Anda di halaman 1dari 16

PRAKTIKUM BIOKIMIA

BLOK 7

SISTEM RESPIRASI

Nama Anggota kelompok

1. Valerian Sadila (1861050016)


2. Rustianti (1861050018)
3. Fanuel Petra Dewandaru (1861050020)
4. Astrid Nadya Fadilla (1861050037)

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA


FAKULTAS KEDOKTERAN

JAKARTA

2019
I. HEMOLISIS SEL DARAH MERAH

DASAR PERCOBAAN

Sel darah merah mempunyai daya tahan terhadap larutan sekitarnya

TUJUAN PERCOBAAN

Mempelajari ketahanan eritrosit dalam berbagai konsentrasiNaCl

CARA KERJA :

1. Siapkan 10 tabung reaksi dengan campuran :

Derajat Hemolisis

Tabung Air (ml) NaCl 2 % (ml) % NaCl

1 10 -- 0 Hipotonik Hemolisis

2 9 1 0,2 Hipotonik Hemolisis

3 8 2 0,4 Hipotonik Hemolisis

4 7,5 2,5 0,5 Hipotonik Hemolisis

5 7 3 0,6 Hipotonik Hemolisis

6 6,5 3,5 0,7 Hipotonik Hemolisis

7 6 4 0,8 Hipotonik Hemolisis

8 5,5 4,5 0,9 Isotonik Normal

9 5 5 1 Hipertonik Krenasi

10 4,5 5,5 1,1 Hipertonik Krenasi


PEMBAHASAN

Apakah yang dimaksud dengan resistensi osmotik ?

Resistensi osmotik atau disebut juga fragilitas osmotik adalah kemampuan eritrosit
menahan terjadinya hemolisis (destruksi eritrosit) dalam larutan yang hipotonis.
II. PENGARUH ZAT KIMIA

TUJUAN PERCOBAAN

Mengamati pengaruh zat kimia terhadap eritrosit

CARA KERJA :

1. Siapkan 6 buah tabung dengan 10 ml NaCl 0,9% dalam setiap tabung


2. Kemudian tambahkan ke dalam tabung masing – masing :

Tabung

(masing – masing 2 tetes)

A : air + darah

B : klorofom + darah

C : eter + darah

D : aseton + darah

E : toluen + darah

F : alcohol + darah

HASIL

Tabung Derajat Hemolisis (%)

A Tidak Hemolisis

B Hemolisis

C Hemolisis

D Tidak Hemolisis

E Hemolisis

F Hemolisis
PEMBAHASAN

Pada percobaan, zat kimia yang ditambahkan merupakan pelarut lipid yang artinya
akan melarutkan dan melisiskan lipid pada membrane. NaCl yang berfungsi sebagai
pelarut lalu diteteskan darah. Disekitar eritrosit terdapat membrane yang diselimuti
oleh fosfolipid bilayer yang akan terkikis oleh pelarut lipid sehingga mendukung
lisis eritrosit. Tetapi hanya kloroform , eter , toluen dan alkohol yang mampu
melisiskan karena sifatnya yang non-polar sedangkan air dan aseton merupakan zat
bersifat polar.
III. TEST GUAIAC (Darah Samar)

DASAR PERCOBAAN:

Test ini peka dan berguna untuk menyatakan adanya darah. Jangan menggunakan
larutan guaiac terlalu pekat, sebab presipitat bahan-bahan resin yang banyak akan
menutupi warna biru yang terbentuk. Zat-zat lain seperti susu, nanah, dan liur juga
memberikan hasil positif, tetapi setelah dididhkan 15-20 detik zat-zat ini tidak lagi
memberikan warna biru,sedangkan darah yang telah dididihkan tetap memberikan
hasil positif.

CARA KERJA :

1. Pada 5ml darah encer tambahkan larutan guaiac 2% dalam alcohol tetes
demi tetes sampai terjadi kekeruhan.
2. Tambahkan H2O2 3% tetes demi tetes sampai timbul warna biru.
3. Ulangi terhadap :
-darah yang dididihkan 30 detik
-darah yang lebih encer.

HASIL :

Bahan uji Warna


1. Darah tanpa dipanaskan
2. Darah yang dipanaskan
3. Darah yang lebih encer

PEMBAHASAN :

Tes darah samar feses mendeteksi darah dalam tinja yang tidak terlihat pada
pemeriksaan secara konvensional dan tidak terlihat oleh mata telanjang dibawah
mikroskop. Feses biasanya mengandung kurang dari 50 mg hemoglobin per gram
tinja, dimana pada orang dewasa normal umumnya menunjukkan kurang dari 2
sampai 3 mg /gr. Peningkatan jumlah ini dikaitkan dengan berbagai penyakit
gastrointestinal jinak / ganas, terutama neoplasma kolon. Tes ini yang paling sering
digunakan pada pasien skrining untuk lesi tersebut.

Tes darah samar feses umumnya berasal dari perdarahan yang berlangsung perlahan,
sering kali intermiten dari saluran gastrointestinal bagian atas atau
bawah. Perdarahan yang perlahan tidak mengubah warna tinja atau menghasilkan
darah merah terang yang terlihat mata. Oleh karena itu darah hanya ditemukan
dengan melakukan pemeriksaan feses di laboratorium. Perdarahan secara perlahan
ini memiliki banyak penyebab yang sama dengan bentuk pendarahan gastrointestinal
yang berlangsung lebih cepat, seperti perdarahan rektum dimana tampak adanya
darah merah atau adanya gumpalan darah secara merata dan melena dimana feses
berwarna hitam akibat perdarahan dari usus bagian atas.

Untuk pengujian berdasar kimiawi maka larutan yang mengandung bahan kimia
guaiac dan menggunakan bahan kimia pengoksidasi. Jika terdapat darah dalam
sampel tinja, pencampuran larutan dengan darah menyebabkan guaiac berubah
menjadi biru. Warna biru disebabkan oleh interaksi dari bagian heme dari molekul
hemoglobin, molekul pembawa oksigen dalam sel darah merah, dan guaiac.
IV. TEST BENZIDIN (Darah samar)

DASAR PERCOBAAN :

Test ini sangat peka unruk menyatakan darah

CARA KERJA :

1. Sediakan 3 buah tabung reaksi


2. Isi setiap tabung dengan 2 ml dengan pengenceran 1:200, 1:400 dan
1:1.000.000
3. Ke dalam masing masing tabung reaksi tambahkan 3 tetes larutan benzidin
dalam asetat glasial jenuh dan 1 ml H2O2 3%.

HASIL

Pengencer Darah Warna


1:200 Biru gelap
1:400 Biru gelap
1:1000000 Biru lebih terang
PEMBAHASAN :
Test benzidin atau darah samar dilakukan untuk mendeteksi kanker usus besar
pada pasien tanpa gejala usus yang nyata. Kejadian kanker usus besar sering terjadi
dengan memberikan tanda adanya darah samar pada feses sebelum menyebabkan
gejala lain seperti sakit perut, pendarahan rektum, atau perubahan kebiasaan buang
air besar.

Pada test kali ini, kelompok kami mengisi 3 tabung reaksi dengan darah yang
sudah diencerkan dengan pengenceran yang berbeda-beda. Pada tabung reaksi
yang pertama, kami mengisi tabung dengan darah yang sudah diencerkan dengan
pengenceran 1 : 200, pada tabung reaksi kedua diisi dengan pengenceran 1 : 400
dan tabung reaksi ketiga diisi dengan pengenceran darah 1 : 1.000.000. Kemudian
ketiga tabung tersebut masing-masing ditambahkan dengan 1 ml H2O2 3%.

Hasil pada tabung pertama dan kedua yang diisi dengan pengenceran darah 1 : 200
dan 1 : 400, keduanya berubah warna menjadi biru gelap. Sedangkan pada tabung
reaksi ketiga diisi dengan pengenceran darah 1 : 1000000 dan berubah warna
menjadi biru yang lebih terang. Warna biru gelap dan biru (lebih terang)
disebabkan oleh interaksi dari bagian heme dan molekul hemoglobin, molekul
pembawa oksigen dalam sel darah merah. Pada tabung reaksi 1 & 2 dengan hasil
warna biru gelap menandakan bahwa hasilnya positif 4 yang artinya banyak sekali
mengandung hemoglobin di dalam darah tersebut. Sedangkan tabung reaksi 3
dengan hasil warna biru biasa dikategorikan dengan hasil positif 3 yang
menandakan adanya hemoglobin di pengenceran darah tersebut. Jika hasilnya
negatif,maka warnanya tidak akan berubah, sedangkan jika poitif 1 &2, maka
warnanya hijau dan biru hijau.
V. OKSIHEMOGLOBIN DAN HEMOGLOBIN TEREDUKSI

DASAR PERCOBAAN :

Hb dapat mengikat dan melepaskan O2

CARA KERJA :

1. Campurkan dengan baik 2ml darah dengan 6ml air dalam tabung reaksi.
Perhatikan warna merah yang terjadi.
2. Bagilah dua isi tabung (A dan B ). Tabung A sebagai kontrol tidak di tambah
apa-apa.
3. Masukan tabung B pereduksi kuat (1 tetes Stokes). Tambahkan NH4OH
secukupnya agar endapan yang terbentuk larut.
4. Perhatikan warnba Hb tereduksi.
5. Kocok tabung B kuat-kuat dan perhatikan perubahan warna.
6. Bandingkan dengan proses faal pada pernafasan.

HASIL :

Tabung Warna

A. Kontrol Berwarna merah


B. -dengan Stokes Berwarna merah gelap

-setelah dikocok Berwarna merah merata


PEMBAHASAN :

Dari hasil yang didapatkan memperlihatkan bahwa hemoglobin dapat mengikat


oksigen menjadi HbO2 dan senyawa ini dapat terurai kembali menjadi deoksi Hb
dan O2. Dalam keadaan tereduksi, fe dalam hemoglobin dapat mengikat O2 menjadi
HbO2. Dan HbO2 akan melepaskan O2 pada penambahan reaksi stokes

Hb (fe2+) + O2 >>>>>><<<<<<< Hb(fe2+)O2

Pada hasil percobaan oksihemoglobin warna larutan merah. Kemudian pada


pemberian pereaksi stokes darah menjadi warna merah gelap karna pada tabung
terjadi proses pelepasan O2. Setelah dikocok diperoleh warna merah merata hal ini
karna Hb mengikat O2 lagi dari udara.
VI. METHEMOGLOBIN

DASAR PERCOBAAN

Ion fero pada Hb dapat teroksidasi menjadi ion feri

CARA KERJA
A. 1. Canpurkan 2 ml darah + 8 ml air + 2 ml K- ferisianida 33%
2. Perhatikan warna metHb yag terbentuk

3. Ujilah dengan pereaksi stokes dan perhatikan warnanya

B. 1. Campurkan 3 ml darah dengan 3 ml air dan hangatkan


2. Tambahkan 6 ml K-ferisianida 33 %

3. Perhatikan gelembung gelembung oksigen yang terbentuk

Hasil
A2 Warna MetHb……………………….. Coklat kehitaman

A3 Warna dengan stokes ……………….. Biru gelap

A4 Gelembung gelembung O2 ⃞ Terlihat

⃞ Tak terlihat

PEMBAHASAN

Darah memiliki heme (Fe2+), dengan penambahan K3Fe(CN)6 33% akan terjadi
reaksi ksidasi menjadi Fe3+ sehingga ada perubahan warna menjadi merah pekat.
Tetapi jika ditambahkan pereaksi strokes akan terjadi pelepasan O2 sehingga
terlihat banyak gelombang-gelombang.
VII. ALBUMIN DAN GLOBULIN SERUM

DASAR PERCOBAAN :

Garam dapat mengendapkan globulin dan albumin (salting out)

CARA KERJA :

1. Campurkan 3ml serum dengan 3ml (NH4)SO4 Jenuh.


2. Endapan putih terbentuk.
3. Saring dan masukan endapan ke dalam 3ml NaCl 1%
4. Kocok sampai endapan larut, ambil 2ml larutan.
5. Campurkan 2ml larutan tadi + 2ml NaOH 10% +3 tetes CuSO4 (tes biuret)
6. Perhatikan warna yang terjadi
7. Pada filtrate tambahkan Kristal (NH4)2SO4 sampai jenuh.
8. Kembali terbentuk endapan putih.
9. Saring dan lakukan test biuret terhadap filtrat.

HASIL :

Test biuret Warna Positif/negative

Butir 6 Berwarna Biru Positif

Butir 9 Tidak berwarna biru Negative

PEMBAHASAN :

Protein yang mengendap dalam ammonium sulfat setengah jenuh adalah globulin

Albumin merupakan protein yang larut dalam air, dan globulin sulit larut dalam
air.serum yang mengandung kedua protein ditambahkan garam ammonium sulfat
maka globulin akan terpisah sebagai endapan dan albumin akan larut.

Pengendapan globulin terjadi karna pada saat penambahan ammonium sulfat, ion-
ion garam ammonium sulfat menarik molekul air dan albumin menjauh dari
globulin. Hal ini karna , ion-ion garam ammonium sulfat memiliki muatan berat
jenis yang lebih besar disbanding protein, sehingga ketika ditambahkan akan
beriktana dengan molekul air dan albumin yang didapat memaksa globulin
berinteraksi,dan ketika menambahkan ammonium sulfat dalam julah cukup
menyebabkan terpresifitasi, setelah proses ini didapatkan endapan globulin. Pada
butir 6 berwarna biru karna positif terdapat protein globulin.

Protein yang mengendap dalam ammonium sulfat jenuh adalah albumin

Butir 7 -> Filtrat tersebut ditambahkan dengan (NH4)2SO4 padat berlebih sehingga
terdapat sedikit endapan yang melayang. Penambahan garam (NH4)2SO4 (amonium
sulfat) yang berlebih ini bertujuan untuk mengikat air pada protein karena garam
bersifat hidroskopis sehingga protein albumin tersebut dapat mengendap karena
protein albumin dapat mengendap pada amonium sulfat jenuh. Menurut Sloane
(2004), albumin adalah protein yang dapat larut serta dapat terkoagulasi oleh panas
dan dapat diendapkan dengan penambahan amonium sulfat hingga jenuh

Test biuret terhadap filtrate (butir 9) memberikan hasil positif/negative karena..

Negative karna protein albumin dan globulin sudah terbentuk endapan dan sudah
di saring dari filtrate pada butir 9
VIII. KARBOKSI HEMOGLOGIN

DASAR PERCOBAAN :
Pembentukan Karbonmonoksida (CO)

Pada skala kecil, CO murni dapat dihasilkan dengan pemanasan formiat yang direaksikan dengan
H2SO4 pekat, suatu dehidrator yang kuat.

H2SO4 (Pekat)

HCHO2 CO (gas) + H2O


Pemanasan

CARA KERJA :

Encerkan 2 ml darah dengan 8 ml air. Bagilah dua cairan ini. Alirkan dari alat pembentuk CO
(hati-hati toksik) ke dalam salah satu tabung. Oksi Hb akan berubah menjadi karbonmonoksi
Hb. Bandingkan warna pada kedua tabung tadi.

1. Tambahkan pereaksi Stokes pada kira-kira 1 ml masing-masing larutan tersebut diatas.


Jelaskan hasil yang didapat.
2. ENcerkan 1 ml dari masing – masing larutan di atas dengan 4 ml air. Bandingkan warna
kedua cairan tadi. Oksi Hb berwarna kekung-kuningan, sedang karbonmonoksida Hb
kemerah-merahan (carmine tint)

CATATAN :

Asap tembakau pada ujung rokok mengandung 2-5 % CO

PEMBAHASAN
CO (Karbon monoksida) adalah zat yang mampu bergabung dengan Hb
(hemoglobin) 200 kali lebih mudah dari oksigen (02). Oleh karena itu, zat ini
mengurangi jumlah hemoglobin saat berkombinasi dengan O2. Selain itu,
sementara CO mengikat Hb, terjadi perubahan struktural pada Hb, kemudian
membuat oksigen terikat dalam Hb, dan menimbulkan masalah. Hal tersebut
membuat darah tidak mampu memasok O2 ke dalam jaringan dan menyebabkan
tubuh kekurangan oksigen. Pasien bisa teracuni oleh CO karena menghirup asap
dari kebakaran. Sumber-sumber lain yang memproduksi CO termasuk asap
tembakau, bensin dan asap bahan bakar gas alam, knalpot mobil, gas perapian,
pembakaran yang tidak berventilasi, dan kompor gas yang rusak. Untuk mengobati
keracunan CO ini, dokter memberikan pasien dosis O2 tinggi untuk mengurangi
jumlah COHb.