Anda di halaman 1dari 10

SKOR :

Critical Book Review (CBR)


SEMINAR PROPOSAL

Oleh :

Nama : Muhammad Fikri lubis


NIM : 5163311020
Kelas : Ekstensi D PTB 2016
Mata Kuliah : Seminar Proposal
Dosen Pengampu : Drs. Sempurna perangin-angin, M. Pd

FAKULTAS TEKNIK
PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
T.A. 2019 / 2018
KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Allah SWT. Karena atas Rahmat dan Hidayah-Nya saya dapat
menyelesaikan Tugas ini dengan tapat waktu. Saya memohon maaf apabila kepenulisan dalam
tugas saya masih jauh dari kata sempurna. Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak
Drs. Sempurna Perangin-angin, M. Pd selaku dosen Seminar Proposal yang memberi arahan
dalam mengerjakan tugas Critical Book Review dengan Judul buku Learning To Teach
dengan pengarang Richard I. Arends. Saya berharap tugas ini dapat menambah wawasan kita
mengenai materi yang diangkat menjadi topik utama dalam tugas Critical Book Review , serta
dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi para pembaca.
Dengan ini saya mempersembahkan tugas ini dengan penuh rasa terima kasih dan
harapan semoga tugas saya bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Medan, 20 Mei 2019

Muhammad Fikri Lubis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar belakang 1
1.2 Tujuan 1
1.3 Manfaat 1
BAB II RINGKASAN BUKU 2
2.1 Ringkasan Buku 2
BAB III PEMBAHASAN ANALISIS 5
3.1 Kritikal Buku 5
3.2 Kelebihan dan Kelemahan Buku 5
BAB IV PENUTUP 6
3.1. Kesimpulam 6
3.2 Saran 6
DAFTAR PUSTAKA 7

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Salah satu tugas mata kuliah Seminar Proposal, yaitu Critical Book Review yang
diberikan dengan pembahasan tentang Model pembelajaran dari buku dengan cara
menganalisis temuan utama, keunggulan dan kelemahan yang ada dalam buku tersebut.
Untuk melengkapi tugas yang diberikan saya mencoba mereview buku dengan identitas
sebagai berikut:

Identitas buku :
Judul Buku : Learning To Teach
Penulis : Richard I. Arends
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : cetakan pertama edisi ketujuh buku dua 2008
Kota : Yogyakarta
Tebal :248 halaman, 20 cm
ISBN : 978-602-8055-80-2

1.2. Tujuan
Critical book review ini bertujuan untuk:
1. Mengulas isi buku yang akan direview.
2. Mencari dan mengetahui informasi mengenai metode pembelajaran yang ada
3. Melatih diri untuk berpikir kritis dalam mencari informasi yang ada pada buku.

1.3. Manfaat
Critical book review ini bemanfaat untuk:
a. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Seminar Proposal
b. Untuk menambah pengetahuan tentang Metode Pembelajaran dari buku yang akan
direview.

1
BAB II
RINGKASAN
b.1. Ringkasan buku
Model-model Pengajaran Interaktif yang Berpusast-pada-Siswa
Problem-Based Learning
Bab ini adalah tentang problem-based learning (PBL) (pembelajaran berbasis-
masalah) dan penggunanya dalam mendukung pemikiran tingkat-tinggi dalam situasi
berorientasi-masalah, seperti project-based instruction (pengajaran berbasis-proyek),
authentinc learning (pelajaran autentik), dan anchored instruction . Berbeda dengan
presentasi atau mode-model yang dideskripsikan di bab 7 dan 8 (buku satu) yang
penekanannya adalah guruhlah yang mempresentasikan ide-ide atau mendemotrasikan
berbagai ketrampilan, peran guru dalam berbasis-masalah adalh menyodorkan berbagai
masalah , memberikan petanyaan dan mempasilitasi investigasi dan dialog. Hal yang
terpenting, guru menyediakan scaffolding-perancah atau kerangka pendukung-yang
meningkatkan inquiry (penyelidikan) dan pertumbuhan intelektual. PBL tidak mungkin
terjadi kecuali jika guru menciptakan lingkungan kelas tempat pertukaran ide-ide yang
terbuka dan jujur dapat terjadi. Dalam hal ini ,banyak pararel diaantaara PBL , cooperative
learning , dan diskusi kelas . Anda akan memilih bahwa PBL memiliki akar yang intektual
yang sam dengan inquiry teaching dan cooperative learning . Dibagian-bagian selanjutnya ,
fiktur-fiktur yang sama dengan semua metode ini dieksplorasi dengan lebih terperinci.
PBL biasanya terdiri atas lima fase utama yang diberi guru yang mengarahkan
siswa kesebuah bermasalah dan berpuncak pada presentasi dan analisis hasil kerja siwa dan
berbagai artefak. Bila cakuoan masalahnya tidak terlalu luas , kelima fase model itu dapat
diselesaikan dalam waktu beberapa jam pelajaran. Akan tetapi , masalah-masalah yang
lebih kompleks dan membutuhkan waktu satu tahun ajaran penuh untuk diselesaikan .
Kelima fase model itu akan dideskripsikan secara lebih terperinci di bagian lain bab ini.
Dukungan Teoretis dan Empiris
Dewey dan Kelas Berorientasi-Masalah
Seperti halnya cooperative learning , PBL menemukan akan intelektualnya dalam
hasil karya Jhon Dewey . Dalam Democracy Edukation (1916) Dewey mendiskripsikan
pandangan tentang pendidikan dengan sekolah dengan cermin masyarakat yang lebih besar
dan keals akan menjadi laboraterium untuk penyelidikan dan pengatasan-masalah
kehidupan nyata. Pedagogi Dewey mendorong guru untuk melibatkan siswa di berbagsi

2
proyek berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki bebagai masalah sosial
dan intelektual penting . Dewey dan siswa-siswanya seperti Kilpatrick (1918) mengatakan
bahwa pembelajaran disekolah seharusnya purposeful (memiliki maksud yang jelas ) dan
tidak abstrak dan bahwa pembelajaran yang purposeful dapat diselesaikan dengan sebaik-
baiknya dengan memperintahkan anak-anak dalam kelompok-kelompok kecil untuk
menangani proyek-proyek yang mereka minati dan mereka pilih sendiri . Visi
pembelajaran purposeful dan problem centered ( dipusatkan pada masalah) yang didukung
hasrat bawaan siswa untuk mengekspolarasi situasi-situasi secara personal berarti baginya
jelas behubungn dengan PBL kontemporer dengan filosofi dan pedagogi pendidikan
Dewey.
Jean Piaget
seorang pesikolog Swiss menghabiskan waktu lebih dari lima puluh tahun untuk
mempelajari bagaiman anak-anak berpikir dan proses-proses yang terkait dengan
pekembangan intelektual mereka. Dalam penjelasan intelek berkembang pada anak-anak
yang amsih belia Piaget membenarkan bahwa anak-anak membawa sifat bawaan ingin tahu
dan berusaha memahami dunia disekitarnya. Keingintahuan ini , menurut Piaget
memotivasi mereka untuk mengontruksikan secara aktif representasi –representasi
dibenaknya tentang lingkungan yang mereka alami. Ketika umur mereka semakin
bertambah dan mendapat kapasitas bahasa dan ingatan, representasi mental mereka tentang
dunia menjadi lebih rumit dan abstrak , akan tetapi diseluruh tahapan perkembangannya ,
kebutuhan anak untuk memahami lingkungannya untuk memotivasi kemampuan mereka
uantuk menginvestigasi dan mengontruksikan teori yang menjelaskannya.
Perspektif kognitif-konetruktivis, yang menjadi landasan PBL , banyak meminjam
pendapat Piaget (1954, 1963) . Perspektif ini mengatakan, seperti yang juga dikatakan
oleh Piaget , bahwa pelajar dengan umur berapa pun terlibat secara aktif dalam proses
mendapatkan informasi dan mengontruksikan pengetahuannya sendiri . Pengetahuan tidak
statis, tetapi berevulusi dan berubah secara konstan selama pelajar mengonstruksikan
pengalaman-pengalaman yang baru memaksa mereka untuk mendasarkan diri pada dan
memodifikasi pengetahuan sebelumnya .
Lev Vygotsky
Lev Vygotsky adalah seorang pesikolog Rusia yang hasil karnyany baru akhir-akhir
ini saja mulai dikenal kebanyakan orang-orang Eropa maupun Amerika . Seperti Piaget ,
Vygostky (1978, 1994) percaya bahwa intelek bekembang ketika individu menghadapai

3
pengalaman baru dan membingungkan dan ketika mereka berusaha mengatasi diskrepansi
yang timbul oleh pengalaman-pengalaman ini . Dalam usaha menemukan usaha ini ,
individu menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya dam
nengonstruksikan makna baru. Keyakinan Vygotsky berbeda dengan keyakinan Piaget
dalam beberapa hal penting . Bila Piaget memfokuskan pada tahap-tahap pengembangan
intelektual yang dilalui ank terlepas dari konteks sosial atau kulturalnya , Vygotsky
menekankan sosial belajar . Vygotsky percaya bahwa intraksi sosial dengan orang lain
memacu pengontruksian ide-ide abru dan meningkatkan perkembangan intelektual pelajar.
Salah satu ide kunci yang berasal dari minat Vygotsy pada aspek sosial
pembelajaran adalah konsepnya adalah sosial pembelajaran adalah konsepnya tentang zone
of proximal development . Menurut Vygoksy dua tingkatan perkembangan yang berbeda :
tingkat perkembangan actual menentukan fungsi intelektual individu saat ini dan
kemanpuannya untuk mempelajari sendiri hal-hal tertentu . Individu juga memiliki tingkat
perkembangan potensial, yang oleh Vygosty didefinisikan sebagai tingkat yang dapat
difungsikan atau dicapai oleh individu dengan bantuan orang lain , misalnya guru, orang
tua, atau teman sebayanya yang lebih maju . Zona yang terletak diantara tingkat
perkembangan potensial disebut sebagai zone of proximal development.
Jrome Bruner
Jrome Bruner , seorang pesikolog Harvard, adalah salah satu pemuka dalam
reformasi kurikulum pada zaman ini.Ia dan teman-teman sejawatnya member dukungan
teoritis penting terhadap discovery learning , sebuah model pengajaran yang menekankan
pentingnay membantu siswa untuk memahami ide-ide kunci suatu disiplin ilmu ,
kebutuhan akan keterlibatan aktif siswa dalam peruses belajar , dan bahwa pembelajaran
sejati terjadi melalui personal discovery (penemuan pribadi). Tujuan pendidikan bukan
hanya untuk memperbesar dasar pengetahuan siswa , tetapi juga untuk menciptakan
berbagai kemungkinan untuk invention (penciptaan)dan discovery (penemuan) .

4
BAB III
PEMBAHASAN ANALISIS
3.1. Kritik Buku
Buku ini adalah buku internasional yang sudah di translate ke dalam bentuk buku
bahasa indonesia masih membahas tentang materi yang sama dengan buku pertama agar
terlihat berbedaan yang signifikan dari ketiga buku ini. Buku kedua bahasa translate dari
bahasa inggris buku asli masih dengan penyusunan kalimat yang agak rancuh sehingga
pembaca akan merasa agak sulit dalam memahaminya. Pembahasan buku kedua ini sangat
lebih sulit dalam memaknai setiap kalimat . Pembahasan materi tentang model-model
kooperatif lebih sedikit pembahasannya dibanding buku pertama walaupun di dalam buku
tersebut juga membahas materi tentang problem based lerning (PBL). Setiap pembahasan
model kooperatif hanya 2 model yang melampirkan sintaks pembelajaran . Di dalam buku
ini mencantumkan nama para ahli yang mendukung teorotis dan empiris. Pembaca yang
bukan berasal dari dunia pendidikan akan merasa sangat dalam memahami buku kedua ini,
jika dari dunia pendidik yang ingin menerapkan model pembelajaran koopertif harus
mencari cari sintaks pembelajaran dari buku lain.
3.2. Kelebihan dan Kelemahan Buku
Kelebihan Buku
Buku kedua ini memiliki kelebihan dengan mencantumkan dukungan teorotis dan empiris
dari para ahli dari segi pisikologi pembelajaran kooperatif.

Kelemahan Buku
Kekurangan dalam buku kedua antara lain :
1. Bahasa translitan dari bahasa inggris ke bahasa indinesia buku asli masih dengan
penyusunan kalimat yang agak rancuh sehingga pembaca akan merasa agak sulit
dalam memahaminya.
2. Pembahasan materi tentang model-model kooperatif lebih sedikit pembahasannya
dibanding buku pertama walaupun di dalam buku tersebut juga membahas materi
tentang problem based lerning (PBL).
3. Setiap pembahasan model kooperatif hanya 2 model yang melampirkan sintaks
pembelajaran .

BAB IV
5
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Buku ini sudah bisa menjadi referensi bagi pembaca yang mempelajari metodologi
pembelajaran. Kelebihan Buku ini memiliki kelebihan dengan mencantumkan dukungan
teorotis dan empiris dari para ahli dari segi pisikologi pembelajaran kooperatif.

4.2. Saran
Penulisan buku pertama, kedua dan ketiga sudah baik dari pembahasannya materi
pembelajaran kooperatif. Meskipun begitu bahkan seorang ahli pun tetap memerlukan
kritik dan saran yang membangun untuk kepenulisan buku berikutnya. Menurut saya
sebagai pembaca, buku ini akan lebih bagus lagi jika setiap model pembelajaran
melampirkan sintaks pembelajarannya sehingga pembaca mudah untuk mengaplikasikan
model kooperatifnya. Untuk buku ini sebaiknya mencantumkan dukungan teoritis dan
empiris dari para ahli dari segi pisikologi pembelajaran kooperatif untuk memperkuat dasar
model kooperatif tersebut.
Penulis banyak berharap kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran
yang membangun kepada penulis demi sempurnanya karya tulis ilmiah ini dan penulisan
karya-karya tulis ilmia di kesempatan – kesempatan berikutnya. Semoga tugas ini berguna
bagi penulis dan khususnya juga bagi para pembaca

DAFTAR PUSTAKA

6
Arends I. Richard, 2008. Learning To Teach .Pustaka Pelajar. Yogyakarta