurun perdarahan
3. Perdarahan pasca - Batasi tindakan invasive
operasi menurun - Gunakan kasur pencegah
4. Hemoglobin meningkat decubitus
5. Hematocrit meningkat - Hindari pengukuran suhu
6. Tekanan darah membaik rektal
7. Denyut nadi apical Edukasi
membaik - Jelaskan tanda dan gejala
8. Suhu tubuh membaik perdarahan
- Anjurkan meningkatkan
asupan cairan untuk
menghindari konstipasi
- Anjurkan meningkatkan
asupan makanan dan
vitamin K
- Anjurkan segera melapor
jika terjadi perdarahan
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian obat
pengontrol perdarahan
- Kolaborasi pemberian
produk darah
- Kolaborasi pemberian
pelunak tinja

Daftar Pustaka

Cunningham, Gary. F, et.Al (2005). Obsetri wiliam. Edisi 21. Alih bahasa; dr Andri Hartono,
et.al. Jakarta : EGC

Depkes RI.2007 Asuhan Persalinan Normal. Depkes RI. Jakarta.

Hidayati, Ratna. (2002) Asuhan Keperawatan pada kehamilan fisiologis dan patologis.
Jakarta. Salemba Medika
Manuaba, IBG (2002). Konsep obstetri dan ginekologi sosial Indonesia. Jakarta Penerbit
Buku Kedokteran EGC

Saifudin, Abdulbahri. 2002. Panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Sarwono, Prawiroharjo. (2008). Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal, cetakan 4. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka